1 BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Pendidikan memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan mutu Sumber daya Manusia (SDM). Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003, tentang Sistem Pendidikan Nasional, pendidikan diartikan sebagai usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar siswa secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara (Anonim, 2013). Pemerintah telah menerapkan kurikulum 2013 revisi 2017 sebagai salah satu cara untuk meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa. Berdasarkan kurikulum 2013 revisi 2017, yaitu penguatan pada proses pembelajaran berpusat pada siswa. Siswa diharapkan mengkontruksi pemikirannya sendiri berdasarkan pendekatan pembelajaran saintifik aproach yang terdiri atas, mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, mangasosiasi dan mengkomunikasikan, maka diharapkan kelima pokok kegiatan pembelajaran tersebut diterapkan dalam pembelajaran (Isindanah dan Azizah, 2016).
Pendidikan dan pembelajaran diharapkan dapat memberikan hasil belajar yang diperlukan oleh peserta didik untuk hidup di era abad 21. Pada abad 21 kemajuan teknologi telah memasuki berbagai bingkai kehidupan, tanpa terkecuali pada bidang pendidikan. Pendidikan pada dasarnya merupakan proses membentuk peradaban bangsa, dan pendidikan harus berarah pada konsep perubahan, penumbuhkembangkan anak-anak bangsa menjadi pribadi yang baik, mampu
berkomunikasi, bergaul dengan baik, saling menghargai, dan memiliki kematangan emosional; terampil/memiliki kecakapan hidup, dan berbudaya.
Dimana keterampilan abad ke-21 disebut sebagai keterampilan “The 4Cs.” “The 4Cs” meliputi berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi (Supriadie dan Deni, 2013).
Kurikulum 2013 menuntut siswa untuk menjadi aktif dan mampu berinteraksi dalam kelompok. Hal ini sesuai dengan pembelajaran kooperatif yang mana, pembelajaran kooperatif menggalakkan siswa berinteraksi secara aktif dan positif dalam kelompok. Pembelajaran kooperatif memiliki berbagai tipe, salah satunya tipe predict observe explain (POE) yang dipandang mampu meningkatkan pemahaman konsep, dan hasil belajar siswa serta meningkatkan interaksi antar siswa dalam pembelajaran kimia yaitu dengan menerapkan model pembelajaran yang berpusat pada aktivitas dan kreatiitas siswa. Model pembelajaran predict observe explain mengacu pada filosofis konstuktivisme yang menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran, siswa dapat mengkonstruksi pengetahuannya sendiri dan bermakna melalui pengalaman yang nyata.
Diantara model pembelajaran yang menyenangkan serta melibatkan siswa adalah model pembelajaran predict observe explain (POE). Metode POE dapat mengukur tingkat pemahaman konsep siswa dengan nilai yang dicapai dalam pembelajaran . Model POE merupakan rangkaian proses pemecahan masalah yang dilakukan oleh peserta didik melalui tahap prediksi atau membuat dugaan awal (predict), pengamatan atau pembuktian dugaan (observe), serta penjelasan terhadap hasil pengamatan (explain). Tahapan dalam model pembelajaran POE dapat merangsang keaktifan dari siswa. Ada tiga langkah yang sesuai dengan
namanya yaitu : 1) Predict atau prediksi yaitu siswa membuat prediksi dan memperkirakan hasil dari eksperimen yang akan dilakukan pada langkah berikutnya. Dalam membuat prediksi, siswa dibebaskan berfikir seluas-luasnya sesuai dengan pengetahuannya tanpa batasan dari guru; 2) Observe atau observasi yaitu siswa mengamati atau melihat eksperimen. Bagian terpenting dalam langkah ini adalah mengkonfirmasi prediksi yang telah dibuat. Dengan melakukan percobaan langsung akan memberikan dampak khusus pada pemahaman siswa; 3) Explain atau menjelaskan yaitu siswa membandingkan hasil pengamatan dalam
observasi dengan prediksi kemudian membuat penjelasan berdasarkan pengetahuan sendiri (Ratna, 2013).
Salah satu keunggulan pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran POE ini adalah pembelajaran akan menjadi lebih menarik, sebab siswa tidak hanya mendengarkan materi yang disampaikan oleh guru, akan tetapi siswa juga mengamati peristiwa yang terjadi secara langsung melalui eksperimen atau percobaan. Melalui percobaan yang dilakukan siswa tersebut, akan membuat siswa lebih menyakini kebenaran materi pembelajaran. Dengan begitu hasil belajar siswa juga akan lebih baik.
Salah satu materi kimia yang dipelajari di sekolah yaitu hidrolisis garam.
Materi hidrolisis garam memiliki karakteristik didalamnya yang berupa konsep- konsep hidrolisis garam serta fakta-fakta yang terdapat dalam kehidupan sehari- hari. Berdasarkan karakteristik materi tersebut, materi hidrolisis garam tidak hanya menekankan pada penguasaan konsep saja tetapi juga perlu pembuktian melalui eksperimen dengan cara menyelidiki,menganalisis dan menyimpulkan
hasil temuannya secara mandiri dengan demikian berarti siswa membutuhkan kemampuan berpikir yang baik.
Berdasarkan studi pendahuluan pada materi hidrolisis garam kebanyakan pembelajaran masih menggunakan metode ceramah dan diskusi yang monoton.
Oleh karena itu hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran yaitu perlu menggunakan suatu model pembelajaran yang sesuai dan berpusat pada siswa agar siswa mampu mengembangkan kemampuan berpikirnya dan berdasarkan hasil belajar yang dicapai. Dalam hal ini untuk meningkatkan pemahaman dan kreativitas siswa pada materi hidrolisis garam maka peneliti menggunakan model POE untuk melihat keefektifan dan pegaruhnya pada hasil belajar siswa.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan guru bidang studi kimia di SMAN 12 Kota Jambi sudah menggunakan kurikulum 2013 revisi 2017, adapun hambatan yang biasanya dihadapi saat mengajar yaitu kurangnya ketertarikan siswa dalam belajar kimia pada materi hidrolisis garam karena kesulitannya dalam memahami konsep dan kesulitan menganalisis rumus yang digunakan untuk menyelesaikan soal yang diberikan guru. Hasil belajar siswa tidak mencapai 50%
atau hanya sekitar 20% hingga 30% atau sekitar 5-6 orang siswa yang hasil belajarnya baik dan tertarik untuk belajar kimia. Untuk menjawab kendala di atas dibutukan suatu model pembelajaran lain yang dapat meningkatkan kerjasama dalam bereksperimen dan untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik.
Model pembelajaran kooperatif yang menjadi solusi dari permasalahan di atas adalah model predict observe explain (POE), karena berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Erni, mery dan jamaludin (2013) melakukan penelitian yang berjudul pengaruh model POE (predict observe explain) terhadap
hasil belajar kimia pada kelas XI materi kelarutan dan hasil kali kelarutan di SMA Negeri 4 Pasangkayu. Berdasarkan hasil penelitian ini di dapat kesimpulan bahwa, model POE berpengaruh terhadap hasil belajar kimia pada kelas XI IPA dengan materi kelarutan dan hasil kali kelarutan di SMA Negeri 4 Pasangkayu, karena dapat memberikan peningkatan minat belajar dan hasil belajar siswa .
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti ingin melakukan penelitian dengan judul ‘’Analisis Penggunaan Model Pembelajaran Predict Observe Explain (POE) Pada Materi Hidrolisis Garam terhadap Hasil
Belajar Siswa Kelas XI MIPA SMAN 12 KOTA JAMBI’’.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakaang masalah di atas, maka rumusan masalah pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana penggunaan model pembelajaran predict observe explain (POE) pada proses pembelajaran materi hidrolisis garam di kelas XI MIPA SMAN 12 Kota Jambi ?
2. Apakah terdapat korelasi penggunaan model pembelajaran predict observe explain (POE) terhadap hasil belajar siswa pada materi hidrolisis garam di
kelas XI MIPA SMAN 12 Kota Jambi ? 1.3 Tujuan penelitian
Berdasarkan dengan rumusan masalah, maka tujuan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Mendiskusikan penggunaan model pembelajaran predict observe explain (POE) pada proses pembelajaran materi hidrolisis garam di kelas XI MIPA SMAN 12 Kota Jambi.
2. Untuk mengetahui korelasi penggunaan model pembelajaran predict observe explain (POE) terhadap hasil belajar siswa pada materi hidrolisis
garam di kelas XI MIPA SMAN 12 Kota Jambi.
1.4 Batasan Masalah
Aspek yang di ukur adalah hasil belajar siswa dalam ranah kognitif (taksonomi Anderson) yang dibatasi pada tingkat memahami (C2), menerapkan (C3), dan menganalisis (C4), pada ranah afektif dibatasi pada tingkat menerima (A1), menanggapi (A2), menilai (A3), mengelola (A4) dan Menghayati (A5).
Pada ranah psikomotor dibatasi pada tingkat meniru (P1), manipulasi (P2), presisi (P3), dan Artikulasi (P4).
Pada materi hidrolisis garam yang diajarkan ditinjau dari pengertian hidrolisis garam yang meliputi submateri sifat garam yang terhidrolisis, tetapan hidrolisis (Kh) dan pH garam yang terhidrolisis.
1.5 Manfaat Penelitian
Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
a. Bagi Siswa
Siswa dapat mempelajari materi hidrolisis garam dengan mudah menggunakan model pembelajaran POE karena sudah terlatih kemampuan berpikir orisinil sehingga siswa menjadi lebih aktif dan nilai siswa menjadi lebih baik lagi, dan dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa karena siswa belajar berdasarkan masalah dan temuannya sendiri.
b. Bagi Guru
Model pembelajaran POE merupakan salah satu model pembelajaran alternatif pada materi asam basa maupun materi yang lainnya, yang memiliki 6 karakteristik yang sama sehingga dapat meningkatkan ketrampilan berpikir kreatif
siswa terkhusus pada kemampuan berpikir orisinil. Dan dapat dijadikan sebagai model pembelajaran yang inovatif, kreatif, dan religius bagi guru.
c. Bagi Sekolah
Penerapan model pembelajaran POE dapat dijadikan sebagai referensi dan pemberian pola pikir dalam meningkatkan mutu pembelajaran kimia disekolah SMAN 12 Kota Jambi.
d. Bagi Peneliti
Sebagai bahan kajian serta menambah wawasan dan dapat mendorong penelitian pelaksanaan model pembelajaran melalui sistem lebih lanjut guna meningkatkan kualitas pembelajaran.
1.6 Defenisi Istilah
1. Model pembelajaran POE untuk pertama kali dikembangkan oleh White dan Gustone pada tahun 1992. Model pembelajaran ini digunakan untuk mengungkapkan kemampuan siswa dalam memprediksi jawaban dari pertanyaan yang diajukan dan mengumpulkan data-data dengan cara observasi untuk menjawab pertanyaan tersebut, lalu siswa menjelaskan jawabannya dan mengkorelasikan jawaban mereka dengan hasil prediksi diawal. Kegiatan dari model pembelajaran POE sudah mencakup dari pendekatan kontekstual, seperti kontruktivisme, bertanya, inkuiri, masyarakat belajar dan penilaian autentik.
2. Hasil belajar adalah sejumlah pengalaman yang diperoleh siswa yang mencakup ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Belajar tidak hanya penguasaan konsep teori mata pelajaran saja, tetapi juga penguasaan kebiasaan, persepsi, kesenangan, minat-bakat, penyesuaian sosial, macam- macam keterampilan, cita-cita, keinginan dan harapan.