• Tidak ada hasil yang ditemukan

pelengkapan buku 16 04 13 indd

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "pelengkapan buku 16 04 13 indd"

Copied!
188
0
0

Teks penuh

(1)

Pelengkap

BUKU PEGANGAN

Penyelenggaraan Pemerintahan

dan Pembangunan Daerah

2013

Af

rmative Policy

(2)

Pelengkap Buku Pegangan 2013

Affi rmative Policy Dalam Percepatan Pembangunan Daerah Untuk Peningkatan Kesejahteraan Rakyat

Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan

Kementerian Keuangan

April 2013

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

DIREKTORAT JENDERAL PERIMBANGAN KEUANGAN

Gedung Radius Prawiro Lantai 9

Jl. DR. Wahidin No. 1 Jakarta Pusat 10710

Telp. (021) 3509442, Faks. (021) 3509443

(3)

KATA PENGANTAR

MENTERI KEUANGAN

REPUBLIK INDONESIA

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat, tau k dan hidayah-Nya sehingga Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan dapat menyelesaikan Pelengkap Buku Pegangan Tahun 2013 Tentang Penyelenggaraan Pemerintahan dan Pembangunan Daerah. Pelengkap Buku Pegangan ini mengambil tema: Af rmative

Policy dalam Percepatan Pembangunan Daerah untuk Peningkatan

Kesejahteraan Rakyat.

(4)

Pemerintah Pusat (APBN) cenderung semakin meningkat. Mengingat tantangan yang semakin berat dalam mengelola APBN ke depan, perlu kiranya untuk memaksimalkan pendapatan serta menge sienkan dan mengefektifkan belanja negara termasuk transfer ke Daerah. Sejalan dengan semakin meningkatnya dana yang ditransfer ke Daerah, maka kebijakan Pusat terkait dengan anggaran dan penggunaannya akan lebih efektif apabila Daerah dapat mengelolanya dengan profesional.

Melalui penguatan sumber-sumber pendapatan daerah dan pemberian diskresi belanja daerah maka diharapkan terdapat e siensi dan efektivitas dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik di Daerah. Hal ini dikarenakan dekatnya tingkatan pemerintahan yang memberikan layanan dengan masyarakat yang dilayaninya sehingga pemerintah daerah lebih memahami kebutuhan dan prioritas daerah mereka. Dalam jangka waktu selanjutnya peningkatan kualitas penyelenggaraan pemerintahan akan mendorong akses layanan publik dan akan mendorong perekonomian daerah serta meningkatkan kesejahteraan rakyat.

(5)

Peranan Pemerintah Daerah yang lebih besar dalam fungsi alokasi menunjukkan tanggung jawab daerah yang juga lebih besar dalam merencanakan dan melaksanakan kebijakan di Daerah, sehingga tujuan otonomi daerah dan desentralisasi skal dapat tercapai. Dalam kaitan inilah, maka upaya untuk membangun kebijakan yang lebih mempertimbangkan kepentingan publik dirasakan semakin penting. Untuk itu, penciptaan lingkungan yang kondusif perlu dibangun, antara lain melalui kepastian peraturan, transparansi pelaksanaan aturan, kecepatan pemberian layanan, kemudahan dan kesederhanaan proses memperoleh layanan publik tersebut, serta sinergi antara Pusat dan Daerah, serta antar daerah.

Sejalan dengan semakin besarnya kewenangan Pemerintah Daerah melalui otonomi daerah dan semakin besarnya dana yang didaerahkan melalui desentralisasi skal, maka sudah sepatutnya semakin besar pula peran dan tanggung jawab Daerah dalam ikut serta mengatasi berbagai masalah yang terjadi secara nasional, seperti krisis global yang sedang kita hadapi pada saat ini. Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah harus secara bersama-sama, bahu membahu, berkontribusi untuk mengatasi krisis ekonomi tersebut.

(6)

memberikan kontribusi dalam penyusunan buku ini, mulai dari proses perancangan hingga nalisasi dan harmonisasi substansinya. Akhirnya saya berharap semoga buku ini dapat memberikan motivasi yang positif dan bermanfaat bagi kita semua dan pihak-pihak terkait lainnya dalam mendukung pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi skal yang lebih baik di Indonesia demi meningkatkan kesejateraan rakyat yang lebih cepat dan lebih luas.

MENTERI KEUANGAN,

(7)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ... iii

Daftar Isi ... vii

Daftar Gra k ... x

Daftar Gambar... xi

Daftar Tabel ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

BAB II PENGATURAN HUBUNGAN KEUANGAN ANTARA PEMERINTAH PUSAT DAN PEMERINTAHAN DAERAH... 6

2.1. Kewenangan Perpajakan dan Retribusi Daerah ... 8

2.1.1. Sinkronisasi Penetapan Tarif Pajak Daerah dengan Kebijakan Nasional ... 12

2.1.2. Pengalihan PBB-P2 Menjadi Pajak Daerah ... 15

2.1.3. Penambahan Jenis Retribusi Daerah ... 20

2.2. Dana Perimbangan ... 24

2.2.1. DBH ... 24

2.2.2. DAU ... 42

2.2.3. DAK ... 45

2.3. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian ... 49

2.3.1. Dana Otonomi Khusus... 49

2.3.2. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Tunjangan

(8)

2.3.3. Dana Insentif Daerah dan P2D2 ... 55

2.3.4. Dana Keistimewaan DIY ... 59

2.4. Dana Darurat, Pinjaman dan Hibah ... 60

2.4.1. Dana Darurat ... 60

2.4.2. Pinjaman Daerah ... 62

2.4.3. Hibah Daerah... 63

2.5. Dana Dekonsentrasi dan Tugas Pembantuan ... 66

2.6. Pengelolaan Keuangan Daerah ... 68

2.6.1. Pengelolaan APBD ... 68

2.6.2. Pengelolaan De sit ... 79

2.6.3. Sistem Informasi Keuangan Daerah ... 82

2.7. Arah Kebijakan Revisi Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 84 BAB III ARAH KEBIJAKAN TRANSFER DAN HIBAH KE DAERAH TAHUN 2013 ... 88

3.1. Perkembangan Transfer ke Daerah ... 89

3.2. Kebijakan DAU ... 95

3.2.1. Penetapan Besaran DAU Nasional ... 95

3.2.2. Perhitungan Alokasi DAU ... 95

3.3. Kebijakan DAK ... 98

3.3.1. Kebijakan Umum DAK Tahun 2013 ... 98

3.3.2. Penentuan Daerah Penerima DAK ... 99

(9)

3.3.4. Penentuan Besaran Alokasi DAK ... 101

3.3.5. Arah Kebijakan, Ruang Lingkup dan Indikator Teknis Masing-masing Bidang DAK ... 102

3.4. Kebijakan Hibah ... 123

BAB IV AFFIRMATIVE POLICY DALAM PERCEPATAN PEMBANGUNAN DAERAH UNTUK PENINGKATAN KESEJAHTERAAN RAKYAT ... 125

4.1. Latar Belakang ... 125

4.2. Kriteria Ketertinggalan ... 126

4.3. Kondisi Keuangan Daerah Tertinggal ... 130

4.4. Arah Kebijakan Pembangunan Daerah Tertinggal ... 131

4.5. Penganggaran dan Pengalokasian DAK Daerah Tertinggal . 138 4.6. Pedoman Pelaksanaan ... 142

BAB V PENUTUP ... 147

DAFTAR PUSTAKA ... 149

(10)

DAFTAR GRAFIK

Gra k 2.1 Perkembangan Alokasi BOS Melalui Transfer ke Daerah 52

Gra k 2.2 Gra k Penetapan APBD Tahun Anggaran 2008-2012

Provinsi, Kabupaten, dan Kota di Indonesia ... 71

Gra k 2.3 Trend Belanja Daerah TA 2009 – 2012 ... 72

Gra k 2.4 Penyerapan Belanja APBD ... 75

Gra k 2.5 Tren SiLPA Tahun Berkenaan ... 76

Gra k 2.6 Trend Dana Pemda di Perbankan 2009 – 2012 (data per Desember) ... 77

Gra k 2.7 Opini BPK Atas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Tahun 2007 – 2011 ... 78

Gra k 3.1 Komposisi Dana Transfer ke Daerah ... 90

Gra k 3.2 Pertumbuhan Dana Transfer ke Daerah ... 91

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Kerangka Hubungan Keuangan antara Pusat dan Daerah 8

Gambar 2.2 Tahap Penyaluran DBH SDA ... 41

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tarif PBB-KB Sesuai Perda Provinsi ... 13

Tabel 2.2 Kesiapan Daerah Dalam Memungut PBB-P2 ... 17

Tabel 2.3 Pemerintah Daerah yang Belum Menetapkan Perda BPHTB ... 20

Tabel 2.4 Jenis dan Persentase DBH Pajak ... 25

Tabel 2.5 Pembagian Biaya Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan antara Pemerintah Pusat (DJP) dengan Pemerintah Daerah 27 Tabel 2.6 Penyaluran DBH Pajak dan CHT ... 31

Tabel 2.7 Jenis dan Porsi Bagi Hasil DBH SDA ... 33

Tabel 2.8 Jenis dan Tarif PNBP yang Dibagihasilkan ... 34

Tabel 2.9 Periode Lifting dan Penyaluran DBH SDA Migas ... 40

Tabel 2.10 Daerah Yang Melakukan Perjanjian Pinjaman Dengan PIP Tahun 2012 ... 66

Tabel 3.1 Alokasi 2012-2013 Dana Transfer ke Daerah dan Dana Penyesuaian ... 90

Tabel 3.2 Tingkat Pertumbuhan Dana Transfer ke Daerah ... 92

Tabel 3.3 Pagu dan Realisasi 2009 – 2013 ... 93

Tabel 3.4 Perkembangan Hibah ke Daerah ... 95

Tabel 3.5 Data Dalam Perhitungan DAU ... 96

(13)

Tabel 4.1 Daerah Tertinggal Per Provinsi ... 129

Tabel 4.2 Kapasitas Fiskal dan DAK Tahun 2012 ... 130

Tabel 4.3 Perbandingan Rata-Rata Alokasi DAK Tahun 2012 ... 131

Tabel 4.4 Hubungan Kriteria Daerah Tertinggal Dengan Kriteria Alokasi DAK ... 135

Tabel 4.5 Dukungan DAK Terhadap Program PDT ... 136

Tabel 4.6 Alokasi DAK Per Bidang TA 2013 ... 140

Tabel 4.7 Besaran Dana Pendamping DAK Tambahan ... 142

(14)
(15)

Bab I

Pendahuluan

Komitmen Pemerintah untuk melaksanakan kebijakan desentralisasi secara konsisten dan berkelanjutan telah terlihat dengan jelas baik dari kenaikan dana transfer ke daerah dari tahun ke tahun dan revisi berbagai peraturan perundang-undangan terkait. Komitmen tersebut tentunya didasari pertimbangan dan fakta yang menunjukkan bahwa kebijakan desentralisasi merupakan instrumen yang lebih efektif dan e sien untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang lebih baik di tingkat lokal. Secara nasional, transfer perkapita meningkat sangat tajam dari tahun ke tahun dan selaras dengan pengurangan tingkat kemiskinan dan tingkat pengangguran. Tingkat kemiskinan menurun dari 17,75% dalam tahun 2006 menjadi 11,96% pada tahun 2012. Pada beberapa daerah yang tingkat transfer perkapitanya sangat tinggi, ternyata juga mengalami penurunan kemiskinan yang lebih tinggi dibandingkan daerah lainnya. Dengan kebijakan desentralisasi, daerah-daerah yang selama ini masih tertinggal telah dapat mengejar ketertinggalannya. Keberhasilan desentralisasi juga terlihat dari beberapa indikator pelayanan publik di daerah. Sebagai contoh di bidang pendidikan, angka partisipasi murni (APM) SD meningkat di seluruh provinsi dan dalam bidang kesehatan angka kematian bayi (IMR) menurun signi kan di seluruh provinsi.

Secara keseluruhan disadari bahwa kebijakan desentralisasi yang diambil oleh pemerintah belum sepenuhnya sejalan dengan capaian tingkat kesejahteraan di tingkat lokal. Pelayanan publik yang disediakan oleh Pemerintah Daerah yaitu penyediaan barang-barang untuk kebutuhan publik (public goods) seperti jalan, jembatan, pasar terminal, rumah sakit dan lain-lainnya dan kedua adalah pengaturan-pengaturan publik

(public regulations) yang dikemas dalam bentuk peraturan daerah

(16)

Pajak dan Retribusi Daerah dan lain-lainnya belum banyak memberikan kontribusi bagi peningkatan tingkat kesejahteraan masyarakat. Setelah lebih dari satu dekade pasca reformasi, pelaksanaan otonomi daerah masih memerlukan pembenahan dalam penyediaan pelayanan publik khususnya yang terkait dengan penyediaan pelayanan dasar yang masih belum menunjukkan pencapaian yang signi kan dari standard pelayanan minimal (SPM).

Politik anggaran di tingkat lokal kurang sejalan dengan upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Proses penetapan anggaran memerlukan waktu yang cukup lama. Masih banyak daerah yang terlambat menetapkan APBD sehingga berpengaruh pada efektivitas penyerapan anggaran. Beberapa daerah dikenakan sanksi berupa penundaan penyaluran DAU karena penetapan APBD terlambat. Di sebagian besar daerah, alokasi anggaran belanja lebih banyak untuk pegawai dibandingkan untuk pelayanan kepada masyarakat (belanja modal). Sampai dengan tahun 2011, alokasi belanja pegawai cenderung terus meningkat hingga mencapai lebih dari 40% dari total belanja APBD (untuk provinsi di kisaran 25% dan untuk Kab/Kota di kisaran 51%) dan pada tahun 2012 mengalami penurunan. Proporsi belanja modal mengalami peningkatan di tahun 2011 dan 2012, yaitu diatas 20%. Di sisi lain, pengalokasian anggaran APBD juga masih belum optimal. Dana APBD juga masih banyak yang tidak dimanfaatkan oleh Daerah secara optimal. Dalam tahun 2012 jumlah dana APBD yang mengendap di perbankan mencapai 106,9 triliun atau sekitar 18,04% dari total APBD. Besarnya dana idle ini dapat mendistorsi pencapaian sasaran skal nasional.

(17)

menjadikan otonomi daerah sebagai instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan.

Pengaturan mengenai hubungan kewenangan Pusat dan Daerah dalam Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah perlu terus didiseminasikan kepada berbagai pihak terkait dan bahkan diperbaharui agar sejalan dengan perkembangan dan tuntutan masyarakat. Desentralisasi politik yang memberikan tanggung jawab yang besar kepada masyarakat lokal dalam menentukan preferensi kebutuhannya masih jauh dari harapan. Pemilihan DPRD dan kepala daerah secara langsung belum menunjukkan keterkaitan yang erat dengan tingkat pelayanan. Pemilihan DPRD dan kepala daerah secara langsung diharapkan dapat menghasilkan pemimpin yang lebih akuntabel dan bertanggung jawab. Keterlibatan masyarakat secara langsung maupun melalui lembaga DPRD dalam berbagai pengambilan keputusan berbagai kebijakan daerah diharapkan dapat meningkatkan e siensi dan efektivitas penyediaan pelayanan. Sistem rekrutmen partai politik dan Pilkada kelihatannya perlu diperbaiki agar bisa sejalan dengan tujuan desentralisasi tersebut.

(18)

jawab untuk menyusun norma, standard, prosedur dan kriteria (NSPK) yang menjadi acuan bagi daerah dalam melaksanakan urusannya. Dalam praktiknya, Pemerintah Pusat masih banyak melaksanakan kegiatan-kegiatan yang telah menjadi tanggung jawab daerah.

Di bidang skal, kebijakan desentralisasi diarahkan untuk memberikan diskresi yang besar dalam pengelolaan keuangan sejalan dengan pemberian tanggung jawab yang besar pula dalam pelayanan. Kewenangan daerah dalam perpajakan daerah terus ditingkatkan baik dari jenis pajak yang dapat dipungut oleh daerah maupun dalam penetapan tarif pajak. Kebijakan ini dimaksudkan agar masyarakat dapat mengendalikan pengeluaran daerah dengan mengkaitkan pembayaran pajak dengan tingkat pelayanan di daerah. Selain itu, dana transfer yang disalurkan kepada daerah sebagian besar berupa dana alokasi umum. Kebijakan ini diambil agar daerah dapat mengalokasikan dana sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap daerah.

(19)

minum. Kementerian dan Lembaga yang menangani urusan tersebut akan lebih berperan untuk menilai tingkat pencapaian pelayanan pada bidang tersebut dan penilaian tersebut menjadi dasar untuk mengalokasikan dana alokasi khusus.

(20)

Bab II

Pengaturan Hubungan Keuangan antara

Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah

Hubungan keuangan Pusat dan Daerah timbul sebagai konsekuensi dari adanya pembagian urusan pemerintahan antar tingkat pemerintahan, antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. Masing-masing tingkat pemerintahan berhak dan berkewajiban menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi tanggung jawabnya. Seperti diketahui, urusan pemerintahan dibagi menjadi urusan absolut dan urusan konkuren. Urusan absolut yang meliputi politik luar negeri, pertahanan, keamanan, yustisi, moneter dan skal nasional, dan agama merupakan urusan yang mutlak menjadi urusan Pusat. Urusan pemerintahan tersebut menyangkut terjaminnya kelangsungan hidup bangsa dan negara secara keseluruhan. Selain urusan mutlak tersebut, terdapat bagian dari urusan pemerintahan yang bersifat konkuren yang dapat dilakukan secara bersama antara Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. Distribusi urusan pemerintahan antara tingkat pemerintahan tersebut dilakukan dengan kriteria eksternalitas, akuntabilitas dan e siensi. Ketiga level pemerintahan tersebut dapat saja melakukan kegiatan dalam satu urusan, namun berbeda dalam hal cakupan atau jenis kegiatannya. Dengan pertimbangan tersebut, Pemerintah Pusat berwenang untuk melaksanakan berbagai urusan di luar urusan absolut sepanjang urusan tersebut memiliki eksternalitas nasional dan internasional.

(21)

Walaupun semua urusan pemerintahan telah dibagi habis antar tingkat pemerintahan, namun terdapat hubungan antara pemerintah pusat dan daerah dalam penyelenggaraan urusan tersebut. Sebagai Negara Kesatuan, tanggung jawab akhir terhadap semua urusan tersebut tetap berada pada tingkat Pusat. Terkait dengan tanggung jawab tersebut, Pemerintah Pusat berwenang membuat norma-norma, standar, prosedur, kriteria (NSPK) yang menjadi acuan bagi Pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota dalam melaksanakan urusan tersebut. Pemerintah Pusat juga akan melakukan monitoring dan evaluasi, supervisi, fasilitasi terhadap penyelenggaraan urusan tersebut.

Sejalan dengan pembagian urusan pemerintahan tersebut, sumber-sumber keuangan dibagi antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Sebagai daerah otonom, Daerah diberikan kewenangan untuk memungut pajak dan retribusi (local taxing power). Pemberian kewenangan untuk mengenakan pajak dan retribusi dimaksudkan agar daerah dapat menyediakan pelayanan sesuai dengan kemampuan masyarakatnya. Namun demikian, perbedaan dalam pertimbangan pembagian urusan pemerintahan dan kewenangan perpajakan mengakibatkan terjadinya ketimpangan vertikal antara Pusat dan Daerah. Artinya, pembagian urusan tidak selalu bisa diselaraskan dengan pembagian kewenangan perpajakan. Terdapat hubungan keuangan antara Pusat dan Daerah. Pemerintah Pusat harus mengalokasi dana perimbangan kepada daerah untuk mendanai urusan-urusan yang menjadi tanggung jawab daerah. Selain pemberian dana perimbangan tersebut, Pemerintah pusat juga memberikan sumber pendanaan lainnya berupa hibah dan pinjaman.

(22)

Gambar 2.1

Kerangka Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah

2.1 Kewenangan Perpajakan dan Retribusi Daerah

Salah satu esensi desentralisasi skal adalah adanya pemberian kewenangan kepada pemerintah daerah untuk memungut pajak (taxing power) dan retribusi. Kewenangan perpajakan dan retribusi tersebut telah diatur terakhir dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Undang-Undang 28 Tahun 2009 merupakan pengganti Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2000 yang secara efektif mulai berlaku sejak tanggal 1 Januari 2010. Undang-undang tersebut merupakan langkah strategis untuk memperkuat desentralisasi yang lebih ideal. Beberapa perubahan kebijakan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, yaitu:

(23)

pertimbangan penerapan closed-list system adalah untuk memberikan kepastian bagi masyarakat dan dunia usaha mengenai jenis pungutan daerah yang wajib dibayar, serta meningkatkan e siensi pemungutan PDRD. Dengan closed-list system, pemerintah daerah hanya dapat memungut jenis PDRD yang tercantum dalam undang-undang. Dengan kebijakan ini, pemerintah daerah didorong untuk mengoptimalkan pemungutan PDRD dengan landasan hukum yang kuat dan tidak menciptakan jenis pungutan baru yang bertentangan dengan kepentingan umum dan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi.

2. Pemberian kewenangan yang lebih besar kepada daerah di bidang perpajakan dan retribusi daerah (local taxing empowerment), melalui beberapa kebijakan, yaitu:

a. memperluas basis PDRD yang sudah ada, seperti perluasan basis Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) yang meliputi kendaraan Pemerintah/TNI/ Polri, Pajak Hotel termasuk persewaan ruangan, Pajak Restoran termasuk jasa boga/katering, dan Retribusi Izin Gangguan yang juga mencakup ketertiban lingkungan dan keselamatan kerja;

b. menambah jenis PDRD, seperti Pajak Rokok, Pajak Sarang Burung Walet, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2), Retribusi Pelayanan Tera/Tera Ulang, Retribusi Pelayanan Pendidikan, Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi, dan Retribusi Izin Usaha Perikanan. Selain itu, khusus untuk jenis retribusi daerah masih dibuka peluang untuk ditambah jenisnya sesuai dengan kriteria yang diatur dalam undang-undang dan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah;

(24)

Logam dan Batuan. Dengan kebijakan ini, diharapkan dapat meningkatkan pendapatan daerah sekaligus sebagai kompensasi hilangnya penerimaan dari beberapa jenis pungutan daerah akibat dari adanya perubahan dari open-list system menjadi closed-list system; dan

d. memberikan diskresi penetapan tarif pajak.

Pemerintah daerah diberikan kewenangan sepenuhnya untuk menetapkan besaran tarif pajak daerah, namun tidak boleh melebihi tarif maksimum yang ditetapkan dalam Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009. Kecuali Pajak Rokok, seluruh jenis pajak daerah dalam Undang-undang Nomor 28 tahun 2009 diberikan batas tarif maksimum. Kebijakan ini memberikan peluang bagi pemerintah daerah untuk memberikan insentif dan disinsentif kepada masyarakat berkaitan dengan pemungutan pajak daerah.

3. Memperbaiki sistem pengelolaan PDRD melalui kebijakan bagi hasil pajak provinsi kepada kabupaten/kota yang lebih pasti, serta kebijakan

earmarking untuk jenis pajak daerah tertentu. Kebijakan bagi hasil pajak ini mencerminkan bentuk tanggung jawab pemerintah provinsi untuk ikut serta menanggung beban biaya yang diperlukan oleh kabupaten/ kota dalam melaksanakan fungsinya, yaitu memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sementara itu, dengan adanya kebijakan

earmarking, dapat menjamin bahwa sebagian hasil pendapatan pajak daerah tertentu dialokasikan untuk mendanai kegiatan tertentu yang dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

4. Meningkatkan efektivitas pengawasan pungutan daerah dengan mengubah mekanisme pengawasan dari sistem represif menjadi sistem preventif dan korektif.

(25)

dahulu. Untuk Raperda Kabupaten/Kota dievaluasi oleh Gubernur dan untuk Raperda Provinsi dievaluasi oleh Menteri Dalam Negeri. Evaluasi Raperda yang dilakukan oleh Gubernur dan Menteri Dalam Negeri tersebut dilakukan dengan berkoordinasi dengan Menteri Keuangan.

Setelah Raperda dievaluasi dan disampaikan kepada pemerintah daerah yang bersangkutan, Raperda disesuaikan dengan hasil evaluasi dan kemudian ditetapkan menjadi Perda. Perda yang sudah ditetapkan dapat dibatalkan oleh Pemerintah apabila bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan/atau kepentingan umum. Pembatalan Perda yang semula dengan Keputusan Menteri Dalam Negeri diubah dengan Peraturan Presiden. Hal ini dilakukan dalam rangka memperkuat dasar hukum pembatalan Perda. Selain itu, terhadap pemerintah daerah yang melakukan pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan di bidang PDRD dapat dikenakan sanksi berupa penundaan dan/atau pemotongan dana alokasi umum dan/atau dana bagi hasil atau restitusi.

Dalam kaitan dengan pelaksanaan desentralisasi skal, perubahan kebijakan tersebut diharapkan akan memberikan dampak positif khususnya bagi pemerintah daerah. Dampak positif yang diharapkan antara lain, pemerintah daerah dapat lebih menyesuaikan kebijakan perpajakan dengan kondisi daerah masing-masing, munculnya

(26)

2.1.1 Sinkronisasi Penetapan Tarif Pajak Daerah dengan Kebijakan Nasional

Pada prinsipnya diskresi daerah dalam perpajakan yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 terletak pada penetapan besarnya tarif dalam batas yang ditetapkan dalam undang-undang. Namun demikian, penetapan besaran tarif tersebut perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap perekonomian daerah dan nasional. Dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, tarif PBB-KB ditetapkan maksimum 10 persen dari sebelumnya maksimum 5 persen. Pemerintah Provinsi diberikan kewenangan untuk menerapkan tarif PBB-KB sampai dengan 10 persen dalam Perda. Undang-undang tersebut juga memberikan kewenangan kepada provinsi untuk menetapkan tarif PBB-KB untuk bahan bakar minyak (BBM) yang digunakan kendaraan umum paling sedikit 50% lebih rendah dari tarif PBB-KB untuk kendaraan pribadi. Dengan demikian, pengenaan tarif PBB-KB dapat dilakukan secara diskriminatif baik antar daerah maupun antar jenis penggunaan kendaraan bermotor. Pengenaan tarif diskriminatif antara kendaraan bermotor dilakukan dengan memperhatikan aspek kesiapan daerah untuk membedakan pengguna bahan bakar. Peluang pemberlakuan diskriminasi tarif tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan daya saing daerah, karena harga jual per liter BBM dapat berbeda antar daerah. Diskriminasi harga tersebut secara tidak langsung juga ditujukan agar pemerintah daerah dapat berperan optimal menurunkan konsumsi BBM, memperbaiki moda transportasi umum, mengurangi tingkat kemacetan, mengurangi polusi, meningkatkan produktivitas masyarakat dengan adanya penurunan kemacetan, serta untuk meningkatkan Penerimaan Asli Daerah (PAD). Bagi Pemerintah Pusat, kenaikan tarif PBB-KB tersebut untuk jangka panjang akan mengurangi beban subsidi dengan asumsi penggunaan BBM bersubsidi (bensin dan minyak solar) menurun akibat adanya kenaikan harga.

(27)

KB yang telah ditetapkan oleh pemerintah daerah dengan menerbitkan peraturan presiden. Penetapan tarif oleh Pemerintah dilakukan untuk jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun. Kewenangan Pemerintah untuk mengubah tarif PBB-KB tersebut dilakukan dalam hal:

1. kenaikan harga minyak dunia melebihi 130 persen dari asumsi harga minyak dunia yang ditetapkan dalam Undang-undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun berjalan. Bila harga minyak dunia sudah kembali normal, peraturan presiden dicabut dalam jangka waktu paling lama 2 (dua) bulan.

2. Stabilisasi harga BBM untuk jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun sejak ditetapkannya Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009. Ketentuan ini diperlukan untuk menghindari gejolak sosial akibat adanya kemungkinan perbedaan harga BBM antar daerah.

Berdasarkan data yang ada, dari 33 pemerintah provinsi yang telah menetapkan perda tentang PBB-KB, sebanyak 14 daerah menetapkan tarif sebesar 5 persen, 13 daerah sebesar 7,5 persen dan 6 daerah sebesar 10 persen. Data daerah yang telah menetapkan Perda tentang PBB-KB selengkapnya dapat dilihat pada Tabel. 2.1 di bawah ini.

Tabel 2.1

Tarif PBB-KB Sesuai Perda Provinsi

No. Provinsi Nomor dan Tahun Perda Tarif PBB-KB

1 Aceh Perda 2 Tahun 2012 5%

2 Sumatera Utara Perda 1 Tahun 2011 10%

3 Sumatera Barat Perda 1 Tahun 2012 5%

4 Riau Perda 8 Tahun 2011 5%

5 Jambi Perda 6 Tahun 2011 7,5%

6 Sumatera Selatan Perda 3 Tahun 2011 7,5%

7 Bengkulu Perda 2 Tahun 2011 5%

8 Lampung Perda 2 Tahun 2011 7,5%

(28)

10 Kepulauan Riau Perda 8 Tahun 2011 10%

11 DKI Jakarta Perda 10 Tahun 2010 5%

12 Jawa Barat Perda 13 Tahun 2011 5%

13 Jawa Tengah Perda 2 Tahun 2011 5%

14 Daerah Istimewa Yogyakarta Perda 3 Tahun 2011 5%

15 Jawa Timur Perda 9 Tahun 2010 10%

16 Banten Perda 1 Tahun 2011 5%

17 Bali Perda 1 Tahun 2011 10%

18 Nusa Tenggara Barat Perda 1 Tahun 2011 10% 19 Nusa Tenggara Timur Perda 2 Tahun 2010 10% 20 Kalimantan Barat Perda 8 Tahun 2010 7,5% 21 Kalimantan Tengah Perda 7 Tahun 2010 7,5% 22 Kalimantan Selatan Perda 5 Tahun 2011 7,5% 23 Kalimantan Timur Perda 01 Tahun 2011 7,5% 24 Sulawesi Utara Perda 7 Tahun 2011 5% 25 Sulawesi Tengah Perda 1 Tahun 2011 7,5% 26 Sulawesi Selatan Perda 10 Tahun 2010 7,5% 27 Sulawesi Tenggara Perda 5 Tahun 2011 7,5%

28 Gorontalo Perda 5 Tahun 2011 5%

29 Sulawesi Barat Perda 01 Tahun 2011 7,5%

30 Maluku Perda 05 Tahun 2010 7,5%

31 Maluku Utara Perda 05 Tahun 2011 7,5%

32 Papua Barat Perda 5 Tahun 2011 5%

33 Papua Perda 4 Tahun 2011 5%

(29)

KEBIJAKAN TARIF PAJAK BAHAN BAKAR KENDARAAN BERMOTOR

Mengingat saat ini harga jual eceran jenis BBM tertentu, antara lain, bensin (gasoline) RON 88 dan minyak solar (gas oil) masih disubsidi oleh Pemerintah, peningkatan tarif PBB-KB yang ditetapkan oleh Provinsi di satu pihak akan meningkatkan PAD, namun di lain pihak dapat berdampak terhadap peningkatan subsidi BBM dalam kebijakan harga tidak seragam. Dalam rangka mengendalikan beban subsidi dan stabilisasi harga BBM, Pemerintah mengambil kebijakan mengubah tarif PBB-KB dengan menetapkan Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2011 tentang Perubahan atas Tarif PBB-KB. Peraturan Presiden tersebut mengubah tarif PBB-KB yang telah ditetapkan dalam Perda Provinsi menjadi sebesar 5 persen dan berlaku sampai dengan tanggal 15 September 2012.

Dengan mempertimbangkan kondisi keuangan negara, ekonomi dunia, serta pertimbangan lainnya, Pemerintah mengambil kebijakan untuk menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi agar tidak terjadi disparitas harga antar daerah akibat perbedaan tarif PBB-KB. Salah satu langkah yang dilakukan Pemerintah untuk menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi tersebut adalah dengan menyampaikan himbauan kepada Gubernur dan Ketua DPRD Provinsi di seluruh Indonesia agar tarif PBB-KB untuk BBM bersubsidi dapat ditetapkan sebesar 5 persen melalui Surat Menteri Dalam Negeri Nomor: 973/2896/SJ tanggal 31 Juli 2012.

Meskipun demikian, Pemerintah perlu menyiapkan kebijakan/regulasi yang selaras dengan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 dengan mempertimbangkan dampak tarif PBB-KB terhadap fi skal, infl asi, dan sosial. Pemerintah juga perlu memberikan kepastian kepada Pemerintah Provinsi, penyedia BBM bersubsidi, dan masyarakat pengguna BBM bersubsidi terkait dengan kebijakan PBB-KB pasca berakhirnya Peraturan Presiden Nomor 36 Tahun 2011.

2.1.2 Pengalihan PBB-P2 Menjadi Pajak Daerah

(30)

PBB-P2 tersebut, dan 2013 ini merupakan tahun terakhir untuk melakukan berbagai persiapan pemungutan pajak tersebut. Apabila daerah dalam tahun 2014 belum memungut PBB-P2 tersebut, maka pemerintah daerah tidak lagi mendapatkan bagi hasil PBB-P2 seperti pada tahun-tahun sebelumnya. Pemerintah Pusat sejak tahun 2014 tidak lagi berhak untuk memungutnya.

Agar kualitas layanan kepada Wajib Pajak dan stakeholders tetap terjaga selama masa peralihan, maka proses dalam masa peralihan menjadi hal yang paling penting untuk dipikirkan dan direncanakan secara cermat. Kunci sukses pelaksanaan devolusi PBB-P2 kepada Pemerintah Daerah, antara lain:

1. Proses peralihan kewenangan pemungutan PBB-P2 berjalan lancar

(smooth) dengan harga (cost) yang minimal, baik untuk pihak yang mengalihkan maupun pihak yang menerima pengalihan;

2. Stabilitas penerimaan PBB-P2 bagi Pemerintah Daerah tetap terjaga dengan tingkat deviasi yang dapat ditekan seminimal mungkin sehingga daerah tidak banyak kehilangan penerimaan dengan adanya pengalihan tersebut;

3. Masyarakat sebagai Wajib Pajak tidak merasakan adanya perubahan pelayanan atau bahkan dapat merasakan adanya peningkatan yang signi kan dalam hal kualitas dan kecepatan pelayanan.

(31)
(32)

2. Raperda (dalam proses)

107 344.382.362.565 21,75 4,17

3. Belum menyusun Raperda

101 158.865.407.221 20,53 1,92

Total 492 8.260.103.008.712 100 100

Sumber: Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak

Dalam rangka mempercepat pengalihan PBB-P2 dan sekaligus sebagai bentuk pelaksanaan tanggung jawab moral, pada tahun 2011 Pemerintah bersama dengan DPR-RI telah melakukan kegiatan sosialisasi di 160 Kabupaten/Kota. Kegiatan sosialisasi ini akan terus dilakukan kepada seluruh Pemerintah Kabupaten/Kota sampai dengan tahun 2013. Pada tahun 2012, kegiatan sosialisasi juga telah dilaksanakan di 160 Kabupaten/ Kota. Sosialisasi tersebut dimaksudkan untuk menumbuhkan awareness

dan memotivasi daerah agar segera menyiapkan fasilitas dan infrastruktur yang diperlukan untuk menerima pengalihan pemungutan PBB-P2. Di sisi lain, sosialisasi ini juga sebagai public announcement, khususnya kepada masyarakat dan aparat yang akan menangani pemungutan terkait dengan kebijakan pengalihan PBB-P2 sebagai pajak daerah.

Pelaksanaan sosialisasi ini melibatkan Komisi XI DPR-RI, Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, Direktorat Jenderal Pajak, dan Direktorat Jenderal Keuangan Daerah Kementerian Dalam Negeri. Materi yang disampaikan meliputi, loso pengalihan, kebijakan pengalihan, teknis pemungutan PBB-P2, serta struktur organisasi dan tata kerja Pemerintah Daerah terkait dengan persiapan pengalihan. Peserta sosialisasi meliputi, unsur DPRD Kabupaten/Kota, SKPD terkait, Camat, Kepala Desa/Lurah, Sekretaris Desa/Lurah, Kantor Pertanahan (BPN), KPP Pratama, Notaris/PPAT, akademisi, dan tokoh masyarakat setempat.

(33)

Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pajak dan Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan, telah membuka program D1 Keuangan Spesialisasi Pajak Konsentrasi Penilai PBB-P2 dan D1 Keuangan Spesialisasi Pajak Konsentrasi operator console (OC). Pemerintah daerah dapat mengirimkan beberapa pegawai yang akan menangani pemungutan PBB-P2 untuk dididik dan dipersiapkan agar pada saatnya nanti bisa mengelola PBB-P2 dengan baik.

Sementara itu, pelaksanaan pemungutan BPHTB menjadi pajak daerah yang secara efektif telah berlaku sejak 1 Januari 2011, masih terdapat sejumlah pemerintah daerah yang belum menetapkan Perda BPHTB karena berbagai kendala dan pertimbangan. Kendala dan pertimbangan yang dihadapi tersebut, antara lain, pemerintah daerah mengambil kebijakan untuk menunda menerbitkan Perda karena tidak ada atau kecilnya potensi penerimaan BPHTB, proses pembahasan Raperda dengan DPRD yang berlarut-larut karena perbedaan kepentingan politik. Selain itu, beberapa kepala daerah sedang tersangkut masalah hukum, persiapan pemilihan kepala daerah, serta masa transisi pergantian kepala daerah juga mengakibatkan proses penyusunan Perda BPHTB menjadi terhambat.

(34)

Tabel 2.3

Pemerintah Daerah yang Belum Menetapkan Perda BPHTB

(Posisi: 18 Maret 2013)

No. Daerah Provinsi

Progres/Status Raperda

Sudah Dievaluasi Menkeu

Dibahas di DPRD

Dibahas di Eksekutif

1 Kab. Kep. Aru Maluku √

2 Kab. Sarmi Papua √

3 Kab. Pegunungan Bintang Papua √

4 Kab. Tolikara Papua √

5 Kab. Memberamo Tengah Papua √

6 Kab. Nduga Papua √

7 Kab. Puncak Papua √

8 Kab. Dogiyai Papua √

9 Kab. Intan Jaya Papua √

10 Kab. Deiyai Papua √

Sumber: Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan

2.1.3 Penambahan Jenis Retribusi Daerah

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya sesuai Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009, kewenangan penetapan PDRD bersifat closed-list system. Namun demikian, khusus untuk retribusi daerah, masih dibuka peluang untuk dapat menambah jenis retribusi daerah selain yang telah ditetapkan undang-undang sepanjang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan dengan peraturan pemerintah.

(35)

Kemacetan lalu lintas terutama di kota-kota besar bukan merupakan masalah yang berdiri sendiri. Pertumbuhan kendaraan bermotor merupakan dampak langsung dari kemajuan ekonomi masyarakat. Sejalan dengan kemajuan dan pertumbuhan ekonomi tersebut, kepemilikan kendaraan pribadi terus meningkat. Pada kondisi demikian, jumlah kendaraan yang beredar di jalan makin bertambah, sementara

volume jalan tidak tumbuh secara signi kan sehingga mengakibatkan tingkat kemacetan yang semakin tinggi. Kemacetan yang terjadi secara langsung akan menyebabkan dampak negatif lainnya, yaitu meningkatnya tingkat pencemaran/polusi udara dan suara, kerugian ekonomi, gangguan kesehatan karena kualitas udara yang semakin buruk, pemborosan konsumsi BBM dan lain sebagainya.

Pemecahan masalah kemacetan dengan menambah kapasitas jalan atau membangun jalan-jalan baru di kota-kota besar tidak mudah untuk dilakukan, karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit dan lahan yang akan digunakan makin terbatas. Salah satu instrumen yang akan diaplikasikan guna mengatasi permasalahan kemacetan adalah dengan menerapkan electronic road pricing (ERP). Pengenaan ERP diharapkan akan dapat mengurangi kemacetan lalu lintas dan hasil penerimaannya dapat di-earmark untuk memperbaiki infrastruktur serta sistem angkutan massal.

Sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota, penerbitan perpanjangan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) yang lokasi kerjanya lintas kabupaten/kota dalam Provinsi merupakan urusan Provinsi dan penerbitan perpanjangan IMTA yang lokasi kerjanya dalam wilayah kabupaten/kota merupakan urusan Kabupaten/Kota.

(36)

wilayah kabupaten/kota yang sudah menjadi urusan Daerah juga disertai dengan pendanaannya. Hal ini dapat dilihat dengan kebijakan dihapusnya biaya kompensasi atas pelayanan penerbitan perpanjangan IMTA yang sudah menjadi urusan pemerintah daerah dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 65 Tahun 2012 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku Pada Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

Sejalan dengan pemberian kewenangan untuk menambah jenis retribusi daerah selain yang telah ditetapkan dalam undang-undang, Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 97 Tahun 2012 tentang Retribusi Pengendalian Lalu Lintas dan Retribusi Perpanjangan Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing.

RETRIBUSI PENGEDALIAN LALU LINTAS DAN RETRIBUSI PERPANJANGAN IMTA

1. Retribusi Pengendalian Lalu Lintas

a. Objek Retribusi adalah penggunaan ruas jalan tertentu, koridor tertentu, atau

kawasan tertentu pada waktu tertentu oleh kendaraan bermotor perseorangan dan barang, kecuali oleh:

• sepeda motor;

• kendaraan penumpang umum; • kendaraan pemadam kebakaran; dan • ambulans.

b. Kriteria ruas jalan tertentu, koridor tertentu, atau kawasan tertentu yang dapat dipungut retribusi, yaitu:

• Memiliki 2 jalur jalan yang masing-masing jalur memiliki paling sedikit 2 (dua)

lajur; dan

• Tersedia jaringan dan pelayanan angkutan umum massal dalam trayek. c. Kriteria tingkat kepadatan lalu lintas:

(37)
(38)

2.2 Dana Perimbangan

Dana Perimbangan diberikan kepada Daerah sebagai konsekuensi logis atas adanya pembagian kewenangan antara tingkat pemerintahan, Pemerintah Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota. Implikasi dari pembagian kewenangan tersebut adalah terjadinya ketimpangan fi skal antar tingkat pemerintahan. Ketimpangan tersebut terjadi karena perbedaan dalam kapasitas skal dan perbedaan dalam kebutuhan fi skal. Dengan pertimbangan e siensi dan stabilitas skal pemerintah pusat biasanya menguasai sumber-sumber penerimaan pajak yang besar, daerah hanya menguasai sumber-sumber penerimaan yang relatif kecil. Sementara itu, daerah dengan pertimbangan lebih dekat dengan masyarakat mempunyai tanggungjawab yang lebih besar dalam penyediaan pelayanan. Perbedaan dalam potensi ekonomi, karakteristik antar daerah juga menyebabkan perbedaan dalam menyediakan pelayanan kepada masyarakat. Untuk mengatasi hal tersebut, di dalam negara yang menganut desentralisasi terdapat perimbangan keuangan antar tingkat pemerintahan atau terdapat sistem transfer dari pusat ke daerah. Dana perimbangan berdasarkan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 terdiri dari Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU) dan Dana Alokasi Khusus (DAK).

2.2.1. Dana Bagi Hasil

Dana Bagi Hasil (DBH) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan presentase tertentu dengan memperhatikan potensi daerah penghasil dan untuk pemerataan. DBH tersebut digunakan untuk mendanai kebutuhan daerah dalam

e. Penerimaan Retribusi Perpanjangan IMTA diutamakan untuk mendanai kegiatan pengembangan keahlian dan keterampilan tenaga kerja lokal.

(39)
(40)

3. CHT 98% 0,6% 1,4%

Pembagian per Provinsi berdasarkan penerimaan cukai dan produksi tem-bakau, Pembagian per Kab/Kota dilakukan oleh Provinsi

PBB sektor pertambangan migas yang dikenakan atas tubuh bumi dan PBB sektor pertambangan Migas perairan (offshore) dibagi kepada seluruh daerah termasuk kepada daerah bukan penghasil Migas. Pembagian tersebut dilakukan berdasarkan formula tertentu yang tidak saja mempertimbangkan daerah penghasil Migas, tetapi juga untuk pemerataan keuangan antar daerah. PBB sektor perdesaan, perkotaan, perkebunan dan kehutanan dibagi berdasarkan realisasi penerimaan dari daerah yang bersangkutan.

Bagian pemerintah pusat dari PBB sebesar 10% dibagihasilkan lagi kepada daerah dengan ketentuan 6,5% dibagikan secara merata kepada kabupaten/kota dan 3,5% dibagikan sebagai insentif bagi kabupaten/kota yang penerimaan PBB sektor perkotaan dan pedesaannya melebihi target penerimaan. Pemberian insentif ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa Pemerintah Pusat (Kementerian Keuangan) telah melibatkan kabupaten/ Kota di Provinsi DKI Jakarta dalam pemungutan PBB Perdesaan dan Perkotaan.

(41)

Imbangan pembagian Biaya Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan antar Direktorat Jenderal Pajak dan pemerintah daerah didasarkan pada besar atau kecilnya peranan masing-masing dalam melakukan kegiatan operasional pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan.

Besarnya imbangan pembagian Biaya Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan adalah sebagai berikut:

Tabel 2.5

Pembagian Biaya Pemungutan Pajak Bumi dan Bangunan

antara Pusat dengan Daerah

No Sektor Pusat Daerah

1 Perdesaan 10 90

2 Perkotaan 20 80

3 Perkebunan 60 40

4 Perhutanan 65 35

5 Pertambangan 70 30

(42)
(43)

Sementara itu, pembagian DBH CHT kepada kabupaten/kota sebesar 1,4% dapat dijabarkan sebesar 0,8% dibagikan kepada kabupaten/ kota penghasil dan 0,6% dibagikan kepada kabupaten/kota lainnya. Pembagian lebih lanjut kepada kabupaten/kota dilakukan oleh gubernur.

Perencanaan dan Penganggaran

Berdasarkan PMK Nomor 165/PMK.07/2012 tentang Pengalokasian Anggaran Transfer ke Daerah, indikasi kebutuhan dana dan rencana dana pengeluaran untuk bagi hasil disusun oleh Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan berdasarkan perkiraan penerimaan PBB, PPh dan CHT setelah berkoordinasi dengan Ditjen Pajak, Ditjen BC, dan BKF. Indikasi kebutuhan dana DBH Pajak dan CHT digunakan sebagai dasar penyusunan indikasi kebutuhan dana pengeluaran Bendahara Umum Negara, sedangkan rencana dana pengeluaran DBH Pajak dan CHT digunakan sebagai dasar penyusunan rancangan Undang-Undang mengenai APBN.

Pajak Penghasilan Pasal 21 dan Pasal 25/29 WPOPDN

Pajak penghasilan Pasal 21 adalah pajak atas penghasilan atas gaji, upah, honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain dengan nama dan dalam bentuk apapun sehubungan dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan kegiatan yang dilakukan oleh WPOP dalam negeri. Pajak Penghailan Pasal 21 dipotong, disetor, dan dilaporkan oleh Pemotong Pajak, yaitu pemberi kerja, bendaharawan pemerintah, dana pensiun, badan, perusahaan dan penyelenggaraan kegiatan. Pelaporan penerimaan PPh Pasal 21 dilakukan berdasarkan tempat kerja

(44)

Penetapan Alokasi

Perhitungan alokasi DBH Pajak dan CHT dilakukan setelah ditetapkannya pagu penerimaan pajak dan CHT tersebut dalam APBN. Berdasarkan PMK No. 165/PMK.07/2012, perhitungan alokasi dilakukan berdasarkan data rencana penerimaan PBB dan PPh Pasal 21 dan Pasal 25/29 untuk alokasi sementara DBH Pajak dan data rencana penerimaan CHT untuk alokasi sementara DBH CHT. Alokasi sementara tersebut merupakan dasar untuk penyaluran sampai dengan triwulan III. Mengingat penyaluran DBH dilaksanakan berdasarkan realisasi penerimaan maka pada akhir tahun ditetapkan alokasi de nitif berdasarkan prognosa realisasi penerimaan PBB, PPh Pasal 21 dan Pasal 25/29, dan CHT. Alokasi de nitif tersebut merupakan dasar untuk penyaluran pada triwulan terakhir. Penyesuaian terhadap alokasi de nitif tersebut dilakukan setelah realisasi penerimaan PBB, PPh Pasal 21 dan Pasal 25/29, dan CHT ditetapkan dan telah diaudit oleh BPK.

Alokasi sementara DBH PBB terdiri dari DBH PBB bagi rata, insentif pemungutan PBB (mulai tahun 2013), DBH PBB bagian daerah, dan biaya pemungutan PBB. Sementara itu, alokasi de nitif PBB terdiri dari DBH PBB bagi rata, insentif PBB, bagian daerah sektor Pertambangan Migas dan Panas Bumi dan biaya pemungutan sektor Migas dan Panas Bumi tersebut. Alokasi de nitif bagian daerah dari sektor lainnya tidak ditetapkan karena telah disalurkan secara langsung di masing-masing daerah.

(45)
(46)

a. DBH PPh Pasal 21 Triwulan I : 20%; Triwulan II : 20%; Triwulan III : 20%; dari alokasi semen-tara; Triwulan IV : selisih alokasi defi nitif dengan yang telah disalurkan

b. DBH PPh Pasal 25/29 Triwulan I : 20%; Triwulan II : 20%; Triwulan III : 20%; dari alokasi semen-tara; Triwulan IV : selisih alokasi defi nitif dengan yang telah disalurkan

II DBH Cukai Hasil Tembakau Triwulan I : 20%; Triwulan II & Triwulan III: 30% ; dari alokasi sementara; Triwu-lan IV : selisih alokasi defi nitif dengan yang telah disalurkan

Penyaluran DBH PBB dan Biaya Pemungutan PBB sektor pertambangan migas dan panas bumi yang dilaksanakan setiap triwulan sebesar 25% dilakukan oleh pemerintah pusat melalui pemindahbukuan dari rekening kas umum negara ke rekening kas umum daerah. Demikian juga dengan penyaluran PBB bagi rata, insentif, DBH PPh Pasal 21 dan Pasal 25/29, dan DBH CHT dilaksanakan dari Pusat melalui pemindahbukuan. Khusus untuk PBB sektor Perdesaan, Perkotaan, Perkebunan, dan Perhutanan, termasuk biaya pungut yang merupakan bagian daerah disalurkan setiap minggu di masing-masing daerah.

Penyaluran DBH CHT triwulan IV dilakukan setelah diterimanya laporan konsolidasi realisasi penggunaan DBH CHT semester I tahun anggaran berjalan. Apabila laporan yang dipersyaratkan belum disampaikan maka penyaluran triwulan IV akan ditunda sampai dengan diterimanya laporan realisasi penggunaan DBH CHT sampai dengan akhir tahun berjalan.

DBH SDA

(47)
(48)
(49)
(50)

PMK.07/2012 tentang Pengalokasian Anggaran Transfer ke Daerah perhitungan perkiraan alokasi DBH SDA dapat ditetapkan di bawah pagu yang ditetapkan dalam Undang-Undang tentang APBN. Selanjutnya Kementerian Keuangan c.q. Ditjen Perimbangan Keuangan menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Perkiraan Alokasi DBH SDA paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah diterimanya Surat Penetapan tersebut.

Jika terdapat perubahan terhadap target penerimaan SDA dalam APBN Perubahan, maka Kementerian Teknis menyampaikan kembali Surat Ketetapan tentang Perubahan Penetapan Daerah Penghasil dan Dasar Perhitungan Bagian Daerah Penghasil DBH SDA paling lambat bulan Oktober tahun anggaran bersangkutan. Berdasarkan perubahan tersebut, Ditjen Perimbangan Keuangan melakukan perubahan terhadap PMK Perkiraan Alokasi DBH SDA.

(51)

Proses penetapan perkiraan alokasi DBH SDA Migas

a. Besaran asumsi dasar prognosa lifting, kurs Rupiah terhadap Dollar, dan harga minyak Indonesia (ICP) ditetapkan dalam APBN oleh Pemerintah dan DPR;

b. Berdasarkan asumsi tersebut Menteri ESDM menetapkan daerah penghasil dan dasar perhitungan DBH SDA Migas. Ketetapan tersebut paling lambat 60 hari sebelum tahun anggaran bersangkutan setelah berkonsultasi dengan Menteri Dalam Negeri. Selanjutnya ketetapan tersebut disampaikan kepada Menteri Keuangan. Dalam hal lapangan migas tersebut berada pada wilayah yang berbatasan atau berada pada lebih dari satu daerah, Menteri Dalam Negeri menetapkan daerah penghasil berdasarkan pertimbangan menteri teknis paling lambat 60 hari setelah diterimanya usulan pertimbangan dari menteri teknis. Ketetapan Menteri Dalam Negeri tersebut menjadi dasar perhitungan lifting

per daerah penghasil SDA Migas oleh Menteri ESDM.

c. Bersamaan dengan proses tersebut, Satuan Kerja Khusus Migas (SKK Migas, dulu BP Migas) melakukan perhitungan perkiraan Cost Recovery, Gross Revenue, First Trance Petroleoum (FTP), dan Bagian Pemerintah per KKKS; d. Berdasarkan ketetapan Menteri ESDM tersebut, Direktur Jenderal Anggaran

melakukan perhitungan perkiraan faktor-faktor pengurang (Domestic Market Obligation/DMO, Fee usaha Hulu Migas, PPN, PBB sektor pertambangan Migas, PDRD). Hasil perhitungan PNBP SDA Migas per KKKS tersebut disampaikan kepada Dirjen Perimbangan Keuangan;

(52)

Mekanisme perhitungan perkiraan alokasi DBH SDA Migas

a. Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan melakukan grouping per KKKS (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) berdasarkan data Prognosa lifting dalam surat Keputusan Menteri ESDM tentang penetapan daerah penghasil Migas dan Dasar Perhitungan DBH SDA Migas yang disampaikan oleh Ditjen Migas dengan data perkiraan PNBP per KKKS yang disampaikan Ditjen Anggaran. Lifting yang tersusun perdaerah penghasil per KKKS pada data Ditjen migas dikonsolidasi dengan data lifting per KKKS (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) dari Ditjen Anggaran sehingga didapatkan data lifting per KKKS (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil;

b. data hasil grouping tersebut di persentasekan dengan total lifting per KKKS (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) sehingga didapat rasio lifting per KKKS (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) perdaerah penghasil. Rasio lifting dimaksud untuk mengetahui porsi lifting yang dihasilkan KKKS (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) pada daerah penghasil tertentu; c. rasio tersebut dikalikan dengan PNBP per KKKS (sebagaimana yang tercantum

dalam surat Dirjen Anggaran tentang Perkiraan PNBP Migas) untuk mengetahui PNBP per KKKS (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil;

d. PNBP per KKKS (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP) per daerah penghasil yang berada pada daerah penghasil yang sama dijumlahkan sehingga didapatkan PNBP per daerah penghasil; e. PNBP per daerah penghasil dihitung porsi DBH-nya untuk bagian Pemerintah,

daerah penghasil, dan daerah pemerataan berdasarkan undang-undang dan peraturan pemerintah;

f. porsi DBH dari masing-masing daerah penghasil tersebut dijumlah sehingga didapat perkiraan alokasi DBH SDA Migas per provinsi/kabupaten/kota untuk selanjutnya ditetapkan dalam peraturan Menteri Keuangan.

Data yang digunakan sebagai dasar perhitungan perkiraan Alokasi DBH SDA Migas adalah:

(53)

2. Surat Dirjen Anggaran, Kementerian Keuangan, tentang Perkiraan PNBP Migas per KKKS (per jenis minyak khusus untuk minyak bumi, kecuali PT PERTAMINA EP).

Jika terdapat perubahan terhadap asumsi makro dalam APBN dan perubahan target penerimaan SDA Migas dalam APBN Perubahan maka Kementerian ESDM menyampaikan kembali Surat Ketetapan tentang Perubahan Penetapan Daerah Penghasil dan Dasar Perhitungan Bagian Daerah Penghasil DBH SDA Migas dan Surat Dirjen Anggaran tentang data perkiraan PNBP Migas per KKKS paling lambat bulan Oktober tahun anggaran bersangkutan. Berdasarkan perubahan tersebut Kementerian Keuangan c.q. Direktorat Jenderal Perimbangan Kuangan melakukan perubahan terhadap Peraturan Menteri Keuangan tentang Perkiraan Alokasi DBH SDA Migas.

(54)
(55)

ƒ Triwulan III (September) sebesar realisasi s.d triwulan III dikurangi penyaluran triwulan I dan II

ƒ Triwulan IV (Desember) sebesar realisasi s.d triwulan IV dikurangi penyaluran s.d triwulan III

ƒ Dana Cadangan (Februari) sebesar Pagu PMK Alokasi – realisasi s.d triwulan IV

Gambar 2.2

Tahap Penyaluran DBH SDA

Penyaluran DBH SDA sesuai dengan PMK No.06/PMK.07/2012 tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Dae rah bahwa penyaluran triwulan I dan triwulan II dilakukan berdasarkan prosentase dari pagu PMK Perkiraan Alokasi DBH SDA, masing-masing pada bulan Maret dan Juni tahun berjalan. Dalam rangka penyaluran triwulan III dan triwulan IV dilakukan rekonsiliasi DBH SDA antara pemerintah pusat dengan daerah penghasil, kecuali untuk DBH SD Perikanan. Penyaluran triwulan III dilaksanakan pada bulan September sedangkan penyaluran triwulan IV dilakukan pada bulan Desember tahun anggaran berjalan.

TW I

Tw II

Tw III

Tw IV

(56)

Berdasarkan UU 33 Tahun 2004 bahwa penyaluran DBH SDA dilakukan berdasarkan realisasi penerimaan SDA-nya, maka mekanisme Dana Cadangan dilakukan untuk menampung penerimaan yang sampai dengan akhir tahun anggaran belum dibagihasilkan ke daerah. Penyaluran Dana Cadangan dilaksanakan paling lambat akhir bulan Februari tahun anggaran berikutnya sesuai dengan PMK No.256/PMK.05/2010 tentang Tata Cara Penyimpanan dan Pencairan Dana Cadangan.

Kurang/Lebih Bayar

Mengingat bahwa penyaluran DBH berdasarkan ketentuan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 didasarkan atas realisasi penerimaan yang baru akan diketahui pada tahun berikutnya, maka jumlah DBH yang telah disalurkan berdasarkan alokasi sementara dapat melampaui (lebih bayar) atau lebih rendah (kurang bayar) dari realisasi penerimaan. Hal ini dikarenakan penetapan alokasi sementara DBH dilakukan berdasarkan rencana penerimaan pada awal tahun anggaran.

Dalam prosesnya, perhitungan kurang bayar/lebih bayar DBH dilakukan melalui proses rekonsiliasi data penerimaan dengan data penyaluran DBH yang melibatkan DJP, DJPK, dan DJPb. Penyelesaian Kurang Bayar DBH dalam satu tahun anggaran dimulai dengan penganggaran alokasi kurang bayar dalam APBN/APBNP. Adapun penyelesaian atas Lebih Bayar dilakukan dengan memperhitungkan alokasi DBH atau dana transfer lainnya tiap-tiap daerah untuk tahun anggaran berikutnya.

2.2.2. DAU

DAU dialokasi kepada daerah dari pendapatan dalam negeri yang ditetapkan dalam APBN. Pengalokasian DAU adalah tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar Daerah sehingga semua daerah mampu untuk mendanai semua urusan yang menjadi tanggungjawabnya. Sebagai

(57)

undang Nomor 33 Tahun 2004, DAU ditetapkan sekurang-kurangnya 26% dari Pendapatan Dalam Negeri (PDN) neto. PDN neto merupakan pendapatan dalam negeri setelah dikurangi dengan penerimaan negara yang dibagihasilkan kepada Daerah. Proporsi DAU untuk provinsi dan kabupaten/kota ditetapkan masing-masing sebesar 10% dan 90%.

Pengalokasian DAU untuk suatu daerah didasarkan atas formula yang memperhitungkan Alokasi Dasar dan Celah Fiskal (Fiscal Gap). Alokasi Dasar dihitung berdasarkan jumlah gaji Pegawai Negeri Sipil Daerah, yang meliputi gaji pokok, tunjangan keluarga, dan tunjangan jabatan serta tunjangan yang melekat sesuai dengan peraturan penggajian Pegawai Negeri Sipil termasuk didalamnya tunjangan beras dan tunjangan Pajak Penghasilan (PPh Pasal 21). Sedangkan Celah Fiskal merupakan selisih antara Kebutuhan Fiskal dengan Kapasitas Fiskal. Kebutuhan Fiskal mencerminkan kebutuhan dana yang diperlukan oleh daerah untuk melaksanakan fungsi layanan dasar umum. Kebutuhan Fiskal diukur dengan menggunakan variabel jumlah penduduk, luas wilayah, Indeks Kemahalan Konstruksi (IKK), Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) per Kapita, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Sementara Kapasitas Fiskal mencerminkan kemampuan skal daerah dalam mendanai pelaksanaan layanan dasar umum. Kapasitas skal dalam perhitungan DAU adalah Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Dana Bagi Hasil (DBH).

(58)

antara celah skal provinsi yang bersangkutan dengan total celah skal seluruh kabupaten/kota. Bagi daerah otonom baru, DAU dialokasi setelah adanya penetapan de nitif daerah yang bersangkutan melalui undang-undang pembentukan daerah. Alokasi DAU daerah otonom baru dihitung setelah tersedianya data yang digunakan untuk menghitung alokasi dasar dan celah skal. Sebelum adanya ketersediaan data, DAU untuk daerah tersebut dihitung dengan cara membagi DAU secara proporsional dengan daerah induknya berdasarkan jumlah penduduk, luas wilayah, dan belanja pegawai.

DAU = AD + CF

Keterangan:

AD = Alokasi Dasar CF = Celah Fiskal

KpF = PAD + DBH SDA + DBH Pajak

Keterangan:

PAD = Pendapatan Asli Daerah

DBH SDA = Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam DBH Pajak = Dana Bagi Hasil Pajak

CF = KbF – KpF

Keterangan:

CF = Celah Fiskal KbF = Kebutuhan Fiskal KpF = Kapasitas Fiskal

KbF = TBR ((α1IP + (α2IW + (α3IKK + (α4IPM + (α5IPDRB/Kapita)

Keterangan:

TBR = Total Belanja Daerah Rata-rata IP = Indeks Penduduk

IW = Indeks Wilayah

(59)

Penyaluran DAU

Sampai dengan tahun 2007 penyaluran DAU dilakukan oleh Ditjen Perbendaharaan melalui KPPN setempat. Kepala daerah bertindak selaku KPA dari Bendaharawan Umum Negara (BUN) membuat DIPA dan menyampaikannya kepada Kanwil Ditjen Perbendaharaan untuk mendapatkan pengesahan. Selanjutnya, kepala daerah atau pejabat yang ditunjuk menerbitkan SPM dan menyampaikannya kepada KPPN setempat untuk penyaluran DAU setiap bulan.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Keuangan tentang Pelaksanaan dan Pertanggungjawaban Anggaran Transfer ke Daerah, mulai tahun 2008 Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan bertindak selaku KPA yang menyusun DIPA dan menyampaikannya kepada Direktur Jenderal Perbendaharaan untuk mendapatkan pengesahan.

Penyaluran DAU dilaksanakan setiap bulan masing-masing sebesar 1/12 dari besaran alokasi masing-masing daerah. Dalam rangka penyaluran tersebut, Dirjen Perimbangan Keuangan atau pejabat yang ditunjuk menerbitkan SPM setiap bulan dan menyampaikannya kepada Kuasa BUN (KPPN Jakarta II - DJPB).

2.2.3. DAK

DAK dialokasikan untuk membantu daerah dalam mendanai program/ kegiatan yang menjadi kewenangan daerah dan menjadi prioritas nasional. Tujuan DAK adalah agar Daerah dapat menyediakan infrastruktur sarana dan prasarana pelayanan publik secara memadai sesuai dengan Standar Pelayanan Minimum masing-masing bidang. DAK dialokasikan berdasarkan tiga kriteria, yakni: (1) Kriteria Umum, (2) Kriteria Khusus, dan (3) Kriteria Teknis.

(60)

dicerminkan dari penerimaan umum APBD dikurangi belanja pegawai. Dalam bentuk rumus, kriteria umum tersebut dapat ditunjukkan pada beberapa persamaan dibawah ini:

Kemampuan Keuangan Daerah = Penerimaan Umum APBD – Belanja Pegawai Daerah

Penerimaan Umum = PAD + DAU + (DBH-DBHDR) Keterangan:

Belanja Pegawai Daerah = Belanja PNSD

PAD = Pendapatan Asli Daerah

APBD = Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah

DAU = Dana Alokasi Umum

DBH = Dana Bagi Hasil

DBHDR = Dana Bagi Hasil Dana Reboisasi PNSD = Pegawai Negeri Sipil Daerah

Kemampuan keuangan daerah dihitung melalui Indeks Fiskal Neto (IFN) tertentu yang ditetapkan setiap tahun. Daerah yang mempunyai kemampuan keuangan rendah layak diberikan DAK. Berdasarkan kebijakan yang disepakati bersama, denisi daerah yang memiliki kemampuan keuangan rendah adalah daerah-daerah yang kemampuan keuangan daerahnya berada dibawah rata-rata nasional atau IFN-nya kurang dari 1 (satu).

Rata-rata Nasional Kemampuan Keuangan Daerah

Total Kemampuan Keuangan Daerah Secara Nasional

Jumlah Daerah =

= IFN Daerah t

Kemampuan Keuangan Daerah t

(61)

Undang-Undang 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah Pasal 40 Ayat 3 menjelaskan bahwa “kriteria khusus ditetapkan dengan memperhatikan peraturan perundang-undangan dan karakteristik daerah”, dan ditambahkan melalui peraturan pemerintah Nomor 55 Tahun 2005 Tentang Dana Perimbangan Pasal 56 Ayat 2. “kriteria khusus dirumuskan melalui indeks kewilayahan oleh Menteri Keuangan dengan mempertimbangkan masukan dari Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional dan Menteri/Pimpinan Lembaga terkait. Kriteria khusus yang digunakan dalam perhitungan alokasi DAK memperhatikan: Peraturan Perundang-Undangan merupakan daerah khusus; seluruh Kabupaten/Kota di Provinsi Papua, Provinsi Papua Barat, dan Daerah tertinggal/terpencil; dan karakteristik daerah yang meliputi daerah pesisir dan/atau kepulauan kecil, daerah perbatasan dengan Negara lain, daerah rawan bencana, daerah masuk dalam kategori ketahananan pangan, dan daerah pariwisata. Penyediaan data tentang kekhususan daerah tersebut Menteri Keuangan berkoordinasi dengan lembaga terkait.

Kriteria teknis adalah kriteria yang mencerminkan kondisi sarana dan prasarana masing-masing bidang. Daerah yang kondisi sarana dan prasarananya kurang baik akan diprioritaskan untuk mendapatkan DAK. Kriteria tersebut ditetapkan oleh kementerian teknis terkait. Dalam perhitungan alokasi DAK, besaran kriteria teknis dirumuskan sebagai indeks skal teknis (IFT).

(62)

bidang DAK pada tahun 2010 menjadi 14 bidang. Bidang DAK dalam tahun 2011 bertambah menjadi 5 bidang sehingga menjadi 19 bidang, adapun tambahan 5 bidang baru tersebut yaitu bidang listrik perdesaan, perumahan dan permukiman, keselamatan transportasi darat, transportasi perdesaan dan sarana dan prasarana kawasan perbatasan.

Dengan makin bertambahnya bidang DAK, maka tujuan alokasinya juga makin melebar, sehingga tidak sesuai dengan loso awal, yakni sebagai dana speci c grant yang diarahkan untuk membantu daerah dalam mempercepat penyediaan infrastruktur pelayanan publik di daerah. Untuk itu, ke depan perlu dilakukan reformulasi terhadap DAK, termasuk mengatur percepatan pengalihan dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan yang digunakan untuk mendanai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah menjadi DAK. Hal ini perlu dilakukan karena sesuai hasil audit BPK, sebagian anggaran kementerian/lembaga masih digunakan untuk mendanai urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah. Namun, anggaran tersebut tidak bisa segera dialihkan menjadi DAK karena adanya beberapa permasalahan/hambatan, antara lain apabila dialihkan menjadi DAK dikhawatirkan kementerian/ lembaga tidak lagi punya kendali operasional atas pelaksanaan kegiatan di daerah, beban daerah menjadi berat karena adanya kewajiban untuk menyediakan dana pendamping, dan adanya sebagian kegiatan non sik yang tidak bisa dilaksanakan karena DAK lebih diarahkan untuk mendanai kegiatan sik.

(63)

Penyaluran DAK

DAK disalurkan dengan cara pemindahbukuan dari Rekening Kas Umum Negara ke Rekening Kas Umum Daerah yang dilaksanakan secara bertahap, yaitu sebagai berikut:

a. Tahap I : disalurkan sebesar 30% dari pagu alokasi DAK, dilaksanakan paling cepat pada bulan februari setelah DJPK menerima Perda APBD tahun anggaran berjalan, laporan penyerapan penggunaan DAK tahun anggaran sebelumnya, laporan realisasi penyerapan DAK tahap III tahun anggaran sebelumnya, dan surat pernyataan penyediaan dana pendamping.

b. Tahap II : disalurkan sebesar 45% dari pagu alokasi DAK, dilaksanakan paling lambat 15 hari kerja setelah DJPK menerima laporan realisasi penyerapan DAK tahap I tahun anggaran berjalan yang secara kumulatif telah mencapai 90%.

c. Tahap III : disalurkan sebesar 25% dari pagu alokasi DAK, dilaksanakan paling lambat 15 hari kerja setelah DJPK menerima laporan realisasi penyerapan DAK tahap II tahun anggaran berjalan.

2.3. Dana Otonomi Khusus dan Penyesuaian

2.3.1. Dana otonomi Khusus

(64)

Pagu DAU Nasional, dengan pembagian 70% untuk Provinsi Papua dan 30% untuk Provinsi Papua Barat yang ditujukan untuk pembiayaan pendidikan dan kesehatan. Dalam rangka Otonomi Khusus pula, Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat juga mendapatkan alokasi Dana Tambahan Infrastruktur yang besarnya disesuaikan dengan kemampuan keuangan negara dan tambahan porsi DBH SDA Minyak Bumi dan DBH SDA Gas Bumi masing-masing sebesar 55% dan 40%.

Dana Otonomi Khusus Provinsi Aceh berlaku untuk jangka waktu 20 tahun sejak 2008, yang alokasinya dibedakan menjadi dua, yakni: (i) untuk tahun pertama s.d tahun ke lima belas, besarnya setara dengan 2% plafon DAU Nasional, dan (ii) untuk tahun keenam belas s.d tahun kedua puluh, besarnya setara dengan 1% plafon DAU Nasional.

2.3.2 Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Tunjangan Profesi Guru, Dana Tambahan Penghasilan Guru

Dana BOS

BOS dialokasikan kepada daerah terutama untuk stimulus dan bukan sebagai pengganti dari kewajiban Daerah untuk menyediakan anggaran pendidikan (BOSDA) dan atau Bantuan Operasional Pendidikan. BOS digunakan terutama untuk biaya non personalia bagi satuan pendidikan dasar sebagai pelaksana program wajib belajar, dan dimungkinkan untuk mendanai beberapa kegiatan lain sesuai petunjuk teknis Menteri Pendidikan Nasional.

(65)
(66)

e. Pelaporan

f. Perkembangan Alokasi BOS Melalui Transfer ke Daerah

Gra k 2.1

Perkembangan Alokasi BOS melalui Transfer ke Daerah

Dalam miliar rupiah

BOOS, 2 ALO 011,

KASI 16,812.01

BOS A S, 201

ALOKA 12, 2 ASI

23,5994.800 BBOS, ALO 2013

(67)

Tunjangan Profesi Guru PNSD

Tunjangan Profesi guru PNSD adalah tunjangan yang diberikan kepada Guru PNSD yang telah memiliki serti kat pendidik dan memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Tunjangan profesi guru disalurkan dari RKUN ke RKUD melalui mekanisme transfer ke daerah secara triwulanan, yaitu seperempat dari pagu alokasi yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan. Triwulan I, II, III, dan IV masing-masing disalurkan pada akhir, Maret, Juni, September, dan November.

Pelaksanaan penyaluran Tunjangan Profesi Guru PNSD memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

• Penyaluran triwulan I dilaksanakan secara serentak kepada seluruh kabupaten/kota penerima alokasi TPG.

• Penyaluran triwulan II dilaksanakan setelah Pemerintah Daerah menyampaikan Laporan Realisasi Pembayaran TP Guru PNSD semester II tahun anggaran sebelumnya kepada Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. Apabila Pemerintah Daerah belum menyampaikan laporan tersebut, penyaluran triwulan II akan ditunda sampai dengan disampaikannya laporan dimaksud.

• Penyaluran triwulan III dan IV dilaksanakan tanpa syarat sepanjang penyaluran triwulan II telah dilaksanakan.

• Dalam hal setelah triwulan IV terdapat TP Guru PNSD yang tidak terealisasi di kabupaten/kota penerima alokasi dan terdapat kondisi sebagai berikut:

a. seluruh Guru PNSD yang berhak mendapatkan TP Guru PNSD telah menerima pembayaran TP Guru PNSD; atau

(68)

maupun seluruhnya karena TP Guru PNSD yang disalurkan oleh Pemerintah Pusat tidak mencukupi kebutuhan pembayaran TP Guru PNSD, maka TP Guru PNSD tersebut diperhitungkan dengan alokasi TP Guru PNSD Tahun Anggaran berikutnya.

Tambahan Penghasilan Guru PNSD

Dana Tambahan Penghasilan Guru Pegawai Negeri Sipil Daerah (PNSD) adalah tambahan penghasilan yang diberikan kepada Guru PNSD yang belum mendapatkan tunjangan profesi Guru PNSD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Dana Tambahan Penghasilan Guru disalurkan dari RKUN ke RKUD melalui mekanisme transfer ke daerah secara triwulanan, yaitu seperempat dari pagu alokasi yang ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan. Triwulan I, II, III, dan IV masing-masing disalurkan pada akhir, Maret, Juni, September, dan Desember.

Pelaksanaan penyaluran Tunjangan Profesi Guru PNSD memperhatikan hal-hal sebagai berikut.

• Penyaluran triwulan I dilaksanakan secara serentak kepada seluruh kabupaten/kota penerima alokasi TPG.

• Penyaluran triwulan II dilaksanakan setelah pemerintah daerah menyampaikan Laporan Realisasi Pembayaran Tambahan Penghasilan Guru PNSD semester II tahun anggaran sebelumnya kepada Direktorat Jenderal Perimbangan Keuangan. Apabila Daerah belum menyampaikan laporan tersebut, penyaluran triwulan II akan ditunda sampai dengan disampaikannya laporan dimaksud.

(69)

a. seluruh Guru PNSD yang berhak mendapatkan Tambahan Penghasilan Guru PNSD telah menerima pembayaran Tambahan Penghasilan Guru PNSD; atau

b. Guru PNSD yang berhak mendapatkan Tambahan Penghasilan Guru PNSD namun belum menerima pembayaran Tambahan Penghasilan Guru PNSD baik sebagian maupun seluruhnya karena Tambahan Penghasilan Guru PNSD yang disalurkan oleh Pemerintah Pusat tidak mencukupi kebutuhan pembayaran Tambahan Penghasilan Guru PNSD, maka Tambahan Penghasilan Guru PNSD tersebut diperhitungkan dengan alokasi Tambahan Penghasilan Guru PNSD Tahun Anggaran berikutnya.

2.3.3. Dana Insentif Daerah dan P2D2

Dana Insentif Daerah

Gambar

Gambar 2.1Kerangka Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah
Tabel 2.1
Tabel 2.2
Tabel 2.3Pemerintah Daerah yang Belum Menetapkan Perda BPHTB
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji efektivitas otonomi daerah dalam memaksimalkan pertumbuhan ekonomi, sekaligus menguji bagaimana pengaruh pendapatan asli daerah dan dana bagi

Penerapan good governance didasarkan 9 prinsip meliputi adanya keterlibatan masyarakat dalam pembuatan keputusan, pelaksanaan kerangka hukum yang tanpa pandang bulu,

7.2 Kondisi untuk penyimpanan yang aman, termasuk ketidakcocokan Bahan atau campuran tidak cocok.. Pertimbangan untuk nasihat lain •

57 Menurut Muljono dan Wicaksono (2009:59) koreksi fiskal adalah koreksi perhitungan pajak yang diakibatkan oleh adanya perbedaan pengakuan metode, masa manfaat dalam

Ini sesuai dengan penelitian lain yang menyebutkan bahwa email dapat mengalami erosi yang disebabkan oleh bahan makanan dan minuman yang bersifat asam.8

Struktur sosial dalam hal ini meliputi tingkat pendidikan, jenis pekejaan serta usia pemil~h, sedangkan perilaku pemberian suara adalah tindakan memilih

3) Sampel telah mengisi kuesioner skala regulasi emosi yang digunakan dalam penelitian ini (skala ERQ) dan berdasarkan hasil skoring dinyatakan memiliki tingkat regulasi

Berdasarkan hasil uji coba, aplikasi ini mempermudah bagian Tata Usaha yang sebelumnya dalam melakukan proses pembayaran biaya operasonal pendidikan dilakukan