• Tidak ada hasil yang ditemukan

180673237 Analisa Performa Pre Evaporator Pabrik Gula

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "180673237 Analisa Performa Pre Evaporator Pabrik Gula"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISA PERFORMA

ANALISA PERFORMA PRE-EVAPORA

PRE-EVAPORATOR

TOR

LAPORAN TUGAS KHUSUS

LAPORAN TUGAS KHUSUS

KERJA PRAKTEK DI KERJA PRAKTEK DI PT RAYA SUGARINDO INTI PT RAYA SUGARINDO INTI TASIKMALAYA-JAWA BARAT TASIKMALAYA-JAWA BARAT Oleh : Oleh : Anggi Febrina (13010107) Anggi Febrina (13010107) Pembimbing : Pembimbing : Dr. I Gede Wenten Dr. I Gede Wenten Iwan Hermawan Iwan Hermawan

SEMESTER I 2013/2014

SEMESTER I 2013/2014

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA

PROGRAM STUDI TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG

(2)

ANALISA PERFORMA

ANALISA PERFORMA PRE-EVAPORA

PRE-EVAPORATOR

TOR

Anggi Febrina (13010107) Anggi Febrina (13010107)

Catatan/komentar : Catatan/komentar :

Tempat

Tempat kerja kerja praktek praktek : : PT. PT. Raya Raya Sugarindo Sugarindo IntiInti

 – 

 – 

 Tasikmalaya Tasikmalaya

 – 

 – 

 Jawa Barat Jawa Barat Periode

Periode Kerja Kerja Praktek Praktek : : 3 3 Juni Juni 20132013

 – 

 – 

 31 Juli 2013 31 Juli 2013

Telah diperiksa dan disetujui, Telah diperiksa dan disetujui, Pembimbing Lapangan

Pembimbing Lapangan

Iwan Hermawan Iwan Hermawan Kepala Bagian QA & QC Kepala Bagian QA & QC Tanggal : Tanggal : Dosen Pembimbing Dosen Pembimbing Dr. I Gede Wenten Dr. I Gede Wenten Tanggal : Tanggal :

(3)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI  ... ii BAB I PENDAHULUAN  ...1 1.1 Latar Belakang  ...1 1.2 Permasalahan  ...1 1.3 Tujuan  ...1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA  ...2

2.1 Evaporasi  ...2

2.1.1 Pengertian Evaporasi  ...2

2.1.2 Manfaat Evaporasi di Industri  ...2

2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempercepat Proses Evaporasi  ...2

2.2 Evaporator   ...3

2.2.1 Jenis-Jenis Evaporator   ...3

2.2.2 Single Effect Evaporator  (Evaporator Tunggal)  ...5

2.2.3  Multiple Effect Evaporator   ...5

2.2.4 Masalah-Masalah Pada Evaporator   ...9

2.3 Evaporator PT Raya Sugarindo Inti  ...9

BAB III METODOLOGI PELAKSANAAN  ... 10

3.1 Teknik Pengumpulan Data  ... 10

3.2 Langkah Pengerjaan Tugas Khusus... 10

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN  ... 12

4.1 Kebutuhan Steam Evaporator   ... 12

4.2 Perhitungan Heat Loss pada Evaporator   ... 13

4.3 Perhitungan Efisiensi Energi Evaporator   ... 13

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN  ... 15

4.1 Kesimpulan  ... 15

4.2 Saran  ... 15

DAFTAR PUSTAKA... 16

LAMPIRAN A DATA LITERATUR   ... 17

A.1 Sifat Fisik Steam  ... 17

A.2 Kecepatan Uap yang Direkomendasikan... 17

LAMPIRAN B CONTOH PERHITUNGAN... 18

B.1 Perhitungan Kebutuhan Steam Single effect evaporator   ... 18

B.2 Perhitungan Kebutuhan Steam Double effect evaporator   ... 18

B.3 Perhitungan Kebutuhan Steam Triple effect evaporator   ... 21

B.4 Perhitungan Heat loss Evaporator   ... 25

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

PT Raya Sugarindo Inti merupakan salah satu industri yang memproduksi gula yang dihasilkan dengan hidrolisis pati, yaitu tepung tapioka. Industri ini terletak di Desa Cikadondong, Kecamatan Singaparna, Tasikmalaya, Jawa Barat. Dalam produksinya, dilakukan berbagai proses yaitu pencampuran, hidrolisis, pemurnian, dan pemekatan. Gula yang dihasilkan oleh PT Raya Sugarindo Inti memiliki spesifikasi brix yang berbeda-beda, tergantung dengan pemesanan. Untuk mencapai brix yang diinginkan, perlu dilakukan tahap pemekatan dengan menggunakan evaporator setelah melalui tahap pemurnian.

Evaporasi merupakan proses fisis perubahan cairan menjadi uap. Proses evaporasi bertujuan untuk memekatkan larutan yang terdiri dari zat terlarut yang tidak mudah menguap dan pelarut yang mudah menguap. Air merupakan jenis pelarut yang kebanyakan ada pada proses evaporasi. Evaporasi dilakukan dengan menguapkan sebagian dari pelarut sehingga dihasilkan larutan yang  pekat dengan konsentrasi yang lebih tinggi. Proses evaporasi di pabrik gula ini bertujuan untuk mengurangi kadar air sehingga diperoleh brix yang lebih tinggi. Melalui proses evaporasi ini diharapkan akan diperoleh sirup glukosa dengan brix 75% , 80%, 82%, dan 85%.

Alat yang digunakan dalam proses evaporasi ini adalah evaporator. Proses ini merupakan salah satu proses yang menggunakan energi dalam jumlah besar. Tingginya kebutuhan energi dapat  juga berarti pembengkakan biaya produksi. Penghematan energi pada proses evaporasi ini merupakan peluang untuk meningkatkan keuntungan perusahaan secara signifikan. Analisa  performa pre-evaporator dilakukan dengan menghitung dan membandingkan efisiensi dari alat tersebut pada periode bulan Juli 2013. Dari hasil analisa performa tersebut dapat dianalisa peluang- peluang modifikasi untuk meningkatkan kinerja alat tersebut.

1.2 Permasalahan

Tahap pemekatan di PT Raya Sugarindo Inti

 – 

Tasikmalaya terbagi menjadi dua tahap, yaitu  pemekatan awal dan pemekatan akhir. Pada pemekatan awal digunakan tiga jenis pre-evaporator,

yaitu single effect evaporator , double effect evaporator , dan triple effect evaporator . Selama ini PT Raya Sugarindo Inti menggunakan pre-evaporator tanpa mengetahui manakah evaporator yang akan memberikan performa dan efisiensi terbaik. Untuk itu dilakukan analisa performa pre-evaporator untuk menentukan evaporator manakah yang memberikan efisiensi energi terbaik.

1.3 Tujuan

Tujuan dari penyelesaian tugas khusus analisa performa pre-evaporator dalam proses evaporasi di PT Raya Sugarindo Inti adalah :

 Menentukan kebutuhan  steam  untuk masing-masing pre-evaporator ( single effect evaporator , double effect evaporator , dan triple effect evaporator ).

 Membandingkan performa kerja pre-evaporator ( single effect evaporator , double effect evaporator , dan triple effect evaporator ).

 Menentukan heat loss dalam proses evaporasi.

(5)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Evaporasi

2.1.1 Pengertian Evaporasi

Secara umum, evaporasi dapat didefinisikan dalam dua kondisi, yaitu proses penguapan yang terjadi secara alami, dan proses penguapan yang timbul akibat diberikan uap panas ( steam) dalam suatu peralatan. Evaporasi adalah metode yang umum digunakan untuk meningkatkan konsentrasi dari suatu larutan dengan cara menguapkan air yang terkandung dalam larutan melalui pendidihan larutan tersebut di dalam suatu wadah dan mengambil uapnya (Richardson, dkk., 2002). Evaporasi atau penguapan juga dapat didefinisikan sebagai perpindahan kalor ke dalam zat cair mendidih.

Evaporasi didasarkan pada proses pendidihan secara intensif yaitu pemberian panas ke dalam cairan, pembentukan gelembung-gelembung (bubbles) akibat uap, pemisahan uap dari cairan, dan pengkondensasian uap. Panas yang diberikan harus cukup untuk memenuhi kalor penguapan agar proses evaporasi dapat berjalan dengan baik. Umumnya, panas diberikan oleh  steam  dan selanjutnya terjadi perpindahan panas dari steam ke larutan melalui rangkaian susunan logam yang  berfungsi sebagai penukar panas di dalam evaporator. Efisiensi dari proses evaporasi dapat dilakukan dengan memanfaatkan kalor yang tersimpan di dalam uap yang dihasilkan dari proses evaporasi itu sendiri. Sistem vakum dapat pula digunakan pada proses ini agar proses evaporasi  berlangsung pada suhu rendah sehingga kerusakan produk dapat dihindari.

2.1.2 Manfaat Evaporasi di Industri

Proses evaporasi memiliki berbagai manfaat dalam dunia industri. Di dalam pengolahan hasil pertanian, proses evaporasi bertujuan untuk :

 Meningkatkan konsentrasi/viskositas larutan sebelum diproses lebih lanjut. Sebagai contoh pada  pengolahan gula diperlukan proses pengentalan nira tebu sebelum proses kristalisasi,  spray

drying, drum drying, dan lainnya.

 Pengurangan volume larutan sehingga dapat menghemat biaya pengepakan, penyimpanan, dan transportasi.

 Menurunkan aktivitas air dengan cara meningkatkan konsentrasi solid terlarut sehingga bahan menjadi awet, misalnya pada pembuatan susu kental manis.

2.1.3 Faktor-Faktor yang Mempercepat Proses Evaporasi

Setiap industri tentu menginginkan proses penguapan berlangsung dengan cepat. Beberapa faktor yang dapat mempercepat proses evaporasi adalah :

 Suhu

Walaupun cairan dapat terevaporasi di bawah titik didihnya, namun prosesnya akan cepat terjadi ketika suhu di sekeliling lebih tinggi. Hal ini terjadi karena evaporasi menyerap kalor laten dari sekelilingnya. Dengan demikian, semakin hangat suhu sekeliling semakin banyak jumlah kalor yang terserap untuk mempercepat evaporasi.

 Kelembapan udara

Jika kelembapan udara kurang, maka udara sekitar akan kering. Semakin kering udara (sedikit kandungan uap air di dalam udara), maka semakin cepat proses evaporasi terjadi.

(6)

 Tekanan

Semakin besar tekanan yang dialami maka semakin lambat evaporasi terjadi.

 Sifat cairan

Cairan dengan titik didih yang lebih rendah akan terevaporasi lebih cepat daripada cairan yang titik didihnya besar.

2.2 Evaporator

Evaporator merupakan alat yang digunakan untuk mengubah sebagian atau keseluruhan  pelarut dari sebuah larutan cair menjadi uap sehingga dihasilkan produk yang lebih pekat. Pada dasarnya semua jenis evaporator memiliki prinsip kerja yang sama. Salah satunya yaitu pemekatan larutan berdasarkan perbedaan titik didih yang besar antara masing-masing zat. Selain itu evaporator dijalankan pada suhu yang lebih rendah daripada titik didih normal. Tekanan mempengaruhi tinggi rendahnya titik didih cairan murni. Begitu pula pada titik didih cairan dipengaruhi oleh tekanan dan kadar air pada zat yang tidak mudah menguap seperti gula. Pada efek awal diperlukan adanya  pemanasan suhu yang lebih tinggi. Dan kenaikan titik adalah perbedaan titik didih larutan dan titik didih cairan murni. Kebanyakan orang mengenal evaporator sebagai salah satu alat yang digunakan dalam industri gula pasir.

Sistem evaporator pada industri umumnya terdiri dari :

 Sebuah penukar kalor untuk memasok kalor sensibel dan kalor laten penguapan pada umpan. Di dalam industri biasanya uap ( steam) jenuh dipergunakan sebagai medium pemanas.

 Sebuah separator yang di dalamnya uap dipisahkan dari fasa cair kentalnya.

 Sebuah kondensor untuk penghasil kondensasi uap dan pembuangan dari sistem. Ini dapat dihilangkan jika sistem bekerja pada kondisi atmosfer.

Persamaan perpindahan kalor mempunyai bentuk : Q=UADT

Dimana Q adalah kalor terpindah per satuan waktu, U merupakan koefisien perpindahan kalor keseluruhan, A luas permukaan perpindahan kalor, dan DT beda suhu antara dua arus.

Tahanan terhadap perpindahan kalor meliputi :

(a) Koefisien perpindahan kalor lapis film kondensasi pada sisi steam dari penukar kalor. (b) Koefisien lapis film cairan yang sedang mendidih pad a sisi cairan dari penukar kalor.

(c) Faktor karat atau  fouling factors  pada kedua dinding dalam dan luar pembatas permukaan  perpindahan kalor.

(d) Tahanan panas bahan dinding.

2.2.1 Jenis-Jenis Evaporator

Hingga saat ini dikenal banyak jenis evaporator di dunia industri. Beberapa jenis evaporator yang umum digunakan menurut Richardson , dkk., (2002) adalah :

  Evaporator with direct heating

 Evaporator with direct heating   atau evaporator dengan pemanasan langsung adalah evaporator dimana transfer panas langsung dilakukan dari sumber panas ke larutan ataupun

(7)

melalui wadah evaporator itu sendiri. Evaporator ini umumnya memiliki bentuk wadah yang sederhana, namun membutuhkan panas yang tinggi. Salah satu contoh industri yang menggunakan evaporator dengan pemanasan langsung adalah industri garam dari air laut.

  Natural circulation evaporator

 Natural circulation evaporator merupakan evaporator yang sirkulasi larutan terjadi melalui arus konveksi dari permukaan pemanas. Terdapat dua jenis natural circulation evaporator, yaitu horizontal tubes dan vertical natural circulation evaporator. Pada horizontal tubes, tube tube horizontal dipasang memanjang di antara dua plat tubular untuk tempat steam mengalir, sedangkan di luarnya larutan akan dipanaskan dan dipisahkan dari uapnya. Pada vertical evaporator,  badan silinder vertical digunakan dengan tube-tube tertahan di antara dua plat tubular yang memanjang dari satu bagian badan silinder ke bagian yang lain dan  steam  akan mengalir pada bagian luar sedangkan larutan akan mengalir pada tube-tube vertical yang tersususun pada bagian bawah evaporator dan sering disebut kalandria. Vertical natural circulation evaporator  banyak digunakan pada industri gula, sementara horizontal tubes natural circulation evaporator digunakan untuk larutan dengan viskositas yang rendah.

  Forced circulation evaporator

 Forced circulation evaporator adalah evaporator dimana sirkulasi larutan di dalam evaporator dibantu oleh propeller ataupun pompa sirkulasi. Penambahan peralatan untuk membantu sirkulasi dapat meningkatkan konsentrasi dari larutan yang dihasilkan karena koefisien perpindahan panasnya dapat dijaga meskipun viskositas larutan akan terus mengalami perubahan seiring dengan waktu. Peralatan tambahan akan menambah biaya  peralatan, namun efisisensi proses meningkat dan ukuran peralatan pun dapat diperkecil.  Forced circulation evaporators dapat digunakan untuk berbagai industri dengan larutan yang

kental.

  Film type evaporator 

 Film type evaporator adalah evaporator dengan bentuk tube yang panjang yang diposisikan  pada vertical steam chest.  Pada evaporator ini, aliran yang terjadi di dalam tube adalah larutan yang membentuk lapisan film di dalam tube dengan aliran uap sebagai pusatnya. Terdapat dua macam film type evaporator  yang banyak ditemukan di dunia industri, yaitu climbing film evaporator   dan  falling film evaporator .  Falling film evaporator   memiliki  beberapa kelebihan, yaitu koefisien transfer panas yang tinggi, waktu tinggal yang rendah,

hilang tekan yang rendah, cocok untuk operasi vakum, memiliki rasio penguapan yang tinggi, jangkauan operasi yang luas, aman dari risiko  fouling , dan biaya operasi yang minimum (Richardson, dkk., 2002).

 Thin-layer evaporator

Thin-layer evaporator adalah evaporator yang menggunakan energi mekanik untuk membantu perpindahan panasnya. Biaya operasi per luas permukaan pemanas dari evaporator ini sangat tinggi karena kapasitasnya yang kecil. Karena biayanya yang sangat tinggi, evaporator ini umumnya hanya digunakan untuk bahan-bahan yang sangat kental ataupun sangat sensitive terhadap panas sehingga membutuhkan waktu tinggal yang cepat. Evaporator ini biasa dioperasikan pada perbedaan temperature yang tinggi sebagai  single effect evaporator .

(8)

  Flash evaporator

 Flash evaporator adalah evaporator dimana pendidihan akan ditahan hingga larutan mencapai kondisi superheated  untuk kemudian dimasukkan ke dalam separator bertekanan rendah sehingga larutan terpisah dari uapnya. Metode ini tidak dapat memaksimalkan transfer panas pada tube-tubenya tetapi akan sangat efektif jika dioperasikan secara multiple effect.

2.2.2 Sin gle Eff ect Evaporator  (Evaporator Tunggal)

Pada  single effect evaporator   hanya terdapat satu badan penguapan. Bahan yang akan dievaporasi masuk ke dalam ruang penguap dan diberi panas steam oleh satu luas permukaan pindah  panas. Uap yang dihasilkan dari evaporator tunggal akan menjadi produk buangan. Pada single effect evaporator, energi yang digunakan tergolong besar, sehingga evaporator ini jarang digunakan untuk industri besar seperti gula yang memiliki nilai jual rendah.

Gambar 2. 1 Single effect evaporator 

2.2.3 M ul tiple Eff ect Evaporator

A. Deskripsi Umum M ul tiple Eff ect Evaporator 

 Multiple effect evaporator  merupakan peralatan yang dirancang dengan tujuan meningkatkan efisiensi energi dari proses evaporasi yang berlangsung dengan menggunakan energi panas dari uap ( steam) untuk menguapkan air. Prinsip dasar dari multiple effect evaporator   adalah menggunakan  panas atau kalor yang dilepaskan dari proses kondensasi pada evaporator efek pertama untuk memberikan panas bagi efek selanjutnya. Uap yang terbentuk dari separator efek pertama akan memanasi komponen yang sedang berada di unit efek kedua, ketika steam  awal ( steam  langsung) sedang memanasi komponen yang berada pada unit efek pertama. Pada suatu multiple effect evaporator , air dididihkan pada suatu rangkaian wadah (vessel), masing-masingnya dilangsungkan  pada tekanan yang lebih rendah dibandingkan dengan unit sebelumnya. Karena titik didih dari air

menurun seiring dengan penurunan tekanan, maka uap yang terbentuk dari satu wadah dapat digunakan untuk memanaskan unit berikutnya dan hanya pada vessel  pertama, yaitu pada tekanan tertinggi, yang membutuhkan sumber panas eksternal. Laju uap dan air pendingin bagi unit double

(9)

effect   diperkirakan 50% dibandingkan dengan unit  single effect . Laju alir berbagai jenis bagi multiple effect  berkisar antara 3000 LPH sampai dengan 50.000 LPH.

Gambar 2. 2 Multiple effect evaporator 

B. Aplikasi dan Keuntungan M ul tiple Eff ect Evaporator 

Penggunaan energi yang ekonomis dan efisien merupakan keuntungan utama dari  penggunaan sistem multiple effect evaporator . Ekonomi energi untuk multiple effect evaporator   bergantung pada jumlah unit-unit efek dan berkisar dari 220 kkal energi panas per 1 kg air yang diuapkan untuk triple effect evaporator  sampai dengan 120 kkal untuk sebuah six effect evaporator. Oleh karena biaya operasi dari sistem multiple effect evaporator   ekonomis, maka sistem aliran dengan debit besar menyukai aplikasi sistem ini pada semua sektor industri dan khususnya pada  proses produksi garam dan desalinasi air.

C. Prinsip Umum M ul tiple Eff ect Evaporator 

Ditinjau dari rangkaian tiga buah evaporator, masing-masing unit memiliki suhu dan tekanan T1,T2,T3  dan P1,P2,dan P3. Jika cairan tidak mempunyai kenaikan titik didih maka kalor terpindah

 per satu satuan waktu melintas setiap efek akan menjadi : Efek 1 Q1 = U1A1DT1, dimana DT1 = (T0-T1),

Efek 2 Q2 = U2A2DT2, dimana DT2 = (T1-T2),

Efek 3 Q3 = U3A3DT3, dimana DT3 = (T2-T3),

T0  merupakan suhu steam  awal dan Tf   merupakan suhu umpan. Dengan mengabaikan kalor yang

diperlukan untuk memanasi umpan dari Tf  sampai T1, kalor Q1 yang dipindah melintas A1 muncul

sebagai kalor laten di dalam uap D1 dan digunakan sebagai steam dalam efek kedua, dan :

Q1 = Q2= Q3

Sedemikian sehingga U1A1DT1 = U2A2DT2 = U3A3DT3. Dalam banyak kasus, setiap efek memiliki

luas penampang yang sama sehingga :

(10)

Simplifikasi ditunjukkan dengan :

(a) Kalor yang dibutuhkan untuk memanasi umpan dari T0 ke T1 telah diabaikan

(b) Cairan yang melintas dari efek 1 ke efek 2 membawa kalor ke dalam efek kedua dan ini dipergunakan untuk evaporasi demikian pula sama untuk efek ketiga.

Air yang diuapkan di dalam setiap efek sebanding dengan Q selama kalor laten mendekati konstan. Dengan demikian, kapasitas totalnya adalah :

Q=Q1+Q2+Q3= Uav (DT1+DT2+DT3)A.

Gambar 2. 3 Skema Prinsip Umum Multiple effect evaporator  D. Operasi pada M ul tipl e ef fect evaporator 

Operasi sistem Multiple effect evaporator  terdiri dari tiga jenis, yaitu :

  Forward feeding

 Forward feeding   digunakan bila larutan pekat sangat peka terhadap panas. Forward feeding  merupakan sistem multiple effect evaporator  dimana umpan masuk pada efek pertama dengan temperature yang paling tinggi. Kemudian umpan akan terkonsentrasi dimana air akan menguap dan konsentrat akan masuk ke efek kedua sebagai umpan dengan temperature yang sedikit lebih rendah. Efek kedua menggunakan panas dari uap yang terbentuk dari efek pertama sebagai sumber panas. Kombinasi dari temperature yang rendah dan viskositas yang tinggi mendukung kondisi yang baik untuk pemanasan produk yang sensitive seperti enzim dan protein. Dalam  penggunaan sistem ini diperlukan peningkatan luas permukaan panas pada efek berikutnya.

  Backward feeding

 Backward feeding   digunakan bila larutan pekat sangat viskos. Pada sistem ini, umpan masuk  pada efek terakhir dengan temperatur paling rendah dan berpindah dari efek ke efek dengan

(11)

temperature paling tinggi sehingga memberikan manfaat yaitu produk sangat viskos pada efek terakhir sehingga memberikan perpindahan panas lebih baik.

  Parallel Feeding

 Parallel feeding  pada multiple effect evaporators  melibatkan penambahan umpan segar dan  penarikan produk konsentrat dari setiap efek. Uap dari setiap efek masih digunakan untuk memanaskan efek berikutnya. Model ini digunakan jika umpan sudah hampir jenuh dan produk adalah Kristal padat seperti penguapan air laut me njadi garam.

( a )

( b )

( c )

Gambar 2. 4 Jenis-Jenis Multiple Effect Feeding : (a) Forward Feeding, (b) Backward Feeding, (c)  Parallel Feeding

(12)

2.2.4 Masalah-Masalah Pada Evaporator

Masalah-masalah teknis dapat muncul selama proses evaporasi, terlebih jika proses dilangsungkan pada industri pangan. Beberapa evaporator sensitif terhadap perbedaan viskositas dan konsistensi dari larutan umpan. Proses evaporasi akan menjadi tidak efisien disebabkan oleh loss of circulation.  Pompa dari evaporator mungkin harus diganti jika evaporator digunakan untuk memekatkan larutan yang viskositasnya sangat tinggi.

 Fouling  dapat terjadi jika terbentuk deposit yang keras pada permukaan media pemanas di evaporator. Pada makanan, protein dan polisakarida dapat membentuk deposit yang akan mengurangi efisiensi perpindahan panas. Foaming  juga dapat menjdi masalah. Sebab, berhubungan dengan busa berarti berpengaruh pada waktu dan efisiensi. Untuk itu sebaiknya digunakan antifoam dalam jumlah yang sedikit. Korosi juga dapat timbul pada evaporator jika evaporator digunakan untuk memekatkan larutan yang asam seperti jus jeruk.

Masalah-masalah ini akan berakibat pada tidak efisiensinya proses dan membuat umur evaporator menjadi pendek. Kualitas dan rasa dari produk pangan juga dapat terganggu selama  proses evaporasi. Untuk itu, kualitas dari umpan perlu dipikirkan dalam mempertimbangkan jenis

evaporator.

2.3 Evaporator PT Raya Sugarindo Inti

PT Raya Sugarindo inti memiliki beberapa unit pre evaporator, yaitu 1 unit  single effect evaporator , 2 unit double effect evaporator  , dan 2 unit triple effect evaporator . Jenis evaporator yang digunakan adalah  falling film evaporator . Spesifikasi triple effect evaporator   yang dimiliki oleh PT Raya Sugarindo Inti adalah sebagai berikut :

Tipe : Pre evaporator

Fungsi : Memekatkan sirup gula sampai 60

Brix Prinsip kerja : Penguapan dengan bantuan udara vakum Jumlah alat : 1 set yang terdiri dari 3 buah tabung

Operasi : Kontinyu

Bentuk : Silinder

Ukuran : Tinggi 4 m ; diameter 0,5 m Kapasitas : 1800 L/jam

Temperatur operasi : Tabung I 90

C Tabung II 80

C Tabung III 70

C Tekanan operasi : Tabung I 90 cmHg

Tabung II 80 cmHg Tabung III 70 cmHg Laju alir : 2m3/jam

Bahan konstruksi : Stainless steel  Utilitas : Steam, listrik

Instrumen : Tangki penguapan 2 set, tangki pemanas 2 set, tangki  penangkap uap 1 set, tangki produk tengah 1 set, pompa

umpan 3 HP, pompa produk 3 HP, pompa vakum 10 HP, pompa air 20 HP, alat vakum 580-700 mmHg,

thermostat, pipa kondensat (32 buah, panjang 4 m, diameter ¾ inch).

(13)

BAB III

METODOLOGI PELAKSANAAN

Kegiatan yang dilakukan dalam pengerjaan tugas khusus kerja praktek analisa performa evaporator pada seksi pemekatan awal proses produksi PT Raya Sugarindo Inti-Tasikmalaya meliputi teknik pengumpulan data dan langkah-langkah strategis dalam penyelesaian tugas khusus.

3.1 Teknik Pengumpulan Data

Data yang dibutuhkan antara lain data laju alir, jika memungkinkan semua aliran yang ada, dan data karakteristik gula pada setiap aliran (derajat brix). Di PT Raya Sugarindo Inti, semua data disediakan oleh bagian Quality Control (QC). QC selalu mengecek karakteristik gula setiap jam  pada hampir semua keluaran proses. Dengan demikian semua data dalam penyelesaian tugas khusus

ini diperoleh dari QC.

Data-data yang tidak disediakan oleh QC diambil dengan pengamatan langsung dari data operasi yang dikerjakan oleh operator, dan beberapa data yang tidak disediakan diperoleh dengan dengan menggunakan asumsi bahwa data yang dibutuhkan sama dengan data yang ada di literatur. Beberapa data yang digunakan pada pengerjaan tugas khusus ini ditunjukkan pada Tabel 3.1, sementara data-data yang diambil dari literature ditampilkan pada Lampiran A.

Tabel 3. 1 Data-Data yang diambil dari QC dan Pengamatan Langsung

Single effect evaporator  Dou ble ef fect evaporator  Tr ipl e eff ect evaporator 

Brix Umpan 32% 32% 32%

Brix Produk 60% 60% 60%

Massa Produk 6.919 kg 6.919 kg 6.919 kg

P Steam 200 kPa 200 kPa 200 kPa

T Umpan 40 C 40C 40C

T Vakum 80 C 70C

-P Vakum - - 50 cmHg

3.2 Langkah Pengerjaan Tugas Khusus

Langkah-langkah dalam penyelesaian tugas khusus ini adalah sebagai berikut : (a) Studi literature.

(b) Pengumpulan data, termasuk menetapkan asumsi-asumsi. (c) Penyusunan neraca massa dan energi pre-evaporator.

(d) Pembuatan program dalam Microsoft Excel untuk perhitungan kebutuhan  steam  dan memudahkan melakukan variasi

(e) Penentuan heat loss evaporator.

(f) Penentuan efisiensi energi evaporator

Perhitungan-perhitungan yang dilakukan dalam penyelesaian tugas khusus ini, seperti  perhitungan kebutuhan steam, perhitungan heat loss, dan perhitungan efisiensi energi dapat dilihat  pada Lampiran B.

(14)

Algoritma perhitungan kebutuhan steam untuk multiple effect evaporator  ditunjukkan oleh diagram alir pada Gambar 3.1.

Mulai

Perhitungan Massa feed

Brix feed, Brix Produk, Massa

 produk 

Perhitungan air yang teruapkan (vapour) Perhitungan L1, L2, dan P Perhitungan fraksi massa x1, x2, dan x3 Perhitungan kapasitas  panas Cp1, Cp2, Cp 3 Distribusi tekanan dan temperatur evaporasi

Perhitungan BPR 

Perhitungan neraca massa dan energi

V1, V2, V3 seperti hitungan awal? Selesai Ya Tidak  Massa Feed Massa Vapour V1, V2, V3 L1, L2, P X1. X2, X3 Cp 1, Cp 2, Cp 3 T1, T2, T3 BPR1, BPR2, BPR3 Entalpi uap dan liquid Massa steam, V1, V2, V3

(15)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kebutuhan Steam  Evaporator

Evaporator merupakan salah satu peralatan yang banyak menggunakan energi ( steam) dalam  proses penguapannya. Untuk itu perlu diketahui kebutuhan steam masing-masing evaporator, agar dapat diketahui efisiensi dari pemakaian evaporator itu sendiri. Dari data-data yang berhasil dikumpulkan baik dari lab quality control  maupun pengamatan langsung operator, dapat dihitung kebutuhan  steam  untuk masing-masing evaporator, yaitu  single effect evaporator, double effect evaporator, dan triple effect evaporator. Hasil perhitungan kebutuhan steam untuk masing-masing evaporator dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4. 1 Hasil Perhitungan Kebutuhan Steam dan Steam Economy Evaporator

Single effect evaporator Double effect evaporator Triple effect evaporator Massa Feed  12.973,125 kg 12.973,125 kg 12.973,125 kg Massa Produk 6.919 kg 6.919 kg 6.919 kg Massa Vapour 1 6.054,125 kg 2.988,386 kg 2.483,815 kg Massa Vapour 2 - 3.065,739 kg 1.659,781 kg Massa Vapour 3 - - 1.910,529 kg Massa Steam 7.146,529 kg 3.868,923 kg 2.717,573 kg Steam Economy 0,847 1,564 2,227

Untuk menguapkan massa feed  yang sama (12.973,125 kg) hingga menjadi produk dengan massa dan konsentrasi yang sama pula (6.919 kg, 60%), ketiga evaporator ini membutuhkan jumlah  steam  yang berbeda. Seperti terlihat pada Tabel 4.1, kebutuhan  steam  untuk  single effect evaporator   jauh lebih tinggi dibandingkan double effect evaporator   dan triple effect evaporator . Single effect evaporator   membutuhkan 7.146,529 kg steam, sementara double effect evaporator  hanya membutuhkan 3.868,923 kg steam. Triple effect evaporator   membutuhkan jumlah  steam yang lebih sedikit lagi, yaitu 2.717,573 kg. Hasil perhitungan kebutuhan steam untuk setiap jenis evaporator ini sudah sukup sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa kebutuhan steam  dari evaporator dengan n efek adalah 1/n dari kebutuhan steam  single effect evaporator , kebutuhan  steam single effect evaporator  hampir 2 kali kebutuhan steam double effect evaporator , dan hampir 3 kali kebutuhan steam triple effect evaporator . Performa dari evaporator juga dapat dilihat dari  steam economy-nya. Steam economy merupakan suatu nilai yang menyatakan kg air yang teruapkan  per satu kg  steam  yang disuplai. Single effect evaporator   memiliki  steam economy  yang paling kecil, yaitu 0,847. Ini berarti 0,847 kg air teruapkan per satu kg steam yang disuplai. Double effect evaporator   memiliki  steam economy sebesar 1,564 dan triple effect evaporator   memiliki  steam economy paling besar yaitu 2,227.

Dari kebutuhan  steam  dan  steam economy  masing-masing evaporator ini, terbukti bahwa triple effect evaporator  merupakan evaporator yang paling hemat energi. Hal ini dikarenakan uap yang terbentuk dari proses evaporasi itu sendiri dapat digunakan sebagai media pemanas untuk efek selanjutnya. Dengan demikian efisiensi energi akan meningkat, sebab tidak diperlukan steam yang cukup banyak pada badan evaporator pertama. Pada single effect evaporator , evaporasi dilakukan

(16)

 single effect evaporator   juga boros karena uap yang dihasilkan langsung dibuang, padahal uap tersebut masih mengandung energi panas yang dapat dimanfaatkan.

Untuk menghemat penggunaan energi untuk dalam proses produksi, PT Raya Sugarindo Inti sebaiknya menggunakan triple effect evaporator   dalam proses pemekatan gula. Proses final evaporasi yang selama ini dilakukan dengan single effect evaporator , dimana PT Raya Sugarindo Inti memiliki 8 unit final evaporator , akan lebih hemat dan efisien jika dilakukan dalam triple effect evaporator . Meskipun akan menambah biaya peralatan, namun penghematan energi akan lebih  besar. Penambahan jumlah efek dibatasi sampai tujuh efek saja, sebab evaporator dengan jumlah efek yang lebih besar dari tujuh efek tidak lagi dikatakan efisien. Meskipun energinya sangat hemat namun biaya yang harus dikeluarkan untuk biaya peralatan dan perawatan jauh lebih besar.

4.2 Perhitungan H eat L oss  pada Evaporator

 Heat loss  atau hilang panas merupakan salah satu parameter yang mempengaruhi efisiensi energi proses evaporasi. Semakin besar heat loss  maka semakin kecil efisiensi energi.  Heat loss merupakan suatu hal yang dihindari. Sebab panas yang hilang dapat dimanfaatkan untuk aktivitas lain. Dengan mengurangi heat loss maka sistem akan berjalan lebih optimal. Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah heat loss adalah dengan menambahkan insulator  pada evaporator. PT Raya Sugarindo Inti telah menggunakan insulator  pada evaporator untuk mengurangi heat loss ini.

 Heat loss  dapat dideteksi dengan meninjau suhu bagian luar evaporator. Setelah ditinjau, ternyata suhu di bagian evaporator cukup panas. Hal ini menandakan ada panas yang hilang ke lingkungan. Suhu di bagian luar evaporator diperkirakan 35C. Dengan mengasumsikan heat loss hanya terjadi melalui konveksi saja, maka heat loss dapat dihitung dengan menggunakan rumus :

Q = h x A x T Dengan h (koefisien perpindahan konveksi) adalah ,

    



Dari hasil perhitungan diperoleh heat loss sebesar 661,315 W untuk triple effect evaporator . Jika temperatur di bagian luar evaporator berkurang 5 C saja menjadi 30 C, maka akan terjadi  penurunan heat loss  sebesar 383,267 W sehingga heat loss  menjadi 278,048 W. Sebenarnya nilai heat loss  ini cukup rendah jika dibandingkan industri pada umumnya. Hal ini menunjukkan  penggunaan insulator  seperti yang telah digunakan oleh PT Raya Sugarindo Inti telah mengurangi heat loss  dengan cukup efektif. Penggantian insulator   secara berkala dapat dilakukan untuk mengurangi panas yang keluar ke udara sekitar.

4.3 Perhitungan Efisiensi Energi Evaporator

Evaporator yang digunakan oleh PT Raya Sugarindo Inti memiliki jenis  falling film evaporator . Pemilihan jenis evaporator ini sudah benar, sebab  falling film evaporator   diketahui memiliki beberapa keunggulan, yaitu koefisien transfer panas yang tinggi, waktu tinggal yang rendah, hilang tekan yang rendah, cocok untuk operasi vakum, memiliki rasio penguapan yang tinggi, jangkauan operasi yang luas, aman dari risiko  fouling , dan biaya operasi yang minimum (Richardson, dkk., 2002).

(17)

Untuk mengetahui apakah proses yang berjalan dalam sebuah pabrik sudah baik atau belum, dapat dilihat dari efisiensinya. Salah satunya adalah dengan membandingkan steam  yang disuplai untuk proses evaporasi, apakah sudah efisien jika dibandingkan dengan perhitungan rancangan atau teoretisnya. Untuk menghitung efisiensi, diperlukan laju alir massa  steam  aktual yang digunakan oleh pabrik untuk proses evaporasi. Sayangnya PT Raya Sugarindo Inti tidak memiliki orificemeter atau venturimeter untuk mengetahui laju aktual penggunan steam. Padahal dengan mengetahui laju  steam  yang digunakan, akan terlihat apakah penggunaan selama ini berlebihan atau tidak. Dan dengan adanya alat ukur laju alir tersebut, maka kebutuhan  steam  yang dialirkan untuk proses evaporasi dapat disesuaikan dengan hasil perhitungan.

Oleh karena itu, kebutuhan steam aktual untuk proses evaporasi di PT Raya Sugarindo Inti dihitung secara manual dengan menggunakan tambahan asumsi. Asumsi yang digunakan adalah kecepatan steam sesuai dengan kecepatan steam triple effect evaporator  untuk rata-rata pabrik gula. Dengan mengalikan kecepatan steam dengan densitas steam dan luas penampang pipa steam, maka akan diperoleh kebutuhan aktual steam untuk proses evaporasi.

Dari hasil perhitungan diketahui bahwa effisiensi energi proses evaporasi ini adalah sebesar 64,38 %. Efisiensi ini dapat ditingkatkan dengan mengurangi  steam  yang dialirkan untuk proses evaporasi. Tentunya hasil perhitungan teoretis dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan  jumlah steam yang harus dialirkan. Dengan meningkatnya efisiensi energi proses evaporasi, pabrik  juga dapat menghemat biaya. Sebab salah satu proses di pabrik gula yang paling banyak

menggunakan energi adalah pada evaporator.

Selain mengurangi steam  yang dialirkan, efisiensi energi juga dipengaruhi oleh kebersihan evaporator. Selama proses evaporasi, adanya padatan yang tersuspensi dalam cairan akan menimbulkan kerak pada evaporator. Fouling   yang terjadi pada penukar panas dapat mengurangi laju perpindahan panas karena koefisien transfer panas mengalami penurunan. Hal ini akan  berdampak pada terhambatnya proses penguapan. Untuk itu pembersihan evaporator harus

(18)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat diambil dari penyelesaian tugas khusus e valuasi kinerja evaporator adalah :

1. Kebutuhan steam single effect evaporator  adalah sebesar 7.146,529 kg. 2. Kebutuhan steam double effect evaporator  adalah sebesar 3.868,923 kg. 3. Kebutuhan steam triple effect evaporator  adalah sebesar 2.717,573 kg

4. Triple effect evaporator  memiliki performa kinerja evaporasi yang lebih baik dibandingkan dengan double effect  dan single effect evaporator . Hal ini dilihat dari  steam economy triple effect   yang lebih besar dibanding double effect   dan  single effect,  yaitu 2,227 kg air teruapkan/kg steam, 1,564 kg air teruapkan/kg steam, dan 0,847 kg air teruapkan/kg steam untuk triple effect evaporator , double effect evaporator , dan single effect evaporator .

5.  Heat loss yang terjadi pada triple effect evaporator  adalah 661,315 W.

6. Efisiensi energi dalam proses evaporasi PT Raya Sugarindo Inti adalah 64,38 %

4.2 Saran

Selama massa penyelesaian tugas khusus kerja praktek di PT Raya Sugarindo Inti-Tasikmalaya yang berkaitan dengan evaluasi kinerja evaporator, terdapat beberapa saran, yaitu :

1. Sebaiknya dipasang alat ukur laju alir massa untuk feed  dan steam. Sebab laju alir massa ini penting untuk mengehui efisiensi keberlangsungan proses. Dengan diketahuinya  berapa jumlah  steam  yang digunakan selama ini, dapat diketahui efisiensi prosesnya. Bisa saja  steam  yang disuplai untuk proses terlalu berlebihan dan terbuang percuma. Kemudian, efisiensi pun dapat ditingkatkan dengan menggunakan laju alir steam  hasil  perhitungan.

2. Setelah mengetahui penghematan energi yang sangat besar dengan penggunaan triple effect evaporator , makan sebaiknya proses evaporasi dilakukan menggunakan triple effect evaporator. Begitu pula untuk final evaporator.

(19)

DAFTAR PUSTAKA

1. Geankoplis, C.J ., 1993. Transport Processes and Unit Operations 3rd  Edition. USA : Prentice-Hall International,Inc.

2. Hugot, E. 1986. Hand Book of Cane Sugar Engineering 3rd  Edition. Amsterdam : The Elvesier Science Publisher B. V.

3. Perry, Robert.2008. Perry’s Chemical Engineers’ Handbook 8th Edition.New York: Mc Graw Hill

4. Richardson, et. al. 2002. Couldson and Richardson’s Chemical Engineering 5th Edition. Great Britain : Butterworth Heinemann

5. Singh, R. Paul and Dennis R. Heldman. 2009. Introduction to Food Engineering 4th Edition. Oxford : Elsevier inc

(20)

LAMPIRAN A DATA LITERATUR

A.1 Sifat Fisik Steam 

 Entalpi uap dan entalpi liquid steam pada rentang tekanan dan temperature evaporator :

Tabel A. 1 Entalpi Uap dan Entalpi Liquid pada Rentang Tekanan dan Temperatur Evaporasi T (C) P (kg/cm2) Hv (kkal/kg) HL (kkal/kg) 72 0.3463 628.1 71.9 73 0.3613 628.5 72.9 74 0.3769 628.9 73.9 75 0.3931 629.3 74.9 76 0.4098 629.7 75.9 89 0.6882 634.7 89 90 0.7149 635.1 90 91 0.7425 635.5 91 92 0.771 635.9 92 96 0.8942 637.4 96 97 0.9274 637.8 97 101 1.0707 639.3 101 102 1.1092 639.6 102 103 1.1489 640 103.1 104 1.1898 640.3 104.1 120 2 646 120.3

(Sumber : Tabel 41.1.A Properties of Dry Saturated Steam ; Hugot 3rd, hlm 1034)

 Densitas steam (T=120C) = 1,129 kg/m3

A.2 Kecepatan Uap yang Direkomendasikan

Tabel A. 2 Kecepatan Uap yang Direkomendasikan

Triple Quadruple Quintuple

Exhaust steam to 1steffect 25-30 m/s 25-30 m/s 25-30 m/s

Vapour from 1steffect 30-35 m/s 30-35 m/s 30-35 m/s Vapour from 2ndeffect 40-45 m/s 35-40 m/s 30-35 m/s Vapour from 3rdeffect 50-60 m/s 40-45 m/s 35-40 m/s

Vapour from 4theffect 50-60 m/s 40-45 m/s

Vapour from 5theffect 50-60 m/s

(21)

LAMPIRAN B

CONTOH PERHITUNGAN

B.1 Perhitungan Kebutuhan Steam Singl e ef fect evaporator

1. Perhitungan jumlah feed  (umpan) : F x Xf  = P x X p

F =



  



  

2. Perhitungan air yang teruapkan : F= V+P

V = 12.973,125 kg/jam - 6.919 kg/jam = 6.054,125 kg/jam 3. Perhitungan kapasitas panas Cpf  dan Cp p :





  





  



4. Perhitungan neraca massa dan energi : Persamaan yang akan digunakan :

 Energi masuk : Uap = V1x Hv1 Gula = L1 x T1 x Cp1  Energi keluar : Kondensat = V2x HL2 Uap air = V2 x Hv2 Gula = L2 x T2 x Cp2

*Asumsi : Tidak terdapat energi panas yang hilang (Qloss) Energi masuk = Energi Keluar

Steam + Gula masuk = Kondensat + Uap air + Gula keluar

(Ms x 646) + (



 x 0,808 x 40) = (Ms x 120,3) + ( 6.054,125 x 631,3) + (6.919 x 0,64 x 80)

Ms = 7.146,529 kg/jam Steam economy :



 =





 = 0,847 kg air teruapkan/kg steam

B.2 Perhitungan Kebutuhan Steam Dou ble ef fect evaporator 

1. Distribusi temperature evaporasi :

T = T steam

 – 

 T vakum = 120C

 – 

 70C = 50C

T1 = T2 = 25C

T1 = 120C

 – 

 25C = 95C T2 = 95C

 – 

 25C = 70C

2. Dari hasil perhitungan pada langkah 1 dan 2 bagian B.1, diperoleh data : F = 12.973,125 kg/jam V= 6.054.125 kg/jam = V1 +V2

3. Perhitungan awal L1 dan L2

(22)

F= V1 + L1  12.973,125 kg/jam = 3.027,063 kg/jam + L1 L1 = 9.946,063 kg/jam

L1= V2 + L2  9.946,063 kg/jam = 3.027,063 kg/jam + L2 L2 = 6.919 kg/jam

4. Perhitungan fraksi massa setiap efek x1 dan x2

  

 

 

    

  

 

 

 

 

    

  

 

5. Perhitungan BPR : BPR =

  

 (Geankoplis 3rd edition, hlm 504) BPR efek 1 =

 

 

BPR efek 2 =

 

 

Dengan demikian diperoleh hasil sebagai berikut :

Evaporator Fraksi massa gula BPR T saturated T superheated (BPR+T saturated) Efek 1 0,417 1,824 95 C 96,824C

Efek 2 0,600 3,307 70 C 73,307C 6. Perhitungan kapasitas panas untuk larutan pada setiap efek Cpf , Cp1, Cp2 :



  





  





  



7. Perhitungan neraca massa dan energi evaporator

Data-data yang dibutuhkan untuk menghitung neraca energi diperoleh dengan menggunakan interpolasi entalpi uap dan entalpi liquid (Tabel 41.1.A Properties of Dry Saturated Steam ; Hugot 3rd, hlm 1034)

Evaporator P (kg/cm2.C) T (C) Hv(kkal/kg) HL (kkal/kg)

Efek 1 0,862 95 637 95

96,824 637,73 96,825

Efek 2 0,317 70 627,3 69,9

73,307 628,623 73,207 Evaporator efek 1 :

Energi masuk = Energi Keluar

Steam + Gula masuk = Kondensat + Uap air + Gula keluar

(Ms x 646) + (



 x 0,808 x 40) = (Ms x 120,3) + ( 3.027,063 x 637,73) + (9.946,063 x 0,749 x 96,824)

Ms = 4.246,638 kg/jam Evaporator efek 2 :

Energi masuk = Energi Keluar

Uap + Gula masuk = Kondensat + Uap air + Gula keluar

(3.027,063 x 637,73) + (9.946,063 x 0,749 x 96,824) = (3.027,063 x 69,9) + (V2 x 628,623)

+ ((9.946,063

 – 

 V2) x 0,640 x 73,307)

(23)

8. Dengan menggunakan V1 dan V2 yang baru diperoleh dilakukan iterasi perhitungan mulai

dari langkah 3

 Perhitungan L1 dan L2

F= V1 + L1  12.973,125 kg/jam = 2.661,475 kg/jam + L1 L1 = 10.311,65 kg/jam

L1= V2 + L2  10.311,65 kg/jam = 3.392,65 kg/jam + L2 L2 = 6.919 kg/jam

 Perhitungan fraksi massa setiap efek x1 dan x2

  

 

 

    

  

 

 

 

 

    

  

 

 Perhitungan BPR :

BPR efek 1 =

 

 

BPR efek 2 =

 

 

Dengan demikian diperoleh hasil sebagai berikut :

Evaporator Fraksi massa gula BPR T saturated T superheated (BPR+T saturated) Efek 1 0,417 1,721 95 C 96,721C

Efek 2 0,600 3,307 70 C 73,307C

 Perhitungan kapasitas panas untuk larutan pada setiap efek Cpf , Cp1, Cp2 :



  





  





  



 Perhitungan neraca massa dan energi evaporator

Data-data yang dibutuhkan untuk menghitung neraca energi diperoleh dengan menggunakan interpolasi entalpi uap dan entalpi liquid (Tabel 41.1.A Properties of Dry Saturated Steam ; Hugot 3rd, hlm 1034)

Evaporator P (kg/cm2.C) T (C) Hv(kkal/kg) HL (kkal/kg)

Efek 1 0,862 95 637 95

96,721 637,688 96,721

Efek 2 0,317 70 627,3 69,9

73,307 628,623 73,207 Evaporator efek 1 :

Energi masuk = Energi Keluar

Steam + Gula masuk = Kondensat + Uap air + Gula keluar

(Ms x 646) + (



 x 0,808 x 40) = (Ms x 120,3) + ( 2.661,475x 637,688) + (10.311,65 x 0,758 x 96,721)

Ms = 3.868,923 kg/jam Evaporator efek 2 :

Energi masuk = Energi Keluar

Uap + Gula masuk = Kondensat + Uap air + Gula keluar

(2.661,475x 637,688) + (10.311,65 x 0,758 x 96,721) = (2.661,475x 69,9) + (V2 x 628,623)

(24)

V2 = 3.065,739 kg/jam V1 = 6.054,125

 – 

 3.392,65 = 2.988,386 kg/jam

Steam economy :



 =





 = 1,564 kg air teruapkan/kg steam

B.3 Perhitungan Kebutuhan Steam Tr ipl e eff ect evaporator 

1. Distribusi Tekanan menurut Hugot :

 Tekanan UBE = 0,5 kg/cm2

= 1,533 kg/cm2.abs x

 



= 112,764 cmHg.abs  Tekanan Vakum = 50 cmHg

= 76 cmHg- 50 cmHg = 26 cmHg.abs

 Penurunan tekanan (P) = 112,764 cmHg.abs

 – 

 26 cmHg.abs =86,764 cmHg.abs

 Perbandingan distribusi pressure drop tiap evaporator (Tabel 32.23, Distribution of Pressure Drop between Vessels ; Hugot 3rd edition hlm 579) :

Triple effect =











 Tekanan Evaporator 1 =

(





 )      

Dari Tabel 41.1 A Properties of Dry Saturated Steam ; Hugot hlm 1034 :

T1 = 101,735C

 Tekanan Evaporator 2 =

(





 )      

Dari Tabel 41.1 A Properties of Dry Saturated Steam ; Hugot hlm 1034 :

T2 = 89,704C

 Tekanan Evaporator 3 =

(



 )      

Dari Tabel 41.1 A Properties of Dry Saturated Steam ; Hugot hlm 1034 :

T3 = 73,446C

2. Perhitungan air yang teruapkan (F telah diketahui dari perhitungan sebelumnya) F= (V1+V2+V3)+P

(V1+V2+V3) = 12.973,125 kg/jam - 6.919 kg/jam = 6.054,125 kg/jam

Asumsi awal : V1=V2=V3= 2.018, 042 kg/jam

3. Perhitungan awal L1, L2, dan P

F= V1 + L1  12.973,125 kg/jam = 2.018,042 kg/jam + L1 L1 = 10.955,083 kg/jam

L1= V2 + L2  10.955,083 kg/jam = 2.018,042 kg/jam + L2 L2 = 8.937,041 kg/jam

L2= V3 + P 8.937,041 kg/jam = 2.018,042 kg/jam + PP = 6.919 kg/jam

4. Perhitungan fraksi massa setiap efek x1, x2, dan x3

  

 

 

    

  

 

 

 

 

    

  

 

(25)

5. Perhitungan BPR :

BPR efek 1 =

 

 

   

BPR efek 2 =

 

 

   

BPR efek 3 =

 

 

   

Dengan demikian diperoleh hasil sebagai berikut :

Evaporator Fraksi massa gula BPR T saturated T superheated (BPR+T saturated) Efek 1 0,379 1,567 101,735C 103,302C

Efek 2 0,464 2,168 89,704C 91,872C Efek 3 0,600 3,307 72,446C 75,753C 6. Perhitungan kapasitas panas untuk larutan pada setiap efek Cpf , Cp1, Cp2, Cp3



  





  





  





  



7. Perhitungan neraca massa dan energi evaporator

Data-data yang dibutuhkan untuk menghitung neraca energi diperoleh dengan

menggunakan interpolasi entalpi uap dan entalpi liquid (Tabel 41.1.A Properties of Dry Saturated Steam ; Hugot 3rd, hlm 1034)

Evaporator P (kg/cm2.C) T (C) Hv(kkal/kg) HL (kkal/kg)

Efek 1 1.099 101,735 639,520 101,735 103,302 640,091 103,402 Efek 2 0.707 89,704 634,981 89,704 91,872 635,848 91,872 Efek 3 0.353 72,446 628,278 72,346 75,753 629,601 75,653 Evaporator efek 1 :

Energi masuk = Energi Keluar

Steam + Gula masuk = Kondensat + Uap air + Gula keluar

(Ms x 646) + (



 x 0,808 x 40) = (Ms x 120,3) + ( 2.018, 042 x 640,091) + (10.955,083 x 0,773 x 103,302)

Ms = 3.323,624 kg/jam Evaporator efek 2 :

Energi masuk = Energi Keluar

(26)

(2.018,042 x 640,091) + (10.955,083 x 0,773 x 103,302) = (2.018,042 x 89,704) + (V2 x

635,848) + ((10.955,083

 – 

 V2) x 0,722 x 91,873)

V2= 2.210,331 kg/jam

Evaporator efek 3 :

Energi masuk = Energi Keluar

Uap + Gula masuk = Kondensat + Uap air + Gula keluar

(2.210,331 x 635,848) + (8.937,041 x 0,722 x 91,872) = (2.210,331x 72,346) + (V3 x

629,601) + ((8.937,041-V3) x 0,640 x 75,753)

V3= 2.417,836 kg/jam

Total uap = 6.054,125 kg/jam

V1 = Total uap

 – 

 V2- V3 = 6.054,125

 – 

 2.210,331

 – 

 2.417,836 = 1.425, 958 kg/jam 8. Iterasi perhitungan mulai dari langkah ke-4 dengan menggunakan massa uap yang

diperoleh.

 Perhitungan L1, L2, dan P

F= V1 + L1  12.973,125 kg/jam = 1.425,958 kg/jam + L1 L1 = 11.547,167 kg/jam

L1= V2 + L2  11.547,167 kg/jam = 2.210,331 kg/jam + L2 L2 = 9.336,836 kg/jam

L2= V3 + P 9.336,836 kg/jam = 2.417,836 kg/jam + PP = 6.919 kg/jam

 Perhitungan fraksi massa setiap efek x1, x2, dan x3

  

 

 

   

  

 

 

 

 

      

  

 

 

   

    

  



00  Perhitungan BPR : BPR efek 1 =

 

 

   

BPR efek 2 =

 

 

   

BPR efek 3 =

 

 

   

Dengan demikian diperoleh hasil sebagai berikut :

Evaporator Fraksi massa gula BPR T saturated T superheated (BPR+T saturated) Efek 1 0,359 1,440 101,735C 103,175C

Efek 2 0,444 2,016 89,704C 91,72C Efek 3 0,600 3,307 72,446C 75,753C

 Perhitungan kapasitas panas untuk larutan pada setiap efek Cpf , Cp1, Cp2, Cp3



  





  



(27)



  



 Perhitungan neraca massa dan energi evaporator

Data-data yang dibutuhkan untuk menghitung neraca energi diperoleh dengan

menggunakan interpolasi entalpi uap dan entalpi liquid (Tabel 41.1.A Properties of Dry Saturated Steam ; Hugot 3rd, hlm 1034)

Evaporator P (kg/cm2.C) T (C) Hv HL Efek 1 1.099 101,735 639,520 101,735 103,175 640,052 103,275 Efek 2 0.707 89,704 634,981 89,704 91,72 635,788 91,72 Efek 3 0.353 72,446 628,278 72,346 75,753 629,601 75,653 Evaporator efek 1 :

Energi masuk = Energi Keluar

Steam + Gula masuk = Kondensat + Uap air + Gula keluar

(Ms x 646) + (



 x 0,808 x 40) = (Ms x 120,3) + ( 1.425,958 x 640,052) + (11.547,167 x 0,785 x 103,175)

Ms = 2.717,573 kg/jam Evaporator efek 2 :

Energi masuk = Energi Keluar

Uap + Gula masuk = Kondensat + Uap air + Gula keluar

(1.425,958 x 640,052) + (11.547,167 x 0,785 x 103,175) = (1.425,958 x 89,704) + (V2 x

635,788) + ((11.547,167

 – 

 V2) x 0,733 x 91,720)

V2= 1.659,781 kg/jam

Evaporator efek 3 :

Energi masuk = Energi Keluar

Uap + Gula masuk = Kondensat + Uap air + Gula keluar

(1.659,781 x 635,788) + (9.336,836 x 0,733 x 91,72) = (1.659,781x72,346) + (V3 x

629,601) + ((9.336,836-V3) x 0,640 x 75,753)

V3= 1.910,529 kg/jam

Total uap = 6.054,125 kg/jam

V1 = Total uap

 – 

 V2- V3 = 6.054,125

 – 

 1.659,781

 – 

 1.910,529 = 2.483,815 kg/jam Steam economy :

(28)

B.4 Perhitungan H eat loss  Evaporator *Asumsi : Suhu lingkungan = 25C

*Diketahui : diameter evaporator = 0,5 m , tinggi evaporator = 4 m

 h = 0,3 x (Tout-Tling)0,25

 Q = A x h x T

Maka, dengan perhitungan Microsoft Excel, diperoleh hasil sebagai berikut untuk triple effect evaporator :

Tout (C) h (btu/hr ft F) Q (W)

35 0,618 661,315

30 0,519 278,048

Delta Heat loss : 383,267

B.5 Perhitungan Efisiensi Energi evaporator

 Dengan mengacu pada Tabel A.2 Kecepatan Uap yang Direkomendasikan, anggap kecepatan  steam yang masuk ke efek pertama adalah 30 m/s.

Diketahui : diameter luas penampang pipa steam = 21 cm Massa jenis steam (T=120C) = 1,129 kg/m3

Kebutuhan steam aktual = Kecepatan  steam x massa jenis steam x luas penampang pipa steam = 30 m/s x 1,129 kg/m3 x (3,14 x 0,1052) m2 = 1,1725 kg/s

= 4.221,103 kg/jam

 Effisiensi energi =



Gambar

Gambar 2. 1 Single effect evaporator 
Gambar 2. 2 Multiple effect evaporator 
Gambar 2. 3 Skema Prinsip Umum Multiple effect evaporator  D. Operasi pada M ul tipl e ef fect evaporator 
Gambar 2. 4 Jenis-Jenis Multiple Effect Feeding : (a) Forward Feeding, (b) Backward Feeding, (c)  Parallel Feeding
+5

Referensi

Dokumen terkait

Menggunakan sarung tangan dan melakukan pembersihan area suntikan dengan cara berputar dengan arah dari dalam ke

Dengan melihat Gambar 2, saat terjadi permintaan dari customer offline maka pemenuhan permintaan menggunakan produk yang berada pada warehouse untuk area

Karakteristik barang atau sumberdaya publik, ketidaksempurnaan pasar, kegagalan pemerintah merupakan keadaan-keadaan dimana unsur hak pemikiran atau pengusahaan sumber daya

Abu Hanifah bahwa harta penghasilan itu dikeluarkan zakatnya bila mencapai masa setahun penuh pada pemiliknya, kecuali jika pemiliknya mempunyai harta sejenis

Berikut ini merupakan beberapa gambar habitat perkembangbiakan Anopheles yang ditemukan di Kecamatan Belakang Padang (Gambar 1 ± 4). Pulau Pekasih terletak di

Hal menarik dalam penelitian yaitu meskipun terjadi transmisi harga dan volatilitas spillover pada kedua pasar tersebut, hasil penelitian volatilitas pada

MENCIPTAKAN PROGRAM PEMBANGUNAN PANTI REHABILITAS NARKOBA,PUSDIKLAT YATIM PIATU TERAMPIL,RUMAH SAKIT DAN YAYASAN PENDIDIKAN LAINNYA BAHKAN PEMBANGUNAN RUMAH IBADAH SERTA SEKOLAH

Pada hari ini Senin Tanggal Dua puluh sembilan Bulan Oktober Tahun Dua Ribu Dua Belas, Panitia Pengadaan Barang dan Jasa Pembangunan Data Center Haji Tahun 2012