Sejarah Perang Dunia II (Versi Lengkap - Volume II : "Bintang Dan
Kegelapan")
Perang Dunia II bermula dari sekelompok ultranasionalis yang lahir di tiga negara. Di Jerman, Adolf Hitler lahir sebagai pemimpin Partai Nazi, partai antisemit yang
menginginkan kekuasaan ras Arya. Adolf Hitler menggunakan kekuatannya untuk melengserkan Republik Weimar yang membuat Jerman mengalami krisis moneter luar biasa.
Benito Mussolini (kiri) dan Adolf Hitler (kanan)
Di Italia, diktator Benito Mussolini meraih tampuk kekuasaan setelah paham fasisme yang ia anut berhasil mengalahkan komunisme dan sosialisme. Mussolini menginginkan Italia berkuasa sebagaimana pada masa Kekaisaran Romawi Suci dahulu.
Dia mendapat kepercayaan dari Raja Italia untuk membangun pemerintahan, dan Mussolini segera membangun pemerintahan keras dan fasis, yaitu paham dimana kepentingan negara berada di atas segala-galanya. Dia juga kawan akrab Hitler, yang kemudian mengadakan Aliansi Berlin-Roma.
Kaisar Hirohito memang secara de facto menjadi kaisar sah di Jepang. Akan tetapi, sadarkah sang kaisar, bahwa yang berkuasa dan menjalankan roda pemerintahan sesungguhnya ialah Jenderal Hideki Tojo. Dengan demikian, militer dalam hal ini secara jelas telah mengambil alih pemerintahan sipil di Jepang.
Awal Perang
Jenderal Franco, Diktator Spanyol
Sebelum perang meletus, Spanyol telah jatuh dalam perang saudara antara sayap kiri (sosialis, komunis, dan rakyat biasa yang mendukung republik) dan sayap kanan (tuan tanah kaya raya, perwira, gereja katholik, dan Partai Fasis Falange yang menginginkan raja untuk kembali berkuasa). Sayap kiri didukung oleh Uni Soviet, sementara sayap kanan dipimpin Jerman dan Italia.
Ketika perang meletus, sayap kiri sempat berkuasa ketika datang sayap liberal dari negara lain, yakni Laurie Lee. Sayap kiri jatuh dan loyalis liberal menguasai sejumlah kota besar. Hingga akhirnya sayap kanan yang di dukung Jenderal Franco, berhasil menghancurkan pertahanan loyalis di Madrid dan menduduki kursi kekuasaan hingga 1975.
Uni Soviet adalah negara besar yang terletak di Eropa Timur, membentang jauh hingga Siberia dan Asia Tengah. Uni Soviet didirikan oleh Vladimir Lenin yang berhasil
menggulingkan Tsar Rusia, Nicholas II, dalam Revolusi Oktober 1917. Negara ini dipimpin oleh seorang diktator komunis Joseph Stalin sejak 1924, yang mengambil kekuasaan setelah Lenin meninggal.
Meskipun Jerman dan Uni Soviet merupakan sesama negara sosialis, tetapi Uni Soviet bukan antisemit. Yahudi adalah agama terbesar ketiga di Uni Soviet setelah Gereja Ortodoks Rusia dan Islam, itulah yang membuat Poros tak bisa bersekutu dengan negara ini.
Dunia I (PD I) yang berakhir pada 1919 dengan ditandatanganinya Perjanjian Versailles yang sangat merugikan Jerman dan sekutunya. Perjanjian itu diharapkan dapat
mengakhiri perang secara permanen, akan tetapi justru menjadi 20 tahun menuju perang baru.
Jepang menyerbu Manchuria dan dengan mudah menduduki Korea. China yang masih dikuasai oleh Partai Kuomintang yang lemah, harus mengakui, bahwa Jepang menguasai separuh negaranya di bagian utara.
Italia, yang masih menjajah Libya, mengikuti pada 1935, menyerbu Abessynia (sekarang Ethiopia) sebagai tanda berdirinya 'Kekaisaran Roma Baru'. Sebelumnya pada tahun 1896, Italia pernah dikalahkan Abessynia saat negara itu mencoba mendapatkan ibukota Addis Ababa.
Benito Mussolini dalam parade kemenangan di Roma atas Abessynia
16 Maret di tahun yang sama, wajib militer diterapkan di Jerman. Setahun kemudian, pasukan Jerman menduduki Rhineland. Italia mengalahkan Abessynia dan mendapatkan Addis Ababa pada 1936. Pasukan China dan Jepang bentrok di dekat Beijing, dan insiden itu disebut "Insiden Jembatan Marco Polo" yang terjadi pada 7 Juli 1937. Setahun kemudian, tepatnya 15 Oktober 1938, tentara Jerman memasuki Sudetenland.
Jerman adalah negara yang paling banyak mengambil andil dalam setiap langkah Poros. Pada 1938, ia merebut Wina, menduduki Austria dan kemudian mengambil Cekoslovakia pada 16 Maret 1939. Setelah kedua negara tersebut jatuh, Jerman mengalihkan
perhatiannya pada Polandia.
Inggris dan Perancis berjanji akan membantu, jika Polandia akan menjadi korban
selanjutnya. Akan tetapi, Hitler tak pernah mengira janji ini akan dipenuhi. Musim panas 1 September 1939, tentara Jerman menyerbu masuk ke dalam Polandia melalui rawa-rawa yang telah kering. Dua hari kemudian Inggris, Perancis, Australia, dan Selandia Baru menyatakan perang terhadap Jerman.
Penandatanganan Pakta Non-Agres Soviet-Jerman. Pakta ini disebut Pakta Agustus 1939
Italia tak mau kalah dengan keberhasilan sekutunya, Jerman. Dengan semangat Italia Irridenta (Italia yang belum dibebaskan), Mussolini memutuskan menyerbu Albania pada 7 April 1939. Setelah berhasil menguasai Kekaisaran Abessynia pada Mei 1936, Italia merasa dirinya cukup kuat untuk terjun lebih jauh lagi ke dalam ranah pertempuran.
Albania dikejutkan dengan serangan Italia melalui Laut Adriatik, laut yang memisahkan Semenanjung balkan dengan Semenanjung Italia. Tentara Italia dengan agresif
menyerbu masuk ke dalam Albania yang berhasil dilumpuhkan secara total.
Albania jatuh jauh lebih cepat daripada Abessynia ataupun negara-negara lain yang ditaklukkan Italia. Albania adalah negara paling cepat lengser nomor dua dalam Perang Dunia II (PD II). Italia hanya perlu waktu 5 hari saja untuk merampas Tirana dan menguasai seluruh Albania.
Tentara Italia merayakan kemenangan atas Albania
dan menoleh pada Finlandia. Invasi Uni Soviet terhadap Finlandia ini dimulai pada 30 November 1939. Tentara Merah Uni Soviet menyerbu ke dalam Finlandia, dan mencoba menguasainya meski gagal.
Serbuan kedua kalinya kembali dijalankan, tetapi Soviet harus menerima, bahwa
pasukan Finlandia, yang dibantu Spanyol, Swedia, Hungaria, dan militan Estonia, mampu memukul mundur pasukan Soviet, hingga ke perbatasan.
Taktik gerilya yang diterapkan tentara Finlandia dalam Winter War tak sanggup menghentikan langkah Tentara Merah
Melihat keadaan seperti ini, Stalin mulai merasa geram. Dia segera melancarkan 3 juta tentara sekaligus, untuk membungkam Finlandia. Alhasil, Stalin dapat duduk kembali dengan tenang di kursinya. Tentara Merah dengan cepat mampu mendorong tentara Finlandia, yang semakin terdesak ke dalam negaranya.
Dibantu dengan bantuan logistik, serta persenjataan yang lebih memadai, kota-kota penting di Finlandia berhasil direbut, dan Stalin serta para jenderalnya, mulai
memandang ibukota Helsinki sebagai tambang emas yang menggiurkan.
Viipuri, kota terbesar kedua di Finlandia yang diberikan pada Uni Soviet seusai Winter War
Daerah ini termasuk kota Viipuri, kota terbesar kedua di Finlandia yang diserahkan pada Uni Soviet. Viipuri adalah kota industri dan wilayah signifikan di Finlandia yang masih dipegang oleh tentara Finlandia. Penyerahan kota Viipuri mendapat protes keras dari banyak rakyat Finlandia yang merasa pemerintah mereka terlalu 'loyo', tetapi
pemerintah Finlandia menganggap Viipuri adalah bayaran murah sebagai pengganti Helsinki dan seluruh Finlandia.
Wilayah Finlandia yang diserahkan pada Uni Soviet
Perang Yang Sesungguhnya
Tentara Jerman berbaris memasuki Polandia, 1 September 1939
minggu. Dalih Hitler untuk menyerang Polandia saat itu adalah untuk merebut kota Danzig yang banyak ras Arya-nya. Tapi dalih itu hanyalah dalih palsu belaka.
Polandia yang melihat dirinya tidak siap akan serangan Jerman ini, saking putus asanya, Polandia mengerahkan pasukan kavaleri berkudanya untuk melawan tank-tank dan pesawat Jerman, yang kemudian dibantai habis oleh Jerman tak bersisa.
Belum selesai mengurus Jerman, Polandia dikejutkan kembali dengan serangan Uni Soviet dari timur. Pasukan Soviet menyapu bersih dari timur, sementara Jerman dari barat.
Kemudian, akhirnya bertemulah kedua pasukan tersebut di Warsawa dan membuat garis demarkasi. 20 September 1939, seluruh Polandia sudah jatuh ke tangan Jerman dan Uni Soviet, dan para pemimpin negaranya dipaksa untuk menyelamatkan diri ke Rumania.
Jatuhnya ibukota Warsawa, 1939
Setelah Polandia jatuh, tak ada lagi perang untuk sementara waktu. Secara resmi, Jerman telah berada dalam status perang dengan Inggris, Perancis, Australia, dan Selandia Baru, tetapi kenyataannya tidak ada pertempuran sama sekali.
Situasi ini disebut Phoney War (Perang Palsu). Situasi ini dimanfaatkan oleh para
Charlie Chaplin dengan kumis ala Hitler-nya
Di Polandia, orang-orang Yahudi, termasuk anak-anak, wanita, dan lansia, ditangkapi. Mereka untuk sementara ditampung di Ghetto (tempat terkumuh) Warsawa, sebelum akhirnya dibawa ke kamp tahanan di Auschwitz untuk disiksa. Orang-orang Yahudi yang disiksa dan dibunuh ini disebut korban holocaust, salah satu kejadian paling mengerikan dalam sejarah umat manusia yang akan terus berlanjut, hingga kejatuhan Nazi pada 1945. Phoney War ini lantas oleh para seniman disebut juga sitzkrieg.
Phoney War berakhir pada 9 April 1940, ketika sitzkrieg kembali lagi menjadi blitzkrieg. Jerman mengejutkan Sekutu dengan menyerbu negara-negara Eropa Utara, Denmark dan Norwegia.
Denmark menyerah dengan cepat, sementara Norwegia mencoba bertahan. Inggris dan Perancis segera datang untuk membantu Norwegia yang semakin terdesak. Tujuan utama Hitler menduduki Skandinavia ialah untuk mengambil alih kendali atas Lautan Atlantik, yang bisa memblokir jalur perdagangan Inggris ke Eropa Utara.
Serdadu Jerman meremukkan pertahanan Norwegia
Tapi kali ini berbeda, Jerman yang dulu tidak seperti yang Perancis kira. Jerman dalam 3 dasawarsa telah bangkit dengan jumlah rakyat 3 kali lebih besar daripada Perancis, dan memiliki teknologi tempur yang tinggi serta armada perang yang kuat.
Oleh karenanya, Perancis merasa terancam setelah Norwegia dan Denmark ambruk seketika. Ternyata benar, Hitler telah meminta para jenderalnya untuk menyusun taktik mencaplok Eropa Barat. Hitler memandang Perancis sebagai tempat yang "pas" sebagai tempat tinggal ras Arya.
Hitler tak ingin seperti Uni Soviet yang hanya mendapatkan 11% wilayah Finlandia. Dia ingin menaklukkan Perancis secara utuh, dan kemudian daratan Britania Raya, serta selanjutnya Irlandia.
Perancis segera membuat pertahanan. Berdasarkan pengalaman pada Perang Dunia I, Perancis mengira Jerman akan menyerbu wilayahnya melalui Belgia. Karena itulah Perancis mempersiapkan pasukan yang hebat di perbatasan Belgia.
Hanya ada satu jalur lagi yang bisa digunakan Jerman untuk menyerbu Perancis, yaitu melalui sebuah hutan lebat, dataran tak menentu di Ardennes, sebelah selatan
Pasukan Jerman menembus hutan Ardennes, Luksemburg
Dan benar, ternyata mereka salah. Hitler memang orang gila yang memiliki strategi gila untuk melewati Ardennes. Dia membabat hutan Ardennes dan memaksa tank,
kendaraan lapis baja, dan para tentaranya untuk menyeberangi hutan tersebut.
Sempat terjadi kemacetan saat Hitler menggunakan trik ini. Tetapi hasilnya sama saja, Perancis dikejutkan oleh serangan gila ini. Pada 10 Mei 1940, Perancis dan Inggris dikejutkan oleh serangan mendadak yang tak pernah diperkirakan selama ini. Dengan cepat pasukan Jerman melindas Luksemburg, sebuah negara kecil yang menurutnya hanyalah menjadi penghalang tak berarti bagi dirinya untuk menuju Paris.
Luksemburg yang sudah dilindas dan sekarat, tak bisa berbuat apa-apa selain menyerah hari itu juga, menjadi satu-satunya negara dalam Perang Dunia II yang bisa
dilumpuhkan hanya dalam waktu kurang dari 24 jam, dan membiarkan Jerman memasuki Perancis melalui wilayahnya.
Belanda menyerah setelah kota Rotterdam luluh lantak
Pasukan gabungan Inggris-Perancis sudah berusaha mati-matian, tetapi pasukan Jerman terlalu perkasa dan berhasil mengepung mereka di sebuah tempat bernama Dunkirk, pesisir utara Perancis, pada 26 Mei 1940.
Belgia mencoba bertahan hingga titik darah penghabisan, akan tetapi hasilnya sama saja. Perjuangan mempertahankan tanah air di Belgia akhirnya terhenti. Belgia telah runtuh pada 28 Mei, ketika raja-nya mengumumkan, bahwa angkatan perangnya sudah berada di ambang batas.
Selama dua bulan berikutnya, tentara yang terkepung di Dunkirk mulai dievakuasi ke Inggris. Tak ada lagi serangan terhadap Perancis hingga 6 Juni. Perancis kini dalam kondisi sendirian. Inggris tak mampu membantu lebih lanjut, karena dirinya pun harus mempersiapkan diri akan kemungkinan terburuk yang sewaktu-waktu bisa terjadi.
Austria, Belgia, Belanda, dan Luksemburg yang menjadi tameng pembatasnya, telah tergilas oleh pasukan Jerman. Semenanjung Hispanik, yaitu Spanyol dan Portugal, netral, dan tak mungkin dia menaruh harapan pada negara kecil seperti Andorra, Liechtenstein, atau Monako yang lebih memilih netral daripada digilas seperti Benelux.
Meskipun akhirnya tentara Perancis mampu mematahkan bala bantuan untuk Jerman yang datang dari Italia, tetapi sesungguhnya Jerman tak membutuhkan bantuan sama sekali dari sekutu lemahnya itu untuk menumpas Perancis.
Serdadu Jerman memasuki Paris setelah kejatuhan Perancis, 1940
Pada 17 Juni 1940, pemimpin Perancis, Marsekal Petain, menawarkan perundingan dengan Jerman ketika negara itu berhasil menduduki Paris. Perundingan itu akhirnya ditandatangani pada 22 Juni.
Jerman diberikan hak untuk mengendalikan pesisir utara dan perairan Atlantik. Seluruh Perancis takluk pada kekuasaan Jerman. Pemerintahan Perancis yang baru disebut Perancis Vichy, sementara Charles de Gaulle membangun pemerintahan Perancis darurat di London.
Sejarah Perang Dunia II (Versi Lengkap - Volume III : "Akhir Dari Sebuah
Tirani")
Sejak Juni 1940, Inggris harus bertahan sendirian dalam menghadapi keperkasaan angkatan perang Jerman. Inggris menyaksikan sendiri, bagaimana angkatan bersenjata Jerman yang perkasa itu mencaplok Austria, merobohkan Cekoslovakia, kemudian menghancurkan Polandia, meruntuhkan Denmark dan Norwegia, melindas Belanda, Belgia, dan Luksemburg, serta bagaimana cara Jerman memberangus sekutu karibnya dengan sangat tragis, Perancis.
Charles de Gaulle, pahlawan Perancis
Pada 5 Juli, pemerintah Perancis Vichy memutuskan hubungan diplomatik dengan Britania Raya dan Irlandia Utara (United Kingdom). Masalah besarnya adalah,
bagaimana kalau Jerman sampai berpikir untuk menyerang Kepulauan Inggris. Hanya Selat Inggris yang memisahkan Inggris dengan Eropa Daratan, yang mana hampir seluruhnya telah dikendalikan Nazi Jerman yang tengah menjalankan holocaust.
Lagi-lagi, Inggris masih sendirian, bahkan Amerika Serikat dan Uni Soviet masih belum terlibat. Australia, Selandia Baru, dan India yang menjadi sekutu Inggris pun, masih sibuk menghadapi ekspansi Jepang. Irlandia yang masih meributkan sengketa wilayah di Irlandia Utara, tak akan sudi membantu, dan Semenanjung Hispanik telah netral.
Pada 10 Juli 1940, ketakutan Inggris terbukti. Jerman dengan angkatan lautnya mencoba menyeberangi Selat Inggris. Usaha Jerman ini selalu gagal, karena angkatan laut Inggris terlalu kuat. Meskipun Jerman mengerahkan hampir semua kapal selamnya, namun semua seperti percuma.
Inggris menyadari kapal-kapal perang yang ia buat bersama Perancis, yang kini telah takluk, akan menjadi ancaman bagi dirinya. Sebab kapal perang itu kini ada di tangan Perancis, tepatnya di salah satu tanah jajahan Perancis yaitu di Algiers, Aljazair.
Sebelum Jerman menyadari keberadaan kapal tersebut, dan sebelum pemerintah
Perancis Vichy benar-benar berkhianat, Inggris bersama Royal Air Force (RAF), angkatan udara Kerajaan Inggris, menyerbu pangkalan angkatan laut kolonial Perancis di Algiers, Aljazair.
Serangan tersebut sukses menenggelamkan seluruh kapal yang dianggap berbahaya bagi Inggris, hal itu jelas menggambarkan bagaimana suksesnya dan betapa kejamnya Inggris membantai mantan sekutu karibnya itu.
Merasa terkhianati, Perancis Vichy merencanakan untuk bergabung bersama Jerman untuk mencaplok Inggris, tetapi Petain menolak. Dia mengatakan, "Sudah cukup satu kekalahan dan tak akan ada lagi hal serupa."
Keinginan untuk menjajah Inggris akhirnya ditunda oleh Hitler. Dia merasa Inggris akan jatuh dengan sendirinya, apabila dia berhasil membombardir daratannya. Dengan angkatan udara-nya yang kuat, Luftwaffe, Jerman memulai aksinya mengebom kota-kota penting di Inggris, yaitu London, Portsmouth, serta kota-kota-kota-kota lainnya.
Seketika Inggris menderita kehancuran besar, tetapi masih berani dengan nyali yang tersisa untuk membalas dengan membombardir Bremen dan Dresden. RAF yang selama ini menjadi rival abadi Luftwaffe, mau tak mau harus mengakui, bahwa mereka memang benar-benar imbang.
Pertempuran di Selat dan daratan Inggris ini disebut Battle of Britain (Pertempuran Britania). Blitzkrieg di daratan Inggris berlangsung pada 7 September 1940 dan menghancurkan sebagian besar London, termasuk daerah East End. Kehancuran juga terjadi di Glasgow, Coventry, dan Portsmouth.
London 1940, kerusakan akibat pengeboman oleh Luftwaffe
Sehari sebelum Battle of Britain, Italia yang masih menjajah Libya mencoba menginvasi Mesir yang dikuasai Inggris. Melalui pesisir utara, tentara Italia menyeberangi
perbatasan dan mulai mengadakan penyerangan menuju Kairo. Tujuannya adalah mengambil alih Terusan Suez yang vital, yang bisa melumpuhkan ekonomi Inggris.
Namun, Italia justru mengalami kemalangan. Pasukan Inggris yang dibantu tentara pelarian Perancis di bawah pemerintahan darurat di London, malah menyerang balik dan Italia terpukul mundur kembali ke Libya.
Invasi Italia atas Mesir gagal pada 16 September 1940. Di saat bersamaa, Inggris dan Perancis berhasil mengambil sebagian wilayah utara Libya dan Italia mulai terdesak mundur.
Tentara Italia memasuki Mesir pada 1940
Melihat kesuksesan Jerman, Italia jadi semakin termotivasi dan tak pantang menyerah, meski sudah mengalami kekalahan di Afrika Utara. Dengan semangat membara,
Mussolini memutuskan untuk menyerbu Semenanjung Balkan lebih dalam lagi, yaitu dua negara besar, Yugoslavia dan Yunani.
Italia menyerbu masuk ke dalam Yunani pada 28 Oktober 1940. Meski begitu, tentara Italia harus menerima, bahwa dirinya dihabisi oleh pasukan gabungan Yunani dan Yugoslavia yang disokong oleh Inggris. Italia bahkan lari terbirit-birit kembali ke Albania, karena dikejar-kejar calon mangsanya sendiri.
Pasukan Yunani, Yugoslavia, dan Inggris bahkan bisa menyerang balik dan mendesak pertahanan Italia di Albania. Italia benar-benar gagal total dalam menginvasi seluruh Balkan pada Maret 1941. Melihat sekutunya dipermalukan dengan sangat tak terhormat, Jerman dengan baik hati mengirim bala bantuan yang langsung mendapat kemenangan kembali atas Albania.
Di Afrika Utara, perang terus berlanjut antara Italia yang lemah melawan Inggris, Perancis, Australia, Mesir, Selandia Baru, dan, kemudian Amerika Serikat sejak Desember 1941.
Jenderal Erwin Rommel
Tripoli yang dijadikan ibukota kolonial pun, mengalami kerusuhan yang hebat. Melihat hal ini, lagi-lagi Jerman berbaik hati dan segera datang membantu di bawah komando Jenderal Erwin Rommel yang dijuluki "serigala padang pasir".
Setelah menduduki Albania kembali dengan sukses, Jerman dan Italia berencana mendapatkan Yugoslavia, negara terbesar di Semenanjung Balkan. Invasi atas Yugoslavia diberi nama Operasi 25 (Operation 25), yang dimulai pada 6 April 1941. Bersamaan dengan itu, Operasi Marita (Operation Marita) juga dilancarkan, yaitu serangan Jerman terhadap Yunani. Yugoslavia jatuh pada 17 April 1941 dan Yunani menyusul sepuluh hari setelahnya.
Dengan dikalahkannya Yugoslavia, Jerman dan Italia memecah-mecah negara tersebut menjadi tiga, yaitu negara independen Kroasia, negara boneka Serbia yang dikendalikan oleh Jerman, dan Montenegro yang menjadi negara protektorat Italia.
Bendera Swastika Nazi dikibarkan di Athena setelah jatuhnya Yunani
Turki, bekas sekutu Jerman dalam Perang Dunia I (PD I), yang juga memiliki wilayah kecil di Semenanjung Balkan, segera mengerahkan pasukannya agar Jerman dan Italia tidak bergerak lebih jauh lagi menuju Istanbul.
Operasi Merkur dijalankan begitu Hitler menghentikan Battle of Britain pada Mei 1941, ketika Jerman merasa perang tersebut tak menghasilkan apa-apa, akan tetapi Inggris diuntungkan berkat keputusan Hitler itu.
RAF, meski kuat, tetapi benar-benar sudah habis-habisan saat itu. Jika seandainya Jerman bersabar sedikit saja dan meneruskan perang, maka tak akan ada lagi masa depan bagi Kerajaan Inggris.
Pada Juni 1941, Angkatan Darat Australia dan Sekutu, menginvasi Suriah dan Lebanon, merebut Damaskus pada 17 Juni 1941. Di Irak, terjadi penggulingan kekuasaan atas pemerintah yang pro-Inggris oleh kelompok Rashid Ali yang pro-Nazi.
Pemberontakan di dukung oleh Mufti Besar Jerusalem, Haji Amin al-Husseini. Karena garis belakangnya terancam, Inggris mengirimkan bala bantuan dari India dan
Husseini terlihat akrab dengan serdadu Jerman
Tetapi kemudian pasukan Inggris yang dibantu Uni Soviet, menyerbu Iran dan menggulingkan rezim shah Iran yang pro-Nazi. kedua tokoh itu kemudian
menyelamatkan diri ke Eropa melalui Turki, di mana mereka lalu bekerja sama dengan Hitler untuk menyingkirkan orang Inggris dan Yahudi.
Uni Soviet sudah tak ingin lagi terlibat lebih jauh dalam perang. Setelah puas melumat Finlandia, Stalin kini bisa duduk-duduk dengan santai di kursi kekuasaannya. Ia masih saja bermimpi membagi Eropa bersama Jerman, tetapi mimpinya itu pupus di tengah jalan, ketika Operasi Barbarossa dimulai pada 22 Juni 1941, tiga minggu setelah Operasi Markur berakhir.
Sipil yang dieksekusi di Pulau Kreta selama Operasi Markur
Tetapi pada kenyataannya, kedua belah pihak sama sekali tak berniat memenuhi pakta yang telah mereka tanda tangani pra-jatuhnya Polandia. Hitler hanya ingin Stalin diam, sementara dia menggilas Eropa Barat, dan sebaliknya Stalin ingin Hitler bungkam sementara, dia membangun tentara untuk mempertahankan wilayahnya yang paling barat, yakni Polandia bagian timur dan Ukraina.
yang relatif dekat.
Tentara Jerman memasuki Uni Soviet pada 1940
Akibat kelalaian Stalin yang belum juga menempatkan pasukan di perbatasan barat, lebih dari 3 juta serdadu Jerman menyeberangi perbatasan menuju wilayah Uni Soviet. Serangan tersebut hanya mengalami sedikit perlawanan. Hitler bahkan berhasil
menduduki Ukraina dan merebut Kiev.
Banyak warga Ukraina yang menuntut kemerdekaan dari Uni Soviet, sehingga banyak yang membangkang dan bergabung dengan Jerman. Sasaran utama Hitler ada dua, menguasai kota Leningrad dan Moskow. Taktik Blitzkrieg digunakan lagi dalam
pertempuran ini, dengan harapan mampu meraih kemenangan gemilang seperti yang sudah-sudah.
Tentara Jerman amat akrab dengan wanita Ukraina di Kiev
Tetapi kali ini berbeda. Jerman semakin terdesak, ketika mencoba memasuki Uni Soviet lebih dalam. Perlawanan besar terjadi beberapa mil di luar pintu gerbang ibukota
Moskow. Pasukan Soviet yang kuat, yang sukses mengalahkan Finlandia, kini
berhadapan langsung dengan pasukan negara yang telah menaklukkan Eropa Barat. Pertempuran habis-habisan akan dimulai, yang menjadi pertempuran paling berdarah di sepanjang sejarah.
Selandia Baru.
Pada 16 September 1940, RUU yang diajukan Presiden Amerika Serikat, Franklin Delano Roosevelt, tentang mobilisasi pasukan disetujui, dan ini membuat Jepang merasa
terancam. Hanya ada dua pilihan bagi Jepang, menyerang terlebih dahulu dan menang atau menunggu hingga Amerika Serikat datang dan menentangnya.
Maka pada 7 Desember 1941, pangkalan militer Amerika Serikat di Hawaii, Pearl Harbor, dibombardir dan menenggelamkan empat ratus kapal Amerika Serikat. Anehnya, kapal-kapal penting dan kuat tidak ada di sana. Yang ada hanyalah kapal-kapal-kapal-kapal tua yang lemah, yang mungkin bisa tenggelam kapan saja tanpa diserang.
2403 orang meninggal, termasuk 68 warga sipil. Mereka seperti korban yang sudah disiapkan Roosevelt, agar memiliki alasan untuk ikut dalam pertempuran dalam Perang Dunia II (PD II) ini. Maka sehari setelahnya, Amerika Serikat dan Inggris menyatakan perang terhadap Jepang.
USS Arizona tenggelam pada serangan di Pearl Harbor
Sehari setelah menyerang Pearl Harbor, Jepang segera menyerbu Filipina yang juga dikuasai Amerika Serikat. Serangan bom menjadi awal penyerangan, dan berubah menjadi serangan darat dua minggu kemudian.
Pasukan Amerika Serikat dan Filipina mencoba mempertahankan wilayah, tetapi Jepang lebih kuat. Amerika Serikat yang dipimpin Jenderal Douglas McArthur tergusur. Langkah Jepang sangat gemilang, yang dapat disamakan dengan blitzkrieg Jerman.
Jerman melihat Jepang sebagai sebuah kekuatan besar di Asia yang dapat diandalkan. Angkatan perang Jepang berhasil dengan sukses menghajar pertahanan negara-negara kolonial Inggris, Perancis, dan Amerika Serikat di Asia-Pasifik.
Hitler mencoba merangkul Jepang, dengan harapan dengan itu Jepang akan sudi membantunya dengan menyerang Uni Soviet dari timur, hal yang sebelumnya tak pernah dilakukan Tokyo. Hitler menggambarkan keinginannya bersekutu dengan Jepang melalui pernyataan perang dengan Amerika Serikat, hal yang ditentang banyak anggota Nazi.
Para jenderal memohon agar Hitler tidak melakukan hal tersebut. Mereka tak ingin berhadapan dengan dua legenda sekaligus, Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Pertempuran front timur sudah melelahkan, dan menambah-nambah front hanya akan mengukir nisan Nazi saja.
hampir bersamaan.
Afrika Utara menjadi medan pertempuran yang panas. Jerman dan Italia berhasil
mengembalikan wilayah yang semula direbut oleh Sekutu. Maroko, Tunisia, Aljazair, dan Sahara Barat yang menrupakan jajahan Perancis yang sudah runtuh, otomatis telah berada di bawah kontrol Jerman.
Dengan bala bantuan dari Jerman, Poros berhasil memasuki Mesir dan membuat Sekutu terdesak. Jepang di Asia berhasil merebut pulau-pulau Pasifik, seperti Pulau Guam dan Wake yang dikuasai Amerika Serikat.
Pada Maret 1941, ketika pertempuran di Rusia dan Afrika Utara semakin memanas, Jepang menyerbu Birma dan menguasainya. Jepang kemudian mulai terfokus pada Port Moresby di Papua Nugini, yang menjadi koloni Inggris.
Sekali lagi, Poros di Afrika Utara terjepit, karena Hitler tengah terfokus pada Uni Soviet dan tidak terlalu memperhatikan pertahanan di Afrika.
Kapal Italia yang berpatroli di Laut Mediterania
Jerman menyerahkan keamanan Laut Mediterania pada angkatan laut Italia yang jaga di sepanjang perairan, dari Perancis hingga Tripoli, Libya. Italia berjaga-jaga dengan jumlah pasukan yang banyak, yang diyakini Mussolini tak akan berhasil ditembus Sekutu dengan usaha sekeras apapun.
Namun, kenyataannya lain. Kesalahan justru terjadi akibat kelengahan tentaranya. Angkatan Udara Kerajaan Inggris menyerbu Laut Mediterania dan menenggelamkan sebagian besar kapal-kapal Italia yang berpatroli di lautan. Serangan ini tak mampu ditahan Italia, karena tidak siaga.
Meski mendapat teguran dari Hitler, Mussolini dan Italia-nya memang tak bisa diandalkan sejak awal. Kemudian tak lama setelah itu gabungan angkatan udara Amerika Serikat dan Inggris menyerang angkatan laut Italia lagi, dan sekali lagi, angkatan laut Italia dapat dilumpuhkan secara total akibat ketidaksiagaan pasukannya.
Dalam keadaan putus asa dan semakin terdesak, Rommel meminta pengunduran dirinya pada Hitler, tetapi ditolak. Dia dipaksa melanjutkan pertempuran, bahkan hingga
Tentara Kanada datang membantu Inggris dalam perang di Hongkong
Di tahun yang sama, Jepang menyerbu Hongkong, koloni utama Inggris di China.
Pasukan Inggris mencoba mempertahankan Pulau Hongkong, tetapi hasilnya sama saja. Pada 25 Desember 1941, bertepatan dengan hari Natal, seluruh Hongkong sudah jatuh ke tangan Jepang.
Hari Natal yang seharusnya disambut dengan bahagia, justru menjadi duka di pihak Inggris. Poros di Afrika Utara semakin babak belur. Kota Benghazi di Libya berhasil dikuasai oleh Inggris, dan Ajdabiya juga jatuh sehari setelahnya. Rommel mendapat pukulan hebat ketika harus menelan kekalahan di front El Agheila, Libya.
Pada 1 Januari 1942, bertepatan dengan tahun baru Masehi, Deklarasi Persatuan Bangsa-Bangsa ditandatangani oleh 26 negara. Sembilan belas hari kemudian,
Konferensi Wannsee diadakan Nazi untuk membahas 'Solusi Akhir Pertanyaan Yahudi'.
Berdasarkan hasil konferensi itu, jutaan orang Yahudi mulai dieksekusi di kamp-kamp tahanan, holocaust sudah semakin merajalela di seluruh Jerman. Salah satu korban holocaust paling terkenal adalah Anne Frank, seorang Yahudi Belanda yang kemudian menulis buku harian pengalamannya selama di kamp. Bahkan, satu hal yang nyaris dilakukan Hitler, dia hampir mengubah nama Berlin menjadi Germania.
Rommel tetap bertahan setelah permintaan mundurnya ditolak Hitler. Dengan sukses dia mendapatkan kembali Ajdabiya pada 23 Januari dan Benghazi enam hari kemudian. Pasukan Jerman di tanah Rusia semakin terdesak. Jerman, yang berperan sebagai pasukan garis depan, mengandalkan Italia, Rumania, Hungaria, dan Bulgaria sebagai pasukan garis belakang.
Tapi itulah kesalahan paling fatal Hitler. Tanpa disadarinya, pasukan garis belakang yang dipimpin Italia mengalami kehancuran setelah diserang mendadak oleh Tentara Merah Soviet. Jerman mendapati dirinya terjebak tanpa perlindungan belakang, dan mereka tidak siap menghadapi musim dingin Rusia yang sangat kejam.
Pada Februari 1942, segelintir pasukan Jepang berhasil meluluhlantakkan pasukan Inggris yang berjumlah jauh lebih banyak di Singapura. Pulau Singapura dan sekitarnya jatuh ke tangan Jepang pada hari itu juga, yang menjadi kekalahan paling memalukan dalam sejarah angkatan bersenjata Inggris.
Kuala Lumpur, Februari 1942
Pada bulan dan tahun yang sama, Jepang mulai mengincar Semenanjung Malaya. Angkatan udara Jepang membombardir Kuala Lumpur, Malaysia, yang dikendalikan Inggris. Pasukan Inggris segera mempertahankan Brunei Darussalam, yang merupakan tambang minyak incaran Jepang.
1 Maret 1942, Jawa yang dikendalikan Belanda, menyerah tanpa syarat setelah Jepang mendarat di Tarakan dan mulai mengancam akan mengebom Bandung. Seluruh wilayah Hindia Belanda (sekarang menjadi Indonesia) telah jatuh ke tangan Jepang. Sekitar 100 ribu tentara Belanda, Australia, Amerika Serikat, dan Inggris ditawan di Indonesia.
Jenderal Douglas McArthur
Meski Jerman menggunakan serangan yang menyasar ke sipil, sebenarnya Amerika Serikat dan Inggrislah yang memulainya. Kedua negara memasuki Jerman daratan dan mengebom kota-kota penting, membunuh rata-rata 100 sipil dalam waktu sehari. Kota Hamburg dan Dresden nyaris hancur total.
Jepang lebih menderita lagi, karena sebagian besar rumah-rumahnya berdekatan dan terbuat dari kayu. Serangan udara Amerika Serikat ke daratan Jepang pada 10 Maret 1942, membuat badai api di angkasa Jepang, dan banyak warga sipil yang tewas akibat serangan ini.
Dua hari sebelum menyerahnya Amerika Serikat di Filipina, sebuah pertempuran di Coral Sea telah dimulai dan dimenangkan Sekutu pada 8 Mei 1942. Kota Tobruk di Libya bagian timur berhasil diambil lagi oleh Poros. Operasi Barbarossa mengalami kebuntuan.
Joseph Stalin, pemimpin Uni Soviet
Jepang dan Amerika Serikat bertempur di Midway, sebuah pertempuran laut dimana pesawat-pesawat Amerika Serikat berhasil menenggelamkan tiga kapal induk Jepang dalam waktu yang begitu singkat, satu menit. Jepang tak pernah pulih sejak
kekalahannya disini.
Pada akhir bulan Juni, pertempuran El Alamien I berlangsung dan dimenangkan Poros. Perlawanan Soviet di Crimea berakhir pada 5 Juli 1942 dan kini Stalin bisa lebih leluasa memfokuskan diri pada kecoa-kecoa Hitler di negaranya. Melihat kekuatan yang sudah tak memungkinkan, Jerman menarik diri dari Rusia Utara, menuju selatan.
Meski telah mengepung Leningrad selama 900 hari, tetapi Perlawanan kuat dari Uni Soviet membuat Jerman tak bisa menguasainya. Front Moskow mengalami kekalahan telak, dan Hitler mencoba mengulur kekalahan dengan berusaha mendapatkan sebuah kota di selatan, Stalingrad.
Jenderal Bernard Law Montgomery
Kedua jenderal ternyata berhasil memusingkan Rommel. Hitler, semakin pusing mendapat laporan hasil pertempuran dimana-mana. Jepang harus mempertahankan wilayah yang begitu luas dengan persenjataan yang semakin tipis. Pada 23 Agustus, pesawat-pesawat Jerman menyerang Stalingrad.
Di Afrika Utara, Rommel gagal melancarkan aksi di Alam el Halfa. Pertempuran pecah di kota Stalingrad pada 13 September 1942. Kali ini Tentara Merah Soviet muncul dengan kekuatan yang baru.
Georgy Zhukov, seorang jenderal cemerlang di pihak Uni Soviet, merasa Jepang tak akan menyerang wilayahnya di Timur Jauh, karena negara tersebut sedang sibuk mengurus musuh utamanya, Amerika Serikat.
Zhukov mengerahkan pasukannya dari Siberia yang dibantu persenjataan dan dukungan Tentara Merah. Orang-orang Siberia adalah rakyat mahir berburu dan tidak takut dingin. Kini mereka akan memulai perburuan lagi. Tapi sasarannya bukan rusa ataupun
Marshal Georgy Konstantinovich Zhukov
Pertempuran Stalingrad adalah pertempuran paling berdarah sepanjang sejarah umat manusia. Kurang lebih tujuh serdadu tewas setiap lima menitnya. Tentara Soviet mati-matian mempertahankan kota dan Jerman yang semakin terdesak dipaksa Hitler untuk tidak menyerah.
Hitler lupa kemampuan istimewa Soviet dalam memobilisasi pasukan. Bantuan yang terus berdatangan membuat Jerman benar-benar dihancurkan. Musim dingin Rusia dimanfaatkan dengan sangat baik oleh pasukan Soviet. Banyak tentara Jerman yang mati akibat penyakit dan kelaparan.
Satu-satunya tujuan mereka merebut Stalingrad bukan karena paksaan dari Hitler, melainkan untuk mempertahankan hidup. Pasukan Jerman yang kedinginan bisa saling bunuh, hanya karena berebut gubuk dan jerami untuk menghangatkan diri. Tapi Soviet berbeda, mereka bekerja sebagai seorang profesional di medan perang dingin dan bersalju.
Tentara Sekutu selama Operasi Obor di pantai Algiers, Aljazair
Montgomery melancarkan Operation Lightfoot di El Alamien yang membuat pertahanan Poros di kota itu kocar-kacir dan berhasil beralih kendali ke tangan Sekutu. Tiga hari kemudian, yaitu pada 8 November 1942, Jenderal Dwight Eisenhower dari Amerika Serikat melancarkan Operasi Obor (Operation Torch) guna merebut Maroko dan Aljazair yang dikendalikan pemerintah Perancis Vichy.
Hanya dalam waktu sehari, Sidi Barrani diambil alih lagi oleh Sekutu, begitu juga dengan Tobruk empat hari kemudian. Pada 15 Desember, Inggris merebut Derna, sementara Amerika Serikat berhasil mendarat di Maroko dan Aljazair setelah mengalahkan gabungan tentara Jerman dan Perancis Vichy pada 16 November 1942. Jerman dan Amerika Serikat lalu bertemu di kota Djebel Abiod, Tunisia, sehari setelahnya.
Rommel kesulitan menghadapi dua jenderal jenius sekaligus. Serdadu Sekutu yang dinamai Eighth Army, berhasil menduduki Benghazi pada 20 November. Tentara Amerika Serikat berjalan dan dalam waktu seminggu berhasil mencapai kota Terbourba dan Djedeida, 12 mil dari Tunis, pusat pertahanan Poros.
Akan tetapi Rommel berhasil mendorong mundur pasukan tersebut di Medjez el Bab, dan memaksanya bertahan di Terbourba yang kemudian gagal dipertahankan oleh Amerika Serikat. Sementara itu, di timur, Eighth Army berhasil merebut Sirte.
Jepang tak pernah memulai aksi dan terus bertahan sejak Pertempuran Midway. Negara kecil itu harus mempertahankan wilayah luasnya dari gempuran Amerika Serikat,
Australia, Selandia Baru, dan Inggris.
Ibukota kolonial Italia di Tripoli dirampas oleh Inggris pada 23 Januari 1943. Rommel dan tentaranya terseok-seok menyelamatkan diri ke Garis Mareth, perbatasan selatan Tunisia dengan Libya. Dari Jalan Faid di pusat Tunis, Poros melangkah menuju
pertempuran Zizi Bouzid, dan tiba di Sbeteila dua hari kemudian. Poros benar-benar semakin terdesak di Afrika Utara.
Di Stalingrad, Jerman sudah tak punya harapan untuk menang, tetapi Hitler tetap bersikeras untuk menguasai kota. Stalin menganggap Hitler melakukan aksi yang sia-sia, dan dia tetap menolak menyerahkan Stalingrad sebagaimana Finlandia
menyerahkan Viipuri.
Serdadu Soviet mengibarkan bendera kemenangan di Stalingrad
Stalingrad, sebuah kota di daratan Rusia, akhirnya menjadi awal dari akhir para pasukan Nazi, yang dengan tak sengaja telah mengukir batu nisannya sendiri. Pertempuran itu adalah kekalahan pertama Jerman, sekaligus patokan dari kekalahan-kekalahan Jerman pada pertempuran berikutnya.
Operation Vulcan yang dilancarkan Sekutu pada 7 Mei 1943 berhasil menyelesaikan Front Timur Tengah. Mereka menyerbu masuk ke dalam Tunisia, satu-satunya wilayah kekuasaan Poros yang tersisa di Afrika Utara. Bantuan tak bisa lagi dikirim, karena Laut Mediterania yang tadinya diberikan pada Italia, justru jatuh ke tangan Inggris, Australia, dan Selandia Baru.
Rommel hanya tinggal menanti kekalahannya yang pertama. Meski begitu, Nazi Jerman tetap mati-matian mempertahankan Tunisia dengan percuma. Pertempuran besar terjadi di Sfax, Sidi Bouzid, Terbourba, dan Djedeida. Garis Mareth berhasil dikuasai Sekutu terlebih dahulu pada 23 Maret 1943.
Akhirnya Amerika Serikat dapat melaju kembali ke Tunisia, setelah mendapat kebuntuan di Terbourba, setelah Inggris berhasil menerobos pertahanan timur dan selatan Jerman di Tunisia.
Serdadu Jerman dan Italia yang ditawan setelah jatuhnya Tunis, Tunisia
Jatuhnya Tunis dan kekalahan Poros di Afrika Utara dan Stalingrad, adalah awal dari kekalahan beruntun Italia dan Jerman, sementara kekalahan Jepang atas Midway adalah titik balik yang signifikan.
Setelah kekalahan Poros di Afrika Utara, Uni Soviet dan Amerika Serikat mulai mengambil andil dalam pembebasan Asia dan Eropa. Pakta Non-Agresi telah gagal disepakati dan Soviet kini mulai tergiur melihat Jerman yang sudah lemah, setelah kegagalan atas Stalingrad