• Tidak ada hasil yang ditemukan

Imlek dan para Presiden Indonesia.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Imlek dan para Presiden Indonesia."

Copied!
2
0
0

Teks penuh

(1)

''i

l

ffi

,$il.,$"$;$$;,,

'

fins*

tttr

Ktt,up'r s

GRATvTEDIA

JUMAT

KLIWON

5

FEBRUARI

2016

27

RABIUL AKHIR

1437

NO

1739

/TAI{UN 5

wwe

*ft

ffi{H{e

a \ n d.tu t eds -*r 9qf/

t.."\ N$*i,qN.i:-\S $ P $S.

*$*

'l ":l

(2)

OPINI

lmlek,

dan

Para

Presiden

lndonesia

SAUDARA.SAUDA-RA

kita

Tion{hoa

akan

merayakan "Tahun Baru lmlek"

2567

Tahun

Mo

nyet Api, pada hari

Senin (8/2).

Peraya-an tahun baru yPeraya-ang dahulu tak bisa dira, yakan secara terbu-ka di era Orde Baru,

kala

masyarakat

Ti-onghoa

terkekang

untuk

tampil

di

ru-ang publik sehingga

identitas

diri

mere-ka puh terbenam.

Apa awal mulanya lndonesia bersikap

diskriminatif terhadap

saudara-sarudar kita Tionghoa? Kita harus kembali melihat ulang sejarah bangsa, pada masa PresF

den Sukarno berkuasa (Orde Lama).

Ke-tika

Republik lndonesia baru berdiri,

Su-karno pada

tahun

1946

mengeluarkan'

penetapan pemerintah mengenai hari-hari

raya umat beragama

No

2/OEM-1946.

Pada pasal 4 ditetapkan empat hari raya

orang Tionghoa, yaitu Tahun Baru lmlek,

Hari

Raya Wafatnya Khonghucu, Ceng Beng, dan Hari Lahir Khonghucu. Hal ini

menunjukkan bahwa bangsa lndonesia

YULIUS DWI

CAHYONO

MPD

Dosen Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta

konsisten dalam menghargai keberagam-an dalam masyarakat.

Berbeda, ketika Presiden Suharto

ber-kuasa (Orde

Baru).

Pada tahun1967,

melalui

lnpres No

t4/L967

dilakukan

pembatasan agama, kepercayaan dan

adat

istiadat Cina.

Secara sistematis

masyarakat Tionghoa menjadi terelimi-nasi atas identitas dirinya. Perayaan

tra-disi dan keagamaan masyarakat

Tiong-hoa, mulai dari Tahun Baru lmlek, Cap Go Meh, Pehcun; tarian Barongsai dart

Liong, dilarang

dirayakan/dipertunjuk-kan di ruang publik.

Tekanan semakin

diperkuat

melalui

Lembaga Pembina

Kesatuan

Bangsa

(LPKB),

yang

menganjurkan keturunan Tionghoa melupakan dan tidak menggu-nakan lagi nama Tionghoa, menikah

de-ngan orang lndonesia pribumi

asli,

me-nanggalkan dan menghilangkan agama, kepercayaan dan adat istiadat Tionghoa

(termasuk bahasa, kebiasaan, dan

ke-budayaan Tionghoa)

dalam

kehidupan sehari-hari.

.Muncul SE Mendagri No

477/74054

tahun 1978, yang berisi, antara

lain,

pe-merintah menolak mencatat perkawinan ilemeluk agama Khonghucu. Pemerintah juga menolak mencantumkan Khonghucu dalam kolom agama di KIP. " Lalu, melalui

surat Dirjen Bimas Hindu dan Buddha De

pag No H/ BA.0O / 29 /

t/

1993 pemerintah melarang perayakan lmlek di Vihara dan Cetya. lmlek hanya boleh dirayakan seca

ra tertutup di dalam rumah.

Di era reformasi, udara segar bagi

ma-syarakat Tionghoa menampilkan ekspre

si kultural dan religiusnya dl ruang publik,

tidak lepas dari pera Presiden KH

Abdur-rahman Wahid (Gus Dur), melalui Kepp

res No

6/2000

tentang pencabutan

ln-pres

No14,/1967 tentang Pembatasan Agama, Kepercayaan dan Adat lstiadat

Ti-onghoa. Tahun 2001, melalui Keputusan Menteri Agama

No13/2001,

lmlek dite-tapkan sebagai hari libur nasional

fakul-tatif.

Baru pada masa Presiden

Megawa-ti,

melalui Keppres No

19l

2002,

lmlek menjadi hari libur nasional mulai 2003.

Semangat keberagaman

ini

semakin

memperkokoh bangsa selama kita

meng-amalkan visi dan misi para pendiri bang-sa yangtercermin dalam Pancasila. Harus

kita

renungkan, dalam bingkai

Pancasi-la, Bhineka Tunggal lka, UUD 1945, dan NKRI, keragaman budaya adalah

kekaya-an, kekuatan, potensi yang mampu

men-junjung tinggi harga diri Tanah Air tercinta, untuk menjadi pusat perhatian dunia,

di-hargai dan disegani dunia. Xin Nian Kuai

Referensi

Dokumen terkait

Budaya atau peradaban adalah suatu keseluruhan yang kompleks dari pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat-istiadat, serta kemampuan-kemampuan dan kebiasaan

Biasanya nilai ini dapat diketahui dengan penggambaran adat istiadat, bahasa dan gaya bicara tokoh yang mencerminkan bahasa tertentu, dan kebiasaan yang berlaku pada

Tylor, budaya adalah suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan

kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat istiadat, dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai

Taylor kebudayaan didefinisikan sebagai kompleksitas yang meliputi kepercayaan, seni, moral, hukum, adat istiadat (kebiasaan) dan segala bentuk kehidupan yang diperoleh dari

Termasuk di dalamnya agama, kekerabatan, pengetahuan, kepercayaan, seni, praktek-praktek akhlak dan kelahiran bayi (14). Adat istiadat/budaya adalah pengetahuan yang diperoleh

Berkembangnya agama Katolik akibat kebijakan pemerintah yang melarang keberadaan agama, adat istiadat dan kepercayaan etnis Tionghoa di Indonesia pada tahun 1967, disamping itu usaha

Di sini dijelaskan pengertian budaya menurut E.B. Taylor bahwa ia mengataka "Suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, keilmuan, hukum, adat istiadat dan kemampuan yang lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai anggota