SENGKETA PENGGUNAAN LAHAN TRANSMIGRASI SWAKARSA MANDIRI
UNTUK KEGIATAN PERTABANGAN BATUBARA PT. JEMBAYAN MUARA
BARA (Studi di Desa Bhuana Jaya Kecamatan Tenggarong Seberang
Kabupaten Kutai Kartanegara)
George Leonard Lalamentik
Hukum Agraria
0710015033
ABSTRAK
Dalam pertambangan batu bara yang dilakukan PT. Jembayan Muara Bara di Desa
Bhuana Jaya telah terjadi sengketa penggunaan lahan dimana lahan tersebut adalah milik
warga Transmigrasi Swakarsa Mandiri yang di berikan oleh pemerintah melalui program
Transmigrasi dengan di keluarkannya SK Nomor 801.RP.01.11.98 Tentang Penetapan
Status Transmigrasi Swakarsa Mandiri di Desa-Desa Kabupaten Kutai Provinsi Kalimantan
Timur dan di perkuat dengan adanya SK dari Kepala Kantor Wilayah Badan Pertanahan
Nasional
Provinsi
Kalimantan
Timur
dengan
Nomor
:
24/HM-KUT.08/BPN-/SPK-TSM.96-9701997 tentang pemberian Hak Milik Kepada 105
persil yang terletak di Desa Bhuana Jaya Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten
Kutai Kartanegara.
Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana cara menyelesikan sengketa
penggunaan lahan Transmigrasi yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan
yang berlaku di Indonesia dan untuk mengetahui penyebab terjadinya sengketa den
upaya penyelesaian sengketa oleh PT. Jembayan Muara Bara yang terjadi di Desa Bhuana
Jaya.
Metode analisis data yang digunakan dalam penulisan ini adalah Deskriptif-Kualitatif
yang di Kualitatifkan artinya menganalisis dan memberikan gambaran apa yang di peroleh
penulis dari lapangan yang diambil dari metode pengumpulan data, kemudian data-data
yang di peroleh di lapangan tadi dianalisis dan diberikan gambaran sesuai dengan data
hasil kajian pustaka serta data-data dari lapangan tadi baik itu dari hasil observasi, dan
wawancara.
Berdasarkan penelitian, peneliti menyarankan sengketa pertanahan seharusnya di
mediasi oleh Badan Pertanahan Nasional karena lebih mempunyai wewenang dalam
penyelesaian sengketa lahan.
Kata Kunci : Warga Transmigrasi Swakarsa Mandiri, PT. Jembayan Muara Bara,
Badan Pertanahan Nasional.
PENDAHULUAN
Dengan fakta yang terjadi di Kalimantan timur khususnya di Desa Bhuana
Jaya Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi
Kalimantan Timur. Posisi ini sangat strategis karena terletak di antara ibukota
Kabupaten Kutai Kartanegara (Tenggarong) dengan ibu kota Provinsi Kalimantan
Timur (Samarinda). Tenggarong seberang merupakan penghasil batu bara di Kutai
Kartanegara dengan berdirinya perusahaan tambang batu bara di Tenggarong
Seberang menimbulkan berbagai macam konflik agraria terutama dalam hal
pembebasan lahan yang di gunakan untuk kegiatan pertambangan. Dalam SK
penempatan TSM dari NAKERTRANS Nomor 801.RP.01.98,Tanggal 6 maret 1998,
Tentang penetapan status transmigrasi swakarsa mandiri (TSM) pada desa-desa di
kabupaten Kutai Kartanegara dan surat Nomor 475/823/SETDIS/DTKT/2012 Tentang
pengesahan nama-nama TSM di Desa Bhuana Jaya Kecamatan Tenggarong Seberang
Kabupaten Kutai Kartanegara, Di Desa Buana Jaya terjadi konflik tanah yang dimana
tanah warga Transmigrasi Swakarsa Mandiri (TSM) telah diselewengkan oleh pihak
lain atas tanah yang mereka miliki sebanyak kurang lebih 38 Hektar yang terdiri dari
19 KK, lahan tersebut merupakan lahan transmigrasi, akan tetapi tanah tersebut
diklaim oleh PT. Jembayan Muara Bara, karena perusahaan tersebut juga memiliki
sertifikat yang sama dengan milik warga transmigrasi tetapi perbedaan yang terlihat
pada realita mengenai sertifikat tanah tersebut adalah letak desa yang berbeda,
karena kesalahan penulisan dari Badan Pertanahan Nasional Kabupaten Kutai
Kartanegara.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah yuridis
empiris. Penelitian hukum empiris (
empirical law research
) adalah penelitian
hukum positif tidak tertulis mengenai perilaku (
behavior
) anggota masyarakat
dalam hubungan hidup bermasyarakat.
Adapun pendekatan yuridis empiris menurut Bahdar Johan Nasution adalah
dengan cara :
a.
Mengidentifikasi masalah sosial secara tepat agar dapat menyusun
hukum formal yang tepat atau mengaturnya.
b.
Memahami kurangnya partisipasi masyarakat dalam melakukan kontrol
sosial secara spontan terhadap pelanggaran hukum formal tertentu.
c.
Memahami proses pelembagaan suatu hukum formal di dalam suatu
konteks kebudayaan tertentu.
d.
Memahami sebab-sebab banyaknya terjadi pelanggaran pada hukum
formal tert
e.
entu.
f.
Mengidentifikasi pola hubungan antara penegak hukum dan
pemegang kekuasaan di satu pihak serta masyarakat umum di lain
pihak, secara faktor-faktor sosial yang mempengaruhinya.
g.
Mengidentifikasi hukum formal yang masih dapat berlaku, apakah
diperlukan adanya penyesuaian atau perlu dihapus sama sekali dalam
suatu konteks masyarakat tertentu.
119Nasution, Bahdar Johan, Metode Penelitian Hukum, (Penerbit Mandar Maju, Bandung,2008), halaman 130-131
Pendekatan penelitian yang penulis gunakan dengan menyesuaikan pada
jenis penelitian yang ditentukan pada skripsi ini yaitu yuridis Empiris. Oleh karena
itu pendekatan yang digunakan adalah studi kasus hukum. Studi kasus hukum
langsung (
legal-live case study
) dengan karakteristik studi kasus tunggal
ataupun studi kasus ganda.
Sesuai dengan
jenis penelitian dan pendekatan penelitian yang digunakan,
maka lokasi penelitian oleh penulis tentukan di Desa Bhuana Jaya Kecamatan
Tenggarong Sebrang Kabupaten Kutai Kartanegara.
Data yang digunakan dalam penyusunan proposal bersumber dari data
primer, dan data sekunder menurut Abdulkadir Muhammad yaitu:
a.
Data Primer
Data primer yaitu data atau informasi yang diperoleh dari hasil wawancara
langsung dengan narasumber yang dilakukan di:
1.
Kepala Badan Pertanahan Nasional Kutai Kartanegara.
2.
Kepala Dinas Transmigrasi Kabupaten Kutai Kartanegara.
3.
Kepala Desa Bhuana Jaya.
4.
Dinas Pertambangan Kabupaten Kutai Kartanegara
5.
Ketua Kelompok Transmigrasi Bhuana Jaya
b.
Data Sekunder
1.
Peraturan pemerintah Nomor 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.
2.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 15 Tahun 1975 tentang
Ketentuan-Ketentuan Mengenai Tata Cara Pembebasan Tanah.
3.
Konsep-konsep hukum yang penulis peroleh dari literatur-literatur dan sumber
lainnya.
a.
Populasi
Populasi menurut Bambang Sunggono adalah keseluruhan atau
himpunan objek dengan ciri yang sama. Populasi dapat berupa himpunan orang,
benda, kejadian, kasus-kasus, waktu, atau tempat, denagan sifat atau ciri yang
sama. Populasi yang penulis maksud adalah daerah transmigrasi swakarsa
mandiri di desa Bhuana jaya kecamatan tenggarong seberang.
2b.
Sampel
Sampel menurut Soerjono Soekanto bahwa setiap orang atau unit dalam
populasi mendapatkan kesempatan yang sama untuk terpilih dalam sampel.
3Berdasarkan jumlah masyarakat yang ada, maka untuk menentukan sampel
dengan menggunakan
purposive sampling
.
Dalam
purposive sampling
, pemilihan sekelompok subjek atas ciri-ciri
atau sifat-sifat tertentu yang dipandang mempunyai sangkut paut yang erat
dengan ciri-ciri atau sifat-sifat polpulasi yang sudah diketahui sebelumnya.
4Dalam penelitian hukum terdapat beberapa yang dapat digunakan oleh
peneliti hukum. Menurut Abdulkadir Muhammad pendekatan-pendekatan yang
digunakan dalam penelitian hukum adalah:
2 Sunggono, Bambang, Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2006) hlm 118
3 Soekanto, Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar, (Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2006) hlm 28
4 Amiruddin, H. Zainal Asikin, Pengantar Metode Penelitian Hukum, Jakarta, PT. Raja Grafinda,