• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menggugat Kembali Hak Rakyat Atas Air 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Menggugat Kembali Hak Rakyat Atas Air 1"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Menggugat Kembali Hak Rakyat Atas Air1 Nadia Astriani

Dosen Hukum Lingkungan Fakultas Hukum Universitas Pajajaran Peneliti Pusat Studi Hukum Lingkungan dan Tata Ruang FH UNPAD

Wafatnya Ibu Patmi pada tanggal 21 Maret hanya sehari sebelum Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret merupakan suatu momen tepat untuk melihat kembali, sejauh mana pemerintah telah menjamin hak atas air. Air, pada hakikatnya adalah zat yang tidak dapat digantikan. Air adalah inti dari kehidupan manusia sebagaimana oksigen, oleh karena itu Hak atas air merupakan hak mendasar bagi kehidupan manusia. Air dalam kehidupan manusia juga memiliki nilai dan fungsi sosial, ekonomi dan religi. Sebuah kehidupan manusia yang bermartabat membutuhkan air. Kehidupan bermartabat itulah yang diperjuangkan ibu Patmi sampai akhir hayatnya.

Kondisi Air di Indonesia

Dari jumlah Air yang tersedia di permukaan bumi, sebanyak 97% tidak dapat dikonsumsi oleh manusia. Dari 3 % sisanya, 2/3 terperangkap dalam es di antartika atau tersimpan di dasar bumi. Dengan demikian hanya sekitar 1% yang dapat dkonsumsi manusia (Suteki :2009). Mengacu kepada perhitungan WHO (2010), kebutuhan air adalah 30 liter per individu per hari, yaitu 10 liter untuk minum dan 20 liter untuk sanitasi. Dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia 252 juta orang, maka per hari jumlah air yang dikonsumsi oleh penduduk Indonesia

adalah 7,56 milyar liter (http://www.mongabay.co.id).

Data FAO 2003 menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara terkaya kelima dalam hal jumlah air per penduduk per tahun dengan angka 13.381 m3/tahun/penduduk atau keempat di dunia dalam hal total aktual sumber daya air yang terbarukan di bawah Brazil, Canada dan Rusia. Data tahun 2011 menunjukkan terjadi penurunan ranking untuk Indonesia. Jumlah total sumber daya air yang terbarukan Indonesia pada tahun 2011 adalah 2.019 km3, di bawah Brazil, Rusia, Amerika Serikat, Canada, China dan Columbia (Kruha : 2016). Data Kementrian PU pada tahun 2014 menyebutkan dari potensi ketersediaan air di Indonesia mencapai 3,9 triliun meter kubik, baru 12 milyar meter kubik atau 63m3/kapita yang dapat dikelola melalui reservoir.

Dari potensi ketersediaan air tersebut, semestinya tidak ada masalah dalam pemenuhan hak air bersih. Tapi kenyataan berkata lain. Rakyat justru harus membayar mahal untuk mendapatkan air bersih. Hal ini disebabkan, distribusi air tidak merata. Ketidakmerataan distribusi air ini terjadi karena dua hal, pertama secara natural, ketersediaan air di Indonesia tidak merata, di beberapa daerah seperti Kalimantan dan Papua, sumber air melimpah, sementara di daerah seperti Nusa Tenggara sumber air terbatas. Kedua, akses terhadap air bersih sulit dijangkau, Data Kementrian PU tahun 2013 menunjukkan cakupan pelayanan nasional akses air bersih baru 67,7% dan diharapkan terjadi peningkatan 2-3% pertahun. Data Unicef menunjukan 10-20% rakyat Indonesia menggunakan air minum yang berasal dari sumber air yang tidak layak.

Hak Atas Air sebagai Hak Asasi Manusia

Hak merupakan objek hukum di samping benda yang dapat dikuasai atau dimiliki oleh subjek hukum. Dalam bahasa Latin, hak diberi istilah ius, sedangkan dalam bahasa Inggris diberi istilah right, droit dalam bahasa Perancis, dan recht dalam bahasa Belanda. Menurut Apeldorn, hak diartikan sebagai hukum yang dihubungkan dengan manusia atau subjek

(2)

hukum tertentu. Dengan demikian hal menjelma menjadi suatu kekuasaan. Secara umum hak dapat dibedakan menjadi dua, yaitu hak mutlak (absolut) dan hak nisbi (relatif). Yang termasuk dalam hak absolut yaitu hak asasi manusia (HAM), hak publik dan hak keperdataan. Sedangkan, yang termasuk hak nisbi yaitu hak-hak yang timbul dalam hukum perikatan. Hak atas air merupakan HAM dan berarti pula bahwa hak atas air adalah termasuk hak absolut (Suteki:2010).

Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mendeklarasikan akses terhadap air dan sanitasi sebagai hak asasi manusia dalam Sidang Umum PBB yang berlangsung pada akhir bulan Juli 2010. Sebelumnya, hak atas air telah diakui dalam berbagai konvensi international. Misalnya pasal 14, paragraf 2 Konvensi tentang Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan 1984 menyatakan bahkan Negara penandatangan harus

menjamin kepada perempuan Hak untuk “menikmati kondisi hidup yang layak, terutama

dalam kaitan dengan suplai air”. Pasal 24 paragraf 2 Konvensi Hak Anak-anak 1989

mewajibkan negara penandatangan untuk memerangi penyakit dan kekurangan gizi “melalui

pengaturan tentang makanan bergizi dan air minum yang layak”.

Pengakuan air sebagai hak asasi manusia, setidaknya menyiratkan beberapa ciri yang melekat terhadap air yaitu inclusive, universal dan inalienable. Sifat inklusif menjadikan hak atas air dapat dimiliki secara pribadi sekaligus juga bersama-sama oleh semua orang. Secara universal, setiap manusia secara otomatis dapat memiliki hak atas air. Tidak dapat dipisahkan membuat hak ini tidak bisa dipertukarkan atau diperjualbelikan (Kruha : 2016).

Hak Atas Air dalam Hukum Positif Indonesia

Campur tangan negara terhadap res commune (sesuatu yang dimiliki bersama) berupa air

telah ditetapkan dalam ketentuan UUD 1945 yaitu Pasal 33: Ayat (2) berbunyi: “Cabang

-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara” dan Ayat (3) berbunyi: “Bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran

rakyat”. Pasal ini merupakan landasan konstitusional pengaturan air oleh Negara.Pasal 28H UUD 1945 memberikan dasar bagi diakuinya hak atas air sebagai bagian dari hak hidup sejahtera lahir dan batin yang artinya menjadi substansi dari hak asasi manusia.

Pada 28 Oktober 2005, pemerintah Indonesia mengesahkan Konvenan Internasional Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya (ICESCR) menjadi UU No.11/2005 dan Konvenan Internasional Hak Sipil dan Hak Politik (ICCPR) menjadi UU No.12/2005. Ratifikasi tersebut menimbulkan konsekuensi terhadap terhadap pelaksanaan hak-hak manusia. Negara sebagai pemangku kewajiban HAM harus menjalankan kewajiban HAM dalam bentuk penghormatan (to respect), melindungi (to protect) dan memenuhi (to fulfill). Negara harus memenuhi hak-hak warga Negara, karena itulah Negara mendapatkan Hak menguasai sumberdaya strategis sebagai suatu amanat publik (public trust) dan menjamin bahwa setiap orang tanpa diskriminasi apapun, memiliki hak untuk mendapatkan air yang cukup (sufficient), sehat (save), dapat diakses (physically accessible) dan terjangkau (affordable).

(3)

Referensi

Dokumen terkait

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi saya dengan judul : “PERLINDUNGAN HAK-HAK KONSUMEN DALAM PELAYANAN AIR BERSIH PDAM KOTA SURABAYA DITINJAU DARI

Pengakuan akses terhadap air sebagai hak asasi manusia mengindikasikan dua hal; di satu pihak adalah pengakuan terhadap kenyataan bahwa air merupakan kebutuhan yang demikian

Kedudukan negara akan menjadi lebih sulit untuk memberikan perlindungan dan pemenuhan hak asasi warga atas akses terhadap sumber daya air, karena Hak Guna Usaha Air yang

Adapun hak dasar sosial adalah hak atas pelayanan kesehatan yang berupa hak atas pelayanan medis dan hak akses terhadap pelayanan kesehatan, sedangkan hak dasar

Adapun tulisan ini menyimpulkan bahwa dalam rangka merumuskan analisis dampak hak asasi manusia atas rancangan undang-undang, secara fundamental dalam perspektif ilmu hukum

mengenai hak atas tanah atau hak milik diatur dalam Undang-undang No. butuhkan akta yang dibuat oleh PPAT, Undang-undang No. Atas dasar perbuatan an Negara Republik

Menyatakan dengan sebenarnya bahwa skripsi saya dengan judul : “PERLINDUNGAN HAK-HAK KONSUMEN DALAM PELAYANAN AIR BERSIH PDAM KOTA SURABAYA DITINJAU DARI

Pengaturan hukum secara global telah dituangkan di dalam berbagai konvensi yang mengatur baik secara langsung maupun tidak langsung terkait hak atas air bersih dan sehat di antaranya: