• Tidak ada hasil yang ditemukan

PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS MASALAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI DISKUSI DAN EKSPERIMEN DITINJAU DARI KEMAMPUAN VERBAL DAN GAYA BELAJAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS MASALAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI DISKUSI DAN EKSPERIMEN DITINJAU DARI KEMAMPUAN VERBAL DAN GAYA BELAJAR"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

132

PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS MASALAH DENGAN

MENGGUNAKAN METODE DEMONSTRASI DISKUSI

DAN EKSPERIMEN DITINJAU DARI KEMAMPUAN

VERBAL DAN GAYA BELAJAR

Herekno Anen siswati1), Widha Sunarno2), Suparmi3), 1SMA Negeri 1 Ponorogo

Ponorogo, 63471, Indonesia

herekno@gmail. com 2

Pendidikan Sains, Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret Surakarta, 57126, Indonesia

widhasunarno@gmail.com 3

Pendidikan Sains, Pascasarjana, Universitas Sebelas Maret Surakarta, 57126, Indonesia

suparmiuns@gmail.com ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan pembelajaran Fisika berbasis masalah dengan menggunakan metode demonstrasi diskusi dan eksperimen, kemampuan verbal tinggi dan rendah, gaya belajar visual dan kinestetik, interaksi antara metode demonstrasi diskusi dan eksperimen dengan kemampuan verbal, dengan gaya belajar, kemampuan verbal dan gaya belajar, metode demonstrasi diskusi dan eksperimen dengan kemampuan verbal dan gaya belajar terhadap prestasi belajar Fisika. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik cluster random sampling sebanyak empat kelas. Uji hipotesis penelitian menggunakan ANAVA tiga jalan dengan desain faktorial 2x2x2. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: (1) terdapat pengaruh penggunaan pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan metode demonstrasi diskusi dan eksperimen terhadap prestasi belajar Fisika; (2) terdapat pengaruh kemampuan verbal tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar Fisika; (3) terdapat pengaruh antara gaya belajar visual dan kinestetik terhadap prestasi belajar Fisika; (4) tidak terdapat interaksi penggunaan pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan metode demonstrasi diskusi dan eksperimen dengan kemampuan verbal tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar Fisika; (5) terdapat interaksi penggunaan pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan metode demonstrasi diskusi dan eksperimen dengan gaya belajar visual dan kinestetik terhadap prestasi belajar Fisika; (6) terdapat interaksi kemampuan verbal tinggi dan rendah dengan gaya belajar visual dan kinestetik terhadap prestasi belajar Fisika; (7) tidak terdapat interaksi penggunaan pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan metode demonstrasi diskusi dan eksperimen, kemampuan verbal tinggi dan rendah dengan gaya belajar visual dan kinestetik terhadap prestasi belajar Fisika.

Kata kunci: prestasi belajar, kuasi eksperimen, uji ANAVA, uji Scheffe, Kalor.

Pendahuluan

Memasuki abad ke-21, sistem pendidikan nasional menghadapi tantangan yang sangat kompleks dalam menyiapkan kualitas sumber daya manusia yang mampu bersaing di era globalisasi. Upaya untuk menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas dan satu-satunya wadah yang dapat berfungsi sebagai alat untuk membangun sumber daya manusia yang bermutu tinggi dan berkualitas yang pada akhirnya dapat mendukung pembangunan nasional adalah pendidikan

Pendidikan merupakan suatu proses perubahan sikap dan perilaku seseorang dalam upaya mendewasakan manusia melalui proses pembelajaran. Proses pendidikan juga mengarah pada pembentukan sikap, pengembangan intelektual, dan pengembangan ketrampilan peserta didik sehingga arah dan tujuan

pendidikan dapat tercapai. “Masalah utama dalam pembelajaran pada pendidikan formal (sekolah) dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik” (Trianto, 2009). Hal ini tampak dari rata-rata hasil belajar peserta didik yang senantiasa masih memprihatinkan, selain itu juga lemahnya proses pembelajaran, seperti kemampuan berpikir peserta didik kurang dikembangkan sehingga peserta didik hanya mengahafal konsep dan kurang mampu menggunakan konsep tersebut jika menemui masalah dalam kehidupan nyata yang berhubungan dengan konsep yang dimiliki serta kurang mampu memutuskan masalah dan merumuskannya.

Pembelajaran Sains menekankan pada pembentukan ketrampilan memperoleh pengetahuan dan mengembangkan sikap ilmiah. Hal ini bisa tercapai apabila dalam pembelajaran

(2)

133

menggunakan pendekatan ketrampilan proses. Penerapan pendekatan ketrampilan proses menuntut adanya keterlibatan fisik dan mental intelektual peserta didik. Hal ini dapat digunakan untuk melatih dan mengembangkan ketrampilan intelektual atau kemampuan berpikir peserta didik. Selain itu juga mengembangkan sikap dan kemampuan peserta didik untuk menemukan dan mengembangkan fakta, konsep dan prinsip ilmu atau pengetahuan.

Sedangkan pembelajaran Fisika pada umumnya masih berorientasi pada guru. Peserta didik cenderung menerima apa yang dijelaskan oleh guru tanpa harus mengetahui makna dari pelajaran tersebut. Peserta didik juga cenderung menghafal pengertian dan rumus, pendekatan pembelajarannya kurang berhubungan dengan fenomena alam, kehidupan sehari-hari, dan perkembangan teknologi. Hal ini menyebabkan peserta didik pasif dan kurang termotivasi dalam belajar, sehingga peserta didik mengalami kesulitan dalam belajar Fisika. Padahal, dalam pembelajaran seorang guru harus mampu menciptakan kondisi pembelajaran yang dapat membangkitkan semangat belajar peserta didik, sehingga peserta didik mempunyai ketrampilan, keberanian, serta mempunyai kemampuan akademik.

Karakteristik pembelajaran Fisika dibangun melalui pengembangan ketrampilan-ketrampilan proses sains yaitu: mengobservasi atau mengamati, termasuk didalamnya menghitung, mengukur, mengklasifikasi, dan mencari hubungan ruang atau waktu; menyusun hipotesis; merencanakan eksperimen atau percobaan; mengendalikan atau memanipulasi variabel; menginterpretasikan atau menafsirkan data; menyusun kesimpulan sementara; meramalkan atau memprediksi; menerapkan atau mengaplikasikan; mengkomunikasikan (Depdiknas, 2005). Namun demikian kualitas pendidikan di Indonesia, khususnya prestasi belajar Fisika belum menunjukkan hasil yang memuaskan.

Pembelajaran Fisika harus relevan dengan kehidupan sehari-hari, supaya pelajaran Fisika yang diperoleh akan bermanfaat, dan akan mempunyai peran yang penting bagi peserta didik untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Selanjutnya akan berdampak dalam menciptakan sumber daya manusia yang bermutu. Oleh karena itu untuk membangkitkan semangat belajar Fisika peserta didik diperlukan model pembelajaran, misalanya

model pembelajaran kooperatif, Contextual Teaching and Learning, Quantum Teaching and Learning dan model pembelajaran berbasis masalah (PBL).

Model pembelajaran PBL (Problem Based Learning) adalah model pembelajaran yang merangsang peserta didik untuk menganalisis masalah, memperkirakan jawabannya, mencari data, menganalisis data dan menyimpulkan jawaban terhadap masalah. Dengan kata lain model ini pada dasarnya melatih kemampuan memecahkan masalah melalui langkah-langkah sistematis. Menurut John Dewey dalam Suranto (2010), “proses belajar hanya akan terjadi kalau siswa dihadapkan kepada masalah dari kehidupan nyata untuk dipecahkan”. Dalam membahas dan menjawab masalah, peserta didik harus terlibat dalam kegiatan nyata, misalnya mengobservasi, mengumpulkan data dan menganalisisnya bersama-sama teman dalam kelompok di kelasnya.

Peserta didik hendaknya diberi kesempatan melakukan eksperimen dengan obyek fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh pertanyaan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif, mencari dan menemukan berbagai hal dari linggkungan. Dari beberapa karakter di atas pembelajaran yang dirasa cocok untuk pembelajaran pada materi Fisika yang bersifat abstrak adalah model pembelajaran berbasis masalah, namun demikian belum optimum digunakan oleh guru.

Dari pernyataan di atas dan didukung pendapat Burton dalam Hamalik (2001), menyatakan bahwa "Pengalaman adalah sebagai sumber pengetahuan dan keterampilan, bersifat pendidikan, yang merupakan satu kesatuan disekitar tujuan murid, pengalaman pendidikan bersifat kontinu dan interaktif, membantu integrasi pribadi murid". Maka pembelajaran akan lebih baik bila peserta didik belajar dengan mengalami langsung, sebab pengetahuan yang diperoleh akan lebih bermakna.

Dalam pembelajaran di SMA Negeri I Ponorogo masih banyak guru yang menggunakan metode ceramah dan tanya jawab, sehingga peserta didik belum belajar secara maksimal khususnya pada mata pelajaran Fisika sehingga menyebabkan prestasi belajarnya masih rendah terutama materi Kalor yang prestasinya masih

(3)

134

jauh dari yang diharapkan, dimana rata-ratanya masih dibawah Kriteria Ketuntasan Minimal yaitu 75.

Rendahnya prestasi belajar Fisika terutama pada materi Kalor disebabkan karena guru mengajar kurang sesuai dengan karakteristik materi yaitu bahwa Kalor bersifat abstrak tetapi efeknya dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari sehingga pembelajaran dengan metode ceramah dan tanya jawab kurang tepat karena peserta didik belum dilibatkan secara langsung dalam proses belajar mengajar. Padahal masih banyak metode yang bisa diterapkan dan yang sesuai dengan karakteristik dari materi Kalor yaitu antara lain metode demonstrasi, diskusi, inkuiri, eksperimen dan lain sebagainya. Dengan demikian untuk meningkatkan prestasi belajar Fisika terutama pada materi Kalor diperlukan model dan metode pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dari materi kalor.

Materi Kalor juga dianggap sulit oleh peserta didik karena dibutuhkan kemampuan untuk pengamatan, penafsiran, mengingat, memahami, merancang dan melakukan percobaan dalam kegiatan laboratorium, oleh karena itu untuk menyampaikan materi Kalor dalam kehidupan sehari-hari diperlukan pembelajaran tingkat tinggi sehingga model pembelajaran yang tepat digunakan adalah pembelajaran berbasis masalah, sedangkan metode pembelajaran yang tepat digunakan adalah metode demonstrasi diskusi, inkuiri dan eksperimen. Pembelajaran yang digunakan dalam penelitian ini adalah pembelajaran berbasis masalah dengan menggunakan metode demonstrasi diskusi dan eksperimen yang sesuai dengan karakteristik materi Kalor, selain itu juga untuk pemanfaatan laboratorium di SMA Negeri 1 Ponorogo yang selama ini khususnya laboratorium Fisika belum dimanfaatkan secara maksimal.

Dalam pembelajaran menggunakan metode demonstrasi dilakukan peragaan suatu proses berkenaan dengan materi pembelajaran. Dalam demonstrasi peserta didik dapat mengamati proses, informasi, peristiwa sehingga peserta didik lebih memahami bahan yang diajarkan lewat suatu kenyataan yang dapat diamati sehingga mudah dimengerti. Pelaksanaan demonstrasi seringkali diikuti dengan diskusi yaitu salah satu metode pembelajaran agar peserta didik dapat berbagi pengetahuan, pandangan, dan ketrampilan. Tujuan diskusi

adalah untuk mengeksplorasi pendapat atau pandangan yang berbeda dan untuk mengidentifikasi berbagai kemungkinan. Penggunaan metode diskusi dalam pembelajaran memungkinkan adanya keterlibatan peserta didik dalam proses interaksi yang lebih luas. Proses interaksi berjalan melalui komunikasi verbal. Dalam demonstrasi dan diskusi peserta didik lebih aktif terutama dalam proses bertukar pikiran melalui komunikasi verbal. Hal ini sesuai dengan pendapat Sumiati dan Asra (2008) “metode diskusi bermanfaat untuk melatih kemampuan memecahkan masalah secara verbal, dan memupuk sikap demokratis”. Dalam praktiknya proses interaksi antara lain menggunakan cara tanya jawab sekitar masalah yang dibahas. Biasanya pertanyaan dan jawaban dikemukakan sendiri oleh peserta didik dalam membahas suatu masalah, sehingga hal ini mencerminkan keaktifan peserta didik yang tinggi dalam belajar. Sehingga metode demonstrasi diskusi dalam pembelajaran dapat digunakan untuk belajar konsep dan prinsip, memahami konsep dan prinsip secara lebih baik, dan juga untuk mengaktifkan peserta didik agar pembelajaran tidak membosankan.

Pembelajaran dengan metode eksperimen, dimana peserta didik akan mengalami pengetahuan langsung, yakni ketika mereka melakukan eksperimen yang mereka lakukan sendiri atau berkelompok, mereka langsung berhadapan dengan obyek, mereka harus melakukan pengamatan, pengukuran, pengambilan data, penghitungan dan melaporkan hasil eksperimen yang telah mereka lakukan sendiri atau berkelompok sehingga pengetahuan yang diperoleh akan bermakna.

Pembelajaran Fisika tentang Kalor banyak menggunakan simbol-simbol yang mempunyai arti tertentu, maka dibutuhkan kemampuan verbal. Jika kemampuan verbal ini tidak diperhatikan dikhawatirkan akan terjadi kesalahan penafsiran terhadap simbol-simbol tersebut.

Kemampuan verbal merupakan salah satu jenis kemampuan pada intelejensi. Selanjutnya Winkel (1996) menjelaskan bahwa “kemampuan verbal adalah pengetahuan seseorang yang dapat diungkapkan dalam bentuk lisan atau tertulis dan diperoleh dari sumber yang menggunakan bahasa lisan atau tertulis juga”. Tes penalaran verbal merupakan tes yang mengungkapkan kemampuan untuk memahami konsep dalam kata-kata verbal. “Tes penalaran

(4)

135

verbal merupakan aspek dari tes IQ yang diberikan kepada peserta didik”. (Sukardi, 1997). Dengan demikian kemampuan verbal dapat mempengaruhi prestasi peserta didik.

Untuk mempelajari materi Kalor dengan menggunakan demonstrasi diskusi dan eksperimen selain kemampuan verbal juga perlu diperhatikan gaya belajar peserta didik. Gaya belajar adalah karakter seseorang dalam menerima informasi kemudian mengatur dan mengolah informasi tersebut. Gaya belajar seseorang dibedakan atas gaya belajar visual, gaya belajar auditorial, dan gaya belajar kinestetik. Gaya belajar visual adalah gaya belajar seseorang dengan cara melihat, menggambar grafik, melihat slide, film, demonstrasi, dan lain sebagainya. Gaya belajar auditorial adalah gaya belajar seseorang dengan cara mendengar orang lain berbicara dan mendengarkan rekaman suara. Gaya belajar kinestetik adalah gaya belajar seseorang melalui sentuhan dan gerakan tangan.

Untuk mengetahui bahwa proses pembelajaran dapat berlangsung dan sejauh mana peserta didik berhasil menguasai kompetensi pembelajaran maka diperlukan alat ukur keberhasilan peserta didik dalam pembelajaran yaitu tes prestasi belajar. Prestasi belajar merupakan hasil suatu usaha, kemampuan, dan sikap seseorang dalam menyelesaikan suatu hal dibidang pendidikan. Prestasi belajar meliputi prestasi belajar kognitif, afektif, dan psikomotor. Prestasi belajar peserta didik dipengaruhi oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang ada pada diri peserta didik, misalnya: IQ, kemampuan berpikir abstrak, kemampuan berpikir konkrit, kempuan verbal, motivasi, motivasi berprestasi, kreativitas, aktivitas, gaya belajar, sikap ilmiah, dan kemampuan awal. Faktor eksternal yaitu faktor dari luar, misalnya: kurikulum, kebijakan pemerintah, kualitas guru, dan fasilitas sekolah. Faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar tersebut masih kurang diperhatikan oleh guru dalam pembelajaran Fisika. Di dalam Fisika banyak dijumpai simbol atau lambang besaran, sehingga peserta didik dituntut untuk mampu mengartikan simbol atau lambang besaran tersebut. Tanpa mengetahui arti simbol atau lambang besaran dalam Fisika, peserta didik akan kurang memahami konsep Fisika, maka dibutuhkan kemampuan verbal.

Berdasarkan uraian di atas maka peneliti menerapkan pembelajaran Fisika berbasis

masalah dengan menggunakan metode demonstrasi diskusi dan eksperimen ditinjau dari kemampuan verbal dan gaya belajar pada materi Kalor. Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) pengaruh penggunaan model pembelajaran Fisika berbasis masalah dengan menggunakan metode demonstrasi diskusi dan eksperimen terhadap prestasi belajar Fisika; 2) pengaruh kemampuan verbal tinggi dan rendah terhadap prestasi belajar Fisika; 3) pengaruh gaya belajar visual dan kinestetik terhadap prestasi belajar Fisika; 4) interaksi antara model pembelajaran Fisika berbasis masalah dengan menggunakan metode demonstrasi diskusi dan eksperimen dengan kemampuan verbal terhadap prestasi belajar Fisika; 5) interaksi antara model pembelajaran Fisika berbasis masalah dengan menggunakan metode demonstrasi diskusi dan eksperimen dengan gaya belajar terhadap prestasi belajar Fisika; 6) interaksi antara kemampuan verbal dan gaya belajar terhadap prestasi belajar Fisika; 7) interaksi antara model pembelajaran Fisika berbasis masalah dengan menggunakan metode demonstrasi diskusi dan eksperimen dengan kemampuan verbal dan gaya belajar terhadap prestasi belajar Fisika

Metode Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan di SMA Negeri 1 Ponorogo. Adapun waktu penelitian dalam penelitian ini mulai dari penyusunan proposal hingga pembuatan laporan penelitian dimulai dari bulan Juli tahun 2011 sampai dengan bulan Juni tahun 2012. Penelitian ini termasuk penelitian eksperimen. Kelompok I menggunakan metode demonstrasi diskusi dan kelompok II menggunakan metode eksperimen.

Rancangan penelitian dalam penelitian ini disusun sesuai dengan variabel-variabel yang terlibat. Variabel-variabel terlibat dalam penelitian ini merupakan cerminan dari data-data yang akan diperoleh setelah perlakuan terhadap sampel penelitian dilakukan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan uji ANAVA tiga jalan 2x2x2. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik cluster random sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini ada 4 kelas, yaitu kelas X4 dan X5 sebagai kelompok demonstrasi diskusi dan kelas X3 dan X7 sebagai kelompok eksperimen.

(5)

136

Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan: 1) metode tes; 2) metode angket dan 3) metode observasi.

Instrumen pelaksanaan penelitian dalam penelitian ini berupa silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) metode demonstrasi diskusi dan eksperimen. Instrumen pengambilan data digunakan tes, angket dan lembar observasi, tes digunakan untuk mengukur prestasi belajar dan mengukur kemampuan verbal. Angket digunakan untuk mengukur prestasi afektif dan gaya belajar dan lembar observasi untuk prestasi ketrampilan proses.

Uji normalitas data yang digunakan adalah uji Kolmogorov-Smirnov dan uji homogenitas digunakan adalah Levene’s Test. Kemudian Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan ANAVA tiga jalan 2x2x2 dengan bantuan software SPSS 18.

Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Uji ANAVA

Hasil uji ANAVA dengan langkah General Linear Model (GLM) baik prestasi kognitif, afektif dan ketrampilan proses disajikan pada Tabel 1

Tabel 1 Rangkuman ANAVA

Variabel: Prestasi kognitif

No Yang di Uji p-value Hipotesis Hasil Uji

1 metode 0.001 H0A ditolak ada pengaruh 2 Kemampuan verbal 0.000 H0B ditolak ada pengaruh 3 Gaya elajar 0.000 H0c ditolak ada pengaruh 4 Metode- kemampuan verbal 0.086 H0AB diterima Tidak Ada Interaksi 5 metode -gaya belajar 0.044 H0AC ditolak Ada Interaksi 6 Kemampuan verbal-gaya elajar 0.023 H0BC ditolak Ada Interaksi 7 Metode- kemampuan verbal –gaya elajar 0.401 H0ABC diterima Tidak Ada Interaksi

Berdasarkan Tabel 1 nilai ANAVA pada prestasi kognitif menunjukkan bahwa pada metode demonstrasi diskusi dan eksperimen, kemampuan verbal tinggi dan rendah, gaya belajar visual dan kinestetik, interaksi metode dengan gaya belajar dan interaksi kemampuan verbal dan gaya belajar P-value<0,05, sedangkan lainnya P-value 0,05.

Tabel 2. Rangkuman ANAVA

Variabel: Prestasi afektif

No Yang diUji p-value Hipotesis Hasil Uji

1 metode 0.005 H0A ditolak ada pengaruh 2 Kemampuan verbal 0.000 H0B ditolak ada pengaruh 3 Gaya belajar 0.000 H0c ditolak ada pengaruh 4 metode – kemampuan verbal 0.144 H0AB diterima Tidak Ada Interaksi 5 metode –gaya belajar 0.023 H0AC ditolak Ada Interaksi 6 Kemampuan verbal –gaya belajar 0.020 H0BC ditolak Ada Interaksi 7 metode -kemampuan verval- gaya belajar 0.269 H0ABC diterima Tidak Ada Interaksi

Berdasarkan Tabel 2 nilai ANAVA pada prestasi afektif menunjukkan bahwa pada metode demonstrasi diskusi dan eksperimen, kemampuan verbal tinggi dan rendah, gaya belajar visual dan kinestetik, interaksi metode dengan gaya belajar dan interaksi kemampuan verbal dan gaya belajar P-value<0,05, sedangkan lainnya P-value 0,05.

Tabel 3. Rangkuman ANAVA

Variabel: Prestasi Ketrampilan Proses

No Yang diUji p-value Hipotesis Hasil Uji

1 metode 0.001 H0A ditolak ada pengaruh 2 Kemampuan verbal 0.000 H0B ditolak ada pengaruh 3 Gaya belajar 0.000 H0c ditolak ada pengaruh 4 metode – kemampuan verval 0.058 H0AB diterima Tidak Ada Interaksi 5 metode –gaya belajar 0.047 H0AC ditolak Ada Interaksi 6 Kemampuan verbal - gaya belajar 0.032 H0BC ditolak Ada Interaksi 7 metode – kemampuan verbal – gaya belajar 0.321 H0ABC diterima Tidak Ada Interaksi

Berdasarkan Tabel 3 nilai ANAVA pada prestasi ketrampilan proses menunjukkan bahwa pada metode demonstrasi diskusi dan eksperimen, kemampuan verbal tinggi dan rendah, gaya belajar visual dan kinestetik, interaksi metode dengan gaya belajar dan interaksi kemampuan verbal dan gaya belajar P-value<0,05, sedangkan lainnya P-value 0,05. 2. Uji Pasca ANAVA

(6)

137

Dari hasil analisis variansi tiga jalan dengan sel tak sama dengan prosedur General Linear Model (GLM), maka yang perlu diuji lanjut adalah jika hasil analisis menunjukan bahwa P-value < 0,05 artinya tidak ada pengaruh, P-value < 0,05 artinya ada interaksi. Uji lanjut dilakukan untuk mengetahui pengaruh perlakuan/tinjauan yang lebih kuat.

Adapun yang perlu diuji lanjut adalah : 1) i

nteraksi antara metode dan gaya belajar

peserta didik terhadap prestasi belajar

kognitif, afektif, dan ketrampilan proses; 2)

interaksi antara kemampuan verbal dan gaya

gelajar peserta didik terhadap prestasi belajar

kognitif, afektif, dan ketrampilan proses.

B. Pembahasan

1. Hipotesis Pertama

Dari hasil uji ANAVA didapatkan P-value < 0,05 untuk ketiga aspek prestasi belajar, berarti ada pengaruh pembelajaran Fisika melalui metode demonstrasi diskusi dan eksperimen terhadap prestasi belajar pada materi Kalor peserta didik kelas X SMAN 1 Ponorogo Tahun Pelajaran 2011/2012.

Dari hasil analisis tersebut dapat dikatakan bahwa ada perbedaan pengaruh penggunaan metode demonstrasi diskusi dan eksperimen terhadap prestasi kognitif, afektif, dan ketrampilan proses belajar Fisika pada materi Kalor peserta didik kelas X SMAN 1 Ponorogo Tahun Pelajaran 2011/2012. Hasil analisis tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nurdeli (2010) dengan kesimpulan ada pengaruh antara pendekatan inkuiri terbimbing menggunakan eksperimen dan demonstrasi, kreatifitas dan motivasi berprestasi terhadap prestasi belajar Fisika siswa kelas XI IPA, juga penelitian Sumarni (2009) dengan kesimpulan bahwa metode penemuan lebih baik daripada metode diskusi.

Menurut Ausubel dalam Ratna Wilis Dahar (2003) belajar dikatakan bermakna jika informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik. Piaget menyatakan bahwa proses belajar sebenarnya terdiri dari tiga tahapan, yakni asimilasi, akomodasi, dan equilibrasi. Bruner menekankan pembelajaran melalui penemuan langsung, pengetahuan yang diperoleh melalui proses kognitif, dan bersifat tahan lama. Menurut Nuryani (2005) metode eksperimen mempunyai kelebihan siswa akan menjadi lebih yakin atas suatu hal, memperkaya

pengalaman, hasil belajar akan bertahan lebih lama dalam ingatan siswa, dan dapat mengembangkan sikap ilmiah.

Metode eksperimen merupakan metode penyelidikan atau penemuan yang melibatkan proses mental dengan kegiatan-kegiatan seperti yang dikutip dalam Mulyasa (2005) sebagai berikut: mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang fenomena alam, merumuskan masalah yang ditemukan, merumuskan hipotesis, merancang dan melakukan eksperimen, mengumpulkan data dan menganalisis data, menarik kesimpulan, mengembangkan sikap ilmiah, yakni: obyektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuka, berkemauan, dan tanggung jawab. Metode eksperimen merupakan metode pembelajaran yang membuat peserta didik lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaan sendiri daripada hanya menerima kata guru atau buku, hal ini dikemukakan oleh Sagala (2007). Dua metode pembelajaran yang berbeda tentunya mempunyai pengaruh yang berbeda pula terhadap prestasi belajar, dengan demikian metode eksperimen adalah metode pembelajaran yang berpengaruh terhadap prestasi belajar.

Dari uraian diatas, pembelajaran Fisika berbasis masalah dengan menggunakan metode eksperimen selain peserta didik beraktivitas secara langsung dengan alat dan bahan nyata, peserta didik mendapatkan hasil penemuan secara nyata atau konkret, peserta didik juga akan memperoleh tantangan yang lebih tinggi karena peserta didik dapat melaksanakan kegiatan eksperimen sesuai dengan desain percobaan yang telah dipelajari dari LKS. Dengan demikian menemukan konsep melalui pengalaman langsung dan nyata dapat meningkatkan nilai kebermaknaan dalam belajar, sehingga prestasi belajar peserta didik yang diperoleh melalui kegiatan eksperimen lebih tinggi dibandingkan prestasi belajar peserta didik dengan menggunakan metode demonstrasi diskusi.

2. Hipotesis Kedua

Berdasarkan hasil uji ANAVA didapatkan P-value < 0,05 untuk ketiga aspek prestasi belajar peserta didik, artinya ada pengaruh antara kemampuan verbal tinggi dan rendah terhadap prestasi kognitif, afektif, dan ketrampilan proses pada materi Kalor peserta didik kelas X SMAN 1 Ponorogo Tahun Pelajaran 2011/2012. Data descriptive statistic menunjukkan bahwa peserta didik dengan

(7)

138

kemampuan verbal tinggi memperoleh prestasi kognitif, afektif, dan ketrampilan proses yang lebih tinggi dari pada kemampuan verbal rendah rendah.

Sukardi (1997) mengatakan bahwa “kemampuan verbal merupakan suatu yang penting dalam semua aktivitas akademik maupun non akademik di sekolah menengah karena tes kemampuan verbal dapat dijadikan prediktor yang terbaik secara keseluruhan terutama dalam mata pelajaran”. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan verbal dapat mempengaruhi prestasi belajar peserta didik, kemampuan verbal melibatkan belajar memecahkan masalah dan memerlukan banyak latihan dengan berbagai macam tipe masalah serta membutuhkan pemikiran yang kritis, realitas yang bersifat spontan atau improfisasi. Semakin banyak masalah yang dipelajari peserta didik untuk dipecahkan maka semakin banyak peserta didik tersebut berpikir sehingga prestasi belajarnya semakin meningkat.

3. Hipotesis Ketiga

Berdasarkan hasil uji ANAVA didapatkan P-value < 0,05 untuk semua aspek prestasi belajar, artinya ada pengaruh antara gaya belajar visual dan kinestetik terhadap prestasi belajar baik kognitif, afektif maupun ketrampilan proses pada materi Kalor peserta didik kelas X SMAN 1 Ponorogo Tahun Pelajaran 2011/2012.

Menurut Nasution (2009), gaya belajar adalah cara yang konsisten yang dilakukan peserta didik dalam menangkap stimulus atau informasi, cara mengingat, berpikir dan memecahkan soal, juga dikatakan bahwa gaya belajar siswa yang berbeda mempunyai pengaruh yang berbeda pula terhadap prestasi belajar. Ini berarti menunjukkan bahwa salah satu faktor perbedaan prestasi belajar adalah gaya belajar, karena masing-masing gaya belajar mempunyai ciri-ciri dan cara belajar yang berbeda. Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar peserta didik. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, maka peserta didik dapat berkembang dan prestasinya akan meningkat lebih baik. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sumarni (2009).

Dari diskripsi data terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok peserta didik berdasarkan gaya belajarnya. Secara keseluruhan menunjukkan bahwa nilai rerata prestasi belajar peserta didik dengan gaya belajar visual lebih tinggi dari pada gaya belajar kinestetik pada

kedua metode. Hal ini disebabkan karena dengan gaya belajar visual ternyata peserta didik lebih teliti, cermat dalam pengamatan dan penyelesaian percobaan dibanding gaya belajar kinestetik yang terlalu konsentrasi dengan percobaannya akhirnya membuat peserta didik kurang maksimal dalam memahami konsepnya sehingga mengakibatkan prestasi belajarnya kurang maksimal juga.

4. Hipotesis Keempat

Berdasarkan hasil uji ANAVA didapatkan P-value 0,05 untuk ketiga aspek prestasi belajar. Hal itu menunjukkan bahwa tidak ada interaksi antara penggunaan metode dengan kemampuan verbal terhadap prestasi belajar kognitif, afektif dan ketrampilan proses pada materi Kalor peserta didik kelas X SMAN 1 Ponorogo Tahun Pelajaran 2011/2012.

Pembelajaran Fisika berbasis masalah dengam menggunakan metode demonstrasi diskusi dan eksperimen ternyata sama-sama efektif untuk meningkatkan prestasi belajar peserta didik baik peserta didik yang memiliki kemampuan verbal tinggi maupun rendah. Meskipun peserta didik dengan kemampuan verbal tinggi memperoleh prestasi yang lebih tinggi, tetapi peserta didik dengan kemampuan verbal rendah juga terangkat prestasinya ketika mereka mengikuti pembelajaran dengan metode eksperimen. Sehingga dapat dikatakan bahwa interaksi antara pembelajaran Fisika berbasis masalah dengan menggunakan metode demonstrasi diskusi dan eksperimen dengan kemampuan verbal tinggi dan rendah mempunyai pengaruh yang sama terhadap prestasi belajar Fisika materi Kalor pada peserta didik kelas X SMAN 1 Ponorogo tahun pelajaran 2011/2012. 5. Hipotesis Kelima

Berdasarkan hasil uji ANAVA didapatkan P-value < 0,05 untuk ketiga aspek prestasi belajar Fisika, hal ini menunjukkan bahwa terdapat interaksi antara penggunaan metode dengan gaya belajar terhadap prestasi belajar baik kognitif, afektif, dan ketrampilan proses pada materi Kalor peserta didik kelas X SMAN 1 Ponorogo Tahun Pelajaran 2011/2012.

Dari hasil uji lanjut diperoleh rata-rata prestasi kognitif, afektif, dan ketrampilan proses peserta didik yang menggunakan metode demonstrasi diskusi dengan gaya belajar visual sebesar 74,35, 79,15, 79,26 dan rata-rata untuk gaya belajar kinestetik sebesar 71,29, 77,06, 76,20. Sedangkan rata-rata prestasi kognitif,

(8)

139

afektif dan ketrampilan proses untuk peserta didik yang menggunakan metode eksperimen dengan gaya belajar visual sebesar 81,83, 86,11, 86,49 dan rata-rata untuk gaya belajar kinestetik sebesar 73,25, 77,79, 78,01. Dari data statistik ini menunjukkan bahwa rata-rata prestasi peserta didik dengan gaya belajar visual baik menggunakan metode demonstrasi diskusi maupun metode eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan gaya belajar kinestetik baik untuk metode demonstrasi diskusi maupun eksperimen. Dengan demikian terdapat interaksi antara metode demonstrasi diskusi dan eksperimen dengan gaya belajar visual dan kinestetik terhadap prestasi belajar Fisika, baik pada aspek kognitif, afektif, dan ketrampilan proses pada materi Kalor peserta didik kelas X SMAN 1 Ponorogo tahun pelajaran 2011/2012. 6. Hipotesis Keenam

Berdasarkan hasil uji anava didapatkan P-value < 0,05 untuk ketiga aspek prestasi belajar, hal tersebut menunjukkan bahwa ada interaksi antara kemampuan verbal dengan gaya belajar terhadap prestasi belajar kognitif, afektif, dan ketrampilan proses pada materi Kalor peserta didik kelas X SMAN 1 Ponorogo Tahun Pelajaran 2011/2012.

Dari hasil uji lanjut diperoleh rata-rata prestasi belajar kognitif, afektif dan ketrampilan proses untuk peserta didik yang memiliki kemampuan verbal rendah dan gaya belajar visual masing-masing adalah 72,12, 77,31, dan 77,03. Rata-rata prestasi belajar peserta didik yang yang memiliki kemampuan verbal tinggi dan gaya belajar visual masing-masing adalah 84,07, 87,95, dan 88,72. Sedangkan rata-rata prestasi belajar peserta didik yang memiliki kemampuan verbal rendah dan gaya belajar kinestetik masing-masing adalah 69,42, 75,28, dan 74,19, dan prestasi belajar peserta didik yang memiliki kemampuan verbal tinggi dan gaya belajar kinestetik masing-masing adalah 75,12, 79,57, dan 80,03.

Dari hasil rata-rata tersebut di atas menunjukkan bahwa peserta didik dengan kemampuan verbal rendah dan gaya belajar visual akan memperoleh nilai prestasi belajar yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan gaya belajar kinestetik. Untuk kemampuan verbal tinggi dengan gaya belajar visual akan memperoleh nilai prestasi belajar lebih tinggi jika dibandingkan dengan gaya belajar kinestetik. Namun prestasi belajar peserta didik lebih rendah jika para peserta didik memiliki kemampuan

verbal rendah dengan gaya belajar visual maupun kinestetik jika dibandingkan peserta didik yang memiliki kemampuan verbal tinggi dengan gaya belajar visual dan kinestetik. Peserta didik yang memiliki kemampuan verbal tinggi namun gaya belajarnya visual ternyata menghasilkan prestasi belajar jauh lebih tinggi dibandingkan peserta didik yang memiliki kemampuan verbal tinggi tetapi gaya belajarnya kinestetik. Sementara peserta didik dengan kemampuan verbal rendah dan gaya belajarnya visual hanya sedikit lebih tinggi prestasi belajar yang diperolehnya dibandingkan dengan peserta didik yang mempunyai kemampuan verbal rendah dan gaya belajarnya kinestetik. Dari data di atas tampak bahwa kategori kemampuan verbal rendah cenderung kurang bisa membedakan prestasi belajar yang diperolehnya meskipun mereka memiliki gaya belajar yang berbeda.

7. Hipotesis Ketujuh

Berdasarkan hasil analisis didapatkan untuk P-value 0,05 untuk ketiga aspek prestasi belajar, maka tidak ada interaksi antara penggunaan metode, kemampuan verbal, dan gaya belajar terhadap prestasi belajar pada materi Kalor peserta didik kelas X SMAN 1 Ponorogo Tahun Pelajaran 2011/2012.

Tidak adanya interaksi antara metode, kemampuan verbal, dan gaya belajar dapat dijelaskan dari hasil analisis menunjukkan bahwa metode eksperimen dengan gaya belajar visual dan kinestetik lebih baik dari metode demonstrasi diskusi dengan gaya belajar visual maupun kinestetik, peserta didik dengan kemampuan verbal tinggi lebih baik dari pada peserta didik dengan kemampuan verbal rendah, peserta didik dengan gaya belajar visual lebih baik dari peserta didik dengan gaya belajar kinestetik.

Dalam penelitian ini secara umum dapat diambil dua hal penting sebagai berikut: 1) penggunaan metode eksperimen tepat dijadikan sebagai pilihan utama jika dalam pembelajaran memperhatikan kemampuan verbal dan gaya belajar peserta didik. Peserta didik dengan gaya belajar yang berbeda akan memberi respon yang berbeda pula. Demikian juga, peserta didik dengan kemampuan verbal yang berbeda; 2) interaksi antara kemampuan verbal dan gaya belajar memberi sumbangan besar terhadap pemahaman peserta didik tentang pelajaran Fisika khususnya materi Kalor. Peserta didik dengan kemampuan verbal tinggi dan gaya belajar visual maupun kinestetik, tidak ada

(9)

140

masalah saat belajar dengan metode demonstrasi diskusi maupun eksperimen, meskipun metode eksperimen tetap menjadi pilihan utamanya. Sedangkan peserta didik dengan kemampuan verbal rendah, akan sangat terbantu dengan penggunaan metode eksperimen.

Kesimpulan dan Rekomendasi

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa: 1) ada pengaruh penggunaan model pembelajaran Fisika berbasis masalah

dengan menggunakan

metode demonstrasi diskusi dan eksperimen

terhadap prestasi belajar Fisika; 2) ada

pengaruh antara kemampuan verbal tinggi

dan rendah terhadap prestasi belajar Fisika;

3) ada pengaruh antara gaya belajar visual

dan kinestetik terhadap prestasi belajar

Fisika; 4) tidak ada interaksi antara

penggunaan model pembelajaran Fisika

berbasis masalah dengan menggunakan

metode demonstrasi diskusi dan eksperimen

dengan kemampuan verbal terhadap prestasi

belajar Fisika; 5) ada interaksi antara

penggunaan model pembelajaran Fisika

berbasis masalah dengan menggunakan

metode demonstrasi diskusi dan eksperimen

dengan gaya belajar terhadap prestasi belajar

Fisika; 6) ada interaksi antara kemampuan

verbal dan gaya belajar terhadap prestasi

belajar Fisika; 7) tidak ada interaksi antara

penggunaan model pemebelajaran Fisika

berbasis masalah dengan menggunakan

metode demonstrasi diskusi dan eksperimen

dengan kemampuan verbal dan gaya belajar

terhadap prestasi belajar Fisika.

B. Rekomendasi

Kepada guru khususnya guru mata

pelajaran Fisika disarankan Agar dalam

pelaksanaan kegiatan eksperimen dapat

optimal, sebaiknya pembagian tugas tiap

anggota kelompok merata dan semua

anggota merasa sebagai pelaksana kegiatan

tidak berperan sebagai pengawas, dalam

merancang

proses

pembelajaran

perlu

memperhatikan kemampuan verbal dan gaya

belajar, dengan harapan peserta didik yang

kemampuan verbalnya tinggi dengan gaya

belajar

visual

dapat

belajar

optimal,

sedangkan yang kemampuan verbalnya

rendah dengan gaya belajar kinestetik dapat

meningkatkan prestasi belajarnya.

Untuk peneliti hendaknya model dan

metode belajar yang digunakan dalam

penelitian digunakan terlebih dahulu agar

bisa diketahui kelemahan dan mengetahui

kesiapan dalam menyampaikan materi;

penelitian hendaknya dilakukan lebih dari 3

kali agar pengaruh penggunaan metode

pembelajaran lebih maksimal

Daftar Pustaka

Depdiknas. (2005). KTSP 2006. Jakarta: Depdiknas. Hamalik. (2001). Proses Belajar Mengajar. Jakarta:

P.T Bumi Aksara.

Mulyasa. (2005). Menjadi Guru Profesional:

Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan

Menyenangkan. Bandung: Rosdakarya.

Nasution, (2009). Berbagai Pendekatan dalam Proses

Belajar dan Mengajar. Jakarta: Bumi

Aksara.

Nurdeli. (2010). Pembelajaran Fisika Dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing Menggunakan Metode Eksperimen dan Demonstrasi Ditinjau

Dari Kreativitas dan Motivasi Berprestasi.

Tesis S2 Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Nuryani. (2005). Strategi Belajar Mengajar Biologi.

Malang: UM Press.

Ratna Wilis Dahar. (2003). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Sagala. (2007). Konsep Dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.

Sukardi. (1997). Analisis Tes Psikologi dalam

Penyelenggaraan Bimbingan Belajar di

Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta

Sumarni. (2009). Pembelajaran Fisika Berbasis Masalah Melalui Metode Penemuan Dan Diskusi Dengan Memperhatikan Motivasi

Berprestasi Dan Gaya Belajar Siswa. Tesis S2

Pendidikan Sains Universitas Sebelas Maret. Surakarta.

Sumiati dan Asra. (2008). Metode Pembelajaran. Bandung: CV Wacana Prima.

(10)

141

Suranto. (2010). Kefektifan Pembelajaran Model Problem Based Learning Terhadap Hasil Belajar Matematika pada Kompetensi Dasar Persamaan dan Fungsi Kuadrat ditinjau dari

Motivasi Belajar Siswa. Tesis. Program Studi

Teknologi Pendidikan. Universitas sebelas Maret. Surakarta

Trianto. (2009). Mendesain Model Pembelajaran

Inovativ-Progresif. Jakarta: Kencana Prenada

Media Group.

Winkel. (1996). Psikologi Pendidikan dan Evaluasi

Referensi

Dokumen terkait

Classical literature contains the concept of innovation in the context of the reform, among others, is the article &#34;Innovation in Bureaucratic Institutions&#34; the

Allen dan Meyer membedakan komitmen organisasi atas tiga komponen, yaitu afektif,normatife dan continuance. Komponen Afektif berkaitan dengan emosional, identifikasi

kinds of English textbooks used by students in schools.. However, the reality not all the English textbooks

SIUJPTL Merupakan badan usaha yang berbadan hukum Indonesia yang disahkan oleh Keputusan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia yang disahkan oleh Keputusan Menteri

Demikian Berita Acara Pembukaan (download) Penawaran File I ini dibuat dengan sebenarnya untuk dapat diketahui dan dipergunakan sebagaimana mestinya. Desfa

Kita melihat misalnya bahwa dalam struktur internal umat; mula- mula ada yang disebut sentimen kolektif, yaitu yang didasarkan pada iman. Dari sistem nilai tauhid yang

Uzimajući u obzir sve aktivne korisnike, odnosno one koji internetu pristupaju i putem pametnih telefona i podatkovnih kartica, gustoća usluge širokopojasnog pristupa

Indikator kinerja yang ingin dicapai dalam penelitian tindakan kelas ini adalah meningkatnya hasil belajar PKn materi Peraturan Perundang-undangan pada peserta didik kelas V