RUMUSAN RAPAT KERJA BADAN LITBANG PERTANIAN BOGOR, JANUARI 2008 PENDAHULUAN

Teks penuh

(1)

RUMUSAN RAPAT KERJA BADAN LITBANG PERTANIAN BOGOR, 14 – 15 JANUARI 2008

PENDAHULUAN

1. Rapat kerja Badan Litbang Pertanian dengan TEMA “ Penyempurnaan Perencanaan Sumber Daya untuk Peningkatan Kualitas Penelitian dan Pengembangan Pertanian” telah dilaksanakan pada tanggal 14 – 15 Januari 2008 di Auditorium II Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu, dan dihadiri oleh 300 peserta yang terdiri atas Kepala Badan Litbang Pertanian, Kepala Pusat, Kepala Puslitbang, Kepala Balai Besar, Direktur, Kepala Biro, Kepala Balai, Kepala Bidang, Kepala Bagian, Koordinator Program, dan Kasubag Tata Usaha.

2. Tujuan rapat kerja ialah membahas dan merumuskan lima topik, yaitu pelaksanaan program dan anggaran 2007 dan rencana program dan anggaran 2008; PUAP dan PRIMATANI; sekolah lapang pengelolaan tanaman terpadu; panduan penyusunan dan perencanaan program Badan Litbang Pertanian; dan rencana induk pengembangan SDM Badan Litbang Pertanian.

3. Kepala Badan Litbang Pertanian menyampaikan beberapa butir arahan sebagai berikut: (a) perlu ditingkatkan sinergi UK dan UPT lingkup Badan Litbang Pertanian dengan UK dan UPT eselon I lain; (b) perlu ditingkatkan sinergi diantara UK dan UPT dalam lingkup Badan Litbang Pertanian; (c) UK dan UPT perlu lebih proaktif dalam mentransferkan teknologi kepada pengguna; (d) UK dan UPT perlu lebih siap dalam mengantisipasi pengurangan dana; (e) BPTP perlu mempersiapkan diri sebagai tempat pelatihan dan forum komunikasi petani dan penyuluh, serta sebagai simpul koordinasi pelaporan program dan pembangunan Deptan pada tingkat propinsi; (f) tingkatkan ketrampilan dan keahlian SDM melalui pelatihan; (g) jadikan tahun 2008 sebagai tahun prestasi dengan menghasilkan karya untuk masyarakat, bekerja lebih bersih, dan lebih peduli dan berpihak kepada masyarakat kecil; (g) kurangi kegiatan yang bersifat seremonial; (h) hasil yang dicapai sampaikan kepada masyarakat melalui media; (i) tingkatkan kegiatan pemantauan dan evaluasi: (j) tingkatkan kesejahteraan pegawai; (k) berdayakan sumber daya di Badan Litbang Pertanian; (l) diharapkan raker ini dapat menghasilkan keluaran: rencana induk pengembangan SDM; panduan evaluasi proposal penelitian dan perekayasaan; dan panduan SLPTT; (m) jadikan hasil raker ini sebagai acuan kerja Badan Litbang Pertanian khususnya dan diharapkan juga akan menjadi acuan Deptan pada umumnya.

(2)

PELAKSANAAN PROGRAM DAN ANGGARAN 2007

4. Panduan Monev Badan Litbang Pertanian perlu disempurnakan terutama mencakup substansi antara lain : (a) Evaluasi proses penciptaan teknologi; meliputi (i) In house research, (ii) Penelitian kerjasama (konsorsium penelitian, KKP3T), (iii) Penelitian yang akan dipatenkan untuk komersialisasi (alih teknologi); (b) Evaluasi terhadap hasil teknologi penelitian/pengkajian, (c) Evaluasi sumberdaya, (d) Monitoring pelaksaaan anggaran, (e) Manajemen evaluasi dan pemantauan, meliputi Waktu pelaksanaan, Jenjang pelaksanaan, Penunjukan Tim Monev (internal dan eksternal), dicantumkan reward dan punishment, (f) Pembentukan Tim Penyempurnaan Panduan Monev Badan Litbang Pertanian, dan (g) Perlu melakukan studi banding Monev yang dilakukan dari instansi lain, misal LIPI, BPPT dll.

5. Sehubungan dengan adanya penilaian terhadap tindak lanjut hasil pemeriksaan baik intern maupun ekstern yang dapat mempengaruhi kinerja manajemen Badan Litbang Pertanian secara keseluruhan, maka untuk masing-masing Kepala Unit Kerja/Unit Pelaksana Teknis agar penyelesaian LHP perlu mendapatkan perhatian khusus.

6. Mekanisme self evaluation perlu dikembangkan untuk mengatasi keterbatasan waktu dalam melaksanakan Monev.

7. Selama tahun 2007 telah terjadi eskalasi kegiatan di Badan Litbang Pertanian yang terdiri atas (a) pelatihan jangka panjang dan dan jangka pendek; (b) kerjasama kemitraan penelitian pertanian dengan perguruan tinggi (KKP3T); (c) persiapan PUAP pada 10.000 desa; (d) persiapan LRPI menjadi BLU; (e) sertifikasi pengadaan barang dan jasa; (f) penyusunan neraca SAI, SAP dan SABMN; (g) persiapan SMARTD; (h) evaluasi PRIMATANI 2007 dan persiapan pelaksanaannya tahun 2008; (i) persiapan dan pelaksanaan FEATI; (j) kegiatan mendukung P2BN; dan (k) kegiatan sosialisasi peraturan baru dalam pengelolaan keuangan.

8. Hasil-hasil yang dicapai secara signifikan pada tahun anggaran 2007 yang terdiri atas hasil-hasil penelitian, hasil-hasil kajian, hasil-hasil perekayasaan, hasil-hasil diseminasi dan beberapa umpan balik yang diperoleh, perlu segera disampaikan kepada pemangku kepentingan melalui media yang efektif dan efisien.

9. Manajemen sumber daya di Badan Litbang Pertanian dinilai perlu perbaikan, karena berdasarkan pemantauan dan evaluasi Deptan, selama tiga triwulan berturut-turut Badan Litbang Pertanian masuk pada kategori cukup rawan.

(3)

RENCANA PROGRAM DAN ANGGARAN 2008

10. Perlu adanya perbaikan Program KKP3T, antara lain berkaitan dengan: a. Hasil dari kerjasama KKP3T merupakan milik Badan Litbang Pertanian b. Agar program KKP3T juga dilakukan di tingkat UPT dalam upaya

meningkatkan staf peneliti yunior untuk studi ke PT, termasuk Perguruan Tinggi daerah dengan mempertimbangkan status akreditasi perguruan tinggi ataupun kesesuaian jurusan.

c. Agar lebih cermat pada evaluasi proposal (khususnya duplikasi, aplikabilitas yang tinggi, mengurangi yang bersifat basic research, dan diupayakan untuk yang betul-betul mendukung kebutuhan masyarakat). d. Pada indikator proposal agar dimasukkan persyaratan adanya surat ijin

belajar dari staf Badan Litbang Pertanian yang terkait.

e. Agar dilakukan evaluasi secara holistik program KKP3T yang telah berjalan.

11. Usulan perbaikan Program Badan Litbang Pertanian, antara lain mencakup: a. Meningkatkan kerjasama dengan swasta dalam upaya memanfaatkan

hasil teknologi. Dalam upaya alih teknologi varietas, varietas yang dihasilkan oleh Badan Litbang perlu didaftarkan hak PVTnya. Diusulkan pula mempertimbangkan penjualan varietas kepada pihak swasta.

b. Agar diadakan kembali program pengkajian di BPTP untuk tahun 2009 -2012, seperti program litkaji.

c. Saran kalau diadakan pemotongan anggaran, agar khusus hanya pada belanja modal.

d. Apabila terjadi pemotongan, agar dibuat petunjuk dari Badan Litbang Pertanian untuk disampaikan kepada seluruh UK/UPT

e. Penyusunan anggaran agar betul-betul matang, termasuk kegiatan yang di-earmark

f. Tahun anggaran 2009 agar diupayakan untuk meningkatkan belanja barang.

g. PAGU manajemen untuk tingkat UK perlu ditingkatkan jangan ditentukan sebesar 10 % terlalu kecil untuk UK dan UPT.

h. Scientific Exchange (SE) khusus untuk UK agar ditingkatkan, termasuk evaluasi hasilnya. Program SE diperlukan pula untuk non-peneliti. Untuk itu diminta segera mengusulkan .

i. Agar dibuat Panduan Program Prioritas dari Badan Litbang Pertanian. j. Perlunya memberikan pemahaman kepada Biro Perencanaan Deptan

bahwa Program Anggaran Berbasis Kinerja Badan Litbang Pertanian berbeda dengan unit sektoral lain di lingkup Deptan, sehingga pemotongan seharusnya tidak dipukul rata.

(4)

l. Agar pada masing-masing UK diberikan plafon khusus untuk menghadiri Forum Pertemuan Internasional.

12. Sesuai dengan Visi dan Misi Badan Litbang Pertanian, sebagai lembaga penelitian yang terdepan di tingkat Asia Tenggara, maka hasil penelitian, publikasi harus bisa dipakai di tingkat internasional, SDMnya mampu berbahasa Inggris, perlunya dilakukan studi banding untuk mempelajari langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Negara lain di tingkat Asia Tenggara.

Perlu adanya alokasi anggaran di BPTP untuk mengikuti pertemuan di luar negeri.

13. Paradigma Badan Litbang Pertanian adalah Research for Development memiliki arti bahwa hasil penelitian harus langsung dapat diaplikasikan kepada kebutuhan masyarakat dan bersifat aktual.

14. Anggaran tahun 2008 Badan Litbang Pertanian meningkat karena adanya peningkatan jumlah PNS dan kenaikan gaji. Namun, Menteri Keuangan memberikan arahan bahwa paling lambat tanggal 30 januari 2008 sebesar 15% dari total anggaran perlu dibintangi.

15. Untuk pelaksanaan program dan anggaran 2008, perbaikan manajemen perlu terus dilakukan, yang meliputi manajemen SDM, manajemen keuangan, manajemen fasilitas, dan koordinasi, sehingga penyimpangan, kerugian negara, dan inefektivitas dan inefisiensi dapat diminimalkan.

PUAP DAN PRIMATANI

16. Pelaksanaan Prima Tani pada tahun 2008 ini sudah memasuki tahun ke empat, bila dihitung dari sejak inisiasi dan uji coba implementasi di 14 propinsi pada tahun 2005. Pelaksanaan Prima Tani tahun ini memiliki kekhususan tersendiri, terutama terkait dengan mulai dilaksanakannya program Pengembangan Usaha Agribisnis Pedesaan (PUAP) yang dilaksanakan dalam kerangka Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM). Agar keberadaan Prima Tani dapat bersinergi dengan PUAP dan program sejenis lainnya, maka perlu dirumuskan secara tepat posisi Prima Tani dan upaya-upaya yang perlu dilakukan dalam memperkuat dukungan terhadap Prima Tani. Posisi Prima Tani harus diperankan sebagai show window dan tempat pembelajaran bagi PUAP. Titik kritisnya terkait dengan bagaimana menjadikan Prima Tani sebagai percontohan yang mudah dipelajari dan direplikasi, dan perlu perhatian terhadap promosi dan pencitraan terhadap Prima Tani.

(5)

17. Beranjak dari pengalaman dan pengamatan selama ini, berbagai upaya yang telah dilaksanakan Badan Litbang Pertanian dalam percepatan pembangunan pertanian dan pedesaan, umumnya sangat baik dalam tataran konsep, namun lemah dalam implementasi apalagi keberlanjutannya. Bertitik tolak dari kenyataan ini dan agar pengalaman yang sama tidak terulang di Prima Tani, perlu diidentifikasi dengan baik faktor-faktor yang menjamin keberlanjutan pendekatan ini. Selain itu diperlukan upaya-upaya khusus agar pendekatan ini dapat terus dikembangkan, dengan penyesuaian yang diperlukan sejalan dengan berbagai perkembangan pada lingkungan strategis.

18. Secara umum pelaksanaan Prima Tani telah menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hal itu terlihat dari berbagai respon positif yang diberikan para stakeholders Prima Tani, baik itu diwujudkan dalam bentuk dukungan anggaran ataupun program. Namun dibalik berbagai keberhasilan tersebut, ditengarai adanya beberapa persoalan pokok, yang bila tidak ditangani dengan baik akan menghambat keberlanjutan pendekatan ini ke depan. Persoalan tersebut lebih banyak terkait dengan internal Badan Litbang Pertanian sendiri, antara lain terkait dengan masalah pendampingan yang merupakan salah satu kunci yang menentukan keberlanjutan pendekatan ini. Selain itu juga menyangkut organisasi dan koordinasi pelaksanaan di lapangan, serta upaya antisipasi terkait dengan berbagai ketidakpastian dalam hal pendanaan dan dukungan lainnya.

19. Berkaitan dengan masalah pendampingan, baik itu dalam hubungannya dengan penyeliaan atau pemandu teknologi, ada beberapa kesenjangan yang menyebabkan beragamnya perhatian dan keseriusan mereka dalam proses pendampingan Prima Tani. Salah satu kunci dari permasalahan ini terkait dengan persoalan keseimbangan reward dengan korbanan yang diberikan oleh berbagai pihak tersebut. Untuk itu titik tolak yang dijadikan acuan utama dalam pelaksanaan Prima Tani adalah terbangunnya sistem inovasi pedesaaan, yang memungkinkan inovasi yang dihasilkan Badan Litbang Pertanian dapat disampaikan kepada pengguna dengan cepat dan terbangunnya pola penyampaian umpan balik secara sistematis. Dengan titik tolak ini, maka peran pendampingan banyak terkait dengan teknologi yang dihasilkan mereka, dan Prima Tani menjadi media untuk melihat efektivitas teknologi yang dihasilkan serta upaya membangun sistem untuk proses umpan balik teknologi.

20. Bila hal di atas disepakati, maka peran penyeliaan ke depan tidak hanya dibatasi dalam kerangka Prima Tani, namun lebih pada upaya membangun sinergi yang saling melengkapi antara BPTP dengan Balit/BB/Puslit/LRPI, terutama terkait dalam upaya membangun sistem inovasi pedesaan. Selain itu Penyelia juga diharapkan sebagai patner BBP2TP dalam melakukan pembinaan manajerial secara menyeluruh terhadap BPTP yang ada. Hal lain yang perlu

(6)

mendapat perhatian adalah bahwa pendampingan yang dilakukan, diarahkan pada upaya penumbuhan kemandirian BPTP sebagai lembaga litbang di daerah.

21. Terkait dengan pemandu teknologi, keberadaan mereka akan tetap dipertahankan, namun tentu dengan perbaikan pada pola dan format kerjanya di BPTP. Keberadaan pemandu teknologi lebih dilihat sebagai perpanjangan tangan Balit/BB/Puslit/LRPI, dan mereka melakukan pendampingan dalam kerangka membangun sistem inovasi pedesaan dan terkait langsung dengan bidang keahlian yang mereka miliki. Sehingga keberadaan pemandu teknologi di BPTP akan disesuaikan dengan kebutuhan BPTP dan akan bekerja dalam satu team kerja yang solid dan on call basis.

22. Dalam pelaksanaan PUAP, BBP2TP bersama penyelia, pemandu dan Tim Teknis, harus sudah dapat merumuskan pola ideal dalam pemanfaatan seed capital yang disediakan PUAP, sehingga BPTP dapat menjadi contoh bagi desa PUAP lainnya dalam pemanfaatan seed capital, dalam menunjang pengembangan agribisnis di pedesaan.

23. Pelaksanaan PRIMATANI 2008 dihadapkan kepada tantangan untuk memperbaiki sinergisme berbagai unsur penentu keberhasilan PRIMATANI. Perbaikan yang perlu dilakukan meliputi organisasi, koordinasi, dan komunikasi. PRIMATANI sebagai “subset” PUAP juga ditantang kesiapannya untuk diterapkan di 10.000 lokasi.

24. Berdasarkan SK Mentan penyelia terkait dengan jabatan Sesuai dengan tupoksinya, persyaratan penyelia adalah memahami dan mampu melaksanakan kepenyeliaan Prima Tani.

25. Perlu dikembangkan suatu pertemuan reguler/forum antar penyelia dalam membahas masalah yang dihadapi dalam penyeliaan, untuk mengurangi ragam kepenyeliaan.

SEKOLAH LAPANG PENGELOLAAN TANAMAN TERPADU

26. Agar teknologi padi yang dihasilkan segera sampai di lahan petani, pendekatan sekolah lapang (SL) dengan sistem belajar praktek langsung di lahan petani. Telah disiapkan Panduan Pelaksanaan SLPTT sebagai acuan dalam pelaksanaan SLPTT. Dari sesi diskusi dengan peserta diketahui perlu klarifikasi beberapa hal dan tambahan arahan oleh Kepala Badan Litbangtan perlu ditindak lanjuti dengan perbaikan hal-hal sebagai berikut:

(7)

Dalam panduan, uraian PTT dan replikasi telah lebih jelas namun masih perlu sosialisasi secara terus menerus termasuk internal Badan Litbangtan utamanya bagi pemandu P2BN.

b. Panduan Pelaksanaan SLPTT

i. Perlu ditambahkan bagian justifikasi dalam pendahuluan dan juga penutup.

ii. Integrasi SL-Iklim dan SLPHT kedalam SLPTT perlu diperjelas dan dimasukkan bagian dalam Bab. Koordinasi SLPTT dalam P2BN.

iii. Perlu uraian yang lebih jelas agar tidak terjadi salah pengertian tentang jumlah perserta dalam 1 unit SLPTT yang luasnya 25 ha, tidak mungkin terdiri dari 20-30 orang karena pemilikan lahan petani rata-rata 0,25 Ha.

iv. Dalam proses belajar aktif, istilah pemandu yang digunakan dalam SLPHT dan digunakan juga dalam SLPTT, perlu diubah dengan fasilitator.

v. Persyaratan petani peserta yang diantaranya harus melek hurup dan masih muda, akan sulit untuk dipenuhi dari petani dalam satu hamparan, disetujui perlu untuk mengadakan penyesuaian-penyesuaian sesuai kondisi petani di hamparan.

vi. Evaluasi tingkat adopsi komponen teknologi sulit dilakukan oleh petani peserta. Perlu penjelasan bahwa evaluasi dengan penanda ketuntasan adopsi dilakukan oleh pemandu.

vii. Demplot PTT ditempatkan sebagai LL pada SLPTT yang luas pemilikan lahannya sempit. Dalam laboratorium lapangan (LL) diharapkan BPTP berperan aktif mendampingi PL2.

viii. Pendamping/pemandu teknologi P2BN diharapkan beperan aktif membantu pemandu mereplikasi PTT di LL. Pemandu berada di Posko tingkat provinsi dengan tanggung jawab membina beberapa SLPTT.

ix. Bantuan pupuk yang diberikan pada LL kebanyakan dalam bentuk pupuk cair. Perlu diingatkan bahwa pupuk organik cair tidak akan memperbaiki kondisi tanah.

x. Agar panduan pelaksanaan berlaku umum, jadwal waktu pelaksanaan pelatihan tahun 2008 tidak perlu dicantumkan.

xi. Panduan perlu dilengkapi dengan buku pegangan untuk menerapkan komponen teknologi PTT.

(8)

c. Pengembangan SLPTT

i. Panduan pelaksanaan SLPTT agar dibuat umum untuk dapat digunakan pada areal yang menjadi target pelaksanaan SLPTT 2008 oleh Ditjentan.

ii. Lokasi SLPTT diutamakan pada pola tanam yang ada palawijanya untuk memudahkan teknis di lapang dalam menjebatani keberadaan LL padi dan LL jagung.

d. Rencana Tindak Lanjut

i. Penerbitan publikasi pendukung penerapan komponen teknologi dan pelaksanaan PRA.

ii. Pelatihan pelatih inti di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

iii. Delineasi (pembagian tugas) pendampingan P2BN fokus pada LL

di masing-masing provinsi oleh para Kepala BPTP.

27. Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Padi (SLPTT) diperlukan dalam upaya mencapai target peningkatan produksi padi 5% per tahun. Draft panduan SLPTT perlu diperbaiki agar isinya lebih tegas, jelas, dan mudah dipahami. Panduan SLPTT juga perlu dilengkapi dengan informasi komponen teknologinya.

28. Perlu ada pemikiran untuk mengembangkan cakupan komoditas SLPTT. PANDUAN PENYUSUNAN DAN PERENCANAAN PROGRAM

BADAN LITBANG PERTANIAN

29. Draft Panduan Penyusunan dan Perencanaan Program Badan Litbang Pertanian yang disampaikan pada rapat kerja ruang lingkupnya terlalu luas. Kelompok Kerja panduan ini ditugaskan untuk memfokuskan pada penyusunan Panduan Penilaian Proposal Penelitian dan Perekayasaan. Untuk itu ditugaskan agar Kelompok Kerja Panduan ini mempelajari panduan yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan dan Kementerian Negara Riset dan Teknologi.

30. Evaluasi dilakukan secara berjenjang pada tingkat matrik, RPTP maupun ROPP.:

a. Matrik dievaluasi oleh evaluator Eksternal (Pengambil kebijakan dan takeholders) dilaksanakan di Badan Litbang

b. RPTP dievaluasi oleh evaluator Eksternal (PT dan stakeholders) dilaksanakan di Tingkat UPT

c. ROPP dievaluasi oleh Evaluator Internal dilaksanakan di Tingkat UPT 31. Kriteria evaluasi sesuai dengan kebutuhan stakeholders dan TUPOKSI litbang

(9)

32. Unit cost perlu ditetapkan oleh masing2 UK secara rasional, karena sangat bervariasi tergantung: komoditas, disiplin ilmu, jenis kegitan dan wilayah kegiatan.

33. Tindak lanjut yang perlu dilaksanakan:

a. Program top down kondusif dgn program bottom up b. Perlu ada konsistensi kegiatan litkaji (ketersediaan dana)

c. Badan litbang perlu menjelaskan ke tingkat Departemen tentang :

i. Mekanisme perencanaan litbang yang telah melibatkan stakeholders dengan proses seleksi yang cukup ketat.

ii. Biaya penelitian setiap RPTP bervariasi lintas komoditas dan setiap RPTP tdd beberapa kegiatan yang saling terkait dan berkesinambungan.

34. Penyempurnaan Panduan Penyusunan dan Perencanaan Program Badan Litbang Pertanian mencakup antara lain:

a. Evaluasi pada program perencanaan usulan penelitian/pengkajian/ perekayasaan merupakan quality control dari kegiatan tersebut.

b. Perlu dideliniasi berkaitan dengan sistem reward dan punishment

c. Perlu adanya mekanisme pengamanan atas ide-ide peneliti Badan Litbang Pertanian selama proses evaluasi dengan evaluator eksternal, baik itu dalam bentuk perjanjian dengan evaluator atau bentuk prosedur lainnya.

d. Pembinaan dan evaluasi dalam hal kerja kelompok perlu mendapat porsi dengan mempertimbangkan substansi dari objek penelitian.

e. Evaluasi proposal selayaknya tidak hanya menyangkut masalah teknis, tetapi juga kelayakan anggaran.

f. Perlu adanya panduan secara tertulis mengenai persyaratan diterima tidaknya sebuah usulan penelitian.

g. Kewenangan UPT untuk melakukan seleksi dengan melibatkan kelembagaan internal yang ada di UPT tersebut merupakan bagian mekanisme internal dalam menyiapkan program/rencana penelitian. h. Dalam hal penyesuaian perubahan anggaran diusulkan untuk

mempertimbangkan status penelitian dan prioritas program.

RENCANA INDUK PENGEMBANGAN SDM BADAN LITBANG PERTANIAN 35. Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan salah satu komponen yang penting

dan strategis dalam suatu organisasi. Karena SDM sangat menentukan kompetensi dan reputasi suatu organisasi, sehingga perlu direncanakan pengembangan SDM yang sesuai dengan kebutuhan organisasi.

36. Untuk mencapai suatu kondisi SDM ideal bagi terlaksananya kegiatan penelitian dan pengembangan pertanian, diperlukan suatu sistem perencanaan dan pengembangan SDM yang komprehensif dengan memadukan antara ketersediaan SDM saat ini dengan kebutuhan SDM untuk menunjang organisasi Badan Litbang Pertanian dalam mengemban visi, misi dan tujuan

(10)

organisasi yang telah ditetapkan serta mengantisipasi dinamika perubahan lingkungan strategis.

37. Beberapa permasalahan utama yang dihadapi Badan Litbang Pertanian berkaitan dengan SDM , antara lain:

a. Belum tersedianya suatu sistem/model perencanaan dan pengembangan SDM

b. Ketimpangan komposisi antara tenaga fungsional dan tenaga administrasi, dimana perbandingan antara tenaga fungsional dengan tenaga administrasi adalah 32,29% dan 67,1%, sedangkan jumlah peneliti hanya 20% dari total SDM Badan Litbang Pertanian.

c. Dalam 5-10 tahun yang kan datang, jumlah tenaga peneliti yang akan memasuki usia pensiun cukup tinggi terutama untuk peneliti yang memiliki bidang keahlian yang sanagat penting dalam mendukung kegiatan penelitian dan pengembangan pertanian.

d. Kelangkaan bidang keahlian tertentu dan sebarannya yang tidak merata untuk UPT Badan Litbang Pertanian

38. Penyusunan critical mass (CM) di tingkat Unit Kerja telah menghasilkan rumusan kebutuhan dan pengembangan SDM di tingkat Unit Kerja. Namun rumusan kebutuhan dan pengembangan di tingkat Badan Litbang Pertanian belum dapat dilakukan karena menunggu rumusan kebutuhan dan pengembangan di tingkat UPT.

39. Untuk menyamakan persepsi UK dan UPT dalam penyusunan perencanaan kebutuhan dan pengembangan SDM-nya, perlu acuan yang akan dijadikan pedoman dalam perencanaan dan pengembangan SDM pada masing-masing UK/UPT. Konsep juklak pengembangan telah disosialisasikan/dikomunikasi ke UK/UPT dalam rangka untuk menyaring masukan-masukan dalam penyempurnaan konsep juklak tersebut.

40. Perlu melakukan pengelompokan (cluster) menurut kelompok UK/UPT dan asumsi dalam penghitungan CM perlu disempurnakan dan disesuaikan dengan cluster yang telah disepakati;

41. Cluster yang diusulkan sesuai dengan Renstra 2005-2009 (hal.42) adalah sebagai berikut:

a. Kluster I terdiri atas Sekretariat Badan Litbang Pertanian dan PUSTAKA b. Kluster II terdiri atas Puslitbang Komoditas dan PSEKP

c. Kluster III terdiri atas BBP2TP, BBSDLP

d. Kluster IV terdiri atas BB Padi, BB Litvet, BB Pascapanen, BB Mektan, BB Biogen,

e. Kluster V terdiri atas Balit komoditas dan Balingtra

f. Kluster VI terdiri atas BPTP yang dikelompokan kembali menjadi empat sub-kluster atas dasar Renstra BBP2TP

g. Kluster VII terdiri atas Loka penelitian h. Kluster VIII terdiri atas LRPI

42. Perlu dilakukan segera penyempurnaan Juklak oleh “Tim Kecil” yang lebih operasional yang akan menjadi acuan bagi UK/UPT.

(11)

43. Model CM dalam perjalanannya dapat mengalami penyesuaian sesuai perubahan lingkungan strategisnya (misalnya perubahan renstra masing-masing UK/UPT)

44. Dalam penyusunan CM supaya dapat melibatkan semua pihak terkait di UK/UPT: Pimpinan UK/UPT, Koordinator program, Peneliti dll

45. Jangka waktu penyelesaian :

a. UPT akan melakukan penyusunan CM ditingkat UPT masing-masing dan dikumpulkan paling lambat 1 sampai 2 minggu

b. UK/UPT mengusulkan agar perlu dilakukan workshop pada bulan Pebruari 2008 dalam rangka penyusunan draft akhir CM dan pengembangan SDM

46. Rencana Induk Pengembangan SDM Badan Litbang Pertanian diperlukan dalam rangka menjaga eksistensi Badan Litbang Pertanian untuk tetap menghasilkan karya-karyanya yang diperlukan oleh pengguna.

47. Draft rencana induk yang disajikan pada rapat kerja perlu diperbaiki sistematikanya dan perlu dilengkapi dengan data seluruh UPT lingkup Badan Litbang Pertanian. UPT-UPT yang belum membuat rencana pengembangan SDM, ditugaskan untuk segera membuat rencana tersebut dengan dipandu oleh kelompok kerja penyusun rencana induk pengembangan SDM Badan Litbang Pertanian.

48. Subcluster BPTP didasarkan kepada Renstra BBP2TP terdiri dari empat sub-cluster.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :