KEPUTUSAN PEMBELIAN CAT SEMPROT DI OUTLINE STORE SEMARANG YANG
DIPENGARUHI OLEH WORD OF MOUTH, HARGA, KUALITAS PRODUK, LOKASI, CITRA
MEREK, DAN PROMOSI
BONITA KURNIA DEWI
Jurusan Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis – S1, Universitas Dian Nuswantoro
URL : http://dinus.ac.id/
E-mail : [email protected]
ABSTRACT
Outline stores include one store or places that provide the needs of the actors mural artist street or commonly known as street art , especially the " graffiti writer ", in this study the author try to determine the effect of each variable word of mouth, price, quality product, location, brand image and promotion of the purchasing decision. As for the issue of this research is " whether the word of mouth factor , price, product quality , location , brand image and promotional influence on purchase decisions Outline store spray paint in Semarang city ? "
The sampling technique using non-probability sampling technique is purposive sampling and the number of samples obtained of 160 respondents. Data were analyzed using Structural Equation Modeling ( SEM ) with AMOS22. the obtained results analysis : Word Of Mouth and Promotion of positive and significant impact on purchasing decisions while the price, product quality, location and brand image not significant effect on purchasing decisions.
Keywords : Word of mouth , price, product quality , location , brand image , promotion , purchasing decisions .
1. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang
Perkembangan cat semprot di Indonesia berawal dari masuknya gaya barat ke Indonesia tentang graffiti sendiri, yang biasa dilakukan dengan menggunakan cat semprot. Awal mula cat semprot yang digunakan untuk para writers di Indonesia bukanlah cat semprot yang sama digunakan di luar negri. Cat semprot yang digunakan hanya sebatas cat semprot biasa yang sering digunakan untuk kegiatan sehari-hari seperti untuk menge-cat besi atau obyek lain. Cat semprot di Indonesia cukup terbatas dari segi warna dan kualitas, dari warna sendiri hanya tersedia warna- warna dasar dan beberapa turunan warna, dari segi kualitas kepekatan dan tekanan yang dikeluarkan dari cat semprot itu sendiri juga cukup kurang baik dibanding dengan cat yang di khususkan untuk para writer. Kisaran tahun 2006-2009 di
Indonesia hanya tersedia cat semprot lokal dari beberapa produsen seperti Nippon Paint dan Rj London. Nippon Paint dan Rj London berinovasi untuk memunculkan pilihan warna baru karena mulai maraknya perkembangan graffiti di Indonesia.
Outline Store merupakan perusahaan yang bergerak sebagai penyetok dan supplier alat atau perlengkapan untuk seniman jalan di kota Semarang, terutama para “Graffiti Writer” atau yang biasanya disebut “Boomber”. Secara garis besar perbedaan antara Outline store dengan toko bangunan terletak pada penyediaan stock barang di gudang. Toko bangunan menyediakan segala jenis bahan bangunan yang di khususkan untuk tujuan konstruksi, banyak bahan alami dan produk buatan yang berhubungan dengan tempat tinggal manusia serta struktur termasuk rumah. Outline store sendiri menyediakan bahan baku perlengkapan yang di khususkan untuk semua graffiti writer di Semarang. Outline store juga berfungsi sebagai basecamp atau tempat sharing bagi sesama graffiti writers dan sebagai tempat “tinggal karya” untuk karya-karya para graffiti agar bisa di perlihatkan oleh para pelanggan yang bukan lain ialah graffiti writer sendiri. Namun pemikiran sebagian graffiti writer di Semarang yang enggan menggunakan cat semprot di Outline store sebagai pilihan cat semprot yang utama menyebabkan mereka mendatangi toko bangunan apabila Outline store sedang tutup. Keberadaan toko bangunan yang selalu buka setiap hari bahkan di hari libur menjadi pesaing dari penjualan cat semprot di Outline store Semarang. Namun keberadaan toko bangunan belum jadi masalah besar untuk penjualan cat semprot Outline store karena, selain toko bangunan mayoritas pelaku street art lebih memilih belanja secara online. Keputusan pembelian konsumen sangat penting dalam membuat pelanggan memilih cat semprot mana yang sesuai dengan keinginan. Membahas mengenai pembuatan keputusan pembelian maka tidak bisa lepas dari hubungan dengan tingkat keterlibatan konsumen.
1.2. Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian adalah:
2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian dalam kerangka teori ini merupakan grand theory yakni teori yang paling utama didalam penelitian ini. Menurut Setiadi yang dikutip dari Etta dan Sopiah (2013) mendefinisikan inti dari pengambilan keputusan konsumen adalah
proses pengintegrasian yang mengombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua prilaku alternatif atau lebih, dan memilih salah satu di antaranya. Dari beberapa teori para ahli yang di kemukakan, yang paling sesuai dengan penelitian ini yaitu teori menurut Mowen dikutip dari Sunyoto (2013) yang mengemukakan bahwa tingkat keterlibatan konsumen dalam suatu pembelian dipengaruhi oleh kepentingan personal yang dirasakan dan ditimbulkan oleh stimulus. Konsumen akan merasa terlibat atau tidak terlibat terhadap suatu produk ditentukan oleh apakah konsumen merasa penting atau tidak dalam pengambilan keputusan pembelian produk.
