Menyoal Peran Panitia Pengawas Pemilu Dalam Pilkada
Oleh: Zainuddin
Abstract
Election of Regional leader and Deputy Of Area directly has given new
nuance oflndonesia politics as present@ion ofreturn of democracy at local public. Quality and democratic process of Pilkada Implementation hardly
determined by readiness oflocal government and election organizer.
Panwaslu as the one and only supervisor of the election that entrusted by local government Law and the Low of the election implementation that
observe all step of Pilkada implementation must be independently in their job
and authorities
Kata Kunci : Peran- Panwaslu- Pemilu. dan Pilkada. Otonomi Daerah.
Pendahuluan
Perhelatan
Pemilu
Legislatif dan Pemilu Presiden 2009 telah usai dilaksanakanwalaupun
menyisakan berbagai macam persoalan dan akan menjadi agenda penting pemerintah, penyelenggara Pemilu, maupunpihak-pihak yang terkait
dengan Pemiluuntuk
melakukan perbaikan. Setelah usainyaritual
politk
lima
tahunan tersebut yangtelah memilih
anggota DPR, DPD dan DPRD serta Presidendan Wakil
Presiden,
maka
titik
perhatian dialihkan
ke
daerah-daerah yang akan menyelenggarakan Pilkada.Pemilihan
Umum
KepalaDaerah
dan Wakil
KePala
Daerah (Pilkada) diatur dalam Undang-UndangNo. 32
Tahun
2004
tentang Pemerintahan Daerahdan
Peraturan PemerintahNomor
6
Tahun
2005tentang
Pemilihan,
Pengesahan Pengangkatandan
PemberhentianKepala Daerah
dan Wakil
KePalaDaerah
sebagaimanatelah
diubahterakhir dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor
25
Tahun 2007 tentzng Perubahan Kedua Atas Peraturan Pemerintah Nomor6
Tahun2005
tentang Pengesahan,Pengangkatan
dan
PemberhentianKepala Daerah
dan Wakil
Kepala Daerah.Pemilihan
Umum
KepalaDaerah
(gubemur/wakil
gubernur, bupatil wakil bupati dan walikota/wakil walikota) dilaksanakan secara langsung oleh rakyat. Artinya, proses pemilihan kepala daerah (Pilkada) yang selamaini
dilakukanoleh
lembaga Dewan PerwakilanRakyat
Daerah (DPRD)telah
mengalami perubahan, karena yang bakal menjadi kepala daerah dan wakil kepala daerah ditentukan sendiri oleh rakyat di daerahnya.Adapun alasan
pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah dan WakilKepala
Daerah
secara
langsung menurut Rozali Abdullah (2007:
Ea[ihrn
presiden,
mengembalikanl
lrrnn ke tangan
rakyat,mherikan
legitimasi
yang
samaff.
kepala daerah dan wakil kepalaH
dengan DPRD, kedudukan yangr{iF
antara kepala daerah dan wakilhfh
daerah denganDPRD,
dan terjadinya politik uang. Pada dasarnya Pilkada secaranCsmg;
menurutJoko
Prihatmoko@05
:
l3l-132)
memiliki
kelebihany*u
kepala daerah danwakil
kepalabeh
terpilih
akanmemiliki
mandat&
bgitimasi yang kuat, kepala daerahJil
*ddl
kepala daerah terpilih tidakprlr
terikat pada konsesi padaparttai-ptai
politik
atau
faksi-faksi politikyrrc
mencalonkan, Pilkada langsungEih
akuntabel, checkand
balancesrma
legislatif dengan eksekutif lebihsinbang,
dankriteria
kepala daerahdm
wakil kepala daerah dinilaihgsung oleh
rakyat
yangmberikan
suaranyaSelanjutnya
di
sisi lain Pilkadasocara langsung
memberikanLclemahan-kelemahan
yaitu
adanyadrra
yang dibutuhkan besar, membuka temungkinankonflik
elite dan mass4rlrn
aktifitas rakyat
terganggu (Prihatmoko,2007:
130).Di
sampingitrr
pula kondisi
lingkungan belum sepenuhnya mendukung seperti kondisiketimpangan
kelembagaan
bahwa strr.rkturpolitik
lokal
belum
benar-benar berpisahdari politik
nasional, kondisi dominasi untuk masuk ke bursa pencalonan hanya melalui mekanisme rnrt'ai, kondisi kapasitas pemilih yangberkaitan dengan
pengetahuan dan pengalaman,dan
kapasitas derajatrasionalitas
dalam
memilih
dan kesediaanuntuk
menerima apapunhasil akhirnya (Koiruddin, 2003
:
19-20).
Berbagai kasus
Pilkadagang
melahirkan
konflik
patut
menjadicatatan,
baik
Pilkada
Gubernur danWakil
Gubernur
maupun
PilkadaBupati/Wakil Bupati
atauWalikota/Wakil
Walikota.
KasusPilkada
Sulawesi Selatan,
MalukuUtara, Jawa
Timur, dan
beberapakabupaten
di
Indonesia
menjadipengalaman
buruk
mengenai pelaksanaan Pilkada. OIeh karena itudiperlukan
kesiapan
yang
matangdalam
menyongsongPilkada
pasca Pemilu Legislatif dan Pemilu Presidenagar konflik-konflik
tersebut
tidak terulang kembali yang dapat mengoyak keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.Hakikat Pengawasan Pilkada
Istilah
pengawasan dikenaldalam
ilmu
manajemendan
ilmu administrasi,yaitu
sebagai salah satuunsur dalam
kegiatan
pengelolaan. GeorgeR.
Terry menggunakan istilah"control'
sebagaimanadikutip
oleh Muchsan (1992:37)
artinya: "Controlis to
determine whatis
accomplished,evaluate
it,
and
apply
corrective meoswes,if
needed to ensure result inkeeping
with the plan"
atau pengawasan menentukanapa
yangtelah
dicapai,
mengevaluasi
dan menerapkantindakan
korektif,
jika
perlu,
memastikanhasil yang
sesuai dengan rencana.Selanjutnya, Muchsan (1992 :
37) mengemukakan bahwa pengawasan adalah kegiatan
untuk menilai
suatu pelaksanaantugas
secara
defacto, sedangkantujuan
pengawasan hanyaterbatas
pada
pencocokan
apakah secarakegiatan
yang
dilaksanakan
telah sesuai dengantolok
ukur
yang telah ditetapkan sebelumnya.Sedangkan Bagir Manan (2001
:
20)
memandang"kontrol"
sebagaisebuah fungsi sekaligus hak, sehingga
lazim
disebut denganfungsi
kontrol atau hak kontrol. Kontrol mengandung dimensi pengawasan dan pengendalian. Pengawasan bertalian dengan arahan(directive). Menurut
Paulus EffendiLotulung,
(1993
:
xvi-xvii)
bahwa pengawasan(control)
adalah
upayauntuk
menghindari
terjadinYa kekeliruan-kekeliruan,baik
sengaja maupun tidak disengaja, sebagai usaha preventif, ataujuga
untuk
memPer-baikinya
apabila sudah
terjadi kekeliruan itu, sebagai usaha represif.Dalarn
konteks
Pilkada, mengawasi Pilkada menurut (Samsul Wahidin,2008
:
14) daPat dimaknai secara struktural dan secara fungsional. Secara struktural biasanya pengawas mempunyai kedudukanlebih
tinggi dari yang diawasi. Dengan kedudukan yanglebih
tinggi
itu
ada rasa takut,hormat,
dan
sungkan.
Struktur pengawasyang
secara administratiflebih tinggi
meletakkanposisi
ini sebagai tempat yang dikesankan lebih bersih danlebih
tertata organisasinya dari padayang diawasi.Secara fungsional, kedudukan
pengawas
diatur
berdasarkanmekanisme
fungsional.
Kedudukan pengawassama
dengan kedudukanyang
diawasi.
Keduanya,
baik pengawas maupun yang diawasi sama-sama menjalankan perintah peraturan perundang-undangan. Bedanya yang diawasi mempunyai pola kinerja yangarahnya
melaksanakan
Program,rencana
dan
hal
lain
yang
telahditetapkan
melalui
tahapan-tahapantertentu.
Sementara
pengawasmelaksanakan mekanisme pengawasan berdasarkan sistem administrasi yang telah ditatapkan dengan tugas pokok
adalah
mengawasi tahapan-tahapan dari apa yang dilaksanakan oleh yang diawasi (Samsul Wahidin, 2008 : 15).Esensi
pengawasan
yangdilakukan
oleh
Panwaslu
sifatnyaprejudice
dan
subyektif,
artinya Panwaslu melaksanakan pengawasandengan asumsi bahwa
di
dalam penyelenggaraan Pilkada yang dimulaidari
tahapan
pendaftaran
atau pemutakhirandata pemilih
sampai pelantikan kepala daerah/wakil kepaladaerah diprediksi
akan
terjadi kecurangan atau sengketa. Oleh karenaitu
Panwaslu
sebagai
lembagapengawas
yang independenmelaksanakan pengawasan tersebut
serta
menindaklanjutilaporan
yangditerima
berdasarkanaturan
apabila betul-betulterjadi
pelanggaran atau sengketa.Dinyatakan
subyektif
sebab standar untuk tindakan anggota yang tergabungdi
dalam lembaga tersebut tergantung sepenuhnyapada
kondisiyang
ada.Artinya bisa
saja
terjadi pelanggaran pada setiap tahapan dalam Pilkada tersebut tetapi Panwaslu tidak bertindak karenatidak ada
laporan yang diterima atau menerima laporannamun
tidak
cukup
bukti
untuk menidaklanjuti laporan tersebut.Mekanisme Pengawasan
Dalam PilkadaPemilihan Kepala Derah dan
Wakil Kepala
Daerah
daPatdilaksanakan secara berkualitas dan demokratis apabila berdasarkan pada
;:.4-in)'a,
yakni:
Langsung, LJmum, 3ebas- Rahasia, Jujur, danAdil
(Pasal. Lf
No. 22
Tahun 2007). Kualitas:rmilihan
kepala
daerahdan
wakil r-:rala daerahjuga
ditentukan adanyar.:brbasan
warga
negara
dalam::ngespresikan hak-hak
dasarnya,:
janva
kompetisi
yang
adil,--enghasilkan
derajat
keterwakilan _,r-ng berimbang,dan
keterwakilan_.i-g
dapat
dipertanggungjawabkan :":..nim, 2003 : 19-20).Untuk
melaksanakan Pilkada,:::
berkualitas dan demokratis sesuai::r:3n
asasnya,
maka
aspek:e:Jawasan
yang
dilakukan
olehi":-ita
PengawasPemilihan
Umum : ":l*'35[u) dilaksanakan sesuai dengan :e=turan perundang-undangan. Tujuan:
..kukannva pengawasan ;'=:lsaimanadiatur
dalam
Peraturani
":an
PengawasPemilihan
Umuml"::ror 09
Tahun
2008
tentangl'.[;kanisme
Pengawasan Pemilihan-:rum
Kepala
Daerah
dan
Wakill..erala
Daerah
untuk
menjamin::rselenggaranya
Pemilu
Kepalal'eerah dan
Wakil
Kepala
Daerah ii;.ara langsung, ulnum, bebas, rahasia,.
--ur, adil,
dan
berkualitas,
serta ::ialisanakannya peraturan perundang--i:dangan mengenaiPemilu
KepalaD:erah
dan Wakil
Kepala
Daerah ..*ara menyeluruh (Pasal 3).Panwaslu sebagai
lembaga jan,s
berwenang
mengawasi:elaksanaan
Pemilihan
Umum::rmasuk Pilkada,
melakukan:€ngawasan
terhadap.
tahapan :en1'elenggaraanPilkada
di
wilayah*erja
masing-masingyang
meliputi: :emutakhiran data pemilih berdasarkan:ata
kependudukandan
penetapan:aftar
pemilih
sementaradan
daftarpemilih
tetap;
pencalonan
danpenetapan
calon,
pelaksanaan kampanye; perlengkapan Pemilu danpendistribusiannya; pelaksanaan penghitungan
dan
pemungutan suara dan penghitungan suara hasit Pemilu;pengawasan
seluruh
prosespenghitungan
suara
di
wilayahkerjanya;
prosesrekapitulasi
suara;pelaksanaan
penghitungan
danpemungutan
suara ulang,
Pemilulanjutan,
dan Pemilu
susulan; dan. proses penetapan hasil Pemilu;Di
sarnpingitu
pula
tugaspokok
lain dari
Panwaslu
adalahmenerima
laporan
pelanggaran peraturan perundang-undangan Pilkada, menyelesaikan sengketa yang timbul dalam penyelenggaraan Pilkada, meneruskan temuan dan laporan yangtidak
dapat
diselesaikan
kepada instansi yang berwenang, dan mengatur hubungankoordinasi
antara panitia pengawasanpada
semua
tingkatan (Pasal 66 Ayat 4 Undang-Undang No. 32 Tahun 2004 Jo. Pasal 108 Ayat(l)
PP No. 6 Tahun 2005).Dalam PP
No. 6
Tahun 2005tentang
Pemilihan,
Pengesahaan,Pengangkatan
dan
PemberhentianKepala
Daerah
dan Wakil
KepalaDaerah, selain
mengawasi seluruhtahapan
penyelenggaraan Pemilu,Panwaslu
Kabupaten/Kota,
jrgu
menerima
laporan
pelanggaran peraturan perundang-undangan padasetiap
tahapan
penyelenggaraanPernilu.
Pelanggaran
peraturan perundang-undanganPemilu
dapat dilaporkan oleh masyarakat, pemantau Pemilu, pasangan calon dan/atau tim kampanye (Pasal 1 10 Ayat I ).Laporan
dapat
dilakukan secara lisan atau tertulis yang berisinama dan alamat terlaPor, waktu dan tempat kejadian Perkara, nama dan alamat pelanggar, nama
dan
alamat saksi-saksi; dan uraian kejadian (Pasal 110 ayat 2). Laporan tersebutselambat-lambatnya
7
(tujuh)
hari
setelahkejadian (Pasal 1 10 aYat 3).
Laporan Yang
diterima
oleh Panwaslu Kabupaten/Kota selanjutnyadikaji
untuk ditindaklanjuti atau tidak ditindaklanjuti dengan rentang waktu selambat-lambatnyatujuh hari
setelah laporanitu
diterima.
Jika
data-datala-poran yang diterima
oleh
Panwaslu kabupaten/kota dianggap kurang, makaPanwaslu
kabupaten/kota memintakepada pelapor
untuk
melengkaPilaporannya dan
Panwaslukabupaten/kota memperpanjang waktu. penindaklanjutan
dari
laporan tersebut selambat-lambatnya empat belas hari setelah laporan diterima (Pasal 1 1 1).Panwaslu dalam menjalankan tugasnya
juga
menyelesaikan laporanyang
bersifat
sengketa. Pengertlal iengketa dalam konteks Pemilu adalah perielisihan antaradua pihak atau lebih yang ditimbulkan oleh karena adanya:perbedaan Penafsiran
antara
Parapiha(
atau suatu
ketidaksepakatantertentu yang
berhubungan dengan fakta kegiatan dan peristiwa; hukum;atau
kebijakan, diamana
suatu pengakuan atau pendapatdari
salahiatu
pihak
mendaPatkan: Penolakan,pengakuan
Yang
berbeda;
dan penghindarandari
pihak-pihak
lain yang terjadidi
dalam penyelenggaraan Pemilu.Dalam menYelesaikan sengketa Pemilu, Panwaslu memiliki mekanisme tersendiri berupa tahapan penyelesaian sengketa,
hal
ini
juga
diatur
dalam Pasalll2
PPNo.
6
Tahun 2005,yakni:
Pertama,
MemPertemukan pihak-pihakyang
bersengketa untukmelakukan
musyawarah
untuk mencapai kesepakatan. Kedua, Dalam hal tidak terjadi kesepakatan tersebut,pengawas
pemilihan
membuat keputusan. Ketiga, Keputusan tersebut bersifat final dan mengikat.Pada
penyelesaian sengketa Pemiluini,
Panwaslumemiliki
waktu dalam menyelesaikan sengketa Pemilu palinglambat
14 (empat belas) harisejak
pihak-pihakyang
bersengketa dipertemukan (Pasal 112 aYat2)-Dilema Pengawas PemiluSalah satu
indikatorkeberhasilan pelaksanaan
Pilkada
di suatu daerah adalah rendahnya tingkat pelanggaranselama
berlangsungnyatahapan
penyelenggaran
Pilkada.Panwaslu
memiliki tugas
untuk mengupayakanbahwa Pilkada
Yang diselenggarakanakan
berlangsung secaraumum,
langsung bebas dan rahasi4 jujur dan adil.Untuk menentukan sukses atau tidaknya Panwaslu dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, Menurut
Komaruddin
Hidayat dalam
ToPo Santoso danDidik
Supriyanto (2004 :vii)
Pertama, Panwaslu haruslah badan independendan
nonpartisanyang
di dalamnyadiisi
oleh orang-orang yang punya integritas dan dedikasi tinggi.kedua,
jajaran
Panwaslu
Perlu memiliki kapasitas yang cukup dalam memahamidan
menanganimasalah-masalah
pelanggaran
Pelanggaran Pemilu. Ketiga, Panwaslu memperolehfasilitas
yang
memadai
dalam menjalankan tugas-tugasnya. Keempat, Panwaslu mendaPat dukungan darir:,*:.--i:rii penegak
hukum terkait
dan.lr*r- -1i gan masyarakat luas.
Bita dilihat
beberapa daerah_"'l.:; telah
melaksanakan Pilkada,r.
-:rB
Panwaslu selamaini
belum -,:r-.-rn_iukkan kapasitasnya sebagai,:-
r33?
dengan
kewenangan dan:ri -
i:as
untuk
mengawal
sekaligusr,=l :a$ asi pelaksanaan Pilkada secara
r,i:-,.:.:r.
dan
damai.
Ketidaktegasan : i---';'asdalam
melakukan tindakan 'L:::.rdap calon,tim
kampanye, atau :-;s'.araliat
yang
terindikasi
telah*
:. 3r'lsqar aturan perundang-undangan:=;,-erminkan rendahnya
wibawa,r:;baga ini di mata publik
dia
beberapa faktor Panwaslu belum:r:imal
berperandalam
melakukan :E:ila\\'asan, yaitU:F aktor pembentukan Panr,vaslu
Kehadirannya
Panwaslu
dalamsetiap
event
Pilkada
selalu terlambat. Panwaslu diliarapkanmengawasi
seluruh
tahapan penyelenggaraanPilkada
tetapiproses
kehadirannya
selaluterlambat,
akibatnya
Panwaslusulit
menjalankantugas
denganbaik.
Meski
Panwaslu terlambat dibentuk, tahapan pemilihan tetapbisa berjalan tanpa terpengaruh.
-
Faktor keanggotaan PanwasluApabila
merujuk
pada Pasal105
Ayat
(5)
PP
No.
6Tahun
2,005,
maka
struktur keanggotaan Panwaslu sebanyak 5(lima) orang yang
terdiri
dariunsur
Kepolisian,
Kejaksaan, Perguruan Tinggi, Pers dan Tokoh Masyarakat.Struktur
organisasiterdiri atas
seorang
ketuamerangkap
anggota,
4
oranganggota
dan
dibantu
staf sekretariat. Setelah terbitnya UUNo. 22
Tahun
200,
maka keanggotaan masing-masing 3orang
untuk
Panwaslu provinsi, kabupaten/kota, Kecamatan dan satu orang pengawas lapangan di setiap kelurahan/kota (Pasal 73)yang
direkrut
dari
kalanganprofesional
dan tidak
terlibatpartai
politik.
Dihilangkannyaunsur
kepolisiandan
kejaksaandalam
keanggotaan
Panwaslumengakibatkan kurang
berbobotnya
pengawasan danharus
diakui
bahwa
unsurkepolisian
dan
kejaksaanmemudahkan
Panwaslu
untuk selalu berkoordinasi apabila adadugaan tindak pidana Pemilu yang dilaporkan
oleh
masyarakat atau ditemukan oleh Panwaslu sendiri.Minimnya
keanggotaanPanswalu
menjadi
persoalantersendiri, apabila
dibandingkan dengan jumlali yang mau diawasi. Selain itu pula rendahnya kualitassumber
daya
manusia anggotaPanswalu menyangkut
pemahaman
terhadap
peraturan perundangan-undangan Pemilusehingga
pengawasan
yang dilakukan tidak maksimal.3.
Faktor kewenangan Panwaslu Panwaslu sebagai lembaga pengawas Pemilu yang sifatnya ad hoc dengan lingkup kewenanganyang
sangat terbatas. Panwasludalam
menjalankantugas
dan wewenangannyatidak
lebih
dari seperti tukang pos yang tugasnyahanya
menerima
surat
ataukiriman
orang
untuk
kemudian disampaikankepada alamat
si penerima. Sebab, tugasnya hanya sebatas menerimalaporan
dan4.
menyampaikannya kepada Pihak berwenang. Apabila dalam raPat
pleno
memutuskan
bahwapelanggaran
tersebut
adalah pelanggaranadministrasi
maka diserahkanke
KPUD,
apabilamengandung
unsur
pidanaditeruskan
ke
kepolisian. Sedangkan sengketa diselesaikansendiri
oleh
Panwas
dengan mempertemukan pihak-pihak Yang bersengeketa.Panwaslu
tidakdiberi
wewenang
untukmengeksekusi
sendiri
dan
tidakada
aturan
hak
eksekusi ataumengambil
tindakan
kepada pelanggar tahapan Pilkada.Faktor pendanaan
Permasalahan
lain
yang turut berpengaruh terhadap kinerjaPanwaslu
adalah
pendanaan,berdasarkan pengalaman-pengalaman yang ada
di
berbagai daerah yangtelah
melaksanakan Pilkada, Panwaslu sudah terbentukdan telah memiliki staf sekretariat,
tetapi biaya
operasional untukmembiayai
pengawasan tidakkunjung
cair.
Pada
umumnya anggaran Panwaslu berada pada satu pos dengan anggaran KPUD, sehingga sekretaris atau bendaharaPanwaslu
selalu
berhubungan dengan sekretarisKPUD
untuk mencairkan anggarandi
Pemda.Untuk
mengatasi keterlambatan anggaran untuk biaya oPerasional,maka
tidak
satu-satunYa jalan yang ditempuh Panwaslu adalah meminjan dana pada KPUD ataupemerintah setemPat
untuk membiayaiPanwaslu.
5.
PermasalahanPenafsiran
Perbedaan
Perbedaan penafsiran
dalam mendalami peraturan perundang-undangan yang berkaitan denganPilkada
yang
berbeda
antaraKPUD dengan
Panwaslu,sehingga kemungkinan
terjadi benturanantara
KPUD
denganPanwaslu.
Akibatnya
laporan pelanggaranadministrasi
yangdisampaikan Panwaslu
tidak ditindak lanjuti KPUDBerdasarkan
beberaPa faktor yang dapat mempengaruhikinerja
Panwaslu
dalammengawasi
Pilkada,
makaanggota Panwaslu
ditengah keterbatasannya tetap mengawasi seluruh tahapan Pilkada dengan baik, karena harapan masyarakatakan
terselenggaranya Pilkada yang sesuai dengan asas Pemilu terletak di pundak Panwaslu. PenutupUntuk
mewujudkan
Pilkada yang berkualitas dan Demokratis, maka faktor pengawasan secara optimal yang dilakukanoleh
Panwaslu merupakansebuah
kemutlakan.
Panwaslumengawasi
seluruh
tahapan penyelenggaranPilkada,
menerimalaporan
yang terkait
denganpelanggaran
peraturan
perundang-undangan Pilkada, meneruskan laporanatau temuan kepada instansi terkait dan menyelesaikan sengketa
yang
timbuldalam
penyelenggaraan
Pilkada. Walaupn Panwaslu terkendala berbagai faktor seperti pembentukan Panwasluyang
kadang terlambat, keanggotaan Panwasludari
segi
sumber
daYa manusai, kewenangan Panwaslu yang terbatas, pendanaanyang
sumbernya operasionalisasi-:.. APBD dan
permasalahan::::daan
penafsiran
dengan KPUD.:.:enai
substansi
suatu
udang-undang, diharapkan Panwaslu tetap
bekerja
independensesuai
denganperaturan perundang-undangan.
{FTAR
PUSTAKA::-rllalr,
Rozali 2007. Pelal<sanaan otonorui Luas Dengan pemirihan Daerah Secara Langsurug, Rajawali pers, Jakarta- -,,ir.rr, 2003. Menjadi Pemilih yang
Baik
dalampemilu
2004,
Politik
Lokal
dan Otonorni Daerah program Studi IlmuKepala Program 52
Politik
PPSKontrol Segi Hukum Pusat Studi Fakultas Universitas Gadj ah Mada Yogyakarta.
-rdin, 2003. sketsa Kebijakan Desentralisasi
Di
Indonesia, Avenoes press,Malang.
.-.iung, Paulus
Effendi.
1993. Beberapa Sistem Tentang Terhadap Pemerintah, Citra Aditya Bakti, Bandung. .:.:n. Bagir. 2001. Menyongsong Fajar Otononti Daerah,Hukum
UiI,
Yogyakarta.,-irsan, 1992. Sistent Pengawasan Terhadap Perbuatan Aparat penterintah Dan Peradilan Tata Usaha Negara Di Indonesia, Liberfy, yogyakarta.
-
.tinoko,Joko.
2005. Peruilihan Kepala Daerah Langsung, pustaka pelajar.Yogyakarta.
--,rso,
Topo dan
Didik
Supriyanto, 2004. Mengawasipemilu
Mengawal D entokras i, PT.Raja Grafi ndo Persada, Jakarta..-.idin, Samsul. 2008. Mengawasi Pemilihan {Jmum Kepala Daerah. pustaka Pelajar, Yogyakarta.