• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rencana Program Investasi Infrastruktur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Rencana Program Investasi Infrastruktur"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

4 .3 .1

Pe t unjuk U m um

4 .3 .1 .1 U m um

Kondisi Pengelolaan sarana dan prasarana sanitasi air limbah di kota Raja Ampat untuk limbah rumah tangga umumnya ditangani dengan membuat kakus atau jamban (septic tank), ada juga sebagian penduduk membuangnya di sungai, parit ini kurang baik bagi kesehatan penduduk maupun kesehatan lingkungan. Sedangkan untuk limbah industri pada saat ini belum berarti. Pada prinsipnya pengelolaan sarana dan prasarana sanitasi terutama dalam hal pelayanan air limbah dapat dikelompokan menjadi tiga bagian, yaitu :  Sistem setempat (sanitasi setempat) adalah sistem yang bersifat dan dikelola secara

individual dengan menggunakan pengeolahan air limbah dapat berupa septic atau cubluk.  Sistem Komunal adalah sistem pengolahan yang bersifat dan dikelola secara bersama

dalam skala kecil.

 Sistem terpusat adalah sistem pengelohan air limbah secara bersama dalam skala besar.

Layanan sanitasi sistem setempat (individual) yang pada umumnya digunakan di kota Raja Ampat, sedangkan sistem komunal merupakan hal yang baru dan diterapkan pada kawasan perumahan baru. Sistem terpusat pada saat ini di Kabupaten Raja Ampat belum diterapkan.

4 .3 .1 .2 K e bija k a n, Progra m da n K e gia t a n Pe nge lola a n

Air Lim ba h Da la m Re nc a na K a bupa t e n Ra ja

Am pa t

1. Rencana Pembangunan Air Limbah

Guna menunjang pelayanan air limbah di kota Raja Ampat dilakukan upaya-upaya pengembangan dengan rencana kegiatan sebagai berikut :

 Pengembangan dan optimalisasi instalasi pengeolahan air limbah (I PAL) terpusat.

 Pengembangan jaringan pipa air limbah sistem terpusat.

 Penambahan jumlah sambungan rumah.

 Pembangunan sanitasi komunal bagi masyarakat yang kurang mampu.

 Pengembangan sanitasi berebasis masyarakat.

 Sistem pemantauan lingkungan

 Pelaksanaan studi-studi pendukung.

 Pemantapan kelembagaan pengelolaan I PAL terpusat, yaitu

 Pembangunan sanitasi setempat secara individu.

 Penertiban sambungan liar.

2. Perhitungan Debet Air Limbah Rumah Tangga dan I ndustri.

Besarnya debit air limbah sangat erat hubungannya dengan penggunaan air bersih untuk rumah tangga dan industri. Airbuangan ini dapat dialirkan ke drainase alam seperti Sungai, Danau, Rawa, Laut (Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 173/ Menkes/ Per VI I / 77 tanggal 3 Agustus 1977 tentang Tata Guma Air dan Sungai).

(2)

3. Penataan Limbah Rumah Tangga

Pada prinsipnya sistem pembuangan air limbah rumah tangga harus dipisahkan dengan sistem pembuangan air hujan. Namun dalam kenyataannya, limbah rumah tangga selalu dibuang keda; amm sistem pembuangan air hujan, sehingga terjadi polusi/ pencemaran pada air sungai.

Untuk mengatasi masalah tersebut diatas, maka idealnya pada setiap rumah tangga atau kawasan permukiman harus memiliki sistem air limbah sebelum air tersebut masuk kedalam saluran drainase. Dengan demikian air limbah yang masuk kedalam saluran drainase sudah relative bersih.

Dari segi debet, volume air limbah tersebut relative sangat kecil bila dibandingkan dengan volume limpasan air hujan. Namun mengingat pengaruh pencemaran air limbah terhadap kualitas air sungai sangat besar, maka perlu dilakukan upaya pengelolaan terhadap air limbah sebelum air tersebut masuk kedalam saluran drainase.

Kondisi tersebut diatas dapat berjalan apabila :

 Ada Peraturan Daerah yang mengharuskan adanya sistem pengelolaan air limbah rumah tangga.

 Adanya fasiltas/ penyuluhan dari pemerintah mengenai sistem pengelolaan air limbah.

 Adanya kesadaran masyarakat menganai arti kebersihan lingkungan.

4 .3 .2 Profil Pe nge lola a n Air Lim ba h

A. Pengelolaan Sanitasi I ndividual

Pelayanan sanitasi sistem setempat (individual) untuk limbah tinja berupa lumpur tinja dari sptick tank ke pengelolaan akhir di Kabupaten Raja Ampat belum dilaksanakan, hal ini dikarenakan belum tersedianya sarana dan prasarana pengelolaan limbah tinja.

Membuang limbah air mandi, air cucian dan air dapur masih langsung dibuang ke

prinsip-prinsip sanitasi yang baik, dan oleh karena itu kebiasaan ini harus ditinggalkan. tanggung jawab terhadap pembangunan fasilitas sanitasi setempat berada pada tingkat keluarga, Pemerintah Daerah memberikan stimulasi untuk pembangunan fasilitas sanitasi setempat, namun hal ini juga belum dilakukan.

B. Pengelolaan I PAL Komunal

Sistem komunal dimana sebagian besar penduduk memiliki atau menempati rumah sendiri yang memungkinkan dibangunnya sarana sanitasi dasar yang kemudian dihubungkan ke bangunan pengelolaan air limbah (I PAL).

I PAL komunal merupakan teknologi pengolahan air limbah domestic dengan biaya terjangkau, karena sebagian bahan/ input tersedia di lokasis setempat. Selain itu efisien dan mampu mengolah limbah hingga 1000 m3, memerlukan perawatan yang mudah, tahan lama dan toleran terhadap fluktuasi inflow (masukan air limbah).

Aplikasi I PAL komunal untuk air limbah domestic, berpijak pada dua sistem pengolahan, yaitu ; Pengelohan awal dan sedimentasi dengan sistem septick tank. Pengolahan sekunder anaerob dengan baffle reactor dan anaerobic filter reactor. Baffle reactor mempunyai karakteristik pengelohaan untuk mendegradasi anaerobic dari padatan tertaruf dan tersuspensi dengan penurunan COD 60 - 090 % dengan rasio COD/ BOD kecil. Kelebihan dari reactor ini sederhana, handal, tahan lama, efisiensi tinggi, dibawah permukaan tanah dengan kebutuhan lahan 1 m2/ m3 limbah harian. Namun kelemahan dari bak tersebut butuh ruangan yang besar selama kontruksi, butuh waktu yang panjang untuk perencanaan.

(3)

Tabel 4.53

Kapasitas Pelayanan Kabupaten Raja Ampat Tahun 2008

Kapasitas

Secara umum sasaran program dititik beratkan pada: 1. On- Site system, untuk:

 Daerah sulit air, rawan penyakit dan kwalitas lingkungan buruk akibat tercemarnya pemukiman, serta tempat-tempat umum.

 Daerah kumuh dengan kepadatan penduduk tinggi dan belum ada sistim air bersih dari PAM, terutama kepadatan diatas 100 jiwa/ ha

 Daerah dengan kondisi pelayanan prasarana buruk dan dengan kecendrungan pertumbuhan tinggi.

Daerah dimaksud adalah terutama di distrik-distrik di Kabupaten Raja Ampat.

a. Septik tank komunal

Sistem pengelolaan air limbah on-site seluruhnya diusulkan dalam bentuk semi komunal, sebagai alternatif untuk menjamin kelangsungan pemeliharaan masing-masing unit, didesain maksimal 5 keluarga yang dihubungkan dengan jamban keluarga oleh sistem perpipaan. Sistem pengelolaannya diusulkan 3 tipe yaitu:

 Tangki septik dengan sumur resapan untuk kepadatan relatif tinggi

 Tangki septik dengan bidang resapan untuk kepadatan relatif menengah

 Cubluk untuk kepadatan relatif rendah.

b. Pembangunan MCK

Pembangunan MCK diarahkan pada lokasi perumahan yang padat penduduknya dan tidak memiliki jamban keluarga, atau jamban keluarga yang ada tidak memenuhi syarat-syarat kesehatan.

2. Jamban Keluarga

Jamban keluarga dibangun bagi masyarakat yang jarak antar rumahnya berjauhan sehingga tidak mungkin untuk dibangun fasilitas MCK. Fasilitas jamban keluarga ini diarahkan bagi mereka yang tidak mampu untuk membangun sebuah jamban.

3. Toilet Umum

Kota-kota yang secara administratif statusnya penting atau memiliki potensi pengembangan perlu dilengkapi dengan sarana toilet umum yang memadai ditempatkan pada lokasi strategis. Toilet umum terdiri dari bagian pria dan wanita dengan luas lantai 42 m2 dilengkapi dengan tangki septik dan bidang resapan.

(4)

Tabel 4.54

Cakupan Pelayanan Air Limbah Sistem On Site Kabupaten Raja Ampat Tahun 2008

Jamban Keluaga MCK Lain-lain Septik Tank Cubluk Lain-lain

1 2 3 4 5 6 7 8

1 Misool Timur 301 24 - 20 281

-2 Misool Selatan 224 18 - 15 209

-3 Kofiau 137 11 - 9 128

-4 Waigeo Selatan 497 40 - 33 464

-5 Samate 255 20 - 17 238

-6 Teluk Mayalibit 93 7 - 6 87

-7 Waigeo Barat 193 15 - 13 180

-8 Waigeo Utara 186 15 - 12 173

-9 Kepulauan Ayau 140 11 - 9 131

-10 Waigeo Timur 87 7 - 6 81

-Jumlah penduduk Kabupaten Raja Ampat yang mempunyai sarana air limbah sistim on-site 49.897 orang atau 30 % dari Total pendudukKabupaten Sorong

Pengolahan

No Distrik

Jumlah PS sanitasi sistim on-site Pengumpulan

Tabel 4.55

Cakupan Pelayanan Air Limbah Sistem Off Site Kabupaten Raja Ampat Tahun 2008

Jumlah

Sambungan

(SR)

1

-

-

-2

-

-

-3

-

-

-dst

-

-

-No.

Kawasan

Keterangan

(5)

Tabel 4.56

Cakupan Pelayanan Air Limbah Komunitas Berbasis Masyarakat Kabupaten Raja Ampat Tahun 2008

Dibangun

Cakupan

Tahun

Pelayanan

1

-

-

-

-2

-

-

-

-3

-

-

-

-dst

-

-

-

-Sistem

Total penduduk Kabupaten/Kota yang mendapat pelayanan air limbah sistem

on-site : …… orang atau …..% dari total penduduk Kabupaten/Kota.

No.

Kawasan

- = Belum ada

Tabel 4.57

Parameter Teknis Wilayah Kabupaten Raja Ampat Tahun 2008

NO Uraian Besaran Keterangan

1 2 3 4

A Karakteristik Fisik Kota

1. Jumlah Penduduk Kota Manokwari 31.263 Orang

-Tingkat Kepadatan

*Tinggi (200Jiwa/ha) - Ha

-*Sedang (100-200 Jjiwa /ha) - Ha

-*Rendah (50-100 jiwa/ha) 50 Ha

-2. Tipe Bangunan

* Permanen 25% KK atau 18.087 Unit

-* Semi Permanen 35%KK atau 25.322 Unit

-* Tidak Permanen 40% KK atau 28.940 Unit

-3. Jenis tanah Aluvial, Clay spansive

-4. Permeabilitas Tanah

-5. Tinggi Muka Air Tanah

-6. Badan air

* Nama Sugai

-* Peruntukan -

-* Debit 2 Liter/detik

-* Kualitas 110 BOD mg /Liter

-250 COD mg/ Liter

-B Tingkat Penyediaan Air Bersih

1.  Perpipaan 10%

(6)

-4. Penyuluhan dan pelatihan

Penyuluhan dilakukan terintegrasi dengan penyedian sarana fisiknya. Setiap paket terdiri dari training wakil masyarakat di kabupaten/ kota yang dilanjutkan dengan pembinaan.

Pelatihan ditujukan untuk bagian teknik tingkat operator untuk memberikan pengetahuan terapan teknik pengelolaan air limbah. Pelatihan dilakukan bersama-sama dengan kota/ kabupaten lain yang dikoordinir oleh tingkat provinsi.

4 .3 .3 .2 Rum usa n M a sa la h

I ndikasi masalah yang ada di Kota Raja Ampat untuk prasarana dan sarana air limbah manusia adalah sebagai berikut :

 Kualitas prasarana dan sarana air limbah yang ada sekarang masih kurang memenuhi standar yang telah ditetapkan

 Perlunya adanya sosialisasi tentang penggunaan septik tank komunal sebagai alternatif lain sistem pengelolaan air limbah dengan melibatkan partisipasi masyarakat terutama di kawasan yang padat penduduknya.

 Tingginya kepadatan penduduk yang disertai dengan rendahnya tingkat sanitasi di wilayah-wilayah di Kabupaten Raja Ampat.

4 .3 .4 Ana lisa Pe rm a sa la ha n da n Re k om e nda si

Sistem pengelolaan air limbah erat hubungannnya dengan sanitasi atau kesehatan lingkungan, sehingga pengelolaan air limbah ini harus benar -benar direncanakan dengan sebaik mungkin untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan yang berhubungan dengan sanitasi lingkungan masyarakatnya.

Dalam kaitannya dengan hal tersebut, arahan rencana pengelolaan air limbah di Kota Raja Ampat akan tetap dilakukan dengan menggunakan sistem pengolahan setempat (on site system sanitation) yaitu dengan mengembangkan sistem penggunaan tangki septik yang ada di tiap-tiap rumah dengan lebih meningkatkan kuantitas dan kualitasnya, serta sebaiknya melengkapi dengan bidang resapan. Mengingat penyedot WC yang dilengkapi tangki septik ini tidak semua golongan masyarakat mampu menyediakan karena harus tersedia lahan yang cukup luas, maka dalam

pengadaanya dibutuhkan bantuan Pemerintah Daerah yang berupa penyedot WC atau MCK Umum.

Adanya tangki septik ini diharapkan kotoran zat -zat organik yang diendapkan setelah beberapa waktu akan mengalami pembusukan dan tidak akan mencemari lingkungan. Mengingat pemakaian tangki septik membutuhkan lahan yang cukup luas, maka bagi daerah yang padat kedepannya dilakukan dengan sistem perpipaan dahulu untuk seterusnya

(7)

Tabel 4.58

Permasalahan dan Upaya Penanganan Kabupaten Raja Ampat Tahun 2008

Yang sudah dilakukan Yang sedang dilakukan Yang direncanakan untuk dilakukan

1 2 3 4 5 6 7

A Kelembagaan:

- Bentuk Institusi - belum maksimal penanganan - - - pembentuk lembaga pengelola Dinas PU

- Dasar Hukum Pembentukan Institusi - belum ada - - - pembuatan dasar hukum Bagian Hukum

- SDM - belum tersedia - - - meningkatkan kualitas SDM Dinas PU

B Teknik Operasional

- Perencanaan Ketersediaan Dokumen - belum tersedia - - - Pembuatan Master Plan, Dinas PU

perencanaan (master Plan, FS & DED) FS dan DED

- Sanitasi Sistim On- Site - pengolahan belum dilakukan - - - Perbaikan sistem pengolahan Dinas PU

dengan baik

2.a. Pembangunan baru

-MCK - belum tersedia dalam jumlah - - - pembangunan MCK baru Dinas PU

yang memadai

- Jaban Keluarga dan septik tank/cubluk - belum tersedia dalam jumlah - - - pembangunan jamban Dinas PU

yang memadai septik tank/cubluk

- Septic tank ' komunal' - belum tersedia - - - pembuatan septik tank Dinas PU

komunal

- PS sanitasi Berbasis Masyarakat - - - -

-- Truk Tinja - belum tersedia dalam jumlah - - - pengadaan truk tinja Dinas PU

yang cukup

- IPLT - belum tersedia - - - pembuatan IPLT Dinas PU

Penanggung jawab

(8)

Yang sudah dilakukan Yang sedang dilakukan Yang direncanakan untuk dilakukan

1 2 3 4 5 6 7

2.b Rehabilitas dan Peningkatan Kapasitas

- Truk Tinja - belum maksimal - - - Peningkatan kapasitas alat Dinas PU

- IPLT - belum tersedia - - - Pembuatan IPLT DinasPU

- IPAL - belum tersedia - - - Pembuatan IPAL Dinas PU

2.c. Operasi dan Pemeliharaan

- Truk Tinja - belum maksimal - - - Penyediaan dana untuk OP DinasPU

- IPLT - belum ada - - - Pembangunan baru Dinas PU

3 SanitasiSistim Off Site - belum tersedia - - - pembangunan sanitasi Dinas PU

3.a. Pembangunan baru sistem off-site

- sambungan Rumah - belum tersedia - - -idem

- Sistim jaringan pengumpul - belum tersedia - - -idem

- IPAL - belum tersedia - - -idem

3.b. Rehabilitas dan Peningkatan Kapasitas

- Sistim jaringan pengumpul - belum tersedia - - - Dinas PU

- IPAL - belum tersedia - - - pembuatan IPAL Dinas PU

3.c. Operasi dan Pemeliharaan

- Sistim jaringan pengumpul - belum maksimal - - - penyediaan dana untuk OP Dinas PU

- IPAL - belum ada - - - Pembangunan baru Dinas PU

(9)

Yang sudah dilakukan Yang sedang dilakukan Yang direncanakan untuk dilakukan

1 2 3 4 5 6 7

C Pembiayaan

- Sumber-sumber pembiayaan - masih kurang - - -

-- AlokasiAPBD - belum tesedia - - - akan dianggarkan BPKD/Bappeda

- Tarif retribusi - belum berjalan - - - akan perdakan Bagian Hukum

- Mekanisme penarikan retribusi -belum berjalan - - - akan dibuat dalam bentuk Bagian Hukum

D Peraturan Perundangan

- Kelayakan Pakai - belum ada - - - akan dibuat perda barn Bagian Hukum

- Penerapan sanksi - tidak berjalan dengan baik - - - disesuaikan dengan perda Bagian Hukum

E Peran serta Masyarakat dan Swasta

- Kampaye Penyuluh - belum berjalan - - - akan dilakukan sosialisasi Dinas PU

- Keterlibatan Mayrakat - belum berjalan - - - akan dilakukan sosialisasi Dinas PU

Penanggung jawab

(10)

Gambar 4.9

Algoritma Pilihan Teknologi Sistem Pengolahan Air Limbah Permukiman

4 .3 .4 .1 U sula n da n Priorit a s Progra m

Usulan program pembangunan prasarana dan sarana di Kota Waisai Kabupaten Raja Ampat berdasarkan arahan dari Bappeda dan Dinas PU Kabupaten Raja Ampat meminta kegiatannya untuk dialihkan ke distrik-distrik yang sangat membutuhkan pembangunan MCK, karena untuk Kota Waisai sendiri perencanaan perumahan dan fasilitas pelayanan yang ada pembangunannya sudah menyatu dengan pembangunan septik tank

Lokasi pembangunan MCK yang diusulkan adalah sebagai berikut:

 I bukota Distrik Misol Timur Selatan : 2 unit

 I bukota Distrik Misol : 2 unit

 I bukota Distrik Kofyu : 2 unit

(11)

Tabel 4.59

Perbandingan Alternatif Pemecahan Masalah Pengelolaan Air Limbah Kabupaten Raja Ampat Tahun 2008

Teknis Manfaat Biaya (Rp.) Teknis Manfaat Biaya (Rp.)

1 2 3 4 5 6 7 8

A. Kelembagaan

- Bentuk Intitusi - Dinas - 600.000.000 - UPTD 300.000.000

- Dasar Hukum Pembentukan Institusi - Perda - - Keputusan Bupati

-SDM - peningkatan SDM - kinerja meningkat 200.000.000 - -

-B. Teknis Operasional

1 Pengembangan Perencanaan 2 Sanitasi Sistim On-Site

2.a. Pembangunan baru -MCK

- Jamban Keluarga dan Septik Tank/Cubluk - Septik tank komunal

- Sistem Sanitasi Berbaris Masyarakat - Truk tinja

- IPLT

2.b. Rehabilitas dan Peningkatan Kapasitas

- Truk tinja ,

- IPLT

2.c. Operas! dan Pemeliharaan - Truk tinja

- IPLT

Aternatif-2

(12)

Teknis Manfaat Biaya (Rp.) Teknis Manfaat Biaya (Rp.)

1 2 3 4 5 6 7 8

3 Sistim Off-site Sanitation 3a. Pembangunan Baru

- Sambungan Rumah

- Sistim Sanitasi Berbaris Masyarakat - Sistim Jaringan Pengumpul - IPAL

3.b. Rehabilitas dan Peningkatan Kapasitas - Sistim Jaringan Pengumpul - IPAL

3.c. Operasi dan Pemeliharaan

- Sambungan Jaringan Pengumpul - IPAL

C. Pembiayaan

- Sumber dan Sistem Pembiayaan - Alokasi APBD

- Tarif Retribusi

- Mekanisme Penarikan Retribusi - Realisasi Penerimaan Retribusi

D. Peraturan / Perundangan

- Kelayakan pakai - Penerapan Sanksi

E. Peran Serta Masyarakat dan Swasta

- Penyuluhan - Keteriibatan swasta - Partisipasi Masyarakat

(13)

Tabel 4.60

Sistem Prasarana dan Sarana Air Limbah yang Diusulkan

No Aspek Pengolahan Air Limbah Kondisi saat ini TA2007 Kondisi Akhir PJMTA 2007 Keterangan

1 2 3 4 5

A. Kelembagaan:

- Bentuk Institusi belumada belum ada akan dibentuk

- Dasar Hukum Pembentukan Institusi belum ada belum ada akan dibentuk

- SDM belum tersedia belum tersedia peningkatan SDM

B. Teknik Operasional:

I. Sanitasi Sistem On-site masih terbatas/kurang masih terbatas/kurang perlu penambahan

1.a Pembangunan Baru:

- MCK masih terbatas/kurang masih terbatas/kurang perlu penambahan

- Jamban Keluarga dan Septik tank/cubluk masih terbatas/kurang masih terbatas/kurang perlu penambahan

- Septik Tank Komunal belum tersedia belum tersedia akan dibuat

- Sistim sanitasi berbaris masyarakat belum ada belum ada akan dibuat

- Truk Tinja masih terbatas/kurang masih terbatas/kurang perlu penambahan

- IPLT belum ada Belum ada akan dibuat

1.b. Rehabilitas dan Peningkatan Kapasitas

- Truk Tinja masih terbatas/kurang (hanya 1 unit) masih terbatas/kurang ( 1 unit) perlu penambahan

- IPLT belum tersedia belum tersedia akan dibuat IPLT

1.C. Operasi dan Pemeliharaan

- Truk Tinja belum dilaksanakan dgn baik belum dilaksanakan dgn baik perlu peningkatan pemeliharaan

- IPLT tidak ada OP tidak ada OP perlu dilakukan OP

(14)

No Aspek Pengolahan Air Limbah Kondisi saat ini TA 2007 Kondisi Akhir PIJMTA 2007 Keterangan

1 2 3 4 5

2.a. Pembangunan Baru:

- Sambungan Rumah masih terbatas masih terbatas perlu penambahan

- Sistem jaringan pengumpul belum tersedia belum tersedia akan dibuat

- IPAL belum tersedia/belum ada belum tersedia/belum ada akan dibuat

- Sistem sanitasi berbaris masyarakat belum tersedia belum tersedia akan dibuat

- Sistem sanitasi di kawasan RSH belum tersedia belum tersedia akan dibuat

2.b. Rehabilitas dan Peningkatan Kapasitas

- Sistem jaringan pengumpul belum dilakukan belum dilakukan akan dilakukan rehabilitasi

- IPAL belum dilakukan belum dilakukan akan dilakukan rehabilitasi

2.c. Operasidan Pemeliharaan

- Sambungan Jaringan Pengumpul belum dilakukan dgn baik belum dilakukan dgn baik akan dilakukan OP

- IPAL belum dilakukan dgn baik belum dilakukan dgn baik akan dilakukan OP

C. Pembiayaan

- Sumber dan Sistem Pembiayaan belum memadai belum memadai perlu penambahan sumber biaya

- AlokasiAPBD masih terbatas masih terbatas perlu ditingkatkan/penambahan

- Tarif restribusi belum ada/belum ditentukan belum ada/belum ditentukan perlu penetapan tarif

- Mekanisme Penarikan Retribusi belum jelas belum jelas perlu diatur lebih lanjut

- Realisasi Penerimaan Retribusi belum ada belum ada

-D. Peraturan perundangan

- Kelayakan pakai/siap pakai belum ada peraturan belum ada peraturan akan dibuat peraturan

- Penerapan Sanksi belum dilaksanakan belum dilaksanakan akan diterapkan

E Peran Serta Masyarakat dan Swasta

- Penyuluhan belum dilakukan belum dilakukan akan dilakukan

- Keterlibatan swasta belum terlibat belum terlibat akan dilibatkan

(15)

Tabel 4.61

Usulan dan Prioritas Program Pengelolaan Air Limbah

2008 2009 2010 2011 2012

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

I Peningkatan Kelembagaan Pengelolaan Air limbah

- Perkuatan Institusi dan SDM 1Pkt 2.000.000.000 - Kota Waisai 400.000.000 400.000.000 400.000.000 400.000.000 400.000.000

II Pengembangan Pengolahan Sanitasi SistimOn-Site

1 Pengembangan Perencanaan 1Pkt 3.000.000.000 - Kota Waisai - 3.000.000.000 - -

-( master Plan/ outline plan, PS dan DED - - - -

-2 Penyediaan Sarana Sanitasi Sistem On-Site 1Pkt 15.000.000.000 - Kota Waisai 3.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000 3.000.000.000 3 Pembangunan PS sanitasi sistem On-Site 1Pkt 10.000.000.000 - Kota Waisai 2.000.000.000 2.000.000.000 2.000.000.000 2.000.000.000 2.000.000.000

skala komunitas berbasis masyarakat - - - -

-4 Penyediaan Prasarana Pengumpulan Lumpur 2 Unit 1.500.000.000 - Kota Waisai - 750.000.000 750.000.000 -

-Tinja (Truk -Tinja) - - - -

-5 Pembangunan atau Rehabilitasi/Peningkatan 1Unft 3.000.000.000 - Kota Waisai - - 3.000.000.000 -

-Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) - - - -

-6 Peningkatan operasi dan pemeliharaan 1Pkt 200.000.000 - Kota Waisai - 50.000.000 50.000.000 50.000.000 50.000.000 Sistem Pengolahan Lumpur Tinja

- Truk Tinja - IPLT

III Pengembangan Pengolahan Sanitasi Stetim Off -Site

1 Penyediaan Pelayanaan Sambungan Rumah 1Pkt 5.000.000.000 - Kota Waisai 1.000.000.000 1.000.000.000 1.000.000.000 1.000.000.000 1.000.000.000 2 Pembangunan

- Sistim Jaringan Pengumpul Perpipaan 1Pkt 8.000.000.000 - Kota Waisai 1.600.000.000 1.600.000.000 1.600.000.000 1.600.000.000 1.600.000.000 - IPAL

Lokasi Waktu (tahun ke] Keterangan

(16)

2008 2009 2010 2011 2012

3 Pembangunan PS sanitasi Sistem Off-Site 1Pkt 12.000.000.000 - Kota Manokwari 2.400.000.000 2.400.000.000 2.400.000.000 2.400.000.000 2.400.000.000 Skala Komunitas Berbasis Masyarakat

4 Pembangunan PS air limbah mendukung 1Pkt 1.000.000.000 - Kota Manokwari 200.000.000 200.000.000 200.000.000 200.000.000 200.000.000 kawasan RSH

5 Rehabiitas peningkatan kapasitas

- Jaringan perpipaan 1Pkt 500.000.000 - Kota Manokwari - - - 250.000.000 250.000.000

- Kapasitas IPAL 1Pkt 500.000.000 - Kota Manokwari - - - 250.000.000 250.000.000

6 Peningkatan operasi dan pemeliharaan 1Pkt 200.000.000 - Kota Manokwari - 50.000.000 50.000.000 50.000.000 50.000.000 - Sistem Jaringan

Perpipaan -IPAL

1 Pengembangan Sistem Pembiayaan Pengolahan 1Pkt 500.000.000 - Kota Manokwari 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000

Air limbah

-2 Peningkatan Mekanisme Retribusi 1Pkt 500.000.000 - Kota Manokwari 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 3 Pengembangan Mekanisme Peningkatan 1Pkt 500.000.000 - Kota Manokwari 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000

Sumber pembiayaan

V Pengembangan Peraturan/Perundangan

1 Penyediaan Peraturan dan Pedoman Siap Pakai 1Pkt 100.000.000 - Kota Manokwari 100.000.000 - - - -2 Penerapan sanksi dan reward 1Pkt 100.000.000 - Kota Manokwari 100.000.000 - - -

-VI Peningkatan Peran Serta Masyarakat dan Swasta

1 Pengembangan pelibatan swasta 1Pkt 300.000.000 - Kota Manokwari 60.000.000 60.000.000 60.000.000 60.000.000 60.000.000 2 Penyuluhan kampanye dan peningkatan 1Pkt 300.000.000 - Kota Manokwari 60.000.000 60.000.000 60.000.000 60.000.000 60.000.000

partpasi masyarakat

VII Pengembangan Promosi Pembangunan 1Pkt 500.000.000 - Kota Manokwari 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000 100.000.000

PS Air Limbah

IV Peningkatan Pendanaan

(17)

Tabel 4.62

Usulan Pembiayaan Proyek Pengelolaan Air Limbah

APBD Kabupaten APBD Prop APBN PDN PLN

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

I Peningkatan Kelembagaan Pengelola Air Limbah

1 Perkuatan institusi dan SDM 1Pkt 500.000.000 - Kota Waisai 50.000.000 100.000.000 350.000.000 -

-II Pengembangan Pengolahan Sanitasi Sistem On-site

1 Pengembangan Perencanaan 1Pkt 500.000.000 - Kota Waisai 50.000.000 100.000.000 350.000.000 -

-(master plan/outline plan, FS dan DED)

2 Penyediaan PS Sanitasi Sistem On-Site 1Pkt 2.500.000.000 - Kota Waisai 250.000.000 500.000.000 1.750.000.000 -

-3 Pembangunan PS Sanitasi On-Site Skala Komunitas 1Pkt 2.500.000.000 - Kota Waisai 250.000.000 500.000.000 1.750.000.000 -

-Berbasis masyarakat

4 Penyediaan prasarana pengumpulan lumpur tinja 2 Unit 1.000.000.000 - Kota Waisai 100.000.000 200.000.000 700.000.000 -

-(truk tinja)

5 Pembangunan atau Rehabilitasi/Peningkatan 1Unit 2.000.000.000 - Kota Waisai 200.000.000 400.000.000 1.400.000.000 -

-Kapasitas lPLT

6 Peningkatan Operasi dan Pemeliharaan Sistem 1Pkt 200.000.000 - Kota Waisai 20.000.000 40.000.000 140.000.000 -

-Pengolahan Lumpur Tinja - Truk tinja

- IPLT

III Pengembangan Pengelolaan Sanitasi Sistem On-site

1 Penyediaan/Perluasan Pelayanan Sambungan Rumah 1Pkt 5.000.000.000 - Kota Waisai 500.000.000 1.000.000.000 3.500.000.000 -

-2 Pembangunan

- Sistim Jaringan Pengumpul/Perpipaan 1Pkt 8.000.000.000 - Kota Waisai 800.000.000 1.600.000.000 5.600.000.000 -

-- IPAL

Lokasi Sumber Dana

(18)

APBD Kabupaten APBD Prop APBN PDN PLN

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

3 Pembangunan PS Sanitasi Sistem Off-Site Skala 1Pkt 12.000.000.000 - Kota Waisai 1.200.000.000 2.400.000.000 8.400.000.000 -

-Komunitas Berbasis Masyarakat

4 Pembangunan PS Air Limbah Mendukung Kawasan 1Pkt 1.000.000.000 - Kota Waisai 100.000.000 200.000.000 700.000.000 -

-RSH

5 Rehabilitas/Peningkatan Kapasitas

- Jaringan Pengumpul/Perpipaan 1Pkt 500.000.000 - Kota Waisai 50.000.000 100.000.000 350.000.000 -

--IPAL 1Pkt 500.000.000 - Kota Waisai 50.000.000 100.000.000 350.000.000 -

-6 Peningkatan Operasi dan Pemeliharaan 1Pkt 200.000.000 - Kota Waisai 20.000.000 40.000.000 140.000.000 -

-- Sistim Jaringan Perpipaan -IPAL

IV Peningkataan Pendanaan

1 Pengembangan Sistem Pembiayaan Pengolahan 1Pkt 500.000.000 - Kota Waisai 50.000.000 100.000.000 350.000.000

Air Limbah

2 Penigkataan mekanisme 1Pkt 500.000.000 - Kota Waisai 50.000.000 100.000.000 350.000.000

ristribusi

3 Pengembangan mekanisme 1Pkt 500.000.000 - Kota Waisai 50.000.000 100.000.000 350.000.000

peningkataan sumber pembiayaan

V Pengembangan Peraturan/Perundangan 1Pkt 100.000.000 - Kota Waisai 10.000.000 20.000.000 70.000.000 -

-1 Penyediaan Peraturan dan Pedoman Layak Guna 1Pkt 100.000.000 - Kota Waisai 10.000.000 20.000.000 70.000.000 -

-2 Penerapan Sanksi dan Reward

VI Peningkatan Peran Serta Masyarakat dan Swasta

1 Penyuluhaan/Kampaye dan Peningkatan Partisipasi 1Pkt 100.000.000 - Kota Waisai 10.000.000 20.000.000 70.000.000 -

-masyarakat 1Pkt 100.000.000 - Kota Waisai 10.000.000 20.000.000 70.000.000 -

-2 Pengembangan Pelibatan Swasta

VII Pengembangan Promosi Pembangunan PS 1Pkt 250.000.000 - Kota Waisai 25.000.000 50.000.000 175.000.000 -

-Air Limbah

(19)

Tabel 4.63

SNI Mengenai Air Limbah Permukiman

No. No. SNI Judul Ruang Lingkup

1.   SNI 03-2398-2002 Tata Cara Perencanaan Tangki

Septik Dengan Sistem Resapan

2.   SNi 03-2399-2002 Tata Cara Perencaan Bangunan

MCK Umum

3.   SNI 19-6410-2000 Tata Cara Penimbunan Tanah

Bidang Resapan Pada

Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga

Standar ini mencakup di dalam merencanakan dan melaksanakan sistem penimbunan tanah untuk resapan pengolahan air limbah rumah tangga, yaitu persyaratan tanah dan lokasi, desain timbunan, dan teknis penimbunan yang dilakukan.

4.   SNI 03-6379-2000 Spesifikasi dan Tata Cara

Pemasangan Perangkap Bau

Standar ini mengatur bahan dan pemasangan unit perangkap bau, pencegat dan pemisah

5.   SNI 03-6368-2000 Spesifikasi Pipa Beton untuk

Saluran Air Limbah, Saluran Air Hujan dan Gorong-Gorong

Standar ini menetapkan spesifikasi pipa beton tidak bertulang untuk saluran air limbah rumah tangga, limbah industri, air hujan dan gorong-gorong (dalam satuan metrik), spesifikasi berlaku untuk pabrik dan perdagangan dan tidak termasuk persyaratan untuk

6.   SNI 9-6409-2000 Tata Cara Pengambilan Contoh

Limbah Tanpa Pemadatan Dari Truk

Tata cara ini mencakup metode pengambilan contoh dengan tabung konsentrik, pengambilan contoh limbah dengan “a thin walled tube sampler”, pengambilan contoh dengan “trier”, pengambilan contoh dengan bor, pengambilan contoh dengan bor barel, pengambilan co

7.   SNI 19-6466-2000 Tata Cara Evaluasi Lapangan

Untuk Sistem Peresapan

Pembuangan Air Limbah Rumah Tangga

(20)

4 .4 .1 Pe t unjuk U m um Pe nge lola a n Pe rsa m pa ha n

4 .4 .1 .1 U m um

Sampah merupakan buangan hasil suatu proses atau aktivitas yang berbentuk padat. Sampah diahsilkan oleh rumah tangga, pasar, rumah sakit, tempat rekreasi, jalan, pertanian dan industri. Secara fisik sampah dapat dibedakan menjadi sampah kering dan sampah basah, sampah dapat juga dibedakan menjadi sampah organik dan anorganik. Pembedaan sampah dapat pula dilakukan pada kandungan racun, sehingga sampah dibedakan menjadi sampah beracun dan tidak beracun. Pembedaan yang dikenal secara luas adalah pembedaan sampah organik dan sampah anorganik.

