• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ganti Rugi Untuk Kerugian Yang Akan Datang

TERGUGAT II selaku Pengguna Anggaran masih mempercayakan TERGUGAT IV untuk melaksanakan Pemilihan langsung untuk 12 (dua belas) paket pekerjaan konstruksi pada tanggal

X. MAJELIS HAKIM TINGKAT PERTAMA SUDAH BENAR DALAM MENERAPKAN KONSEP GANTI RUGI MENURUT KUHPERDATA

6. Ganti Rugi Untuk Kerugian Yang Akan Datang

Ganti rugi untuk kerugian yang akan datang (future lost) juga mungkin diterapkan. Ganti rugi seperti ini lebih sering diterapkan kepada perbuatan melawan hukum ketimbang terhadap wanprestasi kontrak.Ini disebabkan suatu fakta bahwa dalam suatu wanprestasi kontrak, pihak korban dengan sengaja masuk ke sebuah kontrak, tentu dengan kesiapan menanggung segala konsekuensinya. Akan tetapi, dalam suatu perbuatan melawan hukum, pihak korban tidak pernah ada kesengajaan untuk menerima memberikan persetujuan atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh orang lain tersebut.

116 Bila ganti rugi karena perbuatan melawan hukum berlakunya lebih keras sedangkan ganti rugi karena kontrak lebih lembut itu adalah salah satu ciri dari hukum dijaman modern. Sebab, di dalam dunia yang telah berperadapan tinggi, maka seseorang harus selalu bersikap waspada untuk tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain. Karena itu bagi pelaku perbuatan melawan hukum sehingga menimbulkan kerugian pada orang lain, haruslah mendapatkan hukuman yang setimpal dalam bentuk ganti rugi.

Bahwa selain itu, menurut Wirjono Prodjodikoro dalam bukunya yang berjudul “ Perbuatan Melanggar Hukum ” menerangkan bahwa : dalam KUHPerdata, pengaturan tentang kerugian dan ganti rugi dirumuskan dalam 2 (dua) pendekatan sebagai berikut :

a. Ganti Rugi Umum

Yakni ganti rugi yang berlaku untuk semua kasus, baik untuk kasus –kasus wanprestasi kontrak, maupun kasus-kasus yang berkenaan dengan perikatan lainnya termasuk didalamnya perbuatan melawan hukum.Ketentuan tentang ganti rugi umum ini dalam KUHPerdata diatur dalam bagian keempat dalam buku ketiga, mulai dari Pasal 1243 sampai Pasal 1252. Dalam hal ini untuk ganti rugi tersebut, KUHPerdata secara konsisten untuk ganti rugi digunakan istilah :

• Biaya

Yang dimaksud dengan biaya adalah setiap cost atau uang, atau apapun yang dapat dinilai dengan uang yang telah dikeluarkan secara nyata oleh pihak yang dirugikan, sebagai akibat dari wanprestasi dari kontrak atau sebagai akibat dari tidak dilaksanakannya perikatan karena adanya perbuatan melawan hukum, misalnya biaya perjalanan, konsumsi, biaya akta notaris, dan lain – lain;

• Rugi

Dalam arti sempit, yang dimaksud dengan rugi atau kerugian adalah keadaan berkurangnya atau merosotnya nilai kekayaan kreditur sebagai akibat dari adanya wanprestasi dari kontrak atau sebagai akibat dari tidak dilaksanakannya perikatan lainnya, termasuk perikatan karena adanya perbuatan melawan hukum;

• Bunga

Merupakan suatu keuntungan yang seharusnya diperoleh, tetapi tidak jadi diperoleh oleh pihak kreditur karena adanya wanprestasi dari kontrak atau sebagai akibat tidak dilaksanakannya perikatan lainnya, termasuk perikatan karena adanya perbuatan melawan hukum.. Pengertian bunga ini lebih luas dari pengertian bunga sehari –hari, yang hanya berarti “bunga uang” (interest), yang hanya dihitung dari persentase dari hutang pokoknya;

b. Ganti Rugi Khusus

Yakni ganti rugi khusus terhadap kerugian yang timbul karena perikatan –perikatan tertentu. Dalam hubungan dengan ganti rugi yang terbit dari suatu perbuatan melawan hukum. Selain dari ganti rugi dari bentuk yang umum, KUHPerdata juga menyebutkan pemberian ganti rugi terhadap hal hal berikut:

a) Ganti rugi untuk semua perbuatan melawan hukum (Pasal 1365)

b) Ganti rugi terhadap perbuatan yang dilakukan orang lain (Pasal 1366 dan Pasal 1367) c) Ganti rugi untuk pemilik binatang (Pasal 1368)

d) Ganti rugi untuk pemilik gedung yang ambruk (Pasal 1369)

e) Ganti rugi untuk keluarga yang ditinggalkan oleh orang yang dibunuh (Pasal 1370) f) Ganti rugi karena telah cacat anggota badan (Pasal 1371)

117 Bahwa selain itu, “Code Civil (dalam bahasa Perancis) “ memperinci ganti rugi itu dalam dua unsur, yaitu

dommages et interests. Dommages meliputi apa yang kita namakan biaya dan rugi, sedangkan interest adalah sama dengan bunga dalam arti kehilangan keuntungan;

Bahwa adapun bentuk – bentuk ganti rugi yaitu ganti rugi nominal, ganti rugi kompensasi, ganti rugi penghukuman, ganti rugi aktual, ganti rugi yang berhubungan dengan tekanan mental serta ganti rugi yang akan datang, menurut doktrin hukum Munir Fuady tersebut, memang sudah sepantasnya dan selayaknya dituntut oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT kepada PEMBANDING (semula TERGUGAT I, II, III, V) serta TERGUGAT IV, dikarenakan perbuatan melawan hukum yang dilakukannya terhadap PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT bukan hanya disebabkan oleh adanya unsur kelalaian, tapi sebagian besar disebabkan oleh adanya unsur kesengajaan dari PARA PEMBANDING (semula TERGUGAT I, II, III, V) dan TERGUGAT IV;

Bahwa walaupun pada akhirnya TERGUGAT IV telah menyadari kekeliruannya dan menggembalikan hak – hak perusahaan PARA PENGGUGAT sebagai pemenang pelelangan pada pekerjaan Peningkatan Jaringan Irigasi Kinidow dan pekerjaan Peningkatan Jaringan Irigasi Matungkas, tapi pada akhirnya hak - hak perusahaan PARA PENGGUGAT tersebut kemudian menjadi hilang karena dirampas secara melawan hukum oleh PEMBANDING I semula TERGUGAT II, III, V dan hanya dibiarkan oleh PEMBANDING II semula TERGUGAT I sehingga menimbulkan kerugian materiil dan kerugian immateriil yang tidak terkira, padahal peraturan perundangan - undangan yang terkait dengan penyelenggaraan Pengadaan Barang / Jasa khususnya Jasa Konstruksi, sudah secara jelas mengamanatkan dan memberikan kewajiban hukum kepada PEMBANDING II semula TERGUGAT I sebagai Kepala Pemerintahan di Kabupaten Minahasa Utara, serta PEMBANDING I semula TERGUGAT II, III, V sebagai bagian dari pemerintahan, untuk dapat berpihak pada dan bertindak untuk kepentingan masyarakatnya termasuk PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT apabila masyarakatnya telah menderita akibat penyelenggaraan pekerjaan konstruksi sedemikian rupa sehingga mempengaruhi peri kehidupan pokok masyarakatnya. Hal dapat dilihat pada ketentuan Pasal 38 Ayat (2) UU No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi, yang menyatakan sebagai berikut : “ Jika diketahui bahwa masyarakat menderita sebagai akibat penyelenggaraan pekerjaan konstruksi sedemikian rupa sehingga mempengaruhi peri kehidupan pokok masyarakat, Pemerintah wajib berpihak pada dan dapat bertindak untuk kepentingan masyarakat. ”.

Bahwa pada kenyataanya, kewajiban hukum berdasarkan ketentuan Pasal 38 Ayat (2) UU No. 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi tersebut, justru telah dilanggar PARA PEMBANDING semula TERGUGAT I, II, III, V dan malah berbuat sebaliknya dengan berusaha mencari alasan untuk menyengsarakan PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT selaku masyarakatnya;

Bahwa sesuai fakta - fakta persidangan tingkat pertama, PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT telah membuktikan yang mana memang benar ada perlakuan diskriminasi secara terstruktur dan tersistematis terhadap PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT, selama tahapan pelelangan umum di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Minahasa Utara Tahun Anggaran 2011 tersebut, yang bukan saja hanya mengakibatkan PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT kehilangan hak – haknya sebagai pemenang pelelangan sehingga tidak mendapatkan pekerjaan yang layak berdasarkan ketentuan, tapi juga PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT telah mendapatkan perlakuan secara tidak manusiawi terhadap hak haknya yang lain sehingga mengakibatkan timbulnya kerugian materiil maupun kerugian immateriil yang tidak terkira, dikarenakan dengan adanya perlakuan diskriminasi secara terstruktur dan tersistematis tersebut, maka PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT telah mengalami sebuah “ pelanggaran hak

118 asasi manusia yang berat “ sebagaimana Penjelasan Pasal 104 Ayat (1) Undang – Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia;

Bahwa sebagaimana termuat pada Posita Butir 157 gugatan perkara aquo, menyatakan sebagai berikut : “ Bahwa menurut Prof. Rosa Agustina dalam bukunya yang berjudul ” Perbuatan Melawan Hukum” menerangkan bahwa kerugian dalam Perbuatan Melawan Hukum menurut KUHPerdata, pemohon dapat meminta kepada pelaku untuk mengganti kerugian yang nyata telah dideritanya (Materiil) maupun keuntungan yang akan diperoleh dikemudian hari (Immateriil) “.’ (putusan Hal.72 baris ke-5 dari bawah )

Bahwa adanya kerugian materiil dan immateriil dari PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT yang diakibatkan oleh perbuatan melawan hukum dari PARA PEMBANDING semula TERGUGAT I, II, III, V serta TERGUGAT IV, secara lengkap telah diuraikan pada Posita Butir 158 s/d Butir 170 gugatan perkara aquo; mengenai besaran kerugian materiil yaitu berupa biaya dan rugi, maupun bunga (kehilangan keuntungan) telah dirinci oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT yang mendasarkan pada peraturan perundang undangan serta estimasi secara layak dan wajar, dan mengenai besaran kerugian immateriil yang tidak terkira dan sulit dihitung tersebut namun demi memberikan kepastian hukum untuk pengajuan perkara aquo maka telah juga telah dirinci oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT dengan mengacu pada peraturan perundang- undangan (Putusan hal. 73 s/d hal. 82);

Bahwa menurut Suharnoko dalam bukunya yang berjudul : “ Hukum Perjanjian dan Analisa Kasus “, menerangkan bahwa : “ dengan berlakunya teori analogi terhadap ganti kerugian karena perbuatan melawan hukum, maka pada umumnya dianut pendapat ganti rugi yang ditimbulkan juga harus membayar ganti rugi akibat keuntungan dapat diharapkan diterima (winstderving)”;

Bahwa sehingga dengan dianulirnya hak - hak PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT sebagai pemenang pelelangan untuk Pekerjaan Peningkatan Jaringan Irigasi Kinidow dan Pekerjaan Peningkatan Jaringan Irigasi Matungkas tersebut secara tidak sah, maka hal tersebut secara otomatis telah membuktikan yang mana perbuatan melawan hukum tersebut telah menimbulkan kerugian secara secara aktual jelas dan nyata bagi PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT baik secara materiil maupun immateriil, yaitu antara lain kehilangan keuntungan yang diharapkan untuk pekerjaan pekerjaan tersebut dengan mengacu pada keuntungan yang wajar untuk pekerjaan konstruksi adalah maksimal 15 % (lima belas perseratus) dari Nilai Pekerjaan tersebut sebagaimana Penjelasan Pasal 66 Ayat (8) Perpres Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah dan telah dikurangi dengan nilai PPN dan PPh sesuai ketentuan perpajakan yang berlaku;

Bahwa selain itu, kerugian materiil lainnya yang dialami oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT yaitu biaya - biaya pengeluaran untuk penyiapan pelelangan untuk pembuatan Dokumen Penawaran yang terdiri dari Dokumen Isian Kualifikasi (SIUJK, Sertifikasi Badan Usaha, SITU/HO, TDP, Laporan pajak tahunan dan 3 Bulan terakhir, SKT, dukungan bank dll), Dokumen Administrasi (Surat Penawaran dan Jaminan Penawaran) serta Dokumen Teknis ( Rencana Anggaran Biaya (RAB), Analisa Harga Satuan Pekerjaan, Daftar Harga Satuan Upah Bahan Peralatan, Metode Pelaksanaan, Jadwal Waktu Pelaksanaan / Kurva S, Spesifikasi Teknis, Skema Tenaga Bahan dan Alat, daftar personil serta peralatan, dll) sebagaimana persyaratan sesuai ketentuan Pasal 19 Ayat (1) serta Lampiran III Bagian B huruf f sampai dengan huruf h Perpres Nomor 54 Tahun 2010 terkait keikutsertaan PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT pada pelelangan umum Pekerjaan Peningkatan Jaringan Irigasi Kinidow dan Pekerjaan Peningkatan Jaringan Irigasi Matungkas dan pekerjaan pekerjaan lainnya yang dilaksanakan oleh TERGUGAT IV, yang mana Dokumen Penawaran PARA TERBANDING

119 semula PARA PENGGUGAT tersebut terlebih khusus Dokumen Teknis harus yang dibuat oleh n personil tenaga ahli yang berlatar belakang pendidikan teknik dan nilai kerugian biaya pembuatan dokumen penawaran dan pengandaan dan lain sebaginya sebagaiman tercantum pada gugatan perkara aquo, tmasih sangat layak dan wajar. Seperti contoh, TERBANDING I semula PENGUGAT I selaku tenaga ahli teknik yang berlatar belakang pendidikan S-1 dan mempunyai pengalaman 8 tahun pada saat pelelangan tersebut dilaksanakan (vide Bukti P-8), seharusnya apabila yang jadi rujukan adalah Pedoman Biaya Personil untuk penyusunan RAB / HPS sebagaimana Surat Edaran Menteri PU Nomor 22/SE/M/2007 tanggal 12 Desember 2007, maka sesuai ketentuan tersebut, TERBANDING I semula PENGUGAT I sebagai tenaga ahli dengan pengalaman 8 tahun layak diberikan digaji sebesar Rp. 13.700.000,00 (tiga belas juta tujuh ratus ribu rupiah) per bulan. sedangkan pelelangan tersebut berlangsung selama 221 (dua ratus dua puluh satu ) hari atau sekitar 7 (delapan) bulan 11 (sebelas) hari dan biaya pengeluaran untuk pembuatan dan penggandaan dokumen penawaran tersebut yang dituntut hanya sebesar Rp. 3.500.000,00 (tiga juta lima ratus ribu rupiah) per paket pekerjaan. Hal tersebut membuktikan yang mana kerugian biaya pengeluaran pembuatan dan penggandaan dokumen penawaran yang dimintakan oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT masih layak dan wajar karena jauh dibawah harga standar sesuai ketentuan. Selanjutnya kerugian materiil lainnya adalah biaya biaya pengeluaran untuk keperluan sanggahan, sanggah banding dan jaminan sanggahan banding (vide Bukti P-10 dan P-11, P-15 s/d P-18, P-26 s/d P-28) serta pengeluaran biaya transportasi, konsumsi, akomodasi selama proses tahapan pelelangan yang menyita waktu selama 221 (dua ratus dua puluh satu ) hari, dan kerugian materiil semakin bertambah dengan adanya pengeluaran biaya - biaya lain sehubungan dengan adanya gugatan perkara aquo yaitu biaya konsultasi hukum serta biaya literatur untuk pembuatan gugatan perkara aquo oleh PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT yang tidak berlatar belakang pendidikan hukum yang selama persidangan tingkat pertama memilih untuk beracara secara langsung di pengadilan;

Bahwa selain mengalami kerugian materiil, atas perbuatan melawan hukum PARA PEMBANDING (semula TERGUGAT I, II, III, V ) serta TERGUGAT IV tersebut tentunya telah mengakibatkan PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT mengalami kerugian immateriil yang tidak terkira, yaitu kehilangan waktu kerja yang seharusnya dapat dimanfaatkan untuk melaksanakan pekerjaan pekerjaan lain yang lebiih produktif dan bisa menghasilkan keuntungan maksimal akan tetapi waktu potensial tersebut hanya terbuang percuma secara sia-sia karena persoalan hukum yang tiada akhir ini telah menguras banyak waktu, tenaga serta pikiran, dan selaku pemilik perusahan, tentunya PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT telah mengalami perasaan malu, hancurnya reputasi, kondikte dan nama baik, dan telah berdampak secara psikologis sehingga mengalami stres, insomnia (susah tidur), tidak konsentrasi, trauma dan kehilangan kesenangan hidup dan lain lain. Selain itu perbuatan melawan hukum PARA PEMBANDING (semula TERGUGAT I, II, III, V) serta TERGUGAT IV tersebut bisa “membunuh” eksistensi perusahaan PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT selama jangka waktu lima tahun kedepan hingga berakhirnya jabatan PEMBANDING II semula TERGUGAT I sebagai Kepala Daerah;

Bahwa sehingga adalah alasan yang keliru dan tidak mendasar apabila PEMBANDING I semula TERGUGAT II, III, V menyatakan bahwa apa yang diuraikan dalam gugatan maupun dalam repliknya, jelas bahwa yang dimaksud akan ganti rugi yang diharapkan oleh Penggugat adalah ganti rugi konpensasi (compensatoty damages) yang merupakan ganti kerugian yang benar benar dialami oleh pihak korban atas suatu perbuatan hukum, karena sebagaimana yang termuat dalam gugatan maupun replik PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT secara jelas jelas yang diharapkan akan diterima adalah ganti rugi nominal, ganti rugi kompensasi, ganti rugi penghukuman, ganti rugi aktual, ganti rugi yang berhubungan dengan tekanan mental serta ganti rugi yang akan datang;

120 Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 1371 ayat (2) KUHPerdata, menyatakan sebagai berikut “ juga penggantian kerugian ini dinilai menurut kedudukan dan kemampuan kedua belah pihak, dan menurut keadaan”.

Bahwa selanjutnya sebagaimana juga ketentuan Pasal 1372 Ayat (2) KUHPerdata menyatakan sebagai berikut : “ Dalam menilai satu dan lain, Hakim harus memperhatikan berat ringannya penghinaan, begitu pula pangkat, kedudukan dan kemampuan kedua belah pihak, dan pada keadaan “

Bahwa telah menjadi yuriprudensi tetap dari Mahkamah Agung RI bahwa Hakim dalam menentukan besarnya ganti kerugian akan menetapkan berdasarkan keadilan sosial (social jucitice) dan keadilan moral (moral justice), dan dalam hal ganti kerugian karena perbuatan melawan hukum, Hakim mempunyai kebebasan untuk menetapkan besarnya ganti rugi materiil dan immateriil sesuai dengan asas kepatutan, sejauh hal tersebut telah dimintakan oleh pihak Penggugat;

Bahwa berdasarkan yurisprudensi Mahkamah Agung RI , sebagai berikut :

Putusan MARI RI No : 610 K/Sip/1968 tanggal 23 Mei 1970, yang menyatakan bahwa :“ hakim berwenang menetapkan ganti rugi yang sepantasnya harus dibayar, sekalipun penggugat menuntut ganti kerugian yang dalam jumlah yang tak pantas “;

Putusan MARI No. 196 K/Sip/1974 tanggal 7 Oktober 1976, yang menyatakan bahwa : “ Besarnya jumlah ganti rugi perbuatan melawan hukum, diperpegangi prinsip Pasal 1372 KUHPerdata yakni didasarkan pada penilaian kedudukan sosial ekonomi kedua belah pihak ”;

Putusan MARI No. 1226 K/Sip/1977 tanggal 13 April 1978, yang menyatakan bahwa “ Soal besarnya ganti rugi pada hakekatnya lebih merupakan soal kelayakan dan kepatutan yang tidak dapat didekati dengan suatu ukuran ”;

Bahwa sebagai otoritas yang mendapatkan amanat untuk melindungi masyarakatnya, PARA PEMBANDING (semula TERGUGAT I, II, III, V ) serta TERGUGAT IV seharusnya berdiri paling depan untuk membela masyarakatnya dan bukan sebaliknya menjerumuskan PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT selaku masyarakatnya ke dalam jurang kesusahan, sehingga sangatlah tepat dan benar apabila Majelis Hakim Pengadilan Negeri Airmadidi berdasarkan keadilan sosial (social jucitice) dan keadilan moral (moral justice) telah memberikan pertimbangannya dengan menetapkan ganti rugi materiil dan immateriil yang sepatutnya dan sepantasnya atas perbuatan melawan hukum yang dilakukan PARA PEMBANDING (semula TERGUGAT I, II, III, V ) serta TERGUGAT IV terhadap PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT;

Bahwa oleh karena itu, maka pada point ini, PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT sependapat dan sepakat dengan pertimbangan Majelis Hakim Tingkat Pertama pada Putusan hal. 112 paragraf ke-6 (enam) sampai dengan hal. 113 paragraf ke-1 (satu);

Bahwa berdasarkan uraian – uraian tersebut diatas, maka hal itu telah membuktikan yang mana alasan – alasan keberatan dari PEMBANDING I semula TERGUGAT II, III, V, adalah sebuah alasan yang tidak mendasar serta tidak sesuai dengan fakta hukum yang ada;

Bahwa sehingga alasan keberatan dan penolakan yang diajukan oleh PEMBANDING I semula TERGUGAT II, III, V, pada point ini sudah sepatutnya dan sewajarnya apabila ditolak atau setidak tidaknya dinyatakan tidak diterima oleh Majelis Hakim Tingkat Banding yang memeriksa perkara aquo;

121 Bahwa berdasarkan tanggapan - tanggapan atas alasan – alasan keberatan dan penolakan PARA PEMBANDING semula TERGUGAT I, II, III, V tersebut diatas, maka PARA TERBANDING semula PARA PENGGUGAT memohon kepada Ketua Pengadilan Tinggi Sulawesi Utara melalui Majelis Hakim Tingkat Banding yang memeriksa dan mengadili sendiri perkara yang dimohonkan Banding ini dengan putusan sebagai berikut :