• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sastra tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Karya sastra merupakan refleksi dari permasalahan-permasalahan hidup yang dihadapi manusia yang kemudian dituangkan dalam karya. Produk hasil pemikiran di bidang sastra, baik berupa lisan maupun tulisan disebut karya sastra. Karya sastra biasanya memiliki amanat atau pesan yang dapat dijadikan contoh dalam kehidupan sehari- hari. Karya sastra juga mengandung nilai-nilai pendidikan seperti nilai moral, nilai budaya, nilai sosial, nilai religius dan nilai pendidikan budi pekerti.

Karya sastra dapat digunakan sebagai sarana pembelajaran, khususnya nilai pendidikan budi pekerti. Karya sastra dapat digunakan oleh pengarang sebagai media menyampaikan gagasan maupun perasaan. Hal tersebut dikarenakan sesuatu yang terjadi dalam batin pengarang sering menjadi bahan sastra. Bahan sastra tersebut kemudian diolah menjadi karya sastra yang sarat akan makna dan pembelajaran.

Pengajaran sastra idealnya memberikan kontribusi terhadap keberhasilan pengembangan kepribadian peserta didik. Hal ini dipertegas dengan Undang- Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003, pada Pasal 1 ayat (1) yang menetapkan tujuan umum pembelajaran sastra sebagai tujuan dari penyelenggaraan pendidikan nasional. Tujuan tersebut berhubungan dengan harapan dapat mewujudkan suasana dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya. Penggalian potensi diri memiliki peran agar peserta didik dapat memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, berilmu, berakhlak mulia serta ketrampilan cakap, kreatif, mandiri dan bertanggung jawab serta ketrampilan lain yang berguna untuk diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bangsa.

Bahan ajar merupakan hal penting yang harus ada dalam pelaksanaan pembelajaran bahasa dan sastra. Dalam kurikulum 2013 di kelas XII semester ganjil terdapat kompetensi dasar mengenai menelaah teks geguritan. Pada kompetensi

1

(2)

dasar tersebut, peserta didik perlu mendapatkan pengalaman belajar tentang analisis dalam sebuah geguritan agar siswa mengetahui aspek struktural dan aspek kebahasaan. Setelah mendapatkan pengalaman belajar tersebut, diharapkan siswa dapat membaca geguritan dengan memperhatikan kata serta kandungan makna yang terdapat di dalamnya. Selain itu siswa juga dapat memperhatikan nada dalam membaca geguritan seperti tinggi rendah dan keras pelan serta penekanan yang diperlukan.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru, dapat diketahui bahwa pembelajaran bahasa Jawa khususnya menelaah teks geguritan, guru cenderung menggunakan geguritan yang sudah ada di buku paket atau Lembar Kerja Siswa.

Guru kurang aktif mencari bahan ajar geguritan dari sumber yang lain. Padahal jika guru mau mencari geguritan dari sumber lain, dapat disesuaikan dengan tingkat pemahaman pemahaman kosa kata siswa, keadaan lingkungan, sosial budaya dan karakteristik siswa. Guru juga dapat memilih geguritan yang di dalamnya mengandung nilai pendidikan budi pekerti untuk diterapkan dalam pembelajaran di sekolah. Selain itu, dalam pembelajaran geguritan, guru kurang memperdalam tentang cara membaca kosa kata yang dianggap sulit oleh siswa. Siswa masih kesulitan untuk membedakan cara baca t dan th, serta d dan dh.

Geguritan termasuk jenis puisi Jawa modern. Hal ini dikarenakan geguritan keluar dari aturan-aturan (metrum) yang biasanya terdapat dalam puisi Jawa.

Sejalan dengan pendapat tersebut, Purwadi (2012: 431, 455) memberikan definisi bahwa geguritan adalah kesusastraan Jawa yang isinya padat dan diolah menggunakan bahasa indah. Geguritan gagrag anyar keluar dari aturan-aturan seperti yang ada dalam tembang, parikan, wangsalan dan lain-lain.

Geguritan berkembang seiring dengan perkembang zaman. Sekarang geguritan sudah terbit di media massa seperti dalam majalah dan koran, bahkan ada pula yang terbit sebagai buku antologi. Buku antologi tersebut diterbitkan karena karya pengarang yang bersangkutan sudah banyak beredar di media massa. Tidak semua antologi geguritan dapat dijadikan sebagai bahan ajar. Geguritan yang dapat dijadikan bahan ajar adalah geguritan yang bahasanya dapat dipahami oleh siswa dan mengandung nilai pendidikan. Oleh karena itu, diperlukan adanya penelitian

(3)

tentang geguritan yang dapat dijadikan sebagai alternatif bahan ajar pembelajaran di sekolah. Pertimbangan tersebut didasarkan pada aspek kebahasaan dan kandungan isi yang sesuai dengan kompetensi dasar yang telah ditetapkan.

Berkaitan dengan hal tersebut antologi geguritan Gumantining Warsa memungkinkan untuk dijadikan sebagai alternatif bahan ajar pembelajaran bahasa dan sastra Jawa di sekolah. Melalui geguritan Bagus Wahyu Setyawan mengajak generasi muda untuk kembali mengenal dan mencintai budayanya sendiri. Beliau banyak membuat naskah ketroprak serta geguritan. Beliau juga kerap membahasnya dalam jurnal yang beliau bahas bersama dosen Universitas Sebelas Maret yang lain. Geguritan Gumantining Warsa merupakan buku antologi pertama yang beliau selesaikan di tahun 2018. Geguritan tersebut terdiri dadi 137 halaman.

Ketertarikan peneliti menganalisis antologi geguritan Gumantining Warsa karya Bagus Wahyu Setyawan sebagai objek penelitian karena: pertama, sepengetahuan peneliti antologi geguritan Gumantining Warsa ini belum ada yang meneliti; kedua, antologi geguritan Gumantining Warsa memiliki keindahan pada aspek bahasa, seperti pada penggunaan gaya bahasa, diksi, gaya bunyi dan pencitraan; ketiga, antologi geguritan Gumantining Warsa mengandung nilai-nilai pendidikan budi pekerti yang patut untuk diteladani sehingga dapat dijadikan sebagai alternatif bahan ajar.

Penjelasan di atas menunjukkan kualitas antologi geguritan Gumantining Warsa karya Bagus Wahyu Setyawan. Bahasanya yang mudah dipahami oleh siswa namun juga mengandung keindahan tersebut layak untuk dijadikan bahan ajar.

Jabaran di atas yang menjadi alasan diperlukannya analisis aspek kebahasaan yang digunakan oleh pengarang dalam mengekpresikan gagasannya. Pendekatan yang dirasa tepat untuk menganalisis kebahasaan geguritan adalah pendekatan stilistika.

Al-Ma’ruf (2012: 12) menjelaskan bahwa stilistika adalah ilmu yang mengkaji pemberdayaan potensi bahasa dalam karya sastra seperti keunikan dan kekhasan bahasa serta gaya bunyi, pilihan kata, kalimat, wacana, pencitraan hingga bahasa figuratif. Stilistika bagaikan nyawa dalam geguritan. Melalui stilistika, peneliti dapat menyingkap makna dibalik baris-baris geguritan, yang kemudian dapat dijadikan sebagai bahan ajar. Hasil dari penelitian tersebut kemudian dijadikan

(4)

pijakan dalam pembelajaran materi geguritan. Jika sebelumnya tidak dilakukan penelitian tentang stilistika, maka guru akan kesulitan dalam menerangkan isi dan makna geguritan kepada siswa. Selain stilistika, peneliti juga mengkaji tentang nilai pendidikan budi pekerti. Budi pekerti penting diajarkan kepada siswa untuk membentuk karakter yang baik. Geguritan dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengajarkan budi pekerti kepada siswa. Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa analisis stilistika dan nilai pendidikan budi pekerti dalam geguritan menarik dan penting untuk dikaji.

Penelitian tentang geguritan telah banyak dilakukan. Salah satu contoh penelitian yang sudah pernah dilakukan antara lain oleh Rr. Yenny Listyana Idhawati dengan judul Personifikasi dalam Antologi Puisi Jawa Modern (Geguritan) Layang Panantang Karya Sumono Sandy Asmoro. Dalam kajian ini Rr. Yenny Listyana Idhawati menganalisis gaya bahasa personifikasi. Perbedaan dalam penelitian ini yaitu pada pendekatan yang akan dikaji. Jika penelitian Rr.

Yenny Listyana Idhawati menganalisis tentang Antologi Puisi Jawa Modern (Geguritan) karta Sumono Sandy Asmoro dan belum dikaji nilai-nilai pendidikan budi pekerti, maka peneliti akan menggunakan pendekatan stilistika khususnya pada pemilihan diksi, pencitraan, purwakanthi dan gaya bahasa dalam antologi geguritan Gumantining Warsa karya Bagus Wahyu Setyawan dan nilai pendidikan budi pekerti.

Kajian stilistika juga pernah dilakukan oleh Dwi Catur Nugroho dengan judul Stilistika Lirik Lagu Identitas Daerah Subosukawonosraten. Dalam penelitian Dwi Catur Nugroho menganalisis purwakanthi, pilihan diksi, gaya bahasa dan pencitraan dalam lagu, tetapi belum dijadikan sebagai bahan ajar. Maka peneliti akan melakukan analisis stilistika dalam antologi geguritan Gumantining Warsa serta relevansinya sebagai bahan ajar bahasa Jawa di SMA. Berdasarkan penelitian yang sudah ada, analisis stilistika dan nilai pendidikan budi pekerti dalam antologi geguritan Gumantining Warsa serta relevansinya sebagai bahan ajar bahasa Jawa di SMA sepengetahuan peneliti belum pernah dilakukan.

Analisis mengenai stilistika dalam antologi geguritan Gumantining Warsa karya Bagus Wahyu Setyawan merupakan hal yang menarik untuk dikaji sebagai

(5)

bahan ajar bahasa Jawa. Dari penelitian yang dilakukan ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pembelajaran bahasa Jawa khususnya dalam geguritan. Selain itu diharapkan dengan adanya karya sastra berupa geguritan dapat menjadi sarana untuk pembelajaran nilai pendidikan budi pekerti. Dari pemaparan latar belakang di atas, peneliti akan melakukan penelitian dengan mengangkat judul penelitian “Analisis Stilistika dan Nilai Pendidikan Budi Pekerti dalam Antologi geguritan Gumantining Warsa Karya Bagus Wahyu Setyawan serta Relevansinya sebagai Bahan Ajar Bahasa Jawa di Kelas XII SMA”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut.

1. Bagaimanakah unsur-unsur stilistika dalam antologi geguritan Gumantining Warsa karya Bagus Wahyu Setyawan?

2. Bagaimanakah nilai-nilai pendidikan budi pekerti yang terdapat dalam antologi geguritan Gumantining Warsa karya Bagus Wahyu Setyawan?

3. Bagaimanakah relevansi antologi geguritan Gumantining Warsa karya Bagus Wahyu Setyawan sebagai bahan ajar bahasa Jawa di SMA?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah tersebut, penelitian ini bertujuan sebagai berikut.

1. Mendeskripsikan dan menjelaskan unsur-unsur stilistika dalam antologi geguritan Gumantining Warsa karya Bagus Wahyu Setyawan.

2. Mendeskripsikan dan menjelaskan nilai-nilai pendidikan budi pekerti dalam antologi geguritan Gumantining Warsa karya Bagus Wahyu Setyawan.

3. Mendeskripsikan dan menjelaskan relevansi antologi geguritan Gumantining Warsa karya Bagus Wahyu Setyawan sebagai bahan ajar bahasa Jawa di SMA.

D. Manfaat Penelitian

(6)

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, manfaat yang didapat dari penelitian terbagi menjadi dua yaitu secara teoretis dan praktis.

1. Manfaat Teoretis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi tentang analisis stilistika dan nilai pendidikan budi pekerti pada karya sastra, khususnya geguritan.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan mengaplikasikan teori analisis stilistika dan nilai pendidikan budi pekerti.

c. Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sarana peneliti dalam menerapkan pendekatan stilistika dalam pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah.

2. Manfaat Praktis a. Bagi Guru

Hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan tentang diksi, gaya bahasa, pencitraan dan gaya bunyi dalam antologi geguritan Gumantining Warsa karya Bagus Wahyu Setyawan. Selain itu, penelitian ini juga dapat menambah pengetahuan bahan ajar yang tepat dalam pembelajaran geguritan, sehingga dapat meningkatkan minat siswa dalam pembelajaran bahasa Jawa khususnya geguritan.

b. Bagi Siswa

Hasil penelitian ini diharapkan lebih meningkatkan pemahaman tentang isi antologi geguritan Gumantining Warsa karya Bagus Wahyu Setyawan. Hasil penelitian ini juga dapat digunakan sebagai bahan ajar dan nilai-nilai pendidikan budi pekerti yang terdapat di dalamnya dapat dicontoh siswa.

Selain itu siswa diharapkan lebih cermat dan selektif dalam memilih bahan bacaan khususnya geguritan yang mengandung nilai pendidikan budi pekerti sebagai sarana pembinaan watak/ karakter siswa.

c. Bagi Peneliti yang Lain

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan lebih lanjut bagi peneliti untuk memahami analisis stilistika dan nilai pendidikan budi pekerti khususnya geguritan. Selain itu, hasil penelitian ini diharapkan dapat

(7)

menjadi salah satu bahan referensi untuk melakukan penelitian yang lebih mendalam.

Referensi

Dokumen terkait

and you can see from the radar screen – that’s the screen just to the left of Professor Cornish – that the recovery capsule and Mars Probe Seven are now close to convergence..

Dtketahui Wakil Dekan I.. Benars kripsi yang saya buat dengan judul PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU KEPEMILIKAN SENJATA API ILEGAL OLEH MASYARAKAT SIPIL merupakan

Sistem yang dibuat adalah Sistem Informasi pengolahan nilai raport dengan metodologi berorientasi obyek dengan menggunakan aplikasi VB.. Access sebagai

Tujuan dari isi paper ini adalah untuk menganalisa unjuk kerja sistem kompresi citra grayscale asli, apakah informasi data citra hasil rekonstruksi benar-benar dapat

Berangkat dari masalah yang ditemukan, penulis mengadakan penelitian dengan metode studi pustaka, observasi, perancangan, instalasi, uji coba serta implementasi untuk menemukan

Kita tahu bahwa ini adalah sifat dasar manusia: “Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” Hal-hal

Fungsi speaker ini adalah mengubah gelombang listrik menjadi getaran suara.proses pengubahan gelombag listrik/electromagnet menjadi gelombang suara terjadi karna

Salah satu flora normal yang menjadi penyebab penyakit infeksi adalah Staphylococcus aureus .Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri perasan,