• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daftar Isi. Daftar Isi Executive Summary Pemantauan dan Evaluasi Pinjaman dan Hibah... 5 Pemantauan... 5 Evaluasi...

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Daftar Isi. Daftar Isi Executive Summary Pemantauan dan Evaluasi Pinjaman dan Hibah... 5 Pemantauan... 5 Evaluasi..."

Copied!
36
0
0

Teks penuh

(1)

Daftar Isi

Daftar Isi ... 1

Executive Summary ... 3

Pemantauan dan Evaluasi ... 5

Pinjaman dan Hibah ... 5

Pemantauan ... 5

Evaluasi ... 5

Project Based Sukuk ... 6

Pemantauan ... 6

Evaluasi ... 7

Lingkup Pemantauan Proyek ... 8

Pinjaman dan Hibah ... 8

Komposisi Nilai Outstanding Pinjaman Luar Negeri ... 8

Komposisi Nilai Outstanding Pinjaman Dalam Negeri ... 9

Komposisi Surat Berharga Negara ... 10

Pinjaman Luar Negeri... 11

Analisis Pinjaman Luar Negeri ... 11

Nilai Komitmen Pinjaman Luar Negeri Aktif Berdasarkan Negara/Lembaga Pemberi Pinjaman ... 12

Nilai Komitmen Pinjaman Luar Negeri Aktif Berdasarkan Kementerian/Lembaga ... 13

Belanja Kementerian/Lembaga dengan Sumber Dana Pinjaman Luar Negeri... 15

Proporsi Jumlah Kegiatan yang Dibiayai Melalui Pinjaman Luar Negeri per-Sektor ... 16

Pinjaman Dalam Negeri ... 17

Analisis Pinjaman Dalam Negeri ... 17

Nilai Komitmen Pinjaman Dalam Negeri Berdasarkan Lender... 17

Nilai Komitmen Pinjaman Dalam Negeri Berdasarkan Kementerian/Lembaga ... 18

Belanja Kementerian/Lembaga dengan Sumber Dana Pinjaman Dalam Negeri ... 18

Hibah Luar Negeri ... 20

Analisis Hibah ... 20

Nilai Komitmen Hibah Luar Negeri Berdasarkan Negara/Lembaga Donor ... 20

Nilai Komitmen Hibah Luar Negeri Berdasarkan Kementerian/Lembaga ... 21

Hibah Dalam Negeri ... 23

Nilai Komitmen Hibah Dalam Negeri Berdasarkan Lembaga Donor ... 23

Nilai komitmen HDN Berdasarkan Kementerian/Lembaga ... 24

Project Based Sukuk ... 26

Realisasi Project Financing Sukuk T.A 2013 – 2019 ... 26

(dalam miliar rupiah) ... 26

Pembiayaan Project Based Sukuk Tahun 2020 ... 27

(2)

Permasalahan, Solusi, dan Mitigasi ... 29

Pinjaman ... 29

Kendala ... 29

Rekomendasi Solusi dan Mitigasi ... 29

Hibah ... 30

Kendala ... 30

Rekomendasi Solusi dan Mitigasi ... 30

Project Based Sukuk (PBS) ... 31

Kendala ... 31

Solusi dan Mitigasi ... 31

Capaian ... 32

(3)

Executive Summary

Untuk meningkatkan kinerja pelaksanaan kegiatan yang dibiayai melalui pinjaman/hibah/PBS, dilakukan pemantauan dan penyusunan laporan sesuai dengan Pasal 77 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pengadaan Pinjaman Luar Negeri dan Penerimaan Hibah, Pasal 26 ayat 3 Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2008 tentang Tata Cara Pengadaan Dan Penerusan Pinjaman Dalam Negeri Oleh Pemerintah, serta Pasal 21 ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2011 tentang Pembiayaan Proyek Melalui Penerbitan Surat Berharga Syariah Negara.

Laporan ini ditujukan untuk memberikan gambaran mengenai realisasi penyerapan kegiatan yang dibiayai pinjaman/hibah/PBS selama satu triwulan berjalan, memberikan informasi mengenai status pelaksanaan kegiatan, mengidentifikasi permasalahan, sehingga dapat digunakan untuk mengambil langkah-langkah tindak lanjut untuk mengatasi permasalahan proyek/kegiatan tersebut.

Berdasarkan hasil pemantauan terhadap kinerja 242 kegiatan yang dibiayai melalui pinjaman aktif (dalam negeri dan luar negeri) pada triwulan II tahun 2020 dengan menggunakan formula perhitungan progress variant, pinjaman dengan status on and ahead schedule adalah sebanyak 87 kegiatan (36,0%), kategori behind schedule sebanyak 121 kegiatan (50,0%) dan kategori at-risk sebanyak 34 kegiatan (14,0%).

Dibandingkan dengan triwulan sebelumnya terdapat penurunan rasio kegiatan dengan status On/Ahead Schedule dari sebelumnya 38,7% menjadi 36%. Penurunan rasio kegiatan ini terutama disebabkan adanya kendala pembatasan kegiatan dalam masa PSBB di beberapa wilayah Indonesia selama triwulan II tahun 2020.

Sedangkan pemantauan terhadap status kinerja pelaksanaan kegiatan yang dibiayai melalui hibah pada akhir triwulan ini diperoleh hasil sebagai berikut:

Kegiatan yang dibiayai melalui hibah dengan kategori on/ahead schedule adalah sebanyak 20,5%, kategori behind schedule sebanyak 57,1% dan kategori at-risk adalah sebanyak 22,4%.

Sementara itu, nilai total realisasi PBS sampai dengan triwulan I tahun 2020 adalah sebesar Rp5.278.75 miliar rupiah dari nilai total pagu DIPA sebesar 23.293,98 miliar rupiah atau sekitar 22,7%.

Beberapa kendala pada saat pelaksanaan kegiatan antara lain kesiapan pelaksanaan proyek, kendala dalam pembebasan lahan, keterlambatan proses pengadaan/lelang atas barang/jasa, kinerja kontraktor yang rendah, kondisi cuaca yang buruk dan pembatasan kegiatan dalam rangka PSBB menjadi faktor utama yang menyebabkan keterlambatan penyerapan pinjaman/hibah.

Pembelajaran yang dapat dipetik dari permasalahan ini ialah diperlukan penilaian kesiapan pelaksanaan proyek sedini mungkin baik dalam hal persiapan pelaksanaan (readiness criteria) maupun hal teknis seperti pembebasan lahan untuk mengurangi keterlambatan pelaksanaan proyek. Langkah terobosan dalam proses pengadaan/lelang misalnya dengan mempersiapkan tahap-tahap lelang/pengadaan sejak awal tahun anggaran dapat menjadi salah satu cara untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas pelaksanaan kegiatan. Selain itu, pelaksanaan kegiatan ketika dimulai pelonggaran PSBB dapat mulai dilaksanakan dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ketat.

On/Ahead Schedule 36% Behind Schedule 50% At-Risk 14% On/Ahead Schedule 20,5% Behind Schedule 57,1% At-Risk 22,4%

(4)

Efisiensi dan efektifitas pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari pinjaman/hibah/PBS dapat ditingkatkan dengan melakukan perbaikan terhadap pengelolaan pinjaman/hibah/PBS baik dari sisi perencanaan, pelaksanaan maupun penerapan rekomendasi untuk mengatasi permasalahan yang terjadi selama pelaksanaan kegiatan. Dengan demikian, pengelolaan pinjaman/hibah/PBS akan semakin baik dan hasilnya memberikan dampak yang lebih besar bagi masyarakat.

(5)

Pemantauan dan Evaluasi

Pinjaman dan Hibah

Pemantauan

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 224/PMK.08/2011, ruang lingkup pemantauan adalah: a. Disbursement plan atas perjanjian Pinjaman dan/atau Hibah yang masih berstatus aktif dan perjanjian

Pinjaman dan/atau Hibah baru dalam rangka memenuhi kebutuhan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) berjalan;

b. Pemenuhan condition precedents of effectiveness Pinjaman dan/atau Hibah termasuk persyaratan biaya Pinjaman dan realisasi pembayarannya;

c. Amandemen perjanjian Pinjaman dan/atau Hibah;

d. Restrukturisasi Pinjaman termasuk rescheduling, prepayment, debt swap dan skema restrukturisasi lainnya; e. Rencana penarikan dana Pinjaman dan/atau Hibah yang dialokasikan dalam DIPA tahun berjalan;

f. Realisasi pencairan dana Pinjaman dan/atau Hibah yang ditunjukkan di dalam dokumen SP2D, WA, SP3, Nodis dan dokumen sejenis lainnya; dan

g. Realisasi pencairan dana dari pemberi Pinjaman dan/atau Hibah yang tercermin dalam NOD atau dokumen sejenis lainnya.

Sumber data yang digunakan dalam rangka pemantauan tersebut adalah sebagai berikut: a. Basis data Debt Management and Financial Analysis System (DMFAS);

b. Laporan triwulanan yang diterima dari K/L, Pemda, dan BUMN selaku Executing Agency; c. Hasil rapat berkala dan ad hoc dengan K/L, Pemda dan BUMN selaku Executing Agency; d. Dokumen atau sumber-sumber lain yang relevan.

Evaluasi

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 224/PMK.08/2011, pengujian konsistensi data perencanaan anggaran dan realisasi dilakukan sebagai berikut:

a. Membandingkan antara rencana penarikan dana dengan alokasi dana dalam DIPA;

b. Membandingkan antara alokasi Pinjaman dan/atau Hibah dalam DIPA dengan realisasi pencairan dana Pinjaman dan/atau Hibah berupa SP2D, WA, Nodis, dan SP3;

c. Membandingkan antara WA serta SP3 dari KPPN Khusus dengan realisasi NOD atau dokumen lain yang dipersamakan dari pemberi Pinjaman dan/atau Hibah; dan

d. Mengukur atau membandingkan antara capaian pelaksanaan kegiatan yang sedang berjalan dengan menggunakan teknik perhitungan PV.

Bagian

I

(6)

Progress Variant (PV) merupakan perbandingan antara persentase penarikan (disbursement ratio) dengan persentase waktu terpakai (elapsed time ratio).

Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut:

Disbursement Ratio = Akumulasi Disbursement X 100% Nilai Pinjaman

Elapsed Time Ratio = Elapsed Time X 100%

Availability Period Progress Variant =

Disbursement Ratio Elapsed Time Ratio

Kategori evaluasi kegiatan yang digunakan adalah sebagai berikut: • Kategori PV (ada penarikan):

PV ≥ 1

(on and above schedule)

Realisasi penarikan Pinjaman dan/atau Hibah telah sesuai atau lebih cepat dari jadwal yang direncanakan

0,3 < PV < 1 (behind schedule)

Realisasi penarikan Pinjaman dan/atau Hibah lebih lambat dari jadwal yang direncanakan

PV ≤ 0,3 (at risk)

Realisasi penarikan Pinjaman dan/atau Hibah mengalami keterlambatan yang akut sehingga berisiko memunculkan biaya tambahan yang harus ditanggung APBN

Kategori PV (belum ada penarikan):

behind schedule ETR ≤ 70% dari Availability Period at risk ETR > 70% dari Availability Period

Project Based Sukuk

Pemantauan

Berdasarkan PMK Nomor 120/PMK.08/2016, pemantauan Realisasi Penyerapan Dana dilakukan dengan: 1. Berdasarkan pada laporan hasil pemantauan dan evaluasi oleh Pemrakarsa Proyek.

2. Berpedoman pada Rencana Penarikan Dana (RPD).

3. Dilakukan dengan membandingkan antara RPD dengan realisasi penyerapan dana.

4. Melibatkan unit-unit terkait di lingkungan Kementerian Keuangan dan Kementerian Perencanaan/Bappenas apabila diperlukan.

(7)

Evaluasi

Evaluasi yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:

1. DJPPR menyusun hasil evaluasi penyerapan dana proyek.

2. Penyusunan hasil evaluasi menggunakan dokumen sumber paling sedikit berupa laporan pelaksanaan pekerjaan proyek yang disampaikan oleh satuan kerja pelaksana proyek pada Sistem Aplikasi Pengelolaan Kinerja Proyek SBSN.

Nilai Gap Anggaran merupakan persentase kesenjangan antara realisasi dengan rencana penarikan dana dan diukur menggunakan formula berikut:

Selisih Nilai Kinerja Anggaran = Nilai Target (%) – Nilai Realisasi Anggaran (%)

Nilai Gap Anggaran =

Selisih Nilai Kinerja Anggaran

X 100% Nilai Target

Kriteria nilai gap Anggaran adalah sebagai berikut: Gap < 25%

(baik)

Realisasi penyerapan dana proyek telah sesuai atau lebih cepat dari jadwal yang direncanakan

25% ≤ Gap ≤ 75% (kurang)

Realisasi penyerapan dana proyek lebih lambat dari jadwal yang direncanakan

Gap > 75% (rendah)

Realisasi penyerapan dana proyek sangat lambat dari jadwal yang direncanakan

(8)

Lingkup Pemantauan Proyek

Pinjaman dan Hibah

Nilai Komitmen : Pemerintah menandatangani perjanjian Pinjaman dan Hibah (nilai komitmen) dengan

Lender/Donor dalam rangka membiayai proyek untuk jangka waktu tertentu. Penarikan dana Pinjaman dan Hibah dilakukan berdasarkan progres pelaksanaan pekerjaan sesuai kontrak pengadaan barang dan jasa selama masa penarikan.

Outstanding Utang : Pemerintah melakukan pembayaran kembali kepada Lender atas dana Pinjaman yang telah ditarik. Outstanding utang merupakan kewajiban pemerintah yang masih harus dibayar kepada Lender.

Lingkup Pemantauan: Pemantauan dilaksanakan terhadap Pinjaman dan Hibah yang masih berstatus active

dengan batas waktu penarikan sampai dengan periode pelaporan.

Komposisi Nilai Outstanding Pinjaman Luar Negeri

Bagian

(9)

(dalam miliar rupiah)

STATUS COMMITMENT DISBURSEMENT UNDISBURSED REPAYMENT EXCH. RATE

GAP OUTSTANDING ACTIVE 350.468,73 221.259,90 129.208,83 17.938,96 9.290,34 212.611,28 Not Effective - - - - Financing of Programs 92.805,70 83.847,58 8.958,12 588,17 1.561,33 84.820,74 Financing of Projects ACTIVE on going*) 208.071,80 95.503,37 112.568,44 4.864,80 3.466,89 94.105,46 ACTIVE exceed DDL **) 49.591,23 41.908,95 7.682,28 12.486,00 4.262,12 33.685,08 FULLY DISBURSED 737.367,53 737.367,53 - 476.952,85 309.017,92 569.432,60 FULLY PAID 497.013,27 497.013,27 - 868.281,01 371.267,73 - TOTAL 1.584.849,54 1.455.640,71 129.208,83 1.363.172,82 689.575,99 782.043,88 *) Berstatus active dan efektif

**) Berstatus active, efektif dan closing date telah melewati periode pelaporan 30 Juni 2020

Komposisi Nilai Outstanding Pinjaman Dalam Negeri

(dalam triliun rupiah)

STATUS COMMITMENT DISBURSEMENT UNDISBURSED REPAYMENT OUTSTANDING

ACTIVE 11.139,79 5.637,38 5.502,41 232,36 5.405,02 ACTIVE on going*) 10.417,83 4.972,42 5.445,41 - 4.972,42 ACTIVE exceed DDL**) 721,95 664,95 57,00 232,36 432,59 Not Effective - - - - - FULLY DISBURSED 6.819,23 6.819,23 - 2.419,52 4.399,71 FULLY PAID 1.982,22 1.982,22 - 1.982,22 - TOTAL 19.941,24 14.438,83 5.502,41 4.634,10 9.804,73 *) Berstatus active dan efektif

(10)

Komposisi Surat Berharga Negara

Outstanding Surat Berharga Negara per-30 Juni 2020 adalah sebesar ekuivalen Rp.4.472,22 triliun, yang didominasi oleh penerbitan melalui Surat Utang Negara sebesar 80%, dan sisanya dalam bentuk Project Based Sukuk (11,6%) serta SBSN Non PBS sebesar 7,8%.

(dalam triliun rupiah)

INSTRUMEN OUTSTANDING

Surat Utang Negara 3.604,54

Surat Berharga Syariah Negara 867,68

Project Based SUKUK (PBS) 519,13

SBSN Non PBS 348,56

(11)

Pinjaman Luar Negeri

Analisis Pinjaman Luar Negeri

Pembiayaan melalui pinjaman semakin menurun seiring dengan meningkatnya instrumen Surat Berharga Negara sebagai sumber utama pembiayaan APBN. Pada dasarnya, prinsip utama utang yang berasal dari pinjaman baik pinjaman dalam negeri maupun pinjaman luar negeri ialah tidak disertai ikatan politis dan tidak memiliki muatan yang dapat mengganggu stabilitas keamanan negara. Selain digunakan untuk pembiayaan defisit, pinjaman luar negeri digunakan untuk membiayai kegiatan prioritas Kementerian/Lembaga, mengelola portofolio utang dan dapat juga diteruspinjamkan/diterushibahkan kepada pemda/BUMN/ BUMD.

Bila dibandingkan dengan instrumen pembiayaan lainnya, pinjaman luar negeri terutama yang berasal dari official creditor (ODA/concessional) memiliki masa pinjaman (maturity) yang relatif lebih lama, tingkat bunga yang lebih rendah, dan tidak terbatas hanya untuk membiayai kegiatan/proyek tapi dapat juga digunakan untuk pembiayaan program. Akan tetapi, karena menggunakan valuta asing, pinjaman luar negeri memiliki risiko selisih nilai tukar. Disamping itu proses penarikan pinjaman luar negeri pun harus mendapat persetujuan terlebih dulu dari lender.

Klasifikasi pinjaman luar negeri menurut international best practices dibagi berdasarkan lender category, creditor types, dan credit terms.

Klasifikasi menurut lender category dibagi menjadi official creditor dan private creditor. Creditor type mengklasifikasikan pinjaman luar negeri menjadi pinjaman dari creditor bilateral, multilateral, commercial bank, suppliers/company, dan bond holders. Sedangkan klasifikasi menurut credit terms membagi pinjaman luar negeri menjadi pinjaman lunak dan komersial (ODA/Non-ODA untuk bilateral, dan concessional/non-concessional untuk multilateral) serta pinjaman komersial (market/commercial terms).

Pinjaman luar negeri menggunakan mata uang asing sehingga sangat dipengaruhi oleh kurs valuta asing. Beberapa contoh valuta asing yang digunakan antara lain USD, EUR, Arab Currency Unit (ACU), JPY, dan KRW.

Lender Category Creditor Type Creditor Terms

Official Creditors Bilateral ODA (lunak)

Non-ODA (komersial)

Bagian

III

(12)

Multilateral Concessional (lunak)

Non-Concessional (komersial)

Private Creditors

Commercial Bank/Other-Financial Institution

Commercial / Market Terms Suppliers / Companies / Non-Bank

Bond Holders

Nilai Komitmen Pinjaman Luar Negeri Aktif Berdasarkan Negara/Lembaga Pemberi Pinjaman

Pemberi pinjaman luar negeri aktif terbesar saat ini berasal dari Negara Jepang, International Bank for Reconstruction and Development (IBRD) dan Asian Development Bank (ADB). Saat ini terdapat 21 negara/organisasi lender yang memberikan pinjaman luar negeri aktif kepada pemerintah Indonesia.

(dalam juta USD)

NO LENDER COUNTRY/ ORGANIZATION AMOUNT

COMMITMENT DISBURSEMENT UNDISBURSED [1] [2] [3] [4] [5] = [3] - [4]

1 JAPAN 6.937,25 2.046,59 4.890,66 2 I B R D 4.700,08 1.584,78 3.115,30 3 A D B 3.759,78 1.285,15 2.474,62 4 UNITED STATES OF AMERICA 1.388,88 303,55 1.085,33 5 REPUBLIC OF KOREA 1.338,87 1.002,71 336,15

6 I D B 1.124,02 521,00 603,02

7 FRANCE 876,32 383,11 493,21 8 AIIB 691,50 163,33 528,17 9 CHINA 680,06 533,21 146,85

(13)

NO LENDER COUNTRY/ ORGANIZATION AMOUNT

COMMITMENT DISBURSEMENT UNDISBURSED [1] [2] [3] [4] [5] = [3] - [4] 10 GERMANY 531,82 126,27 405,56 11 SINGAPORE 454,48 207,51 246,97 12 HONG KONG 338,24 135,18 203,06 13 I F A D 283,85 24,20 259,65 14 NETHERLANDS 187,72 171,16 16,56 15 CZECHIA 130,47 93,70 36,77 16 SAUDI ARABIA 110,57 110,57 17 NORWAY 101,66 92,05 9,61 18 ITALY 81,13 41,25 39,88 19 AUSTRIA 63,01 40,42 22,59 20 HUNGARY 36,44 36,44 0,00 21 SWITZERLAND 26,69 24,00 2,69 TOTAL 23.842,85 8.815,61 15.027,24 Menggunakan nilai tukar per-30 Juni 2020

Nilai Komitmen Pinjaman Luar Negeri Aktif Berdasarkan Kementerian/Lembaga

Nilai Pinjaman Luar Negeri undisbursed (belum ditarik) adalah sebesar $15.027,24 juta yang tersebar pada 24 Kementerian Negara/Lembaga dengan porsi terbesar berada pada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Pertahanan, Kementerian Keuangan, dan Kementerian Perhubungan.

(14)

(dalam juta USD)

Menggunakan nilai tukar per-30 Juni 2020

COMMITMENT DISBURSEMENT UNDISBURSED

[1] [2] [3] [4] [5] = [3] - [4]

1 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT 7.871,87 2.147,78 5.724,09 2 KEMENTERIAN PERTAHANAN 4.332,32 2.096,44 2.235,87 3 KEMENTERIAN KEUANGAN 2.869,17 1.728,20 1.140,97 4 KEMENTERIAN PERHUBUNGAN 2.778,78 1.148,30 1.630,48 5 PT PERUSAHAAN LISTRIK NEGARA 1.677,06 483,66 1.193,40 6 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 716,38 252,41 463,96 7 KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA 530,10 286,52 243,58 8 KEMENTERIAN AGAMA 429,34 74,49 354,85 9 KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA 400,00 32,40 367,60 10 PT SARANA MULTI INFRASTRUKTUR 400,00 107,79 292,21 11 KEMENTERIAN DALAM NEGERI 300,00 300,00 12 PT PERTAMINA 250,39 103,72 146,68 13 KEMENTERIAN PERTANIAN 215,61 10,06 205,56 14 KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG/BPN 200,00 11,86 188,14 15 KEMENTERIAN SOSIAL 200,00 120,80 79,20 16 KEMENTERIAN KESEHATAN 150,00 37,50 112,50 17 BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA 143,35 143,35 18 BADAN PENGAWASAN KEUANGAN DAN PEMBANGUNAN 90,00 90,00 19 KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI 80,00 66,95 13,05 20 KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL 65,69 48,60 17,10 21 BADAN PENGUSAHAAN KAWASAN PERDAGANGAN BEBAS DAN PELABUHAN BEBAS BATAM 47,96 29,33 18,63 22 LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA 47,38 28,80 18,58 23 KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL DAN TRANSMIGRASI 33,51 33,51 24 KEMENTERIAN KETENAGAKERJAAN 13,94 13,94

TOTAL 23.842,85 8.815,61 15.027,24

(15)

Belanja Kementerian/Lembaga dengan Sumber Dana Pinjaman Luar Negeri

Realisasi belanja Kementerian Negara/Lembaga dengan menggunakan pembiayaan Pinjaman Luar Negeri tahun 2020 sampai dengan bulan Juni 2020 adalah sebesar Rp6.125,2 miliar atau 22,88% dari total pagu. Persentase penyerapan tertinggi dilakukan oleh Kementerian Pertanian sebesar 108,66% dan Kementerian Agama sebesar 90,18%.

Realisasi Belanja Pinjaman Luar Negeri TA 2020 per-Kementerian Negara/Lembaga Per-30 Juni 2020

(dalam miliar Rupiah)

Nama Executing Agency Pagu 2020 Total Belanja %

(1) (2) (3) (4)=(3)/(2)

K/L 22,182.74 5,075.45 22.88

Badan Informasi Geospasial 91.12 - 0.00

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika 274.28 - 0.00 Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan 7.30 4.58 62.79

BP Batam 188.88 38.43 20.35

Kementerian Agama 308.91 278.58 90.18

Kementerian Agraria dan Tata Ruang 667.12 254.98 38.22

Kementerian Dalam Negeri 108.79 - 0.00

Kementerian Desa, PDTT 107.90 - 0.00

Kementerian Kesehatan 232.98 164.85 70.76

Kementerian Ketenagakerjaan 90.19 - 0.00

Kementerian Pariwisata 17.50 - 0.00

Kementerian Pekerjaan Umum dan PERA 5,078.33 1,361.86 26.82

Kementerian Perhubungan 2,936.97 615.42 20.95

Kementerian Pertahanan 9,050.22 1,815.46 20.06

Kementerian Pertanian 96.72 105.09 108.66

Kementerian PPN/Bappenas 141.02 32.81 23.26

Kementerian Riset Teknologi dan Dikti 862.78 17.83 2.07

Kepolisian RI 1,801.68 367.33 20.39

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 120.05 18.22 15.18

On Granting 401.67 - 0.00

Kementerian Keuangan c.q. Dit. PTNDP 401.67 - 0.00

On Lending 4,182.06 1,049.74 0.00 Provinsi DKI 260.15 130.98 50.35 PT Pertamina 200.00 - 0.00 PT PLN 1,545.90 918.77 59.43 PT SMI 2,176.00 - 0.00 Grand Total 26,766.47 6,125.19 22.88

Nilai pagu merupakan pagu APBN/hasil Trilateral Meeting (TM), sedangkan nilai belanja diolah dari aplikasi OM- SPAN.

(16)

Realisasi belanja menggunakan sumber dana Pinjaman Luar Negeri pada triwulan II 2020 di dominasi oleh Belanja Modal (56%), Belanja Barang dan Jasa (25%) dan Pengeluaran Pembiayaan dalam rangka penerusan pinjaman kepada daerah dan BUMN (18%).

Untuk profil belanja dengan cara penarikan Rekening Khusus, porsi tertinggi digunakan untuk Belanja Barang dan Jasa sebesar 75,7% dan belanja modal 19,3%. Komponen terbesar belanja dengan cara penarikan ini adalah untuk adalah untuk Belanja Jasa Konsultan dan Belanja Barang untuk Bantuan Lainnya yang Memiliki Karakteristik Bantuan Pemerintah.

Sedangkan belanja dengan cara tarik Pembayaran Langsung dan L/C, sebagian besar digunakan untuk membiayai pengeluaran belanja modal yaitu sebesar 64 % dan Pengeluaran Pembiayaan (untuk penerusan pinjaman luar negeri kepda BUMN dan derah) sebesar 21,9%. Pada belanja Non Reksus ini, porsi belanja terbesar digunakan untuk belanja modal peralatan dan mesin.

Realisasi Belanja Pinjaman Luar Negeri TA 2020 per-Akun Per-30 Juni 2020

(dalam miliar Rupiah) Kode

Akun Nama Akun

Rekening Khusus

Pembayaran

Langsung dan L/C Total %

52 BELANJA BARANG DAN JASA 881.9 620.0 1,501.9 25%

53 BELANJA MODAL 224.2 3,175.5 3,399.7 56%

56 BELANJA HIBAH 58.2 77.1 135.3 2%

72 PENGELUARAN PEMBIAYAAN - 1,088.4 1,088.4 18%

TOTAL 1,164.3 4,961.0 6,125.2 100%

Proporsi Jumlah Kegiatan yang Dibiayai Melalui Pinjaman Luar Negeri per-Sektor

Pinjaman Luar Negeri sebagian besar digunakan ditujukan untuk membiayai kegiatan pada sektor “Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib”, “Konstruksi”, “Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,

Limbah dan Daur Ulang”,

“Pengadaan Listrik, Gas, Uap/Air Panas dan Udara Dingin” dan “Jasa Pendidikan”.

Pinjaman kegiatan pada sektor

“Administrasi Pemerintah,

Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib” sebagian besar (93%)

digunakan untuk membiayai

kegiatan di Kementerian

Pertahanan dan Kepolisian RI. Sedangkan pada sektor konstruksi,

pembiayaan digunakan untuk

pembangunan infrastruktur (jalan, bendungan, pengendalian bencana dan sebagainya) oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

(17)

Pinjaman Dalam Negeri

Analisis Pinjaman Dalam Negeri

Pinjaman dalam negeri digunakan untuk kegiatan tertentu kementerian/lembaga dalam rangka pemberdayaan industri dalam negeri dan pembangunan infrastruktur serta untuk membiayai kegiatan pemda/BUMN/BUMD dalam rangka pembangunan infrastruktur untuk pelayanan umum dan kegiatan investasi yang menghasilkan penerimaan.

Saat ini, pinjaman dalam negeri hanya dapat digunakan untuk membiayai kegiatan, dan baru terbatas pada pengadaan Alutsista TNI dan Alut Polri. Selain itu, berbeda dengan pinjaman luar negeri yang bervariasi tingkat biaya pinjamannya (tergantung jenisnya), pinjaman dalam negeri bersifat komersial (pengenaan tingkat bunganya berdasarkan JIBOR) namun tanpa tambahan biaya lainnya seperti management/insurance/ commitment fee (included). Selain itu, karena menggunakan mata uang dalam negeri, pinjaman dalam negeri tidak terpengaruh oleh risiko selisih nilai tukar.

Sesuai dengan aturan perundangan, pinjaman dalam negeri bisa berasal dari Badan Usaha Milik Negara, Pemerintah Daerah dan Perusahaan Daerah. Sampai dengan tahun 2020, kreditur yang pernah memberikan pinjaman dalam negeri terdiri dari 6 BUMN/BUMD yaitu Bank Mandiri, BNI, BRI, Bank Jabar dan Banten, Bank DKI, serta Bank Jateng.

Nilai Komitmen Pinjaman Dalam Negeri Berdasarkan Lender

Pembiayaan kegiatan melalui Pinjaman Dalam Negeri aktif saat ini diperoleh dari PT Bank Mandiri dan PT Bank Negara Indonesia dengan jumlah total komitmen pinjaman sebesar Rp11.171,34 miliar.

Bagian

IV

(18)

(dalam miliar rupiah)

NO LENDER AMOUNT

COMMITMENT DISBURSEMENT UNDISBURSED [1] [2] [3] [4] [5] = [3] - [4]

1 PT. BANK MANDIRI (PERSERO), Tbk 7.414,99 3.572,17 3.842,82 2 PT. BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO), Tbk 3.756,35 1.400,25 2.356,10 TOTAL 11.171,34 4.972,42 6.198,91

Nilai Komitmen Pinjaman Dalam Negeri Berdasarkan Kementerian/Lembaga

Nilai Pinjaman Dalam Negeri undisbursed (belum ditarik) adalah sebesar Rp6.198,91 miliar rupiah untuk membiayai kegiatan pada Kementerian Pertahanan dan Kepolisian RI.

(dalam miliar rupiah)

NO KEMENTERIAN/LEMBAGA AMOUNT

COMMITMENT DISBURSEMENT UNDISBURSED [1] [2] [3] [4] [5] = [3] - [4]

1 KEMENTERIAN PERTAHANAN 9.629,57 3.898,97 5.730,60 2 KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA 1.541,77 1.073,45 468,32 TOTAL 11.171,33 4.972,42 6.198,91

Belanja Kementerian/Lembaga dengan Sumber Dana Pinjaman Dalam Negeri

Total realisasi belanja Pinjaman Dalam Negeri (PDN) tahun 2020 sampai dengan triwulan II adalah sebesar Rp239 miliar atau 8,05% dari total pagu. Pinjaman Dalam Negeri tersebut dilakukan untuk membiayai kegiatan yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertahanan dan Kepolisian RI.

(dalam miliar Rupiah)

Nama Executing Agency Pagu 2020 Total Belanja %

(19)

K/L 2.974,13 239,00 8,05

Kementerian Pertahanan 2.469,15 239,00 9,69

(20)

Hibah Luar Negeri

Analisis Hibah

Dalam struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), penerimaan hibah merupakan salah satu komponen dalam pendapatan Negara. Menurut sumbernya, hibah dapat berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Sementara menurut jenisnya, hibah dibedakan menjadi hibah terencana dan hibah langsung. Bentuk hibah dapat berupa uang tunai, uang untuk membiayai kegiatan, barang/jasa, serta surat berharga.

Hibah merupakan penerimaan yang tidak perlu dibayar kembali. Namun demikian, hibah yang diterima oleh pemerintah harus memenuhi kriteria antara lain tidak disertai ikatan politik dan tidak memiliki muatan yang dapat mengganggu stabilitas keamanan Negara. Hibah yang diterima juga harus dapat mendukung tugas dan fungsi kementerian/lembaga penerima hibah, atau dapat juga digunakan untuk mendukung penanggulangan bencana/keadaan darurat.

Nilai Komitmen Hibah Luar Negeri Berdasarkan Negara/Lembaga Donor

Bagian

(21)

(dalam juta USD)

NO LENDER AMOUNT

COMMITMENT DISBURSEMENT UNDISBURSED

[1] [2] [3] [4] [5] = [3] - [4]

1 AUSTRALIA 1.058,93 399,90 659,03

2 INTERNATIONAL ORGANIZATION 967,60 501,07 466,53

3 UNITED STATES OF AMERICA 538,75 254,62 284,14

4 GERMANY 258,94 67,53 191,40 5 JAPAN 129,76 15,26 114,49 6 I B R D 76,01 40,19 35,82 7 A D B 54,45 6,19 48,26 8 MULTI DONOR 46,32 21,04 25,28 9 NEW ZEALAND 30,06 1,79 28,27

10 UNITED KINGDOM OF GREAT BRITAIN & NORTHERN

IRELAND 20,95 0,09 20,86 11 CANADA 19,48 5,44 14,03 12 REPUBLIC OF KOREA 19,09 0,24 18,84 13 I F A D 10,88 3,20 7,68 14 CHINA 5,03 0,16 4,87 15 SWITZERLAND 4,21 2,76 1,45 16 NETHERLANDS 3,88 1,23 2,66 17 INDONESIA 2,76 0,55 2,21 18 I D B 0,50 0,50 19 SINGAPORE 0,49 0,17 0,31

20 TAIWAN, PROVINCE OF CHINA 0,02 0,02

21 FRANCE 0,00 0,00

TOTAL 3.248,09 1.321,43 1.926,66

(22)

(dalam juta USD)

NO KEMENTERIAN/LEMBAGA AMOUNT

COMMITMENT DISBURSEMENT UNDISBURSED

[1] [2] [3] [4] [5] = [3] - [4]

1 KEMENTERIAN KESEHATAN 812,33 459,91 352,42

2 KEMENTERIAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL 812,02 221,50 590,52 3 KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN 248,80 82,97 165,83

4 KEMENTERIAN KEUANGAN 212,59 128,59 84,00

5 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT 208,18 109,97 98,21

6 KEMENTERIAN SEKRETARIAT NEGARA 206,48 114,17 92,31

7 KEMENTERIAN PERTANIAN 134,66 80,78 53,88

8 BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA 115,96 34,75 81,21 9 KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEREKONOMIAN 99,75 11,25 88,49 10 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA RI 70,94 20,25 50,68

11 KEMENTERIAN PERHUBUNGAN 60,48 10,74 49,74

12 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 55,84 33,14 22,70

13 KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN 50,89 1,51 49,39

14 KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL 48,99 0,00 48,99

15 KEMENTERIAN DALAM NEGERI 35,08 0,88 34,20

16 KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA 18,47 18,47

17 LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA 9,55 0,15 9,40

18 KEMENTERIAN PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN

PERLINDUNGAN ANAK 7,09 1,15 5,94

19 BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA 6,09 0,21 5,88

20 KEMENTERIAN SOSIAL 6,06 1,87 4,19

21 KEMENTERIAN PERINDUSTRIAN 5,66 3,13 2,53

22 BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN 4,94 0,08 4,86

23 KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI 4,90 4,90

24 KOMISI PEMBERANTASAN KORUPSI 3,37 0,06 3,31

25 KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG PEMBANGUNAN

MANUSIA DAN KEBUDAYAAN 2,36 1,47 0,89

26 BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA

NASIONAL 1,73 1,37 0,36

27 KEMENTERIAN DESA, PEMBANGUNAN DAERAH TERTINGGAL

DAN TRANSMIGRASI 1,39 1,39

28 KOMISI NASIONAL HAK ASASI MANUSIA 1,08 0,46 0,62

29 BADAN PUSAT STATISTIK 0,74 0,74

30 KEMENTERIAN PERDAGANGAN 0,73 0,73

31 BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL 0,47 0,14 0,33

32 LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA 0,46 0,17 0,30

33 BADAN PENGKAJIAN DAN PENERAPAN TEKNOLOGI 0,00 0,00 0,00

TOTAL 3.248,09 1.321,43 1.926,66

(23)

Hibah Dalam Negeri

Nilai Komitmen Hibah Dalam Negeri Berdasarkan Lembaga Donor

Pemberi hibah dalam negeri terbesar saat ini adalah Pemerintah Daerah (yang terdiri dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota) yang nilainya mencapai Rp.15.631,7 miliar (97,1%).

(dalam miliar rupiah)

NO Donor AMOUNT

COMMITMENT DISBURSEMENT UNDISBURSED

[1] [2] [3] [4] [5] = [3] - [4]

1 PEMDA 16.518,59 2.474,35 14.044,24

2 PENY. UNDIAN/ MASY 374,72 374,72

3 CORPORATIONS 112,24 12,64 99,60 4 OTHER ORGANIZATIONS 68,37 9,54 58,83 5 INDIVIDUALS 31,70 22,59 9,10 6 BUMN/ BUMD 9,66 4,18 5,48 7 BANK INDONESIA 1,22 0,61 0,61 8 KEMENTERIAN/ LEMBAGA 0,78 0,78 TOTAL 17.117,28 2.899,41 14.217,86

Bagian

VI

(24)

Nilai komitmen HDN Berdasarkan Kementerian/Lembaga

Nilai komitmen Hibah Dalam Negeri terbesar diterima oleh Komisi Pemilihan Umum, yang sebagian besar diterima dari Pemerintah Daerah dan digunakan untuk operasional penyelenggaraan pemilihan umum.

(dalam miliar rupiah)

NO KEMENTERIAN/LEMBAGA AMOUNT

COMMITMENT DISBURSEMENT UNDISBURSED

[1] [2] [3] [4] [5] = [3] - [4]

1 KOMISI PEMILIHAN UMUM 9.934,42 2.044,78 7.889,63

2 BADAN PENGAWAS PEMILIHAN UMUM 3.381,15 182,71 3.198,44 3 KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA 1.713,32 95,41 1.617,91

4 KEMENTERIAN AGAMA 697,64 26,56 671,08

5 KEMENTERIAN PERTAHANAN 595,05 50,49 544,56

6 KEMENTERIAN SOSIAL 374,72 374,72

7 KEMENTERIAN AGRARIA DAN TATA RUANG/BPN 114,43 8,09 106,33

8 KEJAKSAAN REPUBLIK INDONESIA 76,62 61,54 15,07

9 BADAN NASIONAL PENANGGULANGAN BENCANA 62,01 62,01

10 KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP DAN KEHUTANAN 36,34 4,22 32,12 11 BADAN KEPENDUDUKAN DAN KELUARGA BERENCANA

NASIONAL 33,09 0,09 33,00

12 KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI 30,20 20,00 10,20

13 BADAN NARKOTIKA NASIONAL 26,09 10,01 16,08

14 MAHKAMAH AGUNG 12,62 5,77 6,85

15 KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 6,42 6,42

16 KEMENTERIAN PERHUBUNGAN 6,06 5,06 1,00

17 KEMENTERIAN HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA RI 5,12 3,85 1,26

18 BADAN METEOROLOGI, KLIMATOLOGI DAN GEOFISIKA 3,45 3,45

19 KEMENTERIAN PEKERJAAN UMUM DAN PERUMAHAN RAKYAT 3,17 3,17

(25)

NO KEMENTERIAN/LEMBAGA AMOUNT

COMMITMENT DISBURSEMENT UNDISBURSED

[1] [2] [3] [4] [5] = [3] - [4]

21 KEMENTERIAN KEUANGAN 2,03 2,03

22 LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA 0,43 0,43

23 BADAN PUSAT STATISTIK 0,29 0,29

24 BADAN PENGAWAS OBAT DAN MAKANAN 0,09 0,09

25 LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA 0,08 0,01 0,07

26 KEMENTERIAN PERTANIAN 0,07 0,07

27 KEMENTERIAN KESEHATAN 0,07 0,07

(26)

Project Based Sukuk

Nilai Komitmen : Pemerintah menerbitkan Surat Berharga Negara (SUN dan SBSN/Sukuk) untuk menutup defisit APBN. Sebagian dari penerbitan SBSN/Sukuk digunakan untuk membiayai proyek (nilai komitmen) melalui mekanisme Rekening Khusus. Pengisian Rekening Khusus dilakukan sesuai Rencana Penarikan Dana (RPD) yang disampaikan oleh Pemrakarsa Proyek. Pembiayaan proyek ini bersifat tahunan.

Outstanding Utang : Atas penerbitan Surat Berharga Negara, Pemerintah mempunyai kewajiban untuk melunasi utang kepada investor pada saat jatuh tempo.

Lingkup Pemantauan : Pemantauan dilaksanakan terhadap pembiayaan:

1. Kontrak tahun jamak yang belum selesai s.d tahun 2019

2. Kontrak tahun tunggal tahun 2018 yang diperpanjang 90 hari kalender

3. Kontrak tahun tunggal dan tahun jamak tahun 2019

Realisasi Project Financing Sukuk T.A 2013 – 2019

(dalam miliar rupiah)

TAHUN KEMENTERIAN /LEMBAGA PAGU

DIPA REALISASI % 2013 KEMENHUB 800 777.8 97.2 TOTAL 800 777.8 97.2 2014 KEMENHUB 1,371.00 960.49 70.11 KEMENAG 200 195.94 97.97 TOTAL 1,571.00 1,156.43 73.61 2015 KEMENHUB 2,924.50 1,010.81 34.56 KEMENAG 675.33 512.42 75.88 KEMEN PUPR 3,535.80 3,327.75 94.12 TOTAL 7,135.63 4,850.98 67.98 2016 KEMENHUB 4,983.00 2,458.83 49.34 KEMENAG 1,467.90 1,377.19 93.82 KEMEN PUPR 7,226.30 6,097.27 84.38 TOTAL 13,677.20 9,929.36 72.6 2017 KEMENHUB 9,750.76 8,098.69 83.06 KEMENAG 1,861.59 1,658.34 89.08 KEMEN PUPR 8,548.90 7,269.30 85.03 TOTAL 20,161.25 17,026.33 84.45

Bagian

VII

(27)

TAHUN KEMENTERIAN /LEMBAGA PAGU DIPA REALISASI % 2018 KEMENHUB 8,377.57 5,900.00 70.43 KEMENAG 2,355.05 2,032.56 86.31 KEMEN LHK 51.40 51.05 99.33 KEMEN PUPR 13,715.71 11,487.28 83.75 KEMEN RISTEKDIKTI 314.63 295.92 94.05 LIPI 120 118.37 98.64 BSN 50.00 49.88 99.76 TOTAL 24,984.37 19,935.07 79.79 2019 KEMEN PUPR 19,920.40 15,925.04 79.94 KEMENHUB 9,652.87 6,723.22 69.65 KEMENAG 2,990.72 2,201.59 73.61 KEMEN RISTEKDIKTI 506.15 498.39 98.47 LIPI 240.00 222,54 92.72 KEMEN LHK 106.65 105,76 99.17 BSN 50.12 50.12 100 TOTAL 33,466.90 25,726.66 76.87

Pembiayaan Project Based Sukuk Tahun 2020

(dalam miliar rupiah)

NO KEMENTERIAN/

LEMBAGA PEMRAKARSA PROYEK

PAGU DIPA

NILAI BLOKIR

NILAI

DIPA REALISASI SISA DIPA

[1] [2] [3] [4] [5] [6] = [5] - [4] [7] [8] = [6] - [7]

1 BSN BADAN STANDARDISASI NASIONAL 70,00 70,00 7,01 62,99 2

KEMENAG

BADAN PENYELENGGARA JAMINAN

PRODUK HALAL 83,82 83,82 83,82

DITJEN BIMBINGAN MASYARAKAT

(28)

DITJEN PENDIDIKAN ISLAM 2.567,14 2.567,14 549,73 2.017,41

DITJEN PENYELENGGARAAN HAJI DAN

UMRAH 503,45 503,45 66,39 437,07

3

KEMEN LHK

BADAN PENYULUHAN DAN

PENGEMBANGAN SDM 12,38 12,38 12,38

DITJEN KONSERVASI SDA DAN

EKOSISTEM 124,51 124,51 24,73 99,79

BADAN PENELITIAN,

PENGEMBANGAN DAN INOVASI 101,09 101,09 0,93 100,16 4 KEMEN PUPR DITJEN BINA MARGA 5.598,15 5.598,15 2.070,02 3.528,13 DITJEN SUMBER DAYA AIR 2.013,19 2.013,19 890,80 1.122,40 5 KEMENHUB DITJEN PERHUBUNGAN DARAT 122,46 122,46 20,30 102,15 DITJEN PERHUBUNGAN LAUT 208,58 208,58 72,70 135,88 DITJEN PERHUBUNGAN UDARA 791,20 791,20 71,87 719,33 DITJEN PERKERETAAPIAN 8.603,52 8.603,52 1.120,61 7.482,91 6 KEMENDIKBUD DITJEN PENDIDIKAN TINGGI 870,16 870,16 168,36 701,81 DITJEN PENDIDIKAN VOKASI 632,00 632,00 71,19 560,81 7

LIPI

LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN

INDONESIA 508,70 508,70 18,85 489,86

8 LAPAN LAPAN 125,00 125,00 2,34 122,66

(29)

Permasalahan, Solusi, dan

Mitigasi

Pinjaman

Kendala

Rendahnya penyerapan pinjaman disebabkan kendala yang terjadi baik pada saat tahap perencanaan maupun pada tahap pelaksanaan proyek/kegiatan. Permasalahan tersebut antara lain:

1. Permasalahan pada tahap perencanaan antara lain meliputi pemenuhan persyaratan dalam rangka pengefektifan pinjaman, kesiapan daerah pelaksana kegiatan, dan proses penyusunan dokumen anggaran (DIPA).

2. Permasalahan dalam tahap pelaksanaan meliputi proses lelang pengadaan yang cukup lama, kendala dalam proses perizinan oleh instansi terkait, pembebasan lahan, keterlambatan penyampaian kelengkapan pencairan tagihan, kendala non-teknis berupa cuaca, serta adanya tuntutan hukum/penyelesaian sengketa dengan masyarakat di pengadilan.

Rekomendasi Solusi dan Mitigasi

Untuk menghindari keterlambatan pencairan dana pinjaman karena kendala pemenuhan persyaratan efektif, verifikasi dan koordinasi tentang pre-project activities termasuk supervisinya harus dilakukan dengan cermat, pemantauan terhadap pemenuhan kriteria kesiapan kegiatan (readiness criteria) perlu dilakukan sedini mungkin sebagaimana telah diamanatkan oleh PP 10 Tahun 2011. Penilaian atas pemenuhan tersebut hendaknya diikuti

verifikasi “on-paper” dan “on the field” dan terus menerus dilakukan supervisi sampai pinjaman dinyatakan

efektif.

Perencanaan proyek dengan baik termasuk cost projection yang akurat dapat mengurangi risiko revisi DIPA. Diseminasi informasi dan koordinasi yang efektif dengan unit yang terkait terutama berkenaan dengan aturan dan prosedur pengajuan ataupun perubahan anggaran dapat memperkecil kemungkinan terjadi masalah yang berujung dengan rendahnya penyerapan.

Permasalahan dalam proses pengadaan barang dan jasa memberikan efek terbesar bagi keterlambatan pelaksanaan dan juga penyerapan dana pinjaman. Hal ini dapat diminimalkan misalnya melalui upaya penyusunan procurement plan secara lebih cermat seraya mengidentifikasikan potensi permasalahan. Pemahaman yang baik dan juga penerapan aturan pengadaan barang/jasa mutlak perlu untuk menghindari permasalahan pengadaan seperti proses tender ulang akibat kekurang lengkapan dokumen administrasi. Penunjukan procurement officer yang bersertifikasi dapat juga diterapkan untuk mengurangi risiko keterlambatan di tahapan ini. Upaya terobosan seperti penunjukan panitia lelang sebagai bagian dari pemenuhan readiness criteria bisa dijadikan salah satu alternatif untuk mengatasi permasalahan ini.

Permasalahan yang berkenaan dengan pencairan dana dapat dihindari salah satunya dengan peningkatan pemahaman akan mekanisme dan persyaratan pencairan yang ditetapkan oleh Lender. Upaya lain yang dapat ditempuh ialah rekonsiliasi secara rutin antara pelaksana kegiatan di daerah dengan pihak pengelola di pusat

Bagian

VIII

(30)

untuk mengumpulkan, mencocokkan dan melakukan verifikasi dokumen/bukti pengeluaran guna mempercepat proses penagihan kepada lender.

Untuk mengurangi keterlambatan penyerapan pinjaman, beberapa hal yang dapat dilakukan untuk memitigasinya antara lain:

1. Pemantauan terhadap pemenuhan kriteria kesiapan kegiatan sampai dengan efektif-nya pinjaman harus

dilakukan sejak masa persiapan kegiatan, baik itu melalui kegiatan verifikasi “on paper” maupun verifikasi

on the field” untuk menjamin kegiatan yang dibiayai pinjaman benar-benar telah siap dilaksanakan. 2. Penyusunan procurement plan dilakukan dengan cermat sekaligus mengidentifikasikan potensi

permasalahan.

3. Penunjukan procurement officer yang bersertifikasi yang memahami peraturan pengadaan dengan baik untuk mengurangi risiko keterlambatan.

4. Penunjukan panitia lelang sebagai bagian dari pemenuhan kesiapan pelaksanaan kegiatan.

5. Peningkatan pemahaman akan mekanisme dan persyaratan pencairan yang ditetapkan oleh Lender dan kegiatan rekonsiliasi secara terpadu antara pengelola kegiatan di daerah dengan unit Kementerian/Lembaga pengelola kegiatan di pusat.

Hibah

Kendala

Penyebab rendahnya kinerja hibah, antara lain:

1. Hibah yang diterima Kementerian/Lembaga bersifat donor driven sehingga Kementerian/ Lembaga tidak dapat membuat perencanaan yang jelas dan tepat, baik itu mengenai rencana penarikan dana maupun realisasi penarikan atas hibah tersebut.

2. Kebijakan terkait pengelolaan hibah langsung. Hibah yang tidak direncanakan (off budget) atau hibah langsung diterima Kementerian/Lembaga pada saat tahun anggaran berjalan, realisasinya pun tidak dapat ditentukan dengan tepat karena tergantung dari pemberi hibah. Di sisi lain, semua hibah harus segera dilaporkan kepada Kementerian Keuangan cq. DJPPR. Hal ini menyebabkan nilai komitmen hibah meningkat namun realisasinya sangat rendah sehingga hibah langsung menjadi penyumbang mayoritas hibah yang berkategori at-risk.

Rekomendasi Solusi dan Mitigasi

Kementerian/Lembaga harus selektif dalam menerima hibah dari luar negeri. Penilaian tentang layak atau tidaknya suatu hibah diterima harus dilakukan sedini mungkin untuk menghindari hibah yang tidak terlalu mendesak atau bahkan bersifat donor driven. Pada dasarnya hibah merupakan bantuan yang tidak mengikat secara politis dan tidak memiliki muatan yang dapat mengganggu stabilitas keamanan negara. Oleh karena itu prinsip kehati-hatian dan selektif dalam menerima hibah harus dikedepankan.

Pembatasan lingkup pemantauan terhadap hibah yang direncanakan untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi pemantauan dan evaluasi terhadap pengelolaan hibah. Lingkup pemantauan terhadap pengelolaan hibah langsung terlalu luas karena rendahnya tingkat kendali pada Kementerian Keuangan sebagai administrator hibah, mengingat volume dan jumlah hibah langsung yang sangat banyak sehingga menyulitkan proses pemantauan.

Pembentukan suatu tim/panitia seleksi dalam rangka penerimaan hibah pada setiap Kementerian/Lembaga. Tim kerja tersebut bertugas untuk menilai kebutuhan hibah pada unit kerja masing-masing serta studi kelayakan atas

(31)

hibah yang akan diterima oleh Kementerian/Lembaga terkait, sehingga Kementerian/Lembaga dapat menghindari menerima hibah yang tidak terlalu mendesak atau bahkan bersifat donor driven.

Project Based Sukuk (PBS)

Kendala

Hal-hal yang mempengaruhi pelaksanaan proyek dan berakibat pada rendahnya realisasi penyerapan dana PBS antara lain:

1. Pada tahap perencanaan terutama berupa lemahnya sisi perencanaan Kementerian/Lembaga pada saat penyusunan Rencana Penarikan Dana (RPD). Penyusunan RPD yang kurang akurat dapat berpengaruh pada saat evaluasi kinerja pelaksanaan proyek PBS karena kurang dapat menggambarkan kinerja Kementerian/ Lembaga yang sebenarnya.

2. Pada tahap pelaksanaan, kendala yang dihadapi umumnya berupa keterlambatan proses lelang pengadaan sehingga memengaruhi jadwal pelaksanaan fisik pekerjaan. Kendala non-teknis berupa cuaca/iklim juga dapat menghambat kelancaran pelaksanaan pekerjaan fisik proyek.

Solusi dan Mitigasi

Kementerian/Lembaga pelaksana proyek PBS harus meningkatkan akurasi dan konsistensi dalam penyusunan RPD. RPD yang tidak akurat akan menyulitkan pengukuran kinerja PBS yang dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga, karena RPD merupakan alat evaluasi yang utama dalam mengukur kinerja pelaksanaan proyek PBS.

Kementerian/Lembaga pelaksana proyek harus mempersiapkan proses lelang pengadaan sedini mungkin untuk mengantisipasi keterlambatan penyelesaian pekerjaan proyek. Hal ini dapat dilakukan dengan mempersiapkan proses lelang di awal tahun anggaran sehingga keterlambatan pelaksanaan pekerjaan dapat diminimalkan. Kementerian/Lembaga perlu meningkatkan koordinasi dengan kontraktor pelaksana proyek untuk mengurangi risiko keterlambatan pelaksanaan kontrak pekerjaan pembangunan fisik. Koordinasi terkait kelengkapan administrasi dalam rangka pengajuan tagihan oleh kontraktor pelaksana harus lebih ditingkatkan sehingga tidak menghambat realisasi penyerapan dana. Antisipasi terhadap kendala-kendala non-teknis seperti kendala iklim/cuaca maupun geografis juga perlu dilakukan sehingga tidak menghambat progres pekerjaan.

Peningkatan pemahaman Kementerian/Lembaga pelaksana proyek PBS mengenai penyusunan RPD sebagai alat evaluasi yang utama dalam mengukur kinerja pelaksanaan proyek PBS harus dilakukan seiring dengan persiapan proses lelang pengadaan sedini mungkin bahkan sejak awal tahun anggaran untuk mengantisipasi keterlambatan penyelesaian pekerjaan proyek.

(32)

Capaian

NEIGHBORHOOD UPGRADING AND SHELTER PROJECT PHASE 2 (NUSP-2)

Loan Neighborhood Ugrading and Shelter Project Phase 2 (NUSP-2) merupakan pinjaman dari kreditur Asian Development Bank dengan Executing Agency Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat yang ditandatangani pada tanggal 23 April Juli 2014 dan mulai efektif pada tanggal 17 Juli 2014. Nilai total komitmen pinjaman tersebut adalah senilai USD74.400.000. Lokasi pelaksanaan kegiatan ini tersebar di 20 Kota/Kabupaten, 209 Kelurahan serta 3.181,28 Ha areal kumuh. Realisasi Penarikan sampai dengan closing date berakhir adalah sebesar USD71.221.903,7 dengan rincian sebagai berikut:

Nomor

Register Nama Program / Nomor Loan

Rasio Waktu Pelaksanaan Kategori Penyerapan Effective & Closing Date % Alokasi & Penyerapan %

10882601 Neighborhood Upgrading And Shelter Project- Phase 2 (NUSP-2)

17 Juli 2014 24 Juni 2020 100 USD72,320,205.52 USD71,221,903.70 98,5 On/Ahead Schedule

Kegiatan utama dari kegiatan ini adalah sebagai berikut:

• Penguatan kapasitas kelembagaan dalam mengelola pembangunan kota yang berorientasi pada Masyarakat Berpenghasil Rendah

• Peningkatan kualitas infrastruktur di lingkungan permukiman kumuh

• Pembangunan permukiman baru bagi Masyarakat Berpenghasil Rendah

Kegiatan penguatan kapasitas kelembagaan dalam mengelola pembangunan kota yang berorientasi pada Masyarakat Berpenghasil Rendah antara lain: (i) rapat koordinasi teknis dan workshop, (ii) kursus singkat, dan (iii) beasiswa untuk program magister. Seluruh kegiatan ini dimaksudkan sebagai strategi menuju keberlanjutan dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan pemerintah daerah dalam mengelola penanganan kumuh dan mampu mereplikasi kegiatan NUSP-2/program serupa lainnya dengan menggunakan APBD.

Bagian

IX

(33)

Sedangkan kegiatan penguatan peningkatan kualitas infrastruktur di lingkungan permukiman kumuh terdiri dari:

• Peningkatan Kualitas Infrastruktur Skala Lingkungan yaitu dilaksanakan melalui pemberdayaan masyarakat di setiap tahap pembangunan (perencanaan, konstruksi dan pemanfaatan/ pemeliharaan). Sejak TA 2015-2018, 1.040 paket Rencana Kegiatan Masyarakat (RKM) telah dilaksanakan di 20 kota/kabupaten.

• Pekerjaan Skala Kawasan dilaksanakan oleh Satker Kota melalui kontraktor. Konsep kegiatan skala kawasan adalah mengembangkan infrastruktur yang akan memberikan dampak dalam skala yang lebih besar (lebih dari satu kelurahan). Kegiatan skala kawasan diharapkan memiliki keterpaduan dengan kegiatan skala lingkungan dan juga infrastruktur lain yang dibiayai oleh sumber pendanaan lainnya (APBD, APBN, dll)

(34)

Untuk kegiatan Pembangunan permukiman baru bagi Masyarakat Berpenghasil Rendah/New Site Development (NSD) dilaksanakan melalui kolaborasi antara pemerintah daerah (penyediaan lahan siap

bangun), DJCK melalui NUSP-2 (penyediaan

infrastruktur dasar), dan DJPP (penyediaan unit rumah). Seperti disebutkan di dalam DMF, 4 (empat) lokasi telah ditargetkan menjadi lokasi NSD yaitu: NSD Purirano (Kendari), NSD Sampoddo (Palopo), NSD Jatiwangi (Bima) dan NSD Handil Berkat Makmur (Kapuas)

(35)

Daftar Istilah

Active Loan : Pinjaman yang telah ditandatangani dan telah dinyatakan efektif untuk

melakukan penarikan dana (Disbursement) sampai berakhirnya masa laku pinjaman (Closing Date).

Closing Date : Tanggal yang ditentukan dalam loan agreement setelah mana lender melalui pemberitahuan kepada peminjam boleh menghentikan hak peminjam untuk menarik dana dari rekening pinjaman (loan account).

Commitment : Suatu kewajiban yang tegas/kuat untuk menyediakan resources dalam jumlah

tertentu berdasarkan persyaratan keuangan tertentu.

Commitment Fee / Charge : Biaya yang dikenakan untuk tetap menyediakan saldo komitmen pinjaman yang belum ditarik.

Creditor Country : Negara didalam mana kreditur bertempat tinggal.

Date Effective : Tanggal ketika perjanjian pinjaman luar negeri dinyatakan berlaku efektif. Date Effective Limit : Tanggal batas akhir pemenuhan persyaratan efektif suatu pinjaman luar negeri

Date Signed : Tanggal penandatanganan perjanjian pinjaman dan hibah luar negeri.

Disbursement : Penarikan dana pinjaman oleh borrower sesuai kesepakatan yang tertuang

dalam perjanjan pinjaman dan/hibah luar negeri.

Undisbursed : Jumlah dana pinjaman luar negeri yang belum ditarik oleh borrower.

Fully Disbursed : Seluruh jumlah pinjaman yang disepakati telah ditarik oleh borrower.

Fully Paid : Seluruh kewajiban pembayaran pokok pinjaman telah dipenuhi/dilunasi.

Pinjaman Dalam Negeri : Setiap pembiayaan melalui utang yang diperoleh pemerintah dari Pemberi Pinjaman Dalam Negeri yang diikat oleh suatu perjanjian pinjaman dan tidak berbentuk surat berharga negara (non sekuritas) yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu.

Pinjaman Luar Negeri : Setiap penerimaan negara baik dalam bentuk devisa dan/atau devisa yang dirupiahkan, rupiah, maupun dalam bentuk barang dan/atau jasa yang diperoleh dari pemberi pinjaman luar negeri yang harus dibayar kembali dengan persyaratan tertentu.

Pinjaman Multilateral : Pinjaman luar negeri yang berasal dari lembaga multilateral seperti Bank Dunia, ADB, IDB, dan lainnya

Pinjaman Program : Pinjaman luar negeri dalam valuta asing yang dapat dirupiahkan dan digunakan untuk pembiayaan APBN

Pinjaman Proyek : Pinjaman luar negeri yang digunakan untuk membiayai kegiatan pembangunan

tertentu.

Progress Variant : Indikator yang mencerminkan tingkat penyerapan dana pinjaman yang diukur

dari perbandingan antara persentase penarikan pinjaman (disbursed) dengan persentase waktu yang tersedia.

(36)

Disbursement Ratio : Disingkat DR, adalah perbandingan antara realisasi penarikan Pinjaman dan dan/atau Hibah dengan komitmen nilai bersihnya.

Outstanding : kewajiban pemerintah yang masih harus dibayar kepada Lender.

Repayment : Pembayaran kembali kepada Lender atas dana Pinjaman yang telah ditarik

Availability Period : Periode yang tersedia untuk penarikan Pinjaman dan/atau Hibah, yaitu periode antara tanggal efektif Pinjaman dan/atau Hibah (effective date) sampai dengan tanggal penutupan Pinjaman dan/atau Hibah (closing date).

Elapse Time Ratio : Disingkat ETR, adalah perbandingan antara periode yang telah dilampaui mulai effective date dengan periode penarikan Pinjaman dan/atau Hibah (availability period).

DMFAS : Debt Management and Financial Analysis System, adalah perangkat lunak

pengelolaan utang pemerintah yang dibangun oleh UNCTAD.

Hibah : Setiap penerimaan negara baik dalam bentuk devisa maupun barang/jasa yang

diperoleh dari pemberi hibah yang tidak perlu dibayar kembali.

Management Fee : Biaya yang dibebankan kepada borrower atas pengelolaan pinjaman yang biasanya dikenakan sekali pada saat penandatanganan loan agreement.

NoD : Notice of Disbursement merupakan dokumen bukti penarikan dana dari lender.

Withdrawal application : Permintaan penarikan dana yang diajukan oleh borrower/recipient kepada Pemberi Pinjaman.

Executing Agency : Disingkat EA, adalah Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, dan Badan Usaha Milik Negara yang menjadi penanggung jawab secara keseluruhan atas pelaksanaan kegiatan yang dibiayai dari Pinjaman dan/atau Hibah.

Disbursement Plan : Dokumen rencana penarikan dana Pinjaman dan/atau Hibah yang disusun berdasarkan rencana kerja kegiatan.

Condition Precedent of Effectiveness: Persyaratan-persyaratan yang disepakati oleh pemberi Pinjaman dan/atau Hibah dengan penerima Pinjaman dan/atau Hibah untuk menentukan berlaku efektifnya suatu Pinjaman dan/atau Hibah.

Surat Berharga Syariah Negara: Disingkat SBSN, atau dapat disebut Sukuk Negara, adalah surat berharga negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap Aset SBSN, baik dalam mata uang rupiah maupun valuta asing.

Pemrakarsa Proyek : KementerianNegara/Lembaga yang menyampaikan usulan Proyek.

Proyek : Kegiatan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang tentang Anggaran

Pendapatan dan Belanja Negara yang merupakan bagian dari program yang dilaksanakan oleh Kementerian/Lembaga yang pembiayaannya bersumber dari penerbitan SBSN dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

Rencana Penarikan Dana : Dokumen yang memuat proyeksi penarikan dana Proyek selama masa pelaksanaan Proyek yang disusun oleh Pemrakarsa Proyek.

Referensi

Dokumen terkait