BIODATA
Nama : Teguh Saputra
Tempat Tanggal Lahir : Manokwari, 16 Maret 1993
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Laki-Laki
No. Telepon : 085312127499
Alamat Email : [email protected]
Program Studi : Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan
Jurusan : Manajemen Sumberdaya Perairan
Fakultas : Perikanan dan Ilmu Kelautan
OPTIMALISASI PENERAPAN SISTEM “ MARINE PROTECT AREA “ BERBASIS HUKUM ADAT SASI LAUT MENUJU MALUKU SEBAGAI
LUMBUNG IKAN NASIONAL DEMI INDONESIA KUAT AKAN KETAHANAN PANGAN PERIKANAN NASIONAL
Penangkapan berlebih atau over-fishing sudah menjadi kenyataan pada berbagai perikanan tangkap di dunia. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) memperkirakan 75% dari perikanan laut dunia sudah tereksploitasi penuh,mengalami tangkap lebih atau stok yang tersisa bahkan sudah terkuras dan hanya 25% dari sumberdaya masih berada pada kondisi tangkap.Sebagai salah satu provinsi kepulauan, Maluku memiliki luas wilayah 581.376 km2 yang terdiri dari luas lautan sebesar 527.191 km2 dan daratan 54.185 km2. sedangkan panjang garis pantainya adalah 11.098,34 km (Bappeda Provinsi Maluku, 2009).Dengan kata lain, 90% wilayah provinsi Maluku adalah lautan, yang di dalamnya terdapat potensi sumberdaya perikanan sebesar 1.640.160 ton/tahun sesuai dengan hasil kajian Badan Riset Kelautan dan Perikanan bekerjasama dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan Oceanologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2001. Potensi sumberdaya hayati perikanan dimaksud terdiri dari pelagis, demersal dan biota laut lainnya yang perlu dieksploitasi secara optimal (DKP Provinsi Maluku 2008). Luasnya wilayah perairan dengan panjang pantai tersebut tentu memiliki kandungan sumberdaya hayati laut yang sangat besar.
Melihat fakta perairan Maluku yang memiliki kandungan sumberdaya hayati laut yang sangat besar maka perlu adanya suatu sistem yang dapat menjamin dan menjaga keberlangsungannya yaitu dengam sistem Marine Protect Area berbasis hukum adat sasi laut. Dimana semuanya ini akan bertujuan dalam mewujudkan Maluku menjadi Lumbung Ikan Nasionl yang juga akan berdampak positif bagi Indonesia secara nasional karena kebutuhan akan pangan laut dan perikana diharapkan dapat di sediakan oleh laut Maluku, yang mana pada akhirnya ketahan pangan perikanan Indonesia dapat tercapai.
yang efektif, untuk melindungi sebagian atau seluruh lingkungan di sekitarnya (Kelleher, 1999). Sebagai terjemahan langsung dari MPA adalah kawasan konservasi perairan ( KKP). KKP merupakan istilah yang digunakan dalam PP No. 60 tahun 2007, didefinisikan sebagai kawasan perairan yang dilindungi, dikelola dengan sistem zonasi, untuk mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan dan lingkungannya secara berkelanjutan.
Dari definisi tersebut di atas, paling tidak ada lima (5) prinsip dasar yang perlu diperhatikan dari batasan KKP ialah:
• Adanya wilayah perairan tertentu dengan batas-batas (delineasi) yang jelas, walaupun membuat tanda batas di wilayah perairan termasuk pekerjaan yang agak sulit. Sebagai contoh, Taman Nasional Komodo, memiliki batas wilayah perairan yang tetap dengan total luas mencapai ± 120.000 ha
• Wilayah perairan tersebut mempunyai ciri atau karakteristik tertentu yang akan memberikan manfaat positif dalam usaha perlindungan keanekaragaman hayati atau tujuan lain yang terkait (seperti peningkatan kesehatan stok perikanan tangkap, pariwisata, bentang alam atau sejenisnya). Terumbu karang yang sehat merupakan salah satu karakteristik yang sering dijadikan pertimbangan dalam memilih suatu wilayah sebagai KKP
• Harus ada aturan pembatasan yang sangat jelas, boleh tertulis atau kebiasaan yang tidak tertulis yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. UU No. 5 tahun 1990 bersama PP No. 68 tahun 1998, UU No. 31 tahun 2004 bersama PP No. 60 tahun 2007 merupakan contoh aturan tertulis tentang MPA
di Indonesia. Sedangkan Sasi Laut, Awig-Awig dan Panglima Laot merupakan contoh dari aturan tidak tertulis tentang perlindungan laut
• Aturan tersebut pada point (c), ditegakkan dan dipatuhi oleh semua orang, tanpa kecuali, serta terdapat sanksi mengikat bagi pelanggar aturan. Pernah terjadi, seorang yang beberapa kali ketahuan melakukan pencurian rusa dari suatu wilayah Taman Nasional, dikenakan hukuman penjara sampai 10 tahun.
Sedangkan Upaya pelestarian lingkungan hidup bagi masyarakat Maluku, salah satunya seperti penerapan sistem Marine Protect Area berbasis kearifan lokal sudah di laksanakan dan diterapkan sejak dulu. Hal ini akan dibuktikan dengan salah satu budaya masyarakat Maluku yang melarang pengambilan hasil-hasil potensi tertentu dengan atau tanpa merusak lingkungan. Kegiatan larangan pengambilan hasil-hasil potensi laut ini oleh masyarakat Maluku di kenal dengan sebutan ”SASI LAUT”. Sasi Laut merupakan suatu tradisi masyarakat negeri di Maluku, untuk menjaga hasil-hasil potensi tertentu. Bila sasi laut dilaksanakan, maka masyarakat dilarang untuk mengambil/menangkap hasil tertentu dari laut selama jangka waktu yang di tetapkan oleh pemerintah desa. Peranan sasi laut memungkinkan sumber daya laut untuk terus menerus tumbuh dan berkembang sehingga dapat dipanen pada ukuran tangkap yang sesuai dan selain itu kebudayaan ini akan dapat terus dilestarikan. Dengan kata lain, sumber daya alam hayati laut perlu di lestarikan dalam suatu periode tertentu untuk memulihkan pertumbuhan dan perkembangan demi tercapainya hasil yang memuaskan.
Sasi Laut, adalah salah satu bentuk sasi air yang meliputi kawasan pantai dan laut yang termasuk pertuanan desa. Hal ini berarti segala kandungan laut yang dianggap penting oleh masyarakat setempat, tergantung pada nilai ekonomis hasil laut tersebut. Yang mula-mula diatur oleh sasi adalah khusus ikan. Inipun meliputi jenis ikan tertentu yang biasanya bergerak berpindah-pindah secara berkelompok seperti ikan Lompa. Bila satu kelompok telah memasuki satu labuhan maka masyarakat dilarang untuk menangkapnya. Sejak saat itu sasi mulai berlaku. Contoh sasi laut, seperti: bialola (sejenis kerang), rumput laut, mutiara, dan ikan.
daun kelapa muda dan tanaman pada batas areal terlarang, dan pada akhirnya diadakan upacara buka sasi dengan mengangkat tanda sasi tadi dengan upacara adat sebagai tanda larangan itu tidak berlaku lagi. Setelah sesudah upacara itu, barulah masyarakat dapat mengambil hasilnya yang sudah siap panen. Tahap dalam upacar sasi laut anatra lain:
1. Upacara tutup dan buka menurut adat. Pelaksanaan upacara tutup sasi dapat dikemukakan sebagai berikut, biasanya 1 atau 2 hari menjelang upacara, telah ada pemberitahuan yang dilakukan oleh kepala kewang dan anak-anak kewang kepada seluruh masyarakat. Dengan demikian masing-masing orang atau keluarga telah mempersiapkan kebutuhannya selama masa tutup sasi itu.
meminta izin dari kepala kewang. Hari-hari khusus untuk hal yang demikian itu biasanya jatuh pada hari selasa dan jumat malam. Bila di setujui, ketika pemilik hendak memetik kelapa tersebut harus diawasi oleh anak kewang.
3. Upacara buka sasi. Upacara buka sasi dilaksanakan dalam rumah baileu atau rumah adat dengan melantunkan kapata-kapata (nyanyian adat) yang semuanya bermuara pada pemujaan kepada penguasa langit dan bumi (upu lanite). Menjelang masa buka sasi maka pada malam hari menjelang pagi kewang, anak-anak kewang dan perangkat pejabat negeri mengadakan pertemuan. Setelah hari yang disepakati tiba, maka kewang dan anak-anak kewang berjalan mengelilingi negeri sambil berteriak memanggil nama teon atau nama asli negeri.
Daftar Pustaka
Pasalbessy. “Kumpulan Materi Hukum Sasi dan Peraturan Kewang Dibeberapa Negeri Di Kepulauan Ambon dan Lease.” Tesis Program Pascasarjana Universitas Diponegoro, Semarang, 1988.
SASI, “Nilai-nilai luhur dan kepribadian masyarakat Maluku”, Departemen kehutanan kantor wilayah Provinsi Maluku, Balai Rehabilitasi dan Konservasi tanah wilayah XI, Ambon, 1996.
W. Pattinama, dan M, Pattipeilohy. ”Upacara Sasi ikan Lompa di Negeri Haruku.” Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Balai kajian Sejarah dan Nilai Tradisional, Ambon, 2003.
http://www.kewang-haruku.org/lompa.html ( diakses tanggal 8 agustus 2015) https://www.academia.edu/6439646/Adat_Sasi_di_Maluku_Studi_Literatur(diakses tanggal 9 agustus 2015)