• Tidak ada hasil yang ditemukan

Surat Edaran Dirjen Pajak, SE - 15/PJ.5/1991

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Surat Edaran Dirjen Pajak, SE - 15/PJ.5/1991"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

23 Agustus 1991

SURAT EDARAN DIREKTUR JENDERAL PAJAK NOMOR SE - 15/PJ.5/1991

TENTANG

NOMOR SERI FAKTUR PAJAK. (SERI PPN - 175) DIREKTUR JENDERAL PAJAK,

Sehubungan dengan banyaknya pertanyaan mengenai pemberian Nomor Seri Faktur Pajak, khususnya dalam hal PKP bermaksud mencetak Faktur Pajak dengan jumlah lebih dari seratus ribu lembar faktur, bersama ini diberikan penjelasan sebagai berikut :

1.

Dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor : 1117/KMK.04/1988 tanggal 8 November 1988 telah diatur bahwa pengadaan formulir Faktur Pajak dilakukan sendiri oleh PKP dan sebelum PKP menerbitkan Faktur Pajak, diharuskan melaporkan Nomor Seri Faktur Pajak yang akan diterbitkan kepada KPP di tempat PKP dikukuhkan.

2.

Petunjuk pengisian Nomor Seri Faktur Pajak telah diatur pada butir 2 angka II lampiran 1 Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor : SE-44/PJ.3/1988 tanggal 23 Desember 1988 (Seri PPN - 131), yaitu sebagai berikut :

2.1.Kode Faktur Pajak terdiri dari 2 (dua) huruf yang diberikan oleh Kepala KPP kepada WP yang telah dikukuhkan menjadi PKP.

2.2.No.Seri Faktur Pajak yang

merupakan nomor urut yang terdiri dari lima digit mulai dari angka 00001 s.d angka 99999, yang dapat dicetak terlebih dahulu, dicantumkan dengan mesin ketik atau nomerator.

(2)

2.3.Dalam hal Pengusaha Kena Pajak mendapat izin untuk

menerbitkan Faktur Pajak Sederhana maka Nomor Seri

diperkenankan untuk tidak dicantumkan dalam Faktur Pajak.

2.4.Dalam hal PKP

mempunyai beberapa unit, maka Masing- masing unit dapat

diberikan jatah Nomor Seri, dan jatah Nomor Seri ini dilaporkan kepada Kantor Pelayanan Pajak yang bersangkutan 2.5.Penggunaan

Nomor Seri yang sama untuk masing- masing unit tidak

diperkenankan.

Dalam hal nomor

tersebut habis dipakai, supaya dilaporkan kepada Kantor Pelayanan Pajak yang bersangkutan untuk dapat diberikan Nomor Seri yang baru.

(3)

- dalam hal PKP bermaksud mencetak kembali Faktur Pajak, agar PKP melanjutkan nomor urut/seri yang sudah terpakai sepanjang masih memungkinkan dalam digit nomor seri yang tersedia, atau dapat memulai kembali dari nomor 00001 apabila dengan digit yang tersedia tidak memungkinkan lagi untuk dilanjutkan dengan nomor seri berikutnya (telah terpakai habis);

- dalam hal PKP bermaksud mencetak Faktur Pajak sekaligus lebih dari seratus ribu lembar, maka nomor seri Faktur Pajak boleh lebih dari lima digit;

- untuk setiap pencetakan Faktur Pajak baru, PKP hendaklah memberitahukannya kepada Kepala KPP setempat.

4.

Untuk menghilangkan keragu-raguan dan salah penafsiran terhadap Keputusan Menteri Keuangan dan kedua Surat Edaran tersebut diatas serta dalam rangka pengamanan Faktur Pajak, bersama ini diberikan penegasan kembali sebagai berikut :

4.1.Nomor Seri Faktur Pajak boleh lebih dari 5 (lima) digit.

4.2.Pada saat pencetakan Faktur Pajak dianjurkan supaya sekaligus

mencantumkan nomor seri Faktur Pajak.

4.3.Sebelum menerbitkan (memakai) Faktur Pajak, PKP tetap diharuskan melaporkan Nomor Seri Faktur Pajak kepada KPP setempat.

4.4.Dalam hal PKP bermaksud mencetak kembali Faktur Pajak :

4.4.1.

apabila Nomor Seri Faktur Pajak belum habis terpakai (masih ada sisa yang belum diterbitkan), maka PKP dapat meneruskan urutan nomor seri faktur yang telah dipakai pada waktu mencetak Faktur Pajak sebelumnya;

(4)

4.4.2.

apabila Nomor Seri Faktur Pajak telah habis terpakai (telah diterbitkan semua), PKP dapat mencetak Faktur Pajak dan

mencantumkan Nomor

Seri Faktur Pajak sebagaimana dimaksud pada butir 4.2 mulai dari nomor seri awal (00001) dan sebelum menerbitkan Faktur Pajak

memberitahukan terlebih

dahulu kepada Kepala KPP setempat.

