• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Inferensi Ppt - Repository UNIKOM

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Teknik Inferensi Ppt - Repository UNIKOM"

Copied!
45
0
0

Teks penuh

(1)

TEKNIK INFERENSI

Kecerdasan buatan

(2)

Definition

 Inferensi adalah Proses yang digunakan dalam Sistem

(3)

Objectives

(4)

REASONING

Definisi : Proses bekerja dengan pengetahuan,

fakta dan strategi pemecahan masalah, untuk mengambil suatu kesimpulan. (Berpikir dan mengambil kesimpulan)

Metode Reasoning

 Deductive Reasoning  Inductive Reasoning  Abductive Reasoning  Analogical Reasoning

(5)

Deductive Reasoning

Reasoning deduktif untuk mendeduksi

informasi baru dari hubungan logika pada informasi yang telah diketahui.

Contoh:

 Implikasi : Saya akan basah kuyup jika berdiri

ditengah-tengah hujan deras (AB)

 Aksioma : Saya berdiri ditengah-tengah hujan

deras (A)

 Konklusi : Saya akan basah kuyup (B)

(6)

Inductive Reasoning

Reasoning induktif untuk mengambil kesimpulan umum dari sejumlah fakta khusus tertentu.

Contoh:

 Premis : Monyet di Kebun Binatang

Ragunan makan pisang

 Premis : Monyet di Kebun Raya Bogor

makan pisang

(7)

Abductive Reasoning

 Merupakan bentuk dari proses deduksi yang

mengijinkan inferensi plausible.

Plausible berarti bahwa konklusi mungkin bisa

mengikuti informasi yang tersedia, tetapi juga bisa salah.

 Contoh:

 Implikasi : Tanah menjadi basah jika terjadi hujan (AB)

 Aksioma : Tanah menjadi basah (B)

 Konklusi : Apakah terjadi hujan? (A?)

(8)

Analogical Reasoning

 Analogi untuk membantu memahami situasi baru atau objek baru.

 Menggambar analogi antara 2 objek/situasi, kemudian melihat persamaan dan perbedaan untuk memandu proses reasoning.

 Contoh :

 Andi telah bekerja dengan baik

 Andi mendapat kenaikan jabatan

 Budi telah bekerja dengan baik

(9)

Common Sense Reasoning

 Melalui common sense (pengalaman), manusia belajar untuk memecahkan masalahnya secara efisien.

(10)

Tentukan jenis reasoning berikut

Soal 1 :

Major premise : I don’t jog when temperature exceeds 90 degrees

Minor premise : Today the temperature is 93(F) Conclusion : Therefore, I will not jog today

Soal 2 :

P1 : Jika dipanaskan, besi memuai.

(11)

Soal 3 :

Premis mayor : A akan diam jika marah Premis minor : Saat ini A marah

Kesimpulan : A akan diam

Soal 4 :

Buat contoh analogical reasoning

Soal 5 :

a. My : Penyakit yang disebabkan oleh virus sulit diobati. Mn : Deman berdarah disebabkan oleh virus.

K :

b. My : Semua petani yang baik adalah petani yang menggarap sawahnya setiap tahun.

(12)

Reasoning dengan Logika

Modus Ponen

Definisi: Rule dari logika yang

(13)

Contoh:

A = Udara Cerah

B = Kita akan pergi ke pantai

A→B = Jika udara cerah, maka

kita pergi ke pantai

kesimpulan berdasarkan Modus

Ponen bahwa,

(14)

Resolusi

Definisi

: Strategi inferensi yang

digunakan pada sistem logika untuk

menentukan kebenaran dari suatu

assertion (penegasan)

Metoda Resolusi mencoba untuk

membuktikan bahwa beberapa

teorema atau ekspresi sebagai

(15)

Proof by Refutation

, suatu teknik

yang ingin membuktikan bahwa ⌐P

tidak dapat menjadi TRUE.

Resolvent

: ekspresi baru yang

muncul dari metode resolusi yang

merupakan gabungan (

union

) dari

aksioma yang ada dengan

(16)

Misalnya:

Ada aksioma:

(A→B) Λ (B→C) Λ ¬ (A→C)

Resolvent

tersebut kemudian

ditambahkan pada list dari

aksioma dan akan menghasilkan

resolvent baru

. Proses ini

berulang sampai menghasilkan

(17)

Mengubah suatu kalimat (konversi) ke

bentuk CNF (Conjunctive Normal Form)

 Hilangkan implikasi dan ekuivalensi

• x  y menjadi ¬ x y ∨

• x ↔ y menjadi (¬ x y) (¬ y x) ∨ ∧ ∨

 Kurangi lingkup semua negasi menjadi satu negasi saja • ¬ (¬ x)

menjadi x

• ¬ (x y) menjadi (¬ x ¬ y) ∨ ∧

• ¬ (x y) menjadi (¬ x ¬ y) ∧ ∨

 Gunakan aturan assosiatif dan distributif untuk mengkonversi

menjadi conjuction of disjunction

• Assosiatif : (A B) C menjadi A (B C) ∨ ∨ ∨ ∨

• Distributif : (A B) C menjadi (A C) (B C) ∧ ∨ ∨ ∧ ∨

(18)

Ekspresi to CNF

(A→B) Λ (B→C) Λ ¬ (A→C)

≡ (¬A v B) Λ (¬B v C) Λ ¬(¬A V C) A→B

≡ (¬A v B) Λ (¬B v C) Λ (¬ ¬A Λ¬C) De Morgan’s Law ≡ (¬A v B) Λ (¬B v C) Λ (A Λ ¬C) Law of Double Negation ≡ (¬A v B) Λ (¬B v C) Λ A Λ ¬C Asosiatif

(19)

Inverted Tree

(¬AVB) ^ (¬BVC) A ¬C

(¬AVC)

C

T resolved

(20)

adalah

Falsum ,

yakni konstanta

proposisional yang selalu bernilai

salah. Artinya jika nilai kebenaran

dari premis-premis dan negasi

kesimpulan-kesimpulan bernilai

(21)

Nonresolusi

 Pada resolusi, tidak ada pembedaan antara goals (tujuan), premises maupun rules. Semua dianggap sebagai aksioma dan diproses dengan rule resolusi untuk inferensi.

 Cara tersebut dapat menyebabkan kebingungan karena menjadi tidak jelas apa yang ingin dibuktikan

 Teknik Nonresolusi atau natural-deduction mencoba mengatasi hal tersebut dengan menyediakan beberapa statement sebagai goal-nya

 Untuk membuktikan [H Λ (A → B) → C]:

(22)

contoh kasus :

 Akan dibuktikan apakah Jack suka tim sepakbola Arema-Malang.

 Asumsinya adalah bahwa

 semua orang yang tinggal di Malang menyukai

Arema.  Karenanya,

 jika diketahui bahwa Jack tinggal di Malang,

(23)

Kasus tadi dapat direpresentasi menjadi:

Antecedents:

[Lives-Malang(Jack) Λ (Lives-Malang(X) Likes-Arema(X))

Goals:

Likes-Arema(Jack)]:

 Pada contoh tersebut, dapat dibuktikan goal-nya jika

(Lives-Malang(X) Likes-Arema(X)), dan

(24)
(25)
(26)

INFERENCING DENGAN RULES:

FORWARD dan BACKWARD CHAINING

 Inferensi dengan rules merupakan implementasi

dari modus ponen, yang direfleksikan dalam mekanisme search (pencarian).

Firing a rule: Bilamana semua hipotesis pada rules (bagian “IF”) memberikan pernyataan BENAR

 Dapat mengecek semua rule pada knowledge base dalam arah forward maupun backward

 Proses pencarian berlanjut sampai tidak ada rule

yang dapat digunakan (fire), atau sampai sebuah tujuan (goal)tercapai.

 Ada dua metode inferencing dengan rules, yaitu

(27)

BACKWARD CHAINING

 Pendekatan goal-driven,

 Jika suatu aplikasi menghasilkan tree yang sempit dan cukup dalam, maka gunakan backward

(28)

BACKWARD CHAINING

Inductive

Mundur /ke belakang, dari goal (noda

tujuan) bergerak ke keadaan awal

Diagnosa

Disebabkan oleh apa ?

(29)

FORWARD CHAINING

 Multipel inferensi

 Jika klausa premis sesuai dengan situasi (bernilai TRUE), maka proses akan meng-assert konklusi  Forward Chaining adalah data driven karena

(30)

Forward-Chaining

Deductive

Maju / ke depan, dari keadaan awal

menuju ke tujuan (goal)

Apa akibatnya ?

(31)

Backward atau Forward ?

Contoh 1.

Anda ingin terbang dari Denver ke Tokyo dan tidak ada penerbangan langsung antara kedua kota tersebut. Jadi, anda harus menemukan connecting flight dari Denver yang berakhir di Tokyo.

Contoh 2

(32)

Motor Inferensi

Contoh: Ada 10 aturan yang tersimpan dalam basis pengetahuan. Fakta awal yang

diberikan hanya: AA & EE

(artinya: A dan E bernilai benar). Ingin dibuktikan apakah K bernilai benar (hipotesis: K)?

No.

No. AturanAturan R-1

R-1 IF A & B THEN C

R-2

R-2 IF C THEN D

R-3

R-3 IF A & E THEN F

R-4

R-4 IF A THEN G

R-5

R-5 IF F & G THEN D

R-6

R-6 IF G & E THEN H

R-7

R-7 IF C & H THEN I

R-8

R-8 IF I & A THEN J

R-9

R-9 IF G THEN J

R-10

(33)

Motor Inferensi

Forward Chaining

Forward Chaining

(34)

Motor Inferensi

• FORWARD CHAINING:

(35)

Motor Inferensi

BACKWARD CHAINING

BACKWARD CHAINING

– Alur inferensi:

J I A C H A B K R-10

R-8 R-7 R-1

Fakta

Tidak diketahui

(a) Pertama: Gagal

J G A

K R-10 R-9 R-4

Fakta

(36)

Contoh Kasus

Sistem Pakar: Penasihat Keuangan

Kasus : Seorang user ingin berkonsultasi apakah tepat jika dia berinvestasi pada stock IBM?

Variabel-variabel yang digunakan:

 A = memiliki uang $10.000 untuk investasi

 B = berusia < 30 tahun

 C = tingkat pendidikan pada level college

 D = pendapatan minimum pertahun $40.000

 E = investasi pada bidang Sekuritas (Asuransi)

 F = investasi pada saham pertumbuhan (growth stock)

 G = investasi pada saham IBM

(37)

FAKTA YANG ADA:

 Diasumsikan si user (investor) memiliki data:

 Memiliki uang $10.000 (A TRUE)

 Berusia 25 tahun (B TRUE)

 Dia ingin meminta nasihat apakah tepat jika berinvestasi pada IBM stock?

 RULES

 R1 : IF seseorang memiliki uang $10.000 untuk

berinvestasi AND dia berpendidikan pada level college THEN dia harus berinvestasi pada bidang sekuritas

 R2 : IF seseorang memiliki pendapatan pertahun min

(38)

Rules :

 R3 : IF seseorang berusia < 30 tahun AND dia berinvestasi pada bidang

sekuritas THEN dia sebaiknya

berinvestasi pada saham pertumbuhan  R4 : IF seseorang berusia < 30 tahun

dan > 22 tahun THEN dia berpendidikan college

 R5 : IF seseorang ingin berinvestasi

(39)

Rule simplification:

– R1: IF A and C, THEN E

– R2: IF D and C, THEN F

– R3: IF B and E, THEN F

– R4: IF B, THEN C

(40)
(41)
(42)

 Inferensi dengan rules dapat sangat efektif, tapi terdapat beberapa keterbatasan.

 Misalnya, perhatikan contoh berikut:

 Proposisi 1 : Semua burung dapat terbang

 Proposisi 2 : Burung Unta (Kasuari) adalah burung

 Konklusi : Burung Unta dapat terbang

 Konklusi tersebut adalah valid, tetapi dalam

(43)

Fungsi dari Inference Engine

1. Fire the rules

2. Memberikan pertanyaan pada user

3. Menambahkan jawaban pada Working Memory

(Blackboard)

4. Mengambil fakta baru dari suatu rule (dari hasil

inferensi)

5. Menambahkan fakta baru tersebut pada working

memory

6. Mencocokan fakta pada working memory dengan rules

7. Jika ada yang cocok (matches), maka fire rules tersebut 8. Jika ada dua rule yang cocok, cek dan pilih rule mana

yang menghasilkan goal yang diinginkan

(44)

INFERENCE TREE (POHON INFERENSI)

Penggambaran secara skematik

dari proses inferensi

Sama dengan

decision tree

Inferencing:

tree traversal

Advantage: Panduan untuk

(45)

Referensi

Dokumen terkait