• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Self Care Behavior Terhadap Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Melitus Di Puskesmas Antang Kota Makassar

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Analisis Self Care Behavior Terhadap Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Melitus Di Puskesmas Antang Kota Makassar"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Self Care Behavior Terhadap Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Melitus Di Puskesmas Antang Kota Makassar

Safruddin1,*, Yuliati2

1 Program Studi Profesi Ners Universitas Muslim Indonesia

2 Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

1Email:[email protected]

* corresponding author

Tanggal Submisi: 20 Maret 2022, Tanggal Penerimaan: 22 April 2022

Abstrak

Diabetes merupakan penyakit kronik yang membutuhkan pengobatan yang lama, sehingga perubahan perilaku diperlukan untuk mencegah komplikasi dan terjadinya kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan self care behavior terhadap kadar gula darah pasien diabetes melitus. Penelitian menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross sectional studi. Pengambilan sampel secara consecutive sampling sebesar 55 orang.

Analisis data dengan menggunakan uji statistic Chi-Square. Hasil penelitian menujukkan bahwa kepatuhan responden untuk kontrol kadar gula darah yang patuh sebanyak 69,1%, kepatuhan konsumsi obat DM 67,3%, koping yang positif 58,2%, efikasi diri baik 63,3% dan mengurangi risiko komplikasi 69,1%. Hasil Uji statistik menunjukkan ada hubungan kepatuhan control gula darah, kepatuhan konsumsi obat DM, mekanisme koping terhadap kadar gula darah p < α 0,05.

Tidak ada hubungan yang bermakna antara efikasi diri dan mengurangi risiko komplikasi dengan kadar gula darah p > α 0,05.

Kata kunci: self care behavior; kadar gula darh; diabetes melitus Abstract

Diabetes is a chronic disease that requires a long treatment, so behavioral changes are needed to prevent complications and death. This study aims to determine the relationship of self-care behavior to blood sugar levels in patients with diabetes mellitus.This study used an analytic observational design with a cross sectional study approach. sampling in a row sampling of 55 people. Data analysis using Chi-Square statistical test. The results showed that the compliance of respondents to control blood sugar levels was 69.1%, adherence to DM drug consumption was 67.3%, positive coping was 58.2%, good self-efficacy was 63.3% and reduced the risk of complications 69.1 %. The test results showed that there was a relationship between compliance with blood sugar control, adherence to DM drug consumption, coping mechanisms with blood sugar levels p < 0.05.

There is no significant relationship between self-efficacy and reducing complications with blood sugar levels p> 0.05.

Keywords: self care behavior; blood sugar levels; diabetes mellitus PENDAHULUAN

Diabetes melitus adalah penyakit kronis terbesar ketiga didunia dalam dua decade terakhir. Penyakit diabetes melitus dan komplikasinya signifikan meningkatkan beban keuangan bagi keluarga dan Kesehatan masyarakat, harapan

(2)

Copyright © 2022, Jurnal Ilmiah Kesehatan Pencerah ISSN 2089-9394 (print) | ISSN 2656-8004 (online)

hidup berkurang dan meningkat biaya perawatan dihampir setiap negara (1). Penyakit diabetes melitus adalah salah satu masalah kesehatan global yang tumbuh paling cepat. Pada tahun 2019 diperkirakan 463 juta orang menderita diabetes dan angka ini diproyeksikan mencapai 578 juta jiwa pada tahun 2030, dan 700 juta pada tahun 2045 (2). Indonesia merupakan yang negara menempati urutan ke 7 dengan penderita diabetes sejumlah 10,7 juta penderita setelah Cina, India dan Amerika Serikat, Brazil, Rusia, Mexico (2). Prevalensi diabetes di Indonesia yang telah didiagnosis dokter adalah 1,4% tahun 2013 meningkat menjadi 1,5 pada tahun 2018, jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat.

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar tahun 2018, sebanyak 34 provinsi menunjukkan Prevalensi tertinggi diabetes pada umur ≥15 tahun menurut diagnosis dokter / gejala hasil Riskesdas tahun 2018 adalah di Provinsi DKI Jakarta (3,4%) dan terendah adalah Provinsin Papua dan Maluku sebesar (1.1%) jiwa(3) (4).

Penderita diabetes melitus yang cenderung terus mengalami peningkatan setiap tahun, sehingga harus mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai standar pemerintah Kabupaten/Kota kepada seluruh penderita Diabetes Melitus (DM) usia 15 tahun ke atas sebagai upaya pencegahan sekunder di wilayah kerjanya dalam kurun waktu satu tahun meliputi pengukuran gula darah, edukasi terapi farmakologi. Provinsi Sulawesi Selatan dengan capaian pelayan penderita Diabetes Mellitus sesuai dengan standar yang masih rendah sebanyak (70%) (5).

Penderita diabetes melitus yang tidak terkontrol didefinisikan sebagai peningkatan persisten glukosa dalam darah dan hemoglobin terglikosilasi lebih 6,5 % selama beberapa bulan atau tahun yang dapat menyebabkan komplikasi dapat terjadi (6). Kondisi hiperglikemi jangka panjang sebagai akibat dari kontrol glikemik yang buruk, dianggap sebagai masalah besar yang dapat mengakibatkan disfungsi dan kegagalan di mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah (7).

Komplikasi diabetes seperti retinopati, nefropati dan neuropati jangka Panjang dapat menyebabkan kecacatan, kualitas hidup yang rendah serta kematian dini yang berdampak pada kerugian finansial bagi pasien dan keluarganya. Oleh karena itu, pengendalian glukosa darah menjadi hal yang penting untuk mengurangi dampak komplikasi diabetes (8).

Diabetes melitus sangat terkait dengan gaya hidup dan pola perilaku serta perubahan sosial ekonomi pasien yang tidak sehat, yang dikenal dengan sindrom dunia baru yang mengikuti pola gizi yang tidak sehat, mengadopsi gaya hidup menetap, mengonsumsi makanan cepat saji serta obat-obatan sehingga diperlukan model pemikiran baru untuk mengenali dan mengendalikan serta bertanggung jawab atas manajemen diabetes harian secara mandiri (9).

Tujuan penatalaksanaan secara umum adalah meningkatkan kualitas hidup penyandang diabetes. Tujuan penatalaksanaan meliputi tujuan jangka pendek:

menghilangkan keluhan DM, memperbaiki kualitas hidup, dan mengurangi risiko

(3)

komplikasi akut. Tujuan jangka panjang: mencegah dan menghambat progresivitas penyulit mikroangiopati dan makroangiopati. Sedangkan tujuan akhir pengelolaan adalah turunnya morbiditas dan mortalitas DM. Untuk mencapai tujuan tersebut perlu dilakukan pengendalian glukosa darah, tekanan darah, berat badan, dan profil lipid, melalui pengelolaan pasien secara komprehensif dalam mengelola self care pasien (10).

Self care diabetes adalah tindakan yang dilakukan perorangan untuk mengontrol diabetes yang meliputi tindakan pengobatan dan pencegahan komplikasi (11). Self care dapat diartikan kemampuan individu, keluarga, dan komunitas untuk promosi kesehatan, mencegah penyakit, menjaga kesehatan, menangani penyakit dan disabilitas dengan atau tanpa bantuan penyedia layanan kesehatan (12).

Menurut American Assosiation of Diabetes Educator (13), terdapat 7 perilaku yang esensial self care yaitu: healthy eating (diet sehat), being active (aktifitas fisik yang cukup), monitoring (kontrol kadar gula darah), taking medicine (konsumsi obat anti diabetes atau insulin), problem solving (pemecahan masalah), healthy coping (koping yang sehat) dan reducing risk (mengurangi risiko).

Kesehatan memiliki tantangan besar dalam menentukan kebutuhan dan keperluan individu dengan penyakit kronis seperti diabetes. Pemantauan teratur menjadi penting bagi pasien diabetes melalui tenaga kesehatan untuk menanggulangi komplikasi jangka panjang. Pemantauan bagi penderita diabetes tidak hanya terbatas pada kontrol kadar gula darah tapi juga mencegah komplikasi, membatasi gangguan fisik, dan rehabilitas (1).

Saat ini program pengelolaan Penyakit Kronis (PROLANIS) yang memiliki tujuan untuk mencapai kulaitas hidup optimal dengan biaya pelayanan yang efektif dan efisien bagi pasien penderita penyakit kronis termasuk Diabetes melitus mengalami kusulitan untuk dilaksanakan di fasilitas layanan Kesehatan karena adanya pandemic covid-19. Oleh karena itu, pelaksanaan self care menjadi alternatif yang sangat penting dilakukan oleh penderita diabetes di rumah.

Program manajemen diri sudah terbukti sebagai landasan penting untuk meningkatkan perilaku yang berhubungan dengan kesehatan dan hasil klinis pasien diabetes melitus tipe2. Hasil penelitian dengan dengan menggunakan konsep menejemen diri dapat menyebabkan perubahan perilaku pada penderita penyakit kronik (14). Hasil penelitian terdahulu yang mengatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara penatalaksanaan 5 pilar pengendalian DM tipe 2 dengan kualitas hidup pasien DM (15). Hasil penelitian yang lain diadapatkan bahawa terdapat hubungan tingkat self-management dengan kadar gula darah pada pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 (16). Sedangkan penelitian yang dilakuka Mc Ewen, mengatakan bahwa, keterlibatan keluarga dalam perawatan diri pasien diabetes melitus berdampak positif Manajemen self care pasien diabetes melitus

(17). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan self care behafior terhadap kadar gula darah penderita diabetes melitus.

(4)

Copyright © 2022, Jurnal Ilmiah Kesehatan Pencerah ISSN 2089-9394 (print) | ISSN 2656-8004 (online)

METODE

Desain penelitian ini menggunakan desain penelitian observasional analitik dengan cross sectional studi. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita diabetes melitus di Puskesmas Antang Kota Makassar. Teknik pengambilan sampel dengan consecutive sampling yang berjumlah 55 orang. Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Antang Kota Makassar dari bulan Oktober 2021 sampai bulan Februari 2022. Dalam penelitian ini proses pengambilan dan pengumpulan data diperoleh dengan lembar observasi. Analisis data

dilakukan secara univariat dan bivariat dengan menggunakan uji statistik chi-square.

HASIL PENELITIAN

Penelitian ini tentang hubungan self care behavior terhadap kadar gula darah pasien diabetes melitus di Puskesmas Antang Kota Makassar dengan jumlah responden sebanyak 55 penderita diabetes melitus.

Tabel.1Distribusi Responden Berdasarkan Self Care Behavior Penderita Diabetes Melitus

Variabel Frekuensi (n)=55 Persentase (%)=100%

Kadar Gula Darah

Terkontrol 22 40

Tidak Terkontrol 33 60

Kontrol Kadar Gula

Patuh 38 69,1

Tidak Patuh 17 30,9

Konsumsi Obat DM

Patuh 37 67,3

Tidak Patuh 18 32,7

Koping Yang Sehat

Baik 32 58,2

Kurang 23 41,8

Efikasi diri

Baik 35 63,6

Kurang 20 36,4

Mengurangi Risiko komlikasi DM

Baik 38 69,1

Kurang 17 30,938

Total 55 100

Tabel 1 menunjukkan bahwa penderita diabetes lebih banyak yang memiliki kadar gula darah sewaktu tidak terkontrol sebanyak 33 penderita (60%), kebiasaan melakukan kontrol kadar gula darah lebih banyak yang patuh sebanyak 38 penderita (69,1%), penderita labih banyak yang patuh mengkonsumsi obat

(5)

diabetes sebanyak 37 penderita (67,3%), koping yang sehat lebih banyak yang baik sebanyak 32 penderita (58,2%), kemampuannya menyelesaikan masalah lebih banyak yang baik sebanyak 63 penderita (63,6%) dan kemampuan mengurangi risiko kompilkasi penyakit diabetes melitus yang baik sebanyak 38 penderita (69,1%).

Tabel. 2 Hubungan Kontrol Gula Darah Dengan Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Mellitus

Kontrol Gula Darah

Kadar Gula Darah

Total %

P Value Terkontrol % Tidak

Terkontrol

%

Patuh Tidak Patuh

19 3

50 17,6

19 14

50 82,4

38 17

100

100 0,024

Total 22 40 33 60 55 100

Tabel 2 diatas menunjukkan bahwa dari 55 responden yang patuh melakukan kontrol gula darah sebanyak 38 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 19 orang (50%), dan memiliki kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 19 orang (50%). Sedangkan yang tidak patuh melakukan control gula darah sebanyak 17 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 3 orang (17,6%) dan kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 14 orang (82,4%).

Hasil uji statistic uji chi-square didapatkan nilai p value 0,024 yang menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara control gula darah dengan kadar gula darah pasien diabetes melitus.

Tabel.3 Hubungan Konsumsi Obat Minum Dengan Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Mellitus

Konsumsi Obat DM

Kadar Gula Darah

Total % P Value Terkontrol % Tidak

Terkontrol

%

Patuh Tidak Patuh

19 3

51,4 16,7

18 15

48,6 83,3

37 18

100

100 0,014

Total 22 40 33 60 55 100

Table 3 menunjukkan bahwa dari 55 responden yang patuh melakukan konsumsi obat sebanyak 37 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 19 orang (51,4%), dan memiliki kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 18 orang (48,6%). Sedangkan yang tidak patuh melakukan konsumsi

(6)

Copyright © 2022, Jurnal Ilmiah Kesehatan Pencerah ISSN 2089-9394 (print) | ISSN 2656-8004 (online)

obat sebanyak 17 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 3 orang (17,6%) dan kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 14 orang (82,4%).

Hasil uji statistic uji chi-square didapatkan nilai p value 0,014 yang menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara konsumsi obat dengan kadar gula darah pasien diabetes melitus.

Tabel.4 Hubungan Mekanisme Koping Dengan Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Mellitus

Mekanisme Koping

Kadar Gula Darah

Total % P Value Terkontrol % Tidak

Terkontrol

%

Baik Kurang

17 5

53,1 21,7

15 18

46,9 78,3

32 23

100

100 0.019

Total 22 40 33 60 55 100

Table 4 menunjukkan bahwa dari 55 responden yang memiliki mekanisme koping baik sebanyak 32 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 17 orang (53,1%), dan memiliki kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 15 orang (46,9%). Sedangkan yang memiliki mekanisme koping kurang sebanyak 23 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 5 orang (21,7%) dan kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 18 orang (78,3%). Hasil uji statistic uji chi-square didapatkan nilai p value 0,019 yang menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara mekanisme koping dengan kadar gula darah pasien diabetes mellitus.

Tabel.5 Hubungan Efikasi Diri Dengan Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Mellitus

Efikasi diri

Kadar Gula Darah

Total % P Value Terkontrol % Tidak

Terkontrol

%

Baik Kurang

12 10

34,3 50

23 10

65,7 50

35 20

100 100

0.252

Total 22 40 33 60 55 100

Tabel 5 menunjukkan bahwa dari 55 responden yang melakukan penyelesaian masalah baik sebanyak 35 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol

(7)

sebanyak 12 orang (34,3%), dan memiliki kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 23 orang (65,7%). Sedangkan yang melakukan penyelesaian masalah kurang sebanyak 20 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 10 orang (50%) dan kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 10 orang (50%).

Hasil uji statistic uji chi-square didapatkan nilai p value 0,252 yang menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara penyelesaian masalah dengan kadar gula darah pasien diabetes mellitus.

Tabel.6 Hubungan Pencegahan Komplikasi Dengan Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Mellitus

Pecegahan Komplikasi

Kadar Gula Darah

Total % P Value Terkontrol % Tidak

Terkontrol

%

Baik Kurang

14 8

36,8 47,1

24 9

63,2 52,9

38 17

100 100

0.475

Total 22 40 33 60 55 100

Tabel 6 menunjukkan bahwa dari 55 responden yang melakukan pencegahan komplikasi baik sebanyak 38 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 14 orang (36,8%), dan memiliki kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 24 orang (63,2%). Sedangkan yang melakukan pencegahan komplikasi kurang sebanyak 17 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 8 orang (47,1%) dan kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 9 orang (52,9%).Hasil uji statistic uji chi-square didapatkan nilai p value 0,475 yang menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pencegahan komplikasi dengan kadar gula darah pasien diabetes melitus

PEMBAHASAN

Hubungan Kontrol Gula Darah dengan Kadar Gula Darah

Hasil penelitian tentang hubungan kontrol gula darah terhadap kadar gula darah pasien diabetes melitus didapatkan bahwa responden yang patuh melakukan kontrol gula darah sebanyak 38 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 19 orang (50%), dan memiliki kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 19 orang (50%). Sedangkan yang tidak patuh melakukan control gula darah sebanyak 17 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 3 orang (17,6%) dan kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 14 orang (82,4%).

Hasil uji statistic uji chi-square didapatkan nilai p value 0,024 yang menunjukkan

(8)

Copyright © 2022, Jurnal Ilmiah Kesehatan Pencerah ISSN 2089-9394 (print) | ISSN 2656-8004 (online)

ada hubungan yang signifikan antara control gula darah dengan kadar gula darah pasien diabetes mellitus.

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Irmansyah yang mengatakan bahwa ada hubungan kepatuhan kontrol kadar gula dengan kadar gula darah sewaktu menggunakan uji Mann Whitney yaitu p-value 0,000 (37). Penelitian yang sama diungapkan oleh Salma, 2020 yang mengatakan bahwa ada hubungan kepatuhan kontrol dengan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus

Kepatuhan melakukan pemeriksaan kontrol kadar gula darah adalah salah satu upaya pencegahan yang dapat dilakukan oleh pasien DM. Melakukan kontrol kadar gula darah yang teratur dapat mencegah munculnya komplikasi, baik mikrovaskular maupun makrovaskular. Selain itu, dengan melakukan kontrol kadar gula darah secara teratur akan dapat menunjukkan keberhasilan pelaksanaan diet, olah raga, obat dan usaha menurunkan berat badan yang dilakukan oleh pasien DM.

Kepatuhan kontrol merupakan aspek penting untuk keberhasilan dalam menjalankan dan mengendalikan kadar gula darah. Bila pasien Diabetes Mellitus dapat mematuhi jadwal kontrolnya maka akan membantu dalam pengendalian tingkat kadar gula darahnya karena dengan kepatuhan kontrol tersebut dapat membantu proses penyembuhan, serta pasien dapat mengelola penyakitnya dengan lebih baik dan meminimalkan keterbatasan fisik serta mau menuruti saran- saran yang diberikan oleh petugas kesehatan(37).

Hubungan Konsumsi Obat Minum Dengan Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Mellitus

Hasil penelitian tentang hubungan konsumsi obat DM terhadap kadar gula darah dan kualitas hidup pasien diabetes melitus. Hasil analisis menunjukkan bahwapasien yang patuh melakukan konsumsi obat sebanyak 37 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 19 orang (51,4%), dan memiliki kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 18 orang (48,6%). Sedangkan yang tidak patuh melakukan konsumsi obat sebanyak 17 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 3 orang (17,6%) dan kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 14 orang (82,4%). Hasil uji statistic uji chi-square didapatkan nilai p value 0,014 yang menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara konsumsi obat dengan kadar gula darah pasien diabetes mellitus

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nanda 2018 yang mengatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kepatuhan minum obat anti diabetes melitus dengan kadar gula darah pada penderita diabetes melitus dengan signifikan p=0,015, sedangkan nilai OR sebesar 14 dengan CI 95% (1,385-141,485) yang yang menunjukkan bahwa pasien yang

(9)

tidak patuh minum obat diabetes melitus berisiko 14 kali mengalami gula darah yang buruk dibandingkan dengan penderita yang patuh terhadap minum obat anti diabetes melitus(38). Penelitian yang sama dilakukan oleh Bulu, 2019 yang mengatakan bahwa kurang dari separuh (47,3%) pasien diabetes melitus tipe II melakukan kepatuhan minum obat sedang dan lebih dari separuh (60,0%) pasien diabetes melitus tipe II mengalami kadar gula darah tidak normal dengan nilai signipikansi p 0.004 yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara kepatuhan minum obat dengan kadar gula pada penderita diabetes melitus

(39).

Kepatuhan minum obat merupakan hal yang penting bagi penderita diabetes melitus untuk mencapai sasaran pengobatan dan pencegahan komplikasi secara efektif. Terapi pengobatan yang baik dan benar akan sangat menguntungkan bagi pasien diabetes terutama bagi pasien yang yang diwajibkan mengkonsumsi obat dalam waktu lama dan seumur hidup(42).

Kepatuhan pengobatan merupakan salah satu indikator dalam meningkatkan kualitas hidup pasien DM tipe 2. Kepatuhan pengobatan juga berpengaruh langsung terhadap diabetes distress, perilaku perawatan diri dan komplikasi diabetes. Pasien yang mempunyai kepatuhan pengobatan yang tinggi akan lebih sedikit mengalami diabetes distress dan akan memiliki kualitas hidup yang lebih baik. Kegiatan perawatan diri diabetes harus ditekankan untuk menurunkan diabetes distress dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan(43).

Kepatuhan pengobatan terbukti dapat menurunkan kadar gula dara dan kualitas hidup penderita diabetes melitus Hambatan dalam mengontrol kadar gula darah meningkatkan kualitas hidup pasien diabetes malitus adalah kepatuhan pengobatan yang buruk, kurangnya pemahaman terhadap instruksi pengobatan.

Selain dari itu, adanya perasaan negative, merasa putus asa dan cemas dengan kondisi yang dialami.

Kepatuhan dapat ditingkatkan melalui peningkatan kualitas perawatan, koping religius dan dukungan sosial, pemahaman tentang pengobatan, program berorientasi keluarga dan program diet. Oleh karena itu dalam mengembangkan intervensi untuk meningkatkan kepatuhan petugas kesehatan harus memperhatikan aspek-aspek tersebut. Penyedia pelayanan kesehatan dapat meningkatkan pelayanan kesehatan terhadap manajemen DM melalui pendekatan multidisplin dari berbagai profesi, komunikasi yang baik, mengurangi kerumitan berobat dan mengurangi jumlah obat yang diberikan. Intervensi yang dapat dikembangkan dalam meningkatkan kepatuhan pasien adalah promosi kesehatan mengenai pemahaman pengobatan yang tepat, melibatkan keluarga dalam pengobatan pasien DM, dan memberikan pendidikan kesehatan tentang diet DM yang tepat(40).

Ketidakpatuhan terhadap obat dapat menyebabkan beberapa dampak negatif terhadap penderita, yaitu menimbulkan efek samping obat yang merugikan kondisi kesehatan penderita diabetes melitus, memperberat biaya pengobatan, dan

(10)

Copyright © 2022, Jurnal Ilmiah Kesehatan Pencerah ISSN 2089-9394 (print) | ISSN 2656-8004 (online)

selain itu juga dapat menimbulkan resistensi terhadap beberapa obat yang jika tidak dikonsumsi secara teratur harus diulang dari awal.

Hubungan mekanisme koping Dengan Kadar Gula Darah Pasien Diabetes Mellitus

Hasil penelitian tentang hubungan mekanisme koping terhadap kadar gula darah dan kualitas hidup pasien diabetes melitus. Hasil analisis menunjukkan bahwa mekanisme koping baik sebanyak 32 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 17 orang (53,1%), dan memiliki kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 15 orang (46,9%). Sedangkan yang memiliki mekanisme koping kurang sebanyak 23 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 5 orang (21,7%) dan kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 18 orang (78,3%). Hasil uji statistic uji chi-square didapatkan nilai p value 0,019 yang menunjukkan ada hubungan yang signifikan antara mekanisme koping dengan kadar gula darah pasien diabetes mellitus.

Mekanisme koping yang kurang dapat berpengarus terhadap terhadap kualitas hidup dan dapat menyebabkan kondisi stress secara langsung dapat mempengaruhi kadar tingkat glukosa darah melalui mekanisme psikologi.

Kejadian stress akan membawa perubahan dalam tubuh dengan memprovokasi respon tubuh dari sistem saraf otonom dan mempengaruhi perubahan kadar hormon yang terlibat dalam metabolisme glukosa(45).

Penderita pasien diabetes melitus dengan stress dapat dapat berdampak terhadap kadar gula darah, walaupun banyak literatur mengatakan bahwa stres tidak hanya dapat meningkatkan kadar glukosa darah, akan tetapi dapat menyebabkan hypoglikemia. Sehingga pelu melakukan penangan terhadap stres tersebut karena dapat menimbulkan efek pada kualitas hidup pasien diabetes melitus(46).

Mekanisme koping yang baik dapat menghasilkan kualitas hidup tinggi dan sehingga dapat melakukan suatu tindakan yang lebih positif. selanjutnya, keinginan penderita diabetes melitus untuk meningkatkan kualitas hidup tidak hanya pada pemenuhan atau pengobatan gejala fisik, namun juga pentingnya dukungan terhadap kebutuhan psikologis, sosial, dan spiritual sebagai dorongan positif dari tenaga kesehatan(44).

Adanya hubungan mekanisme koping biologis dari tekanan emosional dan diabetes mellitus tipe 2 didukung dengan melibatkan peningkatan kadar hormon adrenokortikotropik (ACTH) yang mendorong aktivitas sumbu hipotalamus- hipofisis-adrenal (HPA), sumbu itu sendiri mengubah kadar glukosa. Adanya kelainan pada stimulus insulin ke otak dapat sehingga dapat mengganggu respon normal aksis HPA stres, memungkikan terjadinya peningkatan depresi yang dapat menyebabkan peningkatan kadar glukosa karan danya perubahan suasan hati. sebaliknya, mekanisme koping maladaftif dari stress emosional dapat

(11)

menjadi penyebab yang mungkin kontrol metabolik yang tidak memadai pada pasien dengan diabetes mellitus(47).

Hubungan Efikasi Diri dengan kadar Gula Darah pasien Diebetes Melitus Hasil penelitian tentang hubungan mekanisme koping terhadap kadar gula darah. Sedangkan efikasi diri baik sebanyak 35 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 12 orang (34,3%), dan memiliki kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 23 orang (65,7%). Sedangkan yang melakukan penyelesaian masalah kurang sebanyak 20 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 10 orang (50%) dan kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 10 orang (50%). Hasil uji statistic uji chi-square didapatkan nilai p value 0,252 yang menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara penyelesaian masalah dengan kadar gula darah pasien diabetes mellitus.

Hasil penlitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Firmansyah yang mengatakan bahwa ada hubungan yang bermakna efikasi diri dengan kadar gula darah dengan nilai signifikasi p 0,002(48). Efikasi diri merupakan gagasan kunci dari teori sosial kognitif (social cognitive theory) dan efikasi diri mendorong proses kontrol diri untuk mempertahankan perilaku yang dibutuhkan dalam mengelola perawatan diri pada pasien (48).

Pada pasien DM perubahan perilaku sangat diperlukan untuk mencapai tujuan dari pengelolaan DM yaitu kadar gula dalam batas normal. Efikasi diri merupakan salah satu faktor kunci untuk mencapai perubahan perilaku. Pada pasien DM, efikasi diri merupakan keyakinan pasien dalam bertindak dan berperilaku sesuai dengan harapan yang diinginkan oleh pasien maupun tenaga kesehatan. Efikasi diri dapat memberikan pengaruh terhadap perubahan perilaku dengan mempengaruhi bagaimana seseorang berpikir, memotivasi diri, dan bertindak(50).

Hasil penelitian ini menunjukkan tidak ada hubungan secara statistic yang bermakna antara efikasi diri terhadap kadar gula darah dan kualitas hidup pasien diabetes melitus karena mayoritas penderita yang mengalami peningkatan kadar gula darah yang kurang karena mayoritas usia pasien sudah mencapai usia 65 tahun lebih, kondisi pasien yang sdh lama mederita penyakit diabetes melitus yang menyebabkan kseulitan dalam mengatur diet dan aktifitas fisiknya.

Hubungan Pencegahan Komplikasi dengan Kadar Gula Darah kualitas hidup pasien Diebetes Melitus

Hasil penelitian tentang hubungan mekanisme koping terhadap kadar gula darah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang melakukan pencegahan komplikasi baik sebanyak 38 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 14 orang (36,8%), dan memiliki kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 24 orang (63,2%). Sedangkan yang melakukan pencegahan komplikasi kurang sebanyak 17 orang yang memiliki kadar gula darah terkontrol sebanyak 8

(12)

Copyright © 2022, Jurnal Ilmiah Kesehatan Pencerah ISSN 2089-9394 (print) | ISSN 2656-8004 (online)

orang (47,1%) dan kadar gula darah tidak terkontrol sebanyak 9 orang (52,9%).Hasil uji statistic uji chi-square didapatkan nilai p value 0,475 yang menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan antara pencegahan komplikasi dengan kadar gula darah pasien diabetes mellitus.

Hasil penelitian mengambarkan responden dalam melakukan pencegahan terhadap komplikasi penyakit diabetes melitus meliputi pengaturan pola makan bertujuan untuk mengotrol metabolik sehingga kadar gula darah dapat dipertahankan dengan normal. Pemantauan kadar gula darah bertujuan untuk mengetahui aktivitas yang dilakukan sudah efektif atau belum. Terapi obat bertujuan untuk mengendalikan kadar gula darah sehingga dapat mencegah terjadinya komplikasi. Perawatan kaki bertujuan untuk mencegah terjadinya ulkus kaki diabetik. Latihan fisik bertujuan untuk meningkatkan kadar sensitivitas reseptor insulin sehingga dapat beraktivitas dengan baik. Aktivitas yang dilakukan oleh pasien Diabetes Melitus lebih mengutamakan pengotrolan gula darah dan pencegahan komplikasi sehingga self care sangat penting bagi pasien diabetes melitus, baik Diabetes Melitus tipe 1 maupun Diabetes tipe 2.

Diantara semua yang terdiagnosa diabetes, kurang lebih setengahnya tidak dapat mengontrol kadar glukosanya meskipun tersedia pengobatan yang efektif.

Akibatnya jutaan penderita DM meningkat resikonya terhadap komplikasi serius yang seharusnya tidak perlu terjadi atau dapat diperlambat. Resiko komplikasi ini dihubungkan dengan genetik/keturunan, dan meningkat sejalan dengan lamnya hiperglikemia. Berbagai komplikasi kronik ini menyebabkan tingginya angka kesakitan dan kematian DM dan sangat mengurangi kualitas hidup dari pasien DM. Komplikasi menyebabkan bertambahnya keluhan yang dialami pasien baik keluhan fisik maupun psikologis dan emosi yang turut mempengaruhi aktifitas fisik, sosial dan keluhan lainnya. Hampir semua pasien memiliki keluhan yang berbeda seuai dengan penuakit yang menyertai. Sebagian besar mengeluh nyeri di kaki dan anggota tubuh lain yang berdampak pada menurunnya kualitas aktifitas fisik. Nyeri di kaki dirasanya menyebabkan ketidaknyamanan dan berdampak pada kualitas hidup pasien.

SIMPULAN

Hasil Penelitian menunjukkan ada hubungan kepatuhan control gula darah, kepatuhan konsumsi obat DM, mekanisme koping terhadap kadar gula darah p <

α 0,05. Tidak ada hubungan yang bermakna antara efikasi diri dan mengurangi risiko komplikasi dengan kadar gula darah p > α 0,05.

DAFTAR PUSTAKA

1. Shrivastava SRBL, Shrivastava PS, Ramasamy J. Role of self-care in management of diabetes mellitus. J Diabetes Metab Disord. 2013;12(1):1.

(13)

2. International Diabetes Federation. IDF DIABETES ATLAS Ninth edition 2019. The Lancet. 2019. 1–179 p.

3. Kemenkes R. Laporan Riskesdas Nasional 2018. Lap Riskesdas Nas 2018.

2018;120.

4. Kemenkes RI. Hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2018. Kementrian Kesehat RI. 2018;53(9):1689–99.

5. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2019. Jakarta; 2020.

6. Otiniano ME, Al Snih S, Goodwin JS, Ray L, Alghatrif M, Markides KS.

Factors associated with poor glycemic control in older Mexican American diabetics aged 75 years and older. J Diabetes Complications. 2012;26(3):181–

6.

7. Betiel K. Fesseha, 1 Christopher J. Abularrage, 2 Kathryn F. Hines, 2 Ronald Sherman, 2 Priscilla Frost, 2 Susan Langan, 1 Joseph Canner, 2 Kendall C.

Likes, 2 Sayed M. Hosseini, 1 Gwendolyne Jack, 1 Caitlin W. Hicks, 2 Swaytha Yalamanchi 1 and Nestoras Mathioudakis1. Association of Hemoglobin A 1c and Wound Healing in Diabetic Foot Ulcers. Diabetes Care

[Internet]. 2018;41(7):1–8. Available from:

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29661917%0Ahttp://www.pubmedcent ral.nih.gov/articlerender.fcgi?artid=PMC6014539

8. Chan M. Global Report on Diabetes. Isbn [Internet]. 2016;978:6–86.

Available from:

http://www.who.int/about/licensing/copyright_form/index.html%0Ahttp://ww w.who.int/about/licensing/copyright_form/index.html%0Ahttps://apps.who.in t/iris/handle/10665/204871%0Ahttp://www.who.int/about/licensing/

9. Tol A, Shojaeezadeh D, Sharifirad G, Alhani F, Tehrani MM. Original Article Determination of empowerment score in type 2 diabetes patients and its related factors. Dep Heal Educ Promot Sch Public Heal Isfahan Univ Med Sci Isfahan,1,3. 2012;

10. PERKENI. Pedoman pengelolaan dan pencegahan diabetes melitus tipe 2 di Indonesia. Perkeni. 2015. 133 p.

11. Siguroardóttir ÁK. Self-care in diabetes: Model of factors affecting self-care.

J Clin Nurs. 2005;14(3):301–14.

12. Webber D, Guo Z, Mann S. Self-care in health: we can define it, but should we also measure it? SelfCare J [Internet]. 2013;4(5):101–6. Available from:

http://selfcarejournal.com/article/self-care-in-health-we-can-define-it-but- should-we-also-measure-it/

13. AADE. Amerikan Associate Of diabetes Education Position statemen. Proc 8th Bienn Conf Int Acad Commer Consum Law [Internet]. 2014;1(hal

140):43. Available from:

http://www.springer.com/series/15440%0Apapers://ae99785b-2213-416d-

(14)

Copyright © 2022, Jurnal Ilmiah Kesehatan Pencerah ISSN 2089-9394 (print) | ISSN 2656-8004 (online)

aa7e-3a12880cc9b9/Paper/p18311

14. Glasgow RE, Davis CL, Funnell MM, Beck A. Implementing practical interventions to support chronic illness self-management. Jt Comm J Qual Saf [Internet]. 2003;29(11):563–74. Available from:

http://dx.doi.org/10.1016/S1549-3741(03)29067-5

15. Suciana F, Arifianto D. Penatalaksanaan 5 Pilar Pengendalian Dm Terhadap Kualitas Hidup Pasien Dm Tipe 2. J Ilm Permas J Ilm STIKES Kendal.

2019;9(4):311–8.

16. Hidayah M. Hubungan Perilaku Self-Management Dengan Kadar Gula Darah Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Di Wilayah Kerja Puskesmas Pucang Sewu, Surabaya. Amerta Nutr. 2019;3(3):176.

17. McEwen MM, Pasvogel A, Murdaugh C. Effects of a Family-Based Diabetes Intervention on Family Social Capital Outcomes for Mexican American Adults. Diabetes Educ. 2019;45(3):272–86.

37. Ismansyah. Hubungan Kepatuhan Kontrol Dengan Kadar Gula Darah Sewaktu Pada Pasien Dm Tipe 2. MNJ (Mahakam Nurs Journal).

2020;2(7):363–72.

38. Nanda OD, Wiryanto B, Triyono EA. Hubungan Kepatuhan Minum Obat Anti Diabetik dengan Regulasi Kadar Gula Darah pada Pasien Perempuan Diabetes Mellitus. Amerta Nutr. 2018;2(4):340.

39. Bulu A, Wahyuni TD, Sutriningsih A. Hubungan antara Tingkat Kepatuhan Minum Obat dengan Kadar Gula Darah pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II.

Nurs News (Meriden). 2019;4(1):181–9.

40. Alfian SD, Sukandar H, Lestari K, Abdulah R. Medication Adherence Contributes to an Improved Quality of Life in Type 2 Diabetes Mellitus Patients: A Cross-Sectional Study. Diabetes Ther. 2016;7(4):755–64.

42. Hannan M. Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Kepatuhan Minum Obat Pada Pasien Diabetes Mellitus Di Puskesmas Bluto Sumenep. Wiraraja Med

[Internet]. 2013;3(2):47–55. Available from:

https://www.ejournalwiraraja.com/index.php/FIK/article/view/72

43. Jannoo Z, Wah YB, Lazim AM, Hassali MA. Examining diabetes distress, medication adherence, diabetes self-care activities, diabetes-specific quality of life and health-related quality of life among type 2 diabetes mellitus patients. J Clin Transl Endocrinol [Internet]. 2017;9:48–54. Available from:

http://dx.doi.org/10.1016/j.jcte.2017.07.003

44. Dewi R, Anugrah IH, Permana I. Hubungan Mekanisme Koping Dengan Kualitas Hidup Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Relationship of the Koping Mechanism With the Quality of Life in Type 2 Diabetes Mellitus Patients. J Kesehat Indra Husada [Internet]. 2020;1(Vol 9 No 1 (2021):

Januari-Juni 2021):1–8. Available from:

https://ojs.stikesindramayu.ac.id/index.php/JKIH/article/view/276

(15)

45. Cunningham AT, Crittendon DR, White N, Mills GD, Diaz V, Lanoue MD.

The effect of diabetes self-management education on HbA1c and quality of life in African-Americans: A systematic review and meta-analysis. BMC Health Serv Res. 2018;18(1).

46. Yap J, Tay WT, Teng THK, Anand I, Richards AM, Ling LH, et al.

Association of diabetes mellitus on cardiac remodeling, quality of life, and clinical outcomes in heart failure with reduced and preserved ejection fraction. J Am Heart Assoc. 2019;8(17).

47. Chong ACN, Vogt MC, Hill AS, Brüning JC, Zeltser LM. Central insulin signaling modulates hypothalamus-pituitary-adrenal axis responsiveness. Mol Metab [Internet]. 2015;4(2):83–92. Available from:

http://dx.doi.org/10.1016/j.molmet.2014.12.001

48. Firmansyah MR. Hubungan Efikasi Diri Dengan Kadar Gula Darah Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Di Puskesmas 7 Ulu Palembang Tahun 2017. J

‘Aisyiyah Med. 2018;1(1):1–7.

50. Rahman HF, Yulia, Sukarmini L. Efikasi Diri, Kepatuhan, dan Kualitas Hidup Pasien Diabetes melitus tipe 2 ( Self efficacy, adherence, and quality of life of patients with type 2 diabetes ). e-Jurnal Pustaka Kesehat [Internet].

2017;5:108–13. Available from:

https://jurnal.unej.ac.id/index.php/JPK/article/view/4059/3172

Referensi

Dokumen terkait

2) Mengetahui kadar glukosa yang patuh dan tidak patuh dalam diit. 3) Menganalisa hubungan kepatuhan diit dengan kadar glukosa darah pada. pasien diabetes melitus tipe 2..

Faktor yang Berhubungan dengan Pengendalian Gula Darah pada Penderita Diabetes Mellitus dalam Majalah Kedokteran Indonesia.. Gambaran antara Kepatuhan Minum Obat

Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hubungan pengetahuan tentang perawatan diabetes melitus tipe II dengan kadar gula darah puasa pada klien DM yang berada di

Untuk mengetahui pengaruh senam kaki diabetes terhadap perubahan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas Enemawira, maka

Melihat banyaknya kasus diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi dan kepatuhan pasien diabetes melitus untuk mengkonsumsi obat masih rendah, maka penelitian ini

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuriakan mengenai Pengaruh Edukasi Keluarga Terhadap Kepatuhan Minum Obat Pasien dengan Diabetes Melitus Tipe 2 Di

Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang di lakukan oleh Izzati & Nirmala 2015 tentang hubungan tingkat stres dengan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus tipe II di

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa intervensi brief counselingoleh farmasis pada pasien diabetes melitus tipe II rawat jalan dapat meningkatkan kepatuhan minum