BAB 2
PERKEMBANGAN INFLASI
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012 17
BAB 2 :
P
ERKEMBANGAN INFLASI
Inflasi Gorontalo pada triwulan IV-2012 tercatat sebesar 5,31% (y.o.y) atau lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5,40% (y.o.y). Penurunan inflasi pada akhir tahun 2012 terutama disebabkan karena menurunnya tekanan inflasi inti (core inflation) dan inflasi administerd price.
2.1 INFLASI GORONTALO
Menurunnya tekanan harga pada triwulan IV-2012 nampaknya ikut menurunkan angka inflasi tahunan, dimana pada triwulan IV-2012 tercatat inflasi sebesar 5,41% (y.o.y) lebih rendah dibandingkan inflasi pada triwulan III-2012 yang tercatat sebesar 5,40% (y.o.y). Penyebab utama penurunan angka inflasi pada periode laporan disebabkan karena menurunnya harga komoditas yang tergolong sebagai inflasi inti (core inflation).
Data disagregasi inflasi Gorontalo menunjukkan bahwa pada triwulan IV-2012, kelompok inflasi inti (core inflation) mengalami penurunan yang tercatat sebesar 5,47% (y.oy) pada triwulan IV-2012, lebih rendah dibandingkan triwulan III-2012 yang tercatat sebesar 5,64% (y.o.y). Penurunan tersebut disebabkan karena menurunnya harga komoditas inflasi inti seperti emas perhiasan sebagai respon atas penurunan harga emas internasional. Semenatara itu, inflasi pada kelompok komoditas admisnistered price pada triwulan IV-2012 tercatat sebesar 3,03% (y.o.y), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 4,18% (y.o.y). Penurunan ini antara lain disebabkan karena menurunnya harga bensin di tingkat eceran pada triwulan laporan. Tabel 2.1 menunjukkan disagregasi inflasi Gorontalo.
Tabel 2.1 Disagregasi Inflasi Provinsi Gorontalo
Sumber : Bank Indonesia Gorontalo (Data Diolah)
Sementara itu, kelompok volatile food pada triwulan IV-2012 mengalami inflasi sebesar
BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI
18 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012| BANK INDONESIA
6,07% (y.o.y). Peningkatan ini terutama didorong karena meningkatnya harga kelompok bahan makanan karena menjelang datangnya Hari Raya Natal dan tahun baru.
Sumber : Bank Indonesia Gorontalo (Data Diolah) Grafik 2.1 Disagregasi Inflasi Tahunan (y.o.y) Provinsi Gorontalo
2.1.1 FAKTOR FUNDAMENTAL
Tekanan inflasi inti (core inflation) pada triwulan IV-2012 mengalami penurunan yang diindikasikan dengan menurunnya angka inflasi inti dari 5,64% (y.o.y) pada triwulan III-2012 menjadi 5,47% (y.o.y) pada triwulan IV-2012. Kelompok yang mengalami penurunan antara lain Kelompok Bahan Makanan jadi, Rokok dan Tembakau pada sub kelompok makanan jadi dan minuman tidak beralkohol dari 7,11% (y.o.y) menjadi sebesar 5,48% (y.o.y) dan Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga dari 0,88% (y.o.y) menjadi 0,61% (y.o.y) pada triwulan IV-2012.
Adapun komoditas yang mengalami penurunan pada triwulan laporan antara lain emas perhiasan pada sub kelompok barang pribadi dan barang lain. Survei Pemantauan Harga (SPH) Bank Indonesia pada Bulan Desember 2012 menunjukkan data bahwa terdapat penurunan harga emas perhiasan menjadi kisaran Rp.550.000,00 per gramnya, setelah pada bulan-bulan sebelumnya berada pada kisaran harga Rp.560.000,00 per gram.
Sementara itu hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) pada triwulan IV-2012 juga mengonfirmasikan adanya penurunan harga jual barang/jasa yang dijual oleh produsen. Hal ini sejalan dengan tekanan harga pada inflasi inti yang relatif berkurang pada triwulan IV-2012. Perkembangan harga jual barang/jasa dalam SKDU sebagaimana ditunjukkan oleh grafik 2.2 berikut:
BAB 2
PERKEMBANGAN INFLASI
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012 19
Sumber : SKDU, Bank Indonesia Gorontalo Grafik 2.2 Ekspektasi Harga Jual Dunia Usaha
Di sisi lain, faktor fundamental lainnya seperti ekspektasi inflasi masyarakat nampaknya sejalan dengan tren penurunan inflasi pada triwulan IV-2012 sebagaimana ditunjukkan dalam grafik 2.3 berikut:
Sumber : SKDU, Bank Indonesia Gorontalo Grafik 2.3 Perbandingan Indeks Rata-rata Tertimbang Inflasi SKDU dan Inflasi Aktual
2.1.2 FAKTOR NON – FUNDAMENTAL
Kelompok volatile food secara tahunan mengalami peningkatan angka inflasi. Pada
triwulan III-2012 tercatat inflasi pada kelompok ini sebesar 6,07% (y.o.y) kemudian meningkat menjadi 6,61% (y.o.y) pada triwulan IV-2012.
Peningkatan tersebut terutama dipicu oleh kenaikan pada Kelompok Bahan Makanan. Komoditas seperti bawang merah, cabe merah dan cabe rawit mengalami kenaikan harga pada triwulan laporan. Hal ini disebabkan karena meningkkatnya permintaan
(dalam %)
BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI
20 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012| BANK INDONESIA
terutama dari wilayah Sulawesi Utara saat menjelang Hari Raya Natal. Di samping itu komoditas seperti ikan kembung, kerapu dan tude mengalami lonjakan harga yang signifikan sebagai memburuknya cuaca dan tingginya ombak di laut sehingga menyebabkan berkurangnya tangkapan nelayan.
Sementara itu kelompok administered price mengalami penurunan inflasi pada
triwulan IV-2012. Inflasi pada kelompok ini tercatat sebesar 3,03% (y.o.y) menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,89% (y.o.y). Penurunan kelompok administered price terutama di dorong oleh penurunan pada Kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan pada sub kelompok transport yang mengalami penurunan dari 2,18% (y.o.y) menjadi 1,74% (y.o.y) serta Kelompok Perumahan, Air, Listrik Gas dan Bahan Bakar pada sub kelompok bahan bakar penerangan dan air yang mengalami penurunan dari 7,59% (y.o.y) menjadi 7,05% (y.o.y) pada triwulan IV-2012. Komoditas yang tercatat mengalami penurunan antara lain bensin non subsidi (Pertamax).
2.2 INFLASI BERDASARKAN KELOMPOK BARANG DAN JASA 2.2.1 INFLASI TAHUNAN (y.o.y)
Pada triwulan IV-2012, Gorontalo mengalami inflasi sebesar 5,31% (y.oy) lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat inflasi sebsar 5,40% (y.o.y) penurunan ini terutama disebabkan karena menurunnya tekanan harga pada Kelompok Bahan Makanan jadi, Rokok dan Tembakau, Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olah Raga, Kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan serta Kelompok Perumahan, Air, Listrik Gas dan Bahan Bakar.
Tabel 2.2
BAB 2
PERKEMBANGAN INFLASI
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012 21
Pada triwulan IV-2012, Kelompok Bahan Makanan jadi, Rokok dan Tembakau mengalami inflasi sebesar 5,48% (y.o.y) menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7,11% (y.o.y). Sementara itu Kelompok Pendidikan, Rekreasi dan Olahraga mengalami penurunan dari 0,88% (y.o.y) pada triwulan III-2012, menjadi 0,61% (y.o.y) pada periode triwulan IV-2012. Kelompok Transpor, Komunikasi dan Jasa Keuangan pun mengalami penurunan dari 2,18% (y.o.y) menjadi 1,74% (y.o.y) pada triwulan IV-2012 dan Kelompok Perumahan, Air, Listrik Gas dan Bahan Bakar mengalami penurunan menjadi sebesar 0,26% (y.o.y) pada triwulan IV-2012. Adanya penurunan pada beberapa kelompok tersebut disebabkan karena tekanan harga pada akhir tahun tidak setinggi yang diperkirakan sebelumnya, sehingga angka inflasi Bulan Desember relatif lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya.
BAB 2 PERKEMBANGAN INFLASI
22 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012| BANK INDONESIA
Halaman ini sengaja dikosongkan
BAB 3
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012 23
BAB 3 :
P
ERKEMBANGAN
P
ERBANKAN
D
AERAH
Indikator perbankan Gorontalo pada triwulan IV-2012 menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Dana Pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun pada bank umum tercatat sebesar Rp.3,04 triliun atau tumbuh sebesar 11,59% (y.o.y). Sementara itu penyaluran kredit perbankan pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp.5,53 triliun atau tumbuh tahunan sebesar 24,57%. Di sisi lain penghimpunan DPK pada Bank Perkreditan Rakyat (BPR) tercatat sebesar Rp.19,75 miliar atau tumbuh sebesar 26,15% (y.o.y). Penyaluran kredit BPR tumbuh sebesar 27,25% (y.o.y) atau tercatat sebesar Rp.25,35 miliar. Rasio penyaluran kredit terhadap dana pihak ketiga (LDR) yang dihimpun oleh bank umum pada triwulan IV-2012 relatif tinggi yang tercatat sebesar 181,94%, demikian pula pada BPR yang tercatat sebesar 128,36%. Rasio kredit bermasalah (NPLs) pada bank umum masih relatif terjaga pada kisaran 1,99% sementara pada BPR perlu diwaspadai karena sudah berada pada kisaran 10,88%.
3.1 FUNGSI INTERMEDIASI
Pada triwulan laporan, fungsi intermediasi yang dijalankan oleh industri perbankan berjalan dengan baik yang terlihat dari indikator Loan to Deposit Ratio (LDR) bank umum sebesar 181,94% dan BPR sebesar 128,36%. Tingginya angka LDR tersebut perlu mendapatkan perhatian, sebab dalam penyaluran kreditnya perbankan harus mendapatkan dana dari daerah lain untuk disalurkan di Gorontalo. Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan masyarakat untuk menyimpan dananya di bank masih relatif rendah. Dari sisi penggunaannya, kredit pada bank umum sebagian besar adalah kredit konsumsi
dengan share sebesar 58,72% dari total kredit, sementara pada BPR adalah kredit modal
kerja dengan share sebesar 51,08%. Secara sektoral, kredit pada sektor perdagangan besar dan eceran masih mendominasi penyaluran secara sektoral pada bank umum dan BPR dengan porsi masing-masing sebesar 27,84% dan 35,39%.
3.1.1 PERKEMBANGAN KANTOR BANK
Data perkembangan jumlah bank di Provinsi Gorontalo hingga triwulan IV-2012 adalah sebagai berikut: bank umum konvensional sebanyak 13 bank, bank umum syariah sebanyak 3 bank dan BPR sebanyak 4 bank. Sementara itu, jaringan kantor bank umum di Provinsi Gorontalo hingga triwulan laporan antara lain 17 kantor cabang, 34 kantor cabang pembantu, 2 kantor fungsional, 11 kantor kas serta 24 kantor unit. Sedangkan jaringan kantor BPR terdiri dari 4 kantor pusat, 2 kantor cabang dan 1 kantor kas.
BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
24 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012| BANK INDONESIA
3.1.2 PENYERAPAN DANA MASYARAKAT
Dana Pihak Ketiga (DPK) yang diserap oleh perbankan dari masyarakat pada triwulan IV-2012 tercatat sebesar Rp.3,04 triliun atau tumbuh secara tahunan sebesar
11,59%. Growth DPK tersebut menurun bila dibandingkan dengan triwulan sebelumnya
yang tercatat 17,86% (y.o.y). Penurunan growth jumlah DPK tersebut di dorong oleh
penurunan seluruh komponen DPK antara Giro, Deposito dan Tabungan yang masing-masing mengalami kontraksi secara tahunan sebesar 5,82%, -0,56% dan 17,93%. Di lihat dari komponen DPK, pangsa tabungan dalam keseluruhan DPK masih sangat tinggi yaitu sebesar 65,25% pada periode laporan. Hal tersebut mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 55,89%. Graifik 3.2 menunjukkan komposisi pembentuk DPK pada triwulan IV-2012. Sementara itu pertumbuhan DPK ditunjukkan oleh Grafik 3.1.
Sumber : Bank Indonesia
Grafik 3.1 Grafik 3.2
Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) Komposisi Dana Pihak Ketiga (DPK)
Tabel 3.1
Perkembangan Dana Pihak Ketiga Bank Umum
Sementara itu, penghimpunan DPK pada BPR pada triwulan IV-2012 tercatat sebesar Rp.19,75 miliar atau tumbuh secara tahunan sebesar 26,15%. Pertumbuhan DPK tersebut menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat tumbuh tahunan sebesar
Indikator Tw III-2012 (miliar) Tw IV-2012 (miliar) Growth Tw III-2012 (yoy) Growth Tw IV-2012 (yoy)
Dana Pihak ketiga 3,064 3,040 17.86% 11.59%
Giro 512 331 25.79% 5.82%
Deposito 839 725 4.62% -0.56%
Tabungan 1,713 1,984 23.17% 17.93%
BAB 3
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012 25
33,71%. Penurunan tersebut nampaknya didorong oleh seluruh komponen pembentuk DPK yakni deposito dan tabungan yang tumbuh tahunan masing-masing sebesar 19,93% dan 35,07%.
3.1.3 PENYALURAN KREDIT
Kredit/pembiayaan yang disalurkan oleh perbankan kepada masyarakat pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp.5,53 triliun atau tumbuh tahunan sebesar 24,57%. Angka ini jauh mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp.5,24 triliun atau secara tahunan tumbuh sebesar 21,78%.
Pertumbuhan kredit perbankan pada triwulan IV-2012 terutama ditopang oleh kredit
konsumsi, dimana pada periode laporan outstanding kredit tercatat sebesar Rp.3,24 triliun
atau tumbuh tahunan sebesar 42,66%. Sementara itu kredit investasi mengalami penurunan penyaluran menjadi sebesar Rp.564 miliar atau tumbuh tahunan -25% pada triwulan laporan, di sisi lain kredit modal kerja sedikit meningkat menjadi Rp.1,71 triliun atau tumbuh tahunan sebesar 21,81%. Pertumbuhan kredit berdasarkan penggunaan dapat dilihat pada grafik 3.3.
Selanjutnya, bila dilihat dari pangsa penggunaan kredit, kredit konsumsi masih
mendominasi penyaluran kredit perbankan dengan share sebesar 58,72% pada triwulan
IV-2012. Di sisi lain, kredit modal kerja menempati urutan kedua dengan pangsa 31,07%, diikuti oleh kredit investasi dengan pangsa 10,21%. Pertumbuhan kredit penggunaan dan pangsa masing-masing jenis kredit terhadap total kredit di Gorontalo, dapat dilihat pada grafik 3.3 dan 3.4 berikut ini.
Sumber : Bank Indonesia
Grafik 3.3 Grafik 3.4
BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
26 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012| BANK INDONESIA
Tabel 3.2
Perkembangan Kredit Bank Umum
Sejalan dengan hal tersebut, penyaluran kredit BPR pada triwulan laporan telah mencapai Rp.25,35 miliar atau secara tahunan tumbuh sebesar 27,25%. Peningkatan penyaluran kredit BPR ditopang oleh peningkatan hampir seluruh komponen penggunaan kredit antara lain kredit modal kerja yang tercatat sebesar Rp.12,95 miliar atau tumbuh tahunan sebesar 25,85% serta kredit konsumsi yang tercatat sebesar Rp.12,03 miliar atau tumbuh 29,26% (y.o.y). Adanya peningkatan kredit konsumsi BPR pada triwulan laporan mengindikasikan bahwa kecenderungan masyarakat untuk konsumsi diimbangi dengan
kecenderungan untuk menjalankan usaha/bisnis. Di sisi lain, kredit investasi mengalami
penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp.366 juta, atau tumbuh sebesar 13,75% (y.o.y). Rendahnya penyaluran kredit investasi ini disinyalir karena pengetahuan masyarakat akan skim kredit ini masih relatif rendah sehingga belum memanfaatkannya secara optimal.
Apabila dilihat dari segi sektoral, penyaluran kredit bank umum masih didominasi oleh sektor perdagangan besar dan eceran dengan baki debet sebesar Rp.1,54 triliun, dengan pangsa kredit 27,84%. Kredit pada sektor tersebut tumbuh sebesar 18,74% (y.o.y) namun menurun dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 23,05% (y.o.y). Di sisi lain, pada sektor lainnya yang mengalami perlambatan adalah pada sektor listrik, gas dan air bersih yang mengalami perlambatan sebesar -86,86% serta sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, & jaminan sosial wajib yang mengalami perlambatan sebesar -34,35%. Perlambatan tersebut diduga karena geliat usaha pada sektor ini relatif menurun pada perode laporan. Grafik 3.5 dan 3.6 menunjukkan pertumbuhan kredit sektoral dan komposisi kredit sektoral bank umum.
Indikator Tw III-2012 (miliar) Tw IV-2012 (miliar) Growth Tw III-2012 (yoy) Growth Tw IV-2012 (yoy) Kredit Penggunaan 5,245 5,532 17.86% 11.59% Modal Kerja 1,664 1,719 25.79% 5.82% Investasi 619 565 4.62% -0.56% Konsumsi 2,962 3,248 23.17% 17.93%
BAB 3
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012 27
Sumber : Bank Indonesia
Grafik 3.5 Grafik 3.6
Pertumbuhan Kredit Sektoral Komposisi Kredit Sektoral
Seperti halnya dengan bank umum, pada BPR sektor utama yang disalurkan kredit adalah sektor perdagangan besar dan eceran dimana pada periode laporan tercatat
sebesar Rp.8,8 miliar dengan pangsa sebesar 35,39%. Sementara dari segi growth, sektor
tersebut tumbuh tahunan sebesar 23,32% meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat 10,11%.
Dilihat dari segi kategori debiturnya, Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) pada bank umum hingga triwulan IV-2012 tercatat sebesar Rp.1,994 triliun atau tumbuh sebesar 3,82% (y.o.y) dengan pangsa kredit sebesar 36,05% dari total kredit di Gorontalo. Baki debet kredit UMKM sedikit mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar Rp.1,993 triliun atau tumbuh 7,74% (y.o.y). Dilihat dari komposisinya, kredit
skala kecil memiliki outstanding terbesar diantara skala kredit lainnya dengan nilai Rp.933
miliar. Sementara kredit skala menengah dan mikro masing-masing memiliki baki debet sebesar Rp.448 miliar dan Rp.613 miliar. Share kredit skala kecil adalah 46,78% sementara kredit skala mikro dan menengah memiliki pangsa masing-masing sebesar 22,48% dan 30,73% dari total kredit UMKM. Rasio kredit bermasalah (NPL) kategori debitur UMKM pada triwulan IV-2012 tercatat sebesar 4,21%, dengan rasio NPL terbesar pada kredit skala kecil yaitu 9,04% diikuti skala menengah dan mikro masing-masing sebesar 5,44% dan 2,73%. Grafik 3.7 menunjukkan pertumbuhan kredit UMKM.
BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
28 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012| BANK INDONESIA
Sumber : Bank Indonesia Grafik 3.7
Pertumbuhan Kredit UMKM
Data Kredit Usaha Raktyat (KUR) dari Kementerian Koordinator Bidang
Perekonomian menunjukkan bahwa outstanding KUR hingga posisi triwulan IV-2012
tercatat sebesar Rp.154 miliar dengan pertumbuhan tahunan meningkat sebesar 11,86% dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh melambat sebesar -18,29% (y.o.y). Sementara itu, jumlah debitur yang memperoleh KUR sejak awal penyalurannya di Gorontalo telah mencapai 50.861 debitur dengan nilai nominal (komulatif) penyaluran mencapai Rp.514 miliar. Adapun bank penyalur KUR di Provinsi Gorontalo pada saat ini adalah Bank Rakyat Indonesia, Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara, Bank Negara Indonesia, Bank Sulut dan Bank Syariah Mandiri. Pertumbuhan Kredit Usaha Rakyat (KUR) di Gorontalo ditunjukan sebagaimana grafik 3.8 berikut.
Sumber : Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Grafik 3.8
BAB 3
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012 29
3.2 STABILITAS SISTEM PERBANKAN
Stabilitas sistem perbankan dapat dilihat dari indikator risiko kredit yang dicerminkan oleh rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loans (NPLs) pada bank umum dan risiko kredit yang dicerminkan oleh jangka waktu Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan dan angka rasio kredit/pembiayaan terhadap dana pihak ketiganya (LDR). Rasio NPL bank umum pada triwulan IV-2012 tercatat sebesar 1,99% sementara LDR tercatat sebesar 181,94%.
3.2.1 RISIKO KREDIT
Risiko kredit perbankan sebagaimana tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loans (NPLs) pada triwulan IV-2012 tercatat sebesar 1,99% atau mengalami penurunan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,49%. Penurunan angka NPLs pada industri perbankan Gorontalo patut diapresiasi karena menunjukkan komitmen perbankan dalam menjaga kualitas kreditnya. Namun demikian hendaknya perbankan tidak boleh lengah dan senantiasa mewaspadai munculnya risiko kredit sebagai ekses intermediasi yang dilakukan. Sebagaimana tendensi pada tiap triwulan, diketahui bahwa penunjang realisasi kredit perbankan masih di dominasi oleh penggunaan kredit konsumtif dan bukan produktif, hal inilah yang menyebabkan konsumsi masih menjadi andalan dalam postur PDRB Gorontalo. Dilihat secara sektoral, kredit pada sektor pertambangan dan penggalian, sektor konstruksi dan sektor perikanan perlu mendapatkan perhatian lebih dengan rasio kredit bermasalah masing-masing sebesar 15,84%, 12,37% dan 8,19%. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (NPLs) untuk BPR tercatat sebesar 10,88%, atau mengalami peningkatan dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 9,93%. Grafik 3.9 dan 3.10 menunjukkan perkembangan NPL bank umum dan NPL bank umum dilihat dari masing-masing sektornya.
Sumber : Bank Indonesia
Grafik 3.9 Grafik 3.10
BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
30 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012| BANK INDONESIA
Di lain sisi, yang agaknya perlu mendapat perhatian adalah proporsi kredit konsumsi
yang pada pembagian sektoral tercatat sebagai “bukan lapangan usaha”. Kredit konsumsi
dalam proporsi sektoral mempunyai share sebesar 58,72% dengan NPL 0,62%. Grafik 3.11 menunjukkan share konsentrasi kredit berdasarkan sektornya.
Sumber : Bank Indonesia Grafik 3.11
Konsentrasi Kredit
3.2.2 RISIKO LIKUIDITAS
Indikator risiko likuiditas yang diindikasikan dari jangka waktu komposisi Dana Pihak
Ketiga (DPK) serta Loan Deposit Ratio (LDR) menunjukkan tendensi peningkatan yang
tercermin dari meningkatnya pangsa komposisi dana jangka pendek perbankan (tabungan)
dan meningkatnya indikator Loan to Deposit Ratio (LDR). Dilihat dari komposisi DPKnya,
terlihat bahwa komposisi dana jangka menengah-panjang (giro-deposito) relatif lebih sedikit bila dibandingkan dengan dana jangka pendeknya (tabungan). Pada triwulan IV-2012, pangsa tabungan atas DPK menempati urutan pertama dengan pangsa sebesar 65,25% meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang memiliki pangsa sebesar 55,89% Sementara itu, dana jangka menengah-panjang (giro-deposito) memiliki pangsa
masing-masing sebesar 10,89% dan 23,85%. Tingginya share dana jangka pendek (tabungan)
dalam struktur DPK, menyiratkan masih terdapatnya risiko likuiditas yang mungkin dihadapi oleh perbankan Gorontalo. Ke depan, industri perbankan perlu meningkatkan porsi penghimpunan dana khususnya dana jangka menengah-panjang seperti giro dan deposito. Grafik 3.12 menunjukkan perkembangan portofolio DPK bank umum.
BAB 3
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012 31
Sumber : Bank Indonesia Grafik 3.12
Perkembangan Portofolio DPK
Rasio kredit/pembiayaan terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK) perbankan atau lebih dikenal dengan rasio LDR merupakan indikator risiko likuiditas yang perlu diwaspadai oleh perbankan. Pada triwulan laporan, tercatat LDR bank umum sebesar 181,94% meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercatat sebesar 171,17%. Tren perkembangan LDR menunjukkan bahwa terdapat peningkatan risiko likuiditas yang dihadapi perbankan di Gorontalo. Rata-rata LDR pada bank umum di Gorontalo telah melampaui 165% dan pada posisi Bulan Desember 2012 telah mencapai 181,94%. Hal ini mencerminkan bahwa
perbankan di gorontalo harus mendapatkan “dana segar” dari wilayah lain diluar Provinsi
Gorontalo guna mengimbangi ekspansi kreditnya. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian lebih, sebab untuk menjaga keseimbangan operasionalnya perbankan tidak hanya dituntut untuk menyalurkan pembiayaan, namun juga harus mempertimbangkan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK)nya. Inklusi keuangan perbankan agaknya tidak hanya menjadi slogan semata, namun perlu diimplementasikan oleh industri perbankan di Gorontalo. Grafik 3.13 berikut menunjukkan perkembangan LDR perbankan gorontalo.
Sumber: Bank Indonesia Grafik 3.13
BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
32 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012| BANK INDONESIA
3.2.3 RISIKO PASAR
Risiko pasar yang dihadapi oleh perbankan, tercermin dari indikator pergerakan suku bunga dan kurs rupiah. Pada posisi akhir triwulan IV-2012, tercatat angka BI Rate sebesar 5,75%, masih belum mengalami perubahan sejak ditetapkan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada Bulan Februari Tahun 2012 yang lalu. Angka BI Rate tersebut mencerminkan bahwa kondisi perekonomian Indonesia relatif stabil selama tahun 2012, terlebih lagi angka realisasi inflasi nasional pada Bulan Desember 2012 mencapai 4,3% (y.o.y) dan masih berada dalam kisaran proyeksi inflasi Bank Indonesia yaitu 4,5% ± 1% (y.o.y).
Sementara itu, kurs rupiah terhadap dollar hingga akhir triwulan IV-2012 mengalami pelemahan dibandingkan triwulan sebelumnya. Pada akhir bulan Desember 2012 tercatat kurs rupiah terhadap dollar sebesar Rp.9.670,- melemah dibandingkan posisi akhir September 2012 yang tercatat Rp.9.588,-. Grafik 3.14 menunjukkan perkembangan kurs rupiah terhadap USD dan BI rate.
Sumber: Bank Indonesia Grafik 3.14
BAB 3
PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012 33
BOX 2: FESTIVAL KARAWO 2012: QUO VADIS DAN SECERCAH
HARAPANNYA
Kerajinan sulaman karawo konon sudah mulai dikenal sejak jaman penjajahan kompeni di Gorontalo. Sekitar abad ke-17 di sebuah wilayah yang bernama Ayula (kini berada di Kabupaten Bone Bolango), karawo berasal. Kala itu para perempuan usia muda hingga paruh baya rata-rata memiliki keterampilan mengiris dan menyulam kain biasa dan mengubahnya menjadi seni sulam yang indah. Karawo pada dasarnya mirip dengan seni kristik yang berasal dari negeri kincir angin sehingga diduga terdapat pengaruh budaya Belanda di dalamnya. Namun berbeda dengan kristik yang pola sulamnya telah tersedia dan hasil akhirnya dapat diperkirakan, pengrajin karawo harus mampu memvisualisasikan hasil karyanya pada sebidang kain yang belum terbentuk pola sulamnya.
Proses pembuatan karawo terbilang cukup rumit. Sebidang kain polos harus dicabut benangnya satu per satu untuk dibuat pola sulamnya, kemudian disulam sesuai bentuk yang diinginkan. Terakhir kain hasil sulaman harus diikat kembali satu per satu guna menguatkan sulam yang telah terbentuk. Pada awal perkembangannya karawo hanya berbentuk sapu tangan atau taplak meja, namun seiring dengan bergantinya jaman beragam kreasi diaplikasikan pada karawo seperti baju, kopiah, jas, mukena hingga tas dan selop wanita.
Karawo mengalami pasang surut kejayaan sejak tahun 70an. Permasalahan utama yang dihadapi adalah kurangnya desain atau motif yang mengikuti perkembangan jaman. Selanjutnya keengganan regenerasi pengiris yang rata-rata berusia diatas 50 tahun menjadi kendala tersendiri. “Ruh” dari karawo adalah irisan kain, sehingga apabila tenaga pengiris makin langka, dikhawatirkan karawo berada di persimpangan jaman. Belum lagi kombinasi padu padan warna yang terkesan monoton dan tidak menarik menyebabkan karawo jalan di tempat.
Melihat kenyataan di lapangan tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Gorontalo sejak tahun 2009 lalu telah melakukan studi komprehensif terhadap rencana pengembangan klaster yang berbasis industri kreatif tersebut. Akhirnya pada tahun 2011, karawo resmi menjadi klaster binaan KPw Gorontalo. Kegiatan demi kegiatan pengembangan dilakukan, mulai dari pelatihan, fasilitasi pameran, hingga pelaksanaan Festival Karawo yang sejak 2011 lalu telah digulirkan.
Tujuan utama kegiatan tersebut tidak lain adalah untuk “menyelamatkan” kerajinan
yang menjadi masterpiece Gorontalo agar tidak tergerus waktu. Bersyukur, Pemerintah
Daerah melalui Gubernur Provinsi Gorontalo pada akhirnya mendukung sepenuhnya pengembangan sulaman karawo sebagai aset daerah yang bernilai tinggi.
BAB 3 PERKEMBANGAN PERBANKAN DAERAH
34 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012| BANK INDONESIA
Pada tahun 2012 ini, KPw Gorontalo melalui program pemberdayaan sektor riil dan UMKM kembali menggelar perhelatan akbar Festival Karawo 2012. Even kali ini masih mengusung beberapa kegiatan
serupa dengan tahun sebelumnya
seperti parade karawo, lomba peragaan busana karawo dan aneka lomba yang
tentunya sangat menarik. Dalam
kegiatan tersebut juga dikenalkan
sarana pemasaran karawo yang lebih
menjual dan melek teknologi, yaitu
melalui website www.tokokarawo.com. Para pengunjung laman tokokarawo akan
ditawarkan berbagai produk sulaman karawo disertai dengan masing-masing harganya. Tak
lupa informasi menarik seputar “dunia” karawo yang selalu update setiap harinya tersedia
dalam situs jejaring dunia maya tersebut. Disamping fasilitasi marketing di dunia maya, KPw
Gorontalo juga melakukan upgrading penjualan melalui pembukaan gerai karawo yang
dikelola oleh para pengrajin yang menjadi binaan KPw Gorontalo.
Festival Karawo 2012 membuahkan secercah harapan bagi pengembangan karawo karena menjadi tonggak kebangkitan karawo ke depan. Tidak lama setelah bergulirnya pagelaran itu, Gabungan Kelompok Pecinta Karawo atau yang lebih dikenal dengan GAPOKCIWO terbentuk. GAPOKCIWO terdiri dari para pengrajin dan pengusaha karawo yang tersebar di beberapa daerah di Gorontalo. Dengan kesadaran kolektif, mereka berinisiatif membentuk kelompok pecinta karawo. Tujuan dibentuknya kelompok ini adalah untuk memfasilitasi aspirasi para pengrajin karawo. Beberapa diantaranya terkait dengan bahan baku yang lebih murah dan mudah diperoleh, pelatihan padu padan warna dan menjahit karawo agar tampak lebih menarik.
Dengan adanya pelaksanaan Festival Karawo 2012, diharapkan seluruh pihak dapat memahami pentingnya pemberdayaan kerajinan sulaman karawo ke depan. Terlebih dengan ditetapkannya Festival Karawo sebagai even tahunan Provinsi Gorontalo, tentunya dapat menambah khasanah panduan wisata yang dapat menarik wisatawan domestik dan mancanegara untuk datang ke Gorontalo. Semoga..
BAB 4
KEUANGAN DAERAH
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012 35
BAB 4 :
K
EUANGAN DAERAH
Persentase realisasi terhadap target anggaran belanja APBD Pemerintah Provinsi Gorontalo pada triwulan IV-2012 lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara persentase realisasi terhadap target anggaran pendapatan APBD Pemerintah Provinsi mengalami peningkatan. Secara nominal realisasi belanja mencapai Rp 883 Miliar sementara realisasi pendapatan mencapai Rp 932 Miliar.
4.1 PENDAPATAN DAERAH
Pada triwulan IV-2012, persentase realisasi terhadap target anggaran pendapatan APBD Pemerintah Provinsi mencapai 101,36% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 100,54%.
Dilihat dari strukturnya, persentase realisasi terbesar terjadi pada Pendapatan Asli
Daerah (110,8%) yang disumbang oleh kenaikan persentase realisasi pajak daerah. Sementara untuk persentase realisasi Dana Perimbangan mencapai 100,09%. Dibandingkan tahun sebelumnya, pendapatan daerah tahun 2012 bertambah cukup signifikan dari Rp 680 Miliar menjadi Rp 932 Miliar yang disumbang oleh kenaikan penghimpunan pendapatan lain-lain yang sah sebesar Rp 116 Miliar.
Tabel 4.1
Anggaran Induk dan Realisasi Penerimaan APBD Provinsi Gorontalo
Sumber : Badan Keuangan Prov. Gorontalo
Dilihat dari pangsanya, komposisi terbesar pendapatan daerah masih disumbang oleh Dana Perimbangan sebesar 69,2% kemudian PAD sebesar 17,58% dan Pendapatan lain-lain sebesar 13,23%. Menurunnya komposisi Dana Perimbangan ini memberikan sinyal cukup baik bagi kemandirian pembiayaan ekonomi daerah.
Realisasi Pencapaian
(%) Realisasi Pencapaian (%)
Pendapatan Asli Daerah 144.916.740.520 151.495.419.183 104,54 161.639.396.184 179.100.125.263 110,80
Pajak daerah 133.127.278.321 140.235.868.435 105,34 150.012.733.985 168.068.663.005 112,04
Pajak Kendaraan Bermotor 42.153.606.599 44.303.321.140 105,10 49.604.243.299 54.644.527.740 110,16 Pajak Kendaraan di Air 25.000.000 - - 25.000.000 - -Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 66.537.687.034 68.767.615.350 103,35 71.110.005.998 80.423.353.700 113,10 Bea Balik Nama Kendaraan Di Air 15.000.000 - - 15.000.000 80.031.400 533,54 Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 24.180.984.688 27.105.378.520 112,09 29.180.984.688 32.857.538.205 112,60 Pajak Air Permukaan 160.000.000 59.553.425 37,22 67.500.000 61.511.910 91,13 Pajak Air Bawah Tanah 55.000.000 - - 10.000.000 1.700.050 17,00 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan - - - -
-Retribusi Daerah - 100.000.000 88.420.000 88,42
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 11.789.462.199 11.259.550.748 95,51 11.526.662.199 10.943.042.258 94,94 Dana Perimbangan 513.158.308.835 510.223.775.851 99,43 636.378.685.314 636.955.516.188 100,09
Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak 23.983.008.835 21.048.473.851 87,76 30.230.153.314 30.806.884.188 101,91 Dana Alokasi Umum 461.118.100.000 461.118.102.000 100,00 582.140.302.000 582.140.302.000 100,00 Dana Alokasi Khusus 28.057.200.000 28.057.200.000 100,00 24.008.230.000 24.008.330.000 100,00
Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah 18.900.000.000 18.900.000.000 100,00 121.630.890.000 116.123.470.000 95,47 Jumlah Pendapatan 676.975.049.355 680.619.195.034 100,54 919.648.971.498 932.179.111.451 101,36
Sumber : Badan Keuangan Provinsi Gorontalo
APBDP 2012 APBDP 2011
2011 IV-2012
BAB 4 KEUANGAN DAERAH
36 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012| BANK INDONESIA Tabel 4.2
Komposisi Penerimaan APBD Provinsi Gorontalo (dalam %)
4.2 BELANJA DAERAH
Pada triwulan IV-2012, persentase realisasi terhadap target anggaran belanja APBD Pemerintah Provinsi mencapai 90,86% lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 92,78%.
Dilihat dari strukturnya, penurunan persentase realisasi terbesar terjadi pada Belanja Langsung (88,8%) yang disumbang oleh penurunan persentase realisasi belanja modal. Sementara untuk persentase realisasi Belanja Langsung mencapai 92,69%. Dibandingkan tahun sebelumnya, penyerapan belanja daerah tahun 2012 bertambah dari Rp 712 Miliar menjadi Rp 883 Miliar yang disumbang oleh kenaikan belanja tidak langsung terutama pos belanja hibah sebagai dampak program subsidi pendidikan oleh Pemerintah Daerah.
Tabel 4.3
Anggaran Induk dan Realisasi Belanja APBD Provinsi Gorontalo
Dilihat dari pangsanya, komposisi terbesar penyerapan belanja daerah masih terjadi pada Pos Belanja Tidak Langsung sebesar 52,6% dengan persentase penyerapan terbesar pada belanja pegawai (23%) dan belanja hibah (20%). Yang patut mendapat perhatian adalah komposisi belanja modal yang menurun dibandingkan tahun sebelumnya.
Realisasi Komposisi
(%) Realisasi
Komposisi (%)
Pendapatan Asli Daerah 144.916.740.520 151.495.419.183 22,26 161.639.396.184 179.100.125.263 17,58
Pajak daerah 133.127.278.321 140.235.868.435 20,60 150.012.733.985 168.068.663.005 16,31
Pajak Kendaraan Bermotor 42.153.606.599 44.303.321.140 6,51 49.604.243.299 54.644.527.740 5,39 Pajak Kendaraan di Air 25.000.000 - - 25.000.000 - 0,00 Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 66.537.687.034 68.767.615.350 10,10 71.110.005.998 80.423.353.700 7,73 Bea Balik Nama Kendaraan Di Air 15.000.000 - - 15.000.000 80.031.400 0,00 Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 24.180.984.688 27.105.378.520 3,98 29.180.984.688 32.857.538.205 3,17 Pajak Air Permukaan 160.000.000 59.553.425 0,01 67.500.000 61.511.910 0,01 Pajak Air Bawah Tanah 55.000.000 - - 10.000.000 1.700.050 0,00 Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan - - - -
-Retribusi Daerah - 100.000.000 88.420.000 0,01
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 11.789.462.199 11.259.550.748 1,65 11.526.662.199 10.943.042.258 1,25 Dana Perimbangan 513.158.308.835 510.223.775.851 74,96 636.378.685.314 636.955.516.188 69,20
Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak 23.983.008.835 21.048.473.851 3,09 30.230.153.314 30.806.884.188 3,29 Dana Alokasi Umum 461.118.100.000 461.118.102.000 67,75 582.140.302.000 582.140.302.000 63,30 Dana Alokasi Khusus 28.057.200.000 28.057.200.000 4,12 24.008.230.000 24.008.330.000 2,61
Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah 18.900.000.000 18.900.000.000 2,78 121.630.890.000 116.123.470.000 13,23 Jumlah Pendapatan 676.975.049.355 680.619.195.034 100,00 919.648.971.498 932.179.111.451 100,00
Sumber : Badan Keuangan Provinsi Gorontalo
APBDP 2012 APBDP 2011 2011 IV-2012 Pendapatan Daerah Realisasi Pencapaian (%) Realisasi Pencapaian (%)
Belanja Tidak Langsung 349.534.816.664 323.981.914.467 92,69 501.216.517.206 465.099.947.678 92,79
Belanja Pegawai 203.973.905.336 187.797.346.422 92,07 226.769.991.136 209.099.424.239 92,21 Belanja Subsidi 2.500.000.000 1.662.443.865 66,50 3.500.000.000 1.506.660.000 43,05 Belanja Hibah 73.240.000.000 66.763.215.789 91,16 195.175.312.000 182.988.988.187 93,76 Belanja Bantuan Sosial 7.500.000.000 6.966.536.209 92,89 600.000.000 39.250.000 6,54 Belanja Bagi Hasil Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa 51.070.911.328 51.024.380.307 99,91 56.676.214.070 55.182.732.653 97,36 Belanja Bantuan Keuangan Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa 7.500.000.000 8.098.192.000 107,98 16.295.000.000 16.088.905.599 98,74 Belanja Tidak Terduga 3.750.000.000 1.669.799.875 44,53 2.200.000.000 193.987.000 8,82
Belanja Langsung 418.812.138.202 388.887.795.149 92,85 471.690.889.513 418.870.553.572 88,80
Belanja Pegawai 30.891.979.880 27.608.715.245 89,37 35.787.169.212 32.819.283.363 91,71 Belanja Barang dan Jasa 239.917.730.430 219.298.362.650 91,41 276.001.571.940 247.657.426.558 89,73 Belanja Modal 148.002.427.892 141.980.717.254 95,93 159.902.148.361 138.393.843.651 86,55
Jumlah Belanja 768.346.954.866 712.869.709.616 92,78 972.907.406.719 883.970.501.250 90,86
Sumber : Badan Keuangan Provinsi Gorontalo
APBDP 2012
IV-2012 APBDP 2011
IV-2011 Belanja Daerah
BAB 4
KEUANGAN DAERAH
BANK INDONESIA | KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012 37
Tabel 4.4
Komposisi Belanja APBD Provinsi Gorontalo
4.3. KONTRIBUSI REALISASI APBD GORONTALO TERHADAP SEKTOR RIIL DAN UANG BEREDAR
Kinerja fiskal selama triwulan IV-2012 belum menunjukkan perubahan yang signifikan terhadap stimulan sektor riil. Realisasi anggaran konsumsi pemerintah memberikan pangsa 27,90%, sementara itu belanja modal memberikan pangsa 5,18%. Pangsa konsumsi pemerintah terhadap sektor riil mengalami kenaikan dibandingkan triwulan IV-2011, hal ini terkait program hibah subsidi pendidikan yang dilakukan Pemerintah Daerah.
Sementara itu pangsa Belanja Modal terhadap sektor riil pada triwulan IV-2012 mengalami penurunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kondisi ini berimplikasi pada melambatnya pertumbuhan komponen investasi pada PDRB Gorontalo tahun 2012 mengingat sebagian besar investasi daerah masih dilakukan oleh Pemerintah.
Tabel 4.5
Stimulus Fiskal APBD terhadap Sektor Riil
Di sisi pengaruhnya terhadap uang beredar, realisasi anggaran APBD Gorontalo sampai dengan akhir triwulan IV-2012 menunjukkan kontraksi. Kontraksi terjadi karena realisasi dari penerimaan APBD lebih besar dibandingkan penyerapan belanja APBD dengan surplus penerimaan mencapai Rp 48 Miliar.
Realisasi Komposisi
(%) Realisasi
Komposisi (%)
Belanja Tidak Langsung 349.534.816.664 323.981.914.467 45,45 501.216.517.206 465.099.947.678 52,61
Belanja Pegawai 203.973.905.336 187.797.346.422 26,34 226.769.991.136 209.099.424.239 23,65 Belanja Subsidi 2.500.000.000 1.662.443.865 0,23 3.500.000.000 1.506.660.000 0,17 Belanja Hibah 73.240.000.000 66.763.215.789 9,37 195.175.312.000 182.988.988.187 20,70 Belanja Bantuan Sosial 7.500.000.000 6.966.536.209 0,98 600.000.000 39.250.000 0,00 Belanja Bagi Hasil Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa 51.070.911.328 51.024.380.307 7,16 56.676.214.070 55.182.732.653 6,24 Belanja Bantuan Keuangan Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa 7.500.000.000 8.098.192.000 1,14 16.295.000.000 16.088.905.599 1,82 Belanja Tidak Terduga 3.750.000.000 1.669.799.875 0,23 2.200.000.000 193.987.000 0,02
Belanja Langsung 418.812.138.202 388.887.795.149 54,55 471.690.889.513 418.870.553.572 47,39
Belanja Pegawai 30.891.979.880 27.608.715.245 3,87 35.787.169.212 32.819.283.363 3,71 Belanja Barang dan Jasa 239.917.730.430 219.298.362.650 30,76 276.001.571.940 247.657.426.558 28,02 Belanja Modal 148.002.427.892 141.980.717.254 19,92 159.902.148.361 138.393.843.651 15,66
Jumlah Belanja 768.346.954.866 712.869.709.616 100,00 972.907.406.719 883.970.501.250 100,00
Sumber : Badan Keuangan Provinsi Gorontalo
APBDP 2012 IV-2012 APBDP 2011 IV-2011 Belanja Daerah Nominal %PDRB Nominal %PDRB Konsumsi Pemerintah 620.344.526.974 570.888.992.362 24,12 813.005.258.358 745.576.657.599 27,90 Belanja Pegawai 234.865.885.216 215.406.061.667 9,10 262.557.160.348 241.918.707.602 9,05 Belanja Subsidi 2.500.000.000 1.662.443.865 0,07 3.500.000.000 1.506.660.000 0,06 Belanja Hibah 73.240.000.000 66.763.215.789 2,82 195.175.312.000 182.988.988.187 6,85 Belanja Bantuan Sosial 7.500.000.000 6.966.536.209 0,29 600.000.000 39.250.000 0,00 Belanja Bagi Hasil Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa 51.070.911.328 51.024.380.307 2,16 56.676.214.070 55.182.732.653 2,07 Belanja Bantuan Keuangan Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa 7.500.000.000 8.098.192.000 0,34 16.295.000.000 16.088.905.599 0,60 Belanja Tidak Terduga 3.750.000.000 1.669.799.875 0,07 2.200.000.000 193.987.000 0,01 Belanja Barang dan Jasa 239.917.730.430 219.298.362.650 9,26 276.001.571.940 247.657.426.558 9,27
Pembentukan Modal Tetap Bruto 148.002.427.892 141.980.717.254 6,00 159.902.148.361 138.393.843.651 5,18
Belanja Modal 148.002.427.892 141.980.717.254 6,00 159.902.148.361 138.393.843.651 5,18 Sumber : Badan Keuangan Provinsi Gorontalo
APBDP 2012 III-2012 APBDP 2011 IV-2011
BAB 4 KEUANGAN DAERAH
38 KAJIAN EKONOMI REGIONAL PROV. GORONTALO TRIWULAN IV-2012| BANK INDONESIA Tabel 4.6
Dampak APBD Terhadap Uang Beredar
4.4. ANGGARAN PEMERINTAH PROVINSI GORONTALO TAHUN 2013
Tabel 4.7
Anggaran Pendapatan Daerah 2012 vs 2013
Tabel 4.8
Anggaran Belanja Daerah 2012 vs 2013
Realisasi %PDRB Realisasi %PDRB
Pendapatan 676.975.049.355 680.619.195.034 28,75 919.648.971.498 932.179.111.451 34,89
Pendapatan Asli Daerah 144.916.740.520 151.495.419.183 6,40 161.639.396.184 179.100.125.263 6,70
Dana Perimbangan 513.158.308.835 510.223.775.851 21,55 636.378.685.314 636.955.516.188 23,84
Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak 23.983.008.835 21.048.473.851 0,89 30.230.153.314 30.806.884.188 1,15
Dana Alokasi Umum 461.118.100.000 461.118.102.000 19,48 582.140.302.000 582.140.302.000 21,79
Dana Alokasi Khusus 28.057.200.000 28.057.200.000 1,19 24.008.230.000 24.008.330.000 0,90
Dana Darurat - -Dana Penyesuaian 18.900.000.000 18.900.000.000 0,80 121.630.890.000 116.123.470.000 4,35 Belanja 768.346.954.866 712.869.709.616 30,11 972.907.406.719 883.970.501.250 33,08 Belanja Pegawai 234.865.885.216 215.406.061.667 9,10 262.557.160.348 241.918.707.602 9,05 Belanja Subsidi 2.500.000.000 1.662.443.865 0,07 3.500.000.000 1.506.660.000 0,06 Belanja Hibah 73.240.000.000 66.763.215.789 2,82 195.175.312.000 182.988.988.187 6,85
Belanja Bantuan Sosial 7.500.000.000 6.966.536.209 0,29 600.000.000 39.250.000 0,00
Belanja Bagi Hasil Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa 51.070.911.328 51.024.380.307 2,16 56.676.214.070 55.182.732.653 2,07 Belanja Bantuan Keuangan Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa 7.500.000.000 8.098.192.000 0,34 16.295.000.000 16.088.905.599 0,60
Belanja Tidak Terduga 3.750.000.000 1.669.799.875 0,07 2.200.000.000 193.987.000 0,01
Belanja Barang dan Jasa 239.917.730.430 219.298.362.650 9,26 276.001.571.940 247.657.426.558 9,27
Belanja Modal 148.002.427.892 141.980.717.254 6,00 159.902.148.361 138.393.843.651 5,18
Surplus/Defisit (91.371.905.511) (32.250.514.582) (1,36) (53.258.435.221) 48.208.610.201 1,80
Pembiayaan Netto (91.371.905.511) - - (53.258.435.221) -
-Sumber : Badan Keuangan Provinsi Gorontalo
APBDP 2012 IV-2012 APBDP 2011 IV-2011
APBD
Realisasi APBD 2012 Komposisi (%)
Komposisi (%)
Pendapatan Asli Daerah 179.100.125.263 17,58 190.742.155.014 18,37
Pajak daerah 168.068.663.005 16,31 176.259.292.815 16,98
Pajak Kendaraan Bermotor 54.644.527.740 5,39 59.177.086.481 5,70
Pajak Kendaraan di Air - 0,00 25.000.000 0,00
Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor 80.423.353.700 7,73 82.215.829.602 7,92
Bea Balik Nama Kendaraan Di Air 80.031.400 0,00 15.000.000 0,00
Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor 32.857.538.205 3,17 34.748.876.732 3,35
Pajak Air Permukaan 61.511.910 0,01 77.500.000 0,01
Pajak Air Bawah Tanah 1.700.050 0,00 - -Hasil Pengelolaan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan - - -
-Retribusi Daerah 88.420.000 0,01 275.000.000 0,03
Lain-lain Pendapatan Asli Daerah yang Sah 10.943.042.258 1,25 14.207.862.199 1,37
Dana Perimbangan 636.955.516.188 69,20 725.527.944.314 69,88
Bagi Hasil Pajak/Bagi Hasil Bukan Pajak 30.806.884.188 3,29 30.230.153.314 2,91
Dana Alokasi Umum 582.140.302.000 63,30 652.284.261.000 62,83
Dana Alokasi Khusus 24.008.330.000 2,61 43.013.530.000 4,14
Lain-lain Pendapatan Daerah yang Sah 116.123.470.000 13,23 121.930.890.000 11,74 Jumlah Pendapatan 932.179.111.451 100,00 1.038.200.989.328 100,00
Sumber : Badan Keuangan Provinsi Gorontalo
APBD 2013 Pendapatan Daerah
Realisasi APBD 2012 Komposisi (%)
Komposisi (%)
Belanja Tidak Langsung 465.099.947.678 52,61 519.125.857.305 48,12
Belanja Pegawai 209.099.424.239 23,65 275.667.239.585 25,55
Belanja Subsidi 1.506.660.000 0,17 4.500.000.000 0,42
Belanja Hibah 182.988.988.187 20,70 138.710.890.000 12,86
Belanja Bantuan Sosial 39.250.000 0,00 1.000.000.000 0,09
Belanja Bagi Hasil Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa 55.182.732.653 6,24 74.705.181.720 6,92
Belanja Bantuan Keuangan Kpd Prov/Kab/Kota dan Pem. Desa 16.088.905.599 1,82 18.210.000.000 1,69
Belanja Tidak Terduga 193.987.000 0,02 6.332.546.000 0,59
Belanja Langsung 418.870.553.572 47,39 559.676.063.689 51,88
Belanja Pegawai 32.819.283.363 3,71 37.762.107.500 3,50
Belanja Barang dan Jasa 247.657.426.558 28,02 331.298.951.796 30,71
Belanja Modal 138.393.843.651 15,66 190.615.004.393 17,67
Jumlah Belanja 883.970.501.250 100,00 1.078.801.920.994 100,00
Sumber : Badan Keuangan Provinsi Gorontalo
APBD 2013 Belanja Daerah