KEDUDUKAN HUKUM HARTA ORANG YANG DALAM KEADAAN TIDAK HADIR (AFWEZIGHEID) MENURUT KUHPERDATA (STUDI KASUS PADA BALAI HARTA PENINGGALAN MEDAN)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi Syarat-syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Hukum
Oleh :
JESSICA VANIA THERESA SAMOSIR NIM : 090200261
DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN PROGRAM KEKHUSUSAN PERDATA BW
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMETERA UTARA MEDAN
2013
KEDUDUKAN HUKUM HARTA ORANG YANG DALAM KEADAAN TIDAK HADIR (AFWEZIGHEID) MENURUT KUHPERDATA (STUDI KASUS PADA BALAI HARTA PENINGGALAN MEDAN)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi dan Melengkapi Syarat-syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Hukum Oleh :
JESSICA VANIA THERESA SAMOSIR NIM : 090200261
KETUA DEPARTEMEN HUKUM KERPERDATAAN
DR.HASIM PURBA, SH,M.HUM.
NIP: 196603031985081001
DOSEN PEMBIMBING I
MALEM GINTING SH, M.Hum.
DOSEN PEMBIMBING II
Dr. IDHA APRILYANA SH, M.Hum.
NIP.195707151983031002 NIP. 197604142002122003
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2013
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus atas segala kasih dan rahmat- Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan Skripsi ini yang berjudul “Kedudukan Hukum Harta Orang yang dalam Keadaan Tidak Hadir (Afwezigheid) Menurut KUHPerdata (Studi Kasus Pada Balai Harta Peninggalan Medan)”.
Maksud dan tujuan dari Skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat dalam memperoleh Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan. Selain itu skripsi ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran yang berarti dalam perkembangan ilmu hukum di Indonesia khususnya di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.
Skripsi ini dapat penulis selesaikan dengan baik dan tepat waktu berkat doa dan dukungan, bantuan serta bimbingan dari semua pihak yang terkait.
Ucapan terima kasih yang paling dalam penulis ucapkan kepada papa dan mama tercinta Jamaluddin Samosir S.H. M.H dan Ratna Uli Harianja, yang selalu memberikan doa, semangat dan dukungan kepada penulis selama menjalani masa perkuliahan dan dalam penulisan Skripsi ini dengan penuh kesabaran dan cinta kasih, adik-adik ku tercinta Megan Vania Annora Samosir, Melisa Vania Daniela Samosir, Jerry Daniel Hikmat Samosir yang terus memberikan doa, semangat dan dukungan kepada penulis dan kepada seluruh keluarga besar penulis yang telah memberikan dukungan dan doanya dalam masa perkuliahan hingga skripsi ini selesai.
Pada kesempatan ini juga penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan yang tulus kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini, yaitu :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H., M.Hum., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Dr. Hasim Purba, S.H., M.Hum., selaku Ketua Departemen Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Malem Ginting, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing I yang telah memberikan waktu, pikiran dan tenaga dalam penyusunan Skripsi ini sehingga penulis dapat menyelesaikannya dengan baik dan tepat waktu.
4. Ibu Dr. Idha Aprilyana S, S.H., M.Hum., selaku Dosen Pembimbing II yang telah memberikan waktu, pikiran dan tenaga dalam penyusunan Skripsi ini sehingga penulis dapat menyelesaikannya dengan baik dan tepat waktu.
5. Bapak Hemat Tarigan S.H., selaku Dosen Pembimbing Akademik selama dalam perkuliahan.
6. Para Guru Besar, staff pengajar dan staff akademik Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang secara langsung dan tidak langsung telah memberikan bantuan selama penulis menyelesaikan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.
7. Ibu Hj. Teti Winarti S.H. M.Si., selaku Ketua Balai Harta Peninggalan Medan yang telah memberikan izin kepada penulis untuk melakukan penelitian di Balai Harta Peninggalan Medan.
8. Bapak Syuhada S.H. M.Hum., selaku Anggota Teknis Hukum Balai Harta Peninggalan Medan yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan dan ilmu mengenai Balai Harta Peninggalan.
9. Kepada abang J.P.A Maradona Sinabang S.H. yang selalu memberikan doa dan dukungan serta bimbingan kepada penulis selama kuliah hingga penulisan skripsi selesai tepat waktu.
10. Teman-teman seperjuangan penulis: Fera Nita, Novia Andrina, Disha, Agustinus Siallagan yang telah menemani dan yang telah bersama- sama menjalani suka duka dalam masa penulisan skripsi ini, sahabat penulis Agnes Sinaga, Yanti dan juga terima kasih buat teman-teman senasib sepenanggungan Sinar Baru Group (Ka Ririn, Debora, Rebekka, Novita Sianipar, Taruli, Rona, Evi, Junita, Novia Ginting, Umi dan Geni) dan abang Kenikol Silaen, abang Rio Tambunan.
11. Rekan-rekan mahasiswa/I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah membantu saya selama proses penulisan skripsi ini, dan yang tidak dapat Penulis sebutkan satu-persatu. Semoga persahabatan kita tetap abadi.
12. Rekan-rekan mahasiswa/I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah membantu saya selama proses penulisan skripsi ini,
dan yang tidak dapat Penulis sebutkan satu-persatu. Semoga persahabatan kita tetap abadi.
13. Almamater Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara Medan angkatan 2009.
Penulis menyadari bahwa Skripsi ini masih mempunyai banyak kekurangan sehingga tidak menutup kemungkinan untuk menerima saran dan kritik yang membangun. Walaupun demikian penulis berharap Skripsi ini dapat memberikan manfaat yang positif bagi semua pihak yang membacanya.
Medan, April 2013
Penulis
Jessica Vania Theresa Samosir
DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Judul ... i
Halaman Pengesahan ... ii
Kata Pengantar ... iii
Daftar Isi... vii
Abstrak ...x
Bab I Pendahuluan A. Latar Belakang ...1
B. Rumusan Masalah ...6
C. Tujuan Penulisan ...6
D. Manfaat Penulisan ...7
E. Keaslian Penulisan ...7
F. Metode Penelitian ...8
G. Sistematika Penulisan ...12
Bab II Tinjauan Umum Tentang Keadaan Tidak Hadir (afwezigheid) A. Tinjauan Umum Tentang Subjek Hukum ...15
1. Subjek Hukum Manusia (Natuurlijk Persoon) ...15
2. Subjek Hukum Badan Hukum (Recht Persoon) ...18
B. Keadaan Tidak Hadir ( Afwezigheid ) ...24
1. Pengertian Keadaan Tidak Hadir ...24
2. Syarat-Syarat Mengajukan Permohonan Keadaan Tidak Hadir (afwezigheid) ...27
3. Tahapan Keadaan Tidak Hadir (afwezigheid) Menurut
KUHPerdata ...29
4. Landasan Hukum Keadaan Tidak Hadir ...31
C. Hubungan Hukum Antara Orang Yang Dinyatakan Dalam Keadaan Tidak Hadir Dengan Harta Kekayaannya ...32
1. Hubungan hukum antara orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) dengan harta kekayaannya dalam perkawinan...33
2. Hubungan hukum antara orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) dengan harta kekayaannya dalam pewarisan ...37
3. Hubungan hukum antara orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) dengan harta kekayaannya ...39
Bab III Tinjauan Umum Tentang Balai Harta Peninggalan A. Sejarah Balai Harta Peninggalan ...42
B. Dasar Hukum Balai Harta Peninggalan...47
C. Kedudukan Balai Harta Peninggalan ...48
D. Tugas dan Fungsi Balai Harta Peninggalan ...50
Bab IV Kedudukan Hukum Harta Orang Yang Dalam Keadaan Tidak Hadir Menurut KUHPerdata A. Gambaran Umum Tentang Balai Harta Peninggalan Medan ...70
B. Prosedur Pelaksanaan dan Pengurusan Harta Dari Keadaan Tidak Hadir Oleh Balai Harta Peninggalan Kota Medan ...75
C. Pertanggungjawaban Balai Harta Peninggalan Kota Medan
Dalam Pengelolaan Boedel Keadaan Tidak Hadir ...90 D. Peran Balai Harta Peninggalan Kota Medan Dalam Pelaksanaan
dan Pengelolaan Harta Peninggalan Berdasarkan Penetapan
Pengadilan Nomor 123/Pdt.P/2005/PN.TTD ...96 1. Kasus Posisi ...97 2. Penetapan Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli
Nomor 123/Pdt.P/2005/PN.TTD ...100 3. Tanggapan ...103
Bab V Penutup
A. Kesimpulan ...111 B. Saran ...115
Daftar Pustaka
Lampiran
ABSTRAK
KEDUDUKAN HUKUM HARTA ORANG YANG DALAM KEADAAN TIDAK HADIR (AFWEZIGHEID) MENURUT KUHPERDATA
(Studi Kasus Pada Balai Harta Peninggalan Medan)
Perkembangan teknologi dan informasi, tidak menjamin keberadaan seseorang tidak diketahui oleh orang lain. Seiring perjalanan waktu ternyata masih sering terjadi keadaan tidak hadir (afwezigheid), dimana seseorang tidak diketahui keberadaannya. Dengan keadaan seseorang tidak diketahui keberadaannya oleh keluarga maupun masyarakat dimana dia telah melakukan suatu perbuatan hukum maka akan timbul suatu permasalahan mengenai status hukum orang tersebut, hal ini akan berhubungan dengan kepentingan orang lain yakni keluarga yang ditinggalkan dan juga akan bersinggungan dengan berbagai aspek hukum antara lain harta peninggalan orang tersebut. Status hukum dari orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid), maka harus terlebih dahulu dinyatakan suatu Penetapan Pengadilan Negeri yang menyatakan orang tersebut dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid).
Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan yang diangkat adalah bagaimana prosedur pelaksanaan dan pengurusan harta dari keadaan tidak hadir (afwezigheid) oleh Balai Harta Peninggalan Medan, bagaimana pertanggungjawaban Balai Harta Peninggalan Medan dalam pengelolaan boedel ketidakhadiran (afwezigheid) dan bagaimana peran Balai Harta Peninggalan Medan dalam pelaksanaan dan pengelolaan harta peninggalan berdasarkan Penetapan Pengadilan Nomor 123/Pdt.P/2005/PN.TTD.
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan penelitian deskriptif analitis, karena bertujuan untuk menggambarkan keadaan nyata, kemudian data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif. Data diperoleh melalui studi kepustakaan (library research), yaitu pengumpulkan bahan-bahan teori dari kepustakaan seperti bahan hukum primer, bahan hukum sekunder, dan bahan hukum tertier.
Proses pengurusan harta kekayaan orang yang dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) dilakukan mulai dari tahap pencatatan sampai pada tahap pengelolaan boedel keadaan tidak hadir (afwezigheid). Pertanggungjawaban Balai Harta Peninggalan Medan dalam pengelolaan boedel keadaan tidak hadir (afwezigheid) dilakukan sampai jangka waktu 30 tahun kemudian menjadi milik Negara, peran Balai Harta Peninggalan Medan dalam pengurusan boedel keadaan tidak hadir (afwezigheid) berdasarkan Penetapan Pengadilan Nomor 123/Pdt.P/2005/PN.TTD telah sesuai dengan tugas dan fungsi Balai Harta Peninggalan.
Kata Kunci : Keadaan Tidak Hadir, Harta Peninggalan, Balai Harta Peninggalan
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Dizaman kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada masa sekarang ini yang semakin meningkat terutama dibidang informasi dan komunikasi dapat dirasakan oleh orang perorangan baik secara individu atau sebagai anggota keluarga maupun sebagai anggota masyarakat. Bila seorang menjadi anggota bagian dari suatu keluarga, maka dengan kemajuan informasi teknologi dan komunikasi akan mempermudah untuk mengetahui keberadaan seseorang itu dengan keluarganya atau dengan orang yang bersangkutan bila melakukan suatu perjalanan jauh dan berada didaerah lain yang jauh dari keluarga tersebut.
Kemajuan informasi dan teknologi akan mempermudah segala aspek kehidupan manusia termasuk didalamnya adalah aspek hukum, dimana manusia atau pribadi merupakan subjek hukum yang memegang hak dan kewajiban dalam melakukan suatu perbuatan hukum.
Namun kenyataan yang ada di dalam masyarakat Indonesia pada masa sekarang ini, kemajuan informasi dan teknologi ternyata tetap belum merupakan suatu kepastian hukum mengetahui keberadaan seseorang. Seiring perjalanan waktu ternyata masih sering terjadi keadaan tidak hadir (afwezigheid), dimana seseorang tidak diketahui keberadaannya. Dengan keadaan seseorang tidak diketahui keberadaannya oleh keluarga maupun masyarakat dimana dia telah melakukan suatu perbuatan hukum, maka akan timbul suatu permasalahan
mengenai status hukum orang tersebut, hal ini akan berhubungan dengan kepentingan orang lain yakni keluarga yang ditinggalkan dan juga akan bersinggungan dengan berbagai aspek hukum antara lain harta peninggalan orang tersebut.
Masalah timbul apabila terjadi kasus orang hilang atau tidak diketahui keberadaannya akan menimbulkan ketidakpastian hukum di dalam hal yang berhubungan dengan harta peninggalan dan perbuatan hukum terhadap keluarganya sendiri. Mengenai harta peninggalan bila seseorang hilang atau tidak diketahui keberadaannya dan tidak meninggalkan kuasa atau tidak menunjuk seorang kuasa terlebih dahulu sehingga akan menimbulkan suatu keadaan yang menyulitkan bagi orang lain atau keluarga yang ditinggalkannya untuk mengurus dan melakukan suatu perbuatan hukum terutama yang berkaitan erat dengan harta kekayaan yang dimiliki oleh orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid).
Di dalam hukum perdata dikenal dengan istilah keadaan tidak hadir (afwezigheid) yaitu suatu keadaan dimana seseorang tidak menempati atau berdiam ditempat tinggalnya karena sebab tertentu dan tidak diketahui secara jelas keberadaannya. Oleh KUHPerdata keadaan tidak hadir (afwezigheid) dibedakan dalam tiga fase, yaitu fase persiapan atau tindakan sementara (voorlopige voozieningen), fase pernyataan bahwa seseorang yang tidak ada ditempat barangkali sudah atau telah meninggal dunia (vermoedelijk overleden) dan fase pewarisan secara definitif (definitieve erfopvolging). Dalam setiap fase orang tiada
ditempat itu asalnya masih tetap mempunyai wewenang berhak dan wewenang bertindak, kalau dia muncul kembali maka segala hak kewajibannya kembali kepadanya dengan syarat atau pembatasan-pembatasan tertentu. 1 Keadaan tidak hadir (afwezigheid) itu dapat menimbulkan suatu persoalan yaitu dugaan meninggal dunia, dugaan ini timbul apabila usaha pencarian telah dilakukan dengan segala upaya, dengan perantaraan orang lain, dengan bantuan pejabat Negara, dengan bantuan sarana teknologi dan informasi tetapi tidak diketahui keberadaan orang yang bersangkutan. Mengenai seseorang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid), jika tidak memberikan pesan kepada orang lain atau surat kuasa kepada ahli waris dalam hal pengurusan harta kekayaan yang dimilikinya maka di dalam hukum perdata diatur batas tenggang waktu lamanya seseorang tidak muncul ditempat.
Status hukum dari orang yang dinyatakan keadaan tidak hadir (afwezigheid), maka harus terlebih dahulu dinyatakan di dalam suatu penetapan dari Pengadilan Negeri yang menyatakan orang tersebut keadaan tidak hadir (afwezigheid). Suatu akta mengenai status hukum seseorang sangatlah penting di dalam hal pencatatan yang dilakukan oleh lembaga catatan sipil yang bertujuan untuk memberikan keterangan yang selengkap-lengkapnya dan oleh karenanya juga untuk memberikan suatu kepastian hukum mengenai peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan kedudukan hukum seseorang. Pencatatan tersebut tidak hanya bermanfaat bagi orang yang mencatatkannya melainkan bermanfaat bagi pihak lain yang berkepentingan. Status dari seseorang yang dinyatakan dalam
1 Rachmadi Usman, Aspek- Aspek Hukum Perorangan dan Kekeluargaan di Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2005 hal 91-92.
keadaan tidak hadir (afwezigheid) itu sangat berhubungan erat dengan instansi atau lembaga yang menurut Undang-Undang dipercayakan untuk mengelola atau mengurus hak-hak atas harta kekayaan seseorang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid). Uraian-uraian tentang lembaga hukum yang bertugas mengelola hak-hak atas harta kekayaan milik seseorang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) adalah Balai Harta Peninggalan (BHP).
