• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Jurkessutra (Jurnal Kesehatan Surya Nusantara)"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

28 KECAMATAN MEDAN TUNTUNGAN TAHUN 2018

Suriati, Ristika Julianty Singarimbun E-mail:[email protected]

Akademi Keperawatan Darmo Abstrak

Pendahuluan. Obesitas merupakan kelainan yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan. Obesitas pada anak merupakan masalah yang kompleks pada saat sekarang ini. Obesitas pada anak dapat berlanjut hingga dewasa. Menurut WHO Prevalensi obesitas terus meningkat dengan bertambahnya usia. Usia sekolah merupakan usia yang mengalami peningkatan yang luar biasa di 25 negara. Banyak faktor yang dapat menyebabkan hal tersebut antara lain faktor genetik, pola aktivitas dan pola makan.

Metode. Jenis penelitian ini adalah bersifat deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor dominan penyebab obesitas pada anak usia 7-9 tahun di SD Negeri 068008 Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi yang Obesitas usia 7-9 tahun di SD Negeri 068008 Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan Sebanyak 47 siswa-siswi pada tahun 2011 yang keseluruhannya di jadikan sampel ( Total Sampling ).

Hasil. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor penyebab obesitas pada anak usia 7-9 tahun diSD Negeri 068008 Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan adalah faktor genetik ada sebanyak 15 orang (31,9%), faktor pola aktivitas ada sebanyak 33 orang (70,2%) dan faktor pola makan sebanyak 32 orang (68,1%). Faktor-faktor dominan penyebab obesitas pada anak di SD Negeri 068008 Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan adalah faktor pola aktivitas dan faktor pola makan.

Kesimpulan. Untuk mengurangi obesitas pada anak di SD Negri 068008 dengan cara meningkatkan pola aktivitas yaitu dengan membatasi waktu mereka menonton, main video games, dan temukan aktivitas yang disukai dan buat bervariasi. Serta mengatur pola makan untuk mengurangi risiko terjadinya dampak negatif di kemudian hari, terutama makanan cepat saji, batasi mengkonsumsi makanan yang manis dan anjurkan untuk menkonsumsi sayuran hijau dan kuning untuk mencegah terjadinya obesitas. Serta disarankan untuk mengaktifkan para siswa-siswi dalam kegiatan olahraga dan mengajarkan anak- anak dalam pemilihan jajanan sehat.

Kata kunci : Obesitas, Faktor genetik, Pola aktivitas, Pola makan

Pendahuluan

Obesitas merupakan kelainan yang ditandai dengan penimbunan jaringan lemak tubuh secara

berlebihan. Obesitas pada anak-anak dapat berlanjut hingga dewasa.

Menurut Pi-Sunver dalam modern

(2)

29 Nutritionin Health and Disease, pada

bayi dan anak obesitas, sekitar 26,5%

akan tetap obesitas pada 20 tahun berikutnya. Sedangkan 80% remaja obesitas akan menjadi dewasa obesitas.

Singkat kata : kecil menggemaskan, besar pun obesitas.

Dari laporan WHO dalam Technical Report Series 2015di Jenewa, Swiss, sebuah penelitian di Jepang menunjukkan, 1/3 dari anak obesitas tubuh menjadi obesitas di masa dewasa.Dampak negatif lainnya, anak berpotensi mengalami penyakit degeneratif di kemudian hari.

Di Jakarta prevalensi obesitas terus meningkat dengan bertambahnya usia. Begitu juga prevalensi kelebihan berat dan obesitas anak-anak usia prasekolah di 42 negara dan usia sekolah di 25 negara yang mengalami peningkatan luar biasa. Di Amerika Serikat (AS), prevalensi obesitas anak usia 6-19 tahun dalam 3 dekade terakhir meningkat dari 4-6% menadi 16-17%. Laju kenaikan pesat, 3-4 kali lipat dalam tempo 30 tahun terakhir.(Trubus Swadaya 2016).

Data survei data yang dilakukan lembaga Survei Gizi dan kesehatan Nasional (NHANES) pada periode

2003-2006 dan 2013-2016 menunjukan bahwa obesitas pada terus meningkat secara nyata pada beberapa kelompok usia anak, yakni pada kelompok usia 2- 5 tahun meningkat 5 % menjadi 12,4%, pada kelompok usia 6-11 tahun meningkat 6,5% menjadi 17,6%

(Risdiyanto 2017).

Fenomena peningkatan prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak di Indonesia sangat mencemaskan. Fenomena yang banyak dijumpai pada anak terutama di kota- kota besar pada masyarakat kelas menengah dan atas ini terjadi akibat rendahnya kesadaran masyarakat dalam mendidik anak-anak mereka untuk hidup lebih sehat dengan cara mencukupi kebutuhan asupan serat hariannya, banyak beraktivitas dan cukup berolahraga, serta menghindari mengonsumsi makanan-makanan yang tinggi kadar kalorinya, seperti pada makanan-makanan cepat saji dan sebagainya. Selain itu minimnya upaya pemerintah dan institusi kesehatan dalam melakukan komunikasi, menyebarkan informasi, serta edukasi yang intensif pada masyarakat tentang pentingnya pola hidup sehat, serta bahaya kegemukan dan obesitas pada

(3)

30 anak serta langkah-langkah yang dapat

dilakukan untuk mencegah maupun mengobati gizi berlebih ini sehingga dapat menekan prevalensi kegemukan dan obesitas pada anak di Indonesia(Wahyu,2017).

Apabila tren ini berjalan terus seperti sekarang ini, maka pada tahun 2025 tidak mustahil penduduk Indonesia akan menyandang gelar

“obesogenik” terutama di daerah urban (Soegih, 2016).

Indonesia merupakan salah satu negara berkembang yang mengalami kemajuan di bidang ekonomi akibat pasar global.Kemajuan ekonomi ini berdampak luas bagi kehidupan sosial masyarakat, termasuk di antranya merubah kecenderungan pola hidup masyarakat.Gaya hidup traditional dianggap tidak lagi relevan untuk kondisi saat ini sehinga pola hidup masyarakat cencerung bergeser menjadi sedentary life style.Celakanya pada pola hidup masa kini (sedentary life style) proporsi aktifitas fisik sangat berkurang sementara asupan makanan cenderung tinggi energi (lemak, protein, dan kharbohidrat) dan rendah serat.Kondisi seperti ini berpeluang besar meningkatkan kemungkinan

penyakit-penyakit akibat penyimpangan pola makan seperti gizi lebih dan obesitas (Hadi 2015).

Tidak hanya itu, obesitas juga mempengaruhi faktor kejiwaan anak yakni menciptakan rasa kurang percaya diri, depresi, dan pasif karena sering tidak dilibatkan dalam kegiatan yang dilakuka oleh teman sebayanya.

Gangguan kejiwaan ini dapat memperparah obesitas anak bila anak melampiaskan stress yang dialaminya ke makanan (Manuaba 2017).

Berdasarkan hasil pengukuran berat badan dan tinggi badan siswa- siswi umur 7-9 tahun di SD Negeri 068008 Medan pada tahun 2017terdapat siswa-siswi yang mengalami obesitas pada anak usia 7-9 tahun sebanyak 38 siswa-siswi yaitu terdiri dari 12 siswa-siswi yang berusia 7-8 tahun dan 26 siswa-siswi yang berusia 9 tahun. Sedangkan pada tahun 2018 adalah sebanyak 47 siswa- siswidengan berat badan rata-rata >35 kg dan tinggi badan ± 120 cm yang terdiri dari 2 siswa-siswi yang berusia 7 tahun, 26 siswa-siswi yang usia 8 tahun, dan 19 siswa yang usia 9 tahun.Sedangkan berdasarkan sumber lembaga pengetahuan Indonesia Berat

(4)

31 badan ideal dan tinggi badan ideal

pada anak usia 7-9 tahun adalah 24 kg dan tinggi badan ideal 120 cm, jadi dapat disimpulkan bahwa jumlah siswa-siswi yang mengalami obesitas setiap tahun mengalami peningkatan(Sumber terlampir dilampiran).

Dari hasil wawancara terhadap siswa-siswi dengan obesitas bahwa faktor genetik merupakan salah satu faktor dominan penyebab obesitas, dimana siswa – siswi mengatakan bahwa rata- rata anggota keluarganya mengalami kegemukan atau kelebihan berat badan. Sedangkan dari faktor pola aktivitas, siswa- siswi mengatakan bahwa mereka sehari –hari hampir tidak pernah melakukan aktifitas fisik maupun olahraga. Hal ini penting yang harus diperhatikan para guru dan orang tua adalah sikap cermat dalam memilih aktifitas anak sehari-hari sesuai dengan jenis kelamin dan usia. Bahkan sebagian besar siswa-siswi mengatakan bahwa mereka lebih sering bermain di depan computer, internet, dan menonton televisi. Dan dari faktor pola makan siswa –siswi mengatakan lebih menyukai makanan cepat saji dan pola

makan mereka lebih banyak dibanding normal yang hanya 3 kali sehari.

Berdasarkan latar belakang diatas maka penulis tertarik untuk meneliti tentang “ Faktor-faktor dominan penyebab obesitas pada anak usia 7-9 di SD Negeri 068008 Kelurahan Mangga KecamatanMedan Tuntungan Tahun 2018 “

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut: apakah Faktor-faktor dominan penyebab obesitas pada anak usia 7-9 di SD Negeri 068008 Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan Tahun 2018.

Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah bersifat survei deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor dominan penyebab obesitas pada anak usia 7-9 tahun di SD Negeri 068008 Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan Tahun 2018.

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi yang Obesitas usia 7-9 tahun di SD Negeri

(5)

32 068008 Kelurahan Mangga Kecamatan

Medan Tuntungan Tahun

2018Sebanyak 47 siswa-siswi pada tahun 2011 yang keseluruhannya di jadikan sampel ( Total Sampling ).

Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Di SD Negeri 068008 Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan Tahun 2018

Tabel 1. Distribusi Responden

No Kategori Frekuen

si (orang)

Persentase (%)

1. Umur

- 7 tahun - 8 tahun - 9 tahun

2 24 21

4,3 51,1 44,7

Total 47 100,0

2. Jenis Kelamin - Laki-laki - Perempu

an

32 15

68,1 31,9

Total 47

100,0

3. Tinggi Badan - 110-120

cm - 121-130

cm

20 27

42,6 57,4

Total 47 100,0

4. Berat badan - 20-40 kg - 41-60 kg - 61-80 kg

13 33 1

27,7 70,2 2,1

Total 47 100,0

Berdasarkan Tabel 1 di atas dapat dilihat bahwa umur responden mayoritas 8 tahun yaitu sebanyak 24 orang (51,1%), jenis kelamin responden mayoritas laki-laki sebanyak 32 orang (68,1%), tinggi badan responden mayoritas 121-130 cm sebanyak 27 orang (57,4%), dan berdasarkan berat badan responden

mayoritas 41-60 kg sebanyak 33 orang (70,2%).

Distribusi Frekuensi Faktor Genetik penyebab obesitas pada anak usia 7-9 Tahun Di SDNegeri 068008

Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan Tahun 2018

Tabel 2. Distribusi Frekuensi Faktor Genetik penyebab obesitas

No Kategori Frekuensi (Orang )

Persentase (%)

1. Berisiko 15 31,9

2. Tidak berisiko 32 68,1

Total 47 100,0

Distribusi Frekuensi Faktor Pola Aktivitas penyebab obesitas pada anak usia 7-9 Tahun Di SD Negeri 068008 Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan Tahun 2018

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Faktor Pola Aktivitas penyebab obesitas

No Kategori Frekuensi (Orang )

Persentase (%)

1. Berisiko 33 70,2

2. Tidak berisiko

14 29,8

Total 47 100,0

Dari Tabel 3 di atas dapat dilihat bahwa Faktor Pola Aktivitas mayoritas berisiko sebanyak 33 orang (70,2%).

Distribusi Frekuensi Faktor Pola Makan penyebab obesitas pada anak usia 7-9 Tahun Di SD Negeri 068008 Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan Tahun 2018

(6)

33 Tabel 4. Distribusi Frekuensi Faktor

Pola Makan penyebab obesitas

No Kategori Frekuensi (Orang )

Persentase (%)

1. Berisiko 32 68,8

2. Tidak berisiko 15 32,2

Total 47 100,0

Dari Tabel 4 di atas dapat dilihat bahwa Faktor Pola Makan mayoritas berisiko sebanyak 32 orang (68,8 %).

Pembahasan

Fakto-faktor Genetik

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa FaktorGenetik mayoritas tidak merupakan Faktor Dominan Penyebab terjadinya obesitas yakni 15 orang (31,9%) dan faktor dominan penyebab tidak terjadinya obesitas 32 orang (68,1%). Hal ini dapat di ketahui berdasarkan jawaban responden, dimana dari 47 responden, 33 responden yang mengatakan ada salah satu dari orang tua yang mengalami obesitas dan dari 47 responden ada 18 responden yang mengatakan kedua orang tua yang mengalami obesitas.Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa faktor genetik tidak merupakan faktor penyebab terjadinya obesitas.

Responden mengatakan bahwa mereka

berasal dari salah satu dari orang tua yang obesitas sehingga terjadi kesenjangan dengan teori. Menurut Misnadiarly 2015, Faktor genetik merupakan salah satu faktor yang juga berperan dalam timbulnya obesitas.

Telah lama diamati bahwa anak-anak obesitas umumnya berasal dari keluargas dengan orang tua obesitas.

Bila salah satu orang tua obesitas kira- kira 40-50% anak-anaknya akan menjadi obesitas, sedangkan bila kedua orang tua obesitas 80% anak-anaknya akan menjadi obesitas.

Menurut asumsi peneliti berdasarkan penelitian bahwa anak yang menjadi responden dalam penelitian ini anak yang terkena obesitas tidak dipengaruhi oleh faktor genetik sehingga faktor genetik tidak merupakan faktor dominan terjadinya obesitas.

Faktor Pola Aktifitas

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa Faktor Pola Aktivitas merupakan Faktor Dominan Terjadinya Obesitas sebanyak 33 orang (70,2%) dan faktor dominan tidak terjadinya obesitas sebanyak 14 orang (29,7%) Hal ini dapat di ketahui

(7)

34 berdasarkan kuesioner sebanyak 10

pertanyaan maka jawaban responden adalah dari 47 responden, 44 responden yang mengatakan bahwa responden suka menonton televisi, 38 responden mengatakan bahwa responden sekolah antar jemput dengan kendaraan,34 responden mengatakan bahwa responden menyukai bermain di dalam rumah dibandingkan di luar rumah,31 responden mengatakan bahwa responden menyukai permainan vidiogame, 28 responden mengatakan bahwa responden tidur siang lebih dari 3 jam, 26 responden mengatakan bahwa responden sering bermain internet, menghabiskan waktu setiap harinya dengan les privat, selesai makan langsung tidur, dan menghabiskan waktu luang dengan cara membaca buku cerita, dan 24 responden mengatakan bahwa respondenlebih sering bermain dan beraktivitas di ruangan AC. Dari hasil penelitian ini dapat diketahui bahwa faktor pola aktivitas merupakan faktor dominan terjadinya obesitas.

Responden menggatakan bahwa mereka memiliki kebiasaan jarang bergerak dan mengeluarkan keringat sedikit. Dipengaruhi dengan kemajuan

tegnologi dan kebiasaan sehari-hari yang banyak melakukan aktivitas di ruangan AC sehingga sedikit mengeluarkan keringat.

Menurut Wahyu 2017, Pola aktifitas yang minim berperan besar dalam peningkatan resiko kegemukan dan obesitas pada anak.Sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya, kegemukan dan obesitas lebih mudah diderita oleh anak yang kurang beraktivitas fisik maupun olahraga.Kegemukan dan obesitas pada anak yang kurang beraktivitas fisik maupun berolahraga disebabkan oleh jumlah kalori yang dibakar lebih sedikit dibandingkan kalori yang diperoleh dari makanan yang dikonsumsi sehingga berpotensi menimbulkan penimbunan lemak berlebih di dalam tubuh.Sebagaimana kita ketahui, sebagian besar waktu anak dihabiskan dengan bermain. Bermain bagi anak semestinya bukan sekedar aktivitas fisik biasa. Melainkan dapat menjadi sarana belajar yang menyenangkan dan berolahraga secara tidak langsung bagi anak. Hal penting yang harus diperhatikan para orang tua ataupun pengasuh anak adalah sikap cermat dalam memilih jenis permainan

(8)

35 yang sesuai dengan jenis kelamin dan

usia. Hal yang tidak kalah penting ialah permainan tersebut mestilah aman dan menyehatkan bagi anak.

Menurut asumsi peneliti berdasarkan penelitian bahwa anak yang menjadi responden dalam penelitian ini anak yang terkena obesitas mayoritas dipengaruhi oleh faktor pola aktivita, seperti yang di dapatkan peneliti di lapangan responden melakukan aktivitas di ruangan AC dan lebih banyak menghabiskan waktu belajar dan ikuti privat. Mayoritas respon yang di jumpai peneliti yang terkena obesitas tidak menyukai kegiatan olahraga tapi lebih aktif di kegiatan les privat di bandingkan kegiatan ekstra yang bergerak seperti olahraga, dance, dan tari-tarian.

Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa Faktor Pola Makan merupakan Faktor Dominan Terjadinya Obesitas sebanyak 32 orang (68,8%) dan faktor dominan tidak terjadinya obesitas sebanyak 15 orang (32,2%) Hal ini dapat di ketahui berdasarkan jawaban responden dari 14 kuesioner

maka jawaban responden adalah dari 47 responden, 39 responden yang mengatakan bahwa responden merasa puas dengan makanan yang banyak, 37 responden mengatakan bahwa responden sering makan coklat, es krim, dan suka jajanan di luar,35 responden mengatakan bahwa responden menyukai makanan yang goreng-gorengan,34 responden mengatakan bahwa responden sering ngemil sambil nonton televisi, 31 responden mengatakan bahwa responden suka makan permen, 29 responden mengatakan bahwa responden menyukai makanan cepat saji, 26 responden mengatakan bahwa responden makan lebih dari 3x sehari dan dalam porsi banyak., 24 responden mengatakan bahwa responden sering mengkonsumsi ciki-ciki sambil maen game,23 responden mengatakan bahwa responden sering minum-minuman bersoda,22 responden mengatakan bahwa responden sering makan pada waktu larut malam, 21 responden mengatakan bahwa responden sering membeli makanan yang cepat saji, dan 18 responden mengatakan bahwa responden lebih banyak makan jajanan di luar di bandingkan makan di

(9)

36 rumah.Dari hasil penelitian ini dapat

diketahui bahwa faktor pola makan merupakan faktor penyebab terjadinya obesitas. Responden mengatakan bahwa mereka memiliki kebiasaan banyak makan dengan frekwensi sering dan menyukai makanan cepat saji.

Menurut Wahyu, 2017 Makanan cepat saji, seperti Hamburger, Piza, Kentang goreng, dan sebagainya.

umumnya memiliki kadar kalori yang sangat tinggi, rendah serat dan miskin kandungan gizinya. Oleh karena itu, para ahli gizi dan kesehatan sering mengistilahkan makanan-makanan ini dengan istilah Junk Food.Junk food saat ini kian digemari oleh anak- anak.Keluarga diperkotaan yang memiliki kesibukan tinggi sering kali tidak ragu memberikan makanan yang dikategorikan sebagai junk food kepada anak-anak mereka dengan mengabaikan dampak negatif jangka panjang terhadap kesehatan anak.

Menurut asumsi peneliti berdasarkan penelitian bahwa anak yang menjadi responden dalam penelitian ini anak yang terkena obesitas mayoritas dipengaruhi oleh faktor pola makan, seperti yang di dapatkan peneliti di lapangan,

responden menyukai kebiasaan banyak makan dalam frekuensi sering, dan para responden lebih sering makan pada waktu malam hari. Mayoritas responden yang di jumpai peneliti yang terkena obesitas menyukai makanan cepat saji seperti hamburger, kentang goreng dan lain-lain. Kebiasaan responden di rumah mayoritas sering makan jajanan sambil menonton televisi.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian mengenai faktor-faktor dominan terjadinya obesitas pada anak usia 7-9 tahun di SD Negeri 068008 Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan dapat disimpulkan:

1. Faktor Genetik tentang Faktor- faktor dominan terjadinya obesitas pada anak usia 7-9 tahun mayoritas tidak menjadi faktor terjadinya obesitas yaitu sebanyak 15orang (31,9%).

2. Faktor Pola Aktifitas tentang Faktor-faktor dominan terjadinya obesitas pada anak usia 7-9 tahun mayoritas menjadifaktor terjadinya obesitas yaitu sebanyak 33 orang (70,2%).

(10)

37 3. Faktor Pola Makan tentang Faktor-

faktor dominan terjadinya obesitas pada anak usia 7-9 tahun mayoritas menjadi faktor terjadinya obesitas yaitu sebanyak 32orang (68,8%).

4. Faktor-faktor dominan penyebab obesitas pada anak SD St. Thomas 1 dan 2 Medan adalah faktor pola aktivitas dan faktor pola makan.

Saran

Berdasarkan hasil penelitian mengenai gambaran faktor-faktor dominan penyebab obesitas pada anak usia 7-9 tahun di SD Negeri 068008 Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan dapat diberikan saran:

1. Bagi responden

Diharapkan kepada responden untuk lebih memperhatikan pola makan yang baik dan benar, lebih aktif di sekolah dalam kegiatan olahraga dan membiasakan bergerak dalam kegiatan sehari- hari dan melakukan pola makan yang teratur.

1. Bagi sekolah

Diharapkan Kepada Pihak SD Santo Thomas 1 dan 2 Medan untuk tetap bekerja sama denganpihak puskesmas agar bisa

memantau kesehatan sekolah tentang pola makan yang baikuntuk mengurangi Faktor- faktor yang menyebabkan terjadinya obesitas.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Diharapkan dengan adanya hasil penelitian ini mahasiswa dapat mengetahui sejauh mana Faktor- faktor Dominan Penyebab Obesitas pada anak usia 7-9 tahun SD Negeri 068008 Kelurahan Mangga Kecamatan Medan Tuntungan.

3. Bagi Peneliti

Diharapkan dengan adanya hasil penelitian ini, peneliti dapat menambah wawasan dan pengalaman serta dapat ikut berpartisipasi dalam memberikan pelayanan dan informasi kepada para siswa-siswi yang terkena obesitas.

Daftar Pustaka

Ahmad Mustofa. 2014, Solusi ampuh mengatasi obesitas,Jogjakarta : Hanggar creator.

Misnadiarly.2015, Obesitas Sebagai Faktor Risiko beberapa

penyakit.Jakarta : Pustaka Obor popular.

39

(11)

38 Notoatmodjo. S,2016, Pendidikan dan

Perilaku Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

Proverawati Atikah, 2016. Obesitas dan gangguan perilaku makan pada remaja. Yogjakarta:

Medical book

Sitorus.H Ronald.2015, Pedoman perawatan kesehatan

anak.Bandung : Yrama Widya Soegih Rachmad R. 2016, Obesitas

Permasalahan dan Terapi Praktis. Jakarta: Salemba Medika.

Sudilarsih Feni. 2016, Mampu mengatasi 1001 masalah batita anda sehari-hari.Jogjakarta:

Garailmu

Sunita Almatsier. 2015, prinsip dasar ilmu gizi .Jakarta : Gramedia pustaka utama.

Wahyu Ginanjar Genis.2017, Obesitas Pada Anak. Jakarta : PT. Bintang Pustaka.

Wong. L. Donna, 2016, Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta:

EGC.

Gambar

Tabel 1. Distribusi Responden

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa Pola Pembinaan Narapidana Narkotika Di Rumah Tahanan Demak pada saat proses pembinaan bagi Narapidana Narkotika

Respon tidak sempurna: FEV1 atau PEF 50 –70% Gejala ringan sampai sedang Masukkan ke ICU* Pulang kerumah: Lanjutkan inhalasi b- agonis Lanjutkan kortikosteroid oral

Kegiatan operasional di Apotek Cibuluh terdiri dari Pengadaan barang berupa obat-obatan dan alat kesehatan dan pemasaran. Apotek Cibuluh telah menjalin kerjasama dengan

Untuk memperoleh lahan yang benar- benar sesuai diperlukan suatu kriteria lahan yang dapat dinilai secara objektif dan menunjukkan karakteristik lahan yang digunakan sebagai

Pada umumnya tari topeng atau Wayang T openg di Jawa membawakan cerita Panji yang  popular dengan sebutan :Siklus Panji, yaitu peristiwa yang menceritakan pengembaraan.. Raden

Menurut penulis, dengan Taiwan menjadikan Indonesia sebagai basis produksi industrinya akan sangat menguntungkan Indonesia yang mana akan mengangkat perindustrian

47 Tahun 1997 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dapat menjadi dasar kebijaksanaan dalam upaya menjaga pemanfaatan dan pengelolaan danau dan waduk yang tetap

Secara Simultan hasil analisis ditemukan sebagai berikut : a) Dalam regresi berganda OLS secara simultan terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari variabel bebas