Draft Laporan Penelitian Strategi Kelang

15 

Teks penuh

(1)

1 Abstrak

Strategi kelangsungan telah menjadi jalan hidupbagi orang-orang yang selamat dari peristiwa berbahayaatau penderitaan yang bisa merenggut nyawa (penyintas). Di desa Nanga-nanga tempat para eksil tahanan politik 65 hidup menjadi tahanan politik yang telah bertahan hingga mewariskan sejarah kepada beberapa generasi.Hidup dalam kemiskinanyang dialami komunitas Nanga-nangasejak masaOrde Baru hingga reformasi tidak membuat mereka lelah berusaha dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari untuk bertahan hidup. Cerita orang bertahan hidup adalah bentuk kemandirian yang membentuk suatu kekuatan dalam hidup bersama dala m penderitaan secara sosial maupun psikis. Pertanyaan dialamatkan kepada komunitas Di kelurahan Nanga-Nanga Kota Kendari Bagaimanastrategi mempertahankan hidup dalam keterbatasan secara social dan politik di era reformasi dan bagaimana mereka menghadapi stigmatisasi dan upaya yang dilakukan untuk bertahan dengan beragam strategi kelangsungan hidup mereka? tujuan yang diharapkan dalam penelitian ini adalah mengungkap cara komunitas eks tapol dalam mempertahankan hidup di tengah keterbatasan dari pemerintah.Untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian studi kasus. Metode kualitatif adalah dengan melakukan pendalaman kehidupan social dan cara mereka bertahan hidup. Wawancara dilakukan kepada eksil tapol dan generasi setelahnya.Hasil penelitian menunjukkan para penyintas bertahan hidup dengan bertani, berdagang dan menjadi buruh di kota. Setelah pencabuan TAP MPRS No. XXV Tahun 1966 tentang pelarangan PKI oleh Presiden Abdul Rahman Wahid, para eksil di Nanga-nanga beserta keluarga memulai menata hidup seperti masyarakat pada umumnya tanpa diskriminasi.

(2)

2 1. Pendahuluan

a. Latar Belakang

Strategi bertahan hidup adalah sebuah konsep yang berkaitan dengan kem iskinan atau keterbatasan yang dialami oleh komunitas. Entitas ini berkaitan dengan kemiskinan, randahnya pendapatan (Krantz, 2001).

Konsep strategi bertahan hidup berkembang setelah Robert

Chambers dan Gordon Conway (1991) menjelaskan dalam teorinya bahwa: a livelihood comprises the capabili-and access) and activities required for a means of living: a livelihood is sustainable which can cope with and recover from stress and shocks, maintain or enhance its capabilities and assets, and provide sustainable livelihood opportunities for the next generation; and which contributes net benefits to other livelihoods at the local and global levels and in the short and long term (Chambers and Conway 1991, 6). (Knutsson, 2006)

Pembangunan yang berorientasi pemberdayaan masyarakat menuntut konsep strategi dari Chambers dan Conway dikembangkan yang tidak hanya pada satu aspek namun aspek lain untuk mendukung konsep strategi bertahan hidup. Yang kemudian berhasil mengintegrasikan pembangunan di pedesaan yang sangat kompleks (Knutsson, 2006).

Sangat disayangkan riset ilmu social penggalianstrategi bertahan hidup hanya berada diantara masyarakat pedesaan dan masyarakat miskin

perkotaan namun membahas strategi kelangsungan hidup komunitas Tapol-65 (baca PKI)masih sangat terbatas. oleh karena itu, kehidupan keluarga eks tahanan politik di Nanga-nangakota Kendari dalam mempertahankan hidup menjadi alasan utama dari penelitian ini untuk mengambilnya sebagai fokus kajian. Saat ini perbincangan ilmu sosial hanya berkisar pada„tema-tema

(3)

3 Di Desa Nanga-Nanga, kehidupan sosial politik tidak berbeda jauh dengan kehidupan sosial tahanan politik lainnya yang ada di Indonesia, misalnya keterbatasan mengakses pendidikan, produktivitas yang sangat tergantung pada pertanian, dan stigma PKI masih melekat dalam ruang sosial mereka. Kurangnya peluang mendapatkan pekerjaan akibat dari kebijakan Orde Baru mengakibatkan pendapatan eks.tahanan politik,

menjadi tidak menentu. Hal tersebut tidak dapat dipungkiri karena memang pada umumnya masyarakat masih mengalami trauma sejarahtentang PKI.

