SEMINAR NASIONAL SAINSTEK KE-3 UNDANA TAHUN 2016
Hotel Swiss-Belinn , Kupang – 28-29 Oktober 2016
ANALISIS RUAS JALAN RAWAN KECELAKAAN LALU LINTAS
DI KOTA KUPANG
(STUDI KASUS RUAS JALAN ARTERI DAN KOLEKTOR)
Margareth Evelyn Bolla1
1
Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Sains dan Teknik Universitas Nusa Cendana Kupang, Jl. Adisucipto Kupang
Email:[email protected]
ABSTRAK
Kota Kupang merupakan daerah penyumbang angka kecelakaan terbesar di propinsi Nusa Tenggara Timur, untuk itu tujuan pada penelitian ini adalah untuk menganalisis ruas jalan rawan kecelakaan lalulintas di Kota Kupang, disertai analisis deskriptif karakteristik kecelakaan yang terjadi. Hasil analisis menunjukkan terdapat 14 ruas jalan arteri dan 21 ruas jalan kolektor yang merupakan lokasi kecelakaan dengan jumlah total korban sebanyak 1406 orang. Berdasarkan metode UCL didapatkan 9 ruas jalan, sedangkan dengan metode BKA didapat 7 ruas jalan yang tergolong ruas jalan rawan lakalalin. Tiga besar ruas jalan dengan angka kecelakaan tertinggi adalah: 1) ruas jalan Timor Raya, jumlah total lakalalin sebanyak 256 kasus, dengan persentase tertinggi kecelakaan lalulintas terjadi pada hari Minggu (18.75%), pukul 18.00 – 23.59 Wita (40.32%), dengan tipe tabrakan depan (33.33%), melibatkan sepeda motor (63.82%), usia korban 18 tahun – 25 tahun (41.57%), berjenis kelamin laki-laki (82.75%), jenis pekerjaan swasta (43.23%), pendidikan terakhir PT (43.07%), dan korban yang tidak memiliki SIM sebanyak 71.46%. 2) Ruas jalan Frans Seda, jumlah total lakalalin sebanyak 73 kasus, dengan persentase tertinggi kecelakaan lalulintas terjadi pada hari Senin (20.55%), pukul 18.00 – 23.59 Wita (33.33%), dengan tipe tabrakan hilang kendali (21.92%), melibatkan sepeda motor (61.17%), usia korban 18 tahun – 25 tahun (34.92%), berjenis kelamin laki-laki (72.22%), jenis pekerjaan swasta (34.40%), pendidikan terakhir PT (%%.41%), dan korban yang tidak memiliki SIM sebanyak 62.17%. 3) Ruas jalan Pahlawan, jumlah total lakalalin sebanyak 49 kasus, dengan persentase tertinggi kecelakaan lalulintas terjadi pada hari Selasa (25.00%), pukul 12.00 – 17.59 Wita (40.82%), dengan tipe tabrakan depan (28.57%), melibatkan sepeda motor (58.23%), usia korban 18 tahun – 25 tahun dan 36 – 55 tahun masing-masing sebesar 29.47%, berjenis kelamin laki-laki (81.05%), jenis pekerjaan swasta (47.31%), pendidikan terakhir SMA (46.34%), dan korban yang tidak memiliki SIM sebanyak 75.51%.
Kata kunci: kecelakaan, jalan, APW, UCL, BKA
1.
PENDAHULUAN
Kecelakaan lalu lintas merupakan indikator utama tingkat keselamatan jalan raya. Di negara maju masalah keselamatan jalan sangat diperhatikan untuk mengurangi jumlah kecelakaan lalu lintas dan jumlah korban kecelakaan lalu lintas yang terjadi.
Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu propinsi di Indonesia yang menyumbang angka kecelakaan terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Direktorat Lalu Lintas Polda Nusa Tenggara Timur, pada tahun 2011 tingkat kecelakan lalu lintas di wilayah provinsi kepulauan ini berada pada urutan ketiga terbanyak di Indonesia (Surya Inside 2011). Untuk kota Kupang sebagai ibu kota propinsi Nusa Tenggara Timur,berdasarkan data dari Direktorat Lalu Lintas kota Kupang, kecelakaan lalu lintas (lakalantas) yang terjadi di jalan raya kota Kupang dalam sebulan mencapai 30 sampai 60 kasus kecelakaan. Hal ini menjadikan kota Kupang sebagai daerah penyumbang angka kecelakaan terbesar di Nusa Tenggara Timur.
bertebaran material serta akibat galian pipa dan kabel telepon yang berserakan di jalan serta penerangan di malam hari yang masih kurang.
Dengan tingginya angka kecelakaan yang ada maka dibutuhkan analisis untuk megetahui ruas-ruas jalan mana saja yang merupakan ruas jalan rawan lakalalin sehingga program penanganan dapat dilakukan secara terarah dan tepat sasaran. Untuk itu maka pada penelitian ini akan dilakukan analisis ruas jalan rawan kecelakaan lalulintas di Kota Kupang, khususnya pada ruas jalan arteri dan kolektor, serta melakukan analisis deskriptif karakteristik kecelakaan yang terjadi.
2.
TINJAUAN PUSTAKA
Kecelakaan lalu lintas menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 22 Tahun 2009 pasal 1 adalah suatu peristiwa di jalan raya tidak diduga dan tidak disengaja melibatkan kendaraan dengan atau tanpa pengguna jalan lain yang mengakibatkan korban manusia dan/atau kerugian harta benda.
Jenis dan bentuk kecelakaan dapat diklasifikasikan menjadi lima, yaitu kecelakaan berdasarkan korban kecelakaan, kecelakaan berdasarkan lokasi kejadian, kecelakaan berdasarkan waktu terjadinya kecelakaan, kecelakaan berdasarkan posisi kecelakaan dan kecelakaan berdasarkan jumlah kendaraan yang terlibat (Wedasana, 2011).
Pembobotan kecelakaan atau weighting adalah suatu nilai yang digunakan untuk menghitung indeks kecelakaan berdasarkan karakteristik masing-masing kecelakaan, yaitu analisis korban kecelakaan yang meliputi meningggal dunia (MD), luka berat (LB), luka ringan (LR), dan kerugian material.
Berdasarkan pedoman Penanganan Lokasi Rawan Kecelakaan Lalu Lintas (Pd T-09-2004-B), pemeringkatan dengan pembobotan tingkat kecelakaan menggunakan konversi biaya kecelakaan dilakukan sebagai berikut:
1. Memanfaatkan perbandingan nilai moneter dari biaya kecelakaan dengan perbandingan:
M : B : R : K = 12 : 3 : 3 : 1
Dengan:
M = jumlah korban meninggal dunia
B = jumlah korban luka berat
R = jumlah korban luka ringan
K = jumlah kecelakaan dengan kerugian materi
2. Menggunakan angka ekivalen kecelakaan dengan sistem pembobotan yang mengacu kepada biaya kecelakaan yaitu:
MD : LB : LR : KM = 12 : 3 : 3 : 1 (1)
3. Penentuan lokasi rawan kecelakaan lalulintas menggunakan statistik kendali mutu untuk jalan antar kota sebagai control-chart UCL (Upper Control Limit), yaitu:
UCL =
+
Ψ
x
Ψ
= faktor probabilitas, untuk tingkat signifikansi 95%,Ψ
= 1.645 m = nilai kecelakaan (APW) tiap-tiap ruasjika nilai kecelakaan suatu ruas jalan lebih besar dari nilai batas kontrolnya (UCL) maka ruas jalan tersebut ditetapkan sebagai ruas jalan rawan lakalalin.
4. Jumlah nilai bobot kcelakaan melebihi suatu batas tertentu yaitu Batas Kontrol Atas (BKA) maka ruas jalan tersebut ditetapkan sebagai ruas jalan rawan kecelakaan. Rumus BKA ditentukan sebagai berikut (Wheeler, 1992):
BKA = C + 3 C (3)
C = rata-rata angka kecelakaan (sesuai angka kecelakaan yang ditinjau)
3.
ANALISIS DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan rekapitulasi dan kompilasi data kecelakaan lalulintas di Kota Kupang periode tahun 2011–2015, teridentifikasi 14 ruas jalan arteri dan 21 ruas jalan kolektor merupakan lokasi kecelakaan. Jumlah total korban adalah sebanyak 1406 orang, terdiri dari 176 korban meninggal dunia, 173 korban luka berat, 1057 korban luka ringan, sedangkan data jumlah kerugian material tidak tersedia.
Data selengkapnya jumlah korban kecelakaan untuk tiap-tiap ruas jalan arteri dan kolektor dapat dilihat pada Tabel 1. Rumus (1) digunakan untuk menghitung bobot kecelakaan tiap-tiap ruas jalan, sedangkan rumus (2) dan (3) digunakan dalam penentuan ruas jalan rawan kecelakaan lalulintas.
Contoh analisis ruas jalan rawan kecelakaan untuk ruas jalan Adisucipto sebagai berikut:
Berdasarkan hasil rekapitulasi data kecelakaan lalu lintas tahun 2011 – 2015 maka dapat diketahui jumlah total korban adalah sebanyak 59 orang, terdiri dari 10 korban meninggal dunia, 12 korban luka berat dan 37 korban luka ringan, sedangkan untuk data kerugian materil tidak tersedia.Dengan rumus (1) maka besar bobot kecelakaan:
APW = (12 x 10) + (3 x 12) + (3 x 37)
= 267
Batas kontrol UCL dihitung sebagai berikut:Dengan
= jumlah bobot kecelakaan seluruh ruas jalan yang ditinjau/ jumlah ruas jalan tinjauan= 5802/ 35
= 165.77
Ψ
= faktor probabilitas, untuk tingkat signifikansi 95%,Ψ
= 1.645 m = APW = 267, makaUCL = 165.77 + 1.645 x 165 .77 267 +
0,829
267 + 1
2× 267 = 184.82
Nilai UCL merupakan nilai yang fluktuatif karena dipengaruhi besaran nilai kecelakaan masing-masing ruas jalan yang berbeda-beda.
Berdasarkan Nilai Batas Kontrol Atas (BKA) adalah:
Dengan C = 165.77
BKA = 165.77 + 3165.77
= 204.40
Nilai BKA merupakan nilai yang tetap (fixed) untuk keseluruhan ruas jalan tinjauan.
Karena nilai bobot kecelakaan ruas jalan Adisucipto lebih besar dari nilai kontrol, baik UCL (267 > 184.823) maupun BKA (267 > 204.40), maka ruas jalan Adisucipto tergolong sebagai ruas jalan rawan kecelakaan lalu lintas.
Tabel 1. Data Nama dan Fungsi Jalan, Jumlah Korban serta Angka Kecelakaan
MD LB LR TOTAL
1 A. Nisnoni Kolektor Sekunder 1 3 20 24 81.00 176.50 204.40 2 Adisucipto Arteri Sekunder 10 12 37 59 267.00 184.82 204.40 3 Ahmad Yani Arteri Primer 4 6 16 26 114.00 178.35 204.40 4 Amabi Kolektor Sekunder 5 8 27 40 165.00 180.80 204.40 5 Raya Bolok Kolektor Sekunder 0 0 8 8 24.00 172.93 204.40 6 U. Suropati Kolektor Sekunder 0 1 9 10 30.00 173.23 204.40 7 Bundaran PU Kolektor Primer 1 1 9 11 42.00 173.99 204.40 8 Cak Doko Kolektor Sekunder 3 3 31 37 138.00 179.55 204.40 9 Eltari Arteri Sekunder 4 6 36 46 174.00 181.20 204.40 10 Frans Seda Arteri Sekunder 16 15 77 108 468.00 190.95 204.40 11 H.R Koroh Kolektor Primer 7 11 58 76 291.00 185.65 204.40 12 Herewilla Kolektor Sekunder 0 2 0 2 6.00 174.90 204.40 13 Herman Johanes Arteri Sekunder 1 0 1 2 15.00 172.87 204.40 14 Jalur 40 Kolektor Primer 7 12 39 58 237.00 183.73 204.40 15 M. Praja Arteri Primer 8 0 15 23 141.00 179.70 204.40 16 Moh Hatta Kolektor Primer 4 3 14 21 99.00 177.54 204.40 17 Pahlawan Arteri Primer 8 5 66 79 309.00 186.25 204.40 18 Piet A. Tallo Arteri Sekunder 8 10 54 72 288.00 185.55 204.40 19 Pulau Indah Kolektor Sekunder 0 1 6 7 21.00 172.83 204.40 20 R. Suprapto Kolektor Sekunder 0 0 2 2 6.00 174.90 204.40 21 W.R Mongonsidi Kolektor Sekunder 2 2 10 14 60.00 175.19 204.40 22 Sasando Kolektor Sekunder 0 0 2 2 6.00 174.90 204.40 23 Siliwangi Arteri Primer 0 0 2 2 6.00 174.90 204.40 24 SK Lerik Kolektor Sekunder 2 1 5 8 42.00 173.99 204.40 25 Soeharto Kolektor Primer 2 2 58 62 204.00 182.45 204.40 26 Soekarno Kolektor Primer 1 1 13 15 54.00 174.79 204.40 27 Sudirman Kolektor Primer 6 2 32 40 174.00 181.20 204.40 28 Sumatra Arteri Sekunder 0 0 2 2 6.00 174.90 204.40 29 Sumba Arteri Sekunder 0 0 2 2 6.00 174.90 204.40 30 Tabun Kolektor Sekunder 0 1 6 7 21.00 172.83 204.40 31 Timor Raya Arteri Primer 60 62 334 456 1908.00 216.58 204.40 32 Tompello Kolektor Sekunder 0 1 1 2 6.00 174.90 204.40 33 Urip Sumoharjo Arteri Primer 4 0 7 11 69.00 175.77 204.40 34 WJ Lalamentik Kolektor Sekunder 3 0 35 38 141.00 179.70 204.40 35 Yos Sudarso Arteri Primer 9 2 23 34 183.00 181.58 204.40
176 173 1057 1406 5802
Dari hasil analisis pada Tabel 1, terlihat bahwa dengan menggunakan nilai batas kontrol metode UCL akan didapat sembilan (9) ruas jalan yang tergolong ruas jalan rawan lakalalin yaitu berturut-turut ruas jalan Timor Raya, Frans Seda, Pahlawan, H.R. Koroh, Piet A. Tallo, Adisucipto, Jalur 40, Soeharto, dan Yos Sudarso; Sedangkan jika menggunakan metode BKA terdapat tujuh (7) ruas jalan yang tergolong ruas jalan rawan lakalalin yaitu ruas jalan Timor Raya, Frans Seda, Pahlawan, H.R. Koroh, Piet A. Tallo, Adisucipto, serta Jalur 40.
Berdasarkan kedua metode tersebut, tiga (3) besar ruas jalan rawan lakalalin di Kota Kupang berturut-turut adalah ruas jalan Timor Raya, ruas jalan Frans Seda, dan ruas jalan Pahlawan. Ruas jalan yang paling rawan adalah ruas jalan Timor Raya yang memiliki nilai kecelakaan (APW) sebesar 1908, jauh diatas nilai UCL (216.58) maupun nilai BKA (204.40). Hasil rekapitulasi dan kompilasi data kecelakaan untuk ketiga ruas jalan tersebut memberikan gambaran karateristik kecelakaan sebagai berikut:
a. Jalan Timor Raya
Hari Minggu (18.75%);
Pukul 18.00 – 23.59 Wita (40.32%); Tipe tabrakan depan (33.33%); Melibatkan sepeda motor (63.82%); Usia korban 18 tahun – 25 tahun (41.57%); Jenis kelamin korban laki-laki (82.75%); Jenis pekerjaan korban adalah swasta (43.23%); Pendidikan terakhir korban Perguruan Tinggi (43.07%);
Korban tidak memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) (71.46%).
Dari data tersebut maka dapat dianalisis karakteristik kecelakaan pada ruas Jalan Timor Raya. Dengan fungsi jalan arteri primer, yang menghubungkan Kota Kupang ke kabupaten-kabupaten lainnya di Pulau Timor, bahkan ke Negara Timor Leste, juga tata guna lahan sepanjang ruas jalan Timor Raya yang bervariasi mengakibatkan tingginya pergerakan kendaraan yang mempengaruhi terjadinya kecelakaan lalulintas.
Persentase terbesar kecelakaan terjadi pada hari Minggu dan pada pukul 18.00-23.59 Wita, ditenggarai karena pada waktu-waktu tersebut tidak ada lagi aparat kepolisian yang berjaga di jalan sehingga banyak pemakai jalan yang kemudian sembrono, ugal-ugalan ataupun melanggar aturan lalulintas. Dengan mayoritas korban tidak memiliki SIM juga mengindikasikan bahwa pengemudi tidak memahami tata tertib lalu lintas dengan baik. Usia korban yang tergolong pemuda (18-25 tahun), berjenis kelamin laki-laki, dan menggunakan sepeda motor, cenderung berkecepatan tinggi saat berkendara sehingga kurang memperhatikan kendaraan dari arah yang berlawanan. Ditambah lebar jalan Timor Raya yang bervariasi dan tidak bermedian, menyebabkan seringnya terjadi kecelakaan dengan posisi tabrak depan. Foto kondisi salah satu titik pada ruas jalan Timor Raya seperti terlihat pada Gambar 1.
Gambar 1. Salah Satu Titik Ruas Jalan Timor Raya
b. Jalan Frans Seda
Jumlah total lakalalin sebanyak 73 kasus, dengan persentase tertinggi kecelakaan lalulintas yang terjadi yaitu pada kategori:
Hari Senin (20.55%);
Jenis kelamin korban laki-laki (72.22%); Jenis pekerjaan korban adalah swasta (34.40%); Pendidikan terakhir korban Perguruan Tinggi (55.41%);
Korban tidak memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) (62.17%).
Ruas jalan Frans Seda memiliki fungsi jalan arteri sekunder, merupakan ruas jalan yang menghubungkan kawasan pemukiman ke kawasan-kawasan perkantoran dan pendidikan. Ruas jalan ini memiliki kondisi perkerasan yang baik, bermedian dan secara umum berbentuk lurus (minim tikungan). Kondisi ini menyebabkan seringnya terjadi kecelakaan pada malam hari akibat pengendara sepeda motor laki-laki yang berusia muda, yang memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi, kemudian tidak mampu mengontrol kendaraannya dengan baik sehingga hilang kendali.
Faktor lain yang juga bisa menjadi pemicu kecelakaan lalu lintas pada ruas jalan ini adalah kondisi penerangan (lampu jalan) yang tidak semuanya berfungsi dengan baik sehingga berakibat pandangan pengendara pada malam hari minim cahaya. Foto kondisi salah satu titik pada ruas jalan Frans Seda seperti terlihat pada Gambar 2 berikut ini.
Gambar 2. Salah Satu Titik Ruas Jalan Frans Seda
c. Jalan Pahlawan.
Jumlah total lakalalin sebanyak 49 kasus, dengan persentase tertinggi kecelakaan lalulintas yang terjadi yaitu pada kategori:
Hari Selasa (25.00%);
Pukul 12.00 – 17.59 Wita (40.82%); Tipe tabrakan depan (28.57%); Melibatkan sepeda motor (58.23%);
Usia korban 18 tahun – 25 tahun, dan 36 – 55 tahun (masing-masing sebesar 29.47%); Jenis kelamin korban laki-laki (81.05%);
Jenis pekerjaan korban adalah swasta (47.31%); Pendidikan terakhir korban SMA (46.34%);
Korban tidak memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi) (75.51%).
yang kemudian akibat perbedaan jauh karakteristik kendaraan-kendaraan tersebut akan memperbesar kemungkinan terjadinya kecelakaan. Kondisi ruas jalan Pahlawan yang tanpa median juga menjadi penyebab tingginya jumlah kecelakaan dengan tipe tabrak depan.
Melihat waktu terjadinya kecelakaan pada siang hingga sore hari, dimana usia mayoritas korban yang selain orang muda (18-25 tahun) juga terdapat kategori usia 36-55 tahun, berjenis kelamin laki-laki, megendarai sepeda motor, dengan pendidikan terakhir SMA, mengidikasikan umumnya korban merupakan pegawai swasta yang keluar untuk mencari makan siang ataupun pulang dari kantor di sore hari
Kecilnya jumlah kepemilikan SIM juga dapat menjadi faktor penyebab tingginya angka kecelakaan, karena pengendara yang tidak memiliki SIM umumnya kurang memiliki pengetahuan berlalulintas yang baik dan benar. Pengabaian terhadap rambu-rambu, marka jalan serta ketidakmampuan ‘berkomunikasi’ dengan pemakai jalan lainnya merupakan pemicu terjadi kecelakaan lalulintas. Foto kondisi salah satu titik pada ruas jalan Pahlawan seperti terlihat pada Gambar 3.
Gambar 3. Salah Satu Titik Ruas Jalan Pahlawan
4.
KESIMPULAN
Berdasarkan analisis yang telah dilakukan dapat disimpulkan beberapa hal berikut:
1. Berdasarkan data kecelakaan lalulintas di Kota Kupang periode tahun 2011–2015, teridentifikasi 14 ruas jalan arteri dan 21 ruas jalan kolektor yang merupakan lokasi kecelakaan. Jumlah total korban adalah sebanyak 1406 orang, terdiri dari 176 korban meninggal dunia, 173 korban luka berat, 1057 korban luka ringan, sedangkan data jumlah kerugian material tidak tersedia.
2. Hasil analisis ruas jalan rawan lakalalin memberikan hasil:
a. Dengan menggunakan nilai batas kontrol metode UCL akan didapat sembilan (9) ruas jalan yang tergolong ruas jalan rawan lakalalin yaitu berturut-turut ruas jalan Timor Raya, Frans Seda, Pahlawan, H.R. Koroh, Piet A. Tallo, Adisucipto, Jalur 40, Soeharto, dan Yos Sudarso;
b. Dengan menggunakan metode BKA terdapat tujuh (7) ruas jalan yang tergolong ruas jalan rawan lakalalin yaitu ruas jalan Timor Raya, Frans Seda, Pahlawan, H.R. Koroh, Piet A. Tallo, Adisucipto, serta Jalur 40.
3. Karakteristik kecelakaan pada tiga (3) besar ruas jalan rawan lakalalin adalah sebagai berikut:
b. Jalan Frans Seda, jumlah total lakalalin sebanyak 73 kasus, dengan persentase tertinggi kecelakaan lalulintas terjadi pada hari Senin (20.55%), pukul 18.00 – 23.59 Wita (33.33%), dengan tipe tabrakan hilang kendali (21.92%), melibatkan sepeda motor (61.17%), usia korban 18 tahun – 25 tahun (34.92%), berjenis kelamin laki-laki (72.22%), jenis pekerjaan swasta (34.40%), pendidikan terakhir PT (%%.41%), dan korban yang tidak memiliki SIM sebanyak 62.17%.
c. Jalan Pahlawan, jumlah total lakalalin sebanyak 49 kasus, dengan persentase tertinggi kecelakaan lalulintas terjadi pada hari Selasa (25.00%), pukul 12.00 – 17.59 Wita (40.82%), dengan tipe tabrakan depan (28.57%), melibatkan sepeda motor (58.23%), usia korban 18 tahun – 25 tahun dan 36 – 55 tahun masing-masing sebesar 29.47%, berjenis kelamin laki-laki (81.05%), jenis pekerjaan swasta (47.31%), pendidikan terakhir SMA (46.34%), dan korban yang tidak memiliki SIM sebanyak 75.51%.
DAFTA
R PUSTAKA
Anonim, (2009) Undang Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 Tentang Lalulintas dan Angkutan Jalan. Jakarta: Pemerintah Republik Indonesia.
Puslitbang Prasarana Transportasi. (2004). Penanganan Lokasi Rawan Kecelakaan Lalulintas PD T-09-2004-B. Departemen Permukiman Dan Prasarana Wilayah. Jakarta.
Wedasana, A.S. (2011). Analisis Daerah Rawan Kecelakaan Dan Penyusunan Database Berbasis Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus Kota Denpasar). Universitas Udayana.
Wheeler, Donald J.; Chambers, David S. (1992). Understanding Statistical Process Control. 2nd edition. Knoxville, Tennessee: SPC Press.
inilahcom. (2016). Sepanjang 2015, Terjadi 1.053 Kecelakaan di NTT.
http://m.inilah.com/news/detail/2264244/sepanjang-2015-terjadi-1053-kecelakaan-di-ntt
Surya Inside. (2011). NTT Kecelakaan Lalu Lintas Terbesar Ketiga Di Indonesia.