PADA SISWA MAN SALATIGA
TAHUN 2009 / 2010
Diajukan untuk Memenuhi Kewajiban dan Melengkapi Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
JURUSAN TARBIYAH
PRO G RAM STUDI PENDIDIK AN AG AM A ISLA M
SEKO LAH TING G I AG A M A ISLAM NEGERI (STAIN)
SALATIG A
2010
S K R I P S I
Saya yang bertanda tangan di bawah in i:
Nama : Fatimah NIM : 111 06 056 Jurusan : Tarbiyah
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Salatiga, 30 Juli 2010 Yang menyatakan,
NIM : 111 06 056
Setelah dikoreksi dan diperbaiki, maka skripsi Saudari:
Nama : Fatimah NIM : 111 06 056 Jurusan : Tarbiyah
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Judul Skripsi : HUBUNGAN KEAKTIFAN DALAM KEGIATAN KEPRAMUKAAN DENGAN RASA PERCAYA DIRI PADA SISWA MAN SALATIGA TAHUN 2009 /2010
telah kami setujui untuk dimunaqosahkan.
Salatiga, 30 Juli 2010
Website : www.stainscdatisa.ac.id E -m ail: admini.itrasi(disiainsalatiga.ac.id
PENG ESAH AN K ELU LUSAN
Skripsi Saudari: FATIMAH dengan Nomor Induk Mahasiswa : 111 06 056 yang
berjudul HUBUNGAN KEAKTIFAN DALAM KEGIATAN
KEPRAMUKAAN DENGAN RASA PERCAYA DIRI PADA SISWA MAN SALATIGA TAHUN 2009 / 2010». Telah dimunaqasahkan dalam sidang panitia ujian Jurusan Tarbiyah Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga pada hari Selasa tanggal 31 Agustus 2010 M yang bertepatan dengan tanggal 21 Ramadhan 1431 H dan telah diterima sebagai bagian dari syarat-syarat untuk memperoleh gelar Saijana Pendidikan Islam (S.Pd.I).
31 Agustus 2010 M Salatiga, —
---21 Ramadhan 1431 H
Panitia Ujian
Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga dia
\
^ ^ 1 \
p
-> *0Puji dan Syukur yang tinggi kepada Allah SWT dan junjungan besar Nabi
Muhammad SAW yang telah memberikan kekuatan kepada penulis dalam melaksanakan penelitian ini.
Skripsi ini penulis susun dalam rangka memenuhi tugas dan melengkapi
syarat guna untuk memperoleh gelar sarjana pendidikan. Adapun judul skripsi ini
adalah “HUBUNGAN KEAKTIFAN DALAM KEGIATAN
KEPRAMUKAAN DENGAN RASA PERCAYA DIRI PADA SISWA MAN SALATIGA TAHUN 2009/2010”.
Selain itu Penulis menyadari sepenuhnya bahwa penelitian ini tidak dapat berhasil dan terlaksana tanpa bantuan dan uluran tangan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Dr. Imam Sutomo, M. Ag selaku ketua STAIN
2. Fatchurrahman, M.Pd selaku Kaprogdi Pendidikan Agama Islam STAIN
Salatiga.
3. Drs. Abdul Syukur, M.Si, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan sampai pada penulisan skripsi ini
4. Seluruh pengajar PAI STAIN Salatiga yang penuh kearifan dan penuh
kesabaran telah mendidik penulis selama menuntut ilmu di kampus tercinta ini.
Fatimah. 111 06 056. Hubungan Keaktifan dalam Kegiatan Kepramukaan Dengan Rasa Percaya Diri Pada Siswa MAN Salatiga Tahun 2009/2010. Skripsi Jurusan Tarbiyah Progdi Studi Pendidikan Agama Islam. Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga. Skripsi Jurusan Tarbiyah, Program Studi PAI STAIN Salatiga. Pembimbing: Drs. Abdul Syukur, M. Si.
Kata kunci: Keaktifan dalam Kegaiatan Kepramukaan dan Rasa Percaya Diri
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: hubungan keaktifan dalam kegiatan kepramukaan dengan rasa percaya diri pada siswa MAN Salatiga tahun 2009/2010. Analisis ini mengunakan metode angket, wawancara dan dokumentasi. Subyek penelitian sebanyak 30 responden, menggunakan teknik populasi dan sampel. Pengumpulan data menggunakan instrumen kuesioner untuk menjaring data aktifitas Kepramukaan dan data rasa percaya diri.
Pengujian hipotesis penelitian menggunakan analisis korelasi. Pengujian hipotesis penelitian terdapat hubungan yang positif antara keaktifan dalam kegiatan kepramukaan dengan rasa percaya diri. Hal ini dapat disimpulkan dari hasil angket yang memperoleh nilai 57% dari 30 responden bahwa keaktifan kegiatan kepramukaan dalam kategori baik, yaitu berada pada interval 26-29. Sedangkan untuk rasa percaya diri memperoleh kategori baik mencapai nilai 43%, berada pada interval 25-28.
HALAMAN JUDUL... i
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN... i i HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii
HALAMAN PENGESAHAN... iv
MOTTO... v
PERSEMBAHAN... vi
KATA PENGANTAR... vii
ABSTRAK... x
DAFTAR ISI... xi
DAFTAR TABEL... xiv
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah... 1
B. Penegasan Istilah... 4
C. Rumusan Masalah... 6
D. Tujuan Penelitian... 6
E. Hipotesis ... 7
F. Metode Penelitan... 7
G. Sistematika Penulisan... 13
BAB II LAND ASAN TEORI A. Kajian tentang Kepramukaan... 15
1. Pengertian... 15
xi
4. Dasar, Asas, Tujuan, dan Sasaran Gerakan Pramuka 28
5. Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode
Kepramukaan... 31
6. Bentuk-bentuk Kegiatan Kepramukaan... 32
B. Rasa Percaya D iri... 34
1. Pengertian... 34
2. Dasar... 36
3. Karakteristik (Ciri-ciri) Rasa Percaya Diri... 37
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Rasa Percaya Diri... 38
5. Cara Mengembangkan Rasa Percaya D iri... 49
6. Manfaat Rasa Percaya D iri... 51
C. Hubungan Keaktifan dalam Kegiatan Kepramukaan dengan Rasa Percaya Diri... 52
BAB III HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum MAN Salatiga... 54
1. Sejarah Berdirinya MAN Salatiga... 54
2. Letak Geografis... 55
3. Struktur Organisasi... 55
4. Data Guru dan Karyawan MAN Salatiga... 57
8. Struktur Organisasi Kepramukaan di MAN Salatiga 65
B. Daftar Nama-nama Responden... 66
C. Penyajian Data Penelitian... 68
1. Data tentang Keaktifan dalam Kegiatan Kepramukaan... 68
2. Data tentang Rasa Percaya Diri... 70
D. Keaktifan dalam Kegiatan Kepramukaan... 71
E. Rasa Percaya Diri pada Siswa... 72
BAB IV ANALISIS DATA A. Analisis Data... 73
B. Analisis Data Kedua... 86
C. Interprestasi Data... 89
BAB V PENUTUP F. Kesimpulan... 91
G. Saran-Saran... 92 DAFTAR PUSTAKA
Tabel I Struktur Organisasi guru dan Karyawan MAN Salatiga Tahun 2009/2010... ' 55 Tabel II Rekapitulasi Guru dan Karyawan MAN Salatiga Tahun
Pelajaran 2009/2010... 57 Tabel III Rekapitulasi Jumlah Pegawai Tata Usaha MAN Salatiga. 61 Tabel IV Rekapitulsai Data Siswa MAN Salatiga... 62 Tabel V Rekapitulasi Data Sarana Prasarana MAN Salatiga
Tahun Pelajaran 2009/2010... 63 Tabel VI Kegiatan Ekstra Kurikuler MAN Salatiga Tahun
2009/2010... 64 Tabel VII Struktur organisasi Pramuka MAN Salatiga Tahun
Pelajaran 2009/2010... 65 Tabel VIII Daftar Nama Siswa Kelas X yang menjadi Responden
MAN Salatiga Tahun Pelajaran 2009/2010... 67 Tabel IX Tabulasi Jawaban Siswa Kelas X terhadap Angket
Kepramukaan... 69 Tabel X Tabulasi Jawaban Siswa Kelas X terhadap Angket Rasa
Percaya D iri... 70 Tabel XI Skor Angket Keaktifan dalam Kegiatan Kepramukaan
Siswa Kelas X MAN Salatiga... 74 Tabel XII Interval Keaktifan dalam Kegiatan Kepramukaan Siswa
Kelas X MAN Salatiga... 76 Tabel XIII Nilai Nominasi Keaktifan dalam Kegiatan Kepramukaan
Siswa Kelas X MAN Salatiga... 77 Tabel XIV Frekwensi Keaktifan dalam Kegiatan Kepramukaan
Siswa Kelas X MAN Salatiga... 79 Tabel XV Skor Angket Rasa Percaya Diri Siswa Kelas X MAN
Salatiga... 80
Salatiga... 83 Tabel XVIII Frekwensi Rasa Percaya Diri Siswa Kelas X MAN
Salatiga... 86 Tabel XIX Tabel Kerja untuk Mencari koefisien antara Variabel
Keaktifan dalam Kegiatan Kepramukaan (X) dengan Rasa Percaya Diri (Y)... 87
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan pada hakikatnya adalah usaha orang dewasa secara sadar untuk membimbing dan membentuk dasar anak baik dalam pendidikan formal
maupun non formal. Selain itu, pendidikan merupakan proses perubahan perilaku yang terjadi pada diri seseorang yang akan terwujud dalam
kepribadiannya, pembentukan kepribadian seseorang ditentukan oleh
lingkungan di manapun berada baik lingkungan keluarga, sekolah mapun masyarakat.
Sekolah juga merupakan wahana yang efektif untuk mengembangkan
kepribadian siswa. Setiap lembaga pendidikan pasti berusaha untuk
mewujudkan suatu yang dicita-citakan oleh lembaga tersebut yaitu siswa yang
cerdas dan berkepribadian yang mulia.
Dalam mencapai hasil pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dari
pendidikan dan sesuai dengan apa yang diharapkan, sehingga dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat. Oleh karena itu sekolah sebagai lembaga
pendidikan senantiasa menggunakan sistem pembelajaran atau kurikulum
yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Kemudian dalam sistem pendidikan sekolah pada masa ini dikenal
adanya tiga kegiatan yaitu keguatan intrakurikuler (kegiatan yang dilakukan di sekolah yang penjatahan waktunya telah ditetapkan dalam struktur program dan dimaksudkan untuk mencapai tujuan minimal dalam masing-masing mata
pelajaran), kegiatan kokurikuler (kegiatan di luar jam pelajaran biasa termasuk waktu libur yang dilakukan di sekolah ataupun luar sekolah dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan siswa mengenai hubungan antara berbagai jenis pengetahuan, menyalurkan bakat dan minat serta melengkapi upaya pembinaan manusia seutuhnya), kegiatan ekstrakurikuler (kegiatan yang dilakukan di luar jam pelajaran atau tatap muka baik dilaksanakan di sekolah
maupun di luar sekolah dengan maksud untuk lebih memperkaya dan
meperluas wawasan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki dari berbagai
bidang studi) (Usman dan Setiawati, 1993 : 15, 17, 22). Contoh kegiatan
ekstrakurikuler di sini adalah kepramukaan yang di dalamnya terdapat
organisasi yang mengatur atau sebagai penggerak kegiatan agar berjalan sesuai yang diinginkan.^
Organisasi siswa pada Madrasah Aliyah Negeri Salatiga yang bersifat
intrakurikuler yaitu Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), sedang organisasi yang bersifat ekstrakurikuler yaitu kepramukaan yang beranggotakan seluruh
siswa Madrasah Aliyah Negeri Salatiga. Kegiatan kepramukaan di Madrasah Aliyah Negeri Salatiga diikuti oleh siswa kelas X dan XI. Akan tetapi dalam penelitian ini peneliti hanya meneliti siswa kelas X karena kegiatan ini diwajibkan untuk seluruh siswa kelas X Madrasah Aliyah Negeri Salatiga.
Pada dunia remaja yang masih dalam taraf perkembangan perlu adanya
sendiri. Untuk itu perlu adanya kesadaran yang lebih dalam mengenal diri,
yaitu dengan usaha pada diri untuk mengamati, menyadari serta menerima
kelebihan dan kekurangan yang ada, tanpa menutup-nutupi dan menggunakan topeng sehingga tampak berbeda di hadapan orang lain.
Seseorang yang memiliki rasa percaya diri bawaannya nyaman, tidak
merasa terbebani, merasa setara dengan orang lain. Kalau dalam diri sudah tertanam rasa percaya diri, hubungan dengan orang lain pun akan lancar. Hal
ini bisa dengan mudah “tertangkap kamera”. Orang yang nyaman dengan
dirinya biasanya mengembangkan sikap dan perilaku yang positif. Sikap dan
perilaku positif akan ditanggapi orang lain sebagai hal yang menyenangkan
dan orang lain pun akan merespon dengan sikap dan perilaku yang positif pula (Chomariyah Nurul, 2008 : 107).
Dari penjelasan di atas, maka dengan keikutsertaan siswa dalam
kegiatan kepramukaan diharapkan rasa percaya diri siswa akan terbentuk melalui kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan. Rasa percaya diri pada siswa
sangat dibutuhkan dalam rangka mencapai prestasi maupun kesuksesan di masa depan. Karena pendidikan kepramukaan bertujuan untuk membentuk
sikap dan perilaku ke arah yang positif, menambah pengetahuan dan
pengelaman, serta menguasai kecakapan dan ketrampilan sehingga pada
Artinya : Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan, yang ada pada diri mereka sendiri, dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (Depag RI, 2005 : 370)
Kemudian dengan melihat uraian di atas, maka penulis terdorong untuk meneliti seberapa jauh hubungan keaktifan dalam kegiatan
kepramukaan dengan rasa percaya diri pada siswa dengan melakukan
penelitian di Madrasah Aliyah Negeri Salatiga dengan mengambil judul
Hubungan Keaktifan dalam Kegiatan Kepramukaan dengan Rasa Percaya Diri pada Siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Salatiga tahun 2009 /2010.
B. Penegasan Istilah
Untuk menghindari kemungkinan terjadinya penafsiran yang berbeda dan ruang lingkup pembahasan dalam penelitian ini, perlu dijelaskan istilah
pokok maupun kata-kata yang terkandung dalam judul skripsi ini, antara lain : 1. Hubungan
Hubungan yaitu keadaan yang terhubung (Departemen Pendidikan Nasional, 2007 : 409). Hubungan yang dimaksud dalam penelitian ini
adalah hubungan keaktifan dalam kegiatan kepramukaan dengan rasa
2. Keaktifan dalam Kegiatan Kepramukaan
Keaktifan yaitu kegiatan atau kesibukan (Departemen Pendidikan Nasional, 2007 : 23). Dari pengertian tersebut maka penulis dapat
menyimpulkan bahwa yang dimaksud keaktifan dalam kegiatan kepramukaan di sini adalah aktif dalam mengikuti kegiatan kepramukaan.
Kepramukaan adalah proses pendidikan luar sekolah dan di luar
keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur,
terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka (Gerakan Pramuka
Kwarcab Salatiga, 2006 : 3). Dengan prinsip dasar kepramukaan dan
metode kepramukaan yang sasaran akhirnya pembentukan watak.
Kepramukaan menurut penulis adalah pendidikan tentang
kepramukaan baik berupa materi maupun permainan. Biasanya kegiatan
pramuka tidak hanya dilakukan di ruangan saja namun untuk membuang
kejenuhan siswa dapat juga dilakukan di luar ruangan (alam bebas).
Dari uraian di atas maka penulis menyimpulkan bahwa keaktifan dalam kegiatan kepramukaan adalah segala bentuk kegiatan yang diselenggarakan di pramuka baik berupa materi maupun permainan yang dapat dilakukan di dalam atau di luar ruangan.
3. Rasa Percaya D iri.
Percaya diri merupakan hasil gabungan dari dua kata yaitu percaya yang artinya mengakui atau yakin bahwa semua memang benar atau nyata (Departemen Pendidikan Nasional, 2007 : 856), dan diri yang memiliki
Percaya diri berarti yakin pada kemampuan diri sendiri (Barbara de Angelis, 2005 :42).
Dari uraian di atas, maka menurut penulis percaya diri adalah keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri sehingga tidak merasa ragu dengan sesuatu yang ada pada dirinya.
C. Rumusan Masalah ,
Pokok permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai
berikut:
1. Bagaimana tingkat keaktifan dalam kegiatan kepramukaan di Madrasah
Aliyah Negeri Salatiga?
2. Bagaimana tingkat rasa percaya diri siswa Madrasah Aliyah Negeri Salatiga?
3. Adakah hubungan yang positif antara keaktifan kegiatan kepramukaan dengan rasa percaya diri pada siswa Madrasah Aliyah Negeri Salatiga?
D. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan dan alasan pemilihan judul, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui tingkat keaktifan dalam kegiatan kepramukaan di
Madrasah Aliyah Negeri Salatiga.
3. Untuk mengetahui hubungan yang positif antara kekatifan kegiatan
kepramukaan dengan rasa percaya diri pada siswa Madrasah Aliyah Negeri Salatiga.
E. Hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang
kebenarannya masih harus diuji secara empiris (Suryabrata, 1983 : 69).
Menurut penulis, hipotesis di sini adalah suatu jawaban sementara yang kebenarannya harus diuji lagi secara empirik. Untuk membuktikan
kebenaran tersebut, maka penulis harus melakukan penelitian secara langsung di lapangan.
Berdasarkan hal tersebut, maka dalam penelitian ini penulis mengajukan hipotesis : Terdapat hubungan yang positif antara keaktifan dalam kegiatan kepramukaan dengan rasa percaya diri pada siswa Madrasah Aliyah Negeri Salatiga tahun 2009 / 2010.
F. Metode Penelitian
Diantara cara agar peneliti memperoleh hasil yang maksimal dan tepat,
maka salah satunya adalah dengan menggunakan metode yang tepat pula. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode sebagai berikut:
1. Populasi dan Sampel
Populasi adalah seluruh objek penelitian baik terdiri dari benda
Menurut penulis, populasi adalah keseluruhan obyek yang akan diteliti
yang merupakan suatu sumber data. Populasi yang dimaksud di sini adalah
keseluruhan siswa yang mengikuti kegiatan kepramukaan di MAN Salatiga. Populasi siswa yang mengikuti kegiatan kepramukaan di dalam
penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X yang berjumlah 204 siswa. Menurut Sutrisno Hadi, sampel adalah sebagian individu yang diselidiki (Warsito Hermawan, 1993 : 51). Dalam hal ini, peneliti
menggunakan sampel ramdom atau sampel acak karena dalam
pengambilan sampelnya peneliti mencampur subyek-subyek dalam
populasi sehingga semua subyek dianggap sama.
Untuk sekedar ancer-ancer maka apabila subyeknya kurang dari
100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan
penelitian populasi. Tetapi jika jumlah subyeknya besar, dapat diambil antara 10 - 15 % atau 20 - 25 % (Suharsimi Arikunto, 2006 : 134).
Dari uraian di atas, maka peneliti mengambil sampel dari jumlah populasi seluruh kelas X di Madrasah Aliyah Negeri Salatiga yang
berjumlah 204 siswa dengan ketentuan sampel 15 %, maka diperoleh sampel sebanyak 30 siswa.
2. Variabel dan Indikator Penelitian
Penelitian ini mengkaji dua variabel, yaitu aktiftas dalam kegiatan kepramukaan sebagai variabel pertama (X), dan rasa percaya diri siswa
Selanjutnya untuk melengkapi pengertian operasional dari variabel
yang digunakan dalam judul penelitian ini, diuraikan pula definisi dari
variabel tersebut sebagai berikut:
a. Keaktifan dalam Kegiatan Kepramukaan
Untuk mengukur keaktifan dalam kegiatan kepramukaan, maka
dalam hal ini akan ditentukan indikator-indikator sebagai berikut:
1) Giat mengikuti latihan kepramukaan
2) Memahami pengetahuan tentang kepramukaan
3) Antusias dengan kegiatan yang dilaksanakan di sekolah
4) Memperhatian pelatih atau pembina dalam kegiatan kepramukaan 5) Bisa mempraktekkan yang diajarkan dalam kepramukaan.
b. Rasa Percaya Diri pada Siswa
Adapaun indikator-indikator rasa percaya diri pada siswa dapat diuraikan sebagai berikut:
1) Selalu yakin dan percaya akan kemampuan yang dimiliki 2) Berani berbicara di depan umum
3) Mudah dan senang untuk berinteraksi dengan orang lain 4) Berani mengambil keputusan
5) Kekurangan yang dimiliki tidak menyebabkan dirinya minder.
3. Metode Pengumpulan Data
Ada beberapa metode yang digunakan penulis untuk
mengumpulkan data tersebut, antara lain : a. Metode Angket
Angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang
pribadinya atau hal-hal yang diketahui (Suharsimi Arikunto, 1998 : 140). Bentuk angket yang digunakan oleh penulis adalah angket tertutup, sehingga responden hanya memilih jawaban yang sudah disediakan.
Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data yang
berkenaan dengan pemahaman dan aktifi tas kepramukaan yang
dilaksanakan di Madarasah Aliyah Negeri Salatiga. Penggunaan
metode ini juga digunakan untuk mengetahui sampai dimana tingkat
rasa percaya diri pada siswa setelah mengikuti kegiatan kepramukaan
di MAN Salatiga.
b. Metode Interview (Wawancara)
Wawancara adalah suatu proses tanya jawab lisan dalam mana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yanglain dan mendengarkan dengan telinga sendiri
suaranya (Sutrisno Hadi, 1989 : 192). Dalam hal ini menguraikan
Kemudian untuk kegiatan kepramukaan, penulis bertanya
kepada salah satu pembina pramuka untuk memperoleh data tentang pelaksanaan pendidikan pramuka di sekolah. Selain itu penulis
bertanya kepada beberapa siswa tentang keikutsertaannya dalam
kegiatan kepramukaan,
c. Metode Dokumentasi
Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau
variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, majalah,
prasastri, notulen rapat, ledger, agenda dan sebagainya (Suharsimi Arikunto, 1998 : 236). Data-data yang dijadikan sebagai dokumentasi
pada penelitian ini seperti arsip tentang sejarah, lokasi, dan berbagai
hal tentang Madrasah Aliyah Negeri Salatiga.
Metode ini penulis gunakan untuk memperoleh data tentang sejarah berdirinya MAN Salatiga.
4. Analisis Data
a. Analisis Pendahuluan
Analisis ini digunakan untuk menghitung skor masing-masing variabel secara terpisah, sehingga diketahui ciri-ciri masing-masing penelitian.
Untuk analisis ini, penulis menggunakan rumus persentase sebagai berikut:
Keterangan:
P : Persentase perolehan F : Frekuensi
N : Jumlah responden b. Analisis Lanjutan
Analisis ini digunakan untuk mengetahui adakah hubungan keaktifan dalam kegiatan kepramukaan dengan rasa percaya diri pada
siswa MAN Salatiga, dan sekaligus untuk menguji hipotesis yang telah diajukan.
Pada analisis ini penulis menggunakan rumus product moment
sebagai berikut:
rxy=
I x y - (SQOfr) N
Keterangan:
rx y : Koefisien Korelasi antara X dan Y
x : Variabel Bebas (Keaktifan dalam Kegiatan Kepramukaan) y : Variabel Terikat (Rasa Percaya Diri)
x2 : Product dari x (Keaktifan dalam Kegiatan Kepramukaan) y2 : Product dari y (Rasa Percaya Diri Siswa)
N : Jumlah Responden
Kemudian langkah selanjutnya adalah menginterpretasikan
pada tabel taraf signifikansi 5 % dan 1 %. Jika r hitung > r tabel, maka menunjukkan bahwa ada hubungan yang positif antara dua variabel tersebut yang berarti hipotesis yang penulis ajukan diterima. Akan tetapi apabila r hitung < r tabel, maka tidak terdapat hubungan yang
positif antara keaktifan dalam kegiatan kepramukaan dengan rasa
percaya diri pada siswa MAN Salatiga yang berarti hipotesis yang penulis ajukan ditolak.
G. Sistematika Penulisan Skripsi
Skripsi ini disusun dalam 5 bab yang secara sistematis dapat
dijabarkan sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Pada bab ini berisi latar belakang masalah, penegasan istilah,
rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis, metodologi penelitian, serta sistematika penulisan skripsi.
Bab II Landasan Teori
Pada bab ini akan diuraikan berbagai pembahasan teori yang
menjadi landasan teoritik penelitian, khususnya berkaitan dengan
variabel penelitian yaitu teori-teori mengenai kepramukaan, rasa percaya diri dan hubungan keaktifan dalam kegiatan kepramukaan
Bab III Laporan Hasil Penelitian
Pada bab ini akan dilaporkan beberapa hal mengenai lembaga pendidikan yang dijadikan tempat penelitian, baik yang berkaitan
dengan sejarah didirikannya sekolah, letak geografis, struktur organisasi, sarana dan prasarana, guru dan karyawan, keadaan
siswa, kegiatan ekstrakurikuler dan organisasi kepramukaan di
Madrasah Aliyah Negeri Salatiga, data responden dan data hasil
penelitian tentang hubungan keaktifan dalam kegiatan
kepramukaan dengan rasa percaya diri pada siswa Madrasah Aliyah Negeri Salatiga.
Bab IV Analisis Data
Pada bab ini akan diuraikan tentang analisis pendahuluan dan analisis lanjutan.
Bab V Penutup
A. Kajian tentang Kepramukaan
1. Pengertian
Dari segi bahasa, istilah kepramukaan berasal dari Pramuka yang merupakan kepanjangan dari Praja Muda Karana (Echols dan Hasan
Shadily, 1989 : 435). Akar kata ini mendapat awalan ke dan akhiran an,
sehingga menjadi kata kepramukaan yang artinya proses pendidikan luar
sekolah dan luar keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan,
sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka (JG. Sutejo, 2006 : 3). Dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan
yang sasaran akhirnya pembentukan watak.
Sedangkan pengertian yang dikutip dari buku Boy Man, menurut Lord Baden Powell, kepramukaan adalah:
“Kepramukaan itu bukanlah suatu ilmu yang harus dipelajari dengan tekun, bukan pula merupakan kumpulan ajaran-ajaran dan daskah- naskah dari suatu buku. Bukan! Kepramukaan adalah suatu permainan yang menyenangkan di alam terbuka, tempat orang dewasa dan anak-anak pergi bersama-sama, mengadakan pengembaraan bagaikan kakak beradik, membina kesehatan dan kebahagiaan, ketrampilan dan kesediaan untuk memberi pergolongan bagi yang membutuhkan” (Andri Bob Sunardi, 2006:3).
Dari penjelasan Boden Powell tersebut dapat diambil makna bahwa kepramukaan mengandung suatu pendidikan khususnya dalam pembinaan watak (mental). Dengan adanya “pembangunan karakter”
tersebut, gerakan Pramuka dapat memberikan sumbangan positif terhadap negara dengan menyemai benih-benih calon pemimpin yang patriotis.
Sedangkan The World Organization o f the Scout Movement (WOSM)
menyatakan bahwa kepramukaan adalah: a. Pendidikan sepanjang hayat, yang artinya:
Kepramukaan merupakan pelengkap pendidikan sekolah dan
pendidikan dalam keluarga, mengisi kebutuhan peserta didik yang
tidak terpenuhi oleh kedua pendidikan tersebut. Kepramukaan
mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik, minat
untuk melakukan penjelajahan/penelitian, penemuan dan keinginan
untuk tahu.
b. Kegiatan kaum muda, yang artinya:
Kepramukaan adalah suatu gerakan, suatu proses, atau aktivitas yang dinamis dan selalu bergerak maju. Kepramukaan sebagai proses pendidikan dalam bentuk kegiatan remaja dan pemuda itu di manapun
dan kapanpun selalu berubah sesuai dengan kepentingan, kebutuhan dan kondisi setempat. Peserta didik pramuka memberikan darma
baktinya sesuai kebutuhan masyarakat setempat.
c. Rekreasi yang edukatif, yang artinya:
paksaan. Kepramukaan bukan sekedar rekreasi. Dengan rekreasi itu,
peserta didik dikembangkan kemantapan mental, fisik, pengetahuan,
pengalaman, ketrampilan dan rasa sosial serta spiritual. d. Terbuka bagi siapapun, yang artinya:
Sesuai dengan prinsip dasar dan metode kepramukaan yang diterapkan oleh penemu kepramukaan Lord Baden Powell,
kepramukaan itu terbuka untuk siapapun dengan tidak memandang suku, agama, ras dan golongan.
e. Tantangan bagi orang dewasa, yang artinya:
Dalam kepramukaan, orang dewasa tidak hanya memperoleh kesempatan untuk beribadah atau memberikan pengabdian membantu
kaum muda, tapi juga menghadapi tantangan dalam membina interaksi dan saling pengertian dengan kaum muda, serta dapat memahami
kaum muda. Dalam pengabdiannya itu orang dewasa (pembina) akan
memperoleh pelatihan dan pengalaman yang sangat berharga yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya potensi yang dimiliki.
f. Kesukarelaan, yang artinya:
Kesukarelaan merupakan ketentuan konstitusional keanggotaan
menetapkan ketentuan moral gerakan pramuka berupa kode
kehormatan pramuka Tri Satya dan Dasa Darma serta secara sukarela
mengucapkan Tri Satya dan mengamalkannya.
g. Non politik dan non pemerintah, yang artinya:
Gerakan pramuka sebagai organisasi pendidikan, tidak dan harus
tidak menjadi bagian atau mewakili partai politik atau organisasi apapun termasuk pemerintah dan instalasinya. Namun para pramuka
didorong untuk memberikan pengabdian yang konstruktif kepada
masyarakat, bangsa dan negara. Setiap pramuka disiapkan untuk menjadi warga negara yang bermoral tinggi, sehat mental, fisiknya dan
mengabdikan dirinya bagi masyarakat, bangsa dan negara. h. Metode, yang artinya:
Kepramukaan merupakan cara pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia/potensi/akhlak, budi pekerti kaum muda, yang
dilaksanakan dengan medote kepramukaan diterapkan dalam semua
kegiatan dengan cara:
1) Pengamalan kode kehormatan pramuka
2) Belajar sambil mengerjakan, peserta didik berpartisipasi
3) Kegiatan kelompok kecil dilakukan dalam kelompok kecil untuk mengembangkan kepemimpinan, ketrampilan kelompok, team work, dan rasa tanggung jawab pribadi
4) Kegiatan di alam terbuka di mana terjadi kontak dengan alam
dimana keadaan alam kreativitas dan penemuan berpadu menimbulkan petualangan dan tantangan.
5) Pemberian anugerah karya, merupakan dorongan bagi peserta didik untuk berkarya.
Norma hidup, yang berarti:
Kepramukaan sebagai proses pendidikan, merupakan norma hidup yang mengandung:
1) Nilai spiritual
Norma hidup yang menekankan pada upaya mengutamakan nilai
spiritual dalam kehidupan dan menghidupkan di atas kehidupan
material.
2) Nilai sosial
Mendorong peserta didik untuk melibatkan diri dalam
pembangunan masyarakat, menghargai dan menghormati orang lain dan integritas alam seisinya. Dengan kepramukaan mempromosikan kerukunan dan kedamaian lokal maupun
internasional, serta memupuk saling pengertian dalam keijasama.
3) Nilai pribadi
Membina dan mengembangkan rasa tanggung jawab pribadi serta
membangkitkan hasrat peserta didik untuk bersikap dan bertindak laku yang bertanggung) awab (Gerakan Pramuka Kwartir Cabang
Dari pemaparan di atas maka penulis dapat mengambil kesimpulan
bahwa kepramukaan dalah suatu pendidikan yang terbuka untuk siapapun
yang di dalamnya ada pembinaan watak yang akan membekali anggotanya dalam menjalani hidup sehingga dapat bermanfaat untuk dirinya sendiri atau orang lain.
2. Sejarah Kepramukaan
a. Sejarah kepramukaan sedunia
Mengutip buku yang disusun oleh Tim Kwarda Jateng, sejarah kepramukaan dunia disebutkan bahwa pada awal tahun 1908 Baden
Powell selalu menulis cerita pengalaman sebagai bungkus acara
latihan kepramukaan yang dirintisnya. Kumpulan tulisannya itu kemudian terbit sebagai buku Scouting fo r Boys. Buku ini cepat tersebar di Inggris bahkan ke negara-negara lainnya di mana berdirilah
organisasi kepramukaan, yang semula untuk anak laki-laki seusia penggalang yang disebut dengan Boys Scout. Kemudian disusul
dengan organisasi kepramukaan putri ygn diberi nama Girl Guide atas
bantuan Agnes, adik perempuan Baden Powell, yang kemudian diteruskan oleh Ny. Baden Powell.
Pada tahun 1916 berdiri kelompok pramuka seusia siaga yang
disebut cub (anak serigala) dengan buku The Jungle Book, kemudian pada tahun 1918 Baden Powell membentuk Rover Scout (pramuka usia
1922 Baden Powell menerbitkan buku Rovering to Success
(Mengembara Menuju Bahagia) yang berisikan petunjuk bagi para pramuka penegak dalam menghadapi tantangan hidupnya untuk mencapai kebahagiaan.
Pada tahun 1920 diselenggarakan Jambore Sedunia, di arena
Olympia, London. Baden Powell telah mengundang pramuka dari 27 negara, dan pada saat itu Baden Powell diangkat menjadi Bapak Pandu sedunia.
Kemudian pada tahun 1914 Baden Powell mulai menulis
petunjuk kursus pembina pramuka. Rencana itu baru dapat dilaksanakan tahun 1919. Dari sahabatnya yang bernama W. F. De Boys Mac Leren, Baden Powell mendapat sebidang tanah di Chingford, yang digunakan sebagai tempat pendidikan pramuka. Tempat ini dikenal dengan Gil Well Park.
Tahun 1920 dibentuk Dewan Internasional dengan 9 orang
anggota dan Biro Kesekretariatan yang berada di London, Inggris. Biro kepramukaan sedunia memiliki tenaga staf yang bisa diandalkan.
Gerakan Baden Powell itu ditiru oleh negara-negara lain.
Belanda mencirikan Padvinder dan Padvinderij di negerinya.
Pemerintah yang berada di Indonesia juga mendirikan padvinder dan
Dari penjelasan di atas maka penulis menyimpulkan bahwa sejarah singkat kepramukaan sedunia berawal dari tahun 1908. Boden Powell yang menulis cerita pengalaman latihan kepramukaan, karena
buku yang diterbitka digemari oleh banyak negara. Maka akhirnya
dari sini dibentuk organisasi kepramukaan yang tadinya hanya untuk anak laki-laki, namun pada akhirnya diperuntukkan untuk anak
perempuan.
Kemudian pada tahun 1916 mulai terbentuk suatu kelompok seusia siaga, kemudian disusul pramuka penegak. Akhirnya pada tahun 1920, karena organisasi kepramukaan telah tersebar di seluruh lapisan negara, maka diselenggarakan Jambore sedunia yang mengundang 27
negara. Dan pada momen tersebut, Boden Powell diangkat sebagai Bapak Pandu Dunia,
b. Sejarah kepramukaan di Indonesia
Mengutip dari buku yang berjudul Boyman Ragam Latih Pramuka, bahwa kepanduan masuk ke Indonesia karena negara
Indonesia sedang dijajah oleh Belanda. Pertama-tama dibawa oleh
orang Belanda. Organisasinya bernama Netherland Indische Padvinders Vereninging (NEPV) yang artinya adalah Persatuan Pandu-
Pandu Hindia Belanda.
sangat memungkinkan. Para remaja dan pemuda membutuhkan suatu
organisasi yang dapat menampung aspirasi mereka terhadap tanah airnya.
Suatu yang membuat pemerintah kolonial Belanda menjadi
cukup khawatir. Oleh karena itu pemerintah kolonial Belanda melarang bangsa Indonesia mengikuti kegiatan NIPV. Maka berdirilah
organisasi-organisasi kepanduan yang bercirikan nasionalisme, dan organisasi kepanduan yang pertama didirikan adalah pada tahun 1916, Javaense Padvinders Organisatie (JPO) atas prakarsa Sultan Pangeran Mangkunegara VII di Surakarta. Pendirian JPO ini membuat para
remaja dan pemuda di daerah lain tertarik mendirikan organisasi
kepanduan, yang memang pada waktu itu bisa dianggap sebagai salah satu cara perjuangan dalam usahanya mencapai kemerdekaan.
Tonggak kebangkitan bangsa Indnesia adalah berdirinya
organisasi Boedi Oetomo, 20 Mei 1908. Lalu peristiwa Sumpah
Pemuda, 28 Oktober 1928 yang menjiwai gerakan kepanduan nasional
yang semakin bergerak maju (merupakan semangat nasionalisme). Kemudian pemerintah kolonial Belanda melarang pemakaian istilah
padvinder bagi organisasi kepanduan bangsa Indonesia. Istilah
“pandu” dan “kepanduan” dikemukakan pertama kali dalam Kongres SIAP tahun 1928 oleh KH. Agus Salim di Kota Banjarnegara,
Peristiwa bersejarah terjadi saat BP dan Lady Baden Powell
berkunjung ke Indonesia (dulu Hindia Belanda) tanggal 3 Desember
1934. BP singgah di Jakarta setelah meninjau jambore di Australia, walaupun para pandu nasionalis tidak dapat bertemu dengan Bapak
Pandu.
Pandu Indonesia pertama kali mengikuti jambore di Jambore Dunia V di Volegenzang, Belanda di tahun 1937 (Pandu Hindia-
Belanda). Pada zaman kependudukan Jepang, organisasi-organisasi
kepanduan dilarang sama sekali. Semua organisasi kepanduan harus
bergabung dengan organisasi-organisasi kepemudaan bentukan Jepang.
Kemudian setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945
berdiri kembali organisasi-organisasi kepanduan hingga mencapai
jumlah lebih dari 100 organisasi, yang bergabung ke dalam 3 federasi,
yaitu IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia, 13-09-1951), POPPINDO
(Persatuan Orgnisasi Pandu Puteri, tahun 1954), PKPI (Perserikatan Kepanduan Puteri Indonesia). Ketiga federasi tersebut bergabung
menjadi satu dalam PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia)
yang terdiri dari sekitar 60 organisasi dengan ±500.000 anggota pandu.
Terjadi peristiwa penting lainnya adalah Jambore Nasional Kepanduan Pertama pada masa Pandu (sebelum jadi Pramuka) yaitu
Akhirnya, disadari bahwa banyaknya organisasi kurang baik untuk persatuan bangsa, maka pemerintah mengeluarkan Keppres No.
238/61 tentang Gerakan Pramuka sebagai dukungan pemerintah
terhadap organisasi kepanduan di Indonesia. Keppres tersebut
ditandatangani oleh Perdana Menteri RI saat itu, Ir. H. Juanda (Presiden Soekarno sedang mengadakan kunjungan kenegaraan ke
negara Jepang).
Gerakan Pramuka bukan badan pemerintah, semua organisasi
kepanduan melebur diri masuk menjadi anggota Gerakan Pramuka,
kecuali organisasi-organisasi kepanduan yang berhaluan komunis. Mulailah Gerakan Pramuka berkembang menjadi organisasi yang
disegani. Sampai saat ini diselenggarakan beberapa kali Jambore
Nasional (Jamnas), pertemuan pramuka penggalang yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali.
Dari uraian di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa
organisasi Gerakan Pramuka pada saat ini telah menjadi organisasi yang dapat diandalkan. Dan hal itu tidak terlepas dari jerih payah para
pandu dalam membangun kerangka organisasi dan pra pramuka dalam
membentuk organisasi Gerakan Pramuka seperti sekarang ini (Andri
Bob Sunardi, 2006:32-35).
dapat menampung aspirasi tanah air. Namun karena adanya kekhawatiran dari Belanda, maka pemuda dan remaja tidak
diperkenankan mengikuti NIPV.
Karena hal tersebut maka pada tahun 1916 mendirikan organisasi
kepanduan yang bercirikan nasionalisme yaitu Javanense Padvinders
Organisasi (JPO) yang diprakarsai oleh Sultan Pangeran
Mangkunegara VII di Surakarta.
Dengan berdirinya organisasi tersebut membuat para para remaja
dan pemuda bisa mengabdikan untuk berjuang dalam mencapai
kemerdekaan. Kepanduan nasional semakin maju pada tahun 1928
seiring dengan adanya Sumpah Pemuda dan pada waktu itu istilah Padvinder diganti dengan istilah pandu dan kepanduan.
Kemudian pada tahun 1934, Boden Powell dan Lady Boden Powell berkunjung ke Indonesia meskipun tidak menjumpai para
pandu. Akhirnya pada tahun 1937 Pandu Indonesia mengikuti Jambore
dunia di Volegenzany. Setelah kedatangan Jepang, pandu Indonesia dilarang untuk mengikuti kepanduan. Dan semua organisasi digabung
dengan kepanduan Jepang.
Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, maka
berdirilah kembali organisasi-organisasi kepanduan yang jumlahnya lebih dari 100 organisasi yang tergabung dalam 3 federasi yaitu
238/61 tentang Gerakan Pramuka sebagai dukungan pemerintah
terhadap kepanduan di Indonesia.
3. Sifat dan Fungsi Kepramukaan a. Sifat Kepramukaan
Menurut Resolusi Konferensi Kepramukaan Sedunia yang diselenggarakan di Kopenhagen, Denmark, tahun 1924, menyatakan
bahwa kepramukaan mempunyai tiga sifat / arti khas, yaitu:
1) Kepramukaan bersifat nasionalis: kepramukaan diselenggarakan di
negara masing-masing yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara tersebut.
2) Internasional: kepramukaan harus dapat mengembangkan rasa
persaudaraan dan persahabatan antar sesama anggota kepanduan
(pramuka) sebagai sarana manusia.
3) Universal: kepramukaan dapat berlaku bagi siapa saja serta diselenggarakan di mana saja (Andri Bob Sunardi, 2006 : 4).
Dari penejalasan di atas maka penulis mengambil kesimpulan bahwa sifat pramuka adalah berlaku bagi siapa saja dan dimana saja, yang bisa diselenggarakan di masing-masing negara tetap menjalin persaudaraan dan persahabatan dengan negara lain.
b. Fungsi Kepramukaan
Selain sifat, pramuka juga memiliki tiga fungsi, yaitu:
2) Pengabdian: merupakan suatu pengabdian (job) bagi para anggota
dewasa yang merupakan tugas yang memerlukan keikhlasan,
ketelatenan dan pengabdian
3) Alat untuk mencapai tujuan: merupakan alat (means) bagi
masyarakat, negara atau organisasi untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat, alat bagi organisasi atau negara untuk mencapai
tujuannya (Andri Bob Sunardi, 2006 : 4).
Dari penjelasan di atas maka menurut penurut penulis fungsi
kepramukaan tidak hanya sebagai alat permainan saja, namun juga
sarana pengabdian para anggota dewasa untuk mencapai suatu tujuan.
4. Dasar, Asas, Tujuan, dan Sasaran Gerakan Pramuka
a. Dasar
Kegiatan kepramukaan sebagai proses pendidikan, pengabdian
dan merupakan alat masyarakat untuk mencapai sasaran dan tujuan yang menjadi cita-cita bangsa.
Adapun hal yang menjadi dasar dalam gerakan pramuka adalah: 1) Pancasila
2) Undang-Undang Dasar 1945
4) Keputusan Presiden RI No. 238 Tahun 1961
5) Keputusan Presiden RI No. 34 Tahun 1999
6) Keputusan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka No. 107 Tahun 1999 (Gerakan Pramuka Kwartir II Jateng, 2008 : 7 - 8).
Dari penjelasan di atas mengenai landasan Gerakan Pramuka
maka penulis menyimpulkan bahwa dasar tersebut merupakan
landasan hukum dalam Gerakan Pramuka, sehingga itu semua harus
dipahami, ditaati dan dihayati oleh setiap anggota Gerakan Pramuka.
b. Asas Gerakan Pramuka
Asas setiap anggota Gerakan Pramuka adalah penghayatan dan
pengamalan Pancasila yang diwujudkan dalam setiap sikap dan
perilaku sehari-hari (Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Salatiga, 2007
: 18).
c. Tujuan Gerakan Pramuka
Gerakan Pramuka bertujuan mendidik dan membina kaum muda Indonesia agar menjadi:
1) Manusia berkepribadian, berwatak dan berbudi luhur yang:
a) beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kuat mental dan tinggi moral
b) tinggi kecerasan dan mutu ketrampilannya c) kuat dan sehat j asmaninya.
menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, dapat
membangun dirinya sendiri secara mandiri, serta bertanggung
jawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian
terhadap sesama hidup dan lingkungan, baik lokal, nasional,
maupun internasional (Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Salatiga, 2007: 18).
Dari penjelasan di atas maka penulis menyimpulkan bahwa tujuan Gerakan Pramuka adalah membentuk manusia yang berpekribadian, berwatak dan berbudi luhur, sehingga dalam
kehidupan ini bisa menghargai diri sendiri serta dapat menjalin
persaudaraan dengan sesama manusia.
Selain itu tujuan gerakan pramuka adalah menjadi warga
negara Indonesia yang berjiwa Pancasila sehingga dapat hidup
bermasyarakat sesuai dengan norma-norma yang telah ada, dan tidak
melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, d. Sasaran Kepramukaan
Sasaran kepramukaan adalah mempersiapkan kader bangsa yang: 1) Memiliki kepribadian dan kepemimpinan yang berjiwa Pancasila 2) Berdisiplin dalam berfikir, bersikap dan bertingkah laku tertib 3) Sehat dan kuat mental, moral dan fisik
5) Berkemampuan untuk berkarya dengan semangat kemandirian,
berfikir kreatif, inovatif, dan dipercaya, berani dan mampu menghadapi tugas-tugas (Gerakan Pramuka Kwartir Cabang
Salatiga, 2007: 19).
Dari penjelasan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa
sasaran kepramukaan adalah mendidik anggotanya agar memiliki
kepribadian, mental yang sehat, cerdas dan berawawasan guna
memajukan bangsa Indonesia.
5. Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan
Prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan merupakan
ciri khas yang membedakan dari lembaga pendidikan lainnya yang dilaksanakan sesuai dengan kepentingan, kebutuhan, situasi dan kondisi masyarakat.
Prinsip dasar kepramukaan adalah :
a. Iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
b. Peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya.
c. Peduli terhadap diri pribadi.
d. Taat kepada kode kehormatan pramuka (Andi Bob Sunardi, 2006 : 61)
Jadi, dari penjelasan di atas maka seorang anggota pramuka harus
mengetahui prinsip dasar kepramukaaan sehingga dalam melakukan suatu tindakan berdasarkan prinsip-prinsip tersebut.
a. Pengamalan kode kehormatan pramuka
b. Belajar sambil melakukan c. Sistem berkelompok
d. Kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan jasmani dan rohani
anggota muda dan anggota dewasa muda.
e. Kegiatan di alam terbuka. f. Sistem tanda kecakapan
g. Sistem kesatuan terpisah untuk putra dan putri h. Kiasan dasar (Andi Bob Sunardi, 2006 : 62) 6. Bentuk-bentuk Kegiatan Kepramukaan
a. Kegiatan berkemah
Berkemah merupakan kegiatan dalam pramuka, biasanya dengan mendirikan tenda. Berkemah bisa dilakukan di hutan, pegunungan,
pantai ataupun danau sekitar. Lama waktu berkemah pun dalam
pramuka bermacam-macam, ada satu atau dua hari bahkan lebih dari dua hari.
b. Kegiatan permainan
Permainan sebagai salah satu kegiatan kepramukaan dalam
c. Kegiatan petualangan
Kegiatan ini biasanya dilakukan untuk mencari tanda jejak.
Dalam perjalanan tersebut peserta didik diberi tugas dan harus
diselesaikan dengan baik.
d. Kegiatan ketrampilan
Hal yang menarik dalam kegiatan pramuka adalah peserta didik
diberi bekal ketrampilan. Tujuannya adalah untuk membekali mereka
agar memilikiketrampilan sehingga apabila telah lulus nanti bisa dimanfaatkan di luar sekolah.
e. Kegiatan di alam bebas
Kegiatan ini sama halnya dengan kegiatan petualangan, namun
yang menjadi perbedaan adalah jika petualangan itu biasanya dinilai
sedangkan kegiatan di alam bebas ini sifatnya refreshing.
f. Kegiatan ketangkasan di air
Kegiatan ini perlu dikuasai oleh peserta didik, karena terkadang
ketika dalam perjalanan ada suatu sungai ataupun yang lain maka
ketangkasan air ini sangat dibutuhkan.
g. Kegiatan ketangkasan menggunakan tali
Ketangkasan dengan menggunakan tali wajib dikuasai oleh
peserta didik yang mengikuti (aktif) pramuka. Ketangkasan tali dipraktekkan apabila memanjat tebing yang terjal, ataupun jembatan, bahkan melewati sungai yang dalam).
samping itu ada kegiatan-kegiatan lain yang diajarkan guna memberikan
bekal yang nantinya dapat dibaktikan pada masyarakat.
B. Percaya Diri 1. Pengertian
Percaya diri merupakan bagian yang ada dalam diri sebagai salah
satu unsur yang penting yang dimiliki oleh setiap individu. Pada saat
seseorang merasa mampu atau yakin bahwa dirinya memiliki suatu kelebihan dari temannya atau orang lain, maka akan menciptakan suatu sikap optimis dalam dirinya.
Setiap orang memiliki potensi untuk percaya diri yang harus dirangsang melalui dorongan dari orang lain atau dirinya sendiri. Percaya
diri adalah bagian dari bentuk optimis bahwa segala sesuatu dapat
dipelajari sebagaimana mempelajari ilmu pengetahuan, sehingga seseorang dapat belajar percaya diri.
Kepercayaan diri merupakan salah satu aspek dalam kepribadian
yang sangat penting. Keragu-raguan seseorang pada dirinya hanya akan melahirkan sikap yang lemah, yang tidak sadar bahwa dirinya memiliki
derajat dan martabat yang tinggi sebagai sebaik-baik bentuk ciptaan-Nya.
Mereka tidak sadar bahwa Allah SWT telah memberikan potensi sebagai
pribadi yang unik untuk mengembangkan kreativitas diri dalam menemukan kebenaran sejati. Manusia sebagai pemimpin yang bertugas memakmurkan bumi, maka dalam menjalankan misinya harus melihat
memberikan bentuk perubahan di muka bumi, seseorang yang kuat lebih
mampu dan lebih baik daripada yang lemah. Kondisi ketidakberdayaan,
ketidakpercayaan ini akan menjadikan seseorang memiliki kepekaan yang
berlebih, sehingga ia akan menderita karena cobaan yang kecil sekalipun
(Rasimin dan Imam Subqi, 2009:35).
Kepercayaan diri muncul dari konsep diri yang positif. Apabila seseorang memiliki konsep diri yang positif, maka akan terbentuk
penghargaan yang tinggi pula terhadap dirinya senidri. Penghargaan
terhadap diri yang merupakan evaluasi terhadap diri akan menentukan
sejauh mana seseorang yakin akan kemampuan dirinya dan keberhasilan dirinya (Tim Pustaka Famili, 2006:19).
Dari uraian di atas, maka ada pengertian tentang percaya diri, yaitu:
a. Menurut Barbara de Angelis, PhD, percaya diri adalah yakin pada kemampuan sendiri (Barbara de Angelis, 2005:42).
b. Dalam Kamus Bahasa Indonesia, percaya diri adalah sikap yakin benar
atau memastikan akan kemampuan atau kelebihan diri sendiri (Rasimin dan Imam Subqi, 2009:35).
c. Percaya diri adalah sikap batin yang dimiliki oleh seseorang
berdasarkan pada suatu keyakinan terhadap kemampuan dirinya sendiri, mandiri dan tidak suka meminta bantuan dari pihak lain.
d. Menurut Indari Mastuti dalam bukunya 50 Kiat Percaya Diri,
Dari beberapa pengertian mengenai rasa percaya diri di atas dapat diambil kesimpulan bahwa percaya diri adalah sikap batin yang dimiliki oleh seseorang berdasarkan pada suatu keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri yang bisa dipengaruhi oleh faktor intern dan faktor ekstern.
2. Dasar
Yang mendasari bahwa orang harus memiliki rasa percaya diri cukup adalah:
a. Q.S. At-Tin:4
UJ
l
U-
JJaJ
Artinya: “Sungguh-sungguh Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (Departemen Agama RI, 2005:598).
Dari ayat di atas jelas bahwa Allah SWT menciptakan manusia sebaik-baik bentuk. Dalam kondisi apapun tubuh dan penampilan fisik, itulah yang terbaik bagi kita menurut Allah. Maka yakinlah karena Allah menciptakan kita dalam bentuk yang terbaik, pasti Allah juga mempunyai rencana terbaik buat kita,
Artinya:
Dari Bukhari, Muslim, Tirmidhi dan Ibn Majah, diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a: Rasulullah s.a.w bersabda: “Allah s.w.t berfirman: Aku adalah berdasarkan kepada sangkaan hambaKu terhadapKu. Aku bersamanya ketika dia mengingatiKu. Apabila dia mengingatiKu dalam dirinya, nescaya aku juga akan mengingatinya dalam diriKu. Apabila dia mengingatiKu di majlis, nescaya Aku juga akan mengingatinya di dalam suatu majlis yang lebih baik daripada mereka. Apabila dia mendekatiKu dalam jarak sejengkal, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sehasta. Apabila dia mendekatiKu sehasta, nescaya Aku akan mendekatinya dengan jarak sedepa. Apabila dia datang kepadaKu dalam keadaan beijalan seperti biasa, nescaya Aku akan datang kepadanya seperti berlari-lari kecil.” (Syeikh Muhammad bin Umar an-Nawawi al-Bantani, tt:32).
Dari hadits tersebut jelas bahwa Allah sesuai dengan prasangka kita. Apabila kita yakin atas kemampuan yang ada pada diri kita, maka Allah pasti akan memberikan kesuksesan atau hasil yang baik untuk kita.
3. Karakteristik (Ciri-ciri) Rasa Percaya Diri
Rasa percaya diri dapat dilihat melalui tingkah laku. Seseorang yang mempunyai rasa percaya diri memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Percaya akan kompetensi/kemampuan diri hingga tidak membutuhkan pujian, pengakuan, penerimaan, atau pun rasa hormat orang lain.
b. Tidak terdorong untuk menunjukkan sikap konformis demi diterima oleh orang lain atau kelompok.
c. Berani menerima dan menghadapi penolakan orang lain, berani menjadi diri sendiri.
d. Mempunyai pengendalian diri yang baik.
e. Mempunyai cara pandang yang positif terhadap diri sendiri, orang lain dan situasi di luar dirinya.
melihat sisi positif dirinya dan situasi yang terjadi,
g. Memiliki internal locus o f control (memandang keberhasilan atau kegagalan tergantung dari usaha diri sendiri) dan tidak mudah menyerah pada nasib atau keadaan serta tak bergantung/mengharapkan bantuan orang lain (Indari Mastuti, 2008:14).
Sikap-sikap di atas terdapat di dalam pribadi seseorang yang memiliki rasa percaya diri yang tinggi. Jadi, seseorang tidak dapat dikatakan memiliki percaya diri apabila orang tersebut masih menggantungkan bantuan orang lain, mudah putus asa, kecewa, bahkan tidak mempunyai rasa tanggung jawab.
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Rasa Percaya Diri
Hal-hal yang mempengaruhi rasa percaya diri seseorang ditentukan oleh dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam diri anak yang mempengaruhi percaya diri adalah konsep diri anak. Sedang faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri anak. Adapun faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Faktor intern 1) Konsep diri
konsep diri yang baik (positif) adalah mereka yang tahu kelebihan
dan kekurangan yang dimiliki. Kemudian dengan menyadari
kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya, anak akan dapat
belajar untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitarnya sehingga mereka dapat lebih mudah dalam beradaptasi (Rasimin
dan Imam Subqi, 2009:40).
Dari uraian di atas berarti konsep diri adalah pandangan dan sikap individu terhadap diri sendiri.
Inti kepribadian berperan penting untuk mengarahkan
perkembangan kepribadian serta perilaku individu. Menurut pemikiran Ericson ada lima tahap pembentukan konsep diri pada perkembangan seseorang, yaitu:
a) Pada usia 1 ,5 -2 tahun disebut sense o f trust
Pada usia 1 , 5 - 2 tahun perlu diberi motivasi dan bantuan
bahwa anak itu telah dapat berjalan atau mampu makan makanan padat.
b) Usia 2 - 4 tahun disebut sense o f autonomy
Berikan autonomi pada anak bahwa anak diberi peluang untuk dapat makan sendiri atau berpakaian sendiri.
c) Usia 4 - 7 tahun disebut sense o f initiative
d) Usia 7 - 1 2 tahun disebut sense o f industry
Pada usia 7 - 1 2 tahun anak punya keinginan berkarya,
ada yang belajar bisnis, misalnya anak membuat bentuk-bentuk seperti kotak kado atau kue-kue dan ditawarkan pada
lingkungan.
e) Usia 12 tahun ke atas disebut sense o f identity
Pada usia ini anak belajar memperoleh identitas diri dan
terbentuklah gambaran mengenai dirinya. Atau dengan kata
lain identitas diri merupakan suatu hasil yang diperoleh pada
masa remaja tetapi masih akan mengalami perubahan dan
pembaharuan (Sri Rumudi dan Siti Sundari, 2004 : 75).
Bentuk konsep diri yang diperoleh pada usia ini akan
menentukan dan mengarahkan perilaku anak dan terbentuklah konsep kepribadian individu.
Konsep diri dikembangkan melalui interaksi dengan orang lain maupun peniruan. Apabila sejak kecil ia diterima, disayangi,
dan selalu dihargai, maka ia akan mengembangkan konsep diri
positif. Demikian halnya perilaku orang-orang yang dianggap
penting bagi anak maupun tokoh idola juga akan mempengaruhi
Pengenalan diri seorang anak dimulai sejak usia 15 bulan dan
konsep diri semakin komplesk dan mantap ketika menginjak usia remaja yaitu pada masa pubertas akhir atau adolesen. Masa
adolesen ini menurut Sigmun Freud disebut sebagai “edisi kedua
dari situasi oidipus” (Al-Abu Achmadi dan Soleh, 2005 : 127).
Sebab reaksi anak muda pada usia ini masih mengandung banyak
unsur yang rumit dan belum tersesaikannya baik masalah anak
muda, orang tua atau objek cintanya.
Menurut para ahli jiwa, batas waktu adolesen itu adalah 17 -
19 tahun atau 1 7 - 2 1 tahun. Pada masa adolesen anak muda mulai
merasa mantap, stabil, dan mulai mengenal aku, dan juga mulai mengenal hidup baru sehingga makin jelaslah pemahaman tentang
keadaan dirinya. Ia mulai bersikap kritis terhadap obyek-obyek di
luar dirinya. Setelah ia mengenal dirinya sendiri, secara aktif dan
obyektif ia melibatkan diri dalam segala macam acara kegiatan-
kegiatan di dunia luar (Al-Abu Achmadi dan Soleh, 2005 : 128).
Semenjak konsep diri mulai terbentuk seseorang akan
berperilaku sesuai dengan konsep dirinya tersebut. Apabila perilaku seseorang tidak konsisten dengan konsep diri, maka akan
Apabila seseorang memiliki konsep diri yang positif maka akan terbentuk penghargaan yang tinggi pula terhadap dirinya.
Penghargaan terhadap diri ini merupakan evaluasi terhadap diri
sendiri yang akan menentukan sejauh mana seseorang yakin akan
kemampuan dirinya dan keberhasilannya. Jadi, apabila ia memiliki
konsep diri yang positif yang ditujukan melalui self item atau
penghargaan yang tinggi, segala perilakunya akan tertuju pada keberhasilan. Ia akan berusaha dan berjuang untuk selalu
mewujudkan konsep dirinya.
Konsep diri yang sehat tidak sekedar positif, tetapi merupakan gambaran tentang diri yang sesuai dengan kenyataan
dirinya (real self). Apabila gambaran tentang dirinya, terutama diri
yang dicita-citakan (ideal self) tidak sesuai dengan kenyataan
dirinya, maka akan terjadi kesenjangan antara diri yang dicita- citakan dengan kenyataan dirinya. Kesenjangan ini akan
menimbulkan perasaan tidak nyaman dalam diri seseorang.
Semakin besar kesenjangannnya, semakin besar pula rasa tidak nyaman yang ditimbulkannya.
Ada dua macam mekanisme yang biasanya digunakan oleh seseorang, yaitu:
b) Dengan mendistorsi informasi yang tidak sesuai dengan ideal
self-nya. (Tim Pustaka Famili, 2006:21).
Cara yang pertama lebih sulit dilakukan oleh seseorang dan
pilihan kedua biasanya menjadi mekanisme yang sering dilakukan. Apabila seseorang sering mendistorsi segala informasi yang
tidak sesuai dengan real self-nya maka sebenarnya ia cenderung
menipu dirinya sendiri, tidak realistis, dan tidak akan pernah
mengembangkan dirinya. Sementara itu, apabila seseorang terlalu
menuntut dirinya seperti yang dicita-citakan, energinya akan tersita
ke usaha tersebut, sehingga menimbulkan kelelahan dan
ketidaknyamanan. Apabila ia tidak mampu mencapainya, akan
menimbulkan perasaan frustrasi dan kegagalan yang mendalam, yang selanjutnya akan menghancurkan harga diri (selfesteem).
Pandangan diri terkait dengan dimensi fisik karakteristik individual, dan motivasi diri. Pandangan diri tidak hanya meliputi
kekuatan individual, tetapi juga kelemahan bahkan kegagalan dirinya. Atau dengan kata lain, identitas diri merupakan suatu hasil
yang diperoleh pada masa remaja tetapi masih akan mengalami perubahan dan pembaharuan (Sri Rumini & Siti Sundari, 2004:75). a) Faktor-faktor pembentuk konsep diri
(1) Faktor kemampuan
Yaitu kemampuan yang ada pada diri anak. Maka berilah
peluang agar anak mampu melakukan sesuatu.
(2) Faktor perasaan berarti
Pupuklah rasa berarti pada diri anak dalam setiap aktivitas sekecil dan sesederhana apapun.
(3) Faktor kebajikan
Bila anak telah memiliki perasaan berarti, maka akan
tumbuh kebajikan dalam dirinya. Anak merasa lingkungan
adalah tempat yang menyenangkan.
(4) Faktor kekuatan
Pola perilaku berkarakteristik positif memberi kekuatan
bagi anak untuk melakukan perbuatan yang baik. Dengan
kekuatan diri, anak dapat menghalau upaya yang negatif (Tim Pustaka Familia, 2006:34-35).
(5) Faktor intelegensi
Pertumbuhan dan perkembangan jiwa anak tidak terbatas
pada perkembangan emosi saja, tetapi juga menyangkut tingkat kemampuan anak dalam memahami masalah-
yang bodoh, penangkapan masalah yang ada di sekitarnya perlu adanya penjelasana. Jadi, jelaslah bahwa faktor
intelegensi sangat mempengaruhi sikap percaya diri pada
anak.
b) Hal-hal yang perlu dikenali dalam konsep diri
Untuk mengenal diri sendiri, maka ada beberapa hal yang
harus dikenali, antara lain: (1) Fisik
Pengenalan dan penyadaran akan tubuh atau kondisi tubuh secara keseluruhan, misalnya warna kulit, bentuk muka, jenis rambut, ukuran badan, dan lain-lain. Hal ini sangat penting dilakukan sehingga kita bisa pas memperlakukan tubuh atau sesuai dengan kemampuan.
(2) Psikis
Pengenalan secara psikis sangat sulit diketahui orang lain.
Hal ini menyangkut sifat, aspirasi, karakter dan lain-lain.
Jangan pernah merasa malu untuk mengakui sifat jelek yang ada pada diri sendiri dan jangan merasa malu untuk
mengakui kelebihan yang ada dalam diri misalnya sopan, jujur, amanah, dapat diandalkan dan sebagainya (Nurul
Chomariyah, 2008:119). (3) Sosial
Pengenalan semacam ini dilakukan dengan cara
kita dibenci atau disukai, diterima atau ditolak, menjadi
pribadi yang menyenangkan atau menyebalkan. Perilaku dan sikap kita akan seperti gema yang akan memantul ke diri kita baik dan buruknya (Nurul Chomariyah, 2008:117).
b. Faktor ekstern 1) Faktor keluarga
Keluarga merupakan salah satu faktor terpenting dalam
proses pertumbuhan dan perkembangan psikologis anak karena
melalui keluarga ini karakternya akan lebih dominan, dipengaruhi
oleh orang tua. Setelah anak lahir, maka akan terlihat jelas fungsi keluarganya dalam pendidikan ketika memberikan pengalaman
kepada anak, baik melalui penglihatan, pendengaran maupun
pembiasaan menuju terbentuknya pribadi yang diinginkan orang tua. Hal ini sesuai yang dikemukakan oleh Zakiyah Darajat sebagai berikut:
“Orang tua adalah pembina pribadi yang pertama dalam hidup anak, kepribadian orang tua, sikap dan cara hidup mereka, merupakan unsur-unsur pendidikan yang tidak langsung yang dengan sendirinya akan masuk ke dalam pribadi anak yang sedang tumbuh” (Rasimin dan Imam Subqi, 2009:37).
Anak lahir dan mulai mengenal hidupnya di dalam keluarga. Pada saat itu pula anak akan tumbuh dan berkembang sehingga
menjadi insan dewasa dan melepaskan diri dari keluarga. Apabila
ia menghabiskan waktu. Dari sini peran orang tua sangat penting
yang akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangannya
secara maksimal. Sebaliknya, suasana keluarga yang menghargai
nilai-nilai spiritual merupakan ladang permainan yang subur bagi
tumbuhnya kepribadian anak yang baik. Berdasarkan hal ini,
pengaruh keluarga besar sekali terhadap tumbuhnya sikap percaya
diri bagi anak.
2) Faktor teman sepermainan
Dalam interaksinya, anak akan menghadapi berbagai macam
bentuk perilaku, salah satunya perilaku yang ditujukan dan teman
sepermainan, anak bisa menerima pengaruh yang baik ataupun
buruk. Pengaruh positif merupakan pergaulan anak yang sesuai
dengan norma etika masyarakat yang dijunjung tinggi, sedangkan
pengaruh negatif adalah teman bergaul yang tidak menganggap
bahwa norma masyarakat perlu ditaati. Keduanya dapat mempengaruhi sikap percaya diri karena dari teman sepermainan mudah terjadi proses peniruan, bujukan atau ajakan antara teman satu dengan teman lainnya.
3) Faktor lingkungan sekolah
Sekolah mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap tumbuhnya sikap percaya diri anak. Di sekolah, anak dididik
akan sangat menentukan bersifat optimis mereka. Artinya, ketika
anak sehat mentalnya, maka ia akan mampu menyelesaikan segala
persoalan yang akan dihadapi. Sebaliknya, apabila kesehatan
mental terganggu dengan munculnya gejala dalam segala aspek kehidupan, misalnya perasaan, pikiran, kelakuan, dan kesehatan,
maka sangat sulit bagi pendidik (guru) untuk membantu
pembentukan rasa percaya diri.
Sekolah dalam hal ini berfungsi sebagai pembantu orang tua untuk mengerjakan kebiasaan-kebiasaan yang baik, menanamkan
budi pekerti yang luhur.
Jadi pendidikan di sekolah mempunyai pengaruh yang sangat
besar dalam pembentukan mental dan karakter anak yang
berhubungan erat dengan keluarga, sehingga pendidikan keluarga
yang berlanjut ke sekolah dapat membantu pembentukan rasa
percaya diri anak dengan sendirinya. Peran guru sebagai pengganti
orang tua di sekolah akan mempengaruhi karakteristik dan percaya diri anak.
4) Faktor lingkungan masyarakat
Lingkungan masyarakat merupakan kumpulan individu dan
Setelah mendapat pembinaan di rumah dan di sekolah, dalam
hal perkembangannya, anak mendapat pengaruh yang besar di
lingkungan masyarakat. Anak ingin mengetahui dan mengembangkan dirinya di lingkungan masyarakat. Keadaan dan
kondisinya tidak sama baik dalam hal pekeijaan, perbuatan,
kesenangan, kebiasaan, dan sebagainya. Perasaan dan emosi seseorang akan berkembang semenjak ia bergaul dengan
lingkungannya.
5. Cara Mengembangkan Rasa Percaya Diri
Rasa percaya diri dapat dikembangkan dengan berbagai cara. Adapun cara-cara itu antara lain:
a. Menjadikan hati ridha
Merupakan langkah awal dalam membina kepercayaan diri,
karena menjadikan hati ridha adalah tindakan yang smart dan
membuat diri mudah menerima berbagai kemungkinan yang terjadi dalam hidup ini.
b. Bersyukur dan tawakal (O. Sholikin, 2005 : 128)
Kenikmatan yang telah diperoleh tetap disyukuri. Apabila terdapat suatu permasalahan yang menurut kita sulit maka usaha yang harus
diambil adalah bertawakal kepada Allah.
c. Mengenali diri sendiri (Thobieb Al-Asyhar, 2005 : 73)