SIKAP TOKOH SUBALI TERHADAP ADAT ISTIADAT DI BALI DALAM NOVEL TIBA-TIBA MALAM KARYA PUTU WIJAYA SUATU TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA SKRIPSI Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra S-1 Program Studi Sastra Indonesia

75 

Teks penuh

(1)

SIKAP TOKOH SUBALI TERHADAP ADAT ISTIADAT DI BALI DALAM NOVEL TIBA-TIBA MALAM

KARYA PUTU WIJAYA

SUATU TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA

SKRIPSI

Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Sastra S-1

Program Studi Sastra Indonesia

Oleh Stefani Wini kii

034114037

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA

JURUSAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS SASTRA

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

2007

(2)

SKRIPSI

SIKAP TOKOH SUBALI TERHADAP ADAT ISTIADAT DI BALI DALAM NOVEL TIBA-TIBA MALAM

KARYA PUTU WIJAYA

SUATU TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA

Oleh Stefani Wini kii

034114037

Telah disetujui oleh

Pembimbing I

Drs. B. Rahmanto, M.Hum. Tanggal, 30 Agustus 2007

Pembimbing II

Drs. Yoseph Yapi Taum, M.Hum Tanggal, 30 Agustus 2007

(3)

SKRIPSI

SIKAP TOKOH SUBALI TERHADAP ADAT ISTIADAT DI BALI DALAM NOVEL TIBA-TIBA MALAM

KARYA PUTU WIJAYA

SUATU TINJAUAN SOSIOLOGI SASTRA

Yang dipersiapkan dan disusun oleh Stefani Wini Kii

O34114037

Telah dipertahankan di depan panitia penguji Pada tanggal, 21 September 2007 Dan dinyatakan telah memenuhi syarat.

Susunan Panitia Penguji

Nama Lengkap Tanda Tangan

Ketua : Drs. B. Rahmanto, M.Hum. ………..

Sekretaris : Drs. Hery Antono, M.Hum. ……….. Anggota : S.E. Peni Adji, S.S., M.Hum. ……….. Anggota : Drs. B. Rahmanto, M.Hum. ……….. Anggota : Drs. Y. Yapi Taum, M.Hum. ……….. Yogyakarta, 29 September 2007 Fakultas Sastra

Universitas Sanata Dharma Dekan

Dr. Fr. B. Alip., Mpd,M.A Nip. 13093577

(4)

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

“SERAHKANLAH PERBUATANMU KEPADA TUHAN MAKA TERLAKSANA SEGALA RENCANAMU”

( Amsal 16 : 3 )

cinta yang kau miliki bukan untuk diri sendiri tetapi

berikanlah cinta itu kepada semua orang maka cinta itu akan berarti

( Penulis )

Skripsi ini kupersembahkan untuk

 Tarekatku tercinta Maria Mediatrix (TMM) yang telah memberi kesempatan dan

kepercayaan kepadaku untuk belajar dan mengembangkan diri di USD, Program Studi Sastra Indonesia.

 Semua rekan komunitas studi Yogyakarta.  Orang tua, sahabat dan kenalan yang memberi

dukungan dan perhatian.

 Almamater yang tercinta sebagai tempat belajar.

(5)

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 29 September 2007 Penulis

Stefani Wini Kii

(6)

ABSTRAK

Kii, Stefani Wini, 2007 Sikap Tokoh Subali terhadap Adat Istiadat di Bali dalam Novel, Tiba-Tiba Malam

Karya Putu Wijaya Suatu Tinjauan Sosiologi Sastra

Penelitian ini menganalisis sikap ketidaktaatan tokoh Subali terhadap adat istiadat di Bali dalam novel Tiba-tiba Malam karya Putu Wijaya. Pendekatan yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan struktural dan pendekatan sosiologi yang bertitik tolak dari asumsi bahwa karya sastra merupakan cerminan kehidupan masyarakat.

Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Dengan mempergunakan metode tersebut, peneliti membagi menjadi dua tahapan. Pertama, menganalisis struktur novel Tiba-tiba Malam untuk mengetahui unsur penceritaannya yang terdiri atas alur, tokoh dan penokohan, dan latar. Kedua analisis sosiologi sastra dengan mempergunakan hasil analisis pertama untuk memahami sikap ketidaktaatan tokoh Subali terhadap adat istiadat di Bali dalam novel tersebut serta gejala sosial yang ada dalam karya sastra.

Hasil analisis struktural menunjukkan bahwa tokoh Subali, Sunatha, Ngurah adalah tokoh utama. Hal ini berdasarkan intensitas kemunculan dan keterlibatannya dengan tokoh-tokoh lain dalam novel Tiba-tiba Malam. Toko Subali memilih tidak taat pada adat dikarenakan (1) usaha dagangnya bangkrut, (2) menjadi fitnahan orang, (3) mengalami tekanan dari orang lain. Subali berpendapat adatkah yang menyebabkan usahanya bangkrut. Tokoh Sunatha dan Ngurah adalah tokoh yang taat pada adat. Alur dalam novel ini adalah alur maju, sedangkan tempat terjadinya peristiwa adalah Tabanan Bali.

Dari hasil analisis sosiologi sastra mengenai sikap ketidaktaatan tokoh Subali terhadap adat istiadat dapat disimpulkan bahwa tokoh mengalami perubahan pola pikir terhadap adat. Hal inilah yang menyebabkan Subali memilih sikap (1) tidak taat pada adat, (2) acuh tak acuh, (3) malas, (4) tidak ikut kegiatan desa, (5) Subali memilih pergi dari desanya, (6) dan pandangan dari luar yang berpendapat bahwa hidup berkelompok dan gotong royong pangkal kemiskinan.

Dampak dari sikap itu Subali (1) dikeluarkan dari pergaulan desa diri dan keluarganya, (2) segala fasilitas umum yang ada di desa Subali tidak berhak menggunakan termasuk tanah kuburan.

Berdasarkan hasil analisis novel Tiba-tiba Malam yang mengenalisis sikap ketidaktaatan tokoh Subali terhadap adat istiadat di Bali, dapat disimpulkan novel Tiba-tiba Malam karya Putu Wijaya dapat dipergunakan sebagai karya sastra yang memberi nilai-nilai moral dalam hidup bermasyarakat.

(7)

ABSTRACT

Kii, Stefani Wini, 2007 The Attitude on

The Character of Subali toward The Tradition in Bali In The Novel of Tiba-Tiba Malam

Written by Putu Wijaya A Sociological Approach

This research analyzed the disobedience attitude on the character of Subali toward the tradition in Bali in the novel of Tiba-tiba Malam written by Putu Wijaya. The approach used in this research was structural and sociological of literature starting point from the assumption that the work of letters was the reflecting of people life.

The method used in this research was descriptive analysis. By using this method, the researcher divides it into two steps. The first, analyzing the structure of novel Tiba-tiba Malam to find out the substance of its story consisting of plot, character and play, and the setting. The second, sociological analysis using the result of first analysis to understand the diobedience attitude on the character of Subali toward the tradition in Bali in the novel and the social tendency existed in the work of letters.

The result of structure analysis indicated that the characters of Subali, Sunatha and Ngurah were the main ones. This was based on the intencity of their appearance and involvement with the others in the novel Tiba-tiba Malam. The character of Subali chose not to obey toward the tradition because of (1) his trading business was bangkrupt, (2) being slandered by people, (3) having an experience in pressure by other people. He had an opinion that culture made his business to be bangkrupt. The characters of Sunatha and Ngurah were those who obeyed to the tradition. The plot in this novel was the progress one, while the place the accident occurred was in Tabanan, Bali.

From literary sociological analysis concerning the disobedience attitude on the character of Subali toward the tradition, we could make the conclusion convincingly that the experienced the change of pattern in thought toward the tradition. This caused Subali choose the attitude (1) disobeying to the tradition, (2) not care, (3) being lazy, (4) not attending the activities of village, (5) Subali choose to go out from his village, (6) and the point of view from those in outside that live in the group and mutual cooperation was the beginning of poverty.

Based on the result of research, nove Tiba-tiba Malam which analyzed the disobedience attitude on the character of Subali toward the tradition in Bali, we could conclude that the novel Tiba-tiba Malam written by Putu Wijaya was able to be used as the work of letters which the moral values to live in society.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala karunia dan rahmatnya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa selesainya skripsi ini tidak lepas dari dukungan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dengan tulus hati dan penuh rasa syukur, penulis mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada.

1. Bapak Drs. B. Rahmanto, M.Hum. sebagai ketua Program Studi Sastra Indonesia sekaligus sebagai pembimbing I yang dengan setia penuh kesabaran dan ketulusan hati telah memberi bimbingan, petunjuk, saran, dan dorongan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

2. Bapak Drs. Yoseph Yapi Taum, M. Hum. sebagai pembimbing II yang telah membimbing penulis dengan penuh kesabaran dan memberikan masukan-masukan yang bermanfaat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 3. Para dosen Program Studi Sastra Indonesia universitas Sanata Dharma yang

banyak mendukung, membantu dan membekali penulis dalam menjalani tugas studi.

4. Sr. Petronella Renyaan, TMM sebagai pemimpin umum Tarekat Maria Mediatrix dan anggota dewan yang telah memberi kepercayaan dan kesempatan kepada pelis untuk mengembangkan diri melalui tugas studi.

5. Sr, Margarethis Kellen, TMM sebagai ekonom tarekat yang dengan ulet mengelola keuangan tarekat, sehingga dapat membiayai para suster studi dan atas perhatian, dukungan dan cinta yang boleh penulis terima selama menjalani studi.

6. Seluruh anggota tarekat yang telah mendukung penulis selama studi.

7. Sr. Maria Waworundeng, TMM selaku pemimpin komunitas dan para suster yang dengan doa dan cintanya mendukung penulis selama ini, secara khusus dalam penulisan skripsi ini.

8. Teman-teman Program Studi Sastra Indonesia Angkatan 2003 atas kerja sama, dukungan dan kasih persaudaraan selama ini.

(9)

9. Saudara Sugeng Haryanto beserta keluarganya, sahabat dan kenalan yang telah mendukung penulis selama studi

10.Fater Libertus Gea, CMM yang telah mendorong dan mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

11.Bapak (<), mama, kakak, dan adik yang memberi cinta dan perhatian serta dorongan selama menjalani tugas studi.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Penulis berharap, semoga skripsi ini bermanfat bagi pembaca dan pencengar khususnya bagi mereka peminat karya sastra.

Penulis

(10)

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL...i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING...ii

HALAMAN PENGESAH...iii

HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN...iv

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA...v

ABSTRAK...vi

ABSTRACT...vii

KATA PENGANTAR...viii

DAFTAR ISI...x

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah...1

1.2 Rumusan Masalah ...3

1.3 Tujuan Penelitian...4

1.4 Manfaat Penelitiaan...4

1.5 Landasan Teori ...4

1.5.1 Teori Stuktural...5

1.5.1.1 Alur ...5

1.5.1.2 Tokoh dan Penokohan...6

1.5.1.2.1 Tokoh...6

1.5.1.2.2 Penokohan ...7

1.5.1.3 Latar ...8

(11)

1.5.2 Teori Sosiologi ...9

1.5.2.1 Sikap...10

1.5.2.2 Adat Istiadat ...11

1.5.2.3 Adat Bali ...11

1.6 Metodologi Penelitian ...12

1.6.1 Pendekatan...12

1.6.2 Metode ...13

1.6.3 Teknik Penelitian ...13

1.6.4 Data dan Sumber Data ...14

1.7 Sistematika Penyajian ...14

BAB II ANALISIS STRUKTURAL PENCERITAAN NOVEL TIBA-TIBA MALAM 2.1 Analisis Alur ...16

2.1.1 Bagian Awal ...16

2.1.2 Bagian Tengah ...17

2.1.3 Bagian Akhir ...19

2.2 Tokoh dan Penokohan ...19

2.2.1 Tokoh ...19

2.2.2 Penokohan...20

2.2.2.1 Tokoh Sunatha...21

2.2.2.2 Tokoh Ngurah ...24

2.2.2.3 Tokoh Subali ...26

2.3 Latar ...28

(12)

2.3.1 Latar Waktu...29

2.3.2 Latar Sosial...33

2.3.2.1 Adat Kebiasaan ...33

2.3.2.2 Keadaan Masyarakat...35

2.3.3 Latar Tempat ...36

2.4 Rangkuman...36

BAB III ANALISIS SIKAP KETIDAKTAATAN SUBALI TERHADAP ADAT ISTIADAT BALI 3.1 Sikap Tokoh Subali terhadap Adat di Bali...37

3.2 Dampak dari Sikap Tokoh Subali ...46

BAB IV PENUTUP 4.1 Penutup...57

4.2 Saran...60

DAFTAR PUSTAKA...61

(13)

1

Bab I ini memuat latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, landasan teori yang mendukung penelitian ini. Metode penelitian yang meliputi pendekatan, metode, teknik penelitian, data dan sumber data, dan sistematika penyajian.

1.1Latar Belakang

Putu Wijaya adalah satu dari sedikit pengarang Indonesia yang sangat produktif. Bukan saja dari aspek jumlah, tetapi juga dari sisi ragam dan jenis karya yang ia hadirkan ke khalayak pembaca sastra Indonesia. Seluruh genre sastra ia gulati, bahkan termasuk menulis naskah untuk film layar lebar dan televisi boleh dikatakan Putu Wijaya adalah sosok fenomental dalam sastra Indonesia.

Novel Tiba-tiba Malam karya Putu Wijaya agak berbeda dari novel-novel sebelumnya seperti Telegram, Stasiun, Perang, Bila Malam Bertambah Malam, Pabrik yang melambungkan nama pengarang. Putu Wijaya selalu membawa corak baru dalam penulisan novel. Tiba-tiba Malam bisa dikatakan sebagai novel “konvensional”. Kekuatan novel ini terletak pada penyajian gaya tutur dan plot yang tergolong konvensional.

(14)

Subali yang menyedihkan karena usahanya bangkrut dan menjadi pembicaraan orang tentang keluarganya membuat Subali tidak taat pada adat

“Bapak tidak pergi? Itu kentongan kedua?”

Subali masih diam. “Bapak sudah sering tidak datang ke desa. Banyak orang ngomong di pancuran”. Subali acuh tak acuh saja. “Nanti bapak dibuang oleh krama desa!” Subali diam.

(Putu Wijaya, 2005: 61).

Dampak dari sikap ketidaktaatannya adalah Subali dan seluruh keluarganya dikucilkan dari desa dan tidak dianggap sebagai bagian dari krama desa dan tidak boleh menggunakan segala fasilitas umum yang ada.

“ Keluarkan saja dia dari krama desa pak.”

“ Kalau dia tidak mau lagi ikut kerepotan desa, dia juga tidak boleh mempergunakan jalan desa, pancuran desa, pura desa, dan kuburan desa,” (Putu Wijaya, 2005: 67).

Sebagai sebuah karya sastra, novel Tiba-tiba Malam memang bukanlah gambaran asli dari suatu peristiwa kehidupan. Sumardjo ( 1979 : 30 ) berpendapat bahwa sastra bukanlah reprensentasi dari realita sosial. Oleh karena itu, karya sastra tidak dapat dipisahkan dengan lingkungan penciptaannya sebab sebuah karya sastra memiliki relasi timbal-balik dengan masyarakat yang menghasilkan. Hal itu mengakibatkan karya sastra merupakan suatu gambaran kehidupan dari suatu kelompok masyarakat dari suatu masa tertentu.

Selama ini sastra dipandang sebagai suatu gejala sosial. Sastra ditulis pada kurun waktu tertentu yang langsung berkaitan dengan norma-norma dan adat istiadat zaman itu ( Luxemburg, 1989: 23).

(15)

memiliki hubungan timbal-balik dalam masyarakat yang menghasilkan. Hal ini pandangan karya sastra merupakan cerminan masyarakat.

Karya sastra merupakan hasil pengamatan terhadap kehidupan sekitarnya. Dalam penciptaan sebuah karya sastra dipengaruhi oleh latar belakang pengarang, lingkungan, serta kepribadian pengarang itu sendiri. Bahkan sebuah karya sastra mengandung gambaran kehidupan seseorang sewaktu mengalami krisis dalam jiwanya. Krisis itu muncul ketika seseorang mengalami suatu peristiwa dan peristiwa itu kemudian menimbulkan kesan yang kuat dalam jiwanya (Sumardjo, 1984:65).

Karya sastra senantiasa menampilkan kenyataan dan keadaan kultur suatu zaman, tapi lebih dari itu sifat-sifat sastra juga ditentukan oleh masyarakat. Di samping itu, setiap kondisi sosial-budaya pada suatu masa tertentu ternyata mampu mempengaruhi corak sastra (Sumardjo, 1979:15-16). Novel Tiba-tiba Malam penting untuk diteliti karena (1) Secara ilmiah belum ada yang meneliti novel tersebut karena baru diterbitkan oleh Buku Kompas. (2) Novel tersebut menggambarkan suatu kenyataan sosial-budaya masyarakat Bali yang menarik dikaji secara sosiologi. Hal ini terbukti dengan sulitnya mendapat referensi, artikel, atau esai yang membicarakan novel Tiba-tiba Malam maka peneliti tertarik untuk meneliti novel tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut.

(16)

1.2.2 Bagaimanakah gambaran sikap tokoh Subali dalam novel Tiba-tiba Malam karya Putu Wijaya?

1.3 Tujuan Penelitian

Bertitik tolak dari rumusan masalah tersebut tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.

1 3.1 Mendeskripsikan struktur novel Tiba-tiba Malam karya Putu Wijaya, yang meliputi alur, tokoh dan penokohan, dan latar.

1.3.2 Mendeskripsikan sikap ketidaktaatan tokoh Subali terhadap adat istiadat di Bali dalam novel Tiba-tiba Malam karya Putu Wijaya.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian terhadap permasalahan di atas dapat memberi manfaat sebagai berikut.

1.4.1 Secara praktis memberi manfaat untuk meningkatkan apresiasi sastra di tanah air khususnya hasil karya sastra berupa novel.

1.4.2 Menambah perbendaharaan pustaka khususnya bidang penelitian sastra yang meninjau secara sosiologi.

1.4.3 Menambah wawasan pengetahuan bagi peneliti juga pembaca.

1.5 Landasan Teori

(17)

unsur teks, sedangkan teori sosiologi dimaksudkan untuk mengetahui aspek-sapek kemasyarakatan karena sastra merupakan cermin masyarakat.

1.5.1 Teori Struktural

Teori strukturalisme sastra merupakan sebuah teori pendekatan terhadap teks-teks sastra yang menekankan keseluruhan relasi antara berbagai unsur teks-teks. Unsur-unsur itu hanya memperoleh artinya di dalam relasi, baik relasi asosiasi ataupun relasi oposisi (Hartoko, 1986:135-136).

Jika dicermati, sebuah karya sastra terdiri dari komponen-komponen seperti: tokoh, ide, tema, amanat, latar, watak dan perwatakan, insiden, plot dan gaya bahasa. Komponen-komponen tersebut memiliki perbedaan aksentuasi pada berbagi teks sastra. Strukturalisme sastra memberi keluasan kepada peneliti sastra untuk menetapkan komponen-komponen mana yang akan mendapat prioritas signifikasi. Keluasan ini harus dibatasi, yakni sejauh komponen itu tersurat dalam teks tersebut (Taum, 1997:39).

1.5.1.1 Alur

Alur atau pengaluran adalah pengaturan penampilan peristiwa sehingga dengan demikian peristiwa-peristiwa dapat juga tersusun dengan memperhatikan hubungan klausalnya (Sudjiman, 1988:36). Selanjutnya (Sudjiman, 1988:30), berpendapat struktur umum alur adalah awal, tengah, dan akhir. Bagian awal terdiri atas paparan, rangsangan, dan gawatan. Pada bagian tengah terdiri atas tikaian, rumitan, dan klimaks. Pada bagian akhir terdiri atas leraian dan selesaian.

(18)

sesudah itu sampai pada gawatan (Sudjiman, 1988:33). Tikaian merupakan pertentangan antara dirinya dengan kekuatan alam, dengan masyarakat, orang atau tokoh lain, ataupun pertentangan antara dua unsur di dalam diri satu tokoh itu (Sudjiman, 1988:35).

Klimaks cerita adalah saat-saat konflik menjadi sangat hebat dan jalan keluar harus ditemukan. Kadang klimaks utama tidaklah merupakan yang mengherankan dan kadang-kadang sukar diidentifikasi disebabkan bagian-bagian konflik dalam cerita mempunyai klimaks tersendiri (Sudjiman, 1988:63).

Bagian struktur alur sesudah klimaks meliputi leraian yang menunjukkan perkembangan peristiwa ke arah selesaian. Selesaian adalah bagian akhir atau penutup cerita. Selesaian dapat mengandung penyelesaian masalah yang melegakan (happy ending) tetapi dapat juga mengandung penyelesaian masalah yang menyedihkan

(Sudjiman, 1988:35-36).

1.5.1.2 Tokoh dan Penokohan 1.5.1.2.1 Tokoh

Tokoh adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan dalam berbagai peristiwa dalam cerita ( Sudjiman, 1988:16).

(19)

Menurut Nurgiyantoro ( 1998:176-177) berdasarkan segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh, dapat dibedakan menjadi tokoh utama dan tokoh tambahan. Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaanya. Tokoh utama merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Tokoh tambahan adalah tokoh yang pemunculannya dalam keseluruhan lebih sedikit, tidak dipentingkan, dan ia hadir apabila kaitannya dengan tokoh utama baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Selanjutnya (Nurgiyantoro, 1988:178-179) berpendapat, dilihat dari fungsi penampilan tokoh dapat dibedakan ke dalam tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang kita kagumi, tokoh yang merupakan pengejawatahan norma-norma, nilai-nilai, yang ideal bagi kita. Tokoh yang menampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan kita, harapan-harapan kita pembaca. Tokoh antagonis adalah tokoh penyebab terjadinya konflik. Tokoh antagonis barangkali dapat disebut, beroposisi dengan tokoh protagonis, secara langsung ataupun tidak langsung, bersifat fisik ataupun batin.

1.5.1.2.2 Penokohan

(20)

pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca ( Nurgiyantoro, 1998:166).

1.5.1.3 Latar

Latar adalah tempat dan masa terjadinya cerita. Sebuah cerita harus jelas di mana dan kapan berlangsung sebuah kejadian. Pengarang memilih latar tertentu untuk ceritanya dengan mempertimbangkan unsur watak tokoh-tokohnya dan persoalan atau tema yang akan digarapnya. Dengan penggambaran latar yang baik, pembaca diberi pengetahuan tentang kehidupan masyarakat tertentu (Sumardjo, 1984:59-60).

Menurut Sudjiman (1986: 46) peristiwa-peristiwa dalam cerita tentulah terjadi pada suatu waktu atau dalam suatu rentang waktu tertentu dan pada tempat tertentu. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa segala keterangan, petunjuk, pengacuan yang berkaitan dengan waktu, ruang, dan suasana terjadi peristiwa dalam karya sastra membangun latar cerita.

(21)

berpikir, sikap, dan lain-lain yang tergolong latar spiritual. Di samping itu, latar sosial juga berhubungan dengan status sosial tokoh yang bersangkutan, misalnya rendah, menengah, atau atas.

1.5.2 Teori Sosiologi Sastra

Sosiologi sastra merupakan cabang ilmu sastra yang mendekati sastra dari hubungannya dengan kenyataan sosial serta memperhatikan baik pengarang, proses penulisan maupun pembaca serta teks itu sendiri ( Hartoko, 1986:129).

Sosiologi sastra adalah pemahaman terhadap totalitas karya yang disertai dengan aspek-aspek kemasyarakatan yang terkandung di dalamnya sekaligus pemahaman terhadap karya dalam hubungan dengan masyarakaat yang melatarbelakanginya (Ratna, 2003:2). Menurut Taum (1997:47) sosiologi sastra didasarkan pada konsep “mimesis” yang menyinggung hubungan antara sastra dan masyarakat sebagai ‘cermin’.

(22)

Penelitian-penelitian sosiologi sastra menghasilkan pandangan bahwa karya sastra adalah ekspresi dan bagian dari masyarakat, dan dengan demikian memiliki keterkaitan resiprokal dengan jaringan-jaringan sistem dan nilai dalam masyarakat tersebut (Soemanto,1993; Levin, 1973:57; Taum,1997:47).

1.5.2.1 Sikap

Sikap adalah tindakan atau tingkah laku tertentu yang dipilih di antara sejumlah pilihan tindakan yang bisa dilakukan atau kecenderungan-kecenderungan individual yang dapat ditemukan dari cara-cara berbuat, yakni dari konsistensi dari berbagai keadaan yang berubah-ubah dalam berhadapan dengan faktor-faktor sosial ( Ensiklopedi Nasional Indonesia, 1991:31).

Sikap adalah suatu bentuk evaluasi atau reaksi perasaan. Sikap seseorang terhadap objek adalah perasaan mendukung atau memihak ataupun perasaan tidak mendukung objek tersebut ( Azwar, 1988:3). Lebih lanjut Azwar mengatakan bahwa sikap merupakan semacam kesiapan individu untuk bereaksi apabila dihadapkan pada suatu stimulasi yang hendak ada responnya.

Sikap bersifat dinamis dan terbuka terhadap kemungkinan perubahan dikarenakan interaksi seseorang dengan lingkungan di sekitarnya. Kemudian, sikap hanya akan ada artinya bila ditampakkan dalam bentuk pernyataan perilaku, baik perilaku lisan maupun perilaku perbuatan ( Azwar, 1988:4).

(23)

ada artinya bila ditampakkan dalam bentuk pernyataan perilaku, baik perilaku lisan maupun perilaku perbuatan.

1.5.2.2 Adat Istiadat

Adat istiadat adalah pola dan tingkah laku suatu kesatuan sosial mengenai pranata-pranata kebudayaan. Pola itu disebarkan melalui proses sosialisasi secara turun-temurun. Pelanggaran terhadap pola ini menimbulkan adanya sanksi sosial (Ensiklopedi Nasional Indonesia,1988:62).

1.5.2.3 Adat Bali

Suku bangsa Bali merupakan suatu kolektif manusia yang terikat oleh kesadaran dan identitas akan kesatuan kebudayaan-kebudayaan dan kesadaran serta identitas akan kesatuan kebudayaan itu tercermin dengan adanya suatu bahasa yang sama, yaitu bahasa bali ( Koentjaraningrat, 1985:241).

Sistem kemasyarakatan masyarakat Bali membentuk kesatuan hidup setempat yang terpenting adalah desa dan banjar. Satu kesatuan wilayah di mana para warganya secara bersama-sama atas tanggungan bersama mengkonsepsikan dan mengaktifkan upacara-upacara keagamaan untuk memelihara kesucian, inilah yang disebut desa adat. Rasa kesatuan sebagai warga desa adat terlihat oleh faktor-faktor pekarangan desa, aturan-aturan desa, dan pura-pura desa ( Depdikbud, 1982:29-30).

(24)

Dalam kehidupan berkomunitas pada masyarakat desa di Bali ada sistem gotong-royong. Gotong-royong dilakukan antara individu dengan individu atau antara keluarga dengan keluarga. Gotong-royong seperti bersawah, rumah tangga yang diadakan oleh keluarga tertentu. Di samping itu, ada juga gotong-royong yang bersifat kerja bakti untuk keperluan masyarakat atau pemerintah ( Koentjaraningrat, 1971:292-292).

Di dalam kehidupan keagamaannya, banyak menganut agama Hindu-Bali lebih percaya akan adanya satu Tuhan dalam bentuk konsep Trimurti Yang Esa ( Brahmana, Wisnu, Siwa). Selain itu, orang Bali percaya kepada pelbagai dewa dan roh yang mereka hormati dalam upacara bersaji ( Koentjaraningrat, 1971:294).

1.6 Metodologi Penelitian

Pada bagian metodologi penelitian yang akan dikemukakan pendekatan, metode, teknik penelitian, serta data dan sumber data.

1.6.1 Pendekatan

Pendekatan yang digunakan penulis untuk meneliti novel Tiba-tiba Malam karya Putu Wijaya ini adalah pendekatan struktural dan pendekatan sosiologi sastra. Menurut Goldmann dikutip (Teeuw, 1983:152) studi karya sastra harus dimulai dengan analisis struktur, langkah ini tidak boleh ditiadakan atau dilampaui. Pendekatan sosiologi karena karya sastra Putu Wijaya ini merupakan karya sastra yang mencerminkan kehidupan masyarakat.

(25)

masyarakat. Pendapat ini beranggapan bahwa sastra merupakan cermin langsung dari berbagai segi struktur sosial, hubungan keluarga, pertentangan kelas dan sebagainya. 1.6.2 Metode

Metode (Yunani:Methodos) adalah cara atau jalan. Sehubungan dengan upaya ilmiah maka metode menyangkut masalah cara kerja, yaitu cara kerja untuk dapat memakai objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan (Koentjaraningrat, 1977: 16).

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif, yaitu metode yang hanya terbatas pada usaha membahas atau memeriksa data apa adanya (Sudaryanto, 1988:62)

1.6.3 Teknik Penelitian

Teknik merupakan penjabaran dari metode dalam sebuah penelitian yang sesuai dengan nilai dan sifatnya (Sudaryanto, 1993:26). Teknik ini merupakan cara kerja yang operasional dalam penelitian terhadap karya sastra. Teknik yang dipakai dalam penelitian ini adalah membaca atau memeriksa teks sastra dan mencatat poin-poin yang mendukung sastra. Biasanya satu data ditulis dalam satu kartu atau diberi kode tertentu yang ditulis atau digaris pada bagian atas, tengah atau bawah. Kartu data sebaiknya disusun menurut abjad dari huruf pertama dengan ini memudahkan penyusun (Koentjaraningrat, 1977:391).

1.6.4 Data dan Sumber Data

(26)

Dalam penelitian ini datanya adalah data pustaka yang diperoleh dengan mencacat data yang merupakan bagian dari keseluruhan novel Tiba-tiba Malam yang berkaitan dengan permasalahn dalam penelitian ini.

Sumber data adalah tempat data itu diambil atau diperoleh. Penelitian yang dilakukan ini adalah penelitian sastra maka sumber datanya pun berupa karya sastra, yaitu dengan identitas sebagai berikut:

Judul : Tiba-tiba Malam Pengarang : Putu Wijaya Penerbit : Buku Kompas Kota Terbit : Jakarta Tahun Terbit : Januari 2005 Cetakan : I (pertama)

Tebal : iv + 236 hlm; 14 cm x 21 cm

1.7 Sistematika Penyajian

(27)
(28)

BAB II

ANALISIS STRUKTUR PENCERITAAN NOVEL TIBA-TIBA MALAM

Pada bab II ini akan dianalisis tiga unsur struktur yang meliputi tokoh dan penokohan, latar, dan alur. Perhatian utama difokuskan pada teks sebagai satu kesatuan yang utuh. Analisis ketiga unsur struktural itu dimaksudkan untuk mengetahui gambaran kejadian atau peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam novel tersebut yang dapat membawa pembaca lebih mengetahui gambaran kehidupan para tokoh dalam latar budaya Bali. Ketiga unsur tersebut akan diuraikan sebagai berikut.

2.1 Analisis Alur

Analisis alur akan mencakup tiga bagian, yaitu bagian awal, bagian tengah, dan bagian akhir.

2.1.1 Bagian Awal

Dalam tahap awal dalam cerita ini, orang-orang memperbincangkan upacara perkawinan Sunatha dengan Utari yang mendadak. Banyak orang bertanya-tanya. Konflik belum nampak. Hal itu terlihat dari kutipan berikut.

(1) Banyak orang heran dan bertanya-tanya mengapa hal tersebut terjadi. Mempelai wanita adalah bunga desa, dipujikan kecantikan maupun kelakuannya. Di samping orang cemburu kenapa guru SMP yang gemar menyanyi lagu-lagu rakyat itu mampu merobohkan hati Utari, orang juga merasa belum waktunya desa kehilangan putrinya yang tercantik (Putu Wijaya,2005:1).

(2) Di Balai Desa, beberapa anak muda juga mempercakapkan kejadian yang mendadak itu. Mereka lebih suka melihat kejadian itu sebagai sesuatu yang lucu. “ Aku kira Sunatha itu wangdu (impotent) akhirnya dapat Utari, hebat juga dia!” (Putu Wijaya,2005:3).

(29)

Saat perkawinan Sunatha berlangsung, seorang turis asing juga turut hadir dan menyaksikan upacara tersebut. Pada saat itu dia berkenalan dengan Subali dengan sangat akrab.

(3) “Perkawinan anak saya. Itu yang lelaki namanya Sunatha, anak saya yang paling tua. Saya sendiri bernama Subali. Itu wanita namanya Utari, itu yang sebelah sana, orang tua Utari dan itu anak saya yang lain, namanya Sunithi. Nah, ini istri saya. Itu di sana…..Dia menerangkan seperti seorang guide “ (Putu Wijaya, 2005:8-9).

2.1.2 Bagian Tengah

Pada tahap tengah atau tahap pertikaian dalam cerita tersebut konflik mulai muncul. Tahap tengah ini ada dua jenis konflik yang ditemukan, yaitu konflik internal, yaitu konflik yang terjadi dalam diri seorang tokoh dan konflik eksternal, yaitu konflik yang terjadi antar tokoh cerita. Konflik internal dan konflik eksternal dialami oleh tokoh Subali yang digambarkan oleh pengarang sebagai tokoh yang tidak taat pada adat. Konflik internal yang terjadi pada tokoh Subali dapat dilihat pada kutipan berikut. (4)”……buah pikirannya berbahaya. Saya tidak suka dia terlalu dekat dengan

bapak. Kamu tahu sendiri bapak sedang kecewa, dia masih memikirkan usaha dagangnya bangkrut”(Putu Wijaya,2005:23).

(5) “Bapak makan dulu.” Subali makan, tapi terus juga diam-diam. Sunithi melayani sambil memandangnya. Di balai-balai kedengaran perempuan itu menangis. (Putu Wijaya,2005:60).

(6) Pernah ia merencanakan untuk transmigrasi dengan seluruh keluarganya. Mencari udara baru di Sumatera dan Sulawesi. Karena desa mulai sumpek. Terutama sejak kegagalan dalam berdagang. Ia menggangap adat menghancurkan perdagangan yang pernah diharapkannya akan menjadi sumber nafkah-karena tugas-tugas dalam kelompok terlalu banyak, sehingga ia tidak bisa benar-benar memperhatikan kepentingan pribadi (Putu Wijaya,2005:103)

(30)

adatlah yang menghancurkan dagangnya (3) Subali merasa tertekan selama ini. Pada tahap pertikaian ini konflik mulai menanjak.

Konflik eksternal pada tahap tengah atau tahap pertikaian terjadi antara tokoh utama yang tidak taat pada adat dengan masyarakat yang mendukung adat sehingga pertentangan meningkatkan konflik dan dapat dilihat pada kutipan berikut.

(7) “ Baik!” teriak Subali. Sejak dulu orang selalu menyebarkan fitnah atas keluargaku. Kamu mau kawin dengan Sunatha secara baik-baik, sekarang kamu tuduh anak saya mengguna-guna kamu, setelah dia tidak ada di sini untuk membela dirinya. Ini pasti ada orang yang campur tangan. Baik! Sekarang pilih saja, kamu mau pulang atau tinggal di rumah suamimu. Kalau kamu pulang tak usah lagi kamu balik ke rumah kami. Kamu dengar!” (Putu Wijaya, 2005:32-33).

(8) “……Nanti bapak dibuang oleh krama desa” (Putu Wijaya,2005:61)

(9) “ Kok saban ada kerepotan desa, terus sakit. Nyoman ini penting. Bapak harus datang. Nanti dia dikeluarkan dari krama desa. Belakangan ini bapakmu kok aneh-aneh saja”(Putu Wijaya, 2005:62).

Konflik yang dialami tokoh semakin hebat dan meningkat dan mencapai klimaks. Subali meninggalkan Tabanan menuju Denpasar-Bali dengan turis asing itu. (10) Subali dan David sudah mencapai jalan besar. Mereka hendak ke Denpasar.

Subali bermula hendak mencari jalan memintas supaya jangan melewati pura, tempat orang-orang bekerja, tapi David dengan senyum memaksanya lewat (Putu Wijaya,2005:75).

(11) “Maaf sekali ini saya tidak bisa ikut bekerja. Ada keperluan di Denpasar, saya sakit saya harus berobat ke sana. Ini saya membayar uang ganti diri saya bekerja.” (Putu Wijaya,2005:77).

(31)

Kutipan (7), (8), (9), (10), (11), (12) menunjukkan bahwa konflik-konflik eksternal yang dialami Subali adalah, (1) keluarganya difitnah, (2) rencana pembuangan, (3) Subali hendak ke Denpasar dan memberi sejumlah uang sebagai ganti diri karena tidak ikut bekerja, (4) Subali dikeluarkan dari krama desa

2.1.3 Bagian Akhir

Tahap akhir pada cerita ini, menunjukkan perkembangan peristiwa ke arah selesaian. Selesaian mengandung penyelesaian konflik yang melegakan ( happy ending). Pada bagian akhir ini tokoh menyadari kesalahannya dan meminta maaf

kepada banjar yang telah mempersatukan mereka. Terlihat pada kutipan berikut.

(13) “ Saudara-saudara, kawan-kawan, para sesepuh desa, saya dan bapak saya sekeluarga menyerahkan diri untuk diadili oleh desa. Keluarga saya dan bapak saya telah melakukan kesalahanbesar terhadap adat……….Izinkan saya meminta maaf atas kekeliruan bapak saya. Hukumlah kami sesuai dengan kesalahan kami………..Satu permintaan kami jangan buang kami dari pergaulan desa. Dan izinkanlah ibu saya istirahat dengan tenang. Biar saya yang memikul semuanya” (Putu Wijaya, 2005:224-225).

Dari pemaparan di atas, dapat disimpulkan bahwa alur dalam novel tersebut adalah alur maju. Peristiwa demi peristiwa mengalami perkembangan dan mencapai klimaks dan penyelesaian yang membahagiakan.

2.2 Tokoh dan Penokohan 2.2.1 Tokoh

(32)

Tokoh lain yang merupakan pembantu dan pendukung yang masing-masing berfungsi menunjang tokoh utama adalah Utari (istri Sunatha), Renti (pengawal pribadi Ngurah), Sunithi (saudari Sunatha), Suki, Weda, Badung (sahabat Sunatha dan sunithi), dan David wisatawan asing dari Belanda yang mempengaruhi Subali dengan pandangan-pandangan yang modern.

Tokoh-tokoh di atas mempunyai peran masing-masing baik sebagai tokoh yang berfungsi menyampaikan pikiran dan perasaan tokoh utama maupun yang tidak menunjang keberadaan tokoh utama.

Tokoh yang sering muncul di setiap bagian cerita dan menimbulkan peristiwa-peristiwa yang membangun cerita, yaitu Sunatha, Ngurah, dan Subali merekalah yang disebut tokoh utama atau sentral. Seperti yang dikatakan Sudjiman (1998:12) bahwa kriterium yang digunakan untuk menentukan tokoh utama bukan frekuensi kemunculan tokoh dalam cerita melainkan intensitas keterlibatan tokoh itu dalam peristiwa-peristiwa yang membangun cerita.

Dalam analisis tokoh penulis membatasi penokohan tokoh hanya pada tokoh utama. Pengenalan tokoh-tokoh baik tokoh utama protagonis dan antagonis akan dibahas lebih lanjut dalam penokohan masing-masing tokoh.

2.2.2 Penokohan

(33)

Di bawah ini, akan diuraikan penokohan para tokoh utama dalam novel Tiba-tiba Malam, yaitu Sunatha, Ngurah, dan Subali.

2.2.2.1 Tokoh Sunatha

Tokoh Sunatha adalah putra dari Subali yang dibesarkan di Bali ( Tabanan) berprofesi sebagai guru tugas di Kupang dan suka menyanyi lagu-lagu rakyat. Dia berpendidikan, cerdas dan mempunyai wawasan dan pandangan yang luas. Menurutnya, tugas dan pengorbanan jauh lebih penting dari urusan pribadi. Terbukti setelah pernikahannya dengan Utari langsung menuju Kupang. Terlihat pada kutipan-kutipan berikut.

(14)“ Kita bekerja untuk hari depan, kita harus berani dan siap untuk melakukan pengorbanan-pengorbanan apa saja. Kamu harus sadari itu” ( Putu Wijaya, 2005: 17).

(15)“ Dan kautahu juga bahwa besok pagi saya harus berangkat ke Kupang untuk memikul tugas mengajar di sana” ( Putu Wijaya, 2005:17).

(16)“ Saya tidak sangsi lagi bahwa kau tidak menganggap perkawinan hanya alat untuk membuta anak, tetapi berjuang” ( Putu Wijaya,2005:18).

Tokoh Sunatha memiliki perasaan takut. Takut dan tidak percaya akan cinta sebab istriya yang dinikahi banyak yang menginginkannya.

(17)“ Saya sudah lama tidak percaya pada cinta. Justru karena itu saya cepat mengawaninya, saya takut dia diserobot orang. Banyak sekali ingin dengan dia” ( Putu Wijaya, 2005: 29).

Tokoh Sunatha adalah tokoh yang taat beragama. Kerinduannya pada pura telah mengusik hatinya walaupun dia tinggal dilingkungan yang berbeda. Dia selalu bersandar pada Tuhan.

(34)

(19)“ Setahun di sini memang bikin rindu. Aku sudah lama tidak sembahyang di pura” ( Putu Wijaya, 2005:124).

Sebagai seorang guru yang berdiri di depan kelas dan mengajar kepada anak murid ternyata memiliki juga sifat pengecut, lemah, rapuh dan mengakui kekurangannya bahwa dia tidak jantan.Terlihat pada kutipan (20),(21),(22),(23).

(20)“ Kadang-kadang aku percaya, kadang tidak. Sekarang aku kehilangan diri. Aku harus akui, aku lemah” ( Putu Wiaya,2005:124).

(21)“ Aku memang pengecut, tukang ngelamun”( Putu Wijaya,2005:125). (22)“ Tidak, kamu sahabat saya. Hanya sahabat yang baik berani mengatakan

keburukan-keburukan kawannya dengan jujur, saya sendiri juga takut dan pengecut” ( Putu Wijaya, 2005: 126).

(23)“ Dulu saya iri padamu. Karena kamu selalu membangga-banggakan kejantananmu, sekarang saya tahu itu untuk menghibur dirimu sendiri ( Putu Wijaya, 2005:127).

Tokoh Sunatha yang taat, dan seorang guru yang patut diteladani terpaksa harus berbohong karena tidak tegah membiarkan saudaranya menderita batin atas perlakuan orang-orang terhadap keluarganya.

(24)” Tugas beli tidak mengizinkan saya untuk pulang sebelum liburan kenaikan kelas. Akan tetapi saya memohon kepada kepala sekolah supaya mengizinkan saya pulang, karena saya tidak membiarkan kamu menderita. Untuk itu saya terpaksa berbohong, sebagai seorang guru, ini perbuatan yang tercela,…….Jadi maafkanlah, kalau saya katakan kepada kepala sekolah bahwa meme telah meninggal. Hanya itulah satu-satunya jalan supaya mendapat izin pulang agak lama” ( Putu Wijaya,2005:131).

Tokoh Sunatha sangat menginginkan kebahagiaan seperti kebanyakan orang. Dan seolah-olah tidak sanggup menerima kenyataan yang dialami keluarganya. Kenapa harus dia yang mengalami akhirnya timbul rasa benci.

(35)

Sunatha dengan jujur mengakui bahwa ayahnya telah melanggar desa adat ( banjar) yang sudah disepakati.

(26) “ Ya saya kira, ini jujur saja. Bapak sudah melakukan kesalahan, jadi wajar kalau kemudian ia dibuang dari krama desa”( Putu Wijaya,2005:150). Pada kutipan (27), (28), (29) tokoh Sunatha memiliki pandangannya terhadap lembaga banjar, krama desa, lembaga paguyuban yang selalu mengikat dan hidup berkelompok itu kejam dan menjegal kebebasan individu.

(27)” Bukan memusnahkan. Tetapi harus diberikan interprestasi baru. Kita harus pandai-pandai untuk mengartikan semua lembaga-lembaga yang ada. Bukan sama sekali menghapusnya”( Putu Wijaya, 2005:154).

(28) “ Jangan sampai semua itu menghambat pertumbuhan pribadi. Jangan sampai keterlibatan menjadi racun untuk merusak kemungkinan pribadi dan individu untuk berkembang. Kalau banjar sudah menjadi penghalang orang untuk membuat rencana-rencana karena terlalu banyak meminta solidaritas, ia harus diragukan apakah eksistensinya masih berguna pada masa ini?”( Putu Wijaya,2005:155).

(29) “ Harus diberikan interprestasi lain. Hidup berkelompok bisa kejam, kalau ia langsung menjegal kebebasan para individu. Bayangkan bapakku tertekan selama ini, tentu saja tidak terpengaruh oleh David”( Putu Wijaya,2005:155).

Tokoh Sunatha adalah tokoh yang memiliki hati yang tulus, terbuka terhadap kemungkinan dan rela hati meminta maaf kepada sesepuh desa, saudara-saudara dan kepada Hyang Widdi Wasa dan rela untuk dihukum atas kesalahan bapaknya dan kesalahannya sendiri.

(30)”Ingat saudaraku, hadapilah mereka dengan jiwa besar. Kamu tidak sendirian, kalau saja kamu dapat memanfaatkan ketulusan hatimu. Jangan mencari-cari musuh” ( Putu Wijaya, 2005:161).

(36)

dengan tenang. Biar saya yang memikul semuanya ini”( Putu Wijaya, 2005:225).

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa tokoh Sunatha memiliki pandangan yang luas dan cermerlang. Pandangannya terhadap adat, menurutnya terlalu mengekang, meminta solidaritas dan meragukan eksistensinya. Tetapi tidak perlu dihapus tapi diberi interprestasi baru untuk masa depan yang lebih baik dan menunjang perkembangan tiap individu.

2.2.2.2 Tokoh Ngurah

Tokoh Ngurah adalah pemuda yang terkaya di desa Subali. Dia mempunyai pengawal pribadi, disegani, dan apapun yang dikatakan selalu didengar. Dia dianggap sebagai orang yang hebat dan memegang teguh desa adat. Tokoh Ngurah adalah orang yang baik ingin memelihara kerukunan dan kedamaian desa. Kata-katanya bijak dan mengutamakan kepentingan umum.

(32)” Kita harus memikirkan pendidikan anak-anak, perbaikan jalan, perbaikan pura, penertiban subak, dan kalau bisa membentuk sekehe drama gong untuk mencari dana. Jangan hanya untung sendiri. Saya dengar sudah ada orang asing masuk desa ini dan menghasut saudara untuk berhenti bergotong royong. Siapa yang akan merawat pura, membuat sekolah kalau bukan kita”( Putu Wijaya,2005:65).

(33)” Tunggu! Saya tidak bermaksud menghasut saudara untuk membenci orang asing. Banyak di antara mereka yang pintar dan bermaksud baik. Hanya kadangkala kita salah menerima ajaran-ajarannya. Jadi saya harapkan saudara-saudara jangan begitu saja menerima pikiran orang lain, tapi harus dicerna. Misalnya bapak Subali tidak pernah datang kalau ada kerepotan desa”( Putu Wijaya, 2005:66).

(34)” Stop! Stop! Tenang-tenang, jangan mudah terpengaruh” Dia berusaha menenangkan mereka. “ Subali tidak salah. Orang asing tidak salah. Kita terlalu bodoh. Kitalah yang salah”( Putu Wijaya,2005:69).

(37)

(35)” Bangsat! Keluarkan dia krama desa, kita lempari rumahnya nanti malam” orang-orang marah. Ngurah dengan bijaksana menenangkan mereka ( Putu Wijaya, 2005:78).

Kutipan (36) tokoh Ngurah memegang teguh desa adat (banjar) yang telah mempersatukan mereka dan sesuai dengan hukum adat orang yang melanggar akan dibuang. Ngurah termasuk orang yang taat pada adat.

(36)” Begini, katakan pada bapakmu kalau nanti pulang, sudahlah, tidak usah lagi ikut kerja di pura. Kalau memang repot kami juga tidak memaksa. Tapi tentunya demikian juga sebaliknya nanti. Jelasnya kami memutuskan untuk mengeluarkan bapakmu dari ikatan krama desa. Ini supaya Nyoman tahu saja”( Putu Wijaya,2005:85).

Sifat yang lain dari tokoh Ngurah adalah dia selalu mengakui kelebihan orang lain. Terlihat ada kutipan (24).

(37)” Saya kenal Sunatha. Dia orang yang baik. Saya akan berterus terang kepadanya. Ia berpendidikan. Apalagi guru. Dia akan bisa mengerti. Saya akan menghadapinya dengan baik-baik. Asal bapak dan ibu memberi keterangan yang baik. Jangan ribut”(Putu Wijaya,2005:205).

Ngurah selain memiliki sifat bijaksana, terbuka, taat pada adat, lebih mementingkan kepentingan umum juga memiliki sifat yang negatif, yaitu merebut istri orang.

(38)” Saya tidak ingin menyalahkan siapa-siapa. Tapi dia istri saya. Saya ingin bicara dengan dia. Utari sudah hamil dengan Ngurah. Saya serahkan Utari dengan rela dan menerima dengan berjabatan tangan”( Putu Wijaya,2005:228-229).

Tokoh Ngurah memiliki sifat memaafkan orang lain. Tidak mempersalahkan salah satu pihak dia beranggapan bahwa kita semua salah.

(38)

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa tokoh Ngurah adalah tokoh yang bijaksana, taat, dan patuh pada adat. Dia lebih mengutamakan kepentingan umum dari pada kepentingan pribadi atau golongan. Dia juga mendukung bahwa yang melanggar adat harus dikeluarkan dari desa adat atau banjar yang sudah disepakati bersama.

2.2.2.3 Tokoh Subali

Tokoh Subali ini adalah tokoh antagonis yang menentang protagonis. Subali ayah dari Sunatha. Dia seorang pedagang tapi bangkrut. Dia bersahabat dengan David turis asing dari Belanda, awal perkenalan dengan David saat Sunatha melangsungkan pernikahan dengan Utari.

(40)” Perkawinan anak saya. Itu yang laki-laki namanya Sunatha anak saya yang paling tua. Saya sendiri bernama Subali. Itu wanita namanya Utari, itu yang disebelah sana orang tua Utari dan itu anak saya yang lain namanya Sunithi. Ini istri saya”( Putu Wijaya, 2005:8-9).

Subali memiliki sifat kasar dan mudah marah, pada kutipan (41),(42) menjelaskan kemarahan Subali.

(41)”Subali memegang tangan Utari agak kasar dan menariknya ke rumah. “ Aku mau pulang aku kena guna-guna” Subali memegang tangannya dengan keras. “Diam! Kamu bilang apa? Itu fitnah”( Putu Wijaya,2005:31)

(42)” Baik!” teriak Subali.. sejak dulu orang selalu menyebar fitnah ( Putu Wijaya,2005:31).

Sejak usahanya bangkrut Subali menjadi buruh tani. Tokoh Subali adalah seorang pekerja keras juga. Terlihat pada kutipan (43).

(39)

Usaha dagang bangkrut, tekanan dari desa, menjadi fitnahan orang dan kehadiran David dalam hidupnya membuat Subali mudah dipengaruhi oleh orang dan menjadikan Subali tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Pada akhirnya Subali tidak mengikuti kegiatan desa.

(44)” Bapak lihat sendiri, bahwa negeri ini kaya raya, tapi sia-sia karena tidak ada sistem kerja yang praktis. Bahwa dengan bergotong royong kita berarti memikul beban bersama negeri ini. Artinya juga satu orang mati kita ikut mati. ( Putu Wijaya,2005:27).

(45)” Sudahlah. Jadilah orang yang praktis, jangan tenggelam dalam sistem yang sudah bobrok ini. Sebab coba…hidup berkelompok itu saling gerogot-menggerogoti ( Putu Wijaya,2005:52).

Subali semakin tidak peduli terhadap adat. Memilih sifat acuh tak acuh, diam, dan malas dan pura-pura sakit.

(46)” Subali kelihatan malas, Subali diam saja, bapak tidak ikut kerepotan desa? Nanti kena marah, diam saja ( Putu Wijaya,2005: 58-59).

(47)” Bapak sudah sering tidak datang ke desa,banyak orang yang ngomong di pancuran ( Putu Wijaya, 2005:61).

(48)” Kok,saban ada kerepotan desa trus sakit, nyoman ini penting. Bapak harus datang nanti di keluarkan dari krama desa, sakit bikinan”( Putu Wijaya,2005:62).

Subali sudah bertekat untuk pergi bersama David ke Denpasar Bali. David membawa Subali ke hotel menikmati segala sesuatu yang belum pernah dikecap oleh Subali. Membuat Subali itu jadi nyap-nyap. David membawa Subali ke tempat-tempat persinggahan turis seperti Kintamani, Gua Lawah, Gua Gajah. Pura Tanah Lot dll sampai pada tempat pelacuran. Subali sangat bahagia.

(49)”Nona, ini Pak Subali, pahlawan masa depan dari sebuah desa kecil. Silakan kalian berdua memasuki hidup ini” ( Putu Wijaya,2005:87).

(40)

(50)”Ada sesuatu yang melegakan, karena tidak tergopoh-gopoh datang ke Balai Banjar bila kentongan bunyi. Ia merasa bebas. Denpasar memberi hidup baru.” ( Putu Wijaya,2005:99).

Subali telah kehilangan segalanya. Kehilangan David kehilang anaknya, kehilangan istrinya dan kehilangan tempat dalam banjar. Ia malu keluar rumah, diam dan bingung tidak bisa melakukan sesuatu.

(51)”Bapak kita sudah dikeluarkan dari krama desa. Bapak kenapa diam saja? Lebih baik bapak bingung sekalian daripada tidak karuan seperti ini. Bapak jangan malu mengakui kalau bapak bawah penyakit kotor” ( Putu Wijaya,2005:141-142).

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa tokoh Subali merupakan tokoh yang digambarkan oleh pengarang yang tidak taat pada adat. Menurut Subali adat terlalu mengikat dan tidak memberi kebebasan kepada tiap individu untuk mengekspresikan diri. Subali berpandangan demikian karena masa lalu dan menjadi fitnahan orang terhadap keluarganya.

2.3 Latar

(41)

2.3.1 Latar Waktu

Latar waktu yang dipakai oleh pengarang dalam novel Tiba-tiba Malam karya Putu Wijaya ini terbagi dalam waktu pada pagi, siang, sore, dan malam hari. Berikut ini akan diuraikan ketiga unsur latar itu dan unsur waktu lainnya. Adapun kejadian yang berhubungan dengan latar waktu pada pagi hari dapat kita lihat dalam kutipan-kutipan berikut.

(52)” Besok pagi kita harus bangun pagi-pagi benar, sebab dari sini kepelabuhan memakan waktu 6 jam”( Putu Wijaya, 2005:18).

(53) Matahari pagi, mencat langit dengan warna merah yang lembut. Pada saat itu David mengajak Subali ke Denpasar ( Putu Wijaya,2005:71).

(54) Matahari pagi muncul dari balik laut di pantai sanur, David dan Subali tampak mengenakan cawat merendam kakinya di air ( Putu Wijaya,2005:86).

(55)” Besok pagi saya mau ke Banyuwangi. Ada urusan dagang. Ikut ya. Barangkali bisa berobat di sana ( Putu Wijaya,2005:94).

(56) Pagi hari Ngurah mengajukan pertanyaan kepada Utari tentang hubungannya dengan Sunatha ( Putu Wijaya,2005:97).

(57) Pagi esoknya Subali mencari kopi di penambangan suci. Subali mudah mendapat teman ( Putu Wijaya,2005:100).

(58) Esok harinya Ngurah benar-benar yakin, Utari masih gadis ( Putu Wijaya,2005:121).

(59) Pagi yang sudah dimakan oleh panas itu, cerah Sunithi pergi ke sawah ( Putu Wijaya,2005:176).

(60) Pagi-pagi buta, Sunatha naik bis menuju kampung halamannya Tabanan ( Putu Wijaya,2005:207).

(61) Fajar telah membayang Sunatha berjalan-jalan ke depan orang banyak itu dengan tangan terbuka untuk meminta maaf kepada banjar atas kekilafan ayahnya ( Putu Wijaya, 2005:224).

(42)

tokoh sentral dan tokoh-tokoh yang lain baik yang disengaja maupun tidak disengaja sebagai rutinitas pagi hari.

Latar waktu yang terjadi pada siang hari dapat kita lihat dalam kutipan-kutipan berikut.

(62) Tatkala hari mulai siang Subali dan David melakukan perjalanan yang panjang ( Putu Wijaya,2005:86).

(63) Matahari membakar punggungnya. Kini gadis itu menjadi seorang wanita yang kukuh. Menggantikan Subali menggarap sawahnya (Putu Wijaya,2005:178).

(64) Tengah hari bis yang ditumpangi Sunatha sampai di Tabanan. Sunatha tampak lega, ia berharap ketemu kenalannya ( Putu Wijaya,2005:208). Kutipan (62), (63),(64) menjelaskan apa yang dilakukan oleh beberapa tokoh. Tidak ada aktifitas yang terlalu menyita waktu.seperti kebiasaan yang dilakukan pada siang hari.

Latar waktu yang terjadi pada sore dan malam hari dapat kita lihat pada kutipan-kutipan berikut.

(65) Malam hari dipertunjukan Drama Gong. Semua pendudukan nonton ( Putu Wijaya,2005:10).

(66) Drama Gong makin santer masuk ke dalam kamar juga suara cekikikan orang-orang di luar kamar membayangkan apa yang terjadi. Malam berjalan dengan lambat. Mata Sunatha makin berat, tapi ia masih berdoa ( Putu Wijaya,2005:19).

(67) Mobil yang ditumpangi oleh keluarga Sunatha tiba kembali di desa setelah hari gelap ( Putu Wijaya,2005:30)

(68) Malam pertama kami begitu terkesan. Hangat dan dia begitu kewalahan menghadapi saya ( Putu Wijaya,2005:35).

(69) Nanti malam nonton Drama Gong. Pak? Tegur Weda ramah sambil mengikuti Sunithi ( Putu Wijaya,2005:44).

(43)

(71) Malam hari orang tua tukang pukul kentongan itu menaiki tangga di pohon beringin yang menuju ke tempat kentongan. Kemudian dengan teratur ia mulai memukul kentongannya. Memanggil orang untuk ikut rapat ( Putu Wijaya,2005:58).

(72) Semalam ada orang yang lempari rumah. Anak muda ini yang melempari rumah kita tadi malam Nyoman ( Putu Wijaya,205:73).

(73) Dalam gelap beberapa orang dipimpin oleh Bagus Cupak mendekati rumah Subali mereka mencoba mengintip. Tak ada suara apa-apa (Putu Wijaya,2005:82).

(74) Ngurah berjanji mau datang jam 3 malahan Ngurah datang lebih dari jam 4 ( Putu Wijaya,2005:90).

(75) Malam hari Ngurah bicara panjang lebar dengan Utari. Mereka benar saling mencintai ( Putu Wijaya,2005:97).

(76) David teman saya, semalam dia ada di sini. David yang pintar bergaul itu ( Putu Wijaya,2005:100).

(77) Semalam aku mimpi dijemput nenekmu. Suruh Sunatha pulang ( Putu Wijaya,2005:107).

(78) Malam hari, Ngurah nonton bioskop dengan Utari. Mereka sangat bergembira ( Putu Wijaya,2005:119).

(79) Mereka berganti pakaian dengan berdiam diri. Malam sudah larut. Mereka sudah berjalan sepuas-puasnya ( Putu Wijaya,2005:120).

(80) Malam hari kalau berminat mandi, baru Subali berangkat ke pancuran. Tak seorang pun dibiarkannya memergoki dirinya ( Putu Wijaya,2005:140). (81) Pelabuhan yang kering itu, berubah indah sore harinya. Matahari bagai telur

mata sapi. Laut makin tenang. Seorang cewek menyapanya. “ Nanti malam tidur dimana, ada pasar malam. Kenapa tidak nonton pasar malam ada Drama Gong?”( Putu Wijaya,2005:188-189).

(82) Malam hari Sunatha pergi ke pasar malam. Diantar oleh Sunari. Mereka berdua seperti sahabat lama (Putu Wijaya,2005:190).

(44)

(84) Hampir subuh, Ngurah bersama Renti muncul di rumah Utari. Ia cepat-cepat menarik kedua orang tua itu dalam bisik-bisik ( Putu Wijaya,2005:204).

(85) Sunatha terpaku kehilangan akal, di atas gundukan tanah, Sunithi memeganginya. Bayangan malam mulai turun. Sore menggelap. Para tetangga yang menolong sudah menyelesaikan tugas, cepat-cepat pulang ke rumah ( Putu Wijaya,2005:213).

(86) Malam hari rumah Sunatha sunyi sekali. Sunithi dan Weda merawat Sunatha yang tergeletak di atas balai-balai. Subali kelihatannya mulai pulih ingatannya ( Putu Wijaya,2005:218).

Kutipan (65), (66), (67), (68), (69), (70), (71), (72), (73), (74), (75), (76), (77), (78), (79), (80), (81), (82), (83), (84), (85), (86) menjelaskan kejadian-kejadian yang dialami oleh tokoh protagonis dan tokoh antagonis maupun tokoh lainnya.

Waktu lain dalam bentuk keterangan waktu yang menunjukkan waktu tertentu. Terlihat pada kutipan-kutipan berikut.

(87) Dalam tempo sepuluh tahun. Kalau saudara tetap malas seperti sekarang saudara akan hancur ( Putu Wijaya,2005:5).

(88) Zaman telah berubah. Kamu harus bisa berbuat sebagaimana yang dituntut oleh zaman (Putu Wijaya,2005:34).

(89) Dulu waktu tamasya ke Tanah Lot dia membelikan aku es dipinggir jalan. Sejak itu saya selalu ingat-ingat dia (Putu Wijaya,2005:38).

(90) Sekarang juga saya belum apa-apa. Dia wangdu (Putu Wijaya,2005:39). (91) Bapak sekarang tidak peduli sama meme lagi (Putu Wijaya,2005:72). (92) Puluhan tahun bapak memimpin kamu semuanya. Puluhan tahun bapak

memimpin desa ini. Kita semua rukun seperti saudara satu sama lain (Putu Wijaya,2005:78).

(93) Lihat. Kini Anda melihat semuanya. Kini anda dapat memilih bahwa kemiskinan dan kelemahan bukan pribadi. Itu semua racun (Putu Wijaya,2005:81).

(45)

(95) Hampir setahun yang lalu, di sana berdiri seluruh keluarganya. Sekarang yang kelihatan hanya buruh-buruh pelabuhan. Orang-orang yang tak dikenalnya (Putu Wijaya,2005:183).

(96) Sekarang, sementara melewati Baturiti yang dingin, ia merasa keputusan itu amat bijaksana (Putu Wijaya,2005:208).

Kutipan (87), (88), (89), (90), (91), (92), (93), (94), (95), (96) merupakan peristiwa yang dilakukan oleh tokoh. Peristiwa tersebut terjadi pada saat tertentu.

Setelah melakukan analisis peristiwa yang berhubungan dengan waktu. Peristiwa-peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokoh paling banyak terjadi pada malam hari. Peristiwa penting seperti yang dikutip di atas pagi, siang, sore dan malam hari menggambarkan adanya unsur intrinsik yang berkaitan dengan latar waktu, yaitu kapan peristiwa itu terjadi.

2.3.2 Latar Sosial

Latar sosial masyarakat Bali dalam novel Tiba-tiba Malam dapat diketahui melalui adat kebiasaan, keadaan masyarakat. Kedua hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

2.3.2.1 Adat Kebiasaan

Cerita dalam novel tersebut berlatar belakang budaya Bali. Hal ini terlihat dari upacara perkawinan tokoh Sunatha dengan Utari dengan iring-iringan menuju rumah mempelai laki-laki.

(97) Waktu iringan upacara perkawinan Sunatha dengan Utari lewat. Seluruh kegiatan stanplat itu beralih. Semua orang berlari menonton iring-iringan (Putu Wijaya,2005:5).

(46)

Salah satu kebiasaan orang Bali, setiap ada upacara selalu disertai hiburan berupa pertunjukkan Drama Gong.

(99) Malam hari dipertunjukkan Drama Gong. Subali tampak berbicara terus menerangkan segala sesuatu pada David. wanita-wanita saling berbisik tertawa dan kemalu-maluan. Di samping itu juga menambah keramaian perkawinan itu hingga istimewa (Putu Wijaya,2005:10).

Untuk mengadakan suatu pertemuan atau rapat tidak perlu membuat surat undangan atau pengumuman. Hanya dengan bunyi kentongan penduduk langsung menuju balai desa untuk ikut rapat. Bunyi kentongan memanggil orang untuk kerja bakti.

(100) Orang tua tukang pukul kentongan itu menaiki tangga di pohon beringin yang menuju ke tempat kentongan. Kemudian dengan teratur ia mulai memukul kentongannya. Seluruh desa seakan-akan dijelajah oleh suara yang memukau itu. Pukulan kentongan itu memanggil penduduk desa untuk rapat (Putu Wijaya,2005:58).

(101) Lalu terdengar kentongan memanggil orang untuk kerja bakti. Pemukul kentongan yang tua itu memukul kentongannya dengan serius sekali. Ia memperhatikan ke sekitarnya, ia terus memukul. Di kejauhan terdengar kentongan-kentongan kecil meneruskan suara kentongan itu. Ia mengangguk-angguk. Lalu tak lama kemudian dilihatnya penduduk desa telah turun ke jalan. Semuanya mengalir ke pura. Para lelaki, perempuan, juga tidak ketinggalan anak-anak, terutama para pemuda. Semuanya dating berduyun-duyun (Putu Wijaja, 2005:71).

Adat kebiasaan yang dipegang teguh oleh masyarakat adalah banjar desa atau desa adat. Penduduk beranggapan bahwa pemimpin mereka adalah adat.

(47)

Adat adalah pemimpin, warga atau orang yang tidak taat pada adat akan dikucilkan dan dikeluarkan dari banjar desa atau desa adat seperti yang dialami oleh tokoh Subali.

(103) “Bangsat! Keluarkan dia dari krama desa!” Semua orang berserk setuju. “ Lempari rumahnya nanti malam!” Orang-orang marah (Putu Wijaya, 2005:78).

Penduduk Bali memegang teguh adat dan kebiasaan yang berlaku di desanya. Mereka beranggapan bahwa adat adalah pemimpin. Memelihara kebiasaan-kebiasaan di desa adalah kewajiban setiap orang. Melanggar adat atau kebiasaan ada sanksi sosialnya.

2.3.2.2 Keadaan Masyarakat

Masyarakat Bali dalam novel Tiba-tiba Malam masih ketat. Seluruh masyarakat mengandalkan hasil sawah. Kehidupan keluarga dan perorangan kurang dan lebih memelihara fasilitas umum yang ada. Lebih banyak menunggu.

(104) Desa itu sebenarnya bukan desa yang miskin benar. Tapi penduduk terlalu banyak. Hampir seluruh mengandalkan periuk nasi mereka pada kerja tani. Baru sedikit yang mencoba pekerjaan lain. Hidup kekelompokan mereka masih ketat. Meskipun kehidupan keluarga dan perorangan terbilang kurang, akan tetapi usaha-usaha bersama-karena dilakukan secara beramai-ramai-jadi begitu menonjol. Di samping penghuni-penghuni yang tempak kekurangan, tegak sebuah Balai Desa yang megah. Juga pura-pura tempat persembahyangan terpelihara rapi. Kuburan mereka bersih. Dan di tengah desa ada sebuah pohon beringin dengan rumah-rumahan tempat kentongan desa tergantung-tampak terpelihara rapi. Desa itu sebuah dusun kecil di lereng bukit yang mungil. Udaranya segar. Ia memiliki puncak Gunung Batukau. Memiliki sungai yang jernih airnya. Pancuran tempat mandi juga sawah-sawah yang rapi. Penduduknya hampir kenal satu sama lain, sebagai keluarga besar. Setiap orang yang datang pasti menjadi pusat perhatian (Putu Wijaya, 2005:41-42).

