Rdtr Wp 4 Kab. Bekasi

72 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN

DAN SOSIALISASI RDTR WILAYAH

PENGEMBANGAN IV (ZONA UTARA),

KABUPATEN BEKASI

27 September 2010

(2)

Pokok-Pokok Pembahasan

Pendahuluan (Latar belakang, Maksud dan

tujuan, Ruang lingkup)

RDTR WP IV, mencakup :

Tujuan Pengembangan WP IV

Rencana Struktur Ruang

Rencana Blok Pemanfaatan Ruang

Rencana Intensitas Pemanfaatan Lahan

Indikasi Program

(3)

Latar Belakang

Ketentuan dalam UU & PP terkait Penataan Ruang

Kebutuhan untuk memberikan pemahaman kepada

masyarakat tentang teknis operasional pemanfaatan

& pengendalian ruang

Seluruh RDTR IKK di Kabupaten Bekasi belum

di-Perda-kan

WP IV

peran & fungsinya cukup penting utk

pengembangan wilayah Kab. Bekasi di bagian

utara; terletak di perbatasan Kota Bekasi & Jakarta;

perkemb. penduduk & pemanfaatan ruang semakin

besar

(4)

Maksud & Tujuan

Mereview & mempublikasikan RDTR WP IV serta

menyusun Rancangan Peraturan

Perda / Perbup

Menginformasikan kpd masyarakat ttg Rencana

Pemanfaatan Ruang dalam RDTR

Meningkatkan kesadaran masyarakat utk berperan serta

dlm penataan ruang

perencanaan, pemanfaatan, &

(5)

Ruang Lingkup

Wilayah: Kecamatan Muaragembong, Babelan,

Tarumajaya. Tambun Utara

Substansi: Materi Sosialisasi RDTR WP IV &

(6)

WILAYAH PERENCANAAN

Sebelah Utara: Teluk Jakarta,

Laut Jawa

Sebelah Selatan: Kota

Bekasi, Kecamatan Tambun

Selatan,

Sebelah Barat: Provinsi DKI

Jakarta, Kota Bekasi, Teluk

Jakarta

Sebelah Timur: Kabupaten

Karawang, Kecamatan

Sukawangi, Kecamatan

Tambelang, dan Kecamatan

Cabangbungin

(7)

Output

RDTR WP IV

Draft Rancangan Peraturan dan Sosialisasi

(8)

Tahapan Pelaksanaan Pekerjaan

LAPORAN PENDAHULUAN RDTR WP IV SOSIALISASI RDTR WP IV LAPORAN ANTARA MATERI RDTR WP IV DRAFT RAPERDA RDTR WP IV

(9)

RDTR WP IV Kab. Bekasi

Tujuan Pengembangan WP IV

Rencana Struktur Ruang

Rencana Pola Ruang

(10)

Tujuan Pengembangan WP IV

Meningkatkan peran & fungsi WP IV sbg

kawasan industri, pariwisata, perumahan,

perdagangan & jasa.

Mendorong tumbuhnya “Kota Industri dan Jasa”

meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kab.

Bekasi.

Menciptakan pola pemanfaatan ruang WP IV yg

serasi, optimal, & berkelanjutan.

Menjaga konsistensi perwujudan ruang WP IV

melalui pengendalian program-program

pembangunan wilayah.

(11)

Rencana Blok

Perencanaan

Fungsi BWK A :

 Kawasan lindung dan penyangga

 Perumahan kepadatan rendah

 Permukiman Nelayan

 CBD skala lokal (sentra sekunder)

 Pendidikan skala lokal

 Kawasan budidaya pertanian

 Pendidikan skala lokal

 Kawasan budidaya perikanan

 Kawasan Pariwisata

Fungsi BWK B :

 Kawasan lindung dan penyangga

 Perumahan kepadatan rendah sampai tinggi

 CBD skala lokal dan antar BWK

 Pendidikan, pemerintahan, kesehatan skala lokal

 Industri dan Pergudangan

 Pelabuhan Bongkar Muat Barang Fungsi BWK C : Pemerintahan, kesehatan, pendidikan skala lokal Perumahan kepadatan rendah sampai tinggi

CBD Skala Regional (sentra primer) Kawasan Pelabuhan Bongkar Muat Industri dan Pergudangan Kawasan lindung/ yang berfungsi lindung

Fungsi BWK D :

 Permukiman Skala Sedang –

Tinggi

 Industri Skala Sedang

 Pendidikan & Kesehatan Skala Lokal

 CBD Skala Lokal (Sentra Sekunder)

(12)
(13)

Rencana Struktur Ruang

Distribusi Penduduk WP IV

Rencana Pengembangan penduduk perkotaan

(kepadatan tinggi), diarahkan di BWK B

(Kecamatan Babelan), BWK C (Kecamatan

Tarumajaya), dan BWK D (Kecamatan Tambun

Utara)

Rencana pengembangan penduduk perdesaan

termasuk pengembangan penduduk sebagai

nelayan (kepadatan rendah), diarahkan di BWK

A (Kecamatan Muaragembong)

,

(14)

No BWK Jumlah Penduduk (jiwa) 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2020 2025 1 BWK A Sub BWK A1 27.617 28.339 29.060 29.781 30.503 31.224 34.831 38.438 Sub BWK A2 37.481 38.460 39.439 40.418 41.397 42.376 47.271 52.166 Sub BWK A3 33.535 34.411 35.287 36.163 37.039 37.915 42.295 46.675 Total BWK A 98.633 101.210 103.786 106.362 108.939 111.515 124.397 137.279 2 BWK B Sub BWK B1 27.720 28.445 29.171 29.896 30.621 31.346 34.972 38.598 Sub BWK B2 40.765 41.832 42.898 43.964 45.031 46.097 51.429 56.761 Sub BWK B3 57.071 58.564 60.057 61.550 63.043 64.536 72.001 79.466 Sub BWK B4 37.504 38.485 39.466 40.447 41.428 42.409 47.315 52.220 Total BWK B 163.061 167.326 171.592 175.857 180.123 184.389 205.717 227.045 3 BWK C Sub BWK C1 22.818 23.414 24.010 24.607 25.203 25.800 28.782 31.764 Sub BWK C2 36.508 37.462 38.417 39.371 40.325 41.280 46.051 50.823 Sub BWK C3 31.945 32.780 33.615 34.450 35.285 36.120 40.295 44.470 Total BWK C 91.270 93.656 96.042 98.428 100.813 103.199 115.128 127.057 4 BWK D Sub BWK D1 9.968 10.222 10.476 10.730 10.984 11.238 12.508 13.778 Sub BWK D2 17.942 18.399 18.856 19.314 19.771 20.228 22.514 24.800 Sub BWK D3 11.961 12.266 12.571 12.876 13.181 13.485 15.009 16.533 Total BWK D 39.871 40.887 41.903 42.919 43.935 44.951 50.031 55.111

Total WP IV

392.835

403.079

413.323

423.567

433.810

444.054

495.273

546.492

Rencana Struktur Ruang

(15)

Rencana Struktur Ruang

Distribusi Pusat-pusat Pelayanan Kegiatan

Hirarki Pelayanan

Pusat Kegiatan

Fungsi

Sentra Primer

Sub BWK C.1

• Pusat kegiatan ekonomi berskala regional

• Pusat kegiatan pemerintahan & sarana wilayah

(daerah)

Sentra Sekunder

Sub BWK A.2, B.3 dan

D.1

• Pusat kegiatan ekonomi, pusat pemerintahan dan

sarana daerah skala sub wilayah, dengan

jangkauan pelayanan beberapa kecamatan.

• Corak pelayanan mengarah kepada kegiatan

perdagangan eceran, kegiatan jasa pribadi dan

jasa perdagangan.

Sentra Tersier/lokal

Sub BWK yang lain

• Pusat kegiatan ekonomi, pusat pemerintahan dan

sarana daerah berskala lingkungan, dengan

jangkauan pelayanan kelurahan/desa atau

beberapa RW.

• Corak pelayanan perdagangan eceran dan

kegiatan pribadi.

(16)

Rencana Struktur Ruang

Sistem Pelayanan Kegiatan

Kegiatan Sentra Primer

melayani BWK lain

dalam WP IV serta dpt melayani wilayah lain di luar

WP IV

Kegiatan Sentra Sekunder

melayani kawasan di

sekitarnya (sentra tersier/ lokal)

Kegiatan Sentra Tersier/ Lokal

melayani kawasan

(17)

Rencana Skala

Pelayanan

Sentra Primer : C.1 (Desa Pantai Makmur)

• Pusat kegiatan ekonomi berskala regional

• Pusat kegiatan pemerintahan & sarana wilayah (daerah)

Sentra Sekunder : A2 (Pantai Sederhana), B1 (Pantai Hurip), D1 (Sriamur)

• Pusat kegiatan ekonomi, pusat pemerintahan dan sarana daerah skala sub wilayah, dengan jangkauan pelayanan beberapa kecamatan.

• Corak pelayanan mengarah kepada kegiatan perdagangan eceran, kegiatan jasa pribadi dan jasa perdagangan. Sentra Tersier : • Pusat kegiatan ekonomi, pusat pemerintahan dan sarana daerah berskala lingkungan, dengan jangkauan pelayanan kelurahan/desa atau beberapa RW. • Corak pelayanan perdagangan eceran dan kegiatan pribadi.

(18)

Pembangunan Jalan Kolektor primer :

Babelan-Muara Gembong

Tambun Utara- Tambelang

Samudera Jaya-Hurip Jaya

Pembangunan jalan lokal primer

Desa Hurip Jaya-Pantai Hurip

Desa Jaya Sakti

Peningkatan lokal primer→kolektor primer

Desa Srijaya-Srimukti

Desa Sriamur

Rencana Struktur Ruang

(19)

Pembangunan Terminal tipe C di Sub

BWK C1 (Desa Pantai Makmur)

Pembangunan sus-sub Terminal di pusat

sekunder

Pembangunan pelabuhan dan peti kemas

di sub BWK D1 (Desa Hurip Jaya)

Pembangunan pelabuhan nelayan di sub

BWK A1 (Desa Pantai Bahagia)

Rencana Struktur Ruang

(20)

Kolektor Sekunder

di Desa Pantai

Mekar-Jaya Sakti)

Kolektor Primer :

Babelan-Muara Gembong Tambun Utara- Tambelang Samudera Jaya-hurip Jaya

Lokal Primer :

Desa hurip jaya-pantai hurip Desa jaya sakti

(21)

Rencana Struktur Ruang

Sistem Jaringan Utilitas

No Jenis Prasarana

Penunjang Arahan Rencana

1 Air Bersih 1. Berada di bawah jaringan pedestrian dengan lebar 0,6 – 1 m, sesuai dengan lebar jaringan

pedestrian yang ada

2. Hirarki jaringan mengikuti hirarki jalan, jaringan primer berada disepanjang jalan arteri dan kolektor primer dan sekunder, jaringan sekunder, jalan lokal merupakan saluran sekunder dan jalan lingkungan atau ke unit rumah merupakan saluran tersier

3. Mengoptimalkan sumber air bersih Sungai CBL

2 Drainase Penentuan hirarki jaringan drainase:

1) Sungai sebagai saluran primer (perlu program normalisasi sungai) yang dapat menampung limpahan iar hujan. Perbaikan saluran primer dengan pembuatan kanal-kanal/ dibangun dengan konstruksi beton dan disesuaikan dengan kondisi topografinya untuk memperlancar proses pengaliran

2) Jaringan drainase di sepanjang jalan kolektor arteri/primer/sekunder sebagai saluran sekunder yang direncanakan selebar 1 m di kiri kanan jalan, dengan sistem saluran terbuka

3) Jaringan drainase di sepanjang jalan lokal sebagai jaringan tersier yang merupakan, direncanakan 1 m di kiri kanan jalan dengan sistem terbuka

(22)

Rencana Struktur Ruang

Sistem Jaringan Utilitas

No Jenis

Prasarana Penunjang Arahan Rencana

3 Air Limbah dan Sanitasi Berdasarkan karakter atau kondisi wilayah WP IV saat ini, pola yang diterapkan di wilayah Babelan dan Tarumajaya bisa diterapkan secara umum diseluruh WP IV, yakni:

1) Pengelolaan limbah padat rumah tangga dengan sistem individual (on site sanitation)

2) Pengelolaan limbah cair rumah tangga, dengan penampungan resapan atau disalurkan ke saluran drainase

3) Pengelolaan limbah padat pada kawasan permukiman padat direncanakan dengan sistem komunal dan perpipaan

4) Saluran pengumpul limbah padat dibuat terpisah dengan saluran drainase dengan sistem perpipaan

5) Pengolahan limbah industri, mengantisapasi WP IV sebagai salah satu pusat industri di Kabupaten Bekasi, pengelola kawasan industri diwajibkan membuat IPAL industri, dengan memisahkan industri yang mempunyai limbah industri

(23)

Rencana Struktur Ruang

Sistem Jaringan Utilitas

No Jenis Prasarana

Penunjang Arahan Rencana

4 Persampahan Pengelolaan sampah dalam RDTR Kecamatan Babelan dan Tarumajay sudah cukup komprehensif, dan bias diterapkan sebagai salah satu strategi pengolahan sampah di wilayah WP IV.

Untuk itu mengadopsi kebijakan dari RDTR kecamatan Tarumajaya kedepannya WP IV bisa menerapkan strategi:

1. Pengolahan sampah secara off site, terutama sampah perkotaan, 2. Menuju zero waste

3. Penyediaan fasilitas pembuangan samaph dan operasional pembuangan sampah yang terpadu

4. Pengawasan terhadap sampah rumah sakit dan rumah sakit bersalin serta sampah di daerah industri

5. Sosialisasi penanganan sampah skala kecil, on site sanitation terutama sampah organik

5 Listrik 1) Wilayah WP IV termasuk wilayah yang terlewati oleh Jaringan SUTET cukup banyak, untuk itu sepanjang jalur SUTT dan SUTET direncanakan sebagai jalur hijau

2) Pengembangan jaringan listrik diarahkan pada kawasan permukiman baru dan juga digunakan sebagai insentif atau pengarah dalam pengembangan kawasan, atau wilayah prioritas pengembangan

3) Perencanaan jaringan listrik (hirarki jaringan) yang terintegrasi seluruh wilayah WP IV

6 Telekomunikasi Peningkatan jaringan telekomunikasi terutama pada kawasan-kawasan prioritas pengembangan dan daerah rencana pengembangan industri, pelabuhan dan perumahan, sebagai salah satu daya tarik investasi.

(24)

Rencana Blok Pemanfaatan Ruang

Kawasan Lindung

Mencakup hutan lindung, kawasan perlindungan

setempat, sempadan pantai, & sempadan sungai.

Hutan Lindung terdapat di 3 kecamatan:

Muaragembong, Babelan, & Tarumajaya.

Sempadan pantai dibangun di Muaragembong, Babelan,

& Tarumajaya

Sempadan sungai dibangun di seluruh kecamatan WP

(25)

Rencana Blok Pemanfaatan Ruang

Kawasan Budidaya

1. Perumahan: perumahan nelayan, perumahan

perdesaan, & perumahan perkotaan

2. Industri: wilayah sekitar pelabuhan, arteri utara,

& rencana jalan tol di Tarumajaya & Babelan

dgn pengembangan pergudangan & industri non

polutif

3. Perdagangan & Jasa: diarahkan pd skala WP di

pusat primer; skala kecamatan utk skala BWK;

skala kelurahan utk pusat-pusat tersier.

(26)

Rencana Blok Pemanfaatan Ruang

Kawasan Budidaya

4. Pariwisata: kawasan yg terintegrasi dgn Kec.

Muaragembong

konsep

Waterfront City

dilengkapi dgn

sarana pariwisata air.

5. Pertambangan: dikelilingi oleh kawasan penyangga (

buffer

zone

)

6. Pusat Pemerintahan: Tarumajaya melayani seluruh WP IV;

Babelan, Muaragembong, Tambun Utara melayani

kecamatan masing-masing

7. Pusat Pendidikan: pengembangan pusat-pusat pendidikan

dasar & menengah

(27)
(28)
(29)
(30)

Rencana Intensitas Pemanfaatan Lahan

Arahan Kepadatan Bangunan & Ketinggian Bangunan

No Sub

BWK Nama Desa Peruntukan

Ketinggian Bangunan Maksimal (lantai) KDB (%) KLB

1. A.1 1. Pantai Bahagia

2. Pantai Bakti

 Permukiman 2 30 0,6

 Fasilitas Sosial dan

Umum 2 30 0,6

 Pemerintahan 2 40 1,2

 Jasa Pariwisata 2 40 1,2

 RTH 0 0 0

2. A.2 1. Pantai Sederhana

2. Pantai Mekar

3. Sebagian Desa Harapan Jaya

 Permukiman 2 30 0,6

 Jasa Pariwisata 2 40 1,2

 Pemerintahan 2 40 1,2

 RTH 0 0 0

3. A.3 1. Jaya Sakti

2. Sebagian Desa Harapan Jaya

 Permukiman 2 30 0,6

 Fasilitas Sosial dan

Umum 2 30 0,6

 Pemerintahan 2 40 1,2

(31)

Rencana Intensitas Pemanfaatan Lahan

Arahan Kepadatan Bangunan & Ketinggian Bangunan

No Sub

BWK Nama Desa Peruntukan

Ketinggian Bangunan Maksimal (lantai) KDB (%) KLB 4. B.1 1. Hurip Jaya 2. Pantai Hurip  Permukiman 2 60 1,5

 Perdagangan dan Jasa 4 70 3,2

 Fasilitas Sosial dan Umum 2 50 0,8

 Pemerintahan 2 40 0,8

 Industri & Pertambangan 1 40 0,8

 RTH 0 0 0

5. B.2 1. Muarabakti 2. Bunibakti

 Permukiman 2 60 1,5

 Fasilitas Sosial dan Umum 2 40 0,8

 Industri & Pertambangan 2 40 0,8

 Pemerintahan 2 40 0,8  RTH 0 10 0 6. B.3 1. Kedungjaya 2. Kedungpengawas 3. Babelan Kota  Permukiman 2 60 1,5

 Perdagangan dan Jasa 4 70 3,2

 Fasilitas Sosial dan Umum 2 40 0,8

 Pemerintahan 2 40 0,8

 Pertambangan 2 40 0,8

(32)

Rencana Intensitas Pemanfaatan Lahan

Arahan Kepadatan Bangunan & Ketinggian Bangunan

No Sub

BWK Nama Desa Peruntukan

Ketinggian Bangunan Maksimal (lantai) KDB (%) KLB 7. B.4 1. Bahagia 2. Kebalen  Permukiman 2 60 1,5

 Perdagangan dan Jasa 2 60 0,9

 Fasilitas Sosial dan

Umum 2 50 1,0  Pemerintahan 2 40 0,8  RTH 0 10 0 8. C.1 1. Segara Makmur 2. Pantai Makmur 3. Segara Jaya 4. Samudera Jaya  Permukiman 2 60 1,5

 Perdagangan dan Jasa 4 70 3,2

 Fasilitas Sosial dan

Umum 2 50 0,8  Pemerintahan 2 40 0,8  Industri 1 40 0,8  RTH 0 0 0 9. C.2 1. Setia Mulya 2. Pusaka Rakyat  Permukiman 2 60 1,5

 Perdagangan dan Jasa 4 70 3,2

 Fasilitas Sosial dan

(33)

Rencana Intensitas Pemanfaatan Lahan

Arahan Kepadatan Bangunan & Ketinggian Bangunan

No Sub

BWK Nama Desa Peruntukan

Ketinggian Bangunan Maksimal (lantai) KDB (%) KLB 10. C.3 1. Pahlawan Setia 2. Setia Asih  Permukiman 2 60 1,5

 Perdagangan dan Jasa 4 70 3,2

 Fasilitas Sosial dan

Umum 2 40 0,8  Pemerintahan 2 40 0,8  RTH 0 10 0 11. D.1 1. Sriamur 2. Srimukti  Permukiman 2 50 0,7  Pemerintahan 2 60 0,9

 Fasilitas Sosial dan

Umum 2 60 0,9  RTH 0 10 0 12. D.2 1. Satriamekar 2. Satriajaya 3. Karangsatria  Permukiman 2 50 0,7

 Perdagangan dan Jasa 2 60 0,9

 Fasilitas Sosial dan

Umum 2 60 0,9

 Pemerintahan 2 60 0,9

(34)

Rencana Intensitas Pemanfaatan Lahan

Arahan Kepadatan Bangunan & Ketinggian Bangunan

No Sub

BWK Nama Desa Peruntukan

Ketinggian Bangunan Maksimal (lantai) KDB (%) KLB 13. D.3 1. Srijaya 2. Srimahi 3. Jejalenjaya  Permukiman 2 50 0,7  Pemerintahan 2 60 0,9

 Fasilitas Sosial dan

Umum 2 60 0,9

(35)

Rencana Intensitas Pemanfaatan Lahan

Arahan Garis Sempadan Bangunan (

Perda No.9/ 2002)

Kolektor Primer

Lebar: > 7 m, Bahu jalan: 2 x 1,75 m,

kecepatan minimal: 40 km/jam

Kolektor Sekunder

Lebar: > 7 m, bahu jalan: 2 x 1,5

m, kecepatan minimal: 20 km/jam

Lokal Primer

Lebar: > 5 m, bahu jalan: 2 x 1,5 m,

kecepatan minimal: 20 km/jam

Lokal Sekunder

Lebar: > 3,5 m, bahu jalan: 2 x 1,0 m,

(36)

Rencana Intensitas Pemanfaatan Lahan

Arahan Garis Sempadan Bangunan (Kawasan Perkotaan)

Garis Sempadan Muka Bangunan & Sempadan

Samping yg menghadap jalan

½ dari DAMIJA

ditambah 1,0 meter.

Garis Sempadan Samping Bangunan berjarak minimum

1,0 meter dari dinding bangunan

Garis Sempadan Belakang Bangunan berjarakan

(37)

Rencana Intensitas Pemanfaatan Lahan

Arahan Garis Sempadan Sungai (

PP 26/2008

)

GSS bertanggul di kawasan perkotaan: minimal 3 m utk

sungai kecil & 5 m utk sungai besar

GSS bertanggul di luar kawasan perkotaan: minimal 3 m

utk sungai kecil & 10 m utk sungai besar

Minimal 100 m di kanan-kiri sungai besar & 50 m di

kanan-kiri sungai kecil tidak bertanggul di luar kawasan

perkotaan

(38)

Rencana Intensitas Pemanfaatan Lahan

Arahan Garis Sempadan Sungai (

PP 26/2008

)

GSS tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan:

Sungai dgn kedalaman < 3 m

GSS: 10 meter

Sungai dgn kedalaman: 3 m – 20 m

GSS: 15 meter

(39)

Rencana Intensitas Pemanfaatan Lahan

Arahan Garis Sempadan Pantai

Terdapat di sepanjang pantai di WP IV meliputi Sub BWK

A1, Sub BWK A2, Sub BWK B1, Sub BWK C1 berkisar

antara 30 meter sampai 75 meter

(40)

Program Prioritas Pembangunan

Pembangunan jalan tol Cikarang – JORR 2 yang melewati

kecamatan Babelan dan Tarumajaya (sesuai dengan

RTRW Kabupaten Bekasi)

Pembangunan Jalan Tol JORR 2 – Tarumajaya –Setu

(sesuai dengan RTRW Kabupaten Bekasi)

Pembangunan

interchange

tol di desa Makmur Jaya dan

Srijaya

Pembangunan jalan kolektor primer Babelan –

Muaragembong, sebagai pembuka akses ke

Muaragembong

Pembangunan pelabuhan nelayan dan rehabilitasi

kampong nelayan di Muara Bendera

Pembangunan pariwisata di Pantai Sederhana dan Pantai

Bahagia sebagai

ecotourisme

(

Waterfront City

)

(41)

DRAFT RANCANGAN PERDA

TENTANG

RENCANA DETIL TATA RUANG WP IV KAB. BEKASI

RDTR WP IV Kab. Bekasi secara menyeluruh perlu disusun untuk

pengembangan wilayah secara terpadu;

Penataan ruang di WP IV Kabupaten Bekasi perlu disinergikan

dengan kerangka dasar dan pertimbangan perencanaan Kabupaten

Bekasi dan wilayah yang ada di sekitarnya (Kota Bekasi-DKI

Jakarta);

Pemanfaatan ruang WP IV Kabupaten Bekasi dimaksudkan sebagai

perwujudan rencana tata ruang mencakup berbagi kegiatan

pembangunan fisik, sosial, ekonomi dan budaya yang secara visual,

historis atau fisik sebagai bagian ruang yang dipengaruhi oleh darat,

sungai, dan laut;

Pengelolaan WP IV Kabupaten Bekasi membutuhkan suatu program

pengelolaan pembangunan yang terintegrasi;

Perlu membentuk RDTR WP IV tahun 2025 dengan peraturan

daerah.

(42)

• Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penataan ruang

WP IV Kabupaten Bekasi;

• RTRW Kabupaten Bekasi (2009-2029)

Menimbang :

DRAFT RANCANGAN PERDA

TENTANG

(43)

SISTEMATIKA DRAFT RANCANGAN PERDA TENTANG

RDTR WP IV

 Terdiri dari 11 bab 79 pasal

 Bab I: Ketentuan Umum, berisikan tentang definisi dari istilah-istilah yang digunakan dalam RDTR WP IV. Hal ini bertujuan untuk menyamakan persepsi pengertian dari istilah yang digunakan dalam RDTR WP IV

 Bab II : Maksud, Tujuan, dan Kedudukan, berisikan maksud, tujuan dan sasaran dari RDTR WP IV Kabupaten Bekasi

 Bab III : Rencana Struktur dan Pola Ruang WP IV Kabupaten Bekasi, memuat tentang :

 Rencana struktur ruang mencakup hirarki pelayanan kegiatan, rencana infrastruktur

 Rencana pola ruang, mencakup rencana pemanfaatan ruang WP IV tahun 2025 yang terdiri dari

pemanfaatan untuk kawasan lindung/yang berfungsi lindung dan pemanfaatan untuk kawasan budidaya

 Bab IV : Arahan pemanfaatan ruang WP IV Kabupaten Bekasi, yang berisikan prioritas pemanfaatan ruang yang akan dilaksanakan di WP IV Kabupaten Bekasi

 Bab V : Arahan pengendalian pemanfaatan ruang, berisikan tentang aturan intensitas pemanfaatan ruang WP IV (KDB, KLB, KDH), arahan perizinan, arahan insentif dan disinsentif serta arahan sanksi pemanfaatan ruang

 Bab VI : Hak, kewajiban, dan peran serta masyarakat, mencakup arahan hak dan kewajiban masyarakat terhadap pemanfaatan ruang di WP IV Kabupaten Bekasi, serta mengatur tata cara peran serta masyarakat dalam penataan ruang WP IV Kabupaten Bekasi mencakup tahap perencanaaan, pemanfaatan, dan

pengendalian ruang)

 Bab VII : Penyidikan

 Bab VIII : Jangka Waktu dan Peninjauan Kembali, mengatur tentang jangka waktu berlakunya dan peninjauan kembali dari RDTR WP IV

 Bab IX : Ketentuan lain, membahas tentang arahan produk rencana tata ruang yang mendukung untuk implementasi dari RDTR WP IV Kabupaten Bekasi

 Bab X : Ketentuan peralihan, mengatur tentang pemberlakukan dari RDTR WP IV kabupaten Bekasi

(44)

Terima kasih

(45)
(46)

DRAFT RANCANGAN PERDA

TENTANG

RENCANA DETIL TATA RUANG WP IV KAB. BEKASI

RDTR WP IV Kab. Bekasi secara menyeluruh perlu disusun untuk

pengembangan wilayah secara terpadu;

Penataan ruang di WP IV Kabupaten Bekasi perlu disinergikan

dengan kerangka dasar dan pertimbangan perencanaan Kabupaten

Bekasi dan wilayah yang ada di sekitarnya (Kota Bekasi-DKI

Jakarta);

Pemanfaatan ruang WP IV Kabupaten Bekasi dimaksudkan sebagai

perwujudan rencana tata ruang mencakup berbagi kegiatan

pembangunan fisik, sosial, ekonomi dan budaya yang secara visual,

historis atau fisik sebagai bagian ruang yang dipengaruhi oleh darat,

sungai, dan laut;

Pengelolaan WP IV Kabupaten Bekasi membutuhkan suatu program

pengelolaan pembangunan yang terintegrasi;

Perlu membentuk RDTR WP IV tahun 2025 dengan peraturan

daerah.

(47)

• Peraturan perundang-undangan yang terkait dengan penataan ruang

WP IV Kabupaten Bekasi;

• RTRW Kabupaten Bekasi (2009-2029)

Menimbang :

DRAFT RANCANGAN PERDA

TENTANG

(48)

SISTEMATIKA DRAFT RANCANGAN PERDA TENTANG

RDTR WP IV

 Terdiri dari 11 bab 79 pasal

 Bab I: Ketentuan Umum, berisikan tentang definisi dari istilah-istilah yang digunakan dalam RDTR WP IV. Hal ini bertujuan untuk menyamakan persepsi pengertian dari istilah yang digunakan dalam RDTR WP IV

 Bab II : Maksud, Tujuan, dan Kedudukan, berisikan maksud, tujuan dan sasaran dari RDTR WP IV Kabupaten Bekasi

 Bab III : Rencana Struktur dan Pola Ruang WP IV Kabupaten Bekasi, memuat tentang :

 Rencana struktur ruang mencakup hirarki pelayanan kegiatan, rencana infrastruktur

 Rencana pola ruang, mencakup rencana pemanfaatan ruang WP IV tahun 2025 yang terdiri dari

pemanfaatan untuk kawasan lindung/yang berfungsi lindung dan pemanfaatan untuk kawasan budidaya

 Bab IV : Arahan pemanfaatan ruang WP IV Kabupaten Bekasi, yang berisikan prioritas pemanfaatan ruang yang akan dilaksanakan di WP IV Kabupaten Bekasi

 Bab V : Arahan pengendalian pemanfaatan ruang, berisikan tentang aturan intensitas pemanfaatan ruang WP IV (KDB, KLB, KDH), arahan perizinan, arahan insentif dan disinsentif serta arahan sanksi pemanfaatan ruang

 Bab VI : Hak, kewajiban, dan peran serta masyarakat, mencakup arahan hak dan kewajiban masyarakat terhadap pemanfaatan ruang di WP IV Kabupaten Bekasi, serta mengatur tata cara peran serta masyarakat dalam penataan ruang WP IV Kabupaten Bekasi mencakup tahap perencanaaan, pemanfaatan, dan

pengendalian ruang)

 Bab VII : Penyidikan

 Bab VIII : Jangka Waktu dan Peninjauan Kembali, mengatur tentang jangka waktu berlakunya dan peninjauan kembali dari RDTR WP IV

 Bab IX : Ketentuan lain, membahas tentang arahan produk rencana tata ruang yang mendukung untuk implementasi dari RDTR WP IV Kabupaten Bekasi

 Bab X : Ketentuan peralihan, mengatur tentang pemberlakukan dari RDTR WP IV kabupaten Bekasi

(49)

MAKSUD DAN TUJUAN RDTR WP IV

Mewujudkan rencana detail tata ruang yang mendukung

terciptanya kawasan strategis maupun kawasan fungsional

secara aman, produktif dan berkelanjutan.

Maksud :

• Sebagai arahan bagi masyarakat dalam pengisian

pembangunan fisik kawasan,

• Sebagai pedoman bagi instansi dalam menyusun zonasi, dan

pemberian periIzinan kesesuaian pemanfaatan bangunan

dengan peruntukan lahan.

(50)

SASARAN DAN KEDUDUKAN RDTR WP IV

Menciptakan keselarasan, keserasian, keseimbangan antar lingkungan

permukiman dalam kawasan.

Mewujudkan keterpaduan program pembangunan antar kawasan maupun

dalam kawasan.

Terkendalinya pembangunan kawasan strategis dan fungsional kabupaten,

baik yang dilakukan pemerintah maupun masyarakat/ swasta.

Mendorongnya investasi masyarakat di dalam kawasan.

Terkoordinasinya pembangunan kawasan antara pemerintah dan

masyarakat/ swasta.

Sasaran :

• Rencana operasional arahan pembangunan kawasan (

operasional action

plan

);

• Rencana pengembangan dan peruntukan kawasan (

area development

plan

);

• Panduan untuk rencana aksi dan panduan rancang bangun (

urban design

guidelines

).

(51)

BLOK PERENCANAAN

WP IV dibagi dalam 4 blok

perencanaan (BWK) :

BWK A meliputi Kecamatan Muaragembong

BWK B meliputi Kecamatan Babelan

BWK C meliputi Kecamatan Tarumajaya

BWK D meliputi Kecamatan Tambun Utara

(52)

FUNGSI BWK

Fungsi BWK A

Kawasan lindung dan

penyangga

Perumahan kepadatan

rendah

Permukiman Nelayan

CBD skala lokal (sentra

sekunder)

Pendidikan skala lokal

Kawasan budidaya pertanian

Pendidikan skala lokal

Kawasan budidaya perikanan

Kawasan Pariwisata

Kawasan lindung dan

penyangga

Perumahan kepadatan

rendah sampai tinggi

CBD skala lokal dan antar

BWK

Pendidikan, pemerintahan,

kesehatan skala lokal

Industri dan Pergudangan

Pelabuhan Bongkar Muat

Barang

(53)

FUNGSI BWK

Fungsi BWK C

Fungsi Fungsi BWK D

Pemerintahan, kesehatan,

pendidikan skala lokal

Perumahan kepadatan

rendah sampai tinggi

CBD Skala Regional (sentra

primer)

Kawasan Pelabuhan

Bongkar Muat

Industri dan Pergudangan

Kawasan lindung/ yang

berfungsi lindung

Permukiman Skala Sedang –

Tinggi

Industri Skala Sedang

Pendidikan & Kesehatan Skala

Lokal

CBD Skala Lokal (Sentra

(54)

RENCANA KEPADATAN PENDUDUK

Rencana Pengembangan penduduk

perkotaan (kepadatan tinggi), diarahkan di

BWK B (Kecamatan Babelan), BWK C

(Kecamatan Tarumajaya), dan BWK D

(Kecamatan Tambun Utara)

Rencana pengembangan penduduk

perdesaan termasuk pengembangan

penduduk sebagai nelayan (kepadatan

rendah), diarahkan di BWK A (Kecamatan

Muaragembong),

(55)

RENCANA STRUKTUR RUANG

Sentra Primer, pusat kegiatan di Sub BWK C.1→berfungsi sebagai

pusat kegiatan ekonomi berskala regional, pusat kegiatan

pemerintahan dan skala sarana wilayah (daerah).

Sentra Sekunder, pusat kegiatan di Sub BWK A.2, B.3 dan D.1→

berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi, pusat pemerintahan dan

sarana daerah skala sub wilayah, dengan jangkauan pelayanan

beberapa kecamatan. Corak pelayanan mengarah kepada kegiatan

perdagangan eceran, kegiatan jasa pribadi dan jasa perdagangan.

Sentra tersier/lokal, pusat kegiatan pada masing-masing sub BWK

lainnya → berfungsi sebagai pusat kegiatan ekonomi, pusat

pemerintahan dan sarana daerah berskala lingkungan, dengan

jangkauan pelayanan kelurahan/desa atau beberapa RW. Corak

pelayanan perdagangan eceran.

(56)

RENCANA POLA RUANG

Kawasan Lindung

Kawasan Budidaya (permukiman,

(57)

ARAHAN PEMANFAATAN LAHAN

A. Prioritas pemanfaatan ruang WP IV adalah :

Pengembangan jaringan jalan untuk

membuka akses di BWK Muaragembong

Rehabilitasi permukiman nelayan di BWK

Muaragembong

B. Indikasi program pembangunan WP IV

dicantumkan pada Tabel 1 yang tidak

terpisahkan dari Rancangan Peraturan Daerah

ini

(58)

INTENSITAS PEMANFAATAN LAHAN

KDB yang diarahkan di WP IV adalah sebagai berikut :

a.

Lahan yang diperuntukkan sebagai Kawasan Permukiman, KDB: 30 % - 60

%

b.

Lahan yang diperuntukkan sebagai Kawasan Perdagangan dan Jasa, KDB:

40 % - 70 %

c.

Lahan yang diperuntukkan sebagai Kawasan Pusat Pemerintahan, KDB: 40

% - 60 %

d.

Lahan yang diperuntukkan bagi Fasilitas Sosial dan Umum, KDB: 30 % – 60

%

e.

Lahan yang diperuntukkan Industri dan Pertambangan, KDB: 40 %

f.

Lahan yang diperuntukkan bagi Ruang Terbuka Hijau: KDB: 0

KLB yang diarahkan di WP IV adalah sebagai berikut :

a.

Lahan yang diperuntukkan sebagai Kawasan Permukiman, KLB: 0,6 – 1,5

b.

Lahan yang diperuntukkan sebagai Kawasan Perdagangan dan Jasa, KLB:

0,9 – 3,2

c.

Lahan yang diperuntukkan sebagai Kawasan Pusat Pemerintahan, KLB: 0,6

– 1,2

d.

Lahan yang diperuntukkan bagi Fasilitas Sosial dan Umum, KLB: 0,8 – 1,0

e.

Lahan yang diperuntukkan Industri dan Pertambangan, KLB: 0,8

(59)

ARAHAN GARIS SEMPADAN

Garis Sempadan Bangungan pada Jalan Kolektor Primer dengan lebar

jalan > 7 meter dengan bahu jalan 2 x 1,75 m, kecepatan paling rendah 40

km/jam dan mempunyai kapasitas yang sama atau lebih besar dari volume

lalu lintas rata-rata.

Garis Sempadan Bangungan pada Jalan Kolektor Sekunder dengan lebar

jalan > 7 meter dengan bahu jalan 2 x 1,50 m, kecepatan paling rendah 20

km/jam.

Garis Sempadan Bangungan pada Jalan Lokal Primer dengan lebar jalan >

5 meter dengan bahu jalan 2 x 1,50 m, kecepatan paling rendah 20 km/jam.

Garis Sempadan Bangungan pada Jalan Lokal Sekunder dengan lebar

jalan > 3,5 meter dengan bahu jalan 2 x 1,00 m, kecepatan paling rendah

20 km/jam.

Garis Sempadan Muka Bangunan dan sempadan samping yang

menghadap jalan ditetapkan ½ dari daerah milik jalan (Damija) ditambah 1

(satu) meter.

Garis Sempadan Samping bangunan berjarak minimum 1 meter dari

dinding bangunan.

Garis Sempadan Belakang bangunan berjarak minimum 1.5 meter dari

(60)

ARAHAN GARIS SEMPADAN

Penetapan Garis Sempadan Sungai bertanggul di dalam kawasan perkotaan ditetapkan

sekurang-kurangnya 3 (tiga) meter di sebelah luar sepanjang kaki tanggul untuk sungai

kecil dan 5 (lima) meter untuk sungai besar seperti Sungai Citarum, Sungai CBL, dan

Sungai Bekasi

Penetapan Garis Sempadan Sungai bertanggul di luar kawasan perkotaan ditetapkan

sekurang-kurangnya 3 (tiga) meter di sisi luar kaki tanggul untuk sungai kecil dan 10

(sepuluh) meter untuk sungai besar.

Sekurang-kurangnya 100 meter di kanan kiri sungai besar dan 50 meter di kanan kiri

sungai kecil yang tidak bertanggul di luar kawasan perkotaan.

Penetapan Garis Sempadan Sungai Tidak Bertanggul di luar kawasan perkotaan yaitu:

Sungai yang mempunyai kedalaman tidak lebih dari 3 meter, Garis Sempadan Sungai

ditetapkan sekurang-kurangnya 10 meter dihitung dari tepi sungai pada waktu

ditetapkan.

Sungai yang mempunyai kedalaman lebih dari 3 (tiga) meter sampai 20 (dua puluh)

meter, garis sempadan ditetapkan sekurang-kurangnya 15 (lima belas) meter dihitung

dari tepi sungai pada waktu ditetapkan.

Sungai yang mempunyai kedalaman maksimum lebih dari 20 (duapuluh) meter, garis

sempadan sungai ditetapkan sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) meter dihitung dari

tepi sungai pada waktu ditetapkan.

Garis Sempadan Pantai meliputi Sub BWK A.1, Sub BWK A.2, Sub BWK B.1, dan Sub

BWK C1 berkisar antara 30 meter – 75 meter.

(61)

INSENTIF DAN DISINSENTIF

Insentif diberikan apabila pemanfaatan ruang sesuai

dengan rencana struktur ruang, rencana pola ruang,

dan arahan intensitas pemanfaatan ruang

Disinsentif dikenakan terhadap pemanfaatan ruang

yang perlu dicegah, dibatasi, atau dikurangi

keberadaannya berdasarkan ketentuan dalam

rencana ini.

Pemberian insentif dan pengenaan disinsentif dalam

pemanfaatan ruang WP IV dilakukan oleh Pemerintah

Kabupaten kepada kecamatan dan kepada

masyarakat. Pemberian insentif dan pengenaan

disinsentif dilakukan menurut prosedur sesuai

ketentuan peraturan yang berlaku oleh instansi

berwenang sesuai dengan kewenangannya dan

dikoordinasikan dengan Bupati.

(62)

BENTUK INSENTIF

Insentif pada pemerintah daerah diberikan dalam bentuk :

Pemberian kompensasi

Urusan saham

Pembangunan serta pengadaan insfrastruktur

Penghargaan

Insentif kepada masyarakat diberikan antara lain dalam bentuk:

Keringanan pajak

Pemberian kompensasi

Imbalan

Sewa ruang

Penyediaan infrastruktur

Kemudahan prosedur

Perizinan penghargaan

(63)

BENTUK DISINSENTIF

Disinsentif kepada pemerintah daerah diberikan

dalam bentuk antara lain:

Pembatasan penyediaan infrastruktur

Pengenaan kompensasi

Penalti

Disinsentif dari pemerintah daerah kepada

masyarakat diberikan dalam bentuk antara lain:

Pengenaan pajak tinggi

Pembatasan penyediaan infrastruktur

Pengenaan kompensasi

(64)

ARAHAN SANKSI

Pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan rencana struktur ruang dan

pola ruang RDTR WP IV;

Pelanggaran ketentuan arahan pemanfaatan ruang WP IV;

Pemanfaatan ruang tanpa izin pemanfaatan ruang yang diterbitkan

berdasarkan RDTR WP IV;

Pemanfaatan ruang tidak sesuai dengan izin pemanfaatan ruang yang

diterbitkan berdasarkan RDTR WP IV;

Pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam persyaratan izin

pemanfaatan ruang yang diterbitkan berdasarkan RDTR WP IV;

Pemanfataan ruang yang menghalangi akses terhadap kawasan yang

oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai milik umum;

dan/atau

Pemanfaatan ruang dengan izin yang diperoleh dengan prosedur yang

tidak benar.

Pelanggaran ketentuan yang ditetapkan dalam pengendalian lingkungan

(65)

SANKSI

Penerapan Sanksi

Peringatan tertulis

Penghentian sementara

kegiatan

Penghentian sementara

pelayanan umum

Penutupan lokasi

Pencabutan izin

Pembatalan izin

Pembongkaran bangunan

Pemulihan fungsi ruang

Denda administrasi

Jenis Sanksi

Sanksi Perdata

Sanksi Pidana

(66)

SANKSI

Sanksi Perdata

Sanksi Perdata, dapat berupa

tindakan pengenaan denda atau

pengenaan ganti rugi. Sanksi ini

dikenakan atas pelanggaran penataan

ruang yang berakibat terganggunya

kepentingan seseorang, kelompok

orang, atau badan hukum.

Sanksi perdata dapat berupa ganti

rugi, pemulihan keadaan atau perintah

dan pelarangan melakukan suatu

perbuatan.

Sanksi Pidana

Kegiatan yang mengakibatkan perubahan fungsi ruang;

Kegiatan yang memanfaatkan ruang tidak sesuai dengan izin

pemanfaatan ruang dari pejabat yang berwenang;

Kegiatan yang tidak mematuhi ketentuan yang ditetapkan

dalam persyaratan izin pemanfaatan ruang; dan

Kegiatan yang tidak memberikan akses terhadap kawasan

yang oleh peraturan perundang-undangan dinyatakan sebagai

milik umum, diancam dengan hukuman kurungan paling lama 6

(enam) bulan dan denda setinggi-tingginya Rp 500.000.000,00

(lima ratus juta rupiah)

Jika pelanggaran terhadap ketentuan rencana tata ruang

wilayah yang mengakibatkan tindak pidana yang lainnya, maka

pelaku akan dikenai sanksi berdasarkan peraturan

perundangan yang berlaku.

Setiap orang yang menderita kerugian akibat tindak pidana

pelanggaran terhadap rencana tata ruang wilayah seperti

dimaksud di atas, dapat menuntut ganti kerugian secara

perdata kepada pelaku tindak pidana sesuai dengan peraturan

perundangan yang berlaku.

(67)

Pengawasan dan Penertiban Pemanfaatan

Ruang

Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang yang menyimpang

dari rencana dilakukan dengan kegiatan penertiban, dilakukan

dengan :

Pengawasan umum terhadap pemanfaatan ruang dan

penyimpangan/ pelanggaran RDTR WP IV harus dilakukan oleh

aparat pada unit terkecil, yaitu kecamatan, kelurahan, RT dan

RW, serta oleh masyarakat umum; dan

Pengawasan khusus terhadap penyimpangan/pelanggaran

RDTR WP IV harus dilakukan oleh instansi pemberi izin dan

instansi lain yang terkait.

Penertiban oleh Bupati dengan menugaskan unit kerja yang

berwenang, sesuai dengan peraturan perundang-undangan

yang berlaku→ Penertiban pemanfaatan ruang dilakukan

sebagai upaya untuk mengambil tindakan agar pemanfaatan

ruang yang direncanakan dapat terwujud sesuai rencana tata

ruang yang ada.

(68)

Koordinasi Pelaksanaan Pengendalian

Pelaksanaan pengendalian pemanfaatan ruang

dilakukan secara terpadu dan komprehensif

melalui suatu koordinasi dan kerjasama antara

Pemerintah Daerah dan pihak-pihak lain yang

terkait dengan pemanfaatan ruang dan

pelaksanaan kegiatan pembangunan.

Untuk pelaksanaan koordinasi penataan ruang

yang bersifat teknis akan dilakukan oleh Badan

Koordinasi Penataan Ruang Daerah (BKPRD).

(69)

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM

PROSES PERENCANAAN TATA RUANG

Pemberian masukan dalam penentuan arah pengembangan

wilayah;

Pengidentifikasian berbagai potensi dan masalah

pembangunan termasuk bantuan untuk memperjelas hak atas

ruang di wilayah dan termasuk pula pelaksanaan tata ruang

WP IV;

Pemberian informasi, saran, pertimbangan atau pendapat

dalam penyusunan strategi dan struktur pemanfaatan ruang

wilayah provinsi;

Pengajuan usulan keberatan dan perubahan rencana

terhadap rancangan RTRW Kabupaen

Kerjasama dalam penelitian dan pengembangan dan atau

bantuan tenaga ahli; dan

(70)

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM

PROSES PEMANFAATAN RUANG

Pemantauan terhadap pemanfaatan ruang daratan, ruang

lautan, dan ruang udara serta ruang bawah tanah

berdasarkan peraturan perundang-undangan,agama, adat,

atau kebiasaan yang berlaku;

Bantuan pemikiran dan pertimbangan berkenaan dengan

pelaksanaan pemanfaatan ruang wilayah dan kawasan yang

mencakup lebih dari satu wilayah Kota administrasi;

Perubahan atau konversi pemanfaatan ruang sesuai dengan

RDTR WP IV yang telah ditetapkan;

Bantuan teknik dan pengelolaan dalam pemanfaatan

dan/atau; dan

Kegiatan menjaga, memelihara, dan meningkatkan

(71)

PERAN SERTA MASYARAKAT DALAM

PROSES PENGENDALIAN PEMANFAATAN

RUANG

Pengawasan terhadap pemanfaatan ruang skala

kecamatan dan WP, termasuk pemberian

informasi atau laporan pelaksanaan

pemanfaatan ruang kawasan dimaksud

dan/atau sumberdaya tanah, air, udara, dan

sumberdaya lainnya; dan

Bantuan pemikiran atau pertimbangan

berkenaan dengan penertiban pemanfaatan

ruang.

(72)

Ketentuan Peralihan dan Penutup

Untuk operasionalisasi RDTR WP IV, disusun

rencana rinci tata ruang yang meliputi:

Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan;

Zoning Regulation

Rencana DED;

Jangka waktu RDTR WP IV adalah 15 (lima

belas) tahun.

RDTR WP IV dapat ditinjau kembali 1 (satu)

kali dalam 5 (lima) tahun sejak Peraturan

Daerah ini berlaku.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :