Nama : Eka Prasetya NPM : 1506703356 Maku
l
: Politik Lokal
Dosen : Dr. Isbodroini Suyanto, MA
Komparasi Paradigma Desentralisasi dan Otonomi Desa di Era Orde Baru dan Era Reformasi
Abstraksi
Desa merupakan unit pemerintahan yang muncul dan berkembang secara alami jauh sebelum adanya konsepsi tentang negara-bangsa, bahkan sebelum munculnya negara kolonial yang menjajah bumi nusantara. Sejak dahulu desa telah memiliki otonomi karena pola masyarakatnya yang cenderung swadaya. Namun, saat kekuasaan supra-desa kemudian muncul dan menuntut ketundukan otoritas, maka desa pun kehilangan otonominya. Makalah ini akan menguraikan bagaimana komparasi desentralisasi dan otonomi desa terkait determinasinya terhadap paradigma pembangunan selama era Orde Baru dan selama era Reformasi saat ini.
Kata Kunci: Desa, Otonomi dan Desentralisasi, Paradigma Pembangunan
I. Latar Belakang
Penduduk, sistem sosial, dan pemerintahan desa selalu menarik untuk dikaji oleh para pakar dalam forum-forum ilmiah. Desa disakralkan oleh sebagian antropolog dan sosiolog, diproyeksikan oleh para pengambil kebijakan, dipolitisasi oleh partai politik dan pemegang kekuasaan, dikeruk kekayaan sumber daya alamnya oleh para pemilik modal, serta dicintai oleh para penduduknya karena memberikan ketentraman. Desa di Indonesia dalam sejarahnya yang sangat panjang, mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang dinamis dan lentur. Saat pemerintahan nasional terbentuk, desa senantiasa mengalami perubahan posisi dan status dari masa ke masa. Setiap rezim memiliki pandangan yang berbeda terakit bagaimana harusnya desentralisasi dan otonomi desa itu diterapkan.
Tercatat pasca reformasi saat ini terdapat 74.093 desa atau terjadi peningkatan dari 59.834 pada akhir Orde Baru.1 Indonesia sebagai negara kepulauan dengan tingkat
1 Badan Pusat Statistik, Jumlah Desa berdasarkan Provinsi. diperoleh dari www.bps.go.id,
keragaman multikultural yang sangat besar juga membuat beragamnya konsepsi tentang masyarakat hukum adat yang kemudian disebut secara umum sebagai desa. Namun di berbagai daerah, terdapat beragam penyebutan desa yang kemudian hilang secara sistematis pada era pemerintahan Orde Baru karena paradigma kebijakan pembangunan yang tersentralisir. Kini, di saat paradigma pembangunan dan desentralisasi kembali mengarah pada nilai-nilai demokrasi yang menghendaki adanya skema pembangunan yang berasal dari partisipasi dan inisiatif dari warga masyarakat sendiri, maka otonomi desa dikembalikan seperti sediakala.
II. Perumusan Masalah
Sejak awal, desa telah mampu mengembangkan diri dengan kelembagaan yang lengkap di bidang politik, ekonomi, sosial, budaya, bahkan pertahanan dan keamanan untuk memenuhi kebutuhannya secara mandri. Desa mulai kehilangan otonominya ketika otoritas yang lebih besar hadir otoritas yang lebih besar di luar dirinya. Pada masa kerajaan-kerajaan Nusantara, desa hanya diminta mengakui otoritas tersebut dengan tetap menjalankan otonomi sepenuhnya. Akan tetapi ketika penguasa lalu memperluas pengaruhnya dengan memperluas cakupan geografisnya, maka desa-desa yang masuk dalam lingkaran inti kekuasaan (Negaraagung) dipaksa untuk mau mengubah diri menjadi bagian langsung dari kerajaan. Ini merupakan awal mula intervensi kekuatan luar terhadap otonomi desa. Berlanjut setelahnya, pada masa penjajahan bangsa-bangsa asing di kepulauan Nusantara, desa dijadikan objek eksploitasi penguasa dan kaum kapitalis. Tak jarang pada era ini, penduduk desa mengalami masa-masa yang berat karena dipaksa untuk memenuhi kepentingan ekonomi pemerintah kolonial yang tak memandang belas kasih.
menjadi perpanjangan tangan kekuasaan pusat sehingga desa menjadi sangat bergantung (dependency) kepada pemerintah pusat.
Tumbangnya Orde Baru pada 1998 menjadi angin segar bagi penguatan otonomi desa kembali. Melalui amandemen Undang-Undang Dasar 1945, negara mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang. Dengan demikian, desa kembali mendapat pengakuan dengan diberikannya hak otonomi dalam pengelolaan yang bersifat demokratis. Kepala Desa beserta perangkatnya mendapatkan peran yang besar dalam pengendalian pemerintahan di Desa sehingga tidak lagi berada di bawah Kecamatan seperti pada saat Orde Baru, dimana desa hanya menjalankan tugas perbantuan yang diminta oleh pusat sehingga mematikan inisiatif dan kreativitas desa untuk berkembang secara mandiri.
Makalah ini secara ringkas akan mencoba untuk mengkomparasikan paradigma desentralisasi desa dalam kaitannya dengan paradigma pembangunan yang dianut oleh rezim berkuasa pada era Orde Baru dengan masa Reformasi saat ini. Tulisan ini hendak menerangkan bagaimana pengaruh paradigma pembangunan yang dianut mempengaruhi cara pandang rezim dalam mengelola kekuasaan pemerintahan lokal, termasuk pemerintahan desa.
III. Pertanyaan Penelitian
Bagaimana paradigma pembangunan dan konsepsi desentralisasi desa yang dipraktikkan pada era pemerintahan Orde Baru dibandingkan dengan era Reformasi saat ini?
IV. Kerangka Teori
Teori Modernisasi dan Tesis Pembangunan Ekonomi
Dalam teori modernisasi, digambarkan bahwa terdapat beberapa fase sejarah yang harus dilalui oleh sebuah negara agar dapat disebut modern. Modernisasi pertama kali berlangsung di Barat melalui proses kembar komersialisasi dan industrialisasi. Akibat-akibat sosial dari proses ini dapat dilihat dalam tumbuhnya alat-alat pinjaman dan fiskal, kebutuhan untuk mendukung tentara modern, penerapan teknologi di dalam situasi pasar yang kompetitif, dan pengaruh perdagangan serta pelayaran dengan semangat ilmiah.2 Dari paradigma modernisasi ini tergambar dengan jelas betapa pola dasar pemikiran mengenai pembangunan itu Barat sentris. Negara-negara yang kurang berkembang di sini maksudnya ialah negara-negara yang baru merdeka yang terdapat di Asia, Amerika Latin, dan Afrika, dan untuk bisa tumbuh maka mereka akan meniru contoh yang sudah berdiri.
Teori-teori Modernisasi dan variannya banyak diungkapkan oleh para ahli, dua diantaranya oleh Rostow dan Samuel P. Huntington. Rostow dalam The Stage of Economic Growth mengatakan bahwa terdapat 5 tahapan pembangunan ekonomi. Secara ringkas, dimulai dari masyarakat tradisional, kemudian pra kondisi tinggal landas, diikuti dengan tahapan tinggal landas, dan akemudian akan mencapai tahap kematangan pertumbuhan, dan terakhir akan mencapai masyarakat dengan konsumsi massa tinggi.3 Sedangkan Samuel P. Huntington melalui konsep Grand Process of Modernization juga memahami modernisasi sebagai suatu hal yang kompleks, sistemik, global, panjang, bertahap, mengarah kepada homogenisasi, irreversible, dan proses progresif yang mengubah masyarakat dari tradisional ke modern.4 Dengan modernisasi akan terbentuk berbagai masyarakat dengan tendensi dan struktur serupa. Model modernisasi menjanjikan bahwa semakin modern tahapan yang telah dilalui, maka semakin serupa bentuk dan karakteristik berbagai masyarakat yang terlibat dalam perubahan sosial.
Untuk melihat hipotesis pembangunan ekonomi yang menghasilkan demokrasi, dan menjawab mengapa ‘mitos’ pembangunan terlebih dahulu dan setelah itu baru demokrasi, nama Seymour Martin Lipset tak dapat dilepaskan. Dalam esainya yang berjudul Some Social Requisites of Democracy, Lipset membahas hubungan ‘spesial’ yang terjadi antara pembangunan ekonomi dengan demokrasi. Lipset mengatakan bahwa pembangunan ekonomi adalah prasyarat bagi sebuah negara untuk bisa memelihara berjalanya fungsi-fungsi
2 David E Apter, 1965, The Politics of Modernization, diterjemahkan oleh Hermawanto
Sulistyo dan Wardah hafdd, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama, hal. 46
3 Suwarsono dan Alvin Y. So, 1994, Perubahan Sosial dan Pembangunan, Jakarta : LP3S,
hal. 17
4 Samuel P. Huntington, 1971, Modernization Development and Politics : in From
demokrasi. Mendasari argumennya dengan data-data dan korelasi yang positif antara pembangunan ekonomi dengan pembangunan politik, atau demokratisasi, Lipset mempunyai penjelasan yang multi-tiered mengapa pembangunan ekonomi itu penting untuk demokrasi.5
Dari tesis Lipset, dapat dirumuskan alur hubungan pembangunan ekonomi yang menghasilkan demokrasi sebagai berikut :
Teori Desentralisasi
Desentralisasi merupakan sebuah konsep yang mengisyaratkan adanya pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah ditingkat bawah untuk mengurus wilayahnya sendiri. Desentralisasi bertujuan agar pemerintah dapat lebih meningkatkan efisiensi serta efektifitas fungsi-fungsi pelayanannya kepada seluruh lapisan masyarakat. Artinya desentralisasi menunjukkan sebuah bangunan vertikal dari bentuk kekuasaan negara. Otonomi daerah pada dasarnya adalah hak, wewenang, dan kewajiban daerah untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Hak tersebut diperoleh melalui penyerahan urusan pemerintahan, dari pusat ke daerah sesuai dengan keadaan dan kemampuan daerah yang bersangkutan.6
Rondinelli, D.A dan Cheema G.S membagi desentralisasi ke dalam 4 bentuk:7
Dekonsentrasi: redistribusi atau kelimpahan kewenangan keuangan dan manajemen ke daerah dan dikoordinir oleh Kepala Daerah sebagai wakil dari pusat. Devolusi: penyerahan kekuasaan atau kewenangan untuk mengambil keputusan atau menetapkan kebijakan kepada lembaga-lembaga independen atau kuasi otonom di daerah. Biasanya kepada daerah otonom yang mempunyai lembaga legislatif. Daerah memiliki kewenangan untuk membuat kebijakan dalam mengelola kekayaan daerahnya. Delegasi: pengalihan sebagian kewenangan dan tanggung jawab pengambilan keputusan serta fungsi-fungsi administrasi publik kepada lembaga-lembaga otonom atau semi otonom di luar struktur organisasi birokrasi regular. Daerah mempunyai kebebasan meskipun wewenang terakhir tetap ada di pusat. Transfer
5 Peter Johannessen, tanpa tahun, Beyond Modernization Theory: Democracy and
Development in Latin America, hal. 8
6 Djohermansyah Djohan, 1990, Problematik Pemerintahan dan Politik Lokal, Cetakan I
(Jakarta Bumi Aksara), hal. 52
7 Rondinelli, D.A dan Cheema G.S, 1983, Decentralization and Development: Policy
Fungsi: pusat menyerahkan fungsi-fungsi publik ke institusi non pemerintah seperti kepada industri nasional, organisasi professional, organisasi kemasyarakatan seperti masjid, gereja, partai politik, koperasi-koperasi dan lainnya. Hak yang diberikan berupa izin, peraturan, dimana pemerintah telah melakukan pengontrolan pada lembaga-lembaga tersebut. Desentralisasi ini dapat juga disebut sebagai swastanisasi.
