• Tidak ada hasil yang ditemukan

Privatisasi Rumah Sakit Pemerintah dan H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Privatisasi Rumah Sakit Pemerintah dan H"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Privatisasi Rumah Sakit Pemerintah dan Hak Kesehatan Masyarakat Oleh : Muslimin B. Putra

Pemerintah berencana mengajukan RUU Rumah Sakit ke DPR pada 13 Nopember mendatang (Sindo, 4/9/2005). Keberadaan RUU Rumah Sakit diantaranya mengusung misi sosial tentang keberadaan orang miskin dalam RS Swasta dengan layanan gratis. Meski labelnya mengusung misi sosial, RUU Rumah Sakit telah didahului dengan fenomena privatisasi tiga rumah sakit pemerintah yang ujung-ujungnya menyebabkan layanan rumah sakit tidak bisa dikatakan gratis.

Perubahan status tiga rumah sakit telah menyebabkan krisis kepercayaan dari dua aras: aras internal dari karyawan rumah sakit yang akan diprivatisasi dan aras kedua adalah konsumen/rakyat yang akan dilayani rumah sakit terprivatisasi tersebut. Demontrasi karyawan rumah sakit Pasar Rebo beberapa waktu lalu akibat perubahan badan hukum rumah sakit tersebut telah membawa beberapa implikasi. Implikasi pertama bahwa program privatisasi akan selalu menuai gejolak penentangan dari pihak-pihak yang merasa dirugikan. Implikasi kedua, bahwa privatisasi yang sejatinya dapat mendatangkan perubahan ke arah yang lebih baik bila dilakukan sesuai dengan ketentuan empiris dan teoritis.

Sudah diketahui bahwa perubahan bentuk kelembagaan tiga buah rumah sakit pemerintah (RSP) yang berlokasi di DKI Jakarta menjadi badan hukum Perseroan Terbatas (PT) menimbulkan kontroversi baru dalam dunia administrasi perumah-sakitan di Indonesia. Tiga Rumah sakit tersebut masing-masing RS Cengkareng, RS Pasar Rebo dan RS Haji Pondok Gede.

(2)

Perbedaan payung hukum RS Pemerintah (pusat dan daerah) merupakan paradoks yang menunjukkan inkonsistensi pemerintah dalam mengatur keberadaan RS.

Saat ini, dari total RS yang ada di Indonesia sebanyak 1.196 buah, terdapat 335 RSUD dan 14 buah RSUP. Selebihnya dimiliki oleh TNI/Polri (112 buah), BUMN/Departemen lain (71 buah), dan swasta (417 buah) serta RS Khusus (247 buah). Bila diprosentase, kepemilikan RS di Indonesia lebih banyak dimiliki swasta (44 persen), kemudian pemerintah daerah (35 persen), TNI/Polri (12 persen), BUMN/ Departemen lain (7 Persen) dan pemerintah pusat/Depkes (1 persen).

Dari Birokrasi ke Korporasi

Perubahan badan hukum RS Pemerintah telah berlangsung seiring dengan pergeseran paradigma administrasi publik. Menjelang abad 21, paradigma New Public Management (NPM) menjadi paradigma mainstream di negara-negara maju, seperti di Inggris, Australia, Selandia Baru dan Kanada. Paradigma ini berintikan partisipasi sektor swasta dalam menangani kegagalan pemerintah dalam pengelolaan masalah-masalah publik (public affairs).

Bila merujuk pada Kaboolian (1998) dalam tulisannya di Public Administration Review (Vol. 58 No. 3) yang berjudul “The New Public Management: Challenging the Boundaries of The Management vs Administration Debate”, ada 6 (enam) ciri dari gerakan NPM yakni: (1) adopsi manajemen sektor swasta dalam pengelolaan administrasi publik; (2) penekanan pada efisiensi; (3) perubahan mendasar dari konsep orientasi pada input dan peraturan/perundangan menjadi berorientasi pada pengukuran output dan kinerja organisasi; (4) preferensi pada outsourcing pelayanan publik dan kepemilikan swasta; (5) pendelegasian kewenangan manajemen dengan peningkatan sistem monitoring dan evaluasi; (6) pemisahan antara pembuat kebijakan dengan pelaksanaan pelayanan.

(3)

terakhir, korporatisasi RS Pemerintah telah menyebar hingga ke Afrika (Ghana dan Nigeria), bekas negara komunis (Rusia dan Albania) serta ke Asia Tenggara seperti Malaysia, Singapura, Thailand dan Philipina (Rijadi, 2005).

Di Indonesia sendiri, dampak gerakan NPM mulai terasa dengan perubahan RS Pemerintah menjadi Unit Swadana. Perubahan tersebut berdasarkan Keputusan Presiden (Kepres) No. 38/1991 tentang Unit Swadana. Unit Swadana diartikan sebagai kewenangan setiap instansi pemerintah untuk menggunakan penerimaan fungsional secara langsung untuk digunakan pada kegiatan operasional, pemeliharaan dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia di lingkungan instansi pemerintah yang bersangkutan. Meski dalam Kepres tersebut RS masih disamakan dengan instansi pemerintah lainnya, namun perkembangan baru tersebut menandakan terjadinya reformasi dalam pengelolaan RS Pemerintah, walaupun masih sebatas perubahan sistem pengelolaan keuangan. Dari total 350 RSUD, 100 RSUD diantaranya telah menjadi Unit Swadana hingga kini.

