• Tidak ada hasil yang ditemukan

Marga dalam kajian keluarga. docx

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Marga dalam kajian keluarga. docx"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

SOLIDARITAS, IDENTITAS, DAN PAGUYUBAN SUKU DAYAK DALAM SISTEM KEKERABATAN BILATERAL TELAAH SECARA SOSIOLOGIS MAKRO DAN MIKRO

Abstraksi

Suku dayak merupakan suku yang bertempat tinggal di sebagian besar pulau Kalimantan, dengan jumlah anggota yang besar maka tidak heran jika suku dayak merupakan mayoritas suku yang mendiami pulau Kalimantan, hal tersebut dapat terpatri dari keberadaan sub-sub suku dayak yang mendiami kota atau kabubaten yang berada di Kalimantan. Terbentuknya sub-sub suku dayak yang menempati lahan kapubaten atau kota di Kalimantan berimplikasi dengan tercipnya kelompok kecil dayak yang memiliki nama sendiri, perbedaan sub nama suku dayak sendiri terbagi berdasarkan daerah tempat tinggalnya seperti suku dayak bahau, tajau, ngaju, ot danum, maanyan, tabonan, lawangan, tamua, dan lain-lain. Akan tetapi meskipun suku dayak terdiri dari sub-sub suku yang menempati kota dan kabupaten berbeda mereka masih terikat dengan struktur makro mereka yaitu suku dayak.

Suku dayak sendiri memiliki sistem kekerabatan yang bersifat bilateral atau menarik garis keturuanan dari pihak ayah dan ibu ( Depdikbud, 1984), hal inilah yang akan menjadi bahasan utama dalam tulisan kali ini dengan menggunakan perspektif sosiologi khususnya sosiologi keluarga, salah satu konsentrasi studi dari sosiologi keluarga adalah kekerabatan, oleh sebab itu dengan menggunakan perspektif sosiologi keluagra penulis berkeinginan untuk mengupas dan menelaah fenomena ini. Kekayaan dan kemewahan teori yang dimiliki oleh sosiologi memberikan cara pandang tersendiri untuk dapat menganalisis sistem kekerabatan yang terkontruksi dalam suku dayak.

Sistem kekerabatan sendiri merupakan jaringan sanak keluarga yang dilihat dari garis keturunan dan menjadikan satu tubuh individu dalam keluarga tersebut sebagai patokan, penarikan garis keturunan tersebut dapat dilihat dari adanya keterikatan biologis yang ditandai dengan adanya hubungan darah ( Goode, 1991), khalayak umum biasanya melihat garis keturunan dari pihak ayah atau disebut patrilinial, ibu atau matrilinal, dan keduanya atau yang umumnya di sebut dengan bilateral, dalam tulisan kali ini penulis berfokus untuk menelisik sistem kekerabatan yang terkontruksi dalam suku dayak menggunakan sudut pandang sosiologi pada umunya dan sosiologi keluarga pada khususnya

Kata kunci : kekerabatan, suku dayak, sosiologi

LATAR BELAKANG

(2)

menggambarkan bahwa suku dayak selalu terkait dengan suku pedalaman yang anarkis, berkulit hitam, dan anti modernitas begitu lekatnya identitas tersebut pada suku dayak, manifestasi stigma tersebut bekerja saat publik melabeli suku dayak dengan identitas yang dikontruksi stigmatisasi negatif terhadap suku dayak. Hal lain yang memperkuat argumen penulis adalah penemuan dalam karnaval 17 agustus untuk memeringati kemerdekaan ibu pertiwi lepas dari belunggu penjajah, dimana dalam karnaval tersebut terdapat kelompok yang menampilkan budaya dayak dan menggambarkan suku dayak dengan suku yang berkulit hitam sehingga mereka mengecat sekucur tubuhnya hitam dengan arang, membawah hewan buruan terkait hal ini disimbolkan dengan babi, dan bernyayi ria sepanjang jalan, hal inilah yang berusah penulis luruskan agar kebohongan dalam publik tidak menjadi fakta dan saat ada individu yang membawa fakta tidak dianggap kebohongan oleh publik, dengan melihat suku dayak dari sudut pandang sistem kekerabtan secara tidak langsung kita pun dapat melihat struktur budaya dalam suku dayak dan sejarah terbentuknya.

Literatur tentang suku dayak terbilang gampang-gampang susah dalam melacaknya karena sifat dinamis dari suatu dimensi sosial khususnya masyarakat atau suku maka pelacakan literatur dalam tulisan ini juga memperhatikan waktu studi tersebut dilaksanakan, dengan menggunakan dua buah literatur hasil penelitian yang dilakuakan oleh taman budaya Kalimanatan Tengah tahun 2010 dan kajian etnografi mahasiswa Institut Seni Indonesia tahun 2015 maka penulis dapat melacak sistem kekerabatan, sejarah, dan struktur budaya dari suku dayak dengan menggunakan data sekunder yang telah tersedia.

(3)

permukiman baru. Di antaranya setelah menyebrang laut Cina Selatan mereka terdampar di pulau Kalimantan. Awalnya profesi mereka adalah sebagai penambang emas di Kalimantan Barat, namun kemudian sebagiannya beralih profesi sebagai pekebun, petani, pedagang, dan nelayan. Pada perkembangan selanjutnya, datanglah kelompok Deutro Melayu ke pulau Kalimantan yang tujuannya adalah berdagang dengan menggunakan kapal-kapal kecil. Akibat gelombang migrasi secara besar-besaran dari kelompok Deutro Melayu, kelompok Proto Melayu yang awalnya tinggal didaearh pesisir, semakin terdesak ke daerah pedalaman yang kemudian di kenal dengan suku bangsa Dayak, dan mereka yang tinggal di daerah pantai/pesisir disebut sebagai orang Melayu. Suku bangsa Dayak, menurut hasil penelitian awal seperti Tjilik Riwut(1958 & 1979), A.B Hudson(1967), Ukur(1972) terbagi kedalam paling sedikit 405 sub etnis. Nama-nama sub etnis itu pada umumnya dibuat sendiri oleh masing-masing sub kelompok etnis berdasarkan ciri-ciri tempat tinggal seperti daerah aliran sungai dan daerah pedalaman. Maka tidak heran banyak nama sub etnis Dayak yang berhubungan dengan nama sungai dan berkonokasi udik atau pedalaman.

Terkait sistem kepercayaan dan kekerabatan suku dayak memiliki agama sendiri yaitu agama kaharingan, agama tersebut merupakan agama mayoritas yang dianut oleh suku dayak sebenarnya nama dayak sendiri merupakan simbol pembeda antar agama karena nama dayak muncul untuk membadahkan antara penduduk beragama muslim dan non muslim. Agama kaharingan sendiri memiliki konsep keyakinan yang abstrak disamping mereka percaya dengan eksistensi Tuhan mereka juga memuja roh-roh nenek moyang, banyak penulis memasukkan kepercayaan orang dayak sebagai kelompok animisme, namun pengelompokkan tersebut mendapat penolakan dari sebagian besar pemuka adat suku dayak karena mereka bukan menyembah pohon, patung, atau gua-gua besar. Akan tetapi mereka percaya bahwa di tempat tersebut roh nenek moyang mereka bersemanyang, dengan demikian maka penulis memilikii pandangan bahwa tingkat kepuasan dan kesejahteraan suku dayak tidak terikat dengan adanya material namun dalam keseimbangan kosmos, seperti yang sudah dijelaskan di atas bahwa sistem kekerabatan dari suku dayak menarik garis keturunan dari ayah dan ibu atau bahasa akademisnya di kenal dengan nama bilateral.

(4)

berbatas. Untuk selanjutnya penulis akan menyampaikan literatur data sekunder dari kajian etnografi terhadap sub suku dayak yang dilakukan oleh mahisiswa Institut Seni Indonesia, tujuan digunakannya dua sumber literatur tersebut bahwa penulis berusaha menyelami lebih dalam suku dayak dari beragam sudut pandang karena Peter. L. Berger memiliki konsep dialektika yang menjelaskan bahwa satu benda yang sama jika dilihat dari sudut pandang yang berbedah akan menghasilakn penjelasan yang berbedah pula ( Soekanto, 1982).

Kajian etnografis sendiri merupakan salah satu metode dalam pardigma kualitatif untuk mengumpulkan data, etnografis secara sederhana dapat dijelaskan sebagai metode pengumpulan data menggunakan tubuh peneliti sebagai instrumen dengan tinggal bersama objek penelitian selama batas waktu yang ditentukan dalam penelitian (Koentjaraningrat, 2009), kajian etnogaris terkait suku dayak kali ini berfokus pada suku dayak bahau yang merupakan salah sub suku dayak. Suku dayak bahau merupakan suku dayak yang bertempat tinggal di daerah Kalimantan Timur tepatnya Kapubaten Kutai, terkait sistem kekerabatn sendiri suku dayak bahau tidak berbedah dengan suku dayak pada umumnya dengan melihat garis keturunan dari ayah dan ibu atau lebih dikenal sebagai bilateral. Akan tetapi yang menajdikan sistem kekeraabatan suku dayak bahau unik adalah sejarah dinamika sisten kekerabatannya, awalnya suku dayak bahau menggunakan sistem kekerabatan ambilinial namun dalam perjalanan sejarah konsep tersebut mengalami adaptasi terutama saat diterapkannya konsep utralokal yang berarti kebebasan bagi pasangan pengantin untuk memilih tempat tinggal setelah menikah( Khairuddin, 2008). Terkait dimensi lain seperti religi, pemukiman, budaya, dan adat suku dayak bahau terbilang masih memiliki keseragaman dengan suku dayak pada umunya. Ada satu hal unik lagi yang dimiliki oleh suku dayak bahau yaitu dalam proses perkawinan dimana masyarakat dayak bahau sanagt menjujung perkawinan bersal dari startifikasi yang sama walupun berbeda suku bangsanya untuk syarat lainnya terkait proses perkawinan tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan suku dayak pada umumnya. Oleh sebab itu dengan berangkat dari telaah dua data sekunder di atas penulis berusah membatasi limitisasi studi pada sistemm kekerabatab yang berlaku pada masyarakat dayak yaitu bilateral dengan analisis dari sudut pandang secara sosiologis.

TELAAH SOSIOLOGIS TERHADAP SISTEM KEKERABATAN BILATERAL PADA SUKU DAYAK

(5)

kepemilikan alat produksi, dimana mereka yang memiliki alat produksi termasuk dalam kelompok borjuris dan yang tidak memiliki alat produksi termasuk dalamn kelompok proletar (Ritzer, 2004). Sebagai sebuah disiplin ilmu yang masih muda sosiologi selalu berusaha untuk melengkapi dan mendinamisasi baik kajian, objek, teori, maupun perspektifnya, objek kaijian dari sosiologi sangat luas bahkan ada yang menyebut jika semua headline berita merupakan kajian dari sosiologi, karena keluasaan kajian yang dimiliki sosiologi berusaha untuk membuat limitasi bagi sebuah konsentrasi studi tertentu seperti sosiologi hukum, agama, budaya, politik, desa, kota, keluarga, kesehatan, kriminal, dll. Oleh sebab itu untuk menganalisis konsep kekerabatan dari suku dayak dalam tulisan ini penulis menggunakan perkawinan anatara perspektif makro yang diwakili oleh teori besar dalam sosiologi dan perpektif mikro yang diwakili oleh teori dari bidang sosiologi keluarga.

Adanya sistem kekerabatan yang terkontruksi dalam masyarakat merupakan sebuah usaha untuk mengumpulkan kelompok-kelompok sejenis yang memiliki kesamaan terkait hal ini yang digunakan sebagi dasar adalah kesamaan keturunan atau ikatan darah, suku dayak sendiri memiliki sistem kekerabatan yang bersifat bilateral atau menarik garis keturunan dari pihak ayah dan ibu, sehingga memiliki satu kelompok kekerabatan yang terbentuk luas oleh sebab itu tidak heran jika diadakan pertemuan kekerabatn dalam suku dayak maka jumlah anggotanya sangat banyak, bahkan ada yang sebelumnya saling kenal sebagi teman ternyata mereka sama-sama datang pada pertemuan tersebut dan baru mengetahui kalau mereka sebenarnya adalah saudara. Dengan demikian kelompok kekerabatn sendiri dapat dibagi menjadi dua yaitu kekerabatan yang bersifat jauh dan dekat, yang dimaksud jauh atau dekat dalam bahasan kali ini bukan pembedaan berdasrkan letak teritorial geografis tetapi adanya hubungan darah yang terbentuk.