V. Pembahasan
Pemerintahan Desa pada awal kemerdekaan Indonesia sesungguhnya telah memiliki otonomi yang luas dan diakui oleh para founding fathers kita sebagai tatanan politik yang asli dikembangkan oleh bangsa Indonesia sendiri. Hal ini misalnya tercermin dalam pikiran Mohammad Yamin dan Soepomo yang memiliki gagasan untuk memajukan desa dengan cara rasional dan modern. Gagasan tersebut disampaikan dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) sebelum proklamasi kemerdekaan. Kedua tokoh ini menggagas bahwa pemerintahan di alam Indonesia merdeka akan disusun dalam tiga tingkatan: 1) pemerintahan kaki yaitu desa; 2) pemerintahan tengah yaitu pemerintahan daerah; 3) pemerintahan atas sebagai pemerintahan pusat.8
Gagasan ini mengandung maksud bahwa pemerintahan Indonesia merdeka mesti berpijak pada kaki yang kokoh, yaitu desa yang merupakan bentukan bangsa Indonesia sendiri dengan susunan yang masih asli. Desa akan dirasionalkan dan dimodrenisasikan dengan menariknya ke dalam sistem pemerintahan resmi, bukan tetap membiarkannya di luar seperti terjadi pada masa penjajahan. Karena mempunyai susunan asli, desa akan diberi status sebagai daerah istimewa, sama halnya dengan daerah-daerah swapraja yang juga mempunyai susunan asli dan khas hasil pengembangan bangsa Indonesia sendiri. Gagasan tersebut juga dilontarkan oleh Wakil Presiden Moch. Hatta pada Konggres Pamong Praja di Solo Tahun 1955, yang dikenal sebagai konsepsi Hatta tentang otonomi.9 Hatta mengatakan bahwa sebaik-baik otonomi apabila diletakkan pada kabupaten, kota, serta desa, sedangkan provinsi bersifat administratif belaka. Pemikiran Hatta untuk memperkuat desa tidak lepas dari kenyataan bahwa desa pada masa itu merupakan tempat kehidupan dan penghidupan masyarakat. Dengan memperkuat desa berarti mendekatkan pelayanan pemerintah pada unit terdekat dengan masyarakat.10
8 Hanif Nurcholis, 2011, Pertumbuhan dan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, Jakarta:
Penerbit Erlangga, hal. 32
Gagasan untuk menjadikan desa otonom sebenarnya juga tercermin dalam konstitusi awal kita, yakni Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 18. Akan tetapi, ketika gagasan tersebut dijabarkan dalam undang-undang organik, terjadi ketidaktaatasasan dalam hal landasan pokok pikirannya. Pada periode 1945-1965, desa rencananya dijadikan pemerintahan daerah istimewa dengan pelimpahan kewenangan formal. Akan tetapi pengaturan tersebut tidak dapat berjalan karena situasi politik dan keamanan yang tidak mendukung. Pada masa itu desa disebut sebagai Desapraja sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1965 tentang Desapraja Sebagai Bentuk Peralihan Untuk Mempercepat Terwujudnya Daerah Tingkat III di Seluruh Wilayah Republik Indonesia dan sebelumnya telah menjadi nomenklatur yang tertera pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948.
Pada Undang-Undang tersebut, desa disebut sebagai, “kesatuan masyarakat hukum yang tertentu batas-batas daerahnya, berhak mengurus rumah tangga sendiri, memilih penguasanya, dan mempunyai harta benda sendiri.”11 Pengertian Desapraja ini merupakan defenisi yang telah dijabarkan sebelumnya dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Penetapan Aturan-Aturan Pokok Mengenai Pemerintahan Sendiri di Daerah-Daerah Yang Berhak Mengatur Dan Mengurus Rumah Tangganya Sendiri. Dalam UU Nomor 22 Tahun 1948 ini pemberian hak mengatur rumah tangga sendiri lebih tegas, sebagaimana di atur dalam pasal 34, secara organisatoris Desapraja didukung oleh alat kelengkapan yang diatur dalam pasal 7 sebagaimana berbunyi "alat-alat Desapraja terdiri atas kepala Desapraja, Badan Musyawarah Desapraja, Petugas Desapraja, Pamong Desaparaja, Panitera Desapraja dan Badan Pertimbangan Desapraja.”12
Desa Pada Era Orde Baru
Belum lama asas desentralisasi dan otonomi desa berjalan dengan efektif pada rezim Demokrasi Terpimpin, serangkaian peristiwa politik 1965 kemudian memunculkan Orde Baru yang memiliki paradigma pembangunan yang berbeda dengan Orde Lama. Rezim Orde Baru mengeluarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah yang memuat asas dekonsentrasi pemerintahan pusat di daerah, dimana posisi desa tidak disebutkan secara jelas. Kondisi ini praktis menyebabkan kevakuman dasar hukum atas desa, hingga pada tahun 1979 pemerintah mengeluarkan
11 Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1965 Tentang Desapraja Sebagai Bentuk Peralihan
Untuk Mempercapat Terwujudnya daerah Tingkat III di Seluruh Indonesia, Pasal 1.
12 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Penetapan Aturan-Aturan Pokok
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa yang kemudian menempatkan desa sebagai bagian dari organisasi pemerintahan terendah yang berkedudukan langsung di bawah Kecamatan. Akibatnya, hak otonom desa dalam menyelenggarakan pemerintahannya secara demokratis cenderung hilang.
Pada tahun 1980, Pemerintahan Orde Baru mengeluarkan instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 1980 sebagai nomenklatur pelaksanaan UU Nomor 5 Tahun 1979 yang memerintahkan kepada Gubernur Daerah Tingkat I di seluruh Indonesia agar melaksanakan semua ketentuan yang tercantum dalam UU Nomor 5 Tahun 1979 yang berpedoman pada instruksi tersebut. Setahun setelahnya, ditetapkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 1981 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Pemerintah Desa dan Perangkat Desa. Struktur pemerintahan Desa pada era Orde Baru terdiri atas Kepala Desa dan Lembaga Musyawarah Desa. Dalam Menjalankan tugasnya Kepala Desa dibantu oleh perangkat desa yang terdiri atas unsur staf dan unsur pelaksana yakni, Sekretariat Desa sebagai unsur staf dan Kepala Dusun sebagai unsur pelaksana.
Paradigma Orde Baru berangkat dari kondisi pada era sebelumnya dimana kebebasan politik warga negara yang ditonjolkan berujung kegaduhan yang menyebabkan instabilitas politik dan terhambatnya pembangunan. Belajar dari kenyataan tersebut, pemerintah Orde Baru menerapkan strategi menciptakan stabilitas politik untuk memacu pertumbuhan ekonomi. Untuk mencapai efektivitas penerapan strategi menciptakan stabilitas ini, maka kontrol negara harus diperluas dan diperkuat hingga ke pemerintahan kaki di daerah untuk menundukkan kekuasaan-kekuasaan lain di daerah sehingga tunduk dan tersentralisasi pada otoritas pusat. Asas desentralisasi kemudian diganti dengan asas dekonsentrasi yang meniadakan hak otonomi daerah, termasuk desa. Dengan demikian Orde Baru menjadikan desa yang semula berproses melalui pendekatan politik yang dinamis berubah menjadi birokratis. Akibatnya desa menjadi sangat tergantung (dependency) terhadap pusat.
Konsekuensi logis dari tersentralisasinya kekuasaan politik ke pusat ialah munculnya penyeragaman (political uniform) dan hancurnya model demokrasi desa yang sesungguhnya telah muncul secara alami dalam kultur masyarakat hukum adat tradisional.13 Soeharto menyeragamkan desa sesuai dengan model yang ada di Pulau Jawa yang cenderung menganut prinsip-prinsip feodal, padahal banyak desa di luar Pulau Jawa yang menganut tradisi yang cenderung egalitarian dalam proses pengambilan keputusan bersama (musyawarah untuk mufakat). Sehingga kebijakan penataan desa pada Orde Baru inilah yang 13 Sakinah Nadir, Otonomi Daerah dan Desentralisasi Desa, Jurnal Politik Profetik Vol.1
kemudian secara struktural dipandang menghancurkan institusi-institusi desa yang sesungguhnya memiliki keragaman kearifan lokal. Institusi politik desa yang sebelumnya kuat berubah menjadi lembaga-lembaga seperti Koperasi Unit Desa. Institusi tersebut bukan saja berfungsi untuk melakukan monopoli hasil-hasil pertanian di desa, tetapi juga menggeser tradisi pertanian tradisional (barter) menjadi pertanian modern. Struktur elit desa (tuan tanah) berubah menjadi elit baru (birokrasi desa) yang loyal terhadap pusat.
Kooptasi negara terhadap kelembagaan birokrasi negara juga berdampak sampai ke desa. Di seluruh pelosok Indonesia, negara menggunakan pendekatan top down sehingga cenderung menyamaratakan atau malah menghilangkan identitas desa sebagaimana yang dikenal sebelumnya. Orde Baru mengamputasi saluran politik masyarakat sehingga mengalami kemandekan, perangkat desa yang merupakan nirokrat adalah Golongan Karya (Golkar), sementara partai politik (PDI dan PPP) tidak diperbolehkan sampai pada masyarakat desa. Dampaknya, masyarakat cenderung manjadi apolitis dalam memperjuangkan kepentingannya. Lembaga-lembaga masyarakat desa seperti Lembaga Masyarakat Desa (LMD) dan bahkan organisasi untuk kepentingan petani desa seperti forum tani dan lain-lain, lebih banyak dipengaruhi oleh peran birokrasi di tingkat atas ketimbang inisiatif dari masyarakat desa berdasarkan musyawarah untuk mufakat. Karena itulah posisi masyarakat desa menjadi dependent society bukan independent society, dimana peran negara melalui Kepala Desa begitu sentral dalam memobilisasi masyarakat.
Perubahan Fundamental Pasca Reformasi
Berakhirnya rezim Orde Baru mengubah kembali paradigma tata kelola pemerintahan daerah, termasuk desa, seiring dengan mencuatnya lagi konsepsi demokrasi yang dalam wujud praktis diterjemahkan dalam semangat desentralisasi dan otonomi daerah. Melalui UUD 1945 hasil amandemen Pasal 18B ayat 2 yang berbunyi, “negara mengakui kesatuan-kesatuan masyarakat hukum adat beserta hak-hak tradisionalnya sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip NKRI yang diatur dalam undang-undang.” Klausul mengenai desa juga telah dimunculkan sebelumnya, yakni melalui Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah serta Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daaerah.
mengatur dan mengurus dirinya sendiri juga berhak membuat aturannya sendiri. Hanya saja otonomi desa bukan otonomi formal tetapi otonomi adat. Jadi kehadiran UU tersebut meskipun telah mengembalikan hak-hak otonomi desa yang selama ini berada di bawah kecamatan, tetapi ia masih belum begitu kongkret dalam pembagian hak dan wewenang. Namun untuk sementara waktu, implementasi UU tersebut membuat desa bisa dengan leluasa mengatur dirinya sendiri dalam urusan asal-usul dan adat istiadat.
Salah satu perubahan mendasar dalam susunan perangkat desa pada era reformasi ialah munculnya Badan Perwakilan Desa (BPD) menggantikan Lembaga Musyawarah Desa (LMD) pada masa Orde Baru. Perubahan substansial dari pergantian nama BPD ke LMD sesungguhnya terletak pada semangat untuk menghidupkan kembali inisiatif warga desa dalam melibatkan diri dalam proses perumusan kebijakan politik desa, termasuk dalam suksesi kepala desa secara demokratis. Meskipun pada era Orde Baru jabatan Kepala Desa dipilih secara langsung oleh masyarakat, akan tetapi pemerintah pusat selalu memiliki campur tangan untuk mempengaruhi hasil pemilihan agar kepala desa terpilih memiliki agenda yang selaras dengan kepentingan pusat.
Lima tahun setelah UU pertama tentang Pemerintahan Daerah era reformasi diterbitkan, barulah pemerintah mengesahkan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah yang baru. Sayangnya, pada UU tersebut desa kembali diartikan sebagai saluran birokrasi dan administrasi kewenangan negara di bawah kabupaten atau kota. Dengan demikian desa kembali menjadi perpanjangan tangan kebijakan-kebijakan pemerintah. Namun klausul tersebut diimbangi dengan kewenangan desa lainnya, yakni desa memiliki hak untuk menolak Pelaksanaan Tugas Perbantuan bagi tugas yang tidak disertai dengan pembiayaan, sarana dan prasarana serta SDM.14
59,2 triliun) yang dialokasikan dari dan luar transfer ke daerah, dan 10 persen dari APBD Kabupaten/Kota.
Dari sisi kesejahteraan aparatur desa, UU Desa terbaru menjamin ketetapan penghasilan, tunjangan, serta fasilitas jaminan kesehatan yang diterima oleh Kepala Desa beserta Perangkat Desa lainnya.16 Hal ini menjadi angin segar untuk meningkatkan profesionalisme kerja aparatur desa, sehingga bisa melayani masyarakat lebih baik lagi. Selain itu, UU Desa juga mengamanatkan adanya pembagian kewenangan tambahan dari pemerintah daerah yang merupakan kewenangan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, yaitu peluang desa untuk mengatur penerimaan yang merupakan pendapatan desa.17 Pendapatan desa bersumber dari pendapatan asli desa atas usaha, hasil aset, swadaya, dan partisipasi, gotong royong, dan lain-lain; alokasi APBN; bagian dari hasil pajak daerah dan retribusi Kabupaten/Kota; alokasi dana desa yang merupakan dana perimbangan yang diterima Kabupaten/Kota; bantuan keuangan dari APBD Provinsi dan APBD Kabupaten/Kota; serta pendapatan desa lainnya yang sah.18
Di dalam UU Desa juga termuat klausul tentang penambahan masa jabatan Kepala Desa, serta penambahan kewenangan BPD. Berbeda dengan UU Nomor 32 Tahun 2004 yang mengatur masa jabatan Kepala Desa hanya 2 (dua) kali, dalam UU Desa terbaru masa jabatan Kepala Desa adalah 6 tahun dan dapat menjabat paling banyak 3 (tiga) kali masa jabatan secara berturut-turut ataupun tidak secara berturut-turut.19 Demikian pula masa jabatan anggota BPD yang dapat menjabat 3 (tiga) kali baik secara berturut-turut, maupun tidak berturut-turut. Adapun penambahan kewenangan BPD dalam UU Desa terbaru ialah mampu melakukan pengawasan terhadap kinerja Kepala Desa,20 suatu kewenangan yang belum pernah dimiliki oleh BPD sebelumnya, sehingga memungkinnya memiliki hak dan wewenang layaknya lembaga legislatif pada tingkat desa.
VI. Kesimpulan
Paradigma otonomi dan desentralisasi desa pada era Orde Baru menempatkan desa sebagai unit pemerintahan terendah di bawah Kecamatan. Institusi-institusi desa yang swadaya dan mendapatkan pengakuan otonom semasa rezim Orde Lama kemudian dikooptasi melalu serangkaian kebijakan korporatisme negara. Cengkraman kekuasaan pusat
begitu besar dengan skema kebijakan top down, sehingga menghilangkan basis demokrasi di tingkat masyarakat desa. Perangkat desa beralih menjadi bagian dari birokrat negara yang merupakan perpanjangan tangan kekuasaan pusat di desa. Penyeragaman entitas desa sesuai dengan kultur masyarakat feodalistik, sehingga menghancurkan institusi desa yang organic. Semua itu dilakukan pusat dalam rangka mengefisienkan birokrasi desa agar sejalan dengan agenda dan kepentingan pembangunan yang dirancang oleh pemrintah pusat.
Disini terlihat bahwa pemerintah Orde Baru memandang pembangunan ekonomi adalah lebih penting sebelum mencapai suatu masyarakat yang secara politis demokratis. Pengaruh paradigma teori pembangunan dan modernisasi yang dianut oleh sebagian besar elit politik dan para pengambil kebijakan Orde Baru sangat terlihat di sini. Oleh karena prioritas untuk memicu pertumbuhan ekonomi, pemerintah menata ulang pemerintahan daerah agar sejalan dengan kepentingan dan agenda pusat. Anehnya, paham ini belakangan tetap diteruskan oleh sebagian elit Indonesia di era reformasi. Mantan Wakil Presiden, Boediono misalnya dalam acara pengukuhan guru besar yang diterimanya dari kampus UGM pernah menyampaikan pernyataan bahwa demokrasi dapat bersemai dengan baik apabila GDP per kapita Indonesia telah mencapai 6.600 dollar AS.21
Paradigma pembangunan dengan semangat untuk mengembalikan demokrasi di tingkat lokal sangat mempengaruhi bagaimana desa ditempatkan pada era reformasi ini. Jika pada awal reformasi euforia kebebasan dan konsepsi desentralisasi kekuasaan yang begitu menonjol membuat beleid tentang desa cenderung bebas dari otoritas kecamatan, namun terkesan tidak memiliki bentuk yang kongkret dalam implementasi, maka melalui UU yang diterbitkan setelahnya (khususnya UU Desa terakhir), semangat yang mengemuka ialah bagaiman menata desa dengan menjamin otonomi desa itu dalam sebuah kewenangan formal, berikut dengan berbagai peningkatan stimulus dari pemerintah pusat. Besarnya dana yang digelontorkan pusat untuk kepentingan agenda pembangunan desa misalnya, merupakan hal yang sangat penting untuk menjamin pemerataan pembangunan masyarakat sehingga tidak hanya terkonsentrasi di wilayah perkotaan, serta menjamin peningkatan kualitas pelayanan.
VII. Sumber Referensi
Badan Pusat Statistik, Jumlah Desa berdasarkan Provinsi. diperoleh dari www.bps.go.id
21
David E Apter, 1965, The Politics of Modernization, diterjemahkan oleh Hermawanto Sulistyo dan Wardah hafidz, Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama
Djohermansyah Djohan, 1990, Problematik Pemerintahan dan Politik Lokal, Cetakan I (Jakarta Bumi Aksara)
Hanif Nurcholis, 2011, Pertumbuhan dan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa, Jakarta: Penerbit Erlangga
Peter Johannessen, tanpa tahun, Beyond Modernization Theory: Democracy and Development in Latin America
Rondinelli, D.A dan Cheema G.S, 1983, Decentralization and Development: Policy Implementation in Developing Countries
Sakinah Nadir, Otonomi Daerah dan Desentralisasi Desa, Jurnal Politik Profetik Vol.1 Nomor 1 Tahun 2013, hal. 3
Samuel P. Huntington, 1971, Modernization Development and Politics : in From Modernization to Globalization, eds. T. Roberts and A. Hite London: Blackwell Publishing, Ltd
Suwarsono dan Alvin Y. So, 1994, Perubahan Sosial dan Pembangunan, Jakarta: LP3S
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1948 Tentang Penetapan Aturan-Aturan Pokok Mengenai Pemerintahan Sendiri di Daerah-Daerah Yang Berhak Mengatur dan Mengurus Rumah Tangganya Sendiri
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 1965 Tentang Desapraja Sebagai Bentuk Peralihan Untuk Mempercapat Terwujudnya daerah Tingkat III di Seluruh Indonesia
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1957 Tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 Tentang Pokok-Pokok Pemerintahan di Daerah
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 Tentang Pemerintahan Desa Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah
Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah
Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 Tentang Desa