Perubahan berikutnya yang signifikan adalah keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) No. 6 Tahun 2000 tentang Perusahaan Jawatan (Perjan). Beberapa RSUP secara langsung berubah menjadi BUMN yang secara kelembagaan dibawah kewenangan Depkes dan Depkeu kemudian dibawah Meneg BUMN. RSUD pun dimungkinkan menjadi BUMD.

Pertentangan Opinikal

Di Indonesia masih terdapat beragam pemikiran seputar privatisasi atau korporatisasi RS Pemerintah. Sebagai contoh kecil, dua pakar kesehatan masyarakat dari FKM UI yakni Prof. Hasbullah Thabrany dan Suprijanto Rijadi, Ph.D tidak sepakat tentang konsep privatisasi RS Pemerintah.

(4)

asuransi kesehatan sosial atau pajak yang sebagiannya disisihkan untuk mendanai orang-orang sakit. Orang sakit, selain secara fisik dan mental mengalami suatu penderitaaan juga tidak mampu berproduksi.

Sementara Suprijanto Rijadi sangat percaya pada teori dari Preker & Harding (2003) tentang perubahaan kelembagaan RS Pemerintah yang mencakup empat spektrum perubahan : mulai dari RS Subsidi, RS Otonom, RS Korporat hingga RS Privatisasi. Dalam kategori Preker & Harding dalam bukunya “Innovation in Health Service Delivery: The Corporatization of Public Hospitals”, pengertian keempat jenis RS pemerintah secara sederhana disebut bahwa RS Subsidi berada dibawah hirarki pemerintah, sedang RS otonom relatif memiliki kebebasan mengelola bidang-bidang tertentu (utamanya bidang keuangan). Sementara itu, RS Korporat diartikan bahwa meski kepemilikan masih pemerintah tetapi manajemennya dikelola menurut prinsip-prinsip organisasi bisnis. Terakhir RS Privatisasi adalah RS yang murni dikelola secara bisnis dengan kepemilikan yang luas (pemerintah dan publik) karena sahamnya dapat diperdagangkan di bursa efek sehingga kelembagaan RS bisa berbentuk perusahaan terbuka (PT. Tbk).

Kebijakan Pemerintah

Meski pemerintah tidak secara jelas mengungkapkan bahwa RS Pemerintah akan diarahkan pada model RS Privatisasi, namun kebijakan pemerintah ke depan pada prinispnya akan mengarah pada penciptaan efisiensi, equity (keterjangkuan) dan quality (mutu). Tekad pemerintah cq. Departemen Kesehatan tersebut menandakan bahwa arah pengelolaan RS Pemerintah menuju pada ciri korporatisasi maupun privatisasi. Langkah Depkes dapat berupa restrukturisasi atau privatisasi, akan tergantung pilihan-pilihan kebijakan yang akan diambil.

(5)

Sedang restrukturisasi adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan.

Dalam masa transisi pasca Perjan, RS Pemerintah dituntut untuk mampu beradaptasi dengan kecenderungan global ke arah privatisasi. Tiga RSUD di DKI Jakarta telah memulai langkah ke arah privatisasi, bagaimana dengan RS Pemerintah lainnya? Bagaimana pula dengan UU Pemda No. 32/2004 yang mengatur RSUD sebagai Lembaga Teknis Daerah (LTD) yang cenderung ke birokrasi, bukan korporasi? Bagaimana akses masyarakat, terutama masyarakat miskin dalam mendapatkan jaminan kesehatan sebagai bagian dari hak kesehatan yang menjadi kewajiban pemerintah? Inilah beberapa paradoks dalam diskursus administrasi rumah sakit di Indonesia.

Referensi

Dokumen terkait

seperti yang tertera dalam prospektus atau ada perkiraan harga apabila menggunakan sistem book building. 2) Pembeli tidak dipungut biaya transaksi. 3) Pembeli belum pasti

Kegiatan analisa data ini dilakukan dengan cara mengkaji unsur mitos yang terkandung dalam cerita rakyat, mengkaji nilai budaya yang terkandung di dalamnya, juga

Pemodelan kemiskinan lainnya dilakukan oleh Yuniarti (2010), dengan melakukan pemodelan faktor-faktor yang mempengaruhi persentase penduduk miskin di Jawa Timur

Pada kasus ini, seperti ditunjukkan pada gambar 1, grup abelian berhingga dari barisan genomik DNA didefinisikan atas ruang barisan S berdimensi K yang dibentuk

Dari percobaan remote laboratory calori work  yang memiliki tujuan menghitung nilai kapasitas kalor suatu kawat konduktor ini didapatkan hasil data yang berhubungan dengan

Berdasarkan persamaan perpindahan panas konduksi untuk satu dimensi Dari persamaan pada gambar dimana sistem pada kondisi steady state. Kondisi batas dalam persoalan ini dan

Kalau kata pengajaran hanya ada di dalam konteks guru-murid di kelas formal, sedangkan kata pembelajaran tidak hanya ada dalam konteks guru- murid di kelas

Frisian Flag Indonesia wilayah Jawa Barat perlu informasi secara empirik mengenai kompetensi, kinerja dan pengaruh dari kompetensi terhadap kinerja secara akurat