• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. Kajian tentang Kepramukaan 1. Pengertian

Dari segi bahasa, istilah kepramukaan berasal dari Pramuka yang merupakan kepanjangan dari Praja Muda Karana (Echols dan Hasan Shadily, 1989 : 435). Akar kata ini mendapat awalan ke dan akhiran an, sehingga menjadi kata kepramukaan yang artinya proses pendidikan luar sekolah dan luar keluarga dalam bentuk kegiatan menarik, menyenangkan, sehat, teratur, terarah, praktis yang dilakukan di alam terbuka (JG. Sutejo, 2006 : 3). Dengan prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan yang sasaran akhirnya pembentukan watak.

Sedangkan pengertian yang dikutip dari buku Boy Man, menurut Lord Baden Powell, kepramukaan adalah:

“Kepramukaan itu bukanlah suatu ilmu yang harus dipelajari dengan tekun, bukan pula merupakan kumpulan ajaran-ajaran dan daskah- naskah dari suatu buku. Bukan! Kepramukaan adalah suatu permainan yang menyenangkan di alam terbuka, tempat orang dewasa dan anak-anak pergi bersama-sama, mengadakan pengembaraan bagaikan kakak beradik, membina kesehatan dan kebahagiaan, ketrampilan dan kesediaan untuk memberi pergolongan bagi yang membutuhkan” (Andri Bob Sunardi, 2006:3).

Dari penjelasan Boden Powell tersebut dapat diambil makna bahwa kepramukaan mengandung suatu pendidikan khususnya dalam pembinaan watak (mental). Dengan adanya “pembangunan karakter”

tersebut, gerakan Pramuka dapat memberikan sumbangan positif terhadap negara dengan menyemai benih-benih calon pemimpin yang patriotis.

Sedangkan The World Organization o f the Scout Movement (WOSM) menyatakan bahwa kepramukaan adalah:

a. Pendidikan sepanjang hayat, yang artinya:

Kepramukaan merupakan pelengkap pendidikan sekolah dan pendidikan dalam keluarga, mengisi kebutuhan peserta didik yang tidak terpenuhi oleh kedua pendidikan tersebut. Kepramukaan mengembangkan pengetahuan yang telah dimiliki peserta didik, minat untuk melakukan penjelajahan/penelitian, penemuan dan keinginan untuk tahu.

b. Kegiatan kaum muda, yang artinya:

Kepramukaan adalah suatu gerakan, suatu proses, atau aktivitas yang dinamis dan selalu bergerak maju. Kepramukaan sebagai proses pendidikan dalam bentuk kegiatan remaja dan pemuda itu di manapun dan kapanpun selalu berubah sesuai dengan kepentingan, kebutuhan dan kondisi setempat. Peserta didik pramuka memberikan darma baktinya sesuai kebutuhan masyarakat setempat.

c. Rekreasi yang edukatif, yang artinya:

Kepramukaan sebagai proses pendidikan dalam bentuk kegiatan, menggunakan tata cara rekreasi dalam mencapai tujuan dan sasarannya. Kegiatan itu harus dirasakan oleh peserta didik sebagai sesuatu yang menyenangkan, menarik, tidak menjemukan, bukan

paksaan. Kepramukaan bukan sekedar rekreasi. Dengan rekreasi itu, peserta didik dikembangkan kemantapan mental, fisik, pengetahuan, pengalaman, ketrampilan dan rasa sosial serta spiritual.

d. Terbuka bagi siapapun, yang artinya:

Sesuai dengan prinsip dasar dan metode kepramukaan yang diterapkan oleh penemu kepramukaan Lord Baden Powell, kepramukaan itu terbuka untuk siapapun dengan tidak memandang suku, agama, ras dan golongan.

e. Tantangan bagi orang dewasa, yang artinya:

Dalam kepramukaan, orang dewasa tidak hanya memperoleh kesempatan untuk beribadah atau memberikan pengabdian membantu kaum muda, tapi juga menghadapi tantangan dalam membina interaksi dan saling pengertian dengan kaum muda, serta dapat memahami kaum muda. Dalam pengabdiannya itu orang dewasa (pembina) akan memperoleh pelatihan dan pengalaman yang sangat berharga yang dapat meningkatkan kualitas sumber daya potensi yang dimiliki.

f. Kesukarelaan, yang artinya:

Kesukarelaan merupakan ketentuan konstitusional keanggotaan organisasi gerakan kepramukaan di seluruh dunia. Gerakan pramuka yang keanggotaannya tidak berdasarkan kesukarelaan bukanlah organisasi gerakan kepramukaan dan tidak bisa menjadi anggota World Organization o f the Scout Movement. Seseorang menjadi anggota organisasi gerakan pramuka kalau secara sukarela menerima,

menetapkan ketentuan moral gerakan pramuka berupa kode kehormatan pramuka Tri Satya dan Dasa Darma serta secara sukarela mengucapkan Tri Satya dan mengamalkannya.

g. Non politik dan non pemerintah, yang artinya:

Gerakan pramuka sebagai organisasi pendidikan, tidak dan harus tidak menjadi bagian atau mewakili partai politik atau organisasi apapun termasuk pemerintah dan instalasinya. Namun para pramuka didorong untuk memberikan pengabdian yang konstruktif kepada masyarakat, bangsa dan negara. Setiap pramuka disiapkan untuk menjadi warga negara yang bermoral tinggi, sehat mental, fisiknya dan mengabdikan dirinya bagi masyarakat, bangsa dan negara.

h. Metode, yang artinya:

Kepramukaan merupakan cara pembinaan dan pengembangan sumber daya manusia/potensi/akhlak, budi pekerti kaum muda, yang dilaksanakan dengan medote kepramukaan diterapkan dalam semua kegiatan dengan cara:

1) Pengamalan kode kehormatan pramuka

2) Belajar sambil mengerjakan, peserta didik berpartisipasi

3) Kegiatan kelompok kecil dilakukan dalam kelompok kecil untuk mengembangkan kepemimpinan, ketrampilan kelompok, team work, dan rasa tanggung jawab pribadi

4) Kegiatan di alam terbuka di mana terjadi kontak dengan alam seisinya merupakan proses pembelajaran lingkungan yang kaya

dimana keadaan alam kreativitas dan penemuan berpadu menimbulkan petualangan dan tantangan.

5) Pemberian anugerah karya, merupakan dorongan bagi peserta didik untuk berkarya.

Norma hidup, yang berarti:

Kepramukaan sebagai proses pendidikan, merupakan norma hidup yang mengandung:

1) Nilai spiritual

Norma hidup yang menekankan pada upaya mengutamakan nilai spiritual dalam kehidupan dan menghidupkan di atas kehidupan material.

2) Nilai sosial

Mendorong peserta didik untuk melibatkan diri dalam pembangunan masyarakat, menghargai dan menghormati orang lain dan integritas alam seisinya. Dengan kepramukaan mempromosikan kerukunan dan kedamaian lokal maupun internasional, serta memupuk saling pengertian dalam keijasama. 3) Nilai pribadi

Membina dan mengembangkan rasa tanggung jawab pribadi serta membangkitkan hasrat peserta didik untuk bersikap dan bertindak laku yang bertanggung) awab (Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Kota Salatiga, 2008 : 1 - 3).

Dari pemaparan di atas maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa kepramukaan dalah suatu pendidikan yang terbuka untuk siapapun yang di dalamnya ada pembinaan watak yang akan membekali anggotanya dalam menjalani hidup sehingga dapat bermanfaat untuk dirinya sendiri atau orang lain.

2. Sejarah Kepramukaan

a. Sejarah kepramukaan sedunia

Mengutip buku yang disusun oleh Tim Kwarda Jateng, sejarah kepramukaan dunia disebutkan bahwa pada awal tahun 1908 Baden Powell selalu menulis cerita pengalaman sebagai bungkus acara latihan kepramukaan yang dirintisnya. Kumpulan tulisannya itu kemudian terbit sebagai buku Scouting fo r Boys. Buku ini cepat tersebar di Inggris bahkan ke negara-negara lainnya di mana berdirilah organisasi kepramukaan, yang semula untuk anak laki-laki seusia penggalang yang disebut dengan Boys Scout. Kemudian disusul dengan organisasi kepramukaan putri ygn diberi nama Girl Guide atas bantuan Agnes, adik perempuan Baden Powell, yang kemudian diteruskan oleh Ny. Baden Powell.

Pada tahun 1916 berdiri kelompok pramuka seusia siaga yang disebut cub (anak serigala) dengan buku The Jungle Book, kemudian pada tahun 1918 Baden Powell membentuk Rover Scout (pramuka usia penegak) untuk menampung mereka yang berusia sekolah lewat 17 tahun tetapi masih senang giat dalam bidang kepramukaan. Tahun

1922 Baden Powell menerbitkan buku Rovering to Success (Mengembara Menuju Bahagia) yang berisikan petunjuk bagi para pramuka penegak dalam menghadapi tantangan hidupnya untuk mencapai kebahagiaan.

Pada tahun 1920 diselenggarakan Jambore Sedunia, di arena Olympia, London. Baden Powell telah mengundang pramuka dari 27 negara, dan pada saat itu Baden Powell diangkat menjadi Bapak Pandu sedunia.

Kemudian pada tahun 1914 Baden Powell mulai menulis petunjuk kursus pembina pramuka. Rencana itu baru dapat dilaksanakan tahun 1919. Dari sahabatnya yang bernama W. F. De Boys Mac Leren, Baden Powell mendapat sebidang tanah di Chingford, yang digunakan sebagai tempat pendidikan pramuka. Tempat ini dikenal dengan Gil Well Park.

Tahun 1920 dibentuk Dewan Internasional dengan 9 orang anggota dan Biro Kesekretariatan yang berada di London, Inggris. Biro kepramukaan sedunia memiliki tenaga staf yang bisa diandalkan.

Gerakan Baden Powell itu ditiru oleh negara-negara lain. Belanda mencirikan Padvinder dan Padvinderij di negerinya. Pemerintah yang berada di Indonesia juga mendirikan padvinder dan padvinderij seperti NIPV (Netherland Indische Padvinders

Vereninging/Persatuan Pandu-Pandu Hindia Belanda) (J.G. Soetedjo, 2007 : 9).

Dari penjelasan di atas maka penulis menyimpulkan bahwa sejarah singkat kepramukaan sedunia berawal dari tahun 1908. Boden Powell yang menulis cerita pengalaman latihan kepramukaan, karena buku yang diterbitka digemari oleh banyak negara. Maka akhirnya dari sini dibentuk organisasi kepramukaan yang tadinya hanya untuk anak laki-laki, namun pada akhirnya diperuntukkan untuk anak perempuan.

Kemudian pada tahun 1916 mulai terbentuk suatu kelompok seusia siaga, kemudian disusul pramuka penegak. Akhirnya pada tahun 1920, karena organisasi kepramukaan telah tersebar di seluruh lapisan negara, maka diselenggarakan Jambore sedunia yang mengundang 27 negara. Dan pada momen tersebut, Boden Powell diangkat sebagai Bapak Pandu Dunia,

b. Sejarah kepramukaan di Indonesia

Mengutip dari buku yang berjudul Boyman Ragam Latih Pramuka, bahwa kepanduan masuk ke Indonesia karena negara Indonesia sedang dijajah oleh Belanda. Pertama-tama dibawa oleh orang Belanda. Organisasinya bernama Netherland Indische Padvinders Vereninging (NEPV) yang artinya adalah Persatuan Pandu- Pandu Hindia Belanda.

Bangsa Indonesia mulai tertarik pada organisasi tersebut dan karena sifatnya yang universal maka organisasi kepanduan dapat dengan cepat diterima oleh bangsa Indonesia, apalagi pada waktu isu

sangat memungkinkan. Para remaja dan pemuda membutuhkan suatu organisasi yang dapat menampung aspirasi mereka terhadap tanah airnya.

Suatu yang membuat pemerintah kolonial Belanda menjadi cukup khawatir. Oleh karena itu pemerintah kolonial Belanda melarang bangsa Indonesia mengikuti kegiatan NIPV. Maka berdirilah organisasi-organisasi kepanduan yang bercirikan nasionalisme, dan organisasi kepanduan yang pertama didirikan adalah pada tahun 1916, Javaense Padvinders Organisatie (JPO) atas prakarsa Sultan Pangeran Mangkunegara VII di Surakarta. Pendirian JPO ini membuat para remaja dan pemuda di daerah lain tertarik mendirikan organisasi kepanduan, yang memang pada waktu itu bisa dianggap sebagai salah satu cara perjuangan dalam usahanya mencapai kemerdekaan.

Tonggak kebangkitan bangsa Indnesia adalah berdirinya organisasi Boedi Oetomo, 20 Mei 1908. Lalu peristiwa Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928 yang menjiwai gerakan kepanduan nasional yang semakin bergerak maju (merupakan semangat nasionalisme). Kemudian pemerintah kolonial Belanda melarang pemakaian istilah padvinder bagi organisasi kepanduan bangsa Indonesia. Istilah “pandu” dan “kepanduan” dikemukakan pertama kali dalam Kongres SIAP tahun 1928 oleh KH. Agus Salim di Kota Banjarnegara, Banyumas, Jawa Tengah.

Peristiwa bersejarah terjadi saat BP dan Lady Baden Powell berkunjung ke Indonesia (dulu Hindia Belanda) tanggal 3 Desember 1934. BP singgah di Jakarta setelah meninjau jambore di Australia, walaupun para pandu nasionalis tidak dapat bertemu dengan Bapak Pandu.

Pandu Indonesia pertama kali mengikuti jambore di Jambore Dunia V di Volegenzang, Belanda di tahun 1937 (Pandu Hindia- Belanda). Pada zaman kependudukan Jepang, organisasi-organisasi kepanduan dilarang sama sekali. Semua organisasi kepanduan harus bergabung dengan organisasi-organisasi kepemudaan bentukan Jepang.

Kemudian setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 berdiri kembali organisasi-organisasi kepanduan hingga mencapai jumlah lebih dari 100 organisasi, yang bergabung ke dalam 3 federasi, yaitu IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia, 13-09-1951), POPPINDO (Persatuan Orgnisasi Pandu Puteri, tahun 1954), PKPI (Perserikatan Kepanduan Puteri Indonesia). Ketiga federasi tersebut bergabung menjadi satu dalam PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia) yang terdiri dari sekitar 60 organisasi dengan ±500.000 anggota pandu. Terjadi peristiwa penting lainnya adalah Jambore Nasional Kepanduan Pertama pada masa Pandu (sebelum jadi Pramuka) yaitu diselenggarakan di Pasar Minggu, Jakarta pada tahun 1955 (diselenggarakan oleh IPINDO).

Akhirnya, disadari bahwa banyaknya organisasi kurang baik untuk persatuan bangsa, maka pemerintah mengeluarkan Keppres No. 238/61 tentang Gerakan Pramuka sebagai dukungan pemerintah terhadap organisasi kepanduan di Indonesia. Keppres tersebut ditandatangani oleh Perdana Menteri RI saat itu, Ir. H. Juanda (Presiden Soekarno sedang mengadakan kunjungan kenegaraan ke negara Jepang).

Gerakan Pramuka bukan badan pemerintah, semua organisasi kepanduan melebur diri masuk menjadi anggota Gerakan Pramuka, kecuali organisasi-organisasi kepanduan yang berhaluan komunis. Mulailah Gerakan Pramuka berkembang menjadi organisasi yang disegani. Sampai saat ini diselenggarakan beberapa kali Jambore Nasional (Jamnas), pertemuan pramuka penggalang yang diselenggarakan setiap lima tahun sekali.

Dari uraian di atas maka penulis dapat menyimpulkan bahwa organisasi Gerakan Pramuka pada saat ini telah menjadi organisasi yang dapat diandalkan. Dan hal itu tidak terlepas dari jerih payah para pandu dalam membangun kerangka organisasi dan pra pramuka dalam membentuk organisasi Gerakan Pramuka seperti sekarang ini (Andri Bob Sunardi, 2006:32-35).

Sejarah kepramukaan di Indonesia pertama-tama dibawa oleh Belanda yaitu NIPV. Kemudian bangsa Indonesia mulai tertarik karena sifatnya yang universal dan para remaja butuh suatu organisasi yang

dapat menampung aspirasi tanah air. Namun karena adanya kekhawatiran dari Belanda, maka pemuda dan remaja tidak diperkenankan mengikuti NIPV.

Karena hal tersebut maka pada tahun 1916 mendirikan organisasi kepanduan yang bercirikan nasionalisme yaitu Javanense Padvinders Organisasi (JPO) yang diprakarsai oleh Sultan Pangeran Mangkunegara VII di Surakarta.

Dengan berdirinya organisasi tersebut membuat para para remaja dan pemuda bisa mengabdikan untuk berjuang dalam mencapai kemerdekaan. Kepanduan nasional semakin maju pada tahun 1928 seiring dengan adanya Sumpah Pemuda dan pada waktu itu istilah Padvinder diganti dengan istilah pandu dan kepanduan.

Kemudian pada tahun 1934, Boden Powell dan Lady Boden Powell berkunjung ke Indonesia meskipun tidak menjumpai para pandu. Akhirnya pada tahun 1937 Pandu Indonesia mengikuti Jambore dunia di Volegenzany. Setelah kedatangan Jepang, pandu Indonesia dilarang untuk mengikuti kepanduan. Dan semua organisasi digabung dengan kepanduan Jepang.

Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, maka berdirilah kembali organisasi-organisasi kepanduan yang jumlahnya lebih dari 100 organisasi yang tergabung dalam 3 federasi yaitu IPINDO, PUPPINDO, dan PKPI. Karena dirasa kurang baik dengan banyaknya organisasi, maka pemerintah mengeluarkan Kepres No.

238/61 tentang Gerakan Pramuka sebagai dukungan pemerintah terhadap kepanduan di Indonesia.

3. Sifat dan Fungsi Kepramukaan a. Sifat Kepramukaan

Menurut Resolusi Konferensi Kepramukaan Sedunia yang diselenggarakan di Kopenhagen, Denmark, tahun 1924, menyatakan bahwa kepramukaan mempunyai tiga sifat / arti khas, yaitu:

1) Kepramukaan bersifat nasionalis: kepramukaan diselenggarakan di negara masing-masing yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing negara tersebut.

2) Internasional: kepramukaan harus dapat mengembangkan rasa persaudaraan dan persahabatan antar sesama anggota kepanduan (pramuka) sebagai sarana manusia.

3) Universal: kepramukaan dapat berlaku bagi siapa saja serta diselenggarakan di mana saja (Andri Bob Sunardi, 2006 : 4).

Dari penejalasan di atas maka penulis mengambil kesimpulan bahwa sifat pramuka adalah berlaku bagi siapa saja dan dimana saja, yang bisa diselenggarakan di masing-masing negara tetap menjalin persaudaraan dan persahabatan dengan negara lain.

b. Fungsi Kepramukaan

Selain sifat, pramuka juga memiliki tiga fungsi, yaitu:

1) Permainan: merupakan kegiatan menarik yang mengandung pendidikan bagi anak-anak, remaja dan pemuda

2) Pengabdian: merupakan suatu pengabdian (job) bagi para anggota dewasa yang merupakan tugas yang memerlukan keikhlasan, ketelatenan dan pengabdian

3) Alat untuk mencapai tujuan: merupakan alat (means) bagi masyarakat, negara atau organisasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, alat bagi organisasi atau negara untuk mencapai tujuannya (Andri Bob Sunardi, 2006 : 4).

Dari penjelasan di atas maka menurut penurut penulis fungsi kepramukaan tidak hanya sebagai alat permainan saja, namun juga sarana pengabdian para anggota dewasa untuk mencapai suatu tujuan.

4. Dasar, Asas, Tujuan, dan Sasaran Gerakan Pramuka a. Dasar

Kegiatan kepramukaan sebagai proses pendidikan, pengabdian dan merupakan alat masyarakat untuk mencapai sasaran dan tujuan yang menjadi cita-cita bangsa.

Adapun hal yang menjadi dasar dalam gerakan pramuka adalah: 1) Pancasila

2) Undang-Undang Dasar 1945

3) Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Gerakan Pramuka, dan petunjuk penyelenggaraannya merupakan landasan hukum semua kegiatan Gerakan Pramuka yang harus ditaati oleh anggota pramuka

4) Keputusan Presiden RI No. 238 Tahun 1961 5) Keputusan Presiden RI No. 34 Tahun 1999

6) Keputusan Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka No. 107 Tahun 1999 (Gerakan Pramuka Kwartir II Jateng, 2008 : 7 - 8).

Dari penjelasan di atas mengenai landasan Gerakan Pramuka maka penulis menyimpulkan bahwa dasar tersebut merupakan landasan hukum dalam Gerakan Pramuka, sehingga itu semua harus dipahami, ditaati dan dihayati oleh setiap anggota Gerakan Pramuka. b. Asas Gerakan Pramuka

Asas setiap anggota Gerakan Pramuka adalah penghayatan dan pengamalan Pancasila yang diwujudkan dalam setiap sikap dan perilaku sehari-hari (Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Salatiga, 2007

: 18).

c. Tujuan Gerakan Pramuka

Gerakan Pramuka bertujuan mendidik dan membina kaum muda Indonesia agar menjadi:

1) Manusia berkepribadian, berwatak dan berbudi luhur yang:

a) beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, kuat mental dan tinggi moral

b) tinggi kecerasan dan mutu ketrampilannya c) kuat dan sehat j asmaninya.

2) Warga negara Republik Indonesia yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta

menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri, serta bertanggung jawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan lingkungan, baik lokal, nasional, maupun internasional (Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Salatiga, 2007: 18).

Dari penjelasan di atas maka penulis menyimpulkan bahwa tujuan Gerakan Pramuka adalah membentuk manusia yang berpekribadian, berwatak dan berbudi luhur, sehingga dalam kehidupan ini bisa menghargai diri sendiri serta dapat menjalin persaudaraan dengan sesama manusia.

Selain itu tujuan gerakan pramuka adalah menjadi warga negara Indonesia yang berjiwa Pancasila sehingga dapat hidup bermasyarakat sesuai dengan norma-norma yang telah ada, dan tidak melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah,

d. Sasaran Kepramukaan

Sasaran kepramukaan adalah mempersiapkan kader bangsa yang: 1) Memiliki kepribadian dan kepemimpinan yang berjiwa Pancasila 2) Berdisiplin dalam berfikir, bersikap dan bertingkah laku tertib 3) Sehat dan kuat mental, moral dan fisik

4) Memiliki jiwa patriot yang berwawasan luas dan dijiwai nilai-nilai kejuangan yang diwariskan oleh para pejuang bangsa

5) Berkemampuan untuk berkarya dengan semangat kemandirian, berfikir kreatif, inovatif, dan dipercaya, berani dan mampu menghadapi tugas-tugas (Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Salatiga, 2007: 19).

Dari penjelasan di atas, maka penulis menyimpulkan bahwa sasaran kepramukaan adalah mendidik anggotanya agar memiliki kepribadian, mental yang sehat, cerdas dan berawawasan guna memajukan bangsa Indonesia.

5. Prinsip Dasar Kepramukaan dan Metode Kepramukaan

Prinsip dasar kepramukaan dan metode kepramukaan merupakan ciri khas yang membedakan dari lembaga pendidikan lainnya yang dilaksanakan sesuai dengan kepentingan, kebutuhan, situasi dan kondisi masyarakat.

Prinsip dasar kepramukaan adalah :

a. Iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

b. Peduli terhadap bangsa dan tanah air, sesama hidup dan alam seisinya. c. Peduli terhadap diri pribadi.

d. Taat kepada kode kehormatan pramuka (Andi Bob Sunardi, 2006 : 61) Jadi, dari penjelasan di atas maka seorang anggota pramuka harus mengetahui prinsip dasar kepramukaaan sehingga dalam melakukan suatu tindakan berdasarkan prinsip-prinsip tersebut.

Sedangkan metode kepramukaan merupakan cara belajar yang progresif melalui:

a. Pengamalan kode kehormatan pramuka b. Belajar sambil melakukan

c. Sistem berkelompok

d. Kegiatan yang menantang dan meningkat serta mengandung pendidikan yang sesuai dengan perkembangan jasmani dan rohani anggota muda dan anggota dewasa muda.

e. Kegiatan di alam terbuka. f. Sistem tanda kecakapan

g. Sistem kesatuan terpisah untuk putra dan putri h. Kiasan dasar (Andi Bob Sunardi, 2006 : 62) 6. Bentuk-bentuk Kegiatan Kepramukaan

a. Kegiatan berkemah

Berkemah merupakan kegiatan dalam pramuka, biasanya dengan mendirikan tenda. Berkemah bisa dilakukan di hutan, pegunungan, pantai ataupun danau sekitar. Lama waktu berkemah pun dalam pramuka bermacam-macam, ada satu atau dua hari bahkan lebih dari dua hari.

b. Kegiatan permainan

Permainan sebagai salah satu kegiatan kepramukaan dalam pendidikan dan latihan, merupakan metode yang cepat menarik perhatian peserta didik dalam menyampaikan nilai-nilai. Permainan dalam kepramukaan hanya merupakan “sarana” sebab apa yang sebenarnya ingin dicapai adalah pendidikan karakter (Tim Lemdikanas, 2009:1).

c. Kegiatan petualangan

Kegiatan ini biasanya dilakukan untuk mencari tanda jejak. Dalam perjalanan tersebut peserta didik diberi tugas dan harus diselesaikan dengan baik.

d. Kegiatan ketrampilan

Hal yang menarik dalam kegiatan pramuka adalah peserta didik diberi bekal ketrampilan. Tujuannya adalah untuk membekali mereka agar memilikiketrampilan sehingga apabila telah lulus nanti bisa dimanfaatkan di luar sekolah.

e. Kegiatan di alam bebas

Kegiatan ini sama halnya dengan kegiatan petualangan, namun yang menjadi perbedaan adalah jika petualangan itu biasanya dinilai sedangkan kegiatan di alam bebas ini sifatnya refreshing.

f. Kegiatan ketangkasan di air

Kegiatan ini perlu dikuasai oleh peserta didik, karena terkadang ketika dalam perjalanan ada suatu sungai ataupun yang lain maka ketangkasan air ini sangat dibutuhkan.

g. Kegiatan ketangkasan menggunakan tali

Ketangkasan dengan menggunakan tali wajib dikuasai oleh peserta didik yang mengikuti (aktif) pramuka. Ketangkasan tali dipraktekkan apabila memanjat tebing yang terjal, ataupun jembatan, bahkan melewati sungai yang dalam).

Dari penjelasan di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa bentuk kegiatan yang ada di pramuka tidak hanya berkemah saja, namun di

samping itu ada kegiatan-kegiatan lain yang diajarkan guna memberikan bekal yang nantinya dapat dibaktikan pada masyarakat.

B. Percaya Diri 1. Pengertian

Percaya diri merupakan bagian yang ada dalam diri sebagai salah satu unsur yang penting yang dimiliki oleh setiap individu. Pada saat seseorang merasa mampu atau yakin bahwa dirinya memiliki suatu kelebihan dari temannya atau orang lain, maka akan menciptakan suatu sikap optimis dalam dirinya.

Setiap orang memiliki potensi untuk percaya diri yang harus dirangsang melalui dorongan dari orang lain atau dirinya sendiri. Percaya diri adalah bagian dari bentuk optimis bahwa segala sesuatu dapat dipelajari sebagaimana mempelajari ilmu pengetahuan, sehingga seseorang dapat belajar percaya diri.

Kepercayaan diri merupakan salah satu aspek dalam kepribadian

Dokumen terkait