--
----Pikiran
Rakyat
.
Sen;n123
17
18
19
OJan
OPeb
o Sa/asa 0 Rabu 0 Kam;s 0 Jumat
4
5
6
7
(!)
9
10
11
20
21
22
23
24
25
26
o
Mar OApr o Me; 8Jun OJu/ 0 Agso
Sabtu0
M;nggu12
13
14
15
16
27
28
29
30
31
OSep
OOkt
ONov
'ODes
G
ENG motor marak lagi di kota Bandung. Kondisi ini sangat meresahkan masya-rakat, sehingga dapat dikategorikan sebagai kondisi patologi sosial, pe-nyakit masyarakat yang perlu sege-ra diobati. Bahkan, banyak di anta-ra perilaku geng motor dapat dika-takan sebagai tindak kriminal.Pertanyaannya, apakah kita gagal menanggulanginya? Apakah peme-rintah daerah dan penegak hukum kurang tegas? Padahal, ketika geng motor merajalela dua tahun laIu di B/lDdung, kepolisian pemah mem-permaklumkan untuk melakukan tembak di tempat kepada geng mo-tor, yang melakukan kejahatan ke-kerasan.
pertanyaan lainnya, bagaimana orang tua di rumah mendidik anak-nya agar tidak terIibat dalarn geng motor? Atau ini salah satu cermin-an kegelisahcermin-an masyarakat kota, khususnya para remaja kota? Begi-tu banyak pemyataan yang harns dijawab dan ditindak lanjuti, seba-gai upaya pencegahan dan penang-gulangan maraknya geng motor.
Tentu saja hal ini perIu ditangani dengan segera agar tidakjatuh kor-ban lebih kor-banyak, karena perilaku geng motor tersebut sudah sangat brutal. Inilah potret kiwari masya-rakat kota, yang juga sudah ditiru
-if.
remaja di kota-kota keeil di seluruh Indonesia. Satu ekspresi diri yang keliru dan mengganggu ketente-rarnan umum.
Pada awalnya, para remaja terse-but bermain bersama dengan kegi-atan eksperimen (coba-coba) yang merangsangjiwa, menyenangkan hati, dengan keinginan untuk me-nonjolkan diri di antara mereka. Kegiatan coba-coba itu menjurus pada 'kompetisi' yang kadang-ka-dang tidak terkendali, liar dan ugal-ugalan, serta antisosial, karena mengganggu kehidupan bermasya-rakat. Tidakjarang akhimya men-jadi aksi kekerasan atau bahkan ke-jahatan.
Kondisi tersebut larna-kelamaan berwujud, menjadi perilaku yang
delinkuen dan jika dilakukan
ber-kelompokterbentuklah geng
delin-kuensi yang umumnya banyak
tumbuh di kota-kota besar. Hal ini disebabkan adanya perubahan struktur sosial, memperIemah nilai-nilai tradisional yang berasosiasi dengan penundaan kepuasan. Jum-lah motor bertambah tidak terken-dali, belum lagi peningkatan jum-lah anak muda dari kelas mene-ngah, yang tidak lagi memiliki ke-yakinan bahwa cara untuk menca-pai tujuan mereka adalah melalui keIja ke~ dan menunda kese-
---nangan. Maka tum-buh suburIah buda-ya hedonisme.
~al Apabila geng me-reka diekspos di media massa, me-reka merasa sangat bangga. Akibatnya, mereka semakin berIomba-lomba untuk lebib banyak melakukan perilaku yang dianggap me-nimbulkan sensasi akan dipublikasi-kan oleh media.
Kadang-kadang mereka tidak me-nyadari perbuatan tersebut, dapat
di-kategorikan sebagai perbuatan kri-minal. Misalnya merampas milik orang lain, melakukan tindak keke-rasan, tawuran antargeng, dan me-lakukan pembunuhan terhadap anggota geng lain maupun pengen-dara motor lain atau masyarakat.
Kadang mereka tidak sadar, ada kemungkinan para penjahat tulen menyusup ke dalam geng motor. Pada akhimya, masyarakat meng-anggap perilaku kriminal tersebut dilakukan para remaja, yang sehe-namya tidal<berniat untuk
melaku-Wbnnya.
Penyusupan ter-sebut sulit untuk di-identifikasikan, ka-renajumlah motor di Kota Bandung sangat banyak. Ke-tika melakukan operasi, mereka menggunakan helm
cakil yang
menu-tupi seluruh wajah. Jadi, sulit sekali mengidentifikasi pelaku apalagi de-ngan kostum dan motor yang relatif sarna bentuk dan mereknya.
Inilah yang mem-_ .. buat polisi dua ta-bun lalu, melakukan tindakan re-presif dan mempermaklumkan tembak di tempat bagi para pelaku kekerasan dari geng motor. Narnun demikian, polisi harns berhati-hati menumpas perilaku kriminal terse-but, sehingga masyarakat tidak re-sah. Terutama para orang tua, yang kebetulan anak remajanya terlibat dalarn geng motor. Polisi harns be-nar-benar bekeIja keras, untuk me-nyisir remaja yang delinkuen de-ngan para kriminal yang berkedok
geng mot~rjuga provQkator.
_Kliping
Hum as
Un pad
2009
OOK.1"PR~
YESMILAnwar. *
----
W-Pena;;ggul~gah te-..p;.du
Jika melihat maraknya kembali geng motor, tampaknya perIu dila-kukan penanggulangan'terpadu. Pertama, tindak pidanayang dila-kukan kelompok geng bermotor di Kota Bandung, diatur s~a khu-sus dalam satu peraturap daerah (perda). Perda ini secaQ! yuridis, harns mengacu pada pe(:1mdang-undangan yang lebih tijtggi.
Perda tersebut mesti'memuat ke-tentuan penanganan masalah keja-hatan remaja yang melUmti empat unsur, yaitu preventif,Jepresif,
ku-.
ratif, dankoordinatif. ~entuan
sanksinya dibuat lebih ~egas tidak hanya terhadap pelaku",tetapi kepa-da anggota kelompok g~ng lainnya yang memengaruhi u~ melaku-kan tindak kejahatan tJ{rsebut. Dan yang sangat penting iatllh penyu-luhan hukum kepadaafiggota geng motor agar mereka "melek hukum". Kedua, harns melib3fkan berba-gai pihak dalam masy#akat. Yaitu upaya pembinaan dilai{ukan tidak hanya terhadap pelaku;tindak pida-na, tetapi terhadap seD.;!.uaunsur
dalam masyarakat,
~
aparat
pe-negak hukum, instans}tinstansi yang terkait, dan masjilrakat luas.
Pemerintah, ~anSf-instansi ter-kait, masyarakat 1dlUsqsnya keluar-ga, dapat melakukan
WU-halseba-gai berikut untuk paJ'3l,remaja, yaitu memberikan kesempi\tan kepada anak muda untuk beremansipasi dengan cara yang seljt, menyert(i,-kan mereka pada keg;,atan penting demi keadilan merata:, membuka ruang publik seluas-wasnya bagi remaja untuk berkaqfa dan berkre-asi, memberikan bentuk kegiatan dan pendidikan yanglebih relevan dengan kebutuhan a)fak muda za-man sekarang, serta~danya kaitan dengan pengemban~n bakat dan potensi anak remaja{c) memberi-kan bekal yang cuku~ bagi remaja untuk menyongsong!tahap berikut-nya, sebagai manusia dewasa seu-tuhnya yang akan ~baur dengan kehidupan berm~rakat.
Ketiga, untuk si rfjrnajanya, di-perIukan sikap ma~ diri dalam melihat kelemahan,dan kekurang-an diri serta melaldWkekurang-an introspeksi sertakoreksi terhadlip kekeliruan yang telah dilakuka:$. Sebaliknya, orang tua dan para
,
pembina remaja harns memperban1J,U<kearifan, ke-baikan, dan keadilifl, agar orang dewasa dapat dija<Jikan panutan bagi anak-anak m~"a, demi per-kembangan dan pr(jses kultivasi ge-I nerasi muda penertge-Is bangsa.(Yes-roll Anwar, S.H
~
M.Si., dosen
Fakultas Hukum,
iversitas
.pad-jadjaran BandWlg;***
-
---
--