2.2. Word Of Mouth
Word of Mouth yang merupakan salah satu bentuk periklanan bebas, juga memainkan peranan penting dalam memfasilitasi kesadaran merek (Shimp, 2014).
Dengan demikian dapat di simpulkan bahwa word of mouth merupakan pemberian informasi yang dilakukan oleh konsumen sudah menggunakan atau mempunyai pengalaman suatu produk kepada kosumen lain. Menurut Sumardy dkk (2011), menyatakan alasan lebih memilih word of mouth daripada beriklan adalah :
Perusahaan harus mampu mengubah presepsi bahwa word of mouth hanyalah pembicaraan yang menarik saja, word of mouth bisa lebih dari itu. Disini suatu produk tidak sekedar hanya dibicarakan dan dipromosikan , tetapi lebih dari itu.
Word of mouth harus mampu mengubah perilaku konsumen, dari yang tidak ingin membeli jadi membeli dan dari yang berfikir skeptis menjadi tertarik unuk mencoba (Sumardy, 2011).
2.3. Harga
Harga merupakan segala bentuk biaya moneter yang dikorbankan oleh konsumen untuk memperoleh, memiliki, memanfaatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanan dari suatu produk. Bagi perusahaan penetapan harga merupakan cara untuk membedakan penawarannya dari pesaing (Ali Hasan, 2013). Menurut Giosudarmo dalam Sunyoto (2013) harga itu merupakan nilai yang dinyatakan dalam suatu mata uang atau alat tukar terhadap suatu produk tertentu. Dalam kenyataanya besar kecilnya nilai atau harga itu tidak hanya di tentukan oleh faktor fisik saja yang diperhitungkan tetapi faktor-faktor psikologis dan faktor-faktor lain berpengaruh pula terhadap harga. Jadi pengertian harga adalah sejumlah uang yang dibutuhkan untuk mendapatkan sejumlah produk tertentu atau kombinasi antara barang dan jasa.
2.4. Kualitas Produk
Menurut Thamrin dan Francis (2013) adalah keseluruhan ciri dan karakteristik suatu barang atau jasa yang berpengaruh pada kemampuannya unuk memuaskan kebutuhan yang dinyatakan maupun tersirat. Kualitas produk merupakan hal yang perlu mendapat perhatian utama dari perusahaan atau produsen, mengingat kualitas suatu produk berkaitan erat dengan kepuasan konsumen
2.5. Lokasi
Place adalah tempat dimana kita menemukan letak usaha kita (Kurniawan, 2014).
Pemilihan tempat menjadi faktor terpenting dalam menjalankan bisnis. Walaupun mempunyai produk yang bagus, tetapi jika tidak didukung oleh tempat yang srategis, produk tersebut tidak akan dilirik oleh konsumen. Dua faktor dalam menentukan tempat usaha adalah pemilihan lokasi yang strategis dan fasilitas yang mendukung.
Seperti yang dikatakan oleh Arief Rakhman Kurniawan (2014) didalam bukunya
“Cermat memilih lokasi usaha untuk investasi yang menjanjikan dimasa yang akan datang”.
2.6. Citra Merek
Citra merek mempresentasikan keseluruhan presepsi konsumen terhadap merek yang terbentuk karena informasi dan pengalaman konsumen terhadap suatu merek (Suryani, 2008). Dan menurut Kotler (2012) merek didefinisikan sebagai nama, istilah, tanda, simbol atau desain, atau kombinasi diantaranya, yang dimaksudkan unuk mengedintefikasi barang dan jasa.Dari definisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa merek merupakan suatu nama atau simbol yang mengidentifikasi suatu produk dan membedakannya dengan produk-produk lain.
2.7. Promosi
Dalam manajemen pemasaran dikatakan bahwa promosi merupakan ujung tombak kegiatan bisnis suatu produk dalam rangka menjangkau pasar sasaran dan menjual produk tersebut. Hampir dapat dipastikan bahwa promosi dilakukan untuk produk baik berupa barang maupun jasa dan baik bermerek maupun tidak bermerek.
Menurut A.Hamdani (dalam Sunyoto, 2014) promosi merupakan salah satu variabel dalam bauran pemasaran yang sangat penting dilaksanakan oleh sebuah perusahaan dalam memasarkan produk.Sedangkan menurut William J.Stanton (dalam Sunyoto, 2014) promosi adalah unsur dalam bauran pemasaran perusahaan yang didayagunakan untuk memberitahukan, membujuk, dan mengingatkan tentang produk perusahaan (promotion is element an organization’s marketing mix that servers to inform, persuade, and remind the market of the organization and or it’s product ).
2.8. Kerangka Konseptual Serta Hipotesis
Dalam penelitian ini digunakan variabel independen yang terdiri dari : Word of Mouth sebagai X1, Harga sebagai X2, Kualitas Produk sebagai X3, Lokasi sebagai X4, Citra Merek sebagai X5, dan Promosi sebagai X6. Sedangkan variabel dependen menggunakan Keputusan Pembelian sebagai Y1. Dapat dibuat kerangka konseptual yang tersaji berikut ini :
Gambar 2.8 Kerangka Konseptual
Hipotesis merupakan pernyataan tentatif tentang hubungan antara beberapa variabel atau lebih (Wiratna Sujarweni, 2014). Sesuai dengan berbagai rujukan yang ada, maka dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut :
Ha1 : Pengaruh Word Of Mouth (X1) dengan Keputusan Pembelian (Y1) Ha2 : Pengaruh Harga (X2) dengan Keputusan Pembelian (Y1)
Ha3 : Pengaruh Kualitas Produk (X3) dengan Keputusan Pembelian (Y1) Ha4 : Pengaruh Lokasi (X4) dengan Keputusan Pembelian (Y1)
Ha5 : Pengaruh Citra Merek (X5) dengan Keputusan Pembelian (Y1) Ha6 : Pengaruh Promosi (X6) dengan Keputusan Pembelian (Y1) .
3. Metode Penelitian
Populasi dalam penelitian ini adalah semua graffiti writer yang menggunakan cat semprot di Outline store ada dikota Semarang. Peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga, dan waktu. Maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu (Sujarweni, 2014). Penentuan sampel ini menggunakan rumus Bernouli, dimana rumus tersebut akan menentukan besarnya sampel minimum yang diperlukan dalam penelitian ini, rumus yang digunakan seperti berikut ini :
Besarnya polulasi sekitar 200 orang yang menggunakan cat semprot dari Outline store Semarang. Jadi jumlah sampel penelitian minimum yang diperlukan dalam penelitian ini berdasarkan tingkat keputusan kuisioner akan kembali sebesar 95%
tingka kesalahan sebesar 5% dan tingkat error sebesar 5% adalah 73 responden.
Besarnya populasi yang sulit diketahui jumlahnya mengenai graffiti writer yang ada di kota Semarang. Dalam penelitian ini akan menggunakan 200 responden sesuai dengan ukuran sampel minimal dengan analisis SEM, menurut Kusnedi (2008) menyatakan dalam model yang di analisa ada 5 (lima) konstruk atau kurang dimana masing-masing konstruk diukur minimal 3 (tiga) indikator maka diperlukan ukuran sampel minimal antara 100-200 observasi. Teknik pengambilan sampel ini menggunakan teknik non probability sampling yaitu sampling purposive. Sampling purposive adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2010). Kriteria sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah semua responden para graffiti maker dan para pelaku seniman mural. Baik laki – laki dan perempuan kisaran umur 15 tahun sampai 30 tahun, disemua kalangan.
4. Teknik Analisis Data
Analisis data pada penelitian ini menggunakan analisis deskriptif yang di dapatkan melalui hasil kuisioner 160 responden dan analisis data menggunakan SEM pada AMOS22.
5. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil analisis konfirmatori variabel eksogen
Gambar 5.1: Hasil Analisis Konfirmatori Variabel Eksogen Tabel 5.1.1 Analisis faktor Konfirmatori Konstruk Eksogen
Berdasarkan hasil pengolahan data tersebut, dapat dilihat bahwa setiap indikator atau dimensi pembentuk masing-masing variabel laten menunjukkan hasil baik, yaitu nilai CR diatas 1,96 dengan P lebih kecil daripada 0,05. Dengan hasil ini, maka dapat dikatakan bahwa indikator-indikator pembentuk variabel laten telah menunjukkan unideminsionalitas. Selanjutnya berdasarkan analisis faktor konfirmatori ini, maka model penelitian dapat digunakan untuk analisis selanjutnya tanpa modifikasi atau penyesuaian-penyesuaian.
5.2. Hasil Analisis Konfirmatori Variabel Endogen
Gambar 5.2. Analisis Konfirmatori Faktor Endogen Tabel 5.2.1. Analisis faktor Konfirmatori Konstruk Eksogen
Berdasarkan hasil pengolahan data tersebut, dapat dilihat bahwa setiap indikator atau dimensi pembentuk masing-masing variabel laten menunjukkan hasil baik, yaitu nilai CR diatas 1,96 dengan P lebih kecil daripada 0,05. Dengan hasil ini,
maka dapat dikatakan bahwa indikator-indikator pembentuk variabel laten telah menunjukkan unideminsionalitas. Selanjutnya berdasarkan analisis faktor konfirmatori ini, maka model penelitian dapat digunakan untuk analisis selanjutnya tanpa modifikasi atau penyesuaian-penyesuaian.
5.3. Analisis structural equation modeling (SEM)
Structural Equation Modeling (SEM) Gambar 5.3: Hasil Pengujian Full Model
Tabel 5.3: Uji Model-Goodness-of-fit Goodness of index Cut-off
Value
Hasil model
Keterangan Chi square Diharapkan
kecil
221,971 Baik
Probability ≥ 0,05 0,256 Baik
RMSEA ≤ 0,08 0,020 Baik
GFI ≥ 0,90 0,896 Marginal
AGFI ≥ 0,90 0,863 Marginal
CMIN/DF ≤ 2 1,062 Baik
TLI ≥ 0,95 0,984 Baik
CFI ≥ 0,95 0,987 Baik
Dilihat tabel di atas diperoleh nilai chi square 221,971 dengan 0,256 probabilitas ≥ 0,05, nilai RMSEA sebesar 0,020 ≤ 0,08, nilai GFI sebesar 0,896 ≥ 0,90, nilai CFI sebesar 0,987 ≥ 0,95, dan nilai CMIN/DF sebesar 1,062 ≤ 2 menunjukkan bahwa uji kesesuaian model ini menghasilkan sebuah penerimaan yang baik. Oleh karena itu,
dapat disimpulkan bahwa struktur analisis modeling dalam penelitian ini dapat dilakukan. Dari analisis jalur Gambar 5.3 maka diperoleh model struktural sebagai berikut:
Y1 = α1 + 0,47 word of mouth + 0,33 harga + 0,32 kualitas produk + 0,22 lokasi + 0,10 citra merek + 0,59 promosi +Z1
Dengan loading factor 0,59 maka variabel lokasi merupakan variabel yang berperan dominan dalam membentuk variabel keputusan pembelian.
5.4. Evaluasi Atas Asumsi – Asumsi SEM 5.4.1. Uji Normalitas Data
Tabel. 5.4.1 Uji Normalitas Data
Pada tabel diatas diperoleh nilai cr dan kurtosis pada kisaran -2,58 – 2,58.
Dan nilai cr pada multivariate sebesar -1,789 yang berada pada -2,58 – 2,58 yang berarti bahwa data terdistribusi normal, jadi data penelitian dapat dianalisis menggunakan Struktural Equation Modelling (SEM).
5.4.2. Univariate Outliers
Tabel 5.4.2: Evaluasi nilai Z-score
Terdapat -3.27019 pada Y12 yang melebihi batas minimum yaitu -3. Selain itu nilai rata-rata menunjukkan 0 dan standar devasi sebesar 1. Namun, untuk menghilangkan data univariate outliers harus melihat multivariate outlier terlebih dahulu.
5.4.3. Multivariate Outliers
Jarak Mahalanobis maksimal adalah 43,188. Hal ini menunjukkan tidak terdapatnya multivariate outliers sehingga eksklusi atau penghapusan data tidak perlu dilakukan.
Uji Mahalanobis Distance dihitung dengan menggunakan nilai chi-square pada derajat bebas sebesar 23 indikator pada tingkat p < 0,01 dengan menggunakan rumus X2 (23;0,01) = 41,6364.
5.4.4. Interpretasi dan Modifikasi Model
Setelah model diestimasi, residualnya harus kecil dan mendekati nol dan distribusi frekuensi dari kovarian residual harus bersifat simetrik. Untuk batas keamanan terhadap jumlah residual adalah 5 %. Bila jumlah residual lebih besar dari 5 % dari semua residual kovarians yang dihasilkan oleh model, maka sebuah modifikasi perlu dipertimbangkan dengan catatan ada landasan teoritis. Cut off value dengan rentang -2,58 sampai dengan 2,58 dapat digunakan untuk menilai signifikan tidaknya residual yang dihasilakan oleh model. Data standardized residual covariances yang diolah dengan program AMOS.
Tabel 5.4.4 Standard Residual Covariances
Dari tabel tersebut tidak satupun nilai standardized residual covariances yang berada diatas rentang -2,58 sampai 2,58. Sehingga model ini tidak memerlukan adanya modifikasi yang berarti.
5.4.5. Uji Validitas
Validitas konvergen dapat digunakan untuk menentukan apakah setiap indikator yang diestimasi secara valid mengukur dimensi dari konsep yang diujinya, dengan melihat bahwa setiap indikator memiliki critical rasio yang lebih besar dua kali standar errornya (Ghozali, 2008). Tabel di atas menunjukkan bahwa semua indikator menghasilkan nilai estimasi dengan critical error (CR) yang lebih besar dua kali standar errornya (S.E), maka dapat disimpulkan bahwa indikator variabel yang digunakan adalah valid.
Uji validitas dalam penelitian ini juga menggunakan uji validitas yang dilakukan menggunakan SPSS dengan outputnya bernama corrected item correlation. Hasil pengujian validitas untuk variabel Word of mouth, Harga, Kualitas Produk, Lokasi, Citra Merek, Promosi, dan Keputusan Pembelian Outline store di kota Semarang adalah:
Hasil pengujian validatas dengan menggunakan SPSS menunjukkan bahwa semua indikator yang digunakan untuk mengukur variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini mempunyai koefisien korelasi yang lebih besar dari r-tabel = 0,1552 yaitu nilai r-tabel untuk df = n - 2 = 160 – 2 = 158. Dengan demikian dapat diambil kesimpulan bahwa semua butir pertanyaan yang digunakan untuk mengukur
variabel Word of mouth, Harga, Kualitas Produk, Lokasi, Citra Merek, Promosi, dan Keputusan Pembelian Outline store di kota Semarang dinyatakan valid.
5.4.6. Uji Realiabilitas
Dari tabel diatas dapat diketahui bahwa nilai reliabilitas 3 konstruk berada di batas minimal 0,60 – 0,70 dan 4 konstruk berada di atas batas minimal sehingga telah memenuhi syarat yang berarti bahwa indikator-indikator yang digunakan reliabel dan relatif mampu menjelaskan variabel laten yang dibentuknya.
Sedangkan uji reliabilitas yang dilakukan dengan menggunakan SPSS melalui cronbach alpha (α), yaitu apabila cronbach alpha (α) variabel > 0,60 maka kuesioner dari variabel tersebut terbukti dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat ukur variabel.
Dari hasil pengujian tersebut dapat dinyatakan bahwa kuesioner yang digunakan untuk penelitian reliabel karena setiap variabel memiliki Cronbach’sAlpha yang lebih besar dari 0,60.
5.4.7. Uji Hipotesis
Hipotesis dinyatakan diterima jika nilai prob (P) < 0,05. Hasil uji hipotesis dapat dilihat pada tabel 5.4.7:
1. Pengaruh Word Of Mouth terhadap Keputusan Pembelian.
Word Of Mouth memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian. Artinya, semakin tinggi persepsi Word Of Mouth oleh konsumen terhadap Cat semprot maka akan semakin tinggi keputusan pembelian yang diperoleh. Menurut hasil analisis deskriptif indikator “Bicara Hal Positif “ menjadi indikator yang dianggap responden paling tinggi sebagai penilaian mereka terhadap cat semprot di Outline store Semarang. Sedangkan analisis data menggunakan SEM word of mouth dengan indikator “Rekomendasi dari orang lain” juga menjadi indikator yang dianggap responden paling tinggi sebagai penilaian mereka terhadap pembelian cat semprot di Outline store. Sehingga persepsi konsumen tentang word of mouth adalah mampu mengubah presepsi bahwa word of mouth bukan hanyalah pembicaraan yang menarik saja, word of mouth bisa lebih dari itu. Disini suatu produk tidak sekedar hanya dibicarakan dan dipromosikan , tetapi lebih dari itu. Word of mouth mampu mengubah perilaku konsumen, dari yang tidak ingin membeli jadi membeli.
Penelitian ini di dukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Ester Lina Wajayanti dan Herru Suprihhadi (2015) yang membuktikan persepsi word of mouth memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian.
2. Pengaruh Harga terhadap Keputusan Pembelian
Berdasarkan hasil penelitian statistik di atas, harga memiliki hasil yang tidak signifikan terhadap keputusan pembelian. Maka dapat dikatakan harga tidak memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian cat semprot di Outline store Semarang. Menurut hasil analisis deskriptif indikator “Terjangkau atau tidaknya
harga” menjadi indikator yang dianggap responden paling tinggi sebagai penilaian mereka terhadap cat semprot yang ada di Outline store. Sedangkan analisis data menggunakan SEM pada indikator “Potongan Harga” juga menjadi indikator yang dipertimbangkan responden sebagai penilaian mereka terhadap pembelian cat semprot di outline store. Sehingga persepsi konsumen tentang harga adalah tidak menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih cat semprot karena mereka lebih mempertimbangkan dari segi rekomendasi dari orang terdekat.
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Fifyanita Ghanimata dan Mustafa Kamal (2012) kemudian penelitian dari Reimond Yohanes Monintja, Silvya Mandey dan Agus Supandi Soegoto ( 2015 ) mengemukakan bahwa presepsi harga memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian.
3. Pengaruh Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian
Kualitas Produk memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap keputusan pembelian. Oleh sebab itu, kualitas produk tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Menurut hasil analisis deskriptif indikator “Kualitas bahan baku” menjadi indikator yang dianggap responden paling tinggi sebagai penilaian mereka terhadap cat semprot di Outline store. Sedangkan analisis data menggunakan SEM indikator “Kualitas bahan baku” juga menjadi indikator yang dianggap responden paling tinggi sebagai penilaian mereka terhadap cat semprot di Outline store. Sehingga keputusan pembelian tentang kualitas produk adalah tidak menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih cat semprot, karena mereka lebih mempertimbangkan dari segi rekomendasi orang terdekat dan Penawaran khusus dalam jangka waktu tertentu yang dilihat dari waktu konsumsi, energi konsumsi, manfaat, ekonomi, dll.
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Prana Sabrina Tamimi, Hari Susanta Nugrahadan dan Widiartanto (2015) yang mengemukakan bahwa kualitas produk memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian.
4. Pengaruh Lokasi terhadap Keputusan Pembelian
Lokasi memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap keputusan pembelian. Oleh sebab itu, lokasi tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian.
Menurut hasil analisis deskriptif indikator “ Ketersediaan lahan parkir “ menjadi indikator yang dianggap responden paling tinggi sebagai penilaian mereka terhadap cat semprot Outline store. Sedangkan analisis data menggunakan SEM indikator
“Ketersediaan lahan parkir” bukan menjadi indikator yang paling tinggi melaikan indikator “Kedekatan lokasi dengan pusat keramaian“ yang menjadi indikator yang dianggap responden paling tinggi sebagai penilaian mereka terhadap pembelian cat semprot di Outline store. Sehingga persepsi konsumen tentang keputusan pembelian adalah lokasi tidak menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih cat semprot karena mereka lebih mempertimbangkan dari segi rekomendasi orang terdekat dan Penawaran khusus dalam jangka waktu tertentu yang dilihat dari waktu konsumsi, energi konsumsi, manfaat, ekonomi, dll.
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian menurut Haja Avetoe dan Lamidi (2015) , Hal serupa juga diperoleh Fifyanita Ghanimata dan Mustafa Kamal (2012) menyatakan bahwa adanya pengaruh antara lokasi terhadap keputusan pembelian.
5. Pengaruh Citra Merek terhadap Keputusan Pembelian
Citra merek memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap keputusan pembelian. Oleh sebab itu,citra merek tidak berpengaruh terhadap keputusan pembelian. Menurut hasil analisis deskriptif indikator “Merek Cat semprot merupakan merek terkenal“ menjadi indikator yang dianggap responden paling tinggi sebagai penilaian mereka terhadap cat semprot outline store. Sedangkan analisis data menggunakan SEM keputusan indikator “Merek Cat semprot merupakan merek terkenal“ bukan menjadi indikator yang paling tinggi melaikan indikator “Merek cat semprot mudah diingat dalam benak konsumen“ yang menjadi indikator yang dianggap responden paling tinggi sebagai penilaian mereka terhadap cat semprot di Outline store. Sehingga persepsi konsumen tentang keputusan pembelian adalah citra merek tidak menjadi pertimbangan konsumen dalam memilih cat semprot karena mereka lebih mempertimbangkan dari segi rekomendasi dari orang terdekat dan Penawaran khusus dalam jangka waktu tertentu yang dilihat dari waktu konsumsi, energi konsumsi, manfaat, ekonomi, dll.
Penelitian ini di dukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Reimond Yohanes Monintja, Silvya Mandey dan Agus Supandi Soegoto, (2015). Merek berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap keputusan pembelian, Namun hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian menurut Ujang Setiawan, Ptricia Dhiana P dan Andi Tri Haryono (2015) mengemukakan bahwa citra merek memiliki pengaruh terhadap keputusan pembelian.
6. Pengaruh Promosi terhadap Keputusan Pembelian
Promosi memiliki memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Keputusan Pembelian. Artinya, semakin tinggi persepsi Promosi yang dilakukan maka semakin tinggi pula keputusan pembelian yang diperoleh. Menurut hasil analisis deskriptif indikator “Periklanan “ menjadi indikator yang dianggap responden paling tinggi sebagai penilaian mereka terhadap keputusan pembelian cat semprot. Sedangkan analisis data menggunakan SEM promosi indikator “Periklanan
“ bukan menjadi indikator yang paling tinggi melaikan indikator “Penawaran khusus dalam jangka waktu tertentu “ yang menjadi indikator yang dianggap responden paling tinggi sebagai penilaian mereka terhadap cat semprot di Outline store.
Sehingga persepsi konsumen tentang promosi adalah konsumen merasa puas terhadap persepsi nilai yang mereka berikan terhadap cat semprot di Outline store Semarang.
Penelitian ini di dukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Reimond Yohanes Monintja, Silvia Mandey dan Agus Supandi Soegoto (2015) mengemukakan bahwa adanya hubungan yang positif dan signifikan antara promosi terhadap keputusan pembelian. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Doni Hariadi dan Soebari Martoatmodjo (2012) yang menyatakan bahwa adanya pengaruh positif dan signifikan antara promosi terhadap keputusan pembelian.
5.5. KESIMPULAN DAN SARAN 5.5.1 Kesimpulan
1. Indikator-indikator yang dominan / paling berpengaruh dan paling rendah terhadap variabel yang digunakan yaitu :
a) Indikator “Rekomendasi dari orang lain “ memiliki nilai yang dominan terhadap variabel word of Mouth karena konsumen mengangap orang lain yang sudah menggunakan produk cat semprot di Outline store telah membuktikan hasilnya dengan baik. Dengan atau tanpa sengaja word of mouth yang diberikan Outline store mampu meyakinkan konsumen daripada sebuah iklan di media sosial. Sedangkan indikator “ dorongan “ memiliki nilai paling rendah terhadap variabel word of mouth karena hanya dengan dorongan dari rasa keingintahuan tidak mampu membuat seorang konsumen mengambil keputusan untuk membeli. Hal ini berarti bahwa jika variabel word of mouth naik maka keputusan pembelian juga akan meningkat.
Demikian juga sebaliknya apabila turun maka keputusan pembelian juga menurun.
b) Indikator “ potongan harga ” memiliki nilai yang dominan terhadap variabel harga karena konsumen mengangap potongan harga cat semprot yang ditawarkan Outline store belum pernah di dapatkan di tempat lain. Sedangkan indikator “ kesesuaian antara harga dengan kualitas ” memiliki nilai paling rendah terhadap variabel harga karena harga dapat menjadi pengganti dari ukuran kualitas produk ketika pembeli sulit mengevaluasi produk yang kompleks.
c) Indikator “ kualitas bahan baku “ memiliki nilai yang dominan terhadap variabel kualitas produk karena adanya kesesuaian antara kualitas bahan baku dengan hasil keluaran cat semprot yang digunakan. Sedangkan indikator “ daya tahan produk “ memiliki nilai paling rendah terhadap variabel kualitas produk karena kurang tahunya konsumen berapa lama suatu produk itu bertahan sebelum produk itu harus diganti dianggap kurang / rendah oleh konsumen karena belum sesuai dengan yang konsumen harapkan.
d) Indikator “ kedekatan lokasi dengan pusat keramaian ” memiliki nilai yang dominan terhadap variabel lokasi karena konsumen mengangap ketika sebuah instansi atau toko ramai maka barang-barang yang dijual pun memiliki kuantitas yang baik. Sedangkan indikator “ kenyamanan lingkungan ” memiliki nilai paling rendah terhadap variabel lokasi hal ini disebabkan karena lokasi toko Outline store berada di dekat perumahan penduduk yang membuat ketenangan harus selalu terjaga.
e) Indikator “ merek cat semprot mudah diingat dalam benak konsumen ” memiliki nilai yang dominan terhadap variabel citra merek karena citra merek harus dapat mempresentasikan keseluruhan presepsi konsumen terhadap merek yang terbentuk karena informasi dan pengalaman konsumen terhadap suatu merek. Sedangkan indikator “Modern / outdated “ memiliki nilai paling rendah terhadap variabel citra merek yang disebabkan karena masih kurang berkembangnya desain dan kemasan yang mengakibatkan kerusakan berarti dalam kemasan yang sudah lama.
f) Indikator “Penawaran khusus dalam jangka waktu tertentu” berperan dominan terhadap variabel promosi karena dengan adanya promo disetiap akhir tahun selain sebagai alat komunikasi antara perusahan dengan konsumen, promo juga sebagai alat untuk mempengaruhi konsumen dalam kegiatan pembelian atau penggunaan produk sesuai dengan kebutuhan dan
keinginannya Sedangkan indikator “Periklanan “ memiliki nilai paling rendah terhadap variabel promosi. Hal ini berarti bahwa jika variabel promosi naik maka keputusan pembelian juga akan meningkat. Demikian juga sebaliknya apabila turun maka keputusan pembelian juga menurun.
2. Word of mouth berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian cat semprot di Outline store Semarang.
3. Harga berpengaruh tidak signifikan terhadap keputusan pembelian cat semprot di Outline store Semarang.
4. Kualitas Produk berpengaruh tidak signifikan terhadap keputusan pembelian cat semprot di Outline store Semarang.
5. Lokasi berpengaruh tidak signifikan terhadap keputusan pembelian cat semprot di Outline store Semarang.
6. Citra Merek berpengaruh tidak signifikan terhadap keputusan pembelian cat semprot di Outline store Semarang.
7. Promosi berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan pembelian cat semprot di Outline store Semarang.
5.5.2 Saran
Saran yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Sebaiknya perusahaan melakukan Amplified word of mouth seperti sebuah kampanye yang dirancang untuk mendorong atau mempercepat penyampaian word of mouth kepada konsumen. Perusahaan seharusnya lebih menekan informasi produknya kepada masyarakat sehingga masyarakat nantinya mengenal dan kemudian membeli produk cat semprot di Outline store. Misalnya seperti menciptakan sebuah komunitas, mengembangkan alat-alat yang memungkinkan orang untuk berbagi pendapat mereka, atau mengidentifikasi dan menjangkau orang-orang berpengaruh dalam masyarakat. Hal ini dikarenakan indikator dari word of mouth dengan item pertanyaan “Dorongan” mempunyai rata-rata terendah dibandingkan dengan item pertanyaan lainnya meskipun masih tergolong baik/tinggi.
2. Dilihat dari persepsi responden indikator potongan harga, angsuran dan daya saing harga dinilai kurang, karena konsumen yang menyukai dan membutuhkan cat semprot tidak memandang penawaran yang di sediakan oleh Outline store.
Sebaiknya perusahaan melakukan free trial untuk memberi kesempatan konsumen mencoba produk cat semprot yang akan digunakan agar konsumen merasa puas dan tidak salah memilih.
3. Dilihat dari presepsi responden daya tahan produk dan kemudahan penggunaan masih dinilai kurang, sebaiknya perusahaan melakukan usaha “terlibat” yang dalam arti status motivasi yang menggerakkan serta mengarahkan proses kognitif dan perilaku konsumen pada saat mereka membuat keputusan.
Keterlibatan tersebut mengacu pada persepsi konsumen tentang pentingnya seorang konsumen tahu tentang kegunaan serta daya tahan suatu produk.
4. Bagi peneliti selanjutnya, sebaiknya meneliti keputusan pembelian cat semprot di Outline store Semarang menggunakan variabel lain yang lebih mampu memberikan hasil yang akurat dibandingkan penelitian ini.
DAFTAR PUSTAKA
Etta, M. S., & Sopiah. (2013). Perilaku Konsumen Pendekatan Praktis. Yogyakarta:
ANDI.
Kotler, P., & Keller, K. L. (2012). Maketing Management. New Jersey: Prentice Hall.
Kusnendi. (2008). Model - Model Persamaan Stuktural. Bandung: Alfabeta.
Kotler, P. dan Gary Armstrong. 2008. Prinsip-Prinsip Pemasaran. Edisi 12. Jilid 1.
Jakarta : Erlangga.
_________________________. 2008. Prinsip-Prinsip Pemasaran. Jilid 1 dan 2. Edisi 12. Jakarta: Erlangga.
http://dripsndrops.com/
Kotler, Philips. 2009. Manajemen Pemasaran (Terjemahan). Jilid 9. Jakarta: PT.
Prehalindo.
Lovelock, C., Wirtz, J., & Mussry, j. (2012). Pemasaran Jasa Manusia, Teknologi, Strategi Perspektif Indonesia. Jakarta: Erlangga.
Prana Sabrina Tamimi, H. S. (2015). Pengaruh Citra Merek Dan Kualitas Produk terhadap Keputusan Pembelian Laptop Merek Dell di Kota Semarang.
Diponegoro Journal Of Social And Political Of Science , 1-10.
Santoso, S. (2015). AMOS 22 untuk Structural Equation Modeling Konsep Dasar dan Aplikasi. Elex Media Komputindo.
Sarjono, H., & Julianita, W. (2015). Structural Equation Modeling (SEM). Jakarta:
Salemba Empat.
Sugiyono. (2010). Metode Penelitian Bisnis. Alfabeta.
Sujarweni, V. W. (2014). Metodologi penelitian. Yogyakarta:
PUSTAKABARUPRESS.
Tjiptono, F. (2014). Pemasaran Jasa. Yogyakarta: ANDI.
Tjiptono, F., & G., C. (2012). Pemasaran Strategik Edisis 2. Yogyakarta: ANDI.
http://www.tagkingstore.com/
http://garduhouse.com/
Kamal, F. G. (2012). Analisis Pengaruh Harga, Kualitas Produk, dan Lokasi Terhadap Keputusan Pembelian (Studi pada Pembeli Bandeng Juwana Erlina Semarang ). DIPONEGORO JOURNAL OF MANAGEMENT , 1, 1-10.
Lamidi, H. A. (2015). Pengaruh Harga, Kualitas Pelayanan dan Lokasi terhadap Keputusan Pembelian Konsumen. Jurnal Ekonomi dan Kewirausahaan . Martoatmodjo, D. H. (2012). Pengaruh produk, harga, promosi dan distribusi
terhadap keputusan pembelian konsumen pada produk projector microvision.
jurnal Ilmu dan Riset Manajemen .
Md Reaz Uddin, N. Z. (2014). Factors Affecting Customer Buying Decision Of Mobile Phone : A Study On Khulna City Bangladesh.
Nur Achidah, M. M. (2016). Pengaruh Promosi, Harga dan Desain terhadap Keputusan Pembelian Sepeda Motor Mio GT (Studi Empiris pada produk Yamaha Mio GT di Weleri-Kendal). Journal of Management .
Reimond Yohanes Monintja, S. M. (2015). Analisis merek, promosi, dan harga pengaruhnya terhadap keputusan pembelian di galael swalayan Manado.
Jurnal EMBA , 3, 279-289.
Sunyoto, D. (2013). perilaku konsumen. Yogyakarta.
Suprihhadi, E. L. (2015). Pengaruh Kualitas Layanan dan Word of Mouth Terhadap Keputusan Pembelian Jasa Karoseli. jurnal Ilmu dan Riset Manajemen , 4.
Ujang Setiawan, P. D. (2015). Pengaruh Citra Merek, Harga, Kualitas Produk dan Gaya Hidup terhadap Keputusan Pembelian Handphone Blackberry Gemini (Studi pada Mahasiswa Mahasiswi Fakultas Ekonomi Pandanaran Semarang).
jurnal Manajemen pemasaran .
Shimp, T. A. (2014). Komunikasi Pemasaran Terpadu. Dalam Integrated Marketing Communication in Advertising and Promotion (F. S. Harya bhima sena, Penerj., 8 ed., hal. 66-67). Salemba Empat.
http://www.wadezig.com