(6)

visi, dan misi dari kelompok tersebut. Kalau melihat dari konsep interaksi maka adaya kelompok kekerabatan merupakan salah satu tempat untuk berinteraksi secara intens, seperti yang kita ketahui proses terjadinya interaksi harus memenuhi dua syarat kontak dan komunikasi, maka dalam suatu perkumpulan yang dilakukan kelompok kekerabatan dua hal tersebut pasti terjadi dan intensitas dari kontak dan komunikasi tersebut terus meningkat hingga membentuk keakraban dan kenyamanan. Sedangkan sisi negatif terbentuknya kelompok kekerabatan ini adalah adanya sentimen yang semakin kuat antar kelompok kekerabatan yang jatuhnya pada sifat primordialisme, adaya sifat tersebut memiliki dampak berbahaya bagi keberlangsungan hidup masyarakat karena meraka saling menunjukkan keunggulan dari kelompoknya masing-masing dan seolah tak mau kalah, jika persaingan ini bersifat positif merupakan satu keuntungan karena mereka saling berlomba memacu kreativitas dan pengetahuan kelompok kekerabatan untuk selalu terlihat unggul, namun jika persaingan ini jatuhnya negatif maka yang terjadinya adalah konflik persaudaraan dalam satu suku yang sama.

Oleh sebab itu diperlukan peran birokrasi pembuat kebijakan yang mampu mewadahi arena ini agar menghasilakn nilai tambah bagi aset daerah tempat tinggal suku tersebut, seperti mewadahi kreativitas dengan memberikan predikat desa wisata, adat, inovasi, dan otonom yang akan menarik banyak wisatawan baik domestik maupun mancanegara untuk datang dan melihat sebuah gambaran bahwa perbedaan bukan hal yang harus diperdebatkan akan tetapi perbedaan adalah sebuah pembelajaran untuk membangun kekuatan baru yang menyatukan perbedaan.

TINJAUAN SOLIDARITAS DALAM SISTEM KEKERABATAN SUKU DAYAK DARI KONSEPSI EMILE DURKHEIN

(7)

Sistem merupakan sesuatu yang saling terkait dan tidak dapat terpisahkan, terkait sistem kekerabatan, kekerabatan dibandang sebagi suatu yang tidak bisa lepas unsur-unsurnya dan memiliki keterikatan fungsi satu sama lain, sehingga fungsi-fungsi tersebut saling terintegrasi dan mengoktruksi struktur besar bernama kekerabatan. Terkait sistem kekerabatan suku dayak maka dalam hal ini menujukkan bahwa masyarakat dayak memiliki ikatan yang bersifat bilateral secara tidak langsung ikatan tersebut menunjukkan bahwa suku dayak memiliki sifat solidaritas mekanik, dasar pengklasifikasian suku dayak tergolong dalam masyarakat dengan solidaritas mekanik adalah ikatan yang terbentuk dalam kekerabatan suku dayak, asumsi penulis megatakan bahwa suku dayak memiliki ikatan kekerabatan yang kuat hal tersebut dapat dijelaskan dengan beberapa kasus yang melibatkan suku dayak seperti terjadinya konflik. Pemicu terjadinya konflik yang melibatkan suku dayak sebagian besar bersumber dari pertentangan antar individu terlebih dahulu, berawal dari pertentangan tersebut kelompok yang merasa bagian dari individu tersebut tidak terima karena menganggap individu tersebut merupakan bagian dari identitas kelompoknya(Depdikbud, 1984), maka saat identitas individu tersebut dilecehkan secara tidak langsung juga melecehkan identiitas kelompok yang bersangkutan. Oleh karena itu kuatnya ikatan solidaritas suku dayak dapat dilihat dari masalah tersebut dimana ikatan kekerabatan yang masih kuat dan merasa menderita saat salah satu anggota komunitas tersebut direndahkan.

(8)

tradisi untuk berkumpul sesama kerabatnya saat terjadi peristiwa penting seperti pernikahan, kematian, dan upacara adat, saat terjadi peristiwa-peristiwa tersebut suatu kelompok kekerabatan baik individu maupun kelompoknya saling memiliki kesadaran akan bagian dari kelompok tersebut dan saling berhubungan timbal balik, hubungan timbal balik dalam hal ini dapat tecermin dari adanya sikap saling membantu dan tolong-menolong antar kerabat saat ada suatu peristiwa. Syarat lainnya seperti tersistem, terstruktur, dan terbentuknya faktor bersama secara manifest dapat terlihat sebagaimana saat terjadi peristiwa penting layaknya sistem yang saling terkait dan terkonstruksi bersama syarat-syarat untuk dapat disebut kelompok sosial atau organisasi dapat terlihat dalam satu kejadian waktu. Saat terjadi pernikahan sebagai contoh maka sistem kekerabatan suku dayak memiliki struktur siapa yang dituakan, siapa yang mendapat perhatian khusus, dll, begitu juga terkait faktor ikatan bersama suku dayak memiliki satu akar pengikat bersama yang dijadikan salah satu tujuan dalam kekerabatan suku dayak yaitu ideologi bersama dan mayoritas masih menganut agama yang sama yakni agama kaharingan.

Jadi untuk menelaah sistem kekerabatan masyarakat dayak dari perspektif Durkheinian didaptkan satu temuan, untuk dapat masuk dalam klasifikasi kelompok durkheinian maka harus memenuhi syarat terlebih dahulu disebut sebagai kelompok sosial, nah untuk dapat disebut sebagai kelompok sosila suatu kelompok harus memenuhi beberapa persyaratan, setalah persyaratan tersebut terbentuk barulah kita dapat menggunakan cara pandang Durkhrin untuk mengklasifikasikan kelompok tersebut masuk dalam solidaritas mekanik atau organik. Untuk masuk dalam kategorisasi tersebut pun harus ada beberapa kriteria yang dilihat seperti hubungan timbal balik, tolong menolong, dan saling memiliki, dari beberapa persyaratan tersebut dan berpegang pada data sekunder yang ada maka argumentasi penulis cenderung untuk memberikan tesis bahwa sistem kekerabatan dalam suku dayak mnerupakan kelompok atau organisasi sosial dan dengan meminjam perpektif Durkhein organisasi tersebut termasuk dalam kelompok solidaritas mekanik karena sikap saling tolong-menolong, menghargai, dan memiliki.

Patembayan atau paguyuban

(9)

gesselschaft, pemikiran Tonnies tentang sifat hubungan manusia ini yang mempengaruhi klasifikasi lain kelompok hubungan manusia seperti pemikiran Cooley dan Durkhein.

Dalam kajian terkait sistem kekerabatan suku dayak, disebutkan di atas bahwa suku dayak memiliki tipe solidaritas yang termasuk dalam solidaritas mekanik, solidaritas mekanik sendiri merupakan buah pikiran dari sosiolog kenamaan Perancis Emile Durkhein. Relevan dengan hal tersebut untuk mengklasifikan suku dayak dalam pengelompokkan yang di buat oleh Tonnies dengan sudut pandang sistem kekerabatan termasuk dalam kelompok paguyuban atau patembayan, Tonnies sendiri menemukan ada keterhubungan anatar sifat interaksi manusia dengan tempat tinggalnya dimana sebagian besar masyarakat yang tinggal di kota cenderung memiliki sifat hubungan patembayan sedangkanyang tinggal di desa memiliki sifat hubungan paguyuban, untuk dapat membuat justifikasi suatu kelompok masuk dalam klasifikasi paguyuban atau petembanyan diperlukan beberapa persyaratan.

(10)

ditinjau dari beberapa persyaratan dan bukti lapangan maka sistem kekerabatan dari suku dayak termasuk dalam sistem kekerabatan yang bersifat paguyuban atau gemeinscafht.

Paguyuban sendiri menurut Tonnies terbagi lagi menjadi gemeinshaft by mind, place, and bold atau jika diindonesiakan berarti paguyuban berdasarkan ikatan darah, tempat, dan pikiran, melihat pembagian tersebut dari data lapangan yang tersedia penulis berargumen jika sistem kekerabatan suku dayak nerupakan pembagian kelompok sendiri yang mencakup tiga klasifikasi Tonnies, atau dengan kata lain satu kelompok kekerabatan suku dayak memiliki tiga karakteristik paguyuban baik berdasrkan tempat, pikiran, dan darah akan tetapi yang membedahkan adalah dengan sistem kekerabatan lainnya

