• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS PROGRAM RTTIC DAN ATCS UNTUK MENGATASI KEMACETAN DI KOTA MALANG (STUDI KASUS : DISHUB KOTA MALANG)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "EFEKTIVITAS PROGRAM RTTIC DAN ATCS UNTUK MENGATASI KEMACETAN DI KOTA MALANG (STUDI KASUS : DISHUB KOTA MALANG)"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

357

EFEKTIVITAS PROGRAM RTTIC DAN ATCS

UNTUK MENGATASI KEMACETAN DI KOTA MALANG (STUDI KASUS : DISHUB KOTA MALANG)

Busyra Nur1, Niken Dyah Nawang Wulan2, Muhammad Fadil3 Universitas Muhammadiyah Malang

Alamat Korespondensi: [email protected]

ABSTRAK

Kemacetan di Indonesia adalah salah satu permasalahan yang fundamental yang sering dihadapi oleh Negara berkembang seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk. Kemacetan merupakan situasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhenti nya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan, kemacetan sering terjadi di kota-kota besar di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung, tak terkecuali Malang. Faktor penyebab terjadinya kemacetan karena luas jalan tidak cukup untuk menampung jumlah kendaraan, parkir di sembarangan tempat, tidak tertibnya pengguna jalan, banjir, kelayakan atau kerusakan jalan, dan kecelakaan lalu lintas. Jurnal ini bertujuan untuk mengetahui program serta implementasi dari program tersebut untuk mengatasi kemacetan di Kota Malang, jurnal ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang pada dasarnya bersifat deskriptif, menggunakan analisis, mengacu pada data, memanfaatkan teori yang ada sebagai bahan pendukung. Malang merupakan salah satu kota besar di Indonesia tepatnya di Provinsi Jawa Timur, Malang menjadi salah satu kota yang banyak menarik minat masyarakat baik untuk menempuh pendidikan ataupun berlibur serta maka tidak heran Malang mengalami kemacetan. Dinas Perhubungan di Kota Malang dalam mengatasi kemacetan yang terjadi di Kota Malang mengimplementasikan program yang bernama RTTIC serta ATCS, dimana program tersebut mempunyai fungsi memantau persimpangan yang merupakan titik- titik kemacetan di Kota Malang. Road Traffic and Transport Information Center (RTTIC) yakni aplikasi yang dapat digunakan masyarakat Kota Malang untuk mengetahui informasi situasi arus lalu lintas secara langsung dan aplikasi RTTIC terkoneksi pula terhadap aplikasi Area Traffic Control System (ATCS) yang mana aplikasi ini berfungsi untuk mengetahui beberapa persimpangan di jalan Kota Malang serta dapat mengatur Traffic Light di beberapa persimpangan tersebut.

Kata Kunci : ATCS, Efektivitas, Kemacetan, RTTIC

ABSTRACT

Congestion in Indonesia is one of the fundamental problems often faced by developing countries in line with the population increase. Congestion is a situation or circumstances of his delays or even halted traffic caused by the large number of vehicles exceeds the capacity of the road, traffic jams often occur in big cities in Indonesia such as Jakarta, Surabaya, Bandung, Malang was no exception. Factors that cause congestion because road width is not enough to accommodate the number of vehicles, parked in haphazard place, not his orderly road users, flood, or the feasibility of road damage and traffic accidents. This journal aims to determine the program and the implementation of the program to tackle congestion in Malang, This journal uses qualitative research methods are essentially descriptive, analysis, referring to the data, utilizing the existing theories as support material. Malang is one of the major cities in Indonesia precisely in the province of East Java, Malang became one of the cities which attracted many good people to pursue education or a vacation, and it is no wonder the unfortunate experience congestion. Department of Transportation in the city of Malang in overcoming bottlenecks that occur in the city of Malang implement a program called RTTIC and ATCS, where the program has the function to monitor the intersections are points of congestion in the city of Malang.

Keywords: ATCS, Congestion, Effectibeness, RTTIC

PENDAHULUAN

(2)

358 Kota merupakan suatu pusat kegiatan administrasi secara kenampakan fisik, dilihat dari pembangun infrastruktur yang berfungsi sebagai sarana penunjang kegiatan penduduk kota, dan berbagai macam problematika yang terjadi di jalan seperti kemacetan. Pembangunan kota yang terus berjalan dan terus adanya pembaharuan sebagai suatu gambaran meningkatnya aktivitas di sebuah kota tersebut. Problematika dalam dalam hal kemacetan di kota-kota besar yang ada di Indonesia terjadi karena kota tersebut sebagai tempat mencari nafkah sehingga terjadi kepadatan penduduk dan menjadikan bertambahnya alat transportasi baru dengan tujuan meningkatkan strata pada setiap penduduk.

Kemacetan di Indonesia adalah salah satu permasalahan yang sulit di atasi.

Kemacetan merupakan siatuasi atau keadaan tersendatnya atau bahkan terhentinya lalu lintas yang disebabkan oleh banyaknya jumlah kendaraan melebihi kapasitas jalan. Kemacetan lalu lintas sering dialami di kota-kota besar di Indonesia seperti kota Jakarta, Surabaya, Malang, Bandung, Sidoarjo, dan lain-lain. Faktor penyebab kemacetan terjadi karena luas jalan tidak menampung jumlah kendaraan, parkir di sembarangan tempat, tidak tertibnya lalu lintas, kurangnya transportasi umum, banjir, kelayakan atau kerusakan jalan, serta kecelakaan lalu lintas.

Kemacetan yang terjadi di Kota Malang, karena masalah bertambahnya jumlah kendaraan pribadi baik sepeda motor maupun mobil pribadi, sehingga menjadikan kapasitas jalan tidak sesuai dengan jumlah kendaraan. Beberapa ruas jalan yang kerap dilanda kemacetan panjang sering terjadi di pertigaan lampu merah Jalan Dinoyo, perempatan lampu merah ITN dan pertigaan jembatan Soekarno Hatta. Masalah kemacetan yang sering terlihat adalah kemacetan di jalan Soekarno Hatta tepatnya di sepanjang jembatan layang jalan Soekarno Hatta, dimana ini merupakan jalan utama yang ada di Kota Malang, dikarenakan penataan jalan yang kurang bagus. Karena itulah Kota Malang sebagai salah satu kota besar di Indonesia yang mempunyai masalah kemacetan yang sulit untuk diatasi.

Pemerintah kota Malang seharusnya cepat tanggap dengan masalah baru yang terjadi kini, karena jika tidak sesegera mungkin diatasi, maka akan semakin meluas dan akan menjadi masalah yang kompleks di Kota Malang ini. Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk mengambil judul “Kebijakan Pemerintah Kota Malang untuk Mengatasi Kemacetan di Kota Malang.

(3)

359 Tabel 1. Jumlah Kendaraan Yang Masuk Ke Kota Malang Menurut Jenis Kendaraan

Tahun (2016 – 2018)

Dari lampiran tabel di atas bahwasanya ada beberapa jenis kendaran yang setiap tahunya memasuki Kota Malang. Yang mana setiap tahunnya ada beberapa jenis kendaraan yang memasuki Kota Malang mengalami peningkatan, maka dari itu inilah salah satu faktor yang membuat Kota Malang timbulnya kemacetan karena dari Kota Malang tersebut akan semangkin padat dalam beralalu litas dan juga luas Kota Malang ini bisa dikatakan sempit dan penduduknya sangant maksimum.

Titik-titik kemacetan yang ada di daerah Kota Malang ini disebabkan karena infrastruktur pada titik tersebut tidak memadai. Infrastruktur yang tidak memadai

(4)

360 ini seperti, ada jalan-jalan yang dinilai cukup sempit untuk berlalu larangnya kendaraan bermotor, jalan yang rusak, adanya parkir liar yang memanfaatkan jalan raya. Titik-titik kemacetan di jalan raya pada Kota Malang ada di beberapa daerah misalnya :

1. Jl. Soekarno Hatta 2. Jl. Gajayana 3. Jl. MT. Haryono 4. Jl. Sigura-gura (ITN 1) 5. Jl. Ahmad Yani 6. Jl. Mertojoyo 7. Jl. Bendung Sutami 8. Jl. Sumbersari 9. Jl. Bogor 10. Jl. Mertojoyo 11. Jl. Borobudur

12. Jl. Letjedn S. Parman 13. Jl.Laksda adi Sucipto

HTP Heteronom yang mengatur tentang kemacetan lalu lintas, antara lain : 1. UU Nomor 22 Tahun 2009, tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

2. UU Nomor 22 Tahun 2009 pasal 5, tentang Pembinaan dibidang registrasi dan identifkasi kendaran bermotor dan pengemudi, penegakan hukum, operasional manajemen.

3. UU Nomor 22 Tahun 2009 pasal 245, tentang Lalu Lintas dan angkutan jalan pengembangan sistem informasi dan komunikasi di bidang sarana dan prasarana lalu lintas dan angkutan jalan.

HTP Otonom yang mengatur tentang permasalahan kemacetan, antara lain : 1. PP Nomor 32 Tahun 2011, tentang manajemen dan rekayasa, analisa

dampak serta manajemen kebutuhan lalu lintas.

2. Peraturan Walikota Malang Nomor 6 Tahun 2011, tentang Kawasan Tertib Lalu Lintas.

(5)

361 3. Peraturan Walikota Malang Nomor 35 tahun 2013, tentang Rekayasa Lalu

Lintas di Kawasan Jl. Sumbersari-Jl. Gajayana-Jl. MT. Haryono-Jl. DI.

Panjaitan-Jl. Bogor.

4. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 96 Tahun 2015, tentang Pedoman Pelaksanaan Kegiatan Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas.

1.1 Rumusan Masalah

1. Dari semua penjelasan diatas mengenai permasalah kemacetan yang terjadi di Kota Malang, bagaimana keseriusan ataupun upaya dinas perhubungan (DISHUB) dalam program RTTIC dan ATCS untuk menangani permasalahan kemacetan di era revolusi industri 4.0 ini?

1.2 Tujuan Dan Manfaat Penelitian Tujuan

Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui program dan implementasi kebijakan pemerintah Kota Malang mengenai masalah kemacetan dan juga untuk mengetahui bagaimana peran masyarakat terhadap kebijakan pemerintah mengenai masalah kemacetan.

1.3 Manfaat

Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan gambaran obyektif terkait dengan pengentasan kemacetan terhadap kebijakan dinas perhubungan (DISHUB) dalam pengentasan kemacetan di Kota Malang serta dapat digunakan sebagai tolak ukur pelayanan yang sudah dilakukan oleh Dinas Perhubungan Kota Malang..

a. Manfaat Akademik

Dengan mengetahui kebijakan pemerintah daerah Kota Malang dalam pengentasan kemacetan diharapkan dapat menambah atau memperkaya pengetahuan tentang tatanan maupun strategi yang ada di dalam pemerintah Kota Malang.

b. Manfaat Dunia Praktis

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan input bagi pemerintah Kota Malang dalam kebijakan pemerintah dalam pengentasan kemacetan.

(6)

362 c. Kontribusi Riset

Dari kontribusi riset ini dapat memberikan informasi mengenai kebijakan pemerintah daerah dalam pengentasan kemacetan di Kota Malang dan lebih di akuratkan dan lebih diperkenalkan ke masyarakat terkait program RTTIC dan ATCS tersebut.

METODE PENELITIAN 1.1 Pendekatan Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif karena penelitian yang pada dasrnya menggunakan pendekatan induktif-deduktif. Pendekatan ini berasal dari suatu kerangka teori gagasan para ahli maupun pemahaman peneliti berdasarkan pengalamannya, kemudian dikembangkan menjadi permasalahan-permasalahan beserta pemecahaannya yang diajukan untuk memperoleh kebenaran (verifikasi) dalam bentuk dukungan data empiris di lapangan. Pengumpulan data yang peneliti lakukan melalui penelitian secara langsung di lapangan atau tempat yang penulis teliti. Dengan cara melihat dan memeriksa permasalahan yang diangkat secara langsung. Dengan cara ini akan lebih mempermudah dalam mendapatkan informasi secara langsung tentang permasalahan tersebut.

1.2 Lokasi Penelitian

Lokasi Penelitian ini akan dilakukan di Kantor Dinas Perhubungan di Kota Malang. Kantornya berada di JL. Raden Intan No. 1 Karanglo, Polowijen, Blimbing, Kota Malang, Jawa Timur 65126.

1.3 Jenis Data

Penelitian ini sumber data yang akan digunakan berupa jenis data primer, karena data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya yang berupa wawancara. Untuk pengumpulan data dilakukan wawancara kepada Dinas Perhubungan Kota Malang atau sebagai narasumber informasi yang dibutuhkan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung untuk memperoleh data.

Jenis data penelitian sekunder kami gunakan untuk mendukung data primer dalam bentuk pengumpulan data yang kami targetkan dari hasil wawancara seperti, dokumen-dokumen yang dimiliki Dinas Perhubungan Kota Malang, berupa data,

(7)

363 gambar, grafik peta dari persentase pencapaian terhadap inovasi aplikasi “RTTIC dan ATCS’’ sebagai validitas hasil penelitian yang kami lakukan.

Pada penelitian ini kelompok kami ingin mencari data tentang penyebab terjadinya kemacetan, cara mengatasi kemacetan, untuk mengetahui program RTTIC dan ATCS yang dibuat oleh pemerintah Kota Malang dalam menangani masalah kemacetan lalu lintas jalan raya. Dari data tersebut nantinya kami dapat menyimpulkan bahwa bagaimana keefektifitasan program yang dibuat oleh pemerintah itu dapat berjalan dengan baik atau tidak, sesuai dengan program yang telah dibuat sejak awal untuk dapat mengurangi masalah kemacetan lalu lintas untuk memelihara ketertiban dan ketentraman di jalan raya.

1.4 Teknik Pengumpulan Data

Sumber data yang akan digunakan berupa jenis data primer, karena data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber aslinya yang berupa wawancara. Untuk pengumpulan data dilakukan wawancara kepada Dinas Perhubungan Kota Malang atau sebagai narasumber informasi yang dibutuhkan melalui tatap muka dan tanya jawab langsung untuk memperoleh data. Jenis data penelitian sekunder kami gunakan untuk mendukung data primer dalam bentuk pengumpulan data yang kami targetkan dari hasil wawancara seperti, dokumen- dokumen yang dimiliki Dinas Perhubungan Kota Malang, berupa data, gambar, grafik peta dari persentase pencapaian terhadap inovasi “RTTIC dan ATCS’’

sebagai validitas hasil penelitian yang kami lakukan.

1.5 Teknik Analisis Data

Teknis analisis data yaitu data yang telah terkumpul dari hasil wawancara dan studi kepustakaan atau dekomentasikan, dianalisis dan ditafsirkan untuk mengetahui maksud serta maknanya, kemudian dihubungkan dengan masalah penelitian. Data yang terkumpul disajikan dalam bentuk narasi dan kutipan langsung hasil wawancara. Pengumpulan data dengan cara:

1. Perencanaan; Peneliti merancang hasil wawancara baik wawancara maupun data yang telah ditemukan dalam bentuk laporan hasil penelitian yang dilakukan di Dinas Perhubungan (DISHUB) Kota Malang.

2. Pelaksanaan; Peneliti melaksanakan mengamatan dan memahami bagaimanana peran pemerintah terhadap masyarakat Kota Malang dalam

(8)

364 pelayanan publik di Dinas Perhubungan (DISHUB) Kota Malang sehingga dapat menyimpulkan. Selanjutnya Peneliti menguji coba, menganalisis dan menetapkan instrumen penelitian.

3. Evaluasi; Pada tahap ini peneliti akan menganalisis dan mengelola data yang telah dikumpulkan dengan metode yang sudah ditentukan.

4. Penyusunan Laporan; Pada tahap ini, kegiatan yang dilakukan adalah menyusun hasil dari pada pengumpulan data dan melaporkan hasil-hasil penelitian.

TINJAUAN PUSTAKA Kemacetan

Kemacetan banyak terjadi di kota-kota besar, terutamanya yang tidak mempunyai transportasi publik yang baik atau memadai ataupun juga tidak seimbangnya kebutuhan jalan dengan kepadatan penduduk, misalnya saja pada Kota Malang, kemacetan lalu lintas menjadi permasalahan sehari-hari. Malang merupakan kota pendidikan yang menjadi daerah tujuan bagi para calon pelajar yang berasal dari dalam maupun luar pulau jawa. Selain sebagai kota pendidikan Malang juga sebagai kota wisata yang cukup banyak menarik perhatian wisatawan untuk dikunjungi. Sehingga tidak heran lagi kalau Kota Malang menjadi salah satu kota yang volume kemacetan pada lalu lintas jalan rayanya cukup tinggi. Dengan jumlah penduduk Kota Malang yang cukup tinggi dan ditambah dengan penduduk luar Malang yang berdomisili deerah Malang, makin menambahkan volume kemacetan yang terjadi. Memang kemacetan itu merupakan gejala yang setiap hari dihadapi oleh warga masyarakat Kota Malang yang sehari-harinya mempergunakan jalan raya. Penggunaan jalan raya tersebut senantiasa harus didasarkan atas keserasian antara ketertiban (umum) dengan ketentraman (pribadi).

Kemacetan sendiri memiliki pengertian, kondisi dimana kendaraan tidak dapat bergerak dengan lancar pada waktu tertentu dikarenakan volume kendaraan yang berlebihan dan tidak sesuai dengan infrastruktur yang ada. Kemacetan yang terjadi di Kota malang ini terjadi karena tidak adanya keseimbangan antara Suplai dan Demand dalam hal ini adanya keseimbangan infrasturuktur dan jumlah kendaran yang ada. Dari tahun ke tahun jumlah atau volume kendaran terus

(9)

365 meningkat, namun peningkatan ini tidak di imbangi dengan pembangunan infrasturktur jalan yang memadai sehingga mengakibatkan kemacetan, selain itu ada faktor lain yang juga mengakibatkan kemacetan yaitu kesalahan dalam tata guna lahan dimana banyak kampus-kampus yang hanya menumpuk atau memfokuskan perkuliahan hanya pada satu kampus saja dan tidak membangun kampus di daerah lain yang mengakibatkan aktifitas mahasiswa hanya terfokus pada satu wilayah saja contoh nyatanya seperti yang terjadi pada Universitas Brawijaya, ini berakibat terjadinya kemacetan di daerah Jl .Soekarno-Hatta di setiap waktu-waktu tertentu biasanya pada saat jam masuk dan pulang kuliah mahasiswa, selain itu perumahan dan pusat perdagangan juga hanya berkembang di daerah yang di nilai ramai. Kemudian penyebab kemacetan lainnya ialah, jumlah volume kendaraan baru yang dikeluarkan oleh dealer tidak ada batasan, sehingga hampir setiap hari ada sekitar 200 motor dan 10 mobil yang di keluarkan oleh dealer.

Efektivitas

Efektifitas juga dapat diartikan seperti yang diutarakan oleh Soeseno Handayaningrat (2010) adalah apabila suatu tujuan atau sasaran telah tercapai sesuai dengan rencana. Dan menurut H.E.Merson dalam buku yang sama memandang efektivitas sebagai pengukuran dalam arti tercapainya sasaran atau tujuan yang telah ditentukan sebelumnya. Dapat pula diartikan suatu kondisi atau keadaan. Dimana dalam memilih tujuan yang hendak dicapai atau sasaran atau peralatan yang digunakan disertai dengan kemampuan yang dimiliki adalah tepat, sehingga tujuan yang diinginkan dapat dicapai dengan hasil yang memuaskan (Martoyo, 2014)

Sinangan (2009), mengemukakan empat konsep atau cara untuk memahami efektivitas, yaitu : Berkaitan dengan hubungan antara teori-teori organisasi yang modern maupun klasik tentang output maupun input, Efektivitas dianggap sebagai perbandingan atau tingkatan dimana sasaran yang dikemukakan dapat dianggap tercapai, Memahami efektivitas adalah efektivitas external atau perbandingan antara evaluasi lingkungan suatu unit output dan evaluasi suatu unit input, Kemampuan untuk tetap berlangsung, beradaptasi dan berkembang tanpa memperdulikan tujuantujuan khusus yang akan dicapai.

(10)

366 Dari pendapat-pendapat diatas, timbulah pertanyaan, bagaimana kriteria- kriteria apa yang menjadi ukuran efektifitas organisasi. Dalam kaitan itu, Gibson dkk mengemukakan adanya lima hal pokok yang menjadi ukuran efektifitas, yaitu:

Produksi yaitu mengacu pada ukuran output utama organisasi baik menyangkut jumlah, maupun kualitas keluaran yang dibutuhkan lingkungan, Efesiensi yang mengacu pada ukuran penggunaan sumber daya organisasi, Kepuasan yaitu menunjukkan tingkat dimana organisasi memenuhi kebutuhan karyawan / anggotanya, Adaptasi yaitu tingkat dimana organisasi dapat dan benar-benar tanggap terhadap perubahan internal dan eksternal atau mengacu pada kemampuan manajemen, merasakan perlunya perubahan dalam organisasi, Pengembangan yaitu kemampuan organisasi untuk meningkatkan kapasitas dalam menghadapi tuntunan lingkungan atau mengukur tanggung jawab organisasi dalam memperbesar kapasitas dan potensinya untuk berkembang.

Road Traffic and Transport Information Center ( RTTIC )

Dengan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang pesat serta potensi pemanfaatannya yang luas, membuka peluang untuk pengaksesan dan pengelolaan informasi bagi masyarakat umum. Oleh karena itu Dinas Perhubungan Kota Malang membuat suatu program atau aplikasi berbasis android yang bernama Road Traffic and Transport Information Center ( RTTIC ) yang akan dikoneksikan dengan Area Traffic Control System (ATCS) Dinas Perhubungan Kota Malang.

Dengan aplikasi tersebut masyarakat umum dapat mengetahui informasi situasi arus lalu lintas yang secara langsung. Program RTTIC dapat di download di google play store dengan nama RTTIC Kota Malang bagi pengguna handphone android.

Area Traffic Control System ( ATCS )

Kota Malang sebagai kota pendidikan, wisata, dan industri telah mempunyai pengaruh terhadap pertumbuhan penduduk dan kendaraan. Berbagai permasalahan lalu lintas muncul seperti kemacetan lalu lintas yang dapat berdampak terhadap aksebilitas masyarakat.

Untuk menunjang pemantauan dan pengawasan arus lalu lintas persimpangan di Kota Malang, Dinas Perhubungan Kota Malang telah mempunyai ruang Area Traffic Control System ( ATCS ) yang terkoneksi dengan beberapa titik persimpangan jalan di Kota Malang, sebagai alat pengendalian dan pengaturan waktu siklus pada persimpangan yang dapat dilakukan di CC-room ATCS Dinas

(11)

367 Perhubungan Kota Malang. Dan untuk melayani masyarakat di Kota Malang, Dinas Perhubungan Kota Malang bekerjasama dengan Malang TV untuk melaksanakan penyiaran pantauan arus lalu lintas pada persimpangan jalan dari ruang ATCS.

Adapun persimpangan di Kota Malang yang terkoordinasi dengan ATCS berjumlah 16 simpang yaitu Simpang Raden Intan, Simpang Araya, Simpang Kejaksaan, Simpang PLN, Simpang Rajabali, Simpang Sarina, Simpang Dieng, Simpang JL.Kawi, Simpang Kasin, Simpang Tidar, Simpang ITN. Simpang Plaosan, Simpang LA. Sucipto, Simpang Ciliwung Timur, Simpang Sulfat, dan Simpang Borubudur.

Pada Tahun 2018 Dinas Perhubungan Kota Malang melalui kegiatan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ melakukan kegiatan penambahan 3 titik simpang yaitu Simpang Savana, Simpang Kaliurang, dan Simpang Ciliwung yang akan terkoneksi dengan ruang CC-Room ATCS. Diharapkan seluruh simpang yang ada di Kota Malang dapat terkoneksi dengan ATCS Dinas Pehubungan Kota Malang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam menangani permasalahan kemacetan diatas Dinas Perhubungan Kota Malang memiliki upaya yang salah satu nya adalah program RTTIC dan ATCS, yang mana kedua program tersebut difungsikan untuk memantau titik-titik lalu lintas atau persimpangan yang menjadi titik rawan kemacetan. Kedua program tersebut saling berketerkaitan yang mana RTTIC berfungsi untuk memantau arus lalu lintas secara real time sedangkan program ATCS berfungsi untuk melakukan pemantauan dan pengawasan lalu lintas di persimpangan-persimpangan yang telah di pasangi CCTV, dan juga sebagai alat pengendalian dan pengaturan waktu siklus di persimpangan.

Kemacetan di Kota Malang disebabkan oleh beberapa faktor yakni jumlah volume kendaraan yang melebihi kapasitas jalan yang mana volume kendaraan yang banyak ini tidak diimbangi dengan perkembangan infrastruktur yang ada, tidak ada keseimbangan antara Suplai & Demand dimana setiap harinya jumlah kendaraan semakin meningkat, namun perkembangan infrastrukur yang dibangun tidak dapat mengimbanginya yang pada akhirnya menyebabkan kemacetan yang terjadi di Kota Malang.

(12)

368 Kemudian adanya penumpukan perumahan, pusat perdagangan, dan kampus, disini dapat kita lihat kalau kampus-kampus yang berada di Kota Malang hanya melakukan perkembangan bangunan pada satu titik, tidak melakukan penyebaran bangunan kampus ke beberapa titik ke arah wilayah yang daerahnya barada agak jauh dari pusat kemacetan. Kemudian pusat perdagangan yang barkumpul atau terfokus pada satu tempat saja, atau bahkan pusat perdagangan ini letaknya hanya bersebelahan, jadi para pengunjung pusat perdagangan yang otomatis sebagai pengguna kendaraan ini memarkirkan kendaraan mereka dengan sembarangan atau tidak teratur, mereka memarkirkan di sebagian jalan raya yang seharusnya digunakan untuk pengendaraan motor berjalan.

Sebelum pemerintah Kota Malang turun lapang menerapkan sistem RTTIC serta ATCS, kebijakan pemerintah Kota Malang ada yang namanya manajemen rekayasa lalu lintas yang mana setiap tahun atau setiap ada pembahasan mengenai kemacetan akan diadakan sebuah forum lalu lintas yang mana melibatkan beberapa elemen yaitu terutama Dinas PU, Satpol PP, dan Dinas Perhubungan kota, Provinsi maupun Nasional. Setelah adanya kesepakatan dalam forum tersebut baru diajukan kepada Walikota dan setelah itu baru turun lapang dan uji coba, jika uji coba tersebut berhasil dan berjalan sesuai yang di inginkan dalam forum tersebut maka bisa diimplementasikan, jika dalam mengatasi masalah kemacetan yang disebabkan oleh pembangunan maka pemerintah akan melakukan andalalin atau Analisis Dampak Lalu-Lintas.

Setelah melakukan manajemen rekayasa lalu lintas tersebut telah berhasil, maka pemerintah Kota Malang melakukan penanganan seperti memberlakukan program untuk mengatasi kemacetan di Kota Malang seperti RTTIC serta ATCS.

Program RTTIC ini dimana program ini akan dikoneksikan dengan Area Traffic Control System (ATCS) Dinas Perhubungan Kota Malang. Dengan aplikasi tersebut masyarakat umum dapat mengetahui informasi situasi arus lalu lintas yang secara langsung. Program RTTIC dapat di download di google play store atau di Apps Store dengan nama RTTIC Kota Malang bagi pengguna handphone Android maupun pengguna handphone IOS.

Sedangkan program ATCS ini merupakan program untuk menunjang pemantauan dan pengawasan arus lalu lintas persimpangan di Kota Malang, Dinas

(13)

369 Perhubungan kota Malang telah mempunyai ruang Area Traffic Control System ( ATCS ) yang terkoneksi dengan beberapa titik persimpangan jalan di Kota Malang, sebagai alat pengendalian dan pengaturan waktu siklus pada persimpangan yang dapat dilakukan di CC-room ATCS Dinas Perhubungan Kota Malang. Dan untuk melayani masyarakat di Kota Malang, Dinas Perhubungan Kota Malang bekerjasama dengan Malang TV untuk melaksanakan penyiaran pantauan arus lalu lintas pada persimpangan jalan dari ruang ATCS.

Adapun persimpangan di Kota Malang yang terkoordinasi dengan ATCS berjumlah 16 simpang yaitu Simpang Raden Intan, Simpang Araya, Simpang Kejaksaan, Simpang PLN, Simpang Rajabali, Simpang Sarina, Simpang Dieng, Simpang JL.Kawi, Simpang Kasin, Simpang Tidar, Simpang ITN. Simpang Plaosan, Simpang LA. Sucipto, Simpang Ciliwung Timur, Simpang Sulfat, dan Simpang Borubudur.

Pada Tahun 2018 Dinas Perhubungan Kota Malang melalui kegiatan Pemeliharaan Prasarana dan Fasilitas LLAJ melakukan kegiatan penambahan 3 titik simpang yaitu Simpang Savana, Simpang Kaliurang, dan Simpang Ciliwung yang akan terkoneksi dengan ruang CC-Room ATCS. Diharapkan seluruh simpang yang ada di Kota Malang dapat terkoneksi dengan ATCS Dinas Pehubungan Kota Malang.

Dalam mengatasi kemacetan di Kota Malang, Dinas Perhubungan mengalami beberapa kendala seperti awal penanganan kemacetan dilakukannya rekayasa jalan, walaupun rekayasa jalan ini tidak terlalu signifikan. Kendala pada program ini ialah kendaraan bermotor yang sangat padat, kemudian para pengendara yang melanggar peraturan pada saat program ini dijalankan. Adanya aplikasi RTTIC (Road Transport and Traffic Information Center) Kota Malang..

Kendala program ini, tidak semua masyarakat tahu kalau pemerintah Kota Malang memiliki aplikasi pemberi informasi keadaan jalan, pada titik tertentu yang dipantu melalui kamera CCTV, kemudian informasi tentang event dan obyek vital yang ada di Kota Malang. Para supir kendaraan angkutan umum tidak melalui jalur yang sesuai, mereka tidak mematuhi jalur-jalur yang telah ditentukan, sehingga mereka melalui jalan-jalan yang bukan jalurnya mereka. Contohnya angkutan umum trayek AL, dimana seharunya angkutan umum ini melewati Jl. Gajayana, namun supir

(14)

370 melihat pada jalan tersebut sangat ramai dan macet sehingga supir melalui Jl.

Sigura-gura yang sebenarnya bukan jalan sesuai track nya.

Meskipun terdapat beberapa kendala seperti diatas, tetapi pengimplementasian program ini memiliki beberapa hal dalam efektivitas menangani kemacetan di Kota Malang seperti Adanya aplikasi RTTIC (Road Transport and Traffic Information Center) Kota Malang. Aplikasi yang dibikin ini sebenarnya cukup efektif karena program ini sangat update tentang keadaan di titik kemacetan yang sudah dipanatu oleh CCTV selama 24 jam, namun tidak semua masyarakat Kota Malang, mengetahui adanya aplikasi yang dibuat oleh pemerintah Kota Malang ini. Rekayasa Jalan. Program ini dinilai cukup efektif, karena mampu mengurangi kemacetan walaupun tidak terlalu signifikan karena ini masih dalam proses dalam arti kesadaran masyarakatnya juga. Traffic Lamp. Program ini efektif untuk dilaksanakan karena dapat mengurangi kemacetan, dengan diberlakunya kurang atau ditambahnya waktu red lamp, agar kemacetan tidak semakin panjang dan menumpuk kendaraan. Penyelenggaraaan LLAJ. Penanganan kemacetan dengan program ini cukup efektif, mulai dari kegiatan turun lapang yang dilakukan pihak DisHub sendiri, kemudian pengaturan trayek-trayek angkutan umum, walaupun terkadang ada saja supir angkutan umum yang melanggar peraturan yang telah dibuat. Pengembangan infrastruktur. Program ini efektif, karena memang daerah yang di Jl. Soekarno-hatta di daerah Blimbing.

Adapun titik-titik memungkinkan untuk diperlebar, harus diperlebar.

Contoh sudah dilaksanakan program ini ada yang terpasangi ATCS (berbentuk CCTV) untuk mengetahui arus lalu lintas di titik rawan kemacetan di Kota Malang yaitu Jl. Soekarno-Hatta. Pada jalan ini kemacetan disebabkan karena, dijalan ini terdapat pemusatan bangunan, mulai dari bangunan kampus, bangunan tempat tinggal, dan pertokoan, sehingga pada jalan ini segala yang dibutuhkan oleh masyarakat kemungkinan tersedia di daerah ini, Jl. Soekarno Hatta ini bisa disebut sebagai pusat masyarakat Kota Malang untuk menjalani segala macam aktivitas. Selain itu, banyak juga anak muda yang menyaksikan dan melakukan balap liar yang dilakukan setiap malam minggu, maka hal-hal tesebutlah yang biasa menyebabkan terjadi

(15)

371 kemacetan di daerah ini. Jl. MT. Haryono. Jalan ini mengalami kemacetan karena merupakan salah satu jalan utama untuk menuju daerah Batu.

Selain itu di daerah ini juga terdapat banyak tempat pertokoan dan di daerah ini juga ada salah satu Universitas Brawijaya, Jl. Sigura-gura.

Kawasan ini dinilai cukup macet karena, jalannya yang cukup sempit untuk 2 jalur, kemudian daerah ini berdekatan antara kampus 3 ini, yaitu ITN, UIN dan kampus 2 UMM. Dan di daerah ini juga banyak tempat kulinernya para mahasiswa dan termasuk cafe-cafe. Jl. Bendungan Sutami. Jalan ini cukup macet, karena kawasan yang berdekatan dengan beberapa kampus besar (ITN,UM,UB, UMM kampus 2) dan Mall MATOS.

Jl. Gajayana, jalan ini macet karena adanya pusat bangunan, seperti pertokoan, dan tempat tinggal warga, kemudian jalan yang cukup sempit. Jl.

Mertojoyo pada kawasan ini macet dikarenakan dekat dengan Taman Merjosari, dimana biasanya warga sekitar berkumpul untuk sekedar menikmati pemandangan, maupun berolahraga, selain itu kawasan ini juga berdekatan dengan salah satu kampus (UIN). Jl. Sumber Sari, disini merupakan kawasan pusat bangunan seperti pertokoan, kemudian diperparah lagi dengan jalan rusak yang menyebabkan para pengendara harus berjalan dengan sangat pelan. Jl. Bogor, kawasan ini sering terjadi kemacetan karena letaknya yang berdekatan dengan kawasan kampus, kawasan Mall, dan tempat Kursus.

KESIMPULAN

Kota Malang adalah salah satu kota yang cukup berkembang di Indonesia.

Dimana Kota Malang ini juga kota pendidikan, wisata, maupun industri. Masalah kemacetan ini menjadi kesadaran bagi seluruh elemen masyarakat, sebab hal ini merupakan masalah bersama bukan hanya masalah perorangan atau sebuah instansi. Oleh karena itu, untuk dapat menanggulangi masalah kemacetan ini, maka semua pihak yang ada di masyarakat, mulai dari pengguna transportasi, pihak penyedia, serta pihak pemerintah harus ikut serta menyelesaikan masalah ini dengan kesadaran penuh. Tidak cukup hanya dari satu pihak saja, tetapi semuanya yang memiliki tujuan bersama yaitu mewujudkan sistem transportasi yang baik.

(16)

372 Saat ini permasalahan kemacetan lalu lintas di Kota Malang sudah semakin kompleks. Upaya-upaya untuk menanggulangi masalah kemacetan lalu lintas ini sangat diperlukan agar permasalahan kemacetan lalu lintas dapat teratasi. Adapun solusi yang dapat dilakukan pemerintah guna mengatasi kemacetan ini adalah memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang pentingnya mematuhi peraturan dan kebijaksanaan berlalu lintas demi menghindari kemacetan, Memberikan prioritas kepada transportasi massal atau angkutan kota guna mengurangi kepadatan kendaraan di jalan tetapi juga memperhatikan kenyamanan transportasi massal tersebut sehingga pemilik kendaraan mau beralih menggunakan transportasi ini.

Program RTTIC dan ATCS yang telah di implementasikan di Kota Malang sudah berjalan efektif meskipun terdapat beberapa kendala dalam pengimplementasian nya. Namun program ini sudah menunjukkan bahwasanya pemerintah Kota Malang dapat mengikuti perkembangan teknologi informasi di era Revolusi 4.0 pada konteks pemerintahan yang dihasilkan dengan contoh kedua program tersebut untuk mengatasi permasalahan kemacetan di Kota Malang.

DAFTAR PUSTAKA

Alhadar, A. (2011). Analisis Kinerja Jalan Dalam Upaya Mengatasi Kemacetan Lalu Lintas Pada Ruas Simpang Bersinyal Di Kota Palu.: SMARTek, 9(4).

Ekawati, N. N. (2014). Kajian Dampak Pengembangan Pembangunan Kota Malang Terhadap Kemacetan Lalu Lintas (Studi pada Dinas Perhubungan Kota Malang). : Jurnal Administrasi Publik, 2(1), 129-133.

Hadi, Krishno, Asworo, Listiana, Taqwa, Iradhad. (2020). “Inovasi Dialogis:

Menuju Transformasi Pelayanan Publik Yang Partisipatif (Kajian Sistem Pelayanan Malang Online). Journal of Government and Civil Society, 4(1),115–129, DOI: http://dx.doi.org/10.31000/jgcs.v4i1.2438.

Iskandar, A. (2014). Analisis Kebijakan Dinas Perhubungan Kota Bandar Lampung Dalam Mengatasi Kemacetan Lalu Lintas Melalui Operasionalisasi Bus Rapid Transit (Studi Di Kota Bandar Lampung). : Pranata Hukum, 9(1).

(17)

373 Losa, C. (2018). Efektifitas Kerja dalam Menangulangi Masalah Kemacetan (suatu Studi di Dinas Perhubungan Kota Manado). : Jurnal Administrasi Publik, 1(043).

Kirana, A. W. (2015). Evaluasi Kebijakan Pemerintah Daerah Dalam Menangani Kemacetan di Sekitar Universitas Brawijaya (Studi Mengenai Dampak Sebelum dan Sesudah Implementasi Peraturan Walikota Malang No 35 Tahun 2013 Tentang Rekayasa Lalu Lintas di Kota Malang). : Jurnal Administrasi Publik, 3(10), 1674-1680.

Prasetya, A. J. (2014). Pelaksanaan Peraturan Walikota Malang No 35 Tahun 2013 Tentang Rekayasa Lalu Lintas Di Kawasan Jalan Sumbersari–Jalan Gajayana-Jalan Mt. Hryono–Jalan Di Panjaitan–Jalan Bogor Dalam Mengurai Kemacetan (Studi di Dinas Perhubungan Kota Malang dan Di.: Kumpulan Jurnal Mahasiswa Fakultas Hukum, 1(1).

Tahir, A. (2012). Angkutan Massal Sebagai Alternatif Mengatasi Persoalan Kemacetan Lalu-lintas Kota Surabaya.: SMARTek, 3(3).

Yunas, N. S. (2017). Kebijakan Revitalisasi Sistem Transportasi Publik Sebagai Langkah Antisipatif Kemacetan Total Di Kota Malang. CosmoGov : Jurnal Ilmu Pemerintahan, 3(1), 116-126.

Walean, A., Kaunang, M., & Kimbal, M. (2019). Strategi Dinas Perhubungan Dalam Mengatasi Kemacetan Di Kota Manado Provinsi Sulawesi.: Jurnal Administrasi Publik, 5(79).

Widayanti, A. (2010). Pengembangan Angkutan Umum Massal Berbagai Alternatif Untuk Mengatasi Kemacetan Lalu Lintas Di Kota Madya Malang. Waktu, 8(2), 31-42.

Referensi

Dokumen terkait

Keberhasilan program pemerintah melalui Peraturan Walikota Nomor 99 Tahun 2016 dalam mengatasi pencemaran limbah pabrik dapat dikatakan berhasil, dengan adanya

4 Minyak Penumbuh Rambut Botak Secara Alami Inilah Masker Rambut Untuk Mengatasi Rambut Rontok 10 Penyebab Rambut Rontok Yang Wajib Diketahui Cara Menebalkan Rambut Yang Tipis

Dengan terjadinya kemacetan lalu lintas dalam satu ruas jalan mengakibatkan adanya tambahan waktu perjalanan, yang juga berdampak pada kehilangan biaya transportasi

Regresi Ridge ialah salah satu dari berbagai cara untuk mengatasi masalah multikolinieritas pada data yang menghasilkan penaksir bias dari sebuah koefisien regresi, pada

Oleh sebab itu maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan men- ganalisis apa saja yang menjadi penyebab kemacetan, untuk mengetahui kinerja ruas jalan, dan

1.Hasil penelitian ini, perhitungan untuk mencari rute terpendek tidak hanya menggunakan faktor jarak tetapi juga menggunakan faktor nilai bobot kemacetan, maka hasil

Salah satu upaya untuk mengurangi tingkat kemacetan lalu lintas adalah melalui aplikasi teknologi Real Time Traffic Information System (RTTIS).Tulisan ini memberikan potensi

Proses analisis data menggunakan 4 (empat) elemen penting dalam melakukan audit manajemen, yaitu kriteria, kondisi, penyebab, akibat. Proses ini mengetahui