Namun dibalik keterbatasan mereka, ternyata para penyintas itu juga menyumbangkan konstribusi nyata dalam proses pembangunan, dalam arti yang spesifik bahwa eks.tahanan politik juga memberikan konstribusi dalam bentuk pendapatan nyata melalui kegiatan-kegiatan produktif bagi rumah tangga mereka. Akan tetapi pada satu pihak konstribusi nyata tersebut belum diperhitungkan sebagai suatu hal yang berarti. Oleh karena itu untuk dapat menunjukkan seberapa besar konstribusi nyata yang dapat diberikan oleh kelompok eks.tahanan politik utamanya di pedesaan dalam proses pembangunan pada suatu daerah, maka perlu dilakukan suatu penelitian yang ilmiah dan mendalam agar diperoleh suatu gambaran, dan informasi yang akurat tentang potensi eks.tahanan politik produktif pada suatu daerah/wilayah tertentu. Karena luasnya pembahasan mengenai hal ini, maka perlu membatasi fokus kajian ini dengan hanya melihat strategi kelangsungan hidup mereka.

b. Rumusan Masalah

Pengembangan masyarakat penting melihat arus bawah sebagai

bagian penggerak demokratisasi. Hal ini sebagai bagian penting dalam mewujudkan keberdayaan masyarakat terutama lapisan bawah. Gagasan

(4)

4 mereka. oleh karena itu rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana strategi kelangsungan hidup yang dilakukan eks. tapol di Nanga-nanga dalam memenuhi kebutuhan social ekonomi pasca reformasi?

c. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan penulisan ini sebagai peta sosial awal eks.tahanan politik untuk penelitian-penelitian selanjutnya. Penggalian kegiatan kemandirian

eks. tapol dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari ditengah stigmatisasi di masyarakat diharapkan dapat menjadi potret sosial dalam pengambilan kebijakan bagi masyarakat/kelompok kecil. Pola kemandirian ini penting dilihat sebagai bagian pembelajaran demokrasi di tingkat lokal. Hal tersebut penting mengingat isu-isu masyarakat lokal selalu dipinggirkan dalam arus wacana demokrasi modern saat ini. Kemandirian di aras lokal yang baik diharapkan bisa menjadi tawaran alternatif dalam menopang proses demokratisasi. Kegiatan partisipatif yang dilakukan masyarakat korban Orde Baru diharapkan dapat membuahkan hasil yang diharapkan.

Sedangkan manfaat penelitian ini kemudian diharapkan agar aktifitas mereka menjadi langkah awal pengembangan masyarakat secara khusus guna mencapai kehidupan yang lebih baik.

d. Luaran/target yang diharapkan

Adapun luaran yang dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Terpublikasinya hasil penelitian pada jurnal nasional terakreditasi atau internasional serta menjadian bahan kajian pada seminar-seminar lokal. 2. Terpublikasinya hasil penelitian sebagai bahan pembelajaran terkait

pengelolaan komunitas marginal atau terpinggirkan.

2. Tinjauan Pustaka

a. Strategi kelangsungan hidup (livelihood strategy)

(5)

5 berbeda. Hal ini terkait tentang upaya seseorang dalam menyikapi antara aktifitas dan tempat mereka (Schoones, 2009). dengan mengutip Robert Chambert dan Conway, Schooler melihat bahwa strategi kelangsungan hidup sebagai perbandingan kapabilitas, aset termasuk material sumberdaya social dan aktifitas dari mereka yang mengusakan (ibid).

Dewi Ayu Hidayati (2013) dalam penelitiannya pada rumah tangga

miskin Bandar Lampung menjelaskan bahwa upaya dalam mempertahankan hidup dilakukan dengan bekerja giat, meminjam uang dan kegiatan ekonomi lainnya untuk mempertahankan hidup.

Sebagai sebuah konsep, strategi kelangsungkan hidup memiliki kerangka dalam menjelaskan fenomena. Kerangka teori kelangsungan hidup dikembangkan oleh Department for International Development (DFID) dengan membagi beberapa bagian yaitu; modal manusia (human capital), sumber daya alam (natural capital), sumber daya keuangan (financial capital), modal social (social capital), modal psikologi (physical capital).

Tabel 1: Kerangka Acuan Strategi Kelangsungan Hidup

Sumber: DFID, (1999)

3. Metode Penelitian

a. Koleksi data dan Metode Penelitian

(6)

Nanga-6 nanga. Sebagai tambahan informasi penelitian ini akan melakukan wawancara kepada pemangku kepentingan terkait di pemerintah kota Kendari yang terkait dengan pemberdayaan komunitas di Kendari. Adapun responden yang menjadi penelitian ini adalah saksi sejarah atau keluarga eksil tapol yang masih hidup. Observasi dilakukan untuk mendukung data penelitian.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dielaborasi dengan data-data yang bersifat narasi (kualitatif) sehingga analisis penelitian dapat menggambarkan kenyataan yang ada.Koleksi data dilakukan sebulan penuh di pertengahan tahun 2016. Untuk memudahkan koleksi data, peneliti mengadakan kesepakatan waktu wawancara untuk saling mengenal dan mendalami kegiatan social ekonomi komunitas tahanan politik di Nanga-nanga. Sekedar informasi saat ini eksil tapol PKI hanya menyisakan dua orang yang telah memasuki usia senja kini hanya menyisakan generasi kedua dan ketiga.

1. Penggalian dan Analisis Data

Penggalian dan analisis data dilakukan yakni studi literatur/kepustakaan, dan wawancara semi struktur dan menggunakan pedoman wawancara dan video untukmengumpulkan data di lapangan. Tahap pertama dilakukan adalah dengan membaca karya akademik berupa buku, makalah ilmiah, maupun artikel yang relevan dengan studi ini.

Kedua, tahap ini penulis berusaha mencari informasi tentang masalah yang diteliti dengan mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan kemandirian sosial eks tahanan politik. Wawancara baik terstruktur

dan tidak terstruktur dilakukan dengan maksud untuk menggali keterangan penting dan bukti empirik sehingga peneliti bisa mengidentifikasi

(7)

7 Menurut Maleong (2011) analisis data adalah proses pengorganisasian dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan sesuai hipotesis kerja seperti yang diteliti. Data yang ada, selanjutnya disusun ke dalam pola tertentu, fokus tertentu, tema tertentu atau pokok permasalahan tertentu. Data kemudian diorganisasikan.

4. Hasil Penelitian dan Pembahasan 1. Sejarah PKI di Sulawesi Tenggara

2. Selayang Pandang Nanga-nanga Kota Kendari

Tidak banyak yang tahu bahwa Nanga-nanga yang berada dalam wilayah administrasi kecamatan Baruga Kota Kendari Sulawesi Tenggara adalah lokalisasi bagi eksil tahanan politik (tapol 65) atau lazim disebut eks tahanan PKI. Nanga-nanga masuk dalam adminstrasi RT 07 dan RT 08 menurut staf kelurahan Baruga. Namun setelah penulis bertemu dengan ketua RT 07 yang juga generasi kedua tapol 65 mengoreksi bahwa yang masuk dalam lokalisasi tahanan atau wilayah tapol hanya di RT 07 dengan ditinggali 22 KK1

Awalnya tanah yang diberikan pemerintah kepada tapol mencapai 1000. Satu tapol mendapatkan jatah dua hektar. Luas tanah yang dimiliki lama kelamaan menyusut dengan klaim sepihak oleh warga yang mengaku sebagai pemilik tanah adat yang diambil oleh pemerintah yang saat ini masih dalam sengketa. Ada juga tapol yang menjual tanah kepada orang lain dan mencari kehidupan di Kendari atau kembali ke kampung asalnya di Raha, Buton, Konawe dan Sulawesi Selatan.

Untuk sampai ke kampung itu jarak dibutuhkan waktu 15-20 menit dari kota yang berjarak 20 kilometer saja. Jalan masih pengerasan dan

sebagian sudah beraspal. Saat ini pembangunan infrastruktur jalan sedang dilakukan untuk mengembangkan daerah yang dulu masih terisolir ini. Pembangunan itu terlihat dengan pesiapan pembangunan perumahan bagi

1

(8)

8 PNS Sulawesi Tenggara, jalan lingkar dan persiapan pembangunan gedung olah raga.

Nanga-nanga adalah sejarah perjuangan hidup bagi tahanan atau penyintas eks PKI. Bagi mereka kampung itu telah menulis banyak sejarah yang lebih banyak berisi kisah pilu kehidupan yang dijalani sejak mereka tiba di awal tahun 1977.Hingga sekarang cerita tentang kehidupan di

Nanga-nanga selalu menguras air mata bagi penyintas yang hidup. Sekarang sebagian besar tahanan di generasi pertama telah banyak yang meninggal dan hanya menyisakan dua orang di lokalisasi. Sisanya meninggalkan Nanga-nanga atau hidup di daerah lain.

Pelaku sejarah yang masih tinggal di Nanga-nanga La Fauzu (80 tahun) menuturkan bahwa Dia tiba di Nanga-nanga tahun 1970 dari penjara Ameroro. Jumlah tahanan waktu itu mencapai 200 orang. Setelah pembebasan untuk persiapan sosialisasi kemudian ditempatkan di Nanga-nanga. Awal kehidupan bertahan hidup dimulai. Sebagian tahanan menerima tawaran dari pemerintah untuk diberi tempat di Nanga-nanga sebagian lagi memilih untuk pulang ke kampung masing-masing.

(9)

9 3. Mengenal Lebih Dekat Tahanan Politik di Nanga-nanga

La Fausu

Lelaki berkopiah itu sedang menikmati siaran televisi di toko sembako miliknya siang itu. Tidak banyak dilakukannya kecuali dengan

menunggui pembeli. Mahasiswa yang mendampingi dalam penelitian saya

menanyakan nama yang kami cari. Lelaki tua itupun menjawab, “ia saya sendiri”. Lelaki itu bernama La Fausu. Ia kemudian memperisilahkan masuk

ke rumahnya dengan awalnya menanyakan maksud kedatangan kami. Setelah kami memperkenalkan diri dan maksud kedatangan kami baru kemudian perbicangan menjadi cair.

Nampak jelas guratan di wajahnya yang menandakan usianya telah memasuki usia senja. Usianya kini memasuki 80 tahun. Usia tersebut tidak menyurutkan semangat untuk menceritakan kisah pilunya sebagai seorang yang masih bertahan hidup sebagai eksil tahanan politik.

Dulunya La Fausu adalah ketua serikat buruh di Buton. Awal bergabungnya Dia dengan PKI ketika Dia menjadi buruh pabrik di Buton kemudian bergabung menjadi anggota PKI karena dianggap sebagai sejalan dengan roh perjuangan kaum buruh. La Fausu paham betul beberapa buku seperti dibawah Bendera Revolusi karya Sukarno dan beberapa buku yang mengulas tentang PKI. Sampai sekarang nada imaji tentang perjuangannya masih tergambar jelas walau usia senja. Selanjutnya La Fausu bergabung dalam tentara rakyat yang dibentuk pemerintah Sukarno untuk mengganyang Malaysia tahun 1962-1966. La Fausu memimpin laskar dari Sulawesi Tenggara sebanyak 200 orang.2 Laskar kemudian batal berangkat perang karena peristiwa 1965.

Dia menceritakan jumlah anggota PKI di Sulawesi Tenggara mencapai puluhan ribu. Jumlah anggota di Sulawesi Tenggara berjumlah

2

(10)

10 36.000.3 Tidak ada rujukan yang memadai angka pasti yang menunjukkan anggota PKI di Sulawesi Tenggara sebanyak itu. Namun jika merujuk pada angka anggota PKI yang meninggal mencapai 200-300 ribu (Tempo, 09/2015). Majalah National Geographic Indonesia edisi September 2014 korban pembantaian, penyiksaan dan penahanan tanpa pengadilan anggota atau yang dianggap simpatisan PKI antara tahun 1965-1966 mencapai jutaan

orang. Jika merujuk pada data itu prediksi La Fausu bisa dibenarkan.

Peristiwa 30 September 1965 dimana beberapa jenderal dibunuh oleh pimpinan PKI menjadi awal kisah kelam La Fausu. Situasi semakin tidak menentu dan memanas ketika pemerintah menuding PKI sebagai dalang pembunuhan para jenderal. La Fausu sebagai koodinator buruh yang dengan PKI akhirnya dipenjara tanpa proses pengadilan.

Hari-hari gelap dirasakan La Fausu. Dimulai dari penjara di Buton, kemudian dibawa ke Ameroro. Dalam masa tahanan yang mencapai belasan tahun itu La Fausu mengalami penyiksaan fisik dan psikis. Tidak terhitung jumlah penyiksaaan yang dialaminya. La Fausu memperlihatkan luka-luka yang masih membekas di kaki dan tangannya. Dia menuturkan:

“ketika tengah malam…..

Ingatan La Fausu sudah tidak memadai akibat hantapan popor senjata aparat yang menginterogasi. La Fausu bercerita seperti tidak pernah mengalami kejadian memilukan itu. Sesekali dia bercerita sambil tertawa dan memperlihatkan gusinya yang tak lagi bergigi. Semua giginya tanggal dihantam senjata aparat. La Fausu hanya dipenjara belasan tahun namun trauma psikologi masih membekas hingga sekarang.

Mangi (Ketua RT 07)

Lelaki yang kami temui selanjutnya adalah Pak Mangi yang bermur

40-50an adalah generasi kedua dari eksil tapol PKI. Sekarang Dia menjabat sebagai ketua RT 07 di Nanga-nanga. Sebagai kepala rukun tetangga, Mangi mengetahui banyak tentang kehidupan social eksil tapol 65 di Nanga-nanga.

3

(11)

11 Dia juga anak dari eksil 65. Ayahnya seorang guru yang ditangkap oleh aparat karena dianggap sebagai simpatisan PKI.

Pak Mangi demikian Dia selau disapa, telah hidup selama 20 tahun di kampung eksil tapol itu.

Dia menceritakan sebelum reformasi, komunitas tapol bertahan hidup dengan mengandalkan alam sekitar Nanga-nanga. Bertani, berladang,

berternak dan menjual hasilnya di pasar.4 Setelah pencabutan TAP MPRS oleh Presiden Abdurahman Wahid atau Gusdur perlahan-lahan pekerjaan keluarga tapol lebih luas. Ada yang bekerja sebagai karyawan swasta hingga pegawai negeri sipil (PNS). Pemerintah kota juga perlahan-lahan memberi perhatian seperti penerbitan sertifikat tanah, bantuan social, dan bantuan lainnya.

Kehidupan eksil atau generasi setelahnya memang banyak berubah namun tetap kadang masyarakat diluar Nanga-nanga masih mengungkit tentang latar belakang mereka dengan menyebut PKI. Mangi menuturkan,

“ada sebagian kecil yang mengstigma mereka namun orang-orang di

Nanga-nanga tidak mau ambil pusing”.5

Stigma masih terasa di Nanga-nanga namun anak-anak eksil tapol tidak rendah diri dan memperlihatkan ketegaran sebagai anak-anak mantan PKI. Stigma mereka dapatkan ketika ada sengketa tanah dan pertemuan-pertemuan yang membahas tentang Nanga-nanga.6

Dari cerita Mangi, akhirnya penulis dapat menghubungi para saksi/penyintas yang masih hidup Pak La Fausu dan Pak Lambatu. Nama yang terakhir disebutkan belum dapat memberikan informasi karena masih

menemui sanak keluarga di Konawe. Lambatu

Lambatu, salah satu penyintas yang masih hidup di Nanga-nanga selain pak La Fausu. Tidak banyak informasi yang dapat penulis peroleh karena Dia masih berada di Konawe untuk lebaran. Hanya rumah yang ditempati

4

Wawancara Pak Mangi Ketua RT 07 15 Juli 2016

5

Wawancara Pak Mangi 15 Juli 2016

6

(12)

12 sejak pertamakali datang di Nanga-nanga sebagai penanda bahwa Lambatu bertahan hidup dalam kemiskinan.

Sebuah repostase dari Alit Ambara tahun 2013 yang menceritakan kehidupan yang begitu lengkap:

“Lambatu hidup sendiri, dengan sejumlah kunjungan keluarga dan teman yang bisa dihitung jari dalam seumurhidupnya. Rumah yang ditempatinya merupakan bangunan berlantai tanah, berdinding papan dipenuhi lubang-lubang. Kalajengking bertubuh gemuk seringkali melintas di sini, bergegas di antara ruas-ruas papan saat udaralembab. Beberapa kali, ular dari kebun belakang muncul di dapurnya—ruang kecil dengan tungku, dan piring,gelas-gelas seng berserakan.

Satu meja melintang di ruang tengah, dihiasi radio transistor tua, benda favoritnyayang bergemerisik di frekuensi sama tiap hari menyiarkan berita-berita Radio Republik Indonesia. Sejumlah tamuyang pernah berkunjung menitip suratkabar lama, sehingga Lambatu paling tidak bisa mengetahui berita tentangkota tempatnya tinggal, meski bukan berita terbaru.

Tak ada air bersih yang mengalir di rumah ini. Lambatu menampung air keruh dari sumur dalam ember di sudutdapurnya. Menjelang malam, ia secara hati-hati memeriksa pasokan minyak dalam kaleng-kaleng bersumbu,memastikan api bisa menerangi ruangan hingga ia bisa duduk santai mendengarkan lagu-lagu lawas dari radio.

Bila pagi tiba, Lambatu cukup membuka dua jendela di ruang depan dan samping, sinar matahari lain masukmelalui sela-sela papan yang koyak. Dari jendela ini ia bisa menyaksikan pohon mete yang tak berbuah, tanahkering, lalu-lalang generasi baru yang lahir dari keluarga-keluarga mantan tahanan politik Partai Komunis Indonesiaatau PKI.

Tak banyak generasi seusianya. Jumlah mereka berkurang tiap tahun. Separuh dari mereka meninggalkanNangananga tanpa kabar. Satu-dua orang dikirim ke panti jompo karena tak lagi memiliki kerabat dekat, lainnyameninggal dengan penyakit yang tak bisa ditangani tanpa uang…”

4. Pembahasan

(13)

13 keluarganya berubah dengan tidak tidak lagi larut dalam trauma dan stigma. Para penyintas sudah membaur dengan masyarakat diluar lokalisasi.

Di Nanga-nanga terlihat jelas perubahan itu. Eksil tapol 65 banyak yang telah menikah dengan orang luar, hidup berdampingan dan bisa berinteraksi dengan bebas. Pemerintah kota telah memberikan perhatian dengan bantuan fisik dan kesehatan. Lembaga swadaya memberikan

bantuan untuk perbaikan fasilitas ibadah. Peternakan dari pengusaha luar dan pembangunan perumahan untuk 1000 PNS membuat perubahan di Nanga-nanga Nampak jelas. Sesuatu yang belum pernah dibayangkan oleh penyintas.

5. Penutup a. Simpulan

Kisah penyintas menjadi pelajaran tentang bagaimana bertahan hidup disaat dalam kesulitan. Eksil tapol 65 di Nanga-nanga bertahan hidup dengan sumber daya yang dimiliki. Dimasa awal kehidupan menjadi tahanan politik yang mereka lakukan adalah mengolah lahan yang dimiliki seluas 2 hektar pemberian pemerintah. Mereka hanya bertani.

Setelah reformasi dengan pencabutan TAP MPRS tentang pembubaran PKI oleh presiden Gusdur eksil tapol merasakan kebebasan dalam mencari pekerjaan dengan menjadi buruh tani, buruh bangunan, pedagang hingga menjadi pegawai negeri sipil bagi anak-anaknya.

Trauma yang mereka rasakan selama puluhan tahun menjadi pelajaran bagi generasi selanjutnya tentang pentingnya pelurusan sejarah tentang G30S PKI.

b. Rekomendasi

Penyintas tahanan politik di Nanga-nanga telah berinteraksi dengan dunia

(14)
(15)

15 Daftar Pustaka

Choones, I. (2009). Livelihood Perspective and Rural Development. Routledge .

Knutsson, P. (2006). The Suistainable Livelihood Approach: A Framework for Knowledge Integration Assesment. Human Ecology Review , 90.

Krantz, L. (2001). The Suistainable Livelihood Approach To Poverty Reduction. Swedia: Swedish Internasional Development Coopertation Agency.

Figur

Tabel 1: Kerangka Acuan Strategi Kelangsungan Hidup
Tabel 1 Kerangka Acuan Strategi Kelangsungan Hidup . View in document p.5

Referensi

Memperbarui...