1 Airmadidi, 01 November 2012
Kepada Yth :
Ketua Pengadilan Tinggi Sulawesi Utara Di -
Manado Melalui :
Yang Terhormat :
Kepaniteraan Pengadilan Negeri Airmadidi
d/a : Kompleks Perkantoran Kabupaten Minahasa Utara Di –
Airmadidi
Perihal : Kontra Memori Banding Dengan Hormat,
Kami yang bertanda tangan dibawah ini :
1. Novry Marthinus Dotulong, ST, Warga Negara Indonesia, lahir di Warukapas, tanggal 25 November 1978, bertempat tinggal di Desa Warukapas Jaga XI Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara, Pekerjaan Swasta, dengan Jabatan Direktur CV. SONVINO,
Untuk selanjutnya mohon disebut sebagai………TERBANDING I semula PENGGUGAT I 2. Marchel Heronimus Dotulong, Warga Negara Indonesia, lahir di Tatelu, tanggal 13 Maret 1982,
bertempat tinggal di Desa Warukapas Jaga XI Kecamatan Dimembe Kabupaten Minahasa Utara, Pekerjaan Wiraswasta, dengan Jabatan Direktur CV. ARCHITECNO,
Untuk selanjutnya mohon disebut sebagai………..TERBANDING II semula PENGGUGAT II Selanjutnya, keseluruhan TERBANDING (TERBANDING I dan II semula PENGGUGAT I dan II) secara bersama - sama mohon disebut sebagai………...PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT dengan ini bermaksud menyampaikan Kontra Memori Banding terhadap Memori Banding yang diajukan oleh :
1. Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara c.q Bupati Minahasa Utara, Drs. Sompie Singal, MBA, dengan menunjuk Kuasa Hukumnya Jefferson Obed Katuuk, SH, beralamat Perum Mutiara Sagrat Blok B 37 Kel. Sagrat Weru I Kec. Matuari Kota Bitung, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 24 Agustus 2012,
Untuk selanjutnya mohon disebut sebagai………...PEMBANDING II semula TERGUGAT I 2. a. Satuan Kerja Perangkat Daerah Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Minahasa Utara c.q
Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Minahasa Utara cq Pengguna Anggaran, Ir. Patrice Tamengkel;……….semula TERGUGAT II b. Pejabat Pembuat Komitmen Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Minahasa Utara, Revindo
Plangiten, SST, S.Pd, S.Mn, ST;………semula TERGUGAT III c Panitia Pengadaan Barang / Jasa Tahun Anggaran 2011 Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten
Minahasa Utara, Markus Pangkerego, SST; Mario Moniaga, ST; Gerson Pongajow, SST, MT; Rudy Rarun, ST; Stenly Polandos, ST;………semula TERGUGAT V
2 Dengan menunjuk Kuasa Hukumnya Christiano Weenas, SH, dan Mario Legoh, SH, beralamat Hotel Gran Puri, floor 3th, Jl. Sam Ratulangi No. 458 Manado, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tertanggal 01 Agustus 2012 dan tertanggal 02 Agustus 2012;
Untuk selanjutnya mohon disebut sebagai……….PEMBANDING I semula TERGUGAT II, III, V Selanjutnya, keseluruhan PEMBANDING (PEMBANDING I dan PEMBANDING II) secara bersama - sama mohon disebut sebagai………PARA PEMBANDING semula TERGUGAT I, II, III, V Sebelumnya, kami ingin menyampaikan bahwa PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT telah menerima “ Relaas Pemberitahuan Pernyataan Banding “ yang diajukan oleh PARA PEMBANDING semula TERGUGAT I, II, III, V pada tanggal 05 September 2012, dan “ Relaas Pemberitahuan Penyerahan Memori Banding“ pada tanggal 10 Oktober 2012 yang diajukan oleh PEMBANDING II semula TERGUGAT I serta “ Relaas Pemberitahuan Penyerahan Memori Banding“ pada tanggal 19 Oktober 2012 yang diajukan oleh PEMBANDING I semula TERGUGAT II, III, V.
Adapun pernyataan banding atas Putusan Pengadilan Negeri Airmadidi tertanggal 26 Juli 2012 dalam Perkara Perdata No : 06/PDT.G/2012/PN.AMD telah diajukan melalui Kepaniteraan Pengadilan Negeri Airmadidi pada tanggal 23 Agusutus 2012 oleh PEMBANDING I semula TERGUGAT II, III, V serta pada tanggal 28 Agustus 2012 oleh PEMBANDING II semula TERGUGAT I, sedangkan TERGUGAT IV tidak menyatakan banding.
Sebelum PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT, mengajukan tanggapan atas alasan-alasan keberatan atau penolakan terhadap Putusan Hakim Tingkat Pertama yaitu mengenai pertimbangan hukum dan amar putusan Pengadilan Negeri Airmadidi No : 06/PDT.G/2012/PN.AMD, terlebih dahulu PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT mengajukan hal – hal sebagai berikut :
1. Bahwa PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT sangat keberatan dan menolak dengan tegas atas adanya upaya rekayasa terhadap amar Putusan Pengadilan Negeri Airmadidi dalam Perkara 06/PDT.G/2011/PN.AMD tanggal 26 Juli 2012. yang dilakukan PEMBANDING I semula TERGUGAT II, III, V melalui kuasa hukumnya sebagaimana termuat pada hal 2. Memori Bandingnya, dengan menyatakan sebagai berikut :
MENGADILI : DALAM KONVENSI
DALAM EKSEPSI :
- Menyatakan eksepsi dari TERGUGAT I, TERGUGAT II, TERGUGAT III dan TERGUGAT IV tidak dapat diterima;
DALAM POKOK PERKARA :
1. Mengabulkan gugatan Pengugat sebagian
2. Menyatakan TERGUGAT – TERGUGAT telah melakukan perbuatan melawan hukum;
3. Menghukum TERGUGAT – TERGUGAT secara tanggung renteng untuk membayar ganti kerugian materiil kepada PENGGUGAT I sebesar Rp. 115.980.200,- ( seratus lima belas juta sembilan ratus delapan puluh ribu dua ratus rupiah ) dan kepada PENGGUGAT II sebesar Rp. 91.688.125,- (sembilan puluh satu juta enam ratus delapan puluh delapan seratus dua puluh lima rupiah);
3 4. Menghukum TERGUGAT – TERGUGAT secara tanggung renteng untuk membayar ganti rugi imateriil kepada PENGGUGAT I sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) dan kepada PENGGUGAT II sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah);
5. Menolak gugatan PENGGUGAT – PENGGUGAT untuk selebihnya; DALAM REKONVENSI:
- Menolak gugatan PENGGUGAT Rekonvensi untuk seluruhnya; -
DALAM KONVENSI DAN REKONVENSI:
- Menghukum TERGUGAT – TERGUGAT untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 446.000,- (empat ratus empat puluh enam ribu )
Dimana seharusnya amar putusan tersebut menyatakan sebagai berikut
MENGADILI : DALAM KONVENSI
DALAM EKSEPSI :
- Menyatakan eksepsi dari TERGUGAT I, TERGUGAT II, TERGUGAT III dan TERGUGAT V tidak dapat diterima;
DALAM POKOK PERKARA :
1. Mengabulkan gugatan Pengugat untuk sebagian
2. Menyatakan TERGUGAT – TERGUGAT telah melakukan perbuatan melawan hukum;
3. Menghukum TERGUGAT – TERGUGAT secara tanggung renteng untuk membayar ganti kerugian materiil kepada PENGGUGAT I sebesar Rp. 115.980.200,- ( seratus lima belas juta sembilan ratus delapan puluh ribu dua ratus rupiah ) dan kepada PENGGUGAT II sebesar Rp. 91.688.125,- (sembilan puluh satu juta enam ratus delapan puluh delapan ribu seratus dua puluh lima rupiah);
4. Menghukum TERGUGAT – TERGUGAT secara tanggung renteng untuk membayar ganti rugi imateriil kepada PENGGUGAT I sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah) dan kepada PENGGUGAT II sebesar Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah);
5. Menolak gugatan PENGGUGAT – PENGGUGAT untuk selebihnya; DALAM REKONVENSI:
- Menolak gugatan PENGGUGAT Rekonvensi untuk seluruhnya; DALAM KONVENSI DAN REKONVENSI:
- Menghukum TERGUGAT – TERGUGAT KONVENSI / PENGGUGAT REKONVENSI untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. 446.000,- (empat ratus empat puluh enam ribu rupiah);
4 2. Bahwa PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT sangat keberatan dan menolak dengan menolak tegas Memori Banding PEMBANDING I semula TERGUGAT II, III, V yang menyatakan bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama tidak mempertimbangkan fakta – fakta yang terungkap dipersidangan secara lengkap, tidak mempertimbangkan persesuaian saksi-saksi dan bukti-bukti surat, tidak menerapkan hukum pembuktian sebagaimana mestinya, tidak menjalankan undang-undang sebagaimana mestinya, sehingga putusan aquo dinilai kurang lengkap karena tidak cukup pertimbangannya serta tidak mempertimbangkan sungguh-sungguh hal-hal yang telah dikemukakan pembanding, karena menurut PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT Majelis Hakim Tingkat Pertama sudah memberikan pertimbangan tentang fakta-fakta hukum yang terungkap dipersidangan namun karena memang tidak ada fakta-fakta hukum yang diajukan oleh PARA PEMBANDING semula TERGUGAT I, II, III, V yang dapat atau layak dipertimbangkan sehingga bagaimana mungkin Majelis Hakim Tingkat Pertama memberikan pertimbangan hukum yang cukup berkaitan dengan fakta-fakta hukum yang diajukan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT, bukankah semua bukti yang diajukan oleh oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT adalah juga diajukan oleh PARA PEMBANDING (semula TERGUGAT I, II, III, V) serta TERGUGAT IV ? ataukah Majelis Hakim Tingkat Pertama harus menuruti kemauan PARA PEMBANDING semula TERGUGAT I, II, III, V untuk mempertimbangkan Bukti – Buktinya yang telah dibantah oleh Bukti - Bukti serta “ pengakuan “ pihak TERGUGAT IV ? ataukah Majelis Hakim Tingkat Pertama harus menuruti kemauan PARA PEMBANDING semula TERGUGAT I, II, III, V untuk mempertimbangkan keterangan Saksi atas nama Bernadus Frans Kambey yang sebagaimana dibuktikan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT melalui Bukti P-47 dan P-48, Saksi tersebut telah memberikan kesaksian palsu dibawah sumpah di muka persidangan Tingkat Pertama ? Jadi Bukti dan Saksi mana yang tidak dipertimbangkan oleh Majelis Hakim Tingkat Pertama ? Terlebih lagi RASA KEADILAN, justru PARA PEMBANDING semula TERGUGAT I, II, III, V yang TIDAK BERITIKAD BAIK, dengan terus berusaha mencoba mencari celah untuk menghindari tanggung jawab serta kewajiban hukumnya terhadap PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT selaku masyarakatnya. Padahal, seharusnya sebagai otoritas yang mendapatkan amanat untuk melindungi masyarakatnya, PARA PEMBANDING semula TERGUGAT I, II, III, V harusnya berdiri paling depan untuk membela masyarakatnya, dan bukan sebaliknya menjerumuskan masyarakatnya ke dalam jurang kesusahan; 3. Bahwa PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT sangat keberatan dan menolak dengan
tegas mengenai duduk perkara yang diajukan oleh PARA PEMBANDING semula TERGUGAT I, II, III, V, karena itu semua adalah pandangan atau pendapat pribadi dari PARA PEMBANDING semula TERGUGAT I, II, III, V, untuk mendapatkan kronologi yang sebenarnya dapat dilihat pada berkas perkara dan berita acara persidangan yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Negeri Airmadidi khususnya Majelis Hakim yang menangani perkara aquo;
Bahwa dalam Memori Bandingnya masing – masing, PEMBANDING II semula TERGUGAT I serta PEMBANDING I semula TERGUGAT II, III, V telah menyampaikan dan menyatakan tidak sependapat, keberatan dan memberikan bantahannya serta alasannya terhadap Putusan Pengadilan Negeri Airmadidi No : 06/PDT.G/2012/PN.AMD terkait 10 (sepuluh) Point. Oleh karena itu selanjutnya dalam Kontra Memori Banding ini, kami akan memaparkan tanggapan kami terhadap masing - masing Point tersebut, yang dimulai dengan tanggapan Angka Romawi I s/d Angka Romawi IV atas Memori Banding dari PEMBANDING II semula TERGUGAT I yang terlebih dahulu diajukan, kemudian dilanjutkan dengan tanggapan Angka Romawi V s/d Angka Romawi X atas Memori Banding dari PEMBANDING I semula TERGUGAT II, III, V, yakni sebagai berikut :
5 I.
ADANYA PERUBAHAN GUGATAN OLEH PARA TERBANDING DIPERKENANKAN DAN
SESUAI DENGAN DOKTRIN HUKUM, YURISPRUDENSI SERTA HUKUM ACARA
PERDATA.
Dalam Memori Bandingnya pada Angka Romawi I, PEMBANDING II semula TERGUGAT I menyatakan bahwa Majelis Hakim Tingkat Pertama pada Eksepsi tidak secara saksama mengkonstantir Eksepsi Tergugat dimana Tergugat telah menyatakan bahwa Penggugat secara tidak cermat dan tidak pasti dan hal ini dibuktikan bahwa Penggugat telah beberapa kali mengadakan perubahan baik dalam Pokok Perkara maupun dalam Petitum Gugatannya, sama sekali tidak dibenarkan oleh Hukum jika dalam perubahannya, Penggugat merubah Petitum gugatannya. (Memori Banding PEMBANDING II semula TERGUGAT I hal. 1).
Selanjutnya dalam bantahannnya tersebut, PEMBANDING II semula TERGUGAT I beralasan bahwa dalam hukum acara perdata, Perubahan Gugatan dapat dibenarkan akan tetapi tidak merubah Posita maupun Petitum Gugatan dalam Putusan MA No. 1034/SIP/1971 ” Jurisprudensi mengizinkan perubahan gugatan atau tambahan asal hal itu tidak mengakibatkan perubahan Posita dan Pihak Tergugat tidak dirugikan haknya untuk membela diri, jo Putusan MA No. 943K/Pdt/1985 yang menegaskan bahwa “ sesuai yurisprudensi perubahan gugatan selama persidangan diperbolehkan asal tidak menyimpang dari Posita dan tidak menghambat perubahan disidang”.
Terhadap dalil tersebut, maka PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT berkepentingan memberikan tanggapan sebagai berikut :
1. Bahwa PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT tidak sependapat dan menolak dengan tegas alasan keberatan yang disampaikan oleh PEMBANDING II semula TERGUGAT I tersebut karena alasan tersebut terlalu dipaksakan dan mengada – ada;
2. Bahwa melalui memori bandingnya, PEMBANDING II semula TERGUGAT I sendiri secara implisit telah mengakui bahwa ketentuan dan yusiprudensi secara jelas telah menegaskan dan memperbolehkan adanya perubahan / perbaikan gugatan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT;
3. Bahwa dalam tahapan pembuktian pada persidangan perkara aquo, PARA PEMBANDING semula TERGUGAT I, II, III, V tidak pernah dapat membuktikan bahwa PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT telah melakukan perubahan “ petitum gugatan “nya; sehingga adalah fitnah serta memutarbalikan fakta apabila dinyatakan bahwa perubahan gugatan yang dilakukan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT telah merubah petitum gugatan, karena pada kenyataannya perubahan gugatan yang dilakukan tidak pernah sekalipun merubah petitum gugatan; 4. Bahwa berdasarkan fakta persidangan, perubahan gugatan yang dilakukan PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT dilakukan sebelum adanya pembacaan gugatan di muka persidangan, sebelum adanya jawaban dan tangkisan dari pihak TERGUGAT, dilakukan melalui persetujuan hakim serta tanpa adanya sekalipun keberatan dari Pihak TERGUGAT di muka persidangan, serta adanya perubahan gugatan tersebut tidak pernah sekalipun disertai dengan adanya perubahan “petitum gugatan “;
5. Bahwa fakta hukumnya, pada tanggal 26 Maret 2012 saat pertama kalinya dimulainya persidangan setelah pada minggu – minggu sebelumnya mediasi gagal ditempuh oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT dengan PARA PEMBANDING semula TERGUGAT I, II, III, V serta TERGUGAT IV ketika akan dimulainya persidangan untuk pembacaan gugatan, maka PARA
6 TERBANDING semula PARA PENGGUGAT bermohon kepada majelis hakim untuk melakukan perubahan gugatan dan kemudian berdasarkan persetujuan dari Ketua Majelis Hakim maka pada saat itu juga segera dilakukan perubahan gugatan dan langsung dilaksanakan pembacaan gugatan di muka persidangan, dimana saat itu Tim Kuasa Hukum dari PARA PEMBANDING semula TERGUGAT I, II, III, V tidak pernah membantah dan menyatakan keberatan kepada Majelis Hakim Tingkat Pertama atas adanya perubahan/perbaikan gugatan;
6. Bahwa perubahan gugatan yang dilakukan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT, tidak pernah merugikan hak – hak PARA PEMBANDING semula TERGUGAT I, II, III, V maupun TERGUGAT IV dikarenakan adanya perubahan gugatan dilakukan pada tanggal 26 Maret 2012 sebelum pembacaan gugatan dan tanpa ada permintaan penundaan waktu persidangan untuk melakukan perubahan gugatan;
7. Bahwa selanjutnya TERGUGAT IV nanti mengajukan jawabannya tertanggal 09 April 2012. (Putusan Hal. 98 baris ke-10 s/d baris ke-11), dan selanjutnya PARA PEMBANDING semula TERGUGAT I, II, III, V melalui Kuasa/Penasihat Hukumnya nanti mengajukan jawaban tertanggal 23 April 2012 (Putusan Hal. 86 alinea kedua);
8. Bahwa diperkenankannya perubahan gugatan juga telah diakui dalam praktek pengadilan yang menjadi yurisprudensi, antara lain :
• Putusan MA-RI No.546.K/Sip/1970, tanggal 14 Oktober 1970, yang menyatakan bahwa: “ Perubahan gugatan itu tidak diterima apabila perubahan itu dilakukan pada taraf pemeriksaan perkara sudah hampir selesai, pada saat dalil-dalil, tangkisan-tangkisan, pembelaan-pembelaan, sudah habis dikemukakan dan kedua pihak sebelumnya telah mohon putusan; • Putusan MA-RI No.1425.K/Pdt/1985, tanggal 24 Juni 1991, yang menyatakan bahwa : “
Perubahan surat / gugatan perdata dapat diterima/dibenarkan bila perubahan itu dilakukan sebelum Hakim membacakan surat Gugatan di dalam persidangan dan kepada Tergugat masih diperintahkan untuk menjawab surat gugatan tersebut;
• Putusan MA RI Nomor 943 K/Sip /1987 tanggal 19 September 1985 yang menyatakan bahwa “ Perubahan gugatan dibolehkan selama proses persidangan sebab perubahan gugatan adalah hak dari pada Penggugat dan Tergugat ;
9. Bahwa menurut M. Yahya Harapan dalam Bukunya “Hukum Acara Perdata”, menyatakan bahwa “ dibenarkan atau tidaknya perubahan gugatan adalah sepenuhnya wewenang Majelis Hakim ”; 10. Bahwa sesuai Hukum Acara Perdata, pengaturan tentang perubahan gugatan memang tidak diatur dalam Herziene Indonesich Reglement (HIR) maupun Rechtsreglement Buitengewesten (RBg), namun perubahan gugatan tersebut telah diatur dalam Pasal 127 Reglement op de Rechtsvordering (Rv);
11. Bahwa berdasarkan fakta – fakta hukum diatas, maka PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT sependapat dengan Pertimbangan Majelis Hakim Tingkat Pertama PN. Airmadidi yang menyatakan bahwa menurut Hukum Acara Perdata (Pasal 127 Rv) perubahan gugatan diperkenankan sepanjang tidak mengubah pokok tuntutan dan pemeriksaan perkara belum pada tahap jawaban oleh TERGUGAT (Putusan Hal. 109 Alinea ke-2);
7 12. Bahwa oleh karenanya maka alasan keberatan dan penolakan yang diajukan oleh PEMBANDING II semula TERGUGAT I, sepatutnya dan sewajarnya apabila ditolak atau setidak tidaknya dinyatakan tidak diterima oleh Majelis Hakim Tingkat Banding yang memeriksa perkara aquo;
II.
SANGGAHAN BANDING ADALAH SEBUAH RANGKAIAN, MEKANISME SERTA
TAHAPAN YANG TIDAK TERPISAHKAN DALAM PROSES PELELANGAN, DAN
PEMBANDING II SELAKU BUPATI KEPALA DAERAH MEMILIKI KEWAJIBAN DAN
TANGGUNG JAWAB HUKUM UNTUK MENJAWAB SANGGAHAN BANDING DARI PARA
TERBANDING
Dalam Memori Bandingnya pada Angka Romawi II, PEMBANDING II semula TERGUGAT I tidak sependapat dan keberatan dengan Pertimbangan Hukum Putusan Majelis Hakim Tingkat Pertama yang dimuat pada halaman 108 alinea pertama. (Memori Banding PEMBANDING II semula TERGUGAT I hal. 2). Selanjutnya PEMBANDING II semula TERGUGAT I berpendapat sebagai berikut :
- Bahwa Sanggahan Banding bukanlah tolok ukur dalam proses tender atau lelang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah akan tetapi Proses Tender/lelang adalah suatu rangkaian atau mekanisme yang menjadi tuntunan dalam pengadaan barang/jasa sehingga bila dikaitkan dengan pertimbangan hukum Majelis Hakim yang menyatakan bahwa Pembanding II sebagai pihak yang bertanggung jawab adalah keliru dan tidak sesuai dengan aturan yang ada sebab mekanisme pelelangan telah diserahkan kepada Instansi terkait dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum Pemkab. Minut dan yang lebih jauh lagi adalah Pihak Panitia (Tergugat IV) yang secara teknis melaksanakan proses pelelangan tersebut.
- Bahwa saran banding yang diberikan oleh Terbanding kepada Pembanding II seharusnya dijawab oleh Pembanding II akan tetapi saran banding tersebut dijawab oleh Tergugat IV yang notabenenya telah melakukan hal-hal yang melanggar etika pengadaan yang diatur dalam Pasal 6 Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.
- Bahwa Pembanding II sekalipun Jabatan Bupati melekat dalam diri pribadi akan tetapi secara struktural jabatan kedinasan dalam pemerintahan tidak dapat secara langsung ditangani oleh Pembanding II tetapi secara langsung Instansi terkait dan Pihak Panitia sehingga apabila Majelis Hakim Tingkat Pertama dalam memeriksa dan mengadili Perkara aquo jeli atas Eksepsi Pembanding II sangatlah Relevan apabila diterima karena dalam perbuatan melawan hukum tidaklah secara sporadis menyamaratakan semua perbuatan melawan hukum adalah perbuatan melawan hukum.
Terhadap dalil tersebut, maka PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT akan menanggapinya sebagai berikut :
1. Bahwa PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT tidak sependapat dan menolak dengan tegas alasan – alasan PEMBANDING II semula TERGUGAT I tersebut itu semua hanyalah pandangan pribadi dari PEMBANDING II semula TERGUGAT I, tidak mendasar serta bertolak belakang dengan fakta fakta hukum yang ada;
2. Bahwa PEMBANDING II semula TERGUGAT I berpendapat bahwa Sanggahan Banding bukanlah tolok ukur dalam proses tender atau lelang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Akan tetapi ironisnya pada alasan bantahan tersebut tidak pernah disebutkan
8 ketentuan Pasal berapa ataupun ketentuan yang mana pada Perpres No. 54 Tahun 2010, yang mendukung bantahan dan alasan dari PEMBANDING II semula TERGUGAT I tersebut;
3. Bahwa berdasarkan ketentuan Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Sanggahan Banding merupakan bagian dari suatu rangkaian / mekanisme serta tahapan yang tidak bisa dipisahkan dengan tahapan lainnya pada setiap Pelaksanaan Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah. Hal tersebut sebagaimana tergambar pada Bagian Kelima tentang Penyusunan Jadwal Pemilihan Penyedia Barang/Jasa, Paragraf Pertama tentang Tahapan Pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya, pada Pasal 57 Ayat (1) Huruf a, b, dan c serta Ayat (2); Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah;
4. Bahwa selain itu juga sebagaimana ketentuan Pasal 59 Ayat (1) dan (2) Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah, telah secara jelas menyatakan yang mana sanggahan banding merupakan salah satu tahapan serta mekanisme hukum yang tidak bisa diabaikan karena telah menjadi sebuah tuntunan dan keharusan untuk dijadwalkan pada setiap pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Adapun ketentuan tersebut menyatakan sebagai berikut :
Pasal 59
Ayat (1) : ” ULP/Pejabat Pengadaan menyusun dan menetapkan jadwal pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa ”;
Ayat (2) : ” Penyusunan jadwal pelaksanaan Pengadaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), harus memberikan alokasi waktu yang cukup untuk semua tahapan proses Pengadaan, termasuk waktu untuk :
a. pengumuman Pelelangan/Seleksi;
b. pendaftaran dan pengambilan Dokumen Kualifikasi atau Dokumen Pengadaan; c. pemberian penjelasan;
d. pemasukan Dokumen Penawaran; e. evaluasi penawaran;
f. penetapan pemenang; dan
g. sanggahan dan sanggahan banding;
5. Bahwa memang yang melaksanakan Pengadaan Barang/Jasa tersebut adalah Instansi terkait dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum Kab. Minahasa Utara melalui Pihak Panitia Pengadaan (TERGUGAT IV), akan tetapi adanya pengajuan Sanggahan Banding kepada PEMBANDING II semula TERGUGAT I merupakan sebuah hak yang diberikan oleh Perpres No. 54 Tahun 2010 kepada PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT selaku Penyedia Barang/Jasa yang mengikuti pelelangan umum tersebut, apabila merasa tidak puas dengan Jawaban Sanggahan dari TERGUGAT IV selaku Panitia Pengadaan. Hal tersebut sebagaimana .tercantum pada Pasal 82 Ayat (1) Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah, yang menyatakan sebagai berikut : ” Penyedia Barang/Jasa yang tidak puas dengan jawaban sanggahan dari ULP dapat mengajukan sanggahan banding kepada Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala Daerah/Pimpinan Institusi paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah diterimanya jawaban sanggahan.”;
6. Bahwa berdasarkan ketentuan perundangan-undangan, untuk Pengadaan Barang/Jasa yang menggunakan anggaran yang tercantum dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dari Kementerian dengan bersumber dari dana APBN maka sanggahan banding harus ditujukan kepada Menteri yang terkait, begitu juga untuk Pengadaan Barang/Jasa yang menggunakan anggaran yang tercantum dalam Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) dari Lembaga Negara yang bersumber
9 dari dana APBN maka sanggahan banding harus ditujukan kepada Kepala Lembaga Negara yang terkait. hal itu dikarenakan Menteri dan Kepala Lembaga adalah pejabat yang bertanggung jawab atas pengelolaan keuangan kementerian Negara/lembaga yang bersangkutan sebagaimana ketentuan Pasal 1 Angka 19 UU. No 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara.
7. Bahwa oleh karena Pengadaan barang/jasa untuk Paket – Paket Pekerjaan Konstruksi di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Minahasa Utara yang dilelangkan oleh TERGUGAT IV tersebut bersumber dari dana Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Minahasa Utara T.A. 2011, maka berdasarkan Perpres No. 54 Tahun 2010 sanggahan banding harus ditujukan kepada PEMBANDING II semula TERGUGAT I selaku Bupati Minahasa Utara sebagai kepala pemerintahan daerah di kabupaten Minahasa Utara yang telah diserahkan kekuasaan oleh Presiden selaku kepala pemerintahan yang memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan, untuk mengelola keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan berdasarkan ketentuan Pasal 6 Ayat (1) dan (2) huruf c UU No. 17 Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara, dan PEMBANDING II semula TERGUGAT I selaku Kepala Daerah mempunyai kewajiban hukum untuk melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan daerah berdasarkan ketentuan Pasal 27 Ayat (1) Huruf i UU. No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah;
8. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 82 Ayat (4) Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah, yang menyatakan sebagai berikut: ” Sanggahan Banding menghentikan proses Pelelangan/Seleksi ”; maka atas pengajuan sanggahan banding dari PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT, maka proses Pelelangan umum untuk 3 (tiga) Paket Pekerjaan Konstruksi di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Minahasa Utara tersebut dengan sumber dana APBD Kabupaten Minahasa Utara T.A. 2011 yang dilaksanakan oleh TERGUGAT IV tersebut harus di hentikan;
9. Bahwa dengan diberhentikannya proses pelelangan tersebut, maka selanjutnya PEMBANDING II semula TERGUGAT I mempunyai kewajiban dan tanggung jawab hukum untuk menjawab Sanggahan Banding yang diajukan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT paling lambat 15 (lima belas) hari setelah surat sanggahan banding diterima. Hal tersebut sebagaimana ketentuan Pasal 82 Ayat (6) serta Lampiran III Bagian B Point 1 Huruf m Angka 2) Perpres No. 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah, yang menyatakan sebagai berikut :
Pasal 82 Ayat (6) :
“ Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala Daerah/Pimpinan Institusi memberikan jawaban atas semua sanggahan banding kepada penyanggah banding paling lambat 15 (lima belas) hari kerja setelah surat sanggahan banding diterima “;
Lampiran III Bagian B Point Huruf m Angka 2) :
“ Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala Daerah/Pimpinan Institusi wajib memberikan jawaban secara tertulis atas semua sanggahan banding paling lambat 15 (lima belas) hari kerja setelah surat sanggahan banding diterima.”;
9. Bahwa terkait dengan sanggahan banding yang diajukan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT, maka PEMBANDING II semula TERGUGAT I dengan mengacu pada ketentuan dapat menjawab dengan menyatakan benar dan/atau menyatakan salah atas sanggahan banding tersebut. Hal itu sebagaimana ketentuan Pasal 82 Ayat (7) dan (8) Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, yang menyatakan sebagai berikut :
10 Ayat (7) : ”Dalam hal sanggahan banding dinyatakan benar, Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala Daerah/Pimpinan Institusi memerintahkan ULP/Pejabat Pengadaan melakukan evaluasi ulang atau Pengadaan Barang/Jasa ulang;
Ayat (8) : ”Dalam hal sanggahan banding dinyatakan salah, Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala Daerah/Pimpinan Institusi memerintahkan agar ULP melanjutkan proses Pengadaan Barang/Jasa ulang ”;
10. Bahwa berdasarkan ketentuan tersebut diatas, apabila sanggahan banding diterima maka harus dilakukannya evaluasi ulang dan/atau di lakukannya pengadaan barang/jasa ulang sehingga hal tersebut bisa berimbas pada terjadinya perubahan/pergantian hasil (pemenang) pelelangan;
11. Bahwa oleh karena itu, merupakan sebuah kekeliruan dan tidak mendasar apabila PEMBANDING II semula TERGUGAT I menyatakan yang mana sanggahan banding bukanlah tolok ukur dalam proses tender atau lelang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;
12. Bahwa sebagaimana ketentuan Pasal 25 Huruf g UU. No 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, PEMBANDING II semula TERGUGAT I selaku Kepala Daerah mempunyai tugas dan wewenang untuk melaksanakan tugas dan wewenang lain sesuai dengan peraturan perundang – undangan, dan selanjutnya sebagaimana ketentuan pada Pasal 27 Ayat (1) Huruf i UU. No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya selaku Kepala Daerah, PEMBANDING II semula TERGUGAT I mempunyai kewajiban untuk melaksanakan dan mempertanggungjawabkan pengelolaan keuangan daerah.
13. Bahwa sebagaimana juga ketentuan Pasal 28 I Ayat (4) dan Ayat (5) UUD 1945, serta Pasal 8, Pasal 69 Ayat (2), Pasal 71, dan Pasal 72 UU. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, maka PEMBANDING II semula TERGUGAT I sebagai Kepala pemerintahan di Kabupaten Minahasa Utara yang di sebut Bupati Minahasa Utara menurut Pasal 24 Ayat (1) dan (2) UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah mempunyai kewajiban dan tanggung jawab hukum untuk menghormati dan melindungi menegakkan Hak Konstitusi dan Hak asasi Manusia termasuk juga Hak – hak dari PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT;
14. Bahwa PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT mempunyai Hak – hak konstitusi dan Hak – hak asasi yang dijamin oleh UUD 1945 dan UU. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, antara lain hak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak, hak atas jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum, hak untuk memperoleh kesempatan yang sama dalam pemerintahan, hak untuk bebas atas perlakuan yang bersifat diskriminatif, serta hak – hak yang lain sebagainya, seperti yang diamanatkan oleh ketentuan Pasal 27 Ayat (2), Pasal 28D Ayat (1) dan Ayat (3), Pasal 28F, Pasal 28G Ayat (1), Pasal 28I Ayat (2), Pasal 28J Ayat (1) UUD 1945; serta Pasal 3 Ayat (2) dan (3), Pasal 9 Ayat (1) dan (2), Pasal 14 Ayat (1) dan (2), Pasal 23 Ayat (1), Pasal 29 Ayat (1), Pasal 35, Pasal 38 Ayat (1) UU No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia;
15. Bahwa dalam menjalankan dan kewajiban hukumnya untuk menjawab sanggahan banding yang diajukan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT sebagaimana amanat Pasal 82 Ayat (6) serta Lampiran III Bagian B Point 1 Huruf m Angka 2) Perpres No. 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah, maka sesuai ketentuan PEMBANDING II semula TERGUGAT I bisa saja mendelegasikan kewenangan hukumnya kepada pejabat Eselon II di lingkungan Pemkab Minahasa Utara;
11 16. Bahwa hal tersebut pernah dilakukan oleh PEMBANDING II semula TERGUGAT I ketika mendelegasikan kewenangan hukumnya kepada Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa Utara, Drs Johanes Rumambi untuk menjawab sanggahan banding yang diajukan oleh Direktur CV. SMART EDUKATAMA melalui Surat Jawaban Sangggahan Banding Nomor : 283 /SEKRE/VI/2011 tertanggal 16 Juni 2011 terkait pengumuman pemenang pelelangan untuk 2 (dua) paket pekerjaan di Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Minahasa Utara, dimana isi surat tersebut pada pokoknya Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa Utara atas nama PEMBANDING II semula TERGUGAT I memutuskan untuk menerima sanggahan banding tersebut dan memerintahkan kepada Panitia Barang/jasa dari Instansi yang bersangkutan untuk mengadakan evaluasi ulang (Posita butir 40 Putusan hal. 19; Bukti P- 20);
17. Bahwa fakta hukumnya, Sanggahan banding dari PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT tidak pernah dijawab oleh PEMBANDING II semula TERGUGAT I maupun pejabat di lingkungan Pemkab Minahasa Utara yang menerima pendelegasian kewenangan dari PEMBANDING II semula TERGUGAT I untuk menjawab sanggahan banding tersebut;
18. Bahwa dengan tidak dijawabnya sanggahan banding yang diajukan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT, maka telah terbukti secara hukum PEMBANDING II semula TERGUGAT I telah melanggar kewajiban hukumnya menurut ketentuan Pasal 82 Ayat (6) serta Lampiran III Bagian B Point 1 Huruf m Angka 2) Perpres No. 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah;
19. Bahwa selain itu, dengan tidak dijawabnya sanggahan banding dari sanggahan banding yang diajukan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT, tapi di pihak lain sanggahan banding dari penyedia jasa lain bisa dijawab oleh PEMBANDING II semula TERGUGAT I melalui Sekretaris Daerah Kabupaten Minahasa Utara maka hal itu jelas merupakan suatu perlakuan yang bersifat diskriminatif dan perlakuan yang tidak sama dihadapan hukum, yang melanggar hak – hak konstitusi dan hak asasi PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT sebagaimana diatur melalui UUD 1945 dan UU. No 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;
20. Bahwa selain itu juga, PEMBANDING II semula TERGUGAT I sebagai Kepala pemerintahan di Kabupaten Minahasa Utara telah lalai dalam menjalankan kewajiban dan tanggung jawab hukum untuk menghormati dan melindungi menegakkan Hak Konstitusi dan Hak asasi Manusia termasuk juga Hak – hak dari PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT, sebagaimana ketentuan Pasal 28 I Ayat (4) dan Ayat (5) UUD 1945, serta Pasal 8, Pasal 69 Ayat (2), Pasal 71, dan Pasal 72 UU. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;
21. Bahwa dikarenakan sumber dana dari paket – paket pekerjaan Konstruksi di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Minahasa Utara yang dilelangan oleh TERGUGAT IV tersebut adalah sumber dana yang berasal dari APBD Kabupaten Minahasa Utara, maka PEMBANDING II semula TERGUGAT I selaku Kepala Daerah yang mempunyai kewajiban untuk melaksanakan dan mempertanggung jawabkan pengelolaan keuangan daerah sebagaimana ketentuan Pasal 27 Ayat (1) Huruf i UU. No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah, sudah sepatutnya dan selayaknya harus pula bertanggung jawab atas pengelolaan dana APBD tersebut;
22. Bahwa alasan PEMBANDING II semula TERGUGAT I yang menyatakan saran banding yang diberikan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT seharusnya dijawab oleh PEMBANDING II semula TERGUGAT I akan tetapi saran banding tersebut dijawab oleh TERGUGAT IV yang notabenenya telah melakukan hal-hal yang melanggar etika pengadaan yang
12 diatur dalam Pasal 6 Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, adalah alasan yang mengada – ada dan tidak sesuai dengan fakta – fakta hukum yang ada, karena PEMBANDING II semula TERGUGAT I lah sebaliknya yang terbukti secara hukum telah melanggar Prinsip Prinsip Pengadaan dan Etika Pengadaan sebagaimana tercantum pada Pasal 5 dan Pasal 6 Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah;
23. Bahwa ketentuan Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, tidak pernah mengatur tentang adanya istilah “ SARAN BANDING “ seperti yang dinyatakan oleh PEMBANDING II semula TERGUGAT I pada bantahannya tersebut;
24. Bahwa kalaupun yang dimaksudkan oleh PEMBANDING II bahwa SARAN BANDING tersebut adalah SANGGAHAN BANDING maka hal tersebut telah membuktikan bahwa PEMBANDING II semula TERGUGAT I telah melakukan rekayasa terhadap fakta – fakta hukum pada persidangan di PN. Airmadidi, dikarenakan berdasarkan fakta – fakta persidangan di Pengadilan Tingkat Pertama, tidak pernah terdapat sama sekali adanya pengakuan ataupun bukti yang diajukan oleh para pihak yang menunjukan bahwa sanggahan banding dari PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT telah dijawab oleh TERGUGAT IV;
25. Bahwa yang dijawab oleh TERGUGAT IV adalah sanggahan yang diajukan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT, dan bukan sanggahan banding. hal itu berdasarkan ketentuan Pasal 81 Ayat (3) Perpres No. 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah, yang menyatakan sebagai berikut : “ ULP wajib memberikan jawaban tertulis atas semua sanggahan paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah surat sanggahan diterima.” (Bukti P-13, P-14, P- 29, dan P-30);
26. Bahwa oleh karena itu, alasan dari PEMBANDING II semula TERGUGAT I yang pada intinya menyatakan Sanggahan Banding dari PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT telah dijawab oleh TERGUGAT IV maka hal tersebut telah membuktikan bahwa PEMBANDING II semula TERGUGAT I telah melakukan sebuah rekayasa terhadap fakta – fakta hukum pada persidangan Tingkat Pertama;
27. Bahwa selain itu, dengan PEMBANDING II semula TERGUGAT I mendalilkan yang mana TERGUGAT IV telah melakukan hal-hal yang melanggar etika pengadaan yang diatur dalam Pasal 6 Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, maka hal itu secara jelas – jelas telah membuktikan secara hukum bahwa PEMBANDING II semula TERGUGAT I selaku Kepala Daerah selain harus bertanggung jawab atas perbuatan melawan hukum yang dilakukannya sendiri, juga mempunyai tanggung gugat (aanprakelijkheid) terhadap kerugian yang disebabkan oleh perbuatan melawan hukum TERGUGAT IV selaku bawahannya menurut ketentuan Pasal 1365 dan Pasal 1367 KUHPerdata;
28. Bahwa alasan PEMBANDING II semula TERGUGAT I yang menyatakan sekalipun Jabatan Bupati melekat dalam diri pribadi akan tetapi secara struktural jabatan kedinasan dalam pemerintahan tidak dapat secara langsung ditangani oleh Pembanding II tetapi secara langsung Instansi terkait dan Pihak Panitia sehingga apabila Majelis Hakim Tingkat Pertama dalam memeriksa dan mengadili Perkara aquo jeli atas Eksepsi Pembanding II sangatlah Relevan apabila diterima karena dalam perbuatan melawan hukum tidaklah secara sporadis menyamaratakan semua perbuatan melawan hukum adalah perbuatan melawan hukum, adalah merupakan bukti ketidakpahaman PEMBANDING II semula TERGUGAT I bersama kuasa hukumnya atas definisi perbuatan melawan hukum menurut Pasal 1365 dan 1367 KUHPerdata;
13 29. Bahwa sebagaimana termuat pada Posita Gugatan Butir 121, menyatakan sebagai berikut : “ Bahwa atas penjelasan dari fakta – fakta hukum diatas, sifat melawan hukum dari perbuatan PARA TERGUGAT serta kerugian yang timbul karena perbuatannya masuk pada kualifikasi Perbuatan Melawan Hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 1365 jo. Kitab Undang – undang Hukum Perdata “ (Putusan Hal 51. Baris ke-9 dari bawah);
30. Bahwa ketentuan Pasal 1365 jo. 1367 KUHPerdata, menyatakan antara lain sebagai berikut : Pasal 1365 KUHPerdata :
“Tiap perbuatan yang melanggar hukum dan membawa kerugian kepada orang lain, mewajibkan orang yang menimbulkan kerugian itu karena kesalahannya untuk mengganti kerugian tersebut.”
Pasal 1367 KUHPerdata :
“ Seseorang tidak hanya bertanggungjawab atas kerugian yang disebabkan perbuatannya sendiri, melainkan juga atas kerugian yang disebabkan perbuatan orang-orang yang menjadi tanggungannya, atau disebabkan barang barang yang berada di bawah pengawasannya.” “ Majikan dan orang yang mengangkat orang lain untuk mewakili urusan urusan mereka, bertanggung jawab atas kerugian yang disebabkan oleh pelayan atau bawahan mereka dalam melakukan pekerjaan yang ditugaskan kepada orang orang itu ”;
31. Bahwa selanjutnya, sebagaimana termuat pada Posita Butir 122 s/d 123 (Putusan Hal. 51 s/d 52), menyatakan sebagai berikut :
“ 122. Bahwa yang dimaksud dengan Perbuatan Melawan Hukum menurut M.A Moegini Djodjodirjo di dalam bukunya yang berjudul “ Perbuatan Melawan Hukum “ pada halaman 35 yaitu “ bahwa suatu perbuatan dapat dianggap sebagai perbuatan melawan hukum, kalau : bertentangan dengan hak orang lain atau bertentangan dengan kewajiban hukumnya sendiri atau bertentangan dengan kesusilaan baik atau bertentangan dengan keharusan yang harus diindahkan dalam pergaulan masyarakat mengenai orang lain atau benda;
“ 123. Bahwa dalam buku yang sama M.A. Moegini Djodjodirdjo memaparkan yang dimaksud bertentangan dengan hak orang lain adalah bertentangan dengan kewenangan yang berasal dari suatu kaidah hukum, dimana yang diakui dalam yurisprudensi, diakui adalah hak-hak pribadi seperti hak atas kebebasan, hak atas kehormatan dan hak atas kekayaan. Bertentangan dengan kewajiban sipelaku adalah berbuat atau melalaikan dengan peraturan perundang- undangan. Sedangkan yang dimakud melanggar kesusilaan baik adalah perbuatan atau melalaikan sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma kesusilaan, sepanjang norma tersebut oleh pergaulan hidup diterima sebagai peraturan – peraturan hukum yang tidak tertulis. Bertentangan dengan peraturan yang diindahkan adalah bertentangan dengan sesuatu, yang menurut hukum tidak tertulis harus diindahkan dalam lalu lintas masyarakat;
32. Bahwa sebagaimana termuat pada posita butir 124 s/d 125 gugatan perkara aquo, menyatakan sebagai berikut :
“ 124. Bahwa perbuatan TERGUGAT I yang lalai dalam menjawab secara tertulis sanggahan banding yang diajukan oleh PARA PENGGUGAT, telah bertentangan dengan kewajiban hukum dari TERGUGAT I. Hal itu didasarkan atas ketentuan dalam Pasal 82 Ayat (6) serta Lampiran III Bagian B Point 1 Huruf m Angka 2) Peraturan
14 Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah, yang menentukan :
Pasal 82 Ayat (6) :
” Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala Daerah/Pimpinan Institusi memberikan jawaban atas semua sanggahan banding kepada penyanggah banding paling lambat 15 (lima belas) hari kerja setelah surat sanggahan banding diterima ”;
Lampiran III Bagian B Point Huruf m Angka 2) :
“ Menteri/Pimpinan Lembaga/Kepala Daerah/Pimpinan Institusi wajib memberikan jawaban secara tertulis atas semua sanggahan banding paling lambat 15 (lima belas) hari kerja setelah surat sanggahan banding diterima”;
“ 125. Bahwa perbuatan TERGUGAT I yang memberikan perlakuan diskriminatif dalam hal menjawab secara tertulis sanggahan banding dari penyedia jasa lain yaitu CV. SMART EDUKATAMA serta tidak menjawab sanggahan banding dari perusahaan PARA PENGUGAT adalah hal yang tidak dapat dibenarkan karena tindakan tersebut telah bertentangan dengan kewajiban hukum dari TERGUGAT I;
33. Bahwa menurut Prof. Rosa Agustina dalam bukunya yang berjudul “ Perbuatan melawan hukum “ hal 119, menerangkan bahwa : “ dalam hal Pelaku dapat dipersalahkan maka akan timbul tuntutan pada dua orang yakni terhadap si pelaku berdasarkan Pasal 1365 KUPerdata dan terhadap orang yang melakukan pengawasan atas si pelaku berdasarkan Pasal 1367 KUHPerdata”;
34. Bahwa dalam buku yang sama, Prof. Rosa Agustina memberikan contoh kasus Lim Chian Soen vs N.V Bintang dan Soegono Atmodirejo ( Putusan MARI No : 558 K/Sip/1971 tanggal 4 Juni 1973); 35. Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1365 KUHPerdata, maka PEMBANDING II semula
TERGUGAT I harus bertanggung jawab atas perbuatan melawan hukum yang disebabkan oleh kelalaiannya dalam menjalankan kewajibannya hukumnya berdasarkan ketentuan Pasal 82 Ayat (6) serta Lampiran III Bagian B Point 1 Huruf m Angka 2) Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah sehingga menimbulkan kerugian bagi PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT;
36. Bahwa selain itu, berdasarkan ketentuan Pasal 1367 KUHPerdata, PEMBANDING II semula TERGUGAT I mempunyai tanggung gugat (aanprakelijkheid) atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh bawahan bawahannya yaitu TERGUGAT II, TERGUGAT III, TERGUGAT IV dan TERGUGAT V, sehingga menimbulkan kerugian bagi PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT;
37. Bahwa berdasarkan fakta – fakta hukum diatas, maka PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT sependapat dengan Pertimbangan Majelis Hakim Tingkat Pertama PN. Airmadidi yang menyatakan bahwa : “ Setelah Majelis Hakim mencermati ternyata PENGGUGAT menggugat kepada Bupati adalah karena adanya Sanggahan Banding yang ditujukan kepada Bupati, dan karena permasalahan proyek yang ditenderkan dengan menggunakan anggaran pendapatan dan belanja daerah yang dalam hal ini Bupati sebagai pihak yang bertanggung jawab dalam pemanfaatannya dan mengenai hubungan hukum dengan PENGGUGAT ternyata pula telah diuraikan PENGGUGAT dalam dalil gugatannya PENGGUGAT dalam Poin 124 dan 125 oleh karena itu penentuan TERGUGAT I untuk digugat oleh PENGGUGAT telah cukup alasan sehingga
15 dengan demikian eksepsi dengan alasan ini haruslah dinyatakan tidak dapat diterima”. (dalam halaman 108 alinea pertama).
38. Bahwa oleh karenanya maka alasan keberatan dan penolakan PEMBANDING II semula TERGUGAT I tersebut, sudah sepatutnya dan sewajarnya apabila ditolak atau setidak tidaknya dinyatakan tidak dapat diterima oleh Majelis Hakim Tingkat Banding yang memeriksa perkara aquo;
III.
HUBUNGAN HUKUM PARA TERBANDING DENGAN PEMBANDING II SANGAT JELAS;
PEMBANDING II HARUS BERTANGGUNG JAWAB ATAS KERUGIAN PARA
TERBANDING BERDASARKAN KETENTUAN PASAL 1365 DAN 1367 KUHPERDATA.
Dalam Memori Bandingnya pada Angka Romawi III, PEMBANDING II semula TERGUGAT I tidak sependapat dan keberatan dengan Pertimbangan Hukum Putusan Majelis Hakim Tingkat Pertama yang dimuat pada halaman 111 alinea 4 s/d halaman 112 alinea 1. (Memori Banding PEMBANDING II semula TERGUGAT I hal. 2 s/d hal 3).Selanjutnya PEMBANDING II semula TERGUGAT I berpendapat sebagai berikut :- Bahwa Pembanding II sebagaimana Pasal 83 (ayat 4) Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, menyatakan : PA/KPA/PPK/ULP dilarang memberikan ganti rugi kepada peserta pelelangan/Seleksi/Pemilihan Langsung bila penawarannya ditolak atau pelelangan/ seleksi/pemilihan langsung dinyatakan gagal;
- Bahwa sekalipun Bupati mempunyai tanggung jawab dalam hal Pengelolaan Keuangan Daerah akan tetapi dalam hal mengganti kerugian hanya oleh karena suatu gugatan yang tidak mempunyai alasan Hukum yang kuat dan tidak mendasar dalam pengertian bahwa tidak mempunyai hubungan hukum satu dengan yang lain maka sangatlah bertentangan aturan perundang-undangan yang menjadi dasar pelaksanaan Proses pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah.
Terhadap alasan PEMBANDING II semula TERGUGAT I tersebut, maka PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT akan memberikan tanggapan dan bantahan sebagai berikut :
1. Bahwa dalil bantahan dari PEMBANDING II semula TERGUGAT I yang mengutip ketentuan Pasal 83 Ayat (4) Perpres No. 54 Tahun 2010, merupakan sebuah dalil yang terlalu dipaksakan dan sangat menyesatkan;
2. Bahwa apabila PEMBANDING II semula TERGUGAT I mengkaji secara komprehensif ketentuan Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah tersebut, maka ketentuan Pasal 83 Ayat (4) Perpres No. 54 Tahun 2010 hanya diperlakukan untuk pelelangan dinyatakan gagal yang disebabkan peserta lelang yang memasukan penawaran kurang dari 3 (tiga) peserta atau memang benar – benar sesuai fakta hukumnya dokumen penawaran dari seluruh peserta lelang tidak memenuhi syarat (TMS) dan/atau DIPA/DPA yang batal disahkan karena sesuai ketentuan pelaksanaan pelelangan bisa dilakukan mendahului Tahun Anggaran, dan lain - lain sebagainya
3. Bahwa ketentuan Pasal 83 Ayat (4) Perpres No. 54 Tahun 2010 tersebut tidak bisa diberlakukan untuk pelelangan gagal yang hanya disebabkan oleh alasan - alasan yang tidak masuk akal dan tidak bisa dipertanggung jawabkan secara hukum antara lain dengan alasan TERGUGAT IV telah diganti dengan TERGUGAT V sebelum pengumuman pemenang lelang, yang mana pelelangan gagal tersebut hanya dilakukan untuk paket - pekerjaan Pekerjaan yang dimenangkan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT, sedangkan untuk pekerjaan – pekerjaan lain yang
16 merupakan produk pelelangan dari TERGUGAT IV sementara berproses dalam tahapan pelelangan dan ironisnya tidak pernah dibatalkan dan tetap diterbitkan SPPBJnya oleh TERGUGAT III. Selain itu apabila sebuah pelelangan dinyatakan gagal maka hal itu harus diumumkan dan dijelaskan tentang alasan alasan yang bisa di pertanggung jawabkan secara hukum serta bisa diterima oleh akal sehat sehingga tidak mengakibatkan sengketa hukum;
4. Bahwa Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 106 Tahun 2007 melalui Deputi Bidang Hukum dan Penyelesaian Sanggah LKPP telah membuat Portal Konsultasi Pengadaan Barang/Jasa di http://www.konsultasi.lkpp.go.id, Dimana pada portal tersebut LKPP telah memuat seluruh informasi kumpulan permasalahan, konsultasi serta peraturan terkait Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Hal tersebut berdasarkan Pasal 1 Ayat 42 Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah, menyatakan sebagai berikut : ” Portal Pengadaan Nasional adalah pintu gerbang sistem informasi elektronik yang terkait dengan informasi Pengadaan Barang/Jasa secara nasional yang dikelola oleh LKPP ”.
5. Bahwa sebagaimana Bukti P-42 yang diajukan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT, berdasarkan hasil konsultasi antara TERBANDING I semula PENGGUGAT I dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) melalui Portal Konsultasi Pengadaan Barang/Jasa di http://www.konsultasi.lkpp.go.id, terkait persoalan adanya pergantian ULP/ Panitia Pengadaan oleh Pengguna Anggaran (PA) setelah adanya penetapan pemenang oleh Panitia sebelumnya, dimana kemudian pada pokoknya LKPP menyatakan sebagai berikut :
” 1. PA/KPA memiliki kewenangan untuk menetapkan atau mengganti Pokja ULP. Namun demikian apa yang sudah ditetapkan tidak boleh dibatalkan dengan alasan pergantian tersebut “
“ 2. Pelelangan gagal harus diumumkan dan dijelaskan kepada peserta lelang mengenai mengapa pelelangan tersebut dinyatakan gagal. PA/KPA atau Pojka ULP tidak dapat menyatakan lelang gagal tanpa dasar ketentuan peraturan atau perundangundangan. ”;
6. Bahwa dikarenakan terjadi kesalahan pencantuman Bukti P- 42 pada putusan hal 104. Baris ke-3 dengan termuat Bukti P-42 berupa Asli Print Out Pengumuman dari Harian Manado Post, tanggal 7 April 2011, padahal Bukti P-42 yang diajukan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT tersebut di muka persidangan adalah Print Out hal. 4 http://www.konsultasi.lkpp.go.id/index.php?mod=pertanyaan) Hasil Konsultasi antara TERBANDING I semula PENGGUGAT I dengan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang /Jasa Pemerintah (LKPP) pada tanggal 08 Maret 2012 melalui Portal Konsultasi Pengadaan Barang/Jasa LKPP di http://www.konsultasi.lkpp.go.id, Maka oleh karena itu kami bermohon kepada Majelis Hakim Tingkat Banding untuk memeriksa Akta Bukti P-42 yang diajukan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT tersebut;
7. Bahwa selanjutnya, apabila pelelangan dinyatakan gagal oleh karena sebuah hasil rekayasa, kecurangan, penyimpangan dan penyalagunaan wewenang oleh Panitia Pengadaan serta pejabat pengadaan serta tidak sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, maka PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT mempunyai hak untuk menuntut ganti rugi sesuai ketentuan perundang - undangan. Hal tersebut sebagaimana diatur dalam ketentuan – ketentuan pada Perpres No. 54 Tahun 2010, sebagai berikut:
• Pasal 118 ayat (7) huruf b Perpres No. 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah, yang menentukan : ”Apabila terjadi pelanggaran dan/atau kecurangan dalam proses Pengadaan Barang/Jasa, maka ULP:
17 a. dikenakan sanksi administrasi;
b. dituntut ganti rugi; dan/atau c. dilaporkan secara pidana;
• Pasal 123 Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah, yang menentukan: ” Dalam hal terjadi kecurangan dalam pengumuman Pengadaan, sanksi diberikan kepada anggota ULP/Pejabat Pengadaan sesuai peraturan perundang-undangan.”
• Lampiran III Bagian B Point 1 huruf a angka 5) Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah, yang menentukan: ” Apabila terjadi kecurangan dalam pengumuman, maka kepada : ULP dikenakan sanksi administrasi, ganti rugi dan/atau pidana sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan ” .
• Lampiran III Bagian B Point 6 huruf b tindak lanjut pelelangan gagal, angka 3) huruf i butir (2) Perpres No. 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah, yang menentukan : “ ULP menindaklanjuti pelelangan/pemilihan langsung gagal dengan ketentuan sebagai berikut: “ apabila pelelangan/pemilihan langsung gagal karena pengaduan masyarakat atas terjadinya pelanggaran prosedur ternyata benar, maka dilakukan penggantian pejabat dan/atau anggota ULP yang terlibat, kemudian:
(2) : “ PA, KPA, PPK dan/atau anggota ULP yang terlibat, dikenakan sanksi sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan;
8. Bahwa selain itu berdasarkan Pasal 12 Ayat (2) Huruf e dan Pasal 17 Ayat (1) Huruf g Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah serta Peraturan Kepala LKPP No 02 Tanggal 2011 tanggal 25 April 2011. jo. Peraturan Kepala LKPP No. 06 tahun 2010 tanggal 28 Desember 2010 tentang Standar Dokumen Pengadaan Barang/ Jasa Pemerintah (Standard
Bidding Document), maka TERGUGAT III selaku PPK, serta TERGUGAT IV dan TERGUGAT V
selaku Panitia Pengadaan wajib menandatangani “Pakta Integritas” yang menyatakan antara lain sebagai berikut : “ …..[……]……4. Apabila melanggar hal – hal yang dinyatakan dalam Pakta integritas ini, bersedia menerima sanksi pencantuman dalam daftar Hitam, digugat secara perdata dan/atau dilaporkan secara pidana ”;
9. Bahwa berdasarkan asas hukum “ Lex superiori derogat lege priori “ yang berarti Peraturan yang lebih tinggi mengesampingkan peraturan yang lebih rendah, dan sebagaimana juga ketentuan Pasal 7 Ayat (1) dan Ayat (5) UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang Undangan, yang menentukan :
Ayat (1) :
Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut : a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; c. Peraturan Pemerintah;
d. Peraturan Presiden; e. Peraturan Daerah. Ayat (5) :
” Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1).”
18 10. Bahwa sebagaimana termuat pada Posita Butir 2 gugatan perkara aquo, menyatakan sebagai berikut : “ Bahwa Pelelangan Umum Pekerjaan Konstruksi di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Minahasa Utara Tahun 2011 adalah Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah yang tunduk dan wajib mengikuti Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah serta Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi; (Putusan hal. 5 baris ke-3 dari atas)
11. Bahwa ketentuan Perpres No. 54 tahun 2010, tentang Pengadaan Barang / Jasa, hanya mengatur tentang pengadaan barang / jasa pemerintah secara umum yaitu Pekerjaan Konstruksi, Pengadaan Barang; Jasa Konsultansi, Jasa Lainnya, Swakelola dan lain – lain. Tapi khusus untuk pelaksanaan Pekerjaan Konstruksi, selain mengacu pada ketentuan Perpres No. 54 tahun 2010, tentang Pengadaan Barang / Jasa tersebut, wajib pula mengacu pada Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, hal itu tercermin pada konsideran Perpres No. 54 tahun 2010, yang antara lain menyatakan sebagai berikut :
Mengingat : 3. Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2000 Nomor 64, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3956)“;
12. Bahwa atas dibatalkannya pelelangan tersebut tanpa disertai dengan alasan yang bisa dipertanggung jawabkan secara hukum, maka Pengguna Jasa berkewajiban mengganti biaya yang dikeluarkan untuk penyiapan mengikuti pelelangan tersebut dari PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT berhak. Hal itu sebagaimana tercantum pada Pasal 15 huruf k Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, yang menyatakan sebagai berikut : ” Pengguna jasa berkewajiban untuk :
k. mengganti biaya yang dikeluarkan oleh penyedia jasa untuk penyiapan pelelangan apabila pengguna jasa membatalkan pemilihan penyedia jasa tanpa alasan yang dapat dipertanggungjawabkan ”;
13. Bahwa selain itu pula, sebagaimana tercermin pada konsideran dari Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2010 tentang Perubahan Atas Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, dimana Peraturan Pemerintah tersebut diterbitkan untuk melaksanakan UU No.18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi;
14. Bahwa ketentuan UU No. 18 Tahun 1999 Tentang Jasa Konstruksi telah mengatur hak - hak PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT sebagai penyedia jasa Konstruksi dan adalah bagian dari masyarakat jasa konstruksi, untuk dapat menuntut ganti kerugian kepada pihak yang telah menimbulkan kerugian terkait dengan pengadaan dan pelaksanaan Jasa Konstruksi. Hal tersebut sebagaimana tercantum pada ketentuan – ketentuan sebagai berikut :
• Pasal 19 UU No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, yang menyatakan sebagai berikut: “ Jika pengguna jasa mengubah atau membatalkan penetapan tertulis, atau penyedia jasa mengundurkan diri setelah diterbitkannya penetapan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (1) huruf b, dan hal tersebut terbukti menimbulkan kerugian bagi salah satu pihak, maka pihak yang mengubah atau membatalkan penetapan, atau mengundurkan diri wajib dikenakan ganti rugi atau bisa dituntut secara hukum;
• Pasal 38 Ayat (1) dan (2) serta Pasal 39 UU No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, menyatakan sebagai berikut :
19 Pasal 38
Ayat (1) :
“ Masyarakat yang dirugikan akibat penyelenggaraan pekerjaan konstruksi berhak mengajukan gugatan ke pengadilan secara:
a. orang perseorangan;
b. kelompok orang dengan pemberian kuasa;
c. kelompok orang tidak dengan kuasa melalu gugatan perwakilan; Ayat (2) :
“ Jika diketahui bahwa masyarakat menderita sebagai akibat penyelenggaraan pekerjaan konstruksi sedemikian rupa sehingga mempengaruhi peri kehidupan pokok masyarakat, Pemerintah wajib berpihak pada dan dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat. ” Pasal 39 :
“ Gugatan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 ayat (1) adalah tuntutan untuk melakukan tindakan tertentu dan/atau tuntutan berupa biaya atau pengeluaran nyata dengan tidak menutup kemungkinan tuntutan lain sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku ”;
15. Bahwa menurut asas hukum “ Lex superiori derogat lege priori “ yang berarti Peraturan yang lebih tinggi mengesampingkan peraturan yang lebih rendah, dan sebagaimana juga ketentuan Pasal 7 Ayat (1) dan Ayat (5) UU No. 10 Tahun 2004 tentang Pembentukan Peraturan Perundang Undangan, yang menyatakan sebagai berikut :
Ayat (1) :
Jenis dan hierarki Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut : a. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;
b. Undang-Undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang; c. Peraturan Pemerintah;
d. Peraturan Presiden; e. Peraturan Daerah. Ayat (5) :
” Kekuatan hukum Peraturan Perundang-undangan adalah sesuai dengan hierarki sebagaimana dimaksud pada ayat (1).”
16. Bahwa oleh karena ketentuan Pasal 15 huruf k Peraturan Pemerintah Nomor 59 Tahun 2010 tentang Perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, serta Pasal 19, Pasal 38 Ayat (1) dan (2) dan Pasal 39 UU No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, yang didalilkan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT mempunyai kekuatan hukum yang lebih tinggi dibandingkan dengan ketentuan Pasal 83 Ayat (4) Perpres No. 54 Tahun 2010 yang didalilkan oleh PEMBANDING II semula TERGUGAT I;
17. Bahwa oleh karena itu, maka sudah sepatut dan selayaknya dalil bantahan PEMBANDING II semula TERGUGAT I tersebut dapat dikesampingkan oleh Majelis Hakim di Tingkat Banding yang memeriksa perkara aquo;
18. Bahwa tidaklah benar dalil bantahan dari PEMBANDING II semula TERGUGAT I yang menyatakan bahwa sekalipun Bupati mempunyai tanggung jawab dalam hal Pengelolaan Keuangan Daerah akan tetapi dalam hal mengganti kerugian hanya oleh karena suatu gugatan yang tidak mempunyai alasan Hukum yang kuat dan tidak mendasar dalam pengertian bahwa tidak mempunyai hubungan hukum satu dengan yang lain maka sangatlah bertentangan aturan perundang-undangan yang menjadi dasar pelaksanaan Proses pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah, karena dalam perkara aquo sangat
20 jelas PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT memiliki hubungan hukum dengan PEMBANDING II semula TERGUGAT I berdasarkan ketentuan;
19. Bahwa secara nyata telah diketahui oleh umum (notoire feiten), PEMBANDING II semula TERGUGAT I adalah Kepala Pemerintahan daerah di Kabupaten Minahasa Utara yang terpilih secara demokratis, yang disebut Bupati Minahasa Utara. hal itu berdasarkan ketentuan - ketentuan sebagai berikut :
• Pasal 18 Ayat (4) UUD 1945
• Pasal 24 Ayat (1) dan (2) UU No. 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintahan Daerah,
20. Bahwa PEMBANDING II semula TERGUGAT I adalah Bupati selaku kepala pemerintahan daerah yang diserahkan kekuasaan oleh Presiden selaku kepala pemerintahan yang memegang kekuasaan pengelolaan keuangan negara sebagai bagian dari kekuasaan pemerintahan, untuk mengelola keuangan daerah dan mewakili pemerintah daerah dalam kepemilikan kekayaan daerah yang dipisahkan. Hal tersebut berdasarkan ketentuan Pasal 6 Ayat (1) dan (2) huruf c UU No. 17 Tahun Tahun 2003 Tentang Keuangan Negara;
21. Bahwa selanjutnya PEMBANDING II semula TERGUGAT I bertindak selaku pemegang kekuasaan pengelolaan keuangan daerah di Kabupaten Minahasa Utara, dimana dalam pelaksanaanya dilaksanakan oleh TERGUGAT II selaku pejabat pengguna anggaran / barang daerah di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Minahasa Utara. Hal tersebut berdasarkan ketentuan Pasal 10 Ayat (2) huruf b UU No. 17 Tahun Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.
22. Bahwa selanjutnya, berdasarkan ketentuan - ketentuan sebagai berikut :
• TERGUGAT II merupakan Kepala satuan kerja perangkat daerah yang adalah Pengguna Anggaran / Pengguna Barang bagi satuan kerja perangkat daerah yang dipimpinnya. Hal tersebut berdasarkan Pasal 6 Ayat (1) UU No. 1 Tahun 2004 Tentang Perbendaharaan Negara.
• TERGUGAT II sebagai Pengguna Anggaran adalah pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi SKPD yang dipimpinnya. Hal tersebut berdasarkan Pasal 1 Angka 17 PP No. 58 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Keuangan Daerah.
• TERGUGAT II sebagai Pengguna Anggaran yang selanjutnya disebut PA adalah Pejabat pemegang kewenangan penggunaan anggaran Satuan Kerja Perangkat Daerah. Hal tersebut berdasarkan Pasal 1 Angka 5 Perpres No. 54 Tahun 2010 Tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah;
23. Bahwa untuk melaksanakan pengadaan barang / jasa di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Minahasa Utara dengan Sumber Dana APBD, TERGUGAT II telah menetapkan TERGUGAT III selaku PPK serta TERGUGAT IV dan TERGUGAT V selaku Panitia Pengadaan. Hal itu berdasarkan ketentuan ketentuan sebagai berikut:
• Pasal 12 Ayat (1) Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah;
• Pasal 130 Ayat (1), (2) dan (3) Perpres No. 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang / Jasa Pemerintah;
24. Bahwa sebagaimana Bukti P-1, TERBANDING I semula PENGGUGAT I adalah Direktur dari Perseroan Komanditer dengan nama CV. SONVINO yang didirikan pada tahun 2006 berdasarkan