• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kesehatan jiwa menurut Undang-Undang Republik Indonesia No 18 Tahun 2014 adalah kondisi di mana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya. Kesehatan jiwa adalah keadaan sejahtera yang ditandai dengan perasaan bahagia, keseimbangan, merasa puas, pencapaian diri dan harapan (Stuart, Keliat & Pasaribu, 2016).

Gangguan jiwa adalah manifestasi dari bentuk penyimpangan perilaku akibat adanya distorsi emosi sehinga ditemukan ketidakwajaran dalam bertingkah laku. Hal ini terjadi karena menurunnya semua fungsi. Gangguan jiwa merupakan suatu sindrom atau pola pikologis atau perilaku yang penting secara klinis yang terjadi pada seseorang dan dikaitkan dengan adanya distress misalnya gejala nyeri atau disabilitas yaitu kerusakan pada satu atau lebih area fungsi yang penting atau disertai peningkatan resiko kematian, yang menyakitkan, nyeri, disabilitas atau sangat kehilangan kebebasan (Fresa at al 2015).

Menurut Diagnostic Statistic Mental (DSM) IV gangguan jiwa adalah pola perilaku individu yang menyebabkan disfungsi dan penderitaan sehingga terjadi kerugian dan konflik di masyarakat. Menurut Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) III bahwa gangguan jiwa adalah pola perilaku yang menyebabkan terjadinya penderitaan dan keterbatasan (Maslim, 2013).

Berdasarkan pengertian gangguan jiwa di atas disimpulkan bahwa gangguan jiwa adalah suatu keadaan individu yang tidak normal atau terjadi gangguan pada fungsi jiwa di mana individu mengalami perubahan pola perilaku dan emosional sehingga menyebabkan penderita mengalami hambatan dalam peran sosial, terjadi kerugian dan konflik di masyarakat serta penderita mengalami keterbatasan. Jika tidak segera ditangani dengan baik maka pasien yang mengalami gangguan jiwa akan menderita semakin parah menjadi gangguan jiwa berat (Skizofrenia) dan berakibat buruk baik bagi klien sendiri, keluarga, masyarakat maupun lingkungannya.

Menurut WHO (2018) Angka kejadian gangguan mental kronis dan parah yang menyerang lebih dari 21 juta jiwa dan secara umum terdapat lebih dari 23 juta orang jiwa di seluruh dunia,

(2)

2

Jasa lebih dari 50% orang dengan skizofrenia tidak menerima perawatan yang tepat. 90% orang dengan skizofrenia yang tidak diobati tinggal di Negara berpenghasilan rendah dan menengah (Anna, 2019). Data dari Riskesdas tahun 2013, prevalensi gangguan jiwa berat pada penduduk Indonesia adalah 1,7 per mil. Data dari Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) 2013 menunjukan 1,7 jiwa atau 1-2 orang dari 1.000 warga di Indonesia. Jumlah ini cukup besar, artinya 50 juta atau sekitar 25 % dari jumlah penduduk indonesia mengalami gangguan kesehatan jiwa dan provinsi Jawa Timur menunjuka 2 angka 2,2 jiwa berdasarkan data jumlah penduduk Jawa Timur yaitu 38.005.413 jiwa, maka dapat disimpulkan 83.612 jiwa yang mengalami gangguan jiwa di Jawa Timur. Prevalensi gangguan jiwa/psikosis di provinsi jawa timur pada tahun 2018 sebesar 6,0 per mil (Riskesdas, 2018).

Skizofrenia merupakan gangguan multifaktorial perkembangan saraf yang dipengaruhi oleh sosial dan lingkungan serta ditandai dengan gejala positif, sosial. Dimana gejala positif atau gejala nyata, yang mencakup waham, halusinasi, dan disorganisasi pikiran, bicara, dan perilaku yang tidak teratur, serta gejala sosial atau gejala samar, seperti afek datar, tidak memiliki kemauan, dan menarik diri dari masyarakat atau rasa tidak nyaman (Videbeck, 2011). Gejala negative seperti menarik diri dari masyarakat dan disfungsi 2ocial merupakan konsekuensi hubungan respon neurobiologist sosial. Menurut Stuart (2013) menyebutkan masalah sosial seringkali merupakan sumber utama keprihatian keluarga dan penyedia layanan kesehatan. Perilaku langsung dari masalah sosial meliputi ketidakmampuan untuk berkomunikasi koheren, hilangnya dorongan dan ketertarikan, penurunan keterampilan sosial, kebersihan pribadi yang buruk, dan paranoid.

Perilaku lain yang terjadi adalah harga diri rendah berhubungan dengan prestasi akademik dan sosial yang buruk, merasakan ketidaknyamanan, dan yang paling sering terjadi adalah isolasi sosial, jadi dapat disimpulkan bahwa gejala terbanyak dari pasien skizofrenia adalah isolasi sosial:

menarik diri sebagai akibat kerusakan afektif kognitif klien.

Isolasi sosial merupakan suatu pengalaman menyendiri dari seseorang dan perasaan segan terhadap orang lain sebagai sesuatu yang sosial atau keadaan yang mengancam (Suerni & Livana, 2019). Ancaman yang dirasakan dapat menimbulkan respons. Respon kognitif pasien isolasi sosial dapat berupa merasa ditolak oleh orang lain, merasa tidak dimengerti oleh orang lain, merasa tidak berguna, merasa putus asa dan tidak mampu membuat tujuan hidup atau tidak memiliki tujuan hidup, tidak yakin dapat melangsungkan hidup, kehilangan rasa tertarik kegiatan sosial, merasa tidak aman berada diantara orang lain, serta tidak mampu konsentrasi dan membuat keputusan.

(3)

3

Klien dengan isolasi sosial dapat disebabkan oleh beberapa sosial antara lain yang terdiri dari sosial predisposisi dan sosial presipitasi. Faktor predisposisi yang dapat menyebabkan seseorang mengalami isolasi sosial adalah adanya tahap pertumbuhan dan perkembangan yang belum dapat dilalui dengan baik, adanya gangguan komunikasi didalam keluarga, selain itu juga adanya norma-norma yang salah yang dianut dalam keluarga serta sosial biologis berupa gen yang diturunkan dari keluarga yang menyebabkan gangguan jiwa. Selain sosial predisposisi ada juga factor presipitasi yang menjadi penyebab adalah adanya stressor sosial budaya serta stressor psikologis yang dapat menyebabkan klien mengalami kecemasan (Prabowo, 2014).

Perasaan social yang timbul setelahnya akan berdampak pada penurunan harga diri terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan yang ditandai dengan adanya perasaan malu terhadap diri sendiri, rasa bersalah terhadap diri sendiri, gangguan hubungan sosial, merendahkan martabat, percaya diri kurang dan juga dapat mencederai diri (Suerni & Livana, 2019). Dan konsep diri merupakan semua perasaan dan pemikiran seseorang mengenai dirinya sendiri, dimana hal ini meliputi kemampuan, karakter diri, sikap, tujuan hidup, kebutuhan dan penampilan diri. Masalah keperawatan jiwa dengan isolasi sosial dapat diatasi dengan tindakan psikofarmakologi dan non farmakologi. Dengan cara 4 psikofarmakologi dapat menggunakan Antipsikotik yang dikenal dengan neuroleptic yang digunakan adalah antagonis dopamine dan antaginis serotonin.

UPT Rehabilitasi Sosial Eks Psikotik Bina Laras, Pasuruan, Jawa Timur adalah tempat/wadah untuk pasien yang mengalami berbagai macam gangguan jiwa dan retardasi mental.UPT RSBL ini berada dibawah naungan Dinas Sosial.

Ny. M (47th) merupakan salah satu pasien yang memiliki diagnose Isolasi Sosial. Pada saat dilakukan pengkajian pada Ny.M didapatkan tanda gejala isolasi 3ocial diantaranya saat perawat mengajak pasien berkomunikasi pasien cenderung berbicara pelan dan menunduk, kontak mata pasien kurang terhadap lawan bicara dan pasien mengatakan tidak suka bergaul dengan teman- teman yang ada di wisma, kegiatan luar ruangan yang dilakukan pasien hanyalah mandi, BAK/BAB, mencuci dan makan. Selebihnya pasien hanya berada didalam kamar dan menyendiri.

Perawat merupakan seseorang yang telah lulus Pendidikan tinggi keperawatan, baik di dalam maupun luar negeri yang diakui pemerintah sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.Sedangkan pelayanan keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat

(4)

4

keperawatan individu, kelompok atau masyarakat dalam keadaan sehat ataupun sakit.Sebagai perawat, seseorang dapat menjalankan perannya sebagai pemberi asuhan, pemimpin komunitas, aducator, advocate, dan, researcher.

1.2 Perumusan Masalah

Dalam penulisan ini penulis ingin menganalisis intervensi yang diberikan dalam asuhan keperawatan pada pasien dengan Isolasi Sosial di UPT Rehabilitasi Sosial Eks Psikotik Pasuruan.

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

Tujuan dari penulisan Karya Ilmiah Akhir Ners ini adalah untuk menganalisa asuhan keperawatan jiwa pada Ny. M (47th) dengan masalah Isolasi Sosial selama praktik lapangan di UPT Rehabilitasi Sosial Eks Psikotik Pasuruan.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Melakukan pengkajian pada Ny. M (47th) dengan masalah kesehatan jiwa di UPT Rehabilitasi Sosial Eks Psikotik Pasuruan

2. Mengetahui Diagnosa keperawatan yang diberikan pada pada Ny. M (47th) dengan masalah kesehatan jiwa di UPT Rehabilitasi Sosial Eks Psikotik Pasuruan

3. Mengetahui intervensi keperawatan yang akan diberikan pada pada Ny. M (47th) dengan masalah kesehatan jiwa di UPT Rehabilitasi Sosial Eks Psikotik Pasuruan

4. Mengetahui implementasi keperawatan yang telah dilakukan pada pada Ny. M (47th) dengan masalah kesehatan jiwa di UPT Rehabilitasi Sosial Eks Psikotik Pasuruan 5. Mengevaluasi hasil implementasi yang telah dilakukan pada pada Ny. M (47th) dengan

masalah kesehatan jiwa di UPT Rehabilitasi Sosial Eks Psikotik Pasuruan

1.4 Manfaat Penelitian

1. Manfaat Pelayanan Keperawatan dan Kesehatan

Hasil dari penulisan ini diharapkan dapat menjadi informasi bagi bidang keperawatan terkait pelayanan kesehatan pasien jiwa di Grati, Pasuruan mengenai intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan permasalahan pasien dengan Isolasi Sosial. Laporan ini juga diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan bagi bidang

(5)

5

keperawatan terkait perawatan agar dapat menerapkan intervensi yang telah dilakukan menjadi penanganan rutin pada pasien dengan Isolasi Sosial.

2. Manfaat Keilmuan

Hasil dari penulisan laporan ini diharapkan dapat bermanfaat bagi bidang Pendidikan keperawatan yang khususnya bagi keperawatan Jiwa. Laporan ini diharapakan dapat menjadi dasar untuk pengembangan ilmu mengenai intervensi keperawatan yang diberikan pada pasien dengan diagnose Isolasi Sosial. Selain itu, penelitian ini juga dapat dijadikan sumber informasi terbaru bagi pendidikan agar menerapkan intervensi yang telah dilakukan oleh penulis sebagai salah satu pemecahan masalah. Bagi peneliti selanjutnya diharapkan dapat menjadi masukan atau ide untuk meneliti lebih lanjut mengenai tindakan keperawatan yang dapat diberikan pada pasien dengan diagnose medis Isolasi Sosial.

Referensi

Dokumen terkait

bahwa dalam rangka mendukung Program Penghematan Energi dan Air di Iingkungan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi sesuai dengan Instruksi Presiden Nomor 13 Tahun 2011

Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang hendak diurai melalui program ini adalah: cara meningkatkan penguasaan bidang studi Astronomi para guru

L : Ya Tuhan Yesus yang telah mati di kayu salib, hanya oleh karena kasihMu kepada orang berdosa ini. P : Ajarilah kami selalu mengingat Tuhan yang mati di kayu

Kewenangan sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, Pasal 94, tetapi Tidak

Variabel adversity quotient, lingkungan keluarga, dan minat berwirausaha diukur dengan skala Likert, yaitu skala dipergunakan untuk mengetahui setuju atau tidak

Berdasarkan beberapa penelitian di atas dimana sense, feel, think, act dan relate merupakan indikator-indikator terbentuknya experiential marketing, maka berdasar

Dengan demikian, berdasarkan kriteria uji disimpulkan bahwa terima H0 dan tolak H1, artinya rata-rata nilai pretes kemampuan siswa dalam berpikir evaluatif pada kelas yang

5(3) Akta tersebut, Pengawal sebelum meluluskan pemohonan pemaju tersebut, akan dapat mengetahui mengenai kedudukan pemaju perumahan tersebut sama ada sesuai dan wajar