KESIMPULAN

Adanya sistem kekerabatan merupakan suatu keniscayaan dalam setiap kehidupan manusia, karena dua sifat dasar dari manusia yaitu bersatu dengan alam dan manusia lainnya, dalam hal ini sistem kekerabatan dianggap sebagai suatu kontruksi bagunan yang memiliki beragam sendi pembangun. Sendi tersebut saling mengisi kekosongan dan terikat satu sama lain, inilah hakikat dari apa yang dimaksud sebagai sistem, kesalingpaduan sendi tersebut dapat menopang keberlangsungan bangunan besar diatasnya yakni kekerabatan, kekerabatan sendiri memiliki beragam bentuk mulai dari melihat adanya hubungan biologis atau darah, tempat, hingga kesamaan pemikiran, oleh sebab itu jalinan kekerabatn merupakan tempat untuk berdemokrasi sekaligus berkontelasi.

Selanjutnya, terkait dengan bahasan di atas penulis mengankat suku dayak sebagai suku mayoritas di Kalimantan, sistem kekerabatan suku dayak sendiri bersifat bilateral dengan melihat garis keturunan dari pihak ayah dan ibu, hal inilah yang menyebabakan luasnya jalinan kekerabatn pada suku dayak. Suku dayak sendiri terbagi kepada susb-sub suku dayak yang memiliki nama sub sesuai dengan nama tempat mereka tinggal, jalinan kekerabatn yang sangat luas dan mendalam inilah yang memberikan pendefinisian suku dayak sebagi suku yang memiliki tingkat kolektif tinggi.

(11)

Terkait dengan pahguyuban dan solidaritas yang terbentuk suku dayak memiliki sifat hubungan paguyuban jika meminjam perspektif Tonnies sedangkan dari sudut pandang Durkhein suku dayak memiliki solidaritas mekanik, dalam argumentasi penulis kedua perpektif ini memiliki kesalinghubungan diaman jika yang berkembang adalah solidaritas mekanik maka sifat hubungan nya cenderung bersifat paguyuban dan sebaliknya. Implikasi dari adanya hubungan ini suku dayak memiliki identitas kolektif yang kuat dan sikap primordialisme yang cukup tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Depdikbud. 1984. Upacara Tradisional (Upacara Kematian) Daerah Kalimantan Timur. Jakarta: Balai Pustaka.

Goode, Williem J. 1991. Sosiologi Keluaraga. Jakarta : Bumi Aksara.

Soejono, Soekanto. 1982. Sosiologi Suatu Pengatar. Jakarta : PT. Raja Grafindo. Khaharudin. 2008. Sosiologi Keluarga. Yogyakarta : Liberty Yogyakarta.

Giddens, Anthony. 2004. Sosiologi Sejarah dan Beraga Pemikirannya. Yogyakarta : Kreasi Wacana.

Referensi

Dokumen terkait

Hal ini dibuktikan dengan hasil penelitian yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Pancoran yang menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara tingkat

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui daya hambat daun kembang sepatu terhadap pertumbuhan bakteri Porphyromonas gingivalis penyebab periodontitis dengan mengukur diameter

Atlikus tyrimą paaiškėjo, kad jauni žmonės, leidžiantys laiką gatvėje, labai dažnai pastebi savo „gerą“ ir „blogą“ elgesį ir žino, kaip jie „turėtų“ gyventi.. „

Beberapa dokumen pada indikator yang tidak didapatkan oleh penulis, diantaranya dokumen pemantauan pelaksanaan Konselor, penilaian kinerja tenaga administrasi

Penelitian ini juga membuktikan bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak etanol kulit batang Litsea glutinosa (Lour.) C.B.Rob yang diberikan maka semakin menurunan pula

Dari senyawa berikut ini, manakah yang mempunyai titik didih paling tinggi.. Gula dapat larut dalam air karena adanya interaksi antara gula

Di dalam aktivitas ekonomi sekunder, aktivitasnya lebih ditekankan pada kegiatan pengolahan barang produksi primer (bahan mentah) menjadi barng yang lebih bernilai

Kurangnya penyampaian informasi dalam lingkup sekolah merupakan permasalahan yang ada di SMA Virgo Fidelis Bawen. Penyampaian informasi dari sekolah kepada murid,