(5)

4.5.

Apabila karena sesuatu hal (misalnya identitas berupa nama dan alamat PKP berubah, sedangkan masih ada Nomor Seri Faktur Pajak yang telah tercetak tetapi belum diterbitkan Faktur Pajaknya) PKP bermaksud untuk mengganti dan mencetak Faktur Pajak baru, maka:

4.5.1.

PKP dapat mencetak Faktur Pajak baru dan dapat meneruskan nomor seri yang telah terpakai sepanjang sisa Nomor Seri (Faktur Pajak) yang sudah dicetak tetapi belum diterbitkan sudah

dimusnahkan terlebih dahulu, atau menggunakan Nomor Seri dari Faktur Pajak dari urutan nomor seri awal kembali serta memberitahukannya kepada KPP setempat;

4.5.2.

Pemusnahan Faktur Pajak sebagaimana dimaksud dalam butir 4.5.1.

disaksikan oleh petugas KPP untuk selanjutnya

dibuatkan Berita Acara Pemusnahan yang

ditandatangani oleh PKP dan petugas KPP.

(6)

4.6.

Dalam hal terdapat Faktur Pajak "cacat" yang disebabkan antara lain karena salah tulis, salah jumlah, salah hitung dan sebagainya, agar Faktur Pajak tersebut dibatalkan dengan cara membubuhkan tanda/cap

"BATAL" pada lembar Faktur Pajak tersebut.

Kemudian Faktur Pajak pengganti (yang nomor serinya berbeda) ditempelkan pada lembar Faktur Pajak cacat tersebut. Faktur Pajak pengganti ini harus diberi catatan "Pengganti Faktur Pajak nomor seri ....".

Khusus untuk Faktur Pajak yang diterbitkan untuk Pemungut Pajak eks Keppres 56 Tahun 1988, pembetulan jumlah uang (DPP dan PPN/PPn BM) karena perubahan nilai kurs, agar tetap berpedoman pada Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor: SE-22/PJ.3/1989 (Seri PPN-143), yaitu jumlah uang yang tercantum pada Faktur Pajak disesuaikan oleh Pemungut Pajak dengan mempergunakan kurs yang berlaku menurut Keputusan Menteri Keuangan pada saat dilakukan pembayaran.

Pembetulan tersebut harus dilakukan oleh Pemungut Pajak dengan jalan mencoret angka yang akan diperbaiki dan mencantumkan angka yang seharusnya dan membubuhkan paraf disamping angka yang diperbaiki tersebut (tidak

(7)

faktur tidak sama dengan kode faktur yang diberikan oleh KPP tempat PKP Penjual/ Pemberi Jasa dikukuhkan (pengecekan kebenarannya dapat dilakukan melalui komputer), maka Faktur Pajak tersebut dicurigai kebenarannya.

Untuk itu agar diminta penjelasan lebih lanjut dari PKP yang bersangkutan atau meminta konfirmasi kebenarannya ke KPP yang memberikan kode Faktur Pajak tersebut sesuai dengan tata cara yang diatur dalam Surat Edaran Nomor : SE- 35/PJ.5/1989 tanggal 16 Juli 1989.

6.

Tidak berkelebihan kiranya untuk diingatkan kembali bahwa ketentuan tentang pencantuman nomor urut, nama PKP atau nama merek usaha dan jumlah harga jual atau penggantian serta jumlah PPN atau PPn BM yang terutang atau keterangan bahwa pajak yang terutang tersebut telah termasuk dalam harga jual atau penggantian, pada Faktur Pajak sederhana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor : KEP-24/PJ.3/1989 tanggal 20 Mei 1989 masih tetap berlaku.

Demikian agar dimaklumi.

DIREKTUR JENDERAL PAJAK, ttd

Drs. MAR'IE MUHAMMAD

Referensi

Dokumen terkait

While in Section 6 the accuracy of hand gesture tracking is evaluated under different speeds, distances and integration times, Section 7 estimates the time

If this message is not eventually replaced by the proper contents of the document, your PDF viewer may not be able to display this type of document.. You can upgrade to the

The financial information above is taken from the interim consolidated financial statements of PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk ("Bank") and the subsidiaries dated

Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini meliputi pemodelan sekaligus membangun perangkat lunak yang dapat diaplikasikan untuk memprediksi keandalan

Perinsip ini sangat pentingyang karenanya Washil bin „Atha memisahkan diri dari Hasan Basri. Washil memutuskan bahwa orang yang berbuat dosa besar selain syirik, tidak

S.L tidak ada sumbatan pada jalan napas, tidak ada benda asing, pernapasan teratur, tidak ada sesak napas, sirkulasi baik, dan tidak ada perdarahan,tekanan darah

Berdasarkan Tabel 3, dapat dilihat nilai erodibilitas tanah bervariasi yaitu pada lahan semak belukar memiliki erodibilitas tingkat sedang dan lahan kebun campuran

Diajukan Guna Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga.