• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERANCANGAN SISTEM REVERSE OSMOSIS UNTUK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERANCANGAN SISTEM REVERSE OSMOSIS UNTUK"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

PERANCANGAN SISTEM REVERSE OSMOSIS UNTUK PROSES

RECYCLE AIR EFLUEN WWT (STUDI KASUS DI PT. YUTAKA

MFG. INDONESIA PLANT 2)

Suryana1, Hery Hamdi Azwir2 1,2)

Industrial Engineering Department, President University, Bekasi Email : [email protected], [email protected]

ABSTRAK

PT. Yutaka Manufacturing Indonesia (YMI) Plant 2 adalah perusahaan yang bergerak dibidang otomotif untuk kendaraan roda dua (spare part). Dalam proses non produksinya, YMI memakai air yang salah satunya adalah air domestik. Air tersebut digunakan untuk kebutuhan flushing toilet, penyiraman tanaman, pencucian mobil, dan untuk cleanng service. Biaya pemakaian air domestik untuk tahun 2010 sebesar Rp 19,505,700,- melebihi target maksimal pemakaian sebesar Rp 15,000,000,- maka dari itu perlu suatu sistem untuk menghemat pemakaian air domestik tersebut dengan cara recycle air efluen WWT.

Sistem yang dirancang untuk recycle air efluen WWT adalah sistem Reverse Osmosis dengan treatment awal menggunakan proses Resin Kation, Karbon Aktif dan Mikrofiltrasi dimana dianalisis nilai depresiasi dan dampak terhadap biaya pemakaian air, serta dianalisis BEPdan dibuatkan SOP sebagai acuan dalam proses kerjanya.

Nilai depresiasi sistem reverse osmosis sebesar Rp 50,485,000,- / tahun. Hasil dari penerapan teknologi Reverse Osmosis terhadap pemakaian air domestik di YMI Plant 2 adalah bisa menghemat air sebesar 1136.27 m3/bulan dengan prosentasi penghematan terhadap air total sebesar 52.43 %. Selain itu, benefit cost sebesar Rp 8,538,590,- per bulan. Untuk biaya operasionalnya sebesar Rp 1.687.840,- / bulan sehingga BEP untuk sistem R.O ini akan tercapai selama 53 bulan atau 4.41 tahun.

Kata kunci : Reverse Osmosis, Recycle, Air Domestik, Air Efluen WWT, Depresiasi, SOP, BEP

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Pada era globalisasi seperti saat ini, persaingan global menjadi salah satu unsur yang menjadi sorotan untuk kalangan industri. Dunia industri berlomba-lomba untuk membuat produk dengan biaya seminimal mungkin tetapi dengan hasil semaksimal mungkin.

PT. Yutaka Manufacturing Indonesia (YMI) adalah sebuah perusahaan joint venture antara Yutaka Giken jepang dengan PT. Astra Honda Motor. Produk yang dihasilkan oleh YMI adalah Disk Brake dan Muffler (knalpot) dimana konsumen utamanya yaitu PT. Astra Honda Motor. YMI mempunyai dua plant, yaitu plant 1 dan plant 2 yang sama-sama berkedudukan di kawasan industri MM2100.

Dalam proses produksi dan non produksinya, YMI menggunakan air. Air tersebut dikelompokan menjadi 2 bagian besar, yaitu :

1. Air untuk kebutuhan produksi yaitu untuk pendinginan mesin (cooling water), dll.

2. Air untuk kebutuhan domestik yaitu untuk kebutuhan flushing toilet, penyiraman tanaman, pencucian mobil dan kebutuhan cleaning services.

(2)

Disamping itu ada juga review tiap akhir semester dimana agenda kegiatan tersebut yaitu untuk melaporkan kinerja dari masing-masing bagian. Dalam agenda tersebut, untuk biaya pemakaian air domestik mengalami pemborosan atau biaya yang dikeluarkan lebih besar dari yang dianggarkan, yaitu :

 Aktual biaya pemakaian air domestik : Rp

19,505,700.- Anggaran maksimal pemakaian air domestik : Rp 15,000,000.-Sumber : Laporan Seksi Facility Provider

Maka dari itu, perlu dilakukan upaya penghematan terhadap pemakaian air domestik yang nantinya berdampak pada biaya yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk pemakaian air domestik.

1.2 Tujuan Penelitian

Dalam penyusunan penelitian ini, ada beberapa tujuan yang ingin dicapai, tujuan tersebut adalah sebagai berikut :

1.

Untuk menentukan sistem yang digunakan dalam rangka penghematan air domestik.

2.

Analisis sistem yang digunakan untuk penghematan air domestik.

3.

Analisis dampak yang ditimbulkan dari penerapan sistem terhadap biaya pemakaian air dan biaya-biaya lainnya.

1.3 Batasan Masalah

Karena waktu dan sumber daya yang terbatas dalam melakukan penelitian ini, maka ada batasan dalam melakukan pengamatan :

1. Observasi hanya untuk pemakaian air domestik YMI Plant 2. 2. Rentang proyek ini dimulai dari April 2010 – Maret 2011

1.4 Studi Pustaka

Air

Air adalah cairan jernih tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau yang terdapat dan diperlukan dalam kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan yang secara kimiawi mengandung hidrogen dan oksigen atau benda cair yang biasa terdapat di sumur, sungai, danau dengan titik didih pada suhu 100o C. Air domestik adalah air yang digunakan untuk kebutuhan domestik seperti flushing toilet, penyiraman tanaman, pencucian mobil dan untuk kebutuhan cleaning services.

Recycle Air

Proses daur ulang air adalah menggunakan kembali air yang telah diolah untuk berbagai keperluan yang menguntungkan seperti pertanian, irigasi, proses produksi, penyiraman toilet dan untuk penambahan air tanah (non potable) dan bukan ditujukan untuk kebutuhan air minum. Beberapa metode pemurnian air yang lazim digunakan yaitu :

1. Filtrasi 2. Klorinasi 3. Ozonisasi

Efluen / Effluent

Effluent atau dalam bahasa Indonesia disebut juga efluen adalah hasil sampingan yang akan dibuang dari suatu proses. Sedangkan efluen industri adalah buangan industri yang akan dibuang ke perairan ataupun udara.[7] Efluen Waste Water Treatment (WWT) adalah hasil samping dari proses WWT yang akan dibuang keluar. Sedangkan efluen WWT PT YMI adalah hasil sampingan proses WWT berupa cairan yang akan dibuang ke kawasan industri MM2100.

Reverse Osmosis

(3)

larutan dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi sampai terjadi kesetimbangan konsentrasi melewati membran semipermiabel.

Gambar 1. Peristiwa Reverse Osmosis

Tekanan osmosis (dilambangkan dengan π (pi)) adalah fungsi konsentrasi dari padatan terlarut dimana rentangnya dari 0,6 – 1,1 psi untuk setiap 100 ppm total dissolved solid (TDS). Sebagai contoh untuk air payau dengan TDS 1.500 ppm harus menggunakan tekanan osmosis sebesar 15 psi. Untuk air laut dengan TDS 35.000 ppm harus menggunakan tekanan osmosis sekitar 350 psi.

Dalam proses filtrasi dengan menggunakan membran reverse osmosis, terdapat beberapa faktor-faktor yang saling berkaitan sehingga akan mempengaruhi pula kualitas air hasil filtrasi. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :

1. Tekanan.

2. Temperatur/suhu

3. Kepadatan/kerapatan membran 4. Kepadatan/kerapatan membran 5. Recovery Factor

6. Salt Rejection (rejeksi garam-garaman) 7. Ketahanan Membran

8. pH

9. Kekeruhan (Turbidity)

10.Pengolahan awal (Pretreatment) 11.Pembersihan (Cleaning)

Membran R.O memiliki ukuran pori < 1 nm. Karena ukuran porinya yang sangat kecil, membran R.O disebut juga membran tidak berpori. Membran R.O dibuat dari berbagai bahan seperti selulosa asetat (CA), poliamida (PA), poliamida aromatis, polieteramida, polieteramina, polieterurea, polifelilene oksida, polifenilen bibenzimidazol, dan lain-lain. Membran komposit film tipis terbuat dari berbagai bahan polimer untuk substratnya ditambah polimer lapisan fungsional diatasnya. Fouling membran merupakan perubahan irreversibel yang terjadi pada membran yang disebabkan oleh interaksi fisik dan atau kimia spesifik antara membran dan komponen-komponen yang ada dalam aliran proses. Beberapa cara untuk mengurangi terjadinya fouling :

1. Perlakuan awal larutan umpan 2.Merubah sifat membran

3.Kondisi operasi

4.Pembersihan membran (membrane cleaning)

Karbon Aktif

(4)

digunakan untuk mengkarakterisasi kinerja karbon aktif. Nomor iodin didefinisikan sebagai miligram iodin yang teradsorpsi oleh satu gran karbon saat konsentrasi iodin dalam filtrat sisa 0,02. Pada dasarnya jumlah iodin adalah ukuran dari iodin yang teradsorpsi di pori-pori dan dengan demikian merupakan indikasi dari volume pori yang tersedia dalam karbon aktif.

Mikrofiltrasi

Mikrofiltrasi adalah proses filtrasi untuk menghilangkan kontaminan dari fluida dengan menggunakan tekanan sebagai gaya dorong. Mikrofiltrasi merupakan salah satu dari sejumlah proses filtrasi menggunakan membran. air baku disaring melalui bahan plastik atau polimer yang berisi jutaan pori-pori kecil. Penyaringan terjadi karena pori-pori membran mikrofiltrasi memiliki ukuran yang cukup agar dapat dilalui oleh air, sedangkan kontaminan seperti partikulat dan organisme pathogen akan tertahan di atas membran. Membran yang digunakan umumnya memiliki ukuran pori berkisar antara 0,05-10 mikron(µm). Bahan membran biasanya terbuat dari keramik, teflon, polypropylene, atau plastiklainnya.

Break Even Point (BEP)

Break event point adalah suatu keadaan dimana dalam suatu operasi perusahaan tidak mendapat untung maupun rugi/ impas (penghasilan = total biaya). BEP amatlah penting kalau kita membuat usaha agar kita tidak mengalami kerugian. Untuk menghitung BEP kita bisa hitung dalam bentuk unit atau price tergantung untuk kebutuhan. Berikut rumus yang dapat digunakan :

Atas dasar unit :

𝐵𝐸𝑃𝑢𝑛𝑖𝑡 =𝑃−𝑉𝐶𝐹𝐶 (1)

Atas dasar sales dalam rupiah :

𝐵𝐸𝑃𝑟𝑢𝑝𝑖𝑎ℎ =1−𝐹𝐶𝑉𝐶 𝑃

(2)

dengan:

FC : Biaya Tetap

P : Harga jual per unit VC : Biaya Variabel per unit

1.2 Lean Manufacturing

Lean Manufacturing merupakan sistem produksi yang menekankan pada suatu filosofi continuous improvement yang dilakukan dengan cara mengeliminasi atau mengurangi waste di semua aspek yang berkaitan dengan aliran produk dari supplier sampai ke tangan customer, sehingga didapatkan metode yang paling efisien.

1.3 Quality Control Circle

Quality Control adalah aktivitas memelihara dan memperbaiki produk dan pelayanan yang ditawarkan kepada perusahaan, quality control bukan hanya menjadi tanggung jawab bagian quality control saja, tetapi seluruh karyawan atau pihak menjadi satu kesatuan memecahkan masalah ini. QC seven tools adalah alat yang digunakan sebagai media untuk melakukan pengukuran ataupun indikator keberhasilan/ keefektifan suatu aktifitas. Tujuh alat yang digunakan meliputi:

1. Check Sheet 2. Check Drawing 3. Pareto

(5)

1.4 Depresiasi (Penyusutan)

Depresiasi adalah sebagian dari harga perolehan suatu aktiva berwujud yang dialokasikan atau diakui sebagai biaya baik setiap tahun atau setiap bulan setiap periode akuntansi. Faktor – faktor yang mempengaruhi biaya depresiasi :

 Harga perolehan (HP)

 Nilai residu (sisa)

 Taksiran umur ekonomis

Metode perhitungan depresiasi :

 Metode garis lurus (straight line method), dengan rumus sebagai berikut :

𝐷𝐸𝑃𝑅𝐸𝑆𝐼𝐴𝐼𝑆𝐼 =𝐻𝑃−𝑁𝑅𝑈𝐸 (3) Keterangan :

HP = Harga Pokok NR = Nilai Residu UE = Umur Ekonomis

 Metode jam jasa (service hours method)

 Metode hasil produksi (productive output method)  Metode beban berkurang (reducing charge method)

2. Metode

Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : 1. Observasi Awal

Pada tahap ini dilakukan observasi awal baik berupa wawancara, studi langsung ke lapangan dan dokumentasi tentang studi yang berhubungan dengan Reverse Osmosis untuk menyelesaikan masalah yang ada

2. Identifikasi Masalah

Pada tahap ini dilakukan pengamatan awal terhadap kebijakan perusahaan yang diharuskan adanya penghematan biaya pemakaian air domestik. Pengidentifikasian masalah dilakukan dengan mengamati pemakaian air domestik yang tinggi dan dilakukan perbaikan dengan perancangan sistem reverse osmosis. setelah itu dirumuskan masalah secara sistematis dan ditentukan tujuan dari penelitian ini.

3. Studi Pustaka

Pada tahap ini dilakukan studi literatur baik melalui jurnal maupun text book yang berhubungan dengan Reverse Osmosis untuk menyelesaikan masalah yang ada.

4. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan sebagai bahan informasi untuk memenuhi kebutuhan dalam menganalisa dan menyelesaikan masalah. Data-data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah :

a. Data biaya pemakaian air domestik. 5. Pengoalahan Data dan Analisis.

Dari hasil analisis data, kemudian dilakukann perancangan teknologi daur ulang air efluen, yaitu :

a. Perancangan Sistem Reverse Osmosis b. Analisis Depresiasi Sistem Reverse Osmosis

c. Analisis dampak penerapan reverse osmosis terhadap biaya pemakaian air domestik d. Analisis BEP

e. Pembuatan SOP

6. Penarikan kesimpulan dan Saran

(6)

3. Hasil dan Diskusi

Setelah dilakukan penelitian, maka didapatkan hasil sebagai berikut :

3.1 Pengumpulan Data

Data yang menjadi sumber adalah data pemakaian air domestik, dengan rincian sebagai berikut : Data – data yang berkaitan dengan pemakaian air domestik YMI Plant 2 dikumpulkan untuk selanjutnya diolah agar bisa ditentukan target penghematan air. Di bawah ini data pemakaian air domestik YMI Plant 2 tahun 2010 :

Tabel 1. Data Pemakaian Air Domestik YMI Plant 2 April-September 2010

Section April 2010 Mei 2010 Juni 2010 Juli 2010 Agustus 2010 September 2010 Rata-rata

Prod Muffler 2,395.00 2214.1 2120.1 1976.8 2,957.70 1834.6 2249.72

Support & Utility 643.00 755 434 663 750.00 586 638.50

Office & GA

(Domestik) 2,240.10 2160.66 2461.51 2347.58 2,283.60 1510.33 2167.30 TOTAL 5,278.10 5,129.76 5,015.61 4,987.38 5,991.30 3,930.93 5055.51

Sumber Data : Laporan seksi Facility Provider

Pembacaan tabel diatas, untuk rata-rata pemakaian air domestik sebesar 2167.30 m3 sedangkan rata-rata pemakaian air untuk keperluan produksi 2249 m3. Di bawah ini disajikan secara garfik. Jika data diatas diprosentasekan, maka akan terlihat data seperti grafik dibawah ini :

Grafik 2. Prosentase Rata-rata pemakaian Produksi VS Pemakaian Domestik April-Sept 2010

Dengan mengolah data diatas, kita bisa mengkonversi data pemakaian menjadi data biaya pemakaian, dimana perhitungannya adalah sebagai berikut :

 Pemakaian air produksi : 2249,72 m3

 Pemakaian air domestik : 2167,30 m3

Biaya yang harus dikeluarkan untuk kedua data diatas adalah sebagai berikut :

 Aktual biaya pemakaian air produksi : Rp

20,247,480.- Aktual biaya pemakaian air domestik : Rp 19,505,700.-note :Biaya 1 m3 = 1 US $ dengan asumsi kurs Rp 9000

hal diatas bertolak belakang dengan target management yang mentargetkan biaya pemakaian air adalah sebagai berikut :

 Maksimal pemakaian air produksi : Rp

20,000.000.- Maksimal pemakaian air domestik : Rp 15,000,000.-Note : target diambil dari Activity Plan Dept.Plan Service

Maka target penghematan air yang akan penulis capai adalah sebagai berikut :

42.60% 41.10%

10% 30% 50% 70% 90%

(7)

 Deviasi biaya = Aktual biaya pemakaian air domestik - Maksimal pemakaian air domestik

 Deviasi biaya = Rp 19,505,700 - Rp 15,000.000 = Rp 4,505,700

 Prosentase target = Deviasi Biaya x 100 %

Aktual Biaya Pemakaian Air Domestik

 Prosentase target = Rp 4,505,700 x 100 % = 23.09 % Rp 19,505,700

Jadi target yang ingin dicapai oleh penyusun yaitu 23.09 % penurunan biaya pemakaian air domestik.

3.2 Penentuan Sebab-Akibat Dominan

Dalam menentukan akar permasalahan dan solusi, penyusun menggunakan tools diagram tulang ikan (fish bone), seperti ditunjukan pada diagram di bawah ini :

Gambar 2. Diagram Fish Bone

Dari diagram diatas, maka penyusun mencari penyebab dominan serta solusi yang ditawarkan dengan menggunakan diagram sebab akibat seperti ditunjukan dalam tabel dibawah ini :

Tabel 2.Tabel sebab akibat

FAKTOR PENYEBAB AKIBAT SOLUSI

(8)

Man (manusia)

Karyawan belum tahu arti penting tentang manfaat dalam penghematan air

Pemakaian Air Domestik Tinggi

Lebih diintensifkan pengarahan tentang penghematan air ke karyawan dengan media informasi seperti pamflet atau brosur.

Methods Belum ditemukannya oleh karyawan metode pemanfaatan air yang sesuai

Studi literatur tentang penghematan pemakaian air domestik.

Material Industri tidak akan beroperasi tanpa adanya air

-

Environment Tuntutan dari kebersihan dan kerapihan

Mengkampanyekan budaya kerja yang rapi dan bersih dengan media informasi pamflet dan brosur

Machine Belum ditemukannya alat untuk menghemat pemakaian air domestik

Pembuatan suatu alat/sistem untuk menghemat pemakaian air domestik.

Dari tabel sebab akibat diatas, penyusun memilih solusi dari faktor mesin (machine) dan metode (methods), karena faktor inilah yang berkaitan langsung dengan scope pekerjaan penyusun pribadi, sedangkan untuk solusi-solusi dari faktor man dan faktor environment sendiri adalah merupakan bagian dari scope pekerjaan seksi general affair dan sudah dilakukan. Selanjutnya adalah merancang sistem yang akan digunakan untuk menghemat pemakaian air domestik YMI Plant 2.

3.3 Perancangan Sistem R.O

Dibawah ini adalah gambar assembly dari sistem reverse osmosis :

Gambar 3. Rangkaian sistem reverse osmosis

(9)

water atau air bersih yang kemudian masuk ke bak penampung sementara dan dipompa ke torn air, selanjutnya air bersih ini didistribusikan untuk kebutuhan domestik, yaitu :

1.

Flushing toilet area plating

2.

Flushing toilet area welding

3.

Kran pencucian mobil

4.

Kran penyiraman tanaman

5.

Kran rest area depan

6.

Kran rest area belakang

7.

Flusing toilet klinik.

Spesifikasi operasi sistem R.O adalah sebagai berikut :

Tabel 3. Spesifikasi sistem R.O

ITEM SPESIFIKASI

Membran Rating (Production) 45.360 liter/day Membran Rating (TDS Reduction) Max. 96-98 % Drain (Reject Water) Flow 1 x Product Flow

Voltage Transformer 380 Volt ± 10 % - 4 kw – 50 Hz – 13.9/8A

Percent Recovery 20-25 % Diagphram Pump Pressure 150-200 psi Replacement Sediment 1 Micron Bigblue 20”

Replacement Membran Filmtec 30-4040 TW/BW

3.4 Depresiasi Sistem R.O

Sistem

reverse osmosi

mempunyai harga perolehan sebesar Rp 236,940,000, taksiran nilai sisa

sebesar Rp 35,000,000,- dan umur ekonomisnya ditaksir selama 4 tahun. Penyusun akan

menggunakan metode garis lurus (

straight line method)

, maka depresiasi tiap tahun sebesar :

𝐷𝐸𝑃𝑅𝐸𝑆𝐼𝐴𝐼𝑆𝐼 =𝐻𝑃 − 𝑁𝑅𝑈𝐸

𝐷𝐸𝑃𝑅𝐸𝑆𝐼𝐴𝐼𝑆𝐼 =𝑅𝑝 236,940,000 − 𝑅𝑝 35,000,0004

= Rp 50,485,000,- / tahun

= Rp 4,207,083,-/bulan.

Tabel 4. Depresiasi mesin sistem R.O

Akhir Tahun Ke Biaya Depresiasi (D) Akumulasi Depresiasi (K) Total Akumulasi Depresiasi Nilai Buku Aktiva Rp 236,940,000 1 Rp 50,485,000,- Rp 50,485,000,- Rp 50,485,000,- Rp 186,455,000 2 Rp 50,485,000,- Rp 50,485,000,- Rp 100,970,000 Rp 135,970,000 3 Rp 50,485,000,- Rp 50,485,000,- Rp 151,455,000 Rp 85,485,000 4 Rp 50,485,000,- Rp 50,485,000,- Rp 201,940,000 Rp 35,000,000

Rp 201,940,000 Rp 201,940,000

3.5 Analisis Dampak Penerapan Sistem R.O

Berikut ini adalah tabel pemakaian air domestik setelah diaplikasikannya sistem R.O :

Bulan Sebelum Improvementi April-Sept 2010(dalam satuan m3)

(10)

Tabel 5. Depresiasi mesin sistem R.O

Data tabel diatas menunjukan rata – rata pemakaian air untuk keperluan domestik sebelum adanya recycle air efluen sebesar 2167.30 m3. pada bulan September 2010 terjadi penurunan pemakaian air domestik, dikarenakan hari kerja yang sedikit yang bertepatan dengan libur lebaran tahun 2010. Setelah dilakukan eksperimen recycle air efluen untuk keperluan air domestik, maka didapatkan penghematan air domestik , dimana pemakaiannya menurun menjadi 1031.03 m3 . Dengan mengolah data diatas, maka bisa dilakukan sebuah perhitungan untuk menentukan penghematan pemakaian air domestik, yaitu :

Sistem R.O menggunakan energi listrik dalam proses operasionalnya. Konsumsi energi listrik perlu dianalisis atau dihitung untuk melihat tingkat keefektifan dari pemakaian sistem R.O. Berikut adalaha rincian operasional sistem R.O :

 Waktu Operasional = 8 jam per hari, 20 hari kerja per bulan.

 Pompa Feed Water = 1100 watt = 1.1 KW

 Pompa Booster = 4000 watt = 4 KW

 Pompa Transfer = 1007 watt = 1.07 KW

 Asumsi Harga Listrik = Rp 950 per KWH.

Maka konsumsi listrik yang digunakan oleh sistem R.O adalah :

 Konsumsi Total Pompa = (1.1 + 4 + 1.07) kWH = 6.17 KWH

 Lama Pemakaian = 6.17 KW x 8 = 49.36 KWH

 Biaya Listri = 49.36 KWH x Rp 950 /KWH = Rp 46.832 / hari = Rp 46.832 x 20 = Rp 937.840,-/bulan.

selanjutnya akan dibahas mengenai biaya maintenance dari sistem R.O per bulan. Biaya ini meliputi biaya penggantian dan pembersihan spare part dari alat R.O juga biaya man power. Perincian biaya adalah sebagai berikut :

 Biaya Penggantian Membran = Rp 500.000,-

 Biaya Penggantian Mikrofiltrasi = Rp 250.000,-

 Biaya Karbon Aktif = Rp.0 (Cleaning)

 Total = Rp 750.000,- /bulan

Note : Biaya membran, mikrofiltrasi dan karbon aktif mengacu pada price yang ditawarkan oleh PT Gandonx Jaya Chemical

Total dari biaya operasional per bulan adalah biaya energi listrik ditambah dengan biaya perawatan sistem R.O, yaitu Rp 937.840,- + Rp 750.000,- = Rp 1.687.840,- / bulan.

April 2010 2,240.10 1,868.45

Mei 2010 2160.66 1691.9

Juni 2010 2461.51 680.58

Juli 2010 2347.58 654.09

Agustus 2010 2,283.60 640.58

September

2010 1510.33 650.56

(11)

Benefit

Penghematan air yang telah dicapai oleh sistem R.O adalah selisih dari rata-rata pemakaian air domestik sebelum dilakukan proyek daur ulang/recycle dengan rata-rata pemakaian air domestik setelah dilakukannya proyek daur ulang, yaitu :

 Benefit = 2167.30 m3 – 1031.03 m3 = 1136.27 m3.

 konversi ke currency = 1136.27 m3 x Rp 9.000,- = Rp 10.226.430,- per bulan. Note : Asumsi harga air baku 1 m3 = 1 US $ dengan kurs = Rp 9000

 Benefit cost = Benefit – Operational Cost = Rp 10.226.430 - Rp 1.687.840 = Rp 8,538,590,- / bulan.

3.6Break Even Point (BEP)

Pada bagian ini akan dibahas mengenai Break Even Point dari penggunaan sistem R.O dalam rangka penghematan pemakaian air domestik, Break even Point dirumuskan sebagai berikut :

𝐵𝐸𝑃 = 𝐹𝐶

𝑃−𝑉𝐶

𝐵𝐸𝑃 = 𝑅𝑝 230,000,000

𝑅𝑝 10,226,430−(𝑅𝑝 1,687,840+𝑅𝑝 4,207,083)

𝐵𝐸𝑃 =𝑅𝑝 230,000,000

𝑅𝑝 4,331,507

= 53 bulan ≈ 4,41 tahun

.

Dengan :

 FC = Biaya investasi mesin R.O

 P = Keuntungan/benefit per bulan

 VC = Biaya operasional (Listrik + maintenance / perawatan + nilai depresiasi mesin) per bulan.

3.7 Standard Operational Procedure (SOP)

Standard Operational Procedure (SOP) secara umum diilustrasikan seperti berikut :

Air Efluen WWT Mulai

Analisa Laboratorium

Sistem Reverse Osmosis

Kebutuhan Domestik Parameter masuk NAB

Ya Proses WWT

(12)

Gambar 4. Flow SOP sistem reverse osmosis 4. Kesimpulan

1.

Penghematan air domestik di PT. Yutaka Manufacturing Indonesia Plant 2 dapat dilakukan dengan cara recycle air efluen WWT menjadi air bersih (digunakan kembali untuk keperluan domestik) melalui sistem reverse osmosis dengan treatment awal resin kation, karbon aktif, dan mikrofiltrasi.

2.

Analisis depresiasi sistem reverse osmosis yang telah dirancang yaitu sebesar Rp 50,485,000,- / tahun atau Rp 4,207,083,-/bulan.

3.

Analisis dampak penerapan sistem reverse osmosis terhadap pemakaian air domestik di YMI Plant 2 adalah sebagai berikut :

 Penghematan Air : 1136.27 m3 atau 52.43 %.

 Benefit :Rp 8,538,590,- / bulan

 Biaya operasional : Rp 1.687.840,- / bulan.

 BEP : untuk break event dari investasi sistem ini tercapai selama 53 bulan ≈ 4,41 tahun.

Daftar Pustaka

1.

Baridwan, Zaki. 1994, Intermediate Accounting. Yogyakarta: BPFE Yogyakarta.

2.

Chandra, Budiman, , 2007, Pengantar Kesehatan Lingkungan, EGC, Jakarta. Diakses dari http://books.google.co.id/books?id=dOrH3zuDYdgC&pg=PA57&dq=klorinasi&hl=id&ei=li6 ATumbFI2HrAft6PH7Dw&sa=X&oi=book_result&ct=result&resnum=1&ved=0CCgQ6AEwAA# v=onepage&q=klorinasi&f=false pada 8 Agustus 2011.

3.

Kucera, J., 2010, Reverse Osmosis Industrial Aplication and Processes, Screvener Pullishing LLC, Canada.

4.

K. Liker, Jeffry, 2006, The Toyota Way: 14 Prinsip Manajemen dari Perusahaan Manufaktur terhebat di dunia. Edisi Indonesia. Cetakan Pertama. Jakarta: Erlangga.

5.

Kieso, Donald E. dan Jerry J. Weygandt., 1995, Intermediate Accounting 8th Edition.New York: John Willey & Sons.

6.

Metcalf and, E., 2004, ”Waste Water Engineering Treatment Disposal Reuse”, Fourth edition, McGraw-Hill, Inc. New York, St. Fransisco, Auckland.

7.

Nur . M. Rifaid, 2000, Sebuah Studi Tentang Fenomena Fouling pada Membran Hollow fiber. Pusat Pengembangan Pengelolaan Limbah Radioaktif.

8.

Ohno, Taiichi, 1995, Just in Time dalam Sistem Produksi Toyota, Seri Manajemen No:168, Edisi Indonesia Cetakan pertama, Jakarta: PPM.

9.

Osada, Takashi, 1995, Sikap Kerja 5S, Seri Manajemen No:160 Edisi Indonesia Cetakan pertama, Jakarta: PPM.

10.

Pudjaatmaka, A. Hadyana, 2002, Kamus Kimia, Balai Pustaka, Jakarta.

11.

Sari. E, R. Agung, Laksmono. R, Pengaruh Tekanan Reverse Osmosis pada Pengolahan Air Payau Menjadi Air Bersih, Jurusan Teknik Lingkungan, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

(13)

13.

Sulistyani, E., 2010, Pengendalian Fouling Membran Ultrafiltrasi Melalui Automatic Backwash dan Pencucian Membran, Skripsi S1 pada Fakultas Teknik Jurusan Teknik Kimia, Universitas Diponegoro.

Gambar

Gambar 1. Peristiwa Reverse Osmosis
Tabel 1. Data Pemakaian Air Domestik YMI Plant 2 April-September 2010
Gambar 2. Diagram Fish Bone
Gambar 3. Rangkaian sistem reverse osmosis
+2

Referensi

Dokumen terkait

dengan Judul “ Pengaruh Tekanan Pada Membran Reverse Osmosis Terhadap Pengolahan Air Payau Menjadi Air Tawar Melalui Proses Water Treatment ”... Laporan ini disusun untuk

Pada sistem reverse osmosis di PLTU Paiton Unit 9 mempunyai 2 area PX yang setiap areanya terdiri dari 5 buah PX yang disusun secara parallel, sehingga proses

Air yang digunakan untuk pencucian darah ini menggunakan air yang diolah khusus menggunakan sistem Reverse Osmosis ( RO ). Air baku yang digunakan yaitu berasal dari PDAM dan

Ketiga struktur lapisan komposit ini menyokong membran reverse osmosis dengan kemampuan separasi yang baik (rejeksi garam dan permeasi air yang tinggi) serta kekuatan

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh keterbatasan panjang ruang sistem desain desalinasi Brackish Water Reverse Osmosis (BWRO) terhadap proses dan

Pada penelitian ini air yang masuk ke dalam membran sebelumnya dilakukan proses pengolahan awal terlebih dahulu menggunakan filter pasir dan karbon aktif, kedua filter ini

Setelah proses filtrasi pada variasi tekanan 2 bar selesai maka dilakukan metode backwash dengan cara mengalirkan akuades kedalam membran reverse osmosis pada proses

Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui proses recycle air limbah menggunakan teknologi reverse osmosis dengan kualitas air yang baik dan efisiensi biaya air bersih di