1
PERENCANAAN JADWAL PELAKSANAAN JEMBATAN CABLE STAYED CIJAMBE
KABUPATEN GARUT
Milzam Mafazi
Teknik Sipil Universitas Winaya Mukti email: [email protected]
ABSTRAK
Penjadwalan suatu proyek merupakan salah satu hasil perencanaan yang dapat memberikan informasi tentang jadwal rencana dan kemajuan proyek. Terdapat beberapa cara atau metode yang dapat dilakukan dalam merencanakan jadwal pelaksanaan suatu proyek, yang salah satunya yaitu metode penjadwalan kurva - s. Tujuan dari tugas akhir ini adalah untuk dapat merencanakan jadwal pelaksanaan pekerjaan jembatan cable stayed dengan model penjadwalan kurva - s.
Perencanaan jadwal pelaksanaan pekerjaan ini menggunakan model penjadwalan kurva – s, dimana proses pembuatannya meliputi : pembuatan RAB, pembuatan bobot pekerjaan, perencanaan jadwal pelaksanaan, dan kemudian pembuatan kurva - s.
Pada akhir perencanaan ini, diperoleh nilai dari suatu pekerjaan, persentase dari tiap item pekerjaan, waktu yang dibutuhkan dalam pelaksaan pekerjaan, dan bentuk dari kuva - s.
Kata kunci : perencanaan jadwal proyek, kurva – s, network planning.
ABSTRACT
Scheduling a project is one of the results of planning that can provide information about the planning schedule and project progress. There are several ways or methods that can be done in planning the implementation schedule of a project, one of which is the s-curve scheduling method. The purpose of this final project is to be able to plan the implementation schedule of cable stayed bridge work with the s-curve scheduling model.
Planning the work implementation schedule using the s-curve scheduling model, where the manufacturing process includes: making the RAB, making work weights, planning the implementation schedule, and then making the s-curve.
At the end of this planning, we get the value of a job, the percentage of each work item, the time it takes to carry out the work, and the shape of the figure.
Keywords: project schedule planning, curve - s, network planning.
1 PENDAHULUAN
Jembatan cable stayed merupakan jembatan yang mengandalkan kabel sebagai penahan beban jembatan diperuntukkan bagi lintasan antar wilayah yang biasanya terpisah oleh sungai, lembah ataupun di atas tanah datar. Konstruksi yang kompleks membuat jembatan ini agak sulit untuk dibangun, namun keindahan kabel bentangan menjadi daya tarik tersendiri bagi jembatan ini. Dalam membangun suatu jembatan juga harus memperhatikan proses dari pembangunan jembatan tersebut. Manajemen pelaksanaan merupakan suatu ilmu yang mengelola suatu kegiatan yang memiliki skala besar, dengan memanfaatkan tenaga kerja, alat berat serta dana yang diperlukan selama pelaksanaan pembangunan jembatan tersebut.
Penjadwalan atau scheduling adalah pengalokasian waktu yang tersedia
2 melaksanakan masing - masing pekerjaan dalam rangka menyelesaikan suatu proyek hingga tercapai hasil optimal dengan mempertimbangkan keterbatasan - keterbatasan yang ada. Selama proses pengendalian proyek, proses monitoring serta updating selalu dilakukan untuk mendapatkan penjadwalan yang paling realistis agar alokasi sumber daya dan penetapan durasinya sesuai dengan sasaran dan tujuan proyek. Perencanaan jadwal pelaksanaan suatu proyek dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode penjadwalan, yaitu dapat menggunakan metode bar chart atau bagan balok, kurva-S, network planning atau jaringan kerja, dan sebagainya. Kurva-S adalah suatu grafik hubungan antara waktu pelaksanaan proyek dengan nilai akumulasi progres pelaksanaan proyek mulai dari awal hingga proyek selesai. Kurva-S juga merupakan hasil plot dari barchart, bertujuan untuk mempermudah dalam melihat kegiatan - kegiatan yang masuk dalam suatu jangka waktu pengamatan progres pelaksanaan proyek (Callahan, 1992). Sedangkan network planning adalah suatu perencanaan dan pengendalian proyek yang menggambarkan hubungan kebergantungan antara setiap pekerjaan yang digambarkan dalam diagram network (Muhardi, 2011). Maka dari itu, materi Tugas Akhir yang akan penyusun bahas pada kesempatan ini yaitu tentang bagaimana merencanakan waktu atau jadwal pelaksanaan cable stayed dengan menggunakan metode atau model penjadwalan Kurva-S dan Network Planning atau jaringan kerja. Permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian adalah merencanakan rencana anggaran biaya (RAB), persentase bobot pekerjaan, jadwal pelaksanaan dengan model penjadwalan Kurva-S dan model penjadwalan Critical Path Method pada pekerjaan jembatan Cable Stayed Cijambe Kabupaten Garut. Untuk memperjelas permasalahan dan mempermudah dalam penyusunan laporan penelitian ini maka digunakan Batasan masalah yang diantaranya: 1) Hanya merencanakan rencana anggaran biaya biaya (RAB) dan bobot dari setiap item pekerjaan sesuai dengan studi kasus, 2) Hanya membahas penjadwalan konstruksi jembatan sesuai studi kasus menggunakan waktu penjadwalan Kurva-S dan Network Planning. Tujuan dari penelitian ini yaitu: 1) Mengetahui rencana anggaran biaya (RAB) dan bobot dari setiap item pekerjaan dari studi kasus, 2) Mengetahui jadwal pelaksanaan pekerjaan jembatan cable stayed dengan model penjadwalan Kurva-S, 3) Mengetahui jaringan kerja (Network Planning) antar kegiatan pekerjaan yang bersinergi dalam bentuk lintasan kritis pekerjaan (Critical Path).
2 TINJAUAN PUSTAKA Perencanaan (Planning)
Perencanaan (planning) adalah sebuah proses kegiatan yang menyiapkan secara sistematis kegiatan - kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam arti lain, perencanaan merupakan keseluruhan proses pemikiran dan penentuan secara matang tentang hal - hal yang akan dikerjakan di masa yang akan datang dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Perencanaan secara garis besar diartikan sebagai proses mendefinisikan tujuan suatu pekerjaan, membuat strategi untuk mencapai tujuan itu, dan mengembangkan rencana aktivitas kerja. Beberap manfaat dari perencanaan, yaitu: 1) standar pelaksanaan dan pengawasan (memfasilitasi, monitoring, dan evaluasi), 2) pemilihan berbagai alternatif terbaik (pedoman pengambian keputusan), 3) penyusunan skala prioritas, baik sasaran maupun kegiatan, 4) menghemat pemanfaatan sumber daya, 5) alat
3 memudahkan dalam berkoordinasi dengan pihak-pihak yang terkait, dan 6) alat meminimalkan pekerjaan yang tidak pasti / efektif (untuk mengantisipasi masalah yang akan muncul). Terdapat beberapa unsur dalam perencanaan operasional proyek, yaitu: 1) perencanaan lingkup proyek, 2) perencanaan mutu, 3) perencanaan waktu, 4) perencanaan biaya, 5) perencanaan sumber daya, 6) program pengelolaan risiko, dan 7) perencanaan komunikasi.
Anggaran
Anggaran merupakan suatu rencana yang disusun secara sistematis dalam bentuk angka dan dinyatakan dalam unit moneter yang meliputi seluruh kegiatan perusahaan untuk jangka waktu (periode) tertentu dimasa yang akan datang.
Penganggaran merupakan komitmen resmi manajemen yang terkait dengan pendapatan, biaya dan beragam transaksi keuangan dalam jangka waktu tertentu.
Anggaran juga merupakan salah satu dari perencanaan dan merupakan data yang digunakan untuk membuat waktu pelaksanaan pekerjaan. Sedangkan rencana anggaran biaya merupakan perkiraan pelaksanaan biaya yang diperlukan untuk membiayai pekerjaan yang akan dikerjakan di lapangan. Perkiraan biaya tersebut didapatkan dengan menjumlahkan hasil perkalian antara harga satuan dengan volume pekerjaan masing - masing. Secara umum estimasi biaya proyek dibagi menjadi 4, yaitu: 1) Estimasi Kasar oleh Pemilik (Owner), 2) Estimasi Pendahuluan oleh Konsultan Perencana (Designer), 3) Estimasi Detail oleh Kontraktor, dan 4) Estimasi Sesungguhnya Setelah Proyek Selesai.
Penjadwalan (Scheduling)
Secara umum setiap proyek pasti membutuhkan suatu penjadwalan atau scheduling dalam tahapan fase perencanaan. Secara singkat penjadwalan atau scheduling konstruksi merupakan suatu cara untuk menentukan dan menetapkan waktu pelaksanaan item pekerjaan serta alokasi sumber daya yang akan digunakan (man power, material, equipment) selama proses konstruksi. Penjadwalan suatu proyek konstruksi selayaknya harus direncanakan secara matang dan optimal guna menghindari terjadinya keterlambatan waktu proyek serta dampak-dampak buruk lainnya.
Terdapat beberapa jenis model penjadwalan, yaitu:
1) Bagan Balok (Bar Chart)
Bagan balok merupakan sekumpulan daftar kegiatan yang disusun dalam kolom arah vertikal, dan kolom arah horizontal menunjukkan skala waktu. Saat mulai dan akhir dari sebuah kegiatan dapat terlihat dengan jelas sedangkan durasi kegiatan digambarkan oleh panjangnya diagram batang. Keuntungan dari bagan balok (bar chart) adalah informatif, mudah dibaca dan efektif untuk komunikasi serta dapat dibuat dengan mudah dan sederhana. Contoh dari bagan balok dapat dilihat pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1. Bagan Balok (Bar Chart)
4 2) Kurva-S (Curve-S)
Kurva-S (Curve-S) adalah suatu kurva yang disusun untuk menunjukkan hubungan antara nilai komulatif biaya atau waktu dalam pekerjaan yang telah digunakan atau persentase (%) penyelesaian pekerjaan terhadap waktu. Model penjadwalan semacam ini berupa penjadwalan yang berfungsi untuk memberikan informasi berupa bobot pekerjaan (Sb-y) dengan index dari 0 – 100% berdasarkan waktu durasi proyek (Sb-x) sehingga hubungan kedua sumbu tersebut membentuk kurva yang berbentuk huruf S. Bobot pekerjaan adalah nilai persentase proyek dimana penggunaannya digunakan untuk mengetahui kemajuan proyek tersebut.
Perhitungan bobot dapat dirumuskan :
= 100% (1)
Contoh dari kurva-S dapat dilihat pada Gambar 2.2.
Gambar 2.2. Kurva-S (Curve-S) 3) Metode Jaringan Kerja (Network Planning Method)
Metode jaringan kerja, menurut Istimawan Dipohusodo merupakan cara grafis untuk menggambarkan kegiatan - kegiatan dan kejadian yang diperlukan untuk mencapai tujuan proyek. Jaringan menunjukkan susunan logis antar kegiatan, hubungan timbal balik antara pembiayaan dan waktu penyelesaian proyek, dan berguna dalam merencanakan urutan kegiatan yang saling tergantung dihubungkan dengan waktu penyelesaian proyek yang diperlukan (Dipohusodo, 1996). Diagram yang terbentuk dari metode ini menunjukkan hubungan preseden antar kegiatannya.
Diagram ini membantu pengguna untuk mengerti alur kerja suatu proyek sehingga sangat berguna pada perencanaan dan pengendalian pada penjadwalan. Terdapat beberapa hal yang harus dilakukan terlebih dahulu dalam membuat metode jaringan kerja (Callahan 1992), yaitu: 1) menentukan aktivitas / kegiatan, 2) menentukan durasi aktivitas / kegiatan, 3) mendeskripsikan aktivitas / kegiatan, dan 4) menentukan hubungan yang logis. Contoh dari metode jaringan kerja dapat dilihat pada Gambar 2.3.
5 Gambar 2.3. Jaringan Kerja (Network Planning)
Metode Jalur Kritis (Critical Path Method)
Menurut Imam Soeharto dalam bukunya yang berjudul Manajemen Proyek pada metode CPM dikenal adanya jalur kritis yaitu jalur yang memiliki rangkaian komponen - komponen kegiatan dengan total jumlah waktu terlama dan menunjukkan kurun waktu penyelesaian proyek yang tercepat. Jadi, jalur kritis terdiri dari rangkaian kegiatan kritis, dimulai dari kegiatan pertama sampai pada kegiatan terakhir proyek. Makna jalur kritis penting bagi pelaksana proyek, karena pada jalur ini terletak kegiatan - kegiatan yang bila pelaksanaannya terlambat akan menyebabkan keterlambatan proyek secara keseluruhan.
Sedangkan menurut Handoko (2000) dalam proses identifikasi jalur kritis ada beberapa istilah yang digunakan, yaitu: 1) Earliest Start Time (ES), 2) Latest Start Time (LS), 3) Earliest Finish Time (EF), dan 4) Latest Finish Time (LF). Tujuan pemakaian critical path method adalah sama dengan network planning dalam penyelenggaraan proyek antara lain adalah agar proyek selesai pada saat yang telah ditentukan sesuai dengan network diagram yang telah tertera. Hal ini tidaklah selalu mungkin, sehingga selalu ada kemungkinan keterlambatan pelaksanaan. Ada beberapa kegiatan yang mempunyai batas toleransi keterlambatan, namun ada pula kegiatan yang tidak mempunyai batas toleransi keterlambatan sehingga apabila kegiatan tersebut terlambat satu hari saja maka akan mempengaruhi umur atau usia proyek. Kegiatan yang tidak mempunyai batas toleransi keterlambatan disebut dengan kegiatan - kegiatan kritis.
3 METODOLOGI PENELITIAN
Lokasi perencanaan berada di Desa Cijambe Kecamatan Banyuresmi Kabupaten Garut. Jembatan yang direncanakan tersebut berada di aliran sungai Cimanuk. Panjang bentang jembatan yang akan direncakan sebesar 200 meter dan lebar jembatan tersebut sebesar 12 meter. Lokasi perencanaan dapat dilihat pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1. Peta lokasi perencanaan
6 Proses penelitian ini dimulai dengan melakukan persiapan. Setelah itu melakukan pengumpulan data yang terdiri dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan mengumpulkan hasil data survey lapangan. Sedangkan data sekunder diperoleh dengan mengumpulkan gambar - gambar rencana pekerjaan secara detail dan lengkap. Tahap perencanaan dilakukan sebagai tahap / langkah selanjutnya. Diagram alir yang digunakan dalam perencanaan ini dapat dilihat pada Gambar 3.2.
Gambar 3.2. Diagram Alir Penelitian
4 ANALISIS DAN PEMBAHASAN Membuat Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Langkah awal untuk memulai merencanakan jadwal pelaksanaan suatu proyek / kegiatan yaitu dengan merencanakan atau membuat rencana anggaran biaya (RAB) dari pekerjaan tersebut. Rencana anggaran biaya (RAB) merupakan estimasi biaya dalam proyek konstruksi yang ditujukan untuk memperkirakan nilai pembiayaan pada suatu proyek. Rencana biaya harus mencakup dari keseluruhan kebutuhan pekerjaan tersebut, baik itu biaya material atau bahan yang diperlukan, biaya peralatan kerja, upah pekerja, serta biaya lainnya yang diperlukan. Secara garis besar rencana anggaran biaya terdiri dari 2 komponen utama yaitu, volume pekerjaan dan harga satuan pekerjaan. Volume pekerjaan dapat diperoleh dengan cara melakukan perhitungan dari gambar rencana dalam bentuk DED yang telah tersedia, sedangkan harga satuan pekerjaan dapat diperoleh dari analisa harga
7 satuan pekerjaan dengan mempertimbangkan banyak hal, yaitu bahan atau material, upah tenaga kerja, biaya peralatan dan biaya lain-lain. Terdapat beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam menyusun rencana anggaran biaya, yaitu:
a. Mempelajari Gambar Kerja Detail (DED) dan Rencana Kerja dan Syarat - Syarat (RKS)
Sebelum menyusun rencana anggaran biaya pengadaan jasa konstruksi, seorang Quantity of Surveyor tentunya harus mempelajari Gambar Kerja Detail (DED) yang telah disediakan oleh Pemilik Proyek (Owner) atau yang telah direncanakan.Mempelajari DED bertujuan untuk mengetahui item - item pekerjaan apa saja yang akan dikerjakan beserta tahapannya. Penggunaan DED pada RAB untuk proyek konstruksi diperlukan untuk menentukan berbagai jenis pekerjaan, spesifikasi dan ukuran material bangunan. Berbeda apabila pelaksanaan proyek pengadaan barang, tidak dibutuhkan gambar kerja detail. Dengan mempersiapkan DED pada pengadaan jasa konstruksi akan mempermudah untuk menghitung volume pekerjaan.
b. Menyusun Item Pekerjaan dan Menghitung Volume Pekerjaan
Tahapan yang selanjutnya dilakukan adalah menguraikan item - item pekerjaan yang akan dikerjakan. Setelah semua item pekerjaan yang diperlukan didaftar dengan baik, maka langkah selanjutnya adalah menghitung volume pekerjaan.Perhitungan ini dilakukan dengan cara menghitung banyaknya volume pekerjaan dalam satu satuan, misalkan per m2, m3, atau per unit. Volume pekerjaan nantinya akan dikalikan dengan harga satuan pekerjaan, sehingga diperoleh jumlah biaya pekerjaan.
c. Membuat dan Menentukan Daftar Harga Satuan Pekerjaan
Setelah menentukan / menghitung volume dari setiap item pekerjaan, Langkah selanjutnya yaitu menentukan harga satuan pekerjaan. Namun untuk dapat menentukan harga satuan dari setiap item pekerjaan terlebih dahulu membuat / menghitung analisa harga satuan pekerjaan (AHSP). Analisa harga satuan pekerjaan (AHSP) merupakan sebuah analisa perhitungan kebutuhan harga per satu satuan volume pekerjaan.Analisa harga satuan pekerjaan sendiri terdiri dari uraian harga, koefisien, harga satuan upah, material / bahan, dan alat, hasil kali koefisien dan harga satuan. Hasil kali tersebut dijumlahkan dan menjadi harga satuan. Tiap analisa harga satuan pekerjaan memiliki harga yang berbeda - beda, tergantung dari bahan, alat dan tenaga yang diperlukan.
d. Menyusun Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Setelah harga satuan masing - masing pekerjaan didapatkan, maka langkah selanjutnya adalah menghitung jumlah biaya setiap pekerjaan, adapun dalam perhitungan jumlah biaya setiap pekerjaan dapat menggunakan rumus berikut:
!"#$ ℎ & ' ( = ) * + " ( × - (2) Dengan :
V = volume pekerjaan
Setelah diperoleh jumlah harga dari masing - masing item pekerjaan, selanjutnya jumlah harga tersebut dijumlahkan pada masing - masing divisi pekerjaan yang apabila menggunakan program akan secara otomatis dapat terjumlahkan. Setelah selesai menjumlahkan jumlah harga pada masing -
8 masing divisi, selanjutnya membuat total harga keseluruhan pekerjaan dalam satu pekerjaan proyek atau dalam dunia konstruksi biasa disebut dengan Rekapitulasi Anggaran Biaya. Tabel rencana anggaran biaya (RAB) dari penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1 Rencana Anggaran Biaya (RAB)
Membuat Bobot Pekerjaan
Setelah diperoleh jumlah biaya dari setiap item pekerjaan dan nilai keseluruhan pekerjaan atau nilai pekerjaan proyek, maka langkah berikutnya yaitu menghitung atau menentukan bobot pekerjaan. Dalam pelaksanaan suatu proyek konstruksi terdapat perhitungan bobot pekerjaan sebagai data administrasi, mengetahui besarnya progress atau persentase pekerjaan yang telah dikerjakan, maupun dasar untuk mengambil kebijakan dalam percepatan proyek. Persentase bobot pekerjaan dapat dibuat apabila rencana anggaran biaya telah selesai disusun, karena dasar pembuatan persentase bobot pekerjaan adalah Rencana Anggran Biaya
9 (RAB). Keuntungan dengan dibuatnya persentase bobot pekerjaan salah satunya adalah untuk penjadwalan pelaksanaan pekerjaan sehingga mempermudah dalam mengontrol pekerjaan yang sedang kita kerjakan sehingga keterlambatan dalam pekerjaan proyek dapat diminimalisir. Tabel bobot dari penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Persentase Bobot Pekerjaan
Merencanakan Jadwal Pelaksanaan Pekerjaan Jembatan Cable Stayed dengan Metode Kurva - S
Setelah selesai membuat rencana anggaran biaya dan bobot persentase pekerjaan, langkah selanjutnya yaitu dapat langsung merencanakan jadwal pelaksanaan pekerjaan. Perencanaan jadwal pekerjaan dapat menggunakan beberapa metode, diantaranya yaitu metode bagan balok, kurva-S, network planning, dan lain - lain. Namun untuk merencanakan jadwal pelaksanaan pekerjaan dapat melakukan beberapa tahapan, yaitu :
10 1) Menghitung produktivitas masing - masing pekerjaan
Untuk merencanakan jadwal pelaksanaan pekerjaan, langkah pertama yang dilakukan yaitu menghitung produktivitas masing - masing pekerjaan dalam sehari, dimana pada proyek Pembangunan Jembatan Cable Stayed ini memiliki jam kerja dalam sehari yaitu selama 7 jam. Sebelum melangkah lebih jauh dalam perhitungan produktivitas sebelumnya diperlukan produktivitas per jam masing - masing pekerjaan. Untuk persamaan yang digunakan tiap pekerjaan masing - masingnya berbeda tergantung pada peralatan utama untuk membantu dalam melakukan pekerjaan tersebut.
2) Menghitung durasi masing-masing pekerjaan
Langkah selanjutnya adalah menghitung durasi masing - masing pekerjaan. Adapun data - data yang dibutuhkan dalam menghitung durasi pekerjaan adalah produktivitas pekerja dalam sehari serta volume dari pekerjaan tersebut.
Rumus yang digunakan untuk menghitung durasi yaitu menggunakan rumus sebagai berikut :
." /& = 0
1 (3)
Dengan :
V = Volume pekerjaan
Qt = Produktivitas pekerjaan / hari
3) Menentukan Hubungan Antar Pekerjaan / Predecessor
Setelah menghitung durasi masing - masing pekerjaan, maka langkah berikutnya yaitu menentukan hubungan antar pekerjaan atau yang biasa disebut dengan predecessor. Predecessor adalah suatu tugas yang harus dimulai / diakhiri sebelum tugas yang lain dimulai / diakhiri atau suatu tugas yang mendahului tugas tertentu. Secara umum terdapat hubungan antar tugas dalam menajemen proyek, yaitu: 1) Hubungan finish to start (FS), merupakan hubungan antar dua pekerjaan yang dimana apabila pekerjaan pertama selesai maka pada saat itu pekerjaan berikutnya dapat dimulai. 2) Hubungan finish to finish (FF), merupakan hubungan antar dua pekerjaan yang dimana kedua pekerjaan selesai dalam waktu yang bersamaan. 3) Hubungan start to start (SS), merupakan hubungan antar dua pekerjaan yang dimana kedua pekerjaan tersebut dimulai pada waktu yang bersamaan. 4) Hubungan start to finish (SF), merupakan hubungan antar dua pekerjaan yang dimana pekerjaan pertama dapat selesai apabila pekerjaan kedua dimulai. Bentuk kurva-S dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1. Kurva-S
11 Membuat Jaringan Kerja (Network Planning) dalam Bentuk Lintasan Kritis Pekerjaan (Critical Path)
Lintasan kritis tersebut memberikan informasi mengenai jumlah waktu yang diperlukan dalam menyelesaikan proyek. Dalam membuat suatu perencanaan dan penjadwalan dengan menggunakan network planning, terdapat tahapan - tahapan dalam menyusun network planning dengan metode CPM (critical path method). Adapun sistematika lengkap dalam penyusunan network planning atau jaringan kerja menurut Jay Heizer dan Barry Render (2005:509), yaitu:
1) Menginventarisasi kegiatan - kegiatan
Pada langkah ini menguraikan dan memecahkannya menjadi kegiatan - kegiatan atau kelompok kegiatan yang merupakan komponen proyek. Inventarisasi kegiatan ini berupa pemberian kode pada masing - masing kegiatan / pekerjaan.
2) Menyusun hubungan antar kegiatan
Pada langkah ini mengurutkan kegiatan sesuai dengan logika ketergantungan dalam network planning sehingga diketahui urutan kegiatan dari awal di mulainya proyek sampai dengan selesainya proyek secara keseluruhan.
3) Menyusun network diagram yang menghubungkan semua kegiatan
Pada langkah ini yaitu kegiatan yang telah direncanakan pada langkah sebelumnya disusun menjadi sebuah diagram dengan urutan yang berkesinambungan antar kegiatan satu dengan kegiatan yang lainnya, serta saling terkait satu sama lain. Hubungan yang berkesinambungan tersebut dapat menentukan pergerakan maju mundurnya waktu suatu kegiatan pekerjaan.
4) Menetapkan waktu untuk setiap kegiatan dan menyusunnya kedalam network diagram
Langkah selanjutnya adalah menentukan perkiraan kurun waktu bagi setiap kegiatan dan menggambarkannya dalam network diagram.
5) Mengidentifikasi jalur kritis (critical path) pada network diagram
Dalam langkah ini terlebih dahulu perlu dilakukan perhitungan maju (forward computation) dan perhitungan mundur (backward computation). Pada perhitungan maju, menghitung saat paling cepat terjadinya event dan saat paling cepat dimulainya serta diselesaikannya aktifitas - aktifitas (TE, ES, dan EF).
Pada pehitungan mundur, menghitung saat paling terlambat terjadinya event dan saat paling lambat dimulainya dan diselesaikannya aktivitas - aktivitas (TL, LS, dan LF).
Bentuk dari jaringan kerja pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2. Network Diagram Hubungan Antar Kegiatan
5 KESIMPULAN
Kesimpulan dalam penelitian ini yaitu meliputi anggaran biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan jembatan Cable Stayed Cijambe Kabupaten Garut ini yaitu Rp. 85,169,100,000,- dimana jumlah ini didapatkan berdasarkan hasil perkalian antara analisa harga satuan dengan volume pekerjaan. Hasil analisis
12 dengan menggunakan suatu program atau software ini didapat waktu yang dibutuhkan untuk pelaksanaan jembatan Cable Stayed Cijambe Kabupaten Garut berdasarkan Kurva-S yang telah dibuat yaitu 200 hari. Waktu yang dibutuhkan dalam pelaksanaan jembatan Cable Stayed Cijambe Kabupaten Garut berdasarkan Network Planning (Critical Path Method) yang telah dibuat yaitu 267 hari.
Kegiatan - kegiatan pekerjaan yang berada pada lintasan kritis yang dihasilkan berdasarkan model penjadwalan kurva-S berbeda dengan kegiatan - kegiatan pekerjaan yang dihasilkan berdasarkan model penjadwalan network planning (critical path method).
DAFTAR PUSTAKA
an Anisarida, A. (2017). Evaluasi Kondisi Permukaan Jalan Dengan Metode Road Condition Index (RCI). GEOPLANART, 1(2), 13-21.
Anisarida, A. A., Prima, G. R., & Janizar, S. (2020). PREFERENSI
KEMUDAHAN PENGGUNAAN SEPEDA MOTOR DI KOTA
BANDUNG. Akselerasi, 2(1).
an Anisarida, A., & Janizar, S. J. (2020). Besaran Biaya Korban Kecelakaan Sepeda Motor di Kota Bandung. GEOPLANART, 2(2), 62-74.
Asiyanto. (2008). Metode Konstruksi Proyek Jalan. Jakarta: Universitas Indonesia (UI-Press)
Dipohusodo, I. (1996). Manajemen Proyek dan Konstruksi jilid 1 dan jilid 2. Kanisius Jakarta.
Ervianto, W. I. (2002). Manajemen Proyek Konstruksi, Edisi Pertama. Yogyakarta:
Salemba Empat.
Ervianto, W. I. (2004). Teori Aplikasi Manajemen Proyek Konstruksi. Yogyakarta:
Andi.
Janizar, S., Setiawan, F., & Saputra, D. H. (2020). AUDIT STRUKTUR GEDUNG BANK X KOTA BANJARMASIN. JURNAL TEKNIK SIPIL CENDEKIA (JTSC), 1(1), 15-26.
Janizar, S., Setiawan, F., & Kurniawan, E. (2020). PEMERIKSAAN KELAIKAN FUNGSI BANGUNAN GEDUNG RUMAH SAKIT. JURNAL TEKNIK SIPIL CENDEKIA (JTSC), 1(1), 58-67.
Soedradjat, A. (1984). Analisa (cara modern) anggaran biaya pelaksanaan lanjutan. Nova.
Soetrisno, F. (2010). Jembatan Cable Stayed.
Suharto, I. (2001). Manajemen Proyek Dari Konseptual Sampai Operasional Jilid 1. Jakarta: Airlangga. Edisi Kedua.
Usman, H. (2002). Manajemen Konstruksi.