• Tidak ada hasil yang ditemukan

M02 PSP KONSEP SUPERMAN 07092016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "M02 PSP KONSEP SUPERMAN 07092016"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

MODUL

PENGAWAS SEKOLAH PEMBELAJAR

KELOMPOK KOMPETENSI B

KONSEP SUPERVISI MANAJERIAL

Penanggung Jawab Dra. Garti Sri Utami, M. Ed. Penyusun

1. Prof. M. Asfah Rahman, M.Ed., Ph.D.;  08124134215; [email protected] 2. M. Ilzam Marzuk, MA.Educ.;  081334986165; [email protected]

3. Zainal, S.Pd., M.Pd.; 081345289130; [email protected] Penelaah

Dr. Dian Peniasiani, M.Ed.;  081573205115; [email protected] Diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

Copyright @ 2016

Edisi ke-1: Agustus 2016

Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang

(3)
(4)
(5)

DAFTAR ISI

SAMBUTAN DIREKTUR JENDERAL GURU DAN TENAGA KEPENDIDIKAN ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

DAFTAR GAMBAR ... v

DAFTAR TABEL... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

PETA KEDUDUKAN MODUL ...viii

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ...1

B. Target Kompetensi ...2

C. Tujuan Pembelajaran ...2

D. Peta Kompetensi ...2

E. Ruang Lingkup dan Pengorganisasian Pembelajaran ...3

F. Cara Penggunaan Modul ...4

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1 PRINSIP-PRINSIP SUPERVISI MANAJERIAL ... 5

A. Tujuan Pembelajaran ...5

B. Indikator Pencapaian Tujuan ...5

C. Uraian Materi ...5

1. Pengertian Supervisi Manajerial ...5

2. Ruang Lingkup Supervisi Manajerial ...6

3. Fungsi dan Peran Pengawas Sekolah dalam Supervisi Manajerial ...6

4. Prinsip-Prinsip Supervisi Manajerial ...8

D. Aktivitas Pembelajaran ... 14

E. Latihan/Kasus/Tugas ... 18

F. Rangkuman ... 19

G. Umpan Balik ... 19

H. Refleksi dan Tindak Lanjut ... 20

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2 METODE SUPERVISI MANAJERIAL ... 22

A. Tujuan Pembelajaran ... 22

B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 22

C. Uraian Materi ... 22

1. Monitoring dan Evaluasi ... 22

2. Refleksi dan Focused Group Discussion (FGD) ... 23

3. Metode Delphi ... 24

4. Workshop ... 24

D. Aktivitas Pembelajaran ... 25

E. Latihan/Kasus/Tugas ... 30

F. Rangkuman ... 32

(6)

H. Refleksi dan Tindak Lanjut ... 33

I. Kunci Jawaban ... 33

KEGIATAN PEMBELAJARAN 3 TEKNIK SUPERVISI MANAJERIAL ... 34

A. Tujuan Pembelajaran ... 34

B. Indikator Pencapaian Kompetensi ... 34

C. Uraian Materi ... 34

1. Teknik Supervisi Individual ... 34

2. Teknik Supervisi Kelompok... 36

D. Aktivitas Pembelajaran ... 39

E. Latihan/Kasus/Tugas ... 44

F. Rangkuman ... 45

G. Umpan Balik ... 46

H. Refleksi dan Tindak Lanjut ... 46

I. Kunci Jawaban ... 47

EVALUASI ... 48

PENUTUP ... 55

DAFTAR ISTILAH ... 56

DAFTAR PUSTAKA ... 58

(7)

DAFTAR GAMBAR

(8)

DAFTAR TABEL

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

(10)

PETA KEDUDUKAN MODUL

Gambar 1. Peta Kedudukan Modul PENELITIAN DAN

PENGEMBANGAN

MODUL I

Pengembangan Profesi

MODUL H

Penilaian Kinerja Kepala Sekolah, Guru dan Tenaga Kependidikan

Sekolah MODUL G

Penilaian dan Pemantauan Pembelajaran

MODUL F

Pemantauan Pelaksanaan Pemenuhan SNP

MODUL D

Laporan Hasil Pengawasan

MODUL C

Program Pengawasan Supervisi Manajerial

MODUL B

Konsep Supervisi Manajerial

EVALUASI

PENDIDIKAN

MODUL J Pedoman Pengawasan

SUPERVISI

MANAJERIAL

SUPERVISI AKADEMIK MODUL A Supervisi Akademik MODUL E

Pelaksanaan Supervisi Manajerial D I M E N S I K O M P E T E N S I

(11)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Modul Pengawas Sekolah Pembelajar B Konsep Supervisi Manajerial ini adalah modul yang dipersiapkan untuk membantu meningkatkan kompetensi pengawas sekolah dalam melaksanakan supervisi manajerial. Melalui modul ini, Saudara akan melakukan kegiatan-kegiatan, baik secara individu maupun dalam kelompok. Kegiatan-kegiatan yang Saudara lakukan antara lain mengkaji penerapan prinsip-prinsip supervisi manajerial, penerapan metode supervisi manajerial, serta penerapan teknik supervisi manajerial.

Supervisi manajerial adalah serangkaian kegiatan profesional yang dilakukan oleh pengawas sekolah dalam rangka membantu kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya guna meningkatkan mutu dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran. Supervisi manajerial menitikberatkan pada pengamatan aspek-aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang berfungsi sebagai pendukung

(supporting) terlaksananya pembelajaran seperti yang tertera dalam Permendiknas Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan.

Pengawas sekolah harus memiliki komitmen bersama untuk membina dan mendampingi kepala sekolah menggerakkan guru dan peserta didik agar mampu berpikir kritis, berkreasi, berinovasi, memecahkan masalah dan menciptakan pembelajaran efektif. Dalam melaksanakan fungsi supervisi manajerial, pengawas sekolah berperan sebagai: (1) kolaborator dan negosiator dalam proses perencanaan, koordinasi, pengembangan manajemen sekolah, (2) asesor dalam menganalisis potensi sekolah dan mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan sekolah, (3) pusat informasi pengembangan mutu sekolah, dan (4) evaluator terhadap pemaknaan hasil pengawasan.

Fokus supervisi manajerial adalah bidang garapan manajemen sekolah, antara lain meliputi: (a) manajemen kurikulum dan pembelajaran, (b) kesiswaan, (c) sarana dan prasarana, (d) ketenagaan, (e) keuangan, (f) hubungan sekolah dengan masyarakat, dan (g) layanan khusus.

Dalam tugas tersebut pengawas sekolah perlu melakukan kegiatan pemantauan, pembinaan, bimbingan dan narasumberan, serta penilaian terhadap pelaksanaan standar nasional pendidikan yang meliputi delapan standar, yaitu: (a) standar isi, (b) standar kompetensi lulusan, (c) standar proses, (d) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (e) standar sarana dan prasarana, (f) standar pengelolaan, (g) standar pembiayaan, dan (h) standar penilaian.

Tujuan supervisi terhadap kedelapan standar tersebut adalah agar sekolah terakreditasi dengan baik dan dapat memenuhi standar nasional pendidikan. Dalam konteks kehidupan internasional kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan sistem penjaminan mutu pendidikan nasional agar dapat menghasilkan lulusan yang dapat bersaing dalam persaingan internasional.

(12)

melaksanakan tugas supervisi manajerial. Pada pembelajaran modul ini, Saudara akan melakukan kegiatan pembelajaran melalui pembelajaran mandiri dan/atau belajar bersama dengan sesama pengawas sekolah dan dipandu oleh fasilitator.

B. Target Kompetensi

Menguasai metode, teknik, dan prinsip-prinsip supervisi manajerial dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

C. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari modul pengawas pembelajar ini, Saudara mampu:

1. menerapkan prinsip-prinsip supervisi manajerial untuk peningkatan mutu pendidikan di sekolah;

2. menerapkan metode supervisi manajerial untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah;

3. menerapkan teknik supervisi manajerial untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.

D. Peta Kompetensi

Gambar 2. Peta Kompetensi Modul Konsep Supervisi Manajerial

PERMENDIKNAS NO. 12 TAHUN 2007 TENTANG KOMPETENSI PENGAWAS

SEKOLAH

DIMENSI KOMPETENSI 2. SUPERVISI MANAJERIAL

2.1 . MENGUASAI METODE, TEKNIK, DAN PRINSIP-PRINSIP SUPERVISI MANAJERIAL DALAM RANGKA PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DI

SEKOLAH

2.1.2.

MENERAPKAN METODE SUPERVISI MANAJERIAL

UNTUK PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DI

SEKOLAH

2.1.3.

MENERAPKAN TEKNIK SUPERVISI MANAJERIAL

UNTUK PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DI

SEKOLAH 2.1.1.

MENERAPKAN PRINSIP-PRINSIP SUPERVISI MANAJERIAL UNTUK PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN DI SEKOLAH

(13)

E. Ruang Lingkup dan Pengorganisasian Pembelajaran

1. Ruang Lingkup

Modul B Konsep Supervisi Manajerial ini memuat bahasan tentang konsep supervisi manajerial yang dirinci menjadi 3 (tiga) topik utama yaitu: (a) Prinsip-Prinsip Supervisi Manajerial, (b) Metode Supervisi Manajerial, dan (c) Teknik-Teknik Supervisi Manajerial.

2. Pengorganisasian Pembelajaran

a. Kegiatan Pembelajaran dan Alokasi Waktu

Melalui modul Pengawas Sekolah Pembelajar ini, Saudara akan melakukan kegiatan pembelajaran Konsep Supervisi Manajerial diawali dengan kegiatan mempelajari prinsip-prinsip supervisi manajerial di Kegiatan Pembelajaran 1, metode supervisi manajerial pada Kegiatan Pembelajaran 2, dan Kegiatan Pembelajaran 3 tentang teknik-teknik supervisi manajerial, kemudian diakhiri dengan tes.

Saudara akan melakukan kegiatan refleksi mengenai prinsip, metode dan teknik supervisi manajerial yang sudah dilaksanakan di sekolah binaan. Setelah memperoleh hasil refleksi dilanjutkan dengan memetakan prinsip, metode dan teknik supervisi manajerial, menyelesaikan kasus supervisi manajerial dengan menentukan prinsip, metode dan teknik yang sesuai, menyusun skenario penerapannya kemudian melakukan simulasi penerapan prinsip, metode dan teknik supervisi manajerial. Secara rinci kegiatan pembelajaran dan alokasi waktu pada modul ini dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 1. Kegiatan Pembelajaran dan Alokasi Waktu

No Kegiatan Pembelajaran Alokasi Waktu

1 Menerapkan prinsip-prinsip supervisi manajerial untuk peningkatan mutu pendidikan di sekolah

10 JP

2 Menerapkan Metode Supervisi Manajerial untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan di Sekolah

10 JP

3 Menerapkan Teknik Supervisi Manajerial untuk Meningkatkan Mutu Pendidikan di Sekolah

10 JP

TOTAL 30 JP

b. Strategi Pembelajaran

(14)

Tabel 2. Strategi Pembelajaran

No Strategi Pembelajaran 1 Berpikir Reflektif

2 Diskusi 3 Studi Kasus 4 Presentasi 5 Bermain Peran 6 Curah Pendapat 7 Simulasi

F. Cara Penggunaan Modul

Modul Pengawas Sekolah Pembelajar ini dirancang dengan moda tatap muka dengan pola 30 JP. Langkah-langkah yang harus dilakukan pengawas sekolah pembelajar dalam mempelajari modul ini adalah sebagai berikut :

1.

Lakukan pengecekan terhadap kelengkapan modul, seperti kelengkapan halaman, kejelasan hasil cetakan, serta kondisi modul secara keseluruhan.

2.

Bacalah struktur dan petunjuk penggunaan modul serta bagian pendahuluan yang meliputi: target kompetensi, tujuan pembelajaran, peta kompetensi, ruang lingkup, sebelum masuk pada pembahasan materi pokok.

3.

Pelajarilah setiap kegiatan pembelajaran sampai tuntas,

4.

Pelajari semua isi modul mulai dari materi pembelajaran, aktivitas pembelajaran, latihan soal dalam modul ini dengan seksama.

5.

Buatlah catatan-catatan kecil jika ditemukan hal-hal yang perlu pengkajian lebih lanjut dan disampaikan pada fasilitator

6.

Ikuti semua instruksi yang terdapat dalam aktivitas pembelajaran yang meliputi kegiatan dan pengisian lembar kerja (LK) di setiap kegiatan pembelajaran.

7.

LK yang terdapat dalam modul merupakan contoh, Saudara dapat mengerjakannya di tempat lain baik dalam bentuk soft copy maupun hard copy.

8.

Lakukanlah berbagai latihan sesuai dengan petunjuk yang disajikan pada masing-masing kegiatan pembelajaran. Demikian pula dengan kegiatan evaluasi dan tindak lanjutnya.

9.

Disarankan tidak melihat kunci jawaban terlebih dahulu agar evaluasi yang dilakukan dapat mengukur tingkat penguasaan peserta terhadap materi yang disajikan.
(15)

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1

PRINSIP-PRINSIP SUPERVISI MANAJERIAL

(WAKTU 10 JP)

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah menyelesaikan kegiatan pembelajaran ini, Saudara dapat menerapkan prinsip-prinsip supervisi manajerial untuk peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

B. Indikator Pencapaian Tujuan

1. Membangun hubungan kemanusiaan.

2. Melaksanakan prinsip supervisi berkesinambungan, 3. Melakukan supervisi secara demokratis,

4. Memproses supervisi secara integral dengan program pendidikan, 5. Melaksanakan supervisi komprehensif,

6. Melaksanakan supervisi secara konstruktif 7. Melakukan supervisi secara objektif.

C. Uraian Materi

1. Pengertian Supervisi Manajerial

Supervisi adalah kegiatan yang dilakukan oleh pengawas sekolah dalam rangka membantu kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya guna meningkatkan mutu dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran. Pengertian supervisi seperti yang dikemukakan Ametembun (1993) dalam Direktorat Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional (2008) bahwa berdasarkan bentuk perkataannya, supervisi terdiri dari dua buah kata super + vision : Super = atas, lebih, Vision = lihat, tilik, awasi. Makna yang terkandung dari pengertian tersebut, bahwa seorang supervisor mempunyai kedudukan atau posisi lebih dari orang yang disupervisi, tugasnya adalah melihat, menilik atau mengawasi orang-orang yang disupervisi. Supervisi yang dilakukan oleh pengawas satuan pendidikan ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada kepala sekolah dalam melakukan pengelolaan kelembagaan secara efektif dan efisien serta mengembangkan mutu kelembagaan pendidikan.

(16)

2. Ruang Lingkup Supervisi Manajerial

Supervisi manajerial sebagaimana dikemukakan dalam uraian di atas lebih dititikberatkan pada aspek pengelolaan dan administrasi sekolah. Sejalan dengan pernyataan dalam Panduan Pelaksanaan Tugas Pengawas Sekolah/Madrasah (Direktorat Tenaga Kependidikan, 2009:20) dinyatakan bahwa supervisi manajerial adalah supervisi yang berkenaan dengan aspek pengelolaan sekolah yang terkait langsung dengan peningkatan efisiensi dan efektivitas sekolah yang mencakup perencanaan, koordinasi, pelaksanaan, penilaian, pengembangan kompetensi sumberdaya manusia kependidikan dan sumberdaya lainnya. Selanjutnya Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 19 Tahun 2007 tentang Standar Pengelolaan Pendidikan yang berkenaan langsung dengan ranah kompetensi pengawas sekolah dalam pembinaan untuk mengelola sekolah binaannya yang meliputi: (a) perencanaan program, (b) pelaksanaan rencana kerja, (c) pengawasan dan evaluasi, (d) kepemimpinan, dan (e) sistem informasi manajemen.

Supervisi manajerial yang dilaksanakan pengawas sekolah pada aspek manajemen sekolah meliputi: (a) kurikulum dan pembelajaran, (b) kesiswaan, (c) sarana dan prasarana, (d) ketenagaan, (e) keuangan, (f) hubungan sekolah dengan masyarakat, dan (g) layanan khusus. Terkait dengan tugas tersebut pengawas perlu melakukan tugas berupa pemantauan, bimbingan dan narasumberan, serta penilaian terhadap pelaksanaan standar nasional pendidikan yang meliputi delapan standar, yaitu: (a) standar isi, (b) standar kompetensi lulusan, (c) standar proses, (d) standar pendidik dan tenaga kependidikan, (e) standar sarana dan prasarana, (f) standar pengelolaan, (g) standar pembiayaan, dan (h) standar penilaian.

Pelaksanaan supervisi manajerial oleh pengawas sekolah selalu berkaitan dengan penguasaan prinsip-prinsip, metode dan teknik supervisi manajerial agar pelaksanaan supervisi dapat memberikan dampak positif bagi peningkatan mutu pendidikan di sekolah terutama pada sekolah binaan. Pemahaman prinsip-prinsip, metode dan teknik supervisi manajerial akan memandu pengawas sekolah dalam menjalankan fungsi pengawas secara efektif sesuai dengan permasalahan dan kebutuhan sekolah binaan.

3. Fungsi dan Peran Pengawas Sekolah dalam Supervisi Manajerial

Pengawas sekolah sebagai supervisor memiliki fungsi dan peran yang menentukan dalam upaya peningkatan kinerja dan mutu pendidikan di sekolah. Gregorio (1966) seperti dikutip Direktorat Tenaga Kependidikan Departemen Pendidikan Nasional (2008) mengemukakan bahwa ada lima fungsi utama supervisi, yaitu: sebagai inspeksi, penelitian, pelatihan, bimbingan dan penilaian.

Fungsi inspeksi antara lain berperan dalam mempelajari keadaan dan kondisi sekolah, maka tugas seorang supevisor antara lain berperan dalam melakukan penelitian mengenai keadaan sekolah secara keseluruhan baik pada kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa, kurikulum, tujuan belajar maupun metode pembelajaran. Sasaran inspeksi yang dilakukan pengawas sekolah adalah menemukan permasalahan dengan cara melakukan observasi, interviu, angket, pertemuan-pertemuan dan daftar isian.

(17)

sekolah. Penelitian dilakukan sesuai dengan prosedur ilmiah, yakni merumuskan masalah yang akan diteliti, mengumpulkan data, mengolah data, dan melakukan analisis untuk menarik suatu kesimpulan dan menentukan strategi alternatif untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi sekolah.

Fungsi pelatihan merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan keterampilan guru/kepala sekolah/tenaga kependidikan lainnya berkaitan dengan kemampuan profesional yang diharapkan. Pelatihan dalam supervisi manajerial dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan antara lain: workshop/lokakarya, seminar, observasi, individual dan group conference, serta kunjungan supervisi.

Fungsi bimbingan diartikan sebagai usaha untuk mendorong guru baik secara perorangan maupun kelompok agar mereka mau melakukan berbagai perbaikan dalam menjalankan tugasnya. Kegiatan bimbingan dilakukan dalam pelaksanaan supervisi manajerial antara lain dengan cara membangkitkan kemauan, memberi semangat, melakukan pendampingan (mentoring) serta membantu menerapkan sebuah prosedur kerja yang baru.

Fungsi penilaian adalah untuk mengukur tingkat kemajuan yang diinginkan, tingkat pencapaian pelaksanaan program. Penilaian terkait dengan supervisi manajerial dilakukan dengan berbagai cara di antaranya: tes, penetapan standar, penilaian, perkembangan hasil penilaian sekolah serta prosedur lain yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan.

Ketika melaksanakan supervisi manajerial, peran-peran yang dimiliki pengawas sekolah antara lain:

a. Kolaborator dan negosiator dalam proses perencanaan, koordinasi, pengembangan manajemen sekolah.

b. Asesor dalam menganalisis potensi sekolah binaan dan mengidentifikasi kelemahan dan kekuatan sekolah binaannya.

c. Pusat informasi pengembangan mutu pendidikan di sekolah binaannya. d. Evaluator/judgement terhadap pemaknaan hasil pengawasan.

Dalam menjalankan peran tersebut di atas, seorang pengawas diharapkan memiliki kemampuan sebagai:

a. Konseptor, yaitu menguasai metode, teknik dan prinsip-prinsip supervisi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan.

b. Programmer, yaitu menyusun program kepengawasan berdasarkan visi-misi-tujuan dan program sekolah-sekolah binaannya.

c. Komposer, yaitu menyusun metode kerja dan berbagai instrumen yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi pengawasan di sekolah.

d. Builder, yaitu: (1) membina kepala sekolah dalam pengelolaan (manajemen) dan administrasi sekolah berdasarkan manajemen peningkatan mutu pendidikan di sekolah, (2) membina guru dan kepala sekolah dalam melaksanakan bimbingan konseling di sekolah, dan (3) memotivasi pengembangan karir kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya sesuai dengan peraturan dan ketentuan yang berlaku.

(18)

f. Reporter, yaitu menyusun laporan hasil-hasil pengawasan pada sekolah-sekolah binaan dan menindaklanjuti untuk perbaikan mutu pendidikan dan program pengawasan berikutnya.

g. Supporter, yaitu mendorong guru dan kepala sekolah untuk merefleksi guna menemukan hasil-hasil yang dicapai dan menyadari kelebihan dan kekurangan dalam melaksanakan tugas pokoknya.

h. User, yaitu memanfaatkan hasil-hasil pemantauan untuk membantu kepala sekolah dalam menyiapkan akreditasi sekolah.

i. Messenger, yaitu menyampaikan dan menjelaskan berbagai inovasi dan kebijakan pendidikan kepada guru dan kepala sekolah.

4. Prinsip-Prinsip Supervisi Manajerial

Pengawas sekolah sebagai supervisor harus mampu menunjukkan perilaku seorang profesional. Pelaksanaan supervisi manajerial harus berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah untuk meningkatkan mutu pendidikan. Karena itu, diperlukan kelebihan dapat melihat dengan tajam permasalahan peningkatan mutu pendidikan, menggunakan kepekaan untuk memahami setiap permasalahan dan mampu memberikan alternatif untuk menyelesaikannya.

Pelaksanaan supervisi manajerial oleh pengawas sekolah dapat berjalan secara efektif apabila didukung oleh pemahaman dan penguasaan mengenai prinsip-prinsip supervisi manajerial. Diantara prinsip-prinsip yang berdampak positip dalam melaksanakan supervisi manajerial diuraikan secara singkat berikut ini:

a. Pengawas harus menjauhkan diri dari sifat otoriter.

Pengawas yang otoriter cenderung menggunakan kekuasaan dalam pelaksanaan tugas dan fungsinya. Pengawas akan menggunakan wewenang sebagai dasar berpikir. Ketika berhadapan dengan orang lain dan menanggapi masalahnya, mereka akan menanyakan kedudukannya dalam lembaga dan organisasi (sebagai apa?). Dalam membahas masalah itu, pengawas tidak akan mempersoalkan hakikat dan kepentingannya, tetapi selalu merasa berhak untuk ikut campur dan mengurus perkara yang dipersoalkannya. Namun, hal ini hanya berlaku untuk dirinya. Seorang otoriter akan membatasi pekerjaan seseorang, yaitu agar orang tersebut bekerja menurut prosedur dan aturan yang ada. Jika orang itu tidak mengerti dan tidak menjalankan tugasnya dengan baik, orang itu akan dianggap salah.

Pengawas yang otoriter hanya mengenal satu macam komunikasi, yaitu satu arah. Komunikasi dua arah, saling diskusi dan menanggapi, dan model demokratis dengan kemungkinan perbedaan dan pertentangan pendapat secara verbal atau secara konseptual akan dimengerti, tapi sulit untuk dihayati. Komunikasi yang bebas dan terbuka, berasal dari berbagai arah dan tertuju ke segala penjuru akan asing baginya, karena gaya komunikasi tersebut tidak masuk dalam kerangka berpikirnya. Oleh karena itu, komunikasi satu arah menjadi andalan bagi orang ini dalam menjalankan tugasnya.

(19)

sekadar memberitahu perkaranya (informatif) dianggap sudah mencukupi. Bentuk komunikasi yang persuasif untuk meyakinkan, dinilai menghabiskan waktu dan tidak efisien.

Jika dalam komunikasi pengawas yang otoriter hanya mengenal komunikasi dalam bentuk instruksi, dalam bertindak cenderung mengedepankan kekuasaan. Pengawas otoriter juga akan mempermainkan perasaan bawahannya dengan sengaja membuat mereka merasa salah dan malu. Dengan kata lain, pengawas yang otoriter akan bertindak menggunakan kekuasaan dan kedudukannya yang merasa dirinya adalah atasan kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan.

Kekuasaan merupakan faktor penting dalam kehidupan. Dengan penggunaan kekuasaan yang baik dan tepat sesuai kewenangan, banyak hal dapat diselesaikan dan berbagai prestasi dicapai. Kesalahan otoriter dan para penganutnya ialah memandang kekuasaan bukan sebagai sarana, melainkan untuk tujuan sendiri; karena itu, yang penting bagi mereka adalah bagaimana kekuasaan berfungsi, digunakan dan ditampakkan. Apa yang hendak dicapai, bagaimana cara mencapainya, dan nasib orang-orang yang diikutsertakan dalam pencapaian tidaklah penting.

Pemutarbalikan pemahaman tentang kekuasaan sebagai sarana menjadi tujuan itu mengakibatkan penggunaannya tidak sesuai. Akibatnya, kehidupan menjadi sempit sebatas tanggungjawab dan wewenang, komunikasi menjadi satu arah, dan penggunaan kekuasaan merajalela. Di Samping itu, hidup tidak terkelola dengan baik, berkembangnya berbagai upaya negatif untuk mendapatkan kekuasaan, mempertahankan, dan memanipulasinya dengan alasan apapun. Sadar atau tidak, otoriter berporos pada pemahaman tentang kekuasaan dan penggunaannya, dengan bentuk-bentuk manifestasi dalam komunikasi dan gaya hidup yang diciptakannya. Otoriter dan orang-orang otoritarian akan berkembang dan banyak muncul dalam masyarakat yang formalistis, legalistis, dan konvensionalistis.

Ciri-ciri pengawas sekolah yang bersifat otoriter, antara lain : (1) menganggap kepala sekolah/guru sebagai bawahan, (2) menjadi penguasa tunggal, (3) mengabaikan peraturan yang berlaku, (4) mengabaikan dasar permusyawaratan, dan selalu berdasarkan keputusan sendiri, (5) mempertahankan kedudukan dengan berbagai cara, (6) menjalankan manajemen tertutup, (7) menutup komunikasi dengan dunia luar, (8) penyelesaian masalah dilakukan dengan kekerasan dan paksaan, (9) prinsip dogmatis dan banyak berlaku doktrin, (10) mengabaikan perlindungan hak asasi manusia, (11) mengabaikan fungsi kontrol terhadap administrasi, dan (12) melakukan intervensi ke seluruh bidang.

(20)

lainnya. Hal ini juga bisa meminimalisir terjadinya tindakan yang merugikan dan akhirnya dapat menggagalkan tercapainya tujuan pendidikan di sekolah.

Dalam menciptakan hubungan yang harmonis dan kondusif perlu adanya prinsip-prinsip dasar seperti adanya rasa saling menghargai, saling menghormati peran dari masing-masing pihak, serta adanya keterbukaan baik dari pihak pengawas, kepala sekolah, guru ataupun tenaga kependidikan lainnya.

Untuk bisa memadukan tiap-tiap unsur pendidikan perlu adanya niat baik serta berusaha selalu mengedepankan adanya komunikasi dan dialog yang baik untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang muncul dengan damai sehingga bisa dicapai suatu solusi terbaik yang tidak merugikan pihak manapun dengan tetap menjaga kondisi dan suasana secara kondusif untuk melaksanakan hubungan personal yang baik. Hal ini tentu sangat dibutuhkan untuk menjaga hubungan baik antara seluruh unsur pendidikan untuk meminimalisir adanya banyak aktivitas yang tidak produktif untuk menuntut keadilan atas apa yang dihadapi di sekolah.

Banyak pengawas yang terkadang lupa akan pentingnya hubungan yang harmonis dan dinamis, senantiasa menginginkan seluruh komponen pendidikan bekerja secara maksimal agar produktivitas dan sekaligus mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan bersama. Padahal dalam meningkatkan produktivitas sekolah memerlukan kontribusi besar dari kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan yang memiliki hak-hak yang harus terpenuhi. Agar semua kepentingan dan tujuan dari masing-masing pihak dapat tercapai tanpa ada yang merasa dirugikan sangat diperlukan adanya hubungan kemanusiaan yang harmonis.

