• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEDUDUKAN SAHAM ATAS NAMA DALAM SENGKETA HARTA BERSAMA (ANALISIS PUTUSAN NO. 431K/AG/2007) JURNAL ILMIAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KEDUDUKAN SAHAM ATAS NAMA DALAM SENGKETA HARTA BERSAMA (ANALISIS PUTUSAN NO. 431K/AG/2007) JURNAL ILMIAH"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

i

KEDUDUKAN SAHAM ATAS NAMA DALAM SENGKETA HARTA BERSAMA

(ANALISIS PUTUSAN NO. 431K/AG/2007)

JURNAL ILMIAH

OLEH :

BRIGITA ESTU PUTRI KRISTANTI D1A016047

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM

2020

(2)

ii

HALAMAN PENGESAHAN

KEDUDUKAN SAHAM ATAS NAMA DALAM SENGKETA HARTA BERSAMA

(ANALISIS PUTUSAN NO. 431K/AG/2007)

JURNAL ILMIAH

OLEH :

BRIGITA ESTU PUTRI KRISTANTI D1A016047

MENYETUJUI

PEMBIMBING PERTAMA

DR. ARIS MUNANDAR, SH., M.HUM.

NIP. 196106101987031001

(3)

iii

Kedudukan Saham Atas Nama dalam Sengketa Harta Bersama (Analisis Putusan No. 431K/AG/2007)

BRIGITA ESTU PUTRI KRISTANTI D1A016047

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS MATARAM

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kedudukan saham atas nama dalam Perseroan Terbatas (PT) dalam suatu perkawinan dan untuk mengetahui dasar pertimbangan hakim dalam Putusan No. 431K/AG/2007. Metode yang digunakan adalah metode normatif. Berdasarkan dari hasil penelitian diketahui bahwa pertimbangan hakim dalam Putusan No. 431K/AG/2007 telah sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 (UUPT), namun kurang sesuai apabila ditinjau dari Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPerdata), Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan), dan Kompilasi Hukum Islam (KHI). Hakim tidak mempertimbangkan kapan harta tersebut diperoleh. Di sisi lain, Tergugat/Penggugat Rekonvensi kurang tegas dalam gugatannya, serta tidak memiliki cukup bukti untuk membuktikan status kepemilikan sahamnya.

Kata Kunci: Perseroan Terbatas, Saham Atas Nama, Harta bersama.

Position of Registered Stock in The Common Property Dispute (Analysis of Verdict Number 431K/AG/2007)

ABSTRACT

The aims of this work are to know the position of registered stock of a limited company in the marital system and to know judge’s legal considerations in the verdict number 431K/AG/2007. Applied method of this work was normative legal research. According to research’s result, it can be known that judge’s legal consideration in the verdict Number 431K/AG/2007 was in accordance to the Law Number 40 of 2007 (UUPT). However, it was not in accordance to the Indonesia Civil Code, Law Number 1 of 1974 on Marriage and Islamic Compilation Law.

Judges were not considered when the property collected. In the other side, defendant/plaintif of reconvention was not clear in their lawsuit and lack of evidence to proof their share ownership status.

Keywords: Limited Company, Registered Stock, Common Property

(4)

i

I. PENDAHULUAN

Dizaman yang semakin modern, perkembangan di bidang informasi, teknologi, dan ekonomi semakin pesat. Salah satu bidang yang cukup pesat perkembangannya yaitu bidang ekonomi. Perkembangan di bidang ekonomi yang paling banyak diminati di Indonesia yaitu bentuk usaha dalam bentuk badan usaha Perseroan Terbatas (selanjutnya dalam tulisan ini disingkat dengan PT) yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya dalam tulisan ini disingkat dengan UUPT).

Istilah Perseroan Terbatas (PT) dahulu dikenal dengan istilah Naamloze Vennootschap (NV). Istilah lainnya Corporate Limited (Co.

Ltd.), Serikat Dagang Benhard (SDN BHD). Pengertian Perseroan Terbatas (PT) terdiri dari dua kata, yakni “perseroan” dan “terbatas”.

Perseroan merujuk kepada modal PT yang terdiri dari sero-sero atau saham-saham. Adapun kata terbatas merujuk kepada pemegang yang luasnya hanya sebatas pada nilai nominal semua saham yang dimilikinya.1

Menurut Pasal 1 angka 1 UUPT, menentukan bahwa:

“Perseroan Terbatas yang selanjutnya disebut sebagai Perseroan adalah badan hukum yang merupakan persekutuan modal, didirikan berdasarkan perjanjian, melakukan kegiatan usaha dengan modal dasar yang seluruhnya terbagi dalam saham dan memenuhi persyaratan yang ditetapkan dalam undang-undang ini serta peraturan pelaksanaannya”.2

Saham menjadi salah satu bentuk atau alternatif investasi yang sangat populer di kalangan para pelaku ekonomi. Menurut Fahmi, saham adalah tanda bukti penyertaan kepemilikan modal atau dana pada suatu perusahaan

1 Zainal Asikin dan L. Wira Pria, Pengantar Hukum Perusahaan, Cet.2, Prenadamedia Group, Depok, 2018, hlm.51.

2 Indonesia, Undang-Undang Tentang Perseroan Terbatas, UU Nomor 40 Tahun 2007, LNRI No. 106 Tahun 2007, TLNRI No. 4756, Pasal 1 Angka 1.

(5)

ii

yang tercantum dan disertai dengan jelas hak dan kewajiban setiap anggota pemegangnya dan merupakan persediaan yang siap untuk dijual.3 Pemegang saham dapat melakukan pengalihan atau penjualan kepemilikan sahamnya kepada pihak lain. Faktor yang menyebabkan pemilik saham menjual atau mengalihkan sahamnya salah satunya karena perceraian. Saham yang dipegang oleh suami istri sebenarnya bukan merupakan suatu masalah, akan tetapi permasalahan itu timbul apabila terjadi perceraian yang dapat mengganggu kinerja Perseroan Terbatas (PT) yang mereka dirikan.

Permasalahan ini menarik untuk diteliti, yaitu suatu putusan yang berkaitan dengan permasalahan kedudukan saham atas nama dalam PT. Pada kasus ini, sepasang Suami-Istri mendirikan PT Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan menanam saham pada BPR tersebut dengan total persentase sebanyak 85% (delapan puluh lima persen), di mana jumlah tersebut terbagi- bagi kepemilikannya atas nama istri dan anak-anak. Selanjutnya karena terjadi perselisihan dan percekcokan di antara suami-istri tersebut, maka terjadilah perceraian. Dalam kasus ini, pihak istri sebagai Penggugat/Tergugat Rekonvensi dan pihak suami sebagai Tergugat/Penggugat Rekonvensi.

Menurut Tergugat, seluruh modal awal saham BPR tersebut sumber dananya dari Tergugat yang diperoleh setelah terjadinya perkawinan. Pada saat terjadi perceraian Penggugat menggugat harta bersama, namun Tergugat keberatan karena terdapat beberapa harta kekayaan yang tidak dimasukkan ke dalam gugatan harta bersama tersebut, yang salah satunya adalah saham yang

3 Irham Fahmi, Analisis Laporan Keuangan, Alfabeta, Bandung, 2011, hlm. 85.

(6)

iii

terdapat dalam Bank Perkreditan Rakyat (BPR) tersebut. Tergugat merasa dirugikan karena tidak mendapatkan bagian apapun atas kepemilikan saham yang dibelinya tersebut. Putusan tingkat pertama kasus ini yakni Putusan No.

186/Pdt.G/2005/PA.Mtr dikuatkan oleh Putusan Pengadilan Tinggi Agama yakni Putusan No. 75/Pdt.G/2006/PTA.MTR. Berlandaskan putusan tersebut, Tergugat/Penggugat Rekonvensi mengajukan permohonan kasasi, namun ditolak oleh Mahkamah Agung. Putusan hakim ini didasari oleh ketentuan mengenai kepemilikan saham dalam hukum PT, serta hukum perbankan di Indonesia. Duduk perkara dari kasus ini terdapat dalam Putusan MA No.

431K/AG/2007, sehingga penulis tertarik menganalisis dan meneliti putusan ini lebih lanjut.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka penting dilakukan penelitian terkait kedudukan saham atas nama dalam PT dalam suatu perkawinan dan dasar pertimbangan hakim dalam Putusan No.

431K/AG/2007. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normative, dan menggunakan tiga macam metode pendekatan, yakni Pendekatan Perundang-undangan (Statute Approach), Pendekatan Konseptual (Conceptual Approach) dan Pendekatan Kasus (Case Approach).4

4 Amiruddin dan Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Rajawali Pers, 2014, hlm. 118.

(7)

iv

II. PEMBAHASAN

1. Kedudukan Saham Atas Nama dalam PT dalam Suatu Perkawinan Kedudukan saham atas nama dalam suatu perkawinan menjadi suatu persoalan, mengingat adanya pertentangan norma yang terdapat dalam UUPT dan Undang-Undang Perkawinan. Saham atas nama atau Registered Stock adalah jenis saham di mana di atas sertifikat saham tersebut dituliskan nama pemilik dari sahamnya. Sementara dilihat dari cara peralihannya, saham atas nama dapat dialihkan dengan dokumen peralihan dan kemudian nama pemilik baru dari pemilik saham tersebut dicatat dengan buku perusahaan yang khusus memuat daftar nama pemegang saham. Lain halnya dengan saham atas unjuk, apabila saham atas nama tersebut hilang maka pemilik dapat meminta gantinya, karena nama dari pemilik saham tersebut sudah dicatatkan terlebih dahulu.5

Jika ditinjau dari ketentuan mengenai saham PT yang terdapat dalam Pasal 48 UUPT, maka saham PT khususnya saham atas nama merupakan suatu bentuk harta pribadi yang status kepemilikannya hanya dimiliki oleh orang yang namanya tercantum dalam sertifikat saham. Sedangkan jika ditinjau dari ketentuan mengenai harta bersama yang terdapat dalam Pasal 35 UU Perkawinan yang menyatakan bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama6, maka dalam hal ini saham PT khususnya

5 M. Irsan Nasarudin, Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia, Kencana, Jakarta, 2008, hlm. 189-190.

6 Indonesia, Undang-Undang tentang Perkawinan, UU No. 1 Tahun 1974, LNRI No. 1 Tahun 1974, TLNRI No. 3019, Pasal 35.

(8)

v

saham atas nama yang diperoleh selama masa perkawinan merupakan harta bersama, kecuali diatur lain dalam perjanjian kawin.

Bagi mereka yang tunduk dan diatur oleh KUHPerdata, maka dengan sendirinya, ketentuan Pasal 119 KUHPerdata berlaku, yaitu paham persatuan harta secara bulat. Bilamana menghendaki, calon pasangan suami istri dapat membuat perjanjian kawin, sebagaimana diatur dalam Pasal 139 KUHPerdata. Perjanjian kawin yang sekiranya tepat untuk mengantisipasi kepentingan suami atau istri di kemudian hari adalah perjanjian kawin dengan pemisahan harta sepenuhnya atau pemisahan harta terbatas. Prinsip perjanjian kawin tersebut menyebabkan kekayaan-kekayaan tertentu saja yang dapat dikuasai sepenuhnya, dan oleh karena itu suami atau istri dapat bertindak dengan otoritas penuh, bahkan bertanggung jawab sendiri atas segala akibat hukumnya. Tan Thong Kie menguraikan konsepsi setiap harta campur ditiadakan dan harta campur terbatas, yaitu:7

“Setiap harta campur ditiadakan, berarti, yang masuk dalam harta suami adalah harta yang dibawa suami ke dalam pernikahan dan lagi segala harta yang diperoleh atau jatuh kepada suami sepanjang pernikahan, sedangkan harta bawaan istri dan harta yang diperoleh atau jatuh kepada istri sepanjang pernikahan, masuk ke dalam harta istri. Suami berhak 100% (seratus persen) atas hartanya sendiri, sedang istri berhak 100% (seratus persen) atas hartanya. Tidak ada harta-harta yang dimiliki suami dan istri bersama.

Harta campur terbatas, berarti, yang masuk ke dalam setiap harta adalah:

1) yang masuk dalam persatuan harta pernikahan (harta campur) adalah semua harta, tidak ada dikecualikan, antara lain semua harta yang dibawa suami dan istri ke dalam pernikahan, harta

7 Tan Thong Kie, Studi Notariat: Serba-Serbi Praktek Notaris Buku I, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta, 2000, hlm. 80-81.

(9)

vi

yang diperoleh suami dan istri sepanjang pernikahan, termasuk gaji masing-masing, warisan, hibah dan hibah wasiat yang jatuh kepada salah satu, suami atau istri. Yang berhak atas harta campur itu adalah suami dan istri, masing-masing untuk separuh bagian.

Hanya suami saja yang boleh mengurus harta campur, ia diperbolehkan memindah-tangankan harta tanpa campur tangan istri. Suami hanya dibatasi jika ia ingin menghibahkan sesuatu dari harta campur (Pasal 124 KUHPerdata).

2) yang masuk dalam harta suami adalah harta yang dibawa suami ke dalam pernikahan dan lagi segala harta yang diperoleh atau jatuh kepada suami sepanjang pernikahan, sedangkan harta bawaan istri dan harta yang diperoleh atau jatuh kepada istri sepanjang pernikahan, masuk ke dalam harta istri.

Suami berhak 100% (seratus persen) atas hartanya sendiri, sedang istri berhak 100% (seratus persen) atas hartanya, sedangkan yang berhak atas harta campur terbatas adalah suami dan istri masing- masing untuk bagian yang sama.”

Berdasarkan perjanjian kawin, maka terhadap saham, yang merupakan barang bergerak, tergolong jenis surat berharga (efek), dengan tidak ada percampuran harta sama sekali atau campur harta secara terbatas, harus diperhatikan kaidah Pasal 159 KUHPerdata bahwa:8

“Barang-barang tetap dan efek-efek yang dibeli selama perkawinan, atas nama siapa pun juga dianggap sebagai keuntungan, kecuali bila terbukti sebaliknya.”

Pada dasarnya, menurut UUPT, suami istri sebenarnya tidak diperkenankan untuk mendirikan PT, kecuali ada perjanjian kawin yang mendasari harta kekayaan suami istri tersebut. Apabila ada perjanjian kawin, maka harta kekayaan suami istri yang menjadi modal saham PT tetap berasal dari harta kekayaan pribadi masing-masing dan tidak membawa resiko bagi PT jika terjadi perceraian antara suami istri yang memiliki saham pada PT tersebut.

8 Soedharyo Soimin, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, Sinar Grafika, Jakarta, 2016, hlm. 37

(10)

vii

Pertentangan norma yang terdapat pada UUPT dan UU Perkawinan menyebabkan kedilemaan dalam menentukan kedudukan saham PT dalam suatu perkawinan. Ditinjau dari Putusan No. 431K/AG/2007, maka kedudukan saham PT dalam suatu perkawinan bukanlah sebagai harta bersama, melainkan sebagai harta pribadi orang yang namanya tertera pada sertifikat saham atas nama tersebut.

2. Dasar Pertimbangan Hakim dalam Putusan No. 431K/AG/2007

Putusan No. 431K/AG/2007 adalah putusan mengenai perkara harta bersama dalam perkawinan oleh suami istri atas modal saham. Pihak Suami dalam hal ini sebagai Tergugat/Penggugat Rekonvensi/Terbanding I/Pemohon Kasasi dan pihak Istri sebagai Penggugat/Tergugat Rekonvensi/Pembanding I/Termohon Kasasi. Tergugat mendalilkan bahwa Tergugat telah mengeluarkan uang sebesar Rp 850.000.000,00 (delapan ratus lima puluh juta rupiah) yakni 85% modal awal saham PT BPR Pitih Gumarang, dimana uang tersebut diambil dari harta bersama.

Saham PT Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Pitih Gumarang sebesar 85% (delapan puluh lima persen) tersebut terbagi-bagi kepemilikannya yakni 20% (dua puluh persen) atas nama Penggugat/Tergugat Rekonvensi serta atas nama anak-anak Penggugat/Tergugat Rekonvensi dan Tergugat/Penggugat Rekonvensi, yakni Happy Zainar 25% (dua puluh lima persen), Willgo Zainar 15% (lima belas persen), dan Well Zainar 25% (dua puluh lima persen).

Sedangkan menurut Penggugat, saham-saham tersebut tidak termasuk dalam

(11)

viii

harta bersama karena berdasarkan akta pendirian PT. BPR Pitih Gumarang saham-saham tersebut diatas adalah milik pribadi masing-masing dan oleh karena itu Tergugat tidak dapat mencampuri urusan mengenai PT. BPR Pitih Gumarang karena Tergugat tidak memiliki saham apapun, kecuali sebagai deposan.

Dalam putusan perkara tingkat pertama yakni Putusan No.

186/Pdt.G/2005/PA.MTR, Penggugat/Tergugat Rekonvensi tidak membantah mengenai adanya 20% (dua puluh persen) saham pendirian PT BPR Pitih Gumarang, sehingga dalam Rekonvensi hakim menetapkan sebagai harta bersama dalam perkawinan Penggugat dan Tergugat berupa saham 20% (dua puluh persen) modal pendirian PT. BPR Pitih Gumarang atas nama Penggugat/Tergugat Rekonvensi (Hj. Nartini Binti I wayan Lila).

Tergugat/Penggugat Rekonvensi tidak puas akan keputusan hakim yang terdapat dalam Putusan No. 186/Pdt.G/2005/PA.MTR sehingga kemudian mengajukan banding. Dalam bandingnya, Tergugat/Penggugat Rekonvensi mendalilkan bahwa total saham yang dimilikinya adalah 85%

(delapan puluh lima persen) atau senilai Rp 850.000.000,00 (delapan ratus lima puluh juta rupiah), dimana menurut Tergugat/Penggugat Rekonvensi 85% (delapan puluh lima persen) saham tersebut seharusnya ditetapkan sebagai harta bersama, bukan sebagai harta pribadi masing-masing. Dalam putusan banding, yakni Putusan No. 75/Pdt.G/2006/PTA.MTR hakim memutuskan bahwa dari total 85% (delapan puluh lima persen) saham tersebut yang diakui sebagai harta bersama hanya 20% (dua puluh persen)

(12)

ix

atas nama Penggugat/Tergugat Rekonvensi (istri) karena 20% (dua puluh persen) saham tersebut telah diakui oleh kedua belah pihak, sementara sisanya tidak dapat diterima karena jawaban Tergugat tidak secara tegas menggugat keseluruhan saham PT. BPR Pitih Gumarang tersebut sebagai harta bersama.

Tergugat/Penggugat Rekonvensi keberatan dengan keputusan Hakim Pengadilan Tinggi Agama dan kemudian mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung Republik Indonesia. Tergugat/Penggugat Rekonvensi/Pemohon Kasasi dalam kasasinya mendalilkan bahwa judex facti telah salah dalam menerapkan hukum, karena dalam pertimbangannya mengenai saham awal dari Tergugat/Penggugat Rekonvensi/Pemohon Kasasi pada PT. BPR Pitih Gumarang berjumlah Rp 850.000.000,00 (delapan ratus lima puluh juta rupiah) atau senilai 85% (delapan puluh lima persen), di mana judex facti dalam pertimbangannya hanya mengakui 20% (dua puluh persen) sebagai harta bersama antara Tergugat/Penggugat Rekonvensi/Pemohon Kasasi dengan Penggugat/Tergugat Rekonvensi/Termohon Kasasi, sehingga merugikan Tergugat/Penggugat Rekonvensi/Pemohon Kasasi. Dalam putusan Mahkamah Agung No. 431K/AG/2007 hakim memutuskan yakni menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi (suami), serta memperbaiki amar Putusan Pengadilan Tinggi Agama Mataram No. 75/Pdt.G/2006/PTA.MTR yang menguatkan Putusan Pengadilan Agama Mataram No.

186/Pdt.G/2005/PA.Mtr.

(13)

x

Dalam perbaikan amar putusan tersebut hakim menetapkan Penggugat dan Tergugat masing-masing berhak memperoleh ½ (seperdua) dari harta bersama tersebut, namun tidak ada lagi 20% (dua puluh persen) saham modal awal pendirian PT. BPR Pitih Gumarang atas nama Termohon Kasasi, yang artinya 20% (dua puluh persen) saham tersebut tidak lagi ditetapkan sebagai harta bersama, sehingga Pemohon Kasasi tidak memiliki hak apapun atas saham modal awal pendirian PT. BPR Pitih Gumarang kecuali sebagai deposan.

Dalam putusan ini yang menjadi dasar pertimbangan hakim adalah bahwa alasan-alasan Pemohon Kasasi tidak dapat dibenarkan, karena judex facti tidak salah dalam menerapkan hukum dan pada hakekatnya pemeriksaan dalam tingkat kasasi hanya berkenaan dengan adanya kesalahan penerapan hukum, adanya pelanggaran hukum yang berlaku, adanya kelalaian dalam memenuhi syarat-syarat yang diwajibkan oleh peraturan perundang-undangan yang mengancam kelalaian itu dengan batalnya putusan tersebut atau pengadilan tidak berwenang atau melampaui batas wewenangnya sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 30 UU No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan UU No. 5 Tahun 2004, di mana mengenai penilaian hasil pembuktian yang bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan tidak dapat dipertimbangkan dalam pemeriksaan tingkat kasasi.

Hakim menimbang, bahwa terlepas dari pertimbangan tersebut di atas, menurut pendapat Mahkamah Agung Amar Putusan Pengadilan Tinggi

(14)

xi

Agama Mataram yang menguatkan Putusan Pengadilan Agama Mataram harus diperbaiki sepanjang mengenai saham di PT BPR Pitih Gumarang dengan pertimbangan bahwa sengketa tentang saham di PT BPR Pitih Gumarang (dalam rekonvensi) harus melalui Audit Akuntan Publik sesuai ketentuan UU No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas sebagaimana telah diubah dengan UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas, maka permohonan kasasi yang diajukan Pemohon Kasasi harus ditolak dengan perbaikan amar Putusan Pengadilan Tinggi Agama Mataram No.

75/Pdt.G/2006/PTA.MTR yang menguatkan Putusan Pengadilan Agama Mataram No. 186/Pdt.G/2005/PA.Mtr yang pada perubahan amar putusan tersebut hakim memutuskan bahwa kedudukan saham atas nama dalam Perseroan Terbatas bukan sebagai harta bersama dalam perkawinan.

Ditinjau dari dasar-dasar pertimbangan hakim yang terdapat pada Putusan MA No. 431K/AG/2007, dalam memutuskan suatu perkara, selain mengacu kepada Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, hakim sebaiknya mempertimbangkan pula sengketa harta bersama ini berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

Mengingat dalam perkara ini saham atas nama dalam PT diperoleh selama perkawinan berlangsung, maka hal ini sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Pasal 35 ayat (1) UU Perkawinan, yakni:

“Harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.”

(15)

xii

Jika mengacu kepada Pasal 35 ayat (1) UU Perkawinan, maka saham atas nama dalam PT yang diperoleh selama perkawinan tergolong sebagai harta bersama dalam perkawinan.

(16)

xiii

III. PENUTUP

Kesimpulan

1. Ditinjau dari Putusan Mahkamah Agung No. 431K/AG/2007 maka kedudukan saham atas nama dalam Perseroan Terbatas (PT) bukan sebagai harta bersama dalam suatu perkawinan. Putusan ini telah sesuai dengan ketentuan mengenai kepemilikan saham yang terdapat dalam UUPT, yakni meskipun uang yang digunakan sebagai modal saham diperoleh selama masa perkawinan, namun Pasal 48 ayat 1 jo. Pasal 51 UUPT telah menegaskan bahwa hanya “saham atas nama” yang dapat menjadi bukti kepemilikan saham dan perseroan menyatakannya di dalam anggaran dasarnya, sehingga orang yang namanya tercantum dalam akta kepemilikan saham adalah pemilik sah saham tersebut.

Namun putusan ini kurang sesuai dengan ketentuan mengenai harta bersama yang terdapat dalam Pasal 35 ayat (1) UU Perkawinan yang menyatakan bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama.

2. Ditinjau dari Putusan Mahkamah Agung No. 431K/AG/2007 yang menyatakan bahwa permohonan kasasi harus ditolak serta memperbaiki amar putusan sebelumnya, yakni Putusan Pengadilan Tinggi Agama No.

75/Pdt.G/2006/PTA.MTR sehingga saham modal awal pendirian PT.

BPR Pitih Gumarang tidak ditetapkan sebagai harta bersama, maka yang menjadi dasar pertimbangan hakim ialah bahwa jawaban Tergugat (suami) tidak secara tegas menggugat keseluruhan saham PT. BPR Pitih

(17)

xiv

Gumarang tersebut sebagai harta bersama. Selain pertimbangan di atas, yang menjadi dasar pertimbangan hakim ialah bahwa sengketa tentang saham di PT. BPR Pitih Gumarang (dalam rekonvensi) harus melalui Audit Akuntan Publik sesuai ketentuan UU No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas sebagaimana telah diubah dengan UU No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas.

Saran

1. Baiknya bagi pihak Tergugat untuk lebih memperhatikan ketentuan- ketentuan mengenai saham Perseroan Terbatas (PT) terutama mengenai status kepemilikan saham dan cara-cara peralihan saham. Serta bagi pasangan Suami-Istri yang hendak mendirikan Perseroan Terbatas agar lebih teliti dan memahami ketentuan-ketentuan mengenai kepemilikan saham. Dalam hal ini sangat disarankan untuk mengadakan perjanjian kawin sebelumnya, sehingga lebih aman dan lebih jelas pertanggungjawaban hukumnya.

2. Bagi Hakim yang menangani perkara ini hendaknya lebih bijak dalam mempertimbangkan dan mengambil keputusan serta lebih merujuk kepada peraturan perundang-undangan yang berlaku.

(18)

15

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Amiruddin dan H. Zainal Asikin, 2006, Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Irham Fahmi, 2011, Analisis Laporan Keuangan, Alfabeta, Bandung.

M. Irsan Nasarudin, et al, 2008, Aspek Hukum Pasar Modal Indonesia, Kencana, Jakarta.

Tan Thong Kie, 2000, Studi Notariat: Serba-Serbi Praktek Notaris Buku I, Ichtiar Baru Van Hoeve, Jakarta.

Zainal Asikin dan L. Wira Pria, 2018, Pengantar Hukum Perusahaan, Prenadamedia Group, Depok.

Peraturan Perundang-Undangan

Indonesia, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

Indonesia, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 Tentang Perseroan Terbatas.

Indonesia, Kitab Undang-Undang Hukum Perdata

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Putusan Pengadilan Tinggi Agama Surabaya No.308/Pdt.G/2010/PTA.Sby dan Putusan Mahkamah Agung No.306 K/AG/2011 yang pada intinya, kedudukan harta bersama