Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta Lingkup Hak Cipta
Pasal 2
1. Hak cipta merupakan hak eksklusif bagi Pencipta atau Pemegang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak Ciptaannya, yang timbul secara otomatis setelah suatu ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatasan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Ketentuan Pidana Pasal 72
1. Barangsiapa dengan sengaja atau tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 49 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singkat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
Jabat Erat Dari Ambon, Manado, dan Medan
Sehimpun Cerita Dari Titik Temu Lintasiman
© Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS)
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang All Rights Reserved
Cetakan Pertama, Januari 2017
Tim Penyunting : Alviani Permata & Ida Fitri Tata Letak : Dwi Pengkik
Pewajah Sampul : M. Rizal Abdi
Diterbitkan oleh:
Indonesian Consortium for Religious Studies (ICRS)
Bekerjasama dengan
Ifada Press
Jl. Turen No. 240 KKN-54
Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman - Yogyakarta 55581 Telp. (0274) 625843
Mobile: 081359150899 (Fajar Saputro) Email: [email protected] Website: www.ifadabooks.com
Cet. 1–Sleman: Ifada Press, 2017 viii, 272 hlm. 14 x 20,5 CM
Daftar Isi ... v
Prolog
INGAGERS, damaimu terkonfirmasi! ... 1 Leonard C. Epafras
I. Suara-suara yang Liris ... 11
Program Tujuh Hari Training
dan Live-in Bersama INGAGE ... 13 Bona Ronny Pati Butar Butar, INGAGE Medan
Pengalaman Luar Biasa Bersama INGAGE ... 25 Rasita Sarante, INGAGE Manado
Perjalanan Manja Tetapi Kritis,
ke Tempat Eksotis Hingga Mistis ... 41 Edison F. Swandika Butar Butar, INGAGE Medan
Karena Dia, Insan Bersatu dalam Perbedaan ... 49 Asri Rasjid, INGAGE Manado
Kesetaraan ... 67 Surikno Manoka, INGAGE Manado
vi
Mengenal, Memahami dan
Menghargai Keragaman Lintasiman ... 71 Pateki Sounawe, INGAGE Ambon
Perbedaan adalah Kekayaan ... 75 Wilhelmus Mance Salmon, INGAGE Ambon
II. Mereka yang Mendengar ... 83
Sahata Saoloan (Seiya Sekata)
Merangkul Perbedaan ... 85 Doharma Parulian Purba, INGAGE Medan
Tujuh Hari (Belajar) Mengenal Agama Lain ... 101 Sri Wahyuni Fatmawati Pulungan, INGAGE Medan
Nilai-nilai Universal dalam Agama-agama ... 113 Tauiq Lovonita, INGAGE Manado
Tuhanku adalah Tuhan Lintasagama ... 121 Ardiman Kelihu, INGAGE Ambon
INGAGE: Pesantren Keberagaman ... 127 Ridhwan Ibnu Luqman, INGAGE Ambon
III. Para Pelintas Batas ... 143
Komunikasi dalam Harmoni ... 145 Anton Sahputro Hutauruk, INGAGE Medan
Kerukunan Umat Beragama di Medan ... 151 Bhikkhu Dhirapunno, INGAGE Medan
Agamaku Agamaku, Agamamu Agamamu ... 155 Desi Ratna Hutajulu, INGAGE Medan
Menerima Keberagaman Sebagai Dasar
Persatuan Negara Indonesia ... 161 C.Pdt. Pahala Sihotang, INGAGE Medan
Melihat Yesus Di Dalam Masjid ... 181 Devia Rumangu, INGAGE Manado
INGAGE: Pengalaman Bersama Teman
yang Berbeda Keyakinan ... 191 Dessi N. Wentuk, INGAGE Manado
Tulisan Refleksi Saat Mengikuti Kegiatan INGAGE ... 205 Febrina Mato, INGAGE Manado
SemakinBanyak Warna,
Maka Akan Semakin Menarik ... 215 Indri Moniaga, INGAGE Manado
INGAGE dan Agenda Mengelola Keragaman ... 229 Tauiq Bilfaqih, INGAGE Manado
Ketika Hantu Jadi Tuhan ... 241 Eklin A. de Fretes, INGAGE Ambon
Berbeda-beda Tak Mesti Dibeda-bedakan ... 247 Wirda Salong, INGAGE Ambon
Jurnal Harian bersama Inang Siahaan ... 261 Indah Fikria Aristy, INGAGE Medan
Epilog
INGAGE, Lentera dalam Kegelapan Toleransi Berbangsa ... 269 Mataharitimoer, Program Coordinator ICT Watch
229 Bagian III: Para Pelintas Batas
I N G A G E
dan Agenda Mengelola Keragaman
1T
IBA-TIBA grup Whatsapp (WA) ramai dengan pembahasan kegiatan INGAGE. Kali ini bukan grup peserta atau panitia yang mengikuti kegiatan tersebut. Ini grup jamaah NU se-Sulawesi Utara. Ada Kyai, Ustaz, Tokoh, Santri dan Jamiyah. Grup menjadi “berisik” karena merespons beberapa agenda INGAGE berkaitan dengan beredarnya foto peserta yang berada di rumah ibadah pemeluk agama lain. Utamanya foto seorang wanita berhijab sedang berdoa di hadapan patung Bunda Maria dengan cara khas umat Kristiani.1 Tulisan ini merupakan jurnal yang menjadi tugas peserta INGAGE Manado, 2016. Ta u f i q B i l f a q i h , I N G AG E M a n a d o
Praktik kesetaraan hak
Jabat Erat Dari Ambon, Manado dan Medan
Seorang Kyai mengomentari foto tersebut, “Mahasiswa itu harus segera bertaubat. Taubatan Nasuha.”
Anggota grup yang lain merespon, “Ini pluralisme kebablasan”. Disambung lagi oleh seorang Ustaz, “Mohon catat nama-nama peserta muslim yang ikut kegiatan itu. Serahkan ke saya!”
Ada pula yang menyambung, “Ini pluralisme atau liberalisme?” Bla… bla… bla…
Tak henti anggota grup mengomentari foto kontroversial itu. Sebagai ketua Lembaga Seni dan Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) NU, Sulawesi Utara yang ikut mendukung program INGAGE, serta sekaligus sebagai peserta kegiatan, saya pun akhirnya ikut merespons. “Tidak perlu berlebihan menanggapi kegiatan INGAGE. Ini kegiatan positif yang didukung oleh Ketua PWNU dan Lesbumi secara kelembagaan. Tidak ada acara pendangkalan iman. Mengenai foto, itu adalah aksi alay peserta. Tentang kegiatan di rumah ibadah agama lain bukanlah ajang mengikuti ibadah melainkan sebagai momentum untuk mengetahui tentang struktur bangunan dan tradisi di dalamnya. Intinya mereka belajar bersama. Bukan sembahyang bersama.”
Hasilnya, saya di-bully habis-habisan. Dikritik bahkan dituduh yang bukan-bukan.
Apakah INGAGE Itu?
Untuk menjawab kontroversi sebagaimana di atas, ada baiknya kita mengetahui kronologi acara demi acara. Karena sesungguhnya tanggapan miring oleh sebagian orang terhadap program INGAGE harus diluruskan. Jika tidak, justru maksud agenda yang mengkampanyekan perdamaian justru menjadi alasan terjadinya pertikaian. Dengan demikian, tulisan ini diharapkan mampu mengubah prasangka menjadi simpati, sehingga kegiatan seperti INGAGE semakin diminati dan membudaya di tengah masyarakat yang multikultural.
231 Bagian III: Para Pelintas Batas
kaum muda melibatkan diri dalam keragaman iman dan tradisi keagamaan, serta bersikap kritis terhadap hubungan antarkomunitas. Dalam program ini kaum muda membekali diri dengan pemahaman tentang perbedaan iman dan kesetaraan, mengeksplorasinya melalui teknologi digital secara kreatif dan inovatif untuk bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik.
Kegiatan ini diprakarsai oleh Indonesia Consortium for Religious Studies (ICRS) Yogyakarta. Di Sulawesi Utara, INGAGE juga mendapat dukungan oleh beragam instansi perguruan tinggi dan beberapa lembaga sosial keagamaan. Di antaranya, STAKN, Fakultas Ushuluddin, Adab dan Dakwah IAIN Manado, Muhammadiyah, Lesbumi NU, UKIT Tomohon, FKUB Sulut, Vihara Dhammadipa Manado, RRI Manado, RAL 102,8 FM Manado, Tribun Manado, Bukit Doa Kelong Tomohon, dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Antaragama.
Rangkaian kegiatan INGAGE, sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, mengkombinasikan Training dan Live-in. Dari program Training, peserta belajar bersama berdasarkan studi kasus. Selanjutnya melakukan diskusi kelompok dengan terbuka, terarah, dan dilandasi rasa saling menghormati. Kemudian juga ada sesi presentasi dan ceramah dari fasilitator yang diakhiri dengan refleksi harian peserta. Sementara itu, untuk program Live-in, yakni momen ketika semua peserta tinggal bersama orang lain yang berbeda keyakinan.
Jabat Erat Dari Ambon, Manado dan Medan
Catatan Kegiatan
Ketika membuka kegiatan ini, sambutan dari Kementerian Agama Sulawesi Utara, Mochtar Bonde adalah bahwa indeks kerukunan antarumat beragama di daerah ini pernah menjadi yang teratas. Ia merefleksikan ketika daerah-daerah sekitar, seperti Poso, Maluku, Ambon dan lainnya sedang memanas dengan peristiwa konflik SARA, Sulawesi Utara justru melanjutkan tradisi dialog antaragama. Namun, dalam keluhnya, Mochtar mengkhawatirkan ketika indeks kerukunan tersebut menurun akhir-akhir ini,
“Sesungguhnya Sulawesi Utara ini pernah peringkat pertama sebagai daerah yang tingkat kerukunannya berjalan harmonis. Tapi belakangan turun ke peringkat kelima. Ini menjadi evaluasi semua pihak. Maka kegiatan INGAGE bagian dari proses untuk kembali menjadikan Sulawesi Utara berada pada fase terbaiknya.”
Bagi saya, ungkapan di atas sangat realistis. Jauh sebelum isu-isu SARA yang menghiasi media, Sulawesi Utara mempertontonkan kehidupan bermasyarakat yang penuh dengan semangat saling menghargai, toleran, dan bergotong-royong. Tidak ditemukan tendensi kelompok tertentu. Mayoritas mengayomi minoritas, sebaliknya minoritas menyadari keberadaan mereka. Namun, pemandangan ini sedikit tercoreng sejak arus transformasi yang semakin terbuka lebar.
233 Bagian III: Para Pelintas Batas
Atas dasar itu, Sya’ban Mauludin, Ketua PWNU Sulawesi Utara, turut memberikan dukungan untuk kegiatan INGAGE. Dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan, ia menegaskan bahwa semua lapisan masyarakat di Sulawesi Utara telah sepakat bahwa perbedaan adalah keniscayaan yang mesti dirayakan dan dikelola dengan baik. Peristiwa yang bernuansa SARA di daerah lain harus menjadi pelajaran penting, sehingga dapat mendidik masyarakat Sulawesi Utara dalam menjaga keharmonisan. “Maka kegiatan INGAGE sudah sepantasnya menjadi tradisi di daerah ini. Kita harus mendukung dan turut berperan demi capaian program seperti ini,” ujar Sya’ban menutup sambutannya.
Dari pernyataan kedua tokoh di atas, dapat dipastikan bahwa begitu banyak kalangan berharap untuk menjadikan daerah Sulawesi Utara kembali kondusif dan berada pada peringkat pertama dalam hal kerukunan, bahkan harapan tersebut tertuju pada program INGAGE dan sejenisnya. Tentunya, keinginan untuk membuat daerah ini menjadi aman dan tentram bukan sekadar kerinduan atas prestasi belaka, melainkan sebagai wujud dari kebutuhan akan hidup harmonis karena ia adalah keniscayaan yang mesti digapai. Tak heran, pemerintah dan masyarakat setempat selalu sejalan dalam mengelola keragaman yang ada.
Materi Training
Jabat Erat Dari Ambon, Manado dan Medan
manusia dengan segala hak-haknya. Alviani menjelaskan bahwa ciri-ciri HAM dapat dibagi dalam beberapa kategori, di antaranya adalah inherent to each individual (melekat pada setiap individu), universal, inalienable (tidak dapat dicabut), dan indivisible (tidak bisa dipisahkan).
HAM memiliki norma-norma yang pasti dan menunjukkan prioritas tinggi terhadap penegakannya. Negara berkewajiban untuk mengelola HAM bagi setiap warganya. Kendati demikian, tidak seluruh persoalan di setiap negara digolongkan dalam persoalan HAM. Dalam konteks Indonesia, definisi HAM termuat dalam Undang-undang Nomor 39 tahun 1999 tentang hak asasi manusia Pasal (1) yang menyebutkan bahwa, “Hak Asasi Manusia (HAM) adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi, dan dilindungi oleh negara, hukum, pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.”
Dari penjelasan tentang HAM inilah kemudian peserta disodor-kan dengan pertanyaan-pertanyaan kritis seputarnya, seperti, di mana pelaksanaan hak manusia dilaksanakan? Pernahkan melihat seseorang (secara langsung) diperlakukan tidak menyenangkan? Apa yang terjadi jika HAM diingkari? Apa yang dapat dipelajari dari orang-orang yang bekerja untuk HAM, seperti Munir, Elanto, Gandhi, Mandela? Apa yang terjadi bila setiap orang tahu hak-haknya?
Materi lain yang dibawakan Alviani Permata adalah Kemerdekaan dan Kesetaraan. Melalui kajian tentang materi ini, peserta diharapkan mampu mengembangkan sikap untuk menerima keberagaman, karena setiap orang setara dan merdeka, serta menciptakan situasi yang demokratis. Merdeka dimaknai sebagai berpikir dan bertindak sesuai kehendak hati, tidak dalam kendali yang tidak diinginkan dari pihak lain. Sedang setara, dalam kajian kali ini dipahami sebagai memiliki status, hak atau kesempatan yang sama seperti yang dimiliki pihak lain.
235 Bagian III: Para Pelintas Batas
dan memerintahkan mereka agar menulis sesuatu. Begitu pun mereka yang duduk, mendapat tugas yang sama. Setelah beberapa saat, Alviani bertanya kepada peserta yang berdiri; “Apakah kalian merasa adil, diperlakukan sama dengan mereka yang duduk?”
Spontan peserta menjawab, “Tidak, kami merasa diperlakukan beda. Kenapa yang lain menulis dengan nyaman di saat duduk, sementara kami kelelahan menulis dengan gaya berdiri. Apa salah kami?” Simulasi sederhana ini, nampaknya berhasil memberi gambaran tentang apa itu merdeka dan setara.
Melengkapi kedua materi sebelumnya, Materi HAM, Kemer-dekaan dan Kesetaraan, peserta kemudian kembali disuguh kan materi tentang Kovenan. Penjabaran materi ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada peserta terkait hak-hak sipil dan politik, dan hak-hak ekonomi, sosial dan budaya. Kovenan merupakan istilah yang digunakan untuk menyebutkan suatu perjanjian internasional yang membentuk dan mengatur Liga Bangsa-bangsa. Dirumuskan pada 1948, disusun pada 1952, dirumuskan pada 16 Desember 1966 dan mulai berlaku efektif pada 1976. Dengan materi ini pula, peserta dikelompokkan guna membahas tentang permasalahan hak sipil dan politik, serta hak ekonomi, sosial dan budaya yang berada di daerah masing-masing. Melalui metode tersebut, secara tidak langsung, peserta dapat mengetahui apa yang menjadi hak warga dan apa kewajiban negara terhadap warganya.
Leonard dan Materi Dunia Mayanya
Jabat Erat Dari Ambon, Manado dan Medan
Secara keseluruhan, peserta diajak untuk membaca secara kritis terhadap dampak dari dunia ini bagi dinamika kelompok dan antar iman. Bahkan lebih jauh, kita pun diperkenalkan dengan hyper-media world, yakni sebuah istilah untuk menjelaskan kondisi ketika batasan antara ruang privat dengan ruang publik semakin halus dan kabur. Di dunia maya, netizen disodorkan dengan beragam pilihan atas keberadaan media (polymedia). Kondisi ini membuat aktivitas penggunanya yang dinamis sehingga mempengaruhi relasi, otoritas, dan struktur sosial.
Dalam konteks Indonesia, dari jumlah penduduk yang mencapai 252.4 juta jiwa, sedikitnya 88.1 juta penduduknya adalah pengguna internet. Dari hasil pantauan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2014, pengguna internet terbesar di Indonesia adalah wilayah Jawa dan Bali (52.0 juta), disusul Sumatera (18.6 Juta), Sulawesi (7.3 juta), Kalimantan (4.2 Juta), dan Nusa Tenggara, Papua dan Maluku (5.9 juta). Dari data APJII tersebut juga diketahui bahwa pengguna terbanyak adalah kaum perempuan dengan angka 51%, sedangkan laki-laki sebanyak 49%. Data lain menyebutkan, penggunaan internet di Indonesia lebih didominasi dengan menggunakan perangkat seperti telepon seluler. Atas dasar itulah, pentingnya mengkampanyekan penggunaan internet secara sehat dan bijak.2
Membangun perilaku ber-internet sehat merupakan keharusan. Pada kegiatan INGAGE ini peserta diajak untuk mengetahui beragam kejahatan di dunia maya serta menghargai dan melindungi privasi dalam berinternet. Cyberbully dikhawatirkan akan merusak tatanan kehidupan masyarakat yang beragam. Namun, perlu juga memahami lebih jauh tentang hak mengeluarkan pendapat melalui internet agar tidak terjadi kriminalisasi secara berlebihan, sebab, dalam catatan sejarah, dengan UU ITE, negara dianggap gagal melindungi hak-hak setiap warganya. Akhirnya, tidak sedikit “korban” dari efek pemanfaatan regulasi tersebut.
Sementara itu, Al Makin (UIN Sunan Kalijaga), juga sebagai fasilitator, memberikan materi inti pada kegiatan Training
237 Bagian III: Para Pelintas Batas
INGAGE ini. Ia membawakan materi tentang Sejarah Agama-agama Dunia, Agama di Indonesia serta materi Keragaman dan Perbedaan. Mengawali presentasinya, Al Makin memberikan tugas kepada kami untuk saling mewawancarai. Setiap peserta mencari tahu tentang ajaran agama dari peserta yang berbeda keyakinan. Metode tersebut akhirnya secara tidak langsung membantu peserta untuk belajar agama-agama yang terdapat di Indonesia.
Al Makin, mengajak peserta untuk mengetahui prinsip ke-ragaman dan perbedaan. Kita diharapkan menyadari betapa pentingnya keragaman dan perbedaan dalam beragama. Apalagi, ia menjelaskan bahwa dalam catatan sejarah, agama begitu beragam baik dalam konteks dunia hingga ke Indonesia, maka sudah sepantasnya setiap orang tidak hanya terjebak pada klaim kebenaran agama yang ia peluk.
Program Live-in
Setelah tiga hari mengikuti Training, peserta INGAGE melaksanakan kegiatan Live-in, yaitu program untuk berinteraksi secara langsung dengan pemeluk agama lain selama tiga hari pula. Pada fase Live-in, peserta belajar lebih jauh tentang agama dan keyakinan tuan rumah. Saling berdialog, tukar pendapat, bahkan saling mempelajari tradisi masing-masing. Dengan pola ini, peserta mewujud-nyatakan materi-materi yang sebelumnya diterima selama Training.
Pada program Live-in, Saya ditempatkan di rumah seorang Pendeta Kristen. Selama bermukim di kediamannya, saya banyak belajar tentang kekristenan, baik dari segi tradisi hingga pandangan-pandangan teologis. Bagusnya, Pendeta yang “melayani” saya selama Live-in di rumahnya merupakan sosok agamawan yang inklusif, santun, bahkan memiliki pemikiran yang progresif. Gagasan tentang ajaran kasih sayang Kristen, seolah membungkus kepribadian Sang Pendeta.
Jabat Erat Dari Ambon, Manado dan Medan
kebersamaan dengan mereka. Sesekali kami bercanda, namun di saat-saat tertentu kami berdialog serius, bahkan ada hal-hal yang sensitif sekali pun menjadi bahan diskusi kami. Pada kesempatan lain pula, Pendeta mengajak saya melihat tradisi ibadah jemaat yang dipimpinnya langsung. Melihat bangunan dan mempelajari manajemen pengelolaan gereja, hingga mengikuti kegiatan olah raga Sang Pendeta dengan komunitas Pendeta lainnya.
Semua aktivitas yang kami lakukan, tidak sama sekali membuat saya merasa asing. Justru yang dirasa adalah semangat kebersamaan. Kami hanyut dalam suasana kekeluargaan, kendati pun beda keyakinan. “Inti ajaran Kristen itu adalah kasih kepada semua orang,” ujar Pendeta.
Pernyataan inilah yang kemudian menimbulkan spirit solidaritas sesama manusia muncul dalam keseharian kami. Ditambah, keyakinan saya atas ajaran Islam sebagai rahmat bagi semua alam, menjadi modal untuk hidup bersama semakin harmonis.
Sewaktu tinggal bersama Pendeta, terlintas dalam benak saya, apakah kegiatan Live-in ini dapat menjadi kontroversi? Mengingat, sebelumnya kami direpotkan dengan anggapan miring oleh kelompok tertentu atas aktivitas muslim di dalam gereja. Melemahkah iman kami, peserta INGAGE, selama berada di kediaman pemuka agama lain? Apakah Pendeta akan menjalankan misinya untuk mengubah keyakinan saya? Bagaimana dengan makanan, halalkah? Pertanyaan-pertanyaan ini terjawab dengan sendirinya. Sangkaan berlebihan, ternyata menjadi penyebab lahirnya pertanyaan tersebut. Kita sering mendengar informasi sepihak dan gagasan ekslusif dari pemuka agama. Bagi saya, program Live-in ini menjadi momentum untuk mempelajari secara baik tentang agama dan keyakinan orang lain langsung kepada pemeluknya.
239 Bagian III: Para Pelintas Batas
kita tertutup. Oleh karena itu, saya berprinsip, jangan belajar Islam kepada Pendeta dan jangan pula belajar Kristen kepada Ustaz.
Modal Sosial Masyarakat Sulawesi Utara
Tampilan kebersamaan yang terjadi selama Live-in merupakan wujud dari kesadaran saya, Pendeta, dan seluruh masyarakat di Sulawesi Utara tentang pentingnya menjaga kerukunan dan harmonisasi hidup dalam keragaman. Sebagaimana yang disampaikan Noudy R. P. Tendean, Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Sulawesi Utara, pada kegiatan Training INGAGE bahwa hal mendasar yang dimiliki masyarakat Sulawesi Utara dalam pengalaman kehidupan sehari-hari adalah modal sosial mereka. Kisah Live-in yang telah ditulis sebelumnya merupakan bagian dari kebesaran modal sosial masyarakat. Modal sosial bersandar pada norma-norma dan nilai-nilai bersama, ia juga menunjuk pada kemampuan orang untuk berasosiasi dengan orang lain.
Modal sosial sendiri tidak akan pernah habis jika dipergunakan, melainkan semakin meningkat. Justru rusaknya modal sosial bukan karena seringnya ia dipakai, namun karena ia tidak dipergunakan. Untuk mengetahui parameter modal sosial, hemat saya, setidaknya ada tiga hal yang perlu dilihat. Pertama, kepercayaan, yakni sebuah harapan yang tumbuh, sehingga berperilaku jujur, teratur, dan bekerja sama. Kedua adalah norma, nilai-nilai, harapan, dan tujuan. Yang ketiga berupa jaringan atau kerja sama antarmanusia, membangun interrelasi formal dan informal. Parameter modal sosial ini terimplementasikan melalui gerakan sosial dengan sebutan-sebutan lokal yang membumi. Semisal, Mapalus di Minahasa, Mapaluse di Sangihe, dan Moposad di Bolaang, Mongondow. Hal inilah yang menjadi hiasan kehidupan masyarakat Sulawesi Utara dalam membangun peradaban.
Penutup
Jabat Erat Dari Ambon, Manado dan Medan
menutup mata dengan riak-riak konflik yang belakangan ber-munculan. Kasus Basaan, peristiwa penolakan pembangunan rumah ibadah, pelarangan azan, bahkan intimidasi kelompok mayoritas terhadap minoritas telah menjadi isu hangat di Sulawesi Utara. Maka tak heran posisi teratas sebagai daerah yang rukun kini tergeser menjadi yang kelima.
INGAGE, salah satu cara terbaik untuk mempertemukan yang beda dalam satu kesamaan visi pembangunan hidup berdampingan. Pendalaman materi, serta interaksi selama kegiatan menjadi modal positif agar dapat membina kebersamaan. Program ini pula menjadi lokomotif perjuangan menolak gagasan-gagasanekslusif terkait keragaman. Menyadari hak-hak sebagai warga, memahami posisi yang sama di hadapan negara, bijak dalam menggunakan internet, serta mengetahui sejarah agama dan keragamannya turut membentuk semangat bagi kaum muda khususnya untuk mengelola perbedaan di tengah kehidupan masyarakat.
Saya sangat bersyukur telah ikut berpartisipasi pada kegiatan ini, baik secara kelembagaan Lesbumi NU Sulut maupun sebagai pribadi yang menjadi peserta. Follow up dari kegiatan INGAGE di Manado ini telah kami lakukan dengan mengadakan diskusi agama dan budaya di markas Lesbumi, membentuk organisasi komunitas Pemuda LintasAgama (PELITA), hingga program sejenis INGAGE yang akan dilakukan di tingkat pelajar.