Pengawas bersama komponen pendidikan hendaknya bisa bersama-sama membangun kemitraan dalam bekerja, meningkatkan kualitas dan loyalitas, mempertahankan daya saing global yang semakin ketat, serta mengoptimalkan nilai tambah. Tentu saja, dalam membangun hubungan kemanusiaan yang harmonis bukanlah hal yang mudah dilakukan karena adanya kompleksitas permasalahan yang muncul, tetapi pengawas sekolah harus tetap konsisten membangun hubungan kemanusiaan yang harmonis dalam pelaksanaan fungsi supervisor. Hubungan kemanusiaan yang harmonis juga sangat diperlukan untuk menjalin komunikasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan agar semua pihak dapat berkontribusi secara optimal dalam peningkatan mutu pendidikan sekolah.

c. Supervisi harus dilakukan secara berkesinambungan.

Supervisi bukan tugas bersifat sambilan yang hanya dilakukan sewaktu-waktu jika ada kesempatan, melainkan dilakukan secara bertahap, terencana dan berkelanjutan. Pelaksanaan supervisi berlangsung dalam suatu siklus yang terdiri dari tiga tahap berikut:

(21)

2) Tahap pelaksanaan observasi. Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain: (a) harus luwes, (b) tidak mengganggu proses pembelajaran, (c) tidak bersifat menilai, (d) mencatat dan merekam hal-hal yang terjadi dalam proses pembelajaran sesuai kesepakatan bersama, dan (e) menentukan teknik pelaksanaan observasi.

3) Tahap akhir (diskusi balikan). Pada tahap ini beberapa hal yang harus diperhatikan antara lain: (a) memberi penguatan; (b) mengulas kembali tujuan pembelajaran; (c) mengulas kembali hal-hal yang telah disepakati bersama, (d) mengkaji data hasil pengamatan, (e) tidak bersifat menyalahkan, (f) data hasil pengamatan tidak disebarluaskan, (g) penyimpulan, (h) hindari saran secara langsung, dan (i) merumuskan kembali kesepakatan-kesepakatan sebagai tindak lanjut proses perbaikan. Pendidikan untuk Pengembangan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development) selanjutnya disebut EfSD, menjadi isu mutakhir di lingkungan pendidikan formal maupun nonformal dan informal. Hal ini telah disosialisasikan melalui berbagai kesempatan agar muatan EfSD terintegrasi dalam pembelajaran di persekolahan mulai dari Taman Kanak Kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi (PT).

Begitu pula dalam pendidikan non-formal dan informal yang di mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Kesetaraan Paket A, B dan C, berbagai kursus keterampilan, keaksaraan fungsional, pemberdayaan perempuan dan gender, dan berbagai program pendidikan kecakapan hidup lainnya. Tujuan yang ingin dicapai EfSD adalah membangun kapasitas komunitas dari berbagai pihak yang terlibat dan berkepentingan dalam praktik pendidikan formal, nonformal dan informal, yang mampu mengembangkan dan mengimplementasikan rencana kegiatan yang mengarah kepada sustainable development yaitu kegiatan yang mempertimbangkan beberapa ekosistem yaitu pengembangan aspek ekonomi, pemeliharaan lingkungan, dan berasaskan keadilan sosial (termasuk kultur dan budaya). Tujuan selanjutnya adalah membangun komitmen untuk berkontribusi dalam mewujudkan kehidupan yang lebih baik, suasana yang tenteram, aman dan nyaman bagi kita semua, generasi sekarang dan yang akan datang. Untuk menghasilkan sesuatu atau mencapai tujuan, harus ada tindakan (action). Sedangkan development diterjemahkan pengembangan bukan pembangunan, karena pembangunan sering dimaknai pembangunan fisik atau infrastruktur.

(22)

supervisi manajerial harus mengarah pada membangun upaya-upaya pengembangan pendidikan secara berkelanjutan.

Pengembangan berkelanjutan yang sedang dibangun sekarang ini, sesungguhnya merupakan perpaduan dari pendekatan development, eco-humanism dan eco-environmentalism. Sedangkan yang terjadi sebelumnya adalah pemanfaatan sumber daya alam untuk pembangunan atau ekonomi. Kita dipacu untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan menguras sumber daya alam tanpa memperhatikan keberlanjutan dan aspek sosialnya.

d. Supervisi harus demokratis.

Pengawas tidak boleh mendominasi pelaksanaan supervisi. Titik tekan supervisi yang demokratis adalah mengembangkan keterbukaan, partisipatif dan kooperatif. Prinsip demokrasi oleh pengawas adalah memberikan wewenang secara luas kepada kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan. Setiap ada permasalahan selalu mengikut-sertakan kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan sebagai suatu tim yang utuh. Dalam gaya kepemimpinan demokratis pemimpin memberikan banyak informasi tentang tugas serta tanggung jawab kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan.

Kepemimpinan demokratis menempatkan manusia sebagai faktor utama dan terpenting dalam setiap kelompok/organisasi. Gaya kepemimpinan demokratis diwujudkan dengan dominasi perilaku sebagai pelindung dan penyelamat dan perilaku yang cenderung memajukan dan mengembangkan organisasi/ kelompok.

Hakikat demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dan sistem demokrasi adalah suatu sistem yang berpusat pada rakyat. Dan tentu, dalam sistem ini, rakyatlah yang menjadi aktor utama. Mulai dari pemilihan presiden, gubernur, bahkan camat sekalipun, dipilih oleh rakyat. Dalam demokrasi pendidikan di sekolah juga demikian, warga sekolah mempunyai kedudukan yang sangat menentukan.

Penerapan prinsip demokratis dalam kegiatan supervisi manajerial dengan memberikan ruang yang lebih luas terhadap warga sekolah untuk berekspresi dan menyampaikan aspirasi dan mengakses informasi secara terbuka luas. Dengan demikian, warga sekolah bebas untuk berasosiasi tanpa memandang strata sosial oleh karena tujuan dari sistem demokrasi adalah membentuk warga sekolah yang inklusif.

e. Program supervisi harus integral.

(23)

f. Supervisi harus komprehensif.

Program supervisi harus mencakup keseluruhan aspek dan komponen supervisi manajerial yang meliputi administrasi dan operasional sekolah. Pada hakikatnya, suatu aspek atau komponen supervisi manajerial pasti terkait dengan aspek atau komponen lainnya. Oleh karena itu pengawas sekolah hendaknya mewujudkan dimensi kompetensi supervisi manajerial yang meliputi: (1) Penguasaan dalam metode, teknik dan prinsip-prinsip supervisi dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah. (2) Penyusunan program kepengawasan berdasarkan visi, misi, tujuan dan program pendidikan di sekolah. (3) Penyusunan metode kerja dan instrumen yang diperlukan untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi pengawasan di sekolah. (4) Penyusunan laporan hasil-hasil pengawasan dan menindaklanjutinya untuk perbaikan program pengawasan berikutnya di sekolah. 5) Pembinaan kepala sekolah dalam pengelolaan dan administrasi satuan pendidikan berdasarkan manajemen peningkatan mutu pendidikan di sekolah. (6) Pembinaan kepala sekolah dan guru dalam melaksanakan bimbingan konseling di sekolah. (7) Upaya mendorong guru dan kepala sekolah dalam merefleksikan hasil-hasil yang dicapainya untuk menemukan kelebihan dan kekurangan dalam melaksanakan tugas pokoknya di sekolah. (8) Melakukan pemantauan pelaksanaan standar nasional pendidikan dan memanfaatkan hasil-hasilnya untuk membantu kepala sekolah dalam mempersiapkan akreditasi sekolah.

g. Supervisi harus konstruktif.

Supervisi yang dilakukan pengawas sekolah harus diarahkan pada peningkatan kinerja kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan dalam rangka meningkatkan mutu penyelenggaraan sekolah. Untuk mewujudkan tujuan tersebut di atas, maka pengawas sekolah hendaknya memperhatikan prinsip-prinsip supervisi sekolah sebagai berikut:

1) Hubungan antara supervisor dengan guru adalah hubungan kolegial yang sederajat dan bersifat interaktif. Hubungan semacam ini lebih dikenal sebagai hubungan antara tenaga professional berpengalaman dengan yang kurang berpengalaman, sehingga terjalin dialog professional yang interaktif dalam suasana yang intim dan terbuka. Isi dialog bukan pengarahan atau instruksi dari supervisor/pengawas melainkan pemecahan masalah pembelajaran. 2) Diskusi antara supervisor dan guru bersifat demokratis, baik pada

perencanaan pengajaran maupun pada pengkajian balikan dan tindak lanjut. Suasana demokratis itu dapat terwujud jika kedua pihak dengan bebas mengemukakan pendapat dan tidak mendominasi pembicaraan serta memiliki sifat keterbukaan untuk mengkaji semua pendapat yang dikemukakan didalam pertemuan tersebut dan pada akhirnya keputusan ditetapkan atas persetujuan bersama.

(24)

4) Pengkajian balikan dilakukan berdasarkan data observasi yang cermat yang didasarkan atas kontrak serta dilaksanakan dengan segera. Dari hasil analisis balikan itulah ditetapkan rencana selanjutnya.

5) Mengutamakan prakarsa dan tanggung jawab guru baik pada tahap perencanaan, pengkajian balikan bahkan pengambilan keputusan dan tindak lanjut. Dengan mengalihkan sedini mungkin prakarsa dan tanggung jawab itu ke tangan guru diharapkan pada gilirannya kelak guru akan tetap mengambil prakarsa untuk mengembangkan dirinya.

h. Supervisi harus obyektif.

Perencanaan, pelaksanaan dan penilaian program supervisi pengawas sekolah harus dilakukan berdasarkan fakta-fakta permasalahan sekolah. Perencanaan supervisi itu harus berdasarkan permasalahan dan kebutuhan nyata yang dihadapi sekolah. Pelaksanaan harus sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Penilaian program supervisi harus didasarkan pada fakta-fakta yang diperoleh dalam pelaksanaan supervis dan dideskripsikan apa adanya.

D. Aktivitas Pembelajaran

Kegiatan 1.1 Berpikir Reflektif Mengenai Pengertian dan Ruang Lingkup Supervisi Manajerial (90 Menit)

Pada kegiatan awal ini, Saudara diharapkan dapat meningkatkan pemahaman tentang supervisi manajerial. Oleh karena itu, Saudara akan melakukan serangkaian kegiatan di bawah ini.

1. Silakan lakukan kegiatan berpikir reflektif secara mandiri. Untuk itu, Saudara harus mencermati pertanyaan-pertanyaan penuntun berikut. Tulislah jawaban Saudara pada lembaran yang disediakan.

Pertanyaan penuntun:

a. Apa pemahaman Saudara mengenai supervisi manajerial?

b. Buatlah definisi mengenai supervisi manajerial menurut pemikiran Saudara sendiri.

2. Setelah menuliskan definisi supervisi manajerial menurut pendapat sendiri, silakan Saudara melakukan diskusi bersama fasilitator/pengawas lainnya secara kelompok. Ikutilah petunjuk di bawah ini.

a. Saudara diminta duduk berhadapan/berkelompok.

b. Tuliskan definisi Saudara pada kertas plano (ikuti format LK 1.1).

c. Melalui diskusi, bandingkan definisi yang Saudara buat dengan definisi dari anggota kelompok Saudara.

d. Selanjutnya, bandingkan juga dengan definisi dari sumber lain, jika ada.

(25)

LK 1.1 Definisi Supervisi Manajerial

Menurut Anggota Kelompok (Individual) Menurut Sumber Lain 1.

2. 3.

Definisi Berdasarkan Hasil Diskusi Kelompok

Kegiatan 1.2 Merefleksi Penerapan Prinsip-prinsip Supervisi Manajerial (135 Menit) Pada kegiatan ini Saudara diminta untuk merefleksi tentang prinsip-prinsip supervisi manajerial dengan mengingat kembali pengalaman-pengalaman melakukan supervisi manajerial di sekolah binaan.

Tuliskan salah satu pengalaman Saudara dalam melaksanakan supervisi manajerial di sekolah binaan. Uraian Saudara harus memuat keterangan tentang permasalahan manajerial sekolah binaan, cara Saudara melaksanakan supervisi manajerial, hasil supervisi manajerial yang dicapai dan tindak lanjut yang Saudara lakukan. Gunakan LK 1.2 untuk menuliskan pengalaman Saudara tersebut.

LK 1.2 Merefleksi Penerapan Prinsip-prinsip Supervisi Manajerial

1. Tuliskan pengalaman Saudara dalam melaksanakan supervisi manajerial di sekolah binaan. Uraian pengalaman Saudara harus memuat tentang: uraian masalah sekolah binaan, cara melakukan supervisi (proses kegiatan yang dilaksanakan), hasil yang dicapai, dan tindak lanjut.

Permasalahan Sekolah Binaan

Deskripsi Proses Pelaksanaan

Supervisi

Hasil Supervisi yang

Dicapai Tindak Lanjut

(26)

No Prinsip-Prinsip Supervisi Manajerial

Terlaksana Deskripsi Proses Penerapan Prinsip Ya Belum

1 Menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis 2 Melaksanakan supervisi

secara berkesinambungan 3 Melaksanakan supervisi

secara demokratis 4 Melaksanakan supervisi

secara integral

5 Mencakup aspek secara komprehensif

6 Melaksanakan supervisi secara konstruktif 7 Melaksanakan supervisi

secara obyektif

3. Berdasarkan permasalahan penerapan prinsip supervisi manajerial di sekolah tersebut di atas, tuliskan prinsip-prinsip supervisi manajerial yang belum pernah dilaksanakan beserta karakteristiknya.

Prinsip Karakteristik

(27)

LK 1.3 Perencanaan Penerapan Prinsip Supervisi Manajerial

Permasalahan Manajerial

Prinsip Supervisi

Manajerial Langkah-Langkah Kegiatan Persiapan:

Pelaksanaan:

Tindak Lanjut:

Kegiatan 1. 4 Penerapan Prinsip Supervisi Manajerial (135 Menit)

Saudara telah menyusun perencanaan penerapan prinsip supervisi manajerial pada kegiatan pembelajaran 1.3. dan mungkin sudah mendiskusikannya sehingga mendapat berbagai masukan dari pengawas sekolah atau fasilitator. Selanjutnya, lakukanlah simulasi penerapan prinsip supervisi manajerial yang Saudara tentukan. Agar simulasi dapat berjalan lancar, lakukan persiapan sebagai berikut.

1. Siapkan skenario pelaksanaan prinsip manajerial yang Saudara susun pada LK 1.3. 2. Pilih pengawas peserta lainnya yang akan berperan sebagai kepala sekolah atau

guru sesuai dengan perencanaan, sedangkan Saudara akan berperan sebagai pengawas sekolah.

3. Lakukan simulasi penerapan prinsip supervisi manajerial sesuai dengan skenario yang Saudara susun.

4. Mintalah komentar dari pengawas lain atau fasilitator mengenai simulasi yang Saudara lakukan. Gunakan LK 1.4 untuk menuliskan komentar hasil pelaksanaan simulasi.

LK 1.4 Simulasi Prinsip Supervisi Manajerial Prinsip : ...

Aspek

Penilaian Persiapan Pelaksanaan Simulasi Saran Kelebihan

Kekurangan

(28)

E. Latihan/Kasus/Tugas

Pilihlah jawaban yang benar dengan cara memberi tanda silang (x) pada huruf A, B, C, atau D !

1. Seorang pengawas melakukan supervisi di sekolah binaannya, pada saat pelajaran di sekolah berlangsung. Ia ditemui oleh kepala sekolah dan guru-guru yang kebetulan sedang tidak memiliki jam mengajar. Melihat guru duduk-duduk di kantor, pengawas langsung memberikan teguran, agar tidak meninggalkan kelas dan mendampingi para siswa dalam mengerjakan tugas, agar prestasi akademik siswa bagus. Perilaku pengawas tersebut belum menunjukkan prinsip ....

A. demokratis B. otoriter C. obyektif D. konstruktif

2. Dalam melaksanakan supervisi manajerial tehadap kepala sekolah binaannya, pengawas harus mempunyai etika dalam berkomunikasi di antaranya ....

A mendengarkan pendapat dan menyetujui apa yang disampaikan dan menghormati yang mengajak bicara

B mendengarkan dengan sabar, merespons secara positif, mampu memberi solusi dengan tepat

C mendengarkan apa yang disampaikan dan menyampaikan pertanyaan untuk menguji pendapatnya

D mendengarkan pendapat, menyampaikan kata-kata penolakan secara tegas mempertimbangkan reaksi

3. Salah satu prinsip supervisi manajerial adalah komprehensif dalam implementasinya mencakup komponen ....

A. perumusan visi, misi dan tujuan sekolah, kurikulum sekolah, pengelolaan sekolah, sarana prasarana, tenaga kependidikan, siswa, dan lingkungan pendidikan

B. perumusan Visi, Misi dan Tujuan Sekolah, Kurikulum Sekolah, Pengelolaan Sekolah, Sarana Prasarana, Tenaga Kependidikan, Siswa, Lingkungan Pendidikan, dan penyelenggaraan ujian

C. perumusan visi, misi dan tujuan sekolah, kurikulum sekolah, pengelolaan sekolah, tenaga kependidikan, siswa, lingkungan pendidikan, dan penyelenggaraan ujian D. perumusan Visi, Misi dan Tujuan Sekolah, Kurikulum Sekolah, Pengelolaan

Sekolah, Sarana Prasarana, Tenaga Kependidikan, Siswa, dan penyelenggaraan ujian

4. Prinsip konstruktif pada kegiatan pembinaan supervisi manajerial dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan di sekolah, dilaksanakan dengan memperhatikan .... A. keadaan dana penunjang, kenyataan yang sebenarnya terjadi, kesiapan

pengawas sekolah, diarahkan kepada pencapaian 8 SNP

B. kesesuaian dengan rencana program kepengawasan, berdasarkan kepentingan setiap kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya

C. dukungan motivasi kepada kepala sekolah dan tenaga kependidikan lainnya, sehingga tumbuh dorongan untuk bekerja lebih baik

(29)

5. Prinsip demokratis dalam supervisi manajerial ditunjukkan melalui hubungan kemanusiaan. Perilaku yang menggambarkan prinsip tersebut adalah ….

A. mampu menciptakan suasana kerja yang menyenangkan, bukan cara-cara yang menakutkan

B. dilaksanakan secara sistematis berencana dan kontinyu untuk memperbaiki kinerja kepala sekolah

C. memberikan support menstimulus guru dan kepala sekolah, sehingga mereka merasa tumbuh bersama

D. membangun hubungan yang akrab sehingga guru dan kepala sekolah merasa aman dalam menjalankan tugasnya

F. Rangkuman

Supervisi adalah kegiatan profesional yang dilakukan oleh pengawas Sekolah dalam rangka membantu kepala Sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya guna meningkatkan mutu dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran. Supervisi ditujukan pada dua aspek yakni: manajerial dan akademik. Supervisi manajerial menitikberatkan pengamatan pada aspek-aspek pengelolaan dan administrasi sekolah yang berfungsi sebagai pendukungterlaksananya pembelajaran. Prinsip-prinsip supervisi manajerial pada diri pengawas, terdiri dari (1) menjauhkan diri dari sifat otoriter, (2) mampu menciptakan hubungan kemanusiaan yang harmonis bersifat terbuka, kesetiakawanan, dan informal, (3) dilakukan secara berkesinambungan, (4) demokratis, menekankan kegiatan yang aktif dan kooperatif, (5) integral, (6) komprehensif, mencakup keseluruhan aspek, (7) konstruktif, dan (8) obyektif, bahwa program supervisi itu harus disusun berdasarkan persoalan dan kebutuhan nyata yang dihadapi sekolah.

Penerapan prinsip-prinsip supervisi manajerial, menjadikan pengawas sekolah berperan sebagai: (1) kolaborator dan negosiator dalam proses perencanaan, koordinasi, pengembangan manajemen sekolah, (2) asesor dalam mengidentifikasi kelemahan dan menganalisis potensi sekolah, (3) pusat informasi pengembangan mutu sekolah, dan (4) evaluator terhadap pemaknaan hasil pengawasan.

G. Umpan Balik

Cocokkanlah jawaban Saudara pada latihan di atas dengan kunci jawaban pada halaman 23. Hitunglah jawaban Saudara yang benar. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Saudara terhadap materi Kegiatan Pembelajaran 1.

Arti tingkat persentase penguasaan yang Saudara capai: 90 – 100 = sangat baik

80 – 89 = baik 70 – 79 = cukup 60 – 69 = kurang

 60 = sangat kurang

Tingkat Penguasaan = Jumlah Jawaban Benar X Jumlah Soal

(30)

Jika penguasaan Saudara berada pada tingkat “Baik” atau di atasnya, berarti Saudara telah mencapai tujuan pembelajaran pada topik ini. Selamat!

Jika tingkat penguasaan Saudara masih di bawah “Baik”, mohon Saudara mereviu bahan bacaan penguatan untuk menyegarkan pemahaman Saudara sehingga bisa mencapai tingkat penguasaan “Baik” atau di atasnya.

H. Refleksi dan Tindak Lanjut

Saudara diminta untuk melakukan refleksi mengenai pemahaman tentang prinsip-prinsip supervisi manajerial setelah Saudara mengikuti kegiatan pembelajaran. Jika Saudara merasa sudah menguasai prinsip-prinsip yang dipelajari, berilah tanda cek (√) pada kolom “Tercapai” pada prinsip yang sudah dikuasai. Sebaliknya berilah tanda cek (√) pada kolom “Belum Tercapai” pada prinsip-prinsip yang belum dikuasai.

No Tujuan Pembelajaran Tercapai Belum

Tercapai Keterangan 1 Membangun hubungan

kemanusiaan

2 Melaksanaan prinsip supervisi berkesinambungan

3 Melaksanakan supervisi secara demokratis

4 Memproses supervisi secara integral dengan program pendidikan

5 Melaksanakan supervisi secara komprehensif

6 Melaksanakan supervisi seara konstruktif

7 Melakukan supervisi secara objektif

Tindak lanjut:

Kegiatan yang membuat saya belajar lebih efektif

(31)

I.

Kunci Jawaban

(32)

KEGIATAN PEMBELAJARAN 2

METODE SUPERVISI MANAJERIAL

(WAKTU 10 JP)

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah melakukan Kegiatan Pembelajaran 2, Saudara dapat menerapkan metode supervisi manajerial untuk peningkatan mutu pendidikan di sekolah.

B. Indikator Pencapaian Kompetensi

1. Melaksanakan Monitoring/Pengawasan dan Evaluasi 2. Melaksanakan Refleksi dan Focused Group Discussion

3. Menggunakan Metode Delphi

4. Menjadi fasilitator/narasumber Workshop.

C. Uraian Materi

Metode Supervisi Manajerial

Supervisi manajerial yang dilakukan pengawas sekolah kepada kepala sekolah, guru dan tenaga kependidikan lainnya di sekolah binaan melalui kegiatan pembinaan, pemantauan, bimbingan, narasumberan dan penilaian memerlukan metode tertentu sesuai dengan permasalahan manajerial di sekolah binaan. Karena itu, sebelum melakukan supervisi manajerial diperlukan pemilihan metode agar pelaksanaan supervisi manajerial dapat mencapai tujuan yang ditetapkan. Pemilihan metode yang tepat tentunya memerlukan pemahaman dan penguasaan yang baik mengenai karakteristik dan langkah-langkah penerapan metode supervisi manajerial. Beberapa metode supervisi manajerial antara lain: Monitoring dan Evaluasi, Refleksi dan Focused Group Discussion (FGD), Delphi, dan Workshop.

Setiap metode supervisi manajerial memiliki karakteristik dan langkah-langkah penerapan yang berbeda-beda sehingga setiap metode yang digunakan mesti disesuaikan dengan permasalahan dan tujuan supervisi manajerial yang diharapkan. Uraian berikut akan membantu pengawas sekolah untuk memahami beberapa metode supervisi manajerial, yaitu: Monitoring dan Evaluasi, Refleksi dan FGD, Delphi, dan

Workshop.

Berikut ini akan diuraikan tentang beberapa metode supervisi manajerial, yaitu: Monitoring dan Evaluasi, Refleksi dan FGD, Delphi, dan Workshop.

1.

Monitoring dan Evaluasi

(33)

a. Monitoring

Monitoring adalah suatu kegiatan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan pengelolaan sekolah, apakah sudah sesuai dengan rencana, program, dan/atau standar yang telah ditetapkan, serta menemukan hambatan-hambatan yang harus diatasi dalam pelaksanaan program (Rochiat, 2008:115). Monitoring lebih berpusat pada pengontrolan selama program berjalan dan lebih bersifat klinis. Melalui monitoring, dapat diperoleh umpan balik bagi sekolah atau pihak lain yang terkait untuk menyukseskan ketercapaian tujuan.

Aspek-aspek yang dicermati dalam monitoring adalah pelaksanaan kegiatan sesuai program yang dikembangkan dan dijalankan oleh sekolah yang meliputi Rencana Pengembangan Sekolah, seperti Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM), Rencana Kegiatan dan Anggaran Sekolah (RKAS), Pemenuhan Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Standar Nasional Pendidikan (SNP).

b. Evaluasi

Tujuan evaluasi adalah untuk (1) mengetahui tingkat keterlaksanaan program, (2) mengetahui keberhasilan program, (3) mendapatkan bahan/masukan dalam perencanaan tahun berikutnya, dan (4) memberikan penilaian (judgement)

terhadap sekolah. Seperti halnya pada monitoring, pelaksanaan evaluasi dilakukan pada aspek-aspek manajerial yang berkaitan dengan pelaksanaan program kerja sekolah yang tercantum dalam RKJM/RKS, RKT, RKAS, Pemenuhan SPM dan SNP serta program-program lain yang dikembangkan sekolah.

Langkah-langkah pelaksanaan monitoring dan evaluasi sebagai berikut: 1) Menentukan tujuan monitoring dan evaluasi yang akan dilakukan. 2) Menentukan aspek-aspek sasaran monitoring dan evaluasi.

3) Menyiapkan instrumen monitoring dan evaluasi yang akan digunakan. 4) Menyusun jadwal pelaksanaan monitoring dan evaluasi.

5) Melaksanakan monitoring dan evaluasi.

6) Menganalisis hasil monitoring dan evaluasi yang dilaksanakan. 7) Menyusun laporan dan tindak lanjut.

2.

Refleksi dan Focused Group Discussion (FGD)

Refleksi dan FGD merupakan satu rangkaian metode supervisi manajerial. Refleksi merupakan kegiatan yang dilakukan sekolah dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholder) untuk mengidentifikasi keberhasilan/ kekuatan, kelemahan dan hambatan yang dialami sekolah dalam pelaksanaan manajerial sekolah. Hasil refleksi kemudian dijadikan bahan diskusi dengan menerapkan metode FGD.

Hasil monitoring yang dilakukan pengawas hendaknya disampaikan secara terbuka kepada pihak sekolah, terutama kepala sekolah, komite sekolah dan guru. Secara bersama-sama pihak sekolah dapat melakukan refleksi terhadap data yang ada, dan menemukan sendiri faktor-faktor penghambat serta pendukung yang selama ini mereka rasakan. Forum untuk ini dapat berbentuk FGD yang melibatkan unsur-unsur

(34)

Tujuan FGD adalah untuk menyatukan persepsi stakeholder mengenai realitas kondisi (kekuatan dan kelemahan) sekolah, serta menentukan langkah-langkah strategis maupun operasional yang akan diambil untuk memajukan sekolah. Peran pengawas dalam hal ini adalah sebagai fasilitator sekaligus menjadi narasumber apabila diperlukan untuk memberikan masukan berdasarkan pengetahuan dan pengalamannya.

Langkah-langkah pelaksanaan FGD sebagai berikut:

a. Sebelum FGD dilaksanakan, semua peserta sudah mengetahui maksud diskusi serta permasalahan yang akan dibahas;

b. Peserta FGD hendaknya mewakili berbagai unsur sehingga diperoleh pandangan yang beragam dan komprehensif;

c. Pimpinan FGD hendaknya akomodatif dan berusaha menggali pikiran/ pandangan peserta dari sudut pandang masing-masing unsur;

d. Notulis hendaknya benar-benar teliti dalam mendokumentasikan usulan atau pandangan semua pihak;

e. Pimpinan FGD hendaknya mampu mengontrol waktu secara efektif, dan mengarahkan pembicaraan agar tetap fokus pada permasalahan;

f. Apabila dalam satu pertemuan belum diperoleh kesimpulan atau kesepakatan, maka dapat dilanjutkan pada putaran berikutnya. Untuk ini diperlukan catatan mengenai hal-hal yang telah dan belum disepakati.

3.

Metode

Delphi

Metode Delphi dapat digunakan oleh pengawas dalam membantu pihak sekolah merumuskan visi, misi dan tujuan sekolah. Sesuai dengan konsep manajemen berbasis sekolah (MBS), dalam merumuskan Rencana Pengembangan Sekolah (RPS) harus dimulai dengan merumuskan visi, misi dan tujuan yang jelas dan realistis. Penyusunan visi, misi dan tujuan digali dari kondisi sekolah, peserta didik, potensi daerah, serta pandangan seluruh stakeholder. Metode Delphi dapat diterapkan oleh pengawas kepada kepala sekolah ketika hendak mengambil keputusan yang melibatkan banyak pihak.

Langkah-langkahnya menurut Gordon (1976: 26-27) adalah sebagai berikut:

a. Mengidentifikasi individu atau pihak-pihak yang dianggap memahami persoalan dan hendak dimintai pendapatnya mengenai pengembangan sekolah. Masing-masing pihak diminta mengajukan pendapatnya secara tertulis tanpa disertai nama/identitas;

b. Mengumpulkan pendapat yang masuk, dan membuat daftar urutannya sesuai dengan jumlah orang yang berpendapat sama;

c. Menyampaikan kembali daftar rumusan pendapat dari berbagai pihak tersebut untuk diberikan urutan prioritasnya;

d. Mengumpulkan kembali urutan prioritas menurut peserta, dan menyampaikan hasil akhir prioritas keputusan dari seluruh peserta yang dimintai pendapatnya.

4.

Workshop

(35)

kependidikan, dan/atau perwakilan komite sekolah. Workshop dilaksanakan untuk mengatasi permasalahan manajerial yang sama pada beberapa sekolah dalam satu wilayah binaan pengawas sekolah. Hasil workshop diharapkan berupa produk yang dapat digunakan sekolah dalam meningkatkan mutu penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Penyelenggaraan workshop disesuaikan dengan tujuan atau urgensinya, dan dapat diselenggarakan dalam kelompok kerja seperti: Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), Kelompok/Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (K/MKPS) atau organisasi sejenis lainnya. Sebagai contoh, pengawas dapat mengambil inisiatif untuk mengadakan workshop tentang pengembangan kurikulum, sistem administrasi, peran serta masyarakat, dan sistem penilaian.

Langkah-langkah pelaksanaan workshop sebagai berikut.

a. Menentukan materi atau substansi yang akan dibahas dalam workshop. Materi

workshop terkait dengan masalah yang bersifat praktis, walaupun tidak terlepas dari kajian teori yang diperlukan sebagai acuan;

b. Menentukan peserta yaitu mereka yang terkait dengan materi yang dibahas. c. Menentukan penyaji yang membawakan kertas kerja/materi;

d. Mengalokasikan waktu yang cukup;

e. Mempersiapkan sarana dan fasilitas yang memadai. Kriteria penyaji dalam kegiatan workshop antara lain:

a. Seorang praktisi yang benar-benar melakukan hal yang dibahas. b. Memiliki pemahaman dan penguasaan teori yang memadai.

c. Memiliki kemampuan menulis kertas kerja, disertai contoh-contoh praktisnya. d. Memiliki kemampuan presentasi yang baik.

e. Memiliki kemampuan untuk memfasilitasi/membimbing peserta. f. Mampu mengelola waktu secara efektif

g. Mampu memanfaatkan sarana dan fasilitas

D. Aktivitas Pembelajaran

Pada pembelajaran 2 ini, Saudara akan melaksanakan lima kegiatan berturut-turut diawali dengan melakukan refleksi terhadap pengalaman Saudara ketika melaksanakan supervisi manajerial di sekolah binaan. Selanjutnya memilih metode supervisi manajerial, mengidentifikasi permasalahan manajerial di sekolah binaan, merencanakan penerapan metode supervisi manajerial dan melaksanakan simulasi penerapan metode supervisi manajerial. Kegiatan 2.1 akan membantu Saudara melaksanakan kegiatan 2.2, 2.3, 2.4 dan 2.5.

(36)

LK 2.1 Berpikir Reflektif tentang Metode Supervisi Manajerial

No Aspek Supervisi

Manajerial Permasalahan

Metode yang digunakan

Alasan Pemilihan

Metode

Langkah-langkah Penerapan

Metode 1 Perencanaan

Sekolah 2 Pengelolaan

Kurikulum 3 Pengelolan

PTK

4 Pengelolaan Keuangan 5 Pengelolaan

Kesiswaan 6 Pengeloaan

Sarana Prasarana 7 Hubungan Masyarakat 8. Layanan

Khusus

Kegiatan 2.2 Memilih Metode Supervisi Manajerial (90 Menit)

Berikut dideskripsikan beberapa contoh kasus supervisi manajerial yang terjadi di sekolah. Saudara diminta untuk mencermati kasus-kasus yang berkaitan dengan supervisi manajerial berikut ini.

Kasus 1

Kasus 2

Berdasarkan hasil pemetaan Evaluasi Diri Sekolah (EDS) untuk standar pengelolaan dari beberapa sekolah SMP binaan adalah sebagai berikut: terdapat 4 sekolah belum memiliki visi dan misi yang dirumuskan bersama oleh seluruh warga sekolah, hanya memiliki dokumen rencana kerja tahunan, namun belum memiliki Rencana Kerja Jangka Menengah (RKJM). Sekolah-sekolah tersebut sudah memajangkan visi, yang diunduh

dari internet. Kegiatan yang dilakukan di sekolah tersebut mengacu pada rencana kerja

tahunan yang dimilikinya. Namun, kegiatan yang dilakukannya kadang-kadang tidak dievaluasi ketercapainnya.

(37)

Kasus 3

Kasus 4

Tentukan metode supervisi manajerial yang sesuai dengan setiap kasus di atas, jika mungkin Saudara dapat mendiskusikan dengan pengawas lain yang juga melakukan pembelajaran dengan modul yang sama. Saudara dapat menggunakan LK 2.2 untuk menuliskan hasil kerja Saudara atau hasil diskusi kelompok Saudara yang memuat tentang metode supervisi manajerial yang dipilih dan alasan memilih metode.

LK 2.2 Menentukan Metode Supervisi Manajerial

Kasus Metode Supervisi yang Sesuai Alasan Memilih Metode tersebut

1

2

3

4

Berdasarkan laporan pengawasan tahunan yang dibuat oleh pengawas sekolah, diperoleh informasi bahwa 60% kepala sekolah binaan belum dapat melaksanakan penilaian kinerja guru sesuai dengan pedoman yang berlaku. Hal itu berdasarkan analisis hasil laporan PKG yang disampaikan oleh kepala sekolah binaan yang menunjukkan ketidaksesuaian pernyataan bukti kinerja dengan indikator kompetensi PKG dan penskoran. Terkait dengan kasus tersebut, Saudara akan menyusun kegiatan pembinaan pada tahun pelajaran berikutnya. Metode supervisi apa yang sesuai dan alasan pemilihannya?

(38)

Kegiatan 2.3 Mengidentifikasi Permasalahan Manajerial Sekolah Binaan (90 Menit) Saudara telah berlatih menentukan metode supervisi manajerial melalui kasus-kasus supervisi manajerial di sekolah pada kegiatan 2.2. Kegiatan berikutnya, Saudara diminta untuk mengidentifikasi permasalahan-permasalahan manajerial yang dihadapi oleh sekolah binaan berdasarkan hasil supervisi manajerial yang dilakukan.

Langkah-langkah kegiatan yang harus Saudara lakukan sebagai berikut:

1. Cermati hasil supervisi manajerial pada sekolah binaan yang Saudara lakukan pada semester atau tahun pembelajaran yang lalu.

2. Tuliskan masing-masing satu permasalahan manajerial yang dialami oleh 5-7 sekolah binaan Saudara pada LK 2.3.

LK 2.3 Mengidentifikasi Permasalahan Manajerial Sekolah Binaan

No Nama Sekolah Permasalahan Manajerial

1

2

3

4

5

6

7

3. Pilih 3 atau 4 permasalahan manajerial yang dihadapi sekolah binaan yang Saudara tuliskan pada LK 2.3 di atas, kemudian tuliskan pada LK 2.4.

(39)

LK 2.4 Memilih Metode Supervisi Manajerial Sesuai Permasalahan Sekolah Binaan

No Nama Sekolah

Permasalahan Manajerial

Metode Supervisi Manajerial

Alasan Pemilihan Metode 1

2

3

4

Kegiatan 2. 4 Merencanakan Penerapan Metode Supervisi Manajerial (90 Menit)

Saudara telah menentukan metode supervisi manajerial sesuai permasalahan supervisi manajerial sekolah binaan pada kegiatan pembelajaran 2.3. dan mungkin sudah mendiskusikannya sehingga mendapat berbagai masukan dari fasilitator atau pengawas sekolah lainnya. Selanjutnya, Saudara pilih satu metode supervisi manajerial sesuai permasalahan sekolah binaan untuk disimulasikan. Susunlah rancangan penerapan metode supervisi manajerial yang akan disimulasikan sesuai dengan format LK 2.5 berikut.

LK 2.5 Perencanaan Penerapan Metode Supervisi Manajerial

Permasalahan Metode Supervisi Langkah-Langkah Kegiatan

Persiapan:

Pelaksanaan:

(40)

Kegiatan 2. 5 Simulasi Penerapan Metode Supervisi Manajerial (90 Menit)

Saudara telah menyusun rancangan penerapan metode supervisi manajerial sesuai permasalahan supervisi manajerial pada kegiatan 2.4. Sebelum disimulasikan, diskusikan rancangan yang Saudara susun dengan pengawas sekolah lain atau fasilitator untuk mendapat masukan.

Agar proses simulasi dapat berjalan lancar, lakukan persiapan kegiatan sebagai berikut: 1. Siapkan skenario penerapan metode supervisi manajerial yang saudara susun sesuai

LK 2.5, pahami langkah-langkah penerapannya;

2. Pilih pengawas peserta lainnya untuk berperan sebagai kepala sekolah atau guru sesuai kasus yang saudara pilih sedangkan Saudara berperan sebagai pengawas sekolah;

3. Lakukan simulasi penerapan metode supervisi manajerial yang sudah Saudara rancang pada LK 2.5;

4. Mintalah komentar dari pengawas lain atau fasilitator mengenai simulasi yang Saudara laksanakan. Gunakan LK 2.6

LK 2.6 Simulasi Pelaksanaan Metode Supervisi Manajerial Metode : ...

Aspek Penilaian Persiapan Pelaksanaan Simulasi Saran

Kelebihan

Kekurangan

E. Latihan/Kasus/Tugas

Pilihlah satu jawaban yang benar dengan memberi tanda silang (x) pada huruf A, B, C, atau D

1. Metode utama yang dilakukan oleh pengawas sekolah dalam supervisi manajerial adalah monitoring dan evaluasi. Kegiatan berikut yang tergolong monitoring oleh pengawas sekolah adalah….

A. kegiatan dalam usaha menemukan kesalahan-kesalahan yang harus diperbaiki dalam pelaksanaan program sekolah, untuk dipertimbangkan dalam pembinaan B. kegiatan pengawasan yang lebih dipusatkan pada pengontrolan selama program

berjalan yang telah dilakukan oleh kepala sekolah dan guru, dan lebih bersifat klinis

C. kegiatan dalam upaya memperoleh umpan balik bagi sekolah atau pihak lain yang terkait untuk menyukseskan ketercapaian tujuan yang telah ditetapkan D. Kegiatan untuk mengetahui perkembangan pelaksanaan penyelenggaraan

(41)

2. Langkah kedua yang dilaksanakan oleh pengawas sekolah dalam menggunakan metode Delphi ketika melaksanakan supervisi manajerial.

A. Masing-masing pihak diminta mengajukan pendapatnya secara tertulis tanpa disertai identitas.

B. Mengumpulkan pendapat yang masuk, dan membuat daftar urutannya sesuai dengan jumlah orang yang berpendapat sama.

C. Menyampaikan kembali daftar rumusan pendapat dari berbagai pihak tersebut untuk diberikan urutan prioritasnya.

D. Mengumpulkan kembali urutan prioritas menurut peserta, dan menyampaikan hasil akhir prioritas keputusan dari seluruh peserta.

3. Workshop atau lokakarya merupakan salah satu metode yang dapat dilaksanakan oleh pengawas ketika melakukan …

A. pembinaan bagi kelompok kepala sekolah di setiap wilayah binaan masing-masing pengawas

B. pembinaan bagi tenaga kependidikan yang bermasalah dalam bekerjanya C. pembinaan individual terhadap kepala sekolah atau tenaga kependidikan

D. pembinaan bagi kepala sekolah atau tenaga kependidikan yang akan naik pangkat

4. Penggunaan Focused Group Discussion (FGD) oleh pengawas sekolah dalam melakukan pembinaan manajerial di sekolah binaan didasarkan pada permasalahan yang berkaitan dengan….

A. kegagalan sekolah dalam melaksanakan program atau mencapai standar pada satu tahun ajaran, untuk dijadikan bahan penyusunan program

B. refleksi terhadap data yang ada, dan menemukan sendiri faktor-faktor penghambat serta pendukung yang selama ini mereka alami

C. upaya menyatukan pandangan mengenai realitas kondisi sekolah, serta menentukan langkah-langkah strategis maupun operasional untuk memajukan sekolah

D. hasil monitoring pengawas sekolah yang berhubungan dengan pelaksanaan evaluasi diri sekolah selama satu tahun pelajaran

5. Pernyataan berikut yang termasuk langkah-langkah penerapan metode Delphi adalah…

A. menentukan materi dan peserta yang terkait dengan materi yang dibahas, memerlukan fasilitator yang menguasai materi kegiatan.

B. masing-masing pihak diminta mengajukan pendapatnya secara tertulis tanpa disertai nama/identitas, mengumpulkan pendapat yang masuk, dan membuat daftar urutan berdasarkan jumlah orang yang berpendapat sama.

C. semua peserta sudah mengetahui maksud kegiatan serta permasalahan yang akan dibahas, mewakili berbagai unsur sehingga diperoleh pandangan yang beragam dan komprehensif.

(42)

F. Rangkuman

Metode supervisi manajerial ada empat jenis, yaitu: monitoring dan evaluasi, refleksi dan FGD, Delphi, dan Workshop. Monitoring lebih berpusat pada pengontrolan selama program berjalan dan lebih bersifat klinis. Melalui monitoring, dapat diperoleh umpan balik bagi sekolah atau pihak lain yang terkait untuk menyukseskan ketercapaian tujuan. Sebaliknya, evaluasi ditujukan untuk mengetahui sejauh mana kesuksesan pelaksanaan penyelenggaraan sekolah atau sejauh mana keberhasilan yang telah dicapai dalam kurun waktu tertentu.

Untuk metode Focused Group Discussion (FGD) dapat dilakukan dalam beberapa putaran sesuai dengan kebutuhan. Tujuan dari FGD adalah untuk menyatukan pandangan stakeholder mengenai realitas kondisi (kekuatan dan kelemahan) sekolah, serta menentukan langkah-langkah strategis maupun operasional yang akan diambil untuk memajukan sekolah.

Metode Delphi dapat disampaikan oleh pengawas kepada kepala sekolah ketika hendak mengambil keputusan yang melibatkan banyak pihak. Metode ini bersifat kelompok dan dapat melibatkan beberapa kepala sekolah, wakil kepala sekolah dan/atau perwakilan komite sekolah.

Workshop merupakan metode yang dapat diterapkan dalam sasaran luas, tentu disesuaikan dengan tujuan atau urgensinya, dan dapat diselenggarakan bersama dengan Kelompok Kerja Kepala Sekolah, Kelompok Kerja Pengawas Sekolah atau organisasi sejenis lainnya.

Untuk penerapan metode-metode tersebut pengawas perlu melakukan pemetaan metode supervisi, menganalisis permasalahan manajerial, menentukan metode, merencanakan penerapan dan mempraktikkannya.

G. Umpan Balik

Cocokkanlah jawaban Saudara pada latihan di atas dengan kunci jawaban. Hitunglah jawaban Saudara yang benar. Kemudian gunakan rumus di bawah ini untuk mengetahui tingkat penguasaan Saudara terhadap materi Kegiatan Pembelajaran 2.

Arti tingkat persentase penguasaan yang Saudara capai: 90 – 100 = sangat baik

80 – 89 = baik 70 – 79 = cukup 60 – 69 = kurang

 60 = sangat kurang

Jika penguasaan Saudara berada pada tingkat “Baik” atau di atasnya, berarti Saudara telah mencapai tujuan pembelajaran pada topik ini. Selamat! Jika tingkat penguasaan Saudara masih di bawah “Baik”, mohon Saudara mereviu bahan bacaan penguatan untuk menyegarkan pemahaman Saudara sehingga bisa mencapai tingkat penguasaan “Baik” atau di atasnya.

Tingkat Penguasaan = Jumlah Jawaban Benar X Jumlah Soal

(43)

H. Refleksi dan Tindak Lanjut

Saudara diminta untuk melakukan refleksi mengenai pemahaman tentang metode supervisi manajerial setelah Saudara mengikuti kegiatan pembelajaran. Jika Saudara merasa sudah menguasai metode supervisi manajerial yang dipelajari, berilah tanda cek (√) pada kolom “Tercapai” pada metode yang sudah dikuasai. Sebaliknya berilah tanda cek (√) pada k

Gambar

Gambar 1. Peta Kedudukan Modul
Gambar 2. Peta Kompetensi Modul Konsep Supervisi Manajerial
Tabel 1. Kegiatan Pembelajaran dan Alokasi Waktu
Tabel 2. Strategi Pembelajaran

Referensi

Dokumen terkait

sekolah harus berjalan secara demokratis dan akomodatif. Pertanyaan berikut adalah, bagaimana memilih kepala sekolah yang bersifat demokratis dan akomodatif? Beberapa

10) Berita Acara Pemeriksaan hasil pekerjaan 100% yang ditandatangani oleh Kontraktor, Tim Perencana dan Konsultan Pengawas dengan diketahui oleh Kepala Sekolah dan

1) Pengawasan bersifat membimbing dan membantu mengatasi kesulitan dan bukan semata-mata mencari kesalahan. Pengawasan yang dilakukan oleh kepala sekolah harus

Dalam program Pelita Pendidikan Tanoto Foundation, para guru, kepala sekolah dan pengawas telah dilatih untuk merancang proses pembelajaran yang lebih baik,

Gerakan Literasi Sekolah merupakan suatu usaha atau kegiatan yang bersifat partisipatif dan komprehensif dengan melibatkan warga sekolah (siswa, guru, kepala sekolah,

Hasil penelitian menunjukkan: 1 Secara deskriptif kinerja guru BK SMA Kota Surabaya tergolong baik, pembinaan kepala sekolah terhadap guru BK tergolong baik, pembinaan pengawas baik,

KELAS VI diberikan kepada Atas partisipasinya pada Lomba Carnaval Bhinneka Tunggal Ika dalam rangka memperingati HUT RI ke-78 sebagai Juara I Pengawas Pembina Kepala Sekolah PIAGAM

47 SIMPULAN Peningkatan kompetensi supervisi seorang supervisor kepala sekolah dan atau pengawas lainnya tidak hanya bersifat administratif, namun tindakannya harus berkaitan