PENTINGNYA MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI DALAM INDUSTRI KONSTRUKSI
MAKALAH
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATA KULIAH Bahasa Indonesia Keilmuan
yang dibina oleh Ibu Novi Eka Susilowati, S.Pd, M.Pd.
Oleh Afifuddin Arifin Anang Rifki Widyama
Danny Setiawan
UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS TEKNIK
JURUSAN TEKNIK SIPIL
PENTINGNYA MANAJEMEN PROYEK KONSTRUKSI DALAM INDUSTRI KONSTRUKSI
1. PENDAHULUAN
Manajemen Proyek di Indonesia mulai berkembang pada tahun 1970─1990 an, diawali dengan semakin banyaknya proyek-proyek infrastruktur yang membutuhkan professional di bidang Manajemen proyek. Manajemen proyek sendiri adalah semua perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan koordinasi dari suatu proyek dari awal (gagasan) hingga berakhirnya proyek sehingga menjamin pelaksanaan proyek secara tepat waktu, tepat guna, dan tepat mutu.
Pentingnya Manajemen Proyek bagi suatu organisasi yang menjalankan sebuah proyek dapat dianalogikan dalam sebuah pernyataan bahwa sebuah permainan tetap akan dapat berlangsung tanpa adanya strategi, namun hal tersebut berpotensi menimbulkan disharmoni dalam permainan tersebut. Tanpa adanya strategi yang matang, permainan berlangsung tanpa konsep, arah, dan tujuan yang jelas akan berimbas pada kegagalan dalam mencapai tujuan akhir yaitu kemenangan. Dengan adanya Manajemen Proyek maka akan terlihat batasan mengenai tugas, wewenang, dan tanggung jawab dari pihak-pihak yang terlibat dalam proyek sehingga tidak akan terjadi adanya tugas dan tanggung jawab yang dilakukan secara bersamaan (Ahadi, 2011).
satuan kegiatan yang terdiri dari beberapa pekerjaan lain yang berbeda (Wikipedia).
Pada umumnya kegiatan konstruksi diawasi oleh manajer proyek, insinyur disain, atau arsitek proyek. Orang-orang ini bekerja di dalam kantor, sedangkan pengawasan lapangan biasanya diserahkan kepada mandor proyek yang mengawasi buruh bangunan, tukang kayu, dan ahli bangunan lainnya untuk menyelesaikan fsik sebuah konstruksi (Wikipedia).
Di Indonesia pelaksanaan proyek konstruksi sering dipegaruhi oleh variable dan faktor-faktor tak terduga. Salah satu dari faktor tersebut adalah Manajemen Proyek yang lemah, kemampuan manajer proyek yang kurang sesuai dan dukungan manajemen pusat yang tidak selaras dengan lapangan. Manajemen proyek yang lemah juga berimbas pada proyek pembangunan infrastruktur yang seringkali mengalami kerugian bukan hanya dari aspek finansial saja. Sebagai contoh yaitu pembangunan jembatan Pasopati, Bandung. Proyek yang dilaksanakan pada tahun 2001─2005 ini memang memberi solusi jalan pintas dari Pasteur menuju Surapati, tapi di sisi lain menimbulkan masalah baru, kemacetan yang parah terjadi di terusan Pasteur dan Gasibu, dimana Gasibu merupakan pertemuan berbagai arah. Padahal Managemen Proyek yang baik bukan hanya menangani finansial dan sumber daya semata, akan tetapi harus dapat mengelola proyek agar prosesnya berjalan baik sehingga menghasilkan sebuah solusi baik dalam cakupan sebagai sistem maupun subsistem.
Dari paparan diatas, dapat kita ketahui bahwa Manajemen Proyek di Indonesia harus segera dibenahi. Perlu banyak pihak untuk mewujudkan harapan tersebut. Sehingga nantinya segala bentuk kerugian di bidang konstruksi dapat di minimalisir.
Tulisan ini berusaha untuk mendeskripsikan (1) bagaimanakah bentuk Organisasi Manajemen Proyek konstruksi beserta, (2) tujuan Manajemen Proyek konstruksi, serta (3) peranan Manajemen Proyek konstruksi.
konstruksi diharapkan mampu mengoptimalkan Manajemen Proyek sehingga dapat meminimalisir terjadinya kerugian.
2. PEMBAHASAN
a. Bentuk Organisasi Manajemen Proyek Konstruksi
Kegiatan ini bertujuan melakukan pengaturan dan pengelompokan kegiatan proyek konstruksi agar kinerja yang dihasilkan sesuai dengan harapan. Tahap ini menjadi sangat penting karena ketidaktepatan pengaturan dan pengelompokan kegiatan yang terjadi akan berakibat langsung terhadap tujuan proyek.
Pengelompokan kegiatan dapat dilakukan dengan menyusun jenis kegiatan dari yang besar hingga yang tercekil. Penyusunan ini disebut Work Breakdown Structure (WBS). Penyusunan tersebut kemudian dilanjutkan dengan menetapkan pihak yang nantinya bertanggung jawab terhadap pelaksanaan pekerja tersebut. Proses ini disebut Organization Breakdown Structure (OBS).
1. Definisi Organisasi
Pengertian bentuk organisasi yang paling sederhana adalah bersatunya kegiatan-kegiatan dari dua individu atau lebih dibawah satu organisasi, dan berfungsi mempertemukan mereka menjadi satu tujuan. Semakin banyak individu atau kelompok yang terlibat dengan macam kegiatan atau jenjang kewenangan yang beragam, bentuk organisasi akan menjadi semakin kompleks. Fungsi organisasi yang kompleks adalah mengubah sesuatu (dapat berupa material, informasi, ataupun masyarakat) melalui sesuatu tatanan terkoordinasi yang mampu memberikan nilai tambah, sedemikian rupa sehingga kemungkinan organisasi mencapai tujuannya dengan baik.
2. Proses Pembetukan Organisasi
bertemunya dua orang atau lebih. Grup kecil ini akan bisa menjadi besar seiring peningkatan kompleksitas tujuan organisasi serta fungsi organisasi. Secara umum, tahap-tahap yang biasanya dilalui dalam pembentukan organisasi yaitu (1) role: adalah perilaku seseorang yang dapat menempatkannya dalam lingkungan sosial, (2) norms: menerima standar yang ditetapkan, (3) status: menempatkan pada level yang bergengsi dalam grup, dan (4) group cohesiveness: bagaimana setiap anggota saling terkait dalam grup dan berpandangan yang sama.
3. Jenis Organisasi Proyek Konstruksi
Seiring masuknya unsur-unsur eksternal kedalam lingkup internal, dengan sendirinya akan mengakibatkan pergeseran suatu sistem yang telah dirancang. Kondisi demikian berlaku juga pada suatu organisasi yang sejak awal telah menetapkan tujuannya. Pihak manajemen harus tanggap terhadap perubahan yang terjadi diluar organisasi sehingga dengan cepat merombak strukturnya untuk mengantisipasi atau meningkatkan kinerja organisasi tersebut. Lingkungan yang mampu mengubah struktur organisasi antara lain peningkatan iklim kompetisi dalam pasar, perubahan teknologi, kebutuhan pengendalian sumber daya dalam perusahaan yang menghasilkan aneka ragam produk, dan lain-lain.
Pada umumnya, pihak manajemen tidak melihat dengan cermat kebutuhan organisasi yang sesungguhnya sehingga sering terjadi keterlambatan dalam menentukan sikap untuk kepentingan organisasi.
Dari bahasan diatas, maka jelas bahwa pengelompokan fungsi menjadi dasar terjadinya berbagai bentuk atau pola organisasi dalam proyek konstruksi. Pada hakikatnya, jenis-jenis organisasi tersebut dapat dikelompokkan menjadi lima bentuk organisasi atau pendekatan manajemen, yaitu tradisional(traditional/classical organization), swakelola (force account), proyek putar kunci (turnkey project), proyek yang memisahkan kegiatan perencanaan dengan kegiatan pengawasan pelaksanaan proyek, dan proyek yang menggunakan konsultan manajemen sebagai manajer konstruksi.
4. Bentuk Organisasi
Adapun bentuk/tipe organisasi dalam suatu manajemen proyek konstruksi dapat dikelompokkan menjadi lima, yaitu (1) Organisasi Garis, (2) Organisasi Garis dan Staf, (3) Organisasi Fungsional, (4) Organisasi Matrik, dan (5) Organisasi Panitia.
b. Tujuan Manajemen Proyek Konstruksi
Yang dimaksud dengan proyek adalah suatu usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang dibatasi oleh waktu dan sumber daya yang terbatas. Sehingga pengertian proyek konstruksi adalah suatu upaya untuk mencapai suatu hasil dalam bentuk banguna atau infrastruktur.
Manajemen proyek konstruksi adalah proses penerapan fungsi-fungsi manajemen (perencanaan, pelaksanaan, dan penerapan) secara sistematis pada suatu proyek dengan menggunakan sumber daya yang ada sercara efektif dan efisien agar tercapai tujuan proyek secara maksimal.
Manajemen proyek konstruksi meliputi mutu fisik konstruksi, biaya dan waktu. Manajen material dan manajemen tenaga kerja yang lebih ditekankan. Hal itu dikarenakan manajemen perencanaan berperan hanya 20% dan sisannya manajemen pelaksanaan termasuk didalamnnya pengendalian biaya dan waktu proyek.
1. Sebagai Quality Control untuk menjaga kesesuai antara pelaksanna dan perencanaan.
2. Mengantisipasi terjandinnya perubahan kondisi lapangan yang tidak pasti dan mengatasi kendala terbatasnya waktu pelaksanaan.
3. Memantau prestasi dan kemajuan proyek yang telah dicapai, hal ini dilakukan dengan opname (laporan) harian, mingguan, dan bulanan. 4. Hasil evaluasi dapat dijadikan tindakan pengambilan keputusan terhadap
masalah- masalah yang terjadi di lapangan.
5. Fungsi manajerial dalam manajemen merupakan sistem informasi yang baik untuk menganalisis performa di lapangan.
Sasaran manajemen proyek konstruksi adalah mengelola fungsi atau mengatur pelaksanaan pembanguna sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil optimal sesuai dengan persyaratan (spesification) untuk keperluan pencapaian tujuan ini, perlu diperhatikan pula mengenai mutu bangunan, biaya yang digunakan dan waktu pelaksanaan. Dalam rangka pencapaian hasil ini selalu diusahakan pelaksanaan pengawasan mutu (Quality Control), pengawasan biaya (Cost Control) dan pengawasan waktu pelaksanaan (Time Control).
Penerapan konsep manajemen konstruksi yang baik adalah mulai tahap perencanaan, namun dapat juga pada tahap-tahap lain sesuai dengan tujuan dan kondisi proyek tersebut sehingga konsep MPK dapat diterapkan pada tahap-tahap proyek sebagai berikut.
1. Manjemen proyek konstruksi dilaksanakan pada seluruh tahap proyek. Pengelolaan proyek dengan sistem manajemen konstruksi, disini mencakup pengeloalaan teknis operasional proyek, dalam bentuk masukan-masukan atau keputusan yang berkaitan dengan teknis operasional proyek konstruksi, yang mencakup seluruh tahap proyek, mulai dari persiapan, perencanaan, perancangan, pelaksanaan dan penyerahan proyek.
3. Tim manajemen proyek konstruksi akan memberikan masukan atau keputusan dalam menyempurnakan desain sampai proyek selesai.
4. Manajemen ptoyek konstruksi berfungsi sebagai koordinator pengelolaan pelaksanaan dan melaksanakan fungsi pengendalian atau pengawasan. (Haryono,2012)
Seorang manager proyek merupakan seorang professional dalam bidang manajemen proyek. Untuk menghasilkan kinerja yang baik, sebuah proyek harus dimanage dengan baik oleh manajer proyek yang berkualitas baik serta memiliki kompetensi yang disyaratkan. Seorang manager proyek yang baik harus memiliki kompetensi yang mencakup unsur ilmu pengetahuan (knowledge), kemampuan (skill) dan sikap (attitude). Ketiga unsure ini merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keberhasilan proyek. Sebuah proyek akan dinyatakan berhasil apabila proyek dapat menyelesaikan sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, ruang linbgkup dan biaya yang sudah direncanakan. Manager proyek merupakan individu yang paling menentukan keberhasilan atau kegagalan suatu proyek. Karena dalam hal ini manager proyek yang memegang peranan penting dalam mengintegrasikan, mengkoordinasikan semua sumber daya yang dimiliki dan bertanggung jawab sepenuhnya atas keberhasilan dalam pencapaian sasran proyek
Untuk menjadi manager proyek yang baik, terdapat 9 ilmu yang harus dikuasai antara lain: Manajemen ruang lingkup, manajemen waktu, manajemen biaya, manajemen kualitas, manajemen sumber daya manusia, manajemen pengadaan, manajemen komunikasi, manajemen resiko, dan manajemen integrasi.
sertifikasi ini akan memperoleh gelar PMP (Project Management Professional). (Wikipedia)
c. Peranan Manajemen Proyek Konstruksi
Peranan Manajemen Konstruksi dalam Industri Konstruksi adalah layanan yang sangat baik yang disediakan untuk mengkoordinasikan dan mengkomunikasikan seluruh proses konstruksi. Sebagai manajer proyek konstruksi akan menangani semua tahap konstruksi proyek Anda. Pada tahap pra-konstruksi, kita akan melakukan semua yang diperlukan studi kelayakan dan penelitian. Kemudian datang desain dan perencanaan. Setelah spesifkasi arsitektur dan tujuan penjadwalan yang didefnisikan dengan baik, pekerjaan dilanjutkan oleh pembangun dan kontraktor untuk memulai membangun aktual bawah pengawasan yang ketat kami. Menekankan pada independen dari para profesional lain yang terlibat dalam konstruksi. netralitas ini memungkinkan untuk secara objektif dan tidak memihak menyarankan klien pada pilihan konsultan dan kontraktor, yang memungkinkan klien untuk mendapatkan manfaat maksimal. (Wikipedia)
Konsultan Manajemen Konstruksi sebagai pendamping konsultasi bagi user, maka harus mampu memahami dan menampung semua masukan dari user, kemudian mengawasi dan mendampingi perencanaan dalam menuangkannya dalam desain. Proses ini bisa terjadi berulang-ulang, dimana pada umumnya pihak pengguna memiliki banyak kebutuhan dan keinginan yang harus diakomodasi (apalagi jika klien/pengguna terdiri dari beberapa orang /pihak terkait, seperti banyak terjadi pada proyek-proyek instansi pemerintahan). Proses diskusi, mendesain, presentasi, revisi desain/mendesain ulang hingga seterusnya. Untuk itu konsultan dituntut harus cerdas dalam menyikapi segala sesuatu, sehingga tidak akan mengganggu proses konstruksinya.
Selain harus cerdas, seorang konsultan Manajemen Konstruksi harus memiliki tanggung jawab, seperti yang dinyatakan Construction Management Association of America (CMAA) yaitu tanggungjawab terhadap perencanaan proyek manajemen, manajemen harga, manajemen waktu, manajemen harga, manajemen kualitas, administrasi kontrak, manajemen keselamatan, dan praktik profesional.
Peranan Manajemen Konstruksi pada tahapan proyek konstruksi dapat dibagi menjadi Agency Construction Management (ACM), Extended Service Constructon (ESCM), Ownwer Construction Management (OCM), dan Guaranted
Maximum Price Construction Management (GMPCM) (Dewi, 2013)
:
1. Agency Construction Management (ACM)
pelaksanaan serta antar para kontraktor. Konsultan Managemen Konstruksi dapat dilibatkan mulai dari mulai fase perencanaan. Pihak pemilik mengadakan ikatan kontrak langsung dengan beberapa kontraktor sesuai dengan paket-paket pekerjaan yang telah disiapkan.
2. Extended Service Construction Managemen(ESCM)
Jasa konsultan MK dapat diberikan oleh pihak perencana atau pihak kontraktor. Apabila perencana melakukan jasa Manajemen Konstruksi, akan terjadi “konfik-kepentingan” karena peninjauan terhadap proses perancangan tersebut dilakukan oleh konsultan perencana itu sendiri, sehingga hal ini akan menjadi suatu kelemahan pada sistim ini pada tipe yang lain kemungkinan melakukan jasa Manajemen Konstruksi berdasarkan permintaan pemilik ESCM/ kontraktor.
3. Owner Construction Management (OCM)
Dalam hal ini pemilik mengembangkan bagian manajemen konstruksi profesional yang bertanggungjawab terhadap manajemen proyek yang dilaksanakan.
4. Guarented Maximum Price Construction Management (GMPCM)
Konsultan ini bertindak lebih ke arah kontraktor umum dari pada sebagai wakil pemilik. Disini konsultan GMPCM tidak melakukan pekerjaan konstruksi tetapi bertanggungjawab kepada pemilik mengenai waktu, biaya, dan mutu. Jadi dalam surat perjanjian kerja/kontrak , konsultan GMPCM bertindak sebagai pemberi kerja terhadap para kontraktor (sub kontraktor).
kondisi di lapangan, memantau kemajuan dan prestasi proyek yg telah dicapai, hasil evaluasi dan manajerial dari manajemen yang merupakan sistem informasi yang baik untuk menganalisis performa di lapangan (Dewi, 2013).
3. PENUTUP
Berdasarkan uraian yang telah disebutkan, dapat diketahui pentingnya manajemen proyek konstruksi. Hubungan antara pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proyek umumnya dibedakan atas hubungan fungsional, yaitu pola hubungan yang berkaitan dengan fungsi pihak-pihak tersebut dan hubungan kerja (formal) yaitu pola hubungan yang berkaitan dengan kerjasama antara pihak-pihak yang terlibat dalam suatu proyek konstruksi yang dikukuhkan dengan suatu dokumen kontrak. Secara fungsional, ada tiga pihak yang sangat berperan dalam suatu proyek konstruksi, yaitu pemilik proyek, konsultan, dan kontraktor.
Sasaran manajemen proyek konstruksi adalah mengelola fungsi atau mengatur pelaksanaan pembanguna sedemikian rupa sehingga diperoleh hasil optimal sesuai dengan persyaratan (spesification) untuk keperluan pencapaian tujuan ini, perlu diperhatikan pula mengenai mutu bangunan, biaya yang digunakan dan waktu pelaksanaan. Dalam rangka pencapaian hasil ini selalu diusahakan pelaksanaan pengawasan mutu (Quality Control), pengawasan biaya (Cost Control) dan pengawasan waktu pelaksanaan (Time Control).
DAFTAR RUJUKAN
Ervianto. 2002. Manajemen Proyek Konstruksi. Yogyakarta: Andi.
Ahadi. 2011. Manajemen Proyek. (Online), ( http://www.ilmusipil.com/manajemen-proyek), diakses tanggal 12 April 2016.
Widiasanti, Lenggogeni. 2013. Manajemen Konstruksi. Bandung: PT. Remaja
Haryono. 2012. Tujuan dan Manfaat Manajemen Proyek Bagian Konstruksi. (Online), ( http://manproimam.blogspot.co.id/2012/01/tujuan-dan-manfaat-manajemen-proyek.html), diakses tanggal 12 April 2016.
Wikipedia. Konstruksi. (online),(https://id.wikipedia.org/wiki/Konstruksi), diakses
tanggal 13 April 2016.
Wikipedia. Manajemen Proyek. (online),
(https://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_proyek), diakses tanggal 13 April 2016.
Wikipedia. Manajemen Konstruksi. (online),
(https://id.wikipedia.org/wiki/Manajemen_konstruksi), diakses tanggal 13 April 2016.