• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studio II Landasan Teori Kecamatan Sukab

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Studio II Landasan Teori Kecamatan Sukab"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

2.1

Analisis Fisik

2.1.1 Metode Analisis Kawasan Lindung

Gambar 2.1

Tahapan Metode Super Impose/Superimpose (Sumber: Hasil Analisis 2014)

Metode Super Impose merupakan pendekatan yang digunakan dalam perencanaan tata guna lahan. Metode Super Impose dibentuk melalui penggunaan secara seri, suatu peta yang masing-masing mewakili faktor penting lingkungan atau lahan. Dalam kaitannya dengan proses perencanaan kawasan, metode Super Impose berguna dalam menentukan land capability dan land suitability dari tanah. Untuk mendukung penggunaan metode Super Impose dibutuhkan peta dan data-data mengenai :

a. Peta dan data kondisi kemiringan, ketinggian, curah hujan, jenis tanah (skala sama) b. Data kebijakan penentuan kawasan lindung dan budidaya

a. Keputusan Presiden No.32 Tahun 1990

b. Peraturan Daerah Jawa Barat No. 2 Tahun 2006

Tahapan-tahapan dalam penggunaan metoda Super Impose adalah, sebagai berikut :

(2)
(3)

Gambar 2.3

(4)

2.1.2 Metode Analisis Kawasan Budidaya

Suatu daerah memiliki kawasan budidaya yang dapat digunakan untuk dikembangkan dan didayagunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam penentuan kawasan budidaya dapat digunakan 2 Metode yaitu:

a. Metode analsis menggunakan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 41 Tahun 2007 Analisis Peraturan Menteri PU No. 41 Tahun 2007 merupakan aturan yang digunakan untuk menentukan kriteria peruntukan kawasan budidaya. Tujuan dari peraturan ini secara umum adalah sebagai acuan dibidang penataan ruang bagi pemerintah kabupaten/kota serta pemangku kepentingan (stakeholders) lain dalam kegiatan perencanaan kawasan budidaya di wilayahnya.

Dalam Studio II Analsis, Permen PU No. 41 Tahun 2007 peranannya sangat penting yaitu digunakan sebagai acuan dalam penentuan arahan kawasan budidaya dan arahan pola ruang. Permen PU No. 41 Tahun 2007 memiliki kriteria peruntukan:

a. Peruntukan Hutan Produksi b. Peruntukan Pertanian c. Peruntukan Pertambangan d. Peruntukan Permukiman e. Peruntukan Industri f. Peruntukan Pariwisata

g. Peruntukan Perdagangan dan Jasa.

(5)

Gambar 2.4

(6)

2.1.3 Analisis Kependudukan

Penduduk bertempat tinggal di suatu tempat dalam batas wilayah negara pada waktu tertentu. Kependudukan adalah hal-hal yang berkaitan dengan jumlah, ciri utama, pertumbuhan, persebaran, kualitas kondisi kesejahteraan yang menyangkut politik sosial, ekonomi, budaya, agama serta lingkungan penduduk tersebut. Dalam Perencanaan Tata Ruang, penduduk sebagai sumberdaya manusia (Human Resources), dimana sumberdaya yang dimaksud disini adalah kelompok manusia atau masyarakat, yang terdiri atas :

a. Keadaan penduduk, jumlah penduduk , kepadatan penduduk, penyebaran penduduk, susunan atau struktur penduduk (menurut umur, jenis kelamin, agama, pendididikan, kesehatan, angkatan kerja, mata pencaharian, pendapatan, dan sebagainya.

b. Proses penduduk, suatu proses merupakan beberapa perubahan tertentu yang berurutan pada suatu jangka waktu. Proses penduduk dapat berlaku :

 Secara alamiah, disebabkab oleh kelahiran dan kematian

 Secara buatan atau secara sosial, disebabkan oleh migrasi, yaitu in-migrasi dan out-migrasi.

c. Lingkungan sosial penduduk, merupakan sebagian dari kebudayaan penduduk. i. Pola kendali (pattern of control) : agama, adat-istiadat, tradisi, kebiasaan,

pemerintahan, hukum dan sebagainya. Jadi, seluruh masyarakat mulai dari tiap orang (pribadi) diatur oleh pola kendali tersebut.

ii. Pola kegiatan (pattern of activities)

 Kegiatan sosial: berkeluarga, kesehatan, pendidikan, berkreasi, dsb.

 Kegiatan ekonomi : cara berproduksi, mata pencaharian, cara berkonsumsi, cara berhemat, dsb.

iii. Pola binaan atau pola kontruksi (pattern of contruction)

Hal ini merupakan segala sesuatu yang dibangun dan dibuat oleh manusia, sehingga hasilnya tampak dan nyata. Pola bina ini dapat berupa:

 Prasarana (jalan, bangunan, rumah, irigasi, tanah pertanian, dsb).

 Sarana (mesin, kendaraan, alat komunikasi, alat elektronika, alat rumah tangga, dsb).

Metoda Garis Regresi (Regresi Linier)

(7)

Pt

+

x

=

a

+

b

(

x

)

Keterangan:

Pt+x = Jumlah penduduk pada tahun yang dicari t + x

X = Pertambahan penduduk dihitung dari tahun dasar

a,b = Tetapan (kontanta)

2.1.4 Analisis PerekonomianAnalisis LQ

- LQ merupakan suatu teknik analisis yang digunakan untuk melengkapi analisis lain, yaitu Shift Share Analysis

- Secara umum, metode LQ digunakan untuk menunjukan lokasi pemusatan/basis (aktifitas)

- LQ juga bisa digunakan untuk mengetahui kapasitas ekspor perekonomian suatu wilayah serta tingkat kecukupan barang/jasa dari produksi lokal suatu wilayah. - LQ merupakan suatu indeks untuk membandingkan pangsa sub wilayah dalam

aktifitas tertantu dengan pangsa total aktifitas tersebut dalam toatal aktifitas wilayah

- Secara oprasional, LQ diidentifikasikan sebagai rasio presentase dari total aktifitas pada sub wilayah ke-I terhadap persentase aktifitas total terhadap wilayah yang diamati.

Keterangan :

Si = pendaptan, nilai tambah, kesempatan kerja atau indicator lain dari industi/sektor tertentu di suatu wilayah

S = total pendapataan, nilai tambah, kesempatan kerja/indicator tertentu di wilayah tersebut

Ni = pendepatan, nilai tambah, kesempatan kerja/indikator lain dari industi/sektor tertentu di wilayah perbandingan yang lebih luas

N = total pendapatan, nilai tambah, kesempatan kerja/indicator lain di wilayah perbandingan yang lebih luas

Analisis Shift – Share

(8)

dua atau lebih kurun waktu. Analisis ini bertolak pada asumsi bahwa pertumbuhan sektor daerah sama dengan pada tingkat wilayah acuan, membagi perubahan atau pertumbuhan kinerja ekonomi daerah (lokal) dalam tiga komponen :

1) Komponen Pertumbuhan Wilayah Acuan (KPW), yaitu mengukur kinerja perubahan ekonomi pada perekonomian acuan. Hal ini diartikan bahwa daerah yang bersangkutan tumbuh karena dipengaruhi oleh kebijakan wilayah acuan secara umum.

2) Komponen Pertumbuhan Proporsional (KPP), yaitu mengukur perbedaan pertumbuhan sektor-sektor ekonomi acuan dengan pertumbuhan agregat. Apabila komponen ini pada salah satu sektor wilayah acuan bernilai positif, berarti sektor tersebut berkembang dalam perekonomian acuan. Sebaliknya jika negatif, sektor tersebut menurun kinerjanya.

3) Komponen Pergeseran atau Pertumbuhan Pangsa Wilayah (KPK), yaitu mengukur kinerja sektor-sektor lokal terhadap sektor-sektor yang sama pada perekonomian acuan. Apabila komponen ini pada salah satu sektor positif, maka daya saing sektor lokal meningkat dibandingkan sektor yang sama pada ekonomi acuan, dan apabila negatif terjadi sebaliknya.

Di mana :

Y* = Indikator ekonomi acuan akhir tahun kajian Y = Indikator ekonomi acuan awal tahun kajian

Y’i = Indikator ekonomi acuan sektor i akhir tahun kajian Yi = Indikator ekonomi acuan sektor i awal tahun kajian y’i = Indikator ekonomi daerah (lokal) sektor i akhir tahun kajian yi = Indikator ekonomi daerah (lokal) sektor i awal tahun kajian

2.1.5 Analisis Prasarana dan Sarana

Prasarana Air Bersih

Air bersih adalah air yang telah memenuhi syarat kesehatan baik ditinjau dari syarat kualitas maupun kuantiutas. Air bersih digunakan untuk keperluan rumah tangga (domestik) dan non rumah tangga (non domestik). Sistem penyediaan air bersih terdiri atas dua, yaitu secara individu Sumur gali, pompa tangan/mesin, penampuangan air hujan, diambil langsung atau mengguanakan selang ke rumah-rumah.

(9)

Qrata – rata = Qdomestik + Qnon domestik (liter/detik)

Qdomestik = (Persentase Σpenduduk dilayani x SR pemakaian perhari yaitu 130 L/O/ H) + (Persentase Σpenduduk dilayani x KU pemakaian perhari yaitu 30 L/O/H)

Qnon domestik = [(Pelayanan Umum 10% x Qdomestik) + (Industri 20% x Qdomestik) + (Perdagangan 15% x Qdomestik)]

o Untuk kebutuhan air bersih yang harus di produksi dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut :

Qproduksi = Qrata – rata + Qkebocoran

kebocoran = 20% s/d 30% dari Qrata – rata

Prasarana Air Limbah

Dalam pengelolaannya, air limbah dapat diolah dengan dua sistem yaitu onsite sistem (pengelolaan air limbah yang dilakukan di rumah masing-masing atau secara berkelompok membuang limbahnya pada suatu tempat) dan offsite sistem (limbah dari masing-masing rumah dibuatkan saluran dan dialirkan secara bersamaan ke suatu tempat untuk diolah). Untuk menampung air limbah pada offsite system membtuhkan sistem jaringan perpipaan/saluran dengan dimensi yang memadai sesuai kaidah teknis. Untuk menghitung prasarana air limbah dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

1 unit septic tank untuk 1 KK atau 5 orang MCK diperuntukkan untuk 60 jiiwa atau 12 KK.

Standar pembuangan air limbah: 100 L/O/H = 0,001 L/Detik

Prediksi jumlah septic tank : persentase tingkat pelayanan x KK (Kepala Keluarga) Prediksi jumlah MCK : persentase tingkat pelayanan x KK (Kepala Keluarga) Produksi air limbah domestik : jumlah penduduk x standar pembuangan air limbah Produksi air limbah non domestik = [(Pelayanan Umum 10% x produksi air limbah domestik) + (Industri 20% x produksi air limbah domestik) + (Perdagangan 15% x produksi air limbah domestik)]

Total produksi air limbah : produksi air limbah domestik (liter/detik) + produksi air limbah non domestik (liter/detik)

Prasarana Persampahan

(10)

Pembuagan Akhir). Untuk menghitung prasarana persampahan dapat dilakukan dengan sampah/timbulan sampah domestik + Prediksi volume sampah/timbulan sampah non domestik

Ukuran TPSS yaitu 15 m3 dan faktor pemadatan yaitu 0,71

Proyeksi jumlah TPSS : (Timbulan Sampah Rata – Rata x Faktor Pemadatan) / Standar Ukuran TPSS

Prasarana Listrik

Suatu kesatuan sistem jaringan yang terdiri dari sumber pembangkit listrik, gardu induk/hubung, gardu pembagi, jaringan kabel tegangan tinggi, tegangan menengah dan tegangan rendah dan untuk pelayanan kapasitas daya disesuaikan dengan jenis rumah serta daya minimal yang harus disediakan untuk setiap rumah yaitu 900 watt/900 VA. Untuk menghitung prasarana kelistrikan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut :

Standar pelayanan minimal daya listrik domestik : Rumah mewah yaitu 1.300 watt, rumah sedang dan rumah sederhana yaitu 900 watt

Kebutuhan listrik domestik : Prediksi kebutuhan rumah menurut jenis rumah x standar pelayanan minimal daya listrik

Kebutuhan listrik non domestik : 40% kebutuhan listrik domestik

Total kebutuhan listrik : Kebutuhan listrik domestik + kebutuhan listrik non domestik Kebutuhan gardu : Total kebutuhan listrik / standar gardu (630 KVA = 630.000 VA = 630.000 watt)

Analisis Sarana

Metode perhitungan sarana peribadatan, sarana pendidikan, sarana kesehatan, sarana pemerintahan dan pelayanan umum, sarana RTH dan olahraga :

(11)

Metode perhitungan sarana perumahan :

Dengan ratio perbandingan 1 : 2 : 3 (1 untuk rumah mewah : 2 rumah sedang : 3 rumah sederhana).

Peruntukan rumah mewah yaitu 650 m2, rumah sedang yaitu 250m2, rumah sederhana

yaitu 100 m2.

Met o

de

perhitungan sarana pemakaman :

Prasarana Telekomunikasi

Untuk menghitung prasarana telekomunikasi dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut : 1 unit BTS radius pelayanannya 5 km = 500.000 m2 = 50 Ha (mencari jari – jari). Maka :

3,14 x (50 Ha)2 = 7.850 Ha

Formulasi kebutuhan proyeksi kebutuhan BTS : Luas Kecamatan / 7.850 Ha

Tabel 2.2

Tinjauan/Pedoman Analisis Kebutuhan Sarana dan Prasarana

Analisis Rincian Analisis Pedoman

Sarana a. Sarana Perumahan

b. Sarana Peribadatan c. Sarana Kesehatan d. Sarana

Pemerintahan dan

a. SNI 03-1733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan Lingkungan Perumahan di Perkotaan.

b. SNI no 03-6981-2004Tata cara perencanaan lingkungan perumahan sederhana tidak bersusun di daerah perkotaan. c. Permen PU No. 5 tahun 2008 tentang Pedoman Penyediaan

Proyeksi Sarana

=

standar pelayanan sarana x faktor pengali

Jumlah Penduduk TahunProyeksi

J umlah Kebutuhan Sarana

=

Jumlah Sarana Proyeksi

Jumlah Sarana Eksisting

Rumah Mewah=

1

6 x Kepala Keluarga (KK)

Rumah Sedang=

2

6 Kepala Keluarga (KK)

Rumah Sederhana=

3

6 x Kepala Keluarga (KK)

Kebutuhan = Keberadaan Rumah Proyeksi – Keberadaan Rumah Eksisting

(12)

Analisis Rincian Analisis Pedoman

dan Pemanfaatan RTH di Kawasan Perkotaan pada BAB II Tentang Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan pada sub bab 2.1. Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan halaman 30 point a.

d. Permenpera No. 10 tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Perumahan dan Kawasan Permukiman dengan Hunian Berimbang, pasal 1 tentang rasio perbandingan untuk hunian, pasal 9 tentang luas kavling rumah sederhana.

e. Permenpera No 11 tahun 2008 tentang Pedoman Keserasian Kawasan Perumahan dan Permukiman, pasal 1 point 16 dan point 17 tentang luas rumah menengah dan rumah mewah.

Prasaran

a. Dinas PU Cipta Karya, Prop. Jawa Barat Tahun 1990 tentang Air Bersih

b. Keputusan Menteri Permukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001,

c. Direktorat teknik penyehatan Direktorat Jenderal cipta karya dan departemen PU tahun 1988 (10% untuk pelayanan umum, industri 20% dan perdagangan 15%)

d. SNI 03-1733-2004 dan SNI 03-6981-2004

e. Keputusan Direksi PT.PLN (Persero) No. 605.K/DIR/2010

Tentang Buku 4 Standar Kontruksi Gardu Distribusi dan Gardu Hubung Tenaga Listrik

Sumber : Pedoma Analisis Sarana dan Prasarana

2.1.6 Analisis Transportasi

Kapasitas Dan Tingkat Pelayanan Jalan

Menurut MKJI (1997) Kapasitas adalah jumlah maksimum kendaraan atau orang yang dapat melintasi suatu titik pada lajur jalan pada periode waktu tertentu dalam kondisi jalan tertentu atau merupakan arus maksimum yang bisa dilewatkan pada suatu ruas jalan. Dinyatakan dalam kend/jam atau smp/jam. Kapasitas jalan terdiri atas beberapa jenis, yaitu: 1. Kapasitas dasar (Basic Capacity)

Jumlah kendaraan atau orang maksimum yang dapat melintasi suatu penampang jalan tertentu selama satu jam pada kondisi jalan dan lalu lintas yang ideal. Digunakan sebagai dasar perhitungan untuk kapasitas rencana. Arus dikatakan pada kondisi ideal jika :

1. Uninterupted flow

2. Kendaraan yang lewat sejenis (kendaraan penumpang) 3. Lebar lajur min 3,5 m

4. Kebebasan samping 1,8 m

5. Desain AH dan AV bagus (datar, V = 120 km/jam)

6. Utk lalin 2 jalur 2 arah, memungkinkan utk menyiap dg jarak pandang 500 m 2. Kapasitas rencana (Design Capacity)

(13)

mengakibatkan kemcetan, kelambatan, dan bahaya yang masih dalam batas-batas yang diinginkan.

3. Kapasitas yang mungkin (Possible Capacity)

Jumlah kendaraan atau orang maksimum yang dapat melintasi suatu penampang jalan tertentu selama 1 jam pada kondisi jalan dan lalu lintas yang sedang berlaku (pada saat itu) Kapasitas yang mungkin < Kapasitas rencana.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi kapasitas dan ruas jalan yakni sebagai berikut:

1. Kondisi lalu lintas 1. Kondisi jalan

2. Kondisi fasilitas jalan

Di Kecamatan Sukabumi, terdapat 3 jalan yang akan dihitung tingkat pelayanannya, yaitu Jalan Sudajayagirang, Jalan Parungseah dan jalan Selabintana. Ketiga jalan tersebut adalah jalan-jalan yang memiliki tingkat keramaian paling tinggi di Desa Warnasari. Dalam analisis ini, perlu dihitung volume kendaraan (smp/jam) dan kapasitas jalan. Kapasitas (smp/ jam) adalah arus maksimum yang stabil di mana kendaraan diharapkan dapat melewati suatu segmen atau titik tertentu pada suatu ruas jalan pada periode waktu tertentu dengan kondisi geometric, pola dan komposisi lalu lilntas tertentu, dan faktor lingkungan tertentu pula (MKJI, 1996).

Untuk menentukan volume jalan perlu juga dihitung Kapasitas jalan, faktor penyesuaian lebar jalur lalu-lintas, faktor penyesuaian pemisah arah, faktor penyesuaian hambatan samping dan faktor penyesuaian ukuran kota. Berikut ini adalah persamaan untuk menghitung kapasitas jalan:

C

(

smp

/

jam

)=

C

0

X FC

W

X FC

SP

X FC

SF

X FC

CS

Dimana: C = Kapasitas

C0 = Kapasitas Dasar

FCW = faktor penyesuaian lebar jalur lalu-lintas

FCSP = faktor penyesuaian pemisah arah

FCSF = faktor penyesuaian hambatan samping

FCCS = faktor penyesuaian ukuran kota

Analisis Gravitasi

(14)

dua wilayah yang berbeda dapat diukur dengan memperhatikan faktor jumlah penduduk PA : Jumlah penduduk wilayah A

PB : jumlah penduduk wilayah B

DAB : jarak wilayah A dan Wilayah B

Analisis Aksesibilitas

Aksesibilitas merupakan ukuran kenyamanan atau kemudahan suatu tata guna lahan berinteraksi satu sama lain dan mudah atau susahnya lokasi tersebut dicapai melalui sistem jaringan transportasi (Black, 1981). Definisi mudah atau susah setiap orang pasti berbeda-beda, karena penilaian ini cenderung bersifat subjektif. Sebagian orang ada yang menilai aksesibilitas dipengaruhi oleh jarak dari dua lokasi. Artinya makin pendek jarak 2 lokasi maka makin tinggi akssibilitas, karena mudah untuk dijangkau. Tetapi bagaimana pada saat terjadi macet, secara otomatis tempat yang kita tuju tidak mudah dijangkau lagi walaupun pada kenyataannya jaraknya dekat bahkan mungkin dekat sekali. Sehingga orang pun akan menganggap bahwa waktu lebih tepat untuk menentukan aksesibiltas pada suatu tata guna lahan dari pada jarak. Di bidang transportasi, aksesibilitas adalah kemudahan mencapai suatu tujuan, dengan tersedianya berbagai rute alternatif menuju satu tempat. Ukuran yang biasa digunakan dalam analisis lalu lintas i adalah

Aksesibilitas

(

i

)

=

f (Cij) = fungsi biaya perjalanan

Model aksesibilitas tersebut bisa dibuat untuk pengguna kendaraan pribadi maupun pengguna kendaraan umum. Secara lebih mudah akssesibilitas bisa dihitung atas dasar panjang jalan per kilometer persegi, semakin panjang berarti semakin tinggi aksesibilitasnya.

(15)

Matrik Asal Tujuan (MAT) sebagai salah satu bentuk informasi pola perjalanan mempunyai peranan yang sangat penting dalam banyak studi transportasi. Estimasi MAT dari data arus lalulintas adalah merupakan salah satu metode untuk mengestimasi MAT, namun fluktuasi arus lalulintas akan mengakibatkan MAT hasil estimasi mengalami evolusi. Grafik Representasi Matrik yang dalam proses perhitungan dan penggambarannya menggunakan nilai karakteristik matrik (eigen value dan eigen vector) dapat menunjukkan letak masing-masing matrik yang berbeda dalam grafik dan memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap perubahan isi sel matrik. Sehingga grafik representasi matrik dapat digunakan untuk melihat pola evolusi MAT dinamis.

MAT merupakan matrik berdimensi dua yang berisi informasi tentang jumlah pergerakan antar zona di dalam suatu daerah tertentu. Dalam sistem transportasi, MAT biasanya menggambarkan arus lalulintas, orang atau barang yang bergerak dari satu tempat (asal) ke tempat lain (tujuan) pada suatu waktu tertentu. Ada dua metode untuk mendapartkan MAT, yaitu Metode Konvensional dan Metode Tidak Konvensional.

2.1.7 Kebijakan, Kelembagaan dan Keuangan

Kebijakan

Menurut Perda Kabupeten Sukabumi No. 22 Tahun 2012 tentang RTRW Kabupaten Sukabumi, Perencanaan tata ruang adalah suatu proses untuk menentukan struktur ruang dan pola ruang yang meliputi penyusunan dan penetapan rencana tata ruang. Rencana Tata Ruang Wilayah yang selanjutnya disebut RTRW adalah arahan kebijakan dan strategi pemanfaatan ruang wilayah Daerah. Struktur ruang adalah susunan pusat-pusat permukiman dan system jaringan prasarana dan sarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi masyarakat yang secara hierarkis memiliki hubungan fungsional. Tujuan penataan ruang wilayah Kabupaten adalah mewujudkan tata ruang wilayah yang efisien, produktif, berkelanjutan dan berdaya saing di bidang agribisnis, pariwisata dan industri menuju kabupaten yang maju dan sejahtera.

Dalam Pemen PU No. 20 Tahun 2011 menjelaskan bahwa Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota adalah rencana tata ruang yang bersifat umum dari wilayah kabupaten/kota, yang merupakan penjabaran dari RTRW provinsi, dan yang berisi tujuan, kebijakan, strategi penataan ruang wilayah kabupaten/kota, rencana struktur ruang wilayah kabupaten/kota, rencana pola ruang wilayah kabupaten/kota, penetapan kawasan strategis kabupaten/kota, arahan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota, dan ketentuan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah kabupaten/kota. Rencana Detai Tata Ruang (RDTR) adalah rencana secara terperinci tentang tata ruang wilayah kabupaten/kota yang dilengkapi dengan peraturan zonasi kabupaten/kota.

(16)

bertujuan mewujudkan RDTR dan Peraturan Zonasi sesuai dengan ketentuan dalam UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang dan Peraturan Pelasanaannya. Prosedur penyusunan RDTR dan peraturan zonasi meliputi:

 Proses dan jangka waktu penyusunan;

 Pelibatan masyarakat; dan

 Pembahasan rancangan RDTR danp eraturan zonasi.

Keuangan

Menurut Undang – Undang No. 13 Tahun 2006 Keuangan Daerah adalah semua hak dan kewajiban daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah yang dapat dinilai dengan uang termasuk didalamnya segala bentuk kekayaan yang berhubungan dengan hak dan kewajiban daerah tersebut. Ruang lingkup keuangan daerah meliputi:

 Hak daerah untuk memungut pajak daerah dan retribusi daerah serta melakukan pinjaman;

 Kewajiban daerah untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan daerah dan membayar tagihan pihak ketiga;

 Penerimaan daerah;

 Pengeluaran daerah;

 Kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang dipisahkan pada perusahaan daerah; dan

 Kekayaan pihak lain yang dikuasai oleh pemerintah daerah dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah dan/atau kepentingan umum.

Dalam UU No. 13 Tahun 2006 menyatakan bahwa dalam pengelolaan keuangan daerah itu harus efektif, efisien, ekonomis, transpaan dan bertanggung jawab dengan memperhatikan azas keadilan, kepatutan dan manfaat untuk masyarakat. Keuangan daerah ini yang kemudian disebut dengan APBD (Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah). APBD disusun sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan kemampuan pendapatan daerah, yang mana penyusunan APBD ini berpedoman kepada RKPD dalam mewujudkan pelayanan keapada masyarakat untuk tercapainya tujuan bernegara. Struktur APBD ini sendiri merupakan satu kesatuan dari Pendapatan Daerah, Belanja Daerah, dan Pembiayaan Daerah.

Kelembagaan

(17)

1945. Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi :

a) Perencanaan dan pengendalian pembangunan;

b) Perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang;

c) Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat; d) Penyediaan sarana dan prasarana umum;

e) Penanganan bidang kesehatan; f) Penyelenggaraan pendidikan; g) Penanggulangan masalah sosial; h) Pelayanan bidang ketenagakerjaan;

i) Fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah; j) Pengendalian lingkungan hidup;

k) Pelayanan pertanahan;

l) Pelayanan kependudukan, dan catatan sipil; m) Pelayanan administrasi umum pemerintahan; n) Pelayanan administrasi penanaman modal; o) Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya; dan

p) Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan. Dalam menyelenggarakan otonomi, daerah mempunyai hak :

a. Mengatur dan mengurus sendiri

pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya lainnya yang berada di daerah;

g. Mendapatkan sumber-sumber

pendapatan lain yang sah; dan

h. Mendapatkan hak lainnya yang

diatur dalam Peraturan perundangundangan.

Dalam menyelenggarakan otonomi, daerah mempunyai kewajiban :

a. Melindungi masyarakat, menjaga persatuan, kesatuan dan kerukunan nasional, serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia;

(18)

d. Mewujudkan keadilan dan pemerataan; e. Meningkatkan pelayanan dasar pendidikan; f. Menyediakan fasilitas pelayanan kesehatan;

g. Menyediakan fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak; h. Mengembangkan sistem jaminan sosial;

i. Menyusun perencanaan dan tata ruang daerah; j. engembangkan sumber daya produktif di daerah; k. Kelestarikan lingkungan hidup;

l. Mengelola administrasi kependudukan; m. Melestarikan nilai sosial budaya;

n. Membentuk dan menerapkan peraturan perundang-undangan sesuai dengan kewenangannya; dan

o. Kewajiban lain yang diatur dalam peraturan perundang-undangan.

Hak dan kewajiban daerah diwujudkan dalam bentuk rencana kerja pemerintahan daerah dan dijabarkan dalam bentuk pendapatan, belanja, dan pembiayaan daerah yang dikelola dalam sistem pengelolaan keuangan daerah.

2.1.8 Pusat – Pusat Pelayanan dan Deliniasi Kawasan Perkotaan

Pusat kota adalah suatu titik/tempat/daerah pada suatu kota yang memiliki peran sebagai pusat dari segala kegiatan kota antara lain politik, sosial budaya, ekonomi dan teknologi (Yunus 2002;107). Peran tersebut dijalankan melalui jasa pelayanan yang diberikan oleh fasilitas-fasilitas umum maupun sosial yang ada didalamnya. Oleh karena itu, suatu pusat kota harus memiliki kelengkapan fasilitas yang baik dan memadai. Dalam kaitannya dengan peran dari sebuah pusat kota, maka teori Christaller tentang ambang penduduk (Threshold Population) wilayah cakupan layanan (Market Range) mengambil peranan penting. Fasilitas-fasilitas tersebut harus dapat melayani seluruh penduduk kota, dan juga mencakup seluruh bagian wilayah kota.

Pertumbuhan maupun perkembangan yang terjadi pada suatu kota akan sangat mempengaruhi kinerja dari pusat kota. Semakin luas suatu kota, maka akan semakin menambah ”beban” yang ditanggung oleh pusat kota. Hal tersebut berdampak langsung terhadap perkembangan pemanfaatan lahan yang semakin terbatas di pusat kota, maka dari itu perlu diketahuinya mengenai pusat pertumbuhan kota.

(19)

A. Teori Konsentris

Daerah pusat kegiatan merupakan pusat kegiatan sosial, ekonomi, budaya dan politik dalam sesuatu kota sehingga pada zona ini terdapat bangunan utama untuk kegiatan sosial ekonomi budaya dan politik. Rute-rute transportasi dari segala penjuru memusat ke zona ini sehingga zona ini merupakan zona dengan derajat aksesibilitas tinggi. Zona ini oleh Burgess 1925 dianggap sebagai The Area of Dominance. (Yunus 2002;5).

Disini terjadi proses persaingan dimana yang kuat akan mengalahkan yang lemah yang kemudian mendominasi ruangnya. Kegiatan atau penduduk pada zona tertentu akan mengekspansi pengaruhnya ke zona yang lain dan makin lama akan terjadi proses dominasi dan akhirnya akan sampai pada tahap suksesi dimana seluruh bentuk kehidupan sebelumnya secara sempurna telah tergantikan oleh bentuk-bentuk baru.

B. Teori Sektor

Dengan menuangkan hasil penelitiannya pada pola konsentris sebagaimana dikemukakan Burgess, ternyata pola sewa tempat tinggal di Amerika cenderung terbentuk sebagai Pattern Of Sector dan bukannya pola zona konsentris.

Kecenderungan pembentukan sektor ini memang bukannya terjadi secara kebetulan tetapi terlihat adanya asosiasi keruangan yang kuat dengan beberapa variabel. Menurut Hoyt kunci terhadap peletakan sektor ini terlihat pada lokasi High Quality Area. Kecenderungan penduduk untuk bertempat tinggal adalah daerah-daerah yang dianggap nyaman dalam arti yang luas. Nyaman dapat diartikan dengan kemudahan-kemudahan terhadap fasilitas, kondisi lingkungan baik alami maupun non alami yang bersih dari polusi baik fisikal maupun non fisikal, prestise yang tinggi karena dekat dengan tempat tinggal orang-orang terpandang dan sebagainya. (Yunus 2002;20).

(20)

Walaupun Better Housing tersebar mengikuti sektor-sektor tertentu namun ternyata distribusi umur bangunan cenderung menunjukkan pola penyebaran konsentris. Hal ini wajar karena pembangunan-pembangunan baru, baik untuk perumahan atau bukan perumahan pada umumnya berkembang kearah luar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa disatu sisi penyebaran bangunan rumah berdasarkan umur masih terlihat konsentris, namun disisi lain penyebaran rumah berdasarkan kualitas fisik mengikuti pola sektoral. Sejalan dengan kenyataan ini, teori Hoyt merupakan karya yang memperbaiki dan melengkapi teori Burgess dan bukannya berupa pengubahan radikal dari teori konsentris. Dalam model diagram yang dikemukakan jelas sekali terlihat adanya dua unsur diatas, yaitu persebaran penggunaan lahan secara sektoral disatu pihak dan persebaran penggunaan lahan secara ‘konsentris’ dilain pihak.

C. Teori Pusat Kegiatan Banyak (Multiple Nuclei)

(21)

Teori Pusat Pertumbuhan 1. Teori Polarisasi Ekonomi

Teori polarisasi ekonomi dikemukakan oleh Gunar Myrdal. Menurut Myrdal, setiap daerah mempunyai pusat pertumbuhan yang menjadi daya tarik bagi tenaga buruh dari pinggiran. Pusat pertumbuhan tersebut juga mempunyai daya tarik terhadap tenaga terampil, modal, dan barang-barang dagangan yang menunjang pertumbuhan suatu lokasi. Demikian terus-menerus akan terjadi pertumbuhan yang makin lama makin pesat atau akan terjadi polarisasi pertumbuhan ekonomi (polarization of economic growth).

Teori polarisasi ekonomi Myrdal ini menggunakan konsep pusat-pinggiran (coreperiphery). Konsep pusat-pinggiran merugikan daerah pinggiran, sehingga perlu diatasi dengan membatasi migrasi (urbanisasi), mencegah keluarnya modal dari daerah pinggiran, membangun daerah pinggiran, dan membangun wilayah pedesaan.

Adanya pusat pertumbuhan akan berpengaruh terhadap daerah di sekitarnya. Pengaruh tersebut dapat berupa pengaruh positif dan negatif. Pengaruh positif terhadap perkembangan daerah sekitarnya disebut spread effect. Contohnya adalah terbukanya kesempatan kerja, banyaknya investasi yang masuk, upah buruk semakin tinggi, serta penduduk dapat memasarkan bahan mentah. Sedangkan pengaruh negatifnya disebut backwash effect, contohnya adalah adanya ketimpangan wilayah, meningkatnya kriminalitas, kerusakan lingkungan, dan lain sebagainya.

2. Teori Kutub Pertumbuhan

Konsep kutub pertumbuhan (growth pole concept) dikemukakan oleh Perroux, seorang ahli ekonomi Prancis (1950). Menurut Perroux, kutub pertumbuhan adalah pusat-pusat dalam arti keruangan yang abstrak, sebagai tempat memancarnya kekuatan kekuatan sentrifugal dan tertariknya kekuatan-kekuatan sentripetal. Pembangunan tidak terjadi secara serentak, melainkan muncul di tempat-tempat tertentu dengan kecepatan dan intensitas yang berbeda. Kutub pertumbuhan bukanlah kota atau wilayah, melainkan suatu kegiatan ekonomi yang dinamis. Hubungan kekuatan ekonomi yang dinamis tercipta di dalam dan di antara sektor-sektor ekonomi.

Contoh : industri baja di suatu daerah akan menimbulkan kekuatan sentripetal, yaitu menarik kegiatan-kegiatan yang langsung berhubungan dengan pembuatan baja, baik pada penyediaan bahan mentah maupun pasar. Industri tersebut juga menimbulkan kekuatan sentrifugal, yaitu rangsangan timbulnya kegiatan baru yang tidak berhubungan langsung dengan industry baja.

Teori Pusat Pertumbuhan

(22)

industri populasi yang kompleks, dapat dikatakan sebagai pusat pertumbuhan. Industri populasi merupakan industri yang mempunyai pengaruh yang besar (baik langsung maupun tidak langsung) terhadap kegiatan lainnya.

1. Teori Tempat Sentral

Teori tempat sentral dikemukakan oleh Walter Christaller (1933), seorang ahli geografi dari Jerman. Teori ini didasarkan pada lokasi dan pola persebaran permukiman dalam ruang. Dalam suatu ruang kadang ditemukan persebaran pola permukiman desa dan kota yang berbeda ukuran luasnya. Teori pusat pertumbuhan dari Christaller ini diperkuat oleh pendapat August Losch (1945) seorang ahli ekonomi Jerman.

Keduanya berkesimpulan, bahwa cara yang baik untuk menyediakan pelayanan berdasarkan aspek keruangan dengan menempatkan aktivitas yang dimaksud pada hierarki permukiman yang luasnya meningkat dan lokasinya ada pada simpul-simpul jaringan heksagonal. Lokasi ini terdapat pada tempat sentral yang memungkinkan partisipasi manusia dengan jumlah maksimum, baik mereka yang terlibat dalam aktivitas pelayanan maupun yang menjadi konsumen dari barang-barang yang dihasilkannya.

Tempat-tempat tersebut diasumsikan sebagai titik simpul dari suatu bentuk geometrik berdiagonal yang memiliki pengaruh terhadap daerah di sekitarnya. Hubungan antara suatu tempat sentral dengan tempat sentral yang lain di sekitarnya membentuk jaringan sarang lebah seperti yang kamu lihat pada gambar samping. Menurut Walter Christaller, suatu tempat sentral mempunyai batas-batas pengaruh yang melingkar dan komplementer terhadap tempat sentral tersebut. Daerah atau wilayah yang komplementer ini adalah daerah yang dilayani oleh tempat sentral. Lingkaran batas yang ada pada kawasan pengaruh tempat-tempat sentral itu disebut batas ambang (threshold level).

D. Deliniasi BWP (Bagian Wilayah Perkotaan)

Dalam merencanakan pola ruang suatu wilayah harus dilakukan terlebih dahulu deliniasi Bagian Wilayah Perkotaan (BWP) yang ada di wilayah tersebut. Hal itu untuk memudahkan dalam melihat kecenderungan perkembangan wilayah. deliniasi ini dilkukan dengan memblok/mengelompokkan wilayah – wilayah yang sudah menunjukkan kekotaan seperti perkembangan infrastruktur dan kegiatan perekonomiannya. Untuk medelineasi bagian wilayah perkotaan digunakan kriteria Permen PU No. 20 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan RDTR Kawasan Perkotaan, adapun tahap – tahap delineasi BWP adalah sebagai berikut :

 Dimulai dengan penggunaan peta dasar yang menunjukkan kondisi fisik suatu kota  Dimana akan dihasilkan suatu deliniasi BWP

 Digunakan peta citra satelit beresolusi tinggi (landuse)  Dimana akan dihasilkan deliniasi Sub BWP

(23)

Deliniasi Fungsi :

 Sub BWP dibagi ke dalam zona-zona dasar  Zona dasar tersebut dirinci lagi ke dalam sub zona  Sub zona diklasifikasikan sesuai kawasan budidaya

2.1.9

Metode Analisis SWOT

Kegiatan yang paling penting dalam proses analisis SWOT adalah memahami seluruh informasi dalam suatu kasus, menganalisis situasi untuk mengetahui isu apa yang sedang terjadi dan memutuskan tindakan apa yang harus segera dilakukan utuk memecahkan masalah (Freddy Rangkuti, 2001:14). SWOT merupakan singkatan dari strengths (kekuatan-kekuatan), weaknesses (kelemahan-kelemahan), opportunities (peluang-peluang) dan threats (ancaman-ancaman). Pengertian-pengertian kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam analsis SWOTadalah sebagai berikut:

1. Kekuatan (strengths). Kekuatan adalah sumber daya, keterampilan atau keunggulan lain relatif terhadap pesaing dan kebutuhan dari pasar suatu perusahaan.

2. Kelemahan (weaknesses). Kelemahan adalah keterbatasan/kekurangan dalam sumber daya alam, keterampilan dankemampuan yang secara serius menghalangi kinerja efektif suatu perusahaan.

3. Peluang (opportunities). Peluang adalah situasi/kecenderungan utama yang menguntungkan dalam lingkungan perusahaan.

4. Ancaman (threats). Ancaman adalah situasi/kecenderungan utama yang tidak menguntungkan dalam lingkungan perusahaan.

2.2 Tinjauan Kebijakan

Kebijakan pembangunan merupakan penjabaran tujuan dan sasaran misi sebagai berikut:

Misi 1 : Meningkatkan Kualitas Sumber Daya Manusia yang Berakhlak Mulia

Dalam rangka mewujudkan pencapaian misi tersebut, ditempuh melalui 5 (lima) kebijakan pembangunan yaitu:

1. Kebijakan Peningkatan Kualitas Perilaku dan Modal Sosial Masyarakat 2. Kebijakan Peningkatan Akses Layanan dan Kualitas Pendidikan 3. Kebijakan Peningkatan Akses Layanan dan Derajat Kesehatan

4. Kebijakan Pengendalian Penduduk, Penanggulangan Kemiskinan, dan Pengangguran

5. Kebijakan Pembangunan Etos Kerja dan Produktivitas

(24)

Dalam rangka mewujudkan pencapaian misi tersebut, ditempuh melalui empat (4) kebijakan pembangunan yaitu :

1. Kebijakan Pembangunan Budaya Organisasi Pemerintahan yang Bersih, Peduli, dan Profesional

2. Kebijakan Peningkatan Kinerja Pemerintahan dan Kualitas Pelayanan Publik 3. Kebijakan Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pembangunan 4. Kebijakan Penyiapan Infrastruktur dan Suprastruktur PemekaranMasyarakat

Misi 3 : Membangun Perekonomian yang Tangguh, Berbasis Potensi Lokal, dan Berwawasan Lingkungan

Dalam rangka mewujudkan pencapaian misi tersebut, ditempuh melalui 4 (empat) kebijakan pembangunan yaitu :

1. Kebijakan Peningkatan Daya Beli dan Ketahanan Pangan Masyarakat

2. Kebijakan Pengembangan Ekonomi Berbasis Potensi Lokal dan Lembaga Keuangan Mikro

3. Kebijakan Peningkatan Ketersediaan dan Kualitas Infrastruktur Daerah

4. Kebijakan Penciptaan Iklim Investasi yang Kondusif dan Pembangunan Industri di Berbagai Sektor yang Memiliki Daya Saing dan Berwawasan Lingkungan

Dalam RPJMD Kabupaten Sukabumi membahas mengenai kebijakan peningkatan kualitas perilaku dan modal sosial masyarakat yang mana dibuat untuk menciptakan pondasi yang kokoh dalam pembangunan di Kabupaten Sukabumi dengan mengembangkan perilaku akhlak mulia dan memperkuat modal sosial masyarakat. Modal social hampir sama dengan bentuk modal – modal lainnya, yang dalam artian juga bersifat produktif. Modal social merujuk pada jaringan, norma, dan kepercayaan yang berpotensi pada produktifitas masyarakat. Sasaran – sasaran utama dari kebijakan –kebijakan pembangunan Kabupaten Sukabumi adalah sebagai berikut:

 Sasaran utama dari Kebijakan Peningkatan Akses Layanan dan Kualitas Pendidikan adalah:

1. Mempertahankan APM SD 100% 2. Meningkatnya APM SMP 100 % 3. Meningkatnya APK SMA 50%

4. Meningkatkan Angka Melanjukan dari SMA ke PT 5. Meningkatnya Jumlah Ruang Kelas Kondisi Baik

6. Ketersediaan guru dan fasilitas pendidikan di daerah terpencil 7. Meningkatnya AMH

8. Meningkatnya RLS

(25)

1. Menurunnya kasus kematian bayi 2. Menurunnya kasus balita gizi buruk 3. Menurunya Kasus Kematian Ibu

4. Meningkatnya layanan kesehatan untuk masyarakat miskin 5. Meningkatnya penggunaan jamban keluarga

6. Meningkatnya jumlah sanitasi air bersih di rumah tangga 7. Meningkatnya PHBS

8. Ketersediaan tenaga dan fasilitas kesehatan di daerah terpencil

 Sasaran utama Kebijakan Pengendalian Penduduk, Penanggulangan Kemiskinan, dan Pengangguran adalah :

1. Mengendalikan jumlah kelahiran 2. Menurunnya jumlah orang miskin

3. Menurunnya jumlah orang yang menganggur

 Sasaran utama Kebijakan Pembangunan Etos Kerja dan Produktivitas adalah: 1. Menurunnya tingkat konsumtif masyarakat

2. Meningkatnya partisipasi kegiatan pelatihan produktivitas 3. Meningkatnya pemahaman dan iplementasi IPTEK di pesantren 4. Meningkatnya implementasi IMTAQ di lembaga pendidikan umum

 Sasaran utama Kebijakan Pembangunan Budaya Organisasi Pemerintahan yang Bersih, Peduli, dan Profesional adalah:

1. Meningkatnya pemahaman aparatur terhadap visi misi daerah 2. Menurunnya tingkat temuan Inspektorat di OPD-OPD

3. Menurunnya tingkat hukuman bagi PNS 4. Minimnya jumlah kasus korupsi

5. Meningkatnya capaian kinerja bidang/bagian/sub bidang/sub bagian di OPDOPD

 Sasaran utama Kebijakan Peningkatan Kinerja Pemerintahan dan Kualitas Pelayanan Publik adalah:

1. Meningkatnya Indikator good governance 2. Meningkatnya Indeks Kepuasan Masyarakat 3. Meningkatnya Indeks Persepsi Korupsi

 Sasaran utama Kebijakan Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Pembangunan adalah:

1. Meningkatnya efektivitas hasil pelaksanaan Musrembang 2. Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pembangunan 3. Meningkatnya partisipasi politik masyarakat

(26)

Sasaran utama Peningkatan Daya Beli dan Ketahanan Pangan Masyarakat adalah: 1. Meningkatnya kesempatan kerja di sektor pertanian, kelautan dan perikanan 2. Meningkatnya produktivitas agrobisnis

3. Meningkatnya nilai tukar petani

4. Meningkatnya PPP (Parity Purchase Power) 5. Meningkatnya LPE

 Sasaran utama Kebijakan Pengembangan Ekonomi Berbasis Potensi Lokal dan Lembaga Keuangan Mikro adalah:

1. Meningkatnya kegiatan pemberdayaan ekonomi oleh Koperasi / Lembaga Keuangan Mikro

2. Meningkatnya tingkat pengembalian kredit Koperasi / Lembaga Keuangan Mikro 3. Meningkatnya jumlah UKM yang sehat

 Sasaran utama dari Kebijakan Penciptaan Iklim Investasi yang Kondusif dan Pembangunan Industri di Berbagai Sektor yang Memiliki Daya Saing dan Berwawasan Lingkungan adalah :

1. Meningkatnya Laju Pertumbuhan Investasi (Pembentukan Modal Tetap Bruto/PMTB) atas dasar harga berlaku

2. Meningkatnya Jumlah Investor Berskala Nasional atau Asing (PMDN/PMA) 3. Meningkatnya Rasio Daya Serap Tenaga Kerja

4. Meningkatnya Kecepatan Layanan dan Tingkat Kemudahan Perizinan 5. Meningkatnya jumlah peraturan yang mendukung investasi

6. Meningkatnya jumlah wisatawan

7. Menurunnya kasus pencemaran lingkungan hidup

Gambar

Gambar 2.1Tahapan Metode Super Impose/Superimpose
Gambar 2.3Bagan Penentuan Kawasan Lindung
Gambar 2.4Bagan Analisis Kesebuaian Lahan Menurut Permen PU No. 41 Tahun 2007
Tabel 2.1Faktor Pengali Analisis Sarana
+2

Referensi

Dokumen terkait

Ibu bapa dengan anak berkeperluan khas terpaksa berhadapan dengan pelbagai cabaran yang boleh memberikan tekanan yang tinggi seperti cabaran dalam menguruskan keperluan

 Dana capex tersebut juga akan digunakan untuk mengerjakan pesanan sebanyak 1.247 proyek yang berasal dari Telkomsel dan XL Axiata.. Jika tahun ini WSKT membidik

No Nomor Peserta Nama Tempat/Tanggal Lahir NUPTK Instansi Mapel... Al-Falah

Definisi Film Menurut UU 8/1992, adalah karya cipta seni dan budaya yang merupakan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan asas sinematografi dengan direkam pada pita

Zaman yang selalu disebut-sebut dalam perkembangan ilmu nahu di Mesir ialah zaman keemasan kerana bukan setakat pengajian ilmu nahu berjalan dengan aktif, bahkan

bimbingan, pembinaan dan pengawasan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar dan test pada pendidikan jenjang TK, SD, SLB dan SMP  Melalui bimbingan, pembinaan dan

Koordinasi yang baik harus tercipta untuk menyukseskan operasi house to house yang dilakukan, antara unit kepolisia n, pemerintahan lokal, badan-badan anti-narkoba,

Dalam hal ini, peneliti membatasi dalam penelitian jika terdapat satu kalimat yang menggunakan anak kalimat maka berita tersebut dinyatakan kalimat yang kompleks atau