(48)

(105) Di sawah kelihatan orang banyak sedang bekerja di sawah masing-masing. Subali juga sedang bergulat dengan lumpur dan sapinya. Di kejauhan tampak Gunung Batukau cantik. Beberapa burung bangau, bertebaran di atas pematang mencari-cari katak (Putu Wijaya, 2005:48-48).

Inilah situasi atau keadaan sosial masyarakat Bali yang menjadi sasaran atau objek cerita penulis. Ada adat kebiasaan, keadaan masyarakat, nilai dan aturan-aturan kemasyarakatan. Semuanya itu mengikat dan tidak memberi kebebasan terhadap warga masyarakat.

2.3.3 Latar Tempat

Latar tempat pada novel Tiba-tiba Malam karya Putu Wijaya terjadi di Tabanan Bali. Semua peristiwa yang dialami para tokoh menggambarkan kehidupan masyarakat Bali yang masih ketat dengan adat. Terlihat pada kutipan-kutipan berikut.

(106) “Saya ada rencana, ini malam membawa bapa ke Denpasar. Kita menginap di hotel kelas satu Bali Beach (Putu Wijaya,2005:51).

(107) “Saya dengar mereka mau berangkat ke Denpasar besok”. Ke Denpasar? Tapi besok semua orang harus kerja”(Putu Wijaya,2005:68).

(108) Subali Dan David mencapai jalan besar. Mereka hendak ke Denpasar (Putu Wijaya,2005:75).

(109) “Jam begini apa mobil ke Tabanan masih ada?”………”Besok pulang ke Tabanan”(Putu Wijaya,2005”189).

Semua peristiwa yang dialami oleh tokoh utama dalam cerita tersebut terjadi di Tabanan-Bali.

2.4 Rangkuman

(49)

BAB III

ANALISIS SIKAP SUBALI TERHADAP ADAT ISTIADAT BALI

Pada bab ini akan dibahas tentang sikap ketidaktaatan tokoh Subali terhadap adat di Bali. Ada dua hal yang akan dipaparkan oleh penulis, yaitu sikap ketidaktaatan tokoh Subali dan dampak dari sikap tersebut. Seperti yang sudah diuraikan pada bab I bahwa penulis membatasi istilah sikap sebagai reaksi perasaan terhadap suatu objek yang bersifat dinamis dan terbuka terhadap kemungkinan perubahan dikarenakan interaksi seseorang dengan lingkungan di sekitarnya. Sikap tersebut akan memiliki arti bila ditampakkan dalam bentuk pernyataan perilaku baik lisan maupun perbuatan yang kadang mendatang nilai positif ataupun negatif. Kedua hal tersebut akan diuraikan sebagai berikut.

3.1 Sikap Tokoh Subali terhadap Adat di Bali

Dalam novel Tiba-tiba Malam karya Putu Wijaya tokoh Subali digambarkan sebagai seorang tokoh pedagang. Namun usaha dagangnya bangkrut dan akhirnya Subali bekerja sebagai buruh tani. Subali memiliki dua orang anak yang perempuan bernama Sunithi dan seorang laki-laki bernama Sunatha. Sunatha berprofesi sebagai guru dan menikah dengan Utari, seorang gadis yang tercantik di desanya yang diinginkan semua pemuda termasuk Ngurah seorang pemuda yang berasal dari keluarga terkaya di desa Subali. Akhirnya banyak penduduk desa membicarakan keluarga Subali. Hal ini sangat mempengaruhi karakter tokoh Subali.

(50)

(110) Banyak orang heran dan bertanya-tanya, mengapa hal tersebut terjadi. Mempelai wanita adalah bunga desa, dipujikan kecantikan maupun kelakuannya. Di samping orang cemburu kepad guru SMP yang gemar menyanyi lagu-lagu rakyat itu yang mampu merobohkan hati Utari, orang juga merasa belum waktunya desa kehilangan putrinya tercantik (Putu Wijaya, 2005:1).

(111) Di Balai Desa, beberapa anak muda juga mempercakapkan kejadian yang mendadak itu. Mereka lebih suka kejadian itu sebagai sesuatu yang lucu. “ Aku kira Sunatha tadinya wangdu (impotent) akhirnya dapat Utari, hebat juga dia. Jangan-jangan Utarinya sudah begini, ya?” Sambil menggambarkan perut bunting. “Pasti dikerjakan waktu keluarga Utari nonton Drama Gong. Uteri pura-pura sakit, lantas Sunatha masuk dari jendela seperti yang dilakukan oleh Ngurah duli terhadap Sita.” (Putu Wijaya,2005:3).

Ketika Subali dalam keadaan kecewa dan sedih karena keadaan ekonominya menurun diakibatkan usahanya bangkrut, dan kekesalan Subali terhadap perlakuan orang-orang desa terhadap dirinya dan keluarganya yang selalu diremehkan, muncul tokoh David seorang turis asing dari negeri Belanda dalam kehidupan Subali. Kedatangan David di desa Subali bermaksud untuk melakukan perubahan terhadap keadaan masyarakat di desa Subali. Tokoh Subalilah yang menjadi alat David untuk memulai perubahan tersebut. Subali memperkenalkan seluruh keluarganya pada David pada saat Sunatha melangsungkan pernikahannya dengan Utari

(112) “Itu yang lelaki namanya Sunatha, anak saya yang paling tua. Saya sendiri bernama Subali. Itu yang wanita namanya Utari, itu yang disebelah sana, orangtua Utari dan itu anak saya yang lain, namanya Sunithi. Nah ini istri saya. Itu di sana….” (Putu Wijaya, 2005:8).

(113) “Dalam tempo sepuluh tahun, kalau saudara-saudara tetap malas seperti sekarang, saudara akan hancur. Anak-anak ini harus sekolah. Semua orang harus kerja, melakukan hal-hal yang praktis dan membuang semua yang tidak perlu. (Putu Wijaya,2005:5).

(51)

pekerjaan lainnya. Artinya juga, kalau salah satu mati, yang lainnya jangan ikut mati, tapi terus hidup melanjutkan usaha-usaha yang lain”(Putu Wijaya,2005:27).

(115) “Kuatkan hatimu orang tua. Zaman telah berubah. Kamu harus bisa berbuat sebagaimana yang dituntut oleh zaman. Kita harus berani menerima sekarang bahwa, wanita itu mungkin tidak mencintai Sunatha.”(Putu Wijaya,2005:34).

(116) “Untuk jadi pahlawan diperlukan keberanian. Kita sudah mulai sekarang. Jangan mundur. Hari depan desa ini di tangan bapak.” Subali berusaha tenang. David terus memegangnya. (Putu Wijaya,2005:70)

Pandangan-pandangan David sangat mempengaruhi pola pikir Subali, sehingga Subali hanya mengikuti jalan pikiran David. Akibatnya Subali mulai tidak taat terhadap adat istiadat atau kebiasaan yang ada di desanya.

Subali mulai melakukan perubahan dari menerima saja keadaan yang terjadi walaupun merugikan dirinya, menjadi mau menyatakan dirinya kalau selama ini ia merasa tidak nyaman dengan keadaan dirinya dan selalu menjadi bahan pembicaraan semua orang.

(117) “Baik!” teriak Subali. “Sejak dulu orang selalu menyebarkan fitnah atas keluargaku. Kamu mau kawin dengan Sunatha secara baik-baik, sekarang kamu tuduh anak saya mengguna-guna kamu, setelah dia tidak ada di sini untuk membela dirinya. Ini pasti ada orang yang campur tangan. Baik! Sekarang pilih saja, kamu pulang atau tinggal di rumah suamimu. Kalau kamu mau pulang, tak usah kamu balik ke rumah kami. Kamu dengar?”(Putu Wijaya,2005:32-33).

(118) Subali rupa-rupanya tak menduga juga bahwa kejadiannya akan seperti itu. Ia tidak bisa bicara. Kemudian ia menunjuk ke arah keluarga Utari pergi. Ngurah tampak mengerti. Kemudian dibantu oleh pegawalnya ia membubarkan orang-orang kampung (Putu Wijaya,2005:34).

(52)

mereka. Dia percaya dengan sungguh apa yang dikatakan David bahwa hidup berkelompok itu saling menggerogoti dan gotong royong pangkal kemiskinan.

(119) “Saya ada rencana, ini malam membawa bapak ke Denpasar. Kita menginap di hotel kelas satu Bali Beach. Kita ke tuban melihat kapal terbang. Sesudah itu kita bicarakan tentang rencana kita. Bapak harus bikin permbaruan didesa ini. Kalau tidak siapa lagi? Harus ada sekolah, listrik dan hidup lebih praktis.”

Ah buat apa! Kan ada orang lain. Masa kalau satu tidak datang kerja itu tidak bisa diteruskan. Omong kosong. Apa arti satu orang. Kasih saja uang untuk ganti kerugian. Besok kita harus sudah ada di Denpasar.”

Jadilah orang yang praktis. Jangan tenggelam dalam sistem yang bobrok ini……jauhilah hidup berkelompok yang saling menggerogoti…….gotong royong sebagai pangkal kemiskinan. Subali mendengar dengan sungguh-sungguh dan kelihatannya sangat percaya.”(Putu Wijaya,2005:51-52). (120) “Aku dengar bapakmu dibicarakan karena sudah beberapa kali tidak keluar

melayani kerepotan desa.” Oh waktu itu bapak sakit. “Sakit kok terus-terusan

Hati-hati Nyoman, orang itu sedang merencanakan sesuatu kelihatannya!”(Putu Wijaya,2005:53).

Subali terpengaruh dengan pola pikir David yang berpandangan bahwa hidup berkelompok adalah pangkal kemiskinan.

Subali mulai tidak mengikuti adat istiadat, yang dijalankan di desanya, acuh tak acuh dan berpura-pura sakit serta lebih memilih diam. Anaknya yang bernama Sunithi, beberapa kali menyarankan supaya bapaknya ikut kegiatan desa, tetapi sama sekali tidak dihiraukannya. Pukulan kentongan untuk memanggil penduduk untuk rapat tidak dihiraukan oleh Subali.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...