BAB I PEMAKETAN
1. PEMAKETAN PENGADAAN BARANG/JASA PEMERINTAH
Pemaketan adalah mengelompokkan pekerjaan yang sejenis untuk keberhasilan dalam mencapai out put pekerjaan berdasarkan prinsip-prinsip pengadaan antara lain prinsip efektif dan efisien.
Berdasarkan pasal 24 Perpres 54/2010 sebagaimana perubahan kedua Perpres 70/2012, Pemakaten dilakukan oleh Pengguna Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran ketika menyusun Rencana Umum Pengadaan (RUP).
Dalam pasal 24 sebagai berikut:
1. PA melakukan pemaketan Barang/Jasa dalam Rencana Umum Pengadaan Barang/Jasa kegiatan dan anggaran K/L/D/I.
2. Pemaketan dilakukan dengan menetapkan sebanyak-banyaknya paket usaha untuk Usaha Mikro dan Usaha Kecil serta koperasi kecil tanpa mengabaikan prinsip efisiensi, persaingan sehat, kesatuan sistem dan kualitas kemampuan teknis.
a. menyatukan atau memusatkan beberapa kegiatan yang tersebar di beberapa lokasi/daerah yang menurut sifat pekerjaan dan tingkat efisiensinya seharusnya dilakukan di beberapa lokasi/daerah masing-masing;
b. menyatukan beberapa paket pengadaan yang menurut sifat dan jenis pekerjaannya bisa dipisahkan dan/atau besaran nilainya seharusnya dilakukan oleh Usaha Mikro dan Usaha Kecil serta koperasi kecil;
c. memecah Pengadaan Barang/Jasa menjadi beberapa paket dengan maksud menghindari pelelangan; dan/atau
d. menentukan kriteria, persyaratan atau prosedur pengadaan yang diskriminatif dan/atau dengan pertimbangan yang tidak obyektif.
Dalam pasal 11, PPK dapat mengusulkan perubahan paket kepada PA/KPA.
Adapun cara pemaketan dalam pengadaan barangjasa pemerintah, bila kita memiliki dokumen anggaran yaitu DPA/DIPA maka langkah pemaketan sebagai berikut:
1. Langkah Pertama
kelompok yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dengan:
a. Swakelola, atau b. Penyedia
Apabila pekerjaan dilakukan dengan swakelola, berdasarkan pasal 29 perpres 54/2010 dan perpres 70/2012, Pengadaan Barang/Jasa oleh K/L/D/I selaku Penanggung Jawab Anggaran dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:
a. pengadaan bahan/barang, Jasa Lainnya, peralatan/suku cadang dan tenaga ahli dilakukan oleh ULP/Pejabat Pengadaan; b. pengadaan sebagaimana dimaksud pada
huruf a berpedoman pada ketentuan dalam Peraturan Presiden 54/2010 dan perpres 70/2012.
2. Langkah kedua
Kegiatan-kegiatan tersebut yang melalui
penyedia dipecah lagi, lalu dikelompokkan berdasarkan jenis pengadaannya, yaitu :
a. barang
b. pekerjaan konstruksi c. jasa konsultansi d. jasa lainnya
3. Langkah ketiga
lingkup kompetensi penyedia (Dikelompokkan kepada bidang/subbidang penyedia).
Contoh untuk pengadaan barang ada beberapa kompetensi sebagai berikut:
Pengadaan Alat tulis kantor (ATK), AC (pendingin ruangan) dan Motor Roda Dua.
Berdasarkan contoh di atas ada 3 kompetensi penyedia, berarti ada tiga penyedia yang berbeda yang kita perlukan berdasarkan kompetensi penyedia.
Ada penyedia ATK, yang tentunya bukan penyedia AC sehingga diperlukan penyedia AC, demikian juga diperlukan penyedia sepeda motor (dealer).
4. Langkah keempat
Berdasarkan ruang lingkup kompetensi, penyedia dikelompokkan kembali berdasar nilai anggarannya ke dalam metode pengadaannya. Contoh pengadaan ATK bila nilainya di atas Rp. 200 juta dilakukan dengan
Untuk paket pengadaan yang memenuhi syarat khusus dan tertentu sebagaimana disebut dalam pasal 38/pasal 44 maka dilakukan dengan penunjukan langsung,
atau jika barang/jasanya terdapat di katalog dilakukan dengan e-purchasing.
2. CONTOH-CONTOH PEMAKETAN
1. Dalam Dokumen Anggaran (DPA) APBD, pembangunan Mushollah di 13 sekolah SMP/SMA masing–masing Rp. 220 juta. Untuk pekerjaan konstruksi Rp. 130 juta, pengadaan konsultan perencana dan pengawas masing-masing Rp. 5 juta dan pengadaan barang masing-masing Rp. 80 juta.
2. Dalam dokumen anggaran sebagai berikut:
a. buku-buku perpustakaan dengan dana dari APBD Propinsi senilai Rp. 140 juta
b. pengadaan meja kursi untuk perpustakaan dengan dana dari APBD Kab, senilai Rp. 80 juta
dan pengerasan halaman senilai Rp. 115 juta.
Bagaimana kami melakukan
pemaketannya?
1. Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Pasal 24 ayat (1), Pengguna Anggaran (PA) melakukan pemaketan Barang/Jasa dalam Rencana Umum Pengadaan Barang/Jasa kegiatan dan anggaran K/L/D/I. Pemaketan dilakukan dengan menetapkan sebanyak-banyaknya paket usaha untuk Usaha Mikro dan Usaha Kecil serta koperasi kecil tanpa mengabaikan prinsip efisiensi, persaingan sehat, kesatuan sistem dan kualitas kemampuan teknis (Pasal 24 ayat
(2)). Dalam melakukan pemaketan
Barang/Jasa, PA dilarang:
b. menyatukan beberapa paket pengadaan yang menurut sifat dan jenis pekerjaannya bisa dipisahkan dan/atau besaran nilainya seharusnya dilakukan oleh Usaha Mikro dan Usaha Kecil serta koperasi kecil;
c. memecah Pengadaan Barang/Jasa menjadi beberapa paket dengan maksud menghindari pelelangan;
2. Mengacu pada ketentuan di atas, pemaketan untuk pekerjaan konstruksi pembangunan ruang ibadah sekolah dapat dilakukan dengan mempertimbangkan lokasi sekolah-sekolah yang berdekatan dan dapat dijangkau oleh penyedia dengan mudah. Pembangunan ruang ibadah sebaiknya digabungkan dalam satu paket atau beberapa paket berdasarkan sebaran
lokasi (lokasi yang berdekatan
digabungkan). Dalam hal nilai
berdasarkan pemaketan, nilai pengadaannya maksimal Rp. 200 juta, maka dapat dilakukan melalui pengadaan langsung dengan negosiasi kewajaran harga.
3. Adapun untuk pekerjaan konsultan, dapat dipaketkan menjadi satu paket sesuai beban kerjanya. Misal paket untuk konsultan perencana dan paket untuk konsultan pengawas. Demikian juga untuk pengadaan barang dapat dipaketkan menjadi satu pengadaan.
Bila PPK dengan orang yang berbeda, maka dapat dilakukan dengan Kontrak Pengadaan bersama. Tata cara teknis penganggaran dan pengelolaan keuangan dapat Saudara konsultasikan dengan instansi yang berwenang dalam pengelolaan keuangan;
5. Sedangkan untuk pembangunan pagar dan pengerasan halaman, mengingat dalam ruang lingkup kompetensi penyedia yang sama yaitu penyedia konstruksi maka agar disatukan dalam satu paket.
3. KEGIATAN: PENGADAAN ALAT
KESEHATAN DAN ALAT PENUNJANG KESEHATAN
Terdiri dari 5 Pekerjaan dengan kode rekening pekerjaan masing – masing:
1. Pengadaan Alat Kedokteran Mata, pagu Rp. 1.000.000.000,00 (sudah Kontrak) 2. Pengadaan Alat Kedokteran Gigi, pagu Rp.
200.000.000,00
3. Pengadaan Alat Kebidanan dan Penyakit Kandungan, Pagu Rp. 200.000.000,00
5. Pengadaan Alat Farmasi, Pagu Rp. 200.000.000,00
Direncanakan, akan dilaksanakan
pengadaan alat untuk pekerjaan no 2 sd. No.5 dengan cara Pengadaan Langsung untuk masing masing Paket di atas, sehingga akan ada 4 Pengadaan Langsung.
Pertanyaan:
Apakah pemaketan tersebut, yang akan dilakukan masing-masing secara pengadaan langsung sudah tepat?
Tanggapan:
apabila alat kesehatan yang dibutuhkan terdapat dalam katalog, maka dapat dilakukan dengan e-purchasing.
Dalam melakukan pemaketan, PA/KPA
menyelenggrakan survey terlebih dahulu kepada para penyedia, terutama jenis produk-produk yang dijual, apakah heterogen atau homogen karena ini berhubungan dengan kompetensi penyedia.
terkait dengan karakteristik alat kesehatan tersebut, apakah dalam praktek bisnisnya dapat dipenuhi oleh satu kompetensi penyedia, bila ya maka pemaketan dilakukan dalam satu paket. Bila tidak, maka pemaketan pengadaan dilakukan sesuai dengan kompetensi penyedia.
berdasarkan hasil pemaketan, bila nilai paket di atas Rp 200 juta dan tidak tersedia di katalog LKPP maka dilakukan dengan pelelangan.
