• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sistem pendidikan islam new. doc

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sistem pendidikan islam new. doc"

Copied!
15
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pendidikan bagi umat manusia merupakan sistem dan cara meningkatkan kualitas hidup dalam segala bidang. Namun, sistem dan metode yang digunakan berbeda-beda sesuai taraf hidup dan budaya masyarakat masing-masing.

Di kalangan masyarakat manusia yang berbudaya modern, sistem dan metode pendidikan yang dipergunakan setara dengan kebutuhan atau tuntutan aspirasinya. Sistem dan metode tersebut diorientasikan kepada efektivitas dan efisiensi. Sedangkan pada masyarakat primitif mempergunakan sistem dan metode yang sederhana sesuai dengan tingkat pengetahuan mereka. Sistem mereka menitik beratkan pada pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari-hari, tanpa antisipasi orientasi ke masa depan dan tanpa memikirkan efektivitas dan efisiensi.[1]

Pendidikan Islam merupakan sistem pendidikan untuk melatih anak didiknya dengan sedemikian rupa sehingga dalam sikap hidup, tindakan, dan pendekatannya terhadap segala jenis pengetahuan banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai spiritual dan sangat sadar akan nilai etik Islam.[2]

Islam sebagai agama wahyu, menuntut umat manusia yang berakal sehat untuk beruasaha keras mendapatkan kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat sesuai dengan petunjuk wahyu Allah SWT.

Salah satu sarana yang efektif untuk membina dan mengembangkan manusia dalam masyarakat adalah pendidikan yang teratur, berdaya guna, dan berhasil guna. Oleh karena itu, pendidikan Islam perlu diorganisasikan atau dikelola secara rapi, efektif, dan efisien melalui sistem dan metode yang tepat. Namun, banyak para pendidik atau orang yang berkecimpung di dunia pendidikan Islam tidak tahu bagaimana sistem dan metode pendidikan Islam itu sendiri. Sehingga masih banyak kegagalan dalam pendidikan Islam.1

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah dalam latar belakang di atas sebagai berikut :

1[1] Muzayyin Arifin, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2003, hlm. 69

(2)

1. Apa yang dimaksud inovasi pendidikan? 2. Apa pengertian sistem pendidikan Islam?

3. Apa saja komponen dan metode dalam sistem pendidikan Islam?

C. Tujuan

Adapun rumusan masalah ini mencakup beberapa tujuan sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui apa inovasi pendidikan itu.

2. Untuk mengetahui pengertian sistem pendidikan islam.

3. Untuk mengetahui apa saja komponen dan metode dalam sistem pendidikan islam.

D. Sistematika Penulisan

Makalah ini terdiri dari tiga bab, bab satu terdiri dari beberapa poin yakni latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, dan sisitematika penulisan. Bab dua merupakan pembahasan. Sedangkan bab tiga adalah penutup.

(3)

A. Pengertian inovasi

Van de van (1994:4710) mengemukakan bahwa inovasi merupakan suatu ide baru yang dapat diaplikasikan dengan harapan dapat menghasilkan atau dapat memperbaiki sebuah produk, proses maupun jasa.

Hersey (1986: 316) pemimpin organisasi harus memiliki keterampilan, pengetahuan dan pelatihan dalam dua bidang yaitu diagnosis dan penerapan dalam rangka memahami perubahan, pemimpinan harus dapat mengidentifikasi masalah, menganalisis dan melakukan penerapan. Gibson dalam suwanto (1999: 77) kekuatan dorongan yang ada dalam diri akan mengarahkan perilaku.

Menurut muhajir (2002: 17) seorang inovator adalah orang yang aktif mencari ide-ide baru dan memiliki wawasan luas melalui jaringan kerja yang biasanya berada di luar sistem sosialnya, juga mampu mengatasi masalah yang terjadi dalam proses pelaksanaan ide-ide baru tersebut.[3]

Pembaharuan dan perubahan dilaksanakan oleh manusia dengan menyesuaikan strategi, tuntutan lingkungan serta banyak hal yang menjadi ciri dari perubahan itu sendiri dan tergantung pada waktu-waktu tertentu hal ini disebut keinovatifan. Ciri-ciri lain keinovatifan adalah sebagai berikut:

a. Penghasilan gagasan; melakukan analisis atau sintesis terhadap informasi

b. Mengusahakan atau mempelopori: mengenali, mengusulkan, mendorong dan menunjukkan suatu gagasan

c. Kepemimpinan; merencanakan dan mengkoordinasikan beragam kegiatan

d. Mengatur informasi; menunjukkan dan menyalurkan informasi tentang perubahan e. Mensponsori; membimbing dan mengembangkan karyawan yang kurang berpengalaman Menurut Drucker (1999: 77) ciri-ciri keinovatifan dapat diidentifikasi sebagai berikut: [4]

a. Susunan pembaharuan menganalisis peluang

b. Pembaharuan adalah perpaduan antara konsepsi dan persepsi c. Pembaharuan itu efektif, sederhana dan dipusatkan pada sesuatu d. Pembaharuan yang efektif dimulai dari yang kecil

e. Keberhasilan tujuan terletak pada kepemimpinan2

Seharusnya Drucker (1999) menambahkan adanya tiga kondisi yang diperlukan di dalam pembaharuan yaitu:

a. Pembaharuan adalah pekerjaan

2[3] Martinis, Yamin, Maisah, Orientasi Baru Pendidikan, Jakarta: Rio QQQ, 2012, hlm. 60

(4)

b. Supaya berhasil para pembaharu harus bekerja keras c. Pembaharuan berdampak pada ekonomi dan masyarakat.

Dengan demikian yang dimaksud dengan keinovatifan adalah pembaharuan dalam hubungannya dengan penerimaan (pengadopsian), penciptaan (membuat) dan melakukan tindakan pada hal-hal yang baru dengan indikator gagasan, layanan alat dan pengetahuan tentang pekerjaan setiap pegawai.[5]

Evrett M Roger (1983: 12-26) difusi adalah salah satu jenis perubahan sosial, yang diartikan sebagai proses perubahan pada struktur dan fungsi suatui sistem sosial. Bila ide-ide baru ditemukan, disebarkan, dan diadopsikan atau ditolak, dan membawa dampak tertentu, maka terjadilah perubahan sosial. Tentu saja perubahan itu dapat terjadi dengan cara lain, misalnya melalui revolusi politik atau karena peristiwa alam seperti banjir bandang atau gempa bumi. Adapun empat unsur pokok difusi inovasi pendidikan:

1. Inovasi pendidikan adalah gagasan, tindakan atau barang yang dianggap baru oleh seseorang atau barang yang dianggap baru oleh seseorang atau satuan pengguna lain. Selama berkenaan dengan perilaku manusia, tidak perlu dipersoalkan apakah suatu ide itu “secara objektif” baru (seandainya diukur dengan selang waktu sejak pertama kali digunakan untuk ditemukan) atau tidak. Pandangan seseorang tentang kebaruan suatu ide menentukan reaksinya terhadap ide tersebut. Apabila ide itu dipandang baru oleh seseorang, maka itu inovasi.

2. Saluran komunikasi pendidikan adalah suatu proses di mana para pelakunya menciptakan dan bertukar informasi satu sama lain untuk mencapai kesamaan paham. Difusi adalah tipe khusus komunikasi, yakni informasi yang dipertukarkan adalah ide-ide baru. Inti proses difusi adalah pertukaran informasi yakni seseorang mengkomunikasikan suatu ide baru kepada orang lain. Pada dasarnya bentuk proses itu meliputi unsur-unsur:

a. Suatu inovasi

b. Seseorang atau unit adopsi yang punya pengetahuan atau pengalaman dalam penggunaan informasi itu

c. Orang lain yang belum mengetahui inovasi itu

d. Saluran komunikasi yang menghubungkan ke dua unit (orang) itu.3

Saluran komunikasi adalah jalur lewat satu pesan sehingga bisa tersampaikan dari seseorang kepada orang lain. Sifat hubungan pertukaran informasi antara dua pasangan individu menentukan jalan mana seorang dipakai sumbar untuk menyalurkan inovasi pendidikan itu kepada penerima, dan bagaimana efek penyalurannya.

(5)

3. Jangka waktu merupakan unsur penting dalam proses difusi. Penelitian ilmu-ilmu tingkah laku mengabaikan dimensi waktu. Waktu merupakan aspek penting dalam proses komunikasi, tetapi kebanyakan penelitian komunikasi tidak memasukkan secara eksplisit. Barangkali ini merupakan suatu konsep dasar yang tidak dapat dijelaskan dalam arti sesuatu yang lebih fundamental.

4. Sistem sosial adalah sebagai perangkat unit-unit yang sudah terikat dalam kerjasama pemecahan masalah untuk tujuan bersama. Anggota atau unit anggota sistem sosial bisa persorangan, kelompok informal, organisasi atau sub sistem.[6]

Evrett M Rogers juga mengemukakan beberapa sifat-sifat inovasi pendidikan dapat membantu menjelaskan perbedaan kecepatan adopsi inovasi pendidikan satu dari yang lain: a. Keuntungan relatif adalah sejauh mana suatu inovasi pendidikan dianggap lebih baik dari

pada gagasan sebelumnya.

b. Kesesuaian adalah suatu inovasi pendidikan dipandang sejalan dengan nilai-nilai yang ada, pengalaman sebelumnya dan kebutuhan para calon pemakai.

c. Ketrampilan adalah suatu inovasi pendidikan dipandang sulit dipahami atau dipakainya. d. Percobaan adalah suatu inovasi pendidikan dapat dicoba dalam skala kecil.

e. Keteramatan adalah hasil suatu inovasi pendidikan dapat dilihat orang semakin besar kemungkinannya untuk diadopsi.

B. Pengertian Sistem Pendidikan Islam

Istilah sistem berasal dari bahasa Yunani “sistema” yang artinya: suatu keseluruhan yang tersusun dari banyak bagian (whole compounded of several parts). Di antara bagian-bagian itu terdapat hubungan yang berlangsung secara teratur. Definisi sistem yang lain dikemukakan Anas Sudjana yang mengutip pendapat Johnson, Kost dan Rosenzweg sebagai berikut “Suatu sistem adalah suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks atau terorganisir; suatu himpunan atau perpaduan hal-hal atau bagian-bagian yang membentuk suatu kebulatan/keseluruhan yang kompleks”.

Sedangkan Campbel menyatakan bahwa sistem itu merupakan himpunan komponen atau bagian yang saling berkaitan yang bersama-sama berfungsi untuk mencapai suatu tujuan.

[7]4

Sistem adalah suatu keseluruhan yang terdiri dari komponen-komponen yang masing-masing bekerja sendiri dalam fungsinya. Berkaitan dengan fungsi dari komponen lainnya yang secara terpadu bergerak menuju ke arah satu tujuan yang telah ditetapkan.

Sistem pendidikan adalah satu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan pendidikan yang berkaitan dengan yang lainnya untuk mengusahakan tercapainya

(6)

tujuan pendidikan. Faktor atau unsur yang disistematisasikan adalah proses kegiatan pendidikan dalam upaya mencapai tujuannya.

Sistem pendidikan Islam merupakan usaha pengorganisasian proses kegiatan kependidikan yang berdasarkan ajaran Islam. Ajaran yang berdasarkan atas pendekatan sistem sehingga dalam pelaksanaan operasionalnya terdiri dari berbagai sub-sub sistem dari jenjang pendidikan dasar, menengah, dan perguruan tinggi yang harus memiliki vertikalitas dalam kualitas keilmuan, pengetahuan, dan teknologinya.[8]

C. Sistem Pendidikan Islam Di Indonesia

Pada awal berkembangnya agama Islam di Indonesia, pendidikan Islamdilaksanakan secara informal pendidikan dan pengajaran Islam secara informal ini ternyata membawa hasil yang sangat baik sekali dan bahkan menakjubkan. Karenadengan berangsur-angsur tersiarlah agama Islam diseluruh kepulauan Indonesia, mulai sabang sampai Maluku. Sistem pendidikan Islam informal ini, terutama yang berjalan dalam keluarga sudah diakui keampuhannya dalam menanamkan sendi-sendi agama dalam jiwa anak-anak. Mereka dilatih membaca Al-Qur’an, melakukan shalat dengan berjamaah, berpuasa dibulan ramadhan, dan lain-lain. Usaha-usaha pendidikan agama di masyarakat, yang kemudian dikenal dengan pendidikan non-formal, ternyata mampu menyediakan kondisi yang sangat baik dalam menunjang keberhasilan pendidikan Islam untuk menyelenggarakan pendidikan agama yang lebih baik dan sempurna.[9]

Dalam bentuk permulaan, pendidikan agama Islam di surau atau di masjid masih sederhana.Tempat-tempat pendidikan yang seperti inilah yang menjadi bentuknya sistem pendidikan pondok pesantren dan pendidikan Islam yang formal yang berbentuk madrasah atau sekolah yang berdasarkan keagamaan.Pondok pesantren ini tumbuh sebagai perwujudan dari strategi umat islam untuk mempertahankan eksistensinya terhadap pengaruh penjajah barat, akibatnya surau atau masjid ini dilengserkan dan tidak dapat menampung anak-anak yang ingin mengaji. 5

Di samping itu juga didorong oleh keinginan untuk lebih maju pendidikan agama pada anak-anak, maka sang guru atau pak kyai dengan bantuan masyarakat memperluas

5[8] Muzayyin Arifin, Op. Cit., hlm. 73

[9] Zuraini dkk, Sejarahpendidikan Islam, Jakarta, Bumiaksara , 2008, hlm. 209

.

[10] Zurainidkk, Sejarahpendidikan Islam, Jakarta, Bumiaksara , 2008, hlm. 212

(7)

bangunan di sekitar surau atau masjid untuk tempat mengaji sekaligus sebagai asrama bagi anak-anak.Dengan begitu anak-anak tak perlu bolak-balik pulang kerumah orang tua mareka. Tempat mengaji seperti ini disebut Pondok Pesantren.[10]

Sitem pendidikan islam mengalami perubahan sejalannya dengan perubahan zaman dan pergeseran kekuasaan di Indonesia. Kejayaan islam yang mengalami kemunduran sejak jatuhnya andalusia kini mulai bangkit kembali dengan munculnya gerakan pembaharuan islam. Sejalan dengan itu pemerintah jajahan mulai megenalkan sistem pendidikan formal yang lebih sistematis dan teratur yang mulai menarik kaum muslimin untuk memasukinya. Oleh karna itu sistem pendidikan di surau, langgar,atau masjid dipandang sudah tidak memadai lagi dan perlu pembaharuan dan disempurnakan.

Jadi keinginan untuk membenahi, memperbaharui dan menyempurnakan sistem pendidikan islam ini disebabkan oleh dua hal :

a. Semakin banyaknya kaum muslmin yang bisa menunaikan ibadah haji ke mekah dan belajar agama disana, maka setelah pulang kembali ke tanah air Indonesia timbullah keinginan untuk mempraktekkan cara-cara penyelenggaraan pendidikan pengajaran seperti di makkah, yang pada waktu itu islam mulai bangkit kembali yang dipelopori oleh syekh moh abdul, syekh moh rasyid rida, dan lain-lain.

b. Pengaruh sistem pendidikan barat yang mempunyai program yang lebih koordinasi dan sistematis yang ternyata telah berhasil mencetak manusia terampil dan terdidik yang semakin jauh dari ajaran islam.[11]

Adapun beberapa pembaharuan tentang beberapa sistem pendidikan sebagai berikut: 1. Pendidikan tradisional dan pendidikan modern

Sebagai akibat dari usaha-usaha pembaharuan pendidikan islam yang dilaksanakan dalam rangka untuk mengejar kekurangan dan ketinggalan dari dunia barat dalam segala aspek kehidupan, maka terdapat kecenderungan adanya kedua dalam sistem pendidikan umat islam.

Usaha pendidikan modern yang sebagaimana telah diuraikan yang berorientasi pada tiga pola pemikiran (islam murni, barat, dan nasionalisme), membentuk pola sistem atau pola pendidikan modern,yang mengambil pola sistem pendidikan barat dengan penyesuaian-penyesuaian dengan islam dan kepentingan nasional. Dilain pihak sistem pendidikan tradisional yang telah ada dikalangan umat islam tetap dipertahankan.

(8)

dengan menggunakan kurikulum dan mengembangkan ilmu-ilmu pengetahuan modern. Sedangkan sistem pendidikan tradisional yang merupakam sisa-sisa dan pengembangan sistem zawiyah, ribat atau pondok pesantren dan madrasah yang telah ada dikalangan masyarakat, pada umumnya tetap mempertahankan kurikulum tradisional yang hanya memberikan pendidikan dan pengajaran keagamaan.Sistem dan pola pendidikan inilah yang selanjutnya mewarnai pendidikan islam disemua negara dan masyarakat islam, di zaman modern ini pula yang merupakan problem pokok yang dihadapi oleh usaha pembaharuan pendidikan islam.

Pada umumnya usaha pendidikan untuk memadukan antara kedua sistem tersebut telah diadakan, dengan jalan memasukkan kurikulum ilmu pengetahuan modern kedalam sistem pendidikan tradisional, dan memasukkan pendidikan agama ke dalam kurikulum sekolah-sekolah modern. Dengan demikian diharapkan sistem pendidikan tradisional akan berkembang secara berangsur-angsur mengarah kesistem pendidikan modern. Inilah sebenarnya yang dikehendaki oleh para pemikiran pembaharuan pendidikan islam., yang berorientasi pada ajaran islam yang murni, sebagaimana yangdipelopori oleh Al-Afgani, Muhammad Abduh, dan lain-lain. Sampai sekarang proses pemaduan antara kedua sistem dan pola pendidikan islam ini, tampak masih berlangsung diseluruh Negara dan masyarakat islam[12].

Menyadari akan pentingnya pembaharuan sistem pendidikan agama islam di Indonesia dan sekaligus menanggulangi menjauhnya umat islam dari agamanya akibat system pendidikan barat, maka mulailah umat islam agak sedikit bersikap terbuka dalam menerima kenyataan-kenyataan sosial di masyarakat yang semakin modern. Sistem pendidikan di madrasah-madrasah mulai dibenahi dan kurikulumnya tidak lagi mengkhususkan pada pendidikan agama, tetapi telah dimasukkan ilmu pengetahuan umum yang lebih luas disejajarkan dengan pengetahuan umum pada sekolah umum sederajat.6

2. Memperbaharui sistem pendidikan di madrasah

Dalam perjalannya, jalur pendidikan madrasah berbeda secara tajam dengan jalur sekolah umum, baik dalam perspektif melanjutkan studi ke perguruan tinggi maupun dalam persoalan lapangan kerja.Menyadari adanya sisitem pendiikan nasional dan hak asasi anak untuk 7memilih bidang studi lanjutan dan lapangan kerja yang diinginkan, maka diusahakan agar anak-anak madrasah memperoleh kesempatan yang sama untuk memasuki perguruan tinggi umum (PTU).

6[12] Zurainidkk, Sejarahpendidikan Islam, Jakarta, Bumiaksara , 2008, hlm. 124-125

(9)

Demikian pula sebaliknya.anak-anak dari jalur pendidikan umum memperoleh kesempatan yang sama untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi agama, semacam IAIN. Hal ini diatur dalam surat keputusan bersama (SKB) antara menteri pendidikan dan kebudayaan dengan mentrei agama.[13]

Tetapi dalam kenyataannya tetap menunjukkan adanya disningsi yang berbeda secara tajam. Anak-anak dari jalur pendidikan madrasah tidak mampu bersaing secara penuh dengan anak-anak dari sekolah umum dalam memasuki PTU. Demikian pula halnya dengan persoalan menggapai berbagai lapangan kerja. Sebaliknya, anak-anak dari jalur pendidikan umum tidak mampu bersaing secara penuh dengan anak-anak madrasah dalam proses study di IAIN dan meraih lapangan kerja keagamaan.

Dalam kurikulum 1994 belum terlihat secara meyakinkan adanya konsep intergrasi ideal yang diinginkan, sebaliknya terlihat adanya pesan menjumlahkan materi agama dengan pelajaran umum. Akibatnya, anak didik madrasah terutama madrasah suwasta terasa terlalu banyak menanggung beban jam belajar, apabila dibandingkan jam-jam di sekolah umum. sekalipun jumlah jam belajar agama di madrasah sudah dikurangi sekitar 50% dari semula. Selain itu, kurikulum madrasah 1994 untuk pelajaran umum masih belum seimbang jumlahnya dengan sekolah umum. Mata pelajaran agama masih merupakan bagian yang besar pula. Kini, muatan kurikulum madrasah adalah 65% agama dan 35% umum.

Penerapan satu kurikulum baru tidak dapat mendadak karena jauh sebelumnya sekolah yang bersangkutan sedang menggunakan kurikulum lama. Perubahan dari kurikulum lama ke kurikulum baru inilah yang seringkali menimbulkan masalah, karena perlu perangkat-perangkat dan visi baru untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan kurikulum baru itu. Hal ini tentu saja merupakan keresahan mendasar bagi madrasah-madrasah, terutama yang swasta.

Perbedaan mendasar antara sistem pendidikan madrasah dengan pendidikan umum itu jelas menunjukkan masih adanya dikotomi antara ilmu agama dengan ilmu umum. Ketidak mampuan Surat Keputusan Bersama dalam menghilangkan dikotomi itu, karena Surat Keputusan Bersama tidak diikuti dengan konsep akademik bagaimana mengintegrasikannya. Jadi, tanpa konsep yang jelas, keinginan untuk menghilangkan dikotomi tersebut tetap akan meredup.8

3. Kelemahan sitem pendidikan madrasah

Kelemahan sistem pendidikan madrasahpada dasarnya sama dengan kelemahan umum yang disandang oleh sisitem pendidikan di indonesia, yakni:[14]

8[14] Mastuhu, Memberdayakan Sisitem Pendidikan Islam, Jakarta: Logos, 1999, hlm. 58-59

(10)

a. Mementingkan materi diatas metodologi. b. Mementingkan memori di atas analisis dialog.

c. Mementingkan pikiran fertikal atau linear diatas lateral.

d. Mementingkan penguatan pada “otak kiri” di atas “otak kanan”.

e. Materi pelajaran agama yang diberikan masih bersifat tradisional, belum menyentuh aspek rasional.

f. Penekanan yang berlebihan pada ilmu sebagai produk final, bukan pada proses metodologinya.

g. Mementingkan orientasi “memiliki” di atas “menjadi”.

D. KomponenSistem Pendidikan Islam

Komponen dalam sistem pendidikan ada 6, yaitu: tujuan, siswa, pendidik, isi/materi, situasi lingkungan, dan alat pendidikan.

Untuk menghasilkan output dari sistem pendidikan yang bermutu, hal yang paling penting adalah bagaimana membuat semua komponen yang dimaksud berjalan dengan baik. Yang mana pendidik, siswa, materi pendidikan, alat pendidikan dan lingkungan pendidikan semuanya satu langkah menuju pencapaian tujuan pendidikan itu.

1. Tujuan

Tujuan pendidikan berfungsi sebagai arah yang ingin dituju dalam aktivitas pendidikan. Dengan adanya tujuan yang jelas, maka komponen-komponen pendidikan yang lain serta aktivitasnya senantiasa berpedoman kepada tujuan, sehingga efektivitas proses pendidikannya selalu diukur apakah dapat dan dalam rangka mencapai tujuan atau tidak.

Menurut al-Abrasyi, tujuan akhir pendidikan Islam adalah:[15]

a. Pembinaan akhlak

b. Menyiapkan peserta didik untuk hidup di dunia dan akhirat

c. Penguasaan ilmu

d. Keterampilan bekerja dalam masyarakat 2. Siswa9

Siswa/peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan dirinya melalui proses pendidikan pada jalur, jenjang dan jenis pendidikan tertentu. Peserta didik dalam pendidikan Islam selalu terkait dengan pandangan islam tentang hakikat

9[16] Moh. Roqib, Ilmu Pendiidkan Islam, Yogyakarta: Lkis, 2009, hlm. 59

[17] Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2005, hlm. 41

[18] Arifin, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2011, hlm. 135

(11)

manusia, yaitu makhluk yang memiliki dua dimensi (jasmaniyah dan ruhaniyah) yang didesain dengan sebaik-baik model dan sekaligus fleksibel serta berpotensi tinggi untuk dikembangkan. Keutamaan lain yang diberikan Allah SWT adalah fitrah, yakni potensi manusiawi yang educable.[16]

3. Pendidik

Secara umum, pendidik adalah orang yang mempunyai tanggung jawab untuk mendidik. Sementara secara khusus, pendidik dalam perspektif pendidikan Islam adalah orang-orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi peserta didik sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam.[17]

4. Materi/ isi Pendidikan

Materi adalah bahan-bahan pelajaran yang disajikan dalam proses kependidikan dalam suatu sistem institusional pendidikan.

Materi/isi pendidikan adalah segala sesuatu pesan yang disampaikan oleh pendidik kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Dalam usaha pendidikan yang diselenggarakan di keluarga, di sekolah, dan di masyarakat, terdapat syarat utama dalam pemilihan beban/materi pendidikan, yaitu:

(a) materi harus sesuai dengan tujuan pendidikan, (b) materi harus sesuai dengan kebutuhan siswa.[18]

Klasifikasi Ibnu Khaldun tentang ilmu-ilmu dasar pengetahuan islam yang bersumber dari Al Qur’an meliputi sebagai berikut:[19]

a. Ilmu pengetahuan filosofi dan intelektual, terdiri dari: logika, fisika, medis, pertanian, metafisika, serta ilmu yang berkaitan dengan kuantitas.

b. Ilmu-ilmu pengetahuan yang disampaikan (transmitted sciences), terdiri dari: ilmu Al Qur’an, tafsir dan tajwid, ilmu hadis, ilmu fiqh, teologi (ilmu ketuhanan), dan bahasa.

5. Lingkungan Pendidikan

Lingkungan Pendidikan adalah suatu ruang dan waktu yang mendukung kegiatan pendidikan. Proses pendidikan berada dalam suatu lingkungan, baik lingkungan keluarga, lingkungan sekolah atau lingkungan masyarakat.[20]10

a. Lingkungan keluarga, merupakan awal mula pendidikan Islam

b. Lingkungan sekolah, terdiri dari: Raudhatul Atfal, Madrasah Diniyah, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah, Madrasah Aliyah, Universitas Islam11

c. Lingkungan masyarakat, contohnya: pondok pesantren, TPA, masjid dan mushala

10[20] Abdurrachman Mas’ud Dkk, Op. Cit., hlm. 44

[21] Moh. Roqib, Op. Cit., hlm. 69

(12)

6. Alat Pendidikan

Alat pendidikan adalah pendukung dan penunjang pelaksanaan pendidikan yang berfungsi sebagai perantara pada saat menyampaikan materi pendidikan, oleh pendidik kepada siswa dalam mencapai tujuan pendidikan.

Alat pendidikan dapat membentuk dan terkadang dalam hal tertentu dapat menggantikan peran pendidik dalam proses pembelajaran.[21]

Dalam prakteknya paling tidak ada dua macam alat pendidikan, pertama alat pendidikan dalam arti metode, kedua alat pendidikan dalam arti perangkat keras yang digunakan seperti media pembelajaran dan sarana pembelajaran.

E. Keistimewaan Sistem Pendidikan Islam

Sistem pendidikan Islam memiliki keistemewaan dibanding sistem pendidikan lain,yaitu:

1. Adanya korelasi antara bahan-bahan pelajaran dengan agama 2. Mewujudkan prinsip dan sistem desentralisasi dalam belajar

3. Asas persamaan dalam pengajaran dan demokratisasi dalam pendidikan Islam 4. Mengkaitkan ajaran agama dengan kehidupan manusia

5. Asas kewajiban mengajar

F. Pengertian Metode Pendidikan Islam

Secara literal metode berasal dari bahasa Greek, yaitu meta yang berarti melalui, dan hodos yang berarti jalan. Jadi, metode berarti jalan yang dilalui. Menurut Ahmad Tafsir, metode pendidikan adalah semua cara yang digunakan dalam upaya mendidik. Sedangkan menurut Abdul Munir Mulkan, metode pendidikan adalah suatu cara yang dipergunakan untuk menyampaikan atau mentransformasikan isi atau bahan pendidikan kepada peserta didik.[22]

Metode pendidikan Islam adalah prosedur umum dalam penyampaian materi untuk mencapai tujuan pendidikan yang didasarkan asumsi tertentu tentang hakikat Islam sebagai supra sistem.[23]

a. Prinsip Metode Pendidikan Islam Prinsip metode pendidikan Islam:[24]

1. Niat dan orientasi dalam pendidikan Islam, yakni untuk mendekatkan hubungan manusia dengan Allah SWT dan sesama makhluk

2. Keterpaduan

(13)

5. Keteladanan

6. Berdasar pada nilai (etika-moral)

7. Sesuai dengan usia dan kemampuan akal peserta didik 8. Sesuai dngan kebutuhan peserta didik

9. Mengambil pelajaran pada setiap kasus 10. Proporsional dalam memberikan janji

b. Macam-macam Metode Pendidikan Islam

Macam-macam metode pendidikan Islam, menurut An-Nahlawi adalah:[25]

1. Metode hiwar (percakapan)

2. Mendidik dengan kisah-kisah Qur’ani dan Nabawi 3. Mendidik dengan amtsal (perumpamaan)

4. Mendidik dengan memberi teladan

5. Mendidik dengan pembiasaan diri dan pengamalan

6. Mendidik dengan mengambil ibrah (pelajaran) dan mauidhah (peringatan) 7. Mendidik dengan targhib (membuat senang) dan tarhib (membuat takut)12

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari makalah ini adalah:

1. inovasi adalah suatu ide baru yang dapat menghasilkan sebuah produk ataupun jasa. 2. Pengertian sistem pendidikan Islam adalah usaha pengorganisasian proses kegiatan

kependidikan yang berdasarkan ajaran Islam 3. Komponen sistem pendidikan Islam meliputi:

a. tujuan b. siswa c. pendidik d. isi/materi

e. situasi lingkungan f. alat pendidikan

12[22] Al-Rasyidin dan Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat Press, 2005, hlm. 65

[23] Moh. Roqib. Ilmu Pendidikan Islam..., hlm. 9

[24] Ibid., hlm. 96

(14)

4. Keistimewaan sistem pendidikan Islam adalah:

a. Adanya korelasi antara bahan-bahan pelajaran dengan agama b. Mewujudkan prinsip dan sistem desentralisasi dalam belajar

c. Asas persamaan dalam pengajaran dan demokratisasi dalam pendidikan Islam d. Mengkaitkan ajaran agama dengan kehidupan manusia

e. Asas kewajiban mengajar

5. Pengertian metode pendidikan Islam adalah prosedur umum dalam penyampaian materi untuk mencapai tujuan pendidikan yang didasarkan asumsi tertentu tentang hakikat Islam sebagai supra sistem.

a. Keteladanan

b. Berdasar pada nilai (etika-moral)

c. Sesuai dengan usia dan kemampuan akal peserta didik d. Sesuai dngan kebutuhan peserta didik

e. Proporsional dalam memberikan janji

6. Macam-macam metode pendidikan Islam, menurut An-Nahlawi adalah: a. Metode hiwar (percakapan)

b. Kisah Qur’ani dan Nabawi c. Amtsal (perumpamaan) d. Suri teladan

e. Pembiasaan diri dan pengamalan

f. Mengambil ibrah (pelajaran) dan mauidhah (peringatan) g. Targhib (membuat senang) dan tarhib (membuat takut)

B. Saran

(15)

Daftar Pustaka

Al-Rasyidin. Nizar, Samsul. 2005. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Ciputat press Arifin. 2011. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

Arifin Muzayyin. 2003. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara

Mas’ud Abdurrachman Dkk. 2001. Paradigma Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Mastuhu. 1999. Memberdayakan Sistem Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Roqib, Moh. 2009. Ilmu Pendiidkan Islam. Yogyakarta: Lkis

Sudjana, Anas. 1997. Pengantar Administrasi Pendidikan Sebagai Suatu Sistem.Bandung: Rosda Karya

Tafsir, Ahmad. 2004. Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: Remaja Rosdakarya

Referensi

Dokumen terkait

Sampai saat ini, selain sebagai pusat ibadah, masjid masih merupakan tempat kegiatan pendidikan agama terutama yang berkaitan dengan ilmu agama islam. Dengan

Malangnya, tidak semua tempat ibadah khususnya masjid atau surau untuk umat Islam di negara ini menyediakan prasarana mesra OKU, serta kemudahan peralatan yang

Dari permasalahan inilah penulis tertarik untuk mengambil judul penelitian: Implementasi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam dalam Mengembangkan Kemandirian Siswa di

Kemudian meunasah yang berfungsi selain sebagai tempat pendidikan agama terutama pendidikan agama bagi anak (Quran) juga sebagai tempat ibadah, tempat pertemuan

Pembahasan tentang surau sebagai lembaga pendidikan Islam di Minangkabau hanya dipaparkan sekitar awal pertumbuhan surau samapi dengan meredupnya pamor surau. Kondisi

Menghadapi tantangan di atas, Direktorat Pendidikan Tinggi Islam, Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama, melaksanakan beberapa skema kegiatan

Abdul Muis khattab merupakan seorang tokoh ulama dan pendidik agama Islam di Kenagarian Kapujan melalui lembaga pendidikan yang melanjutkan peninggalan gurunya yaitu mesjid, surau

Dari beberapa penjelasan di atas, apabila tersebut dihubungkan dengan istilah pendidikan, secara sederhana teori pen-didikan dapat diartikan sebagai berikut: Teori