• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN. A. Hasil Studi Pendahuluan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB IV HASIL PENELITIAN. A. Hasil Studi Pendahuluan"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

57 BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Hasil Studi Pendahuluan

Hasil penelitian dan pengembangan ini adalah modul pembelajaran kimia berbasis problem based learning(PBL) untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI SMA pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan. Kompetensi dasar yang menjadi bahan kajian untuk dikembangkannya modul pembelajaran adalah KD 3.14

“memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutandan hasil kali kelarutan (Ksp)” dan KD 4.13 “merancang dan melakukan percobaan untuk menentukan hasil kali kelarutan serta memprediksi terbentuknya endapan dari suatu reaksi berdasarkan prinsip kelarutan dan data hasil kali kelarutan (Ksp) serta menyajikan hasilnya”. Penelitian pengembangan dilakukan dengan menggunakan model pengembangan Borg & Gall yang terdiri atas sepuluh langkah yaitu: (1) research and information collecting; (2) planing; (3) develop preliminary form of product; (4) preliminary field testing; (5) main product revision; (6) main field testing; (7) operational product revision; (8) operational field testing; (9) final product revision; dan (10) dissemination and implementasion.

Dalam penelitian yang dilakukan sepuluh langkah pada penelitian pengembangan menurut Borg & Gall dibatasi sampai sembilan langkah saja, hal ini dilakukan karena keterbatasan waktu dalam penelitian yang dilakukan. Langkah penelitian pengembangan dari tahap 1 sampai dengan tahap 9 yaitu (1) pengumpulan informasi, termasuk kajian pustaka, pengamatan kelas, membuat kerangka kerja penelitian; (2)perancangan, merumuskan tujuan penelitian, memperkirakan dana dan waktu yang diperlukan dalam penelitian, prosedur kerja penelitian; (3) dikembangkan bentuk produk awal atau perancangan draf awal produk dan memvalidasi produk; (4) uji coba lapangan permulaan; (5) revisi terhadap produk utama; (6) uji coba lapangan utama;

(7) revisi terhadap uji lapangan utama; (8) uji lapangan operasional; (9) revisi produl akhir. Tahap-tahap tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

commit to user commit to user

(2)

1. Studi Pendahuluan danPengumpulan Informasi a. Hasil Studi Pustaka

Hasil studi pustaka merupakan hasil analisis dari KI-KD pembelajaran kimia pada kelas XI SMA yang mengacu kepada standar isi (permendikbud nomor 64 tahun 2013 tentang standar isi pendidikan dasar dan menengah). Hasil analisis ini ditujukan untuk menentukan kompetensi inti, kompetensi dasar dan materi pembelajaran yang memungkinkan untuk sebagai acuan pengembangan modul pembelajaran.

Hasil analisis KI dan KD pada kelas XI SMA pada semester I dan II adalah terdapat 4 kompetensi inti yang terdiri dari KI-1 untuk kompetensi inti sikap spiritual, KI- 2 untuk kompetensi inti sikap sosial, KI-3 untuk kompetensi inti pengetahuan, dan KI-4 untuk kompetensi inti keterampilan. Sedangkan kompetensi dasar dikelompokkan menjadi empat sesuai dengan rumusan kompetensi inti yang didukungnya, yaitu: 1) kelompok kompetensi dasar sikap spiritual (mendukung KI-1) atau kelompok 1; 2) kelompok kompetensi dasar sikap sosial (mendukung KI-2) atau kelompok 2; 3) kelompok kompetensi dasar pengetahuan (mendukung KI-3) atau kelompok 3; 4) kelompok kompetensi dasar keterampilan (mendukung KI-4) atau kelompok 4.

Kompetensi dasar dalam kelompok kompetensi inti sikap (KI-1 dan KI-2) tidak diajarkan, tidak dihafalkan dan diujikan, tetapi sebagai pegangan bagi pendidik bahwa dalam mengajarkan mata pelajaran tersebut ada pesan-pesan sosial dan spiritual sangat penting yang terkandung dalam materinya. Sedangkan kompetensi dasar dalam kelompok kompetensi inti yang bisa diajarkan adalah kelompok kompetensi dasar pengetahuan yang mendukung KI-3 dan kelompok kompetensi dasar keterampilan yang mendukung KI-4.

KI dan KD yang telah dianalisis tersebut diidentifikasi dari permendikbud nomor 64 tahun 2013 untuk dipetakan sesuai tingkatan pengetahuan, sikap dan keterampilan siswa.

b. Hasil survei Lapangan

Survei lapangan dilakukan untuk mengumpulkan data berkenaan dengan perencanaan dan pelaksanaan modul pembelajaran kimia SMA berbasis pendekatan problem based learning (PBL) terintegrasi pendidikan karakter yang akan dikembangkan.

Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, pengamatan dan penyebaran angket.

Data yang dikumpulkan adalah pelaksanaan pembelajaran dan faktor-faktor pendukung commit to user

commit to user

(3)

pembelajaran seperti sarana pendukung pembelajaran kinerja siswa dan guru dalam proses pembelajaran.

1) Wawancara

a. wawancara dan observasi kepada wakasek kurikulum

Tujuannya untuk mengetahui pencapaian 8 standar nasional pendidikan di SMA N 1 Wera. Dari hasil observasi dan wawancara tersebut diketahui GAP terbesar pencapaian 8 SNP adalah pada standar proses dan standar penilaian sebagaimana tertera dalam tabel 4.1

Tabel 4.1 Capaian skor pemenuhan 8 SNP

Standar Jumlah Indikator

Skor Ideal

Kontribusi

%

Implementasi Skor

SNP

%

GAP

%

Isi 8 24 11,11 22 10,19 0,93

Proses 10 30 13,89 25 11,57 2,31

Komp. Kelulusan 12 36 16,67 35 16,20 0,46

Pend. Tendik 11 33 15,28 32 14,81 0,46

Sarpras 11 33 15,28 31 14,35 0,93

Pengolahan 4 12 5,56 12 5,56 0,00

Pembiayaan 3 9 4,17 9 4,17 0,00

Penilaian 13 39 18,06 35 16,20 1,85

TOTAL 72 216 100 201 93,06 6,94

Berdasarkan hasil wawancara dan observasi terhadap komponen SNP di peroleh capaian skor pemenuhan 8 komponen standar nasional pendidikan (SNP) di SMA N 1 Wera adalah 93,06% sehingga dapat dikategorikan sangat baik. Namun, masih terdapat GAP antara skor ideal dengan skor pencapaian dilapangan yaitu sebesar 6,94%. Skor GAP tersebut berasal dari kontribusi beberapa komponen SNP yang memperoleh skor 1 dan 2. Berdasarkan tabel 4.1 dapat dilihat bahwa komponen standar yang paling banyak memiliki GAP adalah standar proses dan standar penilaian dengan presentase 2,31 dan 1,85. Dalam standar proses meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran diantaranya berkaitan dengan proses belajar mengajar disekolah, sumber belajar atau bahan ajar, serta perangkat dan media pembelajaran yang digunakan oleh guru.

commit to user commit to user

(4)

b. Wawancara guru

Hasil wawancara guru terkait penggunaan bahan ajar kimia kelas XI mengemukakan disekolahnya belum menggunakan bahan ajar yang pasti untuk mengajarkan materi kimia, guru hanya sebagai satu-satunya sumber informasi siswa, hasil wawancara guru ini disimpulkna bahwa belum adanya bahan ajar terutama yang berkaitan untuk kurikulum 2013 di SMA.

c. Wawancara siswa

Hasil wawancara siswa kelas XI SMA N 1, SMA N 2 dan SMA N 3 Wera mengenai materi ajar kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp), antara lain; 1. kurangnya kemampuan dalam memahami konsep kimia, 2. siswa memperoleh hasil yang rendah, 3.

takut yang dilakukan mendapat tanggapan yang kurang baik, 4. Waktu yang kurang memadai untuk belajar.

2) Hasil angket pra penelitian

Angket pra penelitian ini diisi oleh siswa. Sampel yang diambil oleh peneliti sebagai dasar awal penelitian adalah 10 siswa kelas XI SMA N 1 Wera. Secara garis besar, jawaban-jawaban siswa dalam angket pra penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. Siswa yang beranggapan bahwa pelajaran kimia masih sulit untuk dipelajari

2. Siswa memilih materi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) yang susah untuk di pelajari.

3. Siswa menyetujui diadakannya modul kimia yang dapat membantu mengatasi pembelajaran pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp).

Berdasarkan hasil tahap penelitian dan pengumpulan informasi diperlukan pengembangan modul ajar.

2. Perencanaan

Tahap perencanaan disusun berdasarkan hasil tahap penelitian dan pengumpulan informasi. Tahap perencanaan digunakan sebagai dasar penyiapan rancangan awal penyusunan modul berbasis problem based learning dan menyiapkan prosedur penelitian untuk uji kelayakan produk. Kegiatan yang dilakukan pada tahap perencanaan, sebagai berikut:

commit to user commit to user

(5)

a. Menentukan produk yang akan di kembangkan

Sesuai dengan tahap penelitian dan pengumpulan data, produk yang dihasilkan dalam proses pembelajaran kimia yaitu modul kimia berbasis problem based learning (PBL). Modul kimia yang dikembangkan adalah modul kimia untuk siswa kelas XI SMA N 1 Wera.

Materi yang dipilih untuk pengembangan modul yaitu materi kelarutan, hasil kali kelarutan (Ksp), hubungan kelarutan dan tetapan hasil kali kelarutan, pengaruh ion senama dan pH terhadap kelarutan dan reaksi pengendapan. Dalam modul kimia berbasis problem bases learning, setiap kegiatan belajar membutuhkan waktu 3 x 45 menit.

Pembelajaran berbasis problem based learning dipilih sebagai model pembelajaran menggunakan modul kimia materi kelarutan dan hasil kali kelarutan dimana model pembelajaran ini menuntut siswa untuk dapat menemukan jawaban dari permasalahan yang diberikan melalui pengamatan atau eksperimen.

Dalam pembelajaran menggunakan modul kimia materi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) yang digunakan adalah sintaks problem based learning(PBL) 1) memberikan pernyataan masalah, 2) membuat daftar apa yang diketahui,3) mengembangkan masalah, 4) membuat daftar apa yang diperlukan, 5) membuat daftar tindakan yang mungkin dilaksanakan, rekomendasi, pemecahan masalah dan hipotesis.

Adapun matriks antara modul kimia dengan pembelajaran PBL terdapat pada tabel 4.2

Tabel 4.2.Matriks antara sintaks problem based learning (PBL) dengan modul yang dikembangkan

Sintaks problem based learning (PBL)

Sub judul dalam

modul Deskripsi

Orientasi masalah Wacana

Memberikan gambaran pada siswa mengenai permasalahan yang akan

dipelajari Pengorganisasian siswa

dalam kelompok

Pengorganisasian siswa belajar

Membantu siswa dalam menganalisis masalah yang terdapat dalam modul

commit to user commit to user

(6)

Penyelidikan mandiri atau kelompok

Penyelidikan mandiri/kelompok

Siswa disuruh memilih alat dan bahan yang digunakan untuk melakukan praktikum Mengembangkan dan

menyajikan hasil karya

Mengembangkan dan menyajikan

hasil karya

Siswa mengembangkan karyanya setelah melakukan kegiatan praktikum

Analisis dan evaluasi pemecahan masalah

Analisis dan evaluasi pemecahan

masalah

Siswa menulis tentang hambatan dalam melakukan penyelidikan

b. Menentukan instrumen penelitian dan pengembangan

Tujuan tahap ini adalah merancang dan menyusun instrumen pendukung pengembangan modul pemebelajaran berbasis problem based learning (PBL). Instrumen tersebut adalah 1) RPP, 2) lembar validasi, 3) lembar validasi kelayakan modul oleh guru, 5) angket untuk penilaian kelayakan modul oleh siswa, 6) lembar observasi pembelajaran, 7) soal tes hasil belajar.

Karena silabus kurikulum 2013 sudah disusun oleh pusat kurikulum, maka dalam tahap ini peneliti tidak menyusun silabus dan hanya menyusun RPP.

Lembar validasi RPP divalidasi oleh 1 orang ahli materi, yaitu Prof. Dr. Ashadi, 1 orang ahli praktisi yaitu Arni Astuti, M.Pd, dan 2 orang teman sejawat yaitu Fathurrahmaniah M.Si dan Sri Agustina M.Si.

c. Menentukan prosedur pengembangan modul ajar

Prosedur pengembangan modul ajar yang direncanakan meliputi langkah- langkah yang dilakukan untuk mengembangkan modul modul berbasis problem based learning (PBL). Prosedur pengembangan modul ajar: penentuan subjek penelitian, data yang diperlikan dan teknik pengambilan data yang dimulai dari tahap pengembangan rancangan awal, validasi produk sampai uji coba produk.

Untuk subjek penelitian untuk uji lapangan awal membutuhkan waktu selama dua hari. Uji coba skala kecil ini siswa kelas XI sebanyak 10 siswa diberikan angket untuk menilai kelayakan modul.

Untuk uji lapangan utama membutuhkan waktu selama 3 minggu karena uji coba skala menengah ini dilaksanakan dengan pembelajaran yang menggunakan modul kimia commit to user commit to user

(7)

berbasis problem based learning (PBL), dimana dalam tiap kegiatan pembelajaran membutuhkan waktu 3 jam pembelajaran setiap 45 menit dalam 1x tatap muka.

Uji lapangan operasional dilakukan di tiga sekolah untuk menilai produl modul kimia berbasis problem based learning (PBL).

Tabel 4.3 waktu dan tempat pelaksanaan penelitian dan pengembangan modul

Kegiatan Tempat Waktu

Uji lapangan awal 1. SMA N 1 Wera Agustus 2015 Uji lapangan utama

1. SMA N 1 Wera 2. SMA N 2 Wera

Agustus 2015 Agustus 2015

Uji lapangan operasional

1. SMA N 1 Wera 2. SMA N 2 Wera 3. SMA N 3 Wera

September 2015 September 2015 September 2015

B. Pengembangan produk 1. Penyusunan Draft Produk

Pada penelitian ini, desain produl awal modul kimia dikonsultasikan dengan dosen pembimbing sebagai konsultan ahli modul, yaitu Dr. M. Masykuri, M.Si dan Dr.

SriYamtinah, M.Pd, saran dari para ahli digunakan untuk memperbaiki modul menjadi produk awal modul kimia berbasis problem based learning (PBL) pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp). Rancangan awal produk yang dikembangkan berdasarkan tahapan sintaks berbasis problem based learning (PBL) materi ajar kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) yang dikelompokkan menjadi tiga sub materi ajar:penyusunan desain modul tersebut berpedoman pada panduan penyusunan modul oleh Depdiknas 2008.

Komponen-komponen modul ajar yang dikembangkan sebagai berikut:

a) Bagian 1

Pada bagian ini terdiri dari cover , kata pengantar, daftar isi, KI, KD, dan indikator pembelajaran, deskripsi isi modul, peta konsep dan petunjuk penggunaan modul. Komponen-komponen ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

1) KI, KD, dan indikator pembelajaran berisi keterampilan dan kemampuan yang hendak dicapai siswa setelah belajar menggunakan modul kimia pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) commit to user commit to user

(8)

2) Deskripsi isi modul berisi gambaran umum mengenai fitur-fitur yang terdapat dalam modul

3) Petunjuk penggunaan modul berisi petunjuk penggunaan bagi guru dan siswa dalam menggunakan modul

b) Bagian 2

Pada bagian ini terdiri dari fitur Wacana (Orientasi masalah), Pengorganisasian Siswa Belajar, Penyelidikan Mandiri/Kelompok, Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya, Analisi dan Evaluasi Pemecahan Masalah, serta info kimia. Keseluruhan fitur dalam bagian ini sesuai dengan langkah-langkah pembelajaran PBL.

1) Wacana (Orientasi masalah) berisi penyajian masalah umum dalam kehidupan sehari-hari yang berhubungan dengan materi.

2) Pengorganisasian Siswa Belajar berisi pertanyaan dan menjawab sesuai wacana 3) Penyelidikan Mandiri/Kelompok berisi pemilihan alat dan bahan untuk melakukan

praktikum

4) Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya menyuruh siswa untuk buat poster tentang dampak yang terjadi karena banyaknya larutan kimia dalam tubuh

5) Analisi dan Evaluasi Pemecahan Masalah berisi tentang ada atau tidak adanya hambatan dalam melakukan penyelidikan

c) Bagian 3

Bagian ini terdiri dari komponen sebagai berikut:

1) Latihan soal berisi soal-soal untuk menguji pemahaman siswa yang terdiri dari 5 soal pilihan ganda

2) Kunci jawaban berisi jawaban dari soal evaluasi dan soal formatif yang ada dalam modul

3) Glosarium berisi penjelasan konsep-konsep penting dalam materi yang memilki link dengan materi

4) Daftar pustaka berisi tentang sumber-sumber yang dijadikan dasar untuk penulisan modul kimia dengan materi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp)

2. Hasil Ujicoba Draft Produk a. Draf Awal

Tahap ini bertujuan untuk menghasilkan modul kimia yang berkualitas berdasarkan masukkan dari para ahli. Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah commit to user commit to user

(9)

penilaian modul kimia oleh 1 dosen pendidikan sains minat kimia pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta yaitu Prof. Dr. Ashadi sebagai ahli materi,1 dosen pendidikan Sains minat kimia Pascasarjana Universitas Sebelas Maret Surakarta yaitu Prof. Sulistyo Saputro, M.Si, Ph.D sebagai ahli media, 1 guru kimia di SMA yaitu sebagai praktisi ibu Arni Astuti M.Pd, 1 guru bahasa Indonesia yaitu Baiq Yulia Kurnia Wahidah M.Hum sebagai ahli bahasa Kriteria-kriteria yang dinilai terdiri dari aspek materi, penyajian dan bahasa.

Berdasarkan hasil penilaian oleh para ahli, baik itu ahli media, ahli materi, ahli bahasa, praktisi dan teman sejawat maka modul kimia ini valid dan layak digunakan untuk langkah penelitian dan pengembangan berikutnya yaitu uji coba lapangan awal.

Tabel 4.4 Hasil Validasi Modul

No Validator Kelayakan validitas (%)

Kategori

1 Ahli Materi 78 Sangat Baik

2 Ahli Media 73 Baik

3 Ahli Bahasa 82 Sangat Baik

4 Guru 85 Sangat Baik

5 Teman Sejawat 91 Sangat Baik

6 Teman Sejawat 92 Sangat Baik

Selain memberikan penialain terhadap modul kimia, para ahli juga memberikan saran dan masukkan, adapun saran dan masukkan dari para ahli yaitu:

Tabel 4.5 Saran dan Hasil Revisi dari Validator

No Saran Revisi

Validator Ahli Materi (kelayakan isi) 1 Beberapa gambar belum ada sumber

gambarnya

Gambar-gambar yang belum diberi sumber sudah diberi sumber gambar

2 Beberapa tatabahasa yang belum benar

Tatabahasa sudah dibenarkan sesuai saran

Validator Ahli Bahasa (Kelayakan bahasa) 1 Masih ditemukan beberapa kata yang

belum sesuai EYD

Kata-kata yang belum sesuai EYD sudah diperbaiki

commit to user commit to user

(10)

2 Penulisan nama tempat, benda ataupun selain kata hubung apabila berada pada bagian judul menggunakan huruf capital diawalnya

Koreksi huruf kapital dan non kapital sudah diperbaiki

3 Penulisan awalan seperti di, ke, ditulis terpisah apabila disandingkan dengan kata tempat (atas, luar, dalam, sana sini)

Penulisan awalan sudah diperbaiki sesuai saran

Validator Ahli Media (Kelayakan kegrafikan dan penyajian)

1 Tabel tidak ada garis-garis Tabel ditambahkan garis-garis 2 Tambah lagi sari-sarinya untuk

menambah motivasi belajar

Sudah di tambah sesuai saran

Peer Review (Teman Sejawat) 1 Konsistensi penulisan diperhatikan

(kalian, anda, kamu, kita)

Penulisan konsistensi (kalian)

2 Masih terdapat tanda baca yang salah Tanda baca yang salah sudah diperbaiki sesuai saran

Reviewer (Guru) 1 Dalam praktiku mohon alat dan bahan

serta prosedur disesuaikan dengan hasil percobaan

Dalam praktikumalat dan bahan serta prosedur sudah disesuaikan dengan hasil percobaan

b. Uji Lapangan Awal

Tahap ini merupakan uji lapangan awal terhadap modul kimia menggunakan model problem based learning (PBL). Uji lapangan awal bertujuan untuk mengumpulkan data kualitatif terkait aspek keterbatasan modul problem based learning (PBL). Uji keterbacaan dilakukan bertujuan untuk mengetahui kekurangan-kekurangan dalam modul seperti salah cetak, salah ketik huruf, keslahan tata letak gambar dan lain-lain, serta menilai tentang kejelasan isi modul, kemudahan memahami isi modul, tampilan yang menarik dan keterbacaan.

Subjek uji coba lapangan awalini adalah 10 orang siswa kelas XI dari SMA N 1 Wera.Uji lapangan awal ini dilakukan dengan cara pemberian angket. Angket diberikan commit to user commit to user

(11)

kepada guru dan siswa yang dipilih sebagai responden uji lapangan awaluntuk materi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp), kemudian responden diberikan pengarahan dan penjelasan tentang cara pengisian angket dan responden diberi kesempatan untuk membaca modul kemudian mengisi angket yang telah diberikan.

Hasil respon siswa pada uji coba terbatas ditunjukkan pada tabel 4.6.

Tabel 4.6 Hasil Respon Siswa pada Uji Coba Awal

No Skor Kategori

1 51 Sangat Baik

2 52 Sangat Baik

3 52 Sangat Baik

4 56 Sangat Baik

5 54 Sangat Baik

6 52 Sangat Baik

7 53 Sangat Baik

8 58 Sangat Baik

9 54 Sangat Baik

10 55 Sangat Baik

Tabel 4.6 merupakan hasil respon siswa terhadap modul kimia berbasis PBL pada uji coba awal.Rata-rata nilai yang diperoleh adalah 53.7 dengan kategori sangat baik.Setelah diuji coba awal kepada 10 siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Dick &

Carey (2005:291) bahwa jumlah yang diperlukan dalam evaluasi kelompok kecil terdiri dari delapan sampai dua puluh orang, terdapat saran untuk modul kimia berbasis PBL yang dikembangkan, saran dan hasil dari uji coba terbatas disajikan pada Tabel 4.7.

Tabel 4.7 Saran dan Hasil Perbaikan dari Siswa

No Saran Revisi II

1 Warna tulisan pada modul diterangkan/diperjelas

Warna tulisan pada modul sudah diterangkan

2 Spasi penulisan masih ada yang salah Spasi penulisan yang masih salah sudah diperbaiki.

3 Ada beberapa kesalahan ketik Kesalahan ketik pada modul sudah diperbaiki

commit to user commit to user

(12)

4 Gunakan kata yang mudah dipahami Menggunakan kata yang mudah dipahami sudah diperbaiki

Rangkuman hasil respon siswa pada ujicoba awalterhadap modul berbasis PBL pada tema kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) disajikan pada lampiran, siswa juga menyarankan sebelum pembelajaran harus diberi tahu dahulu, secara keseluruhan modul mendapatkan respon sangat baik. Sehingga dapat dinyatakan bahwa modul kimia berbasis PBL yang dikembangkan layak untuk digunakan.

c. Uji Lapangan Utama

Tujuan tahap ini adalah untuk mendapatkan penilaian dan saran tentang kelayakan modul yang dikembangkan dan untuk mengukur efektifitas midul kimia berbasis problem based learning (PBL) pada proses pembelajaran. Data tentang kelayakan modul diperoleh dari angket sedangkan efektifitas pembelajaran di peroleh dari hasil belajar siswa.

Uji lapanganutama dilakukan di 2 sekolah yaitu SMA N 1 Wera dan SMA N 2 Wera. Untuk uji efektifitas peneliti menggunakan penelitian eksperimen, dimana tiap sekolah diambil 2 kelas, kelas pertama untuk kelas kontrol dimana kelas ini tidak menggunakan modul kimia berbasis problem based learning (PBL) sedangkan kelas kedua sebagai kelas eksperimen yaitu kelas yang menggunakan modul berbasis problem based learning (PBL). Untuk kelas kontrol di SMA N 1 Wera adalah kelas XI ipa 1 dan kelas eksperimen adalah kelas XI ipa 2, untuk SMA N 2 Wera kelas kontrol adalah kelas XI IPA 1 dan kelas eksperimen adalah XI IPA 2.

Sebelum dilakukan pembelajaran semua kelas yang digunakan sebagai subjek penelitian diberikan prettest kemudian setelah pembelajaran dilakukan, semua kelas diberikan posttest.Untuk kelas eksperimen selain diberikan posttest, peneliti juga memberikan angket penilaian kelayakan modul kimia yang digunakan dalam pembelajaran.

Sebanyak 4 orang guru kimia pada tahap ini juga diminta untuk menilai modul yang digunakan dalam pembelajaran.Skor hasil angket penilaian kelayakan modul berbasis problem based learning (PBL) guru dan siswa adalah sebagai berikut:

commit to user commit to user

(13)

Tabel 4.8 skor penilaian kelayakan modul oleh guru

No Responden Skor (%) Kategori

1 Guru SMA N 1 Wera (1) 97 Sangat baik

2 Guru SMA N 1 Wera (2) 81 Sangat baik

3 Guru SMA N 2 Wera (1) 83 Sangat baik

4 Guru SMA N 2 Wera (2) 80 Sangat baik

Rerata skor hasil penilaian kelayakan modul oleh siswa pada uji lapangan utama ditunjukkan pada tabel 4.9

Tabel 4.9 skor penilaian kelayakan modul kimia oleh siswa

No Skor Kategori

1 52 Sangat Baik

2 56 Sangat Baik

3 59 Sangat Baik

4 58 Sangat Baik

5 52 Sangat Baik

6 55 Sangat Baik

7 51 Sangat Baik

8 55 Sangat Baik

9 58 Sangat Baik

10 58 Sangat Baik

11 61 Sangat Baik

12 57 Sangat Baik

Dari data tersebut dapat disimpulkan bahwa produk utama modul kimia yang disusun layak digunakan pada langkah penelitian selanjutnya setelah dilakukan revisi berdasarkan penilaian saran dari tahap ini.

Langkah ini merupakan langkah revisi modul yang dikembangakan berdasarkan penilaian dan saran dari subjek guru dan siswa yang dijadikan subjek pada penelitian untuk uji skala operasional.Hasil revisi modul kimia pada uji lapangan utama sebagai berikut.

commit to user commit to user

(14)

Tabel 4.10 saran dan revisi modul kimia pada uji lapangan utama oleh guru dan siswa

No Saran Revisi

GURU

1 Memperjelas bahasa agar lebih dipahami

Tata bahasa sudah diperbaiki agar lebih dipahami

2 Masih ada beberapa kesalahan dalam mengetik

Kesalahan ketik dalam modul sudah diperbaiki

SISWA

1 Menambah kata kunci dan penjelasan pada kata-kata yang sulit dimengerti

Sudah di tambah untuk kata kunci dan

penjelasannya d. Revisi IV

Tahap uji lapangan operasional ini bertujuan untuk menyebarluaskan modul kimia kepada siswa sekaligus meminta saran dan masukkan demi perbaikan kualitas modul dengan jumlah subjek yang lebih besar daripada uji coba lapangan utama. Uji lapangan operasional ini dilakukan di tiga sekolah yaitu SMA N 1 Wera, SMA N 2 Wera dan SMA N 3 Wera dikabupaten Bima dimana setiap sekolah terdiri dari 2 orang guru dan 20 siswa kelas XI.

DrafIIImodul yang telah diperbaiki selanjutnya menghasilkan draft IV modul dan diujicobakan pada 60 siswa yang berasal dari kelas XI IPA SMA yang berada di Kec, Wera. Data yang diperoleh pada kegiatan uji skala besar adalah data hasil belajar dan penilaian siswa terhadap modul.

Modul yang telah diujikan dalam skala besar selanjutnya dinilai oleh siswa yaitu dengan mengisi angket penilaian modul kimia berbasis PBL. Secara keseluruhan menurut penilaian siswa modul pembelajaran yang dikembangkan tergolong “sangat baik”.Adapun saran dan komentar siswa terhadap modul disajikan pada tabel 4.11.

Tabel 4.11 Saran dan Hasil Perbaikan pada Tahap Uji skala Besar

No Saran Revisi

1 Masih ada kata yang kurang dimengerti

Kata yang kurang dimengerti sudah diperbaiki

Berdasarkan saran yang diberikan siswa, kemudian modul diperbaiki lagi untuk meningkatkan kualitas modul.Hasil revisi produk tahap ketiga adalah produk akhir yang commit to user commit to user

(15)

telah layak digunakan karena telah melalui uji validasi ahli, uji praktisi pendidikan, uji lapangan awal, uji lapangan utama, uji lapangan operasional serta revisi berdasarkan saran/kritikanyang diberikan para ahli.

e. Analisis Hasil

Sebelum modul kimia berbasis PBL digunakan dalam pembelajaran, instrumen untuk pretest dan posttest diujicobakan terlebih dahulu pada 21 siswa di SMA Negeri 1 Surakarta dengan tujuan untuk mengetahui reliabilitas, analisis butir instrumen daya beda, validitas dan tingkat kesukaran pada soal pretest dan posttest. Setelah diujicobakan pada SMA Negeri 1 Surakarta dan soal dinyatakan siap untuk diujicobakan pada siswa di SMA di Kecamatan Wera. Sebelum modul dibagikan ke 21 siswa pada kelas XI MIA 8siswa diberikan pretest terlebih dahulu untuk mengetahui kemampuan awal siswa. Modul kimia berbasis PBL ini diberikan sebagai modul inti dalam pelaksanaan pembelajaran.Setelah materi pada modul selesai, siswa diberikan posttest.

Pengunaan modul dilakukan untuk melihat peningkatan keterampilan hasil belajar siswa antara sebelum dan sesudah diberikan modul kimia berbasis PBL.Kelas yang digunakan dalam penelitian ini satu kelas yaitu XI MIA 8.Analisis data untuk perbedaan hasil keterampilan berpikir kritis adalah uji normalitas dan uji homogenitas.

Berdasarkan hasil analisis data diperoleh hasil uji normalitas untuk data pretest dengan signifkansi 0,303> 0,05 dan data postest dengan signifkansi 0,989> 0,05. Sedangkan untuk analisis data hasil uji homogenitas untuk data pretest dan postest dengan signifkansi 0,492> 0,05. Berdasarkan hasil analisis normalitas dan homogenitas diketahui bahwa nilai pretest dan postest kelas pengujian produk adalah normal dan homogen.Tabel 4.12 merupakan deskripsi data hasil belajar siswa yang diperoleh dari nilai pretest dan posttest.

Tabel 4.12Deskripsi Data hasil belajar siswa

Tes Jumlah

Siswa

Mean Standar Deviasi

Nilai Minimum

Nilai Maksimum

Pretest 21 67,28 10,19 40 80

Posttest 21 90,76 4,34 84 98

Tabel 4.12merupakan deskripsi data hasil belajar siswa sebelum dan sesudah menggunakan modul kimia berbasis PBL, sebelum menggunakan modul berbasis PBL, rata-rata hasilbelajar siswa adalah 67,28 dengan standar deviasi10,19, nilai minimum 40 dan nilai maksimum adalah 80. Setelah digunakan modul kimia berbasis PBL, rata-rata commit to user commit to user

(16)

hasil belajar siswa adalah 90,76 dengan standar deviasi 4,34 nilai minimum84 dan nilai maksimum adalah 98. Melihat nilai rerata posttest yang lebih besar dari nilai rerata pretest pada Tabel 4.12 dapat diketahui bahwa modul kimia berbasis PBL pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Analisis untuk mengetahui keefektifan dalam pembelajaran menggunakan gain score ternormalisasi untuk pretest dan posttest kelas pengujian produk. Berdasarkan perhitungan gain score untuk kelas pengujian produk, termasuk kategori Tinggi (Meltzer, 2002:1260).

C. Pembahasan 1. Hasil tahapan tiap pengembangan

Tahap pengembangan modul yang dilakukan sesuai dengan tahapan Borg and Gall (1998) yang meliputi sepuluh tahapan pengembangan. Namun, peneliti memodifikasi tahapan tersebut hanya sampai pada tahap ke sembilan, sedangkan pada tahap ke sepuluh tidak dilaksanakan dikarenakan keterbatasan biaya dan waktu dan disesuaikan dengan kebutuhan peneliti.

a. Studi pendahuluan 1) Studi pustaka

Hasil studi pustaka merupakan hasil analisis KI dan KD yang memungkinkan untuk dipilih sebagai acuan pengembangan modul pembelajaran. Hal tersebut dilakukan untuk mendukung pemilihan materi yang akan dikembangkan. Prastowo (2012), mengemukakan bahwa dalam menyusun bahan ajar, analisis terhadap kurikkulum dan bahan ajar sangat penting.Kompetensi inti digunakan sebagai rujukan untuk menentukan kompetensi yang harus dicapai peserta didik sedangkan kompetensi dasar digunakan sebagai rujukan untuk menentukan indikator.Materi pokok juga penting untuk dianalisis karena mnejadi salah satu acuan utama dalam menyusun bahan ajar.

Berdasarkan analisis nilai ulangan harian 2013/2014 menunjukkan bahwa pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) rata-rata skor yang diperoleh rendah siswa SMA N 1 Wera, SMA N 2 Wera dan SMA N 3 Wera masih tergolong rendah. Hal tersebut terjadi karena dalam proses pembelajaran siswa jarang diajak untuk belajar penemuan, pemecahan masalah dan diskusi, serta ketersediaan bahan ajar yang belum sesuai dengan karakteristik siswa kimia, terutama pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp), sehingga akan lebih baik jika siswa diberikan dorongan untuk belajar dari permasalahan yang ada. Hal tersebut sesuai dengan teori belajar yang disampaikan oleh Bruner, yang commit to user commit to user

(17)

menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses aktif yang memungkinkan manusia untuk menemukan hal-hal baru diluar informasi yang diberikan kepadanya. Konsepnya adalah belajar dengan penemuan (problem based learning). Guru harus memberikan keleluasaan kepada siswa untuk menjadi pemecah masalah. Siswa didorong untuk belajar sendiri melalui kegiatan dan pengalaman. Hal tersebut diperkuat oleh Dahar (2010), yang menyatakan bahwa berusaha sendiri untuk mencari permasalahan serta pengetahuan yang menyertai akan menghasilkan pengetahuan yang benar-benar bermakna. Selain itu, berdasarkan pengalaman yang dipaparkan oleh Dale cit Arsyad (2010), pengalaman langsung akan memberikan kesan paling utuh dan paling bermakna mengenai informasi dan gagasan yang terkandung dalam pengalaman tersebutkarena melibatkan indera penglihatan, pendengaran, perasaan, penciuman, dan peraba.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka dilakukan penelitian dengan mengembangkan produk modul pembelajaran di SMA kelas XI yang berdasarkan kebutuhan serta memadukan kegiatan pembelajaran dan penilaian dengan pengetahuan.

2) Survei lapangan

Survei lapangan meliputi kegiatan observasi, pemberian angket dan wawancara.Tahap observasi dan wawancara dilakukan pada wakasek kurikulum dan guru mata pelajaran kimia yang berkaitan denga delapan komponen Standar Nasional Pendidikan (SNP).Berdasarkan hasil wawancara 8 SNP, dapat diketahui kekurangan dan kelebihan pelaksanaan pembelajaran disekolah.

Pada observasi tentang kelengkapan sarana dan prasarana yang dimiliki sekolah, ditemukan bahwa sekolah memiliki kelengkapan sarana dan prasarana yang cukup lengkap, yaitu memiliki perpustakaan, LCD Proyektor, laboratorium kimia, dan kelengkapan alat-alat penunjang praktikum kimia untuk kelas XI. Ketiga sarana dan prasarana sekolah tersebut menjadi sarana pendukung dalam menunjang kelengkapan sumber belajar serta alat dan bahan praktikum yang akan digunakan oleh siswa dan guru dalam proses pembelajaran kimia. Hal ini sesuai dengan UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003 menjelaskan bahwa “Setiap satuan pendidikan formal dan nonformal, wajib menyediakan sarana dan prasarana yang memenuhi keperluan pendidikan sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan potensi fisik, kecerdasan intelektual, sosial, emosional, dan kejiwaan siswa”.

commit to user commit to user

(18)

Hasil observasi dan wawancara terhadap guru dan siswa diperoleh gambaran awal tentang proses kegiatan belajar mengajar yaitu pembelajaran yang dilakukan oleh guru cenderung menggunakan metode ceramah. Trianto (2009), mengemukakan bahwa pembelajaran yang bermakna tidak akan terwujud jika siswa hanya mendengarkan ceramah dari guru. Perangkat pembelajaran yang dimiliki guru sudah cukup lengkap yaitu silabus, RPP, dan buku ajar. Guru sudah membuat RPP sendiri, tetapi guru belum mengembangkan bahan ajar mandiri. Menurut Sungkono (2003), salah satu komponen yang perlu dimiliki seorang guru dalam melaksanakan tugasnya adalah mengembangkan bahan ajar. Berdasarkan hasil wawancara juga diperoleh informasi bahwa siswa mengalami kesulitan dan kurang tertarik mempelajari kimia sehingga mengakibatkan hasil belajar siswa masih rendah dan setiap diadakan ulangan harian banyak siswa nilainya dibawah KKM.

Pada observasi karakteristik siswa ditemukan yaitu kemampuan akademik beberapa materi pembelajaran kimia yang rendah pada penguasaan materi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang ditandai dengan data hasil ujian nasional pada tahun 2014 dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa secara umum kemampuan siswa SMA di kabupaten Bima masih lemah dalam SKL (Standar Kompetensi Lulusan) kimia.

Selain aspek akademik, aspek motivasi belajar yang rendah, ditandai dengan banyaknya siswa yang terlihat bosan dan perhatiannya teralihkan ketika pembelajaran sedang berlangsung, serta aspek keterampilan, keterampilan sosial dan karakter mulia belum terlihat, karena guru tidak melaksanakan pembelajaran yang memungkinkan berkembangnya keterampilan tersebut. Menurut Trianto (2011) hasil analisis karakter siswa dapat dijadikan kerangka acuan dalam menyusun materi pembelajaran dan memilih metode pembelajaran, hal ini karena teori belajar yang dikembangkan oleh piaget.

Menurut Piaget (Asri Budiningsih, 2004: 40) dalam tahap perkembangan kognitif anak SMA tergolong pada tahap operasional formal (umur 11/12-18 tahun) ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah anak sudah mampu berpikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola berpikir “kemungkinan”. Model berpikir ilmiah sudah mulai dimiliki anak, dengan kemampuan menarik kesimpulan, menafsirkan dan mengembangkan hipotesis. Pada tahap ini kondisi berpikir anak sudah dapat: (1) Bekerja secara efektif dan

commit to user commit to user

(19)

sistematis; (2) Menganalisis secara kombinasi; (3) Berpikir secara proporsional; (4) Menarik generalisasi secara mendasar pada satu macam isi.

Berdasarkan teori tersebut, maka modul pembelajaran dapat dikembangkan sesuai dengan pendekatan, metode dan model yang akan digunakan dengan pola pikir abstrak. Menurut Trianto (2011) hasil analisis karakter siswa dapat dijadikan gambaran umum untuk menyiapkan modul pembelajaran. Terkait dengan kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, Andi Prastowo (2012) menyebutkan bahwa menginventarisasi kelengkapan sarana dan prasarana sekolah merupakan salah satu upaya untuk memilih dan menentukan sumber belajar yang terdapat pada sekolah tersebut, dan pemilihannya berdasarkan 3 kriteria, yaitu ketersediaan, kesesuaian, dan kemudahan dalam memanfaatkannya. Pemilihan tersebut didasarkan atas analisis kebutuhan.

Pada analisis kebutuhan ditinjau dari karakter siswa SMA Negeri 1 Wera, SMA Negeri 2 Wera dan SMA Negeri 3 Wera diperoleh hasil bahwa kemampuan akademik secara umum siswa kelas XI masih rendah, dilihat dari hasil nilai mata pelajaran yang dalam kategori masih kurang baik.

Usia dan tingkat kedewasaan mulai bisa berpikir abstrak pada tahap operasional formal, dan kebiasaan kegiatan di sekolah yang menunjang pendidikan karakter di luar pelajaran formal yang baik, sehingga dapat membantu pencapaian pendidikan karakter diluar pelajaran formal. Berdasrkan hasil tersebut maka dapat dilakukan pengembangan modul pembelajaran berdasarkan karakteristik siswa dalam perkembangan kognitif, kesiapan dan kebutuhan guru, serta kondisi sekolah yang memadai dalam mendukung implementasi produk modul pembelajaran berbasis pendekatan problem based learning (PBL) pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan.

b. Tahap perencanaan

Pada tahap perencanaan telah dilakukan analisis terhadap KI dan KD yang berkenaan dengan materi yang dipilih.Materi yang dipilih juga disesuaikan dengan hasil ulangan harian yang menyatakan bahwa hasil belajar siswa pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) masih rendah.Selain itu, pada tahap survei lapangan ditemukan bahwa guru belum mengembangkan bahan ajar secara mandiridan hanya memakai bahan ajar yang dari penerbit. Depdiknas (2003) mengemukakan bahwa salah satu upaya untuk meningkatkan pendidikan adalah menyediakan buku ajar sebagai rujukan yang baik dan benar bagi guru maupun dan siswa karena buku merupakan salah satu sarana penunjang commit to user commit to user

(20)

dalam pembelajaran.Oleh karena itu, perlu dikembangkan bahan ajar yang sesuai dengan materi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp).

Modul kimia yang dikembangkan adalah modul kimia yang berbasis problem based learning (PBL) dipilih berdasarkan tuntutan kurikulum 2013 yang mengharuskan student center. Menurut De Gallow, 2006, adapun analisis sintak dari problem based learning (PBL)terdiri dari beberapa tahap yaitu orientasi masalah, pengorganisasian siswa dalam kelompok, penyelidikan mandiri atau kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan menganalisis dan mengevaluasi pemecahan masalah.

Implikasi teori belajar Bruner terhadap pengembangan modul berbasis problem based learning (PBL) dalam tahapan problem based learning(PBL) adalah siswa didorong untuk melakukan menganalisis dan mengevaluasi pemecahan masalah. Hal tersebut sesuai dengan yang dikemukakan oleh Dahar (1989), bahwa dalam belajar penemuan siswa mendapatkan kebebasan untuk menyelidiki baik secara peroranganmaupun secara kelompok untuk memecahakan suatu masalah.Pengetahuan yang diperoleh melalui belajar penemuan lebih bertahan lama.

Dalam modul kimia yang dikembangakan, siswa dihadapkan pada kegiatan praktikum dilaboraturium atau kelas, kegiatan eksperimen memungkinkan terjadinya proses belajar yang lebih bermakna sebab anak dihadapkan pada kondisi yang sebenarnya. Bruner cit Arsyad menyatakan bahwa pengalaman langsung akan memberikan kesan paling utuh dan bermakna mengenai informasi yang terkandung dalam pengalaman tersebut. Modul selain melatih belajar sendiri juga dapat digunakan dalam pembelajaran setara kelompok.

Hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti pada saat kegiatan pembelajaran pada kelas kontrol dan eksperimen.

Tabel 4.13 hasil pengamatan terhadap kelas kontrol dan eksperimen Kelas kontrol

(tidak menggunakan modul)

Kelas eksperimen (menggunakan modul) Guru lebih dominan dalam

pembelajaran

Guru bertindak sebagai pengarah

Siswa kurang aktif Siswa lebih aktif

Siswa sering berbicara sendiri Siswa fokus dalam pembelajaran commit to user

commit to user

(21)

Dalam hasil pengamatan yang dilakukan oleh peneliti dapat dilihat perbedaan dalam kegiatan belajar mengajar siswa, dimana dalam kelas kontrol yang tidak menggunakan modul siswa tidak fokus dan tidak bisa aktif dalam pembelajaran dikarenakan guru yang lebih mendominasi dalam kelas, sedangkan dikelas eksperimen yang menggunakan modul siswa terlihat lebih fokus dan aktif dalam melakukan pembelajaran karena dalam pembelajaran ini siswa dituntut untuk aktif sedangkan guru nya hanya sebagai pengarah ketika siswa kurang paham dengan materi yang dipelajari.

c. Tahap pengembangan Produk Awal

Pada penyusunan pengembangan produk awal yaitu pengembangan modul berbasis problem based learning (PBL), dalam penyusunannya selalu dikonsultasikan kepada dosen pembimbing penelitian agar mendapatkan produk awal yang baik, sehingga siap untuk divalidasi kepada dosen ahli, guru, dan teman sejawat. Penelitian ini telah mengalami beberapa kali revisi dalam penyusunan desain produk awal modul pembelajaran terutama dalam menentukan komponen-komponen penyusunan modul pembelajaran. Dosen pembimbing penelitian telah memberikan masukan terhadap desain modul pembelajaran yang disesuaikan dengan prinsip-prinsip penelitian pengembangan.

Menurut Trianto (2013) modul merupakan panduan bagi siswa dalam kegiatan pembelajaran yang memuat materi pelajaran, kegiatan penyelidikan berdasarkan konsep, kegiatan sains, informasi, dan contoh-contoh penerapan sains dalam kehidupan sehari- hari. Selain itu juga sebagai panduan belajar baik dalam proses pembelajaran dikelas maupun belajar mandiri.

Materi ajar dalam modul yang dikembangkan berisikan garis besar bab, kata- kata sains yang dapat dibaca pada uraian materi pelajaran, tujuan yang hendak dicapai setelah mempelajarai materi ajar, materi pelajaran berisi uraian materi yang harus dipelajari, gambar yang mendukung ilustrasi pada uraian materi, kegiatan percobaan menggunakan alat dan bahan sederhana dengan teknologi sederhana yang dapat dikerjakan oleh siswa, uji mandiri berupa tes formatif setiap sub materi pokok, dan masalah-masalah dalam kehidupan sehari-hari yang perlu didiskusikan. Sedangkan rancangan modul yang dikembangkan mencakup: (1) kompetensi yang akan dicapai; (2) sintaks/ komponen pendekatan PBL pada modul; (3) petunjuk penggunaan modul; (4) sajian isi modul; (5) informasi pendukung; (6) fenomena alam atau peristiwa sehari-hari yang sering kita jumpai menjadi pemunculan masalah; (7) materi modul; (8) lembar commit to user commit to user

(22)

Kegiatan Siswa (LKS); (9) kegiatan eksperimen dan demonstrasi; (10) kolom pendidikan karakter berupa kolom penyajian peristiwa-peristiwa kimia yang dapat menambah rasa kekaguman siswa akan ciptaan Tuhan; (11) sumber-sumber belajar; (12) penilaian.

d. Pembahasan Hasil Tahap Validasi Produk awal

Secara umum validator memberikan penilaian terhadap modul yang dikembangkan dengan kategori “Sangat Baik”. Adapun aspek-aspek yang menjadi bahan pertimbangan sehingga modul berkategori “Sangat Baik” adalah: (1) materi pada modul telah sesuai dengan KI, KD, dan indikator pencapaian pembelajaran, memperhatikan keterkaitan sains, teknologi, dan masyarakat; (3) materi telah sistematis sesuai struktur keilmuan; (4) keterbacaan bahasa atau bahasa yang digunakan sesuai dengan usia siswa;

(5) menggunakan bahasa indonesia yang baik dan benar; (6) istilah yang digunakan tepat dan mudah dipahami; (7) menggunakan istilah dan simbol secara tepat; (8) membangkitkan minat/rasa ingin tahu; (9) sesuai taraf berfikir dan kemampuan membaca siswa; (10) mendorong siswa terlibat aktif; (11) menarik atau menyenangkan; (12) sesuai dengan kurikulum 2013; (13) menekankan pada penerapan dunia nyata/kehidupan sehari- hari; (14) memberikan kemudahan dalam mengembangkan pendidikan karakter, seperti rasa ingin tahu, jujur, kreatif, disiplin, kerja keras, dan gemar membaca; (15) menunjang keterlaksanaan KBM yang berbasis problem based learning(PBL); (16) menunjang terlaksananya KBM yang diwarnai oleh belajar mengetahui, belajar melakukan, belajar mandiri, dan belajar hidup dalam kebersamaan.

Hasil dari kelima validasi tersebut dapat dilihat pada tabel 4.15.Adapun kualifikasi validator dapat dilihat pada tabel 4.14.

Tabel 4.14. Kualifikasi Validator

No. Validator Kualifikasi

1.

a. Ahli Materi 1. Pendidikan terakhir S3

2. Untuk ahli materi, menguasai bidang kimia

b. Ahli bahasa 1. Pendidikan S2

2. Untuk Ahli Bahasa, menguasai bidang kebahasan c. Ahli Kegrafikan 1. Pendidikan S3

2. Untuk ahli kegrafikan, menguasai bidang media pembelajaran

2. Guru kimia 1. Pendidikan terakhir S2

3. Teman Sejawat 1. Pendidikan terakhir S2 kimia

commit to user commit to user

(23)

Tabel 4.15 Hasil Validasi Modul

No Validator Persentase Keidealan Kategori

1 Ahli Materi 78% Sangat Baik

2 Ahli Media 73% Baik

3 Ahli Bahasa 82% Sangat Baik

4 Guru 85% Sangat Baik

5 Teman Sejawat 91% Sangat Baik

6 Teman Sejawat 92% Sangat Baik

Berdasarkan hasil validasi pada Tabel 4.15 dapat disimpulkan modul layak digunakan.Setelah modul dinyatakan layak digunakan kemudian dilakukan tahap uji coba awal. Uji coba awal ini bertujuan untuk mengetahui keterbacaan modul pada siswa.Keterbacaan modul dilakukan pada 10 siswa kelas XI IPA.Instrumen yang digunakan adalah LKS dan angket keterbacaan modul.Siswa kemudian diberikan modul dan mengerjakan LKS yang digunakan untuk mengisi kegiatan yang ada dalam modul.

Ada 5 kegiatan siswa yang terdiri dari pengamatan dan percobaan sederhana. Tiap 5 siswa mengerjakan 5 kegiatan pada LKS yang telah disediakan. Pada saat uji coba awal siswa mengalami beberapa kendala yang kemudian dijadikan saran/masukan untuk perbaikan modul. Selain itu pada uji terbatas siswa diminta untuk membaca modul secara keseluruhan kemudian memberikan penilaian melalui angket.Dari 10 siswa menunjukkan nilai maksimal dengan persentase keidealan 91% dengan beberapa komentar positif.

e. Uji coba lapangan awal

Uji coba lapangan awal dilakukan terhadap 10 orang siswa. Data yang diperoleh dari uji coba lapangan awal adalah angket respon siswa terhadap modul dan aspek kelayakan isi, bahasa, penyajian, dan kegrafisan. Hasil dari respon angket dari siswa tersebut digunakan untuk menentukan kualitas dari modul berbasis problem based learning (PBL) pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp).

Kondisi lapangan pada tahap uji coba lapangan awal ditemukan beberapa kendala yaitu siswa belum pernah menggunakan modul berbasis problem based learning (PBL) karena siswa biasanya tidak memiliki bahan ajar dan siswa masih asing dengan model problem based learning (PBL). Berdasarkan hal tersebut, peneliti harus menjelaskan terlebih dahulu tahap-tahap pembelajaran problem based learning (PBL), commit to user commit to user

(24)

walaupun didalam modul telah terdapat petunjuk penggunaan modul. Saat uji coba lapangan awal, siswa mengisi angket dan kuisioner yang berisi penilaain terhadap modul yang dikembangakan, tetapi sebelumnya siswa diberikan kesempatan untuk membaca dan mempelajari isi modul tersebut. Dalam pengisian kuisioner siswa diminta untuk menulis komentar dan sarannya terhadap modul yang dikembangkan, namun terdapat kendala karena beberapa siswa tidak mencantumkan alasan dalam kuisioner serta tidak memberikan saran perbaikan.

f. Revisi uji lapangan awal

Berdasarkan hasil uji lapangan awal didapatkan berbagai saran antara lain berkaitan dengan materi dan kejelasan gambar. Materi telah dibuat secara sistematis dengan bahasa yang jelas dan efektif. Prastowo (2012) mengemukakan bahwa kalimat yang digunakan harus sederhana, singkat, jelas dan efektif. Saran yang diberikan oleh siswa dalam uji lapangan awal ini hanya sebatas saran teknis penyajian dan tidak menyangkut pada kontent modul.

g. Uji lapangan utama dan revisi produk

Berdasarkan hasil uji coba lapangan utama tentang penilaian modul, modul memiliki kategori yang sangat baik. Uji lapangan utama ini diperoleh data antara lain hasil belajar dan angket kelayakan modul.

Untuk penilaian hasil belajar didapatkan beberapa kendala antara lain: (1) didalam kelompok terdapat beberapa orang yang lebih dominan, dan ada anggota kelompok yang tidak aktif, (2) pada pertemuan pertama memerlukan waktu yang cukup lama karena siswa belum terbiasa menggunakan modul dan harus memberikan penjelasan tentang modul yang digunakan, (3) hanya beberapa orang saja yang dapa mempresentasikan hasil diskusi karena waktu yang terbatas.

Berdasarkan angket kelayakan modul diperoleh beberapa saran dan masukkan yaitu adanya kesalahan dalam tata tulis, berdasarkan hal tersebut dilakukan perbaikan.

h. Uji lapangan operasional

Pada tahap ini dilakukan penyebaran modul ketiga sekolah yaitu SMA N 1 Wera, SMA N 2 Wera dan SMA N 3 Wera, dalam tahap ini diperoleh penilaian kelayakan modul dengan kategori sangat baik, itu berarti modul layak digunakan dalam pembelajaran kimia terutama materi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp).

commit to user commit to user

(25)

Pada tahap ini terdapat beberapa kendala dalam pengisian angket kelayakan modul terutama disekolah SMA N 3 Wera yang baru dijadikan subjek dalam pengembangan modul, hal ini dikarenakan disekolah itu selain tidak pernah melihat dan menggunakan modul kimia pembelajaran berbasis problem based learning (PBL), siswa juga masih bingung tentang model pembelajaran problem based learning (PBL), dalam hal ini peneliti harus menjelaskan kembali tentang produk yang dikembangkan. Pada tahap ini diperoleh juga saran dan masukkan dari siswa dan guru yang dijadikan responden.

Selengkapnya distribusi data hasil belajar tes aspek pengetahuan yang diperoleh dari tiga sekolah, disajikan pada Tabel 4.16.

Tabel 4.16 Deskripsi Data Hasil Belajar Aspek Pengetahuan Siswa Kelas Jumlah Siswa Mean Standar Deviasi

SMA Negeri 1 Wera

Kontrol 30 75,77 4,47

Eksperimen 32 79,75 7,12

SMA Negeri 2 Wera

Kontrol 24 76,21 6,52

Eksperimen 24 82,21 6,56

SMA Negeri 3 Wera

Kontrol 31 75,94 7,40

Eksperimen 31 78,77 6,56

Tabel 4.16. menyajikan data hasil belajar kognitif siswa dilihat dari nilai posttest kelas kontrol dan eksperimen yang diberikan pembelajaran menggunakan modul yang telah dikembangkan yaitu modul pembelajaran kimia berbasis problem based learning (PBL) pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan (Ksp) dan yang tidak menggunakan modul. Hasil pembelajaran kelas kontrol SMA N 1 Wera yang diperoleh adalah 75,77 dengan standar deviasi 4,47. Sedangkan untuk kelas eksperimen diberi pembelajaran dengan modul yang dikembangkan, hasil rata-rata yang diperoleh siswa adalah 79,75 dengan standar deviasi 7,12. Pada SMA N 2 Wera hasil rata-rata pada kelas kontrol diperoleh adalah 76,21 dengan standar deviasi 6,52. Sedangkan di kelas eksperimen diberi pembelajaran dengan modul yang dikembangkan, hasil rata-rata yang diperoleh siswa adalah 82,21 dengan standar deviasi 6,56. Dan hasil rata-rata pada SMA N 3 Wera commit to user commit to user

(26)

kelas kontrol diperoleh adalah 75,94 dengan standar deviasi 7,40. Sedangkan untuk kelas eksperimen diberi pembelajaran dengan modul yang dikembangkan, hasil rata-rata yang diperoleh siswa adalah 78,77 dengan standar deviasi 6.56. Melihat nilai rerata dari kelas kontrol dan eksperimen dari tiga sekolah tersebut pada Tabel 4.15 dapat diketahui bahwa modul kimia berbasis PBL pada materi kelarutan dan hasil kali kelarutan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Analisis data yang digunakan adalah hasil tes pengetahuan materi kelarutan dan hasil kali kelarutan yang diukur melalui pretest dan posttest pada kelas pengujian produk.

Hasil pretest dan posttest diuji gain score untuk mengetahui efektifitasnya dan dengan menggunakan program SPSS 18 for windows menggunakan one sample t test untuk mengetahui perbedaannya hasil belajar siswa.

Tabel 4.17 Deskripsi Data Hasil SPSS 18 No Sekolah Independent sample t

Nilai si (2-tailed)

Keterangan

1. SMA N 1 0,000 Ada

perbedaan

2. SMA N 2 0,000 Ada

perbedaan

3. SMA N 3 0,000 Ada

perbedaan Berdasarkan tabel 4.17 hasil uji t diperoleh signifikansi dari tiga sekolah tersebut

< 0,05 maka ada perbedaan, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara nilai posttest siswa yang menggunakan produk modul yang dikembangkan. Sedangkan analisis untuk mengetahui keefektifan dalam pembelajaran menggunakan gain score ternormalisasi untuk pretest dan posttest pengujian produk.

Berdasarkan perhitungan gain score untuk kelas pengujian produk termasuk kategori tinggi (Meltzer, 2002:1260).

Hasil belajar siswa pada aspek pengetahuan ditunjukkan melalui hasil pengetahuan darihasil ulangan sebagai evaluasi akhir dalam proses pembelajaran. Sesuai commit to user commit to user

(27)

dengan Bloom dan Skinner dalam (Notoatmodjo, 2003) yang mengungkapkan pengetahuan merupakan kemampuan seseorang untuk mengungkapkan kembali apa yang diketahuinya dalam bentuk bukti lisan atau tulisan.Hasil evaluasi akhir menunjukkan 100% siswa telah mencapai KKM.Dengan demikian, penggunaan modul berbasisPBLefektif digunakan dalam pembelajaran.

i. Penyempurnaan produl

Tidak terdapat revisi setelah melaksanakan uji coba operasional, karena modul dengan kualitas sangat baik ini, telah memenuhi karakteristik yang diperlukan dalam modul (Dikmenjur, 2008: 4), yaitu: (a) Self Instruction. Karakteristik ini dimunculkan dalam penilaian oleh ahli materi, guru kimia SMA, dan penilaian teman sejawat dari aspek kualitas isi dan evaluasi dengan kualitas sangat baik. Hasil ini menunjukkan bahwa modul memungkinkan siswa untuk belajar secara mandiri dan tidak bergantung pada pihak lain karena di dalam modul ini telah dilengkapi dengan materi yang sesuai dengan tema maupun Komptensi Dasar, terdapat contoh dan ilustrasi yang mendukung kejelasan pemaparan materi, PBL artinya materi yang disajikan sesuai dengan lingkungan siswa, terdapat soal-soal latihan, tugas atau sejenisnya yang memungkinkan untuk mengukur penguasaan siswa, terdapat rangkuman materi, terdapat instrumen penilaian yang memungkinkan siswa melakukan penilaian mandiri (self assessment), serta terdapat umpan balik (feed back) atas penilaian siswa, sehingga siswa dapat mengetahui tingkat penguasaan materi. Selain itu, terdapat pula aspek penggunaan bahasa yang dinilai oleh ahli materi, ahli media,guru kimia SMA, dan teman sejawat dengan kualitas sangat baik.

Hasil ini menunjukkan bahwa modul dapat digunakan oleh siswa secara mandiri karena menggunakan bahasa yang mudah dipahami;(b) Self Contained. Karakteristik ini ditunjukkan oleh aspek kualitas isi yang dinilai oleh ahli materi, guru kimia SMA, dan teman sejawat dengan kualitas sangat baik terlihat dari hasil penilaian pada pernyataan 1 yaitu kesesuaian materi dengan Kompetensi Dasar. Hal ini menunjukkan bahwa seluruh materi yang dibutuhkan termuat dalam modul;(c)Adaptif. Kesesuaian informasi yang dikemukakan dengan perkembangan zaman menjadi pernyataan dalam aspek kualitas isi yang dinilai oleh ahli materi, guru kimia SMA, dan teman sejawat dengan hasil penilaian sangat baik. Hal ini menunjukkan bahwa karakteristik adaptif telah muncul dalam modul yang dikembangkan;(d)User Friendly. Aspek penggunaan bahasa yang dinilai oleh ahli materi dan media, guru kimia SMA, dan teman sejawat dengan kualitas sangat baik commit to user commit to user

(28)

merupakan unsur dalam user friendly. Hasil ini menunjukkan bahwa modul dapat bersahabat dengan siswa sebagai user dari modul; (e) Stand Alone Karakteristik ini menunjukan modul yang dikembangkan tidak tergantung pada media lain atau tidak harus digunakan bersama-sama dengan media pembelajaran lain. Hal ini sesuai dengan karakteristik modul yang dikembangkan dalam penelitian, dimana didalam penelitian modul yang dikembnagkan ini satu-satunya sumber belajar yang dipakai.

commit to user commit to user

Referensi

Dokumen terkait

[r]

Kemudian nilai tersebut dimasukkan ke Persamaan (1) untuk mendapatkan ukuran kristal dari sampel. Hasil analisis menunjukkan bahwa ukuran kristal partikel sebesar

20 Maret 2019 Pada hari kedua puluh dua, seperti biasa penulis melakukan tugas rutinitas mengganti kaset sama seperti pada hari sebelumnya hanya saja kaset yang

Pola pikir yang sudah maju dan perkembangan zaman menjadi hal yang utama penyebab minat masyarakat terhadap Randai berkurang.Masyarakat bosan melihat Randai yang hanya

Dalam proyek ini master schedule tidak dilakukan pembaharuan meskipun kondisi proyek tersebut sudah terlambat seharusnya pihak kontraktor memberikan pembaharuan data

Kaitannya dengan kemampuan menulis, Syafi’ie (1988) menyatakan bahwa untuk dapat menghasilkan tulisan yang baik, seorang penulis harus memiliki beberapa kemampuan, yaitu: (1)

Aktuator putar atau  Rotary Motion Actuator  merupakan motor pneumatik mengubah energi pneumatik menjadi gerakan putar mekanik secara kontinyu. Motor pneumatik  dengan sudut putar

(4) Seksi Anggaran IC-4 mempunyai tugas melakukan penyiapan bahan perumusan kebijakan alokasi dan evaluasi pagu anggaran, penelaahan dan bimbingan teknis penyusunan rencana kerja