Pengelolaan sampah yang berasal dari rumah tangga, pasar, komersial, fasilitas umum dan kawasan industri dilaksanakan oleh Bidang Perumahan dan Penyehatan Lingkungan (P2L) Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Raja Ampat yang penanganannya langsung ditangani oleh Seksi Penyehatan Lingkungan. Cakupan tugas Seksi Penyehatan Lingkungan untuk menangani persampahan adalah sebagai berikut :

 Bertugas melaksanakan / mengawasi pembersihan jalan dan lingkungan dan penilaian Kabupaten Raja Ampat yang bersih.

 Bertugas mengangkut sampah dari TPS ke TPA dan melaksanakan pengangkutan, pengawasan dan pembinaan pengangkutan sampah yang dikelola masyarakat. Secara operasional dimulai dari pewadahan, pengumpulan dan pengangkutan ke TPA.

Pengumpulan dan pengangkutan menggunakan pola individual, pengumpulan dari rumah ke rumah langsung dsibuang ke TPA dengan pick up atau dump truck.

Pola komunal langsung, sampah langsung diambil pada lokasi pengumpulan komunal seperti TPS, pengangkutan ke TPS dilakukan oleh pengahasil sampah kemudian sampah dibuang ke TPA.

Pola komunal tidak langsung, sampah dikumpulkan dari sumber sampah dengan gerobak diangkut ke TPS dan dari TPS diangkut ke TPA, pola ini biasa dilakukan di pasar.

4 .4 .1 .2 K e bija k a n, Progra m da n K e gia t a n Pe nge lola a n

Pe rsa m pa ha n

Da la m

Re nc a na

K a bupa t e n

M a nok w a ri

Kebijakan dasar perencanaan sistem pengelolaan sampah adalah sebagai berikut :

 Penanggung jawab pengelolaan kebersihan kota adalah Pemerint ah Daerah setempat.

 Tanggung jawab Pemerintah Pusat terbatas pada pembinaan pengaturan dan prakarsa pembangunan.

 Cara peningkatan pelayanan persampahan kota dilaksanakan secara bertahap.

 Tercapainya target peningkatan kualitas lingkungan perkotaan dengan memprakarsai program penyehatan lingkungan secara terpadu.

 I nstitusi pengelolaan sampah harus sudah mempunyai rencana kerja jangka pendek, menengah dan panjang.

 Pembiayaan pengelolaan sampah diarahkan ke pembiayaan sendiri oleh masyarakat. Pemda hanya membiayai 20 % dari total biaya pengelolaan, yaitu untuk pelayanan umum.

 Peningkatan dan pengikutsertaan peran serta masyarakat dalam sistem pengelolaan sampah.

 Mengikutsertakan dan melibatkan peran serta swasta secara formal dalam pengelolaan sampah.

 Sistem pengelolaan sampah lebih diorientasikan pada padat karya.

A. Kegiatan Operasional Persampahan

1) Umum

Kegiatan teknis operasional pengelolaan persampahan adalah sebagai berikut :

• Kegiatan pewadahan sampah (on storage)

• Kegiatan pengumpulan sampah (collection)

4

(21)

• Kegiatan pemindahan sampah (transfer)

• Kegiatan pengangkutan sampah (intermediate treatment)

• Kegiatan pembuangan akhir (final disposal).

2) Pewadahan Sampah

Pewadahan sampah adalah suatu cara penampungan sampah sebelum dikumpulkan, dipindahkan, diangkut dan dibuang ke tempat pembuangan akhirnya. Tujuan utama dari pewadahan adalah untuk menghindari terjadinya sampah yang berserakan sehingga mengganggu lingkungan dari segi kesehatan, kebersihan dan estetika.

Pewadahan dapat dikelompokkan sebagai pewadahan individual serta pewadahan komunal (yang merupakan bagian dari proses pengumpulan).

Pewadahan individual dimaksudkan untuk menampung sampah dari masing-masing sumber sampah. Pewadahan komunal dimaksudkan untuk menampung lebih dari satu sumber sampah.

3) Pengumpulan Sampah

Yang dimaksud dengan sistem pengumpulan sampah yaitu cara atau proses pengambilan sampah mulai dari tempat pewadahan/ penampungan sampah dari sumber timbulan sampah sampai ke tempat pengumpulan sementara/ stasiun pemindahan atau sekaligus diangkut ke tempat pembuangan akhir.

Pengumpulan umumnya dilaksanakan oleh petugas kebersihan kota atau swadaya masyarakat (pemilik sampah, badan swasta atau RT/ RW).

4) Pemindahan Sampah

Proses pemindahan terdapat pada pengelolaan sampah dengan pengumpulan secara tidak langsung. Proses ini diperlukan karena kondisi daerah pelayanan tidak memungkinkan untuk diterapkan pengumpulan dengan kendaraan truk secara langsung. Di samping itu juga proses ini akan sangat membantu

efisiensi proses pengumpulan. Pekerjaan utama pada proses ini yaitu memindahkan sampah hasil pengumpulan ke dalam truk pengangkut.

Lokasi pemindahan dapat bersifat terpusat (pola transfer depo) atau tersebar. Fungsi lokasi pemindahan terpusat : proses pemindahan, penyimpanan alat, perawatan ringan, proses pengendalian (desentralisasi). Sedangkan fungsi lokasi pemindahan tersebar : proses pemindahan dan penyimpanan alat.

5) Pengangkutan sampah

Yang dimaksud dengan pengangkutan sampah dalam hal ini adalah kegiatan pengangkutan sampah yang telah dikumpulkan di tempat penampungan sementara (transfer depo) atau langsung dari tempat sumber sampah ke TPA. Pekerjaan pengangkutan pada pokoknya membawa sampah makin menjauhi daerah sumber, dengan menggunakan kendaraan pengangkut berupa truk (biasa, dump truck, compactor, dll).

Pewadahan individual harus dimiliki oleh setiap rumah tangga, baik pemukiman tinggi, sedang maupun rendah/ kumuh, sedangkan pewadahan komunal diperuntukkan bagi daerah pemukiman sedang/ kumuh, tanaman kota, jalan dan pasar.

2) Pengumpulan

Pola pengumpulan sampah umumnya dapat dibagi atas :

(22)

b) Pola individual tidak langsung; yaitu proses penanganan persampahan dengan cara mengumpulkan sampah dari masing-masing sumber sampah dan diangkut ke TPA dengan sarana pengangkut melalui proses pemindahan. Pola ini dapat mengurangi ketergantungan kebutuhan alat angkut (truk), tetapi membutuhkan kemampuan pengendalian personal dan alat yang lebih kompleks.

c) Pola komunal langsung; yaitu proses penanganan persampahan dengan cara mengumpulkan sampah dari masing-masing titik pemindahan komunal, langsung diangkut menuju TPA tanpa melalui proses pemindahan. Pola ini merupakan alternatif bila alat angkut terbatas, lokasi timbulan sampah sulit dijangkau oleh pelayanan alat pengumpul non mesin (gerobak), kemampuan pengendalian personal dan peralatan relatif rendah, alat pengumpul sulit menjangkau sumber-sumber sampah (karena berbukit, gang terlalu sempit dan lain-lain).

d) Pola komunal tidak langsung; yaitu proses penanganan persampahan dengan cara mengumpulkan sampah dari masing-masing titik pewadahan komunal, dibawa ke lokasi pemindahan (menggunakan gerobak), lalu diangkut ke TPA menggunakan alat angkut truk.

3) Pemindahan

Berdasarkan kondisi dan fungsinya pemindahan terbagi menjadi 2 bagian, yaitu : terpusat dan tersebar. Pola pemindahan terpusat dimaksudkan sebagai sentralisasi proses pemindahan dan merupakan pos pengendali operasional. Apabila sulit mendapatkan lahan kosong untuk lokasi pemindahan, maka lokasi pemindahan dapat tersebar, tetapi akibatnya kurang dapat terkendali.

Selain untuk proses pemindahan, lokasi pemindahan dapat berfungsi pula sebagai penyimpanan sarana kebersihan seperti gerobak dan peralatan lainnya, tempat perawatan alat, dan sebagainya.

4) Pengangkutan

Fase pengangkutan merupakan tahapan membawa sampah dari lokasi pemindahan atau langsung dari sumber-sumber sampah menuju ke TPA.

Hal yang penting dalam proses pengangkutan adalah penentuan route pengangkutan, berupa penetapan titik pengambilan, jadwal operasi dan pola pengangkutan.

4 .4 .2 Profil Pe rsa m pa ha n

4 .4 .2 .1 Ga m ba ra n

U m um

Sist e m

Pe nge lola a n

Pe rsa m pa ha n Sa a t I ni

Sistem pengelolaan sampah pada konsep dasar kesehatan masyarakat (public health), estetika, dan dampak yang mungkin timbul karena pengelolaan yang kurang baik. Agar pengelolaan sampah dapat berjalan dengan baik, beberapa pertimbangan harus dipertimbangkan, yakni :

a. Perkiraan Jumlah Sampah

Jumlah sampah yang dihasilkan di kota Waisai adalah rata-rata 70,21 m3/ hari di tahun 2013.

b. Proses pengelolaan sampah

Dimulai dari produksi sampah sampai sampah tersebut diolah. Sampah yang dioleh tidak 100 % dari jumlah sampah yang dihasilkan, tetapi berkurang karena selama pengangkutan dari sumbernya ke pembuangan akhir terjadi penumpahan-penumpahan.

c. Fasilitas penunjang

(23)

 Alat pengangkut mulai dari sumber penghasil pah, hingga ke lokasi penampngan akhir, seperti gerobak sampah, dan truck-truck sampah.

 Peralatan mekanis digunakan di lokasi penampungan akhir, seperti hidraulik excavator, dump truck dan wheel loader.

 Tersedianya lokasi-lokasi penampungan sementara di dalam kota dan lokasi penampungan akhir di luar kota yang cukup luas.

Untuk menentukan lokasi penampungan akhir, perlu diperhatikan beberapa kreteria :

 Dialokasikan pada 4 (empat) lokasi

 Jauh dari pemukiman penduduk

 Struktur geologinya harus cukup stabil

 Ketinggian muka air tanah

 Lahannya relative datar

 Tersedia jalan yang menunju ke TPA.

d. Sistem pengelolaan sampah

Sistem pengelolaan sampah di kota Manokwari dapat dijelaskan sebagai berikut :

 Setiap rumah tinggal dan bangunan lainnya diharuskan memiliki bak sampah

 Sampah dari rumah tinggal dan bangunan lainya selanjutnya diangkut ke tempat penampungan sampah lingkungan, sehingga disetiap lingkungan perlu disediakan tempat sampah dengan volume yang cukup besar, dan dapat menampung sampah lebih kurang selama 3 (tiga) hari.

 Dari penampungan sampah tersebut diangkut ke penampungan sementara dengan frekuensi pengangkutan 2 (dua) kali dalam seminggu. Bak penampungan sementara untuk menampung sampah penduduk dialokasikan pada 4 (empat) lokasi, masing-masing pada setiap BWK.

 Dari bak penampungan sementara tersebut , selanjutnya barulah sampah diangkut kelokasi penampngan akhir (TPA).

4 .4 .2 .2 K ondisi

Sist e m

Sa ra na

da n

Pra sa ra na

Pe nge lola a n Pe rsa m pa ha n Y a ng Ada (Aspe k

T e k nis)

Pengelolaan persampahan merupakan ruang lingkup yang disebut sistem, yaitu terdiri sub sistem-sub sistem yang saling berinteraski membentuk kesatuan dan mempunyai tujuan serta mempunyai ketentuan- ketentuan. Dalam pengelolaan persampahan di Kabupaten Manokwari sub sistem yang akan dikemukakan adalah :

1. Sub sistem Manajemen/ Organisasi 2. Sub sistem Teknik Operasional 3. Sub sistem Pembiayaan dan Retribusi 4. Sub sistem pengaturan

5. Sub sistem Peran serta masyarakat

Uraian selengkapnya berikut ini :

1. Sub sistem Manajemen/ Organisasi

Saat ini sebagai penanggung jawab penanganan kebersihan Kota Manokwari adalah Camat/ Kepala Distrik (PERDA No. 5 Tahun 1980) dan BK5M (Badan Koordinasi Kebersihan, Keindahan, Kesehatan, Keamanan dan Ketertiban) Kabupaten Manokwari, dimana camat/ kepala distrik sebagai anggota serta pengelola.

2. Sub sistem Teknik Operasional

a. Daerah Pelayanan

Pada dasarnya wilayah/ daerah pelayanan adalah seluruh wilayah Kota Waisai. Akan tetapi sampai saat ini pelayanan sampah di Kota Waisai baru dapat melayani 2,5 Ha, yang meliputi kawasan pasar, pertokoan dan perkantoran di dua distrik.

b. Sumber Timbulan Sampah

Ditinjau dari jumlah penduduk, maka sampah pemukiman diperkirakan sebesar 70,21 m3/ hari. Jumlah timbulan sampah untuk masing-masing sumber adalah

(24)

 Sampah Pemukiman : 70,21 m3/ hr  Sampah Pasar : 6 m3/ hr  Sampah Komersial : 6 m3/ hr  Perkantoran : 5 m3/ hr  Tempat Sosial : 3 m3/ hr  Sampah Jalan dan Taman : 3 m3/ hr

c. Tingkat Pelayanan

Ukuran tingkat pelayanan pengelolaan sampah terletak pada sensitivitas daya angkut truk sampah.

Alat angkut sampah (truk sampah) yang ada di Kota Waisai adalah satu buah dump truk dengan kapasitas masing-masing 6 m3, dengan frekuensi ritasi

adalah 1 rit per hari.

Dari jumlah ritasi dan kapasitas tersebut dapat dihitung rata-rata sampah yang terangkut per hari.

Jadi rata-rata sampah terangkut per hari adalah sebesar 50,21 m3/ hari. Dari

perhitungan tersebut maka tingkat pelayanan yang ada adalah sebagai berikut :

Terhadap timbulan sampah = 24,73 %

Sampah-sampah yang tidak terangkut sebagian besar ditanggulangi sendiri oleh masyarakat dengan membakar dan membenamkan ke dalam tanah.

d. Pola Penanganan

Penanganan sampah untuk setiap sumber sampah masih belum tertangani secara baik. Namun secara umum sampah-sampah tersebut dikumpulkan dan dibuang ke tempat pembuangan akhir dengan menggunakan truk sampah.

e. Pewadahan

Secara umum dilihat dari fungsinya pewadahan sampah di Kota Manokwari dapat dikelompokan atas dua jenis, yaitu :

 Wadah I ndividual

 Wadah Komunal

Bentuk fisik wadah individual yang umum dijumpai adalah potongan drum kapasitas ± 40 liter dan karung plastik kapasitas ± 50 liter. Bentuk fisik wadah komunal yang dijumpai berupa bak pasangan bata dengan kapasitas 1 m3.

f. Pengumpulan

 Sampah Pasar

Dikumpulkan oleh petugas dengan menggunakan sapu lidi dan keranjang. Untuk daerah yang dapat dilalui gerobak maka setelah penyapuan sampah dikumpulkan dengan menggunakan gerobak dan sebagian lagi dibantu oleh pedagang dibuang langsung ke TPS.

 Sampah Bukan Pasar

Dilakukan oleh Petugas dengan menggunakan sapu lidi dan dikumpulkan dengan gerobak kemudian diangkut ke TPA dan sebagian lagi dikumpulkan oleh penduduk setempat dan dibuang ke sungai/ parit atau dibakar.

g. Pengangkutan

(25)

Tabel 4.64

Prasarana dan Sarana Persampahan yang Ada

No Pengolahan Prasarana dan Sarana Satuan Volume (Unit) Kapasitas Tahun Pengadaan Kondisi Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8

I MASYARAKAT

1.Pewadahan

a. Bin/ long Sampah - - -

-2. Pengumpulan

a. Gerobak sampah - - -

-b. Becak Sampah - - -

-c. dan lain-lain - - -

-3. Penampungan sementara

a. Transper depo - - -

-b.Contener - - -

-c. Pasangan bata - - -

-d. Bak kayu - - -

-e. Tanah terbuka - - -

-4. Pengangkatan

a. Dump truck - - -

-b. Arm Root Truck - - -

-5. Pengolahan

a. Pengomposan - - -

(26)

No Pengolahan Prasarana dan Sarana Satuan Volume (Unit) Kapasitas Tahun Pengadaan Kondisi Keterangan

1 2 3 4 5 6 7 8

II PEMERINTAH

1. Pewadahan

a. Bin/Tong Sampah m3 25 1,5 2002 rusak

-2. Pengumpulan

a. Gerobak sampah m3 25 1 2002 rusak

-b. Becak Sampah - - -

-c. dan lain-lain - - -

-3. Penampungan sementara 1

a. Transper depo - - -

-b. Contener m3 25 2 2002 rusak & baik

-c. Pasangan bata - - -

-d. Bak kayu - - -

-e. Tanah terbuka - - -

-4. Pengangkatan

a. Dump truck m3 1 10 2000 -

-b. Arm Rod Truck m3 1 10 2000 -

-5. Pengolahan

a. Pengomposan - - -

-b. Daur ulang - - -

-6. Pembuangan Ahir

a. Alat berat - - -

-b. Luas Area - - -

-7.Pengendalian Pencemaran

a. Leachate treatmen - - -

-b. Buffer zone - - -

-c.Saluran pengumpul air lindi - - -

-d. Drainase air hujan - - -

-8. Sarana penunjang

a. Kantor m2 1 750 2005 baik

-b. bengkel m2 1 500 2005 baik

(27)

-No Pengolahan Prasarana dan Sarana

Satuan

Volume (Unit)

Kapasttas

Tahun Pengadaan

Kondisi

Keterangan

1

2

3

4

5

6

7

8

1. Pewadahan

a. Bin/ long Sampah

-

-

-

-

-

-2. Pengumpulan

a. Gerobak sampah

-

-

-

-

-

-b. Becak Sampah

-

-

-

-

-

-c. dan lain-lain

-

-

-

-

-

-3. Penampungan sementara

a. Transper depo

-

-

-

-

-

-b. Contener

-

-

-

-

-

-c. Pasangan bata

-

-

-

-

-

-d. Bak kayu

-

-

-

-

-

-e. Tanah terbuka

-

-

-

-

-

-4. Pengangkatan

a. Dump truck

-

-

-

-

-

-b. Arm Rool Truck

-

-

-

-

-

-5. Pengolahan

a. Pengomposan

-

-

-

-

-

-b. Daur ulang

-

-

-

-

-

-6. Pembuangan Ahir

a. Alat berat

-

-

-

-

-

-b. Luas Area

-

-

-

-

-

-7. Sarana penunjang

a. Kantor

-

-

-

-

-

-b. bengkel

-

-

-

-

-

-c. dan lain-lain

-

-

-

-

-

(28)

Tabel 4.65

Sistem Pelayanan Persampahan Saat I ni

No

Uraian

Satuan

Volume

Keterangan

1

2

3

4

5

Pengelolaan

Teknik operasional

a.        Cakupan pelayanan

%

20

-b.        Perkiraan timbunan sampah

m

3

/hari

62.500

-c.        Timbunan sampah yang terangkat

-      Permukiman

-      Non permukiman

m

3

/hari

15.000

--      Total

m

3

/hari

10.000

--      Kapasitas pelayanan TPA

m

3

/hari

25.000

--      Kapasitas pelayanan pengumpulan sampah

m

3

/hari

-

sampah

truck sampah

10

-Pembiayaan

a.        Biaya pengelolaan

-      Pengumpulan sampah

Rp/tahun

200.000.000

--      Pengolahan sampah

Rp/tahun

200.000.000

-b.        Pendapatan retribusi

Rp/tahun

111.840.000

-Hukum dan Peraturan

Uraian ketersediaan peraturan dan sejenisnya yang ada saat ini dengan

mencantumkan nomor dan tahun serta judul peraturan

Pada saat pengelolaan persampahan dilakukan

oleh dinas pertambangan dan lingkungan hidup

Deskripsikan institusi pengelola yang ada saat ini serta tingkat

kewenanganya serta bila ada swasta atau lembaga organisasi

masyarakat yang juga terlibat sebagai pelaksana pengolahan sampah

dengan skala/cakupan pengolahannya

1

-

--

-2

3

4

(29)

-Tabel 4.66

Parameter Teknis Wilayah

No Uraian Satuan Keterangan

1 2 3 4

1 Jumlah penduduk 120.521 orang 20 distrik

Kepadatan penduduk 5 orang/km

-2 Pendapatan penduduk rata-rata -

-Tata guna lahan

-       Komersil/perkantoran/perdagangan 2.000 Ha

--       Daerah permukiman 5.000 Ha

--       Fasilitas umum 1.000 Ha

--       Dan lain-lain 17.324 Ha

-4 Topografi dan geologi Ketinggian lereng 0-45%

-5 Permeabilitas tanah Air tanah

-       Tinggi muka air tanah Meter

--       Pemanfaatan Konsumsi air bersih

--       Kualitas Baik

-Air permukaan

-       Debit 0,05 Liter/detik

--       Pemanfaatan -

--       Kualitas -

-Klimatologi

-       Arah angin Bervariasi

-       Curah hujan rata-rata 3.599 mm

Kesehatan

--       tiga penyakit paling dominan dengan kondisi sanitasi yang buruk Diare, penyakit kulit

--       kejadian khusus terkait sampah

-

-9 3

6

7

(30)

4 .4 .2 .3 Aspe k Pe ra t ura n Pe runda nga n

1. Dalam masalah pengelolaan persampahan di kota Manokwari peraturan-peraturan yang ada saat ini adalah Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Manokwari Nomor 5 Tahun 1980 tentang Sampah di Kota Waisai.

2. Keputusan Bupati Kabupaten Manokwari tentang pembentukan organisasi dan tata kerja BK5M Kabupaten Waisai.

4 .4 .2 .4 Aspe k Pe ra n Se rt a M a sya ra k a t

Adanya keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan persampahan di suatu daerah/ kota merupakan suatu hal yang sangat penting. Karena memang masyarakatlah yang merupakan sumber utama sampah, disamping karena keterbatasan pihak pengelola yaitu pemerintah daerah setempat.

Adapun bentuk peran serta masyarakat saat ini di Kota Manokwari dalam pengelolaan sampah antara lain :

 Pengelolaan/ pembuangan sampah secara individu, misalnya dibakar atau ditanam.

 Operasi bersih secara gotong royong, baik oleh instansi-instansi pemerintah atau kelompok masyarakat tertentu.

 Memenuhi kewajiban membayar retribusi sampah sesuai peraturan yang berlaku.

4 .4 .3 Pe rm a sa la ha n Y a ng Diha da pi

Timbulan sampah di kota Manokwari pada tahun 2005 sebesar 135,78 m3 per hari, bila diperkirakan penambahan sampah tiap tahun berkisar 3 % maka dalam kurun waktu 5 tahun mendatang volume sampah mencapai 156,15 m3 per hari.

Berdasarkan orientasi lingkungan bersih dan pelayanan yang baik, maka permasalahan pokok di kota Manokwari adalah :

 Sarana angkutan

 Personel pelayanan baik pengumpul, pembersih maupun pengangkut.

 Jalan menuju Tempat Pembuangan Akhir

 Kesadaran masyarakat yang masih rendah akan kebersihan.

 Lokasi TPA yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan kota, diperkirakan 5 tahun mendatang sudah tidak memenuhi syarat lagi, ini merupakan persoalan dimasa yang akan datang.

Pembinaan masyarakat perlu dilakukan dalam jangka panjang dan terus menerus. Peningkjatan kapasitas masyarakat merupakan faktor penting yang dapat mengurangi beban pengelola saampah.

(31)

Tabel 4.67

Permasalahan Pengelolaan Persampahan Yang Dihadapi

Permasalahan yang dihadapi Yang sudah dilakukan

Yang sedang dilakukan

Yang direncanakan untuk dilakukan

1 2 3 4 5 6 7

A Kelembagaan

-       - bentuk institusi Belum berjalan - - Peningkatan kinerja Dinas pertambangan

dengan baik dan lingkungan hidup

-       - dasar huku pembentukan institusi Bagian hukum

- SDM Masih terbatas - - Peningkatan SDM Dinas pertambangan

dan lingkungan hidup

B Teknis operasional 1 Perencanaan

Ketersediaan dokumen perencanaan (master Plane, FS, Belum ada - - Pembuatan master plane BAPPEDA/Dinas PU

dan DED) FS dan DED

2 Prasarana dan sarana

Pewadahan :

a.         Bin-tong sampah Masih kurang - - Penambahan Dinas Pertambangan

b.         DII - - - - Dan Lingkungan Hidup

Pengumpulan

a.         Gerobak sampah Masih kurang - - Penambahan Dinas Pertambangan

b.         Becak sampah - - - - Dan Lingkungan Hidup

c.         Street sweeper - - -

-d.         Dll - - -

-Pemindahan (penampungan sementara)

a.         Transper depo Belum ada - - Pembuatan baru Dinas Pertambangan

b.         Container Masih kurang - - Penambahan Dan Lingkungan Hidup

c.         Transfer station - - -

-No Aspek pengelolaan persampaan

Tindakan

(32)

Permasalahan Yang Dihadapi Yang Sudah Dilakukan

Yang Sedang Dilakukan

Yang Direncanakan Untuk Dilakukan

1 2 3 4 5 6 7

Pengangkutan

a.       Dump truck Masih kurang - - Penambahan Dinas Pertambangan

b.       Arm rool truck Masih kurang - - Penambahan Dan Lingkungan Hidup

c.       Compactor truck Belum ada - - Pengadaan baru

d.       Dll -

-System pengolahan & 3R :

a.       Pengomposan Belum dilakukan - - Akan dilakukan Dinas Pertambangan

b.       Daur ulang Belum dilakukan - - Akan dilakukan Dan Lingkungan Hidup

c.       Ingenerator - - -

-d.       Dll - - -

-Tempat pemrosesan akhir (TPA)

a.       Lahan Belum ada - - Pengadaan lahan baru Dinas Pertambangan

b.       Fasilitas umum Dan Lingkungan Hidup

-       Jalan masuk Belum ada - - Akan dikerjakan

-       Saluran drainase Belum ada - - Akan dikerjakan Dinas Pertambangan

-       System air bersih Belum ada - - Akan dikerjakan Dan Lingkungan Hidup

-       Kantor Belum ada - - Akan dikerjakan

-       Pagar gerbang Belum ada - - Akan dikerjakan c.       Fasilitas perlindungan

Lingkungan

-       Lapisan kedap air Belum tersedia - - Akan dibuat Dinas Pertambangan -       Saluran pengumpul lindi Belum tersedia - - Akan dibangun Dan Lingkungan Hidup

-       Instalasi pengolahan Belum tersedia - - Akan dibangun

Lindi

-       Penanganan gas metan Belum tersedia - - Akan dibangun No Aspek Pengelolaan Persampahan

Tindakan

(33)

Permasalahan yang dihadapi Yang sudah dilakukan

Yang sedang dilakukan

Yang direncanakan untuk dilakukan

1 2 3 4 5 6 7

d.         Fasilitas operasional

-     Jembatan timbang Belum tersedia - - Akan dibangun Dinas Pertambangan

-     Alat berat Masih kurang - - Penambahan unit Dan Lingkungan Hidup

-     Jalan operasi Belum tersedia - - Akan dibangun

-     Area penghijauan Belum tersedia - - Akan dibangun Dinas Pertambangan

-     Sel pembuangan sampah Belum tersedia - - Akan dibangun Dan Lingkungan Hidup

-     Cadangan tanah penutup Belum tersedia - - Akan dibangun

e.         Fasilitas penunjang

-     Pencucian kendaraan Belum tersedia - - Akan dibangun Dinas Pertambangan

-     Parkir Belum tersedia - - Akan dibangun Dan Lingkungan Hidup

-     Komunikasi Belum tersedia - - Pengadaan baru

C

-     Mekanisme pembiayaan Belum jelas - - Perubahan mekanisme Dinas Pertambangan

-     Sumber dana Masih kurang - - Penambahan dana Dan Lingkungan Hidup

-     Retribusi dan mekanisme Belum maksimal - - Perubahan system

-     Penarikan

-     Realisasi penerimaan Masih rendah - - Perlu perubahan

D Peraturan / perundangan

-     Kelengkapan, kelayakan Belum ada - - Akan dibuat Dinas Pertambangan

-     Materi Dan Lingkungan Hidup

-     Penerapan sanksi dan rewand Belum dapat dilaksanakan - - Akan dilakukan

E Peran serta masyarakat dan swasta

-       Penyuluhan, edukasi, Dll Belum dilakukan - - Akan dilakukan Dinas Pertambangan

-       Kemampuan membayar Masih kurang - - Perlu sosialisasi Dan Lingkungan Hidup

Retribusi

-       Partisipasi masyarakat Masih kurang - - Perlu sosialisasi Dinas Pertambangan

-       Partisipasi swasta Masih kurang - - Perlu sosialisasi Dan Lingkungan Hidup

System pembiayaan

No Aspek pengelolaan persampahan

Tindakan

(34)

4 .4 .4 Ana lisa Pe rm a sa la ha n da n Re k om e nda si

4 .4 .4 .1 Ana lisa Pe rm a sa la ha n

Dari masalah-masalah yang terungkap, dikaitkan dengan aspek yang terkait dalam pengelolaan persampahan, maka lebih lanjut disampaikan dalam uraian-uraian sebagai berikut :

a. Aspek Organisasi/ I nstitusi

 Fungsi operasional kurang jelas.

 Kemampuan personal, baik staf maupun pelaksana masih rendah.

 Fungsi perencanaan belum terlaksana dengan baik.

 I nformasi data yang kurang akurat, menyebabkan sistem pengendalian dan pengawasan operasional pengelolaan persampahan kurang efektif.

b. Komponen Teknik Operasional

 Pola operasional yang ada belum efektif dan efisien

 Peralatan yang ada tidak terawat dengan baik, sehingga peralatan-peralatan tersebut cepat rusak dan akhirnya kurang produktif.

 Kewenangan petugas operasi untuk menangani wilayah-wilayah tertentu belum jelas, sehingga kerap kali timbul saling mengharapkan antara pelaksana pengelolaan sampah dari instansi yang bertugas dengan masyarakat setempat, yang mengakibatkan sampah tidak tertangani.

 Kapasitas pelayanan dirasakan masih kurang, karena itu perlu ditingkatkan.

c. Komponen Pembiayaan dan Retribusi

 Dana yang terhimpun sangat terbatas, tidak sebanding dengan beban kerja yang harus ditangani.

 Potensi yang ada dalam tiap lapisan masyarakat untuk membiayai pengelolaan persampahan belum diefektifkan.

 Masalah penanganan keuangan untuk pengelolaan persampahan saat ini belum ditangani secara khusus (masih tercampur dengan urusan lain).

 Penarikan sistem retribusi belum sempurna, karena itu perlu dipikirkan lagi agar lebih efektif, sehingga seluruh masyarakat ikut bertanggung jawab

terhadap pengelolaan sampah di kota tersebut, melalui pembayaran, retribusi dengan baik.

d. Komponen Pengaturan

 Peraturan-peraturan yang menyangkut organisasi dan tata kerj a pengelolaan sampah belum disertai petunjuk pelaksanaan yang jelas sehingga peraturan tersebut kurang terlaksana dengan baik.

 Pelaksanaan peraturan kurang didukung oleh kemampuan menjabarkan peraturan tersebut.

e. Komponen Peran Serta Masyarakat

 Peran serta masyarakat dalam arti luas, walaupun sudah ada namun secara umum dapat dikatakan masih rendah.

4 .4 .4 .2 Alt e rna t if Pe m e c a ha n M a sa la h

Dilihat dari permasalahan yang ada, maka rencana pemecahan masalah pengelolaan sampah di Kota Manokwari adalah :

 Upaya peningkatan pelayanan untuk menaikkan kualitas lingkungan, agar tidak membahayakan kesehatan masyarakat, yaitu sekitar 80 % penduduk terlayani.

 Peran serta masyarakat dan swasta diharapkan dapat membantu usaha yang dilakukan pemerintah dalam penanganan masalah persampahan di Kota Manokwari.

 Perlu peningkatan kualitas personel pengelolaan sampah, demikian pula sarana pengangkutan untuk meningkatkan pelayanan, mengadakan pemusnahan sampah berteknologi tinggi.

(35)

Tabel 4.68

Perbandingan Alternatif Pemecahan Masalah Pengelolaan Persampahan

Teknis

Manfaat

Biaya

Teknis

Manfaat

Biaya

1

2

3

4

5

6

7

8

A

Kelembagaan

-

Bentuk institusi

-

Dasar hokum

Pembentukan institusi

-

SDM

B

Teknis operasional

Perencanaan :

1 Ketersediaan dukungan perencanaan

dan DED

2 Prasarana dan sarana pewadahan

a.

Bin / tong sampah

Pengumpulan

a.

Gerobak sampah

b.

Becak sampah

c.

Steet sweeper

Pemindahan penampungan sementara

a.

Transfer depo

b.

Countainer

c.

Transfer countainer

Pengangkutan

a.

Dum truck

b.

Arm rool truck

(36)

Teknis

Manfaat

Biaya

Teknis

Manfaat

Biaya

1

2

3

4

5

6

7

8

System pengelolaan & 3R

a.

Pengomposan

b.

Daur ulang

c.

Incinerator

Tempat pemrosesan akhir (TPA)

a.

Lahan

b.

Fasilitas Umum

-

Jalan masuk

-

Saluran drainase

-

System air bersih

-

Kantor

-

Pagar gerbang

c.

Fasilitas perlindungan lingkungan

-

Lapisan kedap air

-

Saluran pengumpul lindi

-

Penanganan gas metan

a.

Fasilitas operasional

-

Jembatan timbang

-

Alat berat

-

Jalan operasi

-

Area penghijauan

-

Sel pembuangan sampah

-

Cadangan tanah penutup

b.

Fasilitas penunjang

-

Pencucian kendaraan

-

Parkir

-

Komunikasi

(37)

Teknis Manfaat Biaya Teknis Manfaat Biaya

1 2 3 4 5 6 7 8

C System pembiayaan

- Mekanisme pembiayaan - Sumber dana

- Retribusi dan mekanisme

Penarikan

- Realisasi penerimaan D Peraturan / perundangan

- Kelengkapan, kelayakan - Materi

- Penerapan sanksi dan rewand E Peran serta masyarakat dan swasta

- Penyuluhan, edukasi, Dll

- Kemampuan membayar Retribusi - Partisipasi masyarakat

- Partisipasi swasta

No Aspek Permasalahan

Gambar

Tabel 4.57Parameter Teknis Wilayah
Gambar 4.9
Tabel 4.59
Tabel 4.60Sistem Prasarana dan Sarana Air Limbah yang Diusulkan
+7

Referensi

Dokumen terkait

Perekaman EEG yang dilanjutkan pada pasien dengan aktifitas yang sangat berat dapat sangat membantu dalam penegakan diagnosis dengan kasus yang sangat sulit dengan serangan yang

1) Mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pembelajaran dengan baik, lancar, dan produktif. 2) Dapat menyelesaikan tugas dan pekerjaan sesuai dengan waktu yang

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses pergeseran pemilihan moda pergerakan agar dapat menjawab pertanyaan penelitian Bagaimanakah Pengaruh Rencana Penerapan

Djelaskan Kompol ananto, pengungkapan kom- plotan penadah itu berawal dari peristiwa perampokan sebuah truk bermuatan dus susu dan popok bayi pada Kamis (12/2) lalu.saat itu

kapal yang dapat menyebabkan harga R² rendah dan kemudian mengganti dengan data kapal lain sehingga mendapatkan harga R² yang besar, akan tetapi dalam penentuan jumlah

Demikian juga halnya dengan radiofarmaka 99"'Tc_ L,L-EC, harus mempunyai karakteristik yang ideal untuk diagnosis ginjal yaitu mempunyai kemumian radiokimia yang tinggi

Untuk mengetahui hal tersebut, dengan suatu metode pengambilan keputusan multikriteria dengan memecahkan situasi kompleks dan tidak terstruktur kedalam bagian-bagian dan

Musamus Accounting Journal (MAJ), Vol 1, No 1 Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mulamimah (2013), Prayogo (2016),Dewi (2014), bahwa likuiditas dinyatakan