4. MENYATUKAN PAKET
Apakah Paket Pekerjaan Pengadaan dengan nilai HPS Rp. 2,4 M dapat digabung dengan paket Pemasangan (Trafo) dengan nilai HPS Rp. 1 milyar? Hal ini dimaksudkan untuk efisiensi dalam pelelangan dan pekerjaan, karena keduanya harus memiliki SLO (Sertifikat Layak Operasi), jika dibuat paket terpisah maka dikhawatirkan biaya SLO akan menjadi lebih besar.
ayat (2), Pemaketan dilakukan dengan menetapkan sebanyak-banyaknya paket usaha untuk Usaha Mikro dan Usaha Kecil serta koperasi kecil tanpa mengabaikan prinsip efisiensi, persaingan sehat, kesatuan sistem dan kualitas kemampuan teknis.
ayat (3) huruf b, Dalam melakukan pemaketan Barang/Jasa, PA dilarang menyatukan beberapa paket pengadaan yang menurut sifat dan jenis pekerjaannya bisa dipisahkan dan/atau besaran nilainya seharusnya dilakukan oleh Usaha Mikro dan Usaha Kecil serta koperasi kecil
Berdasarkan hal tersebut di atas, bilamana sifat dan jenis pekerjaannya yang dimaksud sama atau dalam satu kesatuan tanggung jawab dari satu penyedia, maka dapat disatukan dalam satu paket pelelangan.
5. DAPATKAH PEMAKETAN PEKERJAAN YANG NILAINYA UNTUK PELELANGAN DIUBAH MENJADI PENGADAAN LANGSUNG
Dapat disampaikan bahwa paket tersebut di dalamnya tidak tersedia dana untuk pembuatan gambarnya, dan pekerjaan ini diarahkan untuk menjadi percontohan kepada masyarakat pembuatan KJA yang sesuai dengan SNI.
Tanggapan;
Agar dianalisa kemampuan penyedianya, diperlukan survey data primer penyedia, kecuali bila kita sudah punya data sekunder penyedia beserta kompetensinya yang mungkin dapat dilihat dari history pekerjaannya.
Agar ditanyakan di bagian
perencanaan/keuangan bahwa apakah untuk mencapai out put, dari dana tersebut
diperbolehkan adanya
perencanaan/pengawasan, tim teknis, biaya administrasi dan honor.
Kemudian dilakukan pemaketan pekerjaan terhadap pembuatan jaring apung dan rumah jaga, apakah satu kompetensi penyedia atau berbeda kompetensinya.
6. PEMAKETAN UNTUK PEKERJAAN DI BEBERAPA DESA
Berdasarkan Perpres 70 Tahun 2012 Pasal 24 Ayat 3 Point c, bahwa PA dilarang memecah Pengadaan Barang/Jasa menjadi beberapa paket dengan maksud menghindari pelelangan.
Pertanyaan:
Apakah pemaketan pada Dinas Kelautan dan Perikanan menyalahi aturan, jika dalam satu kode rekening terdapat banyak paket, mengingat Pagu Anggaran masing masing paket bernilai sama dan hal ini dicantumkan dalam RUP.
Contoh:
a. Pembangunan Kolam ikan Desa Subur Rp.175.000.000,00
b. Pembangunan Kolam ikan Desa Suka Makmur Rp.175.000.000,00
d. Pembangunan Kolam ikan Desa Sukakreasi Rp.175.000.000,00
Jawaban:
Bedakan fungsi pos penganggaran dengan kebutuhan akan pengadaan barang/jasa. Jika di dalam 1 rekening ada beberapa paket, hal itu tidak menjadi masalah.
Jika setelah dilakukan pengkajian pekerjaan dengan memperhatikan prinsip efektif dan efisien, lebih baik dikerjakan pada masing-masing lokasi, maka dapat dilakukan pemecahan paket berdasarkan lokasi atau kelompok lokasi yang berdekatan.
Pasal 24 Ayat 3 Point a
Dalam melakukan pemaketan Barang/Jasa, PA dilarang:
Menyatukan atau memusatkan beberapa kegiatan yang tersebar di beberapa lokasi/daerah yang menurut sifat pekerjaan dan
tingkat efisiensinya seharusnya dilakukan di beberapa lokasi/daerah masing-masing.
7. PEMAKETAN DAN KLASIFIKASI BIDANG
pekerjaan pengadaan bahan dan peralatan pelatihan pemagangan dalam negeri berbasis pengguna (Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Prov.).
Adapun jenis bahan dan peralatan pelatihan terkait dengan jurusan pelatihan yakni: komputer, fotografi, akuntansi, sekretaris, otomotif, perhotelan, design grafis, tata kecantikan rambut, tata rias pengantin dan pelatihan menjahit.
Dalam menyusun dokumen lelang, kami kesulitan untuk mencari kategorisasi jenis usaha untuk tata kecantikan rambut, tata rias pengantin dan menjahit. Sedangkan yang lainnya masuk dalam kategori : elektrikal, mekanikal, peralatan komputer, dan ATK.
Mohon pencerahan, jenis bidang apa kira-kira yang bisa kami syaratkan untuk bahan dan peralatan tiga bidang/jurusan pelatihan sebagaimana yang disebutkan.
Tanggapan:
Pemaketan dilakukan berdasarkan kompetensi penyedianya.
Hasil pemaketan dilakukan dengan
Dalam hal dilakukan dengan pengadaan langsung, dapat dilakukan oleh toko atau penyedianya secara langsung tanpa melalui perantara.
Klasifikasi bidang/subbidang dicari dengan kategori yang paling sesuai/mendekati.
8PEMECAHAN PAKET PENGADAAN TIDAK SELALU DILARANG
Pengadaan meja kursi senilai Rp.360 juta
a. Meja Kursi Jati senilai Rp.190 juta
b. Meja Kursi pabrikan senilai Rp.170 juta
Apakah pengadaan dibuat dalam satu paket, mengingat ada dalam satu kode rekening atau satu DPA (Dokumen Anggaran)?
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Pasal 24 ayat (3) huruf b, dalam melakukan pemaketan Barang/Jasa, PA
dilarang menyatukan beberapa paket
pengadaan yang menurut sifat dan jenis pekerjaannya bisa dipisahkan dan/atau besaran nilainya seharusnya dilakukan oleh Usaha Mikro dan Usaha Kecil serta koperasi kecil;
dari pabrik dengan kebutuhan kursi kayu jati yang mungkin membutuhkan kompetensi penyedia yang berbeda dengan kursi pabrikan. Perbedaan tersebut mungkin dikarenakan untuk kursi kayu jati membutuhkan keahlian dan desain khusus.
Pemecahan paket harus berdasarkan alasan yang jelas dan sesuai dengan prinsip-prinsip pengadaan yang efisien dan efektif. Proses pemilihan untuk pengadaan barang/pekerjaan konstruksi/jasa lainnya yang memiliki spesifikasi teknis yang sama pada waktu yang sama dan kelompok belanja yang sama harus dilakukan secara sekaligus. Namun demikian pemecahan paket dapat dilakukan karena perbedaan target Penyedia, perbedaan lokasi penerima/pengguna barang yang cukup signifikan, atau karena perbedaan waktu pemakaian barang/jasa tersebut
Mengacu pada ketentuan tersebut di atas, bilamana sifat dan jenis pekerjaan untuk pengadaan meubelair dari jati membutuhkan desain khusus yang berbeda dengan meubelair pabrikan, maka proses pemilihan penyedia dilakukan dengan paket yang terpisah.
dilakukan dengan pengadaan langsung dengan negosiasi harga.
Adapun yang dilarang memecah paket adalah bila paket tersebut termasuk dalam kategori yang dilelangkan misal pengadaan meja kursi kayu jati Rp. 360 juta, dipecah menjadi dua paket sehingga tidak dilelang. Akan tetapi, bila pengadaan meja kursi dengan nilai Rp. 360 juta dipecah menjadi dua paket, sebagaimana disebutkan di atas, kemudian pengadaan atas dua paket tersebut tetap dilelangkan, maka hal tersebut diperbolehkan.
Ketidaktepatan dalam pemaketan, bukanlah suatu hal yang bersifat tindak pidana korupsi, hal tersebut hanya akan mengakibatkan inefisiensi (kemungkinan potensi kerugian negara), belum kerugian negara secara nyata.
Yang lebih diperhatikan atau perlu diingat sebagai pelaksana pengadaan untuk tidak melakukan hal-hal yang negatif seperti menerima suap/gratifikasi dan melakukan persekongkolan lelang. Jadi bukan salah atau benar suatu melakukan pemaketan yang merupakan bukan kesengajaan rekayasa untuk memenangkan penyedia tertentu.
Pemerintah Kota X akan melakukan pekerjaan perbaikan rumah sebanyak 81 rumah dengan lokasi yang tersebar, senilai Rp. 245 juta.
Bagaimana pemaketan pengadaannya? Apakah dilakukan dengan penyedia atau dapat dilakukan secara swakelola oleh kelompok masyarakat?
Tanggapan:
Saudara dapat melihat kembali KAK-nya, jika termasuk ke dalam pekerjaan yang sederhana mungkin dapat dipertimbangkan untuk diberikan kepada kelompok masyarakat. Selanjutnya silahkan cek kompetensi kelompok masyarakat tersebut. Apabila dibandingkan dengan kebutuhan yang ada di KAK kelompok masyarakat tersebut dinilai tidak mampu, maka proses pengadaannya lebih baik dilakukan melalui penyedia.
Dalam hal dilakukan oleh masyarakat sendiri, maka disalurkan bantuan dana ke masyarakat yang dinilai layak untuk dibantu dan ada rekomendasi dari pihak terkait.
Jika dikerjakan oleh penyedia, mengingat pekerjaan ini terletak dalam satu kota, sebaiknya dibuat dalam satu paket. Kemudian paket tersebut dilelangkan agar terjadi kompetisi.
Selanjutnya setelah dilakukan pemaketan, bila lokasi tersebar dan berjauhan agar dikelompokkan berdasar prinsip efektif dan efisien.
Dalam hal setelah pemaketan, untuk paket pengadaan yang nilainya dibawah Rp. 200 juta, dilakukan dengan pengadaan langsung. Pengadaan langsung agar dilakukan dengan negosiasi kewajaran harga, karena dalam pengadaan langsung tidak ada kompetisi.
10. PENGADAAN DENGAN PENGADAAN LANGSUNG ATAU DILAKUKAN DENGAN PELELANGAN?
Apakah metode pengadaan langsung dapat kami lakukan untuk pengadaan berikut?
a. Pengadaan Meubelair, 1 paket Rp. 69.200.000,- kode 2129.053 011 53
b. Pengadaan komputer MA, 22 unit Rp.
120.000.000,- kode 2129.053 011 53 c. Pengadaan perangkat jaringan internet, 2
d. Pengadaan Komputer/PC/LCD, 10 unit Rp. 8 jt,- kode 2129.996.053 011 53
e. Pengadaan Multimedia Proyektor/OHP, 2 unit Rp.10 jt,- kode 2129.996.053 011 53 f. Pembangunan Ruang Kelas Baru Rp.
190.000.000,- kode 2129.017.001 011 53
Tanggapan:
Agar dilakukan pemaketan pekerjaan berdasar jenis pengadaannya yaitu pengadaan barang, konstruksi, jasa lainnya atau konsultansi.
Selanjutnya misal untuk pengadaan barang dikelompokkan berdasar kompetensi penyedia. Misal paket untuk penyedia mebeler, paket untuk pengadan komputer dsb.
Berikutnya untuk paket pengadaan mebeler apabila nilainya s.d. Rp. 200 juta dapat dilakukan dengan pengadaan langsung, sedangkan apabila nilainya di atas Rp. 200 juta maka dilakukan dengan pelelangan.
11. PEMAKETAN UNTUK PENGADAAN PEKERJAAN KONSTRUKSI
Provinsi, kami beritahukan beberapa hal sebagai berikut:
Pada Rekening 5.2.2.21 Belanja Jasa Konsultansi terdapat 2 rincian pekerjaan, yaitu :
a. 5.2.2.21.06 Belanja Jasa Konsultansi
Perencanaan dengan pagu Rp.
44.000.000,-
b. 5.2.3.21.07 Belanja Jasa Konsultansi
Pengawasan dengan pagu Rp.
28.000.000
,-Pada Rekening 5.2.3.26 Belanja Modal Pengadaan Konstruksi/Pembelian Bangunan terdapat 3 rincian pekerjaan yaitu:
a. 5.2.3.26.01 Belanja Modal Pengadaan konstruksi/Pembelian gedung kantor, uraian paket pekerjaan kantor TU dengan pagu Rp.
190.000.000
,-b. 5.2.3.26.04 Belanja Modal Pengadaan konstruksi/Pembelian gedung gudang, uraian paket pekerjaan gudang bangsal dengan pagu Rp.
,-Sehubungan dengan hal tersebut disampaikan pertanyaan sebagai berikut:
1. Apakah Jasa konsultansi untuk 3 jenis pekerjaan tersebut dapat disatukan?
2. Apa Metode pengadaan yang paling tepat untuk dilakukan bagi masing-masing paket pekerjaan mengingat pelaksanaannya untuk keperluan kantor, gudang dan rawat inap?
Jika pekerjaan ada dalam satu lokasi, maka dilakukan pemaketan, sehingga ada tiga paket yaitu:
a. konsultan perencanaan senilai Rp. 44 juta dengan pengadaan langsung
b. konsultan pengawasan senilai Rp. 28 juta dengan pengadaan langsung
c. jasa konstruksi senilai Rp. 505 juta dengan pelelangan sederhana
Selanjutnya PPK silahkan membuat HPS, spesifikasi, dan draft kontrak. Kemudian pokja ULP melakukan pelelangan jasa konstruksi dan pejabat pengadaan melakukan pengadaan langsung jasa konsultan.
1. Pekerjaan : Rehabilitasi Sedang/Berat Rumah Dinas
HPS : Rp.
185.000.000,-No. Rekening : xxxxxxxxxxxxxxxx
Klasifikasi : Bidang Arsitektur/Bangunan -Bangunan Non Perumahan Lainnya (21005)
2. Pekerjaan : Conblok Halaman Kantor
HPS : Rp.
160.000.000,-No. Rekening : yyyyyyyyyyyyyy
Klasifikasi : Bidang Sipil/Jalan Raya, Jalan Lingkungan (22001)
Apakah sebaiknya dilakukan pemecahan paket sehingga dapat dilakukan dengan pengadaan langsung atau boleh kedua paket tersebut menjadi satu paket, meskipun dengan kode rekening dan klasifikasi bidang yang berbeda?
dikerjakan oleh satu kompetensi penyedia (konstruksi), dan klasifikasi penyedia untuk nilai dibawah Rp 2.5 Milyar tidak terlalu signifikan (karena nilainya dibawah Rp 2.5 Milyar, tidak diperlukan subbidang) maka dilakukan dengan satu pemaketan yang dibuat dalam satu kontrak, meskipun dari rekening yang berbeda.
Di kontrak dapat disebut dua rekening anggaran tersebut untuk pembebanan anggaran.
13. PEMAKETAN UNTUK ALAT KESEHATAN DENGAN KATALOG LKPP
Apakah Rumah Sakit hanya boleh mengadakan alat kesehatan (alkes) yg ada di e-katalog. Bila demikian bagaimana cara pemaketan dan pelaksaannya mengingat tidak seluruhnya alkes sudah ada di e-katalog, sedangkan dokumen anggaran sudah ditetapkan.
operasional rutin KLDI sesuai Pasal 39 Pepres 70 tahun 2012
Misal ada satu kode akun pengadaan alkes senilai Rp. 1 miliar untuk 3 alat, dengan ada dua alat di catalog LKPP dan satu alat tidak ada dicatalog LKPP.
Alat di catalog LKPP dari penyedia A Rp. 500 juta dan dari penyedia B senilai Rp. 320 juta sehingga senilai total Rp. 820 juta. Sisanya satu alat senilai Rp 180 juta, tidak ada di catalog LKPP.
Pengadaan yang ada dicatalog dilakukan secara Epurchasing dengan negosiasi kewajaran harga. Sedangkan yang tidak ada dilakukan dengan Pengadaan Langsung. Pengadaan langsung memang diutamakan terhadap barang yang tidak menambah aset, namun demikian terhadap sisa dana tersebut yaitu sebesar Rp. 180 dapat dilakukan dengan pengadaan langsung.
Jadi di satu akun rekening dokumen anggaran bisa terdapat banyak kontrak/SPK (contoh ini ada dua kontrak dan satu SPK).
14. PEMAKETAN DI SATU KODE REKENING UNTUK PENGADAAN OBAT DAN ALAT KESEHATAN
Pada kegiatan pengadaaan sarana dan prasarana puskesmas paket pekerjaan belanja modal pengadaan alat-alat kedokteran umum sebesar Rp. 1.800.000.000. Pada saat perencanaan, semua item barang yang terdapat dalam satu anggaran tersebut belum ada di e-katalog, saat akan diadakan proses pemilihan penyedia ternyata e-katalognya sudah ada.
Apa langkah yang harus dilakukan oleh PPK, apabila harga hasil pelelangan melebihi harga di katalog LKPP?
dilakukan untuk satu kode rekening anggaran, tanpa harus merubah dokumen anggaran?
Pengadaan yang dilakukan melalui pelelangan ketika katalog LKPP belum tersedia, dan sekarang tersedia, maka pengadaan tersebut tetap dapat diteruskan. Harga yang terbentuk dari proses pelelangan bisa melebihi dari harga katalog, dengan catatan harga HPS telah dibuat sesuai dengan prosedur.
Dalam satu kode rekening anggaran (akun) dapat dilakukan banyak pemaketan sehingga akan banyak kontrak dengan berbagai penyedia.
Dalam hal untuk satu kode rekening (akun) dengan satu penyedia dapat dilakukan dengan satu kontrak, walaupun transaksinya banyak.
15. PENGADAAN PARA SOPIR DENGAN
PENGADAAN LANGSUNG ATAU
PELELANGAN UNTUK ANGGARAN YANG BESAR?
DPA Bagian Umum. Adapun rinciannya sebagai berikut:
20 orang x 12 bulan x Rp. 2.500.000,- = Rp.
600.000.000,-Ditinjau dari anggaran yang dialokasikan, apakah upah/gaji ini diproses melalui Lelang Sederhana atau dapat dibayarkan langsung setiap bulannya kepada yang bersangkutan?
Pengadaan tersebut dilakukan dengan pemaketan berdasarkan prinsip efektif dan efisiein yaitu pemaketan kepada penyedia badan usaha atau akan dilakukan kepada masing-masing sopir.
Bila diadakan dengan penyedia badan usaha maka dilakukan dengan pelelangan sederhana.
Namun bila kepada masing-masing sopir dapat dilakukan dengan pengadaan langsung mengingat nilai paket masing-masing sopir dibawah Rp. 200 juta.
Perikatan dengan masing-masing sopir dilakukan dengan kontrak harga satuan/SPK harga satuan dengan memperhatikan upah minimum provinsi.
Pembayaran dapat dilakukan perbulan.
16. PEMECAHAN PAKET DAPAT DILAKUKAN BERDASAR PRINSIP EFEKTIF DAN EFISIEN
Pada pengadaan papan sosialisasi suatu Pemerintah provinsi di jalan Raya di tiga kota senilai total Rp. 300 juta.
Bagaimana pemaketannya?
Pemaketan dilakukan berdasar prinsip efektif dan efisien,
Dalam Perpres 70 tahun 2012 pada pasal 24 ayat 3a.
Dalam melakukan pemaketan Barang/Jasa, PA dilarang:
seharusnya dilakukan di beberapa lokasi/daerah masing-masing.
Apabila lebih efisien dengan dilakukan pengadaan di masing-masing kota maka dapat dibuat dalam 3 paket, selanjutnya setelah pemaketan mengingat nilainya per masing-masing paket hanya Rp. 100 juta maka dapat dilakukan pengadaan langsung dengan negosiasi kewajaran harga.
17. STRATEGI PEMAKETAN AKAN
MENGURANGI BEBAN KERJA ULP
Pengkajian terhadap pemaketan akan membuat jumlah ideal paket yang akan dilelangkan.
Jumlah yang dilelangkan bisa hanya menjadi separuh atau sepertiga dari jumlah paket yang selama ini dilelangkan, jumlah yang sangat banyak
Termasuk pengkajian terhadap jumlah anggota pokja yang cukup 3 orang saja, akan membuat sumber daya manusia di ULP menjadi efisien atau tidak perlu banyak personil.
Pada anggaran kami ada Rp. 8 miliar untuk kegiatan penanganan sampah untuk 4 kecamatan. Bagaimana cara pengadaannya?
Dilakukan pemaketan pekerjaan, meskipun bisa dibuat dalam satu paket, kami menyarankan untuk dibuat menjadi 4 paket.
Dengan banyaknya paket, akan menumbuhkembangkan usaha pengelolaan sampah.
Dengan pemecahan paket, akan mengurangi ketergantungan pemda kepada satu penyedia.
Apakah hal tersebut akan dinilai memecah paket?
Suatu paket yang dilelangkan dapat dipecah-pecah ke banyak paket, asal tetap dilelang.
Selanjutnya dibuat kriteria penyedia, alat-alat yang harus dimiliki (punya sendiri/sewa), jumlah minimal tenaga kerja yang harus dimiliki, metodologi pekerjaan, tempat pembuangan akhir dsb.
Kami akan melakukan kegiatan pengadaan barang dan aplikasi sistem yang terdiri dari:
1. Pembelian PC, UPS dan LAN Pembelian aplikasi program
2. Bagaimana cara pemaketan pengadaannya?
Bila untuk pengadaan PC, UPS, LAN dan aplikasi program termasuk dalam satu ruang lingkup kompetensi penyedia, maka dipaketkan dalam satu paket pengadaan.
Namun bila penyedia yang bisa melakukan pengadaan tersebut dalam kompetensi yang berbeda-beda, maka pengadaan
dipaketkan berdasarkan kelompok
kompetensi penyedia.
20. SATU KODE REKENING UNTUK BANYAK KONTRAK PENGADAAN OBAT
Adapun masalah yang kami hadapi adalah sebagai berikut:
Pada kegiatan pengadaan obat rumah sakit, di DPA terdapat dalam satu kode rekening antara obat generik dan non generik. Sehubungan dengan penerapan E-katalog, pengadaan obat generik dibuat dalam paket terpisah. Apakah hal tersebut dibenarkan?
Obat generik yang tidak termasuk ada di E-Katalog, untuk pengadaannya apakah digabungkan dengan lelang obat non generik atau melalui penunjukan langsung?
Terjadi permasalahan pada saat pencairan anggaran untuk penyedia barang (obat generik) di Bagian Keuangan, karena banyaknya SPK atau kontrak. Mohon penjelasan terkait dengan tata cara dan prosedur pencairan anggaran.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah Pasal 110 ayat (4), K/L/D/I melakukan E-purchasing terhadap barang/jasa yang sudah dimuat dalam sistem katalog elektronik. Sedangkan berdasar pasal 1 ayat (41) E-purchasing adalah tata cara pembelian Barang/Jasa melalui sistem katalog elektronik.
e-purchasing, maka untuk pengadaan obat yang sudah tercantum harganya dalam katalog, dapat dilakukan secara langsung dengan
menggunakan aplikasi e-purchasing.
Sedangkan untuk obat yang tidak ada dalam katalog dilakukan dengan pemaketan berdasarkan kompetensi Penyedia. Selanjutnya berdasarkan pemaketan tersebut dilakukan pengadaan langsung/pelelangan sesuai dengan nilainya. Bila penyedia yang dapat memenuhi persyaratan hanya 1 (satu), maka dilakukan penunjukan langsung dengan negosiasi kewajaran harga.
Selanjutnya dalam 1 (satu) kode rekening dapat dilakukan dengan banyak transaksi atau banyak Kontrak, pada keuangan daerah hal
tersebut sering tidak biasa namun
seharusnya bisa dilakukan, sebelum
melakukan pengadaan dan untuk pencairan anggaran silahkan Saudara berkoordinasi dengan bagian keuangan.
21. PEMAKETAN PENGADAAN BUKU UNTUK BAHAN PUSTAKA
langsung dari penerbit masing-masing buku? bagaimana dengan pelelangan itemized? apakah dimungkinkan?
Berdasarkan pengalaman apabila
dilelangkan sekaligus, sering kali ada masalah karena penerbit mencabut dukungannya pada rekanan terpilih.
Agar dilakukan pemaketan, sebagai berikut :
1. paket buku dari pengarang dan penerbit yang bebas diperjualbelikan, untuk paket ini agar dilelangkan bila nilai setelah pemaketan di atas Rp. 200 juta. Pelelangan dapat juga menggunakan pelelangan itemize.
2. paket-paket yang dilakukan dengan penunjukan langsung, jika hanya ada satu penerbit atau hanya ada satu pengarang yang bisa menjadi penyedia.
3. Dengan dilakukan sesuai poin 1 dan 2 maka dengan demikian tidak diperlukan adanya surat dukungan.
22. PEMAKETAN BERDASARKAN PRINSIP EFEKTIF DAN EFISIEN
Apakah untuk pengadaan Formulir dan Sampul Pemilu Presiden 2014 dapat digabung menjadi satu paket? Mengingat klasifikasi penyedia yang dibutuhkan adalah perusahaan percetakan dan waktunya sudah terbatas. Meskipun demikian, metode pengerjaannya agak berbeda (formulir cukup dicetak saja sementara untuk sampul perlu dibentuk dan dilem). Apabila dikerjakan oleh satu penyedia, penyelesaian pekerjaan akan terlambat sementara waktu sudah sangat terbatas.
Mengacu kepada prinsip efektif dan efisien, apabila pekerjaan dapat dilakukan oleh satu kompetensi penyedia maka dapat dibuat dalam satu paket. Tapi apabila penyatuan paket dinilai akan berisiko dengan beban pekerjaan, sehingga kemungkinan kegagalan akan besar, maka dapat dijadikan dua paket.
Pada APBD TA 2014 kabupaten Malayani Rakjata, dialokasikan dana DAK pendidikan sebesar Rp. 600.000.000,- (bersifat glondongan/belum dirinci), yang diperuntukkan untuk penyusunan DED dan RAB sekolah-sekolah yang akan dibangun yang tersebar di 7 kecamatan, dan setiap sekolah masing-masing memiliki desain bangunan yang berbeda satu sama lain.
Pertanyaan:
Bagaimana mekanisme pemilihan
penyedia jasa konsultansinya, apakah pemilihannya dilakukan per sekolah dan disesuaikan dengan kondisi sekolah (dilakukan pemecahan paket) atau dilelang sekaligus dalam satu paket?
Apabila pekerjaan konsultansi ada dalam kompetensi satu profesi konsultan yang sama, misalnya konsultan perencana, maka pekerjaan dapat dibuat dalam satu paket meskipun wilayahnya berbeda.
24. PEMAKETAN BERDASAR KOMPETENSI PENYEDIA DAN LOKASI
Pertanyaan;
Kegiatan Renovasi Sedang/Berat Gedung Kantor, dengan DPA senilai Rp.350 juta, yang terdiri dari pekerjaan:
1. Renovasi Sedang/Berat Rumah Dinas (bidang arsitektur) dengan nilai Rp.190 juta, dan
2. Conblok halaman kantor (bidang sipil) dengan nilai Rp.160 juta dengan kode rekening masing-masing berbeda.
Apakah metode yang paling tepat untuk pemilihan penyedia barang/jasa pada pekerjaan tersebut?
Tanggapan:
Mengingat kompetensi penyedia adalah sama dan lokasinya sama maka dijadikan satu paket dan dilakukan dengan pemilihan langsung.
25. PEMAKETAN UNTUK KONSTRUKSI DI BANYAK LOKASI
Di Kabupaten Z ada paket lelang Rumah Layak Huni Sebanyak 180 Unit (tersebar di 12 Kecamatan), masing-masing rumah bernilai Rp. 44 juta/unit dan tiap kecamatan tidak sama pembagiannya, ada yang 15 unit, 10 unit dan 5 unit.
Pertanyaan:
Bagaimana proses pengadaan barang/jasa terhadap paket ini?
Apakah dilelang secara keseluruhan atau dipisah untuk masing-masing kecamatan?
Tanggapan:
oleh kelompok masyarakat maka dilaksanakan secara swakelola. Dalam hal dilaksanakan oleh penyedia, agar dinilai pemaketannya bersama inspektorat, apakah lebih efektif dan efisien berdasarkan lokasinya bila dilakukan dalam satu paket, atau lebih dari satu paket.
26. PELELANGAN GAGAL KARENA TIDAK ADA PESERTA, DAPAT TERJADI KARENA KESALAHAN PEMAKETAN
Dalam pelelangan yang tidak ada peserta, maka dapat dilakukan sebagai berikut:
1. diulang
2. Penunjukan langsung
3. dilakukan secara swakelola
4. dialihkan untuk kegiatan lain saja.
Setelah dilakukan evaluasi dan Dokumen Pengadaan diperbaiki, selanjutnya dilakukan pelelangan kembali.
Apabila setelah pelelangan ulang, tidak ada satu penyedia pun yang memasukkan penawaran, silahkan Saudara mencermati pasal 84 ayat 6, atau jika penyedianya ternyata hanya ada satu, dilakukan dengan penunjukan langsung dengan klarifikasi teknis dan negosiasi kewajaran harga.
Kemungkinan lain yang dapat terjadi
adalah, kegiatan tersebut kurang
menguntungkan dilaksanakan oleh penyedia. Berdasarkan prinsip efektif mungkin paket pekerjaan tersebut lebih baik dilaksanakan sendiri secara swakelola.
27. PEMAKETAN UNTUK PENGADAAN OBAT DAN ALAT KESEHATAN
Pada pengadaan obat, reagen dan alat kesehatan (alkes), apakah dapat dijadikan satu paket dalam pelelangan?
Pelelangan dilakukan untuk mendapatkan penyedia sebenarnya atau kepada penyedia yang memiliki kompetensi.
Berdasarkan kualifikasi penyedia atau kompetensi penyedia, dilihat dari aspek perijinannya maka penyedia reagen dan alat kesehatan menggunakan ijin PAK (penyalur alat kesehatan), sedangkan penyedia obat menggunakan ijin PBF (Pedagang Besar Farmasi).
Selanjutnya pelelangan dibuat dalam dua paket yaitu:
Paket 1 : Pengadaan obat
Paket 2 : Pengadaan reagen dan alkes
Pada T.A 2014 Kab. Y mendapat dana bantuan berupa Pembangunan Ruang Tempat Ibadah dengan rincian:
ruang tempat ibadah SD = 5 ruang, bernilai @ Rp 150 jt dan peralatan @ Rp. 30jt.
ruang tempat ibadah SMP = 9 ruang bernilai @ Rp 175 jt dan peralatan @ Rp. 40jt.
ruang tempat ibadah SMA = 3 ruang bernilai @ Rp 190 jt dan peralatan @ Rp. 60jt.
Apakah diperbolehkan menyatukan paket Pekerjaan KONSTRUKSI menjadi satu PAKET untuk 17 sekolah, dan untuk pengadaan peralatan apakah dibenarkan kami jadikan satu paket, karena berbentuk barang?
Untuk pengadaan konstruksi, mengingat lokasi yang berbeda-beda agar dinilai berdasarkan prinsip efisien dan efektif, apakah lebih baik disatukan paket konstruksinya atau dipecah-pecah. Sedangkan untuk pengadaan barang lebih baik disatukan, karena hanya tinggal mengirim barang ke berbagai evaluasi.
Pada DPA TA 2014 senilai Rp. 800 juta untuk pemeliharaan 5 kendaraan roda 6:
1. Bagaimanakah cara pengadaannya?
2. Bagaimana cara menghitung HPSnya?
3. Bagaimana dengan peranan PPHP?
Untuk kegiatan pemeliharaan kendaraan bermotor roda 6, di DPA TA 2014, agar dilakukan identifikasi kebutuhan, berdasarkan identifikasi kebutuhan tersebut dibuatkan pemaketan.
Untuk pemeliharaan kendaraan yang telah pasti kerusakan atau perbaikannya dan memerlukan suku cadang tertentu agar pengadaannya dilakukan dengan penunjukan langsung kepada pabrikan atau agen resmi yang ditunjuk oleh pabrikan.
Untuk pemeliharaan yang telah pasti kerusakannya dan dapat dikerjakan oleh banyak penyedia bila nilainya di atas Rp. 200 juta agar dilakukan dengan pelelangan dengan penyedia bengkel.
sewaktu-waktu dan harus segera diselesaikan agar tidak mengganggu operasional pelayanan maka dapat dilakukan dengan pengadaan langsung.
Dalam hal penyusunan HPS, PPK mencari data yang dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan Pasal 66 ayat (7) serta memperhatikan harga pasar atau kewajaran biaya pada dealer atau bengkel setempat.
Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 70 Tahun 2012 Pasal 18 Pasal (5) bahwa Panitia/Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan mempunyai tugas pokok dan kewenangan untuk melakukan pemeriksaan hasil pekerjaan pengadaan Barang/Jasa sesuai dengan ketentuan yang tercantum dalam Kontrak, menerima hasil Pengadaan Barang/Jasa setelah melalui pemeriksaan/pengujian, membuat dan menandatangani Berita Acara Serah Terima Hasil Pekerjaan. Setelah Penyedia melakukan perbaikan terhadap kendaraan tersebut, maka perlu dilakukan pemeriksaan hasil pekerjaan oleh PPHP.
Dinas Pendidikan Kab. X akan
melaksanakan suatu
perbaikan/renovasi/pemeliharaan beberapa gedung yang menjadi salah satu tugas Satuan Kerja kami. adapun kondisi yang ada sebagai berikut:
1. volume kerusakan tidak bisa diprediksi (perbaikan atas permintaan pemakai gedung);
2. waktu dimulainya pekerjaan tidak bisa kami prediksi (waktu perbaikan atas permintaan pemakai gedung);
3. kerusakan terjadi di beberapa gedung dan berlainan lokasi/tempat;
Pertanyaan:
1. Apakah perbaikan/renovasi tersebut harus dalam satu kontrak (pembayaran sesuai dengan jenis pekerjaan yang sudah dilakukan)?
Tanggapan:
1. Agar dilakukan identifikasi kerusakan di berbagai lokasi, kemudian dibuatkan paket pemeliharaan untuk pelelangan bila nilainya lebih dari 200 juta.
2. Pemaketan berdasar prinsip efisien dan efektif berdasar pengelompokan lokasi.
3. Untuk kerusakan yang belum ada, yang nantinya ada, agar pelayanan instansi tidak terganggu serta mencegah kerusakan lebih lanjut agar dilakukan dengan pengadaan langsung.
4. Kontrak dilakukan berdasar pemaketannya.
5. Disarankan agar menggunakan kontrak harga satuan.
31. PEMAKETAN PENGADAAN LANGSUNG ATAU PELELANGAN
Jenis pengadaan apa yang tepat dilakukan,
pengadaan langsung atau Penunjukan
langsung? Selanjutnya disampaikan bahwa kondisi ini bukan keadaan darurat.
Untuk hal tersebut, agar dilakukan pemaketan (pengelompokan) berdasarkan kompetensi penyedia dan lokasi. Berdasarkan pemaketan tersebut, bila nilai pemaketannya di atas Rp. 200 juta, maka dilakukan pelelangan. Bila nilai pemaketannya dibawah Rp. 200 juta, dilakukan pengadaan langsung dengan negosiasi kewajaran harga. Dalam hal nilai paket banyak yang masuk kategori pengadaan langsung, dapat dipertimbangkan untuk mengangkat pejabat pengadaan lebih satu orang.
32. PEMAKETAN di RUP
1. Pemaketan adalah penyusunan/penetapan kegiatan pekerjaan yang akan dilaksanakan baik melalui penyedia maupun dengan swakelola oleh Pengguna Anggaran (PA).
3. Pemaketan dilakukan dengan menetapkan sebanyak-banyaknya paket usaha untuk Usaha Mikro dan Usaha Kecil serta koperasi kecil tanpa mengabaikan prinsip efisiensi, persaingan sehat, kesatuan sistem dan kualitas kemampuan teknis.
4. Dalam melakukan pemaketan Barang/Jasa, PA dilarang:
a. menyatukan atau memusatkan
beberapa kegiatan yang tersebar di beberapa lokasi/daerah yang menurut sifat pekerjaan dan tingkat efisiensinya seharusnya dilakukan di beberapa lokasi/daerah masing-masing;
b. menyatukan beberapa paket
pengadaan yang menurut sifat dan jenis pekerjaannya bisa dipisahkan dan/atau besaran nilainya seharusnya dilakukan oleh Usaha Mikro dan Usaha Kecil serta koperasi kecil;
c. memecah Pengadaan Barang/Jasa
menjadi beberapa paket dengan maksud menghindari pelelangan; dan/atau
33.KEGIATAN SWAKELOLA
Swakelola adalah Pengadaan Barang/Jasa dimana pekerjaannya direncanakan, dikerjakan dan/atau diawasi sendiri oleh K/L/D/I sebagai penanggung jawab anggaran, instansi pemerintah lain dan/atau kelompok masyarakat. Kegiatan Swakelola yang diumumkan pada bagian Swakelola di SiRUP merupakan kelompok kegiatan yang dapat terdiri dari (sebagian atau semua item di bawah ini):
a. honor tim; b. belanja ATK;
c. belanja bahan komputer; d. konsumsi rapat;
e. biaya perjalanan dinas; f. sewa hotel;
g. biaya operasional kendaraan dinas;
h. biaya langganan dan daya (listrik, air, dan telepon).
Contoh:
dan Prasarana Kantor. Total anggaran: Rp. 876.800.000,00 (Delapan ratus tujuh puluh enam juta delapan ratus ribu rupiah). Rincian biaya dan uraian kegiatannya sebagai berikut:
a. honor Tim = Rp.85.000.000,00 (Delapan puluh lima juta rupiah);
b. belanja ATK = Rp.21.500.000,00 (Dua puluh satu juta lima ratus ribu rupiah);
c. belanja bahan komputer =
Rp.32.500.000,00 (Tiga puluh dua juta lima ratus ribu rupiah);
d. konsumsi rapat = Rp.17.800.000,00 (Tujuh belas juta delapan ratus ribu rupiah);
e. Pembelian Lemari Arsip =
Rp.185.000.000,00 (Seratus delapan puluh lima juta rupiah);
f. Perjalanan dinas dalam negeri = Rp.235.000.000,00 (Dua ratus tiga puluh lima juta rupiah);
g. Biaya operasional kendaraan dinas = Rp.300.000.000,00 (Tiga ratus juta rupiah).
Contoh kegiatan dalam DPA tersebut di atas dapat dipecah menjadi dua, yaitu, yang dilaksanakan secara Swakelola dan melalui Penyedia.
Sembilan puluh satu juta delapan ratus ribu rupiah).
2. Rincian biaya dan uraian kegiatannya:
a. honor Tim = Rp. 85.000.000,00 (Delapan puluh lima juta rupiah);
b. belanja ATK = Rp. 21.500.000,00 (Dua puluh satu juta lima ratus ribu rupiah); c. belanja bahan komputer = Rp.
32.500.000,00 (Tiga puluh dua juta lima ratus ribu rupiah);
d. konsumsi rapat = Rp. 17.800.000,00 (Tujuh belas juta delapan ratus ribu rupiah);
e. Perjalanan dinas dalam negeri = Rp. 235.000.000,00 (Dua ratus tiga puluh lima juta rupiah);
f. Biaya operasional kendaraan dinas = Rp. 300.000.000,00 (Tiga ratus juta rupiah).
3. Melalui Penyedia:
Judul Kegiatan : Operasional dan Peningkatan Sarana dan Prasarana Kantor
Nama Paket : Pembelian Lemari Arsip Total pagu : Rp185.000.000,00 (Seratus
Dapat dilihat disini, kegiatan-kegiatan yang pertanggungjawaban perikatannya berupa nota/kuitansi digabungkan sebagai item swakelola, sedangkan yang berupa SPK dimasukkan sebagai item tersendiri sebagai kegiatan yang dilakukan melalui penyedia.
34. PAKET PENGADAAN MELALUI PENYEDIA
a. Paket kegiatan yang membutuhkan
penyedia dalam pelaksanaannya diumumkan pada bagian Penyedia.
b. Paket-paket dimaksud adalah paket yang nilainya diatas Rp. 50 juta untuk Barang, Konstruksi, dan Jasa Lainnya.
c. Paket konsultansi yang diumumkan di bagian penyedia adalah dengan nilai pagu setiap paketnya di atas Rp. 10 juta.
e. Paket-paket pekerjaan untuk sewa hotel dengan nilai sampai dengan Rp. 50 cukup digabungkan dalam Kegiatan Swakelola. Sedangkan untuk paket sewa hotel dengan nilai diatas Rp. 50 juta dikeluarkan dari Kegiatan Swakelola dan diumumkan pada bagian penyedia.
Contoh paket pekerjaan yang diumumkan pada bagian Penyedia:
1 Judul Kegiatan: Peningkatan Lingkungan dan Bangunan Kantor
Nama Paket Pekerjaan: Pembangunan saluran drainase kantor.
Total pagu anggaran: Rp. 35.000.000,00; (pelaksanaan paket pekerjaan ini menggunakan SPK).
2 Judul Kegiatan: Operasional rutin kantor Nama Paket Pekerjaan: Pengadaan ATK
rutin kantor
Total pagu anggaran Rp. 150.000.000,00; (pelaksanaan paket pekerjaan ini menggunakan SPK dan metoda Pengadaan Langsung).
Nama Paket Pekerjaan: Pembangunan Jalan Lingkungan Sesi I, Total pagu anggaran Rp. 2.150.000.000,00 (Dua miliar seratur lima puluh juta rupiah);
BAB II PENGADAAN LANGSUNG
1. PERBEDAAN PENGADAAN LANGSUNG DENGAN PENUNJUKAN LANGSUNG
Penunjukan Langsung adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Jasa dengan cara menunjuk langsung 1 (satu) Penyedia Barang/Jasa.
Penunjukan langsung dapat dilakukan karena : a) ada alasan khusus dan tertentu
sebagaimana disebutkan dalam pasal 38 dan pasal 44 Perpres 54/2010;
b) setelah pelelangan/seleksi ulang yang lulus kualifikasi di prakualifikasi hanya satu penyedia;
c) yang memasukkan dokumen penawaran dalam pelelangan/seleksi ulang hanya satu penyedia;
d) berdasarkan pasal 84 ayat 6 Perpres 70/2010; setelah pelelangan ulang/seleksi ulang, hasilnya gagal maka dapat dilakukan
penunjukan langsung berdasarkan
Penunjukan langsung tidak dibatasi oleh nilai, berapapun nilainya asalkan memenuhi empat kriteria tersebut maka dapat dilakukan dengan penunjukan langsung.
Sedangkan Pengadaan Langsung adalah Pengadaan Barang/Jasa langsung kepada Penyedia Barang/Jasa, tanpa melalui Pelelangan/ Seleksi/Penunjukan Langsung.
Pengadaan langsung dibatasi dengan nilai sebagaimana:
a. Pengadaan Barang/Pekerjaan
Konstruksi/Jasa Lainnya yang bernilai paling tinggi Rp200.000.000,00. Dikecualikan untuk wilayah Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat berdasarkan Perpres 84 Tahun 2012, dapat bernilai paling tinggi Rp 1 Milyar.
b. Pengadaan Jasa Konsultansi yang bernilai paling tinggi Rp50.000.000
2. BAGAIMANA PROSES PENGADAAN
LANGSUNG BARANG?
Proses Pengadaan Langsung Barang dilakukan sebagai berikut:
b. Pejabat Pengadaan membandingkan harga dan kualitas paling sedikit dari 2 (dua) sumber informasi yang berbeda;
c. Pejabat Pengadaan melakukan klarifikasi dan negosiasi teknis untuk mendapatkan harga yang wajar serta dapat dipertanggungjawabkan, (bila diperlukan); d. Pejabat Pengadaan melakukan transaksi; e. Pejabat Pengadaan mendapatkan bukti
transaksi dengan ketentuan:
1) untuk Pengadaan Langsung yang bernilai sampai dengan Rp10.000.000,00 (sepuluh juta rupiah) berupa bukti pembelian;
2) untuk Pengadaan Langsung yang bernilai sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) berupa kuitansi; dan 3) untuk Pengadaan Langsung yang bernilai
sampai dengan Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) berupa Surat Perintah Kerja (SPK).
3. BAGAIMANA PROSES PENGADAAN
LANGSUNG JASA KONSULTANSI?
Pengadaan Langsung Jasa Konsultansi memiliki karakteristik sebagai berikut:
b. bernilai paling tinggi Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
Pengadaan Langsung Konsultansi meliputi paling kurang tahapan sebagai berikut:
a. survei harga pasar untuk memilih calon Penyedia Jasa Konsultansi. Mengenai biaya personil dapat melihat dalam tabel INKINDO, sedangkan untuk konsultan konstruksi dapat melihat pada Peraturan Menteri PU ( SE Menteri PU No. 3 tahun 2013);
b. membandingkan harga penawaran dengan nilai biaya langsung personil; dan
c. klarifikasi teknis dan negosiasi biaya.
4. BAGAIMANA PROSES PENGADAAN
LANGSUNG PEKERJAAN
KONSTRUKSI/KONSULTANSI/JASA LAINNYA?
Proses Pengadaan Langsung Pekerjaan Konstruksi/ Konsultansi/Jasa Lainnya dilakukan sebagai berikut:
a. Pejabat Pengadaan mencari informasi terkait Pekerjaan Konstruksi dan harga melalui media elektronik maupun non-elektronik; b. Pejabat Pengadaan membandingkan harga
dan kualitas paling sedikit dari 2 (dua) sumber informasi yang berbeda;
d. undangan dilampiri spesifikasi teknis dan/atau gambar serta dokumen-dokumen lain yang menggambarkan jenis pekerjaan yang dibutuhkan;
e. penyedia yang diundang menyampaikan penawaran administrasi, teknis dan harga secara langsung sesuai jadwal yang telah ditentukan dalam undangan;
f. Pejabat Pengadaan membuka, mengevaluasi, melakukan klarifikasi teknis dan negosiasi harga untuk mendapatkan harga yang wajar; g. negosiasi dilakukan berdasarkan HPS;
h. Pejabat Pengadaan membuat Berita Acara Hasil Pengadaan Langsung.
i. Pejabat Pengadaan menyampaikan berita acara kepada PPK;
j. PPK melakukan perjanjian dan mendapatkan bukti perjanjian dengan ketentuan:
1) untuk Pengadaan Langsung yang bernilai sampai dengan Rp50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) berupa kuitansi; atau 2) untuk Pengadaan Langsung yang bernilai
Nilai paket dalam Perpres 54 lebih menunjuk kepada nilai HPS, daripada pagu anggaran. Ketika suatu nilai paket pengadaan dilakukan pembuatan HPSnya, kemudian nilai HPSnya berubah turun ke nilai metode pengadaan tertentu, seperti menjadi pengadaan langsung. Apakah pengadaan tersebut dapat dilakukan dengan pengadaan langsung? Ini yang akan menjadi pertanyaan.
Misal nilai paket untuk pengadaan meja kursi senilai Rp. 230 juta, yang harus dilakukan dengan pelelangan sederhana ketika dibuat HPSnya menjadi Rp. 190 juta maka dapat dilakukan dengan pengadaan langsung, asal outputnya tercapai.
Atau untuk pengadaan komputer senilai Rp. 225 juta yang harus dilakukan dengan metode pengadaan pelelangan sederhana, kemudian dilakukan pembuatan HPS menjadi Rp. 196 juta, menjadi dapat dilakukan dengan pengadaan langsung, asal outputnya tercapai.
Jadi apakah nilai paket itu nilai pagu anggaran atau nilai HPS? Nilai paket adalah nilai pagu anggaran, kemudian ketika dibuat HPSnya nilai paket menjadi nilai HPS. Pemikiran ini didasarkan kepada prinsip efektif dan efisien.
dibawah Rp. 200 juta, misal menjadi Rp. 197 juta maka dapat dilakukan dengan pengadaan langsung, asal out put (keluaran) yang dituju oleh kegiatan tersebut dapat tercapai.
Yang tegas dilarang adalah memecah paket untuk menghindari pelelangan/seleksi. Contoh ada anggaran pengadaan komputer berdasarkan nilainya dilakukan dengan seleksi sederhana. Namun bila bisa membuat HPS senilai dibawah Rp. 50 juta maka dapat dilakukan dengan pengadaan langsung.
Apakah boleh dilaksanakan dengan pengadaan langsung tanpa lelang pekerjaan jasa konsultasi dengan nilai Pagu anggaran Rp 60 juta sedangkan HPS Rp 49 juta ?
a) Perencanaan pemilihan penyedia dan pembuatan HPS dilakukan oleh PPK.
merupakan kebutuhan operasional K/L/D/I dan/atau bernilai paling tinggi Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah); c) Mengacu ketentuan tersebut untuk
pekerjaan dengan nilai HPS Rp. 49 juta dapat dilakukan Pengadaan Langsung.
Untuk nilai-nilai paket yang dilakukan
dengan pelelangan sederhana/seleksi
sederhana ketika bisa dilakukan dengan HPS untuk nilai pengadaan langsung maka akan terjadi penghematan anggaran, asalkan out put dari kegiatan tercapai. Namun agar diperhatikan pula mengenai kualitas atau mutu dari pengadaan tersebut.
Dalam Perpres 70/2012 jo Perpres 54/2010 Pasal 24 ayat 3c:
Dilarang memecah Pengadaan Barang/Jasa menjadi beberapa paket dengan maksud menghindari pelelangan; dan/atau
Pasal 39 ayat 4
PA/KPA dilarang menggunakan metode Pengadaan Langsung sebagai alasan untuk memecah paket Pengadaan menjadi beberapa paket dengan maksud untuk menghindari pelelangan
Pasal 45 ayat 3
memecah paket pengadaan menjadi beberapa pengadaan menggunakan kuitansi, karena ada hak dan kewajiban dari para pihak yang harus
diungkapkan atau hak dan kewajiban tidak cukup ditulis di kuitansi. Contohnya untuk pengadaan konsultan jasa untuk membuat web suatu instansi yang senilai Rp. 9 juta, karena harus diungkapkan hak dan kewajiban maka dibuatkan SPK.
8. PELAKSANAAN PENGADAAN LANGSUNG DENGAN BUKTI PEMBELIAN
Pengadaan barang/jasa dengan nilai sampai dengan Rp 10 juta rupiah dibuktikan dengan bukti pembelian. Bukti pembelian a.l. seperti nota pembelian, bukti pembayaran tol, pembayaran melalui slip ATM, tiket/karcis pembayaran parkir, bukti pembayaran listrik/telepon, struk belanja di pasar swalayan, dan sejenisnya.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) meminta kepada pejabat pengadaan untuk melakukan pengadaan langsung. Pejabat pengadaan melakukan pengadaan langsung
dan/atau menerima bukti
pembelian/pengadaan dari para
pejabat/pegawai yang melakukan transaksi (bernilai) kecil-kecil yang harganya sudah pasti dan tidak bisa dinegosiasikan. Bukti tersebut oleh pejabat pengadaan diteliti dan
disampaikan kepada PPK sebagai
dokumen transaksi pengeluaran. Persetujuan PPK dapat berbentuk paraf atau tanda tangan. Mengenai perikatan dalam bukti pembelian memperhatikan kewajaran harga pasarnya. Bila nilai pengadaan sampai dengan Rp10 juta
dipandang tidak memadai hanya
menggunakan bukti pembelian maka dapat dibuatkan kuitansi. Bahkan bila diperlukan adanya penjelasan mengenai hak dan kewajiban antar para pihak maka dapat dibuatkan Surat Perintah Kerja (SPK).
Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan (PPHP) menerima dan meneliti barang dan jasa yang diterima. Bila barang/jasa dapat diterima maka PPHP membubuhkan paraf atau tanda tangan. PPHP dapat menuliskan di bukti pembelian "barang/jasa diterima dengan baik dan cukup".
Dalam pengadaan langsung perlu diperhatikan apakah suatu pengadaan pembayarannya dapat dilakukan melalui pembayaran dengan uang persediaan (UP) atau pembayaran langsung ke rekening penyedia (LS) termasuk mengenai pengenaan pajaknya (mengenai hal ini silahkan
dikonfirmasikan dengan/ke
Pengadaan langsung dengan bukti pembelian. Perlu dikoordinasikan terlebih dahulu dengan bagian keuangan, agar tidak terjadi kesalahpahaman sehingga tidak ada permasalahan dengan pertanggungjawaban pembayaran.
9. PELAKSANAAN PENGADAAN LANGSUNG DENGAN KUITANSI
Tahapan proses pelaksanaan pengadaan langsung dengan kuitansi dan keterlibatan para pihak adalah sebagai berikut :
a. PPK membuat spesifikasi teknis, HPS (untuk nilai di atas/lebih dari Rp. 10 juta) dan draft SPK bila diperlukan, kemudian diberikan kepada pejabat pengadaan.
b. Pejabat Pengadaan mencari 2 (dua) sumber informasi harga.
c. Pejabat Pengadaan mendatangi 1 (satu) penyedia atau mengundang kepada 1 (satu) penyedia.
e. Pejabat Pengadaan memperoleh bukti kuitansi.
f. Barang/jasa diserahkan oleh Penyedia. g. PPHP (Panitia/Pejabat Penerima Hasil
Pekerjaan) memeriksa dan menerima barang/jasa, kemudian membubuhkan tandatangan di kuitansi dengan pernyataan barang/jasa diterima dengan baik dan cukup. Bila di kuitansi tidak cukup memuat mengenai item-item barang/jasa maka dapat dibuat dokumen tersendiri berupa nota/bukti penerimaan barang/jasa kemudian dapat ditulis dan ditanda-tangani pernyataan barang/jasa diterima dengan baik dan cukup.
h. Kuitansi dan dokumen lain yang telah didukung oleh tanda tangan PPHP diberikan kepada PPK untuk dasar penerbitan permintaan pembayaran.
i. Untuk pekerjaan yang tidak dapat menggambarkan hak dan kewajiban antar para pihak dengan kuitansi walaupun nilainya di bawah/kurang dari sampai dengan Rp. 50 juta maka agar dibuatkan SPK.
