BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang
Pentingnya bagi kita untuk mengetahui serta mempelajari sejarah perkembangan hukum islam adalah salah satu faktor yang melatar belakangi pembuatan makalah ini.
Kita tahu bahwa sebagai umat islam,kita di wajibkan untuk terus belajar memahami ajaran agama islam,supaya kita tidak menjadi umat yang hanya taklid (mengikuti saja) tanpa tau dasar atau hukum yang melatar belakanginya,semua itu di lakukan supaya kita tidak tersesat pada aliran agama islam yang baru yang terkadang bukan mendekatkan kita pada ajaran Rasulullah tetapi malah sebaliknya.
Dengan belajar sejarah perkembangan sejarah hukum islam yang terbagi menjadi empat periode tersebut,kita bisa mengetahui berbagai madzhab-madzhab yang berkembang paa zaman dahulu hingga sekarang serta dasar ataupun cara-cara ijtihad para ulama terdahulu dalam menentukan suatu hukum.
B. Identifikasi Masalah
Perkembangan hukum islam terbagi menjadi Empat periode yaitu : 1. Hukum islam pada masa Rasulullah
2. Hukum islam pada masa sahabat.
3. Hukum islam pada masa imam mujtahidin atau Dinasti Abbasiyah. (Periode Kesempurnaan).
4. Hukum islam pada (Periode Kemunduran) C. Batasan Masalah
D. Rumusan Masalah
Masalah yang akan di bahas dalam makalah ini di rumuskan dalam rumusan masalah sebagai berikut :
1. Apa yang menjadi factor yang mendorong berkembangnya hukum islam pada periode kemunduran ?
2. Apa yang menjadi dasar pemikiran dan perkembangan madzhab hukum islam seperti madzhab Hanafiah,Malikiyah,Syafi’iah,Hambaliyah dll.?
E. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan pembahasan ini yaitu, Mendeskripsikan:
1. Faktor-faktor yang mendorong berkembangnya hukum islam khususnya pada periode kesempurnaan.
BAB II PEMBAHASAN
Pembentukan madzhab Dan pembukuan Hadits Dinasti Abbasiyyah ( 750 – 1258 )
Setelah kekuasaan Umayyah berakhir ,kendali pemerintahan islam selanjutnya di pegang oleh Dinasti Abbasiyyah. Berbeda dengan fase sebelumnya yang di tandai dengan perluasan wilayah,fase ini di tandai dengan perkembangan ilmu pengetahuan yang pengaruhnya masih dapat di buktikan sampai saat ini.
Fase ini,dalam sejarah hukum islam di kenal sebagai fase atau zaman ke-Emasan. Khudlari byk (t.th: 4-5) menyebutnya sebagai fase fiqih menjadi ilmu yang mandiri; T.M Hasbi ash-shiddiqi (1967 : 31-2) Menyebutnya sebagai fase kesempurnaan.
Adapun pokok-pokok bahasan pada bagian ini meliputi faktor-faktor yang mendorong perkembangan hukum islam, pendirian dan perkembangan madzhab fiqih,pengaruh pembukuan hadits terhadap perkembangan hukum islam,serta pengaruhpembukuan fiqih dan ushul fiqih terhadap perkembangan hukum islam.
1.FAKTOR-FAKTOR YANG MENDORONG PERKEMBANGAN HUKUM ISLAM Faktor utama yang mendorong perkembangan hukum islam adalah berkembangnya ilmu pengetahuan di dunia islam,Berkembang pesatnya ilmu pengetahuan di dunia islam di sebabkan oleh hal-hal berikut :
a. Banyaknya mawali yang masuk islam.
Di bawah pemerintahan Harun Ar-rasyid,di mulailah penerjemahan buku-buku yunani ke dalam bahasa arab. Banyak ilmuwan yang di kirim ke kerajaan Eropa untuk mendapatkan manuskrip (makhtuthat). Pada awalnya upaya penerjemahan di utamakan pada buku-buku kedokteran,tetapi kemudian di pelajari pula buku-buku ilmu
pengetahuan dan filsafat. Di antara para penerjemah yang terkenal pada zaman itu adalah:
Hunain ibn Ishaq (w.873 M)
Tsabit ibn Qurra (825 – 901) Abu Bishr Matta ibn yunus (w.939) Qusta ibn Luqa.
b. Berkembangnya pemikiran karena luasnya ilmu pengetahuan.
c. Adanya upaya umat islam untuk melestarikan Al-Qur’an dengan dua cara,yaitu di catat (di kumpulkan dalam satu mushaf) dan di hafal
2. DASAR PEMIKIRAN DAN PERKEMBANGAN MADZHAB HUKUM ISLAM. Thaha jabir fawadl al-ulwani ( 1987 : 87-8 ) menjelaskan bahwa madzhab fiqih islam yang muncul setelah sahabat dan kibar at-tabi’in berjumlah 13 aliran. Ketiga belas aliran ini berafiliasi dengan aliran ahlus sunnah. Namun,tidak semua aliran itu dapat di ketahui dasar-dasar dan metode istinbath hukumnya.
Adapun di antara pendiri tiga belas aliran itu adalah sebagai berikut : a. Abu sa’id al-Hasan ibn yasar al-bashri ( w.110 )
b. Abu Hanifah al-nu’man ibn Tsabit ibn Zuthi ( w.150 )
c. Al-Auza’i Abu amr Abd al-Rahman ibn Amr ibn Muhammad ( w.157) d. Sufyan ibn sa’id ibn masruq al-Tsauri ( w.16 )
e. Al-laits ibn sa’d ( w.175 )
f. Malik ibn Anas Al-bahi ( w.179 ) g. Sufyan ibn ‘Uyainah (w.198 )
h. Muhammad ibn Idris Al-syafi’i (w.204 ) i. Ahmad ibn Muhammad ibn Hanbal ( w.270 ) j. Daud ibn Ali Al-ashbahani al-baghdadi ( w.270 ) k. Ishaq ibn Rahawain ( w.238 )
l. Abu tsaur ibrohim ibn Khalid al-kalabi (w.240 H) m. (Mun’im sirri . 1995 : 79 -90 )
Aliran hukum islam yang terkenal dan masih ada pengikutnya hingga kini hanya beberapa,di antaranya Hanafiah,Malikiah,Syafi’iah,dan Hanabilah.
1. Aliran Hanafi
Nama lengkap beliau adalah Nu’man bin tsabit ibn zuhtho al kufy
Beliau di juluki al imam al A’dzom (Imam yang paling agung) Karena pengetahuannya yang luas dan kecerdasan yang tinggi.
Beliau mencari ma’isyah dari berdagang kain.
Imam hanafi termasuk ahlu fiqh Ahlur Ra’yi yaitu sikap yang lebih mendahukukan pendapat akal dalm berijtihad,Hal itu karena beliau sangat di pengaruhi oleh para gurunya yang di kenal sebagaipelopor ahlur ra’yi. Antara lain; Ibrahim an nakhai dan Hammad bin abu sulaiman . Selain itu kondisi sosiologi sekitarnya sangat
mempengaruhi.
Mazhab fiqihnya di kenal sebagai mazhab paling rasional dan pernah menjadi mazhab resmi Negara Abbasiyyah dan Utsmani.
Mazhab ini berkembang di wilayah subkontinental india,Pakistan dan Bangladesh.juga di turki,cina,Uzbekistan,Tajikistan,dan Kazakhstan,juga di Irak,suriah,dan Mesir.
Cara Ijtihad Abu Hanifah.
Thaha jabir fawadl al-Ulwani ( 1987 : 91 ) membagi cara ijtihad abu hanifah menjadi dua,yaitu cara ijtihad yang pokok dan tambahan.
a. Cara ijtihad yang pokok.
“Aku ( Abu Hanifah ) merujuk kepada Al-Qur’an apabila aku mendapatkannya; Apabila tidak ada dalam Al-Qur’an,aku merujuk kepada sunnah Rasulullah SAW dan atsar yang shahih yang di riwayatkan oleh orang – orang tsiqoh. Apabila tidak mendapatkan dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasul , Aku merujuk kepada qaul sahabat , (Apabila sahabat ikhtilaf ), Aku mengambil pendapat sahabat yang mana saja yang ku kehendaki , Aku tidak akan pindah dari pendapat yang satu ke
pendapat sahabat yang lain. Apabila di dapatkan pendapat Ibrahim,al-sya’bi,dan ibn al musayyab,serta yang lainnya,Aku berijtihad sebagaimana mereka berijtihad” ( Thaha jabir fayadl al- Ulwani.1987 : 91 )
b. Ijtihad yang merupakan tambahan
Bahwa dilalah lafad umum ( ‘Am ) adalah qathi’i seperti lafad khash
Bahwa pendapat sahabat yang tidak sejalan dengan pendapat umum adalah bersifat khusus.
Bahwa banyaknya yang meriwayatkan tidak berarti lebih kuat ( rajih ) Adanya penolakan terhadap mafhum (makna tersirat,syarat dan shifat ) Bahwa apabila perbuatan rawi menyalahi riwayatnya,yang di jadikan dalil
adalah perbuatannya bukan riwayatnya.
Mendahulukan qiyas jali atas khabar ahad yang di pertentangkan.
Fiqih Abu Hanifah.
Bahwa perempuan boleh menjadi hakim di pengadilan yang tugasnya khusus menangani masalah perdata , bukan perkara pidana . Alasannya,Karena perempuan tidak di bolehkan menjadi saksi pidana ;ia hanya di benarkan menjadi saksi perkara perdata . Karena itu,menurutnya perempuan hanya boleh jadi hakim yang menagani perkara perdata . Dengan demikian,metode ijtijad yang di gunakan adalah qiyas dengan menjadikan kesaksian sebagai al ashl dan menjadikan hakim perempuan sebagai far. ( Abi Muhammad Mahmud ibn Ahmad al ‘Aini ,vii.1990 : 1 dan ‘Ala al Din ibn khalil tharabalisi al-Hanafi,1973 : 25 )
Abu Hanifah dan ulama khuffah berpendapat bahwa salat gerhana ( gerhana matahari dan bulan ) di lakukan 2 raka’at sebagaimana salat Id; tidak di lakukan 2 kali ruku’ dalam 1 raka’at ( Muhammmad Abu Fath al-Bayanuni ,1983 : 50)
Kitab fiqih Abu Hanifah
Muhammad Abu zahrah ( t.th : 185 ) menjelaskan bahwa Abu Hanifah tidak menulis kitab secara langsung kecuali beberapa “Risalah” kecil yang di nisbahkan kepadanya,Seperti risalah yang di beri nama Al-fiqh Al-akbar dan ‘Alim wa al-Muta’alim. Kitab-kitab yang di karang oleh Abu Hanifah dan sahabat-sahabatnya yaitu zhahir al- riwayah dan ada 6 buah :
1. Al-Mabsuth/Al-Ashl 2. Al-Jami’ al-Kabir 3. Al-jami’ al-shaghir 4. Al-siyar al-kabir 5. Al-siyar al-shaghir 6. Al-ziyadat
2. Aliran Mliki
Nama lengkap beliau adalah Malik bin Annas bin Abi Amir al asbahi
Beliau berasal dari keturunan Arab yaman dan lahir di madinnah pada tahun 712 M dan Wafat pada tahun 796 M.
Guru-guru beliau di kenal dengan fuqoha’ sab’ah.Yaitu : Sa’id bin musayyab,Urwah bin zubair,Qasim bin Muhammad bin Abi bakar as-shiddiq,kharijah bin zaid bin tsabit,Abu bakar bin Abdur rahman , Sulaiman bin yasar , dan Ubaidillah bin Abdullah
madinnah sebagai rejukan kedua dalam pengambilan hukum setelah Al-Qur’an dan sunnah. Beliau juga memperkenalkan konsep istislah yaitu metode ijtihad yang di dasari atas al maslahah dan mursalah yaitu suatu yang di anggap maslahat oleh akal sehat . Tetapi tidak ada dalil yang mendukung ataua melarangnya.
Mazhab Maliki pernah menjadi mazhab utama di mekkah,Madinah,Irak,Mesir,Al-jazair,Tunisia,Andalusia,Maroko dan Sudan.
Cara ijtihad Imam Malik Mengambil dari Al-Qur’an
Menggunakan zahir Al-Qur’an yaitu lafadz yang umum. Menggunakan Dalil Al-Qur’an yaitu mafhum al muwafakoh Menggunakan Mafhum Al-Qur’an yaitu mafhum al mukhalafah Menggunakan Tanbih Al-Qur’an yaitu memperhatikan illat.
Dan lima langkahdi atas tersebut di sebut sebagai ushul khamsah . Langkah-langkah berikutnya adalah :
1) Ijmak 2) Qiyas
3) Amal penduduk madinah 4) Istihsan
5) Sadd al-dzara’i.
6) Al-Mashalih al-mursalah 7) Qaul al- shahabi
8) Mura’at al-khilaf 9) Al-istishab 10) Syarman qoblana
Sementara itu ,Abi ishaq Ibrahim ibn musa al-lakhmi al-gharanathi al-syathibi (lll,t.th : 2),Salah satu penerus aliran maliki,menjelaskan bahwa dalil hukum bagi malikiah adalah :
Dibawah ini akan di jelaskan mengenai pendapat imam malik yang alasannya di dasarkan pada ijmak dan amal ulama’ madinah.
1. Kesucian Mustahadlah
Menurut imam malik perempuan yang mengalami istihadlah ( keluar darah dari kelamin selain darah haid dan darah nifas ) di wajibkan satu kali mandi; kesuciannya setelah itu cukup dengan berwudlu,Hujjah yang ia gunakan adalah amal ulama’ madinah. Dalam kitab Al-muwatha’ imam malik meriwayatkan dari hisyam ibn urwah dari bapaknya : “Tidak ada kewajiban bagi mustahadlah kecuali mandi satu kali; setelah itu ia berwudlu setiap kali shalat (Mushthafa Daib al Bu’a,1993 : 443 – 4 )
2. Berjima’ dengan perempuan mustahadlah
Laki-laki di haramkkan berjima’ dengan istrinya yang sedang haid dan nifas Imam Abu Hanifah ,Malik,dan Syafi’I sepakat bahwa laki-;laki boleh berjima’ dengan istrinya yang sedang istihadlah. Hujjah Imam Malik adalah Amal Ulama’ Madinah. Dalam Al-Muwatha’ ia berkata : “Apabila darah istihadlah telah kering , suaminya boleh berjima’ dengannya”. Imam al-zarqani menjelaskan bahwa hal itu merupakan ijmak ulama’ madinah. ( Mushthafa Daib Al-bu’a, 1993 : 445-6 )
3. Pengaruh zina terhadap perkawinan
Apabila seseorang berzina dengan seorang perempuan,Apakah anaknya haram kawin dengan perempuan yang telah di zinahinya atau tidak ?. Menurut Imam Malik, Zina tidak dapat menentukan kekerabatan. Karena itu anaknya di bolehkan menikah dengan perempuan yang pernah berzin dengan ayahnya.
Menurut Imam Malik, Haramnya kawin dengan ibu mertua (Q.s
An-nisa’,4:23 ) adalah haram karena perkawinan; Setiap pernikahan merujuk kepada persetubuhan yang di halalkan. Sedangkan zina tidak termasuk persetubuhan yang di halalkan sehinggga tidak dapat menenntukan kekerabatan. Setelah
berargumentasi dengan argument di atas,Ia berkata” Itulah yang aku dengar dan di amalkan di madinah.”(Mushthafa Daib al-Bu’a. 1993: 521-2 )
Di samping memiliki cara ijtihad tersendiri, Ia juga memiliki pendapat yang mandiri. Berikut ini di antara pendapat Beliau :
malik menggunakan qiyas sebagai metodenya,jumlah mahar adalah far (cabang ) dan nishab harta curian adalah ashl ( pokok ) , Tetapi beliau tidak menyebutkan illatnya.
Kitab yang menjadi Rujukan aliran malikiyah adalah sebagai berikut : 1. Al-Muwatha’ Karya Imam Malik
2. Al-mudawwanah al-kubra.
3. Bidayah al-mujtahid wa Nihayat al-muqtashid 4. Fath al-rahim ‘Alafiah al-Imam malik bi al-adillah. 5. Al-I’tisham.
6. Mukhtashar khalil ‘ala matan al- risalah li ibn abi zaid al-Qirawani. 7. Ahkam al-Ahkam ‘Ala tuhfat al-ahkam fi al- syar’iyyah.
Adapun kitab-kitab ushul al-fiqh aliran malikiyah adalah sebagai berikut : 1. Syarh tanqih al-fushul fi ikhtishar al-mashul fi al-ushul.
2. Al-muwafaqat fi ushul al-ahkam. 3. Ushul al-futiya.
4. Al-Furuq 5. Al-Qawa’id
6. Ialah al-masalik al-Qawa’id al-imam malik.
7. Al-Is’af bi al-thalab mukhtashar syarh al-minhaj al- muntakhab. 2. Aliran Syafi’i
Nama lengkap beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin idris asy-syafi’i.
Dilahirkan di Gaza tahun 767 M / 150 H.Dan wafat di fustat Mesir tahun 820 M/204 H
Ia berasal dari kaum bangsawan Quraisy dan nashabnya bertemu dengan nabi
Muhammad SAW pada kakeknya Abdul Manaf.Ayahnya meninggal ketika ia berusia 2 tahun , lalu ia di bawa ibunya ke makkah. Beliau hafal Al-Qur.’an di Usia 7 tahun dan Hafal Al-Muwatha’ di Usia 10 tahun.
Di kenal sebagai mazhab yang memadukan kecenderungan ahlur ra’yi dan kecenderungan literal ( ahlul Hadits ).
Di bidang fiqih beliau orang yang pertama membukukan pendapat fiqihnya dengan sistematis (terkodefikasi ) pembahasannya dalam buku yang di beri nama Al-umm.Di bidang ushul fiqih beliau adalah orang yang pertama menyusun buku ushul fiqih sebagai pondasi bagi setiap mujtahid dalam berijtihad di dalam buku yang di beri nama Ar-risalah .
Cara ijtihad Imam Asy-syafi’i
Kamil Musa ( 1989 : 254 ) mengatakan bahwa Imam Asy-syafi’I berkata : “Ilmu itu bertingkat-tingkat,tingkat pertama adalah Al-Qur’an dan Sunnah; kedua adalah ijmak terhadap sesuatu yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan Sunnah; Ketiga adalah qaul sebagian sahabat tanpa ada yang menyalahinya ; Keempat adalah pendapat sahabat Nabi SAW yang antara yang satu dengan yang lainnyaberbeda-beda ( ikhtilaf )dan kelima adalah Al-qiyas,. Manna’al-qaththan (1989 : 235 )dalam kitab Al-tasyri’wa al-fiqh fi al-islam : Tarikh (an) wa manhaj (an),mengatakan bahwa kalimat di atas di kutip dari kitab Al-Umm. Ahmad Amin ( ii.t.th ; 223 )dalam kitab dluha al-islam, menjelaskan langkah-langkah ijtihad al-syafi’I,menurut Imam syafi’i rujukan pokok adalah Al-Qur’an dan Sunnah, ukumnya di tentukan dengan cara qiyas,Sunnah di gunakan apabila sanadnya shahih. Ijmak lebih di utamakan atas khabar mufrad,makna yang di ambil dari hadits adalah makna zahir,Apabila suatu lafadz ihtimal ( mengandung makna lain ) ,maka makna zahir lebih di utamakan; Hadits muqathi’ di tolak kecuali jalur ibn al-musayyab al-ashl tidak boleh di qiyaskan kepada al-ashl , kata “mengapa” dan “bagaimana” tidak boleh di [ertanyakan kepada Al-Qur’an dan Sunnah, Keduanya di pertanyakan hanya kepada al-furu’,Qiyas dapat menjadi hujjah apabila pengqiyasannya benar.
Dengan demikian,dalil hukum bagi al-syafi’i adalah Al-Qur’an, sunnah, dan Ijmak. Sedangkan tehnik ijtihad yang di gunakan adalah al-qiyas dan al-takhyir apabila menghadapi ikhtilaf pendahulunya.
Qaul Qadim dan Qaul Jadid.
Ahmad Amin (ii t,th : 231 ) menjelaskan bahwa ulama’ membagi pendapat all-syafi’I menjadi dua; yaitu :
1. Qaul Qadim : pendapat al- syafi’I yang di kemukakan dan di tulis di Irak. 2. Qaul Jadid : pendapat al-syafi’I yang di kemukakan dan di tulis di Mesir.
Sebab terbentuknya qaul qadim dan qaul jaded adalah karena imam syafi’I mendengar dan menemukan hadits dan fiqih yang di riwayatkan ulama Mesir yang tergolong ahl al-Hadits ( Sya’ban Muhammad Isma’il ,1985 : 38 )
No TOPIK QaulQadim Qaul Jadid
1. Tertib dalam wudlu Orang yang wudlunya tidak tertib karena lupa
adalah sah karena lupa adalah tidak badan yang wajib di basuh dalam berwudlu adalah wajib
Berturut-turut dalam membasuh anggota badan yang wajib di basuh dalam berwudlu adalah sunat bukan wajib
3. Menyentuh Dubur Menyentuh dubur tidak membatalkan wudlu
Menyentuh dubur membatalkan wudlu 4. Tangan yang wajib di
usap dalam tayammum
Tangan yang wajib di usap hanyalah du telapak tangan
Tangan yang wajib di usap adalah dua telapak tangan serta dua sikunya
Selain Qaul qadim dan Qaul jaded,Imam syafi’i juga memiliki pendapat yang sebagian besar tercermin dalm kitab Al-Umm,Di antaranya sebagai berikut.:
1. Imamah
Menurut Al-Syafi’i, masalah imamah termasuk masalah agama ( amr diniy ) ; Oleh karena itu,Menurutnya mendirikan imamah merupakan kewajiban agama ( bukan sekedar kewajiban aqli ).Pemimpin umat islam mesti beragama islam dan orang-orang non muslim terlindungi. (Muhammad Abu Zahrah,t.th : 271 )
Selanjutnya,Ia berpendapat bahwa pemimpin mesti dari kalangan Quraisy. Alasannya,karena ada sebuah riwayat yang terkenal di kalangan sunni yang di jadikan kunci penyelesaian perdebatan politik.di saqifah bani sa’ddah untuk menentukan pengganti Nabi SAW sebagai pemimpin Negara dan agama. Hadits itu di riwayatkan oleh bukhori dalam kitab shohih al-bukhori dan muslim dalam shohih muslim. (Bukhori, vii.t.th : 105 dan Muslim II.t.th : 120 ). Dalam
menanggapi situasi politik sebelum zamannya,Al-syafi’i berpendapat bahwa ‘Ali bin abi thalib adalah haqq,dan mu’awiyyah ibn Abi sufyan adalah Haqq,tetapi keduanya melakukan kekeliruan bbaghaya,begitu juga khawarij, (Muhammad Abu zahrah,t.th : 272 ).
Dalam pandangan Imam Al-syafi’i ,pemimpin yyang berkualitas adalh pemimpin yang memiliki criteria berilkut :
2. Dewasa 3. Merdeka
4. Beragama Islam 5. Laki-laki
6. Dapat melakukan Ijtihad
7. Memiliki kemampuan mengatur (Manajerial, al-tadbir ) 8. Gagah Berani
9. Melakukan perbaikan agama.
10. Dari kalangan Quraisy ( Muhammad ibn idris al-syafi’i t.th : 34 )
Rujukan Syafi’iah
Rujukan utama syafi’I adalah kitab al-umm dan kedua adalah kitab Risalah .Dan berikut ini di antara kitab-kitab kaidah fiqih aliran syafi’iah:
1. Qawa’id Al-ahkam fi mashalih al-Anam
2. Al-asybah wa Al-Nazha’ir karya ibnu wakil ( w.716 )
3. Al-asybah wa Al-Nazha’ir karya Taj Al-din al-subkhi (w.771 ) 4. Al-asybah wa Al-Nazha’ir karya Ibn Al-mulaqqin (w.804) 5. Al-asybah wa Al-Nazha’ir karya Jalal al-din al-suyuthi (w.911) 4.Aliran Hanbali
Nama lengkap beliau adalah abu abdillah ahmad bin hanbal bin hilal bin as’ad adz-dzuhali.
Dilahirkan di Salam,Baghdad Tahun 164 H dan Wafat 214 H
Kemunculan mazhab ini merupakan reaksi terhadap sikap yang berlebihan dari beberapa aliran seperti syi’ah,khawarij,mu’tazilah,Qadariyyah dan Murji’ah. Kaum mu’tazilah mmisalnya menganggap bahwa Al-Qura’an bukan kalamullah tetapi makhluk Allah.
Cara Ijtihad Ahmad ibn Hanbal:
1. Al-Nushush dari Al-Qur’an dan sunnah.
2. Apabila tidak di dapatkan dalam Al-Qur’an dan sunnah ia menukil ftwa sahabat ,memilih pendapat sahabat yang di sepakati sahabat lainnya.
3. Apabila fatwa sahabat berbeda-beda,ia memilih salah satu pendapat yang lebh dekat kepada al-Qur’an dan sunnah.
5. Apabila hadits mursal dan hadits dla’if sebagaimana di isyaratkan di atas tidak di dak di dapatkan , ia menganalogikan ( menggunakan qiyas ) dalam
pandangannya,qiyas adalah dalil yang di pakai dalam keadaan terpaksa.
6. Langkah terakhir adalah menggunakan sad al-dzara’i(melakukan tindakan prefentif terhadap hal-hal yang negative )
Fiqih Ahmad bin Hanbal
Dalam bidang muamalah terutama tentang khiyar Al-majlis. Imam Ahmad berpendapat bahwa jual beli belum di anggap lazim meskipun telah terjadi ijab dan qabul (akad), Apabila penjual dan pembeli masih satu ruangan yang di tempat itu akad di lakukan,Apabila keduanya atau salah satunya tidak di tempat itu lagi (sudah berpisah) ,maka akad sudah lazim,Alasannya adalah Hadits riwayat Malik dari Nafi’dan abdallah ibn ‘Umar r.a. yang menyatakan bahwa nabi muhammmad SAW Bersabda :
امهنادباب اقرفتي ملام رايخلاب امهنم دحاو لك ناعيبتملاو
“Setiap penjual dan pembeli mempunyai hak khiyar (pilih) selama keduanya belum berpisah (Mushthafa daib Al-Bu’a, 1993 : 491-2 )
Karya-karya beliau antara lain musnad Ahmad yang menghimpun 40.000 Hadits. Karya beliau yang lain adalah Tafsir Al-Qur’an dan kitab al-nasikh wa al-mansukh. Sedangkan kitab-kitab yang menjadi rujukan fikih Hanabilah dan beriisi tentang gagasan Ahmad ibn Hanbal adalah sebagai bberikut :
1. Mukhtashar al-khurai
2. Al-mughni syarh ala mukhtashar al-khurai 3. Majmu’ fatawa ibn taimiah
4. Ghayat al muntaha fi al jambain al lana wa al muntaha 5. Al-jami’ al-kabir.
5.Aliran Zhahiri
Mazhab ini di sebut zhahiriah karena di nisbahkan kepada gelar pendirinya,yaitu Daud ibn ‘Ali al-ashbahani (202 -270 )
Nama lengkap beliau adalah Abu sulaiman daud ibn ‘ali ibn Khalaf ashbahani al-baghdadi
Di lahirkan di Baghdad pada tahun 202 H dan meninggal di Baghdad pada tahun 270 H.
Beliau belajar fiqih kepada sahabat dan murid imam al-syafi’i yang tinggal di Baghdad.
Seperti telah di sebutkan imam daud al-zhahiri menolak alqiyas dan mengajukan al dalil sebagai cara memahami nash. Dalam mempertegas cara ijtihadnya . imam daud alzhahiri berkata “Sumber hukum pokok adalah Al-Qur’an, sunnah, dan Ijmak” (Muhammad ibn al hasan al hujwi al tsa’alabi al fasi,1997 ).Menurut (Muhammad abu zahrah ,t.th: 376).Bagi Imam Daud Al zhahiri ,makna yang di gunakan dari al-Qur’an dan sunnah adalah makna dlahir atau makna tersurat ,ia tidak menggunakan makna tersirat ,apalagi mencari illat sebagaimana di lakukan oleh ulama yang mengakui al qiyas sebagai cara ijtihad seperti muhammmad ibn idris al-syafi’I , menurut Imam daud alzhahiri syari’at tidak boleh di intervensi Oleh akal.
Imam Daud al zhahiri menentang al qiyas.Dalam memenolak alqiyas,ia berpendapat bahwa yang pertama melakukan qiyas adalah iblis (Muhammad ibn al hasan al- hujwi al-Tsa’alabi al-fasi : 1977). Meakipun demikian ia tidak menentang al qiyas secara keseluruhan. Menurut hasil penelitian ibn al- subkhi ,qiyqs yang di tolak oleh Imam Daud alzhahiri adalah qiyas khafi,sedangkan qiyas jali di terimanya.
Fiqih Imam Daud al-Zhahiri,Contoh
1. Menikah dengan perempuan yang di pinang oleh laki-laki lain.
Dalam hadits di katakana bahwa nabi Muhammad saw melarang umat islam meminang perempuan yang berada dalam pinangan orang lain ,sebagaimana seseorang tidak boleh membeli benda yang sudah di beli ole orang lain.,Karena umat islam dengan yang lainnya adalah saudara.
Ullama berbeda pendapat dalam memahami cegahan yang terdapat dalam hadits tersebut.Menurut Imam al-khuthubi ,cegahan yang terdapat dalam hadits tersebut adalah li ta’dib(bertujuan mendidik ),bukan li tahrim ( mengharamkan). Dalam pandangan jumhur ulama,menikah dengan perempuan yang sedang berada dalam pinangan laki-laki adalah sah ,meskipun hukum peminangannya adalah haram..Sedangkan menurut Imam Daud al-zhahiri,pernikahan tersebut di anggap fasakh,baik sudah melakukan persetubuhan maupun belum,. ( Muhammad ibn Isma’il al-kahlani,t.th III : 113 – 4 )
2.PELESTARIAN MAZHAB DAN AKHIR ZAMAN KEEMASAN.
Sebagaimana di katakan ,meskipun mazhab fiqih berkembang begitu banyak tetapi yang berkembang hingga sekarang hamya sebagian kecil. Thaha jabir fayadl alUlwani (1987 : 87 -8 ) menjelaskan bahwa mazhab fiqih islam yang muncul setelah sahabat dan khibar al-tabi’in berjumlah 13 aliran.
qadli (hakim) dalam pemerintahan tiga khalifah abbasiyyah,yaitu khalifah al-Mahdi,kahalifah al-Hadi, dan Harun ar-rasyid. Al- kharaj adalah kitab yang di susun atas permintaan khalifah Harun al-rasyid.
Mazhab Malik berkembang atas dukungan al-Manshur di khilafah timur dan yahya ibn yahya ketika di angkat menjadi qodli oleh para penguasa Andalusia. Di afrika,Muiz badis mewajibkan seluruh penduduk mengikuti mazhab maliki.
Mazhab syafi’i betkembang di mesir setelah shalahuddin al-ayyubi merebut negeri itu. Mazhab Hanbali menjadi kuat setelah al-mutawakkil di angkat menjadi khalifah abbasiyyah. Ketika itu,al-mutawakkil tidak akan mengangkat seorang qodli kecuali atas persetujuan Ahmad ibn Hanbal.
Suaiaman all-asyqar (1991- 161) mengatakan bahwa dinasti bani abbas berjasa dalam melestarikan mazhab hanafi dengan mengangkat abu yusuf sebagai hakm agung. (Qodly al-qudlat), Dinasti fatimiah berjasa dalam melestarikan mazhab isma’iliah,Dinasti umayyah di Andalusianberjasa dalam melestarikan mazhab Maliki,Dinasti ayubiyyah di mesir berjasa dalam melestarikan mazhab syafi’i dan Dinasti su’udiyyah di Saudi arabiyah berjasa dalam melestarikan mazhab hanbali.
Akhir zaman keemasan fiqih adalah ketidak munculan mujtahid mutlak yang dapat membangun cara dan mekanisme berpikir hingga tidak ada lagi mujtahid pendiri mazhab. Akhir zaman keemasan itu adalah ketika ijtihad di tutup sehingga ulamatidak lagi berijtihad kecuali berijtihad dengan mengikatkan diri pada aliran fikih tertentu.
Beberapa peneliti berkesimpulan bahwa pendapat tentang ijtihad telah tertutup,Muncul pada Abad IV H. Menurut Muhammad ‘ali al sayyis (1970 : 107 ) dalamkitab nasy’at al-fiqh al-ijtihadi wa athwarun.setelah ibnu jarir al-thabari (w.310H).Tidak terdapat lagi mujtahid mutlak.
BAB III PENUTUP
A.KESIMPULAN
pengetahuan di dunia islam. Yang di sebabkan oleh banyaknya mawali yang masuk
islam ,berkembangnya pemikiran karena luasnya ilmu pengetahuan serta adanya upaya umat islam untuk melestarikan Al-Qur’an.
B.SARAN