BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Penelitian ini dilatar belakangi oleh pengalaman peneliti sendiri yang
menemukan kejadian skabies disuatu pondok pesantren, kejadian skabies ini
dapat terjadi karena beberapa faktor, salah satunya yaitu kebiasaan sehari-hari
para santriwati dalam menjaga kebersihannya, baik kebersihan diri sendiri
seperti pola hidup bersih dan sehat para santriwati dalam melakukan personal
hygiene dan peralatan individu yang mereka gunakan, maupun kebersihan
lingkungan seperti kebersihan tempat tidur, kamar mandi dan sirkulasi udara
yang masuk.
Pengalaman lain yang dialami peneliti yaitu melihat para santriwati
menjemur pakaian tidak diluar ruangan sehingga pakaian yang basah dijemur
tidak terkena sinar matahari langsung, kemudian keadaan ruangan yang
lembab dan gelap tidak terdapat cahaya yang masuk, dan sirkulasi udara yang
kurang, serta kurangnya perawatan lingkungan kamar mandi. Permasalahan
pada lingkungan tersebut dapat menimbulkan pertanyaan pada peneliti : kalau
lingkungan dalam pondok pesantren seperti itu, bagaimana para santri tidak
mudah terjangkit atau tertular skabies. Setelah melihat keadaan lingkungan
pondok pesantren dan mengetahui ada beberapa santri yang terkena skabies,
sampai pada akhirnya peneliti mengambil topik analisis tentang skabies untuk
dilakukan penelitian lebih lanjut.
Peneliti kemudian melakukan survey pendahuluan di pondok pesantren
Al-Ikhan Beji Purwokerto dengan cara wawancara kepada beberapa informan
yang ada dilapangan. Hasil yang diperoleh peneliti membuktikan bahwa
beberapa informan terkena skabies, dari jumlah santriwati 135 orang, terdapat
15% atau 20 orang terkena skabies, dan tiap tahunnya bertambah 5%, dari
angka tersebut dapat disinpulkan bahwa lingkungan pondok dan kebersihan
diri sendiri sangat berpengaruh pada kesehatan mereka.
Kesehatan merupakan hal yang sangat panting bagi kehidupan manusia.
Kesehatan dapat dikemukakan dengan dua pengertian sehat, terutama dalam
arti sempit dan arti luas. Secara sempit sehat diartikan bebas dari penyakit,
cacat dan kelemahan. Sedangkan secara luas, sehat berarti sehat secara fisik,
mental maupun sosial. Sedangkan menurut World Health Organitation
(WHO), sehat adalah keadaan sejahtera sempurna fisik, mental dan sosial,
yang tidak terbatas pada bebas dari penyakit atau kelemahan saja (WHO,
2010).
Penyakit berbasis lingkungan yaitu fenomena penyakit yang terjadi pada
sebuah kelompok masyarakat, yang berhubungan, berakar, atau memiliki
keterkaitan erat dengan satu atau lebih komponen lingkungan pada sebuah
ruang dimana masyarakat tersebut tinggal atau beraktivitas dalam jangka
kondisi lingkungan yang berhubungan atau diduga berhubungan dengan
penyakit tersebut dihilangkan.
Menurut Green dalam Azizah (2012), guru mempunyai peran terhadap
perilaku murid dalam memelihara kesehatannya. Guru dapat berperan sebagai
konselor, pemberi instruksi, motivator, manajer, dan model dalam
menunjukan sesuatu yang baik misalnya dalam perilaku hidup bersih dan
sehat. Selain itu guru diharapkan dapat mendorong murid-murid mereka
dalam melaksanakan kebiasaan memelihara kesehatan (Azizah, 2012).
Kebersihan merupakan suatu perilaku yang diajarkan dalam kehidupan
manusia untuk mencegah timbulnya penyakit dan terjaga kesehatannya (Riris,
2010).
Tinggal bersama dengan sekelompok orang seperti di pesantren memang
beresiko mudah tertular berbagai penyakit kulit, khususnya penyakit scabies.
Penularan terjadi bila kebersihan pribadi dan lingkungan tidak terjaga dengan
baik. Faktanya, sebagian pesantren tumbuh dalam lingkungan yang kumuh,
tempat mandi dam WC yang kotor, lingkungan yang lembab, dan sanitasi
buruk. Kebanykan santri yang terkena penyakit scabies adalah santriwati yang
belum dapat beradaptasi dengan lingkungan, sebagai santriwati baru yang
belum tahu kehidupan di pesantren membuat mereka luput dari kesehatan,
mandi secara bersama-sama, saling tukar pakaian, handuk, dan sebagainya
yang dapat menyebabkan tertularnya penyakit scabies (Darmopoli, 2011).
menekankan pada pembelajaran agama Islam dan didukung asrama sebagai
tempat tinggal santri yang bersifat permanen (Qomar, 2007).
Skabies (kudis) merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit
tungau Sarcoptes scabiei yang mampu membuat terowongan dibawah kulit
dan ditularkan melalui kontak manusia (Boediardja 2015). Skabies
merupakan penyakit tropis menular yang seringkali diabaikan dan paling
umum terjadi dinegara berkembang dengan kondisi tingkat penduduk yang
tinggi dan kondisi kebersihan yang rendah (Campbell & Campbell 2007).
Faktor yang berpengaruh terhadap prevalensi skabies diantaranya adalah usia,
jenis kelamin, higenitas pribadi yang buruk, pengetahuan yang rendah, kontak
dengan penderita, kelembaban dan kepadatan hunian yang tinggi (Imartha
2016; Audhah 2012; Hilma & Ghazali 2014). Skabies umumnya terjadi pada
usia 12-14 tahun dan lebih sering menginfeksi anak laki-laki daripada
perempuan, hal ini dikarenakan perempuan lebih memperhatikan kebersihan
diri (Audhah 2012; Fauziah 2013; Ratnasari & Sungkar 2014).
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas dapat dirumuskan masalah penelitian :
“Bagaimana gambaran perilaku santriwati yang terkena Skabies di Pondok
Pesantren Al-Ikhsan Beji Purwokerto?”
C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
2. Tujuan khusus
a. Mendeskripsikan karakteristik para santriwati di pondok pesantren
Al-Ikhsan Beji Puwokerto
b. Mengidentifikasi dan menganalisis frekuensi para santriwati dalam
melakukan personal hygiene di pondok pesantren Al-Ikhsan Beji
Purwokerto
c. Mengidentifikasi kebiasaan perilaku santriwati dalam sehari-hari di
pondok pesantren Al-Ikhsan Beji Purwokerto
d. Menggambarkan respon para santriwati yang terkena skabies di
pondok pesantren Al-Ikhsan Beji Purwokerto
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi responden
Diharapkan penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan dan pola
perilaku tentang personal hygiene para santriwati untuk meningkatkan
kesehtan mereka.
2. Bagi peneliti
Diharapkan penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan
serta mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat selama proses perkuliahan
3. Bagi instansi kesehatan
Diharapkan dari penelitian ini dapat memberikan informasi, dapat
mengupayakan peningkatan pengetahuan dan peningkatan kesehatan
khususnya peningkatan personal hygiene
Diharapkan dari penelitian ini menambah informasi kesehatan bagi para
warga pondok pesantren baik pengurus maupun para santri yang ada di
pondok pesantren tersebut sehingga mereka lebih menjaga pola perilaku
personal hygiene untuk kesehatan
E. Penelitian Terkait
1. Penelitian Mujtahidah Intan Nuqsah (2010) dengan judul gambaran
perilaku personal hygiene santri di pondok pesantren jihadul ukhro turi
kecamatan tempuran Kabupaten Karawang. Metode yang digunakan
kualitatif, dan desain fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan
menggunakan metode wawancara mendalam, Focus Group Discussion
(FGD), dan observasi. Informan dalam penelitian ini 26 orang, dengan 24
orang informan wawancara mendalam 1 orang ustadzah pengasuhan, 1
orang pengurus. Hasil penelitian menunjukan bahwa gambaran perilaku
personal hygiene santri mengenai mandi, menggosok gigi, merawat
rambut, merawat mata, merawat hidung, merawat telinga, merawat tangan,
merawat kaki, dan merawat pakaian tergantung dari adanya bahan dan alat,
serta biaya yang informan miliki. Begitu pula dengan halnya
langkah-langkah, kebiasaan, dan frekuensi tergantung dari ada tiadanya alat dan
bahan untuk melakukan personal hygiene. Teladan informan dalam
melakukan personal hyginene adalah orang tua, nenek, kakak, ustadzah,
dan teman. Alternatif lain yang digunakan informan adalah dengan cara
pemikiran dan perasaan informan terhadap manfaat personal hygiene.
Dengan demikian diperluhkan pemberdayaan seluruh potensi yang ada di
pondok untuk mengubah kebiasaan yang masih kurang baik. Serta bekerja
sama dengan para orang tua santri untuk mamfasilitasi dan memenuhi
kebutuhan personal hygiene santri.
2. Penelitian Putri Anugrahening, Rr (2009) dengan judul faktor-faktor yang
melatarbelakangi kejadian skabies di pondok pesantren darul abror
pasarbatang brebes. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan
metode wawancara mendalam. Subyek penelitian ini adalah para santri
yang terkena gudig yang berjumlah 10 orang, tetapi yang mau
diwawancarai hanya 5 orang. Hasil penelitian ini adalah bahwa para santri
belum pernah mendengar gudig. Sikap para santri sebagian besar setuju
mandi 2 kali sehari dan lingkungan yang kumuh dapat terjadinya gudig.
Praktek para santri sebagian besar baik bahwa tidur menggunakan selimut
tidak bersamaan dengan teman, mengganti pakaian, pakaian yang selalu
disetrika dan memakai handuk sendiri. Masih terdapat praktek yang buruk,
seperti saling tukar pakaian, pakaian tidak selalu disetrika, memakai
handuk bersamaan dengan teman. Kondisi ruang tidur para santri bersih.
Hasil observasi menunjukan kamar tidur tidak ada ventilasinya. Sebagian
ada subyek penelitian yang kurang baik dalam praktek, seperti tempat tidur
tidak memakai seprai, dan kasurnya tidak pernah dijemur. Kondisi fisik air
kamar mandi digunakan juga untuk keperluan sehari-hari seperti mandi,
memasak, dan mencuci.
3. Penelitian Ahmad Dilan Setiawan (2017) dengan judul Persepsi
pengelolaan pondok pesantren walisongo kecamatan pontianak kota
terhadap penanganan kasus skabies. Metodelogi penelitian ini merupakan
penelitian kualitatif dengan desain fenomenologi. Dalam penelitian ini
yang diteliti adalah pengalaman manusia melalui deskripsi dari orang yang
menjadi partisipan penelitian, sehingga peneliti dapat memahami
pengakaman hidup partisipan. Penelitian ini juga bersifat deskriptif
kualitatif yang diuraikan dengan kata-kata menurut pendapat responden,
apa adanya sesuai dengan pertanyaan penelitiannya, kemudian dianalisis
pula apa yang melatarbelakangi responden berperilaku (berpikir,
berperasaan, dan bertindak). Dengan hasil, seluruh informan beranggapan
bahwa penyakit skabies merupakan penyakit yang sudah biasa dikalangan
santri dan sebagian santri yang pernah tinggal di pondok pesantren pasti
pernah mengalami penyakit skabies. Selain itu juga informan beranggapan
bahwa penyakit skabies merupakan penyakit yang tidak berbahaya hanya
saja penyakit tersebut sangat mengganggu aktifitas bagi penderitanya.
4. Muhammad Yasin (2013) dengan judul Analisis lingkungan dalam upaya
pencegahan skabies di pondok pesantren Al-Husain Magelang. Penelitian
ini termasuk jenis penelitian kualitatif yang berdasarkan pendekatan sacara
diambil dalam penelitian ini ada 10 orang yang terdiri 8 orang santri dan 2
orang pengurus pondok. Objek penelitian ini adalah lingkungan. Peneliti
berfungsi sebagai instrumen utama dalam pengolahan data. Dengan hasil,
Pondok Pesantren Al-Husain terletak di Krakitan, Kecamatan Salam,
Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Pondok ini dihuni sekitar
600 santri. Dalam lingkungan fisik didapatkan higienitas asrama masih
kurang, kondisi kamar putri lebih baik daripada putra, penghuni kamar
sangat padat, putra sering menumpuk pakaian kotor, kasur dan bantal
ditumpuk jadi satu, putri sering membilas langsung pakaian ke dalam bak
mandi, kamar mandi kotor, jemuran kurang tertata, tidak terdapat UKS dan
jarak dengan Puskesmas kurang lebih satu kilometer. Lingkungan biologis
didapatkan bahwa santri putra tidur lebih dari satu orang dalam satu kasur,
anak SD sering berenang dalam bak mandi, pengurus yang terbatas pada
putra, jumlah penghuni kamar tergantung jumlah siswa perkelas dan santri
yang menderita skabies biasanya hanya santri baru. Pada lingkungan sosial
didapatkan tidak ada interaksi khusus dengan penderita skabies, penderita
skabies jarang yang langsung memeriksakan diri ke dokter, kebiasaan
menempelkan nanah kesembarang tempat, kebiasaan pinjam-meminjam
handuk dan pakaian dan pada putri didapatkan kebiasaan jika lemari
berantakan maka santri putri akan malu dengan sesama temannya. Santri
sudah mengetahui arti skabies, terdapat persepsi yang salah mengenai
skabies, belum ada kebijakan khusus mengenai skabies dan pencegahan
5. Fidyah Nurul Firlana (2014) dengan judul Studi deskriptif sanitasi dan
kejadian skabies di pondok pesantren Roudlotus Solichin Desa Kalijaran
Kecamatan Karanganyar Kabupaten Purbalingga. Jenis penelitian yang
digunakan adalah penelitian kualitatif. Pengumpulan data menggunakan
teknik wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi. Uji keabsahan
data menggunakan metode triangulasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa
kondisi sanitasi Pondok Pesantren Roudlotus Solichin belum memenuhi
persyaratan kesehatan. Pengurus dan pengasuh dapat memberikan
penjelasan tentang sanitasi dan menurut mereka kondisi sanitasi pondok
pesantren belum sesuai. Terdapat persepsi bahwa skabies merupakan
penyakit yang diturunkan Tuhan sebagai cobaan agar santri lebih giat
mengaji. Peran petugas sanitarian yaitu melakukan penyuluhan dan
inspeksi sanitasi setahun sekali. Beberapa personal hygiene santri yang
dapat berpotensi terhadap kejadian skabies adalah mandi bersama,
pemakaian handuk dan pakaian bersama serta tidur dengan alas tidur yang
sama. Kejadian skabies pada santri berdasarkan pemeriksaan klinik adalah