Prakata
Segala puji Bagi Allah SWT, Pemilik, Pencipta, Pemelihara seluruh Makhluk, alam semesta beserta isinya. Salam sejahtera semoga Allah SWT selalu limpahkan kepada hamba yang mulia, Nabi Muhammad SAW. Juga kepada sahabat dan seluruh ummat Islam hingga akhir zaman. Semoga Allah senantiasa melimpahkan keberkahan dan ampunanNya kepada seluruh hamba-Nya tanpa terkecuali.
Tujuan dibuatnya Laporan ini adalah untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen Kami, dalam mata kuliah FIqh Muamalah. Selain itu, tujuan dibuatnya makalah ini tidak lain untuk menambah wawasan mengenai submateri mata kuliah terkait.
Penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak terkait atas segala dukungan yang diberikan sehingga Laporan ini dapat selesai tepat waktu. Semoga laporan ini bermanfaat sebagaimana mestinya.
Penulis
Kata
Pengantar
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak lepas dalam hal berhubungan dan berinteraksi dengan manusia lain dalam rangka memenuhi kebutuhannya. Islam merupakan agama yang sempurna,yang memberikan tuntunan pada seluruh aspek kehidupan, tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan saja (ibadah) melainkan juga mengatur hubungan antar manusia dengan manusia (muamalah) inilah yang sering disebut dengan implementasi Islam secara kafah.
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah aqad-aqad itu”.
Pembahasan I
Harta Dalam Islam
Oleh :
Astri Ayu Nurmala
Mahda Kurnia Rahmah
Harta Dalam Islam
A.
Defnisi harta secaara umum
dan pengertian secaara Islam
Defnisi secaara umum
Makna maal (harta) secara umum ialah segala sesuatu yang disukai manusia, seperti hasil pertanian, perak atau emas, ternak, atau barang-barang lain yang termasuk perhiasan dunia. Adapun tujuan pokok dari harta itu ialah membantu untuk memakmurkan bumi dan mengabdi pada Allah.
Pengertian secaara Islam
dan penting terhadap sesuatu itu. Harta merupakan bagian penting dari kehidupan yang tidak dipisahkan dan selalu diupayakan oleh manusia dalam kehidupannya terutama di dalam Islam.
Defnisi lain menyebutkan harta adalah segala sesuatu yang mempunyai nilai, dan diwajibkan ganti rugi atas orang yang merusak dan melenyapkannya (Jumhur ulama selain Hanafyah). Dari pengertian diatas tadi, terdapat perbedaan menegenai esensi harta. Jumhur ulama mengatakan bahwa harta tidak hanya bersifat materi tetapi juga termasuk manfaat dari suatu benda, karena yang dimaksud manfaat suatu benda bukan zatnya. Sedangkan ulama Hanaf berpendapat lain tentang harta yaitu hanya bersifat materi saja, sebab manfaat termasuk hak milik dan hak milik berbeda dengan harta.
Dengan demikian kiranya dapat kita
yang legal menurut hokum syara’ (hukum Islam) seperti jual beli, pinjaman, konsumsi, dan hibbah atau pemberian. Jadi, apapun yang digunakan manusia dalam kehidupan dunia merupakan harta .
B. Pandangan dan Konsep harta
dalam Islam
Pandangan Islam mengenai harta
dapat diuraikan sebagai berikut:
Pertama, Pemiliki Mutlak terhadap
segala sesuatu yang ada di muka bumi
ini adalah ALLAH SWT. Kepemilikan oleh
manusia bersifat relatif, sebatas untuk
melaksanakan amanah mengelola dan
memanfaatkan
sesuai
dengan
ketentuanNya (QS al_Hadiid: 7).
Artinya :
antara kamu dan menafkahkan
(sebagian) dari hartanya memperoleh
pahala yang besar”. (QS Al_Hadiid: 7).
yang dimaksud dengan menguasai di
sini ialah penguasaan yang bukan
secara mutlak. Hak milik pada
hakikatnya adalah pada Allah. Manusia
menafkahkan hartanya itu haruslah
menurut urge-hukum yang Telah
disyariatkan Allah. Karena itu tidaklah
boleh kikir dan boros.
Dalam sebuah Hadits riwayat Abu
Daud, Rasulullah bersabda:
Seseorang pada Hari Akhir nanti pasti
akan ditanya tentang empat hal:
usianya untuk apa dihabiskan,
jasmaninya untuk apa dipergunakan,
hartanya darimana didapatkan dan
untuk apa dipergunakan, serta ilmunya
untuk apa dipergunakan.
1. harta sebagai amanah (titipan) dari
Allah SWT. Manusia hanyalah
pemegang amanah karena
memang tidak mampu
mengadakan benda dari tiada.
2. Harta sebagai perhiasan hidup
yang memungkinkan manusia bisa
menikmatinya dengan baik dan
tidak berlebih-lebihan ( Ali Imran:
14). Sebagai perhiasan hidup harta
sering menyebabkan keangkuhan,
kesombongan serta kebanggaan
diri.(Al-Alaq: 6-7).
3. Harta sebgai ujian keimanan. Hal
ini menyangkut soal cara
mendapatkan
dan
memanfaatkannya, apakah sesuai
dengan ajaran Islam atau tidak
(al-Anfal: 28)
harta sebagai bekal ibadah, yakni
untuk
melaksankan
sedekah.(at-Taubah :41,60; Ali
Imran:133-134).
4. Pemilikan harta dapat dilakukan
melalui usaha (amal) ataua mata
pencaharian (Maisyah) yang halal
dan sesuai dengan aturanNya.
(al-Baqarah:267)
Sesungguhnya Allah mencintai
hambaNya
yang
bekerja.
Barangsiapa yang bekerja keras
mencari nafkah yang halal untk
keluarganya maka sama dengan
mujahid di jalan Allah (HR Ahmad).
Mencari rezki yang halal adalah
wajib setelah kewajiban yang
lain(HR Thabrani)
jika telah melakukan sholat subuh
janganlah kalian tidur, maka kalian
tidak akan sempat mencari rezki
(HR Thabrani).
5. Dilarang mencari harta , berusaha
atau bekerja yang melupakan mati
(at-Takatsur:1-2),
melupakan
dan zakat (an-Nuur: 37), dan
memusatkan kekayaan hanya
pada sekelompok orang kaya saja
(al-Hasyr: 7)
6. Dilarang menempuh usaha yang
haram, seperti melalui kegiatan
riba (al-Baqarah: 273-281),
perjudian, jual beli barang yang
haram (al-maidah :90-91), mencuri
merampok (al-Maidah :38), curang
dalam takaran dan timbangan
(al-Muthaffn: 1-6), melalui cara-cara
yang batil dan merugikan
(al-Baqarah:188), dan melalui suap
menyuap (HR Imam Ahmad).
Kepemilikan Harta
Namun demikian, Islam mengakui kepemilikan individu, dengan satu konsep khusus, yakni konsep khilafah. Bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi yang diberi kekuasaan dalam mengelola dan memanfaatkan segala isi bumi dengan syarat sesuai dengan segala aturan dari Pencipta harta itu sendiri.
Harta dinyatakan sebagai milik manusia, sebagai hasil usahanya. Al-Quran menggunakan istilah al-milku dan al-kasbu (QS 111:2) untuk menunjukkan kepemilikan individu ini. Dengan pengakuan hak milik perseorangan ini,
C. Kedudukan Harta Dalam Islam
dan Fungsinya
Sikap Islam terhadap harta merupakan bagian dari sikapnya terhadap kehidupan dunia. Sikap Islam terhadap dunia adalah sikap pertengahan yang seimbang. Materi atau harta dalam pandangan Islam adalah sebagai jalan, bukan satu-satunya tujuan, dan bukan sebagai sebab yang dapat menjelaskan semua kejadian-kejadian. Maka disan kewajiban itu lebih dipentingkan daripada materi. Tetapi materi menjadi jalan untuk merealisir sebagai kebutuhan-kebutuhan dan manfaat-manfaat yang tidak cukup bagi manusia, yaitu dalam pelayanan seseorang kepada hal yang bersifat materi, yang tidak bertentangan dengan kemaslahatan umum, tanpa berbuat dhalim dan berlebihan.
hamba-Nya. Dan kekayaan adalah suatu nikmat dari Allah sehingga Allah SWT. Telah memberikan pula beberapa kenikmatan kepada Rasul-Nya berupa kekayaan.
Pandangan Islam terhadap harta adalah pandangan yang tegas dan bijaksana, karena Allah SWT. Menjadikan harta sebagai hak milik-Nya, kemudian harta ini diberikan kepada orang yang dikehendakinya untuk dibelanjakan pada jalan Allah.
Adapun pemeliharaan manusia terhadap harta yang telah banyak dijelaskan dalam al-Qur’an adalah sebagai pemeliharaan nisbi, yaitu hanya sebagai wakil dan pemegang saja, yang mana pada dahirnya sebagai pemilik, tetapi pada hakikatnya adalah sebagai penerima yang bertanggung jawab dalam perhitungnnya. Sedangkan sebagai pemilik yang hakiki adalah terbebas dari hitungan.
Pada al-Qur’an surat al-Kahf: 46 dan an-Nisa: 14 dijelaskan bahwa kebutuhan manusia atau kesenangan manusia terhadap harta sama dengan kebutuhan manusia terhadap harta sama dengan kebutuhan manusia terhadap anak dan keturunan. Jadi, kebutuhan manusia terhadap harta adalah kebutuhan yang mendasar.
ini meliputi: produksi, distribusi dan konsumsi harta:
a. Perkara-perkara yang merendahkan martabat dan akhlak manusia
b. Perkara-perkara yang merugikan hak perorangan dan kepentingan sebagian atau keseluruhan masyarakat, berupa perdagangan yang memakai bunga.
c. Penimbunan harta dengan jalan kikir
d. Aktivitas yang merupakan pemborosan
e. Memproduksi, memeperdagangkan, dan mengkonsumsi barang-barang terlarang seperti narkotika dan minuman keras. Kaidah ushul fqh menyatakan bahwa “Asal atau pokok dalam masalah transaksi mu’amalah adalah sah, sampai ada dalil yang membatalakan dan yang
mengharamkannya”.
Fungsi Harta
Kaidah ushul fqh menyatakan
لأصلا
harta sangat banyak, baik kegunaan dalam hal yang baik, maupun kegunaan dalam hal jelek : a. Berfungsi menyempurnakan pelaksanaan ibadah yang mahdah, sebab untuk ibadah diperlukan alat-alat yang harus dimiliki demi terjadinya kelancaran ibadah.
b. Untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah
c. Meneruskan (melangsungkan) kehidupan dari satu periode ke periode berikutnya. d. Untuk menyelaraskan/menyeimbangkan kehidupan dunia dan akhirat.
e. Untuk mengembangkan dan menegakan ilmu-ilmu.
f. Untuk memutarkan peranan-peranan
kehidupan yakni adanya pembantu dan tuan. g. Untuk menumbuhkan silaturrahim.
D.Pembagian Harta dalam Islam
dan hukumnya tersendiri. Pembagiannya sebagai berikut:
1. Mal Mutaqawwimin dan Ghoiru Mutaqawwimin
a. Harta Mutaqawwimin ialah sesuatu yang boleh diambil manfaatnya menurut syara’. Harta ini ialah semua harta yang baik jenisnya maupun cara memperoleh dan penggunaanya. Misalnya kerbau halal dimakan umat Islam, tetapi disembelih dengan cara dipukul maka daging kerbau tersebut tidak dapat dimanfaatkan.
b. Harta ghoiru mutaqawwimin ialah sesuatu yang tidak boleh diambil manfaatnya menurut syara’. Harta ini kebalikan dari hartamutaqawwimin yakni tidak boleh diambil manfaatnya.
2. Mal Mitsli dan Mal Qimi
a. Harta Mitsli ialah benda-benda yang ada persamaannya dalam
b. Harta Qimi ialah benda-benda yang kurang dalam kesatuan-kesatuanya karena tidak dapat berdiri sebagian tempat sebagian yang lainnya tanpa perbedaan.
c. Dengan pekara lain, harta mitsli adalah harat yang jenisnya diperoleh dipasar (secara persis), dan Qimi ialah harta yang jenisnya sulit didapatkan dipasar, bias diperoleh tetapi jenisnya berbeda, kecuali dalam nilai harganya. Jadi harta yang ada imbangannya disebut mitsli dan yang tidak ada imbangannya disebut qimi.
3. Harta Istihlak dan Harata Isti’mal a. Harta Istihlak ialah sesuatu yang tidak
dapat diambil kegunaan dan manfaatnya secara biasa, kecuali dengan
menghabiskannya. Harta Istihlak terbagi dua yaitu istihlak haqiqi ialah suatu benda yang menjadi harta yang secara jelas (nyata) zatnya habis sekali
b. Harta Isti’mal ialah sesuatu yang dapat digunakan berulang kali dan materinnya tetap terpelihara. Harta isti’mal dihabis sekali digunakan melainkan dapat digunakan lagi. Seperti kebun, tempat tidur, pakaian sepatu, laptop, hanphone dan lain sebagainya.
4. Harta Manqun dan Harata Ghoiru Manqul
a. Harta manqul yaitu segala harta yang dapat dipindahkan (bergerak) dari suatu tempat ke tempat lain. Seperti emas, perak, perunggu, pakaian, kendaraan dan lain sebagainya, termasuk harta yang dapat dipindahkan.
b. Harta Ghoiru Manqul yaitu sesuatu yang tidak dapat dipindahkan dan dibawa dari tempat satu ketempat yang lain. Seperti kebun, pabrik, sawah, dan lain
sebagainya. Karena tidak dapat dipindahkan. Dalam Hukum Perdata Positif digunakanlah istilah benda bergerak dan benda tetap.
a. Harta ‘ain adalah harta yang berbentuk benda, seperti rumah, pakaian, jambu, kendaraan dan lain sebagainya. Harta ‘ain terbagi menjadi dua.
1. Harta ‘ain dzati qimah, yaitu benda yang memiliki bentuk dipandang sebagai harta karena memiliki nilai. Herta ini meliputi; benda yang dianggap harta boleh diambil manfaatnya, benda dianggap harta tidak boleh diambil manfaatnya, benda yang dianggap harta yang ada sebagnsanya, benda yang dianggap harta yang tidak ada atau sulit dicari seumpamanya, benda yang dianggap harta yang berharga dan dapat dipindahkan dan benda yang dianggap harta yang berharga dan tidak dapat dipindahkan.
2. Harta ‘ain ghoiru dzati qimah, yaitu benda yang tidak dapat dipandang sebagai harta karena tidak
memiliki harga, misalnya sebiji beras.
tidak dapat dibagi menjadi harta ‘ain dan dayn karena harta menurutnya ialah sesuatu yang berwujud, maka sesuatu yang tidak berwujud tidaklah sebagai harta, misalnya utang tidak dipandang sebagai harta tetapi utang menurutnya adalah washf f al-dhimmah .
6. Mal al-‘ain dan mal an-naf manfaatt
a. Harta ‘ain yaitu benda yang memiliki nilai dan berwujud, misalnya rumah, ternak, dll.
b. Harta Naf ialah a’radd yang berangsur-angsur tumbuh menurut perkembangan masa, leh karena itu mal al-naf’ tidak berwujud dan tidak mungkin disimpan. 7. Harta Mamluk, Mubah dan Manjur
a. Harta Mamluk ialah sesuatu yang masuk ke bawah milik, milik perorangan
maupun milik badan hokum, seperti pemerintah dan yayasan. Harta mamluk terbagi menjadi dua macam, yaitu harta perorangan yang bukan berpautan
yang dikontrakan, selanjutnya harta pengkongsian atara dua pemilik yang berkaitan dengan hak yang bukan
pemiliknya, seperti dua orang berkongsi memiliki sebuah pabrik.
b. Harta Mubah ialah sesuatu yang asalnya bukan milik seseorang, seperti air pada mata air, binatang buruan darat, laut, pohon-poohon dihutan dan buah-buahannya.
c. HartaMahjur ialah sesuatu yang tidak boleh dimiliki sendiri dan memberikan kepada orang lain menurut syariat, adakalanya benda itu benda wakaf ataupun benda yang dikhususkan untuk masyarakat umum, seperti jalan raya, masjid- masjid, kuburan dan lain-lain. 8. Harta yang dapat dibagi dan tidak dapat dibagi
Harta yang dapat dibagi ialah harta yang tidak menimbulkan suatu kerugian atau
kerusakan apabila harta itu dibagi-bagi, misalnya beras tepung dan lainnya.
Harta yang tidak dapat dibagi ialah harta yang menimbulkan suatu kerugian atau kerusakan apabila harta tersebut dibagi-bagi, misalnya gelas, kursi, meja, mesin, dan lainnya.
a. Harta pokok adalah harta yang mungkin darinya terjadi harta yang lain.
b. Harta hasil ialah harta yang terjadi dari harta yang lain. Pokok harta itu disebut modal, misalnya uang, emas dan
lainnya.
Contoh harta pokok dan harta hasil ialah bulu domba yang dihasilkan dari domba.
10. Harta Khos dan ‘am
a. Harta khsa ialah harta pribadi, tidak bersekutu dengan yang lain, tidak boleh diambil manfaatnya tanpa disetujui pemiliknya.
b. Harta ‘am ialah harta milik umum (bersama) yang boleh diambil manfaantnya.
Pengolahan Harta dalam Islam
a. Larangan mencampur-adukkan yang halal dan batil. Hal ini sesuai dengan Q.S. Al-Fajr (89): 19; ”Dan kamu memakan harta pusaka dengan cara mencampur baurkan (yang halal dan yang bathil)”
b. Larangan mencintai harta secara
berlebihan Hal ini sesuai dengan Q.S. Al-Fajr (89): 20; ”Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang
berlebihan”
c. ”Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram darahnya, hartanya dan
kehormatannya” (hadits Muslim)
E. Pengalihan pemberiant Harta
Kepada Pihak Lain
1. Hibah
Jumhur ulama mendefnisikan sebagai akad yang mengakibatkan harta seseorang tanpa ganti rugi dilakukan selama keadaan masih hidup kepada orang lain secara sukarela. Sedangkan menurut ulama Hanaf
mendefnisikan sebagai pemilikan harta dari seseorang kepada orang lain yang
mengakibatkan orang yang menerima hibah dapat melakukan tindakan hukum terhadap harta tersebut.
Hibah dianggap syah apabila memenuhi syarat dan rukunnya. Adapun menurut ulama mazhab Hanaf bahwa rukun hibah adalah ijab, qobul dan qabdl (harta itu dapat dikuasai langsung). Sedangkan menurut jumhur ulama; - Orang yang menghibahkan
- Harta yang dihibahkan - Lafadz Hibah
- Orang yang menerima hibah
Syarat orang menghibahkan hartanya; - Baligh
- Cerdas
2. Sedekah
Sedekah ialah pemberian dari seorang muslim secara sukarela tanpa tanpa dibatasi waktu dan jumlah tertentu atau suatu
pemberian yang dilakukan seseorang sebagai kebijaksanaan unuk mengharap ridho Allah semata.
a. Bentuk Sedekah
Memberikan sesuatu dalam bentuk materi/harta kepada fakir miskin Berbuat baik dan menahan diri dari
kejahatan
Berlaku adil dan mendamaikan orang yang sedang bersengketa
Memberi senyum dan bermuka manis Dapat kita lihat bentuk sedekah lain dalam kehidupan sehari-hari kita.
b. Perbedaan sedekah dan zakat
orang yang beriman dari semua lapisan, baik yang kaya maupun yang miskin. Sedangkan zakat diwajibkan kepada yang punya dan memenuhi persyaratan sebagaimana telah diatur dalam bab zakat.
Dari segi yang disedekahkan, sedekah yang diberikan tidak terbatas pada harta semata tetapi dapat berupa bentuk kebaikan. Sedangkan zakat terbatas pada harta saja.
Dari segi penerima atau objeknya sedekah diberikan kepada kelompok asnaf yang disebutkan dalam al-Qur’an dan pihak lain. Sedangkan zakat
diberikan kepada oranga-orang yang ditentukan oleh Allah dalam al-Qur’an surat at-Taubah:60.
c. Benda yang disedekahkan
Pada dasarnya sedekah sedekah itu hanya dibolehkan apanila benda tersebut itu milik sendiri. Tidak sah menyedekahkan milik bersama atau milik orang lain. Dengan
tangga, bahwa isteri dapat menyedekahkan harta tertentu berupa makanan, boleh
dilakukan tanpa meminta izin dari seorang suami.
3. Wasiat
Wasiat adalah memberikan hak untuk memiliki sesuatu secara sukarela yang pelaksanaanya ditangguhkan setelah yang berwwasiat meninggal dunnia, baik yang diwasiatkan itu berupa benda atau manfaat (jasa).
Mengenai hukum wasiat para ulama berbeda pendapat; Ibnu Hazm berpendapat bahwa wasiat hukumnya Fardhu ‘Ain
berdasaran surat an-Nisa: 11 bahwa warisan baru dapat dibagikan setelah dilaksanakan wasiat dan bayar hutang orang yang
meninggal itu. Menurut Abu Daud dan ulama-ulama salaf berpendapat bahwa wasiat
hukumnya wajib diaksanakan kepada orang tua dan kerabat-kerabat yang karena satu atau beberapa sebab tidak mendapatkan warisan, mereka berpegang kepada QS.
Muhammad tidak pernah menjelaskan hal itu beliau tidak pernah berwasiat harta
peninggalan beliau, kebanyakan dari sahabat Nabi tidak menjalankan wasiat ternyata tidak ada yang mengingkarinya (ijma’ sukuti).
Apabila seorang berwasiat kepada seseorang, kemudian penerima wasiat membunuh orang yang memberi wasiat fukaha syaf’iyah dan syi’ah imamiyah
berpendapat bahwa wasiat itu sah, walaupun pembunuhan itu dilakukan dengan sengaja atau motif lain. Tindakan tersebut
menyebabkan dia tidak mendapatkan warisan dari orang yang dibunuhnya, tetapi tidak menafkan untuk menerima harta yang diwasiatkan kepadanya. Abu Yusuf
berpendapat bahwa wasiat tersebut tidak sah walaupun ahli waris mengizinkan. Beliau berpegang pada hadits nabi.
َل َةَي ِأص َو ٍلِتاَقِل
“Tidak ada (hak menerima) wasiat bagi si pembunuh”.
Menurut Abu Yusuf, hadits ini harus dipahami secara umum, dan tidak boleh diberikan
Pelaksanaan wasiat bagi selain ahli waris tidak harus menunggu izin ahli waris, asal saja yang diwaisiatkan itu tidak melebihi 1/3 dari harta warisan. Apabila melebihi dari 1/3 perlu mendapat persetujuan ahli waris. Sedangkan apabila wasiat diberikan kepada ahli waris, maka wasiat itu belum dapat dilaksanakan sebelum ada persetujuan dari ahli waris lainnya.
F. Sistem Pembagian harta Waris
dalam Islam
Adapun besar kecilnya bagian yang diterima bagi masing-masing ahli waris dapat
dijabarkan sebagai berikut:
Pembagian harta waris dalam islam telah ditetukan dalam al qur an surat an nisa secara gamblang dan dapat kita simpulkan bahwa ada 6 tipe persentase pembagian harta waris, ada pihak yang mendapatkan setengah (1/2), seperempat (1/4), seperdelapan (1/8), dua per tiga (2/3), sepertiga (1/3), dan seperenam (1/6), mari kita bahas satu per satu
1.Seorang suami yang ditinggalkan oleh istri dengan syarat ia tidak memiliki keturunan anak laki-laki maupun perempuan, walaupun keturunan tersebut tidak berasal dari
suaminya kini (anak tiri).
2. Seorang anak kandung perempuan dengan 2 syarat: pewaris tidak memiliki anak laki-laki, dan anak tersebut merupakan anak tunggal. 3. Cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki dengan 3 syarat: apabila cucu tersebut tidak memiliki anak laki-laki, dia merupakan cucu tunggal, dan Apabila pewaris tidak lagi mempunyai anak perempuan ataupun anak laki-laki.
24. Saudara kandung perempuan dengan syarat: ia hanya seorang diri (tidak memiliki saudara lain) baik perempuan maupun laki-laki, dan pewaris tidak memiliki ayah atau kakek ataupun keturunan baik laki-laki maupun perempuan.
5. Saudara perempuan se-ayah dengan syarat: Apabila ia tidak mempunyai saudara (hanya seorang diri), pewaris tidak memiliki saudara kandung baik perempuan maupun laki-laki dan pewaris tidak memiliki ayah atau kakek dan katurunan.
orang-orang yang berhak mendapatkan waris seperempat 1/4t:
yaitu seorang suami yang ditinggal oleh istrinya dan begitu pula sebaliknya
1. Seorang suami yang ditinggalkan dengan syarat, istri memilki anak atau cucu dari keturunan laki-lakinya, tidak peduli apakah cucu tersebut dari darah dagingnya atau bukan.
2. Seorang istri yang ditinggalkan dengan syarat, suami tidak memiliki anak atau cucu, tidak peduli apakah anak tersebut merupakan anak kandung dari istri tersebut atau bukan. Pembagian harta waris bagi orang-orang yang berhak mendapatkan waris
seperdelapan 1/8):
yaitu istri yang ditinggalkan oleh suaminya yang memiliki anak atau cucu, baik anak tersebut berasal dari rahimnya atau bukan.
1. Dua orang anak kandung perempuan atau lebih, dimana dia tidak memiliki saudara laki-laki (anak laki-laki-laki-laki dari pewaris)
2. Dua orang cucu perempuan dari keturunan anak laki-laki dengan syarat pewaris tidak memiliki anak kandung, dan dua cucu tersebut tidak mempunyai saudara laki-laki
3. Dua saudara kandung perempuan (atau lebih) dengan syarat pewaris tidak memiliki anak, baik laki-laki maupun perempuan, pewaris juga tidak memiliki ayah atau kakek, dan dua saudara perempuan tersebut tidak memiliki saudara laki-laki.
4. Dua saudara perempuan seayah (atau lebih) dengan syarat pewaris tidak mempunyai anak, ayah, atau kakek. ahli waris yang dimaksud tidak memiliki saudara laki-laki se-ayah. Dan pewaris tidak memiliki saudara kandung.
Pembagian harta waris dalam Islam bagi orang-orang yang berhak mendapatkan waris sepertiga 1/3t:
memiliki dua atau lebih saudara (kandung atau bukan)
2. Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu, dua orang atau lebih dengan syarat pewaris tidak memiliki anak, ayah atau kakek dan jumlah saudara seibu tersebut dua orang atau lebih.
Sistem Harta Gono Gini
Berkenaan dengan masalah harta, masih terdapat istilah lain yang perlu kita ketahui yaitu harta gono-gini. Dalam Ensiklopedi
Hukum Islam dijelaskan bahwa harta gono-gini adalah harta milik bersama milik suami-isteri yang mereka peroleh selama perkawinan. Dalam masyarakat kita di Indonesia hampir semua daerah mempuyai pengertian, bahwa harta bersama antara suami istri memang ada dengan istilah berbeda untuk masing-masing daerah.
apabila perkawinan putus karena perceraian, maka harta bersama diatur menurut
hukumnya masing-masing . Harta dapat terpisah apabila diantara mereka ada
perjanjian perkawinan mengenai pisan harta. Dalam Hukum Islam, harta bersama suami isteri pada dasarnya tidak dikenal, karena hal ini tidak dibicarakan secara khusus dalam kitab fqh. Hal ini sejalan dengan asas kepemilikan harta individual (pribadi). Atas dasar ini suami wajib memberi nafkah dalam bentuk biaya hidup dengan segala
Kesimpulan
:Harta adalah segala sesuatu yang
dimanfaatkan kepada sesuatu yang legal menurut hokum syara’ (hukum Islam) seperti jual beli, pinjaman, konsumsi, dan hibbah atau pemberian. Jadi, apapun yang digunakan manusia dalam kehidupan dunia merupakan harta.
Pandangan Islam terhadap harta adalah pandangan yang tegas dan bijaksana, karena Allah SWT. menjadikan harta sebagai hak milik-Nya, kemudian harta ini diberikan kepada orang yang dikehendakinya untuk dibelanjakan pada jalan Allah. Harta yang baik adalah harta jika diperoleh dari yang halal dan digunakan pada tempatnya. Harta menurut pandangan Islam adalah kebaikan bukan suatu keburukan. Oleh karena itu harta tersebut tidaklah tercela menurut pandangan Islam dan Karen itu pula Allah rela memberikan harta itu kepada
hamba-Nya. Dan kekayaan adalah suatu nikmat dari Allah sehingga Allah SWT. telah memberikan pula beberapa kenikmatan kepada Rasul-Nya berupa kekayaan.
Pembahasan II
Kepemilikan Dalam Islam
Oleh:
Boyke Dicako Andrea
Rizal Al Aziz
Kepemilikan Dalam Islam
A. Pengertian kepemilikan
Menurut bahasa kepemilikan berasal dari bahasa arab yaitu “malaka” yang artinya memiliki atau mempunyai, dalam bahasa Arab “milk” mempunyai makna menguasai suatu barang (harta) yang berada
digenggamannya secara ril atau secara hukum dan bebas digunakan oleh pemilik tanpa ada hak dari orang lain selama barang (tidak ada penghalang), rasullulah juga
menyerukan agar kita mememiliki suatu barang (harta) dengan cara yang benar atau halal.
Sesuai sabda Nabi;
“Sesunguhnya allah senang melihat hambanya yang berusaha di jalan yang halal.”
Hadist tersebut diriwayatkan oleh Tabani. Rasullulah juga menjelaskan bahwa usaha yang baik adalah usaha yang dilakukan secara individu, kejujuran dan degan cara yang halal, karna sudah jelas diantara
adalah dari mana kamu mendapatkan hal-hal yang kamu miliki? dan kemana kamu
keluarkan hal-hal yang kamu miliki?, oleh karna itu kita harus selalu waspada &
memanfaatkan barang (harta) yang kita miliki dengan cara yang halal, karna sudah jelas kedudukan yang halal, subhat dan haram.
Konsep dasar kepemilikan dalam Islam adalah frman Allah swt ;
ِض ْرَ ْلا يِف اَم َو ِتا َواَمَسلا يِف اَم ِ َ ِل
/ ةرقبلا 284
Milik Allah-lah segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. QS 2: 284
Para fuqoha (ahli fqih) mendefnisan “milik” sebagai hubungan khusus seseorang dengan sesuatu (barang) di mana orang lain
terhalang untuk memasuki hubungan ini dan yang mempunyai berkuasa untuk
memanfaatkannya selama tidak ada hambatan legal yang menghalanginya.
B. Macaam-macaam kepemilikan
Dalam pengertian umum.
1. Hak Mal, yaitu sesuatu yang berpautan dengan harta, seperti pemilikan benda atau uang.
2. Hak ghairu mal, yaitu penguasaan
terhadap sesuatu yang tidak berkaitan dengan harta. Hak ghairu mal terbagi atas dua, yaitu:
Hak syakhshi yaitu sesuatu
tuntutan yang ditetapkan syara’ bagi seseorang yang wajib
dipenuhi oleh orang lain.
Hak ‘aini yaitu hak orang dewasa
dengan bendanya tanpa dibutuhkan orang kedua.
Hak ‘aini terbagi menjadi dua macam, yaitu :
Hak ‘aini ashli Hak ‘aini thabi’i wujud benda
tertentu dan adanya shabub al-haq seperti hak milkiah dan hak irtifa
jaminan yang ditetapkan untuk seseorang yang mengutangkan
Dalam sudut cara memperolehnya.
Dilihat dari sudut cara memperolehnya atau sebab memilikinya, kepemilikan dalam islam terbagi ke dalam dua macam, yaitu sebagai berikut :
1. Al milkut tammu atau kepemilikan sempurna. Maksudnya, kepemilikan seseorang atas sesuatu secara penuh. Tidak ada pihak lain yang turut serta memiliki barang tersebut secara hukum. Misalnya kepemilikan atas barang yang sudah dibeli, atas benda dari hibah seseorang atau dari
sedekah atau sebagainya. Dan
pemiliknya boleh melakukan tindakan apapun pada barang tersebut.
karena pada saat yang sama sesuatu itu juga dimiliki oleh oranng lain. Misalnya, memiliki barang gadaian, sewaan, saham bersama dan
sebagainya. Jadi pemiliknya tidak boleh melakukan tindakan apapun sebelum meminta izin kepada pemilik yang lain.
Dalam segi tempatnya.
Dilihat dari segi tempatnya , milik dapat dibagi menjadi tiga, yaitu :
1. Milk al-‘ain atau milk al-raqabah, yaitu memiliki semua benda, baik benda tak bergerak maupun benda yang bisa dipindahkan
2. Milk al-manfa’ah, yaitu seseorang yang hanya memiliki manfaat saja dari suatu benda, seperti meminjam, wakaf dan lain lain.
3. Milk al-dayn, yaitu p9emilikan karena adanya utang.
Dari segi shurah (cara berpautan milik dengan yang dimilik).
1. Milk al-mutamayyiz, yaitu sesuatu yang berpautan dengan yang lain, yang memiliki batasan-batasan, yang dapat memisahkannya dari yang lain. 2. Milk al-sya’i yaitu milik yang
berpautan dengan sesuatu yang relative dari kumpulan sesuatu , Bagaimana pun besar atau kecilnya kumpulan itu.
C. Jenis-jenis kepeilikan dalam
Islam.
Seseorang dapat memiliki sesuatu benda atau barang. Jika melakukan halal yang menjadi penyebabnya, sehingga kepemilikan dapat beralih dari satu pihak kepada pihak lain, atau dari satu pihak menjadi milik bersama.
Diantara hal tersebut di atas yang
Kepemilikan yang sempurna, disebabkan oleh:
1. Jual beli 2. Sadaqah 3. Hibah 4. Hadiah 5. Infaq 6. Waqaf
7. Waris yang telah dibagikan 8. Luqarah (penemuan)
9. Gasbu (harta rampasan)
10. Ihyaulmawat (tanah hasil membuka hutan)
Kepemilikan yang tidak sempurna 1. Hutang Piutang
8. Muzara’ah 9. Musaqah
10. Mukhabarah
Tetapi hal tersebut di atas telah dihapuskan oleh islam karena hal tersebut berlaku pada masa jahiliyah, akan tetapi telah ditetapkan oleh syara’ dan empat sebab diantaranya:
1. Ihrazul mubahat, yaitu memiliki sesuatu yang boleh dimiliki atau menempatkan sesuatu yang boleh dimiliki di suatu tempat untuk dimiliki
2. Al u’qud (aqad)
3. Al khalafyah (perwarisan)
4. Attawalludul minal mamluk (berkembangbiak)
D.Hikmah kepemilikan dalam islam
1. Manusia tidak boleh sembarangan untuk memiliki sesuatu tanpa melihat aturan yang berlaku.
2. Manusia akan berusaha dengan benar untuk dapat memiliki sesuatu .
3. Membentengimanusiauntukdapatmemili kisesuatudenganjalan yang tidak benar. 4. Terpeliharanya keamanan dan
kenyamanan dalam kehidupan.
5. Terciptanya situasi masyarakat yang saling mengisi dan saling membutuhkan. 6. Terbentuknya sikap saling menghormati
dan menghargai antara sesame mansuia.
Akan tetapi ada juga hikma-hikmah yang didapatkan oleh manusia pada masa jahiliyah , diantaranya adalah:
2. Terpenuhinya rasa keadilan dan keberadaan umat manusia.
3. Meningkatkan motivasi untuk senantiasa rajin bekerja dan berusaha dalam
memiliki sesuatu.
Islam adalah agama yang paling benar di sisi Allah swt., agama islam sangat
menghargai hak asasi manusia tidak seperti agama lainnya, setiap hukum-hukum islam memiliki hikmah-hikmah yang indah diantara hokum-hukumnya tersebut. Jadi bersyukurlah kita umat islam yang akan selalu terpenuhi dengan hikmah-hikmah dalam ketentuan ketentuan syara’ dan hukum-hukum islam.
E. Ihrazul Mubahat
1. Pengertian ihrazul mubahat
Ihrazul mubahat artinya menjaga dan mubahat artinya hal-hal yang di bolehkan. secara istilah ikhrazul mubahat adalah memelihara diri agar senantiasa melakukan hal-hal yang di
2. Syarat Ihrazul Mubahat
Syarat untuk terpenuhinya ihrazul mubahat adalah sebagai berikut :
a. Sesuatu itu bukan milik sah dari orang lain. Oleh karena itu, tidak termasuk ihrazul mubahat contohnya, jika mengambil burung dara jantan milik orang lain dengan cara memikatnya dengan burung dara betina miliknya. b. Ada kesengajaan upaya yang dibenarkan
untuk memilikinya seperti contoh di atas. Jika ada layang-layang menyangkut di atas pohon miliknya, maka tidak secara otomatis layang-layang tersebut menjadi miliknya.
F. Khalafyah
Khalafyah adalah pewaris atau kata lain khalafyah adalah “Bertempatnya seseorang atau sesuatu yang baru di tempat yang lama yang telah hilang dalam bebagi macam hak-hak”. Khalafyah ada dua macam yaitu :
Adalah kepemilikan suatu harta dari harta yang ditinggalkan oleh pewarisnya, sebatas memiliki harta bukan mewarisi hutang si pewaris. Misalnya Ali menggantikan
kedudukan ayahnya, sehingga seluruh hak-hak ayahnya berpindah kepada Ali, termasuk hak kepemilikan. Khalafyah seperti ini juga disebut khalafyah irs (waris), karena umumnya, terjadi pada waris, yaitu hak kepemilikan harta yang semula atas pewaris lalu di gantikan oleh ahli waris.
2. Khalafyah syai’un ‘an syai’in (ٍء ْيَش ْنَع ٌء ْيَش) (sesuatu terhadap sesuatu)
Adalah kewajiban seseorang untuk
mengganti harta / barang milik orang lain yang dipinjam karena rusak atau hilang sesuai harga dari barang tersebut. Misalnya, seseorang meminjamkan suatu barang setelah
dikembalikan kedapanya, ternyata ada bagian dari barang itu tidak ada. Maka dibenarkan untuk meminta bagian yang tidak ada itu, karena memang menjadi hak miliknya.
G. Ihya’u Mawat Al-Ardh
1. Ihya’u Mawat Al-Ardh
Ihya’u Mawat Al-Ardh menurut bahasa adalah menghidupkan tanah yang mati. Sedangkan menurut istilah, Ihya’u Mawat Al-Ardh adalah membuka lahan baru yang belum dikerjakan atau belum dimiliki orang lain, agar tanah yang baru dibuka itu berstatus hukum miliknya. Yang dimaksud lahan baru di sini adalah tanah yang masih dalam bentuk hutan, lahan gambut, dan
sebagainya, yang belum ada pemiliknya dan belum dimanfaatkan untuk
keperluan pertanian, perkebunan, atau tempat tinggal.
2. Membuka lahan baru
Hukum membuka lahan baru adalah jaiz(boleh), dan sebagai jerih payahnya maka ia diberi hak untuk memilikinya. Jika usaha membuka lahan baru itu disertai dengan niat baik, untuk kesejahteraan diri dan umat manusia, maka mendapat pahala. Landasan hokum membuka lahan baru
artinya “Dari said bin Zaid dari nabi saw. bersabda: ‘Barang siapa yang
menghidupkan tanah yang mati, maka tanah itu menjadi miliknya. Orang yang menggarap tanah milik orang lain maka tidak mempunyai hak (untuk
memilikinya)’.”(HR.Abu Dawud, Nasa’I dan Tirmidzi)
3. Ihya’ul Mawat dan transmigrasi Transmigrasi adalah perpindahan penduduk dari daerah (pulau) yang sudah padat penduduknya ke daerah (pulau) yang masih kosong
penduduknya. Misalnya perpindahan penduduk dari pulau jawa ke Kalimantan, perpindahan semacam ini dimaksudkan untuk meratakan penduduk, juga untuk menciptakan kesejahteraan para
transmigran.
Para transmigrasi yang membuka lahan baru akan mendapatkan pahala, karena telah menghidupkan bumi Allah. Sebaliknya, membuka lahan yang sudah dimiliki oleh orang lain dan diklaimnya sebagai tanah miliknya, itu termasuk zalim.
Rasulullah saw. bersabda yang artinya “Barang siapa yang mengambil tanah sejengkal dengan zalim, maka tanah itu akan dikalungkannya kelak di hari kiamat tujuh bumi”(HR. Bukhari dan Muslim)
Ada beberpa hal yang perlu
diperhatikan oleh pihak yang membuka lahan baru:
a. Tanah yang digarap itu hanya terbatas untuk mencukupi keperluan. Jika lebih dari itu, harus diberikan kepada orang lain yang lebih membutuhkan
b. Penggarap bersungguh-sungguh dan sanggup mengelola tanah baru tersebut c. Pembukaan tanah haru dengan izin pemerintah (imam)
berpandangan bahwa izin pemerintah tidak diperlukan.
H. Kepemilikan menurut paham komunis dan kapitalis
Dunia pada masa silam dan masa depan kembali dibuat bingung oleh masalah
kepemilikan atau hak milik.289 Kekeliruan fatal
ini berkembang di berbagai macam aliran dan pemikiran. Terdapat pemikiran Komunisme dan kapitalisme yang telah mengubur nilai hak individu dan kebebasan.
Pandangan paham komunisme dan kapitalisme terhadap kepemilikan sebagai berikut:
1. Pandangan paham komunisme.
2. Pandangan paham kapitalisme.
Kapitalisme yang mempunyai kebebasan hak kepemilikan bagi setiap individu; bebas menguasai untuk digunakan menurut
kehendaknya, menginvestasikan apa yang dimilikinya sesuai kemauan, membelanjakan menurut keinginan, tanpa batas yang
disebutkan atas sarana-sarana kepemilikan dan pertumbuhan serta pengeluarannya, tanpa campur tangan siapa pun dalam suatu masyarakat pada masalah tersebut.
Paham komunis hanya digunakan secara idnividu, sedangkan paham Komunis
menghapus hak kepemilikan pribadi. Kedua aturan ini sama-sama membawa kerusakan. Maka, datanglah Islam dengan membawa jalan yang moderat, mengabungkan antara
maslahat bagi individu dan masyarakat. Islam mengakui hak kepemilikan individu, tapi juga meletakkan kendali aturan main demi
memelihara hak orang lain. Islam juga mengharamkan hak kepemilikan dalam
masalah tertentu, sebagai penjagaan bagi hak-hak manusia, dan menjadikannya milik
bersama. Islam mengakui kebebasan
Kesimpulan :
Islam memberikan hak kepemilikan kepada individu untuk memperoleh sesuatu dan memanfaatkannya secara khusus dan tertentu. Sebab, hal itu merupakan tuntutan yang sesuai ftrah manusia dan karakteristik dari
kebebasan dan kemanusiaan. Islam menjadikan hak ini sebagai aturan dasar sistem ekonomi Islam, lalu mengaturnya dengan aturan-aturan yang alami, aturan menjaga kepemilikian harta orang,
menjaganya dari perampokan,
pencurian, penipuan dan sebagainya. Islam juga membuat undang-undang sebagai hukuman bagi yang memusuhi hak-hak individu ini, sebagai
pemeliharaan atas hak-hak dirinya, juga menolak segala bentuk intimidasi yang menjadi haknya sebagai individu yang memiliki kebebasan dan dilindungi syariat. Sebagaimana pula, Islam mengatur hak individu sebagai
berbisnis, menjual, sewa menyewa, gadai, hibah, wasiat, dan sebagainya.
Pembahasan III
Teori Akad
Oleh:
Fitri
Teori Akad
A. Asal-usul Aqad
Aqad adalah bagian dari macam-macam tasharruf, yang dimaksud dengan tasharruf ialah: “segala yang keluar dari seorang manusia dengan kehendaknya dan syara’ menetapkan beberapa haknya.“
Tasharruf qauli bukan aqdi ada dua macam yaitu:
1. Merupakan pernyataan pengadaan suatu hak atau mencabut suatu hak, seperti wakaf, talak, dan memerdekakan.
2. Tidak menyatakan sesuatu kehendak, tetapi dia mewujudkan tuntutan-tuntutan hak, misalnya gugatan, iqrar, sumpah untuk menolak gugatan, jenis yang kedua ini tak ada aqad, tetapi semata perkataan.
B.
Pengertian Akad
C.
Rukun Akad
Menurut Jumhur ulama rukun akad ada tiga;
1. yaitu aaqid (orang yang menyelenggarakan akad seperti penjual dan pembeli),
2. harga dan barang yang ditransaksikan (ma'qud alaih)
3. shighotul aqd.
diucapkan oleh orang yang sehat akalnya maka akan terjadi perubahan satatus hukum atas barang yang menjadi objek akad.
Ijab dan qobul ini sangat penting karena menjadi indicator kerelaan kedua belah pihak yang melakukan akad untuk memindahkan kepemilikan dan menerima kepemilikan. Dalam fkih muamalah ijab dan qobul adalah komponen dari shighotul aqd yaitu ekspresi dari dua pihak yang menyelenggarakan akad. Jadi dalam setiap akad, shighot akad harus selalu diekspresikan karena merupakan indicator kerelaan.
ta’athi karena tradisi dan kebiasaan hidup manusia (‘urf) manginginkan hal-hal yang praktis dan tidak bertele-tele dalam berbisnis. Bahkan sebagian fukoha (madzhab Hanaf) membolehkan tidak saja dalam jual beli yang remeh seperti telur, roti, dan lain-lain tetapi juga membolehkannya pada saat semua transaksi besar seperti rumah dan mobil. Sementara itu madzhab Maliki tidak mensyaratkan ‘urf sebagai patokan indikator kerelaan pihak yang melakukan akad. Baginya akad adalah sah apabila terselenggara secara suka rela.tentu pendapat ini lebih luas dan lebih mudah dari pendapat Hanaf.
Karena itu diperlukan kehati-hatian dan kesempurnaan dengan manjadikan ucapan sebagai bukti terkuat untuk mengekspresikan kehendak.
D.
Syarat Akad
1. tujuan akad harus sesuai dengan tujuan syara’
2. adanya kesesuaian antara ijab dan qobul 3. pihak yang berakad cakap bertindak
hukum
4. bukan perbuatan yang dilarang agama 5. bukan suatu kewajiban
6. kerelaan kedua belah pihak
E. Ketentuan Akad
a. barang atau harga harus suci dan tidak najis atau terkena barang najis yang tidak dapat dipisahkan.
b. Barang dan harga tersebut harus benar-benar dimanfaatkan secara syar’I.
c. Barang yang dijual harus menjadi milik dari penjual saat transaksi tersebut diselenggarakan, tidak diperbolehkan menjual barang yang tidak dimiliki dalam akad salam. Barang yang dijual harus dipastikan dapat diserahkan kepada pembeli. Jual beli yang tidak dapat mengentarkan barang kepada pembeli dianggap sebagai transaksi yang tidak sah.
e. Dalam akad ini tidak diperbolehkan menambahkan persyarat bahwa transaksi bersifat sementara. Persyaratan ini batal karena pemindahan kepemilikan yang dicapai lewat akad bersifat lenggeng dan tidak menenal batas waktu. begitu pemindahan kepemilikan terjadi maka hak penggunaan dan pemanfaatan atas barang itu juga berpindah sepenihnya dari penjual kapada si pembeli dan penjual tidak lagi memiliki hal apapun atas barang yang telah dijualnya.
2. orang yang menyelenggarakan akad (aaqidan)
pihak yang menyelenggarakan akad ini dapat sebagai pembeli atau penjual. Keduanya memiliki syarat yang sama yaitu: a. berakal atau mumayyiz (mampu
membedakan antara baik dan buruk) b. orang yang menyenggarakan akad
mampu mengekspresikan pilihan bebasnya. Dalam keadaan tertentu banyak dijumpai hambatan-hambatan psikis atau fsik yang membuat orang tidak dapat melakukan transaksi atau mengurangi kapabilitasnya untuk menjalankan transaksi. Dalam fkih muamalah hambatan-hambatan demikian disebut awaaridh ahliyyah. Ada dua jenis hambatan tersebut, yaitu:
samawiyyah adalah jenis hambatan yang tidak disebabkan oleh kehendak orang yang terkena hambatan tersebut, tetapi terjadi di luar kehendak manusia. Contoh: gila, pingsan, dan tidur.
Muktasibah adalah hambatan yang terjadi karena ulah orang itu sendiri. Contoh: mabuk, utang.
luar kendali manusia dan transaksi yang dilakukan menjadi batal.
F. Berakhirnya Akad Intiha Al-‘Aqadt
Akad dapat berakhir karena beberapa hal : 1t Berakhirnya Akad karena Pembatalan
Fasakht
Pembatalan akad kadang terjadi secara total, dalam arti mengabaikan apa yang sudah
disepakati, seperti: khiyar. Dan kadang-kadang dengan menetapkan batas waktu ke depan, seperti: Ijarah (Sewa-menyewa) dan iarah (pinjaman).
Adapun beberapa bentuk pembatalan (fasakh) dalam akad-akad lazimah:
a. Fasakh (Batal) karena adanya rusak (Fasid)
terdapat hal-hal yang menghalangi pembatalan tersebut.
b. Fasakh (Batal) karena Khiyar
Khiyar adalah Mencari yang terbaik di antara dua pilihan, yaitu meneruskan atau membatalkan jual beli
c. Fasakh (Batal) karena Iqalah Iqalah adalah pembatalan akad
berdasarkan persetujuan kedua belah pihak, apabila salah satu pihak merasa menyesal dan ingin mengundurkan diri dari akad.
d. Fasakh (Batal) karena tidak bisa dilaksanakan
Fasakh boleh dilakukan karena pihak lain tidak bisa melaksanakan
kewajiban.
e. Fasakh (Batal) karena habisnya masa yang disebutkan dalam akad, atau karena tujuan akad telah terwujud. 2t Berakhirnya Akad karena kematian
Diantara akad yang berakhir karena
a. Ijarah (Sewa-menyewa) b. Kafalah (Jaminan)
c. Syirkah dan Wakalah d. Muzara’ah dan Musaqah
3t Berakhirnya Akad karena Tidak adanya persetujuan dalam akad mauquf
G. Perbedaan Wa’ad dan Akad
Kesimpulan :
Memahami Fiqh Muamalah sebagai tata aturan Islam yang berkenaan dengan
hubungan antarmanusia yang ada di dunia ini sangatlah penting. Sebab di era globalisasi saat ini interaksi antar bangsa, baik secara individual maupun publik, senantiasa
mendasarkkan satu hubungan pada suatu landasan hukum tertentu yag sangat dipengaruhi oleh sistem hukum tertentu.
Kita sebagai umat Islam dapat memberikan nilai Islam yang solutif dan alternatif dalam tata hubungan antar
manusia. Dengan begitu, hukum islam dapat menjadi salah satu pengarah dan penggerak kehidupan manusia, termasuk pada teori akad. Semua Akad pada kegiatan jual-beli sudah di atur dalam Fiqh muamalah.
Ikatan di sini tidak dibedakan apakah ia berbentuk fsik atau kiasan. Sedangkan menurut pengertian istilah, akad berarti ikatan antara ijab dan qobul yang
diselenggarakan menurut ketentuan syariah di mana terjadi konsekuensi hukum atas sesuatu yang karenanya akad
Pembahasan IV
Rukun dan Syarat Akad
Menurut 4 Madzab
Oleh:
Mohammad Shodiq
Muhamad Acahsin Arifudin
Rukun dan Syarat Akad
Menurut 4 Madzab
A. HUKUM JUAL BELI
Para ulama fkih mengambil suatu kesimpulan, bahwa jual beli itu hukumnya
mubah (boleh). Namun, menurut Imam Asy-Syatibi (ahli fkih Mazhab Imam maliki),
hukumnya bisa berubah menjadi wajib dalam situasi tertentu. Sebagai contoh
dikemukakannya, bila suatu waktu terjadi praktek ihtikar, yaitu penimbunan barang, sehingga persediaan (stok) hilang dari pasar dan harga melonjak naik.
Apabila terjadi praktek semacam itu, maka pemerintah boleh memaksa para pedagang menjual barang-barang sesuai dengan harga pasar sebelum terjadi
wajib memenuhi ketentuan pemerintah di dalam menentukan harga dipasaran.
Malahan disamping wajib menjual barang dagangannya, dapat juga dikenakan sanksi hukum, karena tindakan tersebut dapat merusak atau mengacaukan ekonomi rakyat.
B. RUKUN DAN SYARAT JUAL BELI
Rukun dan syarat akad menurut 4 madzab : Jual beli adalah merupakan suatu akad, dan dipandang sah apabila telah memenuhi
rukun dan syarat jual beli. Mengenai rukun dan syarat jual-beli, para ulama berbeda pendapat.
1. Menurut mazhab hanaf
sering tidak kelihatan maka diperlukan indikarot (warinah) yang menunjukkan kerelaan tersebut dari kedua belah pihak. Dapat dalam bentuk perkataan (ijab dan kabul) atau dalam bentuk perbuatan, yang saling memberi (penyerahan barang dan penerimaan uang).
Menurut jumhur ulama rukun jual-beli ada empat
a. Orang yang berakad (penjual dan pembeli) b. Sighat (lafal ijab dan kabul)
c. Ada barang yang dibeli
d. Ada nilai tukar pengganti barang
Menurut jumhur Ulama, bahwa orang syarat jual-beli sesuai dengan rukun jual-beli yang disebutkan diatas adalah sebagai berikut.
1. Syarat orang yang berakad
Ulama fkih sepakat, bahwa ada orang yang melakukan akad jual-beli harus memenuhi syarat:
a) Berakal.
Transaksi yang dilakukan anak kecil yang mumayyiz yang mengandung manfaat dan mudarat sekaligus, seperti jual-beli, sewa-menyewa dan perserikatan dagang,
dipandang sah menurut hukum dengan ketentuan bila walinya mengizinkan setelah dipertimbangkan dengan
sematang-matangnya.
b. orang yang melakukan akad itu, adalah orang yang berbeda maksudnya, seseorang tidak dapat bertindak sebagai pembeli dan penjual dalam waktu yang bersamaan. 2. Syarat yang terkait dengan ijab dan kabul. Ulama fkih menyatakan bahwa syarat ijab dan kabul ini adalah sebagai berikut :
menentukan syarat-syarat seperti telah dikemukan diatas.
b. Kabul sesuai dengan ijab. Contohnya : “Saya jual sepeda ini dengan harga sepuluh ribu”, pembeli menjawab: “saya beli dengan harga sepuluh ribu.”
c. Ijab dan Kabul dilakukan dalam satu majlis. Maksudnya kedua belah pihak yang melakukan akan jual beli hadir dan
membicarakan masalah yang sama. Apabila penjual mengucapkan ijab, lalu
pembeli beranjak sebelum mengucapkan kabul atau pembeli mengadakan aktiftas lain yang tidak ada kaitannya dengan akad jual-beli tersebut, kemudian sesudah itu dia
mengucapkan kabul, maka menurut
kesepakan ulama, fkih, jual-beli itu tidak sah, sekalipun mereka berpendirian, baha ijab tidak mesti dijawab langsung dengan kabul
2. Menurut mazhab Maliki
Mempunyai pandangan lain, bahwa ijab dan kabul boleh saja diantaranya oleh waktu, dengan perkiraan bahwa pihak pembeli mempunyai kesempatan untuk berpikir. Shighat.
Harus merupaan sesuatu yang dapat
menunjukkan ridha (saling setuju) dari pihak aqid, baik berupa perkataan atau isyarat dan tulisan. Madzhab Maliki memperbolehkan jual beli dengan cara mu’athah.
Aqid.
Syaratnya harus tamyiz (sudah dapat memahami pertanyaan dan mampu
menjawabnya). Dalam madzhab ini aqid tidak disyaratkan muslim walaupun barang yang dijual berupa mushaf.
Syaratnya harus suci, dapat diserahterimakan, teridentifkasi, tidak terlarang penjualannya, dan dapat diambil manfaatnya.
3. Menurut mazhab Syaf’i
Aqid (penjual dan pembeli). Syaratnya harus ithlaq al-tasharruf (memiliki kebebasan pembelanjaan), tidak ada paksaan, muslim (jika barang yang dijual semisal mushaf), bukan musuh (jika barang yang dijual alat perang).
Ma’qud ‘alaih (barang yang dijual dan alat pembelian)
Syaratnya harus suci, bermanfaat (menurut kriteria syariat), dapat diserahterimakan, dalam kekuasaan pelaku akad, dan
teridentifkasi oleh pelaku akad.
Syaratnya tidak diselingi oleh pembicaraan lain, tidak terdiam di tengah-tengah dalam waktu lama, terdapat kesesuaian antara pernyataan ijab dan qabulnya, tidak
digantungkan kepada sesuatu yang lain, dan tidak ada batasan masa.
Di kalangan madzhab Syaf’i jual beli dengan mu’athah (tanpa pernyataan ijab qabul) tidak sah, namun menurut ulama’ Syaf’iyah adalah sah untuk barang-barang di mana tanpa ijab qabul sudah dianggap sebagai jual beli atau untuk barang-barang dengan harga kecil.
4. Menurut mazhab Hambali
Aqid.
Syaratnya harus memiliki kepatutan
melakukan tasharruf, yaitu harus sempurna akalnya, baligh, mendapat izin, kehendak sendiri, dan tidak sedang tercegah
Ma’qud ‘alaih.
Syaratnya memiliki manfaat menurut syari’at, boleh dijual oleh pihak aqid, dimaklumi bagi kedua belah pihak yang melakukan akad dan bisa diserahterimakan, dan di samping semua itu harus tidak bersamaan dengan sesuatu yang menghalanginya, yaitu larangan syara’.
Ma’qud bih (Shighat).
Syaratnya harus berupa perkataan yang dapat menunjukkan persetujuan dan suka sama suka antara dua belah pihak. Tentang mu’athah, dalam madzhab Hambali terdapat tiga pendapat, yaitu membolehkan, tidak
membolehkan, dan membolehkan hanya pada barang yang berharga kecil.
madzhab Hanaf rukunnya hanya satu yaitu shighat (ijab dan qabul). Legal formal
terbangunnya jual beli ditentukan oleh syarat dan rukunnya. Namun dalam prakteknya juga harus berpijak pada asasnya yaitu Islam (baca: Asas dan Karakteristik Perdagangan dalam Islam). Sebab jika asasnya diabaikan, maka bisa menimbulkan hukum terlarang (haram) dan bahkan sampai merusak validitas akad jual beli itu sendiri.
Ulama Mazhab Syaf’I dan Mazhab Hambali berpendapat, bahwa jarak antara ijab dan kabul jangan terlalu lama, karena dapat menimbulkan dugaan bahwa objek pembicaraan jual-beli telah berubah.
Pada zaman sekarang ini, ijab dan kabul tidak lagi diucapkan, tetapi dilakukan dengan
dan pembeli menyerahkan uang dengan harga yang telah disepakati, seperti yang berlaku di toko swalayan dan toko-toko pada umumnya. Berbeda dengan jual-beli di sebagian
pedesaan masik kita lihat ada ijab dan kabul, karena transaksi akan jual-beli tidak begitu banyak. Lain halnya dengan di kota-kota, terutama di kota besar, ijab dan kabul sudah tidak terlihat lagi.
Syarat yang diperjualbelikan adalah sebagai berikut :
a) Barang itu ada, atau tidak ada ditempat, tetapi pihak penjual menyatakan
b) Dapat dimanfaatkan dan bermanfaat bagi manusia.
c) Milik seseorang
d) Dapat diserahkan pada saat akan berlangsung
C. Syarat nilai tukar harga barangt
Nilai tukar barang adalah termasuk unsur yang terpenting. Zaman sekarang
disebut uang. Berkaitan dengan nilai tukar ini, ulama fkih membedakan antara as-tsaman ( ) dan as-Si’r ( )
Menurut mereka, as-tsamn adalah modal barang yang seharusnya diterima para
Harga yang dapat dipermaikan para pedagang adalah as-tsamn,bukan as-Si’r. ulama fkih mengemukakan syarat as-tsamn sebagai berikut :
a) Harga yang disepakati kedua belah pihak harus jelas jumlahnya.
b) Dapat diserahkan pada saat waktu akan (transaksi), sekalipun secara hukum seperti pembayaran dengan cek atau kartu kredit. Apabila barang itu dibayar kemudian
(berhutang) maka waktu pembayarannya pun harus jelas waktunya.
c) Apabila jual beli itu dilakukan secara barter ( ) maka barang yang dijadikan nilai tukar,
bukan barang yang diharamkan syara’ seperti babi dan khamar, karena kedua jenis benda itu tidak bernilai dalam pandangan syara’.
Disamping syarat yang bekaitan dengan rukun jual-beli diatas, ulama fkih juga
a) Syarat sah jual beli
Ulama fkih menyatakan, bahwa suatu jual beli baru dianggap sah, apabila terpenuhi dua hal: (1) Jual beli itu terhindar dari cacat seperti
barang yang diperjualbelikan tidak jelas, baik jenis, kualitas maupun kuantitasnya. Begitu juga harga tidak jelas, jual beli itu mengandung unsur paksaan, penipuan dan syarat-syarat lain yang mengakibatkan jual-beli rusak.
(2) Apabila barang yang diperjualbelikan itu benda bergerak, maka barang itu langsung dikuasai pembeli dan harga dikuasai
penjual. Sedangkan barang yang tidak bergerak, dapat dikuasai penjual,
b) Syarat yang terkait dengan pelaksanaan jual-beli.
Jual beli baru dapat dilaksanakan apabila yang berakad tersebut mempunyai kekuasaan untuk melakukan jual-beli. Umpamanya, barang itu miliki sendiri (bukan milik orang lain atau hak yang terkait dengan barang itu).
c) Syarat yang terkait dengan kekuatan hukum akad jual beli
Ulama fkih sepakat menyatakan, bahwa suatu beli baru bersifat mengikat, apabila jual-beli itu terbebas dari segala macam : , yaitu hak pilih untuk meneruskan atau membatalkan jual-beli. Apabila jual-beli itu masih mempunyai hak (khiyar), maka jual beli itu belum mengikat dan masih dapat dibatalkan.
Untuk setiap kelalaian ada resiko yang harus dijamin oleh pihak yang lalai. Menurut ulama fkih, bentuk kelalain dalam jual beli, diantaranya :
a) Barang dijual itu, bukan milik penjual (barang titipan, jaminan hutang ditangan penjual, barang curian).
b) Sesuai perjanjian, barang tersebut harus diserahkan ke rumah pembeli pada waktu tertentu, tetapi ternyata barang tidak diantarkan dan tidak tepat waktu.
c) Barang tersebut rusak sebelum sampai ke tangan pembeli.
d) Barang tersebut tidak sesuai dengan contoh yang telah disepakati.
Kesimpulan :
Jual beli adalah suatu perjanjian yang
dilakukan oleh kedua belah pihak dengan cara suka rela sehingga keduanya dapat saling menguntungkan, maka akan terjadilah
Pembahasan V
Dampak dan Pembagian
Akad Dalam Islam
Oleh:
Dampak dan Pembagian
Akad Dalam Islam
A. Dampak Akad dalam Islam
Menurut para ulama fqh, setiap akad mempunyai akibat hukum, yaitu tercapainya sasaran yang ingin dicapai sejak semula, seperti pemindahan hak milik dari pejual kepada pembeli dan akad itu bersifat mengikat bagi pihak-pihak yang berakad tidak boleh dibatalkan kecuali disebabkan hal-hal yang dibenarkan syara, seperti terdapat cacat pada onjek akad atau akad itu tidak memenuhi salah satu rukun atau syarat akad.
Setelah kedua belah pihak menyatakan
kedua belah pihak yang menunjukkan kerelaan keduanya untuk melakukan akad tersebut. Berikut merupakan pengertian yang dikutip oleh Wahbah Zuhaili merupakan kesepakatan dua kehendak untuk menimbulkan akibat-akibat hukum, baik menimbulkan kewajiban, memindahkannya, mengalihkan maupun menghentikannya.
Contoh menimbulkan iltizam seperti akad jual beli dan ijarah, memindahkannya seperti akad hiwalah, mengalihkannya sperti angsuran utang dan menghentikannya seperti membebaskan utang dan mem-fasakh ijarah sebelum habis masa sewanya.
Setiap akad memiliki dua dampak, yaitu umum dan khusus.
upah, hibah, wakaf. Untuk akad jual beli, tujuan akadnya adalah pindahnya kepemilikan barang kepada pembeli dengan adanya penyerahan harga jual. Dalam akad ijarah (sewa-menyewa), tujuannya adalah pemindahan kepemilikan nilai manfaat barang dengan adanya upah sewa
2. Dampak Umum, segala sesuatu yang mengiringi setiap atau sebagian besar akad, baik dari segi hukum maupun hasil.
B. Pembagian Akad
Para ulama fqh telah mengklasifkasikan jenis-jenis akad yang ditinjau dari berbagai segi, antara lain:
1. Dari segi keabsahannya menurut syara’, maka akad dibagi menjadi dua:
a. Akad shahih
Adalah akad yang telah memenuhi rukun dan syarat yang telah ditetapkan oleh syariat.Hukum dari akad shahih ini adalah berlaku seluruh akibat hukum yang ditimbulkan akad itu dan mengikat bagi pihak-pihak yang berakad. Sebagai contoh, jual beli yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki ahliyatul ada’ yang sempurna menimbulkan akibat hukum berupa tetapnya hak milik atas barang yang dijual bagi pembeli dan uang harga barang bagi penjual
Akad shahih menurut ulama Hanaf dan Maliki terbagi menjadi dua macam, yaitu:
1t Akad nafiz (sempurna untuk dilaksanakan),
Yaitu akad yang dilangsungkan dengan memenuhi rukun dan syaratnya dan tidak
ada penghalang untuk melaksanakannnya. Hukum akad semacam ini menimbulkan akibat-akibat hukum secara langsung tanpa menunggu persetujuan orang lain.
Misalnya, para pihak yang berakad memenuhi syarat kecakapan untuk melakukan akad jual beli terhadap objek tertentu hukumnya sah, setelah terjadi kesepakatan.
Akad Nafdz terbagi kepada dua bagian : Akad Lazim
Adalah suatu akad yang tidak bisa dibatalkan oleh salah satu pihak tanpa persetujuan pihak lain seperti jual beli dan
ijarah (sewa-menyewa). Dasar hukum akad lazim adalah Q.S Al-Maidah:1
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah akad-akad itu.
Sifat luzum (terikat) menurut Hanafah dan Malikiyah timbul dengan selesainya akad (ijab dan qabul). Akan tetapi menurut syaf’iyah dan Hanabilah akad tersebut belum mengikat kcuali setelah para pihak yang melaukan akad berpisah secara fsik, atau mereka melakukan khiyar dan kemudian memilih akad dilanjutkan.
Akad Ghairu Lazim
Adalah suatu akad yang bisa dibatalkan oleh salah satu pihak tanpa memerlukan persetujua dari pihak yang lain. Kondisi ini terjadi karena watak akadnya itu sendiri seperti akad wakalah dan I’arah (pinjaman).
2) Akad mauquf
Yaitu akad yang dilakukan seseorang yang cakap bertindak hukum, tetapi ia
tidak memiliki kekuasaan untuk melangsungkan dan melaksanakan akad itu. Contohnya seperti akad fudhuli, atau akad yang dilakukan oleh anak mummayiz dalam akad yang spekulatif (mungkin menguntungkan, mungkin merugikan). Hukumnya adalah akad semacam ini tidak menimbulkan akibat hukum kecuali apabila disetujui oleh orang-orang berkepentngan, apabila tidak disetujui hukumnya batal.
Misalnya, Ahmad memberi uang sebesar Rp 1.000.000 kepada Mahmud untuk membeli seekor kambing. Ternyata di tempat penjual kambing, jumlah uang tersebut dapat membeli dua ekor kambing, sehingga Mahmud membeli dua ekor kambing. Keabsahan akad jual beli dua ekor kambing ini amat bergantung kepada persetujuan karena Mahmud diperintahkan hanya membeli seekor kambing. Apabila Ahmad menyetujui akad
yang telah dilakukan Mahmud, maka jual beli itu menjadi sah. Jika tidak disetujui Ahmad, maka jual beli tersebut tidak sah. Akan tetapi, ulama Syaf’i dan Hambali menganggap jual beli mauquf ini sebagai jual beli yang batil.
Dalam fqh, akad diatas biasa disebut dengan al-‘aqad al-fudhuli, yaitu akad yang keabsahannya berlaku bila telah telah mendapat persetujuan dari pemilik aslinya (yang mewakili).
b. Akad Ghairu Shahih
Akad yang rukun dan syarat-syaratnya tidak terpenuhi, sehingga seluruh akibat hukum akad itu tidak tidak berlaku dan tidak mengikat pihak-pihak yang berakad. Misalnya jual beli yang dilakukan oleh anak dibawah umur, atu jual beli babi dan minuman kerasUlama Hanaf membagi
akad ghairu shahih itu menjadi dua macam, yaitu:
1). Akad batil yaitu akad yang tidak memenuhi salah satu rukunnya atau ada larangan langsung dari syara’. Oleh karena itu hukum akad batil adalah tidak sah dan tidak menimbulka akibat hukum sama sekali, yakni tidak ada hak dan kewajiban yang harus dipenuhi oleh para pihak yang melakukan akad, contohnya jual bel yang dilakukan oleh orang gila. Misalnya, objek jusl beli itu tidak jelas atau terdapat unsur tipuan (gharar), seperti menjual ikan dalam lautan atau salah satu pihak tidak cakap bertindak hukum.
2). Akad fasid adalah akad yang pada dasarnya disyariatkan, tetapi sifat yang diakadkan itu tidak jelas. Hukum dari akad fasid adalah fasakh (dibatalkan).