• Tidak ada hasil yang ditemukan

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

747

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT REPUBLIK INDONESIA

RISALAH RAPAT DENGAR PENDAPAT PANITIA KHUSUS DPR RI PEMBAHASAN RUU TENTANG PENGADAAN TANAH UNTUK PEMBANGUNAN

Tahun Sidang : 2010-2011 Masa Persidangan : IV

Rapat ke :

Jenis Rapat : Rapat Dengar Pendapat Hari,Tanggal : Kamis, 16 Juni 2011

Waktu : Pukul 10.55 WIB. s.d 12.40 WIB.

Acara : mendapatkan masukan terhadap Pembahasan RUU tentang Pengadaan Tanah untuk Pembangunan dari Lembaga-lembaga terkait:

- Menteri ESDM

- Menteri Negara Lingkungan Hidup

Tempat : Ruang Rapat Gedung Nusantara II Ruang Pansus C Lt. 3 Ketua Rapat : Drs. Taufiq Hidayat, M.Si (Wakil Ketua/F-Golkar)

Sekretaris Rapat : Dra. Mitra Anindyarina Hadir : 15 orang Anggota Pansus.

ANGGOTA HADIR:

PIMPINAN:

1. IR. H. DARYATMO MARDIYANTO 2. IR. H. ROESTANTO WAHIDI D., MM FRAKSI PARTAI DEMOKRAT:

3. DRS. H. TAUFIQ EFFENDI, MBA 4. SUDEWA

5. IR, NANANG SAMODRA, KA., M.Sc 6. DRS. H. ABDUL GAFAR PATAPPE 7. H. ZULKIFLI ANWAR

8. DRS. H. ACHMAD SYAFI'I, M.Si 9. IR. DJOKO UDJIANTO

(2)

748 FRAKSI PARTAI GOLONGAN KARYA:

-

FRAKSI PARTAI DEMOKRASI INDONESIA PERJUANGAN:

10. Ir. SUDJADI 11. ARIF WIBOWO

FRAKSI PARTAI KEADILAN SEJAHTERA:

12. KH. IR. ABDUL HAKIM, MM

FRAKSI PARTAI AMANAT NASIONAL : 13. H. CHAIRUL NAIM, M. ANIK, SH., MH

FRAKSI PARTAI PERSATUAN PEMBANGUNAN : 14. DR. AW. THALIB, M.Si

FRAKSI PARTAI KEBANGKITAN BANGSA : 15. HJ. MASITAH, S.Ag, M.Pd.I

FRAKSI PARTAI GERAKAN INDONESIA RAYA:

-

FRAKSI PARTAI HATI NURANI RAKYAT:

Pemerintahlundangan:

1. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral : Darwin Zahedy Shaleh 2. Menteri Negara Lingkungan Hidup : Gusti Muhammad Hatta

(3)

749 Jalannya rapat:

KETUA RAPAT (Ir. H. DARYATMO MARDIYANTO/F-PDIP):

Ibu-Bapak sekalian.

Saya kira kita bisa mulai.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Selamat pagi dan salam sejahtera,

Yang terhormat Saudara Pimpinan Pansus dan Anggota Pansus RUU tentang Pengadaan Tanah untuk Pembangunan,

Yang saya hormati Menteri ESDM Dr. Darwin Zahedy Saleh beserta jajarannya, dan Menteri LH Bapak Gusti M. Hatta dan jajarannya.

Sesuai dengan peraturan Tatib DPR-RI pasal 240 Masa Rapat Kerja dan Dengar Pendapat Pansus pada pagi hari ini, dibuka dan dinyatakan terbuka.

(RAPAT DIBUKA PADA PUKUL 10.55 WIB)

Para hadirin menurut catatan dari Setjen daftar hadir telah ditanda tangani oleh 16 orang anggota dari seluruh anggota Pansus sebanyak 30 orang. Mengingat agenda rapat Dengar Pendapat pada hari ini adalah dalam rangka mendengarkan masukan dan tidak dalam mengambil keputusan, dengan demikian rapat bisa segera dimulai. Namun sebelum menenuskan rapat pada hari ini, terlebih dahulu kita panjatkan puji dan syukur pada Allah Yang Maha Esa telah melimpahkan Rahmat dan hidayah pada kita semua, sehingga kita bisa menghadiri RDP Pansus mengenai RUU tentang Pengadaan Tanah untuk Pembangunan dalam keadaan sehat wal'afiat.

Kami menyampaikan sebagai awalan, selamat datang pada para Menteri ESDM dan LH, yang telah bersedia memenuhi undangan kami sebagai Narasumber. Perlu kami sampaikari bahwa Pansus ini terdiri dari Pimpinan dan Anggota Pansus, Anggota Pansus sebanyak 30 orang dipimpin oleh 1 orang Ketua dan 3 orang wakil ketua dengan komposisi sebagai berikut : Wakil Ketua Nasir Jamil, Taufik Hidayat, Roestanto Wahidi, dan Ketua Ketua saya sendiri Daryatmo Mardiyanto.

Hadir diantara kita teman-teman dan untuk itu kami persilahkan terlebih dahulu Pak Zul.

F-PD (H. ZULKIFLI ANWAR):

Terima kasih Pimpinan.

Pak Menteri ESDM dan LH beserta jajarannya.

Nama saya Zulkifli Anwar dari Demokrat di komisi V dari Dapil 1 Lampung yang menggantikan Pak Darwin.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Baik, silahkan disebelah kanan sebelah kanan.

F- PDIP (ARIF WIBOWO):

Terima kasih Pimpinan.

Pak Menteri yang kami hormati.

(4)

750

Saya Arif Wibowo, nomor anggota A. 380 dari Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

Sekarang ada di Komisi II, dan Badan Legislasi.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Silahkan dari sebelah kid kami, Pak Naim.

F-PAN (H. CHAIRUL NAIM, M. ANIK, SH., MH):

Assalamu `alaikum Warramatullahi Wabaraktuh.

Saya Chairul Naim, dari Fraki PAN dan ada di Komisi II. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Ya, silahkan Pak Abdul Hakim.

F-PKS (KH. Ir. ABDUL HAKIM, M.M):

Terima kasih Pak Ketua.

Saya Abdul Hakim, dari Komisi V, daerah pemilihannya tetangga Pak Menteri ESDM, Dapil lampung II.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baik, silahkan Pak Abdul Gafar Patape.

F-PD (DRS. H. ABDUL GAFAR PATAPPE):

Assalamu `alaikum Warramatullahi Wabarakatuh.

Pak Menteri, saya Abdul Gafar Patape, dari Fraki Demokrat, daerah pemilihan Sulawesi selatan, sekarang di Komisi

Terima kasih Pak.

KETUA RAPAT : Terima kasih.

Bapak-Ibu sekalian. Bapak Menteri.

Berikutnya terlebih dahulu Pimpinan Pansus akan memberikan gambaran awal tentang Panitia khusus ini. Panitai khusus ini dibentuk oleh Rapat Paripurna DPR RI tanggal 25 Januari 2011.

Dengan akan membahas sehubungan dengan draf Rancangan Undang-Undang yang disampaikan oleh Pemerintah melalui surat nomor 98 tanggal 15 Desember 2010.

Sesuai dengan peraturan Tata Tertib DPR-RI Pasal 136 ayat (1), hurup B bahwa pembicaraan tingkat satu dilakukan kegiatan pemabahasan daftar infentarisasi masalah. Dan apa bila RUU berasal dari Presiden, dalam ayat (5) huruf B, disebutkan bahwa DIM tersebut akan dajukan oleh DPR.

Karenanya untuk mendapatkan masukan yang cukup bagi Fraksi-fraksi sebagai bekal dalam penyusunan DIM, maka panitia khusus mengundang berbagai kalangan, baik instansi pemerintah akademisi dari perguruan tinggi LSM dan pihak-pihak lain yang dapat membrikan saran dan masukan terhadap draf RUU ini.

(5)

751

Dalam pembahasan panitia khusus RUU ini mitra kerja kita adalah pemerintah, dan pemerintah telah mengutus 5 orang menteri yaitu Menteri Keuangan, Menhukham, Dalam negeri, BPN dan Menteri Pendaya gunaan Aparatur negara.

Sebelum mendengarkan masukan dan saran ini, kita mulai pukul 11.00 menurut jadwal kita akan sampai pukul 12.00. Kemudian nanti apabila nanti ada kekurangan kita bicarakan kemudian, saya kira setuju semua dan tahap pertama sampai pukul 12.00.

(RAPAT : SETUJU)

Kita akan segera memasuki, masukan dari kementrian, tapi sebagai awalan supaya tidak terlalu tegang kita menyilahkan anggota untuk memperkenalkan Pak Zuk yang pertama, bukan apa- apa karena Menteri ESDM ini kalau kita bicara kemaren ada gubernur dari PDIP, ini ada menteri dari partainya pak Roestanto.

Menteri ESDM adalah yang selalu bicara soal yang berhubungan dengan tambang, bukan tanah air gas dan panas bumi serta barangkali jangan sampai air mata, maka sangat berhadapan banyak dengan soal-soal yang berhubungan dengan tanah. Demikian juga menteri LH yang berhubungan dengan tanah soal kebiasaan memindahkan tanah kesana kemari, jadi kegiatan deklamasi, kegiatan danau jadi daratan kemudian memindah-mindahkan pohon yang kecil itu akan menirnbulkan implikasi yang luas kemudian.

Ketikan akan berhadapan anak cucu kita kemudian, karena kita juga sangat berkepentingan untuk menghadirka semua pemangku kepentingan yang berhubungan dengan tanah ini.

Ibu dan Bapak sekalian.

Ada dua kementerian yang hadir kami mengusulkan dari menteri ESDM, kemudian akan diikuti oleh menteri LH, lalu pada kesempatan berikutnya kita akan melakukan pendalaman. Jadi kebiasaannya berbeda, hari ini kita mendengarkan masukan bukan rapat kerja, jadi masukan yang sangat penting dan berarti dalam masukan DIM kementrian ESDM dan LH, agar kita memberikan gambaran secara utuh, walaupun kita sadari sebenarnya RUU ini dari pemerintah tetapi dalam beberapa catatan menunjukan kita melakukan RDP banyak hal yang rasanya masih terlewati walaupun kecil-kecil tetapi memunculkan makna yang mendalam yang berhubungan dengan kelancaran pengadaan tanah untuk pembangunan ini. Ada tambahan Anggota Pak Nanang Samudra.

Kita persilahkan Pak Menteri ESDM untuk menyampaikan paparannya.

MENTERI ESDM (DARWIN SAHEDY SHALEH) : Terima kasih Bapak Pimpinan dan Para Anggota Pansus.

Bapak Menteri LH dan jajarannya, Hadirin yang berbahagia, Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat pagi dan salam sejahtera. Bapak Pimpinan Pansus yang terhormat.

Kembali kita panjatkan kehadirat Allah Subhanallahuwata'ala, atas berkat dan karunia-Nya alhamdullilah hari ini kita berkumpul dalam keadaan sehat wal'afiat untuk mendengarkan RDP membahas RUU tentang Pengadaan Tanah untuk Pembangunan. Mohon maaf diwaktu yang lalu kami belum berkesempatan hadir, dan alhamdullilah kami bisa hadir dan besar hati.

(6)

752

Pada kesempatan ini perkenan kami bapak-bapak perkenalkan kami menyampaikan beberapa hal anatara lain dasar hukum sektor ESDM terkait pengadaan tanah rumusan sektor ESDM pada RUU pengadaan tanah tersebut, latar belakang usulan dan beberpa proyek sektor ESDM yang memerlukan dukungan pengadaan tanah.

Pimpinan Pansus Anggota yang terhormat.

Saat ini pengadaan tanah untuk pembangunan diatur berdasarkan Perpres Nomor 36 tahun 2005, tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan untuk Kepentingan Pembangunan.

Sebagaimana telah diubah melalui Perpres nomor 65 tahun 2006.

Mengingat pentingnya jaminan pengadaan tanah tersebut, maka untuk lebih meningkatkan frinsip penghormatan hak-hak atas tanah dan kepastian hokum dalam pengadaan tanah bagi pelaksana pembangunan untuk kepentingan umum, maka kami sepakat kalau bentuk huhumnya perlu diubah menjadi bentuk Undang-Undang tentang Pengadaan Tanah untuk Pembangunan. Oleh karena itu sektor ESDM sangat mendukung terhadap prakarsa atau usulan RUU tengang Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan tersebut. Dimana dukungan kami tersebut merupakan bagian integral dari surat Presiden RI kepada DPRRI nomor R98/press/1212010. Tanggal 15 Desember 2010. Perihal RUU tentang Pengadaan Tanah untuk kepentingan umum.

Bapak Pimpinan dan Para Anggota Pansus yang kami hormati.

RUU tentang Pengadaan tanah untuk Pembangunan yang telah disampaikan kepada DPR, pada bulan Desember 2010 lalau. Pada dasarnya telah mengakomodasikan pengadaan tanah untuk kepentingan umum bagi pembangunan sektor ESDM. Antara lain: sebagaimana terdapat pada pasal 13 hurup d dan e, sebagai berikut: tanah untuk kepentingan umum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5, RUU ini ayat (1), digunakan untuk pembangunan. D, yakni, infrastruktur minyak gas dan minyak bumi meliputi tranmisi dan atau distribusi minyak gas dan panas bumi. E pembangkit transmisi, gardu dan jaringan dan distribusi tenga listrik.

Dengan demikian keberadaan ketentuan di atas akan dapat mempercepat proses pengadaan tanah bagi kegiatan usaha sektor ESDM. Latar belakang usulan sektor ESDM dalam RUU tersebut antara lain, dibidang migas dalam rangka ketahanan energi kita perlu mempertahankan dan meningkatkan produksi migas. Di samping itu lifting produksi rnigas mempunyai pengaruh besar terhadap penerimaan negara, dimana tahun 2010 lalu penerimaan migas sebesar Rp. 220 triliun, setiap aset yang didapat dari kegiatan migas, merupakan barang milik negara. Di bidang ketenaga listrikan pembangunan infrastruktur ketana listrikan akan meningkatkan ratio reflesikasi yang saat ini masih sekitar 67, 7 % dan ditargetkan lnsya Allah tahun 2014 itu 80 %. lnfrastruktur ketagalistrikan ditujukan untuk melistrikan sebagian masyarakat yang sebagian besar kurang mampu dari 42 juta total pelanggan PLN saat ini sekitar 88 % nya adalah pelanggan rumah tangga kecil atau kurang. Di bidang panas bumi mempercepat panas bumi Indonesia yang potensinya 28.000 mega wat terbesar didunia, namun kapasitas terpasangnya saat ini sebesar 1189 mg wat atau sekitar 4 % dari yang ada.

Panas bumi merupakan energi terbarukan yang perlu dipercepat pengembangannya, sehingga dapat menggantikan energi fosil yang cadangannya semakin menipis dan bersifat tidak terbarukan.

(7)

753

Berkenaan dengan hal tersebut, maka kegiatan sektor ESDM memerlukan dukungan pengadaan tanah yang cepat, karena berpengaruh signifikan terhadap penerimaan negara pemenuhan energi masyarakat serta pengembangan energi terbarukan.

Bapak Pimpinan dan Anggota Pansus yang terhormat.

Selanjutnya kami sampaikan beberapa proyek sektor ESDM baik yang bersumber dari dana APBN maupun dana non APBN yang memerlukan dukungan tanah khususnya dalam waktu dekat, antara lain bidang migas pembangunan jaringan distribusi gas bumi untuk rumah tangga di Bekasi, Sidoharjo, Bontang. Pembangunan SPBG angkutan umum di Palembang, terminal pembangunan kilang mini LPG, pembangunan kilang Banten B, yang berkapasitas 50 ribu barel, Balongan berkapasitas 200 ribu barel. Dan proyek ketanaga listrikan proyek PLTA aper Cisokan yang dilaksanakan oleh PT. PLN.

Bapak Pimpinan dan Anggota Pansus yang terhormat.

Demikian beberapa hal yang dapat kami sampaikan sementara ini, semoga dapat bermanfaat sebagai masukan terhadap RUU Pengadaan Tanah untuk Pembangunan.

Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Menteri ESDM yang telah menyampaikan paparannya, dan selanjutnya Menteri LH untuk menyarripaikan paparannya.

MENEG LINGKUNGAN HIDUP (GUSTI M. HATTA):

Terima kasih Bapak Pimpinan.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Selamat slang dan salam sejahtera semua untuk kita semua.

Bapak Anggota Pansus RUU Pengadaan Tanah untuk Pembangunan, Yang saya hormati Dr.

Darwin Saleh serta jajarannya.

Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih diberikan kesempatan memberikan masukan dalam undang-undang yang saya kira cukup penting ini, dalam kesempatan ini juga kami membawa eselon satu dan dua kami dalam nanti kalau kita diskusi.

Baik kami akan menyampaikan dalam bentuk poin-poin, beberapa masukan ditinjau dari sisi lingkungan hidup yang pertama pada prinsipnya bahwa RUU telah mamasukan aspek Iingkungan dalam tahapan penyusunan kajian atau studi kelayakan.

Sesuai dengan Pasal 18 ayat (2) poin E, studi kelayakan mencakup dampak Iingkungan dan dampak sosial yang mungkin timbul akibat dari pengadaan tanah dan pembangunan. Jadi di sini dampaknya sudah mencakup hal tersebut.

Yang kedua, dalam pengadaan tanah, faktor-faktor yang diperlukan sebaiknya lebih luas dari sekedar faktor harga, melainkan juga faktor nilai terdiri dari nilai sosial dan ekonomi. Misalnya nilai lahan bukan hanya sekedar dari nilai NJOP, tapi juga harus berdasarkan dari aspek

(8)

754 INTERUPSI F-PD (H. ZULKIFLI ANWAR):

lnterupsi Pak Ketua.

Masukan ini kan seperti referensi dan dokumen kita dalam rangka pembahasan dan bagaimana menindak lanjuti. Sementara tadi Pak Ketua menyampaikan Bapak LH sangat berguna sekali dengan undang-undang, tapi tidak memberikan bahan yang gunanya sebagai bahan menjadi kajian kita. Jadi tolong dipertanyakan kepada Pak LH.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Zul.

Ada bahan tertulisnya nggak Pak?.

MENEG LINGKUNGAN HIDUP:

Mohon ini Pak, sebetulnya kami sudah menyiapkan, ini kesalahan kami Pak.

KETUA RAPAT:

Sudah slap, apa masih di fotokopi Pak, bagaimana Pak ada barangnya.

Saya, kita perpanjang kita Ianjutkan untuk melanjutkan, sambil menunggu dengan harapan 5, 10 menit sudah kita terima.

MENEG LINGKUNGAN HIDUP:

Terima kasih Pimpinan.

Sebelumnya saya mohon maaf ini, saya pikir tadi sudah slap dibagikan. Saya mohon maaf ini, bagaimana kalau kita bisa mengikuti kalau tidak ada bahan.

Saya lanjutkan Pak, jadi yang no. 2 dalam pengadaan tanah faktor-faktor yang perlu diperhatikan sebaiknya lebih luas dari sekedar faktor harga. Dalam hal ini termasuk faktor harga dalam hal ini juga termasuk faktor nilai, yang terdiri dari nilai sosial lingkungan dan ekonomi. Misalnya nilai lahan bukan hanya didasarkan pada NJOP, tapi juga berdasarkan dari aspek nilai lingkungan ekonomi dan lingkungan. Jadi yang saya masukan disini pak misalnya, yang nilai keaneka harganya sangat tinggi misalnya itu memang perlu jadi perhatian, karena itu memang menurut konvensi internasional itu harus jadi perhatian. Jadi tidak semata-mata kita ambil saja, tapi memperhatikan nilai lingkungan. Kemudian pra evaluasi nilai lahan perlu dilakukan, sehingga besaran nilai NJOP, juga telah menintregasikan nilai sosial ekonomi dan lingkungan secara wajar.

Berikutnya alih kepemilikan tidak sepenuhnya melepaskan tanggung jawab pemilik baru untuk tetap menjaga lingkungan agar keberlanjutan ekosistem secara keseluruhan tetap terpelihara.

Walaupun secara khusus bahwa aspek keanegarawan hayati dan pengerusakan lingkungan tidak secara langsung terkena dampak proses pengadaan tanah untuk pembangunan.

Yang keempat, pemerintah dengan pertimbangan secara sosial dan lingkungan dapat membuat kiasifikasi lahan yang menetapkan lahan yang bisa atau tidak dialih fungsikan dan atau dialihkan kepemilikan. Beikutnya perlunya pelibatan intasi lain dalam proses penilaian hasil kajian atau studi kelayakan, misalnya KLH untuk menilai aspek lingkungan. No. 7 apa bila pengadaan tanah

(9)

755

diperlukan pengawasan hutan, konsorvasi pada area hyconsorvosation velium maka, RUU ini yang pertama:

a. memperhatikan kawasan konsorvasi. Apa bila pengadaan tanah berada pada lokasi kawasan konsorvasi maka harus tunduk pada PUU yang berlaku yang telah mengaturnya.

Didalam RUU yang disampaikan tidak ada pasal yang menjelaskan secara khusus sehingga perlu ditambahkan.

b. Tidak memanfaatkan tanah atau lahan yang merupakan atau dikategorikan sebagai area hycoservesition file you, yaitu area yang memiliki tingkat kanekarawan hayat yang sangat tinggi.

Bisa saja terdapat didalam hutan, sungai, danau ataupun tubruh karang.

c. Memperhatikan pengadaan tanah untuk pembangunan yang berada pada pengawasan hutan, maka ahli fungsinya agar memperhatikan hasil kajian lingkungan hidup strategis terhadap ahli fungsi peruntukan kawasan hutan, yang telah dilakukan pada tingkat provinsi sesuai PP no. 10 tahun 2010 tentang tata cara perubahan peruntukan dan fungsi kawasan hutan.

d. Pengadaan tanah untuk pembangunan, agar memperhatikan kepentingan adat, budaya, maupun karipat lokal yang ada dilokasi tersebut. Sehingga lokasi-lokasi tersebut sebaiknya dihindari.

Pimpinan anggota yang saya hormati.

Keberadaan tanah ulayat yang menyebabkan proses pembebasan lahan menjadi sulit, karena kepemilikan tanah belum pada perseorangan, atau bukan pada orang pada generasi saat ini, namun juga hak generasi yang akan datang. Berdasarkan masukan-masukan pada proses amdal, pada umumnya masyarakat mengharapkan tanahnya dibebaskan. Mugnkin dengan harapan mendapatkan jumlah yang lebih besar. Keberadaan pemerintah misalnya, tim 9, yang seharusnya memfasilitasi dan memperlancar proses apwisai lahan kadang-kadang menjadi sumber masalah. Sehingga sebagian besar masukan dari masyarakat menghendaki proses negosiasi dan pembayaran dilakukan langsung dari promakarsa kepada pemilik lahan. Sebagai saran tindak pemerintah, maka perlu mempertimbangkan obsi selain akuisasi dengan ganti rugi kepada pemilik lahan, antaralain: dengan cara mekanisme sewa untuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya sementara.

Sehingga setelah masa produksi setelah selesai dalam dua puluh samapi tiga puiuh tahun, lahan akan kembali dapat digunakan oleh masyarakat. Opsi memberikan hak sharing kempemilikan atau saham dari kegiatan, seperti kegiatan-kegiatan jalan tol. Memberikan hak pengelolaan depasilitas yang ada. Seperti misalnya dibandara diberikan lahan untuk berusaha, disana seperti mau buka warung-warung dan lain-lain. Dan jika terpaksa dilakukan akuisasi lahan, terutama bagi masyarakat marginal yang memiliki lahan terbatas, yang seluruh atau sebagian besar atau lahanya di akuisasi, maka pernrakarsa berkewajiban untuk memastikan lahanya diakuisasi ekonomi masyarakat tersebut dapat berlanjut dengan cara misalnya mengganti lahan dibanding memberikan keseluruhan uang ganti rugi. Di samping itu pemrakarsa berkewajiban memberikan uang untuk hidup sebelum lahan pengganti dapat produktif.

Selanjutnya kami teruskan. No. 9 mengikuti ketentuan penataan ruang, yakni proses pengadaan tanah tidak berlaku bagi kawasan lindung. Pada kawasan lindung diatur sesuai dengan

(10)

756

mekanisme yang ada seperti mekanisme-mekanisme ahli fungsi kawasan hutan, atau perlu diatur lebih lanjut bagi kawasan lindung diluar kawasan hutan.

No.10 pada kawasan budidaya yang memiliki fungsi sebagai penyangga fungsi lingkungan, tata air, bentang alam dll, seperti sawah atau lahan pertanian pengadaan tanah perlu memperhatikan dari propesional ruang antara lain ketersedian tanah sawah alam memenuhi pangan dan ketersedian ruang hijau pada wilayah perkotaan koefesien dasar pembangunan pada wilayah pemukiman. Sering yang terjadi adalah katakanlah cadang gas itu ada diwilayah hutan atau kadang-kadang dilahan pertanian juga sering ada potensi-potensi minyak dan gas itu yang sering terjadi tantangan.

No. 11 berdasarkan poin 10, pengadaan tanah baik untuk kepentingan umum, maupun usaha swasta. Dalam pelaksanaan ganti kerugian memasukan kerugian dan asfek fungsi lingkungan yang hilang atau terganggu. Termasuk kerugian lain yang masuk dapat dinilai sebagaimana diatur pada pasal 37. Untuk keperluan ini disusun pedoman, penilaian ganti kerugian, dari asfek fungsi lingkungan yang tergabung. Terkait dengan ganti kerugian yang merupakan tanah pengganti, maka perlu diatur persyaratan tanah pengganti yang memiliki fungsi lingkungang yang sama, misalnya, tanah pertanian produktif diganti dengan tanah yang produktif. Daerah resapan air diganti dengan daerah resapan air yang bersangkutan.

ke 12 setiap kabupaten dan kota dan juga provinsi harus juga mencadangkan harus menggunakan areal lain untuk kawasan penyangga dan areal lain yang dialokasikan untuk kegiatan pembangunan. Yang terakhir untuk meningkatkan pran serta masyarakat diperlukan transparasi melalui penyampaian informasi terhadap kegiatan yang dilakukan daerah yang dapat diperuntukan sebagai kegiatan dan daerah-daerah yang harus dipertahankan karena mempunyai fungsi lingkungan.

Ini yang berkaitan undang-undang 32, tahun 2009 tentang perlindungan dan lingkungan hidup maka proses pengadaan tanah perlu memperhatikan dilakukannya kajian lingkungan hidup strategis.

Karena dari kajian ini bapak, akan diketahui daya dukung dan tampung suatu lingkungan.

Jadi apabila sudah melampaui tidak lagi diberikan ijin, tapi kalau belum melampaui itu masih bisa diberikan ijin. Kemudian dilakukan Amda atau KLPL sebelum proses pengadaan tanah, pemenuhan kerja baku kerusakan lingkungan seperti kerusakan tanah untuk produksi biomasa.

Pencadangan sumber daya alam tanah lahan mempunyai fungsi lingkungan sehingga ada yang dicadangkan sebagai upaya konserfasi dan perlindungan lingkungan hidup. Kemudian pengawasan terutama pada proses pengadaan tanah yang tidak sesuai dengan peruntukan dan fungsi lahan.

Yang terakhir penegakan hukum terhadap pihak yang mengadakan tanah yang menimbulkan penundaan kwalitas lingkungan hidup.

Demikian Pimpinan dan Anggota Pansus masukan yang saya sampaikan.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih Pak LH. Ibu dan Bapak sekalian.

(11)

757

Sebelum sampai pada pendalaman, saya ingin menyampaikan dahulu anggota yang sudah hadir kemudian tadi sudah ada yang minta ijin, Joko dan sekarang sudah hadir Bu Masitah.

Perkenalkan dahulu Pak Dewa.

F-PD (SUDEWA, ST., MT):

Terima Pimpinan.

Pak LH dan ESDM selamat pagi, saya anggota baru pada Pansus ini dari Partai Demokrat, dan dari kemaren ditugaskan di komisi VII. Jadi saya bisa bernostalgia lagi dengan Pimpinan disana nanti. Terima kasih.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT:

Silahkan Pak Nanang

F-PD (IR. NANANG SAMODRA, KA., M.Sc):

Terima kasih Pimpinan.

Saya dari Fraksi Demokrat, sekarang di komisi II, dari Dapil asal NTB.

KETUA RAPAT : Sekarang Bu Masitah.

F-PKB (Hj. MASITAH, S.Ag., M.Pd.I):

Terima kasih Pimpinan.

Pak Menteri saya dari Fraksi PKB, Komisi II, Dapil Jatim.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Bapak-Ibu sekalian.

Jadi ini kita akan masuki pendalaman soal paper dari lingkungan hidup, ya belum ada nih, saya khawatir Pimpinan dianggap kolusi dengan komisi VII, tapi inikan yang tanya Pak Zul jadi harus diluruskan. Pak ini sudah ada belum paper-nya Pak. Begini saja kita akan teruskan tapi sungguh menjadi catatan kita bahwa ini sudah berkali-kali ditunda kita menunggu kehadiran pak menteri secara langsung. Saya harap dapat diperingatkan pada staf bapak itu, tadi saya cek dengan staf sekjen saya ingin salahkan dia karena tidak minta papernya, tapi tadi saya cek sudah menyampaikan pukul 10.

dua kali. Jadi ini tolong dianggap jangan sarnpai meriirnbulkan presepsi, Menteri LH tidak serius memenuhi undangan panitia khusus, bukan komisi ini Ioh, tapi panitia khusus DPR bapak tentang sebuah undang-undang yang sangat penting. Kita mengundang sungguh Panglima Polri dan TNI, berharap beliau bisa hadir, berkali-kali kita undang akhirnya bisa hadir. Kami ingin bertemu dengan pucuknya, karena menyangkut tentang prespektif pertahanan dan keamanan nasional, kita mengudang para gubernur dan menteri tapi ini menteri hadir kami terima kasih papernya tidak dan itu menjadi catatan agar tidak terkesan ada elemen sabotir dikalangan Kementrian LH.

Ibu dan Bapak sekalian.

Saya kira ini sudah saya sampaikan, saya silahkan Bapak-bapak untuk mengikuti pendalaman. Pak Zul kami persilahkan lebih dahulu.

(12)

758 F-PD (H. ZULKIFLI ANWAR):

Terima kasih Pimpinan.

Jadi langsung saja kepada permasalahan, yang pertama saya memberikan abseltasi pada Pimpinan. Rupanya Pak Ketua kita ini tidak salah pilih sebagai Ketua Pansus, rupanya tegas juga diujungujung persoalan seperti ini. Yang selama ini diayun-ayun yang tidak di wallpaper, tapi ini tegas benar saya setuju pimpinan karena ini untuk kepentingan kita bersama.

Khusus Pak Menteri ESDM, jadi setelah menerima tanggapan masukan dari bapak ini hampir sama pak, jadi respon bapak yang diberikan pada kita tidak sedikit banyak perbedaan hanya menjurus pada masalah dikontek masalah lokasi atau pada tugas masing-masing. Jadi hanya satu saja pak, ini sifatnya untuk kros atau untuk istilahnya kebersamaan didalam nanti kita menentukan Iangkah- Iangkah kesimpulan yang akan kita ambil. Ada satu yang sifatnya bertanya pak menteri, waktu kita bertemu ditempat ini dengan menteri Kehutanan termasuk dengan Migas yang hampir rata-rata kedua narasumber itu mengatakan seperti yang bapak tulis ini, terutama sektor migas dan pangs bumi.

Katanya hampir 80 % berada dikawasan hutan lindung, itu maksudnya kami bertanya pada kesempatan ini agar apa yang diharapkan tadi bapak menteri ESDM dukungan dari pansus ini bahwa ini memang betul-betul kebutuhan dari kementrian ESDM. Karena kata pak menteri sebagian besar ada dihutan lindung, dan beliau sendiri mengatakan akan mendukung dan membantu akan mengusulkan agar diterbitkan suatu Keppres.

Jadi pertanyaan kami, betulkah bahwa memang sebagian besar potensi yang ada di ESDM ini berada dihutan lindung, itu yang pertama.

Kedua saya tidak bicara pasal-perpasal, tapi ini sifatnya demi mengambil didalam kesimpulan betul ada suatu keselarasan. Ada Pasal 7 Pak Menteri, yang di draf kami sampaikan tentunya sudah diterima Pak Menteri bahasanya sederhana sekali, tapi ini menjadi kajian menjadi tank menarik.

Karena bapak sendiri tidak membahas ini, kami sifatnya mencari dukungan atau referensi dari bapak, Pasal 7 itu mengadakan pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilaksanakan oleh lembaga pertanahanartinya. Artinya semua kerribali dari awal harga, kalau kita artikan secara menyeluruh sampai sistem segala macam ditentukan oleh lembaga pertanahan dalam hal ini tentunya pada BPN sebagian narasumber tidak sependapat bahwa ini kalau diberikari pada satu institusi saja yang maaf ngomong kalau bahasa sedikit kurang baik, tapi bahasa ini terus disampaikan yang memonopoli didalam penyediaan tanah dan pembebasan.

Jadi isinya Pak Menteri mohon tanggapan, tapi sebagian besar memang menolak kalau ini dikuasai oleh satu lembaga. Maksudnya atau manfaatnya untuk kebersamaan saja. Kalau begitu yang banyak nanti memanfaatkan tanah adalah Kementerian ESDM, dari kementerian memberikan pendapat masalah pengadaan tanah itu dengan cara begini-begini, jadi tidak dimonopoli atau bisa dikuasai oleh lembaga pertanahan saja. Jadi mohon tanggapan, masukan Pak Menteri, kalau untuk Pak Menteri Negara Lingkungan Hidup sedikit saja tidak lagi kita bicara masalah penyampaian draf Bapak. Tadi ada satu kalimat kalau saya tidak salah tangkap, jadi Bapak itu menyampaikan seperti ada sedikit kurang ada persetujuan terhadap keberadaan Panitia 9. Tadi Bapak mengatakan bahwa

(13)

759

keberadaan Panitia 9 selalu menjadi masalah. Sementara yang namanya Panitia 9 tidak ada aturan dan tidak bisa dilangkahi dan tidak bisa tidak ditiadakan. Setiap ada pengadaan tanah tetap kalau Panitia 9 itu yang bertanggung jawab terhadap pelaksanaan. Bapak katakan menjadi masalah. Kira- kira tolong Pak masalahnya itu dimana. Kirakira bagaimana mengatasi masalah ini. Jadi kalau nanti kita bisa merumuskan sama-sama kalau ini menurut Menteri Negara Lingkungan Hidup masalahnya ini. Sebab hanya Bapak yang mempermasalahkan masalah tim 9. Malah dari para gubernur malah minta ditambah jadi Panitia 11 katanya. Jadi tolong Pak karena masalah nilai harga umum Pak, semua memang jadi masalah dan saya sependapat juga dengan Bapak jangan kita berpatokan dengan NJOP karena itu tidak akan berhasil berjalan karena ada perbedaan harga pasar. Itu nanti panitialah yang akan memutuskan bagaimana tentang harga. Tolong jawaban dari Bapak.

Terima kasih pada kesempatan ini Pimpinan.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Zul.

Mungkin Pak Nanang dulu Bu, yang lain nanti kita tunda sebentar.

F-PD (Ir. NANANG SAMODRA, KARENA., M.Sc.):

Terima kasih Pimpinan.

Pak Menteri ESDM,

Dalam paparan Bapak tadi hanya membahas atau memetik bunyi Pasal 13 ayat (1) butir d dan e. Hanya tanah kepentingan umum dimaksud untuk pembangunan infrastruktur dan seterusnya, pembangkit dan seterusnya. Padahal yang kami inginkan sebenarnya jauh lebih luas dari ini.

Kelihatannya bagaimana yang berjalan selama ini sehingga menurut evaluasi dari Kementerian ESDM kira-kira apa-apa yang harus disempurnakan. Dan ini sangat-sangat normatif sekali. Kami ingin memperoleh informasi yang pertama adalah tanah-tanah yang khususnya berkaitan dengan kegiatan energi sumber daya alam khususnya yang milik pemerintah apakah semua sudah disertifikasikan?

Apakah dalam proses itu ada kesulitan-kesulitan? Sebagai contoh misalkan jaringan infrastruktur misalkan untuk mengalirkan minyak dari satu tempat ke tempat lain. Itukan melewati jalan yang sangat panjang. Apakah itu statusnya hanya numpang pada jalan saja atau itu merupakan bersertifikat sendiri. Sebab ini sangat penting, seandainya bersertifikat sendiri tentunya pengelola nanti adalah SDM. Tetapi kalau misalkan diserahkan kepada atau numpang kepada jalan-jalan umum ini nanti juga akan bermasalah, sampai ada yang ngebor, ada yang mengganggu. Sebab kami berpendapat bahwa ini hal-hal yang sangat vital. Belum lagi proses-proses eksplorasi misalkan. Untuk eksplorasi ini seringkali juga kadang-kadang ada yang off shore, kadang-kadang ada yang di darat juga. Ini ngebornya miring. Ngebor miring inikan mungkin yang identifikasikan tempat lokasi ngebor saja.

Padahal ngebornya miring ini bagaimana. Apakah juga sudah menjadi kajian? Jangan sampai seandainya ada masalah-masalah yang timbul seolah-olah akan sulit siapa yang bertanggung jawab.

Contoh kasus misalkan di Lapindo, itukan juga karena pengendalian yang kurang ketat sehingga sekarang saling salahkan siapa yang bertanggung jawab. Ujung-ujungnya dianggap sebagai bencana.

Padahal menurut saya tidak semata-mata bencana, ada penyebabnya.

(14)

760

Kemudian untuk Kementerian LH mohon maaf kami belum bisa mengajukan pertanyaan, kami belum punya bahan.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Nanang. Silakan Ibu Masitah.

F-PKB (Hj. SITI MASITAH, S.Ag., M.Pd. L):

Terima kasih Pimpinan.

Untuk Kementerian Lingkungan Hidup, dalam Pansus ini Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan ini adalah berkaitan erat sekali dengan lingkungan hidup. Bagaimana kedua-duanya bisa berjalan selaras tanpa merugikan kepentingan umum yang lain. Karena kepentingan umum di sini adalah melibatkan masyarakat yang harus dilindungi baik udara, keselamatan, dan sebagainya, pembangunan yang juga harus berjalan. Adakah di sini istilahnya draf atau semacam ada kepentingan umum, ada lingkungan di sini, lingkungan yang tidak bisa dibangun, karena ini lingkungan yang harus dilindungi untuk keselamatan umum. Saya mohon ini adalah tugas dari Kementerian Lingkungan Hidup, yang harus tegas ini tidak boleh dibangun. Karena ini akibatnya berdampak. Seperti di sini ya Pak. Fasilitas umum, fasilitas umum di sini banyak sekali kita ini produk di DPR ini produk dari undang-undang tapi kurang memperhatikan kepedulian dari masyarakat sekitarnya. Tidak adanya fasilitas umum untuk merokok. lni salah satu contoh.

Terima kasih Pak.

KETUA RAPAT:

Terima kasih. Silakan Pak Sudewa.

F-PD (SUDEWA, S.T., M.T.):

Terima kasih Pimpinan.

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Yang saya hormati Pimpinan,

Yang saya hormati Pak Menteri ESDM beserta jajarannya, Menteri Lingkungan Hidup beserta jajarannya,

Sungguh kami menyambut baik dengan hadirnya Rancangan Undang-Undang Pengadaan Tanah Untuk Pembangunan karena pengadaan tanah ini menjadi satu persoalan yang sangat khusus.

Persoalan yang klasik yang dihadapi selama ini. Dan tentu kami juga kaget mengapa pembangunan yang sudah berjalan sejak republik ini berdiri, undang-undang ini baru digagas sekarang dan harus diputuskan pada saat sekarang ini. Mengapa selama ini hanya berpedoman pada keputusan presiden.

Untuk itu dengan hadirnya Rancangan Undang-Undang ini kita sambut secara tepat, cepat, supaya betul-betul menjadikan pedoman yang dapat dijadikan acuan dalam rangka pengadaan tanah sehingga pembangunan bisa lebih cepat.

Kepada Pak Menteri Lingkungan Hidup, jadi beliau tadi mengatakan bahwa Tim 9 itu justru menjadi masalah. Saya setuju dengan kawan saya Pak Zulkifli, cuma beliau belum bisa merinci yang dimaksud Tim 9 menimbulkan masalah itu konkretnya semacam apa. Dan punya pengalaman dimana

(15)

761

sehingga kalau memang Tim 9 ini dirasa tidak tepat, perlu ada solusi yang lain. Tim berapa atau bagaimana yang dikehendaki sesuai dengan instansi tentu saja yang terkait. Jadi bermasalah untuk Tim 9 kami berharap dari Pak Menteri Lingkungan Hidup juga mernberi saran untuk karrii.

Kemudian yang kedua, pada Pasal 7 pengadaan tanah untuk kepentingan umum dilakukan oleh lembaga pertanahan. Yang dimaksud di sini adalah badan pertanahan. Tentu implementasinya tidak hanya lembaga ini saja. Perlu koordinasi dengan instansi-instansi yang lain. Tetapi dalam konteks pengadaan tanah harus jelas lembaga mana yang harus bertanggung jawab. Apabila ada satu kendala tidak bisa terimplementasi pengadaan tanah itu, harus ada satu lembaga yang bertanggung jawab. In' memang penting. Jadi kalau BPN ini tidak satu-satu lembaga, itu barangkali yang dimaksud adalah tingkat implementasi, tingkat operasional. Tetapi kebijakan dalam hal pengadaan tanah memang itu adalah lembaga BPN. Jadi harus ada satu lernbaga yang bertanggung jawab terhadap kebijakan. Tetapi kalau mau melibatkan instansi-instansi yang lain itu dalam tingkat implementasi daripada kebijakan tersebut. Maka dari Pasal 7 saya juga, narasumber yang tetap menghendaki bahwa BPN adalah lembaga yang bertanggung jawab. Kemarin saya mengikuti ada beberapa gubernur yang sudah dimintai masukanmasukannya, tapi dari sekian gubernur yang dimintai masukan itu hanya Gubernur Jawa Timur yang masih mendukung BPN. Mungkin saya sempat debat itu. Karena memang harus ada lembaga yang bertanggung jawab. Saya memberikan satu contoh juga misalnya kalau persoalan misalnya lifting minyak tidak bisa tercapai itu karena apa, siapa yang harus bertanggung jawab, segala hal yang terkait dengan lifting minyak yang bertanggung jawab adalah BP Migas. Untuk pengadaan tanah saya setuju saja.

Kemudian yang ketiga saya mohon kepada Pak Menteri Lingkungan Hidup, saya setuju dengan masukan Bapak bahwa pengadaan tanah tidak hanya melihat dari sisi ekonomi, tapi juga harus dilihat dari sisi sosial dan lingkungan. Tetapi Bapak belum memberikan masukan kepada kami secara rinci karena kami juga tidak menginginkan bahwa undang-undang ini justru menimbulkan penafsiran yang berbeda. Tidak tuntas penafsiran dalam undang-undang itu sehingga justru menimbulkan persoalan baru. Kami setuju dari sisi sosial maupun dari sisi lingkungan itu bisa dilihat, tapi ukuran atau parameternya kemudian bagaimana koordinasinya, bagaimana implementasinya di lapangan, itu juga perlu ada satu penghitungannya yang jelas. Jangan sarnpai sosial lingkungan itu menimbulkan satu penafsiran yang berbeda-beda yang justru akan menimbulkan satu persoalan baru karena akibat daripada parameternya itu sendiri tidak jelas.

Jadi kalau dilihat dari sisi ekonomi mungkin kita hanya lihat NJOP nya saja. Sementara NJOP itu juga selama ini tidak bisa kita jadikan pedoman dalam hal ganti rugi. Mungkin dilihat dari sisi ekonomi bahwa kandungan di dalamnya seperti apa yang disampaikan Bapak tadi kemudian dilihat dari lingkungan di situ ada terumbu karang, ada danau, ada sungai yang memang harus dilindungi, kemudian fungsi dari kawasan itu, itu juga harus berkelanjutan. Tetapi saya minta itu ada ukurannya.

Karena kalau tidak ada ukurannya bisa dipermainkan oleh calo-calo tanah. Calo tanah bisa membuat skalasi harga yang tidak terukur, yang tidak rasional, dan justru menimbulkan status sosial. Selain daripada ukuran-ukuran yang bisa gunakan pedoman dalam pelaksanaannya pengadaan tanah dan

(16)

762

sebagai proses negosiasi ini juga kami membutuhkan masukan dari Pak Menteri. Mungkin Pak Menteri sudah sering punya pengalaman itu, mungkin Pak Menteri ESDM sudah sering punya pengalaman seperti itu, yaitu harga yang tidak terukur yang melonjak tinggi tidak realistis dan juga timbul masalah, saran apa yang diberikan Bapak kepada kami menghadapi masalah atau persoalan yang semacam ini. Kira-kira apa solusinya, sarannya bagaimana. Karena kami juga menginginkan ada satu perbandingan dari pengalaman narasumber satu dengan narasumber lain yang sekiranya akan kita rumuskan pada satu solusi yang efektif.

Kemudian terakhir pada Pak Menteri ESDM, di sektor Bapak ini sangat vital Pak. Jadi sesuatu yang memang tidak bisa gagal atau berkurang dari kinerja atau target. Misalnya begitu lifting minyak tidak bisa tercapai itu sudah mempengaruhi semua sektor perekonomian yang lain. Artinya pengadaan tanah di sektor Bapaknya ini sangat-sangat vital dan sangat-sangat strategis. Dan tidak boleh ada hambatan sangat berarti, tidak boleh ada satu persoalan pengadaan tanah yang tidak bisa terpecahkan. Sementara saya tahu bahwa pengadaan tanah di sektor Bapak itu tantangannya sangat besar. Khususnya di kawasan hutan di hutan lindung. Itu hampir seluruhnya atau hampir 90%

kegiatan di ESDM itu tanahnya ada di hutan lindung atau kawasan hutan. Sementara ada undang- undang sendiri Undang-Undang Kehutanan, mungkin ada Undang-Undang Lingkungan Hidup juga bagaimana ini bisa sinkron dan bagaimana dengan hadirnya undang-undang ini pula tidak menimbulkan persoalan baru. Tapi betul-betul bisa kita jadikan pedoman sebagai solusi yang efektif yang terakhir yang menghadirkan satu solusi yang tidak menimbulkan persoalan baru. Mungkin Bapak punya pengalaman, pengadaan tanah di kawasan hutan bagaimana koordinasinya di kementeriari Bapak di Kementerian Kehutanan, dengan Kementerian Lingkungan Hidup. Dan untuk masukan terima kasih Pimpinan.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

KETUA RAPAT:

Baik, terima kasih. Pak Naim silakan.

F-PAN (H. CHAIRUL NAIM M. ANIK, S.H., M.H.):

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Pimpinan dan Anggota Pansus yang saya hormati,

Bapak Menteri ESDM dan Bapak Menteri LH beserta seluruh rombongan,

Pertama-tama tentunya saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri yang telah hadir pada saat ini dan sekaligus memberikan apresiasi dengan kehadiran Bapak-bapak ini berarti ada kesunggguhan di dalam menghadapi pembahasari RUU ini. Kita memang melihat bahwa RUU ini adalah kebutuhan obyektif. Dimana tuntutan untuk pembangunan begitu cepat, begitu tinggi, sementara kita berhadapan dengan ketersediaan tanah yang sangat terbatas. Dan ini perlu satu regulasi yang betul-betul memberikan keseimbangan antara kebutuhan pemerintah dengan hak-hak rakyat. Dan kita malah lebih memberatkan perhatian kepada undang-undang yang akan lahir nanti.

Yang betul-betul berperan mendukung semangat kepentingan rakyat. Saya tidak melihat dan tidak ingin berkomentar terhadap apa yang disebut dengan teknis yuridis yang Bapak sampaikan dan legal

(17)

763

drafting yang Bapak usulkan karena ini sudah ada standar. Diatur oleh Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2004 dan masukan-masukan ini sangat berharga, kami sangat menghargai. Dan ini mungkin menjadikan masukan di dalam penyempurnaan dan pengkayaan dari sisi teknis yuridis dan legal drafting yang akan kita keluarkan nanti. Tetapi secara Pak, saya melihat bahwa dari klausul yang ada di dalam RUU itu secara langsung maupun tidak ini memberikan instruksi kepada semua pemangku jabatan di dalam rangka menggantisipasi apabila undang-undang ini nanti menjadi sebuah undang- undang. Kenapa saya katakan demikian? Karena undang-undang yang sedang dibahas ini di dalam penyempurnaan yang diinginkan golnya adalah yang nanti undang-undang ini lahir terciptanya satu kepastian hukum. Kemudian nilai ganti rugi yang seimbang. lni masih mencari formulasi seperti apa.

Di undang-undang ini disebutkan bahwa langkah-Iangkah ke arah itu diberikan kepada lembaga profesional yang independen. Di sini mungkin diarahkan dengan ada penilaian dari tim penilai yang tidak mempunyai kepentingan (interest) kepada pihak siapapun, dia hanya melihat kepada harga yang betul-betul riil dan obyektif. Sehingga dia membutuhkan harga. Itu baru pendekatan teknis, ukuran.

Apakah ini sudah memenuhi keinginan masyarakat ataukah sudahkah nilai ini sesuai, ini masih dalam pencarian formulasi. Dan dengan kedua ini diharapkan meminimalisir spekulanspekulan tanah yang selama ini selalu mengganggu pelaksanaan pengadaan tanah.

Oleh karena itu saya melihat ini ada semacam instruksi kepada kita semua di dalam memberikan antisipasi atau persiapan seandainya undang-undang ini lahir. Maka perlu kami tanyakan kepada Bapak Menteri ESDM, karena didalam Pasal 17 ayat (2) disyaratkan bahwa apabila pemerintah berkeinginan untuk melakukan pengadaan tanah atau mengambil tanah masyarakat, maka perlu sebelumnya dibuat didalam RPJMnya tidak? Rencana pembangunan jangka menengah itu penting, kemudian rencana strategis, dan rencana kerja pemerintah ini yang mungkin yang merupakan yang belum diatur sebelumnya pak. Tidak bisa ujuk-ujuk langsung ESDM saya minta ini tanah harus dibebaskan tidak bisa. Jadi jauh sebelumnya ESDM itu harus mempersiapkan bahwa tanah ini kita neting secara merubah dari master plannya ESDM ini selama 5 tahun jangka menengah, selama 20 tahun jangka panjang, titik-titik inilah yang akan diimplementasikan didalam rangka pengadaan tanah ini. Artinya jauh-jauh sebelumnya, masyarakat sudah tahu bahwa tanah ini dipakai untuk ESDM.

Di Indonesia pak, karena Undang-undang ini bukan hanya untuk satu provinsi, untuk Indonesia. Mungkin apabila itu terjadi kepastian hukumnya bisa tercipta, tidak ada lagi bantahan dari masyarakat, bahwa kalau memang ada pengumuman dari pemerintah tanah ini akan dipakai untuk pemerintah, disaat itu tidak keinginan untuk menjual dan harganya mungkin lebih permanen. Bahkan orang membelipun tidak akan mau disini spekulan-spekulan tanah ini terjadi, dalam konteks ini saya tadinya juga mempertanyakan kepada Jasa Marga, dan Jasa Marga itu sudah punya Master plan bahkan dia mengatakan "kita hanya menunggu undang-undang ini menjadi Undang-undang" kalau ini menjadi Undang-undang maka investor dolar akan turun di Indonesia. dia sudah punya Grand Desaign mana yang merupakan jalan untuk jalan tol, mana yang bukan untuk jalan nasional, mana

(18)

764

yang bukan untuk jalan provinsi dan kabupaten. Sehingga secara makro integritet, ketika Undang- Undang ini lahir maka tinggal kita melaksanakan saja.

Mungkin pertanyaan saya kepada Bapak Menteri ESDM, kira-kira Bapak punya tidak master plan seperti itu? titik-titik mana yang akan diadakan ekplorasi, titik-titik mana yang akan diadakan eksploitasi, dan titik-titik mana yang akan diadakan tempat-tempat pemasaran dan lain-lain. Sehingga ketika undangundang ini lahir kita tidak meraba-raba lagi, tidak lagi secara tiba-tiba atau ujuk-ujuk tanah ini dibutuh dan yang lain tidak dibutuhkan. Kita permanen secara utuh dan masyarakatpun dalam hal ini tidak lagi kejar kesana, kejar kesini didalam melaksanakan ini, dan kita harapkan semua Kementerian.Sehingga RPJM PP Nomor 10 ini juga ada daripasinya RPJM dan juga mungkin KLH. lni saya mohon penjelasan betul Pak, saya sangat serius disini, karena jangan nanti undang-undang kita lahirkan kita kecele disini Pak. Akhirnya masyarakat juga yang rugi Pak Ketua, tidak tahu ujung pangkal, tadinya tanah dia kuasai besuk muncul tiba-tiba tanah dipakai untuk ESDM, nah ini kacau.

Oleh karena itulah saya berharap betul kalaupun belum barangkali bisa disampaikan disini. Sehingga kita dapat masukan, dan ini akan kami sampaikan juga kepada Ampres, nanti ketika kita mengerjakan DIM, itu saja kepada Bapak ESDM.

Kepada Bapak Menteri KLH, ini memang peran Bapak sangat penting Pak, karena ini mengawal, mengawal daripada seluruh kebijakan pembangunan, praktek pembangunan yang tidak merambah keranah kawasan lingkungan. Mungkin agak bersama dengan yang tadi, Bapak sebagai coordinator seharusnya Pak ini, terhadap seluruh kementerian, terhadap seluruh lembaga agar tidak ada rentetmerentet kepada pelanggaran lingkungan.Jadi setiap pembangunan yang ada ditingkat Kementerian dan lembaga. Harapakan kita tentu demikian Pak, sehingga kalau ini tercapai insya allah cita-cita dari lahirnya sebuah Undang-Undang yang legitimet, aspiratif dan berkeadilan dapat kita capai secara optimal. Barangkali demikian Pak Ketua lebih kurang mohon maaf.

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

KETUA RAPAT :

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Ibu dan Bapak sekalian.

Untuk menunjuk waktu sekarang pukul 12.00, jadi untuk memenuhi waktu kita perpanjang 30 menit, sambil kita lihat perkembangannya.

(RAPAT : SETUJU)

Semuanya sudah Pak Patappe ada yang disampaikan?Cukup baik, pak Roestanto, baik jadi masih ada waktu, kalau boleh saya pimpinan juga boleh menggunakan haknya hanya menyampaikan pertama mumpung ketemu dengan Bapak-bapak sekalian.Jadi ini hanya menambahkan saja untuk pendalaman, jadi sebenarnya yang kita ingin harapkan juga masukan dari bapak adalah sebuah tadi sudah disinggung oleh teman-teman. Sebuah perspektif nasional terhadap pembangunan lingkungan hidup, dan pembangunan ke ESDM, dan itu nanti formulasinya didalam RPJM ataupun apa, agar kalau tidak tentang lingkungan hidup, menyangkut yang beberapa kaitannya katakanlah dengan

(19)

765

pulau-pulau terluar, dengan wilayah-wilayah lainnya, karena posisi kita sementara ini sepertiganya (1/3) wilayah kita itu tanah, dan 2/3 itu adalah laut.

Maka semua akan beroperasi pada 1/3 ini, dari seluruh akuntabilitas nasional. Jadi kalaupun tadi sudah disinggung ESDM tentang listrik tadi misalnya, kaitannya dengan saluran SUIT maupun SUTET misalnya, apakah itu tidak masuk didalam perencanaan dari ke ESDMan dalam tingkat nasional? Jadi sebagai contoh saja PLN Tanjung Jati B akan menarik saluran daya tegangan tinggi sepanjang 80 km, dan itu listriknya akan berproduksi mulai pada bulan Oktober, yang bagian satu pada bulang Januari, itu diwilayah itu menghadapi persoalan, diwilayah kabupaten Kudus misalnya, Jepara.

lni maksud saya gambaran tentang ini, itu formulasinya didalam sebuah perencanaan RPJM maupun didalam Undang-Undang ini tentu kita harapkan ada penjelasannya, maupun ada keinginankeinginan tertuang. Karena undang-undang tadi adalah mengikat dan sebuah instruksi atau imperative yang ada didalam, agar tidak ada keseganan dari Bapak-bapak untuk memberikan gambaran tentang rencana KLH dalam 5, 10 atau 15 tahun rencana ESDM 5, 10 tahun menyangkut oleh elektifitasi dan lain sebagainya. Saya ini yang perlu menjadi gambaran, karena sementara ini adalah hubungannya dengan Keputusan Presiden, tetapi rangkaian panjangnya juga harus berkaitan dengan selalu disampaikan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960, kalau tidak salah, tentang Pokok- pokok Agraria. Yang itu ditetapkan dengan ketetapan MPR dan mengingkat kita semua.Maka ke ESDM man dan Lingkungan Hidup menjadi bagian yang tentunya sangat berkaitan erat dengan ini, agar jangan sampai nanti kemudian ketika Undang-Undang ini diundangkan karena tadi disampaikan contoh, beberapa kalangan mengharapkan apakah bisa sebelum Agustus selesai?Apakah bisa sebelum Juli selesai?Jangan sampai akhir tahun, karena demikian banyak hal yang menjadi, ini karena mumpung panjang kita lakukan pendalaman semua.

Maka sebenarnya apabila ini belum mungkin kami menganggap masih terbuka ruang juga untuk kemudian menyempurnakannya agar nanti kemudian wah tidak diatur oleh disebutkan pengelolaan sampah. Apakah dalam perspektif kedepan pengelolaan sampah disetiap kota tidak menjadi perencanaan khusus pengadaan tanah?Khusus penyediaan tanah disetiap wilayah-wilayah, belum lagi yang berhubungan dengan bank-bank dan yang berhubungan dengan perairan, tidak juga dengan yang berhubungan dengan ke ESDM. Jadi saya kira ini yang perlu sebagai catatan tambahan dari kami untuk mengharapkan kelengkapan dan masukan dari Bapak-bapak dan ibu sekalian.

Saya kira ini dari kami dan sekarang kami kembalikan dan kami silakan Pak Menteri ESDM terlebih dahulu lalu kemudian pak Menteri Lingkungan Hidup.

MENTERI ESDM : Terima kasih.

Bapak Pimpinan dan Pak Wakil Pimpinan, Anggota Pansus yang kami hormati.

Kami akan menjawab beberapa pokok-pokok yang ditanya. Yang pertama dari Pak Zul.

Khususnya mengenai lokasi tadi, dimana 80% dikawasan hutan lindung ini juga terkait dengan ada yang ditanyakan oleh Bapak tadi yang menyangkut hutan juga ini, oleh pak Sudewa tadi. Pak Zul kami

(20)

766

sependapat bahwa Pasal 7 Pengadaan Tanah Untuk Kepentingan Umum itu apakah perlu, apakah eksplisit hanya dilaksanakan oleh satu lembaga pertanahan? Saya kira memang ini secara tidak langsung karena kita ini adalah forum dengar pendapat, jadi kami menyampaikan apa yang kami pandang. Tetapi kami perlu mendengar apa yang disampaikan oleh Pak Zul, maupun Pak Sudewa, yang sepintas seperti tidak bersamaan, tapi saya melihat komplemen. Benar pada dasarnya harus ada satu lembaga, ditangkat pemerintahan, lembaga pemerintah yang bertanggungjawab, itu jelas benar. Cuma memang ditingkat pelaksanaannya kalau hanya satu lembaga saja, maka kita tahu seperti hanya didalam perdagangan, didalam pembayaran walaupun itu sama-sama aparat perusahaan rnisalnya, siapa yang menerima uang, maupun yang menghitung uang, itu harus beda.

Jadi antara kasir dengan itu saya kira harus ada lembaga yang bertanggungjawab tetapi didalam pelaksanaannya memang harus dihindari suatu konsentrasi didalam kewenangan/

kewenangan pelaksanaan maksud kami. Jadi pada dasarnya didalam apa yang dialami oleh sector ESDM banyak projeknya, Migas terlebih lagi panas bumi, itu berada dikawasan hutan lindung. Dalam kaitan berada dikawasan hutan, sudah ada ketentuan dari Kementerian Kehutanan, undang-undang adalah dari pemerintah untuk kawasari hutan itu sudah tapi untuk hutan lindung untuk pirijam pakai itu masih sedang dalam proses.

Yang kedua dari Pak Nanang, kami berterima kasih Pak, karena memang pada dasarnya Presiden sudah menyampaikan draf namun penggalian yang disampaikan tadi membesarkan hati kami :

1. Didalam Pasal 13, itu secara eksplisit disebutkan infrastruktur untuk distribusi transmisi, tetapi kita paham benar bahwa tidak ada yang bisa didistribusikan atau ditransmisikan bila infrastruktur eksplorasi dan eksploitasi tidak eksplisit disebutkan. Contoh yang dialami oleh kasus Cepu, itu adalah contoh infrastruktur kita menyangkut eksploitasi dari darat kelaut. Jadi memang ini pada waktunya insya allah kalau kita sudah masuk pada tahap DIM (daftar inventarisasi masalah) ini adalah masalahmasalah kasuistik yang saya lihat harus bisa diadop, saikana didalam Pasal 13 ini, memang relative masih terlalu kukuh. Kami mendengar dari tenaga ahli kami, bahwa pada dasarnya itu nanti bisa diterjemahkan secara lebih rinci didalam PPnya. Karena ini adalah satu tataran undang-undang tapi sebetulnya adalah Iebih baik kalau kita sudah menyebutkan juga atau memasukan juga infrastruktur eksplorasi dan eksploitasi. Kami terima kasih dengan pendalaman yang disampaikan oleh Pak Nanang dan kira menjadi catatan kita bersama Pak.

2. Kemudian juga yang ingin kami sampaikan mengenai pertanyaan Pak Sudewa, yang intinya memang kita konsennya sama, mengapa pembangunan sudah berjalan sekian lama baru sekarang kita ini menaikan ini ke taraf suatu undang-undang, saya kira ini pertanyaan saya juga ini pak. Tapi ijinkan kami menjawab untuk kita tukar pikiran saja Pak, boleh jadi, saya sebut boleh jadi karena kita belum membuktikan, Indonesia sebelumnya ada didalam era dimana kepemimpinan eksekutif relatif sentral dan system politiknyapun mendukung Happy be eksekutif.

Tapi Indonesia kita sekarang dan kedepan sesuai dengan transpormasi saya kira kita kehendaki bersama, dimana kepemimpinan dan pemerintahan itu Iebih bukan terbagi tetapi Iebih

(21)

767

mempunyai konsentrasi-konsentrasi sesuai dengan kewenangan entah itu eksekutif, legislative, dan yudikatif dan dia Iebih demokratik saya kira tidak bisa lagi kita mengandalkan sandaran pada suatu PP saja. Untuk kasus-kasus tertentu dan kira untuk suatu tarap undang-undang itu akan sangat memperkuat kepastian hokum, sebagaimana disampaikan disinggung sedikit oleh Pak Chairul tadi. Jadi investor untuk kasus tertentu dia ingin bersandar disetarap undang-undang.

Sehingga dengan demikian ada suatu kepastian kuat baginya.

3. Dari Pak Dewo saya juga benar hati karena ada kasus atau apa yang pernah dihadapi memang betul Pak. ambit contoh ada kasus Adver Cisoka, ini panas burni, Adver Cisoka BPLTMH mikro hidro di Jawa Barat, ini mengalami masalah padahal mestinya sudah bergulir karena PLN dianggap bukan pemerintah disini, padahal dananya bukan dari APBN, sehingga akhirnya pengadaan tanahnya yang ingin dilakukan oleh PLN, itu PLNnya dianggap swasta. Kita mengetahui ijinkan kami sedikit menyegarkan ingatan yang Bapak-bapak tentu Iebih paham, bahwa cabang produksi yang penting yang menguasai hajat hidup orang banyak itu dikuasai oleh Negara. Jadi entah PLN, entah Pertamina, yang pada dasarnya adalah BUMN peninggalan dari pemerintah penjajahan dulu, itu kita teruskan dengan karakteristik yang sesuai dengan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, ini adalah cabang produksi yang dikuasai oleh Negara, bentuk penguasaan oleh Negara itu dilanjutkan oleh ditingkat implementasinya oleh PLN. Jadi dengan pertimbangan kita ini tidak eksekutif, legislative bukan itu tapi sama-sama Indonesia melihat permasalahan di Indonesia, memang mestinya tidak demikian yang dipresepsikan oleh BPN.

Sekalipun itu sudah mungkin dia mempunyai alasan dan sandaran hokum, jadi PLN itu jelas Negara, Cuma memang karena persoalannya adalah persoalan tekstual hukum, mungkin undang- undang atau perundangan terkait, ya harus di ekplisitkan, dan itu adalah di PPnya. Jadi insyaallah kalau undang-undang ini selesai diundangkan, maka kasus-kasus semacam Adver Cisoka dan BPLTMH di Jawa Barat ini bisa selesai. Hanya saja yang jadi soal akan berapa lama undang- undang ini selesai sementara Adver Cisoka itu adalah bentuk dari banyak BPLTMH yang kita harus percepat.

4. Catatan dari Pak Dewa juga adalah pengadaan tanah dan tingkat harganya, kita kaitkan pada rujukan atau reperens apa ini juga menarik, mungkin bisa kita kaitkan itu dengan NJOP, tapi ijinkan kami juga ingin mengajak kita atau kita bersama-sama memperluas perspektif, saya ingat di Pasal 33 itu, Bapaldibu sekalian dibutir seperti ayat (1) Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945, perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan azas kekeluargaan. Kalau ayat (1) seperti itu, saya membayangkan atau mungkin kita membayangkan ketika suatu fasilitas untuk kepentingan umum yang kemudian boleh jadi akan mengalami eskalasi kemanfaatan, baik dari segi nilai asset ataupun apa dimasa depan, apabila itu melalui suatu tanah yang milik rakyat, atau milik individu tertentu, tentu bentuk penggantian atau bentuk sewa, itu bisa menjadi alternative Suatu kepentingan umum misalnya tetapi apakah satu-satunya jalan keluar adalah sipemilik tanah itu harus diganti rugi, padahal ada kemungkinan sipemilik tanah itu bisa diajak ikut memiliki, dan saya kira itu terbuka pada hasil kita bersama dan temuan kita semua. Saya ingat ada satu saran

(22)

768

yang baik dari salah seorang Profesor, yang menekuni Undang-Undang Dasar 1945, Profesor Sri Edi beliau itu mengatakan semangat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 itu antara lain ada 3 dia lihat. Itu adalah Ko Odnersif ini sebagai jadi ikut memiliki, kemudian yang kedua adalah Ko Diterminision ini konsekuensi dari ikut memiliki, ikut menentukan dengan prosentasi suara yang relevan dan kontekstual. Yang terakhir adalah Ko Responsibility ikut bertanggung jawab, atas kelancaran, atas terselenggaranya fasilitas umum ditempat itu. Jadi saya kira adalah menarik dan menantang kita bersama juga, apabila salah satu modus pengadaan tanah itu tidak berarti berupa transaksi jual beli dan penggantian.

5. Kepada Pak Chairul ini catatannya menarik Pak, ini juga kami insyaallah juga karni pertimbangkan bersama, bahwa kalau teknis yuridis, itu secara sudah standarlah. Saya kira demikian namun mengenai aspek perencanaan, dan memang kemudian dipertanyakan oleh Bapak apakah ada di Master Plen, itu ada Pak di ESDM Pak. Jadi di ESDM kita mempunyai suatu Renstra yang dimensinya lima tahunan, dan padanannya itu adalah RPJMN Pak. Cuma kalau RPJMN karena meliputi berbagai sector, maka dia tidak terlalu teknis, tapi di Renstra ESDM itu ada itu Pak. Jadi wilayah-hilayah mana yang terbuka dan akan ditenderkan untuk eksplorasi untuk eksploitasi dan infrastruktur migas misalnya Pak. Kemudian begitu juga buat panas bumi itu ada Pak. yang ingin kami sampaikan pula, ada satu kasus tadi karena pak Nanang menggali juga saya kembali ke Pak Nanang kembali, mengenai infrasgtruktur hilir gas Pak yang namanya FS Ario, Clotsting story devicing terminal. Saya ingin mengatakan begini bahwa Indonesia itu boleh saja dia kaya dengan keberagaman kekayaan alam, tetapi kalau misalnya jadi katakanlah jadi kekayaan alam itu gas, gas kita ini Bapak/Ibu sekalian itu dibagi dalam 12 region seluruh Indonesia.4 region itu surplus, yakni di Papua, Maluku, di Mahakam, dan ada juga disebagian tertentu di Sumatera. Tetapi kita sudah lihat tadi rupanya daerah yang surplus itu daerah yang tidak padat penduduk, tidak padat industry, tidak padat pemerintahan. Daerah devisit itu adalah Sumatera, dan Jawa dimana disitulah 80% dari penduduk disitulah mayoritas banyak industry dan lain sebagainya, termasuk pembangkitan. Yang menjadi soal adalah membawa gas ini dari daerah surplus ke daerah-daerah devisit, karena kasus gas di Indonesia, bukan kasus tidak ada gas, buat keperluan domestic. Tapi tidak ada infrastruktur untuk membawa gas dari daerah surplus ke daerah devisit. Jadi secara kasuistik gas yang diperlukan oleh PLN bukan hanya karena gasnya kadang PLN tidak berani membeli karena harganya mungkin PLN tidak cocok, tetapi karena infrastrukturnya itu tidak ada.

Jadi kalaupun PLN bertekad misalnya katakanlah dan memang punya kewenang dan ini belum tentu dia punya kewenangan, untuk mengeimpor gas. Kalaupun ada harganya, ada barangnya, itu tidak juga sampai ke PLN karena infrastruktur buat menampungnya.

Jadi yang ingin kami katakan memang penting sekali hak kepentingan umum buat pengadaan tanah ini. Jadi infrastruktur yang sedang kami bangun Bapak/Ibu sekalian buat FS Ario tadi Floting stories Deseving terminal, itu ada ditiga tempat. Dan ini ada didalam Restra ESDM 4, di Sumatera Utara, di Jawa Barat, dan di Jawa Tengah atau Jawa Timur kami sedang memilihnya. Yang jadi soal yang di Jawa Barat, sudah hampir sudah siap Bapak, dan sekarang Alkhamdulilah sudah groud

(23)

769

breaking, itu sempat nyangkut cukup lama, sehingga akhirnya bergeser dari September 2011 ke Insyaallah Februari 2012. Kenapa nyangkut cukup lama? Karena ada benturan dengan perencanaan DKI Pak. DKI mengadakan reklamasi, sehingga akhirnya itu ada permasalahan dengan konsep reklamasi di DKI, cukup lama ini Pak. Kalau saja misalnya ini sudah ketingkat suatu Undang-undang, maka ini yang diistilahkan oleh Pak Chairul tadi suatu instruksi bagi semua pemangku jabatan, saya kira ini bisa cepat bermanfaat. Untuk diketahui bahwa sampai sekarang gas itu adalah satu elemen vital dalam pengadaan listrik, sedemikian rupa sehingga biaya pokok pengadaan itu dapat diturunkan, jadi makin cepat gas masuk ke PLN, makin cepat biaya itu diturunkan, main cepat biaya itu diturunkan makin tidak perlu kita membeli subsidi kepada PLN dan makin kecil BPP makin tidak perlu kita menaikkan tariff terlalu dini.

Demikian pak sedikit tarnbahan yang bisa kami sampaikan, terima kasih, KETUA RAPAT:

Terima kasih Pak Menteri ESDM, silakan ada pendalaman?

F-PD (SUDEWA,ST.,MT):

Sebentar ya, pimpinan yang disampaikan oleh Pak Menteri ESDM ini sangat menarik, dan barangkali apa yang masih dishpan itu juga masih sangat banyak, yang disampaikan secara langsung dalam rapat ini mungkin hanya 10%, yang 90% masih tersimpan. Sementara kita dalam emmbahas Rancangan Undang-undang ini butuh masukan yang lebih lengkap, yang lebih utuh, supaya undangundang ini betul-betul sempurna, kami berharap pimpinan, kami berharap dari Pak Menteri, mohon bisa disampaikan masukan-masukan ini kepada kami secara tertulis, ada pengalaman- pengalaman pengadaan tanah. Bagaimana persoalan yang dihadapi dan bagaimana saran.

Saya kira itu Pimpinan, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terimakasih Pak Menteri, mau pendalaman. Iya silakan.

F-PD (IR. NANANG SAMODRA, KA., M.Sc):

Pak Menteri ESDM, saya ikut juga memikirkan bagaimana tentang listrik ini kelihatannya antara dimana tempat pembangkit dengan tempat bahan bakarnya itu beda-beda, harus melakukan transport kesana-kemari. Apakah tidak mungkin dilakukan relokasi pembangkit-pembangkit itu ditempatkan ketempat sumber bahan bakar? Misalnya pembangkit batu bara dekatkan saja ke tempat batubara, nanti jaringannyalah yang dialurkan misalnya lewat selat sunda dan lain sebagainya. Dalam hal itu kelihatannya sudah mulai dipikirkan untuk kedepan, walaupun jembatan jalan Jawa Sumatera akan dibangun tapi entah kapan, sebaiknya harus dipikirkan relokasi pabrik-pabrik kedekat-dekat tempat sumber bahan bakar, supaya tidak kesulitan, lebih mudah mengangkut jaringan listriknya lewat bawah laut, daripada membawa kesana-kemari muatan dan terus-terusan batubara nyebrang selat sunda.

Terima kasih.

(24)

770 KETUA RAPAT :

Untuk yang terakhir itu saya kira dua dicatat sementara Pak Menteri, kami lanjutkan saja terlebih dahulu kepada Menteri Lingkungan Hidup kami silakan.

MENEG LINGKUNGAN HIDUP : Terima kasih Pimpinan.

Pimpinan Pansus dan Anggota Pansus yang saya hormati.

Saya terima kasih dari Pak Zulkifli dan Sudewa tadi menanyakan tentang masalah Tim 9 Pak, yang menjadi masalah itu dimana?Jadi perlu kami sampaikan bahwa kami sering melakukan rapat Amdal Pak, sebagai media untuk mempertemukan dengan masyarakat, jadi disana masyarakat khususnya bisa menyampaikan aspirasinya.

Pada saat Amdal itu Pak sering terjadi masyarakat itu merasa dalam hal ganti rugi itu mereka selalu sepertinya kalah begitu pak. Jadi disini masyarakat berkeinginan untuk melakukan proses negosiasi langsung dalam proses alokasi lahan. Disinilah yang sering menjadi masalah mungkin kalimat kami terlalu bombastis tadi Bapak Zul.Yang dimaksudkan disini adalah jadi dalam pernbahasan dapat langsung dari pemrakarsa keperencanaan. Mungkin karena ada jembatan ini kali mereka merasa belum sempat bertemu langsung atau apa sehingga mereka mendapatkan hal yang kurang puas. Saya kira ini yang penting lembaga ini mungkin tidak masalah ya Pak, yang penting itu dalam hal pelaksanaannya itu saya kira yang perlu kita perbaiki, jadi transparansi.Karena kalau kita bicara ke IT Pak, yang berkaitan dengan akuntan public itu masyarakat sebetulnya berhak untuk tahu itu, jadi saya kira disini yang penting adalah dalam hal implementasinya harus lebih transparan.Saya itu saja Pak, jadi bukan jadi kalimat kami mungkin bombastis tadi Pak, yang sate tidak ada ini dianggap bermasalah.

Kemudian yang kedua, saya stuju tadi dengan Pak Sudewa bahwa sebaiknya ada penyampaiannya yang rinci Pak, secara tertulis yang diberikan sebab kalimat tadi kan sifatnya seperti umum, katakanlah disuatu area dimana nilai, harga-harga ini sangat tinggi, maka itu mestinya dihindarilah, apalagi konfensi internasional memang seperti itujadi mungkin nanti akan saya siapkan yang seperti apa bisa lebih detail, sehingga tidak salah didalam mengambil keputusan.

Kemudian dari Ibu tadi, bagaimana dua-duanya bisa jalan? Selama ini kita menggunakan mekanisme ini Bu, ada KLHS, (Kajian Lingkungan Hidup Strategis) ini sifatnya menyeluruh, makanya dalam Undang-Undang Nomor 32 itu diwajibkan kepada setiap Kabupaten maupun Walikota, maupun Provinsi untuk membuat kajian Iingkungan strategis. Karena kajian ini memasukan berbagai apakah soal flora faunanya, apakah soal masalah sosialnya? Apa masalah adat, jadi akhirnya kita mendapatkan suatu bahan yang lengkap itu dijadikan kebijakan nanti, untuk menentukan suatu wilayah untuk apa?Dalam rangka juga untuk meunjang untuk yang tata ruang itu tadi. Disamping itu juga kita ada lagi namanya AMDAL itu Pak, disini juga kesempatan kepentingan masyarkat bisa masuk, lalu begini tadi rame didiskusikan, kebanyakan panas bumi berada dihutan lindung.

Jadi itu memang sepertinya kode R seperti itu pak, sebab kalau tidak hutannya pak maka tidak ada air berarti itu, panas bumi jadi sia-sia, seolah-olah panas bumi kaya semacam tungku pak

(25)

771

didalam tanah itu semacam tungku.Kalau tidak ada airnya maka dia tidak bisa berguna, supaya ada airnya maka harus tetap ada hutan, itu maksudnya.Sehingga kalau ada air dia masuk sehingga terdapatlah panas bumi ini maksudnya. Tetapi begini dalam rangka mengurangi gas rumah kaca Pak, karena kita sudah terjadi pemanasan global, akibat dari ada ruma kaca, lalu kita diantara kegiatannya dalam rangka mengurangi itu tadi, memperbanyak menggunakan panas bumi, dalam bahasa umum menggunakan energy ramah lingkungan Pak. kalau bahasa umumnya.Diantaranya adalah diantaranya panas bumi, kemudian PLTS tenaga surya, kemudian PLTA tenaga air.Jadi dibandingkan kalau kita menggunakan batubara, itu mengambil batubaranya saja sudah banyak rusaknya lingkungan itu Pak, karena kebetulan batubara ini berada di bawah gunung yang banyak hutannya, itu harus dibuka hancur semua hutannya, kemudian yang tadinya digunung menjadi danau. Kalau kita bandingkan dengan panas bumi itu hanya membukanya kecil, relative kecil, makanya kami kehutanan, kemudian LH, itu masih memberikan apa namanya, istilahnya semacam kemudahan untuk panas bumi Pak.

Jadi kita masih cenderung untuk meningkatkan ke energy yang ramah Iingkungan dalam rangka mengurangi gas rumas kaca. Batubara tadi setelah dipakai juga menambas gas rumah kaca, jadi banyak sekali dampaknya, ini sebenarnya upaya-upaya mencoba mengurangi,namun demikian rupanya masih ada dampak juga terjadi, seperti tadi kita tetap membuka hutan walaupun relative kecil.

Ini yang bisa kami sampaikan Bapak, mungkin itu dulu Pak.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih Ibu dan Bapak sekalian.

Jadi ada, jadi mau menambahkan, jadi pada kami telah tersedia Paper dari Menteri Lingkungan Hidup juga sudah kita terima, saya kira sebagai gambaran dan rupanya juga sudah lengkap masukan dalam butir-butir yang berhubungan dengan komentar ataupun usulannya terhadap pasal-pasal ini. Saya kira sudah kami terima sebagai penjelasan kita.

Ibu dan Bapak masih ada waktu apakah kita, cukup ya, Pak Menteri masih ada silahkan Pak.

MENTERI ESDM :

Mohon ijin saya ingin menambahkan apa yang ditambahkan Pak Nanang tadi, Pak memang Alkhamdulillah sudah ada didalam Renstranya ESDM dan bahkan sudah ada Permen, yang memberikan kemudahan untuk pembangunan pembangkit listrik dekat sumber energy primernya pak.

Namun nanti kami akan telaah kembali, aturan terkait disektor ESDM mengenai dorongan untuk merelokasi, pembangkit yang ada ke sumber energy primernya. Cuma memang sejauh ini yang sudah terimplementasikan adalah untuk jawa itu Iebih banyak berupa PLTU, untuk jawa lebih banyak PLTU, kemudian untuk didaerah Sumatera dan Kalimantan itu memang semakin dikonsentrasikan untuk PLTU, yang memang jadi masalah apakah benar untuk Jawa itu semakin lebih tepat untuk PLTU yang dari batubara? Kalau dari pertimbangan sumber energy primernya sudah barang tenth tidak demikian, karena batubaranya ada di Kalimantan da nada di Sumatera, yang jadi masalah adalah, karena di Jawa paling banyak penduduk maka akan Iebih murah kalau dengan yang paling murah. Masalahnya

(26)

772

yang paling murah itu adalah batubara, jadi batubara yang diluar Jawa itu sekalipun, dibawa dengan transportasinya secara BTP memang lebih baik. Ada kekawatiran dari lingkungan, saya mendengar sekelompok dari teman-temannya Pak Daryatmo, para Enginer dari ITB, itu sangat mengkawatirkan apa, apabila prinsip pertimbangan ini terus dilanjutkan. Karena tidak bisa jawa itu menanggung sedemikian banyak polusi yang diakibatkan oleh batubara.

Jadi catatan Pak Nanang tadi memang ada didua kutub pertirribangan Pak, mendekati energy primernya disatu pihak, tetapi bagaimana agar dia Iebih murah, namun tidak menirnbulkan polesi.

Saya kira ini hal-hal yang multi tafsir tapi insyaallah kita akan renungkan, kita akan jumpa lagi diwaktu yang lain membahas dan mendalami hal yang demikian Pak.

Terima kasih Pak.

KETUA RAPAT :

Baik Ibu/Bapak sekalian saya kira kita sudah, oh Bu Masitah ada tambahan? Belum hampir, baik saya buka sebelum itu supaya memperkenalkan satu lagi Pak, Pak Sujadi sudah hadir disamping Ibu, Pak Sujadi dari Fraksi PDI Perjuangan, beliau dari Gajah Mada, kalau Pak Nanang dari ITB juga.

Silakan Ibu Masitah.

F-PKB (Hj. MASITAH, S.Ag., M.Pd.I):

Terima kasih Pak Menteri.

Untuk Pak Menteri Lingkungan Hidup, mohon maaf tadi disebutkan ini ada kaitannya dengan undang-undang 32, maksudnya undang-undang 32 apa ini pak, lingkungan hidup dibawah L.H ya pak ya, oh gitu ya pak ya, bukan otonomi daerah kan, ya oh ya.

Terima kasih Pak.

KETUA RAPAT :

Baik, Ibu-Bapak sekalian.

Saya kira kita telah cukup untuk menerima ini sudah lama, jadi sebelum mengakhiri perlu kami sampaikan kepada Menteri ESDM dan Menteri Lingkungan Hidup. Jadi sebagian yang menjadi kebiasaan kita, kebetulan ini ada bahwa hadir kebetulan pada akhir-akhir minggu dari Pansus bekerja.

Pada minggu depan kita akan mulai masuk pada rapat Pansus Raker lalu memasuki Panja, masih ada waktu Panja pada bulan masa sidang ini. Kemudian kita akan perpanjang lagi pada masa sidang ketiga dari pekerjaan ini, masa sidang sekarang adalah masa sidang empat, tetapi untuk pekerjaan ini adalah masa sidang yang kedua. Tata tertib membatasi kita hanya tiga kali masa sidang, karenanya sesudah minggu depan kita akan masuki Panja dan kepada seluruh pemberi masukan dari para menteri dari LSM dari para gubernur dan TNI/POLRI. Demikian juga kepada bapak sekalian masih tersedia ruang dan waktu untuk dapat melakukan pendalaman sekiranya kemudian perlu disampaikan pada kami masukan-masukan yang sangat penting berdasarkan pertemuan kita hari ini, saya kira cukup banyak hal yang kita lakukan dan itu akan menjadi bekal dari fraksi-fraksi ada Sembilan fraksi untuk menyusun DIM-nya, karena nanti ada sepuluh, ada sepuluh kolom, ada DIM pemerintah, ada juga DIM fraksi itu ada Sembilan kolom jadi semuanya sepuluh kolom itu kita ....panitia kerja. Apabila itu disampaikan sejak awal sebelum dimasukannya DIM tentu akan menjadi jalan yang rnudah juga

Referensi

Dokumen terkait

kesejahteraan rakyat yang diantaranya meliputi aspek ekonomi dan Pendidikan oleh pemerintah dewasa ini belum menunjukan hasil sesuai yang diharapkan rakyat Indonesia

SDIT AL uswah Surabaya is one unified Islamic elementary school that has problems ranging from frequent mistake inputting data, loss of data that has been collected, the data is not

Dehidrasi yang dilakukan yaitu dengan cara adsorbsi menggunakan molecular sieve 3A, silica gel, dan kombinasi dari molecular sieve 3A + silica gel. Dari percobaan adsorbsi dari

Tunas-tunas yang terbentuk tersebut berwarna hijau dengan pertumbuhan sempurna (Gambar 3), sedangkan pada eksplan kalus embrionik hasil persilangan antara jeruk siem x

Racun ialah suatu zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan faali, yang Racun ialah suatu zat yang bekerja pada tubuh secara kimiawi dan faali, yang

Jadi sistem pakar Æ kepakaran ditransfer dari seorang pakar (atau sumber kepakaran yang lain) ke komputer, pengetahuan yang ada disimpan dalam komputer, dan pengguna

Faktor Risiko yang Dapat Diubah dan Tidak Dapat Diubah pada Pasien Penderita Penyakit Jantung Koroner di RSUP HAM.. Yang dipersiapkan oleh:

Tanggung jawab sosial dalam perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) adalah mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara sukarela mengintegrasikan perhatian terhadap