10. PELAKSANAAN PENGADAAN LANGSUNG DENGAN SURAT PERINTAH KERJA (SPK)
Tahapan proses pelaksanaan pengadaan langsung dengan Surat Perintah Kerja (SPK) dan keterlibatan para pihak adalah sebagai berikut:
a) PPK membuat Rencana Pelaksanaan Pengadaan (RPP) yang memuat spesifikasi, HPS dan draft SPK, kemudian diberikan ke pejabat pengadaan.
penawaran. Pejabat pengadaan dapat
memberi penjelasan mengenai
barang/jasa yang akan diadakan.
d) Pejabat Pengadaan melakukan klarifikasi dan negosiasi harga
e) Pejabat Pengadaan melakukan transaksi dengan SPK. SPK tersebut untuk ditandatangani oleh penyedia.
f) Pejabat Pengadaan melakukan
pengumuman penyedia yang ditunjuk di papan pengumuman dan di website Pemda (untuk K/L di website K/L).
g) SPK yang telah ditandatangani penyedia diberikan ke PPK.
h) Barang/jasa diserahkan oleh Penyedia. i) PPHP memeriksa barang/jasa dari
maka dibuatkan berita acara serah terima sebagai dasar pembayaran oleh PPK. j) PPHP menerima dan meneliti barang dan
jasa yang diterima. Bila barang/jasa dapat diterima dapat membubuhkan paraf atau memberikan tanda tangan di kuitansi/bukti pengiriman. PPHP dapat menuliskan di kuitansi/bukti pengiriman yang merupakan bagian dari dokumen SPK "barang/jasa diterima dengan baik dan cukup".
Untuk pengadaan barang dan jasa
lainnya dapat dilakukan secara
pascakualifikasi, Untuk pengadaan jasa Konsultansi badan usaha dan pekerjaan konstruksi dilakukan secara prakualifikasi. Prakualifikasi dilakukan terhadap kualifikasi yang diperlukan saja.
11.APAKAH DIPERBOLEHKAN
MENCANTUMKAN MEREK PADA DOKUMEN UNTUK PENGADAAN LANGSUNG?
Penyebutan suatu merek dalam dokumen pengadaan untuk pelelangan/seleksi dilarang dalam hal pengadaan tersebut hanya bisa dipenuhi oleh satu penyedia saja.
12.ADA SATU ITEM BARANG YANG HARGANYA MELEBIHI HARGA SATUAN
PADA HPS NAMUN SECARA
KESELURUHAN TIDAK MELEBIHI TOTAL HPS
Negosiasi teknis dan harga untuk tahapan pengadaan langsung dilakukan, salah satunya, mengacu pada rincian Harga Perkiraan Sendiri (HPS) yang telah dibuat. Dalam hal terdapat satu item barang melampaui HPS, namun secara total penawaran berada di bawah total HPS maka pada saat negosiasi teknis dan harga sebisa mungkin disamakan dengan harga rincian HPS. Apabila penyedia tidak bersedia untuk menurunkan harga item barang, selama total harga penawaran tidak melebihi HPS maka hal tersebut diperbolehkan.
13.PENGADAAN BIBIT KAMBING TETAPI DI
DALAM PERENCANAAN TERPISAH
PENGALOKASIAN DI MATA ANGGARAN
ATAU REKENING ANGGARANNYA,
MASING-MASING DENGAN PAGU
APABILA DIJUMLAHKAN MAKA PAGUNYA LEBIH DARI RP. 200.000.000,-
Pasal 39 ayat 4 Perpres Nomor 70 Tahun 2012 menyebutkan bahwa PA/KPA dilarang menggunakan metode Pengadaan Langsung sebagai alasan untuk memecah paket Pengadaan menjadi beberapa paket dengan maksud untuk menghindari pelelangan. Mengingat ketiga bibit ternak kambing tersebut dapat disediakan oleh Penyedia Barang/Jasa yang sama kualifikasinya maka dijadikan satu paket dan dilakukan pelelangan sederhana jika nilainya paling tinggi Rp. 5 milyar.
Namun dalam hal kapasitas penyedia, di daerah Saudara berdasar penilaian efisien dan efektif, tidak ada yang dapat menyediakan dalam jumlah banyak, maka dapat dilakukan pengadaan langsung kepada penyedia yang
langsung, namun demikian karena nilai pengadaannya dibawah Rp. 200 juta maka dilakukan oleh pejabat pengadaan melalui mekanisme pengadaan langsung.
15.PENGADAAN LANGSUNG DENGAN PT/CV ATAU BISA DENGAN TOKO/PERORANGAN?
Pengadaan agar dilakukan kepada penyedia sebenarnya seperti yang terjadi dalam praktek bisnisnya. Dengan demikian pengadaan langsung dapat dilakukan kepada toko atau perajin sesuai ijin usaha yang dimiliki mereka dalam menjalankan usaha.
Dalam prakteknya ada kesulitan mengenai aspek pertanggung-jawaban pajak jika kita membeli langsung kepada toko/perorangan sehingga tidak dapat dilakukan kepada penyedia sebenarnya, sehingga dicari pihak lain yang dapat memenuhi aspek perpajakan. Dengan demikian ketika hanya dapat dilakukan kepada penyedia sebagai perantara (bukan kepada penyedia sebenarnya), harga yang terbentuk akan menjadi lebih mahal daripada kita membeli langsung.
Untuk pengadaan yang menggunakan kuitansi, maka persyaratan pemenuhan pajak 3 bulan terakhir dapat diabaikan.
17.PENGADAAN LANGSUNG KE HANYA SATU PENYEDIA SECARA TERUS MENERUS
Pengadaan langsung dilakukan langsung ke penyedia yang memang sehari-hari mempunyai bisnis atau usaha tersebut. Misal pengadaan ATK, ditujukan kepada penjual ATK, bukan kepada penyedia bermodalkan papan nama saja.
Pengadaan langsung dapat dilakukan kepada penyedia tertentu secara terus menerus. Memperhatikan peran pemerintah yang secara langsung atau tidak langsung membawa dampak pada tumbuh kembangnya usaha swasta maka sebaiknya pengadaan langsung tidak hanya ditujukan kepada penyedia tertentu tetapi juga ditujukan kepada penyedia-penyedia yang lain. Pengadaan langsung dapat sebagai sarana mengembangkan usaha setempat, asal usaha setempat memiliki kompetensi untuk menyediakan barang dan jasa serta kewajaran harga yang ditawarkan.
Pengadaan tersebut dapat dilakukan dengan banyak cara, antara lain:
a. Pengadaan dapat dilakukan dengan pelelangan sederhana.
b. Pengadaan dilakukan pengadaan langsung kepada satu penyedia secara sekaligus. c. Pengadaan dilakukan pengadaan langsung
kepada satu penyedia, dengan berkali-kali transaksi.
d. Pengadaan dilakukan pengadaan langsung kepada banyak penyedia (dipecah-pecah) e. Pengadaan dilakukan kombinasi cara a s.d.
d
19.EVALUASI PENAWARAN PENGADAAN LANGSUNG
Dalam pengadaan langsung yang menggunakan bukti pembelian atau kuitansi, evaluasi dilakukan antara lain terhadap:
- jumlah barang/jasa,
- spesifikasi
- kewajaran harga pasar
- jaminan purna jual (bila ada).
Penilaian dilakukan terhadap
Dalam pengadaan langsung yang menggunakan SPK, evaluasi dilakukan antara lain terhadap data kualifikasi, administrasi, teknis dan harga. Kualifikasi diperlukan terhadap yang dibutuhkan saja.
Penilaian dilakukan terhadap
terpenuhinya penawaran penyedia sesuai
persyaratan yang telah ditentukan dalam
dokumen pengadaan. Bila penyedia yang dinilai tidak memenuhi syarat maka agar dicari penyedia lainnya. Bila dokumen pengadaan tidak dapat menghasilkan penyedia yang memenuhi syarat, maka dokumen pengadaan agar diperbaiki.
20. JAMINAN PENAWARAN DAN JAMINAN PELAKSANAAN DALAM PENGADAAN LANGSUNG
Berdasarkan Peraturan Presiden No. 70 Tahun 2012 Pasal 68 ayat (3) disebutkan bahwa jaminan penawaran tidak diperlukan dalam hal Pengadaan Barang/Pekerjaan
Konstruksi/Jasa Lainnya dilaksanakan
dengan Penunjukan Langsung, Pengadaan Langsung atau Kontes/Sayembara. Mengacu pada ketentuan tersebut, maka untuk proses penunjukan langsung, Kontes/Sayembara atau pengadaan langsung tidak memerlukan jaminan penawaran.
Perpres 70 tahun 2012 pasal 70 ayat (1) “Jaminan Pelaksanaan diberikan oleh Penyedia Barang/ Pekerjaan Konstruksi untuk Kontrak bernilai di atas Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah)”.
21. MEKANISME PEMBAYARAN PADA PENGADAAN LANGSUNG
Berdasarkan Peraturan Menteri
Keuangan No. 190/PMK.05/2012 Tentang Tata
Cara Pembayaran Dalam Rangka Pelaksanaan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Negara 2012, pembayaran dengan dana APBN untuk Uang Persediaan (UP) sekarang dapat digunakan untuk belanja modal.
Mekanisme pembayaran terdiri dari 2, yaitu mekanisme Uang Persedian (UP) dan mekanisme pembayaran langsung (LS).
Pada mekanisme UP, pembayaran suatu tagihan atas belanja dilakukan melalui bendahara pengeluaran dengan uang muka kerja yang dikelolanya (UP).
Pembayaran dengan UP yang dapat dilakukan oleh Bendahara Pengeluaran kepada satu penerima hak atau penyedia barang/jasa paling banyak sebesar Rp.50.000.000,- kecuali untuk pembayaran honorarium dan perjalanan dinas.