1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pasar modal merupakan tempat bertemunya penjual dengan pembeli modal atau dana yang diperantarai oleh para anggota bursa. Pasar modal berperan penting dalam kegiatan perekonomian karena merupakan sumber dana alternatif bagi perusahaan-perusahaan. Pasar modal memungkinkan para pemodal mempunyai berbagai pilihan investasi yang sesuai dengan preferensi resiko mereka. Investasi bisa dilakukan pada aktiva riil (membangun pabrik, membuat produk baru, menambah saluran distribusi, dan sebagainya), ataupun pada aktiva finansial, atau sekuritas (membeli sekuritas deposito, saham, obligasi, atau sertifikat dana reksa).
Investasi yang sering dijumpai pada pasar modal adalah investasi saham.
Melakukan investasi saham pada pasar modal, perubahan harga pasar menjadi perhatian penting bagi para investor. Harga saham merupakan salah satu indikator keberhasilan pengelolaan suatu perusahaan. Semakin baik prestasi perusahaan akan meningkatkan harga saham perusahaan yang bersangkutan.
Tabel 1.1 Harga Saham LQ45 periode 2012-2016
TAHUN CLOSE PRICE
2012 735.042
2013 711.135
2014 898.581
2015 792.033
2016 884.619
Sumber : www.idx.com
Pada tabel 1.1, selama kurun waktu 5 tahun harga saham di LQ45 mengalami fluktuatif. Harga saham dari tahun 2012 ke tahun 2013 mengalami penurunan 3,3% , kemudian di tahun 2014 kembali naik sebesar 26,4%. Tetapi lagi-lagi mengalami penurunan di tahun berikutnya sebesar 11,9%, terakhir di tahun 2016 harga saham mengalami kenaikan sebesar 11,7% dari tahun sebelumnya. Harga saham di LQ45 mengalami kenaikan dan penurunan, hal ini disebabkan oleh berbagai macam faktor yang mempengaruhinya, baik itu faktor makroekonomi maupun faktor mikroekonomi. Melihat perubahan tersebut, maka pihak-pihak investor yang akan melakukan investasi pada perusahaan perlu melakukan penilaian terlebih dahulu.
Seorang investor dalam melakukan aktivitas perdagangan saham di pasar modal harus memperhatikan situasi moneter dan pergerakan variabel makro ekonomi. Keadaan ekonomi dan naik turunnya variabel makro dalam suatu negara dapat mempengaruhi harga saham. Dikutip dari BERITASATU.COM.
Dalam dunia pasar modal, investor perlu mengetahui indikator-indikator ekonomi makro karena hal tersebut akan berdampak pada naik atau turunnya harga saham. Salah satunya yaitu, inflasi. Inflasi adalah angka yang mengukur tingkat barang dan jasa yang dibeli konsumen. “Jika inflasi naik dan suku bunga meningkat, maka harga saham beberapa perusahaan cenderung turun,”
kata analis saham Ellen May dalam akun resmi twitter-nya, Minggu (13/12).
Ellen dalam akunnya @pakarsaham mencontoh pada tahun 2005, terjadi inflasi tinggi karena kenaikan harga BBM dan indeks harga saham gabungan (IHSG) sempat turun drastis. Tahun 1998 saat terjadi krisis finansial dengan inflasi mencapai 58 persen, dan IHSG terjun menjadi ke level 398. Demikian pula ketika tahun 2008, harga saham sempat turun cukup dalam karena krisis global dan inflasi. "Namun tahun 2005-2008 cukup berbeda dengan tahun 1998 karena inflasi tahun 1998 disertai gross domestic product (GDP) yang buruk," kata wanita penulis buku “Smart Trader Rich Investor: THE BABY STEPS” ini. Minggu (13/12).
Terdapat beberapa faktor yang dapat mempengaruhi Harga Saham, yaitu faktor makroekonomi dan faktor mikroekonomi. Samsul (2015: 210), faktor makroekonomi tersebut, antara lain : nilai tukar, suku bunga, inflasi, PDB (Produk Domestik Bruto), siklus ekonomi, paham ekonomi, ekonomi internasional, kebijakan pemerintah, peredaran uang, peraturan perpajakan.
Sedangkan faktor mikroekonomi yaitu faktor yang berada di dalam perusahaan itu sendiri, terkait dengan kesehatan perusahaan yang bersangkutan yaitu: Curent Ratio (CR), Quick Ratio (QR), Inventory Turn Over (ITO), dan Account Receivable Turn Over.
Industri di Indonesia saat ini sedang mengalami masa pertumbuhan (www.bappenas.go.id, 2016). Banyak perusahaan-perusahaan di Indonesia yang aktif melakukan kegiatan ekspor dan impor. Salah satu faktor yang melancarkan kegiatan ekspor dan impor tersebut adalah adanya mata uang sebagai alat transaksi, dimana mata uang yang umum digunakan dalam perdagangan internasional adalah dollar Amerika Serikat. Bagi perusahaan- perusahaan yang aktif melakukan kegiatan ekspor dan impor kestabilan nilai kurs mata dollar terhadap rupiah menjadi hal yang penting. Fluktuasi nilai
tukar yang tidak stabil dapat mengurangi tingkat kepercayaan investor.
Samsul (2015 : 212), nilai tukar berdampak negatif terhadap emiten yang memiliki utang dolar sementara produk emiten tersebut dijual secara lokal, sedangkan emiten yang berorientasi ekspor akan menerima dampak positif kenaikan kurs dolar AS tersebut. Hal ini berarti, harga saham dari emiten yang terkena dampak negatif tersebut akan mengalami penurunan di bursa efek.
Sebaliknya emiten yang terkena dampak positif tersebut harga sahamnya akan meningkat. Penelitian yang dilakukan oleh Prabowo, Wahono, & ABS (2016), menunjukan bahwa nilai tukar rupiah berpengaruh positif terhadap harga saham berbeda hasilnya dengan penelitian yang dilakukan (Mulyani, 2014), yang menunjukan bahwa nilai tukar berpengaruh negatif terhadap harga saham.
BI rate adalah suku bunga kebijakan yang mencerminkan sikap sebuah kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan diumumkan kepada publik (www.bi.go.id, 2017). Dikuti dari The President Post.com, secara historis, ketika suku bunga cenderung naik, harga saham justru cenderung turun. Sebaliknya, ketika suku bunga cenderung turun, maka harga saham cenderung naik. Pada dasarnya, saham dan suku bunga merupakan dua hal yang saling bertolak belakang.
Tabel 1.2 Hubungan korelasi pergerakan indeks saham terhadap pergerakan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
SEKTOR KORELASI
Keuangan -0.63
Aneka Industri -0.60
Konsumen -0.59
Manufaktur -0.58
Industri Dasar dan Kimia -0.53
Properti -0.52
Pertambangan -0.50 Perdagangan -0.46
Pertanian -0.46
Sumber : The President Post.com (Jakarta, 20 Januari 2018, 09:00 WIB), Dari tabel 2.1, dapat dilihat bahwa ternyata memang semua sektor saham berkorelasi negatif dengan pergerakan suku bunga, sektor Keuangan mempunyai korelasi negatif paling tinggi, disusul oleh sektor Aneka Industri, dan sektor Konsumen. Kemudian korelasi terendah terjadi pada sektor Perdagangan dan Pertanian.
Menurut (Samsul, 2015 : 211). Kenaikan tingkat bunga pinjaman sangat berdampak negatif bagi setiap emiten, karena akan meningkatkan beban bunga kredit dan menurunkan laba bersih. Penurunan laba bersih berarti penurunan laba per saham dan akhirnya akan berakibat turunnya harga saham di pasar.
Sebaliknya, penurunan tingkat bunga deposito akan mendorong investor beralih dari produk perbankan ke pasar modal. Investor banyak membeli saham sehingga harga saham terdorong naik akibat permintaan saham yang
meningkat. Penelitian yang dilakukan (Ginting, Wijono, & Sulasmiyati, 2016), menunjukan bahwa suku bunga berpengaruh negatif terhadap harga saham akan tetapi penelitian (Adhitya, 2014) menunjukan sebaliknya.
Tandelilin (2010) inflasi secara relatif berpengaruh negatif terhadap harga saham karena inflasi meningkatkan biaya suatu perusahaan. Apabila peningkatan biaya lebih tinggi daripada pendapatan perusahaan, maka profitabilitas dari perusahaan tersebut mengalami penurunan. Penurunan laba perusahaan akan menyebabkan investor tidak tertarik untuk berinvestasi pada perusahaan, hal ini akan mengakibatkan penurunan harga saham. Hal ini didukung oleh penelitian dari (Permana & Sularto, 2009) yang menyatakan bahwa inflasi berpengaruh negatif terhadap harga saham. Berbeda dengan penelitian dari Adhitya (2015) yang menyatakan sebaliknya.
Faktor makroekonomi berubah secara mendadak dan sukar diprediksi.
Perubahan makroekonomi ini bisa datang setiap saat. Investor yang dapat mengestimasi datangnya perubahan faktor makroekonomi akan dapat bertindak lebih dahulu dalam mengambil keputusan untuk menjual atau membeli saham yang bersangkutan dan akan memperoleh keuntungan lebih besar daripada investor yang terlambat mengambil keputusan.
Berdasarkan paparan masalah di atas dan berbagai hasil penelitian yang berbeda beda menimbulkan ketidak konsistenan hasil penelitian, sehingga perlu dilakukan peninjauan kembali tentang “PENGARUH NILAI TUKAR, SUKU BUNGA DAN INFLASI TERHADAP HARGA SAHAM DI LQ45 PERIODE TAHUN 2012-2016”.
B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang yang telah dijelaskan, maka rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu :
1. Apakah suku bunga mempengaruhi inflasi?
2. Apakah suku bunga dan inflasi mempengaruhi nilai tukar?
3. Apakah nilai tukar berpengaruh terhadap harga saham di lq45?
4. Apakah suku bunga berpengaruh terhadap harga saham di lq45?
5. Apakah inflasi berpengaruh terhadap harga saham di lq45?
6. Apakah suku bunga berpengaruh terhadap harga saham
7. Apakah nilai tukar, suku bunga dan inflasi berpengaruh terhadap harga saham di LQ45?
8. Variabel mana yang paling berpengaruh terhadap harga saham di LQ45?
C. Batasan Penelitian
Agar penelitian yang dilakukan lebih fokus dan tidak keluar dari jalur pembahasan maka peneliti akan membatasi ruang lingkup penelitiannya.
Batasan itu meliputi, :
1. Penelitian ini dilakukan hanya pada periode 2012-2016.
2. Penelitian pada perusahaan yang terdaftar di LQ45.
D. Tujuan Penelitian
Penelitian ini mempunyai beberapa tujuan-tujan yang ingin dicapai.
Tujuan tersebut dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui pengaruh nilai tukar terhadap harga saham perusahaan yang terdaftar di LQ45 periode 2012-2016.
2. Untuk mengetahui pengaruh suku bunga terhadap harga saham perusahaan yang terdaftar di LQ45 periode 2012-2016.
3. Untuk mengetahui pengaruh inflasi terhadap harga saham perusahaan yang terdaftar di LQ45 periode 2012-2016.
4. Untuk mengetahui pengaruh nilai tukar, suku bunga dan inflasi terhadap harga saham perusahaan yang terdaftar di LQ45 periode 2012-2016.
5. Untuk mengetahui variabel yang paling berpengaruh terhadap harga saham perusahaan yang terdaftar di LQ45 periode 2012-2016.
E. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan bisa bermanfaat dan berguna bagi semua pihak yang berhubungan dengan topik penelitian ini. Manfaat penelitian dapat diuraikan sebagai berikut :
1. Bagi Investor
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan bahan pertimbangan bagi investor dalam mengambil keputusan investasi.
2. Bagi Emiten
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan bahan evaluasi agar dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam melakukan investasi dengan tujuan mendapatkan keuntungan yang maksimal.
3. Bagi Peneliti Selanjutnya
Bagi peneli-peneliti selanjutnya, penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan referensi serta acuan dalam meneliti pengaruh nilai tukar, suku bunga dan inflasi terhadap harga saham di LQ45 di kemudian hari.