Keadaan tidak hadir (afwezigheid) menurut sistem hukum yang ada diberlakukan bagi subjek hukum manusia, harus dinyatakan dan dapat dibuktikan keberadaannya atau eksistensinya dalam suatu Penetapan Pengadilan Negeri (Pasal 463 KUHPerdata). Dalam penetapan keadaan tidak hadir dapat sekaligus ditunjuk Balai Harta Peninggalan setempat yang akan bertugas mengurus dan mewakili serta membela segala kepentingan seseorang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid), akan tetapi dengan tidak mengurangi kewenangan hakim untuk menunjuk seseorang atau lebih dari keluarga atau semenda dari orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) atau kepada isteri atau suaminya untuk keperluan dalam hal pengurusan harta peninggalan (Pasal 463 ayat (3) KUHPerdata). Selanjutnya setelah penetapan tentang ketidakhadiran memperoleh kekuatan hukum tetap (in kracht van gewijsde), maka pengurus atau wakilnya akan melaksanakan segala tindakan pengurusan (daad van beheer) maupun tindakan pemilikan (daad van
beschikking) bila perlu sesuai dengan kepentingan boedel afwezig atau kekayaam tak hadir dimaksud.2
Balai Harta Peninggalan sebagai instansi pemerintahan dilingkungan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia yang salah satu tugasnya adalah sebagai yang mewakili kepentingan mereka yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) sangat berperan dalam melaksanakan pengurusan serta pengelolaan terhadap harta kekayaan yang pemiliknya dinyatakan keadaan tidak hadir (afwezigheid). Balai Harta Peninggalan merupakan lembaga yang berdasarkan Undang-Undang diberi tugas dan kewenangan itu mengurus dan mewakili segala kepentingan subjek hukum yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) sesuai bunyi Pasal 463 KUHPerdata3 serta peraturan lainnya yang berkaitan dengan pengurusan.
Berdasarkan latar belakang di atas maka diangkat judul Kedudukan Hukum Harta Orang Yang Dalam Keadaan Tidak Hadir (Afwezigheid) Menurut KUHPerdata (Studi Kasus Pada Balai Harta Peninggalan Medan).
2 J. Satrio, Uraian Tentang Pengertian Daad Van Beheer dan Daad Van Beschikking, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1993, hal 55-56.
3 Pasal 463 KUHPerdata berbunyi:
“Jika terjadi seseorang telah meninggalkan tempat tinggalnya, dengan tidak memberi kuasa kepada seseorang wakil, guna mewakili dirinya dan mengurus harta kekayaannya, pun ia tidak mengatur urusan-urusan dan kepentingan itu, ataupun jika pemberi kuasa kepada wakilnya tidak berlaku lagi, maka jika ada alasan-alasan yang mendesak guna mengurus seluruh atau sebagian harta kekayaannya itu atau guna mengadakan seorang wakil baginya, Pengadilan Negeri tempat tinggal si yang tak hadir, atas permintaan mereka yang berkepentingan, atau atas tuntutan jawatan Kejaksaan, harus memerintahkan kepada Balai Harta Peninggalan supaya mengurus seluruh atau sebagian harta kekayaan dan kepentingan itu pula supaya membela hak-hak si yang tak hadir dan mewakilinya….”.
B. Permasalahan
1. Bagaimana prosedur pelaksanaan dan pengurusan harta dari keadaan tidak hadir (afwezigheid) oleh Balai Harta Peninggalan Medan?
2. Bagaimana pertanggungjawaban Balai Harta Peninggalan Medan dalam pengelolaan boedel terhadap keadaan tidak hadir (afwezigheid)?
3. Apa peran Balai Harta Peninggalan Medan dalam pelaksanaan dan pengelolaan harta peninggalan seseorang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli Nomor.123 / Pdt. P/ 2005 / PN.TTD?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui prosedur pelaksanaan dan pengurusan harta dari keadaan tidak hadir (afwezigheid) oleh Balai Harta Peninggalan Medan.
2. Untuk mengetahui pertanggungjawaban Balai Harta Peninggalan Medan dalam pengelolaan boedel keadaan tidak hadir (afwezigheid).
3. Untuk mengetahui peran Balai Harta Peninggalan Medan dalam pelaksanaan dan pengelolaan harta peninggalan seseorang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli Nomor.123/Pdt. P/2005/PN.TTD.
D. Manfaat Penulisan
1. Kegunaan Teoritis
Penelitian ini diharapkan mampu menambah dan mengembangkan kehazanahan ilmu hukum keperdataan khususnya hukum perdata BW, mengenai pengelolaan harta kekayaan orang yang dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid).
2. Kegunaan Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada masyarakat umum tentang kedudukan hukum harta orang yang dalam keadaan tidak hadir dan peranan Balai Harta Peninggalan dalam hal pengurusan harta.
E. Keaslian Penulisan
Berdasarkan pengamatan serta penelusuran kepustakaan yang dilakukan di Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, penulisan skripsi mengenai Kedudukan Hukum Harta Orang Yang Dalam Keadaan Tidak hadir (Afwezigheid) menurut KUHPerdata ini adalah asli, yang diangkat menjadi judul skripsi ini merupakan hasil karya yang ditulis secara objektif dan ilmiah melalui pemikiran dan referensi dari berbagai buku. Skripsi ini juga bukan merupakan jiplakan atau merupakan skripsi yang sudah pernah diangkat oleh orang lain.
F. Metode Penelitian
1. Sifat Penelitian
Sifat penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan penelitian deskriptif analitis, karena bertujuan untuk menggambarkan keadaan nyata, kemudian data yang diperoleh dianalisis secara kualitatif.4 Penelitian deskriptif dilakukan dengan cara melukiskan keadaan yang menjadi objek persoalannya dan bertujuan memberikan gambaran mengenai hal yang menjadi pokok permasalahannya, dalam hal ini tentang keadaan tidak hadir. Sehingga dapat dianalisis dan akhirnya dapat diambil kesimpulan yang bersifat umum.
2. Metode Pendekatan
Penelitian memiliki arti dan tujuan sebagai suatu upaya pencarian dan tidak hanya merupakan sekedar pengamatan dengan teliti terhadap sesuatu objek yang terlihat dengan kasat mata.5 Dalam penelitian ini metode pendekatan yang digunakan adalah metode penelitian yuridis normatif.
Metode penelitian yuridis normatif adalah suatu pendekatan terhadap hubungan antara faktor-faktor yuridis (hukum positif) dan faktor normatif (asas-asas hukum).
4 Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penulisan Hukum dan Jurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta,1998, hal 116.
5 Bambang Sunggono, Metodologi Penelitian Hukum (Suatu Pengantar), Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hal 27-28.
a. Faktor-Faktor Yuridis
Penelitian dengan pendekatan yuridis dilaksanakan dengan melalui tahapan sebagai berikut:
1. Inventarisasi terhadap peraturan yang mencerminkan kebijaksanaan pemerintah di bidang Peraturan Perundang- Undangan, maupun peraturan lainnya yang mendukung pelaksanaan tentang keadaan tidak hadir (afwezigheid).
2. Menganalisis Perundang-Undangan dan Peraturan- peraturan yang telah diinventarisir tersebut untuk mengetahui sejauhmana Peraturan Perundangan-Undangan tersebut di atas sesuai dengan peraturan yang ada baik secara vertikal dan horizontal.
b. Faktor-Faktor Normatif
Merupakan penelitian terhadap asas-asas hukum yang terkait dengan keadaan tidak hadir (afwezigheid). Hal ini berarti penelitian terhadap data sekunder, oleh karena itu titik berat penelitian adalah tertuju pada penelitian kepustakaan yang akan lebih banyak mengkaji dan meneliti data sekunder dan tidak diperlukan penyusunan atau perumusan hipotesa.6
6 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 1986, hal 9.
3. Sumber Data
Sesuai dengan fokus utama penelitian yaitu yuridis normatif, maka data- data yang hendak dikumpulkan adalah data-data sekunder dari hukum positif, yang meliputi bahan-bahan hukum, baik bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier.
Sumber data dalam penelitian diperoleh dari data hukum positif:
1) Bahan Hukum Primer
Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang mempunyai otoritas (autoritatif).7 Bahan hukum primer adalah bersumber dari Peraturan Perundang-undangan dibidang hukum perdata, Peraturan mengenai Balai Harta Peninggalan dan Peraturan Perundang-Undangan lainnya,8 yang berkaitan dengan ketidakhadiran (afwezigheid) antara lain KUHPerdata, Peraturan Pemerintah, Surat Keputusan Menteri, dan Peraturan Menteri.
2) Bahan hukum sekunder9
Bahan hukum sekunder adalah bahan hukum yang sifatnya menjelaskan mengenai bahan hukum primer, dimana bahan hukum sekunder berupa buku literatur dari hasil penelitian,
7 Zainuddin Ali, Metode Penelitian Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, 2009, hal 47.
8 Bambang Waluyo, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Sinar Grafika, Jakarta, 1996, hal 14.
9 Roni Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum, Galia Indonesia, Jakarta, 1990, hal 11.
hasil karya tulis, jurnal hukum, Putusan Pengadilan serta dokumen-dokumen yang berkaitan dengan ketidakhadiran (afwezigheid), dan Balai Harta Peninggalan.
3) Bahan hukum tersier10
Bahan hukum tersier adalah bahan hukum sebagai pelengkap kedua bahan hukum sebelumnya mencakup bahan-bahan primer, bahan-bahan sekunder dan tertier.
Seperti kamus hukum, kamus umum, surat kabar, sepanjang memuat informasi yang relefan dengan penelitian ini.
4. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan melalui:
a. Study Kepustakaan (Library Research)
Dalam rangka melakukan penelitian ini agar mendapatkan data yang tepat, digunakan metode pengumpulan data yaitu studi kepustakaan.
(library research). Penelitian kepustakaan merupakan metode penelitian dengan cara membaca atau mempelajari buku-buku, Peraturan Perundang-Undangan maupun sumber kepustakaan lainnya yang berhubungan dengan objek penelitian.
b. Penelitian Lapangan ( Field Research )
Penelitian lapangan (field research) yaitu secara langsung mengadakan pengamatan untuk memperoleh informasi yang diperlukan dalam
10Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1985, hal 23.
penyusunan skripsi ini. Dalam hal ini penelitian lapangan (field research) dilakukan untuk memperoleh informasi tersebut adalah
dengan cara wawancara dengan Pejabat Teknisi Hukum Kantor Balai Harta Peninggalan Medan.
5. Analisis Data
Setelah seluruh data yang diperoleh dikumpulkan, tahap berikutnya yang harus dilakukan adalah analisis data. Pada tahap ini data yang dikumpulkan akan diolah dan dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk menjawab sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk menjawab permasalahan.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian adalah analisis data kualitatif normatif yaitu data yang diperoleh setelah disusun secara sistematis, untuk kemudian dianalisis secara kualitatif normatif dalam bentuk uraian, agar dapat ditarik kesimpulan untuk dapat dicapai kejelasan mengenai permasalahan yang akan diteliti. Hasil penelitian kepustakaan akan dipergunakan untuk menganalisis data, kemudian data secara kualitatif normatif untuk menjawab permasalahan dalam skripsi ini.
G. Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini dibagi atas lima bab, dimana masing-masing dibagi atas beberapa sub bab. Urutan bab tersusun secara sistematis dan saling berkaitan satu sama lainnya. Uraian singkat atas bab-bab dan sub bab saling berkaitan satu sama lain yaitu:
BAB I PENDAHULUAN
Bab pertama yang merupakan Pendahuluan menguraikan mengenai Latar Belakang Permasalahan, Rumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian, Keaslian Penulisan, Metode Penelitian dan Sistematika Penulisan.
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEADAAN TIDAK HADIR (AFWEZIGHEID)
Bab ini terdiri dari beberapa sub bab, seperti Tinjauan Umum tentang Subjek Hukum, Keadaan Tidak Hadir, dan Hubungan Hukum Antara Orang Yang Dinyatakan Dalam Keadaan Tidak Hadir Dengan Harta Kekayaannya.
BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG BALAI HARTA PENINGGALAN
Bab ini terdiri dari beberapa sub bab, seperti Sejarah Balai Harta Peninggalan, Dasar Hukum Balai Harta Peninggalan, Kedudukan Balai Harta Peninggalan, Tugas dan Fungsi Balai Harta Peninggalan.
BAB IV KEDUDUKAN HUKUM HARTA ORANG YANG DALAM KEADAAN TIDAK HADIR (AFWEZIGHEID) MENURUT KUHPERDATA
Bab ini terdiri dari beberapa sub bab, seperti Gambaran Umum Tentang Balai Harta Peninggalan Medan, Prosedur Pelaksanaan
dan Pengurusan Harta dari Keadaan Tidak Hadir (Afwezigheid) oleh Balai Harta Peninggalan Medan, Pertanggungjawaban Balai Harta Peninggalan Medan dalam Pengelolaan Boedel keadaan tidak hadir (Afwezigheid), Peran Balai Harta Peninggalan Medan dalam Pelaksanaan dan Pengelolaan Harta Peninggalan Seseorang yang dinyatakan dalam Keadaan Tidak Hadir (Afwezigheid) Berdasarkan Penetapan Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli Nomor.123 / Pdt.
P/ 2005 / PN.TTD.
BAB V PENUTUP
Bab ini merupakan akhir dari penulisan skripsi ini terdiri dari Kesimpulan dan Saran. Dalam bab ini menguraikan beberapa kesimpulan dari uraian bab-bab sebelumnya serta memberikan saran-saran guna perbaikan kedepannya.
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG KEADAAN TIDAK HADIR (AFWEZIGHEID)
A. Tinjauan Umum tentang Subjek Hukum
Menurut hukum bahwa setiap manusia itu merupakan orang, yang berarti pembawa hak, yaitu segala sesuatu yang mempunyai hak dan kewajiban yang di sebut dengan subjek hukum, subjek hukum terdiri dari yaitu manusia (natuurlijk persoon) dan badan hukum (recht persoon).
1. Subjek Hukum Manusia (Natuurlijk Persoon)
Subjek hukum manusia atau pribadi diatur sepenuhnya secara sistematis dalam Buku I KUHPerdata. Kedudukan seorang manusia selaku subjek hukum melekat pada diri pribadi sejak mulai manusia itu dilahirkan sampai seseorang tersebut meninggal dunia, dan apabila kepentingan hukum menghendaki, maka seorang anak dalam kandungan ibunya dapat dianggap telah lahir kedunia dan menjadi subjek hukum, hal ini sesuai dengan bunyi Pasal 2 KUHPerdata, “Anak yang ada dalam kandungan seseorang perempuan, dianggap sebagai telah dilahirkan, bilamana juga kepentingan si anak menghendakinya. Mati sewaktu dilahirkannya, dianggap ia tidak pernah ada.”
Berlakunya seseorang sebagai pembawa hak (subjek hukum), dimulai pada saat ia dilahirkan dan berakhir pada saat meninggal dunia.
Terhadap hal ini terdapat suatu pengecualian, dimana anak yang ada dalam
kandungan seseorang perempuan dianggap sebagai telah dilahirkan, apabila kepentingan si anak menghendakinya. Ketentuan Pasal 2 ayat (1) KUHPerdata ini mempunyai arti penting apabila dalam hal:
a. Perwalian oleh bapak atau ibu ( Pasal 348 KUHPerdata) b. Mewarisi harta peninggalan (Pasal 836 KUHPerdata) c. Menerima wasiat dari pewaris (Pasal 899 KUHPerdata) d. Menerima hibah (Pasal 1679 KUHPerdata)
Selanjutnya menurut Pasal 2 ayat (2) KUHPerdata, apabila ia mati sewaktu dilahirkan, ia dianggap tidak pernah ada. Hal ini berarti bahwa si anak waktu dilahirkan harus hidup walaupun hanya sebentar. Hal ini perlu karena menentukan peranannya sebagai pendukung hak dan kewajiban (subjek hukum). 11
Pembuktian bahwa subjek hukum manusia telah dilahirkan dalam keadaan hidup dibuktikannya dengan akta kelahiran, dan pembuktian seseorang dinyatakan telah meninggal dunia dibuktikan dengan akta kematian. Manusia dalam pengertian hukum atau persoon berwenang menggunakan haknya secara sepenuhnya termasuk juga untuk menambahkan atau mengurangi harta kekayaannya dengan cara melakukan perbuatan hukum yang tidak bertentangan dengan Undang- Undang.
Manusia dapat dikatakan sebagai subjek hukum yang sesungguhnya adalah manusia atau orang tersebut harus telah cakap bertindak di dalam melakukan perbuatan hukum atau dengan kata lain telah memenuhi syarat-syarat cakap menurut hukum sesuai dengan yang ditetapkan oleh KUHPerdata. Setiap manusia pribadi (natuurlijke persoon) sesuai dengan hukum dianggap cakap bertindak sebagai subyek
hukum orang dewasa menurut hukum yaitu telah berusia 21 tahun dan
11 P.N.H. Simanjuntak, Pokok-Pokok Hukum Perdata Edisi Revisi, Djambatan, Jakarta, 2009, hal 22-23.
berakal sehat atau telah pernah kawin sebelum usia 21 tahun seperti yang telah diatur dalam Pasal 1330 KUHPerdata. Namun orang yang belum dewasa boleh melakukan perbuatan hukum harus dengan perwalian.
Sistem Hukum Perdata Indonesia mengatur bahwa ada beberapa subjek hukum yang karena Undang-Undang sendiri yang membatasi penggunaan haknya dalam melakukan perbuatan hukum, dan oleh karena itu tidak semua subjek hukum manusia dapat diterima untuk melakukan perbuatan hukum. Adapun syarat utama agar manusia dapat menjadi subjek hukum yang sesungguhnya adalah manusia atau orang tersebut harus telah cakap bertindak dalam lalu lintas hukum dengan memenuhi syarat-syarat yang telah ditentukan di dalam KUHPerdata. Manusia yang tidak dapat melakukan perbuatan hukum karena dibatasi oleh Undang- Undang yaitu:
1) Anak dibawah umur (belum mencapai umur 18 tahun atau belum melakukan pernikahan)
Seseorang anak dibawah umur tidak dapat melakukan perbuatan hukum dengan sendirinya dan harus diwakili oleh orang tua atau walinya dalam melakukan setiap perbuatan hukum (Pasal 1330 KUHPerdata juncto Pasal 47 Undang- Undang Nomor 1 Tahun 1974). Domisili dari seseorang anak dibawah umur mengikuti domisili orang tua atau walinya.
2) Orang yang diletakkan dibawah pengampuan
Seseorang yang diletakkan dalam pengampuan dalam melakukan tindakan hukum harus diwakili oleh wali atau kurator sesuai dengan Pasal 1330 KUHPerdata juncto Pasal 433 KUHPerdata dengan pengecualian bahwa orang yang diletakkan dalam pengampuan karena boros masih dibenarkan membuat wasiat sesuai dengan Pasal 446 ayat 3 KUHPerdata.
3) Orang-orang yang dilarang Undang-Undang untuk melakukan perbuatan-perbuatan hukum tertentu, misalnya orang yang dinyatakan pailit Pasal 1330 KUHPerdata juncto Undang- Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. 12
2. Subjek Hukum Badan Hukum (Recht Persoon)
Dalam pergaulan hukum ditengah-tengah masyarakat, ternyata manusia bukan satu-satunya subjek hukum (pendukung hak dan kewajiban), tetapi masih ada subjek hukum lain yang sering disebut
"badan hukum" (rechtspersoon). Sebagai halnya subjek hukum manusia, badan hukum inipun dapat mempunyai hak-hak dan kewajiban- kewajiban, serta dapat pula mengadakan hubungan-hubungan hukum (rechtsbetrekking/rechtsverhouding) baik antara badan hukum yang satu dengan badan hukum lain maupun antara badan hukum dengan orang manusia (natuurlijk persoon), karena itu badan hukum dapat mengadakan perjanjian-perjanjian jual beli, tukar menukar, sewa menyewa dan segala macam perbuatan dilapangan harta kekayaan.
Dengan demikian badan hukum ini adalah pendukung hak dan kewajiban yang tidak berjiwa sebagai lawan pendukung hak dan kewajiban yang berjiwa yakni manusia. Sebagai subjek hukum yang tidak berjiwa, maka badan hukum tidak dapat dan tidak mungkin berkecimpung di lapangan keluarga seperti mengadakan perkawinan,
12 Riduan Syahrani, Seluk Beluk Dan Asas-Asas Hukum Perdata, Alumni, Bandung, 2004, hal 44.
melahirkan anak dan lain sebagainya. Adanya badan hukum (rechtspersoon) disamping manusia tunggal (natuurlijk persoon) adalah suatu realita yang timbul sebagai suatu kebutuhan hukum pergaulan ditengah-tengah masyarakat. Sebab, manusia selain mempunyai kepentingan perseorangan (individual), juga mempunyai kepentingan bersama dan tujuan bersama yang harus diperjuangkan bersama pula.
Karena itu mereka berkumpul mempersatukan diri dengan membentuk suatu organisasi dan memilih pengurusnya untuk mewakili mereka. Mereka juga memasukan harta kekayaan masing-masing menjadi milik bersama, dan menetapkan peraturan-peraturan yang hanya berlaku bagi anggota organisasi itu. Dalam pergaulan hukum, semua orang-orang yang mempunyai kepentingan bersama yang tergabung dalam kesatuan kerjasama tersebut dianggap perlu sebagai kesatuan yang baru, yang mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban anggota- anggotanya serta dapat bertindak hukum sendiri.
Di dalam KUHPerdata tidak mengatur secara khusus mengenai subjek hukum badan hukum, subjek hukum berupa badan hukum diakui KUHPerdata dalam perhimpunan orang-orang sebagai perkumpulan sebagaimana yang dimuat dalam Pasal 1653 KUHPerdata.
Menurut R. Subekti, “badan hukum adalah suatu badan atau perkumpulan yang dapat memiliki hak-hak dan dapat melakukan
perbuatan seperti seorang manusia memiliki kekayaan sendiri dapat digugat atau menggugat didepan hakim.” 13
Badan hukum adalah subjek hukum karena ciptaan manusia itu sendiri berdasarkan hukum, yang diberi hak dan kewajiban seperti manusia pribadi. Badan hukum dipandang sebagai subjek hukum karena merupakan pendukung hak dan kewajiban, sehingga badan hukum dianggap sebagai subjek hukum yang dapat bertindak untuk melakukan tindakan hukum, contohnya memiliki kekayaan sendiri dan dapat melakukan jual beli serta dapat digugat dan menggugat dimuka hakim.
Ada beberapa teori mengapa badan hukum dianggap sebagai manusia/orang sehingga merupakan subjek hukum, untuk mengetahui hakikat daripada badan hukum, dalam ilmu pengetahuan hukum timbul bermacam-macam teori tentang badan hukum yang satu sama lain berbeda-beda. Ada beberapa teori mengenai badan hukum ini, antara lain:
a. Teori Fiksi (Fictie theorie)
Teori ini dipelopori oleh Freidrich Carl Von Savigny. Menurut teori ini hanya manusia sajalah yang dapat menjadi subjek hukum. Badan hukum itu hanyalah fiksi, yakni sesuatu yang sesungguhnya tidak ada, karena itu tidak mungkin menjadi subjek hukum, tetapi orang menghidupkannya dalam bayangan sebagai subjek hukum yang dapat melakukan perbuatan hukum seperti manusia. Badan hukum semata-mata hanyalah buatan Pemerintah atau Negara.
b. Teori Organ (Orgaan theorie)
Teori ini diajarkan oleh Otto Van Gierke. Badan hukum menurut teori ini dalam realitasnya sama dengan manusia di
13 Djaja S. Meliala, Perkembangan Hukum Perdata Tentang Orang Dan Hukum Keluarga, Nuansa Aulia, Bandung, 2007, hal 40.
dalam pergaulan hukum. Badan hukum mempunyai organ (alat- alat perlengkapan) yang sama seperti manusia. Badan hukum juga mempunyai kehendak dan kemauan sendiri yang dibentuk melalui alat-alat kelengkapannya (para pengurus), dan apa yang mereka putuskan adalah kehendak atau kemauan dari badan hukum. Oleh Karena itu badan hukum adalah subjek hukum.
c. Teori Harta Kekayaan Bertujuan (Doel Vermogens Theorie) Menurut teori ini hanya manusia saja yang dapat menjadi subjek hukum. Namun, kata teori ini ada kekayaan (Vermogen) yang bukan kekayaan seseorang, tetapi kekayaan itu terikat tujuan tertentu. Kekayaan yang tidak ada mempunyainya dan yang tidak terikat kepada tujuan tertentu inilah yang diberi nama badan hukum. Teori ini diajarkan oleh A. Brinz, dan diikuti oleh Van Der Heyden.
d. Teori Kekayaan Bersama (Propriete Collective Theorie)
Teori ini diajarkan oleh Planiol dan Molengraaff. Menurut teori ini hak dan kewajiban badan hukum pada hakekatnya adalah hak dan kewajiban para anggota bersama-sama. Kekayaan badan hukum adalah kepunyaan bersama-sama anggotanya.
Orang yang berhimpun tersebut merupakan suatu kesatuan yang membentuk suatu pribadi yang dinamakan badan hukum.
Oleh karena itu , badan hukum adalah suatu konstruksi yuridis saja.
e. Teori Kenyataan Yuridis (Juridische Realiteitsleer)
Teori ini dikemukakan oleh Meijers. Menurut teori ini, bahwa badan hukum adalah merupakan suatu realitas, konkrit dan riil, bukan abstrak tetapi suatu kenyataan yuridis. Dalam teori ini menekankan bahwa hendaknya dalam mempersamakan badan hukum dengan manusia terbatas pada bidang hukum saja.
Menurut teori ini badan hukum adalah subjek hukum.14
Berdasarkan teori yang di kemukakan oleh para ahli maka teori yang paling relevan untuk badan hukum yang dapat dikatakan sebagai subjek hukum yaitu teori kenyataan yuridis (juridische realiteitsleer) dimana badan hukum sebagai subjek hukum merupakan nyata dan kongkrit dalam peristiwa hukum. Manusia dan badan hukum sebagai subjek hukum adalah bersama-sama dapat bertindak dalam melakukan perbuatan hukum.
14 Ibid. hal 40-42.
Menurut Pasal 1653 KUHPerdata badan hukum di bagi atas 3 macam yaitu :
1) Badan hukum yang diadakan oleh Pemerintah/kekuasaan umum misalnya daerah tingkat I, daerah tingkat II/ Kotamadya, Bank- bank yang didirikan oleh Negara dan sebagainya.
2) Badan hukum yang diakui oleh Pemerintah/kekuasaan umum, misalnya perkumpulan-perkumpulan, gereja dan organisasi- organisasi agama dan sebagainya.
3) Badan hukum yang didirikan untuk suatu maksud tertentu yang tidak bertentangan dengan Undang-Undang dan kesusilaan, seperti Perseroan Terbatas, perkumpulan asuransi dan perkapalan.
Dalam Pasal 1653 KUHPerdata ini mengatur dengan baik antara badan hukum publik dan badan hukum privat. Badan hukum publik yaitu badan hukum publik adalah badan hukum yang diadakan oleh kekuasaan umum, sedangkan badan hukum privat yaitu yang diakui oleh kekuasaan umum dan yang diperkenankan untuk suatu tujuan tertentu.
Badan hukum dapat dilihat dari segi wujudnya maka dapat dibedakan atas 2 macam :
1) Korporasi (corporatie) adalah gabungan (kumpulan) orang- orang yang dalam pergaulan hukum bertindak bersama-sama sebagai suatu subjek hukum tersendiri, karena itu korporasi ini merupakan badan hukum yang beranggota, akan tetapi mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban para anggotanya. Misalnya Perseroan Terbatas (Naamloze Vennootschap), perkumpulan asuransi, perkapalan, koperasi, Indonesische Maatschappij Op Aandelen (IMA) dan sebagainya.
2) Yayasan (stiching) adalah harta kekayaan yang ditersendirikan untuk tujuan tertentu. Jadi pada yayasan tidak ada anggota, yang ada hanyalah pengurusnya.15
15 Riduan Syahrani, Op.Cit. hal 54.
Suatu badan hukum haruslah didaftarkan dan diumumkan melalui Lembaran Negara. Tujuan dari pendaftaran dan pengumuman adalah untuk melindungi pihak ketiga. Yayasan dapat dikatakan badan hukum setelah memperoleh status badan hukum dengan akta pendirian yayasan memperoleh pengesahan dari Menteri, sedangkan kumpulan atau badan usaha yang anggaran dasarnya telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman, baik yang belum disahkan oleh Menteri Kehakiman disebut dengan korporasi (corporatie). Kumpulan orang atau badan usaha lainnya yang anggaran dasarnya belum dapat pengesahan langsung dari Menteri Kehakiman bukanlah merupakan badan hukum, dengan demikian hanya kumpulan orang yang telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman sebagai badan hukum yang dapat bertindak sebagai subjek hukum.
Pembagian badan hukum menurut jenis-jenisnya badan hukum dibagi menjadi dua, yaitu :
1) Badan hukum publik
Badan hukum publik yaitu badan hukum yang didirikan oleh pemerintah. Badan hukum publik yakni Negara bertindak dalam pengurusan badan hukum tersebut. Contoh: Provinsi, kotapraja, lembaga-lembaga, dan bank-bank Negara.
2) Badan hukum perdata atau privat
Badan hukum privat yaitu badan hukum yang terjadi atau didirikan atas pernyataan kehendak dari perorangan. Badan hukum yang didirikan oleh privat (bukan Pemerintah).
Contoh: Perhimpunan, Perseroan Terbatas, Firma, Koperasi, Yayasan.16
Perbedaan antara badan hukum publik dengan badan hukum privat dapat diketahui dari cara pendiriannya sesuai dengan Pasal 1653
16 Chidir Ali, Badan Hukum, Alumni, Bandung, 1991, hal 57-63.
KUHPerdata dan lapangan pekerjaan badan hukum tersebut. Jika tujuannya untuk kepentingan umum, maka badan hukum itu adalah badan hukum publik, dan jika kepentingannya untuk perorangan, maka badan hukum tersebut adalah badan hukum perdata.
B. Keadaan Tidak Hadir ( Afwezigheid )
1. Pengertian Keadaan Tidak Hadir ( Afwezigheid )
Pengaturan keadaan tidak hadir (afwezigheid) diatur dalam Buku I Bab Kedelapan Belas KUHPerdata mulai Pasal 463 sampai Pasal 495 KUHPerdata, akan tetapi Pasal 463 itu sendiri tidak memberikan pengertian atau defenisi secara rinci mengenai keadaan tidak hadir (afwezigheid).
Keadaan tidak hadir (afwezigheid) diartikan sebagai suatu keadaan seseorang yang tidak berada ditempat karena meninggalkan kediamannya untuk waktu tertentu tanpa meninggalkan pesan atau kuasa untuk mewakili dirinya atau mengurus harta kekayaannya.17
“Menurut Abdulkadir Muhammad menerjemahkan istilah
“afwezigheid” dengan istilah keadaan tak hadir dan mengemukakan unsur-unsur keadaan tidak hadir sebagai berikut:
a. Seseorang ini menunjuk kepada salah satu anggota keluarga mungkin suami isteri dan anak.
17 Tan Kamello, Syarifah Lisa Andriati, Hukum Perdata: Hukum Orang dan Keluarga, USU Press, Medan, 2011, hal 30.
b. Tidak ada ditempat kediamannya artinya tidak ada dilingkungan keluarga dimana mereka berdiam serta mempunyai hak dan kewajiban hukum.
c. Bepergian atau meninggalkan tempat kediaman artinya menuju dan berada ditempat lain karena suatu keperluan atau tanpa keperluan.
d. Dengan izin atau tanpa izin artinya dengan persetujuan dan sepengetahuan anggota keluarga atau tanpa diketahui oleh anggota keluarga.
e. Tak diketahui tempat ia berada artinya tempat lain yang dituju dan dimana ia berada tidak diketahui sama sekali, karena yang bersangkutan tidak memberi kabar atau karena sulit berkomunikasi.
Tidak memberi kabar mungkin karena ada halangan, misalnya terjadi perang, pemberontakan, kecelakaan, bencana alam, sakit gila, dan lain-lain, atau memang dengan sengaja supaya tidak berurusan lagi dengan keluarganya.”18
Menurut Sudarsono memberikan gambaran atau defenisi secara terbalik dengan menyatakan “Apabila suatu keadaan dimana seseorang meninggalkan tempat tinggalnya dan tidak diketahui dimana seseorang tersebut berada maka keadaan ini disebut dengan keadaan tak hadir.”19
Berdasarkan ketentuan Pasal 463 dan Pasal 467 KUHPerdata mengartikan keadaan tidak hadir (afwezigheid) dapat disimpulkan sebagai keadaan tidak hadirnya seseorang ditempat kediaman atau domisilinya karena meninggalkan tempat tinggalnya baik dengan meninggalkan kuasa maupun tidak dimana keberadaannya tidak ketahui.20
18 Abdulkadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2000, hal 53.
19 Sudarsono, Hukum Kekeluargaan Nasional, Rineka Cipta cetakan I, Jakarta, 1991, hal 36.
20 Sri Soesilowati Mahdi, Surini Ahlan Sjarif, Akhmad Budi Cahyono, Hukum Perdata Suatu Pengantar, Gitama Jaya Jakarta, Jakarta, 2005, hal 34.
Pengadilan Negeri Medan dan Pengadilan Negeri Tebing Tinggi Deli dalam prakteknya memberikan pengertian afwezigheid adalah dengan keadaan tidak hadir atau sukar dicari. Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa substansi keadaan tidak hadir terjadi akibat berpisah atau terpisahnya subjek hukum dengan domisilinya atau tempat tinggalnya, sedangkan harta peninggalan kekayaannya menghendaki perhatian khusus demi kepentingan subjek hukum lain yang berkepentingan dengan kekayaan milik seseorang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid).
Keadaan tidak hadir (afwezigheid) diatur dalam Bab Kedelapan Belas KUHPerdata. Dari Pasal 463 KUHPerdata kita dapat mengetahui bahwa keadaan tidak hadir (afwezigheid) terdiri dari beberapa unsur, yaitu:
a. Meninggalkan tempat kediaman.
b. Tanpa memberikan kuasa kepada orang lain untuk mewakilinya.
c. Tidak menunjuk atau memberikan kepada orang lain untuk mengurus kepentingannya.
d. Bilamana pemberi kuasa telah gugur .
e. Bilamana timbul keadaan yang memaksa untuk menanggulangi pengurusan harta bendanya secara keseluruhan atau sebagian.
f. Untuk mengangkat seorang wakil, harus diadakan tindakan- tindakan hukum untuk mengisi kekosongan sebagian akibat ketidakhadiran tersebut.21
Apabila memenuhi unsur-unsur tersebut di atas, maka seseorang dapat dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid), sehingga
21 Komariah, Edisi Revisi Hukum Perdata, UPT Penerbitan Universitas Muhammadiyah Malang, Malang, 2010, hal 33-34.
perlu ditunjuk seorang wakil yang akan melaksanakan hak dan menuaikan kewajiban yang bersangkutan.
2. Syarat-Syarat Mengajukan Permohonan Keadaan Tidak Hadir (afwezigheid)
Pada prinsipnya yang dapat mengajukan keadaan tidak hadir (afwezigheid) adalah subjek hukum manusia dan badan hukum. Yang
dapat dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) adalah subjek hukum yang dapat bertindak untuk dapat melakukan perbuatan hukum dan meninggalkan domisilinya tanpa mengatur segala kepentingan sepeninggalnya. Undang-Undang sendiri tidak memberikan batasan mengenai pengertian apakah meninggalkan tempat tinggalnya itu dengan sukarela atau dengan keadaan memaksa.
Dalam prakteknya secara umum dapat dikemukakan syarat untuk mengajukan permohonan keadaan tidak hadir (afwezigheid) adalah sebagai berikut:
a. Seseorang dapat membuktikan bahwa ia menguasai harta milik orang lain, umpamanya menguasai sebidang tanah dan bangunan berikut segala sesuatu yang berdiri dan tumbuh di atasnya, sedangkan pemilik sebidang tanah dan bangunan atau pekarangan itu tidak ada.
b. Adanya maksud dari penghuni tersebut untuk memiliki rumah berikut pekarangan milik orang lain yang tidak diketahui lagi dimana keberadaanya melalui jalur hukum yang diperkenankan oleh Undang-Undang.
c. Dapat menunjukkan alat-alat bukti, bahwa seseorang itu telah meninggalkan tempat tinggalnya (domisilinya) dan tidak diketahui lagi dimana keberadaannya. Alat bukti tersebut adalah surat-surat yang diterbitkan oleh instansi yang berwenang, misalnya Lurah, Camat dan lainnya.
d. Dapat dikemukakan saksi-saksi dalam sidang permohonan yang mengetahui bahwa benar seseorang telah meninggalkan tempat tinggalnya atau domisilinya.
e. Adanya keyakinan hakim untuk menentukan, apakah benar seseorang tersebut telah meninggalkan tempat tinggalnya atau domisilinya.22
Yang berhak untuk minta diadakan penunjukan wakil adalah:
a. Orang-orang yang berkepentingan, misalnya kreditur.
b. Pihak kejaksaan.
c. Ditetapkan sendiri oleh Pengadilan Negeri karena jabatannya.
Sedangkan yang dapat ditunjuk sebagai wakil adalah:
a. Keluarga sedarah atau semenda yang terdekat atau suami/
isteri dari orang yang “tidak hadir“ bilamana harta kekekayaan mempunyai nilai yang tidak berarti. Kewajiban dari pihak keluarga sedarah atau semenda terdekat atau suami/isteri dari orang dinyatakan tidak hadir apabila ditunjuk sebagai wakil adalah untuk pada waktunya menyerahkan harta benda yang ditinggalkan atau nilainya dalam bentuk uang kepada pemiliknya.
b. Balai Harta Peninggalan
Kewajiban Balai Harta Peninggalan sebagai wakil orang yang dinyatakan tidak hadir adalah:
1) Mengadakan penyegelan bilamana diperlukan.
2) Mengadakan pencatatan dari barang-barang yang dipercayakan untuk disimpan/diurus.
3) Membuat laporan pertanggungjawaban kepada pihak kejaksaan. 23
Berdasarkan uraian di atas yang dapat meminta diadakannya penunjukan wakil menurut KUHPerdata adalah setiap orang yang mempunyai kepentingan terhadap pengurusan setiap harta ataupun segala kepentingan orang yang dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) yang mana semua kepentingan orang yang dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) itu memerlukan pengurusan, dan yang dapat ditunjuk
sebagai wakil dari orang yang dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid)
22 Syuhada, 1991, Proses Penyelesaian Kasus Afwezig Pemilik Gedung Bank Of China Oleh Balai Harta Peninggalan Medan, (Skripsi tidak diterbitkan, Fakultas Hukum Universitas Medan Area), hal. 24.
23 Komariah, Loc.Cit.
adalah keluarga (semeda) yang terdekat, suami atau isteri jika masih ada, dan apabila sudah tidak ada lagi keluarga terdekat maka ditunjuklah Balai Harta Peninggalan untuk mewakili orang yang dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) tersebut, berdasarkan Penetapan Pengadilan.
3. Tahapan Keadaan Tidak Hadir (afwezigheid) Menurut KUHPerdata
Dalam KUHPerdata keadaan tidak hadir (afwezigheid) dibedakan dalam tiga fase, yaitu fase persiapan atau tindakan sementara (voorlopige voozieningen) diatur dalam Pasal 463 sampai dengan Pasal 466
KUHPerdata, fase pernyataan bahwa seseorang yang tidak ada ditempat barangkali sudah atau telah meninggal dunia (vermoedelijk overleden) seperti yang diatur dalam Pasal 467 sampai dengan 483 KUHPerdata, dan fase pewarisan secara definitif (definitieve erfopvolging) yang diatur dalam Pasal 484 KUHPerdata. Antara fase yang pertama dan fase yang kedua serta selanjutnya tidak senantiasa atau tidak perlu harus berurutan.
Dalam setiap fase orang tiada ditempat itu asasnya masih tetap mempunyai wewenang berhak dan wewenang bertindak, kalau dia muncul kembali, maka segala hak kewajibannya kembali kepadanya dengan syarat atau pembatasan-pembatasan tertentu.
Dalam KUHPerdata diatur tentang keadaan tidak hadir (afwezigheid) dengan menggolongkan dalam tingkatan-tingkatan, yaitu:
a. Tindakan sementara
Tindakan sementara ini dapat dilakukan berhubung:
1) Seseorang telah meninggalkan tempat tinggalnya
2) a) Seseorang yang telah meninggalkan tempat tinggalnya tersebut tidak memberi kuasa kepada seseorang lain sebagai wakilnya, guna mewakili dirinya dan mengurus harta kekayaannya
b) Seseorang tersebut tidak mengatur sendiri urusan- urusan dan kepentingan-kepentingannya itu,
c) Pemberian kuasa kepada wakilnya tidak berlaku lagi atau telah berakhir.
3) Apabila ada alasan-alasan yang mendesak guna mengurus seluruh atau sebagian harta kekayaan itu, atau guna mengadakan seorang wakil baginya tersebut.
b. Pernyataan barangkali meninggal dunia
Jika terjadi seseorang telah meninggalkan tempat tinggalnya cukup lama tidak pulang tanpa memberitahukan keadaannya, ketidakpulangannya dapat dijadikan alasan adanya dugaan hukum bahwa orang tersebut telah meninggal dunia. Untuk menetapkan pernyataan seseorang telah meninggal dunia cukup dengan seberapa lamanya si tak hadir tersebut tidak pulang, yakni:
1) Lima tahun, jika seseorang yang meninggalkan tempat kediamannya tidak mengangkat seorang kuasa untuk mewakili dirinya dan mengurus harta kekayaannya atau tidak mengatur urusan-urusan dan kepentingan- kepentingannya itu (Pasal 467 KUHPerdata)
2) Sepuluh tahun, jika seseorang yang telah meninggalkan tempat kediamannya telah mengangkat seorang kuasa guna mewakili mengurus harta kekayaannya atau telah mengatur pengurusan harta kekayaannya itu atau masa jabatan penerima kuasa telah habis, atau aturan yang dibuatnya lebih dahulu telah berakhir (Pasal 470 KUHperdata)
Sebelum mengambil putusan, Pengadilan memberi izin kepada pihak yang berkepentingan untuk melakukan pemanggilan secara umum dengan cara mengiklankan dalam surat kabar sebanyak tiga kali.
c. Pewarisan secara definitif
Pewarisan definitif terjadi setelah lewat lama tiga puluh tahun setelah hari pernyataan dugaan meninggal dunia tercantum di dalam Putusan Pengadilan atau apabila sebelum itu, waktu selama seratus tahun telah lewat sejak hari lahir seseorang yang telah meninggalkan tempat tinggalnya. Pewarisan secara definitif terjadi bisa juga setelah diterima kabar tentang kebenaran meninggal dunianya seseorang yang telah meninggalkan tempat kediamannya. Setelah itu, para ahli waris
dapat mengadakan pembagian terhadap harta warisannya secara tetap.24
Dalam setiap fase orang tiada ditempat itu asasnya masih tetap mempunyai wewenang berhak dan wewenang bertindak, kalau si tak hadir muncul kembali, maka segala hak dan kewajibannya kembali kepada si tak hadir tersebut dengan syarat atau pembatasan-pembatasan tertentu.
4. Landasan Hukum Keadaan Tidak Hadir (afwezigheid)
Pengaturan mengenai keadaan tidak hadir (afwezigheid) dimaksudkan untuk memberikan kepastian hukum dan kepastian hak-hak keperdataan seseorang baik yang meninggalkan maupun yang ditinggalkan. Sumber pengaturan keadaan tidak hadir (afwezigheid) di dalam KUHPerdata terdapat pada Buku Kesatu Titel Kedelapan Belas Bagian Kesatu sampai dengan Bagian Kelima dari Pasal 463 sampai dengan Pasal 495.
Selain diatur dalam KUHPerdata pengaturan keadaan tidak hadir (afwezigheid) bersumber pula pada Staatblad Tahun 1946 Nomor 137 juncto Bijblad V dan Staatblad Tahun 1949 Nomor 451.25 Pengaturan afwezigheid berlaku bagi golongan Timur asing lain dari Tionghoa dan golongan Tionghoa.
Perlu juga diperhatikan Pasal-Pasal diluar KUHPerdata antara lain sebagaimana diatur dalam Intruksi untuk Balai Harta Peninggalan di Indonesia yaitu Ordonansi tanggal 5 Oktober Tahun 1872 Lembaran Negara Tahun 1872
24 Rachmadi Usman, Op. Cit. hal 92-94.
25 F.X Suhardana, Hukum Perdata 1Buku Panduan Mahasiswa, Prenhallindo, Jakarta, 1992, hal 66.
Nomor 166 yang mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 1873, Bab Keempat Pasal 61 juncto Pasal 64 ayat (2) dan (3).26 Dari keseluruhan ketentuan-ketentuan yang telah diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa yang menjadi landasan hukum adanya suatu keadaan tidak hadir atau afwezigheid adalah harus adanya suatu penetapan hakim (beschikking), penetapan yang terbit dengan diajukannya permohonan untuk ketua Pengadilan Negeri setempat untuk memutuskan penetapan keadaan tidak hadir (afwezigheid).
C. Hubungan Hukum Antara Orang Yang Dinyatakan Dalam Keadaan Tidak Hadir Dengan Harta Kekayaannya
Hubungan hukum antara orang yang dinyatakan keadaan tidak hadir dengan hartanya, pada saat seseorang yang dinyatakan tidak hadir (afwezigheid) sebelum meninggalkan tempat tinggalnya atau domisilinya, dapat ditentukan sesuai dengan keinginan yang akan mengurus harta kekayaannya. Sehingga tidak akan terjadi suatu permasalahan apabila seseorang yang dinyatakan tidak hadir (afwezigheid) masih berada ditempat tinggalnya atau domisilinya. Namun apabila
orang yang dinyatakan tidak hadir tidak diketahui keberadaannya dalam jangka waktu yang lama, maka akan meninggalkan suatu permasalahan hukum bagi kedudukan dan status harta peninggalannya.
Hubungan hukum antara orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) dapat dibedakan beberapa bagian yaitu:
26 Syuhada, Op. Cit. hal 29.
a. Hubungan hukum antara orang yang dinyatakan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) dengan harta kekayaannya dalam perkawinan
Dengan terjadinya suatu keadaan dinyatakan seseorang dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid), maka akan berpengaruh terhadap status harta benda kekayaan bersama di dalam suatu perkawinan.
Seseorang yang terikat perkawinan dalam keadaan tidak hadir (afwezigheid) akan membawa pengaruh dengan pihak lain terutama
terhadap isteri atau suami dan anak-anak hasil perkawinan tersebut dengan harta kekayaan yang ditinggalkan.
Pengaruh keadaan tidak hadir (afwezigheid) terhadap isteri atau suami serta anak-anak, Abdulkadir Muhammad berpendapat bahwa:
“Keadaan tidak hadir ini mempengaruhi dan memberikan akibat hukum terhadap yang bersangkutan itu sendiri dan kepada pihak keluarga yang ditinggalkan. Pengaruh keadaan tidak hadir itu ialah pada: (1) Penyelenggaraan kepentingan yang bersangkutan, (2) Status hukum yang bersangkutan sendiri atau status hukum anggota keluarga yang ditinggalkan mengenai perkawinan dan pewarisan.”27
Dari pendapat yang telah dikemukan di atas, maka pengaruh yang paling diketahui dari suatu keadaan tidak hadir (afwezigheid) adalah terhadap penyelenggaraan kepentingan si tak hadir dan status hukum si tak hadir yang bersangkutan dengan perkawinan yaitu anggota keluarga yang ditinggalkan dan kewarisan.
Mengenai kedudukan hukum yang ditimbulkan oleh keadaan tidak hadir (afwezigheid) secara langsung atau tidak langsung akan
27 Abdulkadir Muhammad, Op. Cit, hal 54-55
membawa pengaruh kepada pihak-pihak lain yang didukung oleh pendapat yang dikemukakan oleh J.Satrio sebagai berikut :
“Secara tidak langsung memang bisa ada pengaruh terhadap kedudukan hukumnya, yaitu bila lewatnya suatu jangka waktu tertentu dengan keputusan hakim, perkawinan akan menjadi bubar dengan izin Pengadilan dengan menikah lagi dengan orang lain”28
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan oleh J. Satrio tersebut di atas, mengenai pengaruh keadaan tidak hadir dalam ikatan perkawinan yang dimiliki oleh orang yang tidak diketahui keberadaannya tersebut adalah melalui keputusan hakim Pengadilan dapat memutuskan bubarnya perkawinan tersebut dengan berpedoman pada ketentuan hukum perdata barat terutama setelah hakim melihat sudah terpenuhinya unsur-unsur keadaan tidak hadir.
Sehingga dengan demikian maka pasangan yang semula terikat perkawinan yang tidak hadir tersebut dapat menikah lagi dengan pihak lain setelah putusan keadaan tidak hadir telah dikeluarkan oleh pengadilan.
Keadaan tidak hadir (afwezigheid) menimbulkan akibat terhadap kedudukan serta status perkawinan maka dijabarkan terlebih dahulu pendapat yang dikemukakan oleh J.Satrio mengenai akibat terjadinya orang hilang atau orang dalam keadaan tidak hadir terhadap
28 J. Satrio, Hukum Pribadi Bagian I Persoon Alamiah, Citra Aditya, Bandung, 1999, hal 274.
kedudukan serta status perkawinan menyatakan pendapatnya sebagai berikut:
“Mengenai hal ini, Undang-Undang mengaturnya dalam Pasal 493 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang untuk jelasnya dikutip sebagai berikut: Apabila diluar terjadinya orang meninggalkan tempat dengan itikad tidak baik, seorang diantara suami isteri untuk selama 10 tahun telah tidak hadir ditempat tinggalnya, sedangkan kabar tentang hidup atau matinya tidak ada, maka si suami atau si isteri yang ditinggalkannya, dengan izin dari Pengadilan Negeri tempat tinggal bersama suami isteri berhak memanggil si tidak hadir dengan tiga kali panggilan umum berturut-turut dengan cara seperti yang diatur dalam Pasal 467 dan 468 KUHPerdata.”29
Dari pendapat yang dikemukakan tersebut maka didapatkan suatu penjelasan bahwa sebelum dikeluarkan suatu Penetapan Pengadilan mengenai keadaan tidak hadir maka diwajibkan terlebih dahulu untuk melakukan pemanggilan sebanyak tiga kali dengan seizin Pengadilan Negeri tempat tinggal bersama suami isteri yang bersangkutan sebagaimana yang telah diatur oleh Pasal 467 dan Pasal 468 KUHPerdata. Pemanggilan tersebut dilakukan untuk memastikan mengenai keadaan orang yang meninggalkan tempat kediamannya sehubungan dengan kedudukan perkawinan yang dimiliki si tak hadir tersebut.
Berdasarkan penjelasan yang dikemukakan oleh J. Satrio sebagaimana di atas, Undang-Undang menetapkan suatu pengaturan dalam hal terjadinya orang hilang atau orang yang dalam keadaan tidak hadir terhadap kedudukan serta status perkawinan sampai diadakannya Penetapan Pengadilan mengenai keadaan tidak